Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Yesung’

Fanfiction : ~Sad Friendship~

“Mati kau!”

Seorang namja muda dengan jas hitamnya berjalan perlahan. Ratusan pengawalnya berdiri di depan, dengan pistol di genggaman tangan mereka. “Tembak!”, seru namja muda itu dan ratusan suara dentuman memecah kesunyian. Ratusan orang yang berada di dalam bangunan megah terjatuh tak bernyawa.

Tak lama, dua orang dari dalam bangunan itu keluar dengan tergesa-gesa. “Apa yang kau lakukan, Kim Ye-sung?! Apakah kau sudah gila??!!”, teriak seorang yeoja, salah satu dari orang itu. Sedangkan satunya lagi hanya memandang namja di depannya tak percaya. Kim Ye-sung menyeringai kecil, “Ne, aku sudah gila! Aku gila karenamu, Cho Sang-rin!”

Kim Ye-sung menoleh ke pengawalnya, “Bawa mereka berdua dalam situasi apapun! Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup! Dan, jangan lukai yeoja itu! Jika dia tergores sedikit saja, kalian akan menjadi taruhannya. Arasso?!”

Para pengawalnya mengangguk patuh dan langsung menangkap mereka berdua. Mereka berdua melawan, apalagi sang yeoja yang memang sangat jago dalam berbagai bela diri. Namun, tentu saja mereka kalah jumlah oleh ratusan pengawal itu.

Mereka berdua dibawa ke dalam satu ruangan kecil yang gelap dan lembap. Namja satunya sudah babak belur tak karuan. Sedangkan sang yeoja tidak tergores apapun, seperti yang Tuan Muda Kim Ye-sung itu perintahkan. “Si-won~ah, gwenchana-yo? Si-wonnie!!!”, seru Sang-rin sembari memeluk namja itu.

“Sang…rin~ya, apa…kita…salah?”

“Ani, Si-wonnie~! Kita tidak salah. Ye-sung saja yang memang sudah gila.”

Si-won membuka matanya dengan susah payah, “Ye-sung…tidak…gila, Cho Sang-rin! Dia hanya…mencintaimu.”


#$#$#
Sahabat…
Suatu ikatan yang membuatmu bahagia…
Membuatmu selalu tersenyum…
Membuatmu selalu tertawa…


#$#$#

 

“Annyeong… Boleh kita berkenalan?”

Seorang anak lelaki berusia sekitar 11 tahun berdiri dengan tegap. Pakaiannya cukup tebal karena memang udara sedang sangat dingin. Pandangannya tertuju kepada dua orang—anak lelaki dan perempuan yang kira-kira berusia 10 tahun dan sedang duduk di bangku taman. Sang anak lelaki yang sedang duduk itu tersenyum kecil, “Tentu saja, Si-won imnida.”
“Jeongmal-yo?! Gomawo, Ye-sung imnida.”, balas anak lelaki yang sedang berdiri itu seraya menunduk kecil. Sang anak perempuan melirik anak itu dengan tatapan aneh, kemudian karena dorongan teman di sebelahnya, ia mengangguk. “Sang-rin imnida.”, ucap anak perempuan itu dingin.

“Kim Ye-sung…!”
Anak yang sedang berdiri menoleh ke belakang dan bisa melihat seorang pria berjas dengan mobil hitam memanggilnya. “Aku harus kesana dulu ya. Sekali lagi gomawo-yo mau berteman denganku…”, ucapnya sembari berlari dan menaiki mobil hitam itu dan tak lama pergi. “Si-won~ya, apakah kau sudah gila?”
Anak lelaki yang diajak bicara menoleh ke lawan bicaranya, “Memang kenapa?”

Yang perempuan mendesah, menyesali kepolosan teman di sebelahnya. “Dia itu anak Tuan Kim, Choi Si-won! Kau tidak tau siapa Tuan Kim?”, tanya Sang-rin, pandangannya tertuju tajam. Sang lelaki mengangguk, “Tentu saja aku tau, Cho Sang-rin. Siapa yang tidak tau Tuan Kim?”
“Lalu, kenapa kau masih mau berteman dengannya? Kalau appa-ku tau, kita bisa dihabisi… Lagipula, kita sangat tidak cocok dengannya.”, jawab Sang-rin mencoba sabar. “Memang kenapa kalau kita berteman dengannya? Dia ‘kan bukan orang jahat?”, tanya Si-won lagi.
Sang-rin kembali mendesah pelan, “Jangan terlalu polos, Si-won~ssi. Dia memang bukan orang jahat, tapi appa-nya iya. Tuan Kim itu adalah kepala mafia yang paling ditakuti oleh kekejamannya. Kau pasti sudah tau itu, ‘kan? Kalau kau tak sengaja melukainya, dirimu bisa habis!”
“Aku…hanya kasian padanya. Dia tidak punya teman sama sekali. Lagipula, aku pikir dia anak yang baik kok. Ayolah, Sang-rinnie. Percaya padaku~”
Sang-rin mengangguk pasrah, ia memang tak pernah bisa menolak keinginan anak lelaki di sebelahnya.

