Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Kibum’

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Five)

“Ini…”

Pemuda itu terkaget, menunjuk tempat dimana ia berpijak. Membuat seseorang lagi tersenyum ringan. “Ini adalah dimensi yang dibuat sendiri oleh Sihyun-sunbaenim. Indah, bukan? Aku masih ingat saat pertama kali sunbae mengenalkan tempat ini padaku. Dulu aku masih amat kecil.”

Orang itu tersenyum manis kepada pemuda di sebelahnya. “Ta-tapi, bukannya Sihyun itu sudah mati berpuluh-puluh abad yang lalu? Bagaimana… bisa?” Pemuda tersebut membuka matanya lebar-lebar, sontak membuat orang di sebelahnya kembali menyunggingkan senyum. “Aneh, bukan? Ini mungkin tidak masuk akal, tetapi walaupun 4 Ksatria Agung itu menghilang selama berpuluh-puluh abad ini, mereka masih belum dikatakan ‘mati’, dan tak ada yang bisa menyangkal hal itu.”

“Mereka belum… mati? Lalu, dimana mereka? Jika mereka belum mati, bukankah seharusnya mereka yang menjaga dunia ini?”

Sungmin—orang itu memutar bola matanya. “Ah, kau benar. Mereka memang sedang melakukannya, Kyu-ssi.” Pemuda itu terbelalak. “Sedang melakukannya?! Tapi, dimana mereka?” Sungmin kembali tersenyum, perlahan maju dan menyentuh tubuh Kyuhyun. “Mereka ada di jiwamu, dan juga jiwa teman-temanmu. Mereka turut andil bersama kalian.”

Kyuhyun mendengus, sedikit kecewa dengan ucapan Sungmin barusan. “Sekarang, marilah kita mulai pelajaran kita. Misimu sangat mudah. Cobalah keluar dari dimensi ini dan kembalilah ke tempat semula. Kau harus keluar dari dimensi ini sebelum matahari terbit, arasso?”

Orang itu bergegas melangkah. “Tunggu! Apa yang harus kulakukan untuk kembali? Dan apa yang akan terjadi jika aku terlambat?”

“Untuk kembali, kau harus mengaktifkan kemampuan pikiranmu. Dan jika kau terlambat, maka nasibmu akan sama dengan ini.” Sungmin mengangkat tangannya. Seekor burung entah darimana hinggap ke kepalan tangannya. Tak lama, dalam telapak tangannya muncul kobaran api, sontak membuat burung tak berdaya itu terbakar sempurna.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar. Sungmin tersenyum—yang lebih tampak sebagai seringai—dan akhirnya menjentikkan jarinya, langsung menghilang entah kemana.

+++

Donghae terus berjalan, tanpa tau kemana atau dimana dia berada. Perkataan Youngwoon masih terngiang-ngiang dalam kepalanya.

“Dalam jangka waktu hingga matahari terbit, kau sudah harus kembali ke tempatmu semula di ruang rahasia kita. Jika tidak, kau akan tau sendiri apa yang akan kau terima. Temukanlah semuanya dengan kekuatanmu.”

“Kekuatan? Tadi, katanya kekuatanku adalah penyerang. Jadi, aku harus menyerang? Tetapi, menyerang siapa?”

Dia terus berjalan. Masih banyak misteri yang mengerubungi kepalanya, namun ia memilih diam dan terus melangkah. Anehnya, rasa kantuk, lapar, atau lelah sama sekali tidak ditemui selama perjalanan. Tak sadar, langit sudah berubah gelap. “Kau ada disini?”

Suara seseorang hampir saja membuatnya terkaget. “Kibum? Kau ada disini? Kupikir… kita dikirim ke dimensi berbeda?”

Orang itu—Kibum mengangguk. “Aku juga berpikir begitu.”

“Kalian ada disini?!”

Mereka berdua menoleh, bisa melihat Siwon dan Kyuhyun melangkah mendekat. “Kalian ada disini juga?” Donghae menatap mereka bingung. “Jika kita berada pada dimensi yang sama, kenapa kita dikirim secara terpisah?” Ia melanjutkan. Siwon, Kyuhyun, dan Kibum mengangkat bahunya, juga tidak mengerti. “Lebih baik kita ke air terjun sebelah situ!”

Kibum menyarankan, dibalas anggukan Kyuhyun, Donghae, dan Siwon. Setelah sampai, mereka tertegun. Air terjun tersebut sangat dalam. Jika salah satu dari mereka jatuh, maka akan dipastikan tidak selamat.

“Aku punya ide! Bagaimana jika kita bermain sebuah game.”

Donghae menaikkan alis. “Game?”

“Yap! Kita harus saling menjatuhkan ke dalam air terjun. Siapa yang bisa menjatuhkan lawan ke air terjun, maka dialah pemenangnya.” Kyuhyun menjelaskan, membuat Donghae semakin menaikkan alis. “Boleh!” Kibum dan Siwon menjawab bersamaan.

“Apakah kalian gila?! Siapa yang terjatuh ke air terjun itu akan mati. Lebih baik kita mencari cara agar bisa pulang sebelum matahari terbit.” Donghae menyarankan, namun mereka bertiga tetap di tempat. “Ayolah, ini kan hanya permainan.” Siwon menyeringai seraya melangkah menuju Donghae.

Kibum, Siwon, dan Kyuhyun menarik Donghae dan mendorongnya tepat ke air terjun. “A-pa yang ka-kalian lakukan?!” Ia berteriak dan mengeluarkan seluruh tenaganya, membuat ketiga temannya terlempar ke belakang.

“Apa kalian telah dirasuki sesuatu?! Sadarlah!”

Donghae berbicara. Perlahan Kibum, Kyuhyun, dan Siwon kembali bangun dan tersenyum riang. “Kita… masih bermain kan?”

Mereka bertiga kembali mendorong Donghae, membuatnya kembali memekik. Seluruh tubuhnya hampir terlempar, sebelum ia merasakan aura aneh keluar dari tubuhnya. Aura aneh yang mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya, membuatnya merasakan kekuatan yang berbeda dari biasa. Seketika itulah, kekuatannya memuncak dan dengan sekali hentakan, ketiga temannya terjatuh ke air terjun.

Perlahan aura itu kembali memudar. Donghae menatap air terjun itu dengan dalam. “Apakah aku baru… membunuh ketiga temanku?”

Dia melanjutkan langkahnya dengan terseok-seok, tak percaya akan apa yang baru saja dia alami. “Good job, Lee Donghae! Sekarang, masuklah ke dalam tabung yang ada persis di depanku. Tabung itulah yang akan membawamu kembali.”

Sebuah suara membuatnya terkejut. Ia menengok ke segala arah, namun tampaknya suara itu tidak ada sumbernya. Dengan cepat, ia pun berlari kearah tabung itu, memikirkan apa yang akan dia jelaskan kepada para orang itu bahwa ia telah membunuh ketiga temannya.

Rasa pusing kembali terjadi saat ia berada dalam tabung. Hingga akhirnya, ia kembali ke ruang rahasia itu. “Bravo, Lee Donghae! Kau berhasil mengaktifkan kekuatanmu!” Jungsoo langsung tersenyum ceria. Begitu pun Youngwoon, Jongwoon, dan Sungmin. Donghae hanya mengangguk, kemudian meneguk ludah.

“Ada apa? Kau tampak tidak senang.”

“Aku… aku telah membunuh Kibum, Kyuhyun, dan Siwon. Aku benar-benar tak sengaja. Sungguh! Kekuatan itu yang membuatku tidak sadar dan. . .”

Sebelum Donghae berbicara, Youngwoon menempatkan jarinya, menyuruh Donghae diam. “Maksudmu, ini?” Sungmin menutup matanya, dan tiga orang muncul seketika di depannya. “Siwon, Kyuhyun, dan Kibum?!” Donghae menunjuk tiga orang itu. Lalu, Sungmin membuka matanya dan seketika tiga orang itu menghilang.

“Apa itu?” Sungmin tersenyum kecil. “Itu adalah replika visual teman-temanmu. Terbentuk dari pikiran-pikiran.” Donghae menyipitkan matanya. “Jadi, yang tadi melawanku… adalah replika visual?”

“Benar!” Kyuhyun tersenyum sembari keluar dari tabung. “Tapi, kenapa kau sudah tau, Kyu-ah?” Donghae bertanya, bingung. “Karena aku juga tipe pemikir, dan sekarang aku juga sudah tau bagaimana membuat replika visual itu.” Kyuhyun menutup mata dan munculah replika seekor harimau. Ingin menyerang Donghae. Donghae memekik, dan kemudian meninju harimau itu, membuatnya jatuh dan menghilang.

“Wuahh! Kekuatanmu keren!” Kyuhyun terpana, saat Donghae menggunakan kekuatannya. “Kalian… ada disini? Jadi, yang ada di dimensi itu. . .” Siwon dan Kibum keluar bersamaan dari tabung, terkejut. Sontak membuat Kyuhyun dan Donghae tertawa, kembali menjelaskan semuanya.

“Aku masih tak percaya mereka itu akan menyelamatkan dunia.” Youngwoon berbicara, masih menatap keempat pemuda tersebut. “Tapi, mereka benar-benar reinkarnasi 4 ksatria itu. Kita belajar kekuatan selama bertahun-tahun, tetapi mereka bahkan hanya dalam waktu kurang dari sehari! Luar biasa.”

“Kita lihat saja nanti apa mereka memang bisa.” Sungmin melanjutkan, tersenyum kecil.

*To Be Continue~

@All : Kali ini rada pendek… Tapi tetep komen ya~ ^^ Gomawo~~~

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Four)

Sinar mentari menembus jendela, membuat cahaya berpendar yang membuat keempat lelaki berusia belasan tahun itu terbangun. Kyuhyun—yang terbiasa bangun pagi, mulai bangkit duluan dan mengusap matanya. Tak lama, ketiga teman barunya mulai bangun pula dengan rasa malas. “Jam berapa ini?” Donghae bertanya, seraya menguap malas.

“5.30.” Kyuhyun menjawab dengan santai. Namun Donghae, Siwon, dan Kibum seketika membesarkan mata mereka. “Masih jam 5.30?! Pagi sekali!” Kibum berteriak kecil sembari mulai berbaring kembali. “Lebih baik aku tidur lagi.” Siwon melanjutkan, dibalas anggukan Donghae dan Kibum. “Andwae! 3 orang itu menulis catatan untuk kita agar siap pada jam 5.35 untuk sarapan.”

Mereka bertiga kembali bangun. “Aishh! Apa tidak bisa ia memberikan waktu santai kepada kita sebelum perlawanan besar-besaran itu?”

Kyuhyun membuka pintu dan mereka semua keluar dari kamar itu. Melangkah pelan hingga ke ruang makan. Disana sudah ada 3 orang itu. Sedang asyik sarapan sembari berbincang bersama. “Kalian sudah datang?” Jungsoo bertanya, membuat mereka semua terkaget. Karena bahkan, orang itu belum melihat mereka sama sekali.

“Silahkan duduk.” Jongwoon menggerakan tangannya dan membuat keempat kursi terbuka, siap untuk diduduki. Mereka kembali terkejut. Bagaimana orang itu menggerakan kursi hanya dengan tangan?

Setelah duduk, mereka bisa melihat piring sudah tersedia di depan mereka. Seluruh lauk pauk beterbangan dan seketika sudah berada di piring masing-masing. “Cho Kyuhyun tidak suka sayuran.” Youngwoon berucap kepada Jongwoon, membuatnya menggerakan tangannya lagi. Kali ini sayur itu diarahkannya ke piring Donghae, yang memang sangat suka sayuran. Membuat mereka malah tidak makan. Hanya memandangi piring dan ke-3 orang itu secara bergantian.

“Masih banyak hal di dunia ini yang tidak kalian ketahui.” Jungsoo berbicara, seakan mengetahui pikiran mereka. Atau ia memang mengetahuinya? Entahlah. Yang penting, ini semua benar-benar terasa aneh bagi mereka berempat. “Tunggu apa lagi? Ayo makan!” Youngwoon melanjutkan, membuat yang lain mengangguk.

“Tenang, tidak akan ada racun lagi.” Jongwoon berucap, kembali menjawab pertanyaan mereka berempat dalam hati. Mereka pun mulai makan, walaupun mereka masih sangat tidak percaya dengan ini semua. Setelah selesai, Jungsoo bangkit dari kursinya, mengambil cawan berisi air dan menaruh tangannya di dalam cawan tersebut. Ia membasuh luka di leher Donghae dan kaki Siwon dengan sekali cipratan. Dan keajaiban kembali terjadi. Luka itu hilang tak berbekas.

