Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Wooyoung’

Fanfiction : ~Love, Affection, and Sincerety (Chapter Two)

“Soohan-ah, ireona! Palli~”

Aku terbangun dari tidurku. Tampak siluet seorang yeoja berambut pendek dengan wajah menawan. “Sungra-onnie? Kenapa pagi sekali?”, tanyaku sembari mengerjabkan mata. “Hari ini kita ada press conference antar artis.”, jelas Jaesa-onnie dari yang baru selesai mandi. Rambut panjang lurusnya yang dicat coklat gelap melambai dengan indah.

Press conference?”

“Ne. Dan hati-hati. Pasti kau dan Wooyoung-ssi ditanya perihal hubungan kalian.”, jawab Hanyoung-onnie yang datang dengan nampan di tangannya. Tangannya yang lembut dan seputih salju memberikan nampan berisi makanan dan minuman itu kepadaku. Aku mengangguk pelan dan mulai beranjak memakan roti yang ada di nampan, “Apa…kah ada Super Junior disana?”

Semua member sontak menatapku. “Tentu saja. Semuanya ada disana.”, jawab Hwangki-onnie tanpa memberhentikan tatapan dari mata imutnya. “Kau bohong ‘kan saat bilang kepada Wooyoung bahwa kau sudah melupakannya sedikit?”, tanya Sungra-onnie tepat pada sasaran. Membuatku sama sekali tak bisa menjawab.

“Aisshh~ Itu sama saja kau menghancurkan hati Wooyoung dan Sungmin-oppa sekaligus, Soohan-ah!”, seru Hanyoung-onnie sedikit kesal. “Ani, Hanyoung. Kau salah. Soohan hanya menyakiti hati Wooyoung. Sungmin-oppa sama sekali tidak terluka.”, ucap Jaesa-onnie membenarkan perkataan Hanyoung-onnie.

Aku hanya menunduk mendengarnya.

“Ottokhae, onnie? Otakku selalu berkata untuk melupakan seorang Lee Sungmin dan mulai mencoba mencintai seorang Jang Wooyoung. Tapi hatiku sama sekali tidak berpihak. Sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali yang kulupa dari sosok Lee Sungmin. Dan sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali sosok Jang Wooyoung di hatiku.”

Semua langsung memelukku hangat, “Tenang, Soohan-ah. Kami akan membantumu. Sekarang cepat bersiap-siaplah. Pokoknya, disana kau harus dengan yakin mengatakan bahwa kau adalah yeoja-chingu seorang Jang Wooyoung. Kau harus tegar. Dan ini semua demi kebaikanmu. Ara?”, tanya Hwangki-onnie sembari tersenyum. Aku mengangguk setuju.

 

___

 

Mobil berhenti dan kami semua—member 1PM keluar dan mulai berjalan di red-carpet. Disana member 2PM sudah datang dan tersenyum pada kami. Wooyoung-oppa melambai dan membisikan sesuatu di telingaku, “Hari ini kau terlihat sangat cantik, Soo-ah…”

“Jadi, biasanya tidak?”, bisikku sarkastik. “Setiap saat kau selalu terlihat cantik, namun hari ini kau lebih dari cantik.”, jawabnya masih dengan bisikan. “Apakah sejak aku berpacaran denganmu, aku jadi terlihat lebih cantik?”, tanyaku menggoda. Wooyoung-oppa makin tersenyum dan mau membalas, namun tidak sempat karena kami disuruh berfoto berdua, terpisah dari group kami.

Kami mengambil posisi dengan canggung. “Bisa lebih dekat lagi?”, pinta seorang wartawan. Tangan Wooyoung-oppa sontak memegang pinggangku mesra. Kami berfoto cukup dekat. Dan pipiku merona sempurna. Tampaknya, Woo-oppa juga merasakan yang sama denganku. “Aigoo~ Pancaran pasangan baru memang sangat terasa ya.”, sahut seorang wartawan lagi dan semuanya tertawa. Kami berdua hanya bisa tersenyum malu.

Setelah selesai melakukan sesi foto, kami masuk ke tempat press conference tersebut. Sudah banyak artis, aktor, penyanyi solo, ataupun boy-band dan girl-band yang datang. Dan saat berada di pintu masuk, aku bisa melihat member Super Junior sedang berjalan masuk.

“Annyeong, Soohan-ssi~ Annyeong, Wooyoung-ssi~”, sapa Leeteuk-oppa hangat. “Annyeong haseyo, sunbaenim~”, balas kami berdua serempak. “Chukae untuk kalian.”, ucap Yesung-oppa seraya tersenyum. “Kau nampak sangat bahagia ya setelah berpacaran dengan Wooyoung, Soohan-ssi.”, sahut Kyuhyun-oppa yang lebih sebagai sindiran. Wooyoung-oppa yang juga mengetahui maksud dari perkataan Kyuhyun-oppa, hanya bisa tersenyum (pahit).

“Kalian hanya ber-9, sunbaenim. Dimana Sungmin-hyung?”

Pertanyaan Wooyoung-oppa membuatku sadar bahwa ia tidak terlihat diantara member Super Junior. “Ahh~Sungmin sedang menemani Luna-ssi. Ada barangnya yang tertinggal.”, jawab Eunhyuk-oppa ramah. Seketika itu juga, air mata ingin membrontak turun dari mataku. Wooyoung-oppa yang menyadari keadaanku, langsung menggenggam tanganku erat.

“Kalau begitu, kami permisi dulu, sunbaenim. Annyeong haseyo~”, pamit Woo-oppa sembari menunduk kecil. Lalu, ia terus menggenggam tanganku erat hingga ke tempat duduk. Hingga membuat para wartawan dengan senangnya, memotret kemesraan kami. “Gwenchana, Soo-ah?”

Aku mengangguk pelan. “Mian, oppa. Aku…hanya—”

“Arasso, Soohan-ah. Aku tau kau masih mencintainya. Dan…aku tak pernah mempermasalahkannya. Aku tau…cinta itu…tidak bisa dipaksa.”, ucap Wooyoung-oppa lembut. “Gomawo-yo, oppa. Saranghaeyo.”, jawabku sembari tersenyum. “Mworago-yo? Tadi kau bilang apa?”, tanya Wooyoung-oppa dengan wajah memerah.

“Ya, pasangan baru! Jangan berpacaran disini. Kalian diperhatikan terus daritadi.”

Perkataan Taecyeon-oppa yang berada tepat di belakang kami, membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa. Tak lama, aku bisa melihat Sungmin dan Luna sedang memasuki ruang dan mulai duduk. Mereka berdua tertawa bersama, bercanda bersama, dan tampak sangat bahagia. Membuat semua orang iri, apalagi diriku. Namun, genggaman erat Wooyoung-oppa, membuatku merasa lebih kuat.

Dan itu terus berlangsung hingga acara selesai. Tentu saja aku dan Wooyoung-oppa ditanya perihal pacaran kami. Untung saja, Woo-oppa bisa menjawab semuanya dengan baik. Banyak yang tak percaya sosok Woo-oppa yang suka bercanda, bisa menjadi serius saat bersamaku. Dan aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.

Sungmin-oppa tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan status pacaran antara diriku dan Wooyoung-oppa. Ia tetap tampak bersinar dan gembira dengan Luna. Dan itu…membuatku lebih sakit dari sebelumnya.

 

___

 

Hari yang cukup dingin ini, aku lewati di tempat syuting. Wooyoung-oppa juga ada bersamaku. Kami akan syuting variety show bernama ‘Love Young Love’. Suatu acara variety show mirip ‘We Got Married’, namun dengan dua pasangan yang akan saling memperebutkan tempat untuk menjadi yang terbaik.

Dan dalam acara kali ini, aku dan Wooyoung-oppa akan menjadi salah satu dari pasangan itu. Tetapi, yang menjadi pokok permasalahan dari keresahanku adalah…

“Jadi, lawan kami nanti adalah pasangan Super Junior Sungmin dan f(x) Luna?!”, tanya Wooyoung-oppa terkejut. Begitupun denganku. Ahh~ani! Lebih tepatnya, aku merasakan keterkejutan 100 kali lipat dari keterkejutan Woo-oppa. “Memang kenapa?”, tanya seorang staf, merasakan keterkejutan dari kami berdua.

“Ohh~ani! Mereka berdua adalah pasangan yang sangat mesra. Kami berdua jadi takut. Hahaha…”, ucap Wooyoung-oppa, mencurahkan semua kemampuan aktingnya ke perkataan yang baru saja diucapkan. “Hahaha~ Jangan khawatir! Kalian juga adalah pasangan yang mesra.”, balas staf itu seraya ikut tertawa. Aku menarik nafas lega, setidaknya staf itu tidak curiga.

“Gwenchana, Soo-ah? Apa…kita batalkan saja acara ini?”

