Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Seungri’

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Three)

[Chapter Three – End Of Everything]

 

Hari-hari setelah itu berlalu cepat. Salju telah berganti oleh mekarnya bunga-bunga. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi yang indah. Bloomfield College sedang sangat sibuk dengan perayaan ulang tahun kampus mereka yang memang akan dijalankan hari ini.

Everyone’s ready? (Semuanya siap?)” Ketua panitia bertanya dengan lantang. “Yes!” Semuanya menjawab dan saling bertepuk tangan sebelum bersiap dalam posisi dan tugasnya masing-masing. “Aku akan mengurus pintu depan. Bye-bye, Hyeo-ah~” Seungri pamit seraya melambaikan tangannya. Hyeobin mengangguk kecil dan langsung kembali kepada pekerjaan semulanya.

Can I have one? (Boleh aku minta satu?)” Suara seorang lelaki mengagetkan Hyeobin. “Of cour—Kibum-oppa?!” Seketika gadis itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Kibum lagi, demi kebaikan dirinya dan Seungri. “Of course, Kibum-ssi.” Dia menjawab seformal mungkin dan memberikan beberapa makanan yang memang sudah disediakan.

Kibum mengambil makanan itu sembari menaikan alisnya. “Kenapa kau jadi formal begitu? Bukankah sudah kubilang jangan memakai formalitas.”

“Gwenchana, Kibum-ssi. Aku lebih suka begini.” Hyeobin menjawab hati-hati. Sebenarnya, entah mengapa hatinya tidak ingin menjauhi lelaki di hadapannya ini; namun ia harus melakukannya. Lagi-lagi demi hubungannya dan Seungri.

“Apakah ada kesalahan yang kuperbuat? Atau—karena masalah di balkon kemarin? Mianhae, Hyeobin-ah. Kan sudah kubilang kita masih bi—”

“Ani. Bukan masalah itu. Hanya saja… aku tidak mau terlalu dekat lagi denganmu. Dari awal, kita hanya sunbae dan hoobae.”, potong Hyeobin cepat. Jujur, hatinya sedikit merasakan gejolak aneh saat mengatakan hal itu. Seperti rasa sakit? Entahlah.

Kibum sedikit terkejut mendengar perkataan Hyeobin. “Jinjja? Ini bukan karena Seungri kan? Apakah dia berkata kepadamu untuk menjauhiku?”

Sontak gadis itu menggeleng. “Dia sama sekali tidak menyuruhku menjauhiku. Ini keinginanku sendiri.” Ia menjawab pelan.

Kalimat yang baru saja ia katakan memang ada benar dan salahnya. Seungri memang tidak menyuruhnya untuk menjauhi Kibum. Tapi, ini bukan keinginannya untuk menjauhi lelaki yang sudah seperti oppa-nya sendiri. Bahkan, bisa dibilang ia merasa lelaki ini lebih istimewa dari ‘oppa’.

“Ok, kalau begitu. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi. Senang bisa mengenalmu. Mungkin aku bodoh, tapi jika kau berubah pikiran dan mulai membuka hatimu kepadaku, datanglah ke taman dekat sini seminggu lagi pada jam lima sore. Minggu depan adalah hari ulang tahunmu kan? Jika kau tidak datang, aku berjanji akan menghilang dari kehidupanmu, Hyeo-ah.”

Lelaki itu berbalik dan menjauh dari sang gadis. Membuat gadis tersebut—entah mengapa merasa hatinya pedas. Suatu kebingungan mengganjal dirinya. Apakah ia akan pergi—atau tidak? Sepintas hatinya mengatakan: ‘Untuk apa ia pergi? Toh, hatinya hanya untuk Seungri~’ tapi sepintas lagi ia ingin pergi. Ada rasa menyesal dalam hatinya jika ia memutuskan untuk tidak pergi.

“Hyeobin-ah, ottokhae? Apakah pegal? Kau bekerja sibuk sekali.” Seungri muncul entah darimana dan langsung tersenyum ramah. Hyeobin langsung tersenyum lebar. “Gwenchana. Semuanya sudah hilang saat melihat wajahmu.” Seketika mereka tertawa. “Aku baru tau ada gadis yang bisa menggombal.”

“Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Mereka berdua kembali tertawa. “Acaranya sudah selesai, ayo kita pulang. Nanti aku akan memasak makanan enak untukmu.”

Sontak Hyeobin melirik Seungri. “Kau? Memasak? Sejak kapan?” Seungri merubah ekspresinya menjadi cemberut. “Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Ia mengikuti persis ucapan Hyeobin dan mereka berdua kembali tertawa. Dalam hati ia menggumam: ‘Kurasa akan lebih baik jika tidak pergi.’

*^*

“Hyeobin-ah, ireona! Palli!”

Gadis itu membuka matanya dan langsung bisa melihat seorang pria sedang berada persis di hadapannya. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Hyeobin terkejut dan reflek mendorong Seungri hingga menabrak tembok.

“Aigoo, Hyeo-ah. Aku hanya ingin mengatakan happy birthday kepadamu. Kau pikir aku akan melakukan yang macam-macam kepadamu?”

Hyeobin tersenyum innocent sembari membantu membangunkan Seungri. “Mianhae, Seung-ah.” Seungri langsung tersenyum ketika melihat senyuman polos dari bibir Hyeobin. “Gwenchana. Saengil chukae, nae jagi. Saranghae.”

Pria tersebut mencubit pipi Hyeobin pelan. “Gomawo, nae jagi. Na tto saranghae.”

Mereka berdua berpelukan sebentar, lalu saling mengecup. “Sebentar! Tutup matamu. Aku punya kejutan.” Hyeobin mengangguk dan menutup matanya. “Sekarang buka matamu!” Gadis itu membuka mata dan terkejut. Ia bisa melihat sebuah kue berlapiskan coklat dan cream dengan tulisan ‘19’ sedang dibawa oleh seorang pria. Pria yang istimewa. “Seungri~”

Make a wish, Hyeo-ah.”

Gadis itu mengangguk dan mulai membuat permohonan. “Sudah selesai?” Seungri bertanya. Hyeobin mengangguk pelan. “Sekarang, tiup lilinnya.”

