Full of inspiration and story

Posts tagged ‘Jay’

Fanfiction : ~Rain-Bow~

Punggungnya mulai menghilang. Pergi meninggalkanku. Meninggalkan namja bodoh yang sekarang merasa menyesal. Sangat menyesal. Rambut panjangnya masih berkeliaran tertiup angin. Suara petir menggelegar tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, setetes demi setetes air jatuh membasahiku. Membasahi hati yang sedang terbakar.

Pening, nyeri, dan perih mulai menyergapku. Namun, aku tak peduli. Kakiku seakan tidak bisa digerakan. Wajahku seakan tak bisa dipalingkan. Tak bisa dipalingkan dari dirinya. Yeoja biasa yang sangat luar biasa dimataku. Untuknya lah aku hidup. Untuknya lah aku bernafas. Dan untuknya lah sekarang aku merelakan ini semua.

Hujan bertambah deras. Seakan menertawakan kebodohanku. Seakan ikut meledekku. Yah, aku memang namja yang bodoh. Sangat, malah.

Karena diriku lah, malaikat itu kesepian. Karena diriku lah, malaikat itu bersedih. Karena diriku lah, malaikat itu menangis. Dan karena diriku lah, malaikat itu kehilangan sayapnya.

Ingin mengatakan, ‘Jangan pergi!’, namun tak ada kata yang keluar dari tenggorokanku. Mungkin sudah kering oleh rasa perih ini.

Di tengah jalan, ia berhenti dan memalingkan wajahnya. Menatapku dengan pandangan lirih. Aku bersyukur atas hujan yang diturunkan. Setidaknya, air mataku tidak akan terlihat olehnya. Setidaknya, ia tidak akan tau aku kesakitan tanpanya. Dia mulai terisak dan memandangku lama. Aku menutup mataku dan berbalik, tidak ingin melihatnya menangis. Karena jujur, itu membuatku semakin sakit.

Jutaan memori mulai membludak memasuki kepalaku. Memori indah yang pernah kualami. Memori indahku saat bersamanya. Saat awan hitam belum datang menerjangku.

~~~

“Annyeong, oppa…”

Aku berbalik dan tersenyum, “Annyeong… Kau disini?”

Dia mengangguk dan duduk di sebelahku, “Tentu saja. Hari ini ‘kan hari special kita. Oppa lupa?”, tanyanya seraya menggembungkan pipi. Aku hanya bisa merasa bersalah. “Mian… Pekerjaanku cukup banyak, jadi aku tak banyak memerhatikan waktu dan tanggal.”

Bola matanya menatapku sebentar, lalu akhirnya mengangguk. “Ara, oppa… Tenang saja. Aku tau betapa sibuknya dirimu. Kau adalah bintang terkenal! Semuanya mengetahui itu.”, jawabnya bijak. Aku tersenyum dan mencubit pipinya, “Ahh, kau sudah besar rupanya…”

Perempuan di sebelahku kembali menggembungkan pipinya, “Tentu saja! Aku memang sudah besar…”

Aku menggengam tangannya, “Kalau begitu kajja kita pergi untuk merayakan anniversary kita. Tapi kita ke dorm dulu ya? Aku harus berganti baju dan bersiap-siap.”, kataku dibalas anggukan manis darinya. “Dorm yang mana, oppa?”, tanyanya polos. “Tentu saja dorm Super Junior. Dorm yang mana lagi?”, tanyaku gemas dan ia hanya bisa tertawa.

~~~

Ahh, sungguh kurindukan senyuman dan tawanya yang menggemaskan itu. Entah apakah bisa kulihat lagi hal indah itu. Apa yang telah kuperbuat sekarang? Tak ada lagi senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya manisnya. Hanya ada tangis dan kesedihan. Tak ada lagi keceriaan, hanya ada kemuraman. Apakah sudah kunodai hatinya yang seputih salju itu?

~~~

“Oppa~! Buka pintunya!”, teriaknya seraya mengetuk-ketukan tangan kecil mungilnya ke permukaan pintu. Tak lama, seseorang membuka pintunya. “Eh, ternyata kalian… Kajja!”, seru Leeteuk sembari tersenyum semanis mungkin. Aku dan dirinya langsung masuk dan beranjak ke ruang tamu. “Kau tunggu disini ya? Aku mau mengganti pakaian dulu.”

Dia mengangguk patuh dan langsung duduk.

Setelah selesai, aku langsung duduk di sebelahnya. Dia sedang asyik berbincang dengan beberapa member yang lain. Tak lama, empat lelaki datang memasuki dorm. “Jonghyun-oppa…! Jino-oppa…! Jay-oppa…! Annyeong~”, sapanya dengan penuh kebahagiaan. Yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tampaknya memang semuanya sudah tau bahwa jagiya-ku ini sangat mengidolakan SM The Ballad. Tentunya selain oppa-nya sendiri.

“Ya, Cho Sangrin~! Kenapa kau tidak memanggilku? Yang lain kau sapa! Aishh…”

Aku dan yang lain tertawa mendengar ocehan Kyuhyun. “Untuk apa menyapa oppa? Dari lahir hingga sekarang, hampir setiap hari aku melihat oppa…”, sahutnya seraya cemberut. Tatapan Kyuhyun langsung beralih padaku. “Sungmin-ah, ajarilah yeo-chingumu dengan baik…”, katanya dan kami semua kembali tertawa lagi.

“Sudahlah, kajja kita pergi, Min-oppa…”

Aku mengangguk dan menyeimbangkan langkahnya. Dia berhenti sebentar dan menatap kearah tiga lelaki idolanya, “Annyeong, 3J oppa…”, sapanya seraya langsung kembali menarikku keluar dorm. Jonghyun, Jino, dan Jay yang merasa disapa hanya melambai-lambai, sementara yang lain kembali tertawa.