Aku menatap Wooyoung-oppa dan kemudian menggeleng, “Tenang, oppa. Aku akan berusaha untuk kuat. Jika bersamamu, aku pasti menjadi kuat.”, ucapku yakin. Wooyoung-oppa tersenyum dan mengecup keningku. “Aigoo~ Kalian ini mesra sekali! Kami jadi takut.”

Kami menoleh dan bisa melihat dengan jelas Sungmin-oppa dan Luna. Tangan Sungmin-oppa melingkar di pinggang Luna dan tangan Luna menyangkut bagian leher Sungmin-oppa. “Annyeong haseyo, Sungmin-hyung~ Annyeong, Luna-ssi~”, sapa Wooyoung-oppa sembari menunduk kecil dan memegang tanganku erat. Kebiasaan Woo-oppa agar aku bisa merasa lebih tegar.

“Annyeong haseyo, Wooyoung-oppa~ Annyeong haseyo, Soohan-onnie~”

Luna menunduk kecil pula. Dan aku hanya bisa ikut menunduk. “Tampaknya acara ini adalah ajang yang bagus untuk mempererat hubungan pasangan kita. Keurae?”

“Ahh~ne. Aku juga merasa begitu.”, jawab Wooyoung-oppa sedikit gugup. “Woo-oppa, disini dingin sekali~”, ucapku dengan nada manja. “Jinjja?”

Wooyoung-oppa membuka jaketnya dan memakaikannya ketubuhku.

Lalu, tangannya menggenggam tanganku hangat dan sekali-kali menggosok-gosokannya. “Sudah merasa baikan?”, tanya Woo-oppa khawatir. Aku mengangguk dan tersenyum, “Gomawo-yo, nae wangja~ Saranghae.”

“Aigoo~ Daripada menganggu kalian, lebih baik kami masuk. Sampai jumpa di acara!”, sahut Sungmin-oppa sembari menggandeng Luna masuk. Setelah mereka berdua sudah benar-benar masuk, aku melepas jaket Wooyoung-oppa dan memakaikannya kembali ke tubuhnya.

“Tadi, aktingmu sangat bagus, Soo-ah~”

“Ne?”

“Yang tadi itu, kau hanya berakting agar Sungmin-hyung cemburu ‘kan?”, tanya Wooyoung-oppa seraya tersenyum, kebiasaannya satu lagi yang membuatku menyukainya. “Mian, oppa.”, jawabku sembari menunduk. “Gwenchana. Justru itu rencana yang bagus! Teruslah begitu, agar Sungmin-hyung tidak berpikir kau sengsara jika tanpanya.”

“Ahh~oppa. Jeongmal jeongmal mianhaeyo~”

“Mian untuk apa lagi?”, tanyanya bingung. “Kau selalu ada di setiap keadaan yang kualami. Tapi, aku tidak pernah membahagiakanmu. Aku selalu membuatmu menderita, oppa. Mianhaeyo~”, kataku jujur. Dia kembali tersenyum, kali ini lebih hangat. “Melihatmu bahagia saja, sudah membuatku bahagia, Park Soohan.”

“Woo-oppa, bila aku diberikan kuasa atas hatiku, hal pertama yang akan kulakukan adalah melupakan Sungmin-oppa dan mencintaimu sepenuh hati.”, ucapku seraya tersenyum. Wooyoung-oppa tersenyum dan membelai rambutku, “Bila ada kehidupan kedua di dunia ini, aku akan meminta agar jodohku dan cintaku hanya pada dirimu, Soo-ah. Saranghae~”

“Ne, na tto saranghae~”

“Syuting akan segera dimulai!”, teriak seorang staf dan kita langsung bergegas masuk ke gedung. Kami bisa melihat Sungmin-oppa dan Luna sudah duduk di salah satu sofa. Di tengah-tengah, ada dua orang yang akan memandu acara. Dan di sampingnya, ada sofa yang masih kosong. Sofa tempat kami akan duduk.

Sebelum mulai, Woo-oppa membisikan suatu kata di telingaku, “Fighting, Soo-ah!”, bisiknya seraya mengepalkan tangannya keatas. Aku tersenyum dan ikut mengepalkan tanganku.

“3…2…1…Action!”

“Annyeong haseyo, pemirsa! Selamat berjumpa di acara terbaru KBS yang bernama ‘Love Young Love’…! Bersama kami, MC Lee Taemin dan MC Han Eunri, kita semua akan bersama-sama melihat dua pasangan yang akan saling beradu untuk mendapat hadiah special!”, ucap Taemin-ssi dengan bersemangat.

Eunri-ssi langsung membalas, “De, dan pasangan yang akan saling beradu untuk edisi perdana ‘Love Young Love’ adalah………”

“Pasangan Sungmin-Luna dan Wooyoung-Soohan!!!”, seru kedua MC dengan lantang. Semua penonton yang menonton langsung bertepuk tangan meriah.

Eunri-ssi kembali memegang kendali, “Mari kita tanya-tanya pasangan Sungmin SJ dan Luna f(x) terlebih dahulu. Jadi, kapan tepatnya kalian mulai pacaran?”

“Kalau dibilang dekat, sudah lama. Tapi kalau mulai pacaran, kira-kira sebulan yang lalu.”, jawab Sungmin-oppa seraya tersenyum manis. Senyum yang selalu kunantikan dan kurindukan. Namun, sayangnya bukan ditujukan untukku. “Tanggal tepatnya?”, tanya Taemin-ssi sembari tersenyum jail. “Mmmm——”

“Tanggal 12 Oktober.”, potong Luna yakin. “Omo~! Kau lupa tanggal dirimu dan Luna-ssi pacaran, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi kaget. “Ani! Ani! Aku hanya bingung antara mau menjawab tanggal aku menyatakan perasaanku pada Luna, atau tanggal ia memberikan jawabannya padaku.”, jawab Sungmin-oppa sembari tertawa.

“Ahhh~Kalau kau Taemin-ssi? Kau sudah berpacaran cukup lama ‘kan? Apakah kau ingat tanggal kau dan Sangrin-ssi berpacaran?”, tanya Eunri-ssi memancing. Taemin-ssi tersenyum malu, apalagi saat Eunri-ssi mengatakan nama yeoja-chingunya. “Tentu saja aku ingat. Aku dan Rin-baby pacaran dari 17 Februari. Tepat dihari ulang tahun Rin-baby.”

“Aigoo~ Kau memanggil Sangrin-ssi dengan ‘Rin-baby’?”

“Ya, Han Eunri! Sebenarnya kau mewawancarai diriku atau mereka sihh?”, tanya Taemin-ssi seraya cemberut. Yang lain kembali tertawa. “Ok! Setelah mewawancarai Lu-Min couple, sekarang kita akan beranjak mewawancarai Woo-Han couple, Wooyoung 2PM dan Soohan 1PM. Kalau kalian, dari kapan mulai pacaran?”

“Tanggal 1 November.”, ucapku dan Woo-oppa yang ternyata secara bersamaan. “Aigoo~ Kalian sangat kompak! Kalian berbeda berapa tahun?”, lanjut Eunri-ssi. “Umur Koreaku 20 tahun dan Woo-oppa 22 tahun. Kami berbeda 2 tahun.”, jawabku mantap. “Wow~ Cocok sekali…! Bagaimana dengan Lu-Min?”, gumam Taemin-ssi.

“Aku 25 tahun dan Luna 18 tahun. Kami berbeda 7 tahun.”, jawab Sungmin-oppa cepat. “Wow~ Perbandingan yang cukup jauh! Tapi, jaman sekarang ini, siapa yang mempedulikan perbandingan umur? Keurae, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi dibalas anggukan Sungmin-oppa dan Luna.

“Kembali ke Woo-Han couple. Biasanya nama julukan kalian satu sama lain apa?”, tanya Taemin-ssi seraya tersenyum. “Yang pasti bukan baby, ‘kan?”, tanya Eunri-ssi, menyindir Taemin-ssi, dan semuanya kembali tertawa. “Aku memanggil Soohan dengan sebutan ‘Soo-ah’ dan Soohan memanggilku dengan sebutan ‘Woo-oppa’. Tidak ada panggilan yang special.”, jawab Wooyoung-oppa sembari menatapku dalam.

“Tidak pernah terpikir untuk mencari panggilan special?”

“Ani. Jujur, kami bukan tipe namja atau yeoja yang romantis. Dan lagi, lebih nyaman bagi kami untuk saling memanggil dengan nama biasa. Mungkin karena kami saling percaya, jadi kami tidak perlu terlalu menunjukan rasa sayang kami.”, jawabku seraya tersenyum. “Rasa sayang? Kenapa bukan rasa cinta?”, tanya Eunri-ssi mengoreksi perkataanku.

“Rasa sayang itu jauh lebih besar dari rasa cinta. Dan kami sudah ada di tahap saling menyayangi.”