Hyeobin dan Seungri meniup lilinnya bersama-sama. Lalu, Seungri menyingkirkan tulisan ‘19’ itu dan langsung menaruh kuenya di meja. Ia mencolek coklat kue itu dan mengoleskannya di kening Hyeobin. “Ahhh! Lee Seungri!!!”

Seungri tertawa. Hyeobin mencolek cream di kue itu dan mengoleskan ke pipi Seungri. Mereka berdua pun saling mengoleskan coklat dan cream hingga seluruh wajah mereka penuh dengan noda. Setelah lelah, mereka berdua berbaring di kasur. Saat saling menatap, mereka berdua akan tertawa akan hasil colekan mereka berdua.

“Hyeobin-ah.”

“Ne?” Gadis itu menatap Seungri. “Aku pamit dulu ya. Pagi ini ada jadwal kuliah. Jika lapar, aku sudah menyiapkan sesuatu di kulkas.” Hyeobin mengangguk dan tersenyum. Menyadari betapa sweet kekasihnya. “Sampai jumpa~” Seungri mengecup kening Hyeobin dan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya keluar. Hyeobin langsung membuka kulkas dan bisa melihat sepotong roti sudah tersedia untuknya. Disitu juga ada selembar kertas.

Aku tau ini terburu-buru; tapi maukah kau menjadi tunanganku, Hyeo-ah? Aku merasa kita sudah cocok. Aku juga sangat mencintaimu. Jika kau mau menjadi tunanganku, datanglah sore ini jam lima ke taman dekat sini. Tapi jika kau merasa kita tidak bisa bersama lagi, jangan datang. Aku akan menunggu~

N.B. : Aku harap kau datang. Saranghae~ ^^

Hyeobin tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Ada rasa kebahagiaan yang tak terkira. Seungri—melamarnya? Namun, ada perasaan aneh yang kembali merasuki tubuhnya. Ia mencoba mengingatnya dan kemudian tersentak. Bukankah Kibum juga menyuruhnya bertemuan di jam dan tempat yang sama? Mana yang harus ia pilih?

*^*

Gadis itu mematut bayangannya sendiri di kaca. Cantik. Sempurna. Namun, ada yang kurang. Ia masih—bingung. Di sisi lain, Seungri adalah pria impian Hyeobin. Menjadi kekasihnya adalah kebahagian terindah baginya. Dan tak bisa dipungkiri, setiap detik kehidupannya selalu lebih berharga jika dilewati dengan Seungri. Namun di sisi lainnya, Kibum entah mengapa selalu berada di hatinya. Ia merasa lebih nyaman jika berada di sisinya. Ia bisa tertawa, menangis, dan tersenyum dengan lebih leluasa dengan Kibum.

Tak bisakah ia menerima keduanya? Rasanya, ia tak tega bila menghancurkan hati salah satu dari keduanya. Perlahan, kakinya melangkah kearah taman. Bisa ia lihat Kibum sudah menunggu di sisi kiri taman, sedangkan Seungri sedang menunggu di sisi kanan. Di wajah mereka berdua, bisa terbaca jelas harapan dan penantian.

Hyeobin berhenti di tengah. Menatap mereka berdua dalam. Daun-daun berjatuhan. Gadis itu mengambil salah satu daun dan mencabuti satu persatu daun itu seraya menyebutkan nama mereka berdua. Tak sadar, ia sudah lama berdiri disitu. Tapi tak ada keputusan yang berhasil diambil.

Ia menutup mata. Memohon kepada Tuhan agar ia bisa memilih dengan benar. Kemudian dengan air mata, ia melangkah kearah kanan. Arah Seungri.

“Hyeobin-ah!” Seungri memekik sembari memeluk Hyeobin girang. “Senang kau berada disini.” Ia berkata lagi, tampak sangat girang. Air mata semakin berjatuhan dari kedua pelupuk mata Hyeobin. “Mianhae, Seung-ah. Dan gomawo. Mungkin kita belum ditakdirkan bersama. Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya kita pasti bisa bersama.”

“A… apa… maksudmu?”

Hyeobin tersenyum. “Aku percaya kau adalah pria yang sangat baik. Pasti kau akan mendapatkan yang lebih cantik, baik, dan lebih setia dariku.”

“Aku… masih tak mengerti.”

Ia mengkerutkan keningnya, lalu pandangan matanya tak sengaja menatap Kibum yang sedang berada di samping sebelah kirinya. “Ah, aku mengerti sekarang. Baiklah, jika itu keputusanmu.” Seungri berkata dengan mantap. “Kau… tidak marah? Atau melarangku pergi?”

Pria tersebut tersenyum hangat. “Bukankah sudah kubilang jika kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesarku? Jika kau lebih bahagia bersamanya, tentu aku akan mendukungmu. Sana, pergilah!” Ia masih berusaha tersenyum hangat. “Gomawo! Jeongmal gomawo!”

Hyeobin berlari kearah Kibum dan memeluknya. Kibum sedikit terkejut, namun akhirnya tersenyum lebar dan balas memeluk Hyeobin dengan erat.

*^*

[Epilog]

Pria itu meneteskan air matanya. Apalagi saat melihat dua sosok lelaki dan gadis saling berpelukan dengan erat. Perlahan, ia melangkah menjauh dari dua sosok itu dan berjalan ke sebuah danau yang masih berada dekat dari situ. Tepat saat ia melihat seorang perempuan sedang menangis di tepi danau itu.

“Kenapa kau menangis?”

Seungri bertanya hati-hati. Sang perempuan menatapnya lirih. “Kekasihku—lebih memilih gadis lain dibandingkan diriku. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum saat melihat mereka.”

Seketika senyum menghiasi bibir Seungri. “Kalau begitu kita sama.”

Perempuan itu bingung. “Eh?”

*^*^*^*^*^*^*^*

END

 

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Two)

[Chapter Two – New Generation]

 

Udara dingin menusuk tulang. Seluruh pelosok tampak putih. Cairan-cairan yang menyerupai balok kecil berjatuhan dari langit. Salju. Yah, salju memang tampak menyenangkan. Namun, jika sudah terbiasa tinggal di daerah bersalju, pandangan tentang hal itu akan berubah. Sepasang manusia tak henti-hentinya menggosokan tangan mereka yang sudah memakai sarung tangan tebal.

