Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Sungmin’

Fanfiction : ~Love, Affection, and Sincerety (Chapter Two)

“Soohan-ah, ireona! Palli~”

Aku terbangun dari tidurku. Tampak siluet seorang yeoja berambut pendek dengan wajah menawan. “Sungra-onnie? Kenapa pagi sekali?”, tanyaku sembari mengerjabkan mata. “Hari ini kita ada press conference antar artis.”, jelas Jaesa-onnie dari yang baru selesai mandi. Rambut panjang lurusnya yang dicat coklat gelap melambai dengan indah.

Press conference?”

“Ne. Dan hati-hati. Pasti kau dan Wooyoung-ssi ditanya perihal hubungan kalian.”, jawab Hanyoung-onnie yang datang dengan nampan di tangannya. Tangannya yang lembut dan seputih salju memberikan nampan berisi makanan dan minuman itu kepadaku. Aku mengangguk pelan dan mulai beranjak memakan roti yang ada di nampan, “Apa…kah ada Super Junior disana?”

Semua member sontak menatapku. “Tentu saja. Semuanya ada disana.”, jawab Hwangki-onnie tanpa memberhentikan tatapan dari mata imutnya. “Kau bohong ‘kan saat bilang kepada Wooyoung bahwa kau sudah melupakannya sedikit?”, tanya Sungra-onnie tepat pada sasaran. Membuatku sama sekali tak bisa menjawab.

“Aisshh~ Itu sama saja kau menghancurkan hati Wooyoung dan Sungmin-oppa sekaligus, Soohan-ah!”, seru Hanyoung-onnie sedikit kesal. “Ani, Hanyoung. Kau salah. Soohan hanya menyakiti hati Wooyoung. Sungmin-oppa sama sekali tidak terluka.”, ucap Jaesa-onnie membenarkan perkataan Hanyoung-onnie.

Aku hanya menunduk mendengarnya.

“Ottokhae, onnie? Otakku selalu berkata untuk melupakan seorang Lee Sungmin dan mulai mencoba mencintai seorang Jang Wooyoung. Tapi hatiku sama sekali tidak berpihak. Sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali yang kulupa dari sosok Lee Sungmin. Dan sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali sosok Jang Wooyoung di hatiku.”

Semua langsung memelukku hangat, “Tenang, Soohan-ah. Kami akan membantumu. Sekarang cepat bersiap-siaplah. Pokoknya, disana kau harus dengan yakin mengatakan bahwa kau adalah yeoja-chingu seorang Jang Wooyoung. Kau harus tegar. Dan ini semua demi kebaikanmu. Ara?”, tanya Hwangki-onnie sembari tersenyum. Aku mengangguk setuju.

 

___

 

Mobil berhenti dan kami semua—member 1PM keluar dan mulai berjalan di red-carpet. Disana member 2PM sudah datang dan tersenyum pada kami. Wooyoung-oppa melambai dan membisikan sesuatu di telingaku, “Hari ini kau terlihat sangat cantik, Soo-ah…”

“Jadi, biasanya tidak?”, bisikku sarkastik. “Setiap saat kau selalu terlihat cantik, namun hari ini kau lebih dari cantik.”, jawabnya masih dengan bisikan. “Apakah sejak aku berpacaran denganmu, aku jadi terlihat lebih cantik?”, tanyaku menggoda. Wooyoung-oppa makin tersenyum dan mau membalas, namun tidak sempat karena kami disuruh berfoto berdua, terpisah dari group kami.

Kami mengambil posisi dengan canggung. “Bisa lebih dekat lagi?”, pinta seorang wartawan. Tangan Wooyoung-oppa sontak memegang pinggangku mesra. Kami berfoto cukup dekat. Dan pipiku merona sempurna. Tampaknya, Woo-oppa juga merasakan yang sama denganku. “Aigoo~ Pancaran pasangan baru memang sangat terasa ya.”, sahut seorang wartawan lagi dan semuanya tertawa. Kami berdua hanya bisa tersenyum malu.

Setelah selesai melakukan sesi foto, kami masuk ke tempat press conference tersebut. Sudah banyak artis, aktor, penyanyi solo, ataupun boy-band dan girl-band yang datang. Dan saat berada di pintu masuk, aku bisa melihat member Super Junior sedang berjalan masuk.

“Annyeong, Soohan-ssi~ Annyeong, Wooyoung-ssi~”, sapa Leeteuk-oppa hangat. “Annyeong haseyo, sunbaenim~”, balas kami berdua serempak. “Chukae untuk kalian.”, ucap Yesung-oppa seraya tersenyum. “Kau nampak sangat bahagia ya setelah berpacaran dengan Wooyoung, Soohan-ssi.”, sahut Kyuhyun-oppa yang lebih sebagai sindiran. Wooyoung-oppa yang juga mengetahui maksud dari perkataan Kyuhyun-oppa, hanya bisa tersenyum (pahit).

“Kalian hanya ber-9, sunbaenim. Dimana Sungmin-hyung?”

Pertanyaan Wooyoung-oppa membuatku sadar bahwa ia tidak terlihat diantara member Super Junior. “Ahh~Sungmin sedang menemani Luna-ssi. Ada barangnya yang tertinggal.”, jawab Eunhyuk-oppa ramah. Seketika itu juga, air mata ingin membrontak turun dari mataku. Wooyoung-oppa yang menyadari keadaanku, langsung menggenggam tanganku erat.

“Kalau begitu, kami permisi dulu, sunbaenim. Annyeong haseyo~”, pamit Woo-oppa sembari menunduk kecil. Lalu, ia terus menggenggam tanganku erat hingga ke tempat duduk. Hingga membuat para wartawan dengan senangnya, memotret kemesraan kami. “Gwenchana, Soo-ah?”

Aku mengangguk pelan. “Mian, oppa. Aku…hanya—”

“Arasso, Soohan-ah. Aku tau kau masih mencintainya. Dan…aku tak pernah mempermasalahkannya. Aku tau…cinta itu…tidak bisa dipaksa.”, ucap Wooyoung-oppa lembut. “Gomawo-yo, oppa. Saranghaeyo.”, jawabku sembari tersenyum. “Mworago-yo? Tadi kau bilang apa?”, tanya Wooyoung-oppa dengan wajah memerah.

“Ya, pasangan baru! Jangan berpacaran disini. Kalian diperhatikan terus daritadi.”

Perkataan Taecyeon-oppa yang berada tepat di belakang kami, membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa. Tak lama, aku bisa melihat Sungmin dan Luna sedang memasuki ruang dan mulai duduk. Mereka berdua tertawa bersama, bercanda bersama, dan tampak sangat bahagia. Membuat semua orang iri, apalagi diriku. Namun, genggaman erat Wooyoung-oppa, membuatku merasa lebih kuat.

Dan itu terus berlangsung hingga acara selesai. Tentu saja aku dan Wooyoung-oppa ditanya perihal pacaran kami. Untung saja, Woo-oppa bisa menjawab semuanya dengan baik. Banyak yang tak percaya sosok Woo-oppa yang suka bercanda, bisa menjadi serius saat bersamaku. Dan aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.

Sungmin-oppa tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan status pacaran antara diriku dan Wooyoung-oppa. Ia tetap tampak bersinar dan gembira dengan Luna. Dan itu…membuatku lebih sakit dari sebelumnya.

 

___

 

Hari yang cukup dingin ini, aku lewati di tempat syuting. Wooyoung-oppa juga ada bersamaku. Kami akan syuting variety show bernama ‘Love Young Love’. Suatu acara variety show mirip ‘We Got Married’, namun dengan dua pasangan yang akan saling memperebutkan tempat untuk menjadi yang terbaik.

Dan dalam acara kali ini, aku dan Wooyoung-oppa akan menjadi salah satu dari pasangan itu. Tetapi, yang menjadi pokok permasalahan dari keresahanku adalah…

“Jadi, lawan kami nanti adalah pasangan Super Junior Sungmin dan f(x) Luna?!”, tanya Wooyoung-oppa terkejut. Begitupun denganku. Ahh~ani! Lebih tepatnya, aku merasakan keterkejutan 100 kali lipat dari keterkejutan Woo-oppa. “Memang kenapa?”, tanya seorang staf, merasakan keterkejutan dari kami berdua.

“Ohh~ani! Mereka berdua adalah pasangan yang sangat mesra. Kami berdua jadi takut. Hahaha…”, ucap Wooyoung-oppa, mencurahkan semua kemampuan aktingnya ke perkataan yang baru saja diucapkan. “Hahaha~ Jangan khawatir! Kalian juga adalah pasangan yang mesra.”, balas staf itu seraya ikut tertawa. Aku menarik nafas lega, setidaknya staf itu tidak curiga.

“Gwenchana, Soo-ah? Apa…kita batalkan saja acara ini?”

Aku menatap Wooyoung-oppa dan kemudian menggeleng, “Tenang, oppa. Aku akan berusaha untuk kuat. Jika bersamamu, aku pasti menjadi kuat.”, ucapku yakin. Wooyoung-oppa tersenyum dan mengecup keningku. “Aigoo~ Kalian ini mesra sekali! Kami jadi takut.”

Kami menoleh dan bisa melihat dengan jelas Sungmin-oppa dan Luna. Tangan Sungmin-oppa melingkar di pinggang Luna dan tangan Luna menyangkut bagian leher Sungmin-oppa. “Annyeong haseyo, Sungmin-hyung~ Annyeong, Luna-ssi~”, sapa Wooyoung-oppa sembari menunduk kecil dan memegang tanganku erat. Kebiasaan Woo-oppa agar aku bisa merasa lebih tegar.

“Annyeong haseyo, Wooyoung-oppa~ Annyeong haseyo, Soohan-onnie~”

Luna menunduk kecil pula. Dan aku hanya bisa ikut menunduk. “Tampaknya acara ini adalah ajang yang bagus untuk mempererat hubungan pasangan kita. Keurae?”

“Ahh~ne. Aku juga merasa begitu.”, jawab Wooyoung-oppa sedikit gugup. “Woo-oppa, disini dingin sekali~”, ucapku dengan nada manja. “Jinjja?”

Wooyoung-oppa membuka jaketnya dan memakaikannya ketubuhku.

Lalu, tangannya menggenggam tanganku hangat dan sekali-kali menggosok-gosokannya. “Sudah merasa baikan?”, tanya Woo-oppa khawatir. Aku mengangguk dan tersenyum, “Gomawo-yo, nae wangja~ Saranghae.”

“Aigoo~ Daripada menganggu kalian, lebih baik kami masuk. Sampai jumpa di acara!”, sahut Sungmin-oppa sembari menggandeng Luna masuk. Setelah mereka berdua sudah benar-benar masuk, aku melepas jaket Wooyoung-oppa dan memakaikannya kembali ke tubuhnya.

“Tadi, aktingmu sangat bagus, Soo-ah~”

“Ne?”

“Yang tadi itu, kau hanya berakting agar Sungmin-hyung cemburu ‘kan?”, tanya Wooyoung-oppa seraya tersenyum, kebiasaannya satu lagi yang membuatku menyukainya. “Mian, oppa.”, jawabku sembari menunduk. “Gwenchana. Justru itu rencana yang bagus! Teruslah begitu, agar Sungmin-hyung tidak berpikir kau sengsara jika tanpanya.”

“Ahh~oppa. Jeongmal jeongmal mianhaeyo~”

“Mian untuk apa lagi?”, tanyanya bingung. “Kau selalu ada di setiap keadaan yang kualami. Tapi, aku tidak pernah membahagiakanmu. Aku selalu membuatmu menderita, oppa. Mianhaeyo~”, kataku jujur. Dia kembali tersenyum, kali ini lebih hangat. “Melihatmu bahagia saja, sudah membuatku bahagia, Park Soohan.”

“Woo-oppa, bila aku diberikan kuasa atas hatiku, hal pertama yang akan kulakukan adalah melupakan Sungmin-oppa dan mencintaimu sepenuh hati.”, ucapku seraya tersenyum. Wooyoung-oppa tersenyum dan membelai rambutku, “Bila ada kehidupan kedua di dunia ini, aku akan meminta agar jodohku dan cintaku hanya pada dirimu, Soo-ah. Saranghae~”

“Ne, na tto saranghae~”

“Syuting akan segera dimulai!”, teriak seorang staf dan kita langsung bergegas masuk ke gedung. Kami bisa melihat Sungmin-oppa dan Luna sudah duduk di salah satu sofa. Di tengah-tengah, ada dua orang yang akan memandu acara. Dan di sampingnya, ada sofa yang masih kosong. Sofa tempat kami akan duduk.

Sebelum mulai, Woo-oppa membisikan suatu kata di telingaku, “Fighting, Soo-ah!”, bisiknya seraya mengepalkan tangannya keatas. Aku tersenyum dan ikut mengepalkan tanganku.

“3…2…1…Action!”

“Annyeong haseyo, pemirsa! Selamat berjumpa di acara terbaru KBS yang bernama ‘Love Young Love’…! Bersama kami, MC Lee Taemin dan MC Han Eunri, kita semua akan bersama-sama melihat dua pasangan yang akan saling beradu untuk mendapat hadiah special!”, ucap Taemin-ssi dengan bersemangat.

Eunri-ssi langsung membalas, “De, dan pasangan yang akan saling beradu untuk edisi perdana ‘Love Young Love’ adalah………”

“Pasangan Sungmin-Luna dan Wooyoung-Soohan!!!”, seru kedua MC dengan lantang. Semua penonton yang menonton langsung bertepuk tangan meriah.

Eunri-ssi kembali memegang kendali, “Mari kita tanya-tanya pasangan Sungmin SJ dan Luna f(x) terlebih dahulu. Jadi, kapan tepatnya kalian mulai pacaran?”

“Kalau dibilang dekat, sudah lama. Tapi kalau mulai pacaran, kira-kira sebulan yang lalu.”, jawab Sungmin-oppa seraya tersenyum manis. Senyum yang selalu kunantikan dan kurindukan. Namun, sayangnya bukan ditujukan untukku. “Tanggal tepatnya?”, tanya Taemin-ssi sembari tersenyum jail. “Mmmm——”

“Tanggal 12 Oktober.”, potong Luna yakin. “Omo~! Kau lupa tanggal dirimu dan Luna-ssi pacaran, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi kaget. “Ani! Ani! Aku hanya bingung antara mau menjawab tanggal aku menyatakan perasaanku pada Luna, atau tanggal ia memberikan jawabannya padaku.”, jawab Sungmin-oppa sembari tertawa.

“Ahhh~Kalau kau Taemin-ssi? Kau sudah berpacaran cukup lama ‘kan? Apakah kau ingat tanggal kau dan Sangrin-ssi berpacaran?”, tanya Eunri-ssi memancing. Taemin-ssi tersenyum malu, apalagi saat Eunri-ssi mengatakan nama yeoja-chingunya. “Tentu saja aku ingat. Aku dan Rin-baby pacaran dari 17 Februari. Tepat dihari ulang tahun Rin-baby.”

“Aigoo~ Kau memanggil Sangrin-ssi dengan ‘Rin-baby’?”

“Ya, Han Eunri! Sebenarnya kau mewawancarai diriku atau mereka sihh?”, tanya Taemin-ssi seraya cemberut. Yang lain kembali tertawa. “Ok! Setelah mewawancarai Lu-Min couple, sekarang kita akan beranjak mewawancarai Woo-Han couple, Wooyoung 2PM dan Soohan 1PM. Kalau kalian, dari kapan mulai pacaran?”

“Tanggal 1 November.”, ucapku dan Woo-oppa yang ternyata secara bersamaan. “Aigoo~ Kalian sangat kompak! Kalian berbeda berapa tahun?”, lanjut Eunri-ssi. “Umur Koreaku 20 tahun dan Woo-oppa 22 tahun. Kami berbeda 2 tahun.”, jawabku mantap. “Wow~ Cocok sekali…! Bagaimana dengan Lu-Min?”, gumam Taemin-ssi.

“Aku 25 tahun dan Luna 18 tahun. Kami berbeda 7 tahun.”, jawab Sungmin-oppa cepat. “Wow~ Perbandingan yang cukup jauh! Tapi, jaman sekarang ini, siapa yang mempedulikan perbandingan umur? Keurae, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi dibalas anggukan Sungmin-oppa dan Luna.

“Kembali ke Woo-Han couple. Biasanya nama julukan kalian satu sama lain apa?”, tanya Taemin-ssi seraya tersenyum. “Yang pasti bukan baby, ‘kan?”, tanya Eunri-ssi, menyindir Taemin-ssi, dan semuanya kembali tertawa. “Aku memanggil Soohan dengan sebutan ‘Soo-ah’ dan Soohan memanggilku dengan sebutan ‘Woo-oppa’. Tidak ada panggilan yang special.”, jawab Wooyoung-oppa sembari menatapku dalam.

“Tidak pernah terpikir untuk mencari panggilan special?”

“Ani. Jujur, kami bukan tipe namja atau yeoja yang romantis. Dan lagi, lebih nyaman bagi kami untuk saling memanggil dengan nama biasa. Mungkin karena kami saling percaya, jadi kami tidak perlu terlalu menunjukan rasa sayang kami.”, jawabku seraya tersenyum. “Rasa sayang? Kenapa bukan rasa cinta?”, tanya Eunri-ssi mengoreksi perkataanku.

“Rasa sayang itu jauh lebih besar dari rasa cinta. Dan kami sudah ada di tahap saling menyayangi.”

Ucapan Wooyoung-oppa membuat semua penonton bertepuk tangan meriah. “Kalian memang pasangan yang luar biasa. Bagaimana dengan kalian Lu-Min couple?”

“Aku memanggil Sungmin-oppa dengan sebutan ‘Umin-oppa’ dan dia memanggilku dengan sebutan ‘Sun-ney’.”, jawab Luna dengan senyuman manisnya. Seketika itu juga, rohku seakan dibanting dengan keras ke tanah. Umin adalah panggilanku padanya. Dan, biasanya ia selalu memanggilku, Soo-ney. Kepanjangan dari ‘Soohan-honey’.

“Kenapa kalian saling memanggil dengan panggilan itu?”

“Umin adalah plesetan dari namaku. Dan perihal ‘Sun-ney’, karena nama asli Luna adalah Sunyeong, jadi aku menggabungkan nama ‘Sunyeong’ dan ‘Honey’ menjadi Sun-ney.”, jelas Sungmin seraya kembali tersenyum. “Aigoo~ Kalian memang adalah pasangan Agyeo…!”, puji Eunri-ssi dan mereka berdua tertawa kecil.

“Tampaknya pasangan Lu-Min dan Woo-Han sama-sama menarik! Sekarang langsung saja. Kalian berempat akan dibawa ke sebuah villa dan di-villa itu hanya ada satu kamar. Keperluan juga sudah tersedia disana. Kita lihat pasangan mana yang paling bisa saling membantu. Dan, ne, disana sudah ada rintangan yang harus kalian lewati berdua. Good luck~”, jelas Taemin-ssi dan kami berempat mengangguk.

 

___

 

“Nah, kita sudah sampai di villa. Kalian akan berada di villa sebelah sana dan kami berdua akan memantau kalian di villa di sebelahnya. Ingat, dalam waktu 3 hari, kalian akan tinggal disini. Uang dan semuanya sudah disiapkan disana. Jadi, kalian tidak boleh membawa uang sendiri. Kalian juga harus melakukan semua kegiatan sendiri. Arasso?”, jelas Eunri-ssi dan kami berempat mengangguk paham.

“Sekarang, kalian harus mengumpulkan dompet kalian terlebih dahulu.”, pinta Taemin-ssi seraya mengumpulkan semua dompet kami. “Ok, kalau begitu sampai ketemu 3 hari lagi~”

 

___

 

“Kecil sekali.”