 

#$#$#

 

Cinta…
Suatu ikatan yang membuatmu menangis…
Membuatmu bermimpi buruk…
Membuatmu terluka…
Dan…membuatmu kehilangan sahabat sejati…

 

>>><<<

(10 tahun kemudian)

 

“Chukae, Ye-sung~ya!”
“Gomawo-yo, Si-won, Sang-rin! Kalian memang sahabat terbaikku.”, ucap Ye-sung tulus seraya menggantukan lengannya di bahu mereka berdua. “Hari ini ke diskotik yuk!”, lanjut Ye-sung. Sontak kedua sahabatnya terkejut, “Mwo?!”
“Ayolah~ Ini kan adalah hari kelulusan kuliahku. Lagipula, kita ‘kan sudah cukup umur untuk ke diskotik. Aku selalu penasaran apa isi diskotik itu.”
“Bukannya appa-mu pemilik banyak diskotik terkenal dan terbesar?”, tanya Sang-rin yang lebih tampak sebagai sindiran. Ye-sung mengangguk dan tersenyum, “Tapi, appa tak pernah memperbolehkanku untuk kesitu.”
Si-won menyeletuk, “Jadi, kau akan pergi diam-diam nanti?” Ye-sung mengangguk ceria, temannya yang satu ini memang selalu mengerti isi hatinya. “Bagaimana kalau ketahuan? Kau sih anaknya, tapi kami? Kami bisa dihabisi.”, sahut Sang-rin tidak terima. “Kita tidak mungkin ketahuan. Kita akan pergi ke diskotik yang bukan diskotik milik appa-ku. Diskotik kecil yang sangat sepi. Kita juga hanya pergi sebentar ‘kan?”
Sang-rin menatap Si-won, mencoba bertanya pendapatnya lewat tatapan mata. “Baiklah, tapi janji hanya sebentar ya?”
Ye-sung mengangguk dan tersenyum cerah, “Gomawo-yo! You both really my best friend!”

 

#$#$#

 

“Sudah siap?”, bisik Ye-sung saat melihat kedua sahabatnya sudah mendekat.

Si-won dan Sang-rin mengangguk kecil dan mereka bertiga langsung mengendap-endap menuju bar itu. Mereka bertiga masuk dan bisa melihat lampu berkelap-kelip sedang menyala tak karuan. Ada beberapa orang yang sedang duduk dan minum-minum sedangkan beberapa orang lagi asyik menari-nari.

“Kau bilang ini sepi?”, tanya Sang-rin dengan pandangan takut. “Bagi sebuah diskotik, ini sudah sangat sepi. Kajja!”, seru Ye-sung sembari menarik kedua temannya untuk duduk di kursi. “Mau pesan apa?”, tanya bartender dengan dasi pitanya.

“Pesan tiga vodka.”

Si-won langsung melirik Ye-sung, “Mwo?! Vodka? Aku tau aku tidak sepintar dirimu, Ye-sung~hyung, tapi minimal aku tau apa vodka itu.”, seru Si-won dibalas anggukan setuju dari Sang-rin. “Lalu, kalau bukan vodka, apa yang mau kalian pesan? Susu? Jangan bercanda~”, sahut Ye-sung meremehkan. Sang-rin sudah mengepalkan tangannya, namun Si-won langsung menggenggam tangan Sang-rin.

“Kita permisi dulu, Ye-sung~ya! Kajja, Si-wonnie.”

Sang-rin menarik Si-won keluar diskotik, “Lihatlah dia, Si-wonnie! Apa dia perlu kau kasihani?! Dengan enaknya, ia berbicara begitu padamu! Aku benar-benar tak terima! Dia mempermalukan kita!”

“Sabarlah, Sang-rinnie. Lagipula dia tak salah. Kalau bukan vodka, apa lagi yang kita mau pesan? Kita ‘kan tidak terlalu tau minuman berjenis seperti itu.”, ucap Si-won berusaha menenangkan. “Kau selalu membelanya, Wonnie~”

Si-won terkekeh pelan dan mencubit pipi Sang-rin yang sedang menggembung kesal. “Memang kenapa? Cemburu, Rin~jagi?”

“Dasar ngaco! Sudahlah, kajja kita masuk ke dalam.”, seru Sang-rin mengalihkan pembicaraan karena pipinya sudah merona.

Yah, Sang-rin adalah tetangga Si-won dari 12 tahun yang lalu. Dan mereka tumbuh bersama, karena orang tua mereka yang juga bersahabat baik.
Kebetulan mereka berada di perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Walaupun mereka memang berkebangsaan Korea Selatan, mereka tidak terlalu diperhatikan pemerintah. Karena sebab itu, banyak orang di daerah mereka menjadi mafia. Dan salah satu ketua mafia yang paling berkuasa di daerah mereka adalah Kim Hee-chul, yang tak lain dan tak bukan adalah appa kandung dari Kim Ye-sung.

Dari dulu Sang-rin tak pernah setuju pada keputusan Si-won yang mau bersahabat dengan Ye-sung. Ia merasa Ye-sung bukan sahabat yang tepat untuk mereka. Namun, karena tidak mau Si-won marah, Sang-rin tak pernah membicarakannya.

Sang-rin sendiri adalah anak dari salah satu kepala mafia di daerahnya. Ia terbiasa hidup mandiri dan amburadul. Karena itulah juga, Sang-rin tak setuju jika harus bersahabat dengan Ye-sung. Karena appa-nya dan appa Ye-sung sudah lama bersiteru. Walaupun ia tau Ye-sung bukan orang yang jahat.
Sedangkan Si-won berbeda. Ia dibesarkan dari keluarga pastur di daerahnya. Ia sangat terpelajar dan sangat tulus kepada semua orang. Dia terbiasa berbelas kasih kepada setiap orang, termasuk kepada Ye-sung yang Si-won tau tidak punya teman sama sekali.

