Full of inspiration and story

[Chapter Two – New Generation]

 

Udara dingin menusuk tulang. Seluruh pelosok tampak putih. Cairan-cairan yang menyerupai balok kecil berjatuhan dari langit. Salju. Yah, salju memang tampak menyenangkan. Namun, jika sudah terbiasa tinggal di daerah bersalju, pandangan tentang hal itu akan berubah. Sepasang manusia tak henti-hentinya menggosokan tangan mereka yang sudah memakai sarung tangan tebal.

Pikiran sang gadis tak fokus. Entah mengapa, ada sesuatu yang familiar dengan negeri asing yang mereka tempati sekarang, New Jersey. Namun, sialnya, ia sama sekali tidak ingat apa itu. “Ada apa?”

Kim Hyeobin langsung menatap Lee Seungri yang tampaknya menyadari ketidak fokusan kekasih hatinya. “Gwenchana. Masih berapa lama lagi kendaraan tiba?” Ia bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin sebentar lagi. Molla~”

Seungri menjawab sembari menggenggam tangan Hyeobin erat, seakan takut gadis yang amat disayanginya membeku. Hyeobin tersenyum melihat betapa perhatiannya pria di sampingnya. Suara dering handphone berbunyi. Ternyata berasal dari telepon selular sang pria. “Aku angkat dulu ya.”

Gadis tersebut mengangguk. Ia tau pasti, yang meneleponnya adalah orang yang penting. Saat sedang larut kembali dalam pikirannya, Hyeobin bisa melihat sebuah van berlogo ‘Berkeley College’ sedang berhenti. Keluarlah puluhan orang—yang gadis itu pikir pasti mahasiswa—dan berhamburan tanpa tujuan yang sama.

“Ga… gadis balkon?”

Hyeobin merasa panggilan special-nya disebut. Ia menoleh dan. . .

“Sunbaenim?!”, sahutnya tak percaya. Lelaki di hadapannya sudah berubah menjadi lelaki yang lebih dewasa, lebih tinggi, dan lebih—tampan.

“Bagaimana kau bisa disini?” Ia bertanya dengan pandangan tak percaya. Kibum tersenyum gemas. “Bukannya sudah kubilang kalau aku akan kuliah disini. Mestinya sekarang aku yang bertanya padamu.”

Memory masa SMA seakan membludak masuk ke dalam otak gadis tersebut. Ingin rasanya ia menepak kepalanya sendiri. Jadi, ini penyebabnya ia merasa bahwa dari awal negeri ini tampak familiar. “Aku… ingin kuliah disini, oppa.” Gadis itu menjawab seraya tersenyum. Entah mengapa, ada rasa senang yang sedikit berlebihan saat akhirnya bisa melihat lelaki ini lagi—setelah sekian lama tak melihatnya.

“Jinjja?! Baguslah kalau begitu. Kau kesini sendiri?”

Pertanyaan Kibum barusan membuat Hyeobin tersadar. “Hyeo-ah!” Seungri berteriak sembari melangkah menuju mereka berdua. “Ah! Kenalkan, ini kekasihku.” Hyeobin tersenyum seraya menunjuk pria di sebelahnya. Hal itu—entah membuat hati Kibum merasa denyutan misterius di hatinya yang menyakitkan.

“Lee Seungri.” Pria tersebut memberikan tangannya, seraya tersenyum ramah. “Kim Kibum.” Sang lelaki juga balas tersenyum dan menjabat tangannya. “Kalian berdua… ingin kuliah disini? Mengapa dan dimana?”

“Kebetulan kami berdua diterima di university di New Jersey ini. Ada beberapa tawaran, tapi sepertinya kami akan kuliah di Bloomfield College.” Seungri menjawab dengan santai, dibalas anggukan Hyeobin. Kibum mengambil kertas dan pulpen dari kantungnya dan menulis sesuatu. “Ini nomorku. Jika kalian butuh bantuan disini, hubungi saja aku. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi, Seungri-ssi.”

Sang gadis dan pria menunduk kecil. “Sampai jumpa, sunbae!”

*^*

“Bagaimana jurusan Art-nya? Apakah kau suka?” Pria yang duduk dengan head-set kecil di telinganya, tersenyum. Gadis itu mengangguk kecil. “Aku sangat menyukainya. Masih tidak percaya aku bisa kuliah di luar negeri seperti ini. Bagaimana denganmu? Apakah kau suka jurusan dance-nya?” Seungri tersenyum dan mengelus rambut Hyeobin lembut. “Tentu. Dance adalah hidupku. Tentunya setelah dirimu.”

Hyeobin merasakan pipinya merona. “Apakah kau benar-benar serius kepadaku, Seung-ah?”, tanyanya pelan. Dalam hati, ia menyalahkan mulutnya sendiri yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Tentu saja aku serius, Hyeo-ah. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Ani, Seung-jagi. Aku hanya… tak percaya kita sudah menjadi sepasang kekasih selama tiga tahun ini. Semuanya berlalu begitu saja. Kau bagai permata berukiran indah yang dipajang di sebuah museum, sedangkan aku—hanya batu yang tergeletak begitu saja.” Gadis itu menatap makanan yang ada di depannya.

Pria tersebut tersenyum penuh arti. “Siapa bilang? Bagiku, kau adalah emas berlian dengan keindahan tak berhingga. Senyummu adalah hidupku. Dan air matamu adalah penderitaanku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dan kesedihanmu adalah kesedihan terbesarku. Jadi, jangan berkata hal-hal seperti itu lagi.”

Hyeobin mengangguk pelan. Air matanya turun secara tak terkontrol. Seungri menghapus air mata yang keluar dari mata Hyeobin, menatapnya dengan pandangan tanya.

“Jangan khawatir. Aku… hanya terharu.” Hyeobin berucap pelan. Membuat pria di hadapannya kembali tersenyum. “Kau sadar betapa manisnya dirimu?”

Senada dengan perkataan yang dilontarkan pria itu, wajahnya mulai mendekat. Membuat nafas sang pria bisa terasa jelas oleh gadis tersebut. Wajah mereka saling mendekat. Hyeobin—secara reflek—menutup matanya. Membiarkan bibirnya merasakan kegembiraan tak terhingga. “Ehem!”

Tepat satu centi lagi bibir mereka bertemu, suara dehaman membuat mereka terkejut. Ternyata suara yang berasal dari senior mereka. “Later, we will have committe meeting. You both must come. (Nanti akan ada rapat panitia jam tiga sore ini. Kalian harus datang).”

Mereka berdua sontak mengangguk. Wajah mereka berdua berubah warna menjadi sangat merah. “Kelasku akan segera dimulai. Sampai—jumpa, Hyeobinnie.”

“Ne. Aku juga. Sampai jumpa, Seung-ah.”

*^*

Our university will make an anniversary party. And, we will invite others university too. This is the lists. One person goes to one university, okay? (Universitas kita akan mengadakan pesta ulang tahun. Dan, kita akan mengundang universitas yang lain juga. Ini adalah daftarnya. Satu orang pergi ke satu universitas ya?)”

Semuanya mengangguk dan mulai bubar masing-masing. “Hyeo-ah, university apa yang ingin kau kunjungi?” Seungri bertanya di perjalanan keluar gedung. “I don’t know either. Berkeley College, maybe.

Seungri berpikir sebentar, lalu ingat jika sunbae yang ditemui mereka kemarin itu sekarang berkuliah di Berkeley College. “Mengapa kau ingin ke university itu?”, tanyanya, memancing. “Entahlah~ Mungkin karena university itu paling dekat dari sini.”

Dalam hati pria tersebut menyesali perbuatan sang gadis—yang ia tau sedang berbohong kepadanya. “Apakah tidak bisa kau berkata sejujurnya kepadaku?”, bisiknya pelan. “Aku pergi dulu ya, Seung-ah. Fighting!” Gadis itu langsung pergi menghilang dari hadapan sang pria, membuatnya tambah panas.

Excuse me, I’m from Bloomfield College. We want to send an invitation to this university. (Pemisi, saya dari Bloomfield College. Kita ingin mengirimkan undangan untuk universitas ini.)” Hyeobin tersenyum sembari memberi undangan kepada seorang rektor disana. “Ok, then. Just speak with our committes. They having a meeting in that room. (Baiklah kalau begitu. Bicaralah saja kepada panitia kami. Mereka sedang menjalani rapat di ruangan itu.)”

Gadis tersebut mengangguk dan mulai mengetuk pintu ruang rapat, kemudian masuk ke dalam ruangan. Ia bisa melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi sedang menjalankan rapat. Hyeobin menjelaskan tujuan kedatangannya dan akhirnya—setelah setengah jam lebih, keputusan berhasil diputuskan.

Nice to meet you.

Hyeobin menunduk kecil mendengar ucapan ketua panitia. Ia baru ingin pulang, sebelum melihat suatu pemandangan indah terlukis di balkon kampus itu. Rasanya itu semua seperti dejavu baginya. Pohon-pohon yang berlenggok dimainkan angin, burung-burung yang beterbangan tanpa arah, dan juga suara hembusan angin yang menenangkan hati.

“Gadis balkon!” Panggilan itu seakan membuat Hyeobin kembali terkejut.

“Kibum-oppa!”, dia memanggil lelaki yang sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. “Kita bertemu lagi.” Kibum berkata, sembari tersenyum kecil. “Ternyata kau masih belum berubah. Masih menjadi gadis balkon-ku.” Ia kembali berbicara. Hyeobin terkekeh pelan. “Tapi kali ini aku tak dapat menghiburmu lagi.”

“Kenapa?” Gadis tersebut bertanya, mengkerutkan keningnya. “Kau sudah mendapatkan pria yang kau cintai, bukan? Jadi, tak ada alasan untuk bersedih.” Hyeobin mengangguk, walaupun dalam hatinya ia merasa ada aura misterius yang terus mengetuk-ketuk hatinya dengan keras.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kembali berada di pikiran masing-masing. “Kau tinggal dimana?”, tanya sang pria, mencairkan suasana. “Di salah satu asrama. Aku dan Seungri tinggal disitu.” Gadis itu menjawab pelan. “Boleh aku mengatakan yang sejujurnya kepadamu, Hyeobin-ah?”

Gadis itu sedikit terbingung, namun memilih menganggukan kepalanya. Kibum membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Saat ia menyatakan perasaannya kepadamu, kebetulan aku berada disitu. Dan entah mengapa—rasanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada yang menusuk hatiku dengan pisau berkali-kali. Dan saat tau akan berpisah denganmu, rasanya hatiku merasakan kesedihan yang luar biasa. Melebihi kesedihanku saat harus berpisah dengan teman-teman yang lain.”

Lelaki itu terdiam sebentar. Sang gadis masih diam mendengarkan. “Dan saat berada disini, yang ada dalam pikiranku hanya dirimu. Seakan merasa—ada satu organku yang tertinggal. Awalnya, aku bingung tentang hal yang aku rasakan. Tapi, sekarang aku sadar. Aku sedang mencinta. Dan orang yang kucintai… adalah dirimu.”

Pupil bola mata Hyeobin membesar seketika.

“Aku tau… tak seharusnya aku mengatakan hal ini. Aku tau… kau sudah bersama orang yang kau cinta. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku selama bertahun-tahun ini. Jika hanya memendamnya, hatiku akan sangat menderita. Sekarang—walaupun kau tidak menerimaku, aku merasa sedikit lebih lega.” Kibum tersenyum simpul. Arah matanya masih ia arahkan ke bawah.

Hyeobin mengelus rambut Kibum lembut.

“Mianhae, oppa. Aku sama sekali tidak menyadari perasaanmu sebelumnya. Tapi, aku hanya menganggapmu oppa-ku. Tidak lebih dari itu. Jeongmal mianhae. Kuharap, setelah kejadian ini, kita masih bisa akrab seperti dulu. Karena jujur, hatiku sangat nyaman saat bersamamu.” Hyeobin menundukan kepalanya. Kibum tersenyum kecil dan mencubit pipi Hyeobin pelan.

“Ahhh~ Uri Hyeobin sudah dewasa ternyata. Kalau begitu, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tunjukkan saja jalannya. Arasso?” Lelaki itu menarik tangan sang gadis. “Tidak usah, oppa. Aku bisa naik taxi.” Dia menolak halus. Bersamaan dengan itu, suara petir menggelegar seketika. Hujan pun turun membasahi bumi dengan deras.

Membuat senyuman terukir di bibir si lelaki. “Tidak mungkin kan kau pulang sendiri dengan keadaan hujan deras seperti ini. Sudahlah, ayo aku antar.” Kibum menarik tangan Hyeobin kembali. Hyeobin mengangguk pasrah. Mereka berdua berjalan menuju mobil dengan cepat karena pasukan hujan yang turun tanpa rasa kasihan. Meninggalkan seseorang yang sudah kehujanan dengan perasaan bercampur aduk.

Di perjalanan, mereka hanya diam. Suara petir ditambah suara lagu yang sedang diputar di dashboard bersatu padu menjadi sebuah alunan yang menjadi backsound mereka.

“Bagaimana kehidupan SMA-mu setelah aku pergi dulu?” Kibum bertanya, berusaha mencairkan suasana. “Baik-baik saja. Seungri selalu ada untukku. Tadinya aku pikir ia hanya main-main denganku, tetapi ternyata—ia benar-benar serius. Banyak yang menentang hubungan kami berdua, apalagi trio Kangin, Yesung, dan Heechul; namun Seungri selalu melindungiku. Dan itu membuatku lebih baik.”