Berhasil membuat mereka berempat melebarkan mulut secara sempurna. “Kalau sudah makan, lebih baik kalian ikut kami.” Youngwoon bergumam sembari melangkah keluar ruang makan. Diikuti Jongwoon dan Jungsoo. Mereka berempat mengangguk, masih setengah kaget dengan apa yang baru mereka lihat.

Jungsoo menyentuh sebuah tembok diantara ruang makan dan ruang yang entah apa namanya, hingga akhirnya tembok itu terbelah dan munculah sebuah ruang di dalamnya. Berhasil membuat mereka kembali membuka mata dan mulut mereka lebar-lebar.

Di dalam ruang tersebut, terdapat banyak sekali benda misterius, yang bahkan sama sekali mereka tak pernah lihat sebelumnya. Saat mereka semua sudah masuk, tembok yang terbelah tersebut kembali tertutup rapat, seakan tak pernah terbuka sebelumnya. Rapat tanpa bekas patahan atau belahan. “Ini masih terlalu dini untuk kalian terkejut seperti itu.” Jongwoon berucap, membuat mereka terdiam.

“Masih banyak hal di dunia ini yang seratus juta kali lebih misterius dan aneh daripada tembok itu, atau sekedar cawan berisi air yang bisa menyembuhkan luka tersebut. Hanya saja manusia biasa seperti kalian yang bahkan tinggal di dunia ini sejak lama, dibiarkan buta dan tuli terhadap semua keajaiban yang ada di dunia ini.” Jungsoo menjelaskan. Kyuhyun melangkah. “Tapi… kenapa kita—maksudku manusia biasa, dibiarkan tuli dan buta?”

Youngwoon tersenyum, lalu menatap mereka. “Karena menurut siapapun yang menciptakan dunia ini, manusia biasa belum mempunyai tanggung jawab yang pantas untuk menikmati semua keajaiban ini.”

“Kalau begitu… kami pantas?” Kibum bertanya dengan hati-hati. Jongwoon terkekeh pelan. “Karena kalian bukan manusia biasa, kami tidak tau itu.”

“Bukan… manusia biasa?” Siwon bertanya, melanjutkan pertanyaan Kibum. Youngwoon mendengus. “Bukankah kemarin kami sudah menjelaskan bahwa kalian itu reinkarnasi dari keempat ksatria terhebat sepanjang masa?”

Donghae terpaku. “Bagaimana… kalau kami orang yang salah?”

“Kalian meragukanku? Aku yakin penelitianku selama berpuluh-puluh tahun ini tidak salah.” Jungsoo berbicara, membuat keadaan menjadi hening.

“Tapi… bagaimana kalau seandainya kau salah?” Kyuhyun bertanya pelan. Jungsoo, Jongwoon, dan Youngwoon tersenyum, meskipun lebih terlihat seperti menyeringai. “Maka kalian tetap harus berjuang, karena bagaimanapun semua tanggung jawab penduduk bumi ada di tangan kalian… mulai sekarang.”

Mereka menelan ludah saat mendengar ucapan terakhir dari Jongwoon. “Lebih baik kita ke ruang rapat. Sebelah sini.” Jungsoo mencairkan suasana dan mempersilahkan mereka duduk. “Karena lawan yang akan kalian hadapi adalah lawan yang sangat hebat dalam sejarah, maka kalian harus dilatih secepat dan sehebat mungkin—bahkan harus melebihi kami.”

“Bagaimana caranya?” Kibum bertanya, sedikit ada rasa keraguan dalam nada bicaranya. “Pada dasarnya, kalian sudah mempunyai kekuatan kalian sendiri. Kami hanya akan mengembangkannya sejauh mungkin.” Jongwoon berucap. “Kekuatan?”

Youngwoon mengangguk. “Tentu saja. Kemarin sudah kubilang bukan jika kalian punya kekuatan kalian masing-masing? Bahkan, pada dasarnya semua manusia sudah mempunyai kekuatan masing-masing. Hanya saja mereka tidak tau kekuatan mereka sendiri dan tidak bisa mengembangkannya.”

Jungsoo maju satu langkah dan tersenyum pada mereka. “Donghae, kau adalah tipe penyerang. Dan Youngwoon akan mengajarimu.”

Donghae meneguk ludahnya, menatap Youngwoon yang juga sedang menatapnya. “Ayo, kita mulai!” Youngwoon mulai melangkah menuju sebuah tabung bewarna merah, dan Donghae mengikutinya. Mereka berdua masuk ke tabung tersebut dan menghilang. “Kemana… mereka?” Kibum bertanya pelan. Kyuhyun dan Siwon juga menatap Jungsoo dan Jongwoon, mempunyai rasa penasaran yang sama.

“Ke dimensi lain. Dimensi yang akan membuat latihan kalian menjadi lebih mudah.” Jongwoon menjawab. “Sekarang Siwon? Kau adalah tipe pengontrol. Dan Jongwoon akan membantumu.” Jongwoon langsung berjalan menuju tabung bewarna biru. Siwon melangkah pelan dan memasuki tabung itu. Dan, blshh! Mereka juga menghilang, seakan ditelan bumi secara tiba-tiba.

“Kibum, kau adalah tipe perencana. Dan aku yang akan membantumu.” Jungsoo melangkah menuju depan tabung bewarna kuning, kemudian berbalik. “Untuk Kyuhyun, kau adalah tipe pemikir, dan seseorang dari negeri seberang akan membantu.” Jungsoo berucap cepat, sembari mempersilahkan Kibum masuk ke tabung itu. Dan—mereka juga hilang.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke segala arah. “Seseorang dari negeri seberang? Siapa itu?” Ia berucap pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku—orangnya.” Seseorang tiba-tiba muncul di depan Kyu, membuatnya hampir terkena serangan jantung. “Kau…?”

Orang itu tersenyum. “Kenalkan, namaku Sungmin dan aku akan membantumu.” Ia melangkah santai ke tabung yang terletak paling pojok, bewarna putih. Kyuhyun mengangguk dan blshhh! Ratusan burung seakan menghujaninya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, dan ketika membuka mata, ia terpekik ringan.

“Ini?”

 

+++

 

Donghae membuka mata dan secercah sinar menyambutnya. Dia menolehkan pandangannya kepada Youngwoon yang berdiri tegak di sampingnya, seakan tidak ikut terbawa oleh tabung misterius itu. “Bagaimana? Inilah dimensi yang kupakai untuk latihan hingga sekarang.” Youngwoon berucap, menyunggingkan senyum. Mungkin senyum tulus pertama yang ia keluarkan.

 

+++

 

Jongwoon bersenandung riang. Tersenyum pada Siwon yang sedang membuka matanya lebar-lebar. “Ini… tempat apa?” Jongwoon kembali tersenyum dan menepuk bahu Siwon. “Tempat yang paling menyenangkan… tentu saja menurutku.” Siwon menatapnya aneh, namun Jongwoon hanya terkekeh ringan, kembali menyandungkan lagu ceria yang jujur saja sangat merdu.

 

+++

 

Dua orang itu berdiri. Salah satu diantaranya mematung. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia melihat sesuatu seperti ini. “Apa… ini?” Jungsoo tertawa. “Itu juga yang aku katakan saat berada tepat di posisimu.” Ia berjalan pelan dan melirik ke kanan dan kiri. “Siapa yang menciptakan dimensi seperti ini?”

Jungsoo kembali tersenyum. “Tentu saja dimensi ini adalah buatan reinkarnasimu. Empat orang terhebat dalam sejarah dunia.”

 

*To Be Continue~

 

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Three)

[Chapter Three – End Of Everything]

 

Hari-hari setelah itu berlalu cepat. Salju telah berganti oleh mekarnya bunga-bunga. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi yang indah. Bloomfield College sedang sangat sibuk dengan perayaan ulang tahun kampus mereka yang memang akan dijalankan hari ini.

Everyone’s ready? (Semuanya siap?)” Ketua panitia bertanya dengan lantang. “Yes!” Semuanya menjawab dan saling bertepuk tangan sebelum bersiap dalam posisi dan tugasnya masing-masing. “Aku akan mengurus pintu depan. Bye-bye, Hyeo-ah~” Seungri pamit seraya melambaikan tangannya. Hyeobin mengangguk kecil dan langsung kembali kepada pekerjaan semulanya.

Can I have one? (Boleh aku minta satu?)” Suara seorang lelaki mengagetkan Hyeobin. “Of cour—Kibum-oppa?!” Seketika gadis itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Kibum lagi, demi kebaikan dirinya dan Seungri. “Of course, Kibum-ssi.” Dia menjawab seformal mungkin dan memberikan beberapa makanan yang memang sudah disediakan.

Kibum mengambil makanan itu sembari menaikan alisnya. “Kenapa kau jadi formal begitu? Bukankah sudah kubilang jangan memakai formalitas.”

“Gwenchana, Kibum-ssi. Aku lebih suka begini.” Hyeobin menjawab hati-hati. Sebenarnya, entah mengapa hatinya tidak ingin menjauhi lelaki di hadapannya ini; namun ia harus melakukannya. Lagi-lagi demi hubungannya dan Seungri.

“Apakah ada kesalahan yang kuperbuat? Atau—karena masalah di balkon kemarin? Mianhae, Hyeobin-ah. Kan sudah kubilang kita masih bi—”

“Ani. Bukan masalah itu. Hanya saja… aku tidak mau terlalu dekat lagi denganmu. Dari awal, kita hanya sunbae dan hoobae.”, potong Hyeobin cepat. Jujur, hatinya sedikit merasakan gejolak aneh saat mengatakan hal itu. Seperti rasa sakit? Entahlah.

Kibum sedikit terkejut mendengar perkataan Hyeobin. “Jinjja? Ini bukan karena Seungri kan? Apakah dia berkata kepadamu untuk menjauhiku?”

Sontak gadis itu menggeleng. “Dia sama sekali tidak menyuruhku menjauhiku. Ini keinginanku sendiri.” Ia menjawab pelan.

Kalimat yang baru saja ia katakan memang ada benar dan salahnya. Seungri memang tidak menyuruhnya untuk menjauhi Kibum. Tapi, ini bukan keinginannya untuk menjauhi lelaki yang sudah seperti oppa-nya sendiri. Bahkan, bisa dibilang ia merasa lelaki ini lebih istimewa dari ‘oppa’.

“Ok, kalau begitu. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi. Senang bisa mengenalmu. Mungkin aku bodoh, tapi jika kau berubah pikiran dan mulai membuka hatimu kepadaku, datanglah ke taman dekat sini seminggu lagi pada jam lima sore. Minggu depan adalah hari ulang tahunmu kan? Jika kau tidak datang, aku berjanji akan menghilang dari kehidupanmu, Hyeo-ah.”

Lelaki itu berbalik dan menjauh dari sang gadis. Membuat gadis tersebut—entah mengapa merasa hatinya pedas. Suatu kebingungan mengganjal dirinya. Apakah ia akan pergi—atau tidak? Sepintas hatinya mengatakan: ‘Untuk apa ia pergi? Toh, hatinya hanya untuk Seungri~’ tapi sepintas lagi ia ingin pergi. Ada rasa menyesal dalam hatinya jika ia memutuskan untuk tidak pergi.

“Hyeobin-ah, ottokhae? Apakah pegal? Kau bekerja sibuk sekali.” Seungri muncul entah darimana dan langsung tersenyum ramah. Hyeobin langsung tersenyum lebar. “Gwenchana. Semuanya sudah hilang saat melihat wajahmu.” Seketika mereka tertawa. “Aku baru tau ada gadis yang bisa menggombal.”

“Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Mereka berdua kembali tertawa. “Acaranya sudah selesai, ayo kita pulang. Nanti aku akan memasak makanan enak untukmu.”

Sontak Hyeobin melirik Seungri. “Kau? Memasak? Sejak kapan?” Seungri merubah ekspresinya menjadi cemberut. “Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Ia mengikuti persis ucapan Hyeobin dan mereka berdua kembali tertawa. Dalam hati ia menggumam: ‘Kurasa akan lebih baik jika tidak pergi.’

*^*

“Hyeobin-ah, ireona! Palli!”

Gadis itu membuka matanya dan langsung bisa melihat seorang pria sedang berada persis di hadapannya. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Hyeobin terkejut dan reflek mendorong Seungri hingga menabrak tembok.

“Aigoo, Hyeo-ah. Aku hanya ingin mengatakan happy birthday kepadamu. Kau pikir aku akan melakukan yang macam-macam kepadamu?”

Hyeobin tersenyum innocent sembari membantu membangunkan Seungri. “Mianhae, Seung-ah.” Seungri langsung tersenyum ketika melihat senyuman polos dari bibir Hyeobin. “Gwenchana. Saengil chukae, nae jagi. Saranghae.”