 

#$#$#

 

“Omona~”, ucap Sang-rin pelan. Si-won melangkah di belakang Sang-rin dan ikut terkejut. Ye-sung sudah dalam keadaan setengah sadar. Ia meminum ketiga vodka yang tadi dipesannya. Beberapa wanita berpakaian minim berada disekelilingnya. Ye-sung tertawa dan menggoda wanita-wanita itu dengan riang. “Ya! Bisa kalian pergi?”, tanya Sang-rin dingin kepada para wanita itu. “Cihh, kenapa kita harus pergi?”

Sang-rin mendesah kecil dan mengeluarkan senyum sinisnya. “Tidak tau siapa aku? Catat namaku baik-baik, Cho…Sang…Rin!!!”

Seketika wanita-wanita itu terkejut hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat, “Anda…anak…Tuan Cho?”, kata salah satu wanita itu. Sang-rin tak menjawab, hanya menyeringai kecil, namun para wanita itu telah berhasil tunggang langgang. Tanpa basa-basi, Si-won menghampiri Ye-sung. “Ya, kajja kita pergi dari sini…”

Ye-sung menepis tangan Si-won, “Jangan–hik–ganggu aku, Si-wonnie… Aku–hik–masih mau–hik–bersenang-senang.”

“Ya, tukang bersenang-senang! Lebih baik kau pulang daripada kita semua dipanggang appa-mu. Palli!!!”, seru Sang-rin dingin. Namun, Ye-sung tak menjawab. Ia sudah tak sadar sekarang. “Rin~ah, jebal bantu aku angkat dia.”, pinta Si-won dengan nada tulus, dan mau tidak mau Sang-rin mengiyakan permintaannya.

“Mau kita bawa kemana dia, Si-wonnie?”

Si-won memikirkan sejenak pertanyaan Sang-rin. Betul juga! Jika mengantar Ye-sung ke rumahnya dalam keadaan mabuk, sama saja bunuh diri. Lalu, harus bawa kemana dia? Tak mungkin ‘kan, Ye-sung dibawa ke rumah Sang-rin atau rumah Si-won sendiri? Orang tua Sang-rin dan Si-won kan masih belum tau jika selama 10 tahun ini, mereka bersahabat dengan Ye-sung.

“Bagaimana kalau bawa dia ke tempat biasa kita kumpul?”

Sang-rin menaikan kedua alisnya, “Maksudmu di bangku taman?”

Si-won mengangguk pasrah. Mereka berdua mengangkat Ye-sung susah payah ke taman itu. “Lebih baik kau pulang, Sang-rinnie. Nanti kau bisa dicurigai dan bila itu terjadi, kita semua bisa gawat. Aku saja yang menjaga Ye-sung. “Ara, Si-wonnie~ Annyeong.”, pamit Sang-rin dan langsung berjalan menuju rumahnya sebelum kepala keluarga di rumahnya mengamuk.

“Ahh, Ye-sung~ya, mengapa kau tidak pernah berubah? Mengapa aku tak pernah berhasil membuatmu lebih baik? Padahal, aku hanya ingin agar kau tidak kembali jatuh ke tangan jahat. Agar kau tidak mengikuti jejak appa-mu…”, ucap Si-won sembari memandangi Ye-sung yang sedang tertidur pulas.

 

#$#$#

 

“Si-won~ya, ireona…!”, seru Ye-sung sembari membangunkan Si-won yang sedang tertidur di sebelahnya. Perlahan Si-won membuka mata. “Ahh, Ye-sungie… Kau sudah bangun?”

Ye-sung mengangguk sebelum akhirnya melirik ke segala arah. “Ini dimana? Kenapa kita disini?”, tanyanya polos. Si-won menjitak pelan kepala Ye-sung. “Ya, Si-wonnie, Kau ‘kan lebih muda dariku! Tidak sopan tau!”, seru Ye-sung seraya mengusap-usap kepalanya. “Ya, Ye-sungie yang sudah tua! Apakah kau tidak sadar sudah membuat aku dan Sang-rin repot kemarin?!”

Pria yang lebih tua 2 tahun ini mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. “Yang aku ingat, kemarin kita ke diskotik dan…aku meminum 3 gelas vodka.”
Si-won kembali menjitak Ye-sung dengan gemas. “Setelah itu kau mabuk dan kami berdua menggotongmu kesini dengan susah payah! Apakah kau tidak tau berapa beratmu itu?!”, jelas Si-won sembari cemberut. Ye-sung hanya bisa tertawa innocent. “Kau dan Sang-rin…menggotongku? Wuahh~ Kalian memang sahabatku!”

“Kalau kami tidak menggotongmu, lalu mau gimana lagi? Masa kami meninggalkanmu, Ye-sungie yang polos?”

Ye-sung mengerucutkan mulutnya, “Ahh, itu tidak penting! Yang penting aku sangat senang kalian mau menolongku!”

Si-won hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.

“Si-wonnie! Ye-sungie!”