Entah mengapa, hati lelaki itu kembali merasa sakit saat mendengar sang gadis terus memuji pria lain di hadapannya. Dan pria itu—adalah pria yang memiliki gadis ini sepenuhnya. Bukan dirinya. Melainkan pria yang seratus persen menang darinya. Dari pertempuran yang bahkan tidak pria itu usahakan sama sekali.

“Sudah sampai. Gomawo, Kibum-oppa.” Hyeobin berucap pelan, kemudian membuka pintu dan keluar perlahan. Bisa terlihat gadis itu sempat tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Setelah sang lelaki itu pergi, Hyeobin langsung melangkah pelan menuju asrama mereka. Ia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia mulai memasak untuk makan sorenya hari ini. Tepatnya sebelum bel berbunyi secara tiba-tiba.

“Sia—Aigoo!!!” Hyeobin bisa melihat seorang pria sedang berdiri di pintu rumahnya dengan basah kuyup. Benar-benar kacau.

“Seungri-ah, gwenchana? Kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?” Hyeobin bertanya sembari mempersilahkan pria itu untuk masuk. “Sana, cepat ganti baju. Kau pasti sangat kedinginan. Kebetulan, ada beberapa pakaianmu yang tertinggal di asramaku.”

Pria itu mengangguk dan melakukan hal yang disuruh sang gadis. Setelah selesai, ia duduk di sofa. Hyeobin mengecek kening pria itu dan terkejut. “Panas sekali! Kau pasti sakit. Akan kuambilkan obat.” Gadis tersebut beranjak bangun, sebelum ditahan oleh tangan pria itu. Pria tersebut menarik tangan sang gadis dan menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi.

“Kenapa lama sekali baru pulang?”, tanyanya, sedikit serak. “Ra… rapatnya memang sedikit lama.”

Gadis itu berkata cepat. Bukannya ingin berbohong, namun akan lebih baik pria di hadapannya ini tidak tau yang sebenarnya.

“Rapatnya lama? Kau memang benar-benar tidak pandai berbohong, Hyeo-ah.” Seungri menarik nafas dalam. Hyeobin terpaku. Ada rasa keterkejutan mendalam di jantungnya. “Eh?” Hyeobin bertanya, masih bertingkah senormal mungkin.

Seungri tersenyum lirih. “Apakah rapat itu adalah duduk dan berbincang berdua bersama sunbae saat SMA?” Pertanyaan tersebut sontak membuat Hyeobin lebih kaget. Hatinya gelisah. Namun, tak bisa dipungkiri, ada rasa penyesalan di benak terdalamnya.

“Mianhae, Seung-ah. Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa diucapkan dari mulutnya.

“Jika tentang kau dan sunbae itu, aku tidak masalah. Yang aku masalahkan adalah—kenapa kau berbohong padaku? Tidak bisakah kau berkata yang sebenarnya? Aku juga sangat percaya kepadamu, Hyeobin-ah. Dan aku tau, aku tidak boleh terlalu mengkekangmu. Bukan salahmu jika kau ingin berbincang kembali dengan sunbae yang sudah lama tak kau temui. Tapi tolong, jangan berbohong padaku.”

Air mata turun perlahan dari pelupuk mata gadis itu. Ia menyesal. Sangat menyesal. “Mianhae. Jeongmal mianhae.” Gadis itu kembali berucap pelan. Seungri memeluk sang gadis, mendekapnya ke pelukan. “Gwenchana. Tapi, please, lain kali jangan bohongi aku. Ok? Jangan buat kepercayaanku hilang.”

Hyeobin mengangguk pelan.

“Aku janji. Aku memang sangat bodoh. Tak seharusnya, aku mengkhianati kepercayaan orang yang sangat kucintai dan mencintaiku sepenuh hati. Kau sangat pengertian kepadaku, tapi aku malah membalasmu dengan ini. Mianhae, Seung-ah.”

Seungri tersenyum hangat. Mereka berdua kembali berpelukan.

 

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

[Chapter One – The Beginning]

Burung-burung berkicauan merdu di langit biru. Panas matahari menyinari bumi dengan terik. Menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan tengah hari. Angin berhembus pelan, senada dengan kicauan burung yang bergema ringan. Seorang gadis berdiri menatap langit. Rambutnya yang panjang, senantiasa dimainkan angin. Air matanya turun perlahan. Di balik raut wajahnya yang tenang, terdapat jutaan pikiran yang sedang berada dalam otaknya.

Gadis itu bangkit perlahan dan merentangkan tangannya keatas. Merasakan angin sedang merasuki seluruh permukaan tubuhnya. Ia menutup mata, berharap setelah membukanya, ia akan menjadi seekor burung yang bisa terbang leluasa di angkasa.

“Kau murid kelas satu?”

Pertanyaan dari seseorang membuat gadis tersebut tersentak dan kembali duduk, tanpa melirik orang yang bertanya. Ia merasakan orang tersebut duduk di sampingnya, namun ia tetap tak meliriknya. Bukan karena tidak mau, tetapi akan sangat memalukan baginya jika menunjukkan mata bengkak dan bekas air mata yang terlukis jelas di wajahnya.

“Kau belum menjawabku.” Orang itu berkata, dengan halus namun tegas. Ia mengangkat wajah gadis yang daritadi terus menunduk itu. “Kau menangis?”, tanyanya lagi, dengan nada sedikit kaget. Gadis itu masih diam. Orang tersebut mengerucutkan mulutnya, “Aku bukan penyiar radio.”

Ucapannya membuat gadis tersebut menatapnya dan mengkerutkan kening. “Maksudmu?”

Orang tersebut tersenyum. “Dari tadi aku bertanya dan berkata sendiri. Seperti penyiar radio yang hanya berkomunikasi satu arah.” Gadis itu tertawa kecil mendengar perkataan orang di sebelahnya. “Nah, jika kau tersenyum seperti itu, kau akan jauh terlihat lebih cantik. Jadi, jangan menangis lagi ya.”

Gadis tersebut mengangguk, pipinya sedikit merona. Baru pertama kali ini ada yang menyebutnya cantik. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Orang itu bangun dan berlari kecil. “Tunggu! Namaku Kim Hyeobin!” Gadis itu berteriak. Orang tersebut berhenti sebentar, melambai, kemudian kembali berlari. Meninggalkan gadis yang sekarang tersenyum.

*^*

[Hanguk Art School]

Gadis bernama Kim Hyeobin tersebut memasuki kelas sekolah barunya. Sudah cukup banyak orang-orang yang datang. Dan setengah dari mereka saling mengrobol dan menyapa. Ia memutuskan untuk duduk di tempat paling pojok, tempat yang paling dekat dengan jendela.

“Ya! Kau bersekolah disini? Appa-mu baru membobol bank?” Suara yang diiringi dengan tawa yang tidak asing, membuat gadis itu memutarkan lehernya. Seketika tubuhnya merasakan perasaan yang tidak enak. Tiga orang pria sudah berada di hadapannya. Tiga orang—yang sangat dikenalnya. Tampan dan kaya, namun hatinya? Nol besar! Mereka adalah teman sekelas gadis tersebut saat berada di SMP dahulu. Dan bisa dibilang—mereka adalah musuh terbesar gadis ini.

“Jangan begitu, Kangin-ya! Kita harus menyambut kedatangan penghibur kita. Jika ia tidak ada di SMP dulu, pasti kita tidak akan merasa terhibur. Ia adalah korban terempuk kita.” Kim Yesung berbicara lagi, menimbulkan tawa besar yang membuat gadis itu merasa risih. Beberapa orang-orang yang lain menatap gadis itu heran.

“Setidaknya Hyeobin-ssi lebih baik dari kalian. Ia berhasil meraih beasiswa untuk sekolah disini. Sedangkan kalian? Mungkin jika tidak ada bantuan dari orang tua kalian, kalian sudah lama menjadi gelandangan.” Ucapan seseorang membuat tiga trio sombong itu terdiam seribu bahasa. Mereka memutuskan untuk pergi, walaupun terdapat raut kemarahan yang terlihat jelas di wajah mereka.

Gadis tersebut menatap ‘sang penolong’ nya dengan sedikit kaget. “Ahh, Hyeobin-ah. Kita satu sekolah lagi? Baguslah kalau begitu.”, kata orang itu sembari berlalu, kembali ke rombongan teman-temannya. Orang itu tak sadar, bahwa gadis yang baru saja bicara dengannya sudah sangat merona.

“Terima kasih.”, bisiknya, sedikit telat. Orang itu—tepatnya pria itu—adalah orang yang selalu menolongnya semasa SMP. Pria tersebut tergolong pria yang diam, namun bakat seninya selalu dapat membuat seluruh gadis terpesona. Tak terkecuali dirinya.

*^*

Di ruang besar yang penuh dengan kaca di setiap sisi-sisinya, murid kelas satu memulai pelajaran pertamanya. Beberapa senior juga ada untuk membantu para guru. “Sebelum kita memulai pelajaran, sebaiknya kalian masing-masing menunjukkan kemampuan kalian terlebih dahulu. Kalian boleh sendiri atau berdua.”

Sang guru berbicara, membuat para murid sontak berhamburan memikirkan apa yang mau mereka tampilkan. Namun gadis itu hanya terdiam. Tidak seperti murid lain yang mengajak temannya untuk berdua. Karena, jujur, gadis itu belum punya seorang teman pun. “Mau bersama? Kita bisa menarikan dance yang dulu kita tampilkan saat perpisahan.”

Suara itu. Suara itu lagi-lagi membuat detak jantung gadis tersebut berdenyut keras. Bahkan sebelum ia melihat si pemilik suara. “Apakah kau tidak mau berpasangan dengan murid yang lebih hebat dariku?” Gadis itu bertanya, pertanyaan yang sangat disesalkannya. Pria dihadapannya mengerutkan kening. “Kau tidak mau berpasangan denganku?”

Seketika gadis itu mengangguk secepatnya. “Tentu saja aku mau, tapi—”

“Kalau begitu, aku akan memberi tau Park Saenim.”, katanya cepat. Tak sadar, gadis itu kembali tersenyum. Sentuhan tepat di bahu sebelah kanan, membuat ia sedikit terkejut. “Kau—gadis yang ada di balkon kan? Emm… Kim Hyeobin?”

Gadis tersebut menganggukan kepalanya seraya tersenyum. “Kau—orang yang menghiburku waktu itu.”

“Kalau begitu kenalkan. Kim Kibum imnida. Kelas tiga.”, ucapnya sembari tersenyum, menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis. “Kim Hyeobin imnida. Kelas satu. Annyeong hasimnika, sunbaenim.” Gadis itu menunduk pelan.

“Jangan terlalu formal begitu. Aku bukan lelaki lanjut usia.” Kibum tersenyum. Gadis tersebut tersenyum malu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong, Hyeobin-ssi.”, ia berkata lagi, sembari kembali membantu para guru. “Dia siapa?”

Hyeobin menoleh, bisa melihat pujaannya sedang berdiri dengan sebuah kertas di tangan kanannya. “Ohh, dia sunbae kita. Kebetulan, secara tidak sengaja, aku bertemu dengannya kemarin di balkon.” Gadis itu menjelaskan hati-hati. Menyebabkan pria tersebut mengangguk-angguk.

Bel panjang menyebabkan para murid terkejut. Park Saenim menyuruh semua murid untuk bersiap. Mereka mulai diuji satu-satu.

“Urutan 3! Kim Hyeobin dan Lee Seungri!”

Kim Hyeobin dan pria tersebut melangkah maju. Tiga trio sombong yang juga berada disitu, sedikit bersiul meledek. Sedangkan para perempuan, berdecak iri kepada gadis yang berhasil duet dengan pria idaman mereka itu. Hyeobin sedikit takut, namun pria tersebut membisikan sesuatu padanya. Bisikan yang sama pada waktu SMP dulu. “Jangan gugup. Bayangkan hanya ada kita berdua disini.”

Hyeobin mengangguk, kemudian tarian mereka pun dimulai. Mereka menari dengan elok dan senada dengan lagu yang dilantunkan. Membuat para murid, guru, serta senior-senior yang melihat mereka, terpana.

Great! So great!

Kim Saenim meneriakan pujiannya kepada mereka, diikuti tepuk tangan seluruh murid yang lain. “Sekarang kalian bisa melanjutkan ke ruang vocal.” Park Saenim menambahkan, membuat mereka langsung keluar dari ruangan.

Thanks.” Hyeobin memulai. Membuat pria itu—Seungri—mengkerutkan keningnya. “For what?”, tanyanya, tak mengerti. “For everthing. Tanpamu, pasti tarianku tidak akan sebagus ini.” Seungri tertawa kecil. “It’s okay. Itu gunanya teman, kan?” Dia mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya, dan langsung bergegas ke ruang vocal.

Hyeobin terpaku di tempat. “Teman? Hanya—teman?”, bisiknya seraya tersenyum pahit.

*^*

Angin berhembus lebih besar hari ini. Langit juga sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Burung-burung tampak berterbangan tak karuan. Gadis berusia enam belas tahun itu terdiam, menatap langit. Mungkin inilah hobby terbesarnya saat sedang galau. Ia masih mau berlama-lama di balkon sekolah barunya, namun dering ponsel membuatnya mengurungkan niat.

“Yoboseyo… Jinjja? Ne, arasso.”

