Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Siwon’

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Five)

“Ini…”

Pemuda itu terkaget, menunjuk tempat dimana ia berpijak. Membuat seseorang lagi tersenyum ringan. “Ini adalah dimensi yang dibuat sendiri oleh Sihyun-sunbaenim. Indah, bukan? Aku masih ingat saat pertama kali sunbae mengenalkan tempat ini padaku. Dulu aku masih amat kecil.”

Orang itu tersenyum manis kepada pemuda di sebelahnya. “Ta-tapi, bukannya Sihyun itu sudah mati berpuluh-puluh abad yang lalu? Bagaimana… bisa?” Pemuda tersebut membuka matanya lebar-lebar, sontak membuat orang di sebelahnya kembali menyunggingkan senyum. “Aneh, bukan? Ini mungkin tidak masuk akal, tetapi walaupun 4 Ksatria Agung itu menghilang selama berpuluh-puluh abad ini, mereka masih belum dikatakan ‘mati’, dan tak ada yang bisa menyangkal hal itu.”

“Mereka belum… mati? Lalu, dimana mereka? Jika mereka belum mati, bukankah seharusnya mereka yang menjaga dunia ini?”

Sungmin—orang itu memutar bola matanya. “Ah, kau benar. Mereka memang sedang melakukannya, Kyu-ssi.” Pemuda itu terbelalak. “Sedang melakukannya?! Tapi, dimana mereka?” Sungmin kembali tersenyum, perlahan maju dan menyentuh tubuh Kyuhyun. “Mereka ada di jiwamu, dan juga jiwa teman-temanmu. Mereka turut andil bersama kalian.”

Kyuhyun mendengus, sedikit kecewa dengan ucapan Sungmin barusan. “Sekarang, marilah kita mulai pelajaran kita. Misimu sangat mudah. Cobalah keluar dari dimensi ini dan kembalilah ke tempat semula. Kau harus keluar dari dimensi ini sebelum matahari terbit, arasso?”

Orang itu bergegas melangkah. “Tunggu! Apa yang harus kulakukan untuk kembali? Dan apa yang akan terjadi jika aku terlambat?”

“Untuk kembali, kau harus mengaktifkan kemampuan pikiranmu. Dan jika kau terlambat, maka nasibmu akan sama dengan ini.” Sungmin mengangkat tangannya. Seekor burung entah darimana hinggap ke kepalan tangannya. Tak lama, dalam telapak tangannya muncul kobaran api, sontak membuat burung tak berdaya itu terbakar sempurna.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar. Sungmin tersenyum—yang lebih tampak sebagai seringai—dan akhirnya menjentikkan jarinya, langsung menghilang entah kemana.

+++

Donghae terus berjalan, tanpa tau kemana atau dimana dia berada. Perkataan Youngwoon masih terngiang-ngiang dalam kepalanya.

“Dalam jangka waktu hingga matahari terbit, kau sudah harus kembali ke tempatmu semula di ruang rahasia kita. Jika tidak, kau akan tau sendiri apa yang akan kau terima. Temukanlah semuanya dengan kekuatanmu.”

“Kekuatan? Tadi, katanya kekuatanku adalah penyerang. Jadi, aku harus menyerang? Tetapi, menyerang siapa?”

Dia terus berjalan. Masih banyak misteri yang mengerubungi kepalanya, namun ia memilih diam dan terus melangkah. Anehnya, rasa kantuk, lapar, atau lelah sama sekali tidak ditemui selama perjalanan. Tak sadar, langit sudah berubah gelap. “Kau ada disini?”

Suara seseorang hampir saja membuatnya terkaget. “Kibum? Kau ada disini? Kupikir… kita dikirim ke dimensi berbeda?”

Orang itu—Kibum mengangguk. “Aku juga berpikir begitu.”

“Kalian ada disini?!”

Mereka berdua menoleh, bisa melihat Siwon dan Kyuhyun melangkah mendekat. “Kalian ada disini juga?” Donghae menatap mereka bingung. “Jika kita berada pada dimensi yang sama, kenapa kita dikirim secara terpisah?” Ia melanjutkan. Siwon, Kyuhyun, dan Kibum mengangkat bahunya, juga tidak mengerti. “Lebih baik kita ke air terjun sebelah situ!”

Kibum menyarankan, dibalas anggukan Kyuhyun, Donghae, dan Siwon. Setelah sampai, mereka tertegun. Air terjun tersebut sangat dalam. Jika salah satu dari mereka jatuh, maka akan dipastikan tidak selamat.

“Aku punya ide! Bagaimana jika kita bermain sebuah game.”

Donghae menaikkan alis. “Game?”

“Yap! Kita harus saling menjatuhkan ke dalam air terjun. Siapa yang bisa menjatuhkan lawan ke air terjun, maka dialah pemenangnya.” Kyuhyun menjelaskan, membuat Donghae semakin menaikkan alis. “Boleh!” Kibum dan Siwon menjawab bersamaan.

“Apakah kalian gila?! Siapa yang terjatuh ke air terjun itu akan mati. Lebih baik kita mencari cara agar bisa pulang sebelum matahari terbit.” Donghae menyarankan, namun mereka bertiga tetap di tempat. “Ayolah, ini kan hanya permainan.” Siwon menyeringai seraya melangkah menuju Donghae.

Kibum, Siwon, dan Kyuhyun menarik Donghae dan mendorongnya tepat ke air terjun. “A-pa yang ka-kalian lakukan?!” Ia berteriak dan mengeluarkan seluruh tenaganya, membuat ketiga temannya terlempar ke belakang.

“Apa kalian telah dirasuki sesuatu?! Sadarlah!”

Donghae berbicara. Perlahan Kibum, Kyuhyun, dan Siwon kembali bangun dan tersenyum riang. “Kita… masih bermain kan?”

Mereka bertiga kembali mendorong Donghae, membuatnya kembali memekik. Seluruh tubuhnya hampir terlempar, sebelum ia merasakan aura aneh keluar dari tubuhnya. Aura aneh yang mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya, membuatnya merasakan kekuatan yang berbeda dari biasa. Seketika itulah, kekuatannya memuncak dan dengan sekali hentakan, ketiga temannya terjatuh ke air terjun.

Perlahan aura itu kembali memudar. Donghae menatap air terjun itu dengan dalam. “Apakah aku baru… membunuh ketiga temanku?”

Dia melanjutkan langkahnya dengan terseok-seok, tak percaya akan apa yang baru saja dia alami. “Good job, Lee Donghae! Sekarang, masuklah ke dalam tabung yang ada persis di depanku. Tabung itulah yang akan membawamu kembali.”

Sebuah suara membuatnya terkejut. Ia menengok ke segala arah, namun tampaknya suara itu tidak ada sumbernya. Dengan cepat, ia pun berlari kearah tabung itu, memikirkan apa yang akan dia jelaskan kepada para orang itu bahwa ia telah membunuh ketiga temannya.

Rasa pusing kembali terjadi saat ia berada dalam tabung. Hingga akhirnya, ia kembali ke ruang rahasia itu. “Bravo, Lee Donghae! Kau berhasil mengaktifkan kekuatanmu!” Jungsoo langsung tersenyum ceria. Begitu pun Youngwoon, Jongwoon, dan Sungmin. Donghae hanya mengangguk, kemudian meneguk ludah.

“Ada apa? Kau tampak tidak senang.”

“Aku… aku telah membunuh Kibum, Kyuhyun, dan Siwon. Aku benar-benar tak sengaja. Sungguh! Kekuatan itu yang membuatku tidak sadar dan. . .”

Sebelum Donghae berbicara, Youngwoon menempatkan jarinya, menyuruh Donghae diam. “Maksudmu, ini?” Sungmin menutup matanya, dan tiga orang muncul seketika di depannya. “Siwon, Kyuhyun, dan Kibum?!” Donghae menunjuk tiga orang itu. Lalu, Sungmin membuka matanya dan seketika tiga orang itu menghilang.

“Apa itu?” Sungmin tersenyum kecil. “Itu adalah replika visual teman-temanmu. Terbentuk dari pikiran-pikiran.” Donghae menyipitkan matanya. “Jadi, yang tadi melawanku… adalah replika visual?”

“Benar!” Kyuhyun tersenyum sembari keluar dari tabung. “Tapi, kenapa kau sudah tau, Kyu-ah?” Donghae bertanya, bingung. “Karena aku juga tipe pemikir, dan sekarang aku juga sudah tau bagaimana membuat replika visual itu.” Kyuhyun menutup mata dan munculah replika seekor harimau. Ingin menyerang Donghae. Donghae memekik, dan kemudian meninju harimau itu, membuatnya jatuh dan menghilang.

“Wuahh! Kekuatanmu keren!” Kyuhyun terpana, saat Donghae menggunakan kekuatannya. “Kalian… ada disini? Jadi, yang ada di dimensi itu. . .” Siwon dan Kibum keluar bersamaan dari tabung, terkejut. Sontak membuat Kyuhyun dan Donghae tertawa, kembali menjelaskan semuanya.

“Aku masih tak percaya mereka itu akan menyelamatkan dunia.” Youngwoon berbicara, masih menatap keempat pemuda tersebut. “Tapi, mereka benar-benar reinkarnasi 4 ksatria itu. Kita belajar kekuatan selama bertahun-tahun, tetapi mereka bahkan hanya dalam waktu kurang dari sehari! Luar biasa.”

“Kita lihat saja nanti apa mereka memang bisa.” Sungmin melanjutkan, tersenyum kecil.

*To Be Continue~

@All : Kali ini rada pendek… Tapi tetep komen ya~ ^^ Gomawo~~~

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Four)

Sinar mentari menembus jendela, membuat cahaya berpendar yang membuat keempat lelaki berusia belasan tahun itu terbangun. Kyuhyun—yang terbiasa bangun pagi, mulai bangkit duluan dan mengusap matanya. Tak lama, ketiga teman barunya mulai bangun pula dengan rasa malas. “Jam berapa ini?” Donghae bertanya, seraya menguap malas.

“5.30.” Kyuhyun menjawab dengan santai. Namun Donghae, Siwon, dan Kibum seketika membesarkan mata mereka. “Masih jam 5.30?! Pagi sekali!” Kibum berteriak kecil sembari mulai berbaring kembali. “Lebih baik aku tidur lagi.” Siwon melanjutkan, dibalas anggukan Donghae dan Kibum. “Andwae! 3 orang itu menulis catatan untuk kita agar siap pada jam 5.35 untuk sarapan.”

Mereka bertiga kembali bangun. “Aishh! Apa tidak bisa ia memberikan waktu santai kepada kita sebelum perlawanan besar-besaran itu?”

Kyuhyun membuka pintu dan mereka semua keluar dari kamar itu. Melangkah pelan hingga ke ruang makan. Disana sudah ada 3 orang itu. Sedang asyik sarapan sembari berbincang bersama. “Kalian sudah datang?” Jungsoo bertanya, membuat mereka semua terkaget. Karena bahkan, orang itu belum melihat mereka sama sekali.

“Silahkan duduk.” Jongwoon menggerakan tangannya dan membuat keempat kursi terbuka, siap untuk diduduki. Mereka kembali terkejut. Bagaimana orang itu menggerakan kursi hanya dengan tangan?

Setelah duduk, mereka bisa melihat piring sudah tersedia di depan mereka. Seluruh lauk pauk beterbangan dan seketika sudah berada di piring masing-masing. “Cho Kyuhyun tidak suka sayuran.” Youngwoon berucap kepada Jongwoon, membuatnya menggerakan tangannya lagi. Kali ini sayur itu diarahkannya ke piring Donghae, yang memang sangat suka sayuran. Membuat mereka malah tidak makan. Hanya memandangi piring dan ke-3 orang itu secara bergantian.

“Masih banyak hal di dunia ini yang tidak kalian ketahui.” Jungsoo berbicara, seakan mengetahui pikiran mereka. Atau ia memang mengetahuinya? Entahlah. Yang penting, ini semua benar-benar terasa aneh bagi mereka berempat. “Tunggu apa lagi? Ayo makan!” Youngwoon melanjutkan, membuat yang lain mengangguk.

“Tenang, tidak akan ada racun lagi.” Jongwoon berucap, kembali menjawab pertanyaan mereka berempat dalam hati. Mereka pun mulai makan, walaupun mereka masih sangat tidak percaya dengan ini semua. Setelah selesai, Jungsoo bangkit dari kursinya, mengambil cawan berisi air dan menaruh tangannya di dalam cawan tersebut. Ia membasuh luka di leher Donghae dan kaki Siwon dengan sekali cipratan. Dan keajaiban kembali terjadi. Luka itu hilang tak berbekas.

Berhasil membuat mereka berempat melebarkan mulut secara sempurna. “Kalau sudah makan, lebih baik kalian ikut kami.” Youngwoon bergumam sembari melangkah keluar ruang makan. Diikuti Jongwoon dan Jungsoo. Mereka berempat mengangguk, masih setengah kaget dengan apa yang baru mereka lihat.

Jungsoo menyentuh sebuah tembok diantara ruang makan dan ruang yang entah apa namanya, hingga akhirnya tembok itu terbelah dan munculah sebuah ruang di dalamnya. Berhasil membuat mereka kembali membuka mata dan mulut mereka lebar-lebar.

Di dalam ruang tersebut, terdapat banyak sekali benda misterius, yang bahkan sama sekali mereka tak pernah lihat sebelumnya. Saat mereka semua sudah masuk, tembok yang terbelah tersebut kembali tertutup rapat, seakan tak pernah terbuka sebelumnya. Rapat tanpa bekas patahan atau belahan. “Ini masih terlalu dini untuk kalian terkejut seperti itu.” Jongwoon berucap, membuat mereka terdiam.

“Masih banyak hal di dunia ini yang seratus juta kali lebih misterius dan aneh daripada tembok itu, atau sekedar cawan berisi air yang bisa menyembuhkan luka tersebut. Hanya saja manusia biasa seperti kalian yang bahkan tinggal di dunia ini sejak lama, dibiarkan buta dan tuli terhadap semua keajaiban yang ada di dunia ini.” Jungsoo menjelaskan. Kyuhyun melangkah. “Tapi… kenapa kita—maksudku manusia biasa, dibiarkan tuli dan buta?”

Youngwoon tersenyum, lalu menatap mereka. “Karena menurut siapapun yang menciptakan dunia ini, manusia biasa belum mempunyai tanggung jawab yang pantas untuk menikmati semua keajaiban ini.”

“Kalau begitu… kami pantas?” Kibum bertanya dengan hati-hati. Jongwoon terkekeh pelan. “Karena kalian bukan manusia biasa, kami tidak tau itu.”

“Bukan… manusia biasa?” Siwon bertanya, melanjutkan pertanyaan Kibum. Youngwoon mendengus. “Bukankah kemarin kami sudah menjelaskan bahwa kalian itu reinkarnasi dari keempat ksatria terhebat sepanjang masa?”