Yang dipanggil menoleh dan bisa melihat seorang yeoja berlari kearah mereka. Yeoja dengan rambut panjang yang dikuncir satu, kaos biasa yang dilengkapi dengan kemeja kotak, celana jeans, dan sepatu kets putih. Ia berhenti di depan Si-won dan Ye-sung. Nafasnya memburu tak karuan. “Ye-sung~ya, kau dicari…pengawal-mu. Palli!”, seru Sang-rin terbata-bata.
Ye-sung mengangguk dan langsung berlari menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari taman. “Si-wonnie, kau tertidur disini?”, tanya Sang-rin mulai bisa mengatur nafasnya.

“Ne. Apakah eomma atau appa mencariku?”

Sang-rin mengangguk kecil, “Tadi appa-mu menanyakan padaku. Aku bilang kau menginap ke rumah teman karena semalam belajar bersama. Padahal dia mau mengajakmu ke gereja.”

“Ohh… Gomawo-yo, Rin~jagi.”, jawab Si-won sembari mengangguk, namun, “Apa kau bilang?! Appa mau mengajakku ke gereja? Omo~! Aku harus segera kesana! Aku bisa telat ke gereja!”

Si-won panik dan langsung berlari ke rumahnya. Sang-rin ikut berlari mengejarnya langkah Si-won yang cepat.

“Ya! Pastur! Jamkkaman!”

 

#$#$#

 

“Annyeong, Si-won~ya! Annyeong, Sang-rin~ya!”

Sang-rin dan Si-won menoleh dan terkejut. Sang-rin langsung bangun dan meraba segala permukaan tubuh Ye-sung. “Ada yang luka? Mana yang sakit?”
“Apa sih maksudmu, Sang-rin~ah?”, tanya Si-won bingung, namun Ye-sung tidak merespon. Pipinya sudah seperti kepiting rebus. “Ada keajaiban! Ye-sung tidak dipukul appa-nya!”, seru Sang-rin sembari tersenyum. Ye-sung mengacak rambut Sang-rin gemas, “Kau itu terlalu melebih-lebihkan.”, jawab Ye-sung sembari duduk disebelah Sang-rin dan Si-won.

“Ada keajaiban lagi! Ye-sung tidak cerewet! Biasanya kan dia yang paling banyak bicara!”, teriak Sang-rin kembali. Ye-sung hanya bisa kembali mengacak-acak rambut Sang-rin gemas. Si-won hanya bisa tersenyum kecut.

“Kenapa sih kau, Ye-sung~oppa? Sakit?”

Ye-sung menggeleng, namun kemudian terkejut, “Hari ini benar-benar ada keajaiban! Jangan-jangan dunia mau kiamat! Masa Sang-rin menyebutku dengan embel-embel ‘oppa’! Benar-benar hebat!”

“Ya! Aishh, neo jinja!”

Sang-rin mengelitik Ye-sung, membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Si-won hanya tersenyum memandangi mereka berdua. Setelah selesai, mereka kembali duduk di posisi masing-masing. “Aku akan membeli es krim dulu disana. Sang-rin dan Si-won pasti memilih coklat ‘kan?”
Sang-rin dan Si-won mengangguk kompak.

“Rin~jagi…”

Sang-rin melirik kearah Si-won, “Ne? Dan jangan panggil aku ‘jagi’!”

Si-won terkekeh kecil, “Sepertinya Ye-sung~hyung menyukaimu.”

“Jangan bercanda, Si-wonnie!”

Si-won mau menjawab, namun Ye-sung berjalan kearah mereka. “Aku kembali!”

Ye-sung memberi kedua es krim kearah Si-won dan Sang-rin. “Gomawo, Ye-sungie!”, seru Si-won. “Na tto, Ye-sung~ya!”, balas Sang-rin dan Ye-sung menggeleng seraya tersenyum. “Ahh, hanya sekedar es krim…”

“Ada yang mau kubicarakan kepada kalian.”

Sontak Sang-rin dan Si-won menjawab bersamaan, “Mwo?”
Ye-sung ingin berbicara, namun es krim di tangannya jatuh. “Omo~!”, serunya sembari membereskan es krim itu di bawah. Dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan dari bawah—

 

#$#$#

 

Dentuman peluru melesat kemana-mana. Pagi yang semestinya cerah menjadi hitam kelam. Terkena kabut dan jutaan gas beracun yang menggelapkan mata, hidung, dan telinga.

“Mati kau!”

Seorang namja muda dengan jas hitamnya berjalan perlahan. Ratusan pengawalnya berdiri di depan, dengan pistol di genggaman tangan mereka.

“Tembak!”, seru namja muda itu dan ratusan suara dentuman memecah kesunyian. Ratusan orang yang berada di dalam bangunan megah terjatuh tak bernyawa.

Tak lama, dua orang dari dalam bangunan itu keluar dengan tergesa-gesa.

“Apa yang kau lakukan, Kim Ye-sung?! Apakah kau sudah gila??!!”, teriak seorang yeoja, salah satu dari orang itu. Sedangkan satunya lagi hanya memandang namja di depannya tak percaya. Ye-sung menyeringai kecil, “Ne, aku sudah gila! Aku gila karenamu, Cho Sang-rin!”

Ye-sung menoleh ke pengawalnya, “Bawa mereka berdua dalam situasi apapun! Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup! Dan, jangan lukai yeoja itu! Jika dia tergores sedikit saja, kalian akan menjadi taruhannya. Arasso?!”

Para pengawalnya mengangguk patuh dan langsung menangkap mereka berdua. Mereka berdua melawan, apalagi sang yeoja yang memang sangat jago dalam berbagai bela diri. Namun, tentu saja mereka kalah jumlah oleh ratusan pengawal itu.