Gadis tersebut menggembungkan pipinya, sembari melangkah turun perlahan. Tetes-tetes air hujan jatuh setitik demi setitik, menimpa permukaan kulitnya. Tiba-tiba, titik-titik air itu seakan menghilang. Gadis itu terbingung, lalu membalikan badannya ke belakang. Seseorang sudah menggenggam payung yang sekarang melindungi mereka berdua dari serangan pasukan hujan.

“Pulang ke rumah?”, tanya orang tersebut. Kim Hyeobin mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan mengantarmu.” Orang itu langsung menarik tubuh mungil gadis tersebut ke mobilnya. “Sunbaenim, mian merepotkan.” Kim Hyeobin menunduk pelan. “Panggil saja Kibum-ssi atau Kibum-oppa. Bukankah sudah kubilang agar tidak usah terlalu formal?”

Gadis tersebut mengangguk pelan. “Penampilanmu dance-mu tadi sangat hebat. Gerakan dirimu dan partner-mu sangat senada. Semuanya daebak!” Kim Kibum berbicara lagi, kali ini memuji gadis itu. Membuatnya tersipu. Wajah pria itu tiba-tiba berubah serius, “Boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit menyangkut masalah pribadimu.”

Ia menatap pria di sebelahnya, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kemarin… kenapa kau menangis?”

Hyeobin terdiam. Matanya kembali menatap pria tersebut, seakan mengukur-ukur apakah ia akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sedangkan pria itu masih menyetir sembari melayangkan pandangan tanya. Keheningan saat itu juga terjadi.

“Kalau kau tidak mau memberitahukan masalahmu, aku tidak akan memaksa.” Pria itu berkata lagi. Hyeobin  menghela nafas dalam-dalam. “Aku… menyukai seseorang. Ia… adalah bekas teman sekolahku di SMP. Menurutku, ia sangat perfect, dan itu malah membuat rasa percaya diriku ciut di depannya. Aku… tidak tau mau bagaimana. Aku takut suatu saat nanti, ia akan mempunyai orang yang ia cintai. Dan, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Kibum tersenyum kecil, “Apakah orang yang kau maksud adalah partner dance-mu tadi?”

Gadis itu membulatkan matanya. “Eh?! Bagaimana oppa tau?” Ia bertanya dengan polos. Sontak membuat pria di hadapannya tertawa. “Terlihat dari matamu saat memandangnya. Pandanganmu—tampak berbeda. Lebih dalam.”, ucap pria tersebut lembut. “Apakah sebegitu terlihatnya?” Sangrin bertanya, kelihatan panik.

Pria tersebut mengangguk. “Bahkan tertulis di keningmu.”, ucapnya bercanda. Namun, gadis di sebelahnya langsung terkejut dan mengusap-usap keningnya. “Benarkah?!”, tanyanya, masih panik. Membuat Kibum kembali tertawa. Suasana kembali tenang setelah itu.

“Yakinlah pada dirimu, Hyeobin-ah. Aku yakin… sikapmu, fisikmu, ketulusanmu, kepolosanmu, dan semua dari dirimu, akan selalu membuat orang lain mencintaimu.” Kibum tersenyum penuh arti, meninggalkan tanda tanya yang mendalam di hati Hyeobin. “Maksud oppa?”, tanyanya tak mengerti.

Kibum menunjuk sebuah rumah, menghiraukan pertanyaan gadis di sebelahnya. “Apakah ini rumahmu? Berarti kita sudah tiba. Sampai jumpa di sekolah besok, Hyeobin-ah.”

Hyeobin pun mengangguk dan melambai sebelum akhirnya masuk ke kamar. Dalam hati, ada sedikit tanda tanya yang mengerubungi. Kenapa ia merasa nyaman jika berada dekat dengan senior itu? Dan kadang-kadang malah melebihi rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama pujaan hatinya. Namun, ia langsung menepis pikirannya jauh-jauh. Itu adalah pemikiran yang bodoh, fikirnya seraya mencoba memejamkan mata.

*^*

Kim Hyeobin mengempaskan tubuh mungilnya ke kursi. Head-set masih terpasang di kedua telinganya. Lagu berjudul ‘My All Is In You’ itu memasuki lubang telinganya dan meresap hingga ke otak. Membuatnya merasa damai dan tenang. Ia baru saja ingin menutup mata akibat kantuk yang masih menyerang, sebelum seseorang menganggunya. Seseorang—yang special.

“Boleh bicara sebentar?”

Pria itu bertanya. Pandangan matanya sama sekali tak bisa ditolak oleh sang gadis. Pandangan yang entah mengapa selalu berhasil membuat  gadis di hadapannya terpaku. Mereka berhenti di sebuah kelas kosong yang sudah tidak dipakai. Pria itu menatap sang gadis dengan dalam. Bahkan, tak sedetik pun terlepas.

Angin-angin yang berhembus menjadi music pengiring mereka berdua. Keheningan berhasil menjadi kacau, saat pria tersebut menghela nafas dalam. “Aku. . . ”

Ia terlihat cukup gugup. Bisa terlihat dari tangannya yang tak berhenti bergerak dan sorot matanya yang berkeliaran ke berbagai arah. Gadis itu masih menunggu perkataan yang ingin dilontarkan sang pria.

“Saranghaeyo.”

Satu kata itu akhirnya berhasil dikeluarkan oleh sang pria. Membuat gadis di hadapannya terkejut sempurna. Rangkaian nadi gadis tersebut seakan terbelit rumit. Ia masih terdiam. Sungguh tak percaya dengan apa yang ia lalui saat ini. Apakah ini hanya candaan?, pikir gadis itu.

“Seungri-ssi… Jebal, jangan bercanda lagi.”, ucap gadis tersebut, dengan sedikit serak. Tatapan sang pria kembali tertuju kepadanya. “Apakah wajahku… kelihatan sedang bercanda?” Pria tersebut menatap gadis di hadapannya dengan dalam, serius, dan penuh kefokusan. Gadis itu sontak menggeleng. Tapi, ia masih tak percaya. Pujaannya—orang yang selalu ia impikan—sekarang sedang menyatakan perasaannya? Kepada dirinya?

“Seungr—”

Pria itu memotong ucapan gadis tersebut dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang gadis. Membuatnya lebih terkejut. “Please, just say yes or no.”, ucap pria tersebut. Reflek, gadis itu mengangguk cepat. Dan sang pria pun mendekap gadis itu dalam dekapannya. Mereka berdua berpelukan—dengan hangat dan penuh cinta.

Ohh… Great~

Seorang lelaki berdiri di pojok ruang kelas tersebut. Pandangannya menatap dua juniornya yang sedang saling berpelukan. Dan entah mengapa, membuat hatinya sedikit panas.

*^*

Berpuluh-puluh hari telah berlalu sejak hari itu. Sekarang, mereka sudah melewati akhir tahun pelajaran mereka. Malam ini, adalah malam yang special, terutama untuk murid kelas tiga yang akan meninggalkan sekolah untuk menuju jenjang yang lebih tinggi, university.

Lagu berdendang riang memenuhi ruangan besar yang sudah disulap menjadi arena pesta. Semua murid kelas akhir tertawa bersama, menangis bersama, saling berpelukan, dan bercanda ria. Gadis itu terdiam. Menonton aktivitas menarik para seniornya. Tangannya digenggam erat oleh seorang pria. Pria yang sudah delapan bulan ini menjadi kekasih dan pendampingnya.

Dalam hati gadis itu ada rasa gusar yang bahkan tidak ia ketahui penyebabnya. “Aku akan ke… toilet dulu.” Gadis itu pamit kepada sang pria. Dibalas dengan anggukan kecil dari pria tersebut. Kim Hyeobin berjalan perlahan menuju toilet. Ia membasuh wajahnya disana. Setelah merasa lebih lega, ia keluar dari toilet dan langsung kembali melangkah menuju ‘pendamping’ nya.

“Gadis balkon!”

Suara seorang lelaki membuat gadis itu terkejut dan memberhentikan langkahnya. Di hadapannya sekarang sudah berdiri seorang lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. “Kibum-oppa.”, panggilnya pelan. Membuat lelaki yang dipanggil tersenyum lebar. “Mianhae.”

Gadis tersebut menatap sang lelaki bingung. “Kenapa meminta maaf?”

“Setelah aku pergi, tak ada orang yang akan menemanimu lagi di balkon itu. Dan tak ada lagi orang yang akan menghapus air matamu.” Dia berucap sembari tersenyum, menatap gadis itu dengan pandangan dalam. Gadis tersebut balas tersenyum, entah mengapa membuat tulang rusuk lelaki itu ngilu sesaat. “Mungkin ini terdengar lucu, tapi kau adalah gadis pertama yang sedekat ini denganku.”

“Jinjja?” Gadis itu bertanya dengan pandangan tak percaya, membuat lelaki itu kembali merasa ngilu. “Kapan kita bisa bertemu lagi?”, lanjut gadis itu pelan. Lelaki itu terdiam. Bukan karena tidak mau menjawab, namun ia sendiri belum tau tepatnya kapan mereka akan kembali bertemu. “Aku… juga tidak tau. Aku akan melanjutkan kuliahku di New Jersey. Kebetulan… appa-ku kerja disitu.”

Entah mengapa, perkataan lelaki tersebut membuat sang gadis merasa perih. “Jadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?” Hyeobin bertanya langsung to the point. “Kalau begitu, sampai jumpa, sunbae. Semoga kau berhasil.”

Kim Hyeobin melangkah meninggalkan Kim Kibum yang masih membeku. “Dan… semoga kita bisa bertemu lagi.”, bisik gadis itu lirih.

“Kenapa lama sekali?” Lee Seungri—pria yang daritadi menunggu—tersenyum. Hyeobin hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman manis.

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Annyeong, semua~~~ Comment seperti biasa ya…

@Hyeobin-onn : Tadinya itu ff antara aku, Siwonnie, dan Woo… Tapi akhirnya kuputuskan untuk kasih ke onn~ Hehehehe~~~ Semoga suka… ^^

“Gwenchana, Kibum-ya?”

Kibum mengangguk dan bergegas berdiri tegak. “Hampir saja…”, gumamnya mencoba santai. “Kajja!”, seru Donghae dan mereka melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini semua berjalan lancar. Tak ada sesuatu yang menghalangi mereka, namun yang mereka temui sepanjang jalan hanya lorong yang bahkan tak terlihat ujungnya.

“Bisa berhenti dulu? Aku sangat lelah~”, kata Kyuhyun dengan nafas memburu. Yang lain—yang juga kelelahan mengangguk dan mulai duduk. Menstabilkan nafas mereka yang sudah seperti baru melakukan pertandingan tinju. “Ottokhae? Sejauh kita berjalan, hanya lorong yang kelihatan…”, ucap Siwon yang sudah sangat lelah dengan keadaan kakinya yang mengerikan.

“Ne. Padahal bangunan ini setauku tidak sepanjang ini.”, sahut Donghae yang juga sudah sangat lelah dan lemah akibat racun yang tertanam di lehernya.

Kibum tiba-tiba berdiri, “Apakah mungkin kita terkena ilusi?”

“Kau pikir kita berada di dunia kartun?”, tanya Kyuhyun sarkastik. “Tapi mungkin saja… Kalau tidak, bagaimana cara menjelaskannya? Kita sudah berjalan sejauh mungkin, tapi bahkan hingga sekarang kita belum melihat jalan keluarnya.”

Donghae dan Siwon mengangguk, “Masuk akal juga…”

“Lalu, bagaimana cara menghilangnya kalau memang ada?”, tanya Kyuhyun dengan memberi penekanan pada ‘kalau memang ada’. Kibum menggelengkan kepalanya. “Kita bukan ninja yang bisa menghilangkan pengaruh ilusi…”, lanjut Kyuhyun. “Molla~”, jawab Kibum dengan lunglai.

“Apa sih sebenarnya tujuan mereka menahan kita?”

Semuanya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Siwon yang ada benarnya juga. Mereka berempat hanya empat remaja yang sama sekali tidak tau apa-apa. Lalu, kenapa tiba-tiba mereka ditangkap tanpa sebab yang jelas? Kini pikiran mereka tertutup jutaan misteri yang menghubungkan kepala mereka dengan tidak karuan.

“Sudahlah, itu dipikirkan lain kali saja. Yang penting sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita keluar dari sini.”, ucap Donghae tegas. Yang lain mengangguk menyetujui perkataan Donghae. “Kalau benar ini ilusi, bagaimana caranya untuk menghilangkan ilusi ini?”, tanya Kibum, memulai berpikir dengan keras.

“Ilusi itu ada karena pikiran kita sendiri. Jika kita menghilangkan semua pikiran negative yang ada dalam pikiran kita, kurasa kita akan menghilangkan ilusi tersebut.”, jawab Kyuhyun dengan pandangan menerawang. “Kau benar, Kyu!”, teriak Donghae, Siwon, dan Kibum bersamaan.

“Kalau begitu lebih baik kita memejamkan mata kita dan menarik nafas dalam-dalam. Kupikir cara ini akan berhasil.”, lanjut Siwon dibalas persetujuan yang lain. Setelah beberapa menit, mereka kembali membuka mata. “Ahh~lebih baik.”, kata Donghae ceria. “Kalau begitu, kajja kita lanjutkan lagi.”