Donghae terpaku. “Bagaimana… kalau kami orang yang salah?”

“Kalian meragukanku? Aku yakin penelitianku selama berpuluh-puluh tahun ini tidak salah.” Jungsoo berbicara, membuat keadaan menjadi hening.

“Tapi… bagaimana kalau seandainya kau salah?” Kyuhyun bertanya pelan. Jungsoo, Jongwoon, dan Youngwoon tersenyum, meskipun lebih terlihat seperti menyeringai. “Maka kalian tetap harus berjuang, karena bagaimanapun semua tanggung jawab penduduk bumi ada di tangan kalian… mulai sekarang.”

Mereka menelan ludah saat mendengar ucapan terakhir dari Jongwoon. “Lebih baik kita ke ruang rapat. Sebelah sini.” Jungsoo mencairkan suasana dan mempersilahkan mereka duduk. “Karena lawan yang akan kalian hadapi adalah lawan yang sangat hebat dalam sejarah, maka kalian harus dilatih secepat dan sehebat mungkin—bahkan harus melebihi kami.”

“Bagaimana caranya?” Kibum bertanya, sedikit ada rasa keraguan dalam nada bicaranya. “Pada dasarnya, kalian sudah mempunyai kekuatan kalian sendiri. Kami hanya akan mengembangkannya sejauh mungkin.” Jongwoon berucap. “Kekuatan?”

Youngwoon mengangguk. “Tentu saja. Kemarin sudah kubilang bukan jika kalian punya kekuatan kalian masing-masing? Bahkan, pada dasarnya semua manusia sudah mempunyai kekuatan masing-masing. Hanya saja mereka tidak tau kekuatan mereka sendiri dan tidak bisa mengembangkannya.”

Jungsoo maju satu langkah dan tersenyum pada mereka. “Donghae, kau adalah tipe penyerang. Dan Youngwoon akan mengajarimu.”

Donghae meneguk ludahnya, menatap Youngwoon yang juga sedang menatapnya. “Ayo, kita mulai!” Youngwoon mulai melangkah menuju sebuah tabung bewarna merah, dan Donghae mengikutinya. Mereka berdua masuk ke tabung tersebut dan menghilang. “Kemana… mereka?” Kibum bertanya pelan. Kyuhyun dan Siwon juga menatap Jungsoo dan Jongwoon, mempunyai rasa penasaran yang sama.

“Ke dimensi lain. Dimensi yang akan membuat latihan kalian menjadi lebih mudah.” Jongwoon menjawab. “Sekarang Siwon? Kau adalah tipe pengontrol. Dan Jongwoon akan membantumu.” Jongwoon langsung berjalan menuju tabung bewarna biru. Siwon melangkah pelan dan memasuki tabung itu. Dan, blshh! Mereka juga menghilang, seakan ditelan bumi secara tiba-tiba.

“Kibum, kau adalah tipe perencana. Dan aku yang akan membantumu.” Jungsoo melangkah menuju depan tabung bewarna kuning, kemudian berbalik. “Untuk Kyuhyun, kau adalah tipe pemikir, dan seseorang dari negeri seberang akan membantu.” Jungsoo berucap cepat, sembari mempersilahkan Kibum masuk ke tabung itu. Dan—mereka juga hilang.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke segala arah. “Seseorang dari negeri seberang? Siapa itu?” Ia berucap pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku—orangnya.” Seseorang tiba-tiba muncul di depan Kyu, membuatnya hampir terkena serangan jantung. “Kau…?”

Orang itu tersenyum. “Kenalkan, namaku Sungmin dan aku akan membantumu.” Ia melangkah santai ke tabung yang terletak paling pojok, bewarna putih. Kyuhyun mengangguk dan blshhh! Ratusan burung seakan menghujaninya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, dan ketika membuka mata, ia terpekik ringan.

“Ini?”

 

+++

 

Donghae membuka mata dan secercah sinar menyambutnya. Dia menolehkan pandangannya kepada Youngwoon yang berdiri tegak di sampingnya, seakan tidak ikut terbawa oleh tabung misterius itu. “Bagaimana? Inilah dimensi yang kupakai untuk latihan hingga sekarang.” Youngwoon berucap, menyunggingkan senyum. Mungkin senyum tulus pertama yang ia keluarkan.

 

+++

 

Jongwoon bersenandung riang. Tersenyum pada Siwon yang sedang membuka matanya lebar-lebar. “Ini… tempat apa?” Jongwoon kembali tersenyum dan menepuk bahu Siwon. “Tempat yang paling menyenangkan… tentu saja menurutku.” Siwon menatapnya aneh, namun Jongwoon hanya terkekeh ringan, kembali menyandungkan lagu ceria yang jujur saja sangat merdu.

 

+++

 

Dua orang itu berdiri. Salah satu diantaranya mematung. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia melihat sesuatu seperti ini. “Apa… ini?” Jungsoo tertawa. “Itu juga yang aku katakan saat berada tepat di posisimu.” Ia berjalan pelan dan melirik ke kanan dan kiri. “Siapa yang menciptakan dimensi seperti ini?”

Jungsoo kembali tersenyum. “Tentu saja dimensi ini adalah buatan reinkarnasimu. Empat orang terhebat dalam sejarah dunia.”

 

*To Be Continue~

 

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Three)

“Gwenchana, Kibum-ya?”

Kibum mengangguk dan bergegas berdiri tegak. “Hampir saja…”, gumamnya mencoba santai. “Kajja!”, seru Donghae dan mereka melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini semua berjalan lancar. Tak ada sesuatu yang menghalangi mereka, namun yang mereka temui sepanjang jalan hanya lorong yang bahkan tak terlihat ujungnya.

“Bisa berhenti dulu? Aku sangat lelah~”, kata Kyuhyun dengan nafas memburu. Yang lain—yang juga kelelahan mengangguk dan mulai duduk. Menstabilkan nafas mereka yang sudah seperti baru melakukan pertandingan tinju. “Ottokhae? Sejauh kita berjalan, hanya lorong yang kelihatan…”, ucap Siwon yang sudah sangat lelah dengan keadaan kakinya yang mengerikan.

“Ne. Padahal bangunan ini setauku tidak sepanjang ini.”, sahut Donghae yang juga sudah sangat lelah dan lemah akibat racun yang tertanam di lehernya.

Kibum tiba-tiba berdiri, “Apakah mungkin kita terkena ilusi?”

“Kau pikir kita berada di dunia kartun?”, tanya Kyuhyun sarkastik. “Tapi mungkin saja… Kalau tidak, bagaimana cara menjelaskannya? Kita sudah berjalan sejauh mungkin, tapi bahkan hingga sekarang kita belum melihat jalan keluarnya.”

Donghae dan Siwon mengangguk, “Masuk akal juga…”

“Lalu, bagaimana cara menghilangnya kalau memang ada?”, tanya Kyuhyun dengan memberi penekanan pada ‘kalau memang ada’. Kibum menggelengkan kepalanya. “Kita bukan ninja yang bisa menghilangkan pengaruh ilusi…”, lanjut Kyuhyun. “Molla~”, jawab Kibum dengan lunglai.

“Apa sih sebenarnya tujuan mereka menahan kita?”

Semuanya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Siwon yang ada benarnya juga. Mereka berempat hanya empat remaja yang sama sekali tidak tau apa-apa. Lalu, kenapa tiba-tiba mereka ditangkap tanpa sebab yang jelas? Kini pikiran mereka tertutup jutaan misteri yang menghubungkan kepala mereka dengan tidak karuan.

“Sudahlah, itu dipikirkan lain kali saja. Yang penting sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita keluar dari sini.”, ucap Donghae tegas. Yang lain mengangguk menyetujui perkataan Donghae. “Kalau benar ini ilusi, bagaimana caranya untuk menghilangkan ilusi ini?”, tanya Kibum, memulai berpikir dengan keras.

“Ilusi itu ada karena pikiran kita sendiri. Jika kita menghilangkan semua pikiran negative yang ada dalam pikiran kita, kurasa kita akan menghilangkan ilusi tersebut.”, jawab Kyuhyun dengan pandangan menerawang. “Kau benar, Kyu!”, teriak Donghae, Siwon, dan Kibum bersamaan.

“Kalau begitu lebih baik kita memejamkan mata kita dan menarik nafas dalam-dalam. Kupikir cara ini akan berhasil.”, lanjut Siwon dibalas persetujuan yang lain. Setelah beberapa menit, mereka kembali membuka mata. “Ahh~lebih baik.”, kata Donghae ceria. “Kalau begitu, kajja kita lanjutkan lagi.”

Mereka berempat kembali meneruskan perjalanan dengan cepat. Setelah cukup lama, pintu keluar tampak terlihat. Memberikan cahaya dan sinar yang membuat mereka—entah kenapa sangat bahagia.

Donghae berlari menuju pintu keluar itu, dilanjutkan dengan Siwon, Kyuhyun, dan Kibum. Hingga akhirnya Donghae yang pertama tiba, menyiapkan satu langkahnya lagi untuk menginjak pintu keluar, pintu itu tertutup rapat secara tiba-tiba. Membuat mereka berempat jatuh terjerembap.

“Apa lagi ini?!” Kibum berteriak dengan kesal, sementara Siwon menjambak-jambak rambutnya. Kyuhyun memijit-mijit keningnya, sedangkan Donghae melangkah bolak-balik.

Langkah berat membuat mereka berempat menoleh. Mereka bisa melihat dengan jelas 3 orang lelaki sedang melangkah penuh wibawa. “Si—siapa kau?”

Seorang lelaki diantara mereka tersenyum ramah, “Tenang. Kami tidak mau melakukan yang macam-macam kepada kalian.”

“Lalu, apa mau kalian?! Dan siapa kalian?!”, tanya Siwon sembari menunjuk 3 orang itu. “Aku Jungsoo. Park Jungsoo. Ini kedua rekanku, Kim Jongwoon dan Kim Youngwoon. Untuk lebih jelasnya, akan kami jelaskan nanti. Sebaiknya, kalian ikut kami ke ruang makan. Kalian pasti lapar, bukan?”

Mereka berempat mengangguk kecil, dan memutuskan mengikuti mereka dari belakang. “Apakah kalian yakin—mereka bukan orang jahat?”, tanya Donghae, ragu-ragu. Kyuhyun menatap Donghae, “Aku juga tidak tau. Tapi, hanya mereka harapan kita.”

Donghae mengangguk, begitu pula dengan Siwon dan Kibum. Tak sadar, mereka telah melangkah hingga ke sebuah ruang. Di dalam ruang itu, terdapat meja yang sangat panjang. Di atas meja itu, sudah tersedia berpuluh-puluh makanan yang sangat menggiurkan. “Silahkan makan. Kalian boleh mengambil sebanyak mungkin yang kalian mau. Kami akan menunggu kalian di ruang sebelah.”

Orang yang bernama Youngwoon berhenti sebelum memasuki ruang satunya, “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10.”, dan kemudian melangkah dan menutup pintunya. Donghae langsung bersiap menyantap semuanya, namun Kibum melarangnya.

“Apakah kau tidak curiga? Maksudku—apa maksud orang tadi?”

Perkataan Kibum membuat yang lain akhirnya mengangguk. “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10. Demi Tuhan, apa maksud orang itu?!” Kyuhyun kembali memijit-mijit keningnya. “Berapa jumlah semua hidangan ini?”, tanya Siwon tiba-tiba, membuat yang lain langsung memandangnya tak percaya.

“Ya Tuhan, Choi Siwon! Ini bukan waktunya untuk memikirkan hidangan itu!”

Namun tampaknya Siwon tak memperdulikan sentakan Donghae. Ia menghitung semuanya, kemudian senyum terukir di bibirnya. “Jumlah hidangan ini ada 50!”

Kibum mengkerutkan keningnya, “Lalu?!”

Siwon menghembuskan nafas panjang dan menatap ketiga temannya tak percaya.

“Apakah kalian masih tak sadar? Jumlah hidangan ini ada 50. Dan orang itu mengatakan tadi bahwa ‘Diantara 50 ada yang hitam 10’!”

Mata Kyuhyun terbelalak seketika, “Maksudnya, diantara 50 hidangan itu…”

“…ada yang teracun 10?!” Kibum menambahkan.

Donghae mengangguk mengerti. “Lalu, mana yang beracun dan mana yang tidak?” Mereka bertiga menggeleng pelan. “Aigoo! Apakah bahkan mereka tak memberi kita kebebasan dan ketenangan untuk sekedar makan?!”

“Apa maksudnya 10 makanan yang beracun itu, makanan yang bewarna hitam?”, tanya Donghae, dan langsung dibalas jitakan ketiga temannya. “Apakah ada benda yang bisa mendeteksi racun?”, tanya Kyuhyun. Lagi-lagi, mereka bertiga kembali menggeleng. Keheningan melanda mereka. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri.

Kibum memandang sepatunya seraya berpikir, lalu tiba-tiba ia bisa melihat seekor kucing sedang menjilat sepatunya. Sebuah ide langsung terlintas. Dengan cepat, ia mengambil sebuah daging beef dan menaruhnya di bawah. Sang kucing pun memakan daging itu. Dalam beberapa menit kemudian, daging itu sudah habis. Ia tersenyum puas. Lalu, ia mengambil acak satu puding dan menaruhnya lagi ke bawah. Sang kucing itu kembali memakannya. Dalam beberapa detik kemudian, kucing itu tergeletak dan kemudian tidak bergerak lagi.

Beef ini tidak beracun, sementara puding itu beracun!”, seru Kibum sembari mulai mengambil satu potong daging itu. “Darimana kau tau, Kibum-ya?! Kau tidak nekat ‘kan?”, tanya Kyuhyun yang panik. Kibum tersenyum, “Aku sudah melakukan riset kepada kucing ini, jadi tenang saja.”

“Jinjja?!”, tanya Donghae seraya tersenyum dan akhirnya mengambil sepotong daging itu. Begitu pula dengan Siwon dan Kyuhyun. “Setidaknya, kita bisa makan.”, ucap Siwon seraya tersenyum.

Saat mereka sudah memakan semua daging itu, ketiga lelaki itu masuk dan tersenyum puas. “Kurasa sudah saatnya kalian mengetahui semuanya.”, kata seorang sembari tersenyum.

Mereka duduk di salah satu ruangan yang penuh dengan patung-patung unik. “Kenalkan, kami adalah mantan ksatria negeri Super Junior.”, ucap seorang bernama Jungsoo. “Ksatria? Dan negeri Super Junior? Hmmpphh.” Kyuhyun menahan tawanya yang ingin meledak keluar. Youngwoon menggertakan giginya sembari menatap Kyuhyun tajam. “Kau sangat kurang ajar! Pasti kau adalah reinkarnasi Cho Sihyun!”