Ucapan Wooyoung-oppa membuat semua penonton bertepuk tangan meriah. “Kalian memang pasangan yang luar biasa. Bagaimana dengan kalian Lu-Min couple?”

“Aku memanggil Sungmin-oppa dengan sebutan ‘Umin-oppa’ dan dia memanggilku dengan sebutan ‘Sun-ney’.”, jawab Luna dengan senyuman manisnya. Seketika itu juga, rohku seakan dibanting dengan keras ke tanah. Umin adalah panggilanku padanya. Dan, biasanya ia selalu memanggilku, Soo-ney. Kepanjangan dari ‘Soohan-honey’.

“Kenapa kalian saling memanggil dengan panggilan itu?”

“Umin adalah plesetan dari namaku. Dan perihal ‘Sun-ney’, karena nama asli Luna adalah Sunyeong, jadi aku menggabungkan nama ‘Sunyeong’ dan ‘Honey’ menjadi Sun-ney.”, jelas Sungmin seraya kembali tersenyum. “Aigoo~ Kalian memang adalah pasangan Agyeo…!”, puji Eunri-ssi dan mereka berdua tertawa kecil.

“Tampaknya pasangan Lu-Min dan Woo-Han sama-sama menarik! Sekarang langsung saja. Kalian berempat akan dibawa ke sebuah villa dan di-villa itu hanya ada satu kamar. Keperluan juga sudah tersedia disana. Kita lihat pasangan mana yang paling bisa saling membantu. Dan, ne, disana sudah ada rintangan yang harus kalian lewati berdua. Good luck~”, jelas Taemin-ssi dan kami berempat mengangguk.

 

___

 

“Nah, kita sudah sampai di villa. Kalian akan berada di villa sebelah sana dan kami berdua akan memantau kalian di villa di sebelahnya. Ingat, dalam waktu 3 hari, kalian akan tinggal disini. Uang dan semuanya sudah disiapkan disana. Jadi, kalian tidak boleh membawa uang sendiri. Kalian juga harus melakukan semua kegiatan sendiri. Arasso?”, jelas Eunri-ssi dan kami berempat mengangguk paham.

“Sekarang, kalian harus mengumpulkan dompet kalian terlebih dahulu.”, pinta Taemin-ssi seraya mengumpulkan semua dompet kami. “Ok, kalau begitu sampai ketemu 3 hari lagi~”

 

___

 

“Kecil sekali.”

“Kotor.”

“Lembap.”

“Menjijikan.”

Semua adalah komentar dari kami berempat saat memasuki villa ini. Tampaknya, villa ini sudah lama sekali tidak dibersihkan. “Sekarang bagaimana kalau kita melakukan pembagian pekerjaan?”, usul Wooyoung-oppa cepat. “Tapi, siapa yang akan menentuan pembagiannya? Tidak adil ‘kan kalau hanya kita sendiri yang menentukan?”, tanya Sungmin-oppa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kita lakukan permainan gunting-kertas-batu. Siapa yang kalah akan membersihkan tempat yang lebih jorok. Jika kulihat, yang paling jorok adalah toilet, lalu dapur, ruang makan, dan terakhir yang paling bersih adalah ruang tamu.”, kataku ikut memberi ide. “Nice idea~ Kajja, kita lakukan!”, seru Luna dengan bersemangat.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Aku menang!”, seru Wooyoung-oppa sembari melompat girang. “Sekarang, fighting Soo-ah!”, lanjut Woo-oppa, membuatku tersenyum.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Kali ini aku yang menang!”, teriak Luna kegirangan.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Omo~ Aku kalah!”, gumamku seraya cemberut. “Yeah! Untung, aku sudah tau kebiasaanmu yang selalu mengangkat gunting tiap kali kita main.”, ucap Sungmin-oppa ceria, namun langsung terdiam sejenak setelah menyadari apa yang baru ia katakan. Tampaknya, Luna juga sudah tau kisahku dan Sungmin-oppa, dan Luna pun hanya ikut terdiam.

“Ahh~Kalau begitu, aku akan membersihkan toilet. Kau yang membersihkan ruang tamu saja ya, Soo-ah?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum canggung. “Andwae, oppa! Aku kalah, jadi aku harus mempertanggung jawabkannya.”, seruku lantang. “Tapi…aku tidak mau tangan lembutmu itu menjadi kotor saat terkena kotoran.”

“Bagaimana kalau kita berdua saling membantu?”, usulku dan Wooyoung-oppa akhirnya mengangguk setuju. Kita pun mulai melakukan kegiatan bersih-bersih. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya semua selesai juga. Kami berempat duduk di sofa dengan nafas tak beraturan. Rasa lelah mengerubungi kami.

“Ahh~lebih baik syuting seharian daripada membersihkan ini. Tulangku mau remuk rasanya.”, gumam Luna sembari memijat-mijat pinggangnya. “Jinjja-yo? Akan kupijat.”, seru Sungmin-oppa sembari mulai memijat-mijat bagian belakang tubuh Luna. “Ada yang pegal?”, tanya Woo-oppa perhatian. Aku menggeleng, “Karena ada oppa, rasa pegalku daritadi menjadi hilang. Terbayar oleh senyum imut oppa, tampaknya.”, jawabku dan Woo-oppa langsung mengacak rambutku gemas.

“Sekarang sudah mulai sore. Siapa yang akan menyiapkan makan?”, tanya Sungmin-oppa yang tampaknya sudah selesai memijat Luna. “Bagaimana kalau para yeoja memasak dan para namja membeli bahan-bahan di dapur?”, usul Luna dan kita pun mengangguk setuju.

 

&&&

*Namja*

“Apa yang harus kita beli?”

Wooyoung memikirkan sejenak pertanyaan Sungmin. “Sebaiknya kita membeli bahan yang murah saja. Uang yang disediakan sangat terbatas.”, ucapnya bijaksana dan Sungmin pun mengangguk setuju. “Kita…tidak boleh membawa kendaraan?”

Wooyoung mendengar perkataan Sungmin dan langsung menatap arah yang dituju Sungmin. Tempat dimana mobil baru saja diparkir, kosong. Dan mereka baru sadar, bahwa kunci mereka ada di dompet. Dan dompet itu sudah tersita. Terpaksa mereka berdua berjalan kaki menuju pasar terdekat.

Beberapa yeoja tampaknya mulai menyadari mereka bukan rakyat biasa. Tentu saja terlihat dari wajah khas mereka dan seluruh tubuh mereka yang lebih putih. “Sungmin-hyung, ottokhae?”, tanya Wooyoung, mulai ketakutan akan serangan para fans yang memang sangat liar. “Molla~ Lebih baik, kita pura-pura tidak tau saja.”, jawab Sungmin yang juga mulai ketakutan.

“Apakah oppa Wooyoung 2PM dan Sungmin Super Junior?!”

Pertanyaan seorang yeoja membuat mereka berdua sedikit terkejut. “Siapa itu? Kami tidak tau.”, jawab Sungmin, mengalihkan semua kemampuan aktingnya. “Oppa pasti bohong~ Kalian memang Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa ‘kan?”, kata yeoja itu seraya menatap mereka dengan seksama.

“Ani… Ani… Kau salah orang, nona.”

Wooyoung langsung menarik tangan Sungmin untuk berjalan cepat, meninggalkan yeoja yang kebingungan itu. “Omo~ Nyaris saja…”, gumam Sungmin sembari menarik nafas lega. “Sebaiknya, kita cepat, hyung. Jangan sampai kita dikenali.”

Sungmin mengangguk dan mereka berdua berjalan dengan cepat menuju pasar.

 

&&&

*Yeoja*

“Jadi, onnie…adalah mantan Sungmin-oppa?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Luna yang kurasa sangat nekat. “Ani. Aku bukan dan belum pernah menjadi yeoja-chingu Sungmin-oppa. Dia hanya sahabatku dari dulu.”, jawabku cepat. Itu memang kenyataan, dan aku juga tidak mau membuat hubungan Sungmin-oppa dan Luna hancur. Karena aku tidak mau Luna mengalami hal pahit yang pernah aku rasakan. Dan, aku juga percaya, bahwa Luna benar-benar sangat mencintai Sungmin-oppa dengan tulus hati.

Lebih baik semuanya tetap berjalan seperti ini. Ada pepatah pula bukan yang mengatakan bahwa : ‘Cinta tak harus memiliki’ dan ‘Cinta sejati adalah bila bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia’?

“Onnie…mencintai Sungmin-oppa?”, tanyanya lagi. Aku mengangguk, membuatnya kaget. “Ne, jujur, aku memang mencintainya. Sejak dulu sekali, malah. Namun, rasa cinta saja nampaknya tidak cukup. Dan, cintaku tampaknya bertepuk sebelah tangan.”, jawabku lagi, dengan sangat jujur. “Kenapa onnie merasa bahwa cinta onnie bertepuk sebelah tangan?”