~~~

Tak sadar, senyuman menghiasi bibirku saat memori itu masuk. Betapa indahnya masa itu. Masa dimana tak ada sedetik pun yang terlewat bersamanya. Masa dimana tak ada yang bersedih. Masa dimana kita selalu tersenyum. Masa yang paling bahagia. Betapa menyesalnya, kebahagiaan itu harus sirna sekarang. Sirna bersama diriku.

~~~

“Lihat, oppa!”, serunya dan aku pun memandang kearah apa yang ditunjuknya. Puluhan burung camar sedang terbang berkelompok. Kutatap wajahnya yang sedang sangat terpana. Matanya membiaskan sinar yang membuatnya semakin menawan. Kuberhentikan mobil dan tak kuhiraukan pertanyaan darinya. Kukecup bibirnya yang merah muda. Dia sedikit terkejut, namun ia tak menolak. Malah ikut menikmatinya.

Setelah cukup lama, aku menghentikannya dan kemudian langsung kembali menyetir. Arah pandangannya sontak langsung ia tujukan pada kaca mobil. Keadaan menjadi canggung sekarang. Namun aku tau. Kita berdua tau. Bahwa pipi kita sudah merona sempurna sekarang. Tak bisa kuhalangi atau kukontrol bibirku ini untuk terus tersenyum. Begitupun dengannya.

Perjalanan telah selesai. Aku mulai membuka pintu dan berjalan kearahnya. Membuka pintunya. Kugenggam tangannya dan bergegas berjalan menuju pantai. Pasir putih dan ombak kecil menyambut kami. “Wuah, indah~!”, ucapnya terpana. Aku hanya tersenyum menanggapi kepolosannya. “Tapi, kenapa di pantai yang indah ini, tidak ada pengunjung sama sekali, oppa?”, tanyanya dengan kecewa.

“Karena pantai ini sudah kupesan. Khusus hari ini,  pantai indah ini adalah milik kita seutuhnya.”, jawabku dan rona kembali tercipta di wajahnya.

Kucubit pipinya, “Kau memang sangat menggemaskan!”

~~~

Kutorehkan kepalaku sedikit kebelakang. Dia, Cho Sangrin-ku, melangkah mendekat. Dekat dan semakin dekat. Hingga wajahnya berada tepat di depan wajahku. Hingga tatapan kita bertemu. Aku bisa menatap wajahnya lagi yang menggemaskan. Walaupun dengan keadaan basah oleh air hujan dan air matanya.

Aku mengangkat tanganku dan bersiap menyentuh wajahnya…

~~~

“Sun-setnya sangat indah!”, serunya kembali terpana. “Jagi, sudah berapa kali kau terpana hari ini?”, tanyaku meledek. “Mungkin sekitar lima kali…”, jawabnya pelan. Aku tertawa dan mengejarnya. Ia langsung berlari menghindariku. Kita terus berlarian hingga akhirnya aku bisa menggapainya. Bersamaan dengan itu, kita berdua terjatuh. Dia menimpaku. Dan tatapan kita bertemu.

Rona kembali muncul di pipi kita berdua.

Dengan cepat, kita langsung kembali pada posisi masing-masing. Sekarang kita berjalan kecil, tangan kita saling menggengam. Kaki kita menyentuh air pantai yang dingin namun segar. Senyum terus terhias pada wajah kita. “Sangrin-ah…”

“Ne, Sungmin-oppa?”

“Na…saranghaeyo.”

“Na tto, oppa.”

Aku menghadapnya. “Sekarang tutup matamu…”

Dia mengangguk dan mulai menutup matanya. Aku merogoh saku celanaku dan mengambil sebuah kotak putih. Kubuka kotak itu dan kuambil salah satu benda di dalamnya. Kupakaikan benda melingkar itu di jari mungil Sangrin. Dia seketika terkejut dan membuka matanya. “Ini—”

“Maukah kau menikah denganku, Cho Sangrin? Di kala suka dan duka yang akan kita lewati bersama, di kala badai dan ombak yang menerjang, dan hingga maut memisahkan kita?”, tanyaku dengan puitis. Cairan bening keluar dari pelupuk matanya. “Kau menangis, jagi? Apakah aku berbuat salah?”

Dia menggeleng, “Aku terharu, pabo…!”

“Lalu, jawabanmu?”, tanyaku menanti. Ia mengangguk dan memelukku. Kita berdua mulai menangis. Yah, ini adalah kali pertama aku menangis demi seorang perempuan. Dan perempuan beruntung ini adalah calon istriku. Tiba-tiba, hujan mengguyur kita berdua.

“Kajja, kita pulang, oppa…”

Aku mengangguk dan kita langsung berlari menuju mobil.