“Kotor.”

“Lembap.”

“Menjijikan.”

Semua adalah komentar dari kami berempat saat memasuki villa ini. Tampaknya, villa ini sudah lama sekali tidak dibersihkan. “Sekarang bagaimana kalau kita melakukan pembagian pekerjaan?”, usul Wooyoung-oppa cepat. “Tapi, siapa yang akan menentuan pembagiannya? Tidak adil ‘kan kalau hanya kita sendiri yang menentukan?”, tanya Sungmin-oppa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kita lakukan permainan gunting-kertas-batu. Siapa yang kalah akan membersihkan tempat yang lebih jorok. Jika kulihat, yang paling jorok adalah toilet, lalu dapur, ruang makan, dan terakhir yang paling bersih adalah ruang tamu.”, kataku ikut memberi ide. “Nice idea~ Kajja, kita lakukan!”, seru Luna dengan bersemangat.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Aku menang!”, seru Wooyoung-oppa sembari melompat girang. “Sekarang, fighting Soo-ah!”, lanjut Woo-oppa, membuatku tersenyum.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Kali ini aku yang menang!”, teriak Luna kegirangan.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Omo~ Aku kalah!”, gumamku seraya cemberut. “Yeah! Untung, aku sudah tau kebiasaanmu yang selalu mengangkat gunting tiap kali kita main.”, ucap Sungmin-oppa ceria, namun langsung terdiam sejenak setelah menyadari apa yang baru ia katakan. Tampaknya, Luna juga sudah tau kisahku dan Sungmin-oppa, dan Luna pun hanya ikut terdiam.

“Ahh~Kalau begitu, aku akan membersihkan toilet. Kau yang membersihkan ruang tamu saja ya, Soo-ah?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum canggung. “Andwae, oppa! Aku kalah, jadi aku harus mempertanggung jawabkannya.”, seruku lantang. “Tapi…aku tidak mau tangan lembutmu itu menjadi kotor saat terkena kotoran.”

“Bagaimana kalau kita berdua saling membantu?”, usulku dan Wooyoung-oppa akhirnya mengangguk setuju. Kita pun mulai melakukan kegiatan bersih-bersih. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya semua selesai juga. Kami berempat duduk di sofa dengan nafas tak beraturan. Rasa lelah mengerubungi kami.

“Ahh~lebih baik syuting seharian daripada membersihkan ini. Tulangku mau remuk rasanya.”, gumam Luna sembari memijat-mijat pinggangnya. “Jinjja-yo? Akan kupijat.”, seru Sungmin-oppa sembari mulai memijat-mijat bagian belakang tubuh Luna. “Ada yang pegal?”, tanya Woo-oppa perhatian. Aku menggeleng, “Karena ada oppa, rasa pegalku daritadi menjadi hilang. Terbayar oleh senyum imut oppa, tampaknya.”, jawabku dan Woo-oppa langsung mengacak rambutku gemas.

“Sekarang sudah mulai sore. Siapa yang akan menyiapkan makan?”, tanya Sungmin-oppa yang tampaknya sudah selesai memijat Luna. “Bagaimana kalau para yeoja memasak dan para namja membeli bahan-bahan di dapur?”, usul Luna dan kita pun mengangguk setuju.

 

&&&

*Namja*

“Apa yang harus kita beli?”

Wooyoung memikirkan sejenak pertanyaan Sungmin. “Sebaiknya kita membeli bahan yang murah saja. Uang yang disediakan sangat terbatas.”, ucapnya bijaksana dan Sungmin pun mengangguk setuju. “Kita…tidak boleh membawa kendaraan?”

Wooyoung mendengar perkataan Sungmin dan langsung menatap arah yang dituju Sungmin. Tempat dimana mobil baru saja diparkir, kosong. Dan mereka baru sadar, bahwa kunci mereka ada di dompet. Dan dompet itu sudah tersita. Terpaksa mereka berdua berjalan kaki menuju pasar terdekat.

Beberapa yeoja tampaknya mulai menyadari mereka bukan rakyat biasa. Tentu saja terlihat dari wajah khas mereka dan seluruh tubuh mereka yang lebih putih. “Sungmin-hyung, ottokhae?”, tanya Wooyoung, mulai ketakutan akan serangan para fans yang memang sangat liar. “Molla~ Lebih baik, kita pura-pura tidak tau saja.”, jawab Sungmin yang juga mulai ketakutan.

“Apakah oppa Wooyoung 2PM dan Sungmin Super Junior?!”

Pertanyaan seorang yeoja membuat mereka berdua sedikit terkejut. “Siapa itu? Kami tidak tau.”, jawab Sungmin, mengalihkan semua kemampuan aktingnya. “Oppa pasti bohong~ Kalian memang Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa ‘kan?”, kata yeoja itu seraya menatap mereka dengan seksama.

“Ani… Ani… Kau salah orang, nona.”

Wooyoung langsung menarik tangan Sungmin untuk berjalan cepat, meninggalkan yeoja yang kebingungan itu. “Omo~ Nyaris saja…”, gumam Sungmin sembari menarik nafas lega. “Sebaiknya, kita cepat, hyung. Jangan sampai kita dikenali.”

Sungmin mengangguk dan mereka berdua berjalan dengan cepat menuju pasar.

 

&&&

*Yeoja*

“Jadi, onnie…adalah mantan Sungmin-oppa?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Luna yang kurasa sangat nekat. “Ani. Aku bukan dan belum pernah menjadi yeoja-chingu Sungmin-oppa. Dia hanya sahabatku dari dulu.”, jawabku cepat. Itu memang kenyataan, dan aku juga tidak mau membuat hubungan Sungmin-oppa dan Luna hancur. Karena aku tidak mau Luna mengalami hal pahit yang pernah aku rasakan. Dan, aku juga percaya, bahwa Luna benar-benar sangat mencintai Sungmin-oppa dengan tulus hati.

Lebih baik semuanya tetap berjalan seperti ini. Ada pepatah pula bukan yang mengatakan bahwa : ‘Cinta tak harus memiliki’ dan ‘Cinta sejati adalah bila bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia’?

“Onnie…mencintai Sungmin-oppa?”, tanyanya lagi. Aku mengangguk, membuatnya kaget. “Ne, jujur, aku memang mencintainya. Sejak dulu sekali, malah. Namun, rasa cinta saja nampaknya tidak cukup. Dan, cintaku tampaknya bertepuk sebelah tangan.”, jawabku lagi, dengan sangat jujur. “Kenapa onnie merasa bahwa cinta onnie bertepuk sebelah tangan?”

Aku mengela nafas panjang, “Buktinya, Sungmin-oppa memilihmu dan bukan aku, ‘kan?”

Dia mengangguk paham.

“Jangan khawatir~ Aku tidak akan mengambil Sungmin-mu. Aku sudah punya Wooyoung-oppa. Meskipun aku belum mencintainya, aku akan berusaha. Dan aku sangat percaya bahwa ia adalah orang yang sangat baik. Dan yang terpenting…ia mencintaiku.”

Luna kembali mengangguk.

“Cinta memang susah dimengerti ya, onnie?”

Aku mengangguk, “Sangat.”

“Kami…datang~~~!”, teriakan dua orang namja membuat kami terkejut. “Kami membawa…kimchi! Hari ini…kita makan…nasi goreng…kimchi saja ya?”, tanya Sungmin-oppa seraya tersenyum ceria. “Boleh!”, seru Luna cepat. “Kenapa kalian kacau begitu?”, tanyaku bingung. “Kita harus…berlari dari…kejaran para fans.”, jawab Wooyoung-oppa dengan nafas tak beraturan.

“Omo~ Memang kalian tidak mengandarai mobil?”

Sungmin-oppa menjawab, “Tampaknya…mobil kita…sudah dibawa…oleh kru ‘Love Young Love’. Kunci mobil…kita ‘kan ada…di dompet yang tadi…kita kumpulkan.”

“Aigoo~ Kalian tampak sangat lelah. Sebaiknya, kalian istirahat dulu. Biar kami yang memasak. Keurae, Soo-onnie?”, tanya Luna sembari tersenyum ceria. Aku mengangguk, “Tentu saja. Nasi goreng kimchi akan datang sebentar lagi. Kajja, Luna, kita mulai memasak!”, ajakku dibalas anggukan matang darinya. Kami pergi ke dapur dan meninggalkan Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa.

“Apakah kau merasa bahwa mereka jadi…sedikit lebih dekat?”

Wooyoung mengangguk mendengar pertanyaan Sungmin. “Ne, hyung. Aku juga merasakan yang sama. Sedikit…aneh~”

 

___

 

“Nasi goreng kimchi sudah siap!”

“Wow~ Baunya sangat harum!”, seru Wooyoung-oppa seraya ingin mengambil piring. Namun, aku menarik tangannya cepat, “Eh~ Cuci tangan dulu, Woo-oppa!”

Dia tersenyum dan mengangguk, persis seperti anak kecil yang mematuhi aturan eomma-nya. “Kau juga, Umin-oppa!”, teriak Luna dan kita berdua tertawa bersama. “Sudah selesai! Sekarang boleh mulai makan ‘kan, Soo-eomma?”, tanya Wooyoung-oppa dengan tingkah imutnya. “Aigoo! Jadi kau menganggapku eomma-mu selama ini?”, tanyaku pura-pura cemberut. “Ani-yo, jagiya! Aku hanya bercanda.”

“Aku juga hanya bercanda, Baby-Woo. Dan jangan pernah lagi panggil aku jagiya! Kau tidak cocok memanggilku seperti itu.”, ucapku pelan. Wooyoung-oppa kembali tersenyum dan kembali mengangguk. Kita semua pun mulai makan. Setelah makan, kami berempat berpencar. Sungmin-oppa dan Luna memutuskan untuk duduk di sofa, sementara aku dan Wooyoung-oppa memutuskan untuk duduk di teras.

“Lihat ini~”

Aku melihat kearah Wooyoung-oppa dan terkejut, “Gitar?”

“Kau bisa main gitar, Woo-oppa?”, lanjutku tak percaya. Ia mengerucutkan mulutnya, “Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku?”, tanyanya seraya mengerucutkan mulutnya. Aku tertawa pelan, “Tentu saja aku sangat percaya, oppa.”

“Kalau begitu, aku akan menyanyikan dan memainkan sebuah lagu untukmu. Dan kau harus melengkapkan laguku di akhir. Ara?”

Aku mengangguk, meskipun tak sepenuhnya mengerti.

“Pyuhngsaeng gyuhte isseulge… I do~ Nuhl saranghaneun guhl… I do~ Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh… I do~ Nuhreul jikyuhjulge… My love~”

Ia berhenti dan menatapku lekat. Aku masih terkejut dengan semua ini. Benar-benar sesuatu yang tak pernah kukira. Ia menyanyikan lagu…Marry U?? Woo-oppa kembali mendentingkan gitarnya dan bersenandung, “Nawa gyuhrhonhaejullae?”

“I do~”

Suaraku yang merdu, mengalir begitu saja. Membuat Wooyoung-oppa terkejut dan tersenyum bahagia. Namun, aku lebih terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Kulihat, tetesan air mata mengalir dari matanya. “Oppa…”, gumamku, sembari menghapus sungai kecil dari matanya. “Kamsahamnida, Soo-ah. Joengmal kamsahamnia.”

Woo-oppa memelukku. Aku hanya terdiam dalam pelukannya. Ingin rasanya aku memukul diriku sendiri. Aku…sama sekali tak sadar saat menggumamkannya. Dan saat itu, aku malah membayangkan Sungmin-oppa yang memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu ‘Marry U’ untukku.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Kecerobohanku membuat kesalahan yang benar-benar fatal. Tidak mungkin ‘kan aku mengatakan kepada Wooyoung-oppa yang sebenarnya? Ia pasti akan sangat sedih. Dan aku bukan tipe orang yang bisa membuat orang lain bersedih. Lalu, sekarang bagaimana? Apakah aku harus benar-benar melupakan Sungmin-oppa?

 

___

 

Kupandang diriku di cermin. Sempurna.

Gaun putih panjang tersemat di tubuh kecilku. Tatanan rambutku dibuat indah dengan sanggul kecil yang juga putih. Make-up tipis menutupi wajah cantikku, membuatku tampak bersinar. Benar-benar sempurna. Setidaknya…sempurna dari luar. Namun, hatiku? Hanya diriku sendiri yang tau keadaan hatiku yang sudah hancur tak terkira.

Mungkin aku selalu tersenyum, menampakkan wajah palsuku kepada orang-orang. Namun, dalam hatiku, semuanya berbeda. Semuanya jauh dari perkiraan. Semuanya…tak sama.

Dan, dalam hitungan beberapa menit lagi, aku akan menjadi milik seseorang.

Siluet seorang lelaki yang berusia dua puluhan awal muncul dari balik pintu. Ia memakai jas putih yang juga tersemat indah di tubuhnya yang mungil. Perlahan, ia menatap dalam diriku lewat pandangan matanya yang polos. Benar-benar tak ada rasa salah dalam dirinya. Dan, ialah yang membuatku tetap berdiri kokoh. Senyumannya, kelembutannya, kepolosannya, tawanya, dan semua yang ada dalam dirinya membuatku tak mempunyai alasan untuk menyakitinya.

“Soo-ah, kau yakin dengan semua ini?”

Pertanyaan darinya membuatku terkejut. “Apa maksud oppa? Apakah gaun putih yang kupakai ini kurang meyakinkan?”, tanyaku seraya tersenyum manis. Dia tak menjawab, hanya melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. “Belum terlambat. Masih ada 5 menit lagi. Pergilah, Soo-ah. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.”

Ucapannya membuatku lebih terkejut. Tanpa kusadari, air mataku menetes.

“Apa maksudmu, oppa?”

Ia tersenyum, walaupun aku tau itu senyum yang amat terpaksa. “Aku tau selama ini kau masih sangat-sangat mencintai Sungmin-hyung. Dan, dari awal, sebenarnya aku tau rasa cintamu kepada Sungmin-hyung tak pernah berkurang sedikitpun. Aku juga tau bahwa kau tak pernah mencintaiku. Aku…hanya egois, Soo-ah. Aku sempat berpikir bahwa dengan memiliki ragamu saja sudah cukup…”

Wooyoung-oppa berhenti sebentar, menghela nafas, kemudian kembali berbicara, “…namun ternyata aku salah. Memang mestinya, seperti ini. Dan aku takkan bisa melawan takdir. ‘Cinta tak harus memiliki’ itu tampaknya adalah pepatah yang sangat benar.”

“Tapi, jika aku pergi, aku yang egois, oppa. Kau sangat baik padaku, tapi aku tak pernah membalas semua kebaikan dan ketulusanmu. Lagipula, Sungmin-oppa sudah bahagia bersama Luna.”, jawabku, masih tak percaya dengan ini semua. “Ani, Soohan-ah. Sungmin-hyung tidak mencintai Luna sama sekali. Ia juga mencintaimu. Sangat, malah. Namun keadaannya persis sepertimu…”

“…aku dan Luna adalah penggangu cinta kalian. Sekarang, Luna dan aku sudah sadar akan kesalahan kami. Dan, saatnya kalian untuk menebus dosa kami. Kalian harus bahagia, arasso? Sekarang, pergilah! Sungmin-hyung sudah menunggumu di taman belakang. Lewat pintu belakang saja!”

“Acara dimulai satu menit lagi!”

“Pergilah, Soohan-ah! Palli! Sebelum ini semua terlambat.”

Aku akhirnya mengangguk. Saat mau keluar, aku mengecup kening Wooyoung-oppa. “Kamsahamnida, oppa. Kamsahamnida. Mungkin jika di kehidupan ini, kita tak ditakdirkan bersama, aku berjanji dalam kehidupan selanjutnya, aku akan selalu membahagiakanmu.”

Aku mengeluarkan jari kelingkingku dan ia juga mengeluarkannya. Jari kelingking kita bertautan. “Saranghae~ Berbahagialah, Soohan-ah!”, ucapnya disambut anggukanku. Aku langsung berlari menuju Sungmin-oppa yang sudah ada di taman. Aku langsung memeluknya, dan ia balas memelukku. Air mataku berjatuhan.

“Saranghae-yo, Park Soohan. Mian, aku baru bisa mengatakannya sekarang.”

Aku tersenyum, “Na tto saranghae-yo, Lee Sungmin. Na tto mian, aku juga baru mengatakannya sekarang.”

 

___

 

Waktu demi waktu berjalan dengan cepat. Tak sadar, 20 tahun sudah berlalu. Setelah kejadian itu, kami berdua melarikan diri ke Jerman. Tak ada yang tau keadaan kami berdua. Hanya aku, Sungmin-oppa, Wooyoung-oppa, Luna, member Super Junior, dan member 1PM yang tau. Kami dikaruniai 2 anak. Lee Soomin dan Lee Sunghan. Dua malaikat yang selalu berhasil membuat kami tertawa.

Oh ya, apakah aku lupa menceritakan tadi bahwa Wooyoung-oppa dan Luna sudah menikah? Mereka dikaruniai satu malaikat kecil bernama Jang Sunwoo. Dan di umur Sunwoo yang baru menginjak 8 tahun, ia sudah tumbuh menjadi artis dengan banyak kelebihan. Pintar menari seperti appa-nya, dan pintar bernyanyi seperti eomma-nya.

Kami berempat masih sering berhubungan. Malah, kami berencana untuk menjodohkan anak kami nanti.

Dan, kami berdua sangat bahagia. Walaupun, kami bukan seorang member boyband atau girlband lagi, kami turut bahagia dalam usaha kecil-kecilan kami. Panti asuhan ‘Kasih’ yang kami ciptakan secara kecil-kecilan dari sisa penghasilan kami, sudah membuat kami lebih sukses.

Dan juga, kami mendirikan panti asuhan ini untuk mendedikasikan kasih, yang kami terima dari Wooyoung-oppa dan Luna. Karena tanpa kasih mereka, mungkin kami tidak akan pernah bersatu.

Member Super Junior juga sering mengunjungi kami secara diam-diam. Bahkan, yang memberi nama anak sulung kami, Lee Soomin, adalah Leeteuk-oppa. Dan yang memberi nama anak bungsu kami, Lee Sunghan, adalah Eunhyuk-oppa.

Hari-hariku saat ini selalu dipenuhi senyuman. Meskipun, selalu ada ganjalan, kami selalu percaya, bahwa kami bisa melewatinya.

Aku, Park Soohan, bersumpah akan mencintai Lee Sungmin, Lee Soomin, dan Lee Sunghan selamanya! ❤

~_~_~_~

 

Ottokhae, semua? Apakah ceritaku hidupku menarik? Bagi yang sudah membaca, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya… *bow*

Mian, rada aneh~~~ Komen please?? ^^

 

 

 

 

 

 

Fan Fiction : ~Happy For Love~ (Chapter Six) Last Part

“Mau kemana kau?”, tanya Kyuhyun bingung saat melihat Kibum bergegas pergi dari kamar Hyeobin. “Aku titip Hyeobin sebentar ya, Kyu…!”, seru Kibum sembari berlari secepat mungkin. “Apakah mereka berdua bertengkar lagi?”, tanya Kyuhyun meminta penjelasan. Sooyeon menggelengkan kepalanya tanda tidak tau.

***

Sangrin dan Siwon sedang asyik mengobrol. Seperti pasangan yang baru saja berpacaran. Kibum lewat di depan mereka. “Siwonnie, Sangrinnie, kajja temani aku!”, seru Kibum dengan nafas tak beraturan. “Memang oppa mau kemana?”, tanya Sangrin dengan kebingungan. “Sudahlah, nanti aku jelaskan di mobil. Kajja!”