Aku mengela nafas panjang, “Buktinya, Sungmin-oppa memilihmu dan bukan aku, ‘kan?”

Dia mengangguk paham.

“Jangan khawatir~ Aku tidak akan mengambil Sungmin-mu. Aku sudah punya Wooyoung-oppa. Meskipun aku belum mencintainya, aku akan berusaha. Dan aku sangat percaya bahwa ia adalah orang yang sangat baik. Dan yang terpenting…ia mencintaiku.”

Luna kembali mengangguk.

“Cinta memang susah dimengerti ya, onnie?”

Aku mengangguk, “Sangat.”

“Kami…datang~~~!”, teriakan dua orang namja membuat kami terkejut. “Kami membawa…kimchi! Hari ini…kita makan…nasi goreng…kimchi saja ya?”, tanya Sungmin-oppa seraya tersenyum ceria. “Boleh!”, seru Luna cepat. “Kenapa kalian kacau begitu?”, tanyaku bingung. “Kita harus…berlari dari…kejaran para fans.”, jawab Wooyoung-oppa dengan nafas tak beraturan.

“Omo~ Memang kalian tidak mengandarai mobil?”

Sungmin-oppa menjawab, “Tampaknya…mobil kita…sudah dibawa…oleh kru ‘Love Young Love’. Kunci mobil…kita ‘kan ada…di dompet yang tadi…kita kumpulkan.”

“Aigoo~ Kalian tampak sangat lelah. Sebaiknya, kalian istirahat dulu. Biar kami yang memasak. Keurae, Soo-onnie?”, tanya Luna sembari tersenyum ceria. Aku mengangguk, “Tentu saja. Nasi goreng kimchi akan datang sebentar lagi. Kajja, Luna, kita mulai memasak!”, ajakku dibalas anggukan matang darinya. Kami pergi ke dapur dan meninggalkan Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa.

“Apakah kau merasa bahwa mereka jadi…sedikit lebih dekat?”

Wooyoung mengangguk mendengar pertanyaan Sungmin. “Ne, hyung. Aku juga merasakan yang sama. Sedikit…aneh~”

 

___

 

“Nasi goreng kimchi sudah siap!”

“Wow~ Baunya sangat harum!”, seru Wooyoung-oppa seraya ingin mengambil piring. Namun, aku menarik tangannya cepat, “Eh~ Cuci tangan dulu, Woo-oppa!”

Dia tersenyum dan mengangguk, persis seperti anak kecil yang mematuhi aturan eomma-nya. “Kau juga, Umin-oppa!”, teriak Luna dan kita berdua tertawa bersama. “Sudah selesai! Sekarang boleh mulai makan ‘kan, Soo-eomma?”, tanya Wooyoung-oppa dengan tingkah imutnya. “Aigoo! Jadi kau menganggapku eomma-mu selama ini?”, tanyaku pura-pura cemberut. “Ani-yo, jagiya! Aku hanya bercanda.”

“Aku juga hanya bercanda, Baby-Woo. Dan jangan pernah lagi panggil aku jagiya! Kau tidak cocok memanggilku seperti itu.”, ucapku pelan. Wooyoung-oppa kembali tersenyum dan kembali mengangguk. Kita semua pun mulai makan. Setelah makan, kami berempat berpencar. Sungmin-oppa dan Luna memutuskan untuk duduk di sofa, sementara aku dan Wooyoung-oppa memutuskan untuk duduk di teras.

“Lihat ini~”

Aku melihat kearah Wooyoung-oppa dan terkejut, “Gitar?”

“Kau bisa main gitar, Woo-oppa?”, lanjutku tak percaya. Ia mengerucutkan mulutnya, “Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku?”, tanyanya seraya mengerucutkan mulutnya. Aku tertawa pelan, “Tentu saja aku sangat percaya, oppa.”

“Kalau begitu, aku akan menyanyikan dan memainkan sebuah lagu untukmu. Dan kau harus melengkapkan laguku di akhir. Ara?”

Aku mengangguk, meskipun tak sepenuhnya mengerti.

“Pyuhngsaeng gyuhte isseulge… I do~ Nuhl saranghaneun guhl… I do~ Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh… I do~ Nuhreul jikyuhjulge… My love~”

Ia berhenti dan menatapku lekat. Aku masih terkejut dengan semua ini. Benar-benar sesuatu yang tak pernah kukira. Ia menyanyikan lagu…Marry U?? Woo-oppa kembali mendentingkan gitarnya dan bersenandung, “Nawa gyuhrhonhaejullae?”

“I do~”

Suaraku yang merdu, mengalir begitu saja. Membuat Wooyoung-oppa terkejut dan tersenyum bahagia. Namun, aku lebih terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Kulihat, tetesan air mata mengalir dari matanya. “Oppa…”, gumamku, sembari menghapus sungai kecil dari matanya. “Kamsahamnida, Soo-ah. Joengmal kamsahamnia.”

Woo-oppa memelukku. Aku hanya terdiam dalam pelukannya. Ingin rasanya aku memukul diriku sendiri. Aku…sama sekali tak sadar saat menggumamkannya. Dan saat itu, aku malah membayangkan Sungmin-oppa yang memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu ‘Marry U’ untukku.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Kecerobohanku membuat kesalahan yang benar-benar fatal. Tidak mungkin ‘kan aku mengatakan kepada Wooyoung-oppa yang sebenarnya? Ia pasti akan sangat sedih. Dan aku bukan tipe orang yang bisa membuat orang lain bersedih. Lalu, sekarang bagaimana? Apakah aku harus benar-benar melupakan Sungmin-oppa?

 

___

 

Kupandang diriku di cermin. Sempurna.

Gaun putih panjang tersemat di tubuh kecilku. Tatanan rambutku dibuat indah dengan sanggul kecil yang juga putih. Make-up tipis menutupi wajah cantikku, membuatku tampak bersinar. Benar-benar sempurna. Setidaknya…sempurna dari luar. Namun, hatiku? Hanya diriku sendiri yang tau keadaan hatiku yang sudah hancur tak terkira.

Mungkin aku selalu tersenyum, menampakkan wajah palsuku kepada orang-orang. Namun, dalam hatiku, semuanya berbeda. Semuanya jauh dari perkiraan. Semuanya…tak sama.

Dan, dalam hitungan beberapa menit lagi, aku akan menjadi milik seseorang.

Siluet seorang lelaki yang berusia dua puluhan awal muncul dari balik pintu. Ia memakai jas putih yang juga tersemat indah di tubuhnya yang mungil. Perlahan, ia menatap dalam diriku lewat pandangan matanya yang polos. Benar-benar tak ada rasa salah dalam dirinya. Dan, ialah yang membuatku tetap berdiri kokoh. Senyumannya, kelembutannya, kepolosannya, tawanya, dan semua yang ada dalam dirinya membuatku tak mempunyai alasan untuk menyakitinya.

“Soo-ah, kau yakin dengan semua ini?”

Pertanyaan darinya membuatku terkejut. “Apa maksud oppa? Apakah gaun putih yang kupakai ini kurang meyakinkan?”, tanyaku seraya tersenyum manis. Dia tak menjawab, hanya melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. “Belum terlambat. Masih ada 5 menit lagi. Pergilah, Soo-ah. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.”

Ucapannya membuatku lebih terkejut. Tanpa kusadari, air mataku menetes.

“Apa maksudmu, oppa?”

Ia tersenyum, walaupun aku tau itu senyum yang amat terpaksa. “Aku tau selama ini kau masih sangat-sangat mencintai Sungmin-hyung. Dan, dari awal, sebenarnya aku tau rasa cintamu kepada Sungmin-hyung tak pernah berkurang sedikitpun. Aku juga tau bahwa kau tak pernah mencintaiku. Aku…hanya egois, Soo-ah. Aku sempat berpikir bahwa dengan memiliki ragamu saja sudah cukup…”

Wooyoung-oppa berhenti sebentar, menghela nafas, kemudian kembali berbicara, “…namun ternyata aku salah. Memang mestinya, seperti ini. Dan aku takkan bisa melawan takdir. ‘Cinta tak harus memiliki’ itu tampaknya adalah pepatah yang sangat benar.”

“Tapi, jika aku pergi, aku yang egois, oppa. Kau sangat baik padaku, tapi aku tak pernah membalas semua kebaikan dan ketulusanmu. Lagipula, Sungmin-oppa sudah bahagia bersama Luna.”, jawabku, masih tak percaya dengan ini semua. “Ani, Soohan-ah. Sungmin-hyung tidak mencintai Luna sama sekali. Ia juga mencintaimu. Sangat, malah. Namun keadaannya persis sepertimu…”

“…aku dan Luna adalah penggangu cinta kalian. Sekarang, Luna dan aku sudah sadar akan kesalahan kami. Dan, saatnya kalian untuk menebus dosa kami. Kalian harus bahagia, arasso? Sekarang, pergilah! Sungmin-hyung sudah menunggumu di taman belakang. Lewat pintu belakang saja!”