“Setau kami, kami tak pernah mendengar negeri Super Junior. Dimana itu?”, tanya Kibum, mengoreksi Kyuhyun. Jongwoon tersenyum, “Mungkin ini memang terdengar konyol, tapi sebelum semua orang membuat negaranya masing-masing, nama dunia yang kalian sebut ‘bumi’ ini adalah Negeri Super Junior. Dan, tentu saja di setiap wilayah, akan ada ksatria yang menjaga perdamaian negeri ini.”

“Kami bertiga adalah ksatria ke-99 yang bertugas menjaga wilayah ini.”, lanjut Jungsoo, orang yang paling tampak menyenangkan. “Lalu—apa hubungannya ini semua dengan kita?”, tanya Siwon, dibalas anggukan ketiga lainnya. Youngwoon yang dari tadi terdiam seketika berbicara, “Walaupun sekarang dunia ini terdiri dari beratus-ratus negeri dan terdapat tentara di setiap negerinya, para ksatria tetap harus menjalankan tugasnya. Karena tanpa kami, mungkin negeri Korea Selatan sudah hancur oleh orang yang tidak baik.”

Jongwoon memandang kami berempat, “Kami…merasa kami sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas ini. Jadi, kami—memutuskan untuk menurunkan tugas kami kepada kalian.”

“Mworago?! Tapi—kenapa harus kami? Kami bukan siapa-siapa.”

Donghae berbicara, dan yang lain hanya bisa kembali mengangguk setuju. “Kalian adalah reinkarnasi dari 4 ksatria terhebat sepanjang masa.”, ucap Youngwoon langsung pada tujuan. “Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum.”

“Ne?” Kibum benar-benar masih bingung dengan ini semua.

“Lee Donghae adalah reinkarnasi dari Lee Kyuhae. King of the crusher. Sementara Choi Siwon adalah reinkarnasi Choi Kiwon. King of the control. Cho Kyuhyun adalah reinkarnasi dari Cho Sihyun. King of the Brain. Dan, Kim Kibum adalah reinkarnasi Kim Dongbum. King of the Plans.” Jongwoon menjelaskan, membuat mereka semakin bingung.

Suasana seketika hening. Hanya suara desir angin yang terdengar. Mereka semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ada rasa kepercayaan terhadap ke-3 orang misterius itu, namun akal budi dan logika mereka, jauh menyangkal. “Dalam waktu kurang dari 100 hari lagi, Yang Jahat akan segera datang. Kami tidak tau siapa Yang Jahat itu berbentuk atau mempunyai kekuatan seperti apa. Namun, itu tertulis jelas dalam ramalan leluhur kalian. 4 Ksatria Agung Super Junior.”

Perkataan Jungsoo tak membuat mereka lebih baik.

“Lebih baik kalian beristirahat dulu hari ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sebelah sana. Kami pamit dulu. Semuanya akan dilanjutkan besok pada jam sarapan. Lee Donghae dan Choi Siwon, luka kalian juga akan disembuhkan besok.” Youngwoon berbicara, kemudian mereka ber-3 meninggalkan ruangan. Donghae, diikuti yang lainnya melangkah ke dalam ruangan.

Disana sudah terdapat 4 tempat tidur yang sangat empuk dan besar. Kamar mereka juga sangat besar, cukup besar untuk bermain futsal di dalamnya. Donghae langsung berbaring di salah satu tempat tidur itu. “Akhirnya, aku bertemu kasur lagi!”, sahut Donghae senang.

Yang lain pun turut berbaring di kasur masing-masing. “Apakah ini mimpi?” Kyuhyun bertanya, sembari mencubit pipinya sendiri. “Kalau benar, ini mimpi yang paling buruk.” Siwon mengomentari pelan. Kibum memejamkan mata. “Apakah ini benar? Maksudku—secara logika ini sama sekali tak mungkin. Negeri Super Junior? 4 Ksatria Agung? Yang Jahat? What the hell are they?!”

Ucapan Kibum membuat mereka semua terdiam.

“Mungkin sekarang kita bisa beristirahat. Tapi besok? Siapa yang tau akan ada sesuatu yang terjadi.”, kata Donghae pelan. “Donghae benar. Kalau mereka bertiga memberi kita semua ujian-ujian yang sangat berat seperti itu, apakah berarti langkah yang harus kita tempuh akan sangat sulit?” Siwon berucap sembari mulai memejamkan mata.

Kyuhyun menjambak rambutnya, “Argghhh!!! Aku… hanya ingin menjadi pelajar biasa! Mestinya minggu depan aku akan mengikuti olimpiade sains di Paris. Tapi, kenapa ini semua terjadi?!”

Donghae mengangguk. “Aku… masih harus mencari pekerjaan. Kalau tidak, bagaimana caranya bagiku untuk membiayai uang kuliah?! Dan, bagaimana nasib dongsaengku jika aku tidak ada?! Sedang memikirkan hal itu, mengapa 3 orang aneh itu datang dan malah meminta kita menyelamatkan dunia?!”

“Padahal aku… akan mengikuti audisi di sebuah entertainment nanti. Kau juga kan, Siwonnie?” Kibum bertanya, dibalas anggukan Siwon. “Lebih baik sekarang kita tidur dulu. Minimal dari penyekapan ini, kita ber-4 menjadi akrab? Iya kan?”

Mereka bertiga mengangguk mendengar perkataan dewasa Kyuhyun. Tak lama, semua pun sudah tertidur.

 

+++

 

“Sepertinya mereka berempat sudah tertidur.”

Jongwoon berucap. Matanya menatap monitor yang sudah menangkap gambar mereka ber-4 yang sedang tertidur. “Aku memang sudah melihat jelas potensi mereka, tapi… aku masih tak yakin. Apakah mereka benar-benar bisa menjalani tugas ini? Mereka masih terlalu muda.” Kangin berkata pelan.

“Youngwoon tak sepenuhnya salah.”, kata Jongwoon sembari menghirup kopinya. “Aku… juga berpikir begitu. Tapi, kita tidak bisa menentang kata leluhur. Lagipula, mereka juga akan terbiasa sendiri nantinya.” Jungsoo berbicara, mencoba bijaksana. “Mereka… benar-benar akan melewatkan masa depan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, mulai besok.”

Jongwoon menatap langit-langit. “Bahkan, dari dulu kita menjaga negeri ini, tidak pernah ada kekuatan sebesar ‘Yang Jahat’ itu. Ini benar-benar dahsyat! Ini… seperti kejadian 6 abad yang lalu. Akan terjadi pertempuran hebat. Dan aku tidak yakin tidak akan ada nyawa yang hilang.”

“Semoga mereka bisa berhasil. Karena tanpa mereka ber-4, dunia ini akan hancur.” Jungsoo memainkan tangannya. “Berarti, seluruh dunia… akan menjadi tanggung jawab mereka ber-4?”

“I think yes.”

 

*To Be Continue~

Fan Fiction : ~Happy For Love~ (Chapter Six) Last Part

“Mau kemana kau?”, tanya Kyuhyun bingung saat melihat Kibum bergegas pergi dari kamar Hyeobin. “Aku titip Hyeobin sebentar ya, Kyu…!”, seru Kibum sembari berlari secepat mungkin. “Apakah mereka berdua bertengkar lagi?”, tanya Kyuhyun meminta penjelasan. Sooyeon menggelengkan kepalanya tanda tidak tau.

***

Sangrin dan Siwon sedang asyik mengobrol. Seperti pasangan yang baru saja berpacaran. Kibum lewat di depan mereka. “Siwonnie, Sangrinnie, kajja temani aku!”, seru Kibum dengan nafas tak beraturan. “Memang oppa mau kemana?”, tanya Sangrin dengan kebingungan. “Sudahlah, nanti aku jelaskan di mobil. Kajja!”

Mereka berdua mengangguk dan langsung mengikuti Kibum ke mobil.

“Sebenarnya ada apa?”

“Sepupuku ada di bandara. Aku harus menjemputnya.”

Sangrin dan Siwon berpandangan lalu menatap Kibum tajam, “Hanya itu?!”

Kibum mengangguk, “Memang apa lagi?”, tanyanya polos. “Ya! Kalau cuma begitu, kenapa kau buru-buru sekali?!”, seru Sangrin dan Siwon hampir bersamaan. “Masalahnya, sepupuku itu bisa marah kalau aku telat. Lagipula, katanya ia sudah punya pacar!”

“Lalu?!”

“Sepupuku itu tidak pernah punya pacar sebelumnya! Aku sangat kaget dia tiba-tiba punya pacar!”

“Omona~!”, seru Sangrin dan Siwon bersamaan lagi. Bukannya mereka ikutan kaget, namun mereka bingung dengan keadaan Kibum yang sangat panikan.

Begitu sampai, mereka langsung berlari ke bandara. Tentunya karena Kibum menarik mereka berdua. Kibum berhenti di depan sepasang lelaki dan perempuan yang sedang bertautan mesra. “Annyeong, Kibummie~”, sapa sang lelaki itu sembari memeluk sepupunya. “Annyeong, Hae! Oh ya, kenalkan ini kedua temanku, Siwon dan Sangrin.”

“Annyeong~ Donghae imnida.”

Mereka berdua mengangguk dan mata Kibum langsung beralih pada yeoja yang sedang menenteng kopernya. “Ahh, ini yeojachingu-ku.”

“Jyurin imnida.”, sapa perempuan itu ramah. Kibum, Sangrin, dan Siwon menunduk singkat. “Kita ke rumah sakit ya, Hae? Hyeobin sedang ada di rumah sakit.”, ucap Kibum seraya membawa mereka ke mobil. “Hyeobin? Ahh, maksudmu yeoja yang selalu mengejar-ngejar dirimu itu?”, tanya Donghae polos. Kibum menyikut tangan Donghae, “Dia itu yeojachingu-ku! Jangan berbicara seperti itu.”

“Upps, sorry…”, gumam Donghae santai sembari langsung memusatkan dirinya pada yeoja di sebelahnya. Di perjalanan, hanya ada keheningan. “Mmm, kalian pacaran?”, tanya Jyurin seraya menunjuk Sangrin dan Siwon. Mereka berdua sontak merona dan saling memandang. Siwon memutuskan untuk menjawab, “Segera.”

Sangrin memukul pelan lengan Siwon, memprotes atas jawaban Siwon yang terlalu ganas. Yang lain hanya bisa tertawa. Di rumah sakit, Kibum, Donghae, dan Jyurin memutuskan untuk menuju ke kamar Hyeobin. Sementara Siwon dan Sangrin menyusul temannya yang lain.

“Kyu oppa! Sedang apa oppa disini?”, tanya Sangrin dan kemudian melihat yeoja di sampingnya, “Choi Sooyeon!”, teriak Sangrin kaget. “Lihat Kyu, bahkan saeng-mu lebih punya ingatan daripada dirimu.”, ucap Sooyeon pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum tipis. “Kenalkan Sangrin dan Siwon, mulai sekarang dia adalah yeojachingu-ku!”

“Mwo-ya?! Secepat itu?”, tanya Sungmin yang entah darimana dengan Myorin di sebelahnya. “Kalian sendiri kenapa pegangan tangan seperti itu?”, tanya Kyuhyun tak mau kalah. Dan mereka berdua langsung menunduk malu. “Ahh, Sangrin-ya, sekarang cuma kita yang belum mempunyai pasangan.”, kata Siwon lesu.

“Bilang saja kau mau pacaran dengan Sangrin!”

Semuanya menoleh dan bisa melihat Hyeobin sedang duduk di kursi roda. Kibum yang mengendalikan kursinya, dengan Donghae dan Jyurin di sebelahnya. “Hyeo-onnie!”, seru Sangrin tak terima. “Hyeo!”, teriak Siwon, lebih tidak terima. Semuanya kembali tertawa.

“Aku akan menikah lho~ Mungkin seminggu lagi.”, seru Donghae sembari tersenyum bangga, memberikan rona pada pipi Jyurin. “Mworago?!”, seru Kibum, Hyeobin, Sangrin, dan Siwon bersamaan. Sedangkan, Kyu, Sungmin, Myorin, dan Sooyeon yang masih belum mengenal Donghae, hanya bisa terdiam.

***

Wish me luck~”, bisik Jyurin saat sedang memakai gaun putih panjangnya. Sangrin, Sooyeon, Hyeobin, dan Myorin yang sudah saling mengenal dengan baik tersenyum dan mengangguk. Jyurin berjalan perlahan menuju altar, menuju Donghae yang sudah menunggu di depan altar.

Saat upacara sudah selesai, mereka semua bertepuk tangan meriah. Jyurin dan Donghae melempar bunganya dan ternyata berhasil ditangkap oleh Kibum. Pipi Hyeobin merona seketika. Sementara yang lain hanya bisa bertepuk tangan.

Malamnya mereka semua berkumpul di meja makan pengantin. Saling berbahagia dan tertawa bersama. “Malam ini kalian sudah siap?”, tanya Kyuhyun jail pada Donghae dan Jyurin. Yang ditanya hanya merona dan menunduk malu. “Berhenti ganggu rumah tangga orang, GaemKyu!”

“Iri, Sooyeonnie?”, tanya Kyuhyun sembari mengedipkan sebelah matanya. Yang lain tertawa melihat mereka. “Bagaimana dengan kalian? Sudah atur tanggal yang tepat?”, tanya Sungmin pada Kibum dan Hyeobin. “Mungkin bulan depan.”, jawab Kibum cepat.

“Kau sendiri?”, tanya Hyeobin berusaha mengalihkan pembicaraan. “Mungkin jika kita sudah siap.”, jawab Sungmin seraya tersenyum pada Myorin. “Duo S, bagaimana dengan kalian?”, tanya Donghae jail.

Siwon ingin bicara, namun langsung ditutup oleh Sangrin, “Untuk apa aku menikahi namja sepertinya?”, tanya Sangrin sombong. “Ahh, tanpaku juga pasti kau menangis, Rin-ah~”, ucap Siwon cepat. “Pede sekali kau!”, seru Sangrin. “Perlu aku buktikan ucapanku?”

“Mwo?! Andwae!”

“Ahh, aku hanya bercanda. Aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku juga tak bisa hidup tanpamu.”, jawab Siwon sembari menyentil hidung Sangrin. Yang lain menatap jijik mereka berdua. Setelah makan, semua pasangan melambaikan tangannya pada pasangan Donghae-Jyurin yang sudah siap menuju ke rumah baru mereka.

“Pasti mereka senang sekali.”, ucap Kyuhyun dengan senyuman di wajahnya. “Mau mengikuti langkah mereka?”, tanya Kibum jail. Kyuhyun mengangguk pelan. “Ya! Andwae~~~!!!”, teriak Sooyeon tiba-tiba. “Siapa yang bilang mau denganmu?”, tanya Kyuhyun seraya tersenyum evil. “Jadi kau tidak mau denganku, GaemKyu?”