Mereka berempat kembali meneruskan perjalanan dengan cepat. Setelah cukup lama, pintu keluar tampak terlihat. Memberikan cahaya dan sinar yang membuat mereka—entah kenapa sangat bahagia.

Donghae berlari menuju pintu keluar itu, dilanjutkan dengan Siwon, Kyuhyun, dan Kibum. Hingga akhirnya Donghae yang pertama tiba, menyiapkan satu langkahnya lagi untuk menginjak pintu keluar, pintu itu tertutup rapat secara tiba-tiba. Membuat mereka berempat jatuh terjerembap.

“Apa lagi ini?!” Kibum berteriak dengan kesal, sementara Siwon menjambak-jambak rambutnya. Kyuhyun memijit-mijit keningnya, sedangkan Donghae melangkah bolak-balik.

Langkah berat membuat mereka berempat menoleh. Mereka bisa melihat dengan jelas 3 orang lelaki sedang melangkah penuh wibawa. “Si—siapa kau?”

Seorang lelaki diantara mereka tersenyum ramah, “Tenang. Kami tidak mau melakukan yang macam-macam kepada kalian.”

“Lalu, apa mau kalian?! Dan siapa kalian?!”, tanya Siwon sembari menunjuk 3 orang itu. “Aku Jungsoo. Park Jungsoo. Ini kedua rekanku, Kim Jongwoon dan Kim Youngwoon. Untuk lebih jelasnya, akan kami jelaskan nanti. Sebaiknya, kalian ikut kami ke ruang makan. Kalian pasti lapar, bukan?”

Mereka berempat mengangguk kecil, dan memutuskan mengikuti mereka dari belakang. “Apakah kalian yakin—mereka bukan orang jahat?”, tanya Donghae, ragu-ragu. Kyuhyun menatap Donghae, “Aku juga tidak tau. Tapi, hanya mereka harapan kita.”

Donghae mengangguk, begitu pula dengan Siwon dan Kibum. Tak sadar, mereka telah melangkah hingga ke sebuah ruang. Di dalam ruang itu, terdapat meja yang sangat panjang. Di atas meja itu, sudah tersedia berpuluh-puluh makanan yang sangat menggiurkan. “Silahkan makan. Kalian boleh mengambil sebanyak mungkin yang kalian mau. Kami akan menunggu kalian di ruang sebelah.”

Orang yang bernama Youngwoon berhenti sebelum memasuki ruang satunya, “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10.”, dan kemudian melangkah dan menutup pintunya. Donghae langsung bersiap menyantap semuanya, namun Kibum melarangnya.

“Apakah kau tidak curiga? Maksudku—apa maksud orang tadi?”

Perkataan Kibum membuat yang lain akhirnya mengangguk. “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10. Demi Tuhan, apa maksud orang itu?!” Kyuhyun kembali memijit-mijit keningnya. “Berapa jumlah semua hidangan ini?”, tanya Siwon tiba-tiba, membuat yang lain langsung memandangnya tak percaya.

“Ya Tuhan, Choi Siwon! Ini bukan waktunya untuk memikirkan hidangan itu!”

Namun tampaknya Siwon tak memperdulikan sentakan Donghae. Ia menghitung semuanya, kemudian senyum terukir di bibirnya. “Jumlah hidangan ini ada 50!”

Kibum mengkerutkan keningnya, “Lalu?!”

Siwon menghembuskan nafas panjang dan menatap ketiga temannya tak percaya.

“Apakah kalian masih tak sadar? Jumlah hidangan ini ada 50. Dan orang itu mengatakan tadi bahwa ‘Diantara 50 ada yang hitam 10’!”

Mata Kyuhyun terbelalak seketika, “Maksudnya, diantara 50 hidangan itu…”

“…ada yang teracun 10?!” Kibum menambahkan.

Donghae mengangguk mengerti. “Lalu, mana yang beracun dan mana yang tidak?” Mereka bertiga menggeleng pelan. “Aigoo! Apakah bahkan mereka tak memberi kita kebebasan dan ketenangan untuk sekedar makan?!”

“Apa maksudnya 10 makanan yang beracun itu, makanan yang bewarna hitam?”, tanya Donghae, dan langsung dibalas jitakan ketiga temannya. “Apakah ada benda yang bisa mendeteksi racun?”, tanya Kyuhyun. Lagi-lagi, mereka bertiga kembali menggeleng. Keheningan melanda mereka. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri.

Kibum memandang sepatunya seraya berpikir, lalu tiba-tiba ia bisa melihat seekor kucing sedang menjilat sepatunya. Sebuah ide langsung terlintas. Dengan cepat, ia mengambil sebuah daging beef dan menaruhnya di bawah. Sang kucing pun memakan daging itu. Dalam beberapa menit kemudian, daging itu sudah habis. Ia tersenyum puas. Lalu, ia mengambil acak satu puding dan menaruhnya lagi ke bawah. Sang kucing itu kembali memakannya. Dalam beberapa detik kemudian, kucing itu tergeletak dan kemudian tidak bergerak lagi.

Beef ini tidak beracun, sementara puding itu beracun!”, seru Kibum sembari mulai mengambil satu potong daging itu. “Darimana kau tau, Kibum-ya?! Kau tidak nekat ‘kan?”, tanya Kyuhyun yang panik. Kibum tersenyum, “Aku sudah melakukan riset kepada kucing ini, jadi tenang saja.”

“Jinjja?!”, tanya Donghae seraya tersenyum dan akhirnya mengambil sepotong daging itu. Begitu pula dengan Siwon dan Kyuhyun. “Setidaknya, kita bisa makan.”, ucap Siwon seraya tersenyum.

Saat mereka sudah memakan semua daging itu, ketiga lelaki itu masuk dan tersenyum puas. “Kurasa sudah saatnya kalian mengetahui semuanya.”, kata seorang sembari tersenyum.

Mereka duduk di salah satu ruangan yang penuh dengan patung-patung unik. “Kenalkan, kami adalah mantan ksatria negeri Super Junior.”, ucap seorang bernama Jungsoo. “Ksatria? Dan negeri Super Junior? Hmmpphh.” Kyuhyun menahan tawanya yang ingin meledak keluar. Youngwoon menggertakan giginya sembari menatap Kyuhyun tajam. “Kau sangat kurang ajar! Pasti kau adalah reinkarnasi Cho Sihyun!”

“Setau kami, kami tak pernah mendengar negeri Super Junior. Dimana itu?”, tanya Kibum, mengoreksi Kyuhyun. Jongwoon tersenyum, “Mungkin ini memang terdengar konyol, tapi sebelum semua orang membuat negaranya masing-masing, nama dunia yang kalian sebut ‘bumi’ ini adalah Negeri Super Junior. Dan, tentu saja di setiap wilayah, akan ada ksatria yang menjaga perdamaian negeri ini.”

“Kami bertiga adalah ksatria ke-99 yang bertugas menjaga wilayah ini.”, lanjut Jungsoo, orang yang paling tampak menyenangkan. “Lalu—apa hubungannya ini semua dengan kita?”, tanya Siwon, dibalas anggukan ketiga lainnya. Youngwoon yang dari tadi terdiam seketika berbicara, “Walaupun sekarang dunia ini terdiri dari beratus-ratus negeri dan terdapat tentara di setiap negerinya, para ksatria tetap harus menjalankan tugasnya. Karena tanpa kami, mungkin negeri Korea Selatan sudah hancur oleh orang yang tidak baik.”

Jongwoon memandang kami berempat, “Kami…merasa kami sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas ini. Jadi, kami—memutuskan untuk menurunkan tugas kami kepada kalian.”

“Mworago?! Tapi—kenapa harus kami? Kami bukan siapa-siapa.”

Donghae berbicara, dan yang lain hanya bisa kembali mengangguk setuju. “Kalian adalah reinkarnasi dari 4 ksatria terhebat sepanjang masa.”, ucap Youngwoon langsung pada tujuan. “Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum.”

“Ne?” Kibum benar-benar masih bingung dengan ini semua.

“Lee Donghae adalah reinkarnasi dari Lee Kyuhae. King of the crusher. Sementara Choi Siwon adalah reinkarnasi Choi Kiwon. King of the control. Cho Kyuhyun adalah reinkarnasi dari Cho Sihyun. King of the Brain. Dan, Kim Kibum adalah reinkarnasi Kim Dongbum. King of the Plans.” Jongwoon menjelaskan, membuat mereka semakin bingung.

Suasana seketika hening. Hanya suara desir angin yang terdengar. Mereka semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ada rasa kepercayaan terhadap ke-3 orang misterius itu, namun akal budi dan logika mereka, jauh menyangkal. “Dalam waktu kurang dari 100 hari lagi, Yang Jahat akan segera datang. Kami tidak tau siapa Yang Jahat itu berbentuk atau mempunyai kekuatan seperti apa. Namun, itu tertulis jelas dalam ramalan leluhur kalian. 4 Ksatria Agung Super Junior.”

Perkataan Jungsoo tak membuat mereka lebih baik.

“Lebih baik kalian beristirahat dulu hari ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sebelah sana. Kami pamit dulu. Semuanya akan dilanjutkan besok pada jam sarapan. Lee Donghae dan Choi Siwon, luka kalian juga akan disembuhkan besok.” Youngwoon berbicara, kemudian mereka ber-3 meninggalkan ruangan. Donghae, diikuti yang lainnya melangkah ke dalam ruangan.

Disana sudah terdapat 4 tempat tidur yang sangat empuk dan besar. Kamar mereka juga sangat besar, cukup besar untuk bermain futsal di dalamnya. Donghae langsung berbaring di salah satu tempat tidur itu. “Akhirnya, aku bertemu kasur lagi!”, sahut Donghae senang.

Yang lain pun turut berbaring di kasur masing-masing. “Apakah ini mimpi?” Kyuhyun bertanya, sembari mencubit pipinya sendiri. “Kalau benar, ini mimpi yang paling buruk.” Siwon mengomentari pelan. Kibum memejamkan mata. “Apakah ini benar? Maksudku—secara logika ini sama sekali tak mungkin. Negeri Super Junior? 4 Ksatria Agung? Yang Jahat? What the hell are they?!”

Ucapan Kibum membuat mereka semua terdiam.

“Mungkin sekarang kita bisa beristirahat. Tapi besok? Siapa yang tau akan ada sesuatu yang terjadi.”, kata Donghae pelan. “Donghae benar. Kalau mereka bertiga memberi kita semua ujian-ujian yang sangat berat seperti itu, apakah berarti langkah yang harus kita tempuh akan sangat sulit?” Siwon berucap sembari mulai memejamkan mata.

Kyuhyun menjambak rambutnya, “Argghhh!!! Aku… hanya ingin menjadi pelajar biasa! Mestinya minggu depan aku akan mengikuti olimpiade sains di Paris. Tapi, kenapa ini semua terjadi?!”

Donghae mengangguk. “Aku… masih harus mencari pekerjaan. Kalau tidak, bagaimana caranya bagiku untuk membiayai uang kuliah?! Dan, bagaimana nasib dongsaengku jika aku tidak ada?! Sedang memikirkan hal itu, mengapa 3 orang aneh itu datang dan malah meminta kita menyelamatkan dunia?!”

“Padahal aku… akan mengikuti audisi di sebuah entertainment nanti. Kau juga kan, Siwonnie?” Kibum bertanya, dibalas anggukan Siwon. “Lebih baik sekarang kita tidur dulu. Minimal dari penyekapan ini, kita ber-4 menjadi akrab? Iya kan?”

Mereka bertiga mengangguk mendengar perkataan dewasa Kyuhyun. Tak lama, semua pun sudah tertidur.

 

+++

 

“Sepertinya mereka berempat sudah tertidur.”

Jongwoon berucap. Matanya menatap monitor yang sudah menangkap gambar mereka ber-4 yang sedang tertidur. “Aku memang sudah melihat jelas potensi mereka, tapi… aku masih tak yakin. Apakah mereka benar-benar bisa menjalani tugas ini? Mereka masih terlalu muda.” Kangin berkata pelan.

“Youngwoon tak sepenuhnya salah.”, kata Jongwoon sembari menghirup kopinya. “Aku… juga berpikir begitu. Tapi, kita tidak bisa menentang kata leluhur. Lagipula, mereka juga akan terbiasa sendiri nantinya.” Jungsoo berbicara, mencoba bijaksana. “Mereka… benar-benar akan melewatkan masa depan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, mulai besok.”

Jongwoon menatap langit-langit. “Bahkan, dari dulu kita menjaga negeri ini, tidak pernah ada kekuatan sebesar ‘Yang Jahat’ itu. Ini benar-benar dahsyat! Ini… seperti kejadian 6 abad yang lalu. Akan terjadi pertempuran hebat. Dan aku tidak yakin tidak akan ada nyawa yang hilang.”

“Semoga mereka bisa berhasil. Karena tanpa mereka ber-4, dunia ini akan hancur.” Jungsoo memainkan tangannya. “Berarti, seluruh dunia… akan menjadi tanggung jawab mereka ber-4?”

“I think yes.”

 

*To Be Continue~

Sebuah undangan pernikahan sekarang berada di tangan jiyoon. Yang membuatnya kaget adl sebuah nama yang tertera dalam undangan itu “Yoon Shi Yoon & Shin Mi Young”

Dalam hatinya ia bertanya-tanya “apakah ini jawaban dari semua harapanku selama ini. Bertemu dengannya pada saat ia sudah memiliki orang lain di hatinya. Air mata jiyoon mulai mengalir. Hatinya terasa beku sekarang.