Pikiran sang gadis tak fokus. Entah mengapa, ada sesuatu yang familiar dengan negeri asing yang mereka tempati sekarang, New Jersey. Namun, sialnya, ia sama sekali tidak ingat apa itu. “Ada apa?”

Kim Hyeobin langsung menatap Lee Seungri yang tampaknya menyadari ketidak fokusan kekasih hatinya. “Gwenchana. Masih berapa lama lagi kendaraan tiba?” Ia bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin sebentar lagi. Molla~”

Seungri menjawab sembari menggenggam tangan Hyeobin erat, seakan takut gadis yang amat disayanginya membeku. Hyeobin tersenyum melihat betapa perhatiannya pria di sampingnya. Suara dering handphone berbunyi. Ternyata berasal dari telepon selular sang pria. “Aku angkat dulu ya.”

Gadis tersebut mengangguk. Ia tau pasti, yang meneleponnya adalah orang yang penting. Saat sedang larut kembali dalam pikirannya, Hyeobin bisa melihat sebuah van berlogo ‘Berkeley College’ sedang berhenti. Keluarlah puluhan orang—yang gadis itu pikir pasti mahasiswa—dan berhamburan tanpa tujuan yang sama.

“Ga… gadis balkon?”

Hyeobin merasa panggilan special-nya disebut. Ia menoleh dan. . .

“Sunbaenim?!”, sahutnya tak percaya. Lelaki di hadapannya sudah berubah menjadi lelaki yang lebih dewasa, lebih tinggi, dan lebih—tampan.

“Bagaimana kau bisa disini?” Ia bertanya dengan pandangan tak percaya. Kibum tersenyum gemas. “Bukannya sudah kubilang kalau aku akan kuliah disini. Mestinya sekarang aku yang bertanya padamu.”

Memory masa SMA seakan membludak masuk ke dalam otak gadis tersebut. Ingin rasanya ia menepak kepalanya sendiri. Jadi, ini penyebabnya ia merasa bahwa dari awal negeri ini tampak familiar. “Aku… ingin kuliah disini, oppa.” Gadis itu menjawab seraya tersenyum. Entah mengapa, ada rasa senang yang sedikit berlebihan saat akhirnya bisa melihat lelaki ini lagi—setelah sekian lama tak melihatnya.

“Jinjja?! Baguslah kalau begitu. Kau kesini sendiri?”

Pertanyaan Kibum barusan membuat Hyeobin tersadar. “Hyeo-ah!” Seungri berteriak sembari melangkah menuju mereka berdua. “Ah! Kenalkan, ini kekasihku.” Hyeobin tersenyum seraya menunjuk pria di sebelahnya. Hal itu—entah membuat hati Kibum merasa denyutan misterius di hatinya yang menyakitkan.

“Lee Seungri.” Pria tersebut memberikan tangannya, seraya tersenyum ramah. “Kim Kibum.” Sang lelaki juga balas tersenyum dan menjabat tangannya. “Kalian berdua… ingin kuliah disini? Mengapa dan dimana?”

“Kebetulan kami berdua diterima di university di New Jersey ini. Ada beberapa tawaran, tapi sepertinya kami akan kuliah di Bloomfield College.” Seungri menjawab dengan santai, dibalas anggukan Hyeobin. Kibum mengambil kertas dan pulpen dari kantungnya dan menulis sesuatu. “Ini nomorku. Jika kalian butuh bantuan disini, hubungi saja aku. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi, Seungri-ssi.”

Sang gadis dan pria menunduk kecil. “Sampai jumpa, sunbae!”

*^*

“Bagaimana jurusan Art-nya? Apakah kau suka?” Pria yang duduk dengan head-set kecil di telinganya, tersenyum. Gadis itu mengangguk kecil. “Aku sangat menyukainya. Masih tidak percaya aku bisa kuliah di luar negeri seperti ini. Bagaimana denganmu? Apakah kau suka jurusan dance-nya?” Seungri tersenyum dan mengelus rambut Hyeobin lembut. “Tentu. Dance adalah hidupku. Tentunya setelah dirimu.”

Hyeobin merasakan pipinya merona. “Apakah kau benar-benar serius kepadaku, Seung-ah?”, tanyanya pelan. Dalam hati, ia menyalahkan mulutnya sendiri yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Tentu saja aku serius, Hyeo-ah. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Ani, Seung-jagi. Aku hanya… tak percaya kita sudah menjadi sepasang kekasih selama tiga tahun ini. Semuanya berlalu begitu saja. Kau bagai permata berukiran indah yang dipajang di sebuah museum, sedangkan aku—hanya batu yang tergeletak begitu saja.” Gadis itu menatap makanan yang ada di depannya.

Pria tersebut tersenyum penuh arti. “Siapa bilang? Bagiku, kau adalah emas berlian dengan keindahan tak berhingga. Senyummu adalah hidupku. Dan air matamu adalah penderitaanku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dan kesedihanmu adalah kesedihan terbesarku. Jadi, jangan berkata hal-hal seperti itu lagi.”

Hyeobin mengangguk pelan. Air matanya turun secara tak terkontrol. Seungri menghapus air mata yang keluar dari mata Hyeobin, menatapnya dengan pandangan tanya.

“Jangan khawatir. Aku… hanya terharu.” Hyeobin berucap pelan. Membuat pria di hadapannya kembali tersenyum. “Kau sadar betapa manisnya dirimu?”

Senada dengan perkataan yang dilontarkan pria itu, wajahnya mulai mendekat. Membuat nafas sang pria bisa terasa jelas oleh gadis tersebut. Wajah mereka saling mendekat. Hyeobin—secara reflek—menutup matanya. Membiarkan bibirnya merasakan kegembiraan tak terhingga. “Ehem!”

Tepat satu centi lagi bibir mereka bertemu, suara dehaman membuat mereka terkejut. Ternyata suara yang berasal dari senior mereka. “Later, we will have committe meeting. You both must come. (Nanti akan ada rapat panitia jam tiga sore ini. Kalian harus datang).”