Mereka berdua mengangguk dan langsung mengikuti Kibum ke mobil.

“Sebenarnya ada apa?”

“Sepupuku ada di bandara. Aku harus menjemputnya.”

Sangrin dan Siwon berpandangan lalu menatap Kibum tajam, “Hanya itu?!”

Kibum mengangguk, “Memang apa lagi?”, tanyanya polos. “Ya! Kalau cuma begitu, kenapa kau buru-buru sekali?!”, seru Sangrin dan Siwon hampir bersamaan. “Masalahnya, sepupuku itu bisa marah kalau aku telat. Lagipula, katanya ia sudah punya pacar!”

“Lalu?!”

“Sepupuku itu tidak pernah punya pacar sebelumnya! Aku sangat kaget dia tiba-tiba punya pacar!”

“Omona~!”, seru Sangrin dan Siwon bersamaan lagi. Bukannya mereka ikutan kaget, namun mereka bingung dengan keadaan Kibum yang sangat panikan.

Begitu sampai, mereka langsung berlari ke bandara. Tentunya karena Kibum menarik mereka berdua. Kibum berhenti di depan sepasang lelaki dan perempuan yang sedang bertautan mesra. “Annyeong, Kibummie~”, sapa sang lelaki itu sembari memeluk sepupunya. “Annyeong, Hae! Oh ya, kenalkan ini kedua temanku, Siwon dan Sangrin.”

“Annyeong~ Donghae imnida.”

Mereka berdua mengangguk dan mata Kibum langsung beralih pada yeoja yang sedang menenteng kopernya. “Ahh, ini yeojachingu-ku.”

“Jyurin imnida.”, sapa perempuan itu ramah. Kibum, Sangrin, dan Siwon menunduk singkat. “Kita ke rumah sakit ya, Hae? Hyeobin sedang ada di rumah sakit.”, ucap Kibum seraya membawa mereka ke mobil. “Hyeobin? Ahh, maksudmu yeoja yang selalu mengejar-ngejar dirimu itu?”, tanya Donghae polos. Kibum menyikut tangan Donghae, “Dia itu yeojachingu-ku! Jangan berbicara seperti itu.”

“Upps, sorry…”, gumam Donghae santai sembari langsung memusatkan dirinya pada yeoja di sebelahnya. Di perjalanan, hanya ada keheningan. “Mmm, kalian pacaran?”, tanya Jyurin seraya menunjuk Sangrin dan Siwon. Mereka berdua sontak merona dan saling memandang. Siwon memutuskan untuk menjawab, “Segera.”

Sangrin memukul pelan lengan Siwon, memprotes atas jawaban Siwon yang terlalu ganas. Yang lain hanya bisa tertawa. Di rumah sakit, Kibum, Donghae, dan Jyurin memutuskan untuk menuju ke kamar Hyeobin. Sementara Siwon dan Sangrin menyusul temannya yang lain.

“Kyu oppa! Sedang apa oppa disini?”, tanya Sangrin dan kemudian melihat yeoja di sampingnya, “Choi Sooyeon!”, teriak Sangrin kaget. “Lihat Kyu, bahkan saeng-mu lebih punya ingatan daripada dirimu.”, ucap Sooyeon pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum tipis. “Kenalkan Sangrin dan Siwon, mulai sekarang dia adalah yeojachingu-ku!”

“Mwo-ya?! Secepat itu?”, tanya Sungmin yang entah darimana dengan Myorin di sebelahnya. “Kalian sendiri kenapa pegangan tangan seperti itu?”, tanya Kyuhyun tak mau kalah. Dan mereka berdua langsung menunduk malu. “Ahh, Sangrin-ya, sekarang cuma kita yang belum mempunyai pasangan.”, kata Siwon lesu.

“Bilang saja kau mau pacaran dengan Sangrin!”

Semuanya menoleh dan bisa melihat Hyeobin sedang duduk di kursi roda. Kibum yang mengendalikan kursinya, dengan Donghae dan Jyurin di sebelahnya. “Hyeo-onnie!”, seru Sangrin tak terima. “Hyeo!”, teriak Siwon, lebih tidak terima. Semuanya kembali tertawa.

“Aku akan menikah lho~ Mungkin seminggu lagi.”, seru Donghae sembari tersenyum bangga, memberikan rona pada pipi Jyurin. “Mworago?!”, seru Kibum, Hyeobin, Sangrin, dan Siwon bersamaan. Sedangkan, Kyu, Sungmin, Myorin, dan Sooyeon yang masih belum mengenal Donghae, hanya bisa terdiam.

***

Wish me luck~”, bisik Jyurin saat sedang memakai gaun putih panjangnya. Sangrin, Sooyeon, Hyeobin, dan Myorin yang sudah saling mengenal dengan baik tersenyum dan mengangguk. Jyurin berjalan perlahan menuju altar, menuju Donghae yang sudah menunggu di depan altar.

Saat upacara sudah selesai, mereka semua bertepuk tangan meriah. Jyurin dan Donghae melempar bunganya dan ternyata berhasil ditangkap oleh Kibum. Pipi Hyeobin merona seketika. Sementara yang lain hanya bisa bertepuk tangan.

Malamnya mereka semua berkumpul di meja makan pengantin. Saling berbahagia dan tertawa bersama. “Malam ini kalian sudah siap?”, tanya Kyuhyun jail pada Donghae dan Jyurin. Yang ditanya hanya merona dan menunduk malu. “Berhenti ganggu rumah tangga orang, GaemKyu!”

“Iri, Sooyeonnie?”, tanya Kyuhyun sembari mengedipkan sebelah matanya. Yang lain tertawa melihat mereka. “Bagaimana dengan kalian? Sudah atur tanggal yang tepat?”, tanya Sungmin pada Kibum dan Hyeobin. “Mungkin bulan depan.”, jawab Kibum cepat.

“Kau sendiri?”, tanya Hyeobin berusaha mengalihkan pembicaraan. “Mungkin jika kita sudah siap.”, jawab Sungmin seraya tersenyum pada Myorin. “Duo S, bagaimana dengan kalian?”, tanya Donghae jail.

Siwon ingin bicara, namun langsung ditutup oleh Sangrin, “Untuk apa aku menikahi namja sepertinya?”, tanya Sangrin sombong. “Ahh, tanpaku juga pasti kau menangis, Rin-ah~”, ucap Siwon cepat. “Pede sekali kau!”, seru Sangrin. “Perlu aku buktikan ucapanku?”

“Mwo?! Andwae!”

“Ahh, aku hanya bercanda. Aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku juga tak bisa hidup tanpamu.”, jawab Siwon sembari menyentil hidung Sangrin. Yang lain menatap jijik mereka berdua. Setelah makan, semua pasangan melambaikan tangannya pada pasangan Donghae-Jyurin yang sudah siap menuju ke rumah baru mereka.

“Pasti mereka senang sekali.”, ucap Kyuhyun dengan senyuman di wajahnya. “Mau mengikuti langkah mereka?”, tanya Kibum jail. Kyuhyun mengangguk pelan. “Ya! Andwae~~~!!!”, teriak Sooyeon tiba-tiba. “Siapa yang bilang mau denganmu?”, tanya Kyuhyun seraya tersenyum evil. “Jadi kau tidak mau denganku, GaemKyu?”

Kyuhyun seketika tersedak, “Mwo?! Tentu saja mau!”

Mereka semua kembali tertawa. “Lalu, bagaimana dengan kita, Bum-ya?”

Kibum melirik Hyeobin seketika, “Maksudmu?”

“Kita kan sudah mendapat lemparan bunga, jadi bagaimana?”, tanya Hyeobin sembari menyodok Kibum. Kibum tersenyum tipis, “Kan sudah kubilang, bulan depan kita akan mengikuti jejak Donghae dan Jyurin.”, katanya dengan santai. Semua kembali tertawa. “Kita akan menghadiri upacara pernikahan lagi nanti!”, seru Sungmin.

“Jangan lupa untuk membeli baju pengantin di butikku ya~”, ucap Myorin dan sontak membuat yang lain tertawa lagi. “Arasso, Nona Butik…”, jawab Sangrin dan Siwon bersamaan, membuat rona merah terpancar di wajah mereka berdua.

“Bagaimana kalau besok kita mengunjungi rumah Donghae dan Jyurin?”

Yang lain mengangguk setuju. “Arasso. Sampai ketemu besok!”

***

Semuanya telah siap di depan pintu rumah Donghae-Jyurin yang baru dibeli. Tentu saja Donghae yang membelikannya atas dasar hadiah pernikahan. Mereka semua menekan bel pintu rumah dengan cepat. Tak lama, pintu dibuka dan semua’nya pun memasuki rumah baru Donghae dan Jyurin.

Mereka semua duduk di salah satu sofa. “Bagaimana malam pertama kalian?”, tanya Kibum seraya mengedipkan sebelah matanya. “Ya~begitulah.”, jawab Donghae dan Jyurin bersamaan. Mereka merona seketika. “Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Siwon tak ada bersama kalian, Sangrin-ah?”, tanya Donghae bingung.

“Semalam Siwon ditelepon seseorang. Lama sekali. Lalu, ia langsung bilang hari ini mau pergi sampai malam. Aku pikir yang meneleponnya adalah yeoja.”, ucap Sangrin sembari cemberut. “Kok kamu bisa yakin?”, tanya Hyeobin. “Habisnya suara di telepon itu sangat lembut dan ia memanggil orang di telepon itu ‘Ryry’.”, jelas Sangrin. “Jangan berpikir seperti itu dulu. Bisa jadi itu hanya rekan kuliahnya.”, hibur Jyurin.

“Tapi Siwon tak pernah seperti itu sebelumnya, Jyu-onnie. Aku takut~”

“Bagaimana kalau kita memata-matainya saja?”, tanya Myorin memberi ide. “Ide bagus!!!”, seru mereka bersamaan.

***

Tujuh orang sudah berdiri dengan diam-diam di balik bangunan. Menatap keseharian Siwon yang memang menjadi tujuan mereka saat ini. Siwon sedang berkeliaran mencari sesuatu di toko bunga. Senyum tak pernah hilang dari bibir’nya.

“Lihat! Ia pasti mau memberikan bunga itu kepada ‘Ryry’ itu!”, seru Sangrin sembari mengerucutkan mulut’nya. Siwon keluar dari toko bunga itu dan membawa sebuket bunga lili yang tergerai indah. Kemudian, ia pergi ke mall dan pergi ke sebuah toko. Tentu saja, mereka ber-7 tetap mengintai dari belakang.

“Itu…toko untuk yeoja, ‘kan?”

Pertanyaan Sooyeon membuat yang lainnya mengangguk. “Untuk apa dia di toko khusus yeoja?”, lanjut Kyuhyun yang hanya bisa memandang dengan santai. “Membeli sesuatu untuk yeoja?”, ide Hyeobin dan yang lain kembali mengangguk-angguk.

“Maksudnya, ia mau membeli sesuatu untuk ‘Ryry’?”, tanya Jyurin sembari menunjuk Siwon yang keluar dari toko dengan tangan penuh barang. “Andwae!!!”, teriak Sangrin dengan suara yang sedikit dipelankan. Siwon kembali melangkah ke toko lain, dan kini menenteng sebuah baju pesta. “Omo~ Apa lagi itu?”, komentar Myorin yang terkejut.

Setelah selesai, Siwon keluar dari mall, tentunya tetap diikuti oleh ke-7 orang tersebut. Mereka semua membuntuti Siwon hingga ke sebuah restoran mewah. “Mian, Rin-ah. Sudah malam. Aku dan Jyurin akan melanjutkan hari-hari pertama kami ya…! Sampai jumpa~”, pamit Donghae sembari menggenggam tangan Jyurin. “Kami juga akan menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita ya!”, ucap Kibum, sembari membawa Hyeobin tentu.

“Kalau kami, harus bermain game dulu. Bye~”, sahut Kyuhyun dibalas senyuman dari Sooyeon. “Kami—errr—”

“Kami masih ada tugas kuliah!”, teriak Sungmin cepat sembari membawa Myorin. “Ya! Kenapa aku ditinggal sendiri?!”, seru Sangrin sembari cemberut. “Sangrinnie.”

Sangrin berbalik dan bisa melihat Siwon sedang berdiri di hadapan’nya. Senyuman manis’nya terus terkembang. “Si—Siwon-oppa??”, tanya’nya tak percaya. “Gantilah pakaianmu. Akan aku tunggu di dalam. Arasso?”, kata Siwon seraya masuk ke dalam restoran. “Ta—tapi, tunggu! Aishh~”

Dengan pasrah, Sangrin masuk ke restoran dengan pakaian yang sudah diberikan Siwon. “Ahh~ Neomu yeppo!”, ucap Siwon sembari kembali tersenyum dan mempersilahkan Sangrin duduk. “Kenapa…oppa menyuruhku duduk? Bagaimana dengan ‘Ryry’ itu?”, tanya Sangrin polos.

Siwon tak menjawab, hanya bisa tertawa. “Aigoo~ Apakah kau tidak sadar bahwa ‘Ryry’ itu tak ada?”

“Tidak—ada? Lalu, kemarin oppa berbicara dengan siapa?”

“Dengan Kyuhyun.”

Sangrin membulatkan mata’nya, “Kyuhyun-oppa? Jadi, Kyuhyun-oppa sudah tau semua’nya dari awal?”, tanya’nya pelan namun sedikit emosi. “Ani. Bukan hanya Kyuhyun, tapi semuanya sudah tau rencana ini.”, jawab Siwon seraya tersenyum jail. “Mwohae??!! Aishhhh, jinjja!!!”

“Sekarang, maukah kau mengikuti jejak Donghae dan Jyurin?”

Seketika Sangrin terkejut, “Ne?”

“Aishh, Sangrin-ah! Maukah kau menjadi pasangan hidupku?”, tanya Siwon tak sabar. “Ahh, oppa—”

“Jawab saja, ya atau tidak.”

Sangrin kembali cemberut, “Aishh~oppa! Kenapa kau memaksaku?”

“Jawab saja, Cho Sangrin!”

“Keurae. Keurae. Ya, aku mau.”

Namja dihadapan Sangrin seketika terkejut. “Jinjja?!”, tanya Siwon tak percaya. “Ne, Choi Siwon!”, seru Sangrin pelan dan mereka langsung berpelukan.

“Aigoo! Joengmal daebak!”

Tepuk tangan dari 6 orang yang lain membuat mereka berdua kaget. “Kalian—ada disini?”, tanya Sangrin yang sudah merona. “Mesra sekali!”, seru Myorin yang sedang menggenggam erat tangan Sungmin. “Aishh~ Kita harus segera menikah, GaemKyu-ah! Mereka bisa mendahului kita!”, seru Sooyeon sembari menyenggol Kyuhyun.

“Baiklah. Bagaimana kalau sekarang?”

“MWO?!”

“Huahahahahaha…!”

***

~END~

*tarik nafas* Akhirnya, ni ff selesai jg~! Mian klo aneh~~~

‘N gomawo buat readers yg setia baca dari awal… *hug*

ff ini ancur bgt~ #meratapi nasib


 

Fan Fiction : ~Love, Affection, and Sincerety~ (Chapter One)

Annyeong haseyo~ Mau membaca kisahku? Jika mau membacanya, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. ^^

Kisahku bukan kisah Cinderella ataupun kisah Snow White… Kisahku hanya kisah seorang yeoja biasa. Kuharap kalian tidak bosan~ 😀 Sekali lagi kamsahamnida!

 

___

 

Namaku Park Soohan. Usiaku tahun ini 19 tahun. Tak banyak keistimewaan dari diriku. Hanya satu yang istimewa. Sudah lama aku bersahabat dengan Super Junior Lee Sungmin. Mungkin sejak kelas 1 SD. Dan sepertinya aku tidak usah mendeskripiskan sosok fisik Lee Sungmin, bukan? Karena kalian pasti sudah tau jelas.

Lee Sungmin…

Saat pertama kali mengenalnya, ia adalah anak lelaki yang polos. Tak ada teman yang mau bermainnya dengannya. Alasannya sangat sepele. Dia adalah anak yang tergolong feminim. Ia juga lebih menyukai menonton drama sedih hingga menangis tersedu-sedu daripada bermain bola.

Waktu itu aku sedang duduk di ayunan. Menikmati hembusan angin seraya mengemut lollipop rasa stroberi. Lalu, sosoknya datang. Duduk di sebelahku dan ikut memainkan ayunan. Ia juga sedang mengemut lollipop. Tak lama, ia menatapku dan bertanya sesuatu. Dan pertanyaan itu sampai sekarang masih membuatku tertawa terbahak-bahak.

“Apakah kau tau dimana aku bisa membeli benda-benda bewarna pink?”

Tak sadar, setelah itu kami menjadi dekat dan sering mengobrol bersama. Entah karena apa, sekarang saat kami SMP, kami juga berada di sekolah yang sama. Dan kami menjadi semakin dekat. Duduk bersama. Makan bersama. Jalan bersama. Melakukan semuanya bersama. Mungkin karena selera kami yang sama dan kebiasaan kami yang juga sama.

Hubungan persahabatan kami semakin erat dan berhembus senada dengan angin. Entah sejak kapan, perasaanku berubah. Rasa cinta dalam hatiku mulai tumbuh. Dan…tak ada yang bisa mengingkari bahwa dia yang menanamnya. Saat kelas 3 SMP, sesaat sebelum kami lulus, dia mengatakan kepadaku bahwa ia ingin mencoba audisi di Seoul.

Tentu saja aku sangat mendukung keinginannya. Aku membawakan bekal untuknya, bahkan jika hari audisi itu tidak bertabrakan dengan Ujian Akhir, aku akan mengantarnya. Dengan setia, kutunggu dia dari sini. Dari Daegu, kota kecil yang menyimpan segudang kenangan.

Setelah cukup lama, ia mengirimiku surat. Surat singkat yang sangat berharga bagiku.

 

Dear, Park Soohan

Aku lulus audisi! Aku akan masuk ke sebuah boy-band bernama Super Junior ‘05!!! Dan…aku akan tinggal di Seoul. Mungkin kita tidak akan bisa bertemu dalam waktu yang belum bisa kupastikan. Tapi aku janji, Soo-ney! Aku akan berlatih dengan keras agar bisa debut dan membuatmu bangga. Tunggu aku, Soo-ney!

~ Lee Sungmin, your very very bestfriend :D~

 

Dalam hati aku berjanji, aku akan menunggunya sepenuh hati…

Waktu demi waktu bergulir. Sekarang aku berada di SMA. Mencapai kelulusan untuk cepat-cepat pergi ke Seoul. Ya, aku akan menjadi artis! Aku akan menyusulnya. Aku akan mewujudkan mimpi kami!

Saat sedang berjalan kearah sekolah yang terbilang dekat, tak sengaja mataku menatap beberapa majalah yang sedang dijajarkan. Dan aku terpana. Aku melihat fotonya berada di depan sampul majalah! Dengan cepat, aku membeli salah satu dari majalah itu. Di kelas, aku membacanya diam-diam.

Ternyata, ia debut bersama 11 temannya yang lain. Dan difoto itu, ia nampak sangat senang. Karena alasan itu, aku turut senang. Kupeluk erat-erat majalah itu. Membayangkan dia berada disini dan tersenyum manis padaku. Meskipun, aku tau ini semua hanya harapan kosong.

Dan itu terus berulang kulakukan. Saat teman-temanku menanyakan, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku fans berat seorang Lee Sungmin. Kadang ada disaat aku sangat-sangat merindukannya. Dulu kami hampir melakukan semuanya bersama, dan sekarang ia seperti pergi tiba-tiba, menghilang dengan hanya meninggalkan jejak di hatiku.