Kyuhyun seketika tersedak, “Mwo?! Tentu saja mau!”

Mereka semua kembali tertawa. “Lalu, bagaimana dengan kita, Bum-ya?”

Kibum melirik Hyeobin seketika, “Maksudmu?”

“Kita kan sudah mendapat lemparan bunga, jadi bagaimana?”, tanya Hyeobin sembari menyodok Kibum. Kibum tersenyum tipis, “Kan sudah kubilang, bulan depan kita akan mengikuti jejak Donghae dan Jyurin.”, katanya dengan santai. Semua kembali tertawa. “Kita akan menghadiri upacara pernikahan lagi nanti!”, seru Sungmin.

“Jangan lupa untuk membeli baju pengantin di butikku ya~”, ucap Myorin dan sontak membuat yang lain tertawa lagi. “Arasso, Nona Butik…”, jawab Sangrin dan Siwon bersamaan, membuat rona merah terpancar di wajah mereka berdua.

“Bagaimana kalau besok kita mengunjungi rumah Donghae dan Jyurin?”

Yang lain mengangguk setuju. “Arasso. Sampai ketemu besok!”

***

Semuanya telah siap di depan pintu rumah Donghae-Jyurin yang baru dibeli. Tentu saja Donghae yang membelikannya atas dasar hadiah pernikahan. Mereka semua menekan bel pintu rumah dengan cepat. Tak lama, pintu dibuka dan semua’nya pun memasuki rumah baru Donghae dan Jyurin.

Mereka semua duduk di salah satu sofa. “Bagaimana malam pertama kalian?”, tanya Kibum seraya mengedipkan sebelah matanya. “Ya~begitulah.”, jawab Donghae dan Jyurin bersamaan. Mereka merona seketika. “Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Siwon tak ada bersama kalian, Sangrin-ah?”, tanya Donghae bingung.

“Semalam Siwon ditelepon seseorang. Lama sekali. Lalu, ia langsung bilang hari ini mau pergi sampai malam. Aku pikir yang meneleponnya adalah yeoja.”, ucap Sangrin sembari cemberut. “Kok kamu bisa yakin?”, tanya Hyeobin. “Habisnya suara di telepon itu sangat lembut dan ia memanggil orang di telepon itu ‘Ryry’.”, jelas Sangrin. “Jangan berpikir seperti itu dulu. Bisa jadi itu hanya rekan kuliahnya.”, hibur Jyurin.

“Tapi Siwon tak pernah seperti itu sebelumnya, Jyu-onnie. Aku takut~”

“Bagaimana kalau kita memata-matainya saja?”, tanya Myorin memberi ide. “Ide bagus!!!”, seru mereka bersamaan.

***

Tujuh orang sudah berdiri dengan diam-diam di balik bangunan. Menatap keseharian Siwon yang memang menjadi tujuan mereka saat ini. Siwon sedang berkeliaran mencari sesuatu di toko bunga. Senyum tak pernah hilang dari bibir’nya.

“Lihat! Ia pasti mau memberikan bunga itu kepada ‘Ryry’ itu!”, seru Sangrin sembari mengerucutkan mulut’nya. Siwon keluar dari toko bunga itu dan membawa sebuket bunga lili yang tergerai indah. Kemudian, ia pergi ke mall dan pergi ke sebuah toko. Tentu saja, mereka ber-7 tetap mengintai dari belakang.

“Itu…toko untuk yeoja, ‘kan?”

Pertanyaan Sooyeon membuat yang lainnya mengangguk. “Untuk apa dia di toko khusus yeoja?”, lanjut Kyuhyun yang hanya bisa memandang dengan santai. “Membeli sesuatu untuk yeoja?”, ide Hyeobin dan yang lain kembali mengangguk-angguk.

“Maksudnya, ia mau membeli sesuatu untuk ‘Ryry’?”, tanya Jyurin sembari menunjuk Siwon yang keluar dari toko dengan tangan penuh barang. “Andwae!!!”, teriak Sangrin dengan suara yang sedikit dipelankan. Siwon kembali melangkah ke toko lain, dan kini menenteng sebuah baju pesta. “Omo~ Apa lagi itu?”, komentar Myorin yang terkejut.

Setelah selesai, Siwon keluar dari mall, tentunya tetap diikuti oleh ke-7 orang tersebut. Mereka semua membuntuti Siwon hingga ke sebuah restoran mewah. “Mian, Rin-ah. Sudah malam. Aku dan Jyurin akan melanjutkan hari-hari pertama kami ya…! Sampai jumpa~”, pamit Donghae sembari menggenggam tangan Jyurin. “Kami juga akan menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita ya!”, ucap Kibum, sembari membawa Hyeobin tentu.

“Kalau kami, harus bermain game dulu. Bye~”, sahut Kyuhyun dibalas senyuman dari Sooyeon. “Kami—errr—”

“Kami masih ada tugas kuliah!”, teriak Sungmin cepat sembari membawa Myorin. “Ya! Kenapa aku ditinggal sendiri?!”, seru Sangrin sembari cemberut. “Sangrinnie.”

Sangrin berbalik dan bisa melihat Siwon sedang berdiri di hadapan’nya. Senyuman manis’nya terus terkembang. “Si—Siwon-oppa??”, tanya’nya tak percaya. “Gantilah pakaianmu. Akan aku tunggu di dalam. Arasso?”, kata Siwon seraya masuk ke dalam restoran. “Ta—tapi, tunggu! Aishh~”

Dengan pasrah, Sangrin masuk ke restoran dengan pakaian yang sudah diberikan Siwon. “Ahh~ Neomu yeppo!”, ucap Siwon sembari kembali tersenyum dan mempersilahkan Sangrin duduk. “Kenapa…oppa menyuruhku duduk? Bagaimana dengan ‘Ryry’ itu?”, tanya Sangrin polos.

Siwon tak menjawab, hanya bisa tertawa. “Aigoo~ Apakah kau tidak sadar bahwa ‘Ryry’ itu tak ada?”

“Tidak—ada? Lalu, kemarin oppa berbicara dengan siapa?”

“Dengan Kyuhyun.”

Sangrin membulatkan mata’nya, “Kyuhyun-oppa? Jadi, Kyuhyun-oppa sudah tau semua’nya dari awal?”, tanya’nya pelan namun sedikit emosi. “Ani. Bukan hanya Kyuhyun, tapi semuanya sudah tau rencana ini.”, jawab Siwon seraya tersenyum jail. “Mwohae??!! Aishhhh, jinjja!!!”

“Sekarang, maukah kau mengikuti jejak Donghae dan Jyurin?”

Seketika Sangrin terkejut, “Ne?”

“Aishh, Sangrin-ah! Maukah kau menjadi pasangan hidupku?”, tanya Siwon tak sabar. “Ahh, oppa—”

“Jawab saja, ya atau tidak.”

Sangrin kembali cemberut, “Aishh~oppa! Kenapa kau memaksaku?”

“Jawab saja, Cho Sangrin!”

“Keurae. Keurae. Ya, aku mau.”

Namja dihadapan Sangrin seketika terkejut. “Jinjja?!”, tanya Siwon tak percaya. “Ne, Choi Siwon!”, seru Sangrin pelan dan mereka langsung berpelukan.

“Aigoo! Joengmal daebak!”

Tepuk tangan dari 6 orang yang lain membuat mereka berdua kaget. “Kalian—ada disini?”, tanya Sangrin yang sudah merona. “Mesra sekali!”, seru Myorin yang sedang menggenggam erat tangan Sungmin. “Aishh~ Kita harus segera menikah, GaemKyu-ah! Mereka bisa mendahului kita!”, seru Sooyeon sembari menyenggol Kyuhyun.

“Baiklah. Bagaimana kalau sekarang?”

“MWO?!”

“Huahahahahaha…!”

***

~END~

*tarik nafas* Akhirnya, ni ff selesai jg~! Mian klo aneh~~~

‘N gomawo buat readers yg setia baca dari awal… *hug*

ff ini ancur bgt~ #meratapi nasib


 

Fanfiction : ~Sad Friendship~

“Mati kau!”

Seorang namja muda dengan jas hitamnya berjalan perlahan. Ratusan pengawalnya berdiri di depan, dengan pistol di genggaman tangan mereka. “Tembak!”, seru namja muda itu dan ratusan suara dentuman memecah kesunyian. Ratusan orang yang berada di dalam bangunan megah terjatuh tak bernyawa.

Tak lama, dua orang dari dalam bangunan itu keluar dengan tergesa-gesa. “Apa yang kau lakukan, Kim Ye-sung?! Apakah kau sudah gila??!!”, teriak seorang yeoja, salah satu dari orang itu. Sedangkan satunya lagi hanya memandang namja di depannya tak percaya. Kim Ye-sung menyeringai kecil, “Ne, aku sudah gila! Aku gila karenamu, Cho Sang-rin!”

Kim Ye-sung menoleh ke pengawalnya, “Bawa mereka berdua dalam situasi apapun! Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup! Dan, jangan lukai yeoja itu! Jika dia tergores sedikit saja, kalian akan menjadi taruhannya. Arasso?!”

Para pengawalnya mengangguk patuh dan langsung menangkap mereka berdua. Mereka berdua melawan, apalagi sang yeoja yang memang sangat jago dalam berbagai bela diri. Namun, tentu saja mereka kalah jumlah oleh ratusan pengawal itu.

Mereka berdua dibawa ke dalam satu ruangan kecil yang gelap dan lembap. Namja satunya sudah babak belur tak karuan. Sedangkan sang yeoja tidak tergores apapun, seperti yang Tuan Muda Kim Ye-sung itu perintahkan. “Si-won~ah, gwenchana-yo? Si-wonnie!!!”, seru Sang-rin sembari memeluk namja itu.

“Sang…rin~ya, apa…kita…salah?”

“Ani, Si-wonnie~! Kita tidak salah. Ye-sung saja yang memang sudah gila.”

Si-won membuka matanya dengan susah payah, “Ye-sung…tidak…gila, Cho Sang-rin! Dia hanya…mencintaimu.”


#$#$#
Sahabat…
Suatu ikatan yang membuatmu bahagia…
Membuatmu selalu tersenyum…
Membuatmu selalu tertawa…


#$#$#

 

“Annyeong… Boleh kita berkenalan?”

Seorang anak lelaki berusia sekitar 11 tahun berdiri dengan tegap. Pakaiannya cukup tebal karena memang udara sedang sangat dingin. Pandangannya tertuju kepada dua orang—anak lelaki dan perempuan yang kira-kira berusia 10 tahun dan sedang duduk di bangku taman. Sang anak lelaki yang sedang duduk itu tersenyum kecil, “Tentu saja, Si-won imnida.”
“Jeongmal-yo?! Gomawo, Ye-sung imnida.”, balas anak lelaki yang sedang berdiri itu seraya menunduk kecil. Sang anak perempuan melirik anak itu dengan tatapan aneh, kemudian karena dorongan teman di sebelahnya, ia mengangguk. “Sang-rin imnida.”, ucap anak perempuan itu dingin.

“Kim Ye-sung…!”
Anak yang sedang berdiri menoleh ke belakang dan bisa melihat seorang pria berjas dengan mobil hitam memanggilnya. “Aku harus kesana dulu ya. Sekali lagi gomawo-yo mau berteman denganku…”, ucapnya sembari berlari dan menaiki mobil hitam itu dan tak lama pergi. “Si-won~ya, apakah kau sudah gila?”
Anak lelaki yang diajak bicara menoleh ke lawan bicaranya, “Memang kenapa?”

Yang perempuan mendesah, menyesali kepolosan teman di sebelahnya. “Dia itu anak Tuan Kim, Choi Si-won! Kau tidak tau siapa Tuan Kim?”, tanya Sang-rin, pandangannya tertuju tajam. Sang lelaki mengangguk, “Tentu saja aku tau, Cho Sang-rin. Siapa yang tidak tau Tuan Kim?”
“Lalu, kenapa kau masih mau berteman dengannya? Kalau appa-ku tau, kita bisa dihabisi… Lagipula, kita sangat tidak cocok dengannya.”, jawab Sang-rin mencoba sabar. “Memang kenapa kalau kita berteman dengannya? Dia ‘kan bukan orang jahat?”, tanya Si-won lagi.
Sang-rin kembali mendesah pelan, “Jangan terlalu polos, Si-won~ssi. Dia memang bukan orang jahat, tapi appa-nya iya. Tuan Kim itu adalah kepala mafia yang paling ditakuti oleh kekejamannya. Kau pasti sudah tau itu, ‘kan? Kalau kau tak sengaja melukainya, dirimu bisa habis!”
“Aku…hanya kasian padanya. Dia tidak punya teman sama sekali. Lagipula, aku pikir dia anak yang baik kok. Ayolah, Sang-rinnie. Percaya padaku~”
Sang-rin mengangguk pasrah, ia memang tak pernah bisa menolak keinginan anak lelaki di sebelahnya.

 

#$#$#

 

Cinta…
Suatu ikatan yang membuatmu menangis…
Membuatmu bermimpi buruk…
Membuatmu terluka…
Dan…membuatmu kehilangan sahabat sejati…

 

>>><<<

(10 tahun kemudian)

 

“Chukae, Ye-sung~ya!”
“Gomawo-yo, Si-won, Sang-rin! Kalian memang sahabat terbaikku.”, ucap Ye-sung tulus seraya menggantukan lengannya di bahu mereka berdua. “Hari ini ke diskotik yuk!”, lanjut Ye-sung. Sontak kedua sahabatnya terkejut, “Mwo?!”
“Ayolah~ Ini kan adalah hari kelulusan kuliahku. Lagipula, kita ‘kan sudah cukup umur untuk ke diskotik. Aku selalu penasaran apa isi diskotik itu.”
“Bukannya appa-mu pemilik banyak diskotik terkenal dan terbesar?”, tanya Sang-rin yang lebih tampak sebagai sindiran. Ye-sung mengangguk dan tersenyum, “Tapi, appa tak pernah memperbolehkanku untuk kesitu.”
Si-won menyeletuk, “Jadi, kau akan pergi diam-diam nanti?” Ye-sung mengangguk ceria, temannya yang satu ini memang selalu mengerti isi hatinya. “Bagaimana kalau ketahuan? Kau sih anaknya, tapi kami? Kami bisa dihabisi.”, sahut Sang-rin tidak terima. “Kita tidak mungkin ketahuan. Kita akan pergi ke diskotik yang bukan diskotik milik appa-ku. Diskotik kecil yang sangat sepi. Kita juga hanya pergi sebentar ‘kan?”
Sang-rin menatap Si-won, mencoba bertanya pendapatnya lewat tatapan mata. “Baiklah, tapi janji hanya sebentar ya?”
Ye-sung mengangguk dan tersenyum cerah, “Gomawo-yo! You both really my best friend!”