“Acara dimulai satu menit lagi!”

“Pergilah, Soohan-ah! Palli! Sebelum ini semua terlambat.”

Aku akhirnya mengangguk. Saat mau keluar, aku mengecup kening Wooyoung-oppa. “Kamsahamnida, oppa. Kamsahamnida. Mungkin jika di kehidupan ini, kita tak ditakdirkan bersama, aku berjanji dalam kehidupan selanjutnya, aku akan selalu membahagiakanmu.”

Aku mengeluarkan jari kelingkingku dan ia juga mengeluarkannya. Jari kelingking kita bertautan. “Saranghae~ Berbahagialah, Soohan-ah!”, ucapnya disambut anggukanku. Aku langsung berlari menuju Sungmin-oppa yang sudah ada di taman. Aku langsung memeluknya, dan ia balas memelukku. Air mataku berjatuhan.

“Saranghae-yo, Park Soohan. Mian, aku baru bisa mengatakannya sekarang.”

Aku tersenyum, “Na tto saranghae-yo, Lee Sungmin. Na tto mian, aku juga baru mengatakannya sekarang.”

 

___

 

Waktu demi waktu berjalan dengan cepat. Tak sadar, 20 tahun sudah berlalu. Setelah kejadian itu, kami berdua melarikan diri ke Jerman. Tak ada yang tau keadaan kami berdua. Hanya aku, Sungmin-oppa, Wooyoung-oppa, Luna, member Super Junior, dan member 1PM yang tau. Kami dikaruniai 2 anak. Lee Soomin dan Lee Sunghan. Dua malaikat yang selalu berhasil membuat kami tertawa.

Oh ya, apakah aku lupa menceritakan tadi bahwa Wooyoung-oppa dan Luna sudah menikah? Mereka dikaruniai satu malaikat kecil bernama Jang Sunwoo. Dan di umur Sunwoo yang baru menginjak 8 tahun, ia sudah tumbuh menjadi artis dengan banyak kelebihan. Pintar menari seperti appa-nya, dan pintar bernyanyi seperti eomma-nya.

Kami berempat masih sering berhubungan. Malah, kami berencana untuk menjodohkan anak kami nanti.

Dan, kami berdua sangat bahagia. Walaupun, kami bukan seorang member boyband atau girlband lagi, kami turut bahagia dalam usaha kecil-kecilan kami. Panti asuhan ‘Kasih’ yang kami ciptakan secara kecil-kecilan dari sisa penghasilan kami, sudah membuat kami lebih sukses.

Dan juga, kami mendirikan panti asuhan ini untuk mendedikasikan kasih, yang kami terima dari Wooyoung-oppa dan Luna. Karena tanpa kasih mereka, mungkin kami tidak akan pernah bersatu.

Member Super Junior juga sering mengunjungi kami secara diam-diam. Bahkan, yang memberi nama anak sulung kami, Lee Soomin, adalah Leeteuk-oppa. Dan yang memberi nama anak bungsu kami, Lee Sunghan, adalah Eunhyuk-oppa.

Hari-hariku saat ini selalu dipenuhi senyuman. Meskipun, selalu ada ganjalan, kami selalu percaya, bahwa kami bisa melewatinya.

Aku, Park Soohan, bersumpah akan mencintai Lee Sungmin, Lee Soomin, dan Lee Sunghan selamanya! ❤

~_~_~_~

 

Ottokhae, semua? Apakah ceritaku hidupku menarik? Bagi yang sudah membaca, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya… *bow*

Mian, rada aneh~~~ Komen please?? ^^

 

 

 

 

 

 

Fan Fiction : ~Love, Affection, and Sincerety~ (Chapter One)

Annyeong haseyo~ Mau membaca kisahku? Jika mau membacanya, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. ^^

Kisahku bukan kisah Cinderella ataupun kisah Snow White… Kisahku hanya kisah seorang yeoja biasa. Kuharap kalian tidak bosan~ 😀 Sekali lagi kamsahamnida!

 

___

 

Namaku Park Soohan. Usiaku tahun ini 19 tahun. Tak banyak keistimewaan dari diriku. Hanya satu yang istimewa. Sudah lama aku bersahabat dengan Super Junior Lee Sungmin. Mungkin sejak kelas 1 SD. Dan sepertinya aku tidak usah mendeskripiskan sosok fisik Lee Sungmin, bukan? Karena kalian pasti sudah tau jelas.

Lee Sungmin…

Saat pertama kali mengenalnya, ia adalah anak lelaki yang polos. Tak ada teman yang mau bermainnya dengannya. Alasannya sangat sepele. Dia adalah anak yang tergolong feminim. Ia juga lebih menyukai menonton drama sedih hingga menangis tersedu-sedu daripada bermain bola.

Waktu itu aku sedang duduk di ayunan. Menikmati hembusan angin seraya mengemut lollipop rasa stroberi. Lalu, sosoknya datang. Duduk di sebelahku dan ikut memainkan ayunan. Ia juga sedang mengemut lollipop. Tak lama, ia menatapku dan bertanya sesuatu. Dan pertanyaan itu sampai sekarang masih membuatku tertawa terbahak-bahak.

“Apakah kau tau dimana aku bisa membeli benda-benda bewarna pink?”

Tak sadar, setelah itu kami menjadi dekat dan sering mengobrol bersama. Entah karena apa, sekarang saat kami SMP, kami juga berada di sekolah yang sama. Dan kami menjadi semakin dekat. Duduk bersama. Makan bersama. Jalan bersama. Melakukan semuanya bersama. Mungkin karena selera kami yang sama dan kebiasaan kami yang juga sama.

Hubungan persahabatan kami semakin erat dan berhembus senada dengan angin. Entah sejak kapan, perasaanku berubah. Rasa cinta dalam hatiku mulai tumbuh. Dan…tak ada yang bisa mengingkari bahwa dia yang menanamnya. Saat kelas 3 SMP, sesaat sebelum kami lulus, dia mengatakan kepadaku bahwa ia ingin mencoba audisi di Seoul.

Tentu saja aku sangat mendukung keinginannya. Aku membawakan bekal untuknya, bahkan jika hari audisi itu tidak bertabrakan dengan Ujian Akhir, aku akan mengantarnya. Dengan setia, kutunggu dia dari sini. Dari Daegu, kota kecil yang menyimpan segudang kenangan.

Setelah cukup lama, ia mengirimiku surat. Surat singkat yang sangat berharga bagiku.

 

Dear, Park Soohan

Aku lulus audisi! Aku akan masuk ke sebuah boy-band bernama Super Junior ‘05!!! Dan…aku akan tinggal di Seoul. Mungkin kita tidak akan bisa bertemu dalam waktu yang belum bisa kupastikan. Tapi aku janji, Soo-ney! Aku akan berlatih dengan keras agar bisa debut dan membuatmu bangga. Tunggu aku, Soo-ney!

~ Lee Sungmin, your very very bestfriend :D~

 

Dalam hati aku berjanji, aku akan menunggunya sepenuh hati…

Waktu demi waktu bergulir. Sekarang aku berada di SMA. Mencapai kelulusan untuk cepat-cepat pergi ke Seoul. Ya, aku akan menjadi artis! Aku akan menyusulnya. Aku akan mewujudkan mimpi kami!

Saat sedang berjalan kearah sekolah yang terbilang dekat, tak sengaja mataku menatap beberapa majalah yang sedang dijajarkan. Dan aku terpana. Aku melihat fotonya berada di depan sampul majalah! Dengan cepat, aku membeli salah satu dari majalah itu. Di kelas, aku membacanya diam-diam.

Ternyata, ia debut bersama 11 temannya yang lain. Dan difoto itu, ia nampak sangat senang. Karena alasan itu, aku turut senang. Kupeluk erat-erat majalah itu. Membayangkan dia berada disini dan tersenyum manis padaku. Meskipun, aku tau ini semua hanya harapan kosong.

Dan itu terus berulang kulakukan. Saat teman-temanku menanyakan, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku fans berat seorang Lee Sungmin. Kadang ada disaat aku sangat-sangat merindukannya. Dulu kami hampir melakukan semuanya bersama, dan sekarang ia seperti pergi tiba-tiba, menghilang dengan hanya meninggalkan jejak di hatiku.

Tak sadar, aku telah lulus SMA. Dan nilaiku cukup memukau. Sekarang lah saat yang tepat untuk pergi ke Seoul. Cukup berat memang meninggalkan orang tua, namun aku juga sangat merindukannya. Dengan waktu lumayan singkat, aku masuk JYP Entertainment. Sengaja aku tidak memberitahukan hal ini dulu padanya. Biar menjadi kejutan, pikirku.