Mereka berdua sontak mengangguk. Wajah mereka berdua berubah warna menjadi sangat merah. “Kelasku akan segera dimulai. Sampai—jumpa, Hyeobinnie.”

“Ne. Aku juga. Sampai jumpa, Seung-ah.”

*^*

Our university will make an anniversary party. And, we will invite others university too. This is the lists. One person goes to one university, okay? (Universitas kita akan mengadakan pesta ulang tahun. Dan, kita akan mengundang universitas yang lain juga. Ini adalah daftarnya. Satu orang pergi ke satu universitas ya?)”

Semuanya mengangguk dan mulai bubar masing-masing. “Hyeo-ah, university apa yang ingin kau kunjungi?” Seungri bertanya di perjalanan keluar gedung. “I don’t know either. Berkeley College, maybe.

Seungri berpikir sebentar, lalu ingat jika sunbae yang ditemui mereka kemarin itu sekarang berkuliah di Berkeley College. “Mengapa kau ingin ke university itu?”, tanyanya, memancing. “Entahlah~ Mungkin karena university itu paling dekat dari sini.”

Dalam hati pria tersebut menyesali perbuatan sang gadis—yang ia tau sedang berbohong kepadanya. “Apakah tidak bisa kau berkata sejujurnya kepadaku?”, bisiknya pelan. “Aku pergi dulu ya, Seung-ah. Fighting!” Gadis itu langsung pergi menghilang dari hadapan sang pria, membuatnya tambah panas.

Excuse me, I’m from Bloomfield College. We want to send an invitation to this university. (Pemisi, saya dari Bloomfield College. Kita ingin mengirimkan undangan untuk universitas ini.)” Hyeobin tersenyum sembari memberi undangan kepada seorang rektor disana. “Ok, then. Just speak with our committes. They having a meeting in that room. (Baiklah kalau begitu. Bicaralah saja kepada panitia kami. Mereka sedang menjalani rapat di ruangan itu.)”

Gadis tersebut mengangguk dan mulai mengetuk pintu ruang rapat, kemudian masuk ke dalam ruangan. Ia bisa melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi sedang menjalankan rapat. Hyeobin menjelaskan tujuan kedatangannya dan akhirnya—setelah setengah jam lebih, keputusan berhasil diputuskan.

Nice to meet you.

Hyeobin menunduk kecil mendengar ucapan ketua panitia. Ia baru ingin pulang, sebelum melihat suatu pemandangan indah terlukis di balkon kampus itu. Rasanya itu semua seperti dejavu baginya. Pohon-pohon yang berlenggok dimainkan angin, burung-burung yang beterbangan tanpa arah, dan juga suara hembusan angin yang menenangkan hati.

“Gadis balkon!” Panggilan itu seakan membuat Hyeobin kembali terkejut.

“Kibum-oppa!”, dia memanggil lelaki yang sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. “Kita bertemu lagi.” Kibum berkata, sembari tersenyum kecil. “Ternyata kau masih belum berubah. Masih menjadi gadis balkon-ku.” Ia kembali berbicara. Hyeobin terkekeh pelan. “Tapi kali ini aku tak dapat menghiburmu lagi.”

“Kenapa?” Gadis tersebut bertanya, mengkerutkan keningnya. “Kau sudah mendapatkan pria yang kau cintai, bukan? Jadi, tak ada alasan untuk bersedih.” Hyeobin mengangguk, walaupun dalam hatinya ia merasa ada aura misterius yang terus mengetuk-ketuk hatinya dengan keras.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kembali berada di pikiran masing-masing. “Kau tinggal dimana?”, tanya sang pria, mencairkan suasana. “Di salah satu asrama. Aku dan Seungri tinggal disitu.” Gadis itu menjawab pelan. “Boleh aku mengatakan yang sejujurnya kepadamu, Hyeobin-ah?”

Gadis itu sedikit terbingung, namun memilih menganggukan kepalanya. Kibum membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Saat ia menyatakan perasaannya kepadamu, kebetulan aku berada disitu. Dan entah mengapa—rasanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada yang menusuk hatiku dengan pisau berkali-kali. Dan saat tau akan berpisah denganmu, rasanya hatiku merasakan kesedihan yang luar biasa. Melebihi kesedihanku saat harus berpisah dengan teman-teman yang lain.”

Lelaki itu terdiam sebentar. Sang gadis masih diam mendengarkan. “Dan saat berada disini, yang ada dalam pikiranku hanya dirimu. Seakan merasa—ada satu organku yang tertinggal. Awalnya, aku bingung tentang hal yang aku rasakan. Tapi, sekarang aku sadar. Aku sedang mencinta. Dan orang yang kucintai… adalah dirimu.”

Pupil bola mata Hyeobin membesar seketika.

“Aku tau… tak seharusnya aku mengatakan hal ini. Aku tau… kau sudah bersama orang yang kau cinta. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku selama bertahun-tahun ini. Jika hanya memendamnya, hatiku akan sangat menderita. Sekarang—walaupun kau tidak menerimaku, aku merasa sedikit lebih lega.” Kibum tersenyum simpul. Arah matanya masih ia arahkan ke bawah.

Hyeobin mengelus rambut Kibum lembut.

“Mianhae, oppa. Aku sama sekali tidak menyadari perasaanmu sebelumnya. Tapi, aku hanya menganggapmu oppa-ku. Tidak lebih dari itu. Jeongmal mianhae. Kuharap, setelah kejadian ini, kita masih bisa akrab seperti dulu. Karena jujur, hatiku sangat nyaman saat bersamamu.” Hyeobin menundukan kepalanya. Kibum tersenyum kecil dan mencubit pipi Hyeobin pelan.

“Ahhh~ Uri Hyeobin sudah dewasa ternyata. Kalau begitu, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tunjukkan saja jalannya. Arasso?” Lelaki itu menarik tangan sang gadis. “Tidak usah, oppa. Aku bisa naik taxi.” Dia menolak halus. Bersamaan dengan itu, suara petir menggelegar seketika. Hujan pun turun membasahi bumi dengan deras.