Pria tersebut mencubit pipi Hyeobin pelan. “Gomawo, nae jagi. Na tto saranghae.”

Mereka berdua berpelukan sebentar, lalu saling mengecup. “Sebentar! Tutup matamu. Aku punya kejutan.” Hyeobin mengangguk dan menutup matanya. “Sekarang buka matamu!” Gadis itu membuka mata dan terkejut. Ia bisa melihat sebuah kue berlapiskan coklat dan cream dengan tulisan ‘19’ sedang dibawa oleh seorang pria. Pria yang istimewa. “Seungri~”

Make a wish, Hyeo-ah.”

Gadis itu mengangguk dan mulai membuat permohonan. “Sudah selesai?” Seungri bertanya. Hyeobin mengangguk pelan. “Sekarang, tiup lilinnya.”

Hyeobin dan Seungri meniup lilinnya bersama-sama. Lalu, Seungri menyingkirkan tulisan ‘19’ itu dan langsung menaruh kuenya di meja. Ia mencolek coklat kue itu dan mengoleskannya di kening Hyeobin. “Ahhh! Lee Seungri!!!”

Seungri tertawa. Hyeobin mencolek cream di kue itu dan mengoleskan ke pipi Seungri. Mereka berdua pun saling mengoleskan coklat dan cream hingga seluruh wajah mereka penuh dengan noda. Setelah lelah, mereka berdua berbaring di kasur. Saat saling menatap, mereka berdua akan tertawa akan hasil colekan mereka berdua.

“Hyeobin-ah.”

“Ne?” Gadis itu menatap Seungri. “Aku pamit dulu ya. Pagi ini ada jadwal kuliah. Jika lapar, aku sudah menyiapkan sesuatu di kulkas.” Hyeobin mengangguk dan tersenyum. Menyadari betapa sweet kekasihnya. “Sampai jumpa~” Seungri mengecup kening Hyeobin dan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya keluar. Hyeobin langsung membuka kulkas dan bisa melihat sepotong roti sudah tersedia untuknya. Disitu juga ada selembar kertas.

Aku tau ini terburu-buru; tapi maukah kau menjadi tunanganku, Hyeo-ah? Aku merasa kita sudah cocok. Aku juga sangat mencintaimu. Jika kau mau menjadi tunanganku, datanglah sore ini jam lima ke taman dekat sini. Tapi jika kau merasa kita tidak bisa bersama lagi, jangan datang. Aku akan menunggu~

N.B. : Aku harap kau datang. Saranghae~ ^^

Hyeobin tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Ada rasa kebahagiaan yang tak terkira. Seungri—melamarnya? Namun, ada perasaan aneh yang kembali merasuki tubuhnya. Ia mencoba mengingatnya dan kemudian tersentak. Bukankah Kibum juga menyuruhnya bertemuan di jam dan tempat yang sama? Mana yang harus ia pilih?

*^*

Gadis itu mematut bayangannya sendiri di kaca. Cantik. Sempurna. Namun, ada yang kurang. Ia masih—bingung. Di sisi lain, Seungri adalah pria impian Hyeobin. Menjadi kekasihnya adalah kebahagian terindah baginya. Dan tak bisa dipungkiri, setiap detik kehidupannya selalu lebih berharga jika dilewati dengan Seungri. Namun di sisi lainnya, Kibum entah mengapa selalu berada di hatinya. Ia merasa lebih nyaman jika berada di sisinya. Ia bisa tertawa, menangis, dan tersenyum dengan lebih leluasa dengan Kibum.

Tak bisakah ia menerima keduanya? Rasanya, ia tak tega bila menghancurkan hati salah satu dari keduanya. Perlahan, kakinya melangkah kearah taman. Bisa ia lihat Kibum sudah menunggu di sisi kiri taman, sedangkan Seungri sedang menunggu di sisi kanan. Di wajah mereka berdua, bisa terbaca jelas harapan dan penantian.

Hyeobin berhenti di tengah. Menatap mereka berdua dalam. Daun-daun berjatuhan. Gadis itu mengambil salah satu daun dan mencabuti satu persatu daun itu seraya menyebutkan nama mereka berdua. Tak sadar, ia sudah lama berdiri disitu. Tapi tak ada keputusan yang berhasil diambil.

Ia menutup mata. Memohon kepada Tuhan agar ia bisa memilih dengan benar. Kemudian dengan air mata, ia melangkah kearah kanan. Arah Seungri.

“Hyeobin-ah!” Seungri memekik sembari memeluk Hyeobin girang. “Senang kau berada disini.” Ia berkata lagi, tampak sangat girang. Air mata semakin berjatuhan dari kedua pelupuk mata Hyeobin. “Mianhae, Seung-ah. Dan gomawo. Mungkin kita belum ditakdirkan bersama. Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya kita pasti bisa bersama.”

“A… apa… maksudmu?”

Hyeobin tersenyum. “Aku percaya kau adalah pria yang sangat baik. Pasti kau akan mendapatkan yang lebih cantik, baik, dan lebih setia dariku.”

“Aku… masih tak mengerti.”

Ia mengkerutkan keningnya, lalu pandangan matanya tak sengaja menatap Kibum yang sedang berada di samping sebelah kirinya. “Ah, aku mengerti sekarang. Baiklah, jika itu keputusanmu.” Seungri berkata dengan mantap. “Kau… tidak marah? Atau melarangku pergi?”

Pria tersebut tersenyum hangat. “Bukankah sudah kubilang jika kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesarku? Jika kau lebih bahagia bersamanya, tentu aku akan mendukungmu. Sana, pergilah!” Ia masih berusaha tersenyum hangat. “Gomawo! Jeongmal gomawo!”

Hyeobin berlari kearah Kibum dan memeluknya. Kibum sedikit terkejut, namun akhirnya tersenyum lebar dan balas memeluk Hyeobin dengan erat.

*^*

[Epilog]

Pria itu meneteskan air matanya. Apalagi saat melihat dua sosok lelaki dan gadis saling berpelukan dengan erat. Perlahan, ia melangkah menjauh dari dua sosok itu dan berjalan ke sebuah danau yang masih berada dekat dari situ. Tepat saat ia melihat seorang perempuan sedang menangis di tepi danau itu.

“Kenapa kau menangis?”

Seungri bertanya hati-hati. Sang perempuan menatapnya lirih. “Kekasihku—lebih memilih gadis lain dibandingkan diriku. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum saat melihat mereka.”

Seketika senyum menghiasi bibir Seungri. “Kalau begitu kita sama.”

Perempuan itu bingung. “Eh?”

*^*^*^*^*^*^*^*

END

 

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Two)

[Chapter Two – New Generation]

 

Udara dingin menusuk tulang. Seluruh pelosok tampak putih. Cairan-cairan yang menyerupai balok kecil berjatuhan dari langit. Salju. Yah, salju memang tampak menyenangkan. Namun, jika sudah terbiasa tinggal di daerah bersalju, pandangan tentang hal itu akan berubah. Sepasang manusia tak henti-hentinya menggosokan tangan mereka yang sudah memakai sarung tangan tebal.

Pikiran sang gadis tak fokus. Entah mengapa, ada sesuatu yang familiar dengan negeri asing yang mereka tempati sekarang, New Jersey. Namun, sialnya, ia sama sekali tidak ingat apa itu. “Ada apa?”

Kim Hyeobin langsung menatap Lee Seungri yang tampaknya menyadari ketidak fokusan kekasih hatinya. “Gwenchana. Masih berapa lama lagi kendaraan tiba?” Ia bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin sebentar lagi. Molla~”

Seungri menjawab sembari menggenggam tangan Hyeobin erat, seakan takut gadis yang amat disayanginya membeku. Hyeobin tersenyum melihat betapa perhatiannya pria di sampingnya. Suara dering handphone berbunyi. Ternyata berasal dari telepon selular sang pria. “Aku angkat dulu ya.”

Gadis tersebut mengangguk. Ia tau pasti, yang meneleponnya adalah orang yang penting. Saat sedang larut kembali dalam pikirannya, Hyeobin bisa melihat sebuah van berlogo ‘Berkeley College’ sedang berhenti. Keluarlah puluhan orang—yang gadis itu pikir pasti mahasiswa—dan berhamburan tanpa tujuan yang sama.

“Ga… gadis balkon?”

Hyeobin merasa panggilan special-nya disebut. Ia menoleh dan. . .

“Sunbaenim?!”, sahutnya tak percaya. Lelaki di hadapannya sudah berubah menjadi lelaki yang lebih dewasa, lebih tinggi, dan lebih—tampan.

“Bagaimana kau bisa disini?” Ia bertanya dengan pandangan tak percaya. Kibum tersenyum gemas. “Bukannya sudah kubilang kalau aku akan kuliah disini. Mestinya sekarang aku yang bertanya padamu.”

Memory masa SMA seakan membludak masuk ke dalam otak gadis tersebut. Ingin rasanya ia menepak kepalanya sendiri. Jadi, ini penyebabnya ia merasa bahwa dari awal negeri ini tampak familiar. “Aku… ingin kuliah disini, oppa.” Gadis itu menjawab seraya tersenyum. Entah mengapa, ada rasa senang yang sedikit berlebihan saat akhirnya bisa melihat lelaki ini lagi—setelah sekian lama tak melihatnya.

“Jinjja?! Baguslah kalau begitu. Kau kesini sendiri?”

Pertanyaan Kibum barusan membuat Hyeobin tersadar. “Hyeo-ah!” Seungri berteriak sembari melangkah menuju mereka berdua. “Ah! Kenalkan, ini kekasihku.” Hyeobin tersenyum seraya menunjuk pria di sebelahnya. Hal itu—entah membuat hati Kibum merasa denyutan misterius di hatinya yang menyakitkan.

“Lee Seungri.” Pria tersebut memberikan tangannya, seraya tersenyum ramah. “Kim Kibum.” Sang lelaki juga balas tersenyum dan menjabat tangannya. “Kalian berdua… ingin kuliah disini? Mengapa dan dimana?”

“Kebetulan kami berdua diterima di university di New Jersey ini. Ada beberapa tawaran, tapi sepertinya kami akan kuliah di Bloomfield College.” Seungri menjawab dengan santai, dibalas anggukan Hyeobin. Kibum mengambil kertas dan pulpen dari kantungnya dan menulis sesuatu. “Ini nomorku. Jika kalian butuh bantuan disini, hubungi saja aku. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi, Seungri-ssi.”

Sang gadis dan pria menunduk kecil. “Sampai jumpa, sunbae!”

*^*

“Bagaimana jurusan Art-nya? Apakah kau suka?” Pria yang duduk dengan head-set kecil di telinganya, tersenyum. Gadis itu mengangguk kecil. “Aku sangat menyukainya. Masih tidak percaya aku bisa kuliah di luar negeri seperti ini. Bagaimana denganmu? Apakah kau suka jurusan dance-nya?” Seungri tersenyum dan mengelus rambut Hyeobin lembut. “Tentu. Dance adalah hidupku. Tentunya setelah dirimu.”

Hyeobin merasakan pipinya merona. “Apakah kau benar-benar serius kepadaku, Seung-ah?”, tanyanya pelan. Dalam hati, ia menyalahkan mulutnya sendiri yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Tentu saja aku serius, Hyeo-ah. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Ani, Seung-jagi. Aku hanya… tak percaya kita sudah menjadi sepasang kekasih selama tiga tahun ini. Semuanya berlalu begitu saja. Kau bagai permata berukiran indah yang dipajang di sebuah museum, sedangkan aku—hanya batu yang tergeletak begitu saja.” Gadis itu menatap makanan yang ada di depannya.

Pria tersebut tersenyum penuh arti. “Siapa bilang? Bagiku, kau adalah emas berlian dengan keindahan tak berhingga. Senyummu adalah hidupku. Dan air matamu adalah penderitaanku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dan kesedihanmu adalah kesedihan terbesarku. Jadi, jangan berkata hal-hal seperti itu lagi.”

Hyeobin mengangguk pelan. Air matanya turun secara tak terkontrol. Seungri menghapus air mata yang keluar dari mata Hyeobin, menatapnya dengan pandangan tanya.

“Jangan khawatir. Aku… hanya terharu.” Hyeobin berucap pelan. Membuat pria di hadapannya kembali tersenyum. “Kau sadar betapa manisnya dirimu?”

Senada dengan perkataan yang dilontarkan pria itu, wajahnya mulai mendekat. Membuat nafas sang pria bisa terasa jelas oleh gadis tersebut. Wajah mereka saling mendekat. Hyeobin—secara reflek—menutup matanya. Membiarkan bibirnya merasakan kegembiraan tak terhingga. “Ehem!”