Satu tahun kemudian, aku debut bersama 4 orang lainnya. Posisiku sebagai main-dance dan sub-vocal. Aku juga adalah magnae di girl-band yang bernama 1PM ini. Memang tampaknya group-ku adalah group versi yeoja dari 2PM. Cukup banyak orang yang mulai mengidolakan 1PM.

Namun yang membahagiakan, dalam suatu acara musik, ia menghampiri ruang rias 1PM dan bermaksud menemuiku. Dan…dia turut senang dengan keberhasilanku. Betapa hatiku berbunga-bunga saat itu. Ia juga mengajakku untuk berkenalan dengan ke-12 member Super Junior lainnya.

Sejak saat itu, kami berdua kembali dekat. Melalui hari-hari kami yang seperti waktu dulu kami lalui. Hanya saja sekarang kami bukan dua orang yang dijauhi. Kami adalah seorang entertainer yang cukup terkenal. Dan kami juga punya masing-masing tanggung jawab sebagai seorang member. Ia pada Super Junior, dan aku pada 1PM.

Sebulan berikutnya, mimpi buruk mulai berada diatas kami. Karena kedekatan kami yang terbilang ‘cukup’ dekat, wartawan mulai bisa menciumnya dan menulis berita bahwa kami berdua berpacaran. ‘Super Junior Lee Sungmin dan 1PM Park Soohan Berpacaran Dari Dulu…?’ Begitulah judul-judul yang berada di sampul berita dan majalah. Dengan foto kami berdua saat sedang karyawisata di Pulau Jeju kelas 1 SMP, yang entah bisa para wartawan dapatkan darimana.

Tentu saja, manager kami marah dan menyuruh kami meluruskan semua yang terjadi. Dan betapa sakitnya hatiku, saat ia dengan lantangnya mengucapkan: “Aku dan Soohan-ssi tidak ada apa-apa. Kami hanya bersahabat, itu saja. Aku sama sekali tidak punya perasaan padanya. Begitupun dia padaku. Kami tak lebih dari seorang teman.”

Ingin sekali mengatakan, aku benar-benar punya perasaan padanya. Lebih dari seorang teman. Aku mencintainya tulus dari hatiku. Seperti kapas yang melayang di udara. Putih dan bersih. Belum ternoda. Namun, belum pasti nasibnya. Berharap akan mendarat di tempat nyaman, tapi siapa yang tau jika angin menerbangkannya?

 

___

 

Beberapa bulan ini, kami tidak pernah berhubungan lagi. Kira-kira sejak ia mengutarakan yang sebenarnya kepada pers. Tak kupungkiri, aku selalu menunggu pesan darinya. Namun, hal itu tak pernah ada. Kadang aku menontonnya lewat televisi di dorm seraya menangis dengan keras.

Para member yang lain sudah tau apa yang terjadi sebenarnya padaku. Dan mereka hanya bisa menghiburku. Tentunya tak membawa hasil yang baik padaku. Aku tetap sama. Seperti yeoja idiot yang selalu menunggu pangerannya datang. Walaupun aku tau di depanku, ada jurang yang sangat susah untuk dilewati.

Beberapa bulan kemudian, Sungra-onnie, leader kami mengatakan bahwa Lee Sungmin akan debut menjadi seorang aktor. Betapa senangnya hatiku saat itu. Keinginannya dari dulu akhirnya bisa tercapai. Saat drama itu pertama main di televisi, aku dan keempat member 1PM lainnya menonton. Sepertinya lebih tepat ‘aku memaksa keempat member lainnya untuk menonton bersamaku’.

Melihatnya berakting tertawa, menangis, tersenyum, dan menderita membuat gumpalan air mata kembali membrontak turun dari mataku. Aku semakin sadar kami terperangkap dalam sebuah penjara yang sama, namun tak boleh mendekat atau menyentuh satu sama lain. Hanya bisa saling melihat dari jauh. Atau mungkin…hanya aku yang melihatnya?

 

___

 

1PM baru merilis album barunya yang semakin meledak. Dan semuanya turut senang untuk itu. Termasuk member 2PM yang adalah selaku sunbae kami. Mereka ikut merayakan pesta kecil-kecilan yang dilaksanakan di rumah Jaesa-onnie, salah satu main-vocal di 1PM.

Di tengah-tengah pesta, tiba-tiba aku merasa pusing, dan aku pun memutuskan untuk beranjak ke balkon. Dengan gaun panjang elegan yang menutupi tubuh rampingku serta rambut ikal panjang yang diikat ke belakang, aku memandangi bintang-bintang di langit yang gelap. Seketika mengingat ucapan namja yang mengisi dua pertiga kehidupanku.

 

[Flashback]

 

“Lihat bintang itu yang paling terang itu? Itu adalah bintang Sirius. Jika kau merindukanku, lihatlah bintang itu, dan rasakanlah bahwa aku sedang tersenyum padamu.”, Ia berbicara seraya tersenyum manis. Matanya yang bersinar terang menatapku dalam.

“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana kalau kau yang merindukanku?”, Aku bertanya dengan polos, dan ia tertawa, “Aku juga akan melihat bintang itu dan membayangkan nae Soo-ney sedang memelukku.”, jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya. “Mwo-ya?! Kau sangat genit, Lee Sungmin!”

“Tapi kau menginginkannya ‘kan, Park Soohan?”

Pertanyaan itu sontak membuat pipiku merona. “Awas kau ya, Umin!!”

___

 

Tak sadar, aku tersenyum saat mengingat memori yang terulang di otakku. Bersamanya. Yah, hanya dengan bersamanya, apapun akan menjadi memori indah. Karena seburuk apapun itu, asalkan dia ada di sampingku, setengah dari bebanku seakan terangkat. Mataku menatap bintang yang paling terang itu. Sirius. Itu katanya.

Dan untuk sedetik, aku merasakan bahwa ia sedang tersenyum padaku. Tak logis, memang. Namun, aku menikmati apa yang aku rasakan itu. Bahkan ikut tersenyum padanya.

“Sedang apa kau disini?”

Suara seorang namja membuatku terkejut dan menoleh.

“Wooyoung-sunbaenim?”

Namja tersebut menghampiri dan berdiri di sebelahku. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Soohan-ssi.”, katanya sembari menatapku. “Ahh~ye. Aku…hanya bosan di dalam.”, jawabku sedikit gugup. Dia tersenyum kecil dan memandang langit, “Ne. Memang di dalam sangat membosankan. Dan tampaknya disini lebih menyenangkan. Keurae, Soohan-ssi?”

“Ne, sunbaenim.”

“Jangan memanggilku sunbaenim. Panggil aku Woo-oppa saja. Dan aku akan memanggilmu Soohan-ah. Boleh ‘kan?”, tanyanya sembari tersenyum lembut. Membuatku semakin gugup, “Tentu saja, Wooyoung-sun—ah, ani! Maksudku Woo-oppa.”

Dia tertawa kecil, “Jangan canggung seperti itu, Soo-ah. Aku tak menyangka dibalik kemampuan dance-mu yang sangat daebak, kau juga adalah yeoja yang pemalu.”

Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan sunbae-ku di JYP Ent ini. Yah, aku memang berubah menjadi yeoja yang diam dan pemalu setelah dia pergi ke Seoul untuk melakukan audisi. Karena sejak dan mulai saat itu, sebagian dari hidupku terasa diambil secara paksa. “Kau juga sering bengong, rupanya.”

Tak ada yang bisa kulakukan selain kembali tersenyum mendengar perkataan Wooyoung-oppa. “Kau lihat bintang yang paling terang itu? Namanya—”

“—sirius?”

Dia mengangguk mendengar jawabanku. “Jika kau melihat bintang itu…anggap saja aku sedang tersenyum padamu.”

Air mata sudah tak bisa kubendung lagi. Akhirnya turun membentuk sungai-sungai kecil yang mengaliri wajahku. Membuat sebagian make-up tebal yang dipakaikan, mulai meluntur. Perkataan Wooyoung-oppa benar-benar mirip dengan perkataannya. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain menangis.

“Kau…kenapa, Soohan-ah?”

Aku tak menjawab. Bukan tak mau, tapi derasnya air mata yang mengalir, membuatku susah untuk mengatakan sesuatu. Wooyoung-oppa memelukku. Membuatku kaget, memang. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkannya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Tubuhku benar-benar tak sanggup untuk melawan saat ini.

 

___

 

Aku membuka mata. Ini…adalah kamarku di dorm 1PM. Tetapi, kenapa aku bisa ada disini? “Sudah sadar, Soo-ah? Syukurlah!”, seru Hanyoung-onnie sembari tersenyum senang. “Kenapa…aku ada disini?”, tanyaku, masih belum mengingat kejadian kemarin. “Kemarin kau pingsan, dan Wooyoung-sunbae yang membawamu kesini.”, jelas Hwangki-onnie.