“Unnie.Waeyo?”, tanya sanghyun

“uhh? Gwaenchana”, jawab jiyoon sambil menghapus air matanya.

“jeongmal ?”

“ne~ darimana kau mendapatkan undangan ini ?”

“kemarin ada seorang wanita datang kesini.. Ia mencari unnie. Lalu tanpa sengaja ia bertanya kepadaku. Setelah itu ia memberikan undangan ini. Namanya….”

“junghwa ?”, tanya jiyoon

“ne~ Yoon Jung hwa..Haha. Waeyo unnie ?”

“ahh gwaenchana.. Ara.. Aku akan pergi ke kelas. Gumawo Lee sanghyun.. Annyeong”

Jiyoon meninggalkan kantin dan pergi ke kelas. Mukanya tampak pucat pada saat pelajaran berlangsung, dan ia melamun saat pelajaran. Jam pelajaran pun berlalu sekarang saatnya pulang. Ia pergi ke basement dan mengambil mobilnya. Ia bergegas pulang ke rumahnya. Tanpa sengaja di perjalanan ia teringat oleh lelaki yang ada di rumah sakit. Akhirnya ia pergi ke rumah sakit.

Tak sengaja, jiyoon melihat kakaknya sedang bersama seorang lelaki dengan kursi roda.Siyoon tampak sangan senang bersama lelaki itu. Entah siapa lelaki itu tapi siyoon tampak senang. Tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri siyoon dan laki-laki itu.

“unnie!”, panggil jiyoon

“H-han Jiyoon”, sahut siyoon dengan tebata-bata

“siapa laki-laki ini??”, tanya jiyoon seraya menunjuk lak-laki berkursi roda yang ada disampingnya itu.

“Park Jisung imnida”, sahut jisung cepat

“Park Jisung ??”, tanya jiyoon bingung.

“ne~ manaseobangap seumnida..”, ucap jisung seraya menundukkan kepalanya.

“ng? Ara.. Unnie bisa kita berbicara di caffé?”

“um?? arasso..”

Siyoon pergi mengantarkan jisung kembali ke kamarnya sedangkan jiyoon menunggu di dalam mobilnya. Tak lama siyoon menghampiri jiyoon.

“unnie.. Kau bawa mobil kan ?”, tanya jiyoon

“uhh ? Ne ~”, jawab siyoon

“yasudah naiklah mobilmu sendiri & ikuti aku dari belakang”

“uhh.. Ara~”

Siyoon keluar dari mobil jiyoon dan pergi ke tempat parkiran mobilnya. Lalu mereka pergi ke caffé & langsung masuk.

“mau pesan apa ?”, tanya seorang pelayan yang datang menghampiri siyoon dan jiyoon.

“kopi susu 2.. Arasso..~”, jawab jiyoon.

“ara~ gamsahamnida”, jawab pelayan itu.

Tak lama setelah itu seorang pelayan datang membawakan 2 cangkir kopi susu.

“silahkan menikmati.. “, ucap pelayan itu.

“gamsahamnida”, ucap siyoon.

“ok.. Sekarang aku mau bertanya siapa lelaki itu.. Namanya…. (?)”

“Park Jisung”

“ahh ye..~ sekarang ceritakan kepadaku”

“mungkin aku tak perlu menjelaskan kepada mu lagi jiyoon-ya..”

“maksudmu ?”

“dia namja-chinguku…”

“Bo !!! Namja chingu ???”

ne~ waeyo ?”

“kau gila unnie. Bagaimana dia bisa jadi namja chingumu. Kau kan baru kenal dengan dia. Dan saat kau mengenal dia, dia lagi koma kan ? Mengapa bisa begitu cepat dia menjadi namja chingumu. Lalu bagaimana dengan Lee donghae, bukankah dia menyukaimu ?”

“aiiiaa jiyoon-ya. Kau berbicara terlalu panjang. Aku tak bisa mencerna semua omonganmu. Dan untuk Lee Donghae, dia hanya menyukaiku bukan mencintaiku. Sedangkan Park Jisung mencintaiku. Arasso ??! Aku akan pergi duluan. Annyeong . Sampai bertemu di rumah nanti..”

“hey unnie.. !!!”

Siyoon meninggalkan jiyoon sendirian di caffé itu. Hari semakin larut. Jiyoon masih berada di caffé. Ia mengeluarkan sebuah undangan. Tepatnya undangan pernikahan yang diberikan oleh Lee sanghyun tadi siang. Ia menatapi undangan itu. Ia merindukan kenangannya dengan Yoon Shi Yoon. Begitu banyak kenangannya dengan Yoon Shi Yoon yang harus dilupakan.

“Annyeonghaseo.. Mianhamnida hari sudah larut. dan caffé ini juga harus tutup. Mianhamnida”, kata seorang pelayan. “ahh ne~ aku akan segera pergi”, ucap jiyoon seraya memulai langkahnya untuk keluar.

Ia mulai menyetir mobilnya. Beberapa orang berkali-kali menelepon ponselnya. Tapi jiyoon membiarkannya saja. Siyoon, Kyuhyun, & Donghae sangat khawatir dengan keadaan jiyoon.

Jiyoon menyetir dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba saja “BRRRAAAAKKK !!!!” jiyoon menabrak sebuah truk yang ada di depannya. Jiyoon sudah tak sadar. Kepalanya penuh dengan darah akibat benturan yang keras.

——-

Pada waktu yang bersamaan, foto jiyoon yang berada di ruang tamu rumahnya jatuh tanpa sebab. Lalu tak lama kemudian telepon rumahnya berdering, & Kyuhyun yang mengangkatnya.

“Yoboseo ?”, ucap kyuhyun

“apakah benar ini rumah Han jiyoon ?”, tanya seseorang yang menelpon

“Ne~ nugu-ya ?”

“saya mau mengabarkan bahwa sebuah kecelakaan baru saja dialami oleh Jiyoon-ssi. Sekarang dia sedang dirumah sakit.”

“mwo-rago ?! Ne~ aku akan segera kesana. Gamsahamnida~”

Telepon langsung dimatikan. Kyuhyun yang mendengar perkataan orang tadi masih dalam keadaan tak percaya.

“Hey, Kyuhyun-ssi.. Waeyo ? Siapa yang menelpon ? Apakah kau tau dimana jiyoon sekarang ?”, tanya siyoon khawatir

“….” kyuhyun tak menjawab

“Hey, Kyu-ya jangan membuat orang penasaran..”

“Ji-jiyoon di-di rumah sakit”, jawab kyuhyun dengan terbata-bata.

“Mwo-rago ?”, ucap siyoon kaget

Siyoon langsung mengambil kunci mobil dan langsung pergi. Begitupun dengan Donghae dan Kyuhyun. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit. Mereka mencari-cari kamar jiyoon. Setelah mencari cukup lama akhirnya mereka menemukan kamar dimana jiyoon dirawat. Saat mereka sampai seorang doktet keluar dari kamar jiyoon.

“Dok, bagaimana keadaan dongsaeng saya ? Apakah baik ?”, tanya siyoon khawatir.

“gwaenchana.. Luka yang dialaminya tidak begitu parah. Tapi sekarang dia masih belum sadar. Anda boleh melihatnya”, ungkap dokter itu.

Perasaan lega pun muncul ketika mengetahui jiyoon dalam keadaan baik.

Siyoon, donghae, dan Kyuhyun masuk ke ruang rawat. Disana terlihat seorang perempuan berbaring tak berdaya. Setetes air mata keluar. Siyoon tak sanggup melihat adiknya. Ia keluar dari kamar dan menangis di taman. Sedangkan Donghae dan kyuhyun menemani jiyoon di kamar.

***

2 hari berlalu..

Jiyoon terbangun dari pingsannya itu. Ia membelakkan matanya sedikit demi sedikit. Melihat seorang lelaki tidur terduduk di sebelahnya. Kepala masih agak pusing dan sakit. Lalu ia laki-laki itu terbangun.

“ah~ jiyoon-ya kau sudah bangun”

“permisi.. Saya mau mengatakan bahwa jiyoon-ssi sudah boleh pulang hari ini..”, ucap seorang suster yang tiba-tiba masuk ke kamar

“uhh. Ye~ gamsahamnida..”, ucap kyuhyun.

“Han Jiyoon.. Kau mau pulang hari ini juga ?”, tanya kyuhyun halus.

“ahh.. Ye.. Aku bosan jika berada disini terus..”, jawab jiyoon..

Pukul 12 siang mereka bergegas pulang.

Melihat kyuhyun yang selalu setia berada disampingnya jiyoon pun merasa kalau cinta sejatinya adalah Cho Kyuhyun bukan Yoon Shiyoon. Dan setiap ada kyuhyun disampingnya Jiyoon selalu merasa bahagia. Bahagia yang selalu ia tunggu. Mungkin jiyoon tidak mengetahui perasaan kyuhyun padanya. Dan jiyoon berharap kalau kyuhyun mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya saat ini.

Mereka pulang ke rumah.

“annyeong dongasaeng ku..”, sapa siyoon seraya memeluk jiyoon.

“annyeong unnie..”, sahut jiyoon

“aku senang bisa melihatmu kembali ke rumah ini Han Jiyoon..”

“haha~ aku juga..”

“namja-chingu ?”, tanya Jisung yang tiba-tiba muncul dari ruang tamu.

“uhh ?? Namja chingu ?? …”, “haha~ ne.. Lelaki ini namja-chingu ku”

Kyuhyun yang mendengar perkataan jiyoon kaget. Ia membelakkan matanya dan menatap jiyoon.

“haha~ arasso.. Aku akan ke kamar.. Annyeong~”, kata jiyoon seraya menuju ke dalam kamarnya.

“uhh jiyoon-ya.. Kau bisa kesini lagi nanti ?”, tanya siyoon

“Ara unnie~”

Jiyoon masuk ke dalam kamarnya, sedangkan kyuhyun menuju ke taman rumah jiyoon dengan perasaan tak percaya. Tiba-tiba ponsel kyuhyun berbunyi dan mengangkatnya.

“ahh ye.. Waeyo donghae??”, tanya kyuhyun yang mengetahui kalau yang menelpon adalah donghae.

“aku hanya mau bilang, kalau aku akan kembali ke amerika. Kemarin Kim Kibum menelponku untuk secepatnya kembali ke amerika. Karena kelas akan dimulai sekitar seminggu lagi”

“mwo-ya ?! Secepat itukah ??”

“ne~ dan jangan bilang siapa-siapa dulu sebelum aku pergi aku tak mau membuat mereka khawatir. Arasso !?”

“ne. Goodbye Lee donghae. Secepatnya kembali.. Ara ?”

“ne Evil ! Haha~”

Donghae menutup teleponnya begitupun dengan kyuhyun. Tiba-tiba jiyoon menghampiri kyuhyun.

“annyeong~”, sapa jiyoon

“uhh Han Jiyoon..”

“boleh aku duduk”

“ye.. silahkan duduk”

“siapa yang telepon??”

“Donghae”

“dia kenapa ?”

“ahh ani.. Dia tak apa-apa”

“yakin ?? ceritakan kepadaku kyu-ya”

“tapi kau jangan memberi tau siapa-siapa .. Ara ?”

“ne EvilKyu !!!”

Kyuhyun pun menceritakan semua kepada jiyoon.

“Bo ??”

“sssttt… Pelan-pelan”

“jadi donghae akan pergi ke amerika ?”

“ne~ tugas dia banyak di amerika jadi terpaksa ia kembali ke amerika..”

“ohh..”

Hari semakin larut. Jiyoon tertidur di pundak kyuhyun begitupun dengan kyuhyun. Mereka berdua tampak mesra di bawah cuaca langit yang begitu cerah.

***

Pagipun datang. Jiyoon menyadari bahwa ia tertidur di pundak kyuhyun tadi malam.

“pasangan yang serasi..”, ucap siyoon yang tiba-tiba datang menghampiri kyuhyun dan jiyoon bersama dengan jisung di sebelahnya.

“uhh unnie…~”, kata jiyoon yang terbangun dan mulai membelakkan matanya sedikit demi sedikit begitupun dengan kyuhyun.

“ayo kita ke ruang tamu sekarang, ada hal yang ingin kubicarakan”, ajak siyoon seraya membangunkan jiyoon yang terduduk di ayunan.

Mereka sampai di ruang tamu dan duduk. Siyoon memulai pembicaraan.

“jadi……”, kata siyoon

“mwo unnie ?”, tanya jiyoon sambil meminum tehnya.

“hm, jadi begini .. Aku dan Park Jisung akan menikah minggu depan. Aku sudah memikirkan ini semua matang-matang”

“menikah ??????”, kata jiyoon dan kyuhyun serentak.

“ne~ bagaimana pendapatmu jiyoon-ya ?”, tanya jisung

“aku terserah dengan unnie. Jika unnie mau aku akan menyetujuinya” “asalkan kau juga mengijinkan aku menikah dengan Cho kyuhyun”, sambung jiyoon sambil melihat ke arah kyuhyun.

“bo ?”, kata kyuhyuh kaget

“mwo-ya jiyoon.. ? Kau juga akan menikah ?”, tanya siyoon.

“ne~ ”

“kau yakin.. ? “, tanya kyuhyun.