Tepat satu centi lagi bibir mereka bertemu, suara dehaman membuat mereka terkejut. Ternyata suara yang berasal dari senior mereka. “Later, we will have committe meeting. You both must come. (Nanti akan ada rapat panitia jam tiga sore ini. Kalian harus datang).”

Mereka berdua sontak mengangguk. Wajah mereka berdua berubah warna menjadi sangat merah. “Kelasku akan segera dimulai. Sampai—jumpa, Hyeobinnie.”

“Ne. Aku juga. Sampai jumpa, Seung-ah.”

*^*

Our university will make an anniversary party. And, we will invite others university too. This is the lists. One person goes to one university, okay? (Universitas kita akan mengadakan pesta ulang tahun. Dan, kita akan mengundang universitas yang lain juga. Ini adalah daftarnya. Satu orang pergi ke satu universitas ya?)”

Semuanya mengangguk dan mulai bubar masing-masing. “Hyeo-ah, university apa yang ingin kau kunjungi?” Seungri bertanya di perjalanan keluar gedung. “I don’t know either. Berkeley College, maybe.

Seungri berpikir sebentar, lalu ingat jika sunbae yang ditemui mereka kemarin itu sekarang berkuliah di Berkeley College. “Mengapa kau ingin ke university itu?”, tanyanya, memancing. “Entahlah~ Mungkin karena university itu paling dekat dari sini.”

Dalam hati pria tersebut menyesali perbuatan sang gadis—yang ia tau sedang berbohong kepadanya. “Apakah tidak bisa kau berkata sejujurnya kepadaku?”, bisiknya pelan. “Aku pergi dulu ya, Seung-ah. Fighting!” Gadis itu langsung pergi menghilang dari hadapan sang pria, membuatnya tambah panas.

Excuse me, I’m from Bloomfield College. We want to send an invitation to this university. (Pemisi, saya dari Bloomfield College. Kita ingin mengirimkan undangan untuk universitas ini.)” Hyeobin tersenyum sembari memberi undangan kepada seorang rektor disana. “Ok, then. Just speak with our committes. They having a meeting in that room. (Baiklah kalau begitu. Bicaralah saja kepada panitia kami. Mereka sedang menjalani rapat di ruangan itu.)”

Gadis tersebut mengangguk dan mulai mengetuk pintu ruang rapat, kemudian masuk ke dalam ruangan. Ia bisa melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi sedang menjalankan rapat. Hyeobin menjelaskan tujuan kedatangannya dan akhirnya—setelah setengah jam lebih, keputusan berhasil diputuskan.

Nice to meet you.

Hyeobin menunduk kecil mendengar ucapan ketua panitia. Ia baru ingin pulang, sebelum melihat suatu pemandangan indah terlukis di balkon kampus itu. Rasanya itu semua seperti dejavu baginya. Pohon-pohon yang berlenggok dimainkan angin, burung-burung yang beterbangan tanpa arah, dan juga suara hembusan angin yang menenangkan hati.

“Gadis balkon!” Panggilan itu seakan membuat Hyeobin kembali terkejut.

“Kibum-oppa!”, dia memanggil lelaki yang sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. “Kita bertemu lagi.” Kibum berkata, sembari tersenyum kecil. “Ternyata kau masih belum berubah. Masih menjadi gadis balkon-ku.” Ia kembali berbicara. Hyeobin terkekeh pelan. “Tapi kali ini aku tak dapat menghiburmu lagi.”

“Kenapa?” Gadis tersebut bertanya, mengkerutkan keningnya. “Kau sudah mendapatkan pria yang kau cintai, bukan? Jadi, tak ada alasan untuk bersedih.” Hyeobin mengangguk, walaupun dalam hatinya ia merasa ada aura misterius yang terus mengetuk-ketuk hatinya dengan keras.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kembali berada di pikiran masing-masing. “Kau tinggal dimana?”, tanya sang pria, mencairkan suasana. “Di salah satu asrama. Aku dan Seungri tinggal disitu.” Gadis itu menjawab pelan. “Boleh aku mengatakan yang sejujurnya kepadamu, Hyeobin-ah?”

Gadis itu sedikit terbingung, namun memilih menganggukan kepalanya. Kibum membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Saat ia menyatakan perasaannya kepadamu, kebetulan aku berada disitu. Dan entah mengapa—rasanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada yang menusuk hatiku dengan pisau berkali-kali. Dan saat tau akan berpisah denganmu, rasanya hatiku merasakan kesedihan yang luar biasa. Melebihi kesedihanku saat harus berpisah dengan teman-teman yang lain.”

Lelaki itu terdiam sebentar. Sang gadis masih diam mendengarkan. “Dan saat berada disini, yang ada dalam pikiranku hanya dirimu. Seakan merasa—ada satu organku yang tertinggal. Awalnya, aku bingung tentang hal yang aku rasakan. Tapi, sekarang aku sadar. Aku sedang mencinta. Dan orang yang kucintai… adalah dirimu.”

Pupil bola mata Hyeobin membesar seketika.

“Aku tau… tak seharusnya aku mengatakan hal ini. Aku tau… kau sudah bersama orang yang kau cinta. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku selama bertahun-tahun ini. Jika hanya memendamnya, hatiku akan sangat menderita. Sekarang—walaupun kau tidak menerimaku, aku merasa sedikit lebih lega.” Kibum tersenyum simpul. Arah matanya masih ia arahkan ke bawah.

Hyeobin mengelus rambut Kibum lembut.

“Mianhae, oppa. Aku sama sekali tidak menyadari perasaanmu sebelumnya. Tapi, aku hanya menganggapmu oppa-ku. Tidak lebih dari itu. Jeongmal mianhae. Kuharap, setelah kejadian ini, kita masih bisa akrab seperti dulu. Karena jujur, hatiku sangat nyaman saat bersamamu.” Hyeobin menundukan kepalanya. Kibum tersenyum kecil dan mencubit pipi Hyeobin pelan.

“Ahhh~ Uri Hyeobin sudah dewasa ternyata. Kalau begitu, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tunjukkan saja jalannya. Arasso?” Lelaki itu menarik tangan sang gadis. “Tidak usah, oppa. Aku bisa naik taxi.” Dia menolak halus. Bersamaan dengan itu, suara petir menggelegar seketika. Hujan pun turun membasahi bumi dengan deras.

Membuat senyuman terukir di bibir si lelaki. “Tidak mungkin kan kau pulang sendiri dengan keadaan hujan deras seperti ini. Sudahlah, ayo aku antar.” Kibum menarik tangan Hyeobin kembali. Hyeobin mengangguk pasrah. Mereka berdua berjalan menuju mobil dengan cepat karena pasukan hujan yang turun tanpa rasa kasihan. Meninggalkan seseorang yang sudah kehujanan dengan perasaan bercampur aduk.

Di perjalanan, mereka hanya diam. Suara petir ditambah suara lagu yang sedang diputar di dashboard bersatu padu menjadi sebuah alunan yang menjadi backsound mereka.

“Bagaimana kehidupan SMA-mu setelah aku pergi dulu?” Kibum bertanya, berusaha mencairkan suasana. “Baik-baik saja. Seungri selalu ada untukku. Tadinya aku pikir ia hanya main-main denganku, tetapi ternyata—ia benar-benar serius. Banyak yang menentang hubungan kami berdua, apalagi trio Kangin, Yesung, dan Heechul; namun Seungri selalu melindungiku. Dan itu membuatku lebih baik.”

Entah mengapa, hati lelaki itu kembali merasa sakit saat mendengar sang gadis terus memuji pria lain di hadapannya. Dan pria itu—adalah pria yang memiliki gadis ini sepenuhnya. Bukan dirinya. Melainkan pria yang seratus persen menang darinya. Dari pertempuran yang bahkan tidak pria itu usahakan sama sekali.

“Sudah sampai. Gomawo, Kibum-oppa.” Hyeobin berucap pelan, kemudian membuka pintu dan keluar perlahan. Bisa terlihat gadis itu sempat tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Setelah sang lelaki itu pergi, Hyeobin langsung melangkah pelan menuju asrama mereka. Ia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia mulai memasak untuk makan sorenya hari ini. Tepatnya sebelum bel berbunyi secara tiba-tiba.

“Sia—Aigoo!!!” Hyeobin bisa melihat seorang pria sedang berdiri di pintu rumahnya dengan basah kuyup. Benar-benar kacau.

“Seungri-ah, gwenchana? Kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?” Hyeobin bertanya sembari mempersilahkan pria itu untuk masuk. “Sana, cepat ganti baju. Kau pasti sangat kedinginan. Kebetulan, ada beberapa pakaianmu yang tertinggal di asramaku.”

Pria itu mengangguk dan melakukan hal yang disuruh sang gadis. Setelah selesai, ia duduk di sofa. Hyeobin mengecek kening pria itu dan terkejut. “Panas sekali! Kau pasti sakit. Akan kuambilkan obat.” Gadis tersebut beranjak bangun, sebelum ditahan oleh tangan pria itu. Pria tersebut menarik tangan sang gadis dan menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi.

“Kenapa lama sekali baru pulang?”, tanyanya, sedikit serak. “Ra… rapatnya memang sedikit lama.”

Gadis itu berkata cepat. Bukannya ingin berbohong, namun akan lebih baik pria di hadapannya ini tidak tau yang sebenarnya.

“Rapatnya lama? Kau memang benar-benar tidak pandai berbohong, Hyeo-ah.” Seungri menarik nafas dalam. Hyeobin terpaku. Ada rasa keterkejutan mendalam di jantungnya. “Eh?” Hyeobin bertanya, masih bertingkah senormal mungkin.

Seungri tersenyum lirih. “Apakah rapat itu adalah duduk dan berbincang berdua bersama sunbae saat SMA?” Pertanyaan tersebut sontak membuat Hyeobin lebih kaget. Hatinya gelisah. Namun, tak bisa dipungkiri, ada rasa penyesalan di benak terdalamnya.

“Mianhae, Seung-ah. Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa diucapkan dari mulutnya.

“Jika tentang kau dan sunbae itu, aku tidak masalah. Yang aku masalahkan adalah—kenapa kau berbohong padaku? Tidak bisakah kau berkata yang sebenarnya? Aku juga sangat percaya kepadamu, Hyeobin-ah. Dan aku tau, aku tidak boleh terlalu mengkekangmu. Bukan salahmu jika kau ingin berbincang kembali dengan sunbae yang sudah lama tak kau temui. Tapi tolong, jangan berbohong padaku.”

Air mata turun perlahan dari pelupuk mata gadis itu. Ia menyesal. Sangat menyesal. “Mianhae. Jeongmal mianhae.” Gadis itu kembali berucap pelan. Seungri memeluk sang gadis, mendekapnya ke pelukan. “Gwenchana. Tapi, please, lain kali jangan bohongi aku. Ok? Jangan buat kepercayaanku hilang.”

Hyeobin mengangguk pelan.

“Aku janji. Aku memang sangat bodoh. Tak seharusnya, aku mengkhianati kepercayaan orang yang sangat kucintai dan mencintaiku sepenuh hati. Kau sangat pengertian kepadaku, tapi aku malah membalasmu dengan ini. Mianhae, Seung-ah.”

Seungri tersenyum hangat. Mereka berdua kembali berpelukan.

 

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter One)

[Chapter One – The Beginning]

Burung-burung berkicauan merdu di langit biru. Panas matahari menyinari bumi dengan terik. Menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan tengah hari. Angin berhembus pelan, senada dengan kicauan burung yang bergema ringan. Seorang gadis berdiri menatap langit. Rambutnya yang panjang, senantiasa dimainkan angin. Air matanya turun perlahan. Di balik raut wajahnya yang tenang, terdapat jutaan pikiran yang sedang berada dalam otaknya.

Gadis itu bangkit perlahan dan merentangkan tangannya keatas. Merasakan angin sedang merasuki seluruh permukaan tubuhnya. Ia menutup mata, berharap setelah membukanya, ia akan menjadi seekor burung yang bisa terbang leluasa di angkasa.

“Kau murid kelas satu?”

Pertanyaan dari seseorang membuat gadis tersebut tersentak dan kembali duduk, tanpa melirik orang yang bertanya. Ia merasakan orang tersebut duduk di sampingnya, namun ia tetap tak meliriknya. Bukan karena tidak mau, tetapi akan sangat memalukan baginya jika menunjukkan mata bengkak dan bekas air mata yang terlukis jelas di wajahnya.