Mereka berdua dibawa ke dalam satu ruangan kecil yang gelap dan lembap. Namja satunya sudah babak belur tak karuan. Sedangkan sang yeoja tidak tergores apapun, seperti yang Tuan Muda Kim Ye-sung itu perintahkan. “Si-wonnie, gwenchana-yo? Si-wonnie!!!”, seru Sang-rin sembari memeluk namja itu.

“Sang…rin~ya, apa…kita…salah?”

“Ani, Si-wonnie~! Kita tidak salah. Ye-sung saja yang memang sudah gila.”

Si-won membuka matanya dengan susah payah, “Ye-sung…tidak…gila, Cho Sang-rin! Dia hanya…mencintaimu.”

Sang-rin hampir terpekik, “Maksudmu?”

“Sudah kubilang…dari dulu, dia itu…mencintaimu.”, jelas Si-won susah payah. Darah terus mengalir di permukaan tubuhnya. “Tapi kalau ia mencintaiku, ia tidak akan begini kepadaku. Lagipula kenapa dia ikut melukaimu?”

Si-won ingin menjawab, namun beberapa pengawal kembali membawa mereka dengan paksa. Membawa mereka ke suatu tempat. Tempat yang amat dikenal mereka. Taman mereka yang biasa. Disitu ada Ye-sung. Ia sedang menjilati es krim blueberry-nya dengan mata yang terus tertuju pada kedua—mantan—sahabatnya.

“Ya! Sebenarnya apa maumu, Ye-sung~ah?! Kenapa kau begini?! Kita tak pernah punya salah padamu! Tapi kenapa kau begini?!”, seru Sang-rin, matanya berkaca-kaca. Ye-sung tertawa miris, “Mauku? Mauku mudah, Cho Sang-rin! Aku ingin dirimu!”

“Lalu kenapa kau ikut menyiksa Si-won?! Dia selalu baik padamu!”
Ye-sung kembali menyeringai, “Aku tidak akan menyiksanya jika dia tak merebutmu dariku.”

“Siapa yang merebut?! Kau yang merebutnya dariku!”, Si-won sudah kehilangan kesabaran. “Sekarang gampang. Jika Sang-rin mau bersamaku, aku akan berhenti melukai Si-won. Bagaimana?”, tanya Ye-sung santai. “Aku tidak akan mau bersamamu, walaupun aku harus mati!”, teriak Sang-rin keras.

“Baiklah, jika itu keinginanmu.”, kata Ye-sung sembari mengambil pistol dan mengarahkannya kepada Si-won. “Selamat tinggal, Si-wonnie~”

DOR!

Suara dentuman keras terdengar. Namja berlesung pipi itu terjatuh. Darahnya melebar ke segala arah. Sang-rin berteriak histeris. Ia memeluk namja itu dengan sepenuh hati. Air matanya keluar tak tertahankan. “Bukankah ini adalah kejadian yang amat mengiris hati? Tapi, kejadian ini akan lebih mengiris hati jika sang pemain perempuannya juga mati.”

Sang-rin terkejut dan langsung mengambil pistol yang terletak tak jauh darinya dengan cepat. Ye-sung menembakan pelurunya kearah Sang-rin, sedangkan Sang-rin langsung menembakan pelurunya kearah Ye-sung. Semua pengawal yang ada disitu terkejut. Sang-rin dan Ye-sung terjatuh bersamaan. Tepat di dekat Si-won yang juga tergeletak. Mereka bertiga tak bernyawa.

 

#$#$#

 

Sahabat begitu kuat…
Sahabat begitu berarti…
Sahabat adalah segalanya…
Apakah ada yang bisa menghancurkannya?
…Cinta…


#$#$#

 

—Ye-sung ingin berbicara, namun es krim di tangannya jatuh. Dengan cepat, ia membereskan es krim itu di bawah. Dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan dari bawah. Tangan Si-won dan Sang-rin bertautan erat. Seperti merpati yang tak bisa dilepaskan. Seketika itu juga rasa emosi meledak memenuhi ruang hati Ye-sung…

 

%E%N%D%

 

#$#$#

 

Annyeong, my lovely readers~~~ Mian dah lama gak posting blog… Aku kasih hadiah ff ini dulu deh~ Utk ff yg lain, ditunggu ya…. ^^


Credit : First Rain MV

 

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter One)

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kekuatan kita sudah melemah… Tapi kita tetap tidak boleh menyerah.” ucap seorang lelaki seraya menaruh kedua tangannya di belakang dan melangkah bolak-balik. “Bagaimana jika kita memilih generasi muda penerus kita dan menyerahkan seutuhnya tugas kita ini kepada sang terpilih tersebut?” usul seorang lagi yang sedang duduk manis di depan komputernya.

Seorang bertubuh tegap langsung melirik orang yang baru bicara tadi. “Jangan gila, Park Jungsoo…! Generasi muda tidak bisa dipercaya~ Kau tau itu bukan? Itu sama saja dengan kau menghancurkan dunia…!” serunya dengan lirikan tajam.

Orang yang sedang bolak-balik seketika duduk di samping Jungsoo. Ia sadar bahwa Jungsoo bukan orang yang sembarangan bicara tanpa alasan yang jelas. “Hanya ini harapan kita, Youngwoon…! Lagipula tidak semua generasi muda tidak bisa dipercaya~ Kau juga tau ini bukan?”