 

#$#$#

 

“Sudah siap?”, bisik Ye-sung saat melihat kedua sahabatnya sudah mendekat.

Si-won dan Sang-rin mengangguk kecil dan mereka bertiga langsung mengendap-endap menuju bar itu. Mereka bertiga masuk dan bisa melihat lampu berkelap-kelip sedang menyala tak karuan. Ada beberapa orang yang sedang duduk dan minum-minum sedangkan beberapa orang lagi asyik menari-nari.

“Kau bilang ini sepi?”, tanya Sang-rin dengan pandangan takut. “Bagi sebuah diskotik, ini sudah sangat sepi. Kajja!”, seru Ye-sung sembari menarik kedua temannya untuk duduk di kursi. “Mau pesan apa?”, tanya bartender dengan dasi pitanya.

“Pesan tiga vodka.”

Si-won langsung melirik Ye-sung, “Mwo?! Vodka? Aku tau aku tidak sepintar dirimu, Ye-sung~hyung, tapi minimal aku tau apa vodka itu.”, seru Si-won dibalas anggukan setuju dari Sang-rin. “Lalu, kalau bukan vodka, apa yang mau kalian pesan? Susu? Jangan bercanda~”, sahut Ye-sung meremehkan. Sang-rin sudah mengepalkan tangannya, namun Si-won langsung menggenggam tangan Sang-rin.

“Kita permisi dulu, Ye-sung~ya! Kajja, Si-wonnie.”

Sang-rin menarik Si-won keluar diskotik, “Lihatlah dia, Si-wonnie! Apa dia perlu kau kasihani?! Dengan enaknya, ia berbicara begitu padamu! Aku benar-benar tak terima! Dia mempermalukan kita!”

“Sabarlah, Sang-rinnie. Lagipula dia tak salah. Kalau bukan vodka, apa lagi yang kita mau pesan? Kita ‘kan tidak terlalu tau minuman berjenis seperti itu.”, ucap Si-won berusaha menenangkan. “Kau selalu membelanya, Wonnie~”

Si-won terkekeh pelan dan mencubit pipi Sang-rin yang sedang menggembung kesal. “Memang kenapa? Cemburu, Rin~jagi?”

“Dasar ngaco! Sudahlah, kajja kita masuk ke dalam.”, seru Sang-rin mengalihkan pembicaraan karena pipinya sudah merona.

Yah, Sang-rin adalah tetangga Si-won dari 12 tahun yang lalu. Dan mereka tumbuh bersama, karena orang tua mereka yang juga bersahabat baik.
Kebetulan mereka berada di perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Walaupun mereka memang berkebangsaan Korea Selatan, mereka tidak terlalu diperhatikan pemerintah. Karena sebab itu, banyak orang di daerah mereka menjadi mafia. Dan salah satu ketua mafia yang paling berkuasa di daerah mereka adalah Kim Hee-chul, yang tak lain dan tak bukan adalah appa kandung dari Kim Ye-sung.

Dari dulu Sang-rin tak pernah setuju pada keputusan Si-won yang mau bersahabat dengan Ye-sung. Ia merasa Ye-sung bukan sahabat yang tepat untuk mereka. Namun, karena tidak mau Si-won marah, Sang-rin tak pernah membicarakannya.

Sang-rin sendiri adalah anak dari salah satu kepala mafia di daerahnya. Ia terbiasa hidup mandiri dan amburadul. Karena itulah juga, Sang-rin tak setuju jika harus bersahabat dengan Ye-sung. Karena appa-nya dan appa Ye-sung sudah lama bersiteru. Walaupun ia tau Ye-sung bukan orang yang jahat.
Sedangkan Si-won berbeda. Ia dibesarkan dari keluarga pastur di daerahnya. Ia sangat terpelajar dan sangat tulus kepada semua orang. Dia terbiasa berbelas kasih kepada setiap orang, termasuk kepada Ye-sung yang Si-won tau tidak punya teman sama sekali.

 

#$#$#

 

“Omona~”, ucap Sang-rin pelan. Si-won melangkah di belakang Sang-rin dan ikut terkejut. Ye-sung sudah dalam keadaan setengah sadar. Ia meminum ketiga vodka yang tadi dipesannya. Beberapa wanita berpakaian minim berada disekelilingnya. Ye-sung tertawa dan menggoda wanita-wanita itu dengan riang. “Ya! Bisa kalian pergi?”, tanya Sang-rin dingin kepada para wanita itu. “Cihh, kenapa kita harus pergi?”

Sang-rin mendesah kecil dan mengeluarkan senyum sinisnya. “Tidak tau siapa aku? Catat namaku baik-baik, Cho…Sang…Rin!!!”

Seketika wanita-wanita itu terkejut hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat, “Anda…anak…Tuan Cho?”, kata salah satu wanita itu. Sang-rin tak menjawab, hanya menyeringai kecil, namun para wanita itu telah berhasil tunggang langgang. Tanpa basa-basi, Si-won menghampiri Ye-sung. “Ya, kajja kita pergi dari sini…”

Ye-sung menepis tangan Si-won, “Jangan–hik–ganggu aku, Si-wonnie… Aku–hik–masih mau–hik–bersenang-senang.”

“Ya, tukang bersenang-senang! Lebih baik kau pulang daripada kita semua dipanggang appa-mu. Palli!!!”, seru Sang-rin dingin. Namun, Ye-sung tak menjawab. Ia sudah tak sadar sekarang. “Rin~ah, jebal bantu aku angkat dia.”, pinta Si-won dengan nada tulus, dan mau tidak mau Sang-rin mengiyakan permintaannya.

“Mau kita bawa kemana dia, Si-wonnie?”

Si-won memikirkan sejenak pertanyaan Sang-rin. Betul juga! Jika mengantar Ye-sung ke rumahnya dalam keadaan mabuk, sama saja bunuh diri. Lalu, harus bawa kemana dia? Tak mungkin ‘kan, Ye-sung dibawa ke rumah Sang-rin atau rumah Si-won sendiri? Orang tua Sang-rin dan Si-won kan masih belum tau jika selama 10 tahun ini, mereka bersahabat dengan Ye-sung.

“Bagaimana kalau bawa dia ke tempat biasa kita kumpul?”

Sang-rin menaikan kedua alisnya, “Maksudmu di bangku taman?”

Si-won mengangguk pasrah. Mereka berdua mengangkat Ye-sung susah payah ke taman itu. “Lebih baik kau pulang, Sang-rinnie. Nanti kau bisa dicurigai dan bila itu terjadi, kita semua bisa gawat. Aku saja yang menjaga Ye-sung. “Ara, Si-wonnie~ Annyeong.”, pamit Sang-rin dan langsung berjalan menuju rumahnya sebelum kepala keluarga di rumahnya mengamuk.

“Ahh, Ye-sung~ya, mengapa kau tidak pernah berubah? Mengapa aku tak pernah berhasil membuatmu lebih baik? Padahal, aku hanya ingin agar kau tidak kembali jatuh ke tangan jahat. Agar kau tidak mengikuti jejak appa-mu…”, ucap Si-won sembari memandangi Ye-sung yang sedang tertidur pulas.

 

#$#$#

 

“Si-won~ya, ireona…!”, seru Ye-sung sembari membangunkan Si-won yang sedang tertidur di sebelahnya. Perlahan Si-won membuka mata. “Ahh, Ye-sungie… Kau sudah bangun?”

Ye-sung mengangguk sebelum akhirnya melirik ke segala arah. “Ini dimana? Kenapa kita disini?”, tanyanya polos. Si-won menjitak pelan kepala Ye-sung. “Ya, Si-wonnie, Kau ‘kan lebih muda dariku! Tidak sopan tau!”, seru Ye-sung seraya mengusap-usap kepalanya. “Ya, Ye-sungie yang sudah tua! Apakah kau tidak sadar sudah membuat aku dan Sang-rin repot kemarin?!”

Pria yang lebih tua 2 tahun ini mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. “Yang aku ingat, kemarin kita ke diskotik dan…aku meminum 3 gelas vodka.”
Si-won kembali menjitak Ye-sung dengan gemas. “Setelah itu kau mabuk dan kami berdua menggotongmu kesini dengan susah payah! Apakah kau tidak tau berapa beratmu itu?!”, jelas Si-won sembari cemberut. Ye-sung hanya bisa tertawa innocent. “Kau dan Sang-rin…menggotongku? Wuahh~ Kalian memang sahabatku!”

“Kalau kami tidak menggotongmu, lalu mau gimana lagi? Masa kami meninggalkanmu, Ye-sungie yang polos?”

Ye-sung mengerucutkan mulutnya, “Ahh, itu tidak penting! Yang penting aku sangat senang kalian mau menolongku!”

Si-won hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.

“Si-wonnie! Ye-sungie!”

Yang dipanggil menoleh dan bisa melihat seorang yeoja berlari kearah mereka. Yeoja dengan rambut panjang yang dikuncir satu, kaos biasa yang dilengkapi dengan kemeja kotak, celana jeans, dan sepatu kets putih. Ia berhenti di depan Si-won dan Ye-sung. Nafasnya memburu tak karuan. “Ye-sung~ya, kau dicari…pengawal-mu. Palli!”, seru Sang-rin terbata-bata.
Ye-sung mengangguk dan langsung berlari menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari taman. “Si-wonnie, kau tertidur disini?”, tanya Sang-rin mulai bisa mengatur nafasnya.

“Ne. Apakah eomma atau appa mencariku?”

Sang-rin mengangguk kecil, “Tadi appa-mu menanyakan padaku. Aku bilang kau menginap ke rumah teman karena semalam belajar bersama. Padahal dia mau mengajakmu ke gereja.”

“Ohh… Gomawo-yo, Rin~jagi.”, jawab Si-won sembari mengangguk, namun, “Apa kau bilang?! Appa mau mengajakku ke gereja? Omo~! Aku harus segera kesana! Aku bisa telat ke gereja!”

Si-won panik dan langsung berlari ke rumahnya. Sang-rin ikut berlari mengejarnya langkah Si-won yang cepat.

“Ya! Pastur! Jamkkaman!”

 

#$#$#

 

“Annyeong, Si-won~ya! Annyeong, Sang-rin~ya!”

Sang-rin dan Si-won menoleh dan terkejut. Sang-rin langsung bangun dan meraba segala permukaan tubuh Ye-sung. “Ada yang luka? Mana yang sakit?”
“Apa sih maksudmu, Sang-rin~ah?”, tanya Si-won bingung, namun Ye-sung tidak merespon. Pipinya sudah seperti kepiting rebus. “Ada keajaiban! Ye-sung tidak dipukul appa-nya!”, seru Sang-rin sembari tersenyum. Ye-sung mengacak rambut Sang-rin gemas, “Kau itu terlalu melebih-lebihkan.”, jawab Ye-sung sembari duduk disebelah Sang-rin dan Si-won.

“Ada keajaiban lagi! Ye-sung tidak cerewet! Biasanya kan dia yang paling banyak bicara!”, teriak Sang-rin kembali. Ye-sung hanya bisa kembali mengacak-acak rambut Sang-rin gemas. Si-won hanya bisa tersenyum kecut.

“Kenapa sih kau, Ye-sung~oppa? Sakit?”

Ye-sung menggeleng, namun kemudian terkejut, “Hari ini benar-benar ada keajaiban! Jangan-jangan dunia mau kiamat! Masa Sang-rin menyebutku dengan embel-embel ‘oppa’! Benar-benar hebat!”

“Ya! Aishh, neo jinja!”

Sang-rin mengelitik Ye-sung, membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Si-won hanya tersenyum memandangi mereka berdua. Setelah selesai, mereka kembali duduk di posisi masing-masing. “Aku akan membeli es krim dulu disana. Sang-rin dan Si-won pasti memilih coklat ‘kan?”
Sang-rin dan Si-won mengangguk kompak.

“Rin~jagi…”

Sang-rin melirik kearah Si-won, “Ne? Dan jangan panggil aku ‘jagi’!”

Si-won terkekeh kecil, “Sepertinya Ye-sung~hyung menyukaimu.”

“Jangan bercanda, Si-wonnie!”

Si-won mau menjawab, namun Ye-sung berjalan kearah mereka. “Aku kembali!”

Ye-sung memberi kedua es krim kearah Si-won dan Sang-rin. “Gomawo, Ye-sungie!”, seru Si-won. “Na tto, Ye-sung~ya!”, balas Sang-rin dan Ye-sung menggeleng seraya tersenyum. “Ahh, hanya sekedar es krim…”

“Ada yang mau kubicarakan kepada kalian.”

Sontak Sang-rin dan Si-won menjawab bersamaan, “Mwo?”
Ye-sung ingin berbicara, namun es krim di tangannya jatuh. “Omo~!”, serunya sembari membereskan es krim itu di bawah. Dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan dari bawah—

 

#$#$#

 

Dentuman peluru melesat kemana-mana. Pagi yang semestinya cerah menjadi hitam kelam. Terkena kabut dan jutaan gas beracun yang menggelapkan mata, hidung, dan telinga.

“Mati kau!”

Seorang namja muda dengan jas hitamnya berjalan perlahan. Ratusan pengawalnya berdiri di depan, dengan pistol di genggaman tangan mereka.

“Tembak!”, seru namja muda itu dan ratusan suara dentuman memecah kesunyian. Ratusan orang yang berada di dalam bangunan megah terjatuh tak bernyawa.

Tak lama, dua orang dari dalam bangunan itu keluar dengan tergesa-gesa.

“Apa yang kau lakukan, Kim Ye-sung?! Apakah kau sudah gila??!!”, teriak seorang yeoja, salah satu dari orang itu. Sedangkan satunya lagi hanya memandang namja di depannya tak percaya. Ye-sung menyeringai kecil, “Ne, aku sudah gila! Aku gila karenamu, Cho Sang-rin!”

Ye-sung menoleh ke pengawalnya, “Bawa mereka berdua dalam situasi apapun! Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup! Dan, jangan lukai yeoja itu! Jika dia tergores sedikit saja, kalian akan menjadi taruhannya. Arasso?!”

Para pengawalnya mengangguk patuh dan langsung menangkap mereka berdua. Mereka berdua melawan, apalagi sang yeoja yang memang sangat jago dalam berbagai bela diri. Namun, tentu saja mereka kalah jumlah oleh ratusan pengawal itu.

Mereka berdua dibawa ke dalam satu ruangan kecil yang gelap dan lembap. Namja satunya sudah babak belur tak karuan. Sedangkan sang yeoja tidak tergores apapun, seperti yang Tuan Muda Kim Ye-sung itu perintahkan. “Si-wonnie, gwenchana-yo? Si-wonnie!!!”, seru Sang-rin sembari memeluk namja itu.