“Kau belum menjawabku.” Orang itu berkata, dengan halus namun tegas. Ia mengangkat wajah gadis yang daritadi terus menunduk itu. “Kau menangis?”, tanyanya lagi, dengan nada sedikit kaget. Gadis itu masih diam. Orang tersebut mengerucutkan mulutnya, “Aku bukan penyiar radio.”

Ucapannya membuat gadis tersebut menatapnya dan mengkerutkan kening. “Maksudmu?”

Orang tersebut tersenyum. “Dari tadi aku bertanya dan berkata sendiri. Seperti penyiar radio yang hanya berkomunikasi satu arah.” Gadis itu tertawa kecil mendengar perkataan orang di sebelahnya. “Nah, jika kau tersenyum seperti itu, kau akan jauh terlihat lebih cantik. Jadi, jangan menangis lagi ya.”

Gadis tersebut mengangguk, pipinya sedikit merona. Baru pertama kali ini ada yang menyebutnya cantik. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Orang itu bangun dan berlari kecil. “Tunggu! Namaku Kim Hyeobin!” Gadis itu berteriak. Orang tersebut berhenti sebentar, melambai, kemudian kembali berlari. Meninggalkan gadis yang sekarang tersenyum.

*^*

[Hanguk Art School]

Gadis bernama Kim Hyeobin tersebut memasuki kelas sekolah barunya. Sudah cukup banyak orang-orang yang datang. Dan setengah dari mereka saling mengrobol dan menyapa. Ia memutuskan untuk duduk di tempat paling pojok, tempat yang paling dekat dengan jendela.

“Ya! Kau bersekolah disini? Appa-mu baru membobol bank?” Suara yang diiringi dengan tawa yang tidak asing, membuat gadis itu memutarkan lehernya. Seketika tubuhnya merasakan perasaan yang tidak enak. Tiga orang pria sudah berada di hadapannya. Tiga orang—yang sangat dikenalnya. Tampan dan kaya, namun hatinya? Nol besar! Mereka adalah teman sekelas gadis tersebut saat berada di SMP dahulu. Dan bisa dibilang—mereka adalah musuh terbesar gadis ini.

“Jangan begitu, Kangin-ya! Kita harus menyambut kedatangan penghibur kita. Jika ia tidak ada di SMP dulu, pasti kita tidak akan merasa terhibur. Ia adalah korban terempuk kita.” Kim Yesung berbicara lagi, menimbulkan tawa besar yang membuat gadis itu merasa risih. Beberapa orang-orang yang lain menatap gadis itu heran.

“Setidaknya Hyeobin-ssi lebih baik dari kalian. Ia berhasil meraih beasiswa untuk sekolah disini. Sedangkan kalian? Mungkin jika tidak ada bantuan dari orang tua kalian, kalian sudah lama menjadi gelandangan.” Ucapan seseorang membuat tiga trio sombong itu terdiam seribu bahasa. Mereka memutuskan untuk pergi, walaupun terdapat raut kemarahan yang terlihat jelas di wajah mereka.

Gadis tersebut menatap ‘sang penolong’ nya dengan sedikit kaget. “Ahh, Hyeobin-ah. Kita satu sekolah lagi? Baguslah kalau begitu.”, kata orang itu sembari berlalu, kembali ke rombongan teman-temannya. Orang itu tak sadar, bahwa gadis yang baru saja bicara dengannya sudah sangat merona.

“Terima kasih.”, bisiknya, sedikit telat. Orang itu—tepatnya pria itu—adalah orang yang selalu menolongnya semasa SMP. Pria tersebut tergolong pria yang diam, namun bakat seninya selalu dapat membuat seluruh gadis terpesona. Tak terkecuali dirinya.

*^*

Di ruang besar yang penuh dengan kaca di setiap sisi-sisinya, murid kelas satu memulai pelajaran pertamanya. Beberapa senior juga ada untuk membantu para guru. “Sebelum kita memulai pelajaran, sebaiknya kalian masing-masing menunjukkan kemampuan kalian terlebih dahulu. Kalian boleh sendiri atau berdua.”

Sang guru berbicara, membuat para murid sontak berhamburan memikirkan apa yang mau mereka tampilkan. Namun gadis itu hanya terdiam. Tidak seperti murid lain yang mengajak temannya untuk berdua. Karena, jujur, gadis itu belum punya seorang teman pun. “Mau bersama? Kita bisa menarikan dance yang dulu kita tampilkan saat perpisahan.”

Suara itu. Suara itu lagi-lagi membuat detak jantung gadis tersebut berdenyut keras. Bahkan sebelum ia melihat si pemilik suara. “Apakah kau tidak mau berpasangan dengan murid yang lebih hebat dariku?” Gadis itu bertanya, pertanyaan yang sangat disesalkannya. Pria dihadapannya mengerutkan kening. “Kau tidak mau berpasangan denganku?”

Seketika gadis itu mengangguk secepatnya. “Tentu saja aku mau, tapi—”

“Kalau begitu, aku akan memberi tau Park Saenim.”, katanya cepat. Tak sadar, gadis itu kembali tersenyum. Sentuhan tepat di bahu sebelah kanan, membuat ia sedikit terkejut. “Kau—gadis yang ada di balkon kan? Emm… Kim Hyeobin?”

Gadis tersebut menganggukan kepalanya seraya tersenyum. “Kau—orang yang menghiburku waktu itu.”

“Kalau begitu kenalkan. Kim Kibum imnida. Kelas tiga.”, ucapnya sembari tersenyum, menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis. “Kim Hyeobin imnida. Kelas satu. Annyeong hasimnika, sunbaenim.” Gadis itu menunduk pelan.

“Jangan terlalu formal begitu. Aku bukan lelaki lanjut usia.” Kibum tersenyum. Gadis tersebut tersenyum malu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong, Hyeobin-ssi.”, ia berkata lagi, sembari kembali membantu para guru. “Dia siapa?”

Hyeobin menoleh, bisa melihat pujaannya sedang berdiri dengan sebuah kertas di tangan kanannya. “Ohh, dia sunbae kita. Kebetulan, secara tidak sengaja, aku bertemu dengannya kemarin di balkon.” Gadis itu menjelaskan hati-hati. Menyebabkan pria tersebut mengangguk-angguk.

Bel panjang menyebabkan para murid terkejut. Park Saenim menyuruh semua murid untuk bersiap. Mereka mulai diuji satu-satu.

“Urutan 3! Kim Hyeobin dan Lee Seungri!”

Kim Hyeobin dan pria tersebut melangkah maju. Tiga trio sombong yang juga berada disitu, sedikit bersiul meledek. Sedangkan para perempuan, berdecak iri kepada gadis yang berhasil duet dengan pria idaman mereka itu. Hyeobin sedikit takut, namun pria tersebut membisikan sesuatu padanya. Bisikan yang sama pada waktu SMP dulu. “Jangan gugup. Bayangkan hanya ada kita berdua disini.”

Hyeobin mengangguk, kemudian tarian mereka pun dimulai. Mereka menari dengan elok dan senada dengan lagu yang dilantunkan. Membuat para murid, guru, serta senior-senior yang melihat mereka, terpana.

Great! So great!

Kim Saenim meneriakan pujiannya kepada mereka, diikuti tepuk tangan seluruh murid yang lain. “Sekarang kalian bisa melanjutkan ke ruang vocal.” Park Saenim menambahkan, membuat mereka langsung keluar dari ruangan.

Thanks.” Hyeobin memulai. Membuat pria itu—Seungri—mengkerutkan keningnya. “For what?”, tanyanya, tak mengerti. “For everthing. Tanpamu, pasti tarianku tidak akan sebagus ini.” Seungri tertawa kecil. “It’s okay. Itu gunanya teman, kan?” Dia mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya, dan langsung bergegas ke ruang vocal.

Hyeobin terpaku di tempat. “Teman? Hanya—teman?”, bisiknya seraya tersenyum pahit.

*^*

Angin berhembus lebih besar hari ini. Langit juga sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Burung-burung tampak berterbangan tak karuan. Gadis berusia enam belas tahun itu terdiam, menatap langit. Mungkin inilah hobby terbesarnya saat sedang galau. Ia masih mau berlama-lama di balkon sekolah barunya, namun dering ponsel membuatnya mengurungkan niat.

“Yoboseyo… Jinjja? Ne, arasso.”

Gadis tersebut menggembungkan pipinya, sembari melangkah turun perlahan. Tetes-tetes air hujan jatuh setitik demi setitik, menimpa permukaan kulitnya. Tiba-tiba, titik-titik air itu seakan menghilang. Gadis itu terbingung, lalu membalikan badannya ke belakang. Seseorang sudah menggenggam payung yang sekarang melindungi mereka berdua dari serangan pasukan hujan.

“Pulang ke rumah?”, tanya orang tersebut. Kim Hyeobin mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan mengantarmu.” Orang itu langsung menarik tubuh mungil gadis tersebut ke mobilnya. “Sunbaenim, mian merepotkan.” Kim Hyeobin menunduk pelan. “Panggil saja Kibum-ssi atau Kibum-oppa. Bukankah sudah kubilang agar tidak usah terlalu formal?”

Gadis tersebut mengangguk pelan. “Penampilanmu dance-mu tadi sangat hebat. Gerakan dirimu dan partner-mu sangat senada. Semuanya daebak!” Kim Kibum berbicara lagi, kali ini memuji gadis itu. Membuatnya tersipu. Wajah pria itu tiba-tiba berubah serius, “Boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit menyangkut masalah pribadimu.”

Ia menatap pria di sebelahnya, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kemarin… kenapa kau menangis?”

Hyeobin terdiam. Matanya kembali menatap pria tersebut, seakan mengukur-ukur apakah ia akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sedangkan pria itu masih menyetir sembari melayangkan pandangan tanya. Keheningan saat itu juga terjadi.

“Kalau kau tidak mau memberitahukan masalahmu, aku tidak akan memaksa.” Pria itu berkata lagi. Hyeobin  menghela nafas dalam-dalam. “Aku… menyukai seseorang. Ia… adalah bekas teman sekolahku di SMP. Menurutku, ia sangat perfect, dan itu malah membuat rasa percaya diriku ciut di depannya. Aku… tidak tau mau bagaimana. Aku takut suatu saat nanti, ia akan mempunyai orang yang ia cintai. Dan, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Kibum tersenyum kecil, “Apakah orang yang kau maksud adalah partner dance-mu tadi?”

Gadis itu membulatkan matanya. “Eh?! Bagaimana oppa tau?” Ia bertanya dengan polos. Sontak membuat pria di hadapannya tertawa. “Terlihat dari matamu saat memandangnya. Pandanganmu—tampak berbeda. Lebih dalam.”, ucap pria tersebut lembut. “Apakah sebegitu terlihatnya?” Sangrin bertanya, kelihatan panik.

Pria tersebut mengangguk. “Bahkan tertulis di keningmu.”, ucapnya bercanda. Namun, gadis di sebelahnya langsung terkejut dan mengusap-usap keningnya. “Benarkah?!”, tanyanya, masih panik. Membuat Kibum kembali tertawa. Suasana kembali tenang setelah itu.

“Yakinlah pada dirimu, Hyeobin-ah. Aku yakin… sikapmu, fisikmu, ketulusanmu, kepolosanmu, dan semua dari dirimu, akan selalu membuat orang lain mencintaimu.” Kibum tersenyum penuh arti, meninggalkan tanda tanya yang mendalam di hati Hyeobin. “Maksud oppa?”, tanyanya tak mengerti.

Kibum menunjuk sebuah rumah, menghiraukan pertanyaan gadis di sebelahnya. “Apakah ini rumahmu? Berarti kita sudah tiba. Sampai jumpa di sekolah besok, Hyeobin-ah.”

Hyeobin pun mengangguk dan melambai sebelum akhirnya masuk ke kamar. Dalam hati, ada sedikit tanda tanya yang mengerubungi. Kenapa ia merasa nyaman jika berada dekat dengan senior itu? Dan kadang-kadang malah melebihi rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama pujaan hatinya. Namun, ia langsung menepis pikirannya jauh-jauh. Itu adalah pemikiran yang bodoh, fikirnya seraya mencoba memejamkan mata.

*^*

Kim Hyeobin mengempaskan tubuh mungilnya ke kursi. Head-set masih terpasang di kedua telinganya. Lagu berjudul ‘My All Is In You’ itu memasuki lubang telinganya dan meresap hingga ke otak. Membuatnya merasa damai dan tenang. Ia baru saja ingin menutup mata akibat kantuk yang masih menyerang, sebelum seseorang menganggunya. Seseorang—yang special.

“Boleh bicara sebentar?”