Youngwoon berhenti melirik Jungsoo dan langsung menunduk. “Aku tau perasaanmu, Youngwoon-ah~ Aku tau kau dendam dengan generasi muda. Tapi hanya mereka pegangan kita… Jungsoo benar~!”

“Tapi…Joongwoon-ah—”

Pandangan Joongwoon menajam. “Tidak ada kata ‘tapi’ sekarang… Kita akan memilih generasi muda terpercaya dan yang paling bisa mengemban tugas kita~! Arasso?!” katanya lantang. Jungsoo dan Youngwoon menunduk setuju. Mereka bertiga menjulurkan tangannya kedepan.

“Karena kita…Syupe Juni~oer yeyo!!!”

+++

(Action 1)

Seorang pria duduk di sebuah café. Pandangannya tertuju pada secangkir kopi yang ia pesan. Tumpukan koran tertumpuk pada seluruh permukaan mejanya. Rambutnya sudah berantakan. Begitu juga dengan penampilannya. Tak lama, air matanya keluar. Dia tak memedulikan pandangan pengunjung café yang aneh saat melihatnya.

Yang ia butuhkan hanya pekerjaan. Agar ia bisa membayar uang kuliahnya. Agar ia bisa terus bertahan dan menjalani hidup yang melelahkan ini. Dengan cepat, ia menghapus air matanya, menghabiskan sisa kopinya, dan memungut koran-koran yang berjejer di meja café itu. Ia melangkah cepat keluar café seraya menenteng setumpukan koran yang sekarang sudah berada di kedua tangannya.

Tak sadar, ia menabrak seorang pemuda yang lebih tinggi darinya. Koran-koran yang ia bawa pun terjatuh berceceran. Tanpa memikirkan apapun lagi, ia langsung menunduk dan mulai memungut koran-korannya. Pemuda yang lebih tinggi darinya itu mematikan sambungan teleponnya dan mulai membantu memungut koran-koran yang tergeletak di tanah.

“Mianhamnida~ Neomu mianhamnida~”

Pria yang masih memungut koran-korannya itu ikut menunduk. “Gwenchana… Tapi sepertinya aku mengenalmu~” ucapnya sembari menyipitkan pandangan. “Mungkin kau salah orang…” ucap pemuda itu sembari berjalan cepat. Setelah selesai memungut semua koran yang berceceran, pria itu kembali melanjutkan langkahnya. Dia beranjak cepat menuju rumah kost-nya yang telah menunggak selama beberapa bulan.

Namun, di dalam perjalanan, ia dihadang beberapa orang ber-jas. “Mau apa kalian?” tanya pria itu kaget. “Apakah kau yang bernama Lee Donghae??!!”

Pria itu menunduk kecil. Masih bingung terhadap apa yang terjadi. “Kalau begitu ikut kami~!” ucap salah satu lelaki. Donghae kaget dan membelalakan matanya. “Tapi…kenapa? Dan…untuk apa?” tanyanya bingung. “Jangan banyak tanya~ Ikut saja!” teriak satu orang lelaki lagi.

“ANDWAE~!!!”

Donghae mulai berlari dengan sangat cepat menelusuri gang-gang kecil. Lelaki-lelaki ber-jas tersebut ikut mengejarnya dengan kecepatan yang luar biasa. Hingga mereka semua bisa mengepung Donghae dari segala arah. “Sebenarnya apa mau kalian, hah~?!” seru Donghae yang sudah terengah-engah. “Membawamu, tentu saja~!!!”

Tiga lelaki ber-jas mulai mendekati Donghae dan bergegas membawanya. Namun, Donghae menghindar dan mulai memukul salah satu lelaki tersebut. “Jangan remehkan aku~! Aku pernah diajari berkelahi sebelumnya…” katanya dengan puas. Salah satu lelaki ber-jas mulai mendekati Donghae dan melancarkan pukulannya. Donghae berhasil menghindar dan kembali memukul lelaki itu.

Hingga lelaki ber-jas itu hanya tinggal berlima. “Tampaknya kita harus menggunakan cara kedua.” ucap seorang lelaki berkaca mata hitam. Yang lain mengangguk.

Donghae terkaget. “Cara kedua?”

Empat lelaki diantaranya langsung mengepung Donghae. Ia yang memang pandai berkelahi bisa melawan mereka dengan mudah. Namun, tak ia sadari, satu orang ber-jas sudah berada di belakangnya. Menancapkan sebuah jarum beracun pada lehernya. Dan bersamaan dengan itu, Donghae terjatuh dan tak sadarkan diri…

+++

(Action 2)


Seorang pemuda berdiri di depan bangunan sekolah dengan perasaan kesal. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Ia pun mengangkatnya. “Dimana kau Pak Kim? Bel pulang sekolah sudah berbunyi 20 menit yang lalu…!” seru pemuda itu dengan pandangan tajam. Tangan kirinya yang bebas ia masukkan ke dalam kantung seragamnya. “Mianhamnida, Tuan Muda Choi…”

Pemuda itu menghela nafas. “Sudahlah~! Aku akan pulang sendiri…!!!”