Membuat senyuman terukir di bibir si lelaki. “Tidak mungkin kan kau pulang sendiri dengan keadaan hujan deras seperti ini. Sudahlah, ayo aku antar.” Kibum menarik tangan Hyeobin kembali. Hyeobin mengangguk pasrah. Mereka berdua berjalan menuju mobil dengan cepat karena pasukan hujan yang turun tanpa rasa kasihan. Meninggalkan seseorang yang sudah kehujanan dengan perasaan bercampur aduk.

Di perjalanan, mereka hanya diam. Suara petir ditambah suara lagu yang sedang diputar di dashboard bersatu padu menjadi sebuah alunan yang menjadi backsound mereka.

“Bagaimana kehidupan SMA-mu setelah aku pergi dulu?” Kibum bertanya, berusaha mencairkan suasana. “Baik-baik saja. Seungri selalu ada untukku. Tadinya aku pikir ia hanya main-main denganku, tetapi ternyata—ia benar-benar serius. Banyak yang menentang hubungan kami berdua, apalagi trio Kangin, Yesung, dan Heechul; namun Seungri selalu melindungiku. Dan itu membuatku lebih baik.”

Entah mengapa, hati lelaki itu kembali merasa sakit saat mendengar sang gadis terus memuji pria lain di hadapannya. Dan pria itu—adalah pria yang memiliki gadis ini sepenuhnya. Bukan dirinya. Melainkan pria yang seratus persen menang darinya. Dari pertempuran yang bahkan tidak pria itu usahakan sama sekali.

“Sudah sampai. Gomawo, Kibum-oppa.” Hyeobin berucap pelan, kemudian membuka pintu dan keluar perlahan. Bisa terlihat gadis itu sempat tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Setelah sang lelaki itu pergi, Hyeobin langsung melangkah pelan menuju asrama mereka. Ia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia mulai memasak untuk makan sorenya hari ini. Tepatnya sebelum bel berbunyi secara tiba-tiba.

“Sia—Aigoo!!!” Hyeobin bisa melihat seorang pria sedang berdiri di pintu rumahnya dengan basah kuyup. Benar-benar kacau.

“Seungri-ah, gwenchana? Kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?” Hyeobin bertanya sembari mempersilahkan pria itu untuk masuk. “Sana, cepat ganti baju. Kau pasti sangat kedinginan. Kebetulan, ada beberapa pakaianmu yang tertinggal di asramaku.”

Pria itu mengangguk dan melakukan hal yang disuruh sang gadis. Setelah selesai, ia duduk di sofa. Hyeobin mengecek kening pria itu dan terkejut. “Panas sekali! Kau pasti sakit. Akan kuambilkan obat.” Gadis tersebut beranjak bangun, sebelum ditahan oleh tangan pria itu. Pria tersebut menarik tangan sang gadis dan menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi.

“Kenapa lama sekali baru pulang?”, tanyanya, sedikit serak. “Ra… rapatnya memang sedikit lama.”

Gadis itu berkata cepat. Bukannya ingin berbohong, namun akan lebih baik pria di hadapannya ini tidak tau yang sebenarnya.

“Rapatnya lama? Kau memang benar-benar tidak pandai berbohong, Hyeo-ah.” Seungri menarik nafas dalam. Hyeobin terpaku. Ada rasa keterkejutan mendalam di jantungnya. “Eh?” Hyeobin bertanya, masih bertingkah senormal mungkin.

Seungri tersenyum lirih. “Apakah rapat itu adalah duduk dan berbincang berdua bersama sunbae saat SMA?” Pertanyaan tersebut sontak membuat Hyeobin lebih kaget. Hatinya gelisah. Namun, tak bisa dipungkiri, ada rasa penyesalan di benak terdalamnya.

“Mianhae, Seung-ah. Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa diucapkan dari mulutnya.

“Jika tentang kau dan sunbae itu, aku tidak masalah. Yang aku masalahkan adalah—kenapa kau berbohong padaku? Tidak bisakah kau berkata yang sebenarnya? Aku juga sangat percaya kepadamu, Hyeobin-ah. Dan aku tau, aku tidak boleh terlalu mengkekangmu. Bukan salahmu jika kau ingin berbincang kembali dengan sunbae yang sudah lama tak kau temui. Tapi tolong, jangan berbohong padaku.”

Air mata turun perlahan dari pelupuk mata gadis itu. Ia menyesal. Sangat menyesal. “Mianhae. Jeongmal mianhae.” Gadis itu kembali berucap pelan. Seungri memeluk sang gadis, mendekapnya ke pelukan. “Gwenchana. Tapi, please, lain kali jangan bohongi aku. Ok? Jangan buat kepercayaanku hilang.”

Hyeobin mengangguk pelan.

“Aku janji. Aku memang sangat bodoh. Tak seharusnya, aku mengkhianati kepercayaan orang yang sangat kucintai dan mencintaiku sepenuh hati. Kau sangat pengertian kepadaku, tapi aku malah membalasmu dengan ini. Mianhae, Seung-ah.”

Seungri tersenyum hangat. Mereka berdua kembali berpelukan.

 

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter One)

[Chapter One – The Beginning]

Burung-burung berkicauan merdu di langit biru. Panas matahari menyinari bumi dengan terik. Menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan tengah hari. Angin berhembus pelan, senada dengan kicauan burung yang bergema ringan. Seorang gadis berdiri menatap langit. Rambutnya yang panjang, senantiasa dimainkan angin. Air matanya turun perlahan. Di balik raut wajahnya yang tenang, terdapat jutaan pikiran yang sedang berada dalam otaknya.

Gadis itu bangkit perlahan dan merentangkan tangannya keatas. Merasakan angin sedang merasuki seluruh permukaan tubuhnya. Ia menutup mata, berharap setelah membukanya, ia akan menjadi seekor burung yang bisa terbang leluasa di angkasa.

“Kau murid kelas satu?”

Pertanyaan dari seseorang membuat gadis tersebut tersentak dan kembali duduk, tanpa melirik orang yang bertanya. Ia merasakan orang tersebut duduk di sampingnya, namun ia tetap tak meliriknya. Bukan karena tidak mau, tetapi akan sangat memalukan baginya jika menunjukkan mata bengkak dan bekas air mata yang terlukis jelas di wajahnya.