Tak sadar, aku telah lulus SMA. Dan nilaiku cukup memukau. Sekarang lah saat yang tepat untuk pergi ke Seoul. Cukup berat memang meninggalkan orang tua, namun aku juga sangat merindukannya. Dengan waktu lumayan singkat, aku masuk JYP Entertainment. Sengaja aku tidak memberitahukan hal ini dulu padanya. Biar menjadi kejutan, pikirku.

Satu tahun kemudian, aku debut bersama 4 orang lainnya. Posisiku sebagai main-dance dan sub-vocal. Aku juga adalah magnae di girl-band yang bernama 1PM ini. Memang tampaknya group-ku adalah group versi yeoja dari 2PM. Cukup banyak orang yang mulai mengidolakan 1PM.

Namun yang membahagiakan, dalam suatu acara musik, ia menghampiri ruang rias 1PM dan bermaksud menemuiku. Dan…dia turut senang dengan keberhasilanku. Betapa hatiku berbunga-bunga saat itu. Ia juga mengajakku untuk berkenalan dengan ke-12 member Super Junior lainnya.

Sejak saat itu, kami berdua kembali dekat. Melalui hari-hari kami yang seperti waktu dulu kami lalui. Hanya saja sekarang kami bukan dua orang yang dijauhi. Kami adalah seorang entertainer yang cukup terkenal. Dan kami juga punya masing-masing tanggung jawab sebagai seorang member. Ia pada Super Junior, dan aku pada 1PM.

Sebulan berikutnya, mimpi buruk mulai berada diatas kami. Karena kedekatan kami yang terbilang ‘cukup’ dekat, wartawan mulai bisa menciumnya dan menulis berita bahwa kami berdua berpacaran. ‘Super Junior Lee Sungmin dan 1PM Park Soohan Berpacaran Dari Dulu…?’ Begitulah judul-judul yang berada di sampul berita dan majalah. Dengan foto kami berdua saat sedang karyawisata di Pulau Jeju kelas 1 SMP, yang entah bisa para wartawan dapatkan darimana.

Tentu saja, manager kami marah dan menyuruh kami meluruskan semua yang terjadi. Dan betapa sakitnya hatiku, saat ia dengan lantangnya mengucapkan: “Aku dan Soohan-ssi tidak ada apa-apa. Kami hanya bersahabat, itu saja. Aku sama sekali tidak punya perasaan padanya. Begitupun dia padaku. Kami tak lebih dari seorang teman.”

Ingin sekali mengatakan, aku benar-benar punya perasaan padanya. Lebih dari seorang teman. Aku mencintainya tulus dari hatiku. Seperti kapas yang melayang di udara. Putih dan bersih. Belum ternoda. Namun, belum pasti nasibnya. Berharap akan mendarat di tempat nyaman, tapi siapa yang tau jika angin menerbangkannya?

 

___

 

Beberapa bulan ini, kami tidak pernah berhubungan lagi. Kira-kira sejak ia mengutarakan yang sebenarnya kepada pers. Tak kupungkiri, aku selalu menunggu pesan darinya. Namun, hal itu tak pernah ada. Kadang aku menontonnya lewat televisi di dorm seraya menangis dengan keras.

Para member yang lain sudah tau apa yang terjadi sebenarnya padaku. Dan mereka hanya bisa menghiburku. Tentunya tak membawa hasil yang baik padaku. Aku tetap sama. Seperti yeoja idiot yang selalu menunggu pangerannya datang. Walaupun aku tau di depanku, ada jurang yang sangat susah untuk dilewati.

Beberapa bulan kemudian, Sungra-onnie, leader kami mengatakan bahwa Lee Sungmin akan debut menjadi seorang aktor. Betapa senangnya hatiku saat itu. Keinginannya dari dulu akhirnya bisa tercapai. Saat drama itu pertama main di televisi, aku dan keempat member 1PM lainnya menonton. Sepertinya lebih tepat ‘aku memaksa keempat member lainnya untuk menonton bersamaku’.

Melihatnya berakting tertawa, menangis, tersenyum, dan menderita membuat gumpalan air mata kembali membrontak turun dari mataku. Aku semakin sadar kami terperangkap dalam sebuah penjara yang sama, namun tak boleh mendekat atau menyentuh satu sama lain. Hanya bisa saling melihat dari jauh. Atau mungkin…hanya aku yang melihatnya?

 

___

 

1PM baru merilis album barunya yang semakin meledak. Dan semuanya turut senang untuk itu. Termasuk member 2PM yang adalah selaku sunbae kami. Mereka ikut merayakan pesta kecil-kecilan yang dilaksanakan di rumah Jaesa-onnie, salah satu main-vocal di 1PM.

Di tengah-tengah pesta, tiba-tiba aku merasa pusing, dan aku pun memutuskan untuk beranjak ke balkon. Dengan gaun panjang elegan yang menutupi tubuh rampingku serta rambut ikal panjang yang diikat ke belakang, aku memandangi bintang-bintang di langit yang gelap. Seketika mengingat ucapan namja yang mengisi dua pertiga kehidupanku.

 

[Flashback]

 

“Lihat bintang itu yang paling terang itu? Itu adalah bintang Sirius. Jika kau merindukanku, lihatlah bintang itu, dan rasakanlah bahwa aku sedang tersenyum padamu.”, Ia berbicara seraya tersenyum manis. Matanya yang bersinar terang menatapku dalam.

“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana kalau kau yang merindukanku?”, Aku bertanya dengan polos, dan ia tertawa, “Aku juga akan melihat bintang itu dan membayangkan nae Soo-ney sedang memelukku.”, jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya. “Mwo-ya?! Kau sangat genit, Lee Sungmin!”

“Tapi kau menginginkannya ‘kan, Park Soohan?”

Pertanyaan itu sontak membuat pipiku merona. “Awas kau ya, Umin!!”

___

 

Tak sadar, aku tersenyum saat mengingat memori yang terulang di otakku. Bersamanya. Yah, hanya dengan bersamanya, apapun akan menjadi memori indah. Karena seburuk apapun itu, asalkan dia ada di sampingku, setengah dari bebanku seakan terangkat. Mataku menatap bintang yang paling terang itu. Sirius. Itu katanya.

Dan untuk sedetik, aku merasakan bahwa ia sedang tersenyum padaku. Tak logis, memang. Namun, aku menikmati apa yang aku rasakan itu. Bahkan ikut tersenyum padanya.

“Sedang apa kau disini?”

Suara seorang namja membuatku terkejut dan menoleh.

“Wooyoung-sunbaenim?”

Namja tersebut menghampiri dan berdiri di sebelahku. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Soohan-ssi.”, katanya sembari menatapku. “Ahh~ye. Aku…hanya bosan di dalam.”, jawabku sedikit gugup. Dia tersenyum kecil dan memandang langit, “Ne. Memang di dalam sangat membosankan. Dan tampaknya disini lebih menyenangkan. Keurae, Soohan-ssi?”

“Ne, sunbaenim.”

“Jangan memanggilku sunbaenim. Panggil aku Woo-oppa saja. Dan aku akan memanggilmu Soohan-ah. Boleh ‘kan?”, tanyanya sembari tersenyum lembut. Membuatku semakin gugup, “Tentu saja, Wooyoung-sun—ah, ani! Maksudku Woo-oppa.”

Dia tertawa kecil, “Jangan canggung seperti itu, Soo-ah. Aku tak menyangka dibalik kemampuan dance-mu yang sangat daebak, kau juga adalah yeoja yang pemalu.”

Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan sunbae-ku di JYP Ent ini. Yah, aku memang berubah menjadi yeoja yang diam dan pemalu setelah dia pergi ke Seoul untuk melakukan audisi. Karena sejak dan mulai saat itu, sebagian dari hidupku terasa diambil secara paksa. “Kau juga sering bengong, rupanya.”

Tak ada yang bisa kulakukan selain kembali tersenyum mendengar perkataan Wooyoung-oppa. “Kau lihat bintang yang paling terang itu? Namanya—”

“—sirius?”

Dia mengangguk mendengar jawabanku. “Jika kau melihat bintang itu…anggap saja aku sedang tersenyum padamu.”

Air mata sudah tak bisa kubendung lagi. Akhirnya turun membentuk sungai-sungai kecil yang mengaliri wajahku. Membuat sebagian make-up tebal yang dipakaikan, mulai meluntur. Perkataan Wooyoung-oppa benar-benar mirip dengan perkataannya. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain menangis.

“Kau…kenapa, Soohan-ah?”

Aku tak menjawab. Bukan tak mau, tapi derasnya air mata yang mengalir, membuatku susah untuk mengatakan sesuatu. Wooyoung-oppa memelukku. Membuatku kaget, memang. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkannya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Tubuhku benar-benar tak sanggup untuk melawan saat ini.

 

___

 

Aku membuka mata. Ini…adalah kamarku di dorm 1PM. Tetapi, kenapa aku bisa ada disini? “Sudah sadar, Soo-ah? Syukurlah!”, seru Hanyoung-onnie sembari tersenyum senang. “Kenapa…aku ada disini?”, tanyaku, masih belum mengingat kejadian kemarin. “Kemarin kau pingsan, dan Wooyoung-sunbae yang membawamu kesini.”, jelas Hwangki-onnie.

Penjelasan Hwangki-onnie seperti membuka kembali pintu memoriku. Sekarang aku bisa mengingat dengan jelas kejadian kemarin. Kejadian yang sangat memalukan bagiku. “Bagaimana kau bisa ada di balkon bersama Wooyoung-ssi?”, tanya Sungra-onnie dengan pandangan penasaran. Yang lain mengangguk setuju dengan pertanyaan Sungra-onnie.

“Aku hanya sedikit pusing, jadi aku beranjak ke balkon. Lalu, Woo-oppa datang dan kami mengobrol sebentar sebelum aku menangis lalu pingsan.”, jelasku sesingkat mungkin. Para onnie ber-ohhh ria mendengar penjelasanku. “Tunggu! Tadi kau memanggil Wooyoung-ssi dengan ‘Woo-oppa’?”

Semuanya memandang Hanyoung-onnie dan kemudian memandangku. “Woo-oppa menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.”, jawabku dengan cepat.

“Tapi, kenapa kau menangis?”

Pertanyaan Jaesa-onnie membuat yang lain kembali menatapku penasaran. “Jangan bilang kau teringat pada Sungmin-sunbae…”, ucap Hwangki-onnie dan aku hanya bisa mengangguk seraya menunduk. “Lebih baik kau dengan Wooyoung daripada dengan si pabo itu.”

“Namanya bukan si pabo, Sungra-onnie! Namanya Lee Sungmin!”

“Aku tau, Park Soohan. Tapi dia memang sangat pabo!”, seru Sungra-onnie lagi, dibalas anggukan para member lainnya. “Annyeong~ Boleh aku masuk?”, tanya orang dari luar kamar dorm-ku. “Pintunya tidak terkunci!”, sahut Jaesa-onnie dan orang itu masuk ke kamarku. “Bagaimana keadaanmu, Soo-ah? Sudah baikan?”

“Wooyoung-oppa…?”

Sungra-onnie langsung memotong, “Kami berempat masih ada kerjaan. Kami pergi dulu ya~”, katanya dan keempat onnie-ku langsung bergegas pergi. Dan tinggalah aku bersama Wooyoung-oppa sendiri. Ia menghampiriku dengan canggung dan memberikan sebuket bunga untukku. “Kau suka bunga mawar, bukan?”

“Tapi…bagaimana oppa tau?”

Wooyoung-oppa tersenyum mendengar pertanyaanku, “Karena aku sudah bertanya pada hatimu.”

“Maksud…oppa?”, tanyaku lagi dan Wooyoung-oppa kembali tersenyum. “Maukah kau menjadi pendampingku, Park Soohan?”

“Mworago?”, tanyaku kaget. “Sejak kau masuk JYP, Soo-ah. Sejak kau masuk JYP, aku sudah mulai mencintaimu. Kupikir ini hanya karena terpesona melihat kecantikan dan bakat dari dalam dirimu, namun aku salah. Park Soohan telah benar-benar mencuri hati Jang Wooyoung.”, ucapnya seraya tersenyum.

Aku masih terpaku. Dia memberikan ekspresi menunggu.

“Jadi…?”

“Ngg…boleh meminta waktu, oppa?”

Wooyoung-oppa kembali tersenyum, memamerkan lekuk giginya yang putih dan unik. “Tentu saja. Kapanpun kau mau, Park Soohan. Dan—aku masih ada jadwal dengan 2PM, jadi…aku harus pergi sekarang. Annyeong, Soo-ah~”, pamitnya sembari mendekat ke pintu. Ia berhenti saat memegang gagang pintu, “Pikirkanlah lagi. Ok?”, lalu bergegas keluar.

Tak lama, keempat onnie kembali masuk dan menghampiriku. Aku masih terpaku di tempat. Tidak tau ingin berbuat apa. “Omo! Kau baru ditembak Wooyoung-ssi, Soohan!!!”, teriak Sungra-onnie girang. “Kau sangat beruntung!”, lanjut Jaesa-onnie. Aku mengernyitkan dahi, “Darimana kalian tau?”

“Kita tak sengaja mendengar pembicaraan kalian.”, jawab Hwangki-onnie dengan memberi penekanan pada kata ‘tak sengaja’. “Jadi, ottokhae? Kau menerimanya?”, tanya Hanyoung-onnie penasaran. “Aku meminta waktu terlebih dahulu.”, jawabku pelan.

“Mwo-ya?! Keundae, wae? Apakah lagi-lagi karena si pabo itu?”

“Sudah kubilang, namanya Lee Sungmin, Sungra onnie~ Bukan si pabo.”, ralatku pelan. “Terima saja Wooyoung, Soohan-ah. Setidaknya, ia mencintaimu. Buat apa kau mendambakan sebuah berlian yang ada di tepi jurang, sedangkan ada emas yang tergeletak di pangkuanmu, Soo-ah!”, ucap Jaesa-onnie bijak. Yang lain mengangguk mendengar perkataan Jaesa-onnie yang memang masuk di akal.

“Akan kupertimbangkan, onnie. Kamsahamnida.”

 

___

 

Hari-hari kedepanku masih sama. Suram dan hampa. Hanya keempat member 1PM lainnya yang bisa membuatku tersenyum, walaupun itu senyum terpaksa sekalipun. Lee Sungmin masih melakukan aktifitasnya dengan Super Junior. Kadang kami berada di satu acara yang sama, melakukan game-show bersama, ataupun acara-acara lainnya. Namun, kami hanya diam. Tak ada yang keluar dari mulut kami. Kalau ada, itu hanya karena tuntutan acara itu sendiri.

Saat sedang berjalan melangkah pulang ke dorm 1PM, aku mendengar beberapa kru sedang berbicara dengan suara bisikan, namun cukup jelas terdengar olehku. “Apa kau tau? Sungmin SuJu sangat dekat dengan Luna f(x). Tampaknya mereka sedang berkencan.”, bisik salah satu dari kru itu. “Jinjja? Mereka memang sangat cocok. Sungmin-ssi sangat tampan dan Luna-ssi sangat cantik.

Hatiku seketika hancur mendengarnya.

Gelombang air mata kembali mencoba menerpaku. Namun, aku mencoba menahannya, dan langsung bergegas ke mobil dimana semua member sudah berkumpul. Disana aku langsung menangis. Apakah aku memang cengeng? Atau kah memang cinta begitu sulit untuk dihadapi?

 

___

 

Pagi ini tetap sama. Hanya kekelaman sekarang semakin menyelimutiku. Aku tak bisa berpaling, juga tidak bisa menutup mata. Berita kedekatan antara dia dan Luna f(x) makin menjadi-jadi. Mereka berdua memang belum membenarkan pemberitaan para media, namun mereka juga tidak mengelak dari pemberitaan itu. Dan sekarang aku hanya bisa disini. Memantau mereka dari balik layar kaca.

Keempat member lain sedang ada keperluan masing-masing. Jadi, aku terpaksa melakukan semuanya sendiri hari ini. Suara bel dorm bergema ringan, memecah kesunyian yang sempat aku nikmati. Dalam hati aku mengumpat kesal kepada penggangu yang menekan bel dorm tanpa henti ini. Namun, setelah melihat siapa yang datang, aku memutuskan untuk menahan diriku.

“Annyeong haseyo~ Ada kiriman bunga mawar untukmu!”, seru seorang namja bertopi seraya memberikan sebuket bunga mawar. “Dari siapa?”, tanyaku dengan ekspresi santai. “Dari pangeran yang baru turun dari langit.”, jawabnya seraya tersenyum dan membuka topinya. “Woo…young-oppa?”

Yang dipanggil tersenyum dan mengacak rambutku. “Jadi…bagaimana keputusanmu?”, tanya Woo-oppa dengan cepat, langsung pada tujuan.

Jujur, aku belum pernah memikirkan hal itu lagi, apalagi setelah tau kedekatan pujaan hatiku dengan Luna f(x). “Sungmin-hyung sudah bersama Luna. Apakah kau masih perlu menunggunya? Ia tak menunggumu atau memperhatikanmu sama sekali. Untuk apa kau mencintai seseorang yang tidak mengharapkanmu?”

“Bagaimana…oppa tau kalau aku…mencintai Sungmin-oppa?”

Wooyoung-oppa tersenyum perih dan kembali mengacak rambutku, “Hatimu yang memberitahu hatiku.”, katanya lembut. Aku mulai berpikir keras. Perkataan Wooyoung-oppa dan perkataan Jaesa-onnie waktu lalu, terus bergema dalam hatiku.

“Buat apa kau mendambakan sebuah berlian yang ada di tepi jurang, sedangkan ada emas yang tergeletak di pangkuanmu, Soo-ah!”

“Sungmin-hyung sudah bersama Luna. Apakah kau masih perlu menunggunya? Ia tak menunggumu atau memperhatikanmu sama sekali. Untuk apa kau mencintai seseorang yang tidak mengharapkanmu?”

Dan, perkataan mereka sialnya benar. Apakah sekarang aku harus merelakannya dan menerima Wooyoung-oppa, namja yang selalu ada untukku?

“Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, Soo-ah. Aku akan berusaha membuat hatimu bisa menerimaku sepenuh hati. Setidaknya, akan lebih baik daripada hanya menunggu Sungmin-hyung dengan harapan kosong, ‘kan?”

Ahh, perkataannya lagi-lagi benar.

“Ne, Wooyoung-oppa. Aku menerimamu.”, kataku seraya berusaha tersenyum, “Jujur, aku memang belum mencintaimu, tapi aku akan berusaha juga untuk mulai mencintaimu.”

Wooyoung-oppa tersenyum cerah. “Kamsahamnida, Soo-ah. Neomu kamsahamnida. Kajja~!”, seru Woo-oppa sembari menarikku. “Mau kemana kita?”, tanyaku yang kaget. “Kita akan ke gedung JYP!”, seru Wooyoung-oppa lagi. “Untuk apa?”

“Untuk meminta izin mulai berpacaran!”

Aku tersenyum melihat namja yang berbeda 2 tahun dariku ini. Senyum tulus pertama yang aku tunjukkan setelah ia pergi. Di gedung JYP, Wooyoung-oppa memberitahu status baru kita kepada setiap orang. Dan aku hanya bisa kembali tersenyum mendengarnya. Bahkan, Park Jinyoung-songsaenim, pemilik JYP Entertainment menyetujuinya.

“Sekarang, kajja kita memulai kencan pertama kita!”

“Kencan?”