Penjelasan Hwangki-onnie seperti membuka kembali pintu memoriku. Sekarang aku bisa mengingat dengan jelas kejadian kemarin. Kejadian yang sangat memalukan bagiku. “Bagaimana kau bisa ada di balkon bersama Wooyoung-ssi?”, tanya Sungra-onnie dengan pandangan penasaran. Yang lain mengangguk setuju dengan pertanyaan Sungra-onnie.

“Aku hanya sedikit pusing, jadi aku beranjak ke balkon. Lalu, Woo-oppa datang dan kami mengobrol sebentar sebelum aku menangis lalu pingsan.”, jelasku sesingkat mungkin. Para onnie ber-ohhh ria mendengar penjelasanku. “Tunggu! Tadi kau memanggil Wooyoung-ssi dengan ‘Woo-oppa’?”

Semuanya memandang Hanyoung-onnie dan kemudian memandangku. “Woo-oppa menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.”, jawabku dengan cepat.

“Tapi, kenapa kau menangis?”

Pertanyaan Jaesa-onnie membuat yang lain kembali menatapku penasaran. “Jangan bilang kau teringat pada Sungmin-sunbae…”, ucap Hwangki-onnie dan aku hanya bisa mengangguk seraya menunduk. “Lebih baik kau dengan Wooyoung daripada dengan si pabo itu.”

“Namanya bukan si pabo, Sungra-onnie! Namanya Lee Sungmin!”

“Aku tau, Park Soohan. Tapi dia memang sangat pabo!”, seru Sungra-onnie lagi, dibalas anggukan para member lainnya. “Annyeong~ Boleh aku masuk?”, tanya orang dari luar kamar dorm-ku. “Pintunya tidak terkunci!”, sahut Jaesa-onnie dan orang itu masuk ke kamarku. “Bagaimana keadaanmu, Soo-ah? Sudah baikan?”

“Wooyoung-oppa…?”

Sungra-onnie langsung memotong, “Kami berempat masih ada kerjaan. Kami pergi dulu ya~”, katanya dan keempat onnie-ku langsung bergegas pergi. Dan tinggalah aku bersama Wooyoung-oppa sendiri. Ia menghampiriku dengan canggung dan memberikan sebuket bunga untukku. “Kau suka bunga mawar, bukan?”

“Tapi…bagaimana oppa tau?”

Wooyoung-oppa tersenyum mendengar pertanyaanku, “Karena aku sudah bertanya pada hatimu.”

“Maksud…oppa?”, tanyaku lagi dan Wooyoung-oppa kembali tersenyum. “Maukah kau menjadi pendampingku, Park Soohan?”

“Mworago?”, tanyaku kaget. “Sejak kau masuk JYP, Soo-ah. Sejak kau masuk JYP, aku sudah mulai mencintaimu. Kupikir ini hanya karena terpesona melihat kecantikan dan bakat dari dalam dirimu, namun aku salah. Park Soohan telah benar-benar mencuri hati Jang Wooyoung.”, ucapnya seraya tersenyum.

Aku masih terpaku. Dia memberikan ekspresi menunggu.

“Jadi…?”

“Ngg…boleh meminta waktu, oppa?”

Wooyoung-oppa kembali tersenyum, memamerkan lekuk giginya yang putih dan unik. “Tentu saja. Kapanpun kau mau, Park Soohan. Dan—aku masih ada jadwal dengan 2PM, jadi…aku harus pergi sekarang. Annyeong, Soo-ah~”, pamitnya sembari mendekat ke pintu. Ia berhenti saat memegang gagang pintu, “Pikirkanlah lagi. Ok?”, lalu bergegas keluar.

Tak lama, keempat onnie kembali masuk dan menghampiriku. Aku masih terpaku di tempat. Tidak tau ingin berbuat apa. “Omo! Kau baru ditembak Wooyoung-ssi, Soohan!!!”, teriak Sungra-onnie girang. “Kau sangat beruntung!”, lanjut Jaesa-onnie. Aku mengernyitkan dahi, “Darimana kalian tau?”

“Kita tak sengaja mendengar pembicaraan kalian.”, jawab Hwangki-onnie dengan memberi penekanan pada kata ‘tak sengaja’. “Jadi, ottokhae? Kau menerimanya?”, tanya Hanyoung-onnie penasaran. “Aku meminta waktu terlebih dahulu.”, jawabku pelan.

“Mwo-ya?! Keundae, wae? Apakah lagi-lagi karena si pabo itu?”

“Sudah kubilang, namanya Lee Sungmin, Sungra onnie~ Bukan si pabo.”, ralatku pelan. “Terima saja Wooyoung, Soohan-ah. Setidaknya, ia mencintaimu. Buat apa kau mendambakan sebuah berlian yang ada di tepi jurang, sedangkan ada emas yang tergeletak di pangkuanmu, Soo-ah!”, ucap Jaesa-onnie bijak. Yang lain mengangguk mendengar perkataan Jaesa-onnie yang memang masuk di akal.

“Akan kupertimbangkan, onnie. Kamsahamnida.”

 

___

 

Hari-hari kedepanku masih sama. Suram dan hampa. Hanya keempat member 1PM lainnya yang bisa membuatku tersenyum, walaupun itu senyum terpaksa sekalipun. Lee Sungmin masih melakukan aktifitasnya dengan Super Junior. Kadang kami berada di satu acara yang sama, melakukan game-show bersama, ataupun acara-acara lainnya. Namun, kami hanya diam. Tak ada yang keluar dari mulut kami. Kalau ada, itu hanya karena tuntutan acara itu sendiri.

Saat sedang berjalan melangkah pulang ke dorm 1PM, aku mendengar beberapa kru sedang berbicara dengan suara bisikan, namun cukup jelas terdengar olehku. “Apa kau tau? Sungmin SuJu sangat dekat dengan Luna f(x). Tampaknya mereka sedang berkencan.”, bisik salah satu dari kru itu. “Jinjja? Mereka memang sangat cocok. Sungmin-ssi sangat tampan dan Luna-ssi sangat cantik.

Hatiku seketika hancur mendengarnya.

Gelombang air mata kembali mencoba menerpaku. Namun, aku mencoba menahannya, dan langsung bergegas ke mobil dimana semua member sudah berkumpul. Disana aku langsung menangis. Apakah aku memang cengeng? Atau kah memang cinta begitu sulit untuk dihadapi?

 

___

 

Pagi ini tetap sama. Hanya kekelaman sekarang semakin menyelimutiku. Aku tak bisa berpaling, juga tidak bisa menutup mata. Berita kedekatan antara dia dan Luna f(x) makin menjadi-jadi. Mereka berdua memang belum membenarkan pemberitaan para media, namun mereka juga tidak mengelak dari pemberitaan itu. Dan sekarang aku hanya bisa disini. Memantau mereka dari balik layar kaca.

Keempat member lain sedang ada keperluan masing-masing. Jadi, aku terpaksa melakukan semuanya sendiri hari ini. Suara bel dorm bergema ringan, memecah kesunyian yang sempat aku nikmati. Dalam hati aku mengumpat kesal kepada penggangu yang menekan bel dorm tanpa henti ini. Namun, setelah melihat siapa yang datang, aku memutuskan untuk menahan diriku.

“Annyeong haseyo~ Ada kiriman bunga mawar untukmu!”, seru seorang namja bertopi seraya memberikan sebuket bunga mawar. “Dari siapa?”, tanyaku dengan ekspresi santai. “Dari pangeran yang baru turun dari langit.”, jawabnya seraya tersenyum dan membuka topinya. “Woo…young-oppa?”

Yang dipanggil tersenyum dan mengacak rambutku. “Jadi…bagaimana keputusanmu?”, tanya Woo-oppa dengan cepat, langsung pada tujuan.

Jujur, aku belum pernah memikirkan hal itu lagi, apalagi setelah tau kedekatan pujaan hatiku dengan Luna f(x). “Sungmin-hyung sudah bersama Luna. Apakah kau masih perlu menunggunya? Ia tak menunggumu atau memperhatikanmu sama sekali. Untuk apa kau mencintai seseorang yang tidak mengharapkanmu?”

“Bagaimana…oppa tau kalau aku…mencintai Sungmin-oppa?”

Wooyoung-oppa tersenyum perih dan kembali mengacak rambutku, “Hatimu yang memberitahu hatiku.”, katanya lembut. Aku mulai berpikir keras. Perkataan Wooyoung-oppa dan perkataan Jaesa-onnie waktu lalu, terus bergema dalam hatiku.

“Buat apa kau mendambakan sebuah berlian yang ada di tepi jurang, sedangkan ada emas yang tergeletak di pangkuanmu, Soo-ah!”