Pria itu bertanya. Pandangan matanya sama sekali tak bisa ditolak oleh sang gadis. Pandangan yang entah mengapa selalu berhasil membuat  gadis di hadapannya terpaku. Mereka berhenti di sebuah kelas kosong yang sudah tidak dipakai. Pria itu menatap sang gadis dengan dalam. Bahkan, tak sedetik pun terlepas.

Angin-angin yang berhembus menjadi music pengiring mereka berdua. Keheningan berhasil menjadi kacau, saat pria tersebut menghela nafas dalam. “Aku. . . ”

Ia terlihat cukup gugup. Bisa terlihat dari tangannya yang tak berhenti bergerak dan sorot matanya yang berkeliaran ke berbagai arah. Gadis itu masih menunggu perkataan yang ingin dilontarkan sang pria.

“Saranghaeyo.”

Satu kata itu akhirnya berhasil dikeluarkan oleh sang pria. Membuat gadis di hadapannya terkejut sempurna. Rangkaian nadi gadis tersebut seakan terbelit rumit. Ia masih terdiam. Sungguh tak percaya dengan apa yang ia lalui saat ini. Apakah ini hanya candaan?, pikir gadis itu.

“Seungri-ssi… Jebal, jangan bercanda lagi.”, ucap gadis tersebut, dengan sedikit serak. Tatapan sang pria kembali tertuju kepadanya. “Apakah wajahku… kelihatan sedang bercanda?” Pria tersebut menatap gadis di hadapannya dengan dalam, serius, dan penuh kefokusan. Gadis itu sontak menggeleng. Tapi, ia masih tak percaya. Pujaannya—orang yang selalu ia impikan—sekarang sedang menyatakan perasaannya? Kepada dirinya?

“Seungr—”

Pria itu memotong ucapan gadis tersebut dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang gadis. Membuatnya lebih terkejut. “Please, just say yes or no.”, ucap pria tersebut. Reflek, gadis itu mengangguk cepat. Dan sang pria pun mendekap gadis itu dalam dekapannya. Mereka berdua berpelukan—dengan hangat dan penuh cinta.

Ohh… Great~

Seorang lelaki berdiri di pojok ruang kelas tersebut. Pandangannya menatap dua juniornya yang sedang saling berpelukan. Dan entah mengapa, membuat hatinya sedikit panas.

*^*

Berpuluh-puluh hari telah berlalu sejak hari itu. Sekarang, mereka sudah melewati akhir tahun pelajaran mereka. Malam ini, adalah malam yang special, terutama untuk murid kelas tiga yang akan meninggalkan sekolah untuk menuju jenjang yang lebih tinggi, university.

Lagu berdendang riang memenuhi ruangan besar yang sudah disulap menjadi arena pesta. Semua murid kelas akhir tertawa bersama, menangis bersama, saling berpelukan, dan bercanda ria. Gadis itu terdiam. Menonton aktivitas menarik para seniornya. Tangannya digenggam erat oleh seorang pria. Pria yang sudah delapan bulan ini menjadi kekasih dan pendampingnya.

Dalam hati gadis itu ada rasa gusar yang bahkan tidak ia ketahui penyebabnya. “Aku akan ke… toilet dulu.” Gadis itu pamit kepada sang pria. Dibalas dengan anggukan kecil dari pria tersebut. Kim Hyeobin berjalan perlahan menuju toilet. Ia membasuh wajahnya disana. Setelah merasa lebih lega, ia keluar dari toilet dan langsung kembali melangkah menuju ‘pendamping’ nya.

“Gadis balkon!”

Suara seorang lelaki membuat gadis itu terkejut dan memberhentikan langkahnya. Di hadapannya sekarang sudah berdiri seorang lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. “Kibum-oppa.”, panggilnya pelan. Membuat lelaki yang dipanggil tersenyum lebar. “Mianhae.”

Gadis tersebut menatap sang lelaki bingung. “Kenapa meminta maaf?”

“Setelah aku pergi, tak ada orang yang akan menemanimu lagi di balkon itu. Dan tak ada lagi orang yang akan menghapus air matamu.” Dia berucap sembari tersenyum, menatap gadis itu dengan pandangan dalam. Gadis tersebut balas tersenyum, entah mengapa membuat tulang rusuk lelaki itu ngilu sesaat. “Mungkin ini terdengar lucu, tapi kau adalah gadis pertama yang sedekat ini denganku.”

“Jinjja?” Gadis itu bertanya dengan pandangan tak percaya, membuat lelaki itu kembali merasa ngilu. “Kapan kita bisa bertemu lagi?”, lanjut gadis itu pelan. Lelaki itu terdiam. Bukan karena tidak mau menjawab, namun ia sendiri belum tau tepatnya kapan mereka akan kembali bertemu. “Aku… juga tidak tau. Aku akan melanjutkan kuliahku di New Jersey. Kebetulan… appa-ku kerja disitu.”

Entah mengapa, perkataan lelaki tersebut membuat sang gadis merasa perih. “Jadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?” Hyeobin bertanya langsung to the point. “Kalau begitu, sampai jumpa, sunbae. Semoga kau berhasil.”

Kim Hyeobin melangkah meninggalkan Kim Kibum yang masih membeku. “Dan… semoga kita bisa bertemu lagi.”, bisik gadis itu lirih.

“Kenapa lama sekali?” Lee Seungri—pria yang daritadi menunggu—tersenyum. Hyeobin hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman manis.

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Annyeong, semua~~~ Comment seperti biasa ya…

@Hyeobin-onn : Tadinya itu ff antara aku, Siwonnie, dan Woo… Tapi akhirnya kuputuskan untuk kasih ke onn~ Hehehehe~~~ Semoga suka… ^^

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Three)

“Gwenchana, Kibum-ya?”

Kibum mengangguk dan bergegas berdiri tegak. “Hampir saja…”, gumamnya mencoba santai. “Kajja!”, seru Donghae dan mereka melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini semua berjalan lancar. Tak ada sesuatu yang menghalangi mereka, namun yang mereka temui sepanjang jalan hanya lorong yang bahkan tak terlihat ujungnya.

“Bisa berhenti dulu? Aku sangat lelah~”, kata Kyuhyun dengan nafas memburu. Yang lain—yang juga kelelahan mengangguk dan mulai duduk. Menstabilkan nafas mereka yang sudah seperti baru melakukan pertandingan tinju. “Ottokhae? Sejauh kita berjalan, hanya lorong yang kelihatan…”, ucap Siwon yang sudah sangat lelah dengan keadaan kakinya yang mengerikan.

“Ne. Padahal bangunan ini setauku tidak sepanjang ini.”, sahut Donghae yang juga sudah sangat lelah dan lemah akibat racun yang tertanam di lehernya.

Kibum tiba-tiba berdiri, “Apakah mungkin kita terkena ilusi?”

“Kau pikir kita berada di dunia kartun?”, tanya Kyuhyun sarkastik. “Tapi mungkin saja… Kalau tidak, bagaimana cara menjelaskannya? Kita sudah berjalan sejauh mungkin, tapi bahkan hingga sekarang kita belum melihat jalan keluarnya.”

Donghae dan Siwon mengangguk, “Masuk akal juga…”

“Lalu, bagaimana cara menghilangnya kalau memang ada?”, tanya Kyuhyun dengan memberi penekanan pada ‘kalau memang ada’. Kibum menggelengkan kepalanya. “Kita bukan ninja yang bisa menghilangkan pengaruh ilusi…”, lanjut Kyuhyun. “Molla~”, jawab Kibum dengan lunglai.

“Apa sih sebenarnya tujuan mereka menahan kita?”

Semuanya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Siwon yang ada benarnya juga. Mereka berempat hanya empat remaja yang sama sekali tidak tau apa-apa. Lalu, kenapa tiba-tiba mereka ditangkap tanpa sebab yang jelas? Kini pikiran mereka tertutup jutaan misteri yang menghubungkan kepala mereka dengan tidak karuan.

“Sudahlah, itu dipikirkan lain kali saja. Yang penting sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita keluar dari sini.”, ucap Donghae tegas. Yang lain mengangguk menyetujui perkataan Donghae. “Kalau benar ini ilusi, bagaimana caranya untuk menghilangkan ilusi ini?”, tanya Kibum, memulai berpikir dengan keras.

“Ilusi itu ada karena pikiran kita sendiri. Jika kita menghilangkan semua pikiran negative yang ada dalam pikiran kita, kurasa kita akan menghilangkan ilusi tersebut.”, jawab Kyuhyun dengan pandangan menerawang. “Kau benar, Kyu!”, teriak Donghae, Siwon, dan Kibum bersamaan.

“Kalau begitu lebih baik kita memejamkan mata kita dan menarik nafas dalam-dalam. Kupikir cara ini akan berhasil.”, lanjut Siwon dibalas persetujuan yang lain. Setelah beberapa menit, mereka kembali membuka mata. “Ahh~lebih baik.”, kata Donghae ceria. “Kalau begitu, kajja kita lanjutkan lagi.”

Mereka berempat kembali meneruskan perjalanan dengan cepat. Setelah cukup lama, pintu keluar tampak terlihat. Memberikan cahaya dan sinar yang membuat mereka—entah kenapa sangat bahagia.

Donghae berlari menuju pintu keluar itu, dilanjutkan dengan Siwon, Kyuhyun, dan Kibum. Hingga akhirnya Donghae yang pertama tiba, menyiapkan satu langkahnya lagi untuk menginjak pintu keluar, pintu itu tertutup rapat secara tiba-tiba. Membuat mereka berempat jatuh terjerembap.

“Apa lagi ini?!” Kibum berteriak dengan kesal, sementara Siwon menjambak-jambak rambutnya. Kyuhyun memijit-mijit keningnya, sedangkan Donghae melangkah bolak-balik.

Langkah berat membuat mereka berempat menoleh. Mereka bisa melihat dengan jelas 3 orang lelaki sedang melangkah penuh wibawa. “Si—siapa kau?”

Seorang lelaki diantara mereka tersenyum ramah, “Tenang. Kami tidak mau melakukan yang macam-macam kepada kalian.”

“Lalu, apa mau kalian?! Dan siapa kalian?!”, tanya Siwon sembari menunjuk 3 orang itu. “Aku Jungsoo. Park Jungsoo. Ini kedua rekanku, Kim Jongwoon dan Kim Youngwoon. Untuk lebih jelasnya, akan kami jelaskan nanti. Sebaiknya, kalian ikut kami ke ruang makan. Kalian pasti lapar, bukan?”

Mereka berempat mengangguk kecil, dan memutuskan mengikuti mereka dari belakang. “Apakah kalian yakin—mereka bukan orang jahat?”, tanya Donghae, ragu-ragu. Kyuhyun menatap Donghae, “Aku juga tidak tau. Tapi, hanya mereka harapan kita.”

Donghae mengangguk, begitu pula dengan Siwon dan Kibum. Tak sadar, mereka telah melangkah hingga ke sebuah ruang. Di dalam ruang itu, terdapat meja yang sangat panjang. Di atas meja itu, sudah tersedia berpuluh-puluh makanan yang sangat menggiurkan. “Silahkan makan. Kalian boleh mengambil sebanyak mungkin yang kalian mau. Kami akan menunggu kalian di ruang sebelah.”

Orang yang bernama Youngwoon berhenti sebelum memasuki ruang satunya, “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10.”, dan kemudian melangkah dan menutup pintunya. Donghae langsung bersiap menyantap semuanya, namun Kibum melarangnya.

“Apakah kau tidak curiga? Maksudku—apa maksud orang tadi?”

Perkataan Kibum membuat yang lain akhirnya mengangguk. “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10. Demi Tuhan, apa maksud orang itu?!” Kyuhyun kembali memijit-mijit keningnya. “Berapa jumlah semua hidangan ini?”, tanya Siwon tiba-tiba, membuat yang lain langsung memandangnya tak percaya.

“Ya Tuhan, Choi Siwon! Ini bukan waktunya untuk memikirkan hidangan itu!”

Namun tampaknya Siwon tak memperdulikan sentakan Donghae. Ia menghitung semuanya, kemudian senyum terukir di bibirnya. “Jumlah hidangan ini ada 50!”

Kibum mengkerutkan keningnya, “Lalu?!”

Siwon menghembuskan nafas panjang dan menatap ketiga temannya tak percaya.

“Apakah kalian masih tak sadar? Jumlah hidangan ini ada 50. Dan orang itu mengatakan tadi bahwa ‘Diantara 50 ada yang hitam 10’!”

Mata Kyuhyun terbelalak seketika, “Maksudnya, diantara 50 hidangan itu…”

“…ada yang teracun 10?!” Kibum menambahkan.