“ne~ aku sangat percaya kepadamu kyu-ya.. Apa jangan-jangan kau tidak mau menikah denganku ?”,

“ahh,.. Ani.. Tentu aku mau”, jawab kyuhyun

“dasar kau EvilKyu !!hha”, kata jiyoon sambil memukul kepala kyuhyun.

Mereka berbincang-bincang sebentar. Hari itu adalah hari yang cukup menyenangkan untuk jiyoon. Bersama orang yang ia sayangi adalah hal yang ia impi-impikan sejak dulu.

***

Seminggu berlalu..

Hari ini adalah hari pernikahan Siyoon dan Jisung. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh siyoon. Siyoon sangat cantik dengan gaun putihnya yang menawan, begitupun dengan Jisung yang memakai jas putih yang sangat indah.

Jiyoon memakai sebuah gaun berwarna meran muda. Dan Kyuhyun memakai sebuah jas hitam. Siyoon dan Jisung mulai masuk ke dalam pelaminan. Mereka berdua tampak sangat senang.

Saat selesai pesta sebuah undangan jatuh dari dalam tas. Jiyoon mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah undangan pernikahan. Ia lupa kalau hari ini adalah hari pernikahan yoon shi yoon juga.

“waeyo ?”, tanya kyuhyun

“aku lupa”, jawab jiyoon

“lupa apa ?”

“hari ini hari pernikahan yoon shi yoon juga”

“mwo?”

Jiyoon langsung menarik tangan kyuhyun dan pergi. Mereka pergi ke sebuah gedung. Mereka masuk dan mencari tempat yoon shi yoon menikah. Setelah mencari-cari cukup lama, akhirnya mereka masuk dan saat itu juga mereka bertemu yoon shiyoon.

“Kau yoon shi yoon ?”, tanya jiyoon

“uhh ne~…”, jawab shiyoon

“chukae…”, kata jiyoon seraya mengulurkan tangannya.

“gamsahamnida.. Tapi kamu siapa ?”

“kau lupa denganku ? Han jiyoon !”

“ng ? Han Jiyoon ? Kau sudah banyak berubah..”

“haha~ jeongmal ? Oh ya kenalkan namja chingu ku”

“annyeonghaseo.. Cho Kyuhyun imnida..”, ucap kyuhyun.

“annyeong Yoon Shi Yoon imnida..”

“arasso.. Aku harus pergi sekarang.. Mianhamnida yoon-ya .. Annyeong..”, kata jiyoon seraya meninggalkan tempat itu.

Perasaan sedih sekarang muncul di hati jiyoon setelah melihat yoon shi yoon setelah sekian lama tak bertemu. Kyuhyun yang mengetahui hati jiyoon pada saat itu. Hancur berkeping-keping. Dan kyuhyun membawanya ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi jiyoon sebelumnya.

“tempat apa ini ?”, tanya jiyoon

“aku selalu kesini jika aku sedang bersedih..”, jawab kyuhyun

“jeongmal ?? Indah sekali..”

“sekarang kau boleh mencurhakan isi hatimu disini. Teriak sekencang-kencangnya. Lakukan apa saja yang bisa membuat hatimu kembali seperti semula..”

“Kyu-ya…..”, kata jiyoon seraya menghampiri kyuhyun dan memeluknya

“gumawo kyu-ya… Aku baru menyadari kalau kau yang selalu mencintaiku dan yang selalu ada disampingku walaupun saat aku sedih maupun senang..”, kata jiyoon sambil menangis di pelukan kyuhyun.

Tangisannya semakin lama semakin kencang. Tak lama tangisan jiyoon mereda. Ia menatap kyuhyun. Dan wajah mereka berdekatan.

Lalu bibir mereka bersentuhan 1 sama lain. Jiyoon merasakan kehangatan yang begitu mendalam dari ciuman pertamanya itu. Kehangatan yang selalu ia nanti-nantikan bersama Yoon Shi yoon. Tapi sayangnya itu bukan yoon shi yoon. Itu adalah Cho Kyuhyun orang yang akan ia cintai, ia sayangi, mulai dari sekarang sampai akhir hayat hidupnya…….

THE END ~~~

*catatan : Park Jisung disini bukan pemain bola.. Hehe ..

Akhirnya Jiyoon bangun dari tidurnya. Ia melihat kyuhyun yang sedang tidur terduduk disebelahnya.

“kyu-ya.. Kyu-ya”, panggil jiyoon seraya menggoyang-goyang kan bahu kyuhyun.

Kyuhyun mulai sadar dan memelekkan matanya.

“jiyoon-ya .. Kau sudah sembuh ?”, tanya kyuhyun

“ne~ kau tidur disini semalaman ??”, tanya jiyoon

“de,,, mm, ini minum obatmu dulu.. “, ucap kyuhyun seraya mengambil obat yang berada du sebelahnya dan memberikannya ke jiyoon.

Jiyoon segera minum obat yang diberi kyuhyun.

“gumawo..”, ucap jiyoon

“gwaenchanayo. Kau harus istirahat lebih bnyk jiyoon-ya. Kalau tidak kau bisa sakit lagi. Ara ?”, ungkap kyuhyun

“ne gaemKyu ! Haha~”

“kyu-ya aku mau keluar mencari udara segar. Aku bosan disini terus..”, kata jiyoon seraya bangun dr tempat tidurnya

“oh.. Ok.. Ayo!”, ucap kyuhyun sambil membantu jiyoon berdiri.

Mereka keluar dari kamar tersebut dan menuju taman rumah jiyoon. Saat turun jiyoon melihat ke arah ruang tamu, ia melihat kakaknya yang sedang tidur nyenyak di pundak donghae.

“kyu-ya .. Lihat mereka..”, ucap jiyoon sambil menunjuk ke arah siyoon dan donghae

“mwo?? Ckckk.. Begitu nyenyak sekali mereka tidur.. Haha~”, kata kyuhyun

Mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi. Akhirnya mereka sampai di taman.

——-

Siyoon terlihat nyenyak tidur di pundak donghae. Begitupun dengan donghae yang berada di samping siyoon. Sedikit” mereka mulai terbangun dr tidurnya.

Siyoon bangun terlebih dahulu. Menyadari hari sudah siang, ia pergi naik ke atas untuk melihat jiyoon yang kemarin sakit.

Saat ia melihat ke kamar, di kamar jiyoon sudah tak ada orang. Ia mencari” di seluruh bagian rumah. Sampai pada akhirnya ia melihat ke taman.

“kyu-ya .. Yoon-ya .. Ternyata kalian disini. daritadi aku mencari kalian. Aku kira kalian sudah pergi.”, kata siyoon yang datang menghampiri jiyoon dan kyuhyun.

“mian unnie. Habis tadi aku melihat kau tidur terlalu nyenyak di pundak donghae oppa.. Jadi aku tak tega jika membangunkanmu..”, ucap jiyoon

Kyuhyun dan jiyoon tertawa kecil meledek siyoon. Muka siyoon tampak memerah.

“Hey.. Ternyata kalian disini..”, kata donghae yang tiba” menghampiri.

Pandangan kyuhyun dan jiyoon terarah pada donghae dan siyoon.

“Kalau dilihat-lihat kalian berdua cocok..”, ucap kyuhyun

“Ya.. Aku setuju.. Haha~”, sahut jiyoon cepat.

“hah ?”, sontak donghae dan siyoon bersamaan

“waeyo unnie ??”, tanya jiyoon meledek siyoon

Muka siyoon dan donghae kini semakin memerah dibuat malu oleh kyuhyun dan jiyoon. Setelah puas bercanda dan berbicara kyuhyuh dan donghae berpamit pulang.

——-

Sekarang dirumah hanya ada jiyoon, siyoon, dan ny. Lee. Setelah donghae dan kyuhyun pulang rumah tampak sepi. Jiyoon kembali berbaring di kasurnya sekarang. Dan siyoon berada di ruang tamu sambil membaca koran.

Tiba-tiba handphone siyoon berbunyi. Nomor nya tak dikenal. Ia mengangkatnya.

“Yoboseo..!”, sapa siyoon

“hey, kau harus ke rumah sakit ‘xxxx’ sekarang. Ada hal gawat.”, ucap seorang laki-laki yang tak dikenalnya

“nugu-ya??”

“sudah cepat.. setelah kau sampai disini kau juga akan tau.. Palli !”

“yoboseo… Nugu-ya ???!!!”…

Telepon langsung dimatikan oleh laki-laki itu. Siyoon mengabaikan perkataan laki-laki tadi. Tapi semakin lama perasaannya tak enak. Ia seperti merasakan suatu hal yang buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke rumah sakit itu.

Ia bergegas cepat. Tak lama ia sampai di rumah sakit itu. Ternyata seseorang sudah ditugaskan untuk menunggu siyoon dan mengantarnya kepada orang yang menelponnya tadi.

Siyoon bukan bertemu dengan orang yang menelponnya tadi, tapi ia disuruh melihat seseorang yang ada didalam salah 1 kamar rumah sakit.

Siyoon masuk dengan perlahan dan dengan rasa penasaran.

Saat melihat orang itu hatinya terasa seperti teriris-iris pisau yang tajam. Melihat seorang yang tak berdaya dan penuh dengan balutan kain di tubuhnya. Air matanya mulai menetes dan semakin lama semakin derasnya air mata itu membasahi wajah siyoon.

Ia terduduk diam melihat orang yang ada di hadapannya. Berbaring tak berdaya. Dan ia hanya bisa memanggil nama lelaki itu..

“Park Jisung.. Park Jisung !!”, panggilnya sembari menggoyang”kan badan lelaki itu.

Lelaki yang ada dihadapannya hanya bisa terdiam tak sadarkan diri. Dan siyoon hanya bisa menangis.

Siyoon sangat merindukan lelaki masa remajanya itu setelah 8 tahun tak bertemu dengannya. Dan saat bertemunya lagi, ia melihat lelaki yang dulu ia cintainya itu tak berdaya. Akankah ia hidup kembali setelah mengalami koma selama 3 bulan ?

“annyeonghaseo..”, sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk

“a-a-annyeong”, sahut siyoon dengan terbata-bata akibat menangis.

“no… Han Siyoon ??”, tanya lelaki itu

“ne~ nugu-ya ?? A-apakah kau lelaki yang tadi menelponku ??”, tanya siyoon

“ne~ Lee SangKyo imnida.. Aku teman dari park jisung.,”, ucap jangkyo

“han siyoon imnida ..”

“mianhae merepotkanmu. Aku hanya disuruh oleh jisung menelponmu ketika ia terjatuh sakit atau ia meninggal..”

Siyoon hanya terdiam. Kemudian jangkyo meninggalkan kamar tersebut.

——-

“Unnie..”,panggil jiyoon seraya menuruni tangga

“ny.lee siyoon-ya kemana ?”, tanya jiyoon yang tiba” melihat ny. Lee

“Molla..  Saya hanya melihat ia pergi terburu-buru . Dan saya tidak tau ia pergi kemana..”, ungkap ny. Lee menjelaskan

“ohh.. Ara.. ”

Jiyoon segera mengambil ponselnya. Ia menelpon siyoon. Tapi ponsel siyoon tidak aktif. Kemudian ia menelpon donghae.

“Yoboseo ..”, ucap donghae

“oppa. Kau sedang bersama unnie tidak ?”, tanya jiyoon

“ani.. Waeyo ??”,

“unnie tidak ada dirumah. Tapi kata ny. Lee tadi ia pergi terburu-buru. Aku sudah menelponnya tapi nomornya tak aktif.”,

“jinjja ?? kalau begitu aku akan membantumu mencarinya.. Ok.. Dan kau jangan kemana” istirahatlah yang cukup. Ara ? “,

“ne~ oppa .. Gumawo~”,

Jiyoon menutup teleponnya. Dan ia mencoba menelpon beberapa teman siyoon. Tapi tidak ada yang tau keberadannya.

Hari semakin sore. Tapi kabar dari siyoon tak kunjung datang. Jiyoon yang menunggu pun semakin khawatir dengan keadaan kakaknya. Ia tetap menunggu di rumah.

——-

Donghae akhirnya menemukan keberadaan siyoon. Ia segera menuju tempat itu. Ternyata tenpat itu adalah sebuah rumah sakit besar di seoul. Ia tau dari kerabatnya yang melihat siyoon masuk ke sebuah rumah sakit.

Ia mencari kamar yang dituju siyoon. Perasaannya sudah mulai tenang saat menemukan kamar tersebut. Sebelum masuk ia menelpon jiyoon.

“Yoboseo..”, sapa jiyoon

“jiyoon-ya aku sudah menemukan dimana siyoon. Tapi aku tak tau itu benar apa tidak. Aku belum memastikannya”

“jinjja?? Dimana dia ??”, tanya jiyoon khawatir

“di rumah sakit”

“bo! Rumah sakit ? Untuk apa ia kesana ? Apa ia sakit?”, “Molla…tapi kau jangan khawatir.. Aku akan segera membawanya pulang. Tunggu di rumah ya..”

“ne oppa.. Cepat ya ~”

Donghae menutup teleponnya. Kemudian ia mulai melangkah masuk ke dalam kamar itu. Dengan langkah pelan dan perasaan senang ia masuk ke kamar tersebut. Tapi perasaan senang itu hilang seketika saat melihat siyoon.

Tubuhnya lemas. Tak kuat ia menahan air matanya. Melihat seorang pujaan hatinya mencium kening lelaki lain. Ia keluar dari kamar. Dan menunggu di depan kamar tersebut dengan bersandar di tembok.