“Sang…rin~ya, apa…kita…salah?”

“Ani, Si-wonnie~! Kita tidak salah. Ye-sung saja yang memang sudah gila.”

Si-won membuka matanya dengan susah payah, “Ye-sung…tidak…gila, Cho Sang-rin! Dia hanya…mencintaimu.”

Sang-rin hampir terpekik, “Maksudmu?”

“Sudah kubilang…dari dulu, dia itu…mencintaimu.”, jelas Si-won susah payah. Darah terus mengalir di permukaan tubuhnya. “Tapi kalau ia mencintaiku, ia tidak akan begini kepadaku. Lagipula kenapa dia ikut melukaimu?”

Si-won ingin menjawab, namun beberapa pengawal kembali membawa mereka dengan paksa. Membawa mereka ke suatu tempat. Tempat yang amat dikenal mereka. Taman mereka yang biasa. Disitu ada Ye-sung. Ia sedang menjilati es krim blueberry-nya dengan mata yang terus tertuju pada kedua—mantan—sahabatnya.

“Ya! Sebenarnya apa maumu, Ye-sung~ah?! Kenapa kau begini?! Kita tak pernah punya salah padamu! Tapi kenapa kau begini?!”, seru Sang-rin, matanya berkaca-kaca. Ye-sung tertawa miris, “Mauku? Mauku mudah, Cho Sang-rin! Aku ingin dirimu!”

“Lalu kenapa kau ikut menyiksa Si-won?! Dia selalu baik padamu!”
Ye-sung kembali menyeringai, “Aku tidak akan menyiksanya jika dia tak merebutmu dariku.”

“Siapa yang merebut?! Kau yang merebutnya dariku!”, Si-won sudah kehilangan kesabaran. “Sekarang gampang. Jika Sang-rin mau bersamaku, aku akan berhenti melukai Si-won. Bagaimana?”, tanya Ye-sung santai. “Aku tidak akan mau bersamamu, walaupun aku harus mati!”, teriak Sang-rin keras.

“Baiklah, jika itu keinginanmu.”, kata Ye-sung sembari mengambil pistol dan mengarahkannya kepada Si-won. “Selamat tinggal, Si-wonnie~”

DOR!

Suara dentuman keras terdengar. Namja berlesung pipi itu terjatuh. Darahnya melebar ke segala arah. Sang-rin berteriak histeris. Ia memeluk namja itu dengan sepenuh hati. Air matanya keluar tak tertahankan. “Bukankah ini adalah kejadian yang amat mengiris hati? Tapi, kejadian ini akan lebih mengiris hati jika sang pemain perempuannya juga mati.”

Sang-rin terkejut dan langsung mengambil pistol yang terletak tak jauh darinya dengan cepat. Ye-sung menembakan pelurunya kearah Sang-rin, sedangkan Sang-rin langsung menembakan pelurunya kearah Ye-sung. Semua pengawal yang ada disitu terkejut. Sang-rin dan Ye-sung terjatuh bersamaan. Tepat di dekat Si-won yang juga tergeletak. Mereka bertiga tak bernyawa.

 

#$#$#

 

Sahabat begitu kuat…
Sahabat begitu berarti…
Sahabat adalah segalanya…
Apakah ada yang bisa menghancurkannya?
…Cinta…


#$#$#

 

—Ye-sung ingin berbicara, namun es krim di tangannya jatuh. Dengan cepat, ia membereskan es krim itu di bawah. Dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan dari bawah. Tangan Si-won dan Sang-rin bertautan erat. Seperti merpati yang tak bisa dilepaskan. Seketika itu juga rasa emosi meledak memenuhi ruang hati Ye-sung…

 

%E%N%D%

 

#$#$#

 

Annyeong, my lovely readers~~~ Mian dah lama gak posting blog… Aku kasih hadiah ff ini dulu deh~ Utk ff yg lain, ditunggu ya…. ^^


Credit : First Rain MV

 

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Five)

“Aku…memilih——”

Semua orang memandang Sangrin penuh tanda tanya. Apalagi Kibum, Sungmin, dan Siwon. Sangrin bersiap menyebutkan nama yang kupilih, namun…

“Pasien Kim Hyeobin sudah sadar! Kalian bisa menjenguk’nya.”, seru seorang suster berparas cantik yang baru saja keluar dari ruang rawat. “Keurae…! Kajja, kita masuk.”, kata Sangrin cepat dan langsung masuk ke ruang rawat. Dalam hati ia berterima kasih kepada suster dan Hyeobin yang membuat’nya bisa mengurungkan niat. “Hyeo-onnie…”, panggil Sangrin seraya tersenyum.

Hyeobin terlihat sangat pucat. Mata’nya memandang Sangrin…dengan penuh kebencian. Dan langsung menatap Kibum. “Jadi benar semua yang kalian katakan? Jadi, kau dan Sangrin saling menyukai…?! Jadi, semua hal mesra yang kau berikan kepadaku, hanya karena Sangrin?! Dan selama ini kau hanya menganggapku Sangrin?! Jawab aku, Kim Kibum!”

Kibum memandang Hyeobin dengan sangat perih, “Mian, Hyeobin-ah…”

“Hanya itu yang bisa kau katakan, Kim Kibum?! Hanya itu yang bisa kau katakan setelah peristiwa ini?!”, seru Hyeobin dengan lirih. Air mata’nya mulai berjatuhan. Begitu pula dengan Kibum. “Mian, Hyeobin-ah. Aku…”

“Aku kecewa padamu, Kim Kibum…! Sangat kecewa! Dan padamu juga, Sangrin-ah! Aku pikir kau adalah dongsaeng yang menyayangiku, tapi ternyata aku salah! Kau sama saja dengan Kibum! Selalu berpura-pura baik di depanku! Aku benci kalian berdua.”, potong Hyeobin dengan pandangan yang tidak tertuju pada Kibum dan Sangrin.

“Onnie… Aku sama sekali tidak pernah melakukan seperti yang onnie bilang. Aku…aku memang menyayangi onnie, dan ini semua bukan sekedar pura-pura. Kau adalah satu-satu’nya onnie yang kupunya. Jebal, onnie… Jangan begini padaku.”, ucap Sangrin dengan air mata yang juga mulai menetes.

Kibum berbicara, “Kau boleh memarahi, mencaci maki, atau membenciku sesuka hatimu, Hyeo-ah. Tapi jebal jangan lakukan itu kepada Sangrin. Dia tak bersalah. Justru dia yang menolak saat aku menyatakan cintaku. Dia yang tak mau kau bersedih.”

“Ah, sekarang kau membela’nya, Kim Kibum? Membela pujaan hatimu itu, hah?!”

“Hyeo-onnie, kumohon… Aku tau onnie bukan orang yang seperti ini. Aku tau onnie masih menyanyangiku dan Kibum oppa. Berikan kami kesempatan, onnie. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan onnie.”, ucap Sangrin dengan lirih. Kibum ikut mengangguk, walaupun tak sepenuh’nya yakin. “Semua percuma. Kibum tidak mencintaiku. Aku tau itu sekarang. Seberat apapun aku berusaha, semua akan tetap berakhir begini.”

“Hyeobin-ah! Setidak’nya, berikanlah Sangrin dan Kibum kesempatan.”

Kyuhyun mulai berbicara. Hyeobin terdiam sejenak. “Keurae. Aku akan memaafkan Sangrin. Tapi Kibum…aku belum bisa memaafkan’nya.”

“Kamsahamnida, onnie…”, seru Sangrin seraya memeluk Hyeobin dengan sepenuh hati. Hyeobin ikut memeluk Sangrin. “Aku tau kau bukan orang yang seperti itu, Rin-ah. Onnie terlalu emosi saat itu. Mian.”

“Gwenchana, onnie… Aku senang onnie bisa menerimaku lagi.”

Kyuhyun menarik nafas lega melihat kedua perempuan kenalan’nya bisa kembali dekat. Begitu pula dengan Sungmin dan Siwon. Tapi hawa kaku masih bersarang pada diri Kibum. “Mianhaeyo, Hyeo-ah. Joengmal mianhaeyo. Aku berjanji akan membangun kehidupan baru bersamamu, jika kau memaafkanku. Jebal, aku sadar sekarang, dan aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mencintaimu.”

Ekspresi Hyeobin berubah 180o derajat seketika. Ia memandang Kibum dingin, “Apa menurutmu aku akan memaafkanmu setelah peristiwa ini terjadi?! Apa kau pikir aku akan percaya kembali denganmu setelah kebohongan ini?!”, tanya’nya dengan tajam. “Hyeobin-ah… Aku mengaku salah. Tapi kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang kau berikan. Jebal~”

Hyeobin terdiam sejenak, kemudian memandang Sangrin. “Bagaimana menurutmu, Sangrin-ah?”

“Naega?! Molla, onnie… Semua’nya terserah onnie.”, kata Sangrin yang sedikit kaget. “Hhhh… Keurae, aku akan memaafkanmu, tapi aku hanya menganggapmu teman mulai saat ini. Kau bukan lagi namja-chingu’ku.”, ucap Hyeobin sarkastik. Kibum hanya bisa mengangguk dan tersenyum, “Kamsahamnida, Hyeobin-ah…!”

“Kalian sebaik’nya keluar. Pasien harus beristirahat terlebih dahulu.”, ucap suster yang tadi. Mereka semua mengangguk dan melambai kepada Hyeobin, lalu beranjak keluar satu-persatu. “Suster!”, panggil Kyuhyun saat suster itu ingin masuk. “Ne?”

“Kapan Hyeobin boleh pulang?”

Suster itu menggelengkan kepala’nya, “Saya tidak tau. Sebaik’nya anda tanyakan pada dokter.”, kata’nya seraya tersenyum ramah. “Oh, baiklah kalau begitu. Kamsahamnida.”, kata Kyuhyun sembari menunduk. “Chonmaneyo.”, jawab suster tersebut sembari ikut menunduk. Mereka semua pulang dengan mobil menuju apartemen. Di perjalanan, mereka semua terdiam, tak ada yang berbicara.

“Siwon-oppa.”

Siwon menoleh pada Sangrin yang memanggil’nya secara tiba-tiba. Begitu pula dengan yang lain. “Ehm, soal kejadian saat itu—”

“Aku sudah tak mempermasalahkan’nya lagi. Tenang saja. Aku tau aku yang salah. Aku yang terlalu over-protective padamu… Aku yang bukan siapa-siapa malah melarangmu. Padahal Kyuhyun yang jelas oppa kandungmu saja tidak melarang. Mianhaeyo…”, sahut Siwon memotong dengan nada sendu. “Oppa… Kenapa kau seperti ini? Aku yang salah, oppa. Aku terlalu emosi pada waktu itu. Mesti’nya aku yang minta maaf…”

Suasana berubah menjadi tak enak seketika. Yang lain yang tidak tau apa-apa hanya bisa melihat. Sedangkan, Kyuhyun yang sudah mengetahui semua’nya hanya bisa terdiam. Siwon mendenguskan nafas, “Terus apa yang kau mau sebenar’nya?! Kau lebih suka jika aku yang marah padamu?! Aku lelah terus bertengkar, Sangrin-ah… Sangat lelah… Sudahlah, anggap saja kejadian itu tidak ada, ara?”

Sangrin hanya bisa memandang Siwon dengan lirih, “Oppa… Ada apa denganmu?”

“Apa maksudmu? Mesti’nya, aku yang bertanya, ada apa denganmu?! Kau berubah, Rin-ah… Kau berubah… Menjadi seseorang yang tak lagi kukenal. Kau…berbeda dari Sangrin yang dulu… Sangrin yang ceria. Sangrin yang kekanak-kanakan. Sangrin yang selalu tersenyum.”, ucap Siwon dengan pandangan yang kosong.

“Tentu saja aku berubah, oppa… Aku bukan lagi Sangrin kecil! Aku sudah besar! Dan usia-ku sudah bisa disebut remaja! Aku bukan anak kecil lagi… Aku punya urusan-ku sendiri. Aku punya masalah-ku sendiri. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menangis jika ada masalah yang muncul.”

Mereka berdua terdiam dan saling memalingkan muka. Kibum dan Sungmin yang melihat mereka hanya bisa ikut terdiam dan saling melirik. Kyuhyun lebih memilih memerhatikan jalan di depan’nya, tidak mau ikut campur dalam masalah dongsaeng dan sahabat’nya. “Sudah sampai…”, kata Kyuhyun dengan suara pelan. Mereka semua pun langsung keluar. Begitu pula dengan Sangrin dan Siwon yang langsung melangkah tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Kyuhyun-ya…”

Kyuhyun menoleh dan bisa melihat Kibum sedang memanggil’nya. “Wae, Kibum-ya?”

“Bisa aku minta bantuanmu?”,

“Bantuan?”

Kibum mengangguk setengah yakin.

“Kalau tidak diluar kemampuanku, aku akan membantu. Ada apa?”, tanya Kyuhyun dengan pandangan tanya. “Bisakah kau mengartikan perasaanku…pada Hyeobin? Saat Hyeobin manja kepadaku, aku sangat tidak suka dan lebih memilih memikirkan Sangrin. Tapi, kenapa saat ia benci padaku, hatiku…seakan runtuh? Hatiku merasa kehilangan yang amat sangat. Apa arti dari ini semua?”

Kyuhyun tersenyum dan menepuk bahu Kibum, “Itu artinya kau mencintai’nya. Hanya saja kau baru sadar sekarang.”

“Jinja? Lalu, bagaimana cara’nya meyakinkan’nya bahwa sekarang aku benar-benar mencintai’nya? Tampak’nya, ia sudah tak percaya padaku lagi…”, tanya Kibum dengan lirih. “Itu bisa kuatur… Tenang saja, Kibum-ya.”, ucap Kyuhyun sembari menyeringai kecil. “Jinja?! Kamsahamnida, Kyu-ya! Kau memang yang terbaik!”, seru Kibum seraya tersenyum ceria.

***

Kyuhyun melangkah kembali menuju rumah sakit esok hari’nya. Perlahan, ia membuka pintu rawat Hyeobin dan bisa melihat’nya sedang dirawat oleh seorang suster. Suster yang sama dengan yang kemarin. “Annyeong…”, sapa Kyuhyun. “Annyeong haseyo… Mau menjenguk Nona Hyeobin? Kalau begitu, saya permisi dulu.”, kata suster tersebut seraya tersenyum dan menunduk kecil.

“Ada apa, Kyu-ya?”, tanya Hyeobin dengan sedikit bingung. “Ahh, aku akan langsung ke topik, Hyeo-ya… Cobalah memaafkan Kibum. Ia—”

Hyeobin memotong, “Aku sudah memaafkan Kibum. Kau juga sudah lihat sendiri kan?”, tanya’nya dengan dingin. “Aku tau… Tapi aku juga tau kau tidak sepenuh’nya memaafkan Kibum. Dia sudah sadar, Hyeo-ya. Dia mencintaimu, dan dia baru sadar sekarang… Berikan Kibum kesempatan sekali lagi. Aku juga tau dan sangat yakin kau masih mencintai’nya, bukan? Bahkan sangat besar.”