Donghae mengangguk mengerti. “Lalu, mana yang beracun dan mana yang tidak?” Mereka bertiga menggeleng pelan. “Aigoo! Apakah bahkan mereka tak memberi kita kebebasan dan ketenangan untuk sekedar makan?!”

“Apa maksudnya 10 makanan yang beracun itu, makanan yang bewarna hitam?”, tanya Donghae, dan langsung dibalas jitakan ketiga temannya. “Apakah ada benda yang bisa mendeteksi racun?”, tanya Kyuhyun. Lagi-lagi, mereka bertiga kembali menggeleng. Keheningan melanda mereka. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri.

Kibum memandang sepatunya seraya berpikir, lalu tiba-tiba ia bisa melihat seekor kucing sedang menjilat sepatunya. Sebuah ide langsung terlintas. Dengan cepat, ia mengambil sebuah daging beef dan menaruhnya di bawah. Sang kucing pun memakan daging itu. Dalam beberapa menit kemudian, daging itu sudah habis. Ia tersenyum puas. Lalu, ia mengambil acak satu puding dan menaruhnya lagi ke bawah. Sang kucing itu kembali memakannya. Dalam beberapa detik kemudian, kucing itu tergeletak dan kemudian tidak bergerak lagi.

Beef ini tidak beracun, sementara puding itu beracun!”, seru Kibum sembari mulai mengambil satu potong daging itu. “Darimana kau tau, Kibum-ya?! Kau tidak nekat ‘kan?”, tanya Kyuhyun yang panik. Kibum tersenyum, “Aku sudah melakukan riset kepada kucing ini, jadi tenang saja.”

“Jinjja?!”, tanya Donghae seraya tersenyum dan akhirnya mengambil sepotong daging itu. Begitu pula dengan Siwon dan Kyuhyun. “Setidaknya, kita bisa makan.”, ucap Siwon seraya tersenyum.

Saat mereka sudah memakan semua daging itu, ketiga lelaki itu masuk dan tersenyum puas. “Kurasa sudah saatnya kalian mengetahui semuanya.”, kata seorang sembari tersenyum.

Mereka duduk di salah satu ruangan yang penuh dengan patung-patung unik. “Kenalkan, kami adalah mantan ksatria negeri Super Junior.”, ucap seorang bernama Jungsoo. “Ksatria? Dan negeri Super Junior? Hmmpphh.” Kyuhyun menahan tawanya yang ingin meledak keluar. Youngwoon menggertakan giginya sembari menatap Kyuhyun tajam. “Kau sangat kurang ajar! Pasti kau adalah reinkarnasi Cho Sihyun!”

“Setau kami, kami tak pernah mendengar negeri Super Junior. Dimana itu?”, tanya Kibum, mengoreksi Kyuhyun. Jongwoon tersenyum, “Mungkin ini memang terdengar konyol, tapi sebelum semua orang membuat negaranya masing-masing, nama dunia yang kalian sebut ‘bumi’ ini adalah Negeri Super Junior. Dan, tentu saja di setiap wilayah, akan ada ksatria yang menjaga perdamaian negeri ini.”

“Kami bertiga adalah ksatria ke-99 yang bertugas menjaga wilayah ini.”, lanjut Jungsoo, orang yang paling tampak menyenangkan. “Lalu—apa hubungannya ini semua dengan kita?”, tanya Siwon, dibalas anggukan ketiga lainnya. Youngwoon yang dari tadi terdiam seketika berbicara, “Walaupun sekarang dunia ini terdiri dari beratus-ratus negeri dan terdapat tentara di setiap negerinya, para ksatria tetap harus menjalankan tugasnya. Karena tanpa kami, mungkin negeri Korea Selatan sudah hancur oleh orang yang tidak baik.”

Jongwoon memandang kami berempat, “Kami…merasa kami sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas ini. Jadi, kami—memutuskan untuk menurunkan tugas kami kepada kalian.”

“Mworago?! Tapi—kenapa harus kami? Kami bukan siapa-siapa.”

Donghae berbicara, dan yang lain hanya bisa kembali mengangguk setuju. “Kalian adalah reinkarnasi dari 4 ksatria terhebat sepanjang masa.”, ucap Youngwoon langsung pada tujuan. “Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum.”

“Ne?” Kibum benar-benar masih bingung dengan ini semua.

“Lee Donghae adalah reinkarnasi dari Lee Kyuhae. King of the crusher. Sementara Choi Siwon adalah reinkarnasi Choi Kiwon. King of the control. Cho Kyuhyun adalah reinkarnasi dari Cho Sihyun. King of the Brain. Dan, Kim Kibum adalah reinkarnasi Kim Dongbum. King of the Plans.” Jongwoon menjelaskan, membuat mereka semakin bingung.

Suasana seketika hening. Hanya suara desir angin yang terdengar. Mereka semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ada rasa kepercayaan terhadap ke-3 orang misterius itu, namun akal budi dan logika mereka, jauh menyangkal. “Dalam waktu kurang dari 100 hari lagi, Yang Jahat akan segera datang. Kami tidak tau siapa Yang Jahat itu berbentuk atau mempunyai kekuatan seperti apa. Namun, itu tertulis jelas dalam ramalan leluhur kalian. 4 Ksatria Agung Super Junior.”

Perkataan Jungsoo tak membuat mereka lebih baik.

“Lebih baik kalian beristirahat dulu hari ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sebelah sana. Kami pamit dulu. Semuanya akan dilanjutkan besok pada jam sarapan. Lee Donghae dan Choi Siwon, luka kalian juga akan disembuhkan besok.” Youngwoon berbicara, kemudian mereka ber-3 meninggalkan ruangan. Donghae, diikuti yang lainnya melangkah ke dalam ruangan.

Disana sudah terdapat 4 tempat tidur yang sangat empuk dan besar. Kamar mereka juga sangat besar, cukup besar untuk bermain futsal di dalamnya. Donghae langsung berbaring di salah satu tempat tidur itu. “Akhirnya, aku bertemu kasur lagi!”, sahut Donghae senang.

Yang lain pun turut berbaring di kasur masing-masing. “Apakah ini mimpi?” Kyuhyun bertanya, sembari mencubit pipinya sendiri. “Kalau benar, ini mimpi yang paling buruk.” Siwon mengomentari pelan. Kibum memejamkan mata. “Apakah ini benar? Maksudku—secara logika ini sama sekali tak mungkin. Negeri Super Junior? 4 Ksatria Agung? Yang Jahat? What the hell are they?!”

Ucapan Kibum membuat mereka semua terdiam.

“Mungkin sekarang kita bisa beristirahat. Tapi besok? Siapa yang tau akan ada sesuatu yang terjadi.”, kata Donghae pelan. “Donghae benar. Kalau mereka bertiga memberi kita semua ujian-ujian yang sangat berat seperti itu, apakah berarti langkah yang harus kita tempuh akan sangat sulit?” Siwon berucap sembari mulai memejamkan mata.

Kyuhyun menjambak rambutnya, “Argghhh!!! Aku… hanya ingin menjadi pelajar biasa! Mestinya minggu depan aku akan mengikuti olimpiade sains di Paris. Tapi, kenapa ini semua terjadi?!”

Donghae mengangguk. “Aku… masih harus mencari pekerjaan. Kalau tidak, bagaimana caranya bagiku untuk membiayai uang kuliah?! Dan, bagaimana nasib dongsaengku jika aku tidak ada?! Sedang memikirkan hal itu, mengapa 3 orang aneh itu datang dan malah meminta kita menyelamatkan dunia?!”

“Padahal aku… akan mengikuti audisi di sebuah entertainment nanti. Kau juga kan, Siwonnie?” Kibum bertanya, dibalas anggukan Siwon. “Lebih baik sekarang kita tidur dulu. Minimal dari penyekapan ini, kita ber-4 menjadi akrab? Iya kan?”

Mereka bertiga mengangguk mendengar perkataan dewasa Kyuhyun. Tak lama, semua pun sudah tertidur.

 

+++

 

“Sepertinya mereka berempat sudah tertidur.”

Jongwoon berucap. Matanya menatap monitor yang sudah menangkap gambar mereka ber-4 yang sedang tertidur. “Aku memang sudah melihat jelas potensi mereka, tapi… aku masih tak yakin. Apakah mereka benar-benar bisa menjalani tugas ini? Mereka masih terlalu muda.” Kangin berkata pelan.

“Youngwoon tak sepenuhnya salah.”, kata Jongwoon sembari menghirup kopinya. “Aku… juga berpikir begitu. Tapi, kita tidak bisa menentang kata leluhur. Lagipula, mereka juga akan terbiasa sendiri nantinya.” Jungsoo berbicara, mencoba bijaksana. “Mereka… benar-benar akan melewatkan masa depan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, mulai besok.”

Jongwoon menatap langit-langit. “Bahkan, dari dulu kita menjaga negeri ini, tidak pernah ada kekuatan sebesar ‘Yang Jahat’ itu. Ini benar-benar dahsyat! Ini… seperti kejadian 6 abad yang lalu. Akan terjadi pertempuran hebat. Dan aku tidak yakin tidak akan ada nyawa yang hilang.”

“Semoga mereka bisa berhasil. Karena tanpa mereka ber-4, dunia ini akan hancur.” Jungsoo memainkan tangannya. “Berarti, seluruh dunia… akan menjadi tanggung jawab mereka ber-4?”

“I think yes.”

 

*To Be Continue~

Fan Fiction : ~Happy For Love~ (Chapter Six) Last Part

“Mau kemana kau?”, tanya Kyuhyun bingung saat melihat Kibum bergegas pergi dari kamar Hyeobin. “Aku titip Hyeobin sebentar ya, Kyu…!”, seru Kibum sembari berlari secepat mungkin. “Apakah mereka berdua bertengkar lagi?”, tanya Kyuhyun meminta penjelasan. Sooyeon menggelengkan kepalanya tanda tidak tau.

***

Sangrin dan Siwon sedang asyik mengobrol. Seperti pasangan yang baru saja berpacaran. Kibum lewat di depan mereka. “Siwonnie, Sangrinnie, kajja temani aku!”, seru Kibum dengan nafas tak beraturan. “Memang oppa mau kemana?”, tanya Sangrin dengan kebingungan. “Sudahlah, nanti aku jelaskan di mobil. Kajja!”

Mereka berdua mengangguk dan langsung mengikuti Kibum ke mobil.

“Sebenarnya ada apa?”

“Sepupuku ada di bandara. Aku harus menjemputnya.”

Sangrin dan Siwon berpandangan lalu menatap Kibum tajam, “Hanya itu?!”

Kibum mengangguk, “Memang apa lagi?”, tanyanya polos. “Ya! Kalau cuma begitu, kenapa kau buru-buru sekali?!”, seru Sangrin dan Siwon hampir bersamaan. “Masalahnya, sepupuku itu bisa marah kalau aku telat. Lagipula, katanya ia sudah punya pacar!”

“Lalu?!”

“Sepupuku itu tidak pernah punya pacar sebelumnya! Aku sangat kaget dia tiba-tiba punya pacar!”

“Omona~!”, seru Sangrin dan Siwon bersamaan lagi. Bukannya mereka ikutan kaget, namun mereka bingung dengan keadaan Kibum yang sangat panikan.

Begitu sampai, mereka langsung berlari ke bandara. Tentunya karena Kibum menarik mereka berdua. Kibum berhenti di depan sepasang lelaki dan perempuan yang sedang bertautan mesra. “Annyeong, Kibummie~”, sapa sang lelaki itu sembari memeluk sepupunya. “Annyeong, Hae! Oh ya, kenalkan ini kedua temanku, Siwon dan Sangrin.”

“Annyeong~ Donghae imnida.”

Mereka berdua mengangguk dan mata Kibum langsung beralih pada yeoja yang sedang menenteng kopernya. “Ahh, ini yeojachingu-ku.”

“Jyurin imnida.”, sapa perempuan itu ramah. Kibum, Sangrin, dan Siwon menunduk singkat. “Kita ke rumah sakit ya, Hae? Hyeobin sedang ada di rumah sakit.”, ucap Kibum seraya membawa mereka ke mobil. “Hyeobin? Ahh, maksudmu yeoja yang selalu mengejar-ngejar dirimu itu?”, tanya Donghae polos. Kibum menyikut tangan Donghae, “Dia itu yeojachingu-ku! Jangan berbicara seperti itu.”

“Upps, sorry…”, gumam Donghae santai sembari langsung memusatkan dirinya pada yeoja di sebelahnya. Di perjalanan, hanya ada keheningan. “Mmm, kalian pacaran?”, tanya Jyurin seraya menunjuk Sangrin dan Siwon. Mereka berdua sontak merona dan saling memandang. Siwon memutuskan untuk menjawab, “Segera.”