“Kau belum menjawabku.” Orang itu berkata, dengan halus namun tegas. Ia mengangkat wajah gadis yang daritadi terus menunduk itu. “Kau menangis?”, tanyanya lagi, dengan nada sedikit kaget. Gadis itu masih diam. Orang tersebut mengerucutkan mulutnya, “Aku bukan penyiar radio.”

Ucapannya membuat gadis tersebut menatapnya dan mengkerutkan kening. “Maksudmu?”

Orang tersebut tersenyum. “Dari tadi aku bertanya dan berkata sendiri. Seperti penyiar radio yang hanya berkomunikasi satu arah.” Gadis itu tertawa kecil mendengar perkataan orang di sebelahnya. “Nah, jika kau tersenyum seperti itu, kau akan jauh terlihat lebih cantik. Jadi, jangan menangis lagi ya.”

Gadis tersebut mengangguk, pipinya sedikit merona. Baru pertama kali ini ada yang menyebutnya cantik. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Orang itu bangun dan berlari kecil. “Tunggu! Namaku Kim Hyeobin!” Gadis itu berteriak. Orang tersebut berhenti sebentar, melambai, kemudian kembali berlari. Meninggalkan gadis yang sekarang tersenyum.

*^*

[Hanguk Art School]

Gadis bernama Kim Hyeobin tersebut memasuki kelas sekolah barunya. Sudah cukup banyak orang-orang yang datang. Dan setengah dari mereka saling mengrobol dan menyapa. Ia memutuskan untuk duduk di tempat paling pojok, tempat yang paling dekat dengan jendela.

“Ya! Kau bersekolah disini? Appa-mu baru membobol bank?” Suara yang diiringi dengan tawa yang tidak asing, membuat gadis itu memutarkan lehernya. Seketika tubuhnya merasakan perasaan yang tidak enak. Tiga orang pria sudah berada di hadapannya. Tiga orang—yang sangat dikenalnya. Tampan dan kaya, namun hatinya? Nol besar! Mereka adalah teman sekelas gadis tersebut saat berada di SMP dahulu. Dan bisa dibilang—mereka adalah musuh terbesar gadis ini.

“Jangan begitu, Kangin-ya! Kita harus menyambut kedatangan penghibur kita. Jika ia tidak ada di SMP dulu, pasti kita tidak akan merasa terhibur. Ia adalah korban terempuk kita.” Kim Yesung berbicara lagi, menimbulkan tawa besar yang membuat gadis itu merasa risih. Beberapa orang-orang yang lain menatap gadis itu heran.

“Setidaknya Hyeobin-ssi lebih baik dari kalian. Ia berhasil meraih beasiswa untuk sekolah disini. Sedangkan kalian? Mungkin jika tidak ada bantuan dari orang tua kalian, kalian sudah lama menjadi gelandangan.” Ucapan seseorang membuat tiga trio sombong itu terdiam seribu bahasa. Mereka memutuskan untuk pergi, walaupun terdapat raut kemarahan yang terlihat jelas di wajah mereka.

Gadis tersebut menatap ‘sang penolong’ nya dengan sedikit kaget. “Ahh, Hyeobin-ah. Kita satu sekolah lagi? Baguslah kalau begitu.”, kata orang itu sembari berlalu, kembali ke rombongan teman-temannya. Orang itu tak sadar, bahwa gadis yang baru saja bicara dengannya sudah sangat merona.

“Terima kasih.”, bisiknya, sedikit telat. Orang itu—tepatnya pria itu—adalah orang yang selalu menolongnya semasa SMP. Pria tersebut tergolong pria yang diam, namun bakat seninya selalu dapat membuat seluruh gadis terpesona. Tak terkecuali dirinya.

*^*

Di ruang besar yang penuh dengan kaca di setiap sisi-sisinya, murid kelas satu memulai pelajaran pertamanya. Beberapa senior juga ada untuk membantu para guru. “Sebelum kita memulai pelajaran, sebaiknya kalian masing-masing menunjukkan kemampuan kalian terlebih dahulu. Kalian boleh sendiri atau berdua.”

Sang guru berbicara, membuat para murid sontak berhamburan memikirkan apa yang mau mereka tampilkan. Namun gadis itu hanya terdiam. Tidak seperti murid lain yang mengajak temannya untuk berdua. Karena, jujur, gadis itu belum punya seorang teman pun. “Mau bersama? Kita bisa menarikan dance yang dulu kita tampilkan saat perpisahan.”

Suara itu. Suara itu lagi-lagi membuat detak jantung gadis tersebut berdenyut keras. Bahkan sebelum ia melihat si pemilik suara. “Apakah kau tidak mau berpasangan dengan murid yang lebih hebat dariku?” Gadis itu bertanya, pertanyaan yang sangat disesalkannya. Pria dihadapannya mengerutkan kening. “Kau tidak mau berpasangan denganku?”

Seketika gadis itu mengangguk secepatnya. “Tentu saja aku mau, tapi—”

“Kalau begitu, aku akan memberi tau Park Saenim.”, katanya cepat. Tak sadar, gadis itu kembali tersenyum. Sentuhan tepat di bahu sebelah kanan, membuat ia sedikit terkejut. “Kau—gadis yang ada di balkon kan? Emm… Kim Hyeobin?”

Gadis tersebut menganggukan kepalanya seraya tersenyum. “Kau—orang yang menghiburku waktu itu.”

“Kalau begitu kenalkan. Kim Kibum imnida. Kelas tiga.”, ucapnya sembari tersenyum, menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis. “Kim Hyeobin imnida. Kelas satu. Annyeong hasimnika, sunbaenim.” Gadis itu menunduk pelan.

“Jangan terlalu formal begitu. Aku bukan lelaki lanjut usia.” Kibum tersenyum. Gadis tersebut tersenyum malu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong, Hyeobin-ssi.”, ia berkata lagi, sembari kembali membantu para guru. “Dia siapa?”

Hyeobin menoleh, bisa melihat pujaannya sedang berdiri dengan sebuah kertas di tangan kanannya. “Ohh, dia sunbae kita. Kebetulan, secara tidak sengaja, aku bertemu dengannya kemarin di balkon.” Gadis itu menjelaskan hati-hati. Menyebabkan pria tersebut mengangguk-angguk.