“Siapa yang tau kalau ia hanya bersimpati padaku? Atau bisa juga ia hanya menjalankan permintaan Sangrin.”

“Tapi itu tidak benar. Kemarin dia sendiri yang mengatakan’nya padaku. Jebal, Hyeo-ya, pikirkanlah lagi semua ini. Daripada dirimu yang menyesal sendiri…”

Hyeobin terdiam, “Ara… Akan kupikirkan. Gomawo, Kyu-ya, untuk semua’nya.”

Kyuhyun mengangguk, “Kalau begitu aku permisi dulu ya. Aku harus pergi ke kampus hari ini. Annyeong, Hyeo-ya~”

“Annyeong, Kyu-ya~”

Kyuhyun berjalan keluar ruangan dan bisa melihat suster tersebut sedang berdiri di depan pintu. “Ahh, anda sudah selesai?”, tanya’nya dengan sedikit gugup. Kyu mengangguk canggung dan langsung bergegas pergi. “Eh, tunggu! Apakah boleh saya menanyakan sesuatu?”, tanya suster itu dengan ragu. “Wae?”

“Apa hubunganmu dengan Nona Hyeobin?”

“Kita hanya teman. Wae-yo?”

Suster itu gelagapan dan menundukan kepala’nya, “Ani, hanya bertanya. Kalau begitu, annyeong…”

“Annyeong~”, sahut Kyuhyun sembari melanjutkan perjalanan’nya ke mobil. Sebelum pergi, ia mengenang kembali masa lalu’nya. “Suster itu mirip dengan Sooyeon, cinta pertamaku dulu saat SMP.”, gumam Kyuhyun seraya tersenyum lirih. “Seandai’nya Sooyeon masih ada disini, mungkin kita berdua sudah…Aishhh! Buat apa aku memikirkan dia? Dia adalah masa laluku. Cho Kyuhyun, seharus’nya kau tidak usah memikirkan dia lagi!”

***

Sangrin memandang kosong langit-langit kamar’nya. Memikirkan semua yang ia rasakan hari ini. Pikiran’nya masih penuh dengan seluruh perasaan yang ia dapatkan. Hati’nya perih jika memikirkan kejadian tadi. Tak lama, ketukan pintu terdengar. “Masuk…”, pinta Sangrin dan pintu pun terbuka. “Sungmin-oppa?”

Sungmin tersenyum tipis dan duduk di sebelah Sangrin, “Kau masih sedih?”

“Sedih? Sedih kenapa?”, tanya Sangrin biasa, berusaha menutupi semuanya. “Jangan seperti itu. Aku tau kau sangat sedih saat bertengkar dengan Siwon tadi… Iya, kan?”, tanya Sungmin sembari tersenyum manis. Dan entah mengapa senyuman hangat itu berhasil membuat Sangrin meneteskan air mata’nya. “Apa yang harus kulakukan, Min-oppa? Bagaimana pun, Siwon-oppa sudah bersamaku dari kecil. Dan baru pertama kali kita bertengkar separah ini.”

Sungmin mengelus rambut Sangrin, “Gwenchana… Nanti pasti kalian akan segera berbaikan.”

“Kamsahamnida, oppa… Kau seperti malaikat bagiku.”

“Kenapa aku seperti malaikat?”, tanya Sungmin bingung. “Karena oppa selalu ada disaat aku sedang sedih. Saat Kibum-oppa bersama Hyeobin-onnie dulu, dan sekarang karena aku bertengkar dengan Siwon-oppa… Kau seperti malaikat penolongku.”, jawab Sangrin sembari tersenyum. Sungmin balas tersenyum dan kembali mengelus rambut Sangrin.

Sungmin berucap, “Kalau begitu, mulai sekarang aku akan menjadi malaikat penolongmu yang selalu ada disaat kau membutuhkan. Kalau kau butuh aku, panggil saja namaku tiga kali. Arasso?”

“Kalau begitu, oppa akan terlihat seperti jin lampu daripada malaikat penolongku…”, kata Sangrin polos dan mereka berdua tertawa. Suasana setelah itu menjadi diam. “Kau juga adalah malaikatku, Rin-ah. Tidak tau kenapa, saat berhasil menghiburmu dan bisa melihat dirimu tersenyum lagi, aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira.”, sahut Sungmin seketika, membuat rona merah muncul di kedua pipi Sangrin.

Sungmin mengambil sesuatu dari sakunya dan langsung memakaikan’nya di leher Sangrin. “Apa ini, oppa? Kalung?”, tanya Sangrin terkejut.

“Ne… Ada tulisan ‘SS’ disini! Dan aku juga memakai sepasang yang sama. Sangrin-Sungmin. Bukannya ini bagus? Tadinya mau aku berikan padamu saat jalan-jalan kemarin malam. Tapi, karena tak jadi, aku memberikannya sekarang saja.”, jelas Sungmin. “Wuahh… Kamsahamnida, oppa. Ini sungguh indah!”

“Kalau begitu, aku pulang ke apartement-ku dulu ya? Annyeong, Sangrin-ah… Ingat, panggil namaku tiga kali.”, pamit Sungmin sembari tersenyum dan melambai. Sangrin balas melambai dan tersenyum. Lalu, ia menatap kalung pemberian Sungmin. “Sangrin-Sungmin? Atau Sangrin-Siwon? Ahhh… Apa yang kau pikirkan, Sangrin-ya?! Sungmin-oppa selalu ada disaat kau bersedih, tapi Siwon-oppa? Dia malah bertengkar denganmu! Apakah kau tidak bisa mulai mencintai Sungmin-oppa?”

Sangrin terus berbicara dalam hati, memikirkan semuanya dengan seksama. Kepala’nya merasakan pening seketika dan ia pun memutuskan untuk tertidur.

***

“Kajja, kita berangkat…”

Kibum tersenyum dengan bahagia’nya, dilanjutkan dengan anggukan Sangrin, Kyuhyun, Siwon, dan Sungmin. Bahkan Myorin juga ada disitu. Mereka akan menjenguk Hyeobin bersama. Setelah sampai, mereka satu-persatu menjenguk Hyeobin, karena memang jumlah mereka terlalu banyak untuk langsung masuk bersama. Kali ini gantian Kibum, tadinya Kibum mau mengajak Kyuhyun, namun Kyuhyun menolak, takut ‘menganggu’ Kibum dan Hyeobin.

Yang lain—selain Kibum memutuskan duduk di ruang tunggu.

“Rin-ah… Untuk yang kemarin, aku minta maaf ya. Aku sadar aku salah… Waktu itu aku sedang emosi.”, ucap Siwon sembari menunduk kecil. Sangrin tersenyum, “Gwenchana, oppa… Aku juga minta maaf ya.”

“Akhirnya, kalian baikan juga!”, seru Kyuhyun senang, dibalas anggukan Sungmin. Namun, Myorin hanya bisa bingung, karena tidak mengetahui apa-apa. Sangrin dan Siwon mulai bercanda dan bermain lagi. Sedangkan Sungmin, Kyuhyun, dan Myorin hanya bisa terdiam melihat tingkah mereka berdua. Tak sadar, tangan Sungmin mengepal. Hatinya perih saat melihat kemesraan mereka berdua.

Myorin memegang tangan Sungmin, “Sabar, oppa…”

Sungmin terkejut, “Sabar untuk apa?”

“Aku tau kalau oppa…mencintai Sangrin.”, jawab Myorin yakin. “Darimana kau tau?”, tanya Sungmin, masih setengah terkejut. Myorin tersenyum kecil, “Terlihat jelas dari matamu.”, jawab Myorin lagi. “Ahh… Kau juga ya.”

“Naega?”

Sungmin balas tersenyum, “Kau juga mencintai Siwon ‘kan? Aku juga bisa melihatnya, dari matamu.”

Mereka berdua terdiam sebentar dan akhirnya tertawa miris. “Tampaknya kita sama-sama patah hati ya?”, tanya Sungmin lirih. Myorin mengangguk, “Kasian sekali nasib kita, harus mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintai kita.” Sungmin mengangguk, “Bagaimana kalau kita sama-sama berusaha untuk melupakan mereka?”

Myorin kaget, “He?!”

“Ne. Daripada kita sama-sama menderita?”, tanya Sungmin seraya tersenyum. Myorin memikirkannya cepat, “Aku juga mau, oppa. Tapi, aku tidak tau bagaimana caranya.”

Sungmin mengangguk, “Aku tau!”

“Ottokhae?!”

“Obat yang paling mujarab adalah mulai mencintai orang lain.”, jawab Sungmin yakin. “Masalahnya siapa orang lain itu?”, tanya Myorin seraya menunduk. “Aku.”

“Mwo?!”

***

“Aishh… Sangrin dan Siwon sedang asyik bermain, sedangkan Sungmin dan Myorin sedang mengobrol. Hal yang paling menyebalkan di dunia ini adalah tidak punya pasangan, dan di depan mata, ada orang yang sedang melakukan itu.”

Kyuhyun berdecak kesal. “Iri ya, oppa?”

Yang ditanya kaget dan menoleh ke samping, “Kau?!”

Suster yang ada dihadapan Kyuhyun tersenyum. “Ne, aku adalah suster yang kemarin dan yang kemarin lagi.”, ucap suster tersebut, seakan mengetahui pikiran Kyuhyun. “Annyeong~ Kyuhyun imnida.”, sapa Kyuhyun, karena merasa bosan dan ingin mencoba berteman dengan suster itu. “Ahh, Kyuhyun-ssi…”

“Kau belum memperkenalkan diri…”, jawab Kyuhyun kecewa.

“Benar-benar tidak ingat siapa aku?”, tanya suster itu, cemberut. Kyuhyun menggeleng pelan. “Ahh, ingatanmu memang selalu payah, GaemKyu…!”, seru suster itu. “GaemKyu? Jamkkaman! Kau Sooyeon?!”, tanya Kyuhyun sembari mengamati suster itu dengan seksama. “Keurae, GaemKyu!”

“Ahh… Memang hanya kau yang memanggilku ‘GaemKyu’.”, ucap Kyuhyun sembari tersenyum ceria. “Kau sudah pulang dari Swedia?”, lanjut’nya lagi. Sooyeon menjitak kepala Kyuhyun pelan, “Kau ini masih babo saja. Tentu saja aku sudah pulang. Kalau belum, aku tidak akan ada disini, BaboKyu…!”

Mereka berdua tertawa ceria.

***

“Hyeobin-ah, maafkan aku. Sekarang aku baru sadar perasaanku yang sesungguhnya.”, ucap Kibum sembari mengelus rambut Hyeobin. “Ahh… Kau sudah mengatakan’nya berapa kali, hah?! Ne, aku sudah memaafkanmu, Kibum jagi.”, jawab Hyeobin sembari tersenyum. Kibum pun juga tersenyum.

Suara dering ponsel berbunyi tiba-tiba. Kibum mengangkat’nya. “Ne. Ne. Mwo?! Ne. Aku akan segera kesana!”

“Kenapa, jagi?”, tanya Hyeobin. “Sepupu jauhku yang berada di Mokpo mau kesini. Aku disuruh menjemput’nya dari bandara Incheon.”

“Ahh, Lee Donghae? Yasudah, sana jemput dia!”

Kibum mengangguk, “Gomawo, jagi. Aku akan kembali sebentar lagi. Saranghae~”

Hyeobin terkekeh, “Ne, saranghae~”

Kibum menuju pintu, lalu kembali sebentar untuk mengecup Hyeobin, dan langsung pergi. Membuat Hyeobin merona.

###

@All : Komen ya~~~ ^^

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Two)

“Di…mana…ini?”, tanya Donghae yang ternyata sudah sadar. Ia mencoba bangun, namun kepalanya terasa sangat berat dan seluruh tubuhnya seakan ditimpa ribuan ton karung beras. “Kau sudah sadar?”, tanya Kyuhyun dan Kibum secara bersamaan. Donghae menoleh pelan kearah mereka berdua dan satu orang yang masih pingsan. “Siapa…kalian? Dan…dimana ini?”

“Aku Kibum dan dia Kyuhyun. Kita ada di sebuah penjara… Aku tidak tau tepatnya tempat apa ini~”, jelas Kibum dibalas anggukan Kyuhyun. “Sebenarnya…kenapa…kita…ditangkap seperti ini?”

Donghae, Kyuhyun, dan Kibum menoleh dan bisa melihat Siwon sedang beranjak bangun ke posisi duduk. “Sudah sadar, Siwon-ah? Appa-mu pasti akan marah sekali jika tau kau diculik seperti ini…”

Seketika Donghae dan Kyuhyun menunjuk Siwon. “Jadi, benar kau anak Presiden Korea Selatan??!!”, tanya mereka berdua dibalas anggukan datar Siwon. “Kau juga…tidak tau jika appa Kibum adalah…Menteri Ekonomi Kim Raebum?”

Mereka berdua—Donghae dan Kyuhyun makin membelalakan mata mereka. “Lebih baik kita berkenalan secara formal… Dimulai dariku ya? Kim Kibum imnida~ 18 tahun dan mahasiswa di Seoul University. Jurusan bisnis.”, ucap Kibum seraya tersenyum. “Choi Siwon imnida~ 17 tahun dan pelajar kelas 3 SMA di Hangra High School.”

Kyuhyun menunduk kecil. “Cho Kyuhyun imnida~ 17 tahun dan Pemegang Juara Bertahan Matematika termuda. Kelas 3 SMA di Sangki High School.”

Donghae, Siwon, dan Kibum kembali terkejut. “That’s cool~!”, seru Kibum dibalas anggukan Donghae dan Siwon. “Lee Donghae imnida~ 18 tahun dan mahasiswa di Namjae High School. Jurusan seni.”, balas Donghae sembari menunduk kecil. “Kau seorang mahasiswa seni? Wah~ Sudah lama aku ingin menjadi entertainer…!”, seru Siwon girang. Kibum tersenyum semangat.

“Jinca?! Aku juga…!”

Kyuhyun ikut mengangguk. “Aku juga sama…!”