Sangrin memukul pelan lengan Siwon, memprotes atas jawaban Siwon yang terlalu ganas. Yang lain hanya bisa tertawa. Di rumah sakit, Kibum, Donghae, dan Jyurin memutuskan untuk menuju ke kamar Hyeobin. Sementara Siwon dan Sangrin menyusul temannya yang lain.

“Kyu oppa! Sedang apa oppa disini?”, tanya Sangrin dan kemudian melihat yeoja di sampingnya, “Choi Sooyeon!”, teriak Sangrin kaget. “Lihat Kyu, bahkan saeng-mu lebih punya ingatan daripada dirimu.”, ucap Sooyeon pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum tipis. “Kenalkan Sangrin dan Siwon, mulai sekarang dia adalah yeojachingu-ku!”

“Mwo-ya?! Secepat itu?”, tanya Sungmin yang entah darimana dengan Myorin di sebelahnya. “Kalian sendiri kenapa pegangan tangan seperti itu?”, tanya Kyuhyun tak mau kalah. Dan mereka berdua langsung menunduk malu. “Ahh, Sangrin-ya, sekarang cuma kita yang belum mempunyai pasangan.”, kata Siwon lesu.

“Bilang saja kau mau pacaran dengan Sangrin!”

Semuanya menoleh dan bisa melihat Hyeobin sedang duduk di kursi roda. Kibum yang mengendalikan kursinya, dengan Donghae dan Jyurin di sebelahnya. “Hyeo-onnie!”, seru Sangrin tak terima. “Hyeo!”, teriak Siwon, lebih tidak terima. Semuanya kembali tertawa.

“Aku akan menikah lho~ Mungkin seminggu lagi.”, seru Donghae sembari tersenyum bangga, memberikan rona pada pipi Jyurin. “Mworago?!”, seru Kibum, Hyeobin, Sangrin, dan Siwon bersamaan. Sedangkan, Kyu, Sungmin, Myorin, dan Sooyeon yang masih belum mengenal Donghae, hanya bisa terdiam.

***

Wish me luck~”, bisik Jyurin saat sedang memakai gaun putih panjangnya. Sangrin, Sooyeon, Hyeobin, dan Myorin yang sudah saling mengenal dengan baik tersenyum dan mengangguk. Jyurin berjalan perlahan menuju altar, menuju Donghae yang sudah menunggu di depan altar.

Saat upacara sudah selesai, mereka semua bertepuk tangan meriah. Jyurin dan Donghae melempar bunganya dan ternyata berhasil ditangkap oleh Kibum. Pipi Hyeobin merona seketika. Sementara yang lain hanya bisa bertepuk tangan.

Malamnya mereka semua berkumpul di meja makan pengantin. Saling berbahagia dan tertawa bersama. “Malam ini kalian sudah siap?”, tanya Kyuhyun jail pada Donghae dan Jyurin. Yang ditanya hanya merona dan menunduk malu. “Berhenti ganggu rumah tangga orang, GaemKyu!”

“Iri, Sooyeonnie?”, tanya Kyuhyun sembari mengedipkan sebelah matanya. Yang lain tertawa melihat mereka. “Bagaimana dengan kalian? Sudah atur tanggal yang tepat?”, tanya Sungmin pada Kibum dan Hyeobin. “Mungkin bulan depan.”, jawab Kibum cepat.

“Kau sendiri?”, tanya Hyeobin berusaha mengalihkan pembicaraan. “Mungkin jika kita sudah siap.”, jawab Sungmin seraya tersenyum pada Myorin. “Duo S, bagaimana dengan kalian?”, tanya Donghae jail.

Siwon ingin bicara, namun langsung ditutup oleh Sangrin, “Untuk apa aku menikahi namja sepertinya?”, tanya Sangrin sombong. “Ahh, tanpaku juga pasti kau menangis, Rin-ah~”, ucap Siwon cepat. “Pede sekali kau!”, seru Sangrin. “Perlu aku buktikan ucapanku?”

“Mwo?! Andwae!”

“Ahh, aku hanya bercanda. Aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku juga tak bisa hidup tanpamu.”, jawab Siwon sembari menyentil hidung Sangrin. Yang lain menatap jijik mereka berdua. Setelah makan, semua pasangan melambaikan tangannya pada pasangan Donghae-Jyurin yang sudah siap menuju ke rumah baru mereka.

“Pasti mereka senang sekali.”, ucap Kyuhyun dengan senyuman di wajahnya. “Mau mengikuti langkah mereka?”, tanya Kibum jail. Kyuhyun mengangguk pelan. “Ya! Andwae~~~!!!”, teriak Sooyeon tiba-tiba. “Siapa yang bilang mau denganmu?”, tanya Kyuhyun seraya tersenyum evil. “Jadi kau tidak mau denganku, GaemKyu?”

Kyuhyun seketika tersedak, “Mwo?! Tentu saja mau!”

Mereka semua kembali tertawa. “Lalu, bagaimana dengan kita, Bum-ya?”

Kibum melirik Hyeobin seketika, “Maksudmu?”

“Kita kan sudah mendapat lemparan bunga, jadi bagaimana?”, tanya Hyeobin sembari menyodok Kibum. Kibum tersenyum tipis, “Kan sudah kubilang, bulan depan kita akan mengikuti jejak Donghae dan Jyurin.”, katanya dengan santai. Semua kembali tertawa. “Kita akan menghadiri upacara pernikahan lagi nanti!”, seru Sungmin.

“Jangan lupa untuk membeli baju pengantin di butikku ya~”, ucap Myorin dan sontak membuat yang lain tertawa lagi. “Arasso, Nona Butik…”, jawab Sangrin dan Siwon bersamaan, membuat rona merah terpancar di wajah mereka berdua.

“Bagaimana kalau besok kita mengunjungi rumah Donghae dan Jyurin?”

Yang lain mengangguk setuju. “Arasso. Sampai ketemu besok!”

***

Semuanya telah siap di depan pintu rumah Donghae-Jyurin yang baru dibeli. Tentu saja Donghae yang membelikannya atas dasar hadiah pernikahan. Mereka semua menekan bel pintu rumah dengan cepat. Tak lama, pintu dibuka dan semua’nya pun memasuki rumah baru Donghae dan Jyurin.

Mereka semua duduk di salah satu sofa. “Bagaimana malam pertama kalian?”, tanya Kibum seraya mengedipkan sebelah matanya. “Ya~begitulah.”, jawab Donghae dan Jyurin bersamaan. Mereka merona seketika. “Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Siwon tak ada bersama kalian, Sangrin-ah?”, tanya Donghae bingung.

“Semalam Siwon ditelepon seseorang. Lama sekali. Lalu, ia langsung bilang hari ini mau pergi sampai malam. Aku pikir yang meneleponnya adalah yeoja.”, ucap Sangrin sembari cemberut. “Kok kamu bisa yakin?”, tanya Hyeobin. “Habisnya suara di telepon itu sangat lembut dan ia memanggil orang di telepon itu ‘Ryry’.”, jelas Sangrin. “Jangan berpikir seperti itu dulu. Bisa jadi itu hanya rekan kuliahnya.”, hibur Jyurin.

“Tapi Siwon tak pernah seperti itu sebelumnya, Jyu-onnie. Aku takut~”

“Bagaimana kalau kita memata-matainya saja?”, tanya Myorin memberi ide. “Ide bagus!!!”, seru mereka bersamaan.

***

Tujuh orang sudah berdiri dengan diam-diam di balik bangunan. Menatap keseharian Siwon yang memang menjadi tujuan mereka saat ini. Siwon sedang berkeliaran mencari sesuatu di toko bunga. Senyum tak pernah hilang dari bibir’nya.

“Lihat! Ia pasti mau memberikan bunga itu kepada ‘Ryry’ itu!”, seru Sangrin sembari mengerucutkan mulut’nya. Siwon keluar dari toko bunga itu dan membawa sebuket bunga lili yang tergerai indah. Kemudian, ia pergi ke mall dan pergi ke sebuah toko. Tentu saja, mereka ber-7 tetap mengintai dari belakang.

“Itu…toko untuk yeoja, ‘kan?”

Pertanyaan Sooyeon membuat yang lainnya mengangguk. “Untuk apa dia di toko khusus yeoja?”, lanjut Kyuhyun yang hanya bisa memandang dengan santai. “Membeli sesuatu untuk yeoja?”, ide Hyeobin dan yang lain kembali mengangguk-angguk.

“Maksudnya, ia mau membeli sesuatu untuk ‘Ryry’?”, tanya Jyurin sembari menunjuk Siwon yang keluar dari toko dengan tangan penuh barang. “Andwae!!!”, teriak Sangrin dengan suara yang sedikit dipelankan. Siwon kembali melangkah ke toko lain, dan kini menenteng sebuah baju pesta. “Omo~ Apa lagi itu?”, komentar Myorin yang terkejut.

Setelah selesai, Siwon keluar dari mall, tentunya tetap diikuti oleh ke-7 orang tersebut. Mereka semua membuntuti Siwon hingga ke sebuah restoran mewah. “Mian, Rin-ah. Sudah malam. Aku dan Jyurin akan melanjutkan hari-hari pertama kami ya…! Sampai jumpa~”, pamit Donghae sembari menggenggam tangan Jyurin. “Kami juga akan menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita ya!”, ucap Kibum, sembari membawa Hyeobin tentu.

“Kalau kami, harus bermain game dulu. Bye~”, sahut Kyuhyun dibalas senyuman dari Sooyeon. “Kami—errr—”

“Kami masih ada tugas kuliah!”, teriak Sungmin cepat sembari membawa Myorin. “Ya! Kenapa aku ditinggal sendiri?!”, seru Sangrin sembari cemberut. “Sangrinnie.”

Sangrin berbalik dan bisa melihat Siwon sedang berdiri di hadapan’nya. Senyuman manis’nya terus terkembang. “Si—Siwon-oppa??”, tanya’nya tak percaya. “Gantilah pakaianmu. Akan aku tunggu di dalam. Arasso?”, kata Siwon seraya masuk ke dalam restoran. “Ta—tapi, tunggu! Aishh~”

Dengan pasrah, Sangrin masuk ke restoran dengan pakaian yang sudah diberikan Siwon. “Ahh~ Neomu yeppo!”, ucap Siwon sembari kembali tersenyum dan mempersilahkan Sangrin duduk. “Kenapa…oppa menyuruhku duduk? Bagaimana dengan ‘Ryry’ itu?”, tanya Sangrin polos.

Siwon tak menjawab, hanya bisa tertawa. “Aigoo~ Apakah kau tidak sadar bahwa ‘Ryry’ itu tak ada?”

“Tidak—ada? Lalu, kemarin oppa berbicara dengan siapa?”

“Dengan Kyuhyun.”

Sangrin membulatkan mata’nya, “Kyuhyun-oppa? Jadi, Kyuhyun-oppa sudah tau semua’nya dari awal?”, tanya’nya pelan namun sedikit emosi. “Ani. Bukan hanya Kyuhyun, tapi semuanya sudah tau rencana ini.”, jawab Siwon seraya tersenyum jail. “Mwohae??!! Aishhhh, jinjja!!!”

“Sekarang, maukah kau mengikuti jejak Donghae dan Jyurin?”

Seketika Sangrin terkejut, “Ne?”

“Aishh, Sangrin-ah! Maukah kau menjadi pasangan hidupku?”, tanya Siwon tak sabar. “Ahh, oppa—”

“Jawab saja, ya atau tidak.”

Sangrin kembali cemberut, “Aishh~oppa! Kenapa kau memaksaku?”

“Jawab saja, Cho Sangrin!”

“Keurae. Keurae. Ya, aku mau.”

Namja dihadapan Sangrin seketika terkejut. “Jinjja?!”, tanya Siwon tak percaya. “Ne, Choi Siwon!”, seru Sangrin pelan dan mereka langsung berpelukan.

“Aigoo! Joengmal daebak!”

Tepuk tangan dari 6 orang yang lain membuat mereka berdua kaget. “Kalian—ada disini?”, tanya Sangrin yang sudah merona. “Mesra sekali!”, seru Myorin yang sedang menggenggam erat tangan Sungmin. “Aishh~ Kita harus segera menikah, GaemKyu-ah! Mereka bisa mendahului kita!”, seru Sooyeon sembari menyenggol Kyuhyun.

“Baiklah. Bagaimana kalau sekarang?”

“MWO?!”

“Huahahahahaha…!”

***

~END~

*tarik nafas* Akhirnya, ni ff selesai jg~! Mian klo aneh~~~

‘N gomawo buat readers yg setia baca dari awal… *hug*

ff ini ancur bgt~ #meratapi nasib