“Ne. Memang kenapa?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum. “Aku…belum pernah berkencan seumur hidupku.”, jawabku jujur. “Err—aku juga.”, balasnya hingga membuatku terkejut. “Oppa pasti bohong! Mana mungkin oppa belum punya yeoja-chingu hingga sekarang.”

Woo-oppa tersenyum malu, “Yahhh~memang banyak yang tak percaya.”

Kami memilih taman ria sebagai tempat pertama kami berkencan. Alasannya sederhana. Kami tidak pergi ke taman ria untuk waktu yang sudah cukup lama. Saat kami bergegas turun dari mobil, aku menarik tangan Wooyoung-oppa.

“Oppa, apakah tidak apa-apa jika kita jalan ke taman ria tanpa memakai penyamaran?”

Woo-oppa tersenyum, “Memang kenapa? Kau malu kalau kita ketahuan jalan berdua?”, tanyanya cepat. “Tentu saja tidak! Malah kebanggaan bagiku bisa berjalan dengan oppa. Tapi…pasti kita akan masuk berita dan digosipkan berpacaran.”, kataku pelan. “Memang kita pacaran ‘kan? Daripada kita merahasiakan hubungan kita, lebih baik kita menceritakannya dari awal.”

Aku mengangguk mendengar jawaban Wooyoung-oppa. Kami pun mulai memasuki taman ria. Bermain dan tertawa bersama. Banyak pengunjung yang menyadari kami berdua, dan akhirnya memfoto dan meminta tanda tangan kami. Dan, jujur, aku sangat bahagia hari ini. Setelah mulai sore, kami duduk di sebuah bangku.

“Hari ini kau bahagia, Soo-ah?”

“Tentu saja, Woo-oppa. Sangat bahagia.”

Wooyoung-oppa tersenyum, “Aku juga sangat bahagia. Ini hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Bisa berkencan dengan yeoja yang sangat kucintai.”, ucapnya sembari menyenderkan kepalanya di bahuku. “Kau sedang berkata gombal, Woo-oppa.”, kataku seraya mengerucutkan mulutku.

“Ani! Seorang Jang Wooyoung tak pernah berkata gombal.”

Kami berdua kembali tertawa bersama.

Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang. Di dorm, kami berdua langsung dikerebuti para member 1PM dan 2PM yang sedang ada di dorm 1PM. “Jadi, benar kalian pacaran?”, tanya Taecyeon-oppa dengan penasaran. “Tau darimana, Taec-hyung?”, tanya Wooyoung-oppa kaget. “Dari televisi. Katanya kalian habis dari taman ria dan ketika Jinyoung-songsaenim ditanya, ia menjawab kalau kalian memang baru pacaran.”

“Ternyata, berita memang cepat sekali berhembus.”

Komentar dari Wooyoung-oppa membuat yang lain membelalakan matanya. “Jadi, kalian benar-benar pacaran?!”, tanya Sungra-onnie terkejut. “Memang kenapa kalau iya, onnie?”, tanyaku, mencoba keluar dari diam yang daritadi kuciptakan. “Omona! Aku tak percaya ini. Akhirnya, uri Wooyoung punya pacar! Dan kenapa harus kau yang menjadi pacarnya, Soohan-ssi? Aku sangat tidak rela~~~”

Perkataan Junsu-oppa membuat yang lain tertawa.

“Lalu, bagaimana dengan Sungmin-oppa?”

Pertanyaan Hwangki-onnie sontak membuat semua mata memandangnya dan aku secara bergantian. Para member 1PM yang lain hanya bisa menyesali perkataan Hwangki-onnie barusan. “Memang kenapa dengan Sungmin-hyung?”, tanya Junho-oppa padaku. Member 2PM yang lain juga tampak penasaran.

“Aku——-”

“Soohan mencintai Sungmin-hyung. Dan ia masih belum bisa melupakannya hingga sekarang. Tapi aku akan berusaha agar Soohan bisa melupakan Sungmin-hyung. Meskipun, harus selamanya.”, ucap Wooyoung-oppa lantang dengan santai, seperti tak ada rasa kesedihan dari raut wajahnya. Namun, tentu saja semua orang tau bahwa hatinya sedang merasakan sakit yang tak terkira.

Mau menangis mendengarnya. Tampaknya cinta Wooyoung-oppa padaku, memang sangat besar. “Ne, oppa. Dan usahamu tampaknya akan segera berhasil. Baru hari ini kita pacaran, tapi aku sudah bisa melupakan Sungmin-oppa sebesar 10 persen. Aku yakin, sebentar lagi aku akan melupakan Sungmin-oppa untuk selamanya.”

“Jinjja-yo?!”

Wooyoung-oppa bertanya dengan mata yang berbinar-binar. Persis seperti anak yang baru mendapat permen. “Kalau begitu, kami pulang dulu ya. Annyeong, Sungra-noona, Jaesa-noona, Hanyoung-noona, Hwangki-noona, dan Soohan-ssi~”, pamit magnae 2PM, Chansung-oppa. “Annyeong, Junsu-oppa, Nickhun-oppa, Taecyeon-oppa, Wooyoung-ssi, Junsu-ssi, dan Chansung-ssi~”, balas Hanyoung-onnie ramah.

“Wooyoung-ah~”, sahut Taecyeon-oppa sembari mendorong Wooyoung ke belakang. Wooyoung-oppa maju perlahan tepat di depanku dan menunduk malu. Lalu, dengan cepat mencium pipiku, dan langsung keluar dari dorm 1PM. Tak sadar, semburat merah tampak di pipiku. Yang lain tertawa melihat tingkah kami.

“Aku akan ke kamarku dulu, onnie.”

Yang lain mengangguk mendengar perkataanku. Di kamar, aku kembali menangis. Dengan cepat, aku menulis di selembar kertas.

 

Mianhamnida, Wooyoung-oppa~

Aku terpaksa membohongimu…

Sebenarnya, tak sepersen pun aku bisa melupakan Sungmin-oppa…

Bayangannya terlalu besar untuk kutepis…

Senyumannya terlalu manis untuk kulupakan…

Sifatnya terlalu baik untuk kutolak…

Dan mungkin selamanya aku akan terus mencintai Sungmin-oppa…

Aku tau aku bodoh…

Namun, lagi-lagi aku lebih memilih menjadi yeoja pabo…

 

-Park Soohan-


Kulipat kertas itu dan kurobek-robek. Kubuang ke tempat sampah yang ada di sebelah kasurku. Memang ini yang selalu kulakukan saat sedang sedih. Menumpahkan semuanya kepada tulisan. Dan, hatiku menjadi lebih lega. Setidaknya, untuk saat ini. Dengan cepat, aku memejamkan mataku. Berharap bahwa di hari esok, semua akan secerah mentari pagi.

 

TBC

 

~!~

 

Ottokhae, Fira-onn?? Mian, sudah menunggu lama…

Suka?

Sebenarnya, rada berat nulis cerita ini, soalnya Sungmin-oppa ama Wooyoung-oppa ada disini~ *nangis*

Lanjuuutannya sebentar lagi ya~ Ditunggu saja! *chu*

 

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Five)

“Aku…memilih——”

Semua orang memandang Sangrin penuh tanda tanya. Apalagi Kibum, Sungmin, dan Siwon. Sangrin bersiap menyebutkan nama yang kupilih, namun…

“Pasien Kim Hyeobin sudah sadar! Kalian bisa menjenguk’nya.”, seru seorang suster berparas cantik yang baru saja keluar dari ruang rawat. “Keurae…! Kajja, kita masuk.”, kata Sangrin cepat dan langsung masuk ke ruang rawat. Dalam hati ia berterima kasih kepada suster dan Hyeobin yang membuat’nya bisa mengurungkan niat. “Hyeo-onnie…”, panggil Sangrin seraya tersenyum.

Hyeobin terlihat sangat pucat. Mata’nya memandang Sangrin…dengan penuh kebencian. Dan langsung menatap Kibum. “Jadi benar semua yang kalian katakan? Jadi, kau dan Sangrin saling menyukai…?! Jadi, semua hal mesra yang kau berikan kepadaku, hanya karena Sangrin?! Dan selama ini kau hanya menganggapku Sangrin?! Jawab aku, Kim Kibum!”

Kibum memandang Hyeobin dengan sangat perih, “Mian, Hyeobin-ah…”

“Hanya itu yang bisa kau katakan, Kim Kibum?! Hanya itu yang bisa kau katakan setelah peristiwa ini?!”, seru Hyeobin dengan lirih. Air mata’nya mulai berjatuhan. Begitu pula dengan Kibum. “Mian, Hyeobin-ah. Aku…”

“Aku kecewa padamu, Kim Kibum…! Sangat kecewa! Dan padamu juga, Sangrin-ah! Aku pikir kau adalah dongsaeng yang menyayangiku, tapi ternyata aku salah! Kau sama saja dengan Kibum! Selalu berpura-pura baik di depanku! Aku benci kalian berdua.”, potong Hyeobin dengan pandangan yang tidak tertuju pada Kibum dan Sangrin.

“Onnie… Aku sama sekali tidak pernah melakukan seperti yang onnie bilang. Aku…aku memang menyayangi onnie, dan ini semua bukan sekedar pura-pura. Kau adalah satu-satu’nya onnie yang kupunya. Jebal, onnie… Jangan begini padaku.”, ucap Sangrin dengan air mata yang juga mulai menetes.

Kibum berbicara, “Kau boleh memarahi, mencaci maki, atau membenciku sesuka hatimu, Hyeo-ah. Tapi jebal jangan lakukan itu kepada Sangrin. Dia tak bersalah. Justru dia yang menolak saat aku menyatakan cintaku. Dia yang tak mau kau bersedih.”

“Ah, sekarang kau membela’nya, Kim Kibum? Membela pujaan hatimu itu, hah?!”

“Hyeo-onnie, kumohon… Aku tau onnie bukan orang yang seperti ini. Aku tau onnie masih menyanyangiku dan Kibum oppa. Berikan kami kesempatan, onnie. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan onnie.”, ucap Sangrin dengan lirih. Kibum ikut mengangguk, walaupun tak sepenuh’nya yakin. “Semua percuma. Kibum tidak mencintaiku. Aku tau itu sekarang. Seberat apapun aku berusaha, semua akan tetap berakhir begini.”

“Hyeobin-ah! Setidak’nya, berikanlah Sangrin dan Kibum kesempatan.”

Kyuhyun mulai berbicara. Hyeobin terdiam sejenak. “Keurae. Aku akan memaafkan Sangrin. Tapi Kibum…aku belum bisa memaafkan’nya.”

“Kamsahamnida, onnie…”, seru Sangrin seraya memeluk Hyeobin dengan sepenuh hati. Hyeobin ikut memeluk Sangrin. “Aku tau kau bukan orang yang seperti itu, Rin-ah. Onnie terlalu emosi saat itu. Mian.”

“Gwenchana, onnie… Aku senang onnie bisa menerimaku lagi.”

Kyuhyun menarik nafas lega melihat kedua perempuan kenalan’nya bisa kembali dekat. Begitu pula dengan Sungmin dan Siwon. Tapi hawa kaku masih bersarang pada diri Kibum. “Mianhaeyo, Hyeo-ah. Joengmal mianhaeyo. Aku berjanji akan membangun kehidupan baru bersamamu, jika kau memaafkanku. Jebal, aku sadar sekarang, dan aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mencintaimu.”

Ekspresi Hyeobin berubah 180o derajat seketika. Ia memandang Kibum dingin, “Apa menurutmu aku akan memaafkanmu setelah peristiwa ini terjadi?! Apa kau pikir aku akan percaya kembali denganmu setelah kebohongan ini?!”, tanya’nya dengan tajam. “Hyeobin-ah… Aku mengaku salah. Tapi kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang kau berikan. Jebal~”

Hyeobin terdiam sejenak, kemudian memandang Sangrin. “Bagaimana menurutmu, Sangrin-ah?”

“Naega?! Molla, onnie… Semua’nya terserah onnie.”, kata Sangrin yang sedikit kaget. “Hhhh… Keurae, aku akan memaafkanmu, tapi aku hanya menganggapmu teman mulai saat ini. Kau bukan lagi namja-chingu’ku.”, ucap Hyeobin sarkastik. Kibum hanya bisa mengangguk dan tersenyum, “Kamsahamnida, Hyeobin-ah…!”

“Kalian sebaik’nya keluar. Pasien harus beristirahat terlebih dahulu.”, ucap suster yang tadi. Mereka semua mengangguk dan melambai kepada Hyeobin, lalu beranjak keluar satu-persatu. “Suster!”, panggil Kyuhyun saat suster itu ingin masuk. “Ne?”

“Kapan Hyeobin boleh pulang?”

Suster itu menggelengkan kepala’nya, “Saya tidak tau. Sebaik’nya anda tanyakan pada dokter.”, kata’nya seraya tersenyum ramah. “Oh, baiklah kalau begitu. Kamsahamnida.”, kata Kyuhyun sembari menunduk. “Chonmaneyo.”, jawab suster tersebut sembari ikut menunduk. Mereka semua pulang dengan mobil menuju apartemen. Di perjalanan, mereka semua terdiam, tak ada yang berbicara.

“Siwon-oppa.”

Siwon menoleh pada Sangrin yang memanggil’nya secara tiba-tiba. Begitu pula dengan yang lain. “Ehm, soal kejadian saat itu—”

“Aku sudah tak mempermasalahkan’nya lagi. Tenang saja. Aku tau aku yang salah. Aku yang terlalu over-protective padamu… Aku yang bukan siapa-siapa malah melarangmu. Padahal Kyuhyun yang jelas oppa kandungmu saja tidak melarang. Mianhaeyo…”, sahut Siwon memotong dengan nada sendu. “Oppa… Kenapa kau seperti ini? Aku yang salah, oppa. Aku terlalu emosi pada waktu itu. Mesti’nya aku yang minta maaf…”

Suasana berubah menjadi tak enak seketika. Yang lain yang tidak tau apa-apa hanya bisa melihat. Sedangkan, Kyuhyun yang sudah mengetahui semua’nya hanya bisa terdiam. Siwon mendenguskan nafas, “Terus apa yang kau mau sebenar’nya?! Kau lebih suka jika aku yang marah padamu?! Aku lelah terus bertengkar, Sangrin-ah… Sangat lelah… Sudahlah, anggap saja kejadian itu tidak ada, ara?”

Sangrin hanya bisa memandang Siwon dengan lirih, “Oppa… Ada apa denganmu?”

“Apa maksudmu? Mesti’nya, aku yang bertanya, ada apa denganmu?! Kau berubah, Rin-ah… Kau berubah… Menjadi seseorang yang tak lagi kukenal. Kau…berbeda dari Sangrin yang dulu… Sangrin yang ceria. Sangrin yang kekanak-kanakan. Sangrin yang selalu tersenyum.”, ucap Siwon dengan pandangan yang kosong.

“Tentu saja aku berubah, oppa… Aku bukan lagi Sangrin kecil! Aku sudah besar! Dan usia-ku sudah bisa disebut remaja! Aku bukan anak kecil lagi… Aku punya urusan-ku sendiri. Aku punya masalah-ku sendiri. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menangis jika ada masalah yang muncul.”

Mereka berdua terdiam dan saling memalingkan muka. Kibum dan Sungmin yang melihat mereka hanya bisa ikut terdiam dan saling melirik. Kyuhyun lebih memilih memerhatikan jalan di depan’nya, tidak mau ikut campur dalam masalah dongsaeng dan sahabat’nya. “Sudah sampai…”, kata Kyuhyun dengan suara pelan. Mereka semua pun langsung keluar. Begitu pula dengan Sangrin dan Siwon yang langsung melangkah tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Kyuhyun-ya…”

Kyuhyun menoleh dan bisa melihat Kibum sedang memanggil’nya. “Wae, Kibum-ya?”

“Bisa aku minta bantuanmu?”,

“Bantuan?”

Kibum mengangguk setengah yakin.

“Kalau tidak diluar kemampuanku, aku akan membantu. Ada apa?”, tanya Kyuhyun dengan pandangan tanya. “Bisakah kau mengartikan perasaanku…pada Hyeobin? Saat Hyeobin manja kepadaku, aku sangat tidak suka dan lebih memilih memikirkan Sangrin. Tapi, kenapa saat ia benci padaku, hatiku…seakan runtuh? Hatiku merasa kehilangan yang amat sangat. Apa arti dari ini semua?”

Kyuhyun tersenyum dan menepuk bahu Kibum, “Itu artinya kau mencintai’nya. Hanya saja kau baru sadar sekarang.”

“Jinja? Lalu, bagaimana cara’nya meyakinkan’nya bahwa sekarang aku benar-benar mencintai’nya? Tampak’nya, ia sudah tak percaya padaku lagi…”, tanya Kibum dengan lirih. “Itu bisa kuatur… Tenang saja, Kibum-ya.”, ucap Kyuhyun sembari menyeringai kecil. “Jinja?! Kamsahamnida, Kyu-ya! Kau memang yang terbaik!”, seru Kibum seraya tersenyum ceria.

***

Kyuhyun melangkah kembali menuju rumah sakit esok hari’nya. Perlahan, ia membuka pintu rawat Hyeobin dan bisa melihat’nya sedang dirawat oleh seorang suster. Suster yang sama dengan yang kemarin. “Annyeong…”, sapa Kyuhyun. “Annyeong haseyo… Mau menjenguk Nona Hyeobin? Kalau begitu, saya permisi dulu.”, kata suster tersebut seraya tersenyum dan menunduk kecil.

“Ada apa, Kyu-ya?”, tanya Hyeobin dengan sedikit bingung. “Ahh, aku akan langsung ke topik, Hyeo-ya… Cobalah memaafkan Kibum. Ia—”

Hyeobin memotong, “Aku sudah memaafkan Kibum. Kau juga sudah lihat sendiri kan?”, tanya’nya dengan dingin. “Aku tau… Tapi aku juga tau kau tidak sepenuh’nya memaafkan Kibum. Dia sudah sadar, Hyeo-ya. Dia mencintaimu, dan dia baru sadar sekarang… Berikan Kibum kesempatan sekali lagi. Aku juga tau dan sangat yakin kau masih mencintai’nya, bukan? Bahkan sangat besar.”

“Siapa yang tau kalau ia hanya bersimpati padaku? Atau bisa juga ia hanya menjalankan permintaan Sangrin.”

“Tapi itu tidak benar. Kemarin dia sendiri yang mengatakan’nya padaku. Jebal, Hyeo-ya, pikirkanlah lagi semua ini. Daripada dirimu yang menyesal sendiri…”

Hyeobin terdiam, “Ara… Akan kupikirkan. Gomawo, Kyu-ya, untuk semua’nya.”

Kyuhyun mengangguk, “Kalau begitu aku permisi dulu ya. Aku harus pergi ke kampus hari ini. Annyeong, Hyeo-ya~”

“Annyeong, Kyu-ya~”

Kyuhyun berjalan keluar ruangan dan bisa melihat suster tersebut sedang berdiri di depan pintu. “Ahh, anda sudah selesai?”, tanya’nya dengan sedikit gugup. Kyu mengangguk canggung dan langsung bergegas pergi. “Eh, tunggu! Apakah boleh saya menanyakan sesuatu?”, tanya suster itu dengan ragu. “Wae?”

“Apa hubunganmu dengan Nona Hyeobin?”

“Kita hanya teman. Wae-yo?”