“Sungmin-hyung sudah bersama Luna. Apakah kau masih perlu menunggunya? Ia tak menunggumu atau memperhatikanmu sama sekali. Untuk apa kau mencintai seseorang yang tidak mengharapkanmu?”

Dan, perkataan mereka sialnya benar. Apakah sekarang aku harus merelakannya dan menerima Wooyoung-oppa, namja yang selalu ada untukku?

“Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, Soo-ah. Aku akan berusaha membuat hatimu bisa menerimaku sepenuh hati. Setidaknya, akan lebih baik daripada hanya menunggu Sungmin-hyung dengan harapan kosong, ‘kan?”

Ahh, perkataannya lagi-lagi benar.

“Ne, Wooyoung-oppa. Aku menerimamu.”, kataku seraya berusaha tersenyum, “Jujur, aku memang belum mencintaimu, tapi aku akan berusaha juga untuk mulai mencintaimu.”

Wooyoung-oppa tersenyum cerah. “Kamsahamnida, Soo-ah. Neomu kamsahamnida. Kajja~!”, seru Woo-oppa sembari menarikku. “Mau kemana kita?”, tanyaku yang kaget. “Kita akan ke gedung JYP!”, seru Wooyoung-oppa lagi. “Untuk apa?”

“Untuk meminta izin mulai berpacaran!”

Aku tersenyum melihat namja yang berbeda 2 tahun dariku ini. Senyum tulus pertama yang aku tunjukkan setelah ia pergi. Di gedung JYP, Wooyoung-oppa memberitahu status baru kita kepada setiap orang. Dan aku hanya bisa kembali tersenyum mendengarnya. Bahkan, Park Jinyoung-songsaenim, pemilik JYP Entertainment menyetujuinya.

“Sekarang, kajja kita memulai kencan pertama kita!”

“Kencan?”

“Ne. Memang kenapa?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum. “Aku…belum pernah berkencan seumur hidupku.”, jawabku jujur. “Err—aku juga.”, balasnya hingga membuatku terkejut. “Oppa pasti bohong! Mana mungkin oppa belum punya yeoja-chingu hingga sekarang.”

Woo-oppa tersenyum malu, “Yahhh~memang banyak yang tak percaya.”

Kami memilih taman ria sebagai tempat pertama kami berkencan. Alasannya sederhana. Kami tidak pergi ke taman ria untuk waktu yang sudah cukup lama. Saat kami bergegas turun dari mobil, aku menarik tangan Wooyoung-oppa.

“Oppa, apakah tidak apa-apa jika kita jalan ke taman ria tanpa memakai penyamaran?”

Woo-oppa tersenyum, “Memang kenapa? Kau malu kalau kita ketahuan jalan berdua?”, tanyanya cepat. “Tentu saja tidak! Malah kebanggaan bagiku bisa berjalan dengan oppa. Tapi…pasti kita akan masuk berita dan digosipkan berpacaran.”, kataku pelan. “Memang kita pacaran ‘kan? Daripada kita merahasiakan hubungan kita, lebih baik kita menceritakannya dari awal.”

Aku mengangguk mendengar jawaban Wooyoung-oppa. Kami pun mulai memasuki taman ria. Bermain dan tertawa bersama. Banyak pengunjung yang menyadari kami berdua, dan akhirnya memfoto dan meminta tanda tangan kami. Dan, jujur, aku sangat bahagia hari ini. Setelah mulai sore, kami duduk di sebuah bangku.

“Hari ini kau bahagia, Soo-ah?”

“Tentu saja, Woo-oppa. Sangat bahagia.”

Wooyoung-oppa tersenyum, “Aku juga sangat bahagia. Ini hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Bisa berkencan dengan yeoja yang sangat kucintai.”, ucapnya sembari menyenderkan kepalanya di bahuku. “Kau sedang berkata gombal, Woo-oppa.”, kataku seraya mengerucutkan mulutku.

“Ani! Seorang Jang Wooyoung tak pernah berkata gombal.”

Kami berdua kembali tertawa bersama.

Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang. Di dorm, kami berdua langsung dikerebuti para member 1PM dan 2PM yang sedang ada di dorm 1PM. “Jadi, benar kalian pacaran?”, tanya Taecyeon-oppa dengan penasaran. “Tau darimana, Taec-hyung?”, tanya Wooyoung-oppa kaget. “Dari televisi. Katanya kalian habis dari taman ria dan ketika Jinyoung-songsaenim ditanya, ia menjawab kalau kalian memang baru pacaran.”

“Ternyata, berita memang cepat sekali berhembus.”

Komentar dari Wooyoung-oppa membuat yang lain membelalakan matanya. “Jadi, kalian benar-benar pacaran?!”, tanya Sungra-onnie terkejut. “Memang kenapa kalau iya, onnie?”, tanyaku, mencoba keluar dari diam yang daritadi kuciptakan. “Omona! Aku tak percaya ini. Akhirnya, uri Wooyoung punya pacar! Dan kenapa harus kau yang menjadi pacarnya, Soohan-ssi? Aku sangat tidak rela~~~”

Perkataan Junsu-oppa membuat yang lain tertawa.

“Lalu, bagaimana dengan Sungmin-oppa?”

Pertanyaan Hwangki-onnie sontak membuat semua mata memandangnya dan aku secara bergantian. Para member 1PM yang lain hanya bisa menyesali perkataan Hwangki-onnie barusan. “Memang kenapa dengan Sungmin-hyung?”, tanya Junho-oppa padaku. Member 2PM yang lain juga tampak penasaran.

“Aku——-”

“Soohan mencintai Sungmin-hyung. Dan ia masih belum bisa melupakannya hingga sekarang. Tapi aku akan berusaha agar Soohan bisa melupakan Sungmin-hyung. Meskipun, harus selamanya.”, ucap Wooyoung-oppa lantang dengan santai, seperti tak ada rasa kesedihan dari raut wajahnya. Namun, tentu saja semua orang tau bahwa hatinya sedang merasakan sakit yang tak terkira.

Mau menangis mendengarnya. Tampaknya cinta Wooyoung-oppa padaku, memang sangat besar. “Ne, oppa. Dan usahamu tampaknya akan segera berhasil. Baru hari ini kita pacaran, tapi aku sudah bisa melupakan Sungmin-oppa sebesar 10 persen. Aku yakin, sebentar lagi aku akan melupakan Sungmin-oppa untuk selamanya.”

“Jinjja-yo?!”

Wooyoung-oppa bertanya dengan mata yang berbinar-binar. Persis seperti anak yang baru mendapat permen. “Kalau begitu, kami pulang dulu ya. Annyeong, Sungra-noona, Jaesa-noona, Hanyoung-noona, Hwangki-noona, dan Soohan-ssi~”, pamit magnae 2PM, Chansung-oppa. “Annyeong, Junsu-oppa, Nickhun-oppa, Taecyeon-oppa, Wooyoung-ssi, Junsu-ssi, dan Chansung-ssi~”, balas Hanyoung-onnie ramah.

“Wooyoung-ah~”, sahut Taecyeon-oppa sembari mendorong Wooyoung ke belakang. Wooyoung-oppa maju perlahan tepat di depanku dan menunduk malu. Lalu, dengan cepat mencium pipiku, dan langsung keluar dari dorm 1PM. Tak sadar, semburat merah tampak di pipiku. Yang lain tertawa melihat tingkah kami.

“Aku akan ke kamarku dulu, onnie.”

Yang lain mengangguk mendengar perkataanku. Di kamar, aku kembali menangis. Dengan cepat, aku menulis di selembar kertas.

 

Mianhamnida, Wooyoung-oppa~

Aku terpaksa membohongimu…

Sebenarnya, tak sepersen pun aku bisa melupakan Sungmin-oppa…

Bayangannya terlalu besar untuk kutepis…

Senyumannya terlalu manis untuk kulupakan…

Sifatnya terlalu baik untuk kutolak…

Dan mungkin selamanya aku akan terus mencintai Sungmin-oppa…

Aku tau aku bodoh…

Namun, lagi-lagi aku lebih memilih menjadi yeoja pabo…

 

-Park Soohan-


Kulipat kertas itu dan kurobek-robek. Kubuang ke tempat sampah yang ada di sebelah kasurku. Memang ini yang selalu kulakukan saat sedang sedih. Menumpahkan semuanya kepada tulisan. Dan, hatiku menjadi lebih lega. Setidaknya, untuk saat ini. Dengan cepat, aku memejamkan mataku. Berharap bahwa di hari esok, semua akan secerah mentari pagi.

 

TBC

 

~!~

 

Ottokhae, Fira-onn?? Mian, sudah menunggu lama…

Suka?

Sebenarnya, rada berat nulis cerita ini, soalnya Sungmin-oppa ama Wooyoung-oppa ada disini~ *nangis*

Lanjuuutannya sebentar lagi ya~ Ditunggu saja! *chu*