“Bidang mana yang kalian mimpikan? Kalau aku, dancer…”, kata Donghae senang, mungkin karena tak sengaja memiliki teman baru yang mempunyai impian yang sama dengannya. Siwon tersenyum. “Kalau aku dalam bidang acting~!” Kibum ikut tersenyum. “Kalau aku model~!”, Kyuhyun mengangguk-angguk, “Aku singer~! Aku benar-benar ingin menjadi penyanyi…”

“Wah…! Kita memiliki satu impian yang sama~”

Semuanya mengangguk girang, namun kegirangan mereka terhenti saat melihat Donghae tiba-tiba kesakitan. “Wae-yo, Donghae-ya?”, tanya Kyuhyun bingung. “Lukaku…sakit~” jawabnya terbata-bata. Seketika Kibum mengecek luka di leher Donghae, yang sudah mulai membiru. Sama seperti bibirnya yang juga membiru. “Kupikir ia terkena racun… Dan racun itu ada dalam tubuhnya.”

“Darahku juga belum berhenti mengalir…”

Sontak semuanya melihat kearah sang pembicara. “Darahmu bisa habis jika terus mengalir seperti ini terus menerus, Siwon-ya~!” seru Kyuhyun terkejut. “Kalian berdua seharusnya cepat ditangani, jika tidak…aku tidak tau apa yang akan terjadi.” kata Kibum dengan wajah cemas.

Kyuhyun memeriksa luka Donghae dengan cermat. “Ini…aku kenal racun ini. Racun ini sering dipakai untuk mencelakai orang~! Racun ini akan menyerang darah secara perlahan. Dan…jika tidak segera ditangani dalam tiga hari, orang yang terkena racun ini akan—kalian taulah.”

Kibum terbingung. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Darah Siwon juga belum berhenti…”

“Coba saja ikat dengan kain ini…” ucap Kyu seraya memberikan kain dari tasnya. Kibum mengangguk dan mulai mengikat luka di kaki Siwon. “Tidak ada manfaatnya… Darahku malah berpindah membasahi kain~ Tak ada yang bisa kita lakukan disini.” kata Siwon dengan pelan. Donghae seketika menatap Siwon tajam. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau mau membiarkan kita mati konyol?!”

Siwon ikut menatap Donghae. “Bukan begitu maksudku~! Kita harus keluar dari sini… Itu cara satu-satunya agar kita berdua bisa bertahan hidup~”

Kyuhyun dan Kibum berbicara secara bersamaan, “Bagaimana caranya?” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku…belum memikirkan hal itu.” ucapnya dibalas tundukan lemas yang lainnya. “Bahkan ruangan ini tidak mempunyai rongga sama sekali. Hanya ada titik-titik kecil yang bahkan tidak bisa dilewati nyamuk sekalipun…”

Semuanya mengangguk mendengar analisa Kyuhyun. “Lalu?”, tanya Donghae mencari jawaban. Namun tak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.

Kibum mulai berdiri dan memeriksa seluruh permukaan tembok ruang pengap yang mereka tempati. Sedangkan Kyuhyun berkutat dengan semua peralatan yang ada di tasnya, mencoba mencari cara untuk menyembuhkan Donghae dan Siwon.

“Aku tau!”

Teriakan Kibum sontak membuat ketiganya menoleh, menatap Kibum dengan tanda tanya. “Lihat langit-langitnya! Diujungnya terdapat semen yang lunak, mungkin terlalu lama terkena air hujan. Mungkin jika kita bisa membobol langit-langit itu, kita bisa keluar dari sini!”

“Daebak, Kibum-ya…!”, puji Donghae dengan girang dibalas anggukan Siwon. “Masalahnya sekarang, bagaimana caranya menyampai langit-langit itu? Langit-langit itu terlalu tinggi untuk kita. Bahkan Siwon yang paling tinggi disini saja tidak bisa menyentuhnya.” Kyuhyun tiba-tiba berbicara, membuat ekspresi Kibum, Siwon, dan Donghae yang tadinya riang berubah menjadi kecut kembali.

“Tunggu~! Dimana tasmu, Kyuhyun-ya?”, tanya Siwon dengan cepat. Sontak Kyuhyun memberikan tasnya. Siwon mulai mencari semua barang yang ada ditas itu. Setelah lama mencari, sebuah senyuman terhias di bibirnya. Dengan girang ia menunjukkan barang yang ada di tangannya. Sebuah tali dengan string kecil. “Kemana kau membawa ini di tasmu, Kyu-ya?”, tanya Kibum penasaran.

“Sesudah sekolah, aku akan berjualan. Dan biasanya barang jualan ini, kutaruh di sepedaku dengan bantuan tali dan string ini agar tidak ja—.”, jelas Kyuhyun. “Apakah kalian tidak mengerti point yang aku maksud?”, tanya Siwon menginterupsi.

“Maksudmu, tali dan string ini bisa digunakan untuk mencapai langit-langit itu kan?”

“100 for you…!”, puji Siwon kepada Donghae yang bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

Kibum dan Kyuhyun membelalakan matanya, “Ahh…!!! Kau benar, Won-ya~!”, puji mereka hampir bersamaan. Kibum dan Kyuhyun langsung bergegas mengambil tali dan string yang ada di tangan Siwon, lalu bahu membahu melemparkan string yang sudah diikat pada tali tersebut ke langit-langit. Setelah telah dipastikan, Kibum mulai memanjat naik dengan tali dan mulai membobol bagian langit-langit yang lunak tersebut. “Berhasil~!”

Kyuhyun menoleh kepada Donghae dan Siwon, “Kalian tunggu disini, aku dan Kibum akan masuk ke dalam langit-langit itu dan menyelinap masuk. Lalu kami akan membuka pintu untuk kalian. Ara?”

Donghae dan Siwon mengangguk. “Bawa dan pakai ini di kerah kalian. Untuk mempermudah komunikasi.”, seru Siwon sembari memberikan dua micro-phone kecil untuk Kyuhyun dan Kibum. Mereka berdua mengangguk dan mulai memasuki langit-langit yang telah hancur dibobol itu. “Ini…”

Donghae mengambil micro-phone yang diberikan Siwon, “Gomawo~”

Mereka berdua mengenakan micro-phone itu segera. Dan menunggu kedatangan atau kabar dari kedua teman mereka.

 

+++

 

“Ahh, sangat sempit disini…”, protes Kyuhyun saat baru memasuki lorong yang amat kecil. Ia menoleh ke depan dan bisa melihat Kibum sudah berjalan jauh di depannya. “Ya! Tunggu aku, Kibum-ya!!!”, seru Kyuhyun sembari menambah kecepatannya. “Palli, Kyu-ya…! Donghae dan Siwon bisa kenapa-napa jika kita tidak cepat.”

Kyu mencibir, “Kau kan punya tubuh yang lebih kecil, jadi pasti muat. Kalau aku kan tidak…”

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dengan diam. “Kyu-ya… Ada dua cabang disini. Mana yang harus kita pilih?”, tanya Kibum sembari menunjuk dua cabang di dalam ventilasi udara yang mereka lewati itu. “Ehmm… Yang kanan saja.”, usul Kyuhyun cepat. “Kau tau darimana?”, tanya Kibum lagi, penasaran. “Hanya feeling~”, jawab Kyu santai.

Kibum mendengus dan meneruskan perjalanannya ke kanan, bergantung pada feeling Kyuhyun. Hingga mereka berhenti di sebuah jalan buntu. Di bawahnya ada tembok lunak, seperti yang mereka temui di ruang sekap mereka itu. “Apa yang kita harus lakukan agar tembok ini pecah?”, tanya Kyuhyun, berusaha memikirkan semuanya. Kibum menendang-nendang tembok itu dengan kakinya, namun tak ada yang berubah.

“Bagaimana ini?”

Kyuhyun menggeleng tanda tidak tau. “Akan aku coba hubungi Donghae dan Siwon dengan micro-phone ini. Yoboseyo?”

Suara Donghae terdengar, “Yoboseyo… Kyuhyun-ya, ada apa?”

“Kita sudah ada di jalan buntu dan hanya ada tembok lunak yang ada di bawah kita. Kira-kira bagaimana kita menghancurkan tembok lunak ini? Kita butuh pendapat kalian…”, kata Kyuhyun menjelaskan. “Coba gunakan kawat. Kibum-ya, kau selalu membawa kawat kan di kemejamu?”, tanya Siwon memberi usul.

Kibum menggeledah saku kemejanya dan akhirnya menemukan sebuah kawat. “Bagaimana caranya menggunakan kawat untuk membuka tembok? Ini kelihatan tidak masuk akal, Siwon-ya.”, tanya Kibum kebingungan. “Ingat adegan film-film action? Gunakanlah cara itu.”

“Film action?” tanya Kyuhyun sembari mengingat-ingat. “Maksudmu dimana sang pemeran dalam film itu memelintir kawatnya dan memasukkannya dalam lobang kecil dalam pintu atau jendela kan?”, tanya Donghae. “Ne…! Donghae benar~”

“Akan kucoba!”, Kibum memulai aksinya memelintirkan kawat itu dan memasukkannya ke dalam lobang yang terdapat pada tembok lunak itu. Dan ceklek~!

“Berhasil~!”, seru Kyuhyun girang. “Kita akan segera masuk! Tunggu saja…”, kata Kibum sembari mematikan micro-phone nya. Mereka mulai turun dari atas dan akhirnya kembali menjejak lantai. “Dimana ini?”, bisik Kyuhyun saat melihat ruangan yang tidak pernah mereka lewati sebelumnya. “Molla. Sebaiknya kita cari ruangan itu.”, saran Kibum dibalas anggukan patuh Kyuhyun.

Mereka mulai mencari satu persatu ruangan. Dan dengan cepat, mereka bisa menemukan ruangan dimana Donghae dan Siwon berada. “Kajja kita keluar darisini~!”, kata Kibum dan Kyuhyun bersamaan. Kyuhyun memapah Siwon, sedangkan Kibum memapah Donghae. Namun perjalanan tampaknya tak semulus yang mereka kira. Beberapa panah melesat kearah mereka. Untung mereka bisa menghindarinya.

Dengan kecepatan yang ditambah, mereka bergegas mencari jalan keluar. Namun, panah mulai melesat dari berbagai arah, membuat mereka kerepotan menghindarinya. “Darimana panah ini?”, tanya Kibum seraya masih berusaha menhindari panah tersebut. “Tampaknya ini jebakan yang sudah mereka pasang…”, jawab Donghae, yang juga sedang bekerja keras menghindarinya.

Kyuhyun mengeluarkan sebuah lembaran besi besar, membuat tubuh dirinya dan Siwon yang sedang dipapahnya aman. “Berlindung saja disini!”, seru Kyuhyun. Donghae dan Kibum mengangguk dan mulai saling berdekatan hingga seluruh tubuh mereka aman. Dengan cepat, mereka kembali berlari mencari jalan keluar yang tidak mereka temukan sejak tadi. Sejauh mata memandang, hanya ada lorong-lorong gelap yang mereka langkahi.

“Tunggu…!”

Semuanya berhenti dan memandang Kyuhyun. “Wae-yo, Kyu-ya?”, tanya Kibum penasaran. “Perhatikan baik-baik lantai itu!”, Kyuhyun berucap sembari menunjuk lantai yang tepat berada di depan mereka. Kyuhyun mengambil kertas dari tasnya dan melemparnya ke lantai tersebut. Dan kertas itu…terlarut dan kemudian menjadi abu!

“OMONA~!!!”

Donghae terkejut setengah mati, begitu juga dengan yang lainnya. “Ottokhae?”, tanya Kibum bingung. “Coba saja lempar kertas lagi, tapi kali ini lebih jauh.”, Siwon berbicara. Kyuhyun mengangguk dan mencoba melemparkannya. Kali ini kertas tidak terlarut. “Jaraknya masih bisa kita lewati. Kajja!”, seru Siwon sembari berjalan perlahan-lahan dengan sedikit pincang dan meloncati lantai itu. Ia terjatuh, namun berhasil melewatinya.

“Kajja…!”

Mereka bertiga mengangguk dan mulai meloncat satu persatu. Kyuhyun meloncat dan berhasil. Begitu juga dengan Donghae. Saat Kibum melompat, kakinya hampir terkena lantai yang larut itu, namun untungnya Donghae, Kyuhyun, dan Siwon memegang kakinya, hingga hal mengerikan itu tak terjadi.

 

+++

 

Seorang pria berdiri di depan monitor. Kedua tangannya ia taruh di belakang. “Hebat juga mereka…”, puji orang yang duduk di sebelah kirinya. “Kau tak salah pilih orang, Jungsoo-ya~”, kata orang yang sedang berdiri di sebelah kanan Jungsoo. Yang diajak bicara, menghadap kearah mereka berdua.

“Tentu saja… Sangat susah memilih mereka, Youngwoon-ya, Joongwoon-ya.”

Orang dengan tubuh lebih besar mengkerutkan keningnya dan memperbaiki posisi duduknya, “Bagaimana caranya untuk memilih mereka?”

“Youngwoon benar. Bagaimana caranya memilih diantara banyak orang di muka bumi ini?”, tanya Joongwoon, ikut mengkerutkan keningnya. “Aku harus menerjemahkan huruf ‘Dousk’ yang ribet itu dan melakukan banyak riset.”, jawab Jungsoo seraya membetulkan letak kaca matanya.

“Huruf ‘Dousk’?”

Youngwoon bergedik, “Maksudmu huruf khusus Empat Ksatria itu?”

Jungsoo mengangguk, “Ne… Kau tau kan kisah Empat Ksatria?” Youngwoon dan Joongwoon mengangguk. “Kisah tentang Empat Ksatria pada abad ke-15 yang berhasil memerangkap musuh terbesar klan Super Junior kan? Walaupun akhirnya mereka berempat menghilang misterius dan musuh itu kembali berkeliaran kabur.”, kata Joongwoon dengan nada tanya.

“Dan sebelum mereka menghilang, mereka sempat menulis beberapa kalimat huruf Dousk yang konon hanya mereka berempat dan petuah sakti yang mengetahuinya…”, Youngwoon melanjutkan.

Jungsoo mengangguk, “…dan aku berhasil menerjemah satu kalimat itu.”

Youngwoon dan Joongwoon terkejut dan memandang Jungsoo dengan pandangan penuh tanya. “Apa artinya?!”, tanya mereka berdua bersamaan. Jungsoo tersenyum, “Bahwa suatu saat nanti akan ada empat ksatria yang adalah reinkarnasi mereka untuk menyelamatkan dunia ini. Dan merupakan pengacakan dari nama mereka.”

Joongwoon masih bingung, “Pengacakan dari nama mereka?”

“Maksudmu Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum?”

Jungsoo mengangguk menanggapi pertanyaan Youngwoon. “Dan nama empat anak itu?”, tanya Jungsoo sembari mengangkat alisnya, berusaha membuat Youngwoon dan Joongwoon paham. “Lee Donghae, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, dan Kim Kibum?!”, seru mereka berdua bersamaan.

“Unbelieveble…!”

Joongwoon menatap Jungsoo, “Dan artinya mereka adalah…”

“…reinkarnasi Empat Ksatria itu?”

 

#To Be Continue#

 

@All readers : Gomawo for baca… Komen please?? ^^