Bel panjang menyebabkan para murid terkejut. Park Saenim menyuruh semua murid untuk bersiap. Mereka mulai diuji satu-satu.

“Urutan 3! Kim Hyeobin dan Lee Seungri!”

Kim Hyeobin dan pria tersebut melangkah maju. Tiga trio sombong yang juga berada disitu, sedikit bersiul meledek. Sedangkan para perempuan, berdecak iri kepada gadis yang berhasil duet dengan pria idaman mereka itu. Hyeobin sedikit takut, namun pria tersebut membisikan sesuatu padanya. Bisikan yang sama pada waktu SMP dulu. “Jangan gugup. Bayangkan hanya ada kita berdua disini.”

Hyeobin mengangguk, kemudian tarian mereka pun dimulai. Mereka menari dengan elok dan senada dengan lagu yang dilantunkan. Membuat para murid, guru, serta senior-senior yang melihat mereka, terpana.

Great! So great!

Kim Saenim meneriakan pujiannya kepada mereka, diikuti tepuk tangan seluruh murid yang lain. “Sekarang kalian bisa melanjutkan ke ruang vocal.” Park Saenim menambahkan, membuat mereka langsung keluar dari ruangan.

Thanks.” Hyeobin memulai. Membuat pria itu—Seungri—mengkerutkan keningnya. “For what?”, tanyanya, tak mengerti. “For everthing. Tanpamu, pasti tarianku tidak akan sebagus ini.” Seungri tertawa kecil. “It’s okay. Itu gunanya teman, kan?” Dia mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya, dan langsung bergegas ke ruang vocal.

Hyeobin terpaku di tempat. “Teman? Hanya—teman?”, bisiknya seraya tersenyum pahit.

*^*

Angin berhembus lebih besar hari ini. Langit juga sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Burung-burung tampak berterbangan tak karuan. Gadis berusia enam belas tahun itu terdiam, menatap langit. Mungkin inilah hobby terbesarnya saat sedang galau. Ia masih mau berlama-lama di balkon sekolah barunya, namun dering ponsel membuatnya mengurungkan niat.

“Yoboseyo… Jinjja? Ne, arasso.”

Gadis tersebut menggembungkan pipinya, sembari melangkah turun perlahan. Tetes-tetes air hujan jatuh setitik demi setitik, menimpa permukaan kulitnya. Tiba-tiba, titik-titik air itu seakan menghilang. Gadis itu terbingung, lalu membalikan badannya ke belakang. Seseorang sudah menggenggam payung yang sekarang melindungi mereka berdua dari serangan pasukan hujan.

“Pulang ke rumah?”, tanya orang tersebut. Kim Hyeobin mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan mengantarmu.” Orang itu langsung menarik tubuh mungil gadis tersebut ke mobilnya. “Sunbaenim, mian merepotkan.” Kim Hyeobin menunduk pelan. “Panggil saja Kibum-ssi atau Kibum-oppa. Bukankah sudah kubilang agar tidak usah terlalu formal?”

Gadis tersebut mengangguk pelan. “Penampilanmu dance-mu tadi sangat hebat. Gerakan dirimu dan partner-mu sangat senada. Semuanya daebak!” Kim Kibum berbicara lagi, kali ini memuji gadis itu. Membuatnya tersipu. Wajah pria itu tiba-tiba berubah serius, “Boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit menyangkut masalah pribadimu.”

Ia menatap pria di sebelahnya, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kemarin… kenapa kau menangis?”

Hyeobin terdiam. Matanya kembali menatap pria tersebut, seakan mengukur-ukur apakah ia akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sedangkan pria itu masih menyetir sembari melayangkan pandangan tanya. Keheningan saat itu juga terjadi.

“Kalau kau tidak mau memberitahukan masalahmu, aku tidak akan memaksa.” Pria itu berkata lagi. Hyeobin  menghela nafas dalam-dalam. “Aku… menyukai seseorang. Ia… adalah bekas teman sekolahku di SMP. Menurutku, ia sangat perfect, dan itu malah membuat rasa percaya diriku ciut di depannya. Aku… tidak tau mau bagaimana. Aku takut suatu saat nanti, ia akan mempunyai orang yang ia cintai. Dan, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Kibum tersenyum kecil, “Apakah orang yang kau maksud adalah partner dance-mu tadi?”

Gadis itu membulatkan matanya. “Eh?! Bagaimana oppa tau?” Ia bertanya dengan polos. Sontak membuat pria di hadapannya tertawa. “Terlihat dari matamu saat memandangnya. Pandanganmu—tampak berbeda. Lebih dalam.”, ucap pria tersebut lembut. “Apakah sebegitu terlihatnya?” Sangrin bertanya, kelihatan panik.

Pria tersebut mengangguk. “Bahkan tertulis di keningmu.”, ucapnya bercanda. Namun, gadis di sebelahnya langsung terkejut dan mengusap-usap keningnya. “Benarkah?!”, tanyanya, masih panik. Membuat Kibum kembali tertawa. Suasana kembali tenang setelah itu.

“Yakinlah pada dirimu, Hyeobin-ah. Aku yakin… sikapmu, fisikmu, ketulusanmu, kepolosanmu, dan semua dari dirimu, akan selalu membuat orang lain mencintaimu.” Kibum tersenyum penuh arti, meninggalkan tanda tanya yang mendalam di hati Hyeobin. “Maksud oppa?”, tanyanya tak mengerti.

Kibum menunjuk sebuah rumah, menghiraukan pertanyaan gadis di sebelahnya. “Apakah ini rumahmu? Berarti kita sudah tiba. Sampai jumpa di sekolah besok, Hyeobin-ah.”

Hyeobin pun mengangguk dan melambai sebelum akhirnya masuk ke kamar. Dalam hati, ada sedikit tanda tanya yang mengerubungi. Kenapa ia merasa nyaman jika berada dekat dengan senior itu? Dan kadang-kadang malah melebihi rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama pujaan hatinya. Namun, ia langsung menepis pikirannya jauh-jauh. Itu adalah pemikiran yang bodoh, fikirnya seraya mencoba memejamkan mata.