Suster itu gelagapan dan menundukan kepala’nya, “Ani, hanya bertanya. Kalau begitu, annyeong…”

“Annyeong~”, sahut Kyuhyun sembari melanjutkan perjalanan’nya ke mobil. Sebelum pergi, ia mengenang kembali masa lalu’nya. “Suster itu mirip dengan Sooyeon, cinta pertamaku dulu saat SMP.”, gumam Kyuhyun seraya tersenyum lirih. “Seandai’nya Sooyeon masih ada disini, mungkin kita berdua sudah…Aishhh! Buat apa aku memikirkan dia? Dia adalah masa laluku. Cho Kyuhyun, seharus’nya kau tidak usah memikirkan dia lagi!”

***

Sangrin memandang kosong langit-langit kamar’nya. Memikirkan semua yang ia rasakan hari ini. Pikiran’nya masih penuh dengan seluruh perasaan yang ia dapatkan. Hati’nya perih jika memikirkan kejadian tadi. Tak lama, ketukan pintu terdengar. “Masuk…”, pinta Sangrin dan pintu pun terbuka. “Sungmin-oppa?”

Sungmin tersenyum tipis dan duduk di sebelah Sangrin, “Kau masih sedih?”

“Sedih? Sedih kenapa?”, tanya Sangrin biasa, berusaha menutupi semuanya. “Jangan seperti itu. Aku tau kau sangat sedih saat bertengkar dengan Siwon tadi… Iya, kan?”, tanya Sungmin sembari tersenyum manis. Dan entah mengapa senyuman hangat itu berhasil membuat Sangrin meneteskan air mata’nya. “Apa yang harus kulakukan, Min-oppa? Bagaimana pun, Siwon-oppa sudah bersamaku dari kecil. Dan baru pertama kali kita bertengkar separah ini.”

Sungmin mengelus rambut Sangrin, “Gwenchana… Nanti pasti kalian akan segera berbaikan.”

“Kamsahamnida, oppa… Kau seperti malaikat bagiku.”

“Kenapa aku seperti malaikat?”, tanya Sungmin bingung. “Karena oppa selalu ada disaat aku sedang sedih. Saat Kibum-oppa bersama Hyeobin-onnie dulu, dan sekarang karena aku bertengkar dengan Siwon-oppa… Kau seperti malaikat penolongku.”, jawab Sangrin sembari tersenyum. Sungmin balas tersenyum dan kembali mengelus rambut Sangrin.

Sungmin berucap, “Kalau begitu, mulai sekarang aku akan menjadi malaikat penolongmu yang selalu ada disaat kau membutuhkan. Kalau kau butuh aku, panggil saja namaku tiga kali. Arasso?”

“Kalau begitu, oppa akan terlihat seperti jin lampu daripada malaikat penolongku…”, kata Sangrin polos dan mereka berdua tertawa. Suasana setelah itu menjadi diam. “Kau juga adalah malaikatku, Rin-ah. Tidak tau kenapa, saat berhasil menghiburmu dan bisa melihat dirimu tersenyum lagi, aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira.”, sahut Sungmin seketika, membuat rona merah muncul di kedua pipi Sangrin.

Sungmin mengambil sesuatu dari sakunya dan langsung memakaikan’nya di leher Sangrin. “Apa ini, oppa? Kalung?”, tanya Sangrin terkejut.

“Ne… Ada tulisan ‘SS’ disini! Dan aku juga memakai sepasang yang sama. Sangrin-Sungmin. Bukannya ini bagus? Tadinya mau aku berikan padamu saat jalan-jalan kemarin malam. Tapi, karena tak jadi, aku memberikannya sekarang saja.”, jelas Sungmin. “Wuahh… Kamsahamnida, oppa. Ini sungguh indah!”

“Kalau begitu, aku pulang ke apartement-ku dulu ya? Annyeong, Sangrin-ah… Ingat, panggil namaku tiga kali.”, pamit Sungmin sembari tersenyum dan melambai. Sangrin balas melambai dan tersenyum. Lalu, ia menatap kalung pemberian Sungmin. “Sangrin-Sungmin? Atau Sangrin-Siwon? Ahhh… Apa yang kau pikirkan, Sangrin-ya?! Sungmin-oppa selalu ada disaat kau bersedih, tapi Siwon-oppa? Dia malah bertengkar denganmu! Apakah kau tidak bisa mulai mencintai Sungmin-oppa?”

Sangrin terus berbicara dalam hati, memikirkan semuanya dengan seksama. Kepala’nya merasakan pening seketika dan ia pun memutuskan untuk tertidur.

***

“Kajja, kita berangkat…”

Kibum tersenyum dengan bahagia’nya, dilanjutkan dengan anggukan Sangrin, Kyuhyun, Siwon, dan Sungmin. Bahkan Myorin juga ada disitu. Mereka akan menjenguk Hyeobin bersama. Setelah sampai, mereka satu-persatu menjenguk Hyeobin, karena memang jumlah mereka terlalu banyak untuk langsung masuk bersama. Kali ini gantian Kibum, tadinya Kibum mau mengajak Kyuhyun, namun Kyuhyun menolak, takut ‘menganggu’ Kibum dan Hyeobin.

Yang lain—selain Kibum memutuskan duduk di ruang tunggu.

“Rin-ah… Untuk yang kemarin, aku minta maaf ya. Aku sadar aku salah… Waktu itu aku sedang emosi.”, ucap Siwon sembari menunduk kecil. Sangrin tersenyum, “Gwenchana, oppa… Aku juga minta maaf ya.”

“Akhirnya, kalian baikan juga!”, seru Kyuhyun senang, dibalas anggukan Sungmin. Namun, Myorin hanya bisa bingung, karena tidak mengetahui apa-apa. Sangrin dan Siwon mulai bercanda dan bermain lagi. Sedangkan Sungmin, Kyuhyun, dan Myorin hanya bisa terdiam melihat tingkah mereka berdua. Tak sadar, tangan Sungmin mengepal. Hatinya perih saat melihat kemesraan mereka berdua.

Myorin memegang tangan Sungmin, “Sabar, oppa…”

Sungmin terkejut, “Sabar untuk apa?”

“Aku tau kalau oppa…mencintai Sangrin.”, jawab Myorin yakin. “Darimana kau tau?”, tanya Sungmin, masih setengah terkejut. Myorin tersenyum kecil, “Terlihat jelas dari matamu.”, jawab Myorin lagi. “Ahh… Kau juga ya.”

“Naega?”

Sungmin balas tersenyum, “Kau juga mencintai Siwon ‘kan? Aku juga bisa melihatnya, dari matamu.”

Mereka berdua terdiam sebentar dan akhirnya tertawa miris. “Tampaknya kita sama-sama patah hati ya?”, tanya Sungmin lirih. Myorin mengangguk, “Kasian sekali nasib kita, harus mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintai kita.” Sungmin mengangguk, “Bagaimana kalau kita sama-sama berusaha untuk melupakan mereka?”

Myorin kaget, “He?!”

“Ne. Daripada kita sama-sama menderita?”, tanya Sungmin seraya tersenyum. Myorin memikirkannya cepat, “Aku juga mau, oppa. Tapi, aku tidak tau bagaimana caranya.”

Sungmin mengangguk, “Aku tau!”

“Ottokhae?!”

“Obat yang paling mujarab adalah mulai mencintai orang lain.”, jawab Sungmin yakin. “Masalahnya siapa orang lain itu?”, tanya Myorin seraya menunduk. “Aku.”

“Mwo?!”

***

“Aishh… Sangrin dan Siwon sedang asyik bermain, sedangkan Sungmin dan Myorin sedang mengobrol. Hal yang paling menyebalkan di dunia ini adalah tidak punya pasangan, dan di depan mata, ada orang yang sedang melakukan itu.”

Kyuhyun berdecak kesal. “Iri ya, oppa?”

Yang ditanya kaget dan menoleh ke samping, “Kau?!”

Suster yang ada dihadapan Kyuhyun tersenyum. “Ne, aku adalah suster yang kemarin dan yang kemarin lagi.”, ucap suster tersebut, seakan mengetahui pikiran Kyuhyun. “Annyeong~ Kyuhyun imnida.”, sapa Kyuhyun, karena merasa bosan dan ingin mencoba berteman dengan suster itu. “Ahh, Kyuhyun-ssi…”

“Kau belum memperkenalkan diri…”, jawab Kyuhyun kecewa.

“Benar-benar tidak ingat siapa aku?”, tanya suster itu, cemberut. Kyuhyun menggeleng pelan. “Ahh, ingatanmu memang selalu payah, GaemKyu…!”, seru suster itu. “GaemKyu? Jamkkaman! Kau Sooyeon?!”, tanya Kyuhyun sembari mengamati suster itu dengan seksama. “Keurae, GaemKyu!”

“Ahh… Memang hanya kau yang memanggilku ‘GaemKyu’.”, ucap Kyuhyun sembari tersenyum ceria. “Kau sudah pulang dari Swedia?”, lanjut’nya lagi. Sooyeon menjitak kepala Kyuhyun pelan, “Kau ini masih babo saja. Tentu saja aku sudah pulang. Kalau belum, aku tidak akan ada disini, BaboKyu…!”

Mereka berdua tertawa ceria.

***

“Hyeobin-ah, maafkan aku. Sekarang aku baru sadar perasaanku yang sesungguhnya.”, ucap Kibum sembari mengelus rambut Hyeobin. “Ahh… Kau sudah mengatakan’nya berapa kali, hah?! Ne, aku sudah memaafkanmu, Kibum jagi.”, jawab Hyeobin sembari tersenyum. Kibum pun juga tersenyum.

Suara dering ponsel berbunyi tiba-tiba. Kibum mengangkat’nya. “Ne. Ne. Mwo?! Ne. Aku akan segera kesana!”

“Kenapa, jagi?”, tanya Hyeobin. “Sepupu jauhku yang berada di Mokpo mau kesini. Aku disuruh menjemput’nya dari bandara Incheon.”

“Ahh, Lee Donghae? Yasudah, sana jemput dia!”

Kibum mengangguk, “Gomawo, jagi. Aku akan kembali sebentar lagi. Saranghae~”

Hyeobin terkekeh, “Ne, saranghae~”

Kibum menuju pintu, lalu kembali sebentar untuk mengecup Hyeobin, dan langsung pergi. Membuat Hyeobin merona.

###

@All : Komen ya~~~ ^^

Fanfiction : ~Rain-Bow~

Punggungnya mulai menghilang. Pergi meninggalkanku. Meninggalkan namja bodoh yang sekarang merasa menyesal. Sangat menyesal. Rambut panjangnya masih berkeliaran tertiup angin. Suara petir menggelegar tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, setetes demi setetes air jatuh membasahiku. Membasahi hati yang sedang terbakar.

Pening, nyeri, dan perih mulai menyergapku. Namun, aku tak peduli. Kakiku seakan tidak bisa digerakan. Wajahku seakan tak bisa dipalingkan. Tak bisa dipalingkan dari dirinya. Yeoja biasa yang sangat luar biasa dimataku. Untuknya lah aku hidup. Untuknya lah aku bernafas. Dan untuknya lah sekarang aku merelakan ini semua.

Hujan bertambah deras. Seakan menertawakan kebodohanku. Seakan ikut meledekku. Yah, aku memang namja yang bodoh. Sangat, malah.

Karena diriku lah, malaikat itu kesepian. Karena diriku lah, malaikat itu bersedih. Karena diriku lah, malaikat itu menangis. Dan karena diriku lah, malaikat itu kehilangan sayapnya.

Ingin mengatakan, ‘Jangan pergi!’, namun tak ada kata yang keluar dari tenggorokanku. Mungkin sudah kering oleh rasa perih ini.

Di tengah jalan, ia berhenti dan memalingkan wajahnya. Menatapku dengan pandangan lirih. Aku bersyukur atas hujan yang diturunkan. Setidaknya, air mataku tidak akan terlihat olehnya. Setidaknya, ia tidak akan tau aku kesakitan tanpanya. Dia mulai terisak dan memandangku lama. Aku menutup mataku dan berbalik, tidak ingin melihatnya menangis. Karena jujur, itu membuatku semakin sakit.

Jutaan memori mulai membludak memasuki kepalaku. Memori indah yang pernah kualami. Memori indahku saat bersamanya. Saat awan hitam belum datang menerjangku.

~~~

“Annyeong, oppa…”

Aku berbalik dan tersenyum, “Annyeong… Kau disini?”

Dia mengangguk dan duduk di sebelahku, “Tentu saja. Hari ini ‘kan hari special kita. Oppa lupa?”, tanyanya seraya menggembungkan pipi. Aku hanya bisa merasa bersalah. “Mian… Pekerjaanku cukup banyak, jadi aku tak banyak memerhatikan waktu dan tanggal.”

Bola matanya menatapku sebentar, lalu akhirnya mengangguk. “Ara, oppa… Tenang saja. Aku tau betapa sibuknya dirimu. Kau adalah bintang terkenal! Semuanya mengetahui itu.”, jawabnya bijak. Aku tersenyum dan mencubit pipinya, “Ahh, kau sudah besar rupanya…”

Perempuan di sebelahku kembali menggembungkan pipinya, “Tentu saja! Aku memang sudah besar…”

Aku menggengam tangannya, “Kalau begitu kajja kita pergi untuk merayakan anniversary kita. Tapi kita ke dorm dulu ya? Aku harus berganti baju dan bersiap-siap.”, kataku dibalas anggukan manis darinya. “Dorm yang mana, oppa?”, tanyanya polos. “Tentu saja dorm Super Junior. Dorm yang mana lagi?”, tanyaku gemas dan ia hanya bisa tertawa.

~~~

Ahh, sungguh kurindukan senyuman dan tawanya yang menggemaskan itu. Entah apakah bisa kulihat lagi hal indah itu. Apa yang telah kuperbuat sekarang? Tak ada lagi senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya manisnya. Hanya ada tangis dan kesedihan. Tak ada lagi keceriaan, hanya ada kemuraman. Apakah sudah kunodai hatinya yang seputih salju itu?

~~~

“Oppa~! Buka pintunya!”, teriaknya seraya mengetuk-ketukan tangan kecil mungilnya ke permukaan pintu. Tak lama, seseorang membuka pintunya. “Eh, ternyata kalian… Kajja!”, seru Leeteuk sembari tersenyum semanis mungkin. Aku dan dirinya langsung masuk dan beranjak ke ruang tamu. “Kau tunggu disini ya? Aku mau mengganti pakaian dulu.”

Dia mengangguk patuh dan langsung duduk.

Setelah selesai, aku langsung duduk di sebelahnya. Dia sedang asyik berbincang dengan beberapa member yang lain. Tak lama, empat lelaki datang memasuki dorm. “Jonghyun-oppa…! Jino-oppa…! Jay-oppa…! Annyeong~”, sapanya dengan penuh kebahagiaan. Yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tampaknya memang semuanya sudah tau bahwa jagiya-ku ini sangat mengidolakan SM The Ballad. Tentunya selain oppa-nya sendiri.

“Ya, Cho Sangrin~! Kenapa kau tidak memanggilku? Yang lain kau sapa! Aishh…”

Aku dan yang lain tertawa mendengar ocehan Kyuhyun. “Untuk apa menyapa oppa? Dari lahir hingga sekarang, hampir setiap hari aku melihat oppa…”, sahutnya seraya cemberut. Tatapan Kyuhyun langsung beralih padaku. “Sungmin-ah, ajarilah yeo-chingumu dengan baik…”, katanya dan kami semua kembali tertawa lagi.

“Sudahlah, kajja kita pergi, Min-oppa…”

Aku mengangguk dan menyeimbangkan langkahnya. Dia berhenti sebentar dan menatap kearah tiga lelaki idolanya, “Annyeong, 3J oppa…”, sapanya seraya langsung kembali menarikku keluar dorm. Jonghyun, Jino, dan Jay yang merasa disapa hanya melambai-lambai, sementara yang lain kembali tertawa.

~~~

Tak sadar, senyuman menghiasi bibirku saat memori itu masuk. Betapa indahnya masa itu. Masa dimana tak ada sedetik pun yang terlewat bersamanya. Masa dimana tak ada yang bersedih. Masa dimana kita selalu tersenyum. Masa yang paling bahagia. Betapa menyesalnya, kebahagiaan itu harus sirna sekarang. Sirna bersama diriku.

~~~

“Lihat, oppa!”, serunya dan aku pun memandang kearah apa yang ditunjuknya. Puluhan burung camar sedang terbang berkelompok. Kutatap wajahnya yang sedang sangat terpana. Matanya membiaskan sinar yang membuatnya semakin menawan. Kuberhentikan mobil dan tak kuhiraukan pertanyaan darinya. Kukecup bibirnya yang merah muda. Dia sedikit terkejut, namun ia tak menolak. Malah ikut menikmatinya.

Setelah cukup lama, aku menghentikannya dan kemudian langsung kembali menyetir. Arah pandangannya sontak langsung ia tujukan pada kaca mobil. Keadaan menjadi canggung sekarang. Namun aku tau. Kita berdua tau. Bahwa pipi kita sudah merona sempurna sekarang. Tak bisa kuhalangi atau kukontrol bibirku ini untuk terus tersenyum. Begitupun dengannya.

Perjalanan telah selesai. Aku mulai membuka pintu dan berjalan kearahnya. Membuka pintunya. Kugenggam tangannya dan bergegas berjalan menuju pantai. Pasir putih dan ombak kecil menyambut kami. “Wuah, indah~!”, ucapnya terpana. Aku hanya tersenyum menanggapi kepolosannya. “Tapi, kenapa di pantai yang indah ini, tidak ada pengunjung sama sekali, oppa?”, tanyanya dengan kecewa.

“Karena pantai ini sudah kupesan. Khusus hari ini,  pantai indah ini adalah milik kita seutuhnya.”, jawabku dan rona kembali tercipta di wajahnya.

Kucubit pipinya, “Kau memang sangat menggemaskan!”

~~~

Kutorehkan kepalaku sedikit kebelakang. Dia, Cho Sangrin-ku, melangkah mendekat. Dekat dan semakin dekat. Hingga wajahnya berada tepat di depan wajahku. Hingga tatapan kita bertemu. Aku bisa menatap wajahnya lagi yang menggemaskan. Walaupun dengan keadaan basah oleh air hujan dan air matanya.

Aku mengangkat tanganku dan bersiap menyentuh wajahnya…

~~~

“Sun-setnya sangat indah!”, serunya kembali terpana. “Jagi, sudah berapa kali kau terpana hari ini?”, tanyaku meledek. “Mungkin sekitar lima kali…”, jawabnya pelan. Aku tertawa dan mengejarnya. Ia langsung berlari menghindariku. Kita terus berlarian hingga akhirnya aku bisa menggapainya. Bersamaan dengan itu, kita berdua terjatuh. Dia menimpaku. Dan tatapan kita bertemu.

Rona kembali muncul di pipi kita berdua.

Dengan cepat, kita langsung kembali pada posisi masing-masing. Sekarang kita berjalan kecil, tangan kita saling menggengam. Kaki kita menyentuh air pantai yang dingin namun segar. Senyum terus terhias pada wajah kita. “Sangrin-ah…”

“Ne, Sungmin-oppa?”

“Na…saranghaeyo.”

“Na tto, oppa.”

Aku menghadapnya. “Sekarang tutup matamu…”

Dia mengangguk dan mulai menutup matanya. Aku merogoh saku celanaku dan mengambil sebuah kotak putih. Kubuka kotak itu dan kuambil salah satu benda di dalamnya. Kupakaikan benda melingkar itu di jari mungil Sangrin. Dia seketika terkejut dan membuka matanya. “Ini—”

“Maukah kau menikah denganku, Cho Sangrin? Di kala suka dan duka yang akan kita lewati bersama, di kala badai dan ombak yang menerjang, dan hingga maut memisahkan kita?”, tanyaku dengan puitis. Cairan bening keluar dari pelupuk matanya. “Kau menangis, jagi? Apakah aku berbuat salah?”

Dia menggeleng, “Aku terharu, pabo…!”

“Lalu, jawabanmu?”, tanyaku menanti. Ia mengangguk dan memelukku. Kita berdua mulai menangis. Yah, ini adalah kali pertama aku menangis demi seorang perempuan. Dan perempuan beruntung ini adalah calon istriku. Tiba-tiba, hujan mengguyur kita berdua.

“Kajja, kita pulang, oppa…”

Aku mengangguk dan kita langsung berlari menuju mobil.