Tak lama siyoon keluar dari kamar itu. Ia kaget melihat donghae yang sudah berada di sampingnya saat ia keluar.

“Lee donghae ?”, panggil siyoon

“…” donghae terdiam

“bagaimana kau bisa ada disini ?”

“aku mencarimu”, jawab donghae lemas. “kajja!” sambungnya

Siyoon mengikuti donghae dari belakang. Tiba-tiba jangkyo menghampiri siyoon.

“Han Siyoon”, panggil jangkyo

“ng..Lee Jangkyo.”, sahut siyoon cepat.

“kau mau pulang ?”

“ne~ tolong jaga jisung. Besok aku akan kembali”

“arasso. Hati-hati di perjalanan”

Siyoon mengangguk. Melihat donghae yang sudah jauh ia segera mengejarnya. Donghae berjalan begitu cepat sehingga siyoon sulit mengejarnya yang sudah jauh. Tiba-tiba siyoon tersandung oleh sebuah batu.

“aw~”, keluhnya

Tanpa memperdulikan siyoon, donghae tetap berjalan sehingga membuat siyoon jengkel.

——-

“aigoo. Kemana mereka berdua”, kata jiyoon khawatir

“annyeong~”, sapa donghae yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah

“Oppa..mana unnie ??”, tanya jiyoon seraya menghampiri donghae

Donghae tak menjawab tetapi ia menunjuk ke arah luar. Dan jiyoon melihat seorang wanita yang datang.

“unnie..No gwaencahana ??”, tanya jiyoon sambil memeluk siyoon

“gwaenchana..”, jawab siyoon sambil memegangi kakinya yang terkilir

Jiyoon melihat kearah kaki siyoon..

“waeyo?”, tanya jiyoon seraya memegang kaki siyoon

“gwaenchana . hanya sedikit tekilir .”,

“Ng? Terkilir? “, ucap jiyoon sambil membantu siyoon duduk di sofa

“aku sudah membawa unnie mu pulang kan?? Arasso.. Aku pulang. Bye ! “, ucap donghae

“hah? Oppa!”, teriak jiyoon

“unnie..Kau tunggu disini ya.. Aku akan segera kembali”, ucap jiyoon

Jiyoon meninggalkan siyoon dan berlari menyusul donghae.

“oppa! Jakkaman! Huh huh huh ~”, ucap jiyoon dengan nafas yang tak beraturan

Donghae berhenti berjalan dan membalikkan badannya. Lalu ia mengajak jiyoon duduk di taman dekat situ.

“Han Jiyoon. Tunggu disini, aku akan segera kembali”, pinta donghae dan pergi

Tak lama donghae kembali dengan membawa 2 minuman kaleng. “Ini..”, kata donghae seraya memberikan 1 minuman kaleng yang berada di tangan kanannya

“Gumawo~”, ucap jiyoon dan langsung meminum minuman yang diberi donghae.

“Kenapa kau mengejarku ?”, tanya donghae

“Hari ini kau tampak aneh”

“Ng..?” Donghae menengok ke arah jiyoon

“Tadi siang kau masih terlihat seperti orang yang besemangat mencari unnie. Tapi saat kau pulang kau jadi aneh. Kau membiarkan unnie berjalan sendirian dengan kaki yang terkilir.. “, ungkap jiyoon santai

“…” donghae terdiam dan mengacuhkan perkataan jiyoon

“waeyo oppa ? Apa kau ada masalah dengan unnie ?”

“ani~”, jawab donghae

“terus ? wae ?” Donghae menceritakan semua yang ia lihat di rumah sakit tadi. Jiyoon cukup terkejut dengan ucapan donghae dan jiyoon masih belum percaya. Apalagi dengan perkataan bahwa siyoon mencium kening lelaki itu. Jiyoon jadi semakin penasaran dengan lelaki itu.

***

Keesokan harinya. Siyoon bangun tampak lebih pagi dari biasanya. Baju lengan panjang dan celana panjang yang ia kenakan telah menghiasi tubuhnya.

“jiyoon-ya.. Ayo makan..”, ajak siyoon yang melihat jiyoon sedang menuruni tangga.

Jiyoon menghampiri siyoon yang berada di meja makan.

“mau kemana kau?? jarang pagi-pagi kau mau pergi.. “, tanya siyoon

“mm, aku mau..”, sambung jiyoon yang kemudian menemukan ide cemerlang “aku mau pergi dengan cho kyuhyun..Ne~ cho kyuhyun..”

“kau punya hubungan khusus ya dengan dia ?? Ayo ngaku..”, ejek siyoon

“ng? Ani.. Aniya.. Aku dan dia hanya berteman..”

“jeongmal? Hhaha~ arasso. Aku akan pergi duluan.. Annyeong..Hati-hati dijalan..Oke”, pamit siyoon

Melihat siyoon yang mau pergi, jiyoon bersiap” untuk mengikutinya dari belakang.. Setelah cukup lama, akhirnya sampai di suatu tempat.. Yaitu rumah sakit ternama di seoul. Jiyoon mengikuti siyoon yang masuk ke rumah sakit itu. Sampai pada akhirnya siyoon memasuki sebuah kamar. Jiyoon bersembunyi didekat lift rumah sakit agar tidak diketahui oleh siyoon. Tak lama siyoon keluar dari kamar tersebut dan ia pergi. Tak mau membuang waktu jiyoon pun masuk ke dalam kamar yang tadi siyoon masuki.

Dengan langkah yang pelan ia masuk. Ia tersentak kaget dengan keberadaan orang yang ada di kasur dan di sebelahnya.

“Nugu-ya ?”, tanya jangkyo yang sedang menemani jisung. “ng ?”

“Na-na-naneun H-han JiYonn imnida”, ucap jiyoon ketakutan

“Mau apa kau kesini ??”, tanya jangkyo lagi “hah ? Aku ?”, tanya jiyoon tampak seperti orang babo

“ne~ siapa lagi.. ?? Disini kan cuman ada kita bertiga. Ckkc. Babo !~”. “arasso.. ada waktu ?”

“ne ~ mau apa ? “, tanya jangkyo

“bisa minum teh bersama ?? Sebentaaar aja..”, pinta jiyoon

“ara~”,

Merekapun pergi ke sebuah caffé didekat rumah sakit itu.

“annyeong~”,sapa seorang pelayan itu dengan sopan

“annyeong~”, sahut jiyoon dan jangkyo secara bersamaan

“untuk berapa orang ?”, tanya pelayan itu

” 2 !”, sahut jiyoon dan jangkyo secara bersamaan lagi

“ng? “, tanya pelayan itu

” maksud saya 2 .. Ne~ 2 “, ucap jangkyo memperjelas “ne~ silahkan duduk disana..”, kata pelayan itu sambil menunjukkan tempat duduk

Jiyoon dan jangkyo berjalan ke arah tempat dudk yang ditunjukkan pelayan tadi. Mereka duduk di bangku masing-masing.

“ok .. Sekarang mau apa kamu ?”, tanya jangkyo

“hm, aku mau tanya.. Kau kenal dengan unnie ku ?? Han Siyoon..”, tanya jiyoon

“dia unnie mu ?”

“ne..”

“Dia tak pernah bilang kalau dia punya adik.. Kau bohong kan ?”

“ng ? Bohong ? Untuk apa aku berbohong denganmu. Tak ada gunanya aku berbohong padamu..”

“terus kamu mau apa membawa ku kesini ??”

“ok . Aku akan langsung to the point.. Siapa lelaki yang ada di rumah sakit ?? ”

“mwo ?!”

“de~ lelaki yang dikunjungi siyoon tadi ? Nugu ?”

“bukan siapa-siapa.. Oh ya aku harus kembali ke rumah sakit sekarang.. Bye !”

Jangkyo langsung meninggalkan jiyoon sendirian.

“hey ! ”

“aigoo. Apakan aku ada salah sama dia sehingga dia tak mau memberikan informasi. “, ucap jiyoon seraya memukul kepalanya sendiri.

Tiba-tiba Kyuhyun datang menghampiri jiyoon yang ada di dalam caffé.

“siapa dia ?”, tanya kyuhyun

“huh~ aku juga tak tau jelas asal usulnya..”, jawab jiyoon lemas.

“oh. Hey. Apa benar yang donghae katakan padaku bahwa siyoon mencium lelaki ?”

“uuhhh~ begitulah.”

“oh.. Ara..”

Akhirnya jiyoon dan kyuhyun pergi dari tempat duduk mereka. “GUBRRAAAKK !”, Jiyoon menabrak seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam caffé. Tas nya jatuh dan berantakkan. Lelaki itu meminta maaf dan membantu jiyoon membereskan barang-barangnya yang terjatuh.

Tanpa sengaja lelaki itu menemukan sebuah foto yang tergeletak di tanah. Yang lelaki itu kagetkan adalah foto itu. Sebuah foto masa kecilnya. Ia tak menyangka kalau jiyoon punya foto masa kecilnya.

Lelaki itu berdiri. Dan masih memandang foto yang ia pegang.

“Mianhamnida~”, ucap jiyoon

Jiyoon langsung mengambil foto yang berada di tangan lelaki itu.

“gamsahamnida.. Permisi..”, kata jiyoon dan langsung pergi diikuti dengan kyuhyun.

Lelaki itu melamun. Menyadari jiyoon pergi ia mengejar. Tetapi saat ia keluar caffé jiyoon sudah tak ada. Ia lupa menanyakan nama jiyoon. Tapi ia tak menyerah, ia terus mencari-cari jiyoon.

——-

“annyeong.. aku pulang !!”, ucap jiyoon seraya memasuki rumahnya.

Ia menuju ke kamarnya. Berbaring di kasurnya dan memandangi sebuah foto yang masih ia pegang.

Ia mengusap-usap foto itu. Air matanya keluar, mengingat muka orang yang ada di foto itu. Sebuah foto orang yang ia cintai. Kenangannya hanya foto itu. D an satu-satunya barang berharga.

Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan tapi susah untukknya melupakan masa-masa itu.

Tak lama ia tertidur dengan memeluk sebuah foto yang tampak sudah kusam. Yang selalu ada di pikirannya selama ini adalah bertemu dengan orang yang ada di foto itu. Dan Jiyoon selalu berharap entah besok atau kapan ia akan bertemu dengan orang yang ia cintai itu..

***

“apakah kau tak bisa membukakan pintu hatimu untukku ??”, tanya kyuhyun dalam hatinya sambil berjalan masuk ke dormnya.

Tiba-tiba ia bertemu dengan donghae yang ada di depannya.

“Lee Donghae..”, panggil kyuhyun

Donghae menengok dan menjawab panggilan kyuhyun. Akhirnya mereka masuk bersama ke dalam dorm.

“hyung.. Apa kau membuntuti siyoon lagi ?”, tanya kyuhyun sambil membuat teh

“mwo-ya ? Untuk apa aku membuntuti nya lagi”, jawab donghae lemas yang berada di ruang tamu.

“waeyo ? Bukankah kau menyukai dia ?”

“mm ? Aku memang menyukainya tapi kalau dia menyukai orang lain aku tak akan memaksa”,

“kau akan putus asa begitu saja  ??”, tanya kyuhyun seraya duduk di sebelah donghae.

“Aku bukan putus asa. Aku tidak akan mencari cinta itu. Biarkanlah cinta itu yang datang kepadaku”

“jinjja ? Jadi kau akan diam seperti ini terus sampai sebuah cinta turun dari langit ?? Aigoo !”

“ne ~ sudahlah kau tak usah mengurusi urusanku. Bagimana dengan jiyoon ?”

“mwo ? “, ucap kyuhyun yang tersendak air teh ketika donghae membicarakan tentang jiyoon.

“haha~ tak perlu sampai tersendak air segala”

“hm, begitulah. Sepertinya tak ada titik terang. Dia masih menyukan yoon si yoon ?”

“bo? Yoon si yoon? Yang tinggal di incheon dulu kan?”

“ne~”

“haha~ sabar ya. Cinta akan turun dari langit.. Haha”

Lalu Donghae pergi ke kamarnya dan tidur. Sedangkan kyuhyun masih mencerna perkataan donghae tadi. *ahh~ BaboKyu !*

***

Jiyoon turun ke bawah dengan pakaian yang sudah rapi. Lalu ia menuju ke meja makan.

“annyeong unnie..”, sapa jiyoon

“annyeong..”

“unnie kemarin kau menjenguk siapa ?”

“ng ?”

“de~ tanpa sengaja aku melihat kau masuk ke dalam rumah sakit”

“uhh .. Gwaenchana..”

“jeongmal ? Tapi semenjak kau pulang, perilaku donghae sedikit aneh terhadapmu” kemudian jiyoon melanjutkan lagi “apa benar kau mencium kening lelaki yang ada di rumah sakit itu ??”

Siyoon tersentak kaget dengan perkataan jiyoon tadi. Ia menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang.

“Lee donghae melihatnya ?”, tanya siyoon penasaran di dalam hatinya

“unnie..”, panggil jiyoon

“aku sudah telat. Aku akan pergi duluan. Ok. Annyeong”, sapa siyoon kemudian bergegas pergi.

Jiyoon terdiam. Ia tampak bingung dengan perilaku kakaknya. Lalu ia pergi keluar.

Ia pergi tempat kuliahnya. Karena hari ini ia ada kelas di tempat kuliahnya. Tak lama kemudian ia sampai. Ia masuk ke dalam universitas tersebut.