*^*

Kim Hyeobin mengempaskan tubuh mungilnya ke kursi. Head-set masih terpasang di kedua telinganya. Lagu berjudul ‘My All Is In You’ itu memasuki lubang telinganya dan meresap hingga ke otak. Membuatnya merasa damai dan tenang. Ia baru saja ingin menutup mata akibat kantuk yang masih menyerang, sebelum seseorang menganggunya. Seseorang—yang special.

“Boleh bicara sebentar?”

Pria itu bertanya. Pandangan matanya sama sekali tak bisa ditolak oleh sang gadis. Pandangan yang entah mengapa selalu berhasil membuat  gadis di hadapannya terpaku. Mereka berhenti di sebuah kelas kosong yang sudah tidak dipakai. Pria itu menatap sang gadis dengan dalam. Bahkan, tak sedetik pun terlepas.

Angin-angin yang berhembus menjadi music pengiring mereka berdua. Keheningan berhasil menjadi kacau, saat pria tersebut menghela nafas dalam. “Aku. . . ”

Ia terlihat cukup gugup. Bisa terlihat dari tangannya yang tak berhenti bergerak dan sorot matanya yang berkeliaran ke berbagai arah. Gadis itu masih menunggu perkataan yang ingin dilontarkan sang pria.

“Saranghaeyo.”

Satu kata itu akhirnya berhasil dikeluarkan oleh sang pria. Membuat gadis di hadapannya terkejut sempurna. Rangkaian nadi gadis tersebut seakan terbelit rumit. Ia masih terdiam. Sungguh tak percaya dengan apa yang ia lalui saat ini. Apakah ini hanya candaan?, pikir gadis itu.

“Seungri-ssi… Jebal, jangan bercanda lagi.”, ucap gadis tersebut, dengan sedikit serak. Tatapan sang pria kembali tertuju kepadanya. “Apakah wajahku… kelihatan sedang bercanda?” Pria tersebut menatap gadis di hadapannya dengan dalam, serius, dan penuh kefokusan. Gadis itu sontak menggeleng. Tapi, ia masih tak percaya. Pujaannya—orang yang selalu ia impikan—sekarang sedang menyatakan perasaannya? Kepada dirinya?

“Seungr—”

Pria itu memotong ucapan gadis tersebut dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang gadis. Membuatnya lebih terkejut. “Please, just say yes or no.”, ucap pria tersebut. Reflek, gadis itu mengangguk cepat. Dan sang pria pun mendekap gadis itu dalam dekapannya. Mereka berdua berpelukan—dengan hangat dan penuh cinta.

Ohh… Great~

Seorang lelaki berdiri di pojok ruang kelas tersebut. Pandangannya menatap dua juniornya yang sedang saling berpelukan. Dan entah mengapa, membuat hatinya sedikit panas.

*^*

Berpuluh-puluh hari telah berlalu sejak hari itu. Sekarang, mereka sudah melewati akhir tahun pelajaran mereka. Malam ini, adalah malam yang special, terutama untuk murid kelas tiga yang akan meninggalkan sekolah untuk menuju jenjang yang lebih tinggi, university.

Lagu berdendang riang memenuhi ruangan besar yang sudah disulap menjadi arena pesta. Semua murid kelas akhir tertawa bersama, menangis bersama, saling berpelukan, dan bercanda ria. Gadis itu terdiam. Menonton aktivitas menarik para seniornya. Tangannya digenggam erat oleh seorang pria. Pria yang sudah delapan bulan ini menjadi kekasih dan pendampingnya.

Dalam hati gadis itu ada rasa gusar yang bahkan tidak ia ketahui penyebabnya. “Aku akan ke… toilet dulu.” Gadis itu pamit kepada sang pria. Dibalas dengan anggukan kecil dari pria tersebut. Kim Hyeobin berjalan perlahan menuju toilet. Ia membasuh wajahnya disana. Setelah merasa lebih lega, ia keluar dari toilet dan langsung kembali melangkah menuju ‘pendamping’ nya.

“Gadis balkon!”

Suara seorang lelaki membuat gadis itu terkejut dan memberhentikan langkahnya. Di hadapannya sekarang sudah berdiri seorang lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. “Kibum-oppa.”, panggilnya pelan. Membuat lelaki yang dipanggil tersenyum lebar. “Mianhae.”

Gadis tersebut menatap sang lelaki bingung. “Kenapa meminta maaf?”

“Setelah aku pergi, tak ada orang yang akan menemanimu lagi di balkon itu. Dan tak ada lagi orang yang akan menghapus air matamu.” Dia berucap sembari tersenyum, menatap gadis itu dengan pandangan dalam. Gadis tersebut balas tersenyum, entah mengapa membuat tulang rusuk lelaki itu ngilu sesaat. “Mungkin ini terdengar lucu, tapi kau adalah gadis pertama yang sedekat ini denganku.”

“Jinjja?” Gadis itu bertanya dengan pandangan tak percaya, membuat lelaki itu kembali merasa ngilu. “Kapan kita bisa bertemu lagi?”, lanjut gadis itu pelan. Lelaki itu terdiam. Bukan karena tidak mau menjawab, namun ia sendiri belum tau tepatnya kapan mereka akan kembali bertemu. “Aku… juga tidak tau. Aku akan melanjutkan kuliahku di New Jersey. Kebetulan… appa-ku kerja disitu.”

Entah mengapa, perkataan lelaki tersebut membuat sang gadis merasa perih. “Jadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?” Hyeobin bertanya langsung to the point. “Kalau begitu, sampai jumpa, sunbae. Semoga kau berhasil.”

Kim Hyeobin melangkah meninggalkan Kim Kibum yang masih membeku. “Dan… semoga kita bisa bertemu lagi.”, bisik gadis itu lirih.

“Kenapa lama sekali?” Lee Seungri—pria yang daritadi menunggu—tersenyum. Hyeobin hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman manis.

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Annyeong, semua~~~ Comment seperti biasa ya…

@Hyeobin-onn : Tadinya itu ff antara aku, Siwonnie, dan Woo… Tapi akhirnya kuputuskan untuk kasih ke onn~ Hehehehe~~~ Semoga suka… ^^