~~~

Aku mengangkat tanganku dan bersiap menyentuh wajahnya, namun tak ada yang kuraih. Hanya bayangan. “Jagi…”, sahutku seraya mulai kembali menangis. Ia juga begitu. Kita berdua terpisahkan maut. Hanya bisa melihat, namun tak bisa menyentuh. Perih rasanya.

Bayangannya mulai hilang. Aku mencoba menariknya, namun hanya bayangan yang kuraih. Air mataku kembali terjatuh tak karuan. Begitu pun dengan hujan yang makin lebat.

“JAGI…!!!”

~~~

“Kira-kira apa reaksi Kyu ya jika tau aku sudah melamarmu, Rin-ah?”

Dia menatapku lalu tertawa, “Molla~ Mungkin dia akan menusuk oppa hidup-hidup.”, jawabnya iseng. “Mwo?! Kalau begitu tidak jadi deh…”

“Oppa~~~”, sahutnya sembari cemberut. “Aigoo~ Aku hanya bercanda, nona manis! Mana mungkin aku mau melepasmu… Tapi ada syaratnya!”, kataku sembari tersenyum jail. “Apa?”, tanyanya sedikit takut. “Lupakanlah SM The Ballad-mu itu. Aku cemburu tau jika kau terus membicarakan Jonghyun, Jino, dan Jay-hyung!”

Ia langsung memukul pelan tanganku, “Andwae, oppa! Selamanya, aku adalah Baladears. Tapi—”

“Tapi apa?”, tanyaku tak sabar. “Aku juga akan selalu menjadi fans-mu, oppa. Aku adalah Smilers dan aku adalah ELF.”

“Ahh, darimana kau belajar kata-kata manis itu? Tidak mungkin dari Kyu kan?”, tanyaku sembari kembali mencubitnya. “Umin-oppa! Berhenti mencubit dan mengucapkan nama ‘Kyu’… Kalau saja aku tidak tau Kyu-oppa sudah punya pacar, mungkin aku sudah mengira kalian saling menyukai tau!”

Aku terkekeh pelan dan mata kita saling berpandangan. “Saranghaeyo…”

Tak sadar, kita berdua mengucapkan kata ‘saranghaeyo’ seraya bersamaan.

“OPPA…!”

Dengan cepat, aku mengikuti arah pandangan Sangrin dan bisa melihat mobil yang kita tempat mulai terpeleset karena air hujan dan memasuki jurang kecil.