“Anda…tidak mau saya antar, Tuan Muda?” tanya pria separuh baya dari balik telepon. “Andwae~! Aku sudah lelah menunggu…!!!” jawabnya sembari menutup ponselnya. Dengan kecepatan maksimal, ia melangkah menuju arah rumahnya dengan berjalan kaki. Ia tak memedulikan pandangan orang-orang yang tentu saja mengetahui ‘siapa’ dia. Ponselnya kembali berbunyi.

“Choi Siwon-ya~! Apakah kau gila??!! Kau sadar tidak, kau adalah anak Presiden Korea Selatan? Berani-beraninya kau pulang sendiri tanpa pengawalan…! Apakah kau mau appa-mu ini malu?!” teriak Presiden Choi atau appa kandung dari pemuda ini.

Siwon mendengus kesal. “Itulah appa…! Appa selalu mementingkan kepentingan appa sendiri~ Pernahkah appa berpikir tentang kebahagiaanku??!!” serunya balik. “Jangan bercanda, Siwonnie~! Kau adalah anak Presiden…!!! Tidak mungkin kau tidak bahagia~~~!”

Baru saja Siwon akan melanjutkan pembicaraannya saat ia tak sengaja menabrak seseorang. Koran di tangan seorang pria itu terjatuh berantakan. Pria itu langsung menunduk untuk memungutnya. Siwon mematikan sambungan teleponnya dan mulai ikut memunguti koran pria itu.

Siwon menunduk kecil. “Mianhamnida~ Neomu mianhamnida~” katanya merasa bersalah.

Pria di hadapannya tersenyum manis. “Gwenchana… Tapi sepertinya aku mengenalmu~” ucap pria itu seraya menyipitkan matanya. Siwon terkejut. “Mungkin kau salah orang…” jawab Siwon dengan cepat seraya kembali melangkah terburu-buru. Dia berhenti untuk menarik nafas setelah memastikan sudah berjalan cukup jauh. “Apakah kau yang bernama Choi Siwon?!”

Siwon langsung menoleh dan dapat melihat lelaki-lelaki ber-jas sudah ada di hadapannya. “Mau apa kalian?” tanyanya kaget walaupun tetap tenang. “Ikut kami~!” seru lelaki ber-jas itu. Siwon masih berdiri dengan tenang. “Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Para lelaki ber-jas tersenyum menyeringai. “Kalau begitu kami akan memaksa~” jawab salah satu lelaki ber-jas dan bersamaan dengan itu, serangan dilancarkan. Siwon yang sudah pernah diajarkan segala jenis teknik bela diri bisa melawan dengan baik. Sekarang perkelahian makin menegang. Tinggal satu lawan tiga.

“Jalankan rencana B~!”

Para lelaki itu mengangguk dan mengambil pistol dari sakunya. Mereka mulai menembak pistol itu kearah Siwon. Ia berhasil menghindar dengan cepat dan gesit. Namun, sial, satu peluru berhasil mengenai pergelangan kakinya. Dia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri…

+++

(Action 3)


“Pulanglah, Kyuhyunnie~ Kau harus berjualan kan?”

Pemuda yang dipanggil mengangguk. “Pulang dulu ya ahjumma…” pamitnya seraya tersenyum tipis dan membereskan buku-bukunya. “Jika kau ingin belajar dan butuh penerangan, kau bisa kembali kesini kok~ Ahjumma akan menerimamu dengan senang hati. Ara?”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Kamsahamnida, ahjumma…” ucapnya seraya mulai beranjak keluar rumah. “Kyuhyun-ya~!!!”

Dia menoleh dan bisa melihat ahjumma itu berada di depan pintu. “Kirimkan salamku untuk eomma-mu…!” seru ahjumma tersebut sembari melambaikan tangannya. Kyuhyun mengangguk dan meneruskan perjalanannya. Ia menaiki sepeda bututnya dan mulai mengendarainya menuju rumah.

Di rumah ahjumma itulah satu-satunya tempat dimana Kyuhyun bisa bebas belajar. Rumahnya penuh dengan barang dan tak ada pencahayaan sama sekali guna menghemat listrik yang sangat susah dibayar itu. Namun, dibalik kesusahannya dalam belajar, ia adalah siswa jenius yang selalu meraih juara dalam setiap pelajaran.

Kyuhyun terus menggoes sepedanya. Tepat saat ia melihat kedua orang sedang bertabrakan dan salah satunya menjatuhkan koran-koran. Tak tau kenapa tapi kedua orang tersebut menarik perhatiannya. Yang satunya berpakaian lusuh, yang satunya memakai seragam mewah. Sang pemuda yang berpakaian mewah itu rasanya cukup familiar dimatanya.

Ia berpikir cukup keras hingga akhirnya menyadari. “Bukankah ia adalah anak Presiden Korea Selatan, Choi Daewon?!” gumam Kyuhyun yang malah tak sadar mengikuti dari belakang langkah cepat pemuda itu. Ia memberhentikan sepedanya saat melihat pemuda jangkung itu berhenti. Tak lama, lelaki ber-jas sudah mengelilingi pemuda itu. Untung jarak Kyuhyun lumayan jauh dari pemuda tersebut, jadi dia tidak dilihat oleh sekumpulan lelaki-lelaki tadi.

“Jangan-jangan lelaki ber-jas itu adalah…musuh negara?!” gumamnya terkejut. Namun pikiran itu ia buang jauh-jauh saat ia menyadari bahwa lelaki ber-jas itu bukan hanya menganggu pemuda tersebut, tapi juga menganggunya!