~~~

Aku mengangkat tanganku dan bersiap menyentuh wajahnya, namun tak ada yang kuraih. Hanya bayangan. “Jagi…”, sahutku seraya mulai kembali menangis. Ia juga begitu. Kita berdua terpisahkan maut. Hanya bisa melihat, namun tak bisa menyentuh. Perih rasanya.

Bayangannya mulai hilang. Aku mencoba menariknya, namun hanya bayangan yang kuraih. Air mataku kembali terjatuh tak karuan. Begitu pun dengan hujan yang makin lebat.

“JAGI…!!!”

~~~

“Kira-kira apa reaksi Kyu ya jika tau aku sudah melamarmu, Rin-ah?”

Dia menatapku lalu tertawa, “Molla~ Mungkin dia akan menusuk oppa hidup-hidup.”, jawabnya iseng. “Mwo?! Kalau begitu tidak jadi deh…”

“Oppa~~~”, sahutnya sembari cemberut. “Aigoo~ Aku hanya bercanda, nona manis! Mana mungkin aku mau melepasmu… Tapi ada syaratnya!”, kataku sembari tersenyum jail. “Apa?”, tanyanya sedikit takut. “Lupakanlah SM The Ballad-mu itu. Aku cemburu tau jika kau terus membicarakan Jonghyun, Jino, dan Jay-hyung!”

Ia langsung memukul pelan tanganku, “Andwae, oppa! Selamanya, aku adalah Baladears. Tapi—”

“Tapi apa?”, tanyaku tak sabar. “Aku juga akan selalu menjadi fans-mu, oppa. Aku adalah Smilers dan aku adalah ELF.”

“Ahh, darimana kau belajar kata-kata manis itu? Tidak mungkin dari Kyu kan?”, tanyaku sembari kembali mencubitnya. “Umin-oppa! Berhenti mencubit dan mengucapkan nama ‘Kyu’… Kalau saja aku tidak tau Kyu-oppa sudah punya pacar, mungkin aku sudah mengira kalian saling menyukai tau!”

Aku terkekeh pelan dan mata kita saling berpandangan. “Saranghaeyo…”

Tak sadar, kita berdua mengucapkan kata ‘saranghaeyo’ seraya bersamaan.

“OPPA…!”

Dengan cepat, aku mengikuti arah pandangan Sangrin dan bisa melihat mobil yang kita tempat mulai terpeleset karena air hujan dan memasuki jurang kecil.

~~~

Hujan menjadi saksi kita bersama…

Hujan menjadi saksi kita tertawa…

Dan sekarang, hujan menjadi saksi kita berpisah…

Maaf jika aku tak bisa menepati janji untuk bersamamu selamanya…

Jika hujan datang, ingatlah aku…

Karena aku adalah pelangi-mu…

Dan pelangi—akan muncul setelah hujan berakhir…

Aku akan terus menjagamu…

Selamanya…………

~~~

Hujan mulai reda. Dan pelangi pun mulai muncul. Seseorang berdiri disamping sebuah nisan. Dia meletakkan sebuket bunga melati dan kemudian bergegas pergi. Puluhan massa mendekatinya dan meminta pendapat, namun ia hanya bisa diam dan bergegas masuk ke mobil.

“Jangan menangis lagi… Kau harus kuat.”, seru Kyuhyun sembari tersenyum. Orang yang dihibur, masih menunduk sedih.

“Sangrin-ah… Lihat aku!”

Perempuan itu memandang oppa-nya dengan lirih. “Percayalah… Sungmin-hyung tidak akan mau melihatmu bersedih apalagi menangis begini.”

Sangrin termenung sebentar dan akhirnya tersenyum. “Kamsahamnida, oppa…”

“Nah, itu baru Sangrin yang kita kenal!”, seru Heechul dan semua orang yang ada di mobil pun tersenyum. Begitu pula dengan Sangrin.

“Kajja, kita pulang ke dorm!”

Yang lain mengangguk dan mobil mulai berjalan.

Sangrin menatap pelangi yang ada di atas langit. Sinarnya berpendar sangat terang. “Apakah itu kau, Sungmin-oppa? Kalau iya, aku berjanji akan terus bahagia dan tersenyum. Aku juga akan terus mencintaimu…”

Perempuan itu menggengam cincin pemberian Sungmin dengan erat sembari tersenyum cerah. Secerah pelangi yang terbentang di angkasa.

<END>

Sebenarnya ini adalah FF pelarian author dari FF lainnya yg belum jadi… *siap2 dibakar*

Bagi yang merasa bias Sungmin, aku pinjem ya Sungmin-nya… Abisnya gak tau lagi mau pake pemain siapa~ ><

Silahkan baca ‘n komen please~~~