~~~

Hujan menjadi saksi kita bersama…

Hujan menjadi saksi kita tertawa…

Dan sekarang, hujan menjadi saksi kita berpisah…

Maaf jika aku tak bisa menepati janji untuk bersamamu selamanya…

Jika hujan datang, ingatlah aku…

Karena aku adalah pelangi-mu…

Dan pelangi—akan muncul setelah hujan berakhir…

Aku akan terus menjagamu…

Selamanya…………

~~~

Hujan mulai reda. Dan pelangi pun mulai muncul. Seseorang berdiri disamping sebuah nisan. Dia meletakkan sebuket bunga melati dan kemudian bergegas pergi. Puluhan massa mendekatinya dan meminta pendapat, namun ia hanya bisa diam dan bergegas masuk ke mobil.

“Jangan menangis lagi… Kau harus kuat.”, seru Kyuhyun sembari tersenyum. Orang yang dihibur, masih menunduk sedih.

“Sangrin-ah… Lihat aku!”

Perempuan itu memandang oppa-nya dengan lirih. “Percayalah… Sungmin-hyung tidak akan mau melihatmu bersedih apalagi menangis begini.”

Sangrin termenung sebentar dan akhirnya tersenyum. “Kamsahamnida, oppa…”

“Nah, itu baru Sangrin yang kita kenal!”, seru Heechul dan semua orang yang ada di mobil pun tersenyum. Begitu pula dengan Sangrin.

“Kajja, kita pulang ke dorm!”

Yang lain mengangguk dan mobil mulai berjalan.

Sangrin menatap pelangi yang ada di atas langit. Sinarnya berpendar sangat terang. “Apakah itu kau, Sungmin-oppa? Kalau iya, aku berjanji akan terus bahagia dan tersenyum. Aku juga akan terus mencintaimu…”

Perempuan itu menggengam cincin pemberian Sungmin dengan erat sembari tersenyum cerah. Secerah pelangi yang terbentang di angkasa.

<END>

Sebenarnya ini adalah FF pelarian author dari FF lainnya yg belum jadi… *siap2 dibakar*

Bagi yang merasa bias Sungmin, aku pinjem ya Sungmin-nya… Abisnya gak tau lagi mau pake pemain siapa~ ><

Silahkan baca ‘n komen please~~~

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Four)

“Ottokhae, Kyu oppa??!!”

Kyuhyun mengangkat bahu’nya. “Molla, Myo-ah… Pintu’nya benar-benar terkunci dari luar. Tampak’nya kita harus benar-benar bermalam disini.” Myorin pergi ke suatu gudang, dan tak lama kemudian duduk dengan cemas. “Persediaan selimut sudah tidak ada… Ottokhae, oppa? Udara malam ini kan pasti sangat dingin…!” gumam Myorin kebingungan.

Myorin duduk di sofa, satu-satu’nya tempat empuk yang ada di butik itu. Kyuhyun ikut duduk di sebelah Myorin. Ia membuka jaket’nya dan memberikan’nya pada Myorin. Pandangan Myorin seketika tertuju pada Kyuhyun dan mengkerutkan dahi’nya. “Apa maksudmu, oppa?”

“Pakailah… Kau pasti kedinginan kan?”

Myorin menggeleng. “Aku memang kedinginan, oppa… Tapi nanti kau juga pasti kedinginan jika memberi jaket ini padaku.” Kyuhyun berpikir sejenak, lalu ia menjentikkan jari’nya. “Nah, kalau begini tidak ada yang kedinginan kan?” tanya Kyuhyun yang menaruh jaket’nya di tengah-tengah, membiarkan jaket itu menyelimuti mereka berdua.

Myorin terkejut dan membelalakan mata’nya tak percaya. Namun, ia tak bisa melawan, karena rasa dingin sudah mulai menusuk’nya.

“Kyuhyun oppa~”

Kyuhyun yang merasa nama’nya dipanggil menoleh. Myorin tampak ragu sejenak. “Apa…Siwon oppa dekat sekali dengan Sangrin?” tanya’nya dengan masih ragu. “Ne, mereka sangat dekat… Memang kenapa? Kau suka ya dengan Siwon?” tanya’nya dan wajah Myorin seketika memanas.

“And…wae~! Hanya…hanya bertanya. Tapi, bukankah Sangrin juga dekat dengan Sungmin oppa?”

“Kalau itu, aku tidak tau… Tenang, kalau kau memang menyukai Siwon, aku akan membantumu~” jawab Kyuhyun seraya tertawa kembali. “Andwae~!!!” ucap Myorin cepat sembari menundukan kepala’nya. Kyuhyun tersenyum jail. “Dasar cinta…” seru’nya seraya mengerucutkan mulutnya.

***

Suara kicauan burung menyambut datang’nya pagi. Sangrin membuka mata’nya perlahan dan bisa melihat Siwon sedang tertidur di sebelah’nya. Sangat damai dan manis. Tak sadar, ia membeku menatap pemandangan ‘indah’ di depan’nya. “Sudah bangun, Rin-ah?” tanya Siwon seraya membuka mata’nya perlahan dan beranjak bangun. Sontak Sangrin langsung mengedarkan pandangan’nya kearah lain.

“Kenapa kita ada di mobil? Mana Kyuhyun?”

Perempuan itu terkejut dan mengedarkan pandangan’nya ke seluruh mobil. “Tampak’nya kemarin kita ketiduran, oppa… Tapi, masa hingga sekarang Kyuhyun oppa masih ada di dalam butik?” Siwon mengangkat bahu’nya tanda tak tau. “Lebih baik kita periksa di dalam…”

Sangrin mengangguk dan mereka berdua—ia dan Siwon langsung bergegas ke butik. Mereka membuka pintu’nya dan langsung memasuki butik itu. Sangrin yang melangkah lebih dulu, memberhentikan langkah’nya. Pemuda yang lebih tinggi 25 cm dari Sangrin ikut membeku di belakang’nya. “Apa…kah itu benar-benar Kyu…op…pa?”

“Ne, itu…benar-benar Kyu. Kenapa Kyuhyun bisa bersama Myorin?”

Sangrin mengangguk setuju. Dengan cepat, ia langsung membangunkan Kyuhyun yang sedang berada di posisi ‘dekat’ dengan Myorin. “Sangrin-ya~!!! Untung kau datang…!”

Orang yang dipanggil menepis tangan oppa satu-satu’nya itu. “Tak bisa kubayangkan, oppa bisa mengkhianati Jinra onnie~!”

Kyuhyun terkejut, sedangkan Myorin yang juga sudah bangun langsung berdiri. “Siapa Jinra?” tanya’nya bingung. “Jinra onnie itu adalah istri Kyuhyun oppa… Kakak ipar’ku.” jelas Sangrin dibalas keterkejutan dari Myorin. “Kyuhyun oppa sudah punya istri? Kenapa kau tidak cerita, oppa? Tenang kok, kita disini karena pintu tiba-tiba terkunci dari luar… Tidak ada apapun!” elak Myorin dengan cepat, takut Siwon salah sangka.

“Jinja, Kyu oppa?!”

Kyuhyun mengangguk, tapi ia masih beku di tempat. Sedetik kemudian, ia mulai menitikkan air mata. “Wae-yo, oppa? Apakah perlakuan kasar’ku menyakitimu? Mian, oppa… Aku tidak tau kalau kalian hanya—“

“Bukan salahmu, Rin-ah. Hanya saja, aku dan Jinra…sudah cerai.”

“Mworago?! Cerai…??!! Tapi kenapa? Dan kenapa kau tidak pernah membicarakan’nya dengan kami selama ini?!” tanya Siwon angkat bicara.

Sangrin mengangguk tanda setuju, sedangkan Myorin hanya diam, tidak tau dan tidak mau ikut campur dalam masalah keluarga mereka. “Jinra…selingkuh dengan pria lain…dan aku melihat’nya sendiri dengan mata kepalaku. Setelah itu, aku langsung menceraikan’nya. Aku tidak mau melihat kalian ikut terbebani, jadi aku tidak cerita masalah ini kepada…kalian. Mian.”

Dengan cepat, Sangrin langsung memeluk Kyuhyun dengan erat. Siwon juga ikut tersenyum dan memeluk mereka berdua. Myorin hanya bisa melihat mereka dengan seulas senyum. Dalam hati’nya ia mengakui, bahwa ternyata Sangrin, Siwon, dan Kyuhyun memang oppa-dongsaeng yang sangat dekat.

“Kami pergi dulu ya, Myorin onnie. Annyeong~”

Myorin melambaikan tangan pada mobil yang baru memulai perjalanan’nya. “Sekarang, apa yang akan oppa lakukan?” tanya Sangrin memecah keheningan. Kyuhyun yang sedang menyetir, tampak berpikir keras. “Kupikir, aku akan melanjutkan kuliahku kembali sampai tamat.” jawab Kyuhyun yakin.

Sangrin menghela nafas kesal. “Aniya…! Maksudku dalam hubungan, bukan’nya yang lain~!”

“Molla… Yang penting sekarang, oppa tidak akan terlalu memikirkan percintaan.” jawab Kyuhyun dengan serius. Siwon dan Sangrin tertawa melihat perubahan sikap Kyuhyun. “Hei, ada apa dengan kalian?!”

“Ani-yo…!” seru mereka bersamaan.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Dan itu semakin membuat Sangrin dan Siwon tertawa. Di tengah tawa mereka, dering ponsel Sangrin berbunyi. “Yoboseyo? Nugu?” tanya Sangrin. “Sungmin imnida~ Ini Sangrin kan?” balas suara di balik telepon. “Ah, Sungmin oppa~! Wae, oppa?”

Seketika Siwon terdiam. Ada rasa cemburu di dasar hati’nya saat Sangrin memanggil nama Sungmin. “Ani… Oppa hanya ingin bertanya, apakah kau punya waktu malam ini?”

“Molla, oppa… Aku harus tanya Hyeobin onnie dan Kibum oppa terlebih dahulu. Memangnya kenapa?” jawab Sangrin dengan santai.

Sungmin terdiam sebentar. “Ani… Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kabarkan oppa ya nanti~ Annyeong, Rin-ah.” seru’nya dengan lembut. “Ne, oppa… Annyeong~” balas Sangrin sembari menutup telepon. “Dari Sungmin hyung?” tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depannya.

“Ne…”

“Apa yang dia katakan?”

“Sungmin oppa bertanya apakah aku ada waktu malam ini…”

Kyuhyun menautkan alisnya. “Lalu? Kau menjawab apa?”

“Aku bilang aku harus menanyakan’nya pada Hyeobin onnie dan Kibum oppa dulu.”

Siwon angkat bicara. “Memangnya apa yang mau dia lakukan jika kau punya waktu?”

“Molla… Sungmin oppa hanya bilang ingin mengajakku jalan-jalan.” jawab Sangrin sembari menaikkan bahu’nya. “Dan kau percaya padanya? Dia adalah namja, Sangrin-ah…! Dan kau adalah yeoja~! Bagaimana jika dia ingin berbuat macam-macam padamu?!”

Sangrin sedikit terganggu. “Maksudmu apa, oppa?! Sungmin oppa bukan orang yang seperti itu~ Biasanya aku juga pergi dengan kau, oppa… Dan kau juga namja kan? Sama seperti Sungmin oppa?”

“Tapi tetap saja—“

“Cukup, Siwon oppa~~~!!! Ada apa sih denganmu?! Kyuhyun oppa yang adalah oppa kandungku saja tidak seperti ini!” bentak Sangrin dengan keras. Berhasil membuat Siwon terdiam dan memandang Sangrin tak percaya. “Aku…aku tak percaya kau membentakku saat ini, Rin-ah. Padahal…sebelumnya…dalam waktu selama 13 tahun kita saling mengenal, kau…kau tidak pernah melakukan ini padaku. Dan…ini semua hanya karena Sungmin hyung?”

Bersamaan dengan itu, mobil mereka telah sampai di depan apartement. Siwon langsung keluar dan pergi meninggalkan Sangrin serta Kyuhyun. Mata Sangrin berair dan tak lama mengeluarkan air mata. “Kau…menangis?” tanya Kyuhyun yang daritadi hanya diam.

Sangrin tak menjawab. Entah kenapa, hatinya sangat sakit. Sakit sekali. Ini adalah kali pertama ia mempunyai konflik dengan Siwon, oppa yang sangat ia sayangi. Atau yang Sangrin rasakan bukan hanya sekedar rasa sayang seorang dongsaeng kepada oppa’nya?

***

(Sangrin’s POV)

Aku mematut pantulan diriku di kaca. Sempurna. Dengan cepat, aku mengambil tas pinggang dan langsung beranjak keluar dari kamar. Hyeobin onnie dan Kibum oppa yang sedang duduk menatap TV sontak melihatku. “Mau pergi bersama…Sungmin ya?” tanya Hyeobin onnie yang nada’nya lebih tepat sebagai godaan, bukan pertanyaan.

Aku mengangguk seraya tersenyum. Kibum oppa hanya memandangiku. Pandangannya sangat sayu dan sendu. Hyeobin onnie beranjak dan menepuk bahuku. “Fighting~! Kurasa Sungmin itu menyukaimu…” komen’nya sembari berjalan kearah dapur. Aku hanya terdiam. Kulirik Kibum oppa yang masih menatapku dengan sayu.

“Kau…menyukai lelaki itu? Namanya Sungmin?”

Kibum oppa memandangku, meminta penjelasan. “Ne…oppa. Namanya Sungmin. Lee Sungmin.”

Kibum oppa menghampiri dan berdiri tepat di hadapan’ku. Tenang rasa’nya merasakan hembusan nafas’nya yang tertiup tepat di wajah’ku. “Jawab aku, Rin-ah… Apakah kau menyukai Sungmin?” bisik’nya lirih. Seperti sedang menahan kesedihan yang mendalam. Hatiku sakit rasa’nya. “Aku…aku…tidak tau, oppa. Aku—”

“Apakah kau lupa janjiku, Rin-ah? Aku bilang padamu bahwa aku akan segera datang padamu… Dan aku memintamu menungguku. Apakah kau melupakan janjiku? Nan…joengmal saranghaeyo, Rin-ah~ Dari lubuk hatiku yang terdalam. Apakah itu tak cukup untukmu?” potong’nya cepat. Air mata Kibum oppa keluar perlahan.

“Cobalah cintai Hyeobin onnie, oppa! Ia sangat mencintaimu. Dari lubuk hati’nya yang terdalam… Aku tak bisa. Tak bisa mengkhianati cinta onnie.”

Kibum menatapku tak percaya. “Kau pikir mudah untuk melupakan atau mencinta seseorang?! Sudah kucoba melupakan sosokmu dan mencoba mencintai Hyeobin… Tapi, aku tak bisa! Bayanganmu selalu muncul dalam hatiku. Saat memandang Hyeobin, aku merasa kaulah yang aku pandang… Hanya kau yang ada di hatiku, Rin-ah.”

PRANG~!

Sebuah suara mengejutkanku. Dengan sigap, aku dan Kibum oppa menoleh. Betapa terkejutnya kita—terutama diriku saat melihat Hyeobin onnie memecahkan piring yang dibawa’nya. Dan ia tak sadarkan diri. “Oppa…! Bawa Hyeobin onnie ke rumah sakit, oppa…!!! Apa yang oppa tunggu?!”

Aku menepuk-nepuk Kibum oppa yang hanya bisa diam. Pandangan mata’nya menatap Hyeobin dengan terbelalak. Untung Sungmin oppa datang dan membantuku mengangkat Hyeobin onnie untuk dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Sungmin oppa menyetir di depan, dan aku di sebelah’nya. Sementara Hyeobin onnie yang masih tak sadarkan diri, terbaring. Kepala’nya disenderkan pada paha Kibum oppa.

Di rumah sakit, Hyeobin segera ditangani. Kami menunggu di luar. Aku duduk di bangku tepat di sebelah ruang rawat Hyeobin onnie. Sungmin duduk di sebelahku. Menggenggam tanganku untuk meredakan ke-khawatiran yang terus bergejolak. Sementara Kibum hanya bisa berdiri bolak-balik. Air mata’nya terus mengalir. Begitu pula denganku. Rasa bersalah terus berkelebat dalam hati dan pikiranku.

“Bagaimana keadaan Hyeobin?!”

Kami bertiga menoleh dan bisa melihat Kyuhyun oppa sedang melangkah terburu-buru, dilanjutkan Siwon oppa di belakang. “Dokter sedang menangani’nya.” jawab Sungmin saat menyadari tak ada yang mau menjawab. Kulihat Siwon oppa, pandangan’nya terus tertuju pada genggaman erat Sungmin oppa di tanganku. Sontak aku melepas genggaman tangan Sungmin oppa. “Sebenarnya, kenapa ini bisa terjadi?”

Kyuhyun oppa bergantian memandangi diriku, Kibum oppa, dan Sungmin oppa. “Aku tidak tau… Aku datang saat Hyeobin sudah dalam keadaan seperti itu.” jawab Sungmin lagi. “Sangrin jawablah…!” pinta Kyu oppa yang tampak’nya merasa tidak tau apa-apa. Aku hanya diam. Tak berani mengatakannya.

“Ini semua salahku…”

Pandangan semua orang sontak tertuju pada Kibum oppa. “Apa maksudmu?” tanya Kyu oppa masih bingung. Kibum oppa menghela nafas’nya. “Hyeobin mendengar pembicaraanku dan Sangrin. Dan aku yang memulai pembicaraan ini duluan… Jadi aku yang salah.”

Kyu oppa tampak penasaran. “Pembicaraan apa yang kalian bicarakan?”

“Aku…mencintai Sangrin. Dulu aku sempat menyatakan perasaanku pada’nya. Tapi, Sangrin menolak, dengan alasan tidak ingin membuat Hyeobin sedih. Jadi, aku membuat janji pada Sangrin. Janji agar ia menungguku dan bahwa aku akan kembali pada’nya suatu saat nanti. Saat mengetahui Sungmin akan mengajak’nya jalan, aku hanya meminta kepastian dari Sangrin. Apakah ia melupakan janjiku atau tidak. Sayang’nya pembicaraan kami didengar oleh Hyeobin. Dan terjadilah peristiwa ini…”

Semua orang tampak sangat terkejut. Tentu’nya kecuali aku dan Kibum oppa sendiri. Apalagi ekspresi Siwon dan Sungmin oppa. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Antara ekspresi terkejut, tak percaya, dan sakit.

“Jadi ini semua berasal dari cinta segitiga antara Kibum, Sangrin, dan Sungmin?” tanya Kyu oppa tiba-tiba. Kita semua mengangguk lesu. Namun tidak dengan Siwon oppa. “Bukan cinta segitiga, tapi cinta segi empat…”

Gantian semua mata tertuju pada Siwon oppa. “Agar masalah ini cepat selesai, mana yang kau pilih Sangrin-ya?”

Rasa’nya ingin kubungkam mulut oppa’ku yang satu ini. Sangat menyebalkan! Kenapa ia harus menyuruhku memilih? “Cepat tujukan pilihanmu, Sangrin-ah…!” seru Kyuhyun oppa tak sabar. Hwaaa~! Mana yang harus kupilih? Kibum oppa? Sungmin oppa? Atau Siwon oppa?

Tampak’nya harus aku jawab sekarang deh. Baiklah, semoga pilihanku tepat!

“Aku…memilih——”

###

~T.B.C~

@All : Komen seperti biasa ya… ^^

@HyeoMyo : Ottokhae?? Mian kalau part kalian sedikit… Next part aku banyakin deh~ 😀

@Hyun : Next part baru dimasukkin ya? ^^ Tunggu saja~


Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Three)

“Sangrin-ya~! Hari ini, onnie akan memasak untuk ulang tahun Kibum… Rencana’nya, onnie akan memberikan kejutan untuk’nya. Bisakah kau membeli persediaan bahan di supermarket?”

Sangrin yang sedang menyapu, mengangguk kecil mendengar perintah onnie’nya.

Ia berjalan keluar dari apartement dan turun melewati lift. Disana sudah ada seorang lelaki yang sedang berada di lift yang sama. “Annyeong, Sangrin-ah…”

Minnie

Sangrin menunduk kecil. “Annyeong, Min oppa~”

“Mau kemana?” tanya Sungmin sembari tersenyum manis. “Ke supermarket, oppa… Kibum oppa ulang tahun hari ini~” Sungmin sedikit kaget saat Sangrin mengucapkan ‘Kibum’. “Bukankah Kibum adalah lelaki yang kau ingin lupakan waktu itu?”

Sangrin mengangguk pelan. “Ne, oppa~ Aku hanya mengabulkan perintah Hyeobin onnie, yeoja-chingu’nya Kibum oppa…”

Lelaki di sebelah’nya kembali terkejut. “Kibum sudah punya yeoja-chingu??”  Sangrin mengangguk lagi, kali ini lebih pelan. “Jadi, perempuan yang menyuruhmu itu adalah orang ketiga diantara kalian?”

Sangrin terdiam seraya menunduk. Sungmin masih memandang’nya penuh tanya. “Ani, oppa… Aku yang adalah orang ketiga diantara mereka~” ucap Sangrin pelan. “Mian. Aku membuatmu sedih ya? Mianhaeyo~”

“Gwenchana, oppa~ Ini kan memang kenyataan…”

“Mau aku antar?” tanya Sungmin saat pintu lift terbuka. “Oppa tidak sibuk?” Sungmin menggeleng cepat. “Kebetulan aku tidak punya jadwal kuliah hari ini. Kajja, Sangrin-ah…!” Sungmin langsung menarik tangan Sangrin menuju motor’nya.

Sangri naik ke boncengan Sungmin dengan malu-malu. “Peganglah tanganku, Rin-ah…” Sangrin sedikit kaget. “Ehh?” Sungmin langsung menggengam kedua tangan Sangrin dan mengalungkan’nya pada pinggang’nya sendiri. “Nah, bagus… Kajja, kita berangkat~!”

Tak sadar, daritadi mereka—Sangrin dan Sungmin—diperhatikan oleh seseorang. Ia, tepat’nya Siwon, sedang melihat mereka dengan pandangan nanar. Air mata’nya sudah jatuh. Mungkin semua orang akan mengira’nya namja yang cengeng, namun hati’nya merasa sangat perih.

***

“Sudah sampai~”

Sangrin turun diikuti Sungmin. “Lho, oppa kok ikut turun?” Sungmin kembali tersenyum. “Aku akan ikut membantumu~!” seru’nya dengan senyuman yang terus melekat. Membuat Sangrin terpana. Ah, senyum’nya sungguh manis~!

Tanpa basa-basi, ia membuka pintu supermarket dan menyuruh Sangrin masuk layak’nya tuan putri. Ia mengambil keranjang dan mengikuti kemanapun Sangrin pergi. Saat Sangrin melirik, Sungmin akan tersenyum.

Min

Setelah selesai membeli semua barang, Sungmin kembali mengantarkan Sangrin pulang. Di tempat parkir, Sangrin ingin membawa barang-barang yang tadi, namun Sungmin mengatakan agar ia saja yang membawa semua’nya.

Di depan pintu, mereka berhenti. “Kamsahamnida, Min oppa…” ucap Sangrin dengan termalu-malu. Sungmin mengelus rambut Sangrin pelan. “Kau sangat manis, Rin-ah…”

Sangrin mengetuk pintu dan munculah Hyeobin yang membuka pintu’nya. “Sudah membeli’nya, Sangrin-ah? Gomawo ya~ Taruh saja belanjaan’nya di dapur. Onnie dan Kibum akan jalan-jalan dulu… Ara?”

Sangrin mengangguk. “Ara, onnie~”

Ia pun kembali melihat lagi penampilan onnie’nya. Hyeobin memang sedang memakai gaun biru langit selutut yang sangat indah. Kemudian, saat ia akan menaruh belanjaan’nya di dapur, ia bisa Kibum baru keluar dari kamar. Lengkap dengan pakaian’nya yang elegan tapi santai.

Bummie

Sangrin bisa merasakan hati’nya kembali sakit saat melihat Kibum mendekati Hyeobin dan menggengam tangan’nya untuk keluar dari apartement. “Kita pergi dulu ya, Rin-ah? Annyeong~” kata Hyeobin dengan senyum yang tak pernah luput dari pipi’nya.

Sangrin mengangguk pelan dan tersenyum perih. Sebelum pergi, Kibum menoleh dan memandang Sangrin dengan tatapan ini-hanya-terpaksa dan jangan-marah-padaku.

Setelah mereka pergi, Sangrin langsung terduduk di sofa dan menangis dengan keras. “Kenapa kau menangis, Rin-ah? Apakah karena lelaki tadi? Siapa nama’nya, Kireom eh maksudku Kibum…?”

Sangrin memandang Sungmin yang sudah berada di sebelah’nya. “Kau…belum pulang, oppa?” tanya’nya dengan air mata yang masih bercucuran. Sungmin membelai Sangrin. “Jika aku pulang, siapa yang akan menenangkanmu?”

Begitu mendengar hal itu, Sangrin langsung memeluk Sungmin sembari menangis lebih keras.

***

Sangrin terbangun. Ia bisa melihat Sungmin masih memeluk’nya, dan sekarang sudah dalam keadaan tidur. Ia langsung memindahkan dengan susah payah Sungmin ke kasur’nya dan menyelimuti’nya.

Setelah itu, ia duduk di sebelah kasur. Memandangi Sungmin yang sekarang tidur seperti anak kecil yang polos.

Min Oppa

Ia mengelus rambut Sungmin yang sangat hitam dan lembut. “Kau ada disi…”

Sangrin terkejut saat mendengar seseorang—dengan suara tidak asing bersuara. Ia menoleh dan dapat melihat oppa satu-satu’nya sedang menatap’nya dengan pandangan kaget. “Wae, Kyu oppa?”

“Itu…Sungmin hyung kan? Untuk apa dia tidur di kasurmu, Rin-ah? Kalian…sedang tidak melakukan apa-apa kan?”

Sangrin memukul kepala oppa’nya.

“Sakit tau, Rin-ah~!!!”

“Salah sendiri Kyu oppa bilang begitu! Siapa juga yang lagi melakukan sesuatu…” seru Sangrin kesal. Kyuhyun hanya tertawa sembari mengelus-elus kepala’nya yang masih sakit. “Lagipula kenapa oppa kesini?”

Kyuhyun langsung menepuk kepala’nya sendiri. “Aku hanya menyampaikan, nanti malam kamu jalan-jalan ya bareng oppa dan Siwon? Kan sebentar lagi, oppa dan Siwon mau merayakan kelulusan sekolah. Mau ya?”

Sangrin tersenyum kecil seraya mengangguk. “Tentu saja, oppa…! Kalian berdua adalah oppa tersayangku dari kecil hingga sekarang~”

***

Malam sudah tiba. Sungmin terbangun dan mengerjapkan mata’nya perlahan. Sangrin sudah siap dengan pakaian’nya dan tersenyum saat Sungmin masuk. “Aku tertidur disini ya? Mian, Rin-ah… Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?”

“Jalan-jalan dengan Kyu dan Siwon oppa…”

Sungmin kaget. “Kau…dan Siwon dekat ya?” tanya’nya lesu. Sangrin tersenyum tanpa menyadari ekspresi Sungmin sama sekali. “Tentu saja~ Siwon oppa sudah bersama denganku dari aku berusia 5 tahun… Bisa dibilang, ia adalah pelengkapku dan aku adalah pelengkap’nya.”

Lelaki dihadapan Sangrin merasa sakit seketika. Perkataan Sangrin seakan menusuk ulu hati’nya yang terdalam. “Gwenchana, oppa?? Kok diam begitu sih?”

“Gwen…chana~ Oppa pulang dulu ya? Annyeong, Rin-ah.”

Sangrin hanya mengangguk, masih bingung akibat perubahan sikap Sungmin secara tiba-tiba. Bersamaan dengan pergi’nya Sungmin, munculah Kyuhyun yang sudah siap dengan pakaian’nya pula dan langsung menarik tangan Sangrin. “Kajja~!”

Hyunnie

Bukan’nya ikut, tapi Sangrin malah tertawa terbahak-bahak. “Wae-yo, Rin-ah?” tanya Kyuhyun bingung. “Oppa, kau tidak cocok memakai kacamata hitam itu~!”

Kyuhyun memegang kacamata hitam’nya. “Memang kenapa? Kau merasa terpesona ya dengan ketampananku?? Aku kan sudah punya istri dan lagi, kau kan dongsaengku…”

“OPPA~!!! Siapa yang bilang kalau aku suka oppa…??!!”

Siwon mengampiri mereka dengan secercah senyuman yang dipaksa. “Tuh ya kan, kalian itu tidak pernah berubah dari dulu~ Seperti anjing dan kucing… Sudah, ayo kita jalan~”

Wonnie

Sangrin dan Kyuhyun mengangguk, mengikuti Siwon yang tampak’nya sedang tidak mood seraya masih saling menjulurkan lidah mereka. Mobil berhenti di sebuah restoran. Mereka bertiga pun masuk ke restoran itu.

“Wuah~! Sudah lama sekali tidak ke restoran ini…”

Kyuhyun tersenyum. “Terakhir aku kesini, aku masih kelas 6 SD… Kau juga ikut bersamaku kan, Won?” Siwon mengangguk pelan. Pandangan’nya masih tertuju pada sebuah tempat di ujung restoran. Kenangan masa kecil’nya yang indah kembali terulang.

***

“Kajja, Siwonnie…!” seru Kyuhyun kecil seraya menarik tangan Siwon kecil ke sebuah restoran. Mereka berhenti di sebuah tempat di ujung restoran. “Kenalkan ini Sangrin, dia adalah dongsaeng’ku satu-satu’nya…!!! Cantik kan?”

Pandangan Siwon dan Sangrin kecil pun beradu. Seulas rona muncul di kedua pipi mereka. “Aigoo, ada apa dengan kalian berdua?” tanya Kyuhyun bingung.

Dengan gemetar, Siwon kecil menyodorkan tangan’nya, bermaksud ingin bersalaman. “Annyeong~ Jeoneun Choi Siwon imnida… Usia 6 tahun~”

Sangrin ikut menyalami Siwon. “Annyeong, oppa~ Jeoneun Cho Sangrin imnida… Usia 5 tahun~”

***

Mengingat kejadian itu, Siwon tersenyum kecil. “Oppa~! Wae, oppa? Masih sakit setelah jalan-jalan waktu itu? Kok melamun dan malah tersenyum seperti itu?” tanya Sangrin yang sudah berdiri tepat di depan Siwon sembari menjinjitkan kaki’nya agar sejajar dengan Siwon yang jauh lebih tinggi dari’nya.

Siwon tersadar dan seketika pandangan mereka bertemu, sama seperti kejadian 13 tahun yang lalu. Namun, kali ini dengan jarak yang sangat dekat. Siwon menggumamkan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut’nya. Seakan pita suara’nya sudah kering oleh tatapan Sangrin.

“Ehem~”

Sangrin dan Siwon saling menjauh saat mendengar suara dehaman Kyuhyun. “Kajja, kita makan~! Aku sudah lapar…” lanjut Kyuhyun.

Mereka mengangguk dan akhir’nya duduk di salah satu kursi. Kyuhyun memesan banyak makanan, sehingga mereka bertiga harus menghabiskan’nya dengan sekuat tenaga. Setelah makan—dengan sangat kenyang—mereka mulai bergegas ke butik untuk membeli pakaian kelulusan SMA nanti.

“Selamat da…”

Mereka bertiga terkejut melihat si pemilik suara. “Myorin??!! Kau…disini?” tanya Kyuhyun mulai gugup kembali. “Ne, oppa… Ini kan butik’nya eomma’ku.” jawab Myorin dengan santai. “Butik eomma’mu?” tanya Siwon seraya menaikkan kedua alis’nya. Membuat Myorin terdiam seketika. Ia tak menyadari jika Siwon ikut datang ke butik ini. Jantung’nya mulai berdetak kencang kembali.

“Ne…op…pa.”

Siwon berdecak kagum. “Butik eomma’mu sangat indah dan bagus~!” Myorin merona seketika. “Gomawo, oppa…” jawab’nya malu-malu. “Kyuhyun oppa, Siwon oppa, kata’nya mau memilih baju? Kajja~!” teriak Sangrin bersemangat.

Myorin seketika memandang Sangrin. Hati’nya terasa sakit saat melihat Sangrin dekat sekali dengan Siwon. Mereka dipilihkan baju oleh Sangrin dan langsung berganti pakaian di ruang ganti. Tinggalah Myorin dan Sangrin sendirian. “Kau dekat dengan Siwon oppa, ya?”

Sangrin mengangguk seraya tersenyum, sama sekali tidak menyadari pandangan tajam yang diarahkan Myorin pada’nya. “Siwon oppa sudah kenal denganku dari aku baru berusia 5 tahun. Dia adalah namja pertama yang kukenal selain appa dan Kyuhyun oppa saat itu. Ia sudah kuanggap oppa’ku sendiri. Bahkan bisa dibilang lebih…”

“Ottokhae, Sangrin-ah?”

Sangrin dan Myorin menoleh dan bisa melihat Kyuhyun dan Siwon sudah selesai berganti pakaian. Kyuhyun pada kemeja abu-abu dan Siwon pada kemeja biru. “Kalian sangat tampan, oppa…!” puji Sangrin riang. “Kalau begitu, kami beli yang ini ya, Myorin-ssi…”

“Ne, Siwon oppa.”

Myorin bergegas ke meja kasir dan langsung melakukan transaksi. “Kami…pergi dulu ya, Myorin onnie.” pamit Sangrin dengan senyuman ramah. “Kalian berdua ke mobil duluan saja… Aku mau ke toilet dulu. Boleh memakai kamar mandi, Myorin-ah?”

Myorin mengangguk singkat dan hanya bisa menatap kepergian Siwon dan Sangrin dengan sembunyi-sembunyi. “Disini kamar mandi’nya, oppa…” Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. “Gomawo, Myo-ah…” jawabnya seraya masuk ke kamar mandi.

Tak lama, Kyuhyun keluar dari kamar mandi dan langsung bergegas menemui Myorin di kasir. “Sekali lagi gomawo ya, Myo-ah… Aku pergi dulu~”

Myorin kembali mengangguk singkat. Kyuhyun bergegas membuka pintu, namun pintu tersebut tak bisa terbuka. “Myo-ah…! Kenapa pintu ini tak bisa dibuka?!” teriak Kyuhyun dan Myorin pun langsung mendekat. “Jinca, oppa?!”

Dengan sekuat tenaga, Myorin berusaha membuka pintu itu, namun pintu itu tetap tidak terbuka. “Tadi pintu ini biasa-biasa saja kok…” gumam Myorin sembari memutar-mutar kunci cadangan kepunyaan’nya. “Kurasa pintu ini macet, oppa.”

Kyuhyun terkejut dan mematung. “Terus…bagaimana…dengan kita?” Myorin menelan ludah. “Kita terpaksa harus bermalam disini dan berharap eomma’ku akan membuka pintu’nya besok.” jawab Myorin dengan ekspresi takut. “Coba telepon eomma’mu sekarang dan aku akan menghubungi Siwon dan Sangrin. Mereka kan masih menunggu di mobil…”

“Telepon eomma’ku tidak aktif, oppa…”

“Jinca?! Telepon Siwon dan Sangrin memang aktif, tapi daritadi tidak diangkat. Aishh…!!! Bagaimana ini?” celoteh Kyuhyun sembari bolak-balik. Myorin memandang Kyuhyun seraya tersenyum kecil. Lucu sekali saat ia sedang cemas seperti itu, pikir Myorin.

Sedangkan, di mobil…

Sangrin sedang tertidur di kursi depan, menyenderkan kepala’nya pada bahu Siwon. Siwon juga sudah tertidur. Mereka berdua ketiduran, mungkin karena kelamaan menunggu Kyuhyun. Telepon mereka yang kini sedang menyala bergantian berisi panggilan telepon dari Kyuhyun. Namun kenyataan’nya, mereka mempunyai kebiasaan yang sama. Tidak akan terbangun, walaupun ada seribu badak yang lewat di depan mereka.

###

~T.B.C~

@All : Komen… Komen… ^^

@Hyeo & Myo : Ottokhae?? Ini diselesaikan buru2 gara2 desakan kalian~ *ditabok*