“Apakah kau yang bernama Cho Kyuhyun?!”

Kyuhyun menegang. “Kalian…mau apa?” tanyanya dengan takut. “Ikut kami~!” seru salah satu lelaki ber-jas. “Untuk apa?” tanya Kyu lagi. “Ikut saja…!!!” seru lelaki tersebut lagi. Kyuhyun meneguk ludahnya perlahan. “Andwae~!!! Aku tidak akan ikut kalian…!”

“Kau mau nasibmu sama dengan kedua pemuda ini?!”

Dia terkejut saat melihat kedua orang yang tadi ia lihat sedang bertabrakan itu, sudah tidak sadarkan diri. Pemuda yang memakai pakaian lusuh sudah babak belur dan di lehernya muncul titik-titik darah. Bibirnya membiru, seperti terkena racun. Sedangkan pemuda yang memakai seragam dan yang ia kenal sebagai putra tunggal Presiden tersebut juga babak belur. Dengan darah yang berceceran di kaki kanannya.

“Apa tujuan kalian…sebenarnya?”

Para lelaki ber-jas menyeringai. “Menangkap kalian~!”

+++

(Action 4)


Seorang pemuda duduk di meja kerjanya. Sedang asyik memainkan game di tangannya. “Permisi, tuan…” panggil lelaki yang berada tepat dibalik pintu ruangannya. “Nuguseyo?” tanya pemuda itu seraya masih sibuk menjalankan game di tangannya. “Presiden Choi.”

Pemuda itu terkejut dan langsung menyembunyikan game di tangannya. “Suruh beliau masuk~!” katanya dengan berwibawa. “Annyeong hasimnika, Tuan Choi~” sapa pemuda tersebut seraya menunduk sopan. “Annyeong, Kim Kibum… Aku dengar, sekarang kau yang menggantikan appa-mu untuk mengurus perusahaan ya?” Kibum mengangguk. “Ne…”

Choi Daewon duduk di sofa. “Appa-mu sangat beruntung memiliki putra sepertimu… Tidak seperti putraku yang tidak tertarik sama sekali dengan politik dan bisnis~ Ia malah lebih ingin masuk sekolah seni… Huh~!”

Kibum hanya tersenyum tipis. Ia tau dan kenal baik siapa putra Presiden Choi itu dan ia mempunyai impian yang sama dengan Siwon, putra Presiden itu, yaitu menjadi seorang entertainer. Kibum di bagian model, sedangkan Siwon lebih suka di bidang acting.

“Kenapa kau melamun, Kibum-ah?”

Dia yang sadar langsung tersenyum kembali. “Aniya, Tuan Choi…” jawabnya sopan. “Aku akan menghadiri rapat dengan Perdana Menteri Inggris, jadi aku pamit dulu ya~ Sampaikan salamku pada appa-mu.” ucap Presiden Choi dengan tegas. Kibum kembali mengangguk. “Akan aku sampaikan…”

Setelah selesai, Kibum kembali berkutat dengan game-nya. Tak lama, suara ponselnya berbunyi. “Apakah kau Kim Kibum?” tanya suara dari balik telepon. “Ne, nuguseyo?” tanyanya sopan. “Aku Park Kiyoo, teman lama appa-mu. Bisa kita bertemu sebentar? Tempatnya di XXX.”

“Ne, ahjussi…”

Kibum langsung beranjak keluar ruangan dan mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah diberitahu. Setelah sampai, ia langsung memarkir mobilnya dan mulai keluar dari mobil. Tak lama, suara ponselnya kembali terdengar. “Kau terperangkap…” ucap suara dari ponsel itu.

Kibum kaget mendengarnya. Ia menoleh ke belakang dan bisa melihat puluhan lelaki ber-jas mengejarnya. Tanpa banyak bicara, ia berlari secepat mungkin dan sejauh yang ia bisa. Melewati gang-gang dan semua yang ada. Dia berhenti saat melihat seorang pemuda dengan tas selempang yang juga sedang dikerubungi lelaki ber-jas.

“Apa tujuan kalian…sebenarnya?” tanya pemuda itu dengan wajah pucat. Kibum melihat arah mata pemuda tersebut yang ternyata tertuju pada dua orang. Kedua orang itu sudah tak sadarkan diri dengan keadaan kacau. “Menangkap kalian~”

“Siwon?!” gumam Kibum tiba-tiba saat melihat salah satu orang yang tak sadarkan diri tersebut. Pemuda dengan tas selempang tersebut seketika menoleh. “Kau kenal dia?” tanyanya menyelidik. “Ne, dia temanku…” jawab Kibum singkat. “Bersiaplah seperti mereka berdua~!” jawab salah satu pria ber-jas dan langsung menyerang mereka. Kibum memberikan perlawanan, namun Kyuhyun yang tidak bisa berkelahi hanya dapat menghindar.

“Arghhh…!”

Kibum menoleh dan bisa melihat Kyu memegangi perutnya yang terkena pukulan. Dia lengah dan ikut terkena pukulan. Akhirnya, karena jumlah lelaki ber-jas itu yang sungguh banyak, Kyuhyun dan Kibum berhasil dilumpuhkan dan dibawa ke markas.

 

#To Be Continue#

 

@All readers : Comment please ‘n happy reading~ ^^ Author masih tidak berpengalaman dalam membuat FF bergenre Action, jadi mian kalau kurang seru… 😀