“annyeong sunbae..”, sapa seorang hobae jiyoon

“annyeong..”, sahut jiyoon seraya tersenyum

Saat menuju kelasnya tiba-tiba ada orang yang memanggil namanya.

“Jiyoon sunbae.. Jiyoon sunbae”, panggil seseorang tampak dari kejauhan.

“uh .. Ye ?”, tanya jiyoon kepada hobae yang memanggilnya.

“Annyeonghaseo. Naneun Lee sanghyun imnida.. “, ucap sanghyun dengan sopannya.

“ohh. Sanghyun-ya .. Apa kabar ?”,

“ahh . Tentu baik. Bagaimana kalau kita minum teh sebentar. Kau punya waktu ?”

“oh .. Arasso..”

Jiyoon mengikuti sanghyun dari belakang untuk menuju kantin. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di sebuah kantin milik universitas tersebut. Mereka duduk di sebuah meja makan yang hanya untuk 2 orang.

“ahh unnie. Sudah lama aku tak melihatmu”, ucap sanghyun yang memulai pembicaraan

“haha.. Waktu itu aku sedang tidak ada kelas. Maka aku tak datang.. Kalau kamu sedang sibuk ?”,

“ne~ begitulah.. Tak ku sangka setelah masuk kuliah begitu banyak waktu yang kupakai untuk belejar..” sanghyun melanjutkan “oh ya.. Chukae unnie .. Kau telah lulus ujian.. Tak lama lagi kau akan lulus.. Uhh enaknya”

“haha .. Gumawoyo.. Tenang tak lama lagi kau juga akan lulus.. Iyakan ?”

“kau selalu saja bisa menghiburku..” “oh ya ini aku mau memberikan kau ini..” sambung sanghyun seraya mengeluarkan sebuah undangan dari tasnya dan memberikannya kepada jiyoon.

“apa ini ?? “, tanya jiyoon seraya melihat undangan itu.

“boe???!!!!! “, ucap jiyoon tersentak kaget saat melihat undangan itu.

***

TBC

 

 

Hari begitu cerah. Salah seorang perempuan memiliki hati yang cerah sama seperti cuaca langit pada saat itu di Seoul. Hari ini dia akan mengunjungi kampung halamannya di Incheon bersama dengan kakak perempuannya.

Han Siyoon, nama seorang kakak dari Han Jiyoon.

“Kau sudah siap ?”, tanya Han Si yoon kepada Han Jiyoon yang sedang duduk di meja rias kamarnya.

“Tentu. Aku sudah siap. Kajja unnie”, jawab Han Jiyoon sambil berdiri dan memulai langkahnya menghampiri Han Siyoon.

Mereka berdua bergegas keluar menuju mobil yang ada di teras rumahnya. Mobil disetir oleh Jiyoon. 2 jam perjalanan membuat mereka berdua lelah dalam mobil, tapi itu tidak mengubah semangat mereka untuk menemui orang tuanya yang ada di Incheon.

Mereka sampai di Incheon setelah menempuh perjalan lebih dari 2 jam. Siyoon terlihat tidur dalam mobil akibat perjalanan yang panjang itu.

“Unnie..”, bisik Jiyoon yang berusaha membangunkan Siyoon.

“Unnie, ayo bangun.. Kita sudah sampai!”, kata Ji yoon seraya menggoyang-goyangkan pundak Siyoon.

“Hhhhh”, gumam Siyoon.

“Kita sudah sampai?”, tanya Siyoon yang masih berusaha membuka matanya.

“Ne… Kajja unn”, jawab Jiyoon dan mulai melangkah keluar.

Jiyoon pun keluar dr mobil , menghirup udara segar di Incheon. Tiba-tiba, seorang perempuan menghampirinya.

“Han Jiyoon!!”, panggil seorang perempuan dari kejauhan.

“Nugu-ya ?”, tanya Siyoon yang baru saja keluar dari mobil.

Perempuan itu sampai di hadapan Jiyoon dan memeluknya.

“Jiyoon-ya.. Sudah lama tak bertemu kau… Bogoshipda Jiyoon-ya!!”, ungkap perempuan itu dan melepaskan pelukannya.

“Neo Nugu-ya?”, tanya Siyoon dan mulai melangkah ke arah perempuan itu

“Kalian lupa denganku kah? Apakan aku sudah banyak berubah sehingga kalian tak mengenaliku??”, kata perempuan itu dengan senyuman manisnya.

Jiyoon dan Siyoon bingung. Mereka mulai membuka pintu memori mereka dan berusaha mengingat kembali siapa perempuan yang berada di hadapan mereka. Tiba-tiba seorang perempuan keluar dr rumah yang berada di sebelah mereka.

“Jiyoon-ya!! Siyoon-ya!!”, teriak perempuan itu dan menghampiri Jiyoon dan Siyoon.

Pandangan Jiyoon mengarah ke perempuan itu saat mendengar perempuan itu menyebut namanya, begitupun dengan siyoon yang berada di sebelahnya.

“Eomma?!?!”, ucap mereka serentak saat melihat perempuan itu.

Ternyata perempuan itu adalah ibu dari jiyoon dan siyoon. Mereka memeluk ibunya dengan rasa gembira. Jiyoon dan siyoon sangat senang bisa bertemu kembali dengan ibunya setelah sekian lama berpisah. Ibunya tampak masih segar dan sehat. Melihat fisik ibunya yang baik, membuat jiyoon dan siyoon tidak cemas lagi.

“Jung Hwa-ya.. Kau ada disini juga ?”, tanya eomma Siyoon dan Jiyoon.

“Ne ajhumma.. Annyeonghasimika!”, sapa perempuan itu dengan sopan dan membungkukan badannya.

“Kau mengenalnya eomma?”, tanya Siyoon disertai raut muka yang tampak bingung

“Tentu.. Masa kau lupa dengan teman masa kecilmu sendiri ?”, tanya eomma nya dengan senyuman yang tampak di wajah.

“Ahh~ Saya ingat.. Kau Yoon Jung Hwa !!”, ucap Jiyoon seraya menghampiri  perempuan itu dan memeluknya.

“Aigoo~ Kau Yoon Jung Hwa ?”, tanya Siyoon tak percaya

“Ne unnie”, sahut junghwa.

Jiyoon dan Siyoon pun akhirnya mengingat  Junghwa. Junghwa adalah teman masa kecil dari Jiyoon dan Siyoon dimana ia merupakan adik dari mantan kekasih Jiyoon. Mereka semuapun masuk ke dalam rumah. Menikmati makan makanan yang sudah dibuat oleh ibu Siyoon dan Jiyoon. “Sungguh enak makanan ini.” begitulah komentar dari mereka semua. Setelah selesai makan, ibu dibawa oleh Siyoon pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Jiyoon dan Junghwa pergi ke teras rumah.

“Bagaimana kau bisa tau aku dan unnie akan kesini?”, tanya Jiyoon.

“Tentu aku tau dari eommamu.”, jawab junghwa.

“Oh. Bagaimana kabar Yoon Si Yoon? Apakan dia baik?”, tanya jiyoon lagi disertai kekhawatiran dengan jawaban junghwa yang takut akan keadaan yoon si yoon.

“hm, begitulah .. Sejak kau pergi ia mulai bekerja lebih keras untuk menyusulmu ke seoul”

“apakah dia tau kalau aku kesini hari ini?”

“aku tak memberitahu dia”

Perasaan kecewa timbul di hati jiyoon. Air matanya mulai mengalir, ia tak sanggup menahan air matanya itu untuk tidak keluar. Hatinya mulai sakit saat mengingat kembali masa-masa itu dulu. Dimana ia memutuskan untuk berpisah dengan yoon si yoon karena jiyoon tak akan mungkin sanggup untuk melanjutkan hubungan jarak jauh.

***

Keesokan harinya mereka berdua kembali ke Seoul.

“Annyeonghijumuseo eomma”, ucap siyoon dan jiyoon serentak.

“jaga diri kalian baik-baik ya. Dan sering-sering juga berkunjung kesini.”, ucap ibunya.

“ne..~ eomma aku titip salam sama junghwa ya..”, pinta jiyoon

“ne~ na tto”, sahut siyoon

Siyoon dan jiyoon pun bergegas masuk ke dalam mobil. Kali ini mobil disetir oleh siyoon. Di perjalanan jiyoon terdiam, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.

2 jam berlalu, jiyoon masih pada posisinya. Ia tak bergerak dan melihat ke arah luar.

***

Mereka pun sampai di rumah. Mereka masuk ke dalam rumah. Jiyoon langsung masuk ke dalam kamar. Perilakunya hari ini membuat siyoon bingung. Karena tak seperti biasanya ia begitu. Biasanya jiyoon selalu ceria, dan senyum dari wajahnya tak pernah hilang.Tanpa terasa 3 jam berlalu. Sekarang sudah pukul 6 sore. Saatnya makan malam. Jiyoon pun tampak tak keluar kamar sejak pulang dari Incheon.

“ny. Lee, apakah jiyoon sudah makan?”, tanya siyoon kepada pembantu di rumahnya itu

“belum.. Sejak daritadi ia tak menjawab saya ketika saya mengetuk pintu kamarnya. Saya kira ia sedang tidur. Jadi saya tak ingin mengganggunya”, ungkap ny.lee secara jelas

“arasso”, sahut siyoon

Siyoon langsung naik ke atas dan pergi ke kamar jiyoon. Ia khawatir dengan keadaan jiyoon. Saat ingin mengetuk pintu kamar jiyoon ia berhenti. Ia mendengar suara orang menangis dari kamar jiyoon.

Awalnya ia berpikir kalau itu hanya halusinasinya saja karena terlalu khawatir, tapi suara itu terdengar semakin keras. Ia mulai mengetuk pintu kamar jiyoon. Jiyoon tak menjawab tetapi ia membuka pintu kamarnya dan kembali duduk di kasur.

“jiyoon-ya.. Kau menangis?”, tanya siyoon cemas

jiyoon terlihat menghapus air mata yang membuat wajahnya itu basah.

“ah . Ani~”, ungkap jiyoon dan berusaha tersenyum

“jiyoon-ya kau tak bisa berbohong padaku”, ucap siyoon sambil memeluk jiyoon.

“sekarang ceritakan padaku”, pinta siyoon seraya melepaskan pelukannya dan menatap jiyoon

Air mata jiyoon tampak keluar lagi. Dan itu membuat siyoon lebih yakin bahwa suara tangisan yang ia dengar dengar adalah tangisan jiyoon.

Sekarang jiyoon menangis dan siyoon masih menatap jiyoon, menunggunya untuk menceritakan semua yang terjadi. Jiyoon mulai membuka mulut.

“apakah memutuskan hubungan itu salah?”, tanya jiyoon yang masih menangis

“bo!?!”, tanya siyoon halus

“apakah meninggalkan seseorang tanpa alasan yang jelas itu salah?”, tanya jiyoon lagi. Sekarang tangisan jiyoon semakin kencang.

Siyoon yang melihat jiyoon menangis mulai menghapus air mata jiyoon.

“aku tau kau masih mencintai yoon si yoon, tapi kau harus ingat, cinta itu tak bisa dipaksakan. Jika kau sudah memilih jalanmu, janganlah kau berputar balik untuk mendapatkan itu lagi. Dan jika siyoon-ya adalah jodohmu aku yakin suatu saat nanti kau akan bertemunya lagi. Tapi tidak untuk saat ini. Ara?”, ungkap siyoon

“tapi sekarang aku merasa menyesal meninggalkannya. Semenjak kembali ke incheon semalam aku mulai menyesal mengingat kejadian itu. Dan aku takut kalau siyoon-ya tak mau bertemu denganku lagi. Aku takut unnie ! Aku takut !”, ungkap jiyoon dan masih menangis.

“aku tau. Tapi kau tak perlu menangisi yang sudah terjadi. Biarkan berlalu. Aku yakin yoon si yoon masih mencintaimu….”, ucap siyoon menghibur

“baiklah. Lebih baik kau tidur. Jika kau mau makan turunlah kebawah, ny.lee sudah menyiapkan makanan untukmu.. Ara? Selamat malam dongsaengku”, sambung siyoon seraya keluar dari kamar jiyoon

Siyoon kembali ke meja makan dan mulai memakan makanan malamnya. Perasaan nya sekarang mulai cemas. Ia cemas memikirkan jiyoon dongasaengnya.

****

Pagi itu sedikit agak mendung. Jiyoon akhirnya keluar dari kamarnya setelah hampir seharian kemarin tak keluar dr kamarnya. Saat ia keluar dirumahnya sepi. Kakakny sudah berangkat bekerja. Sedangkan ny.lee sedang membersihkan rumah.

“ahhh~ annyonghaseo jiyoon-ssi”, sapa ny.lee yang melihat jiyoon sedang menuruni tangga.

“annyoeng..”,

Jiyoon mulai bergegas ke teras rumahnya. Duduk dan meminum secangkir teh. Rasanya hari ini membuat     jiyoon lebih segar. setelah selesai ia masuk ke dalam rumahnya. Bergegas mandi dan sarapan. Ia memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumahnya.

Ia melangkah keluar rumah. Ia terkejut dengan kehadiran orang di depannya………………..

Terlihat seseorang yang sekarang ada di depan jiyoon. Jiyoon tersentak kaget dengan kehadiran lelaki tampan yang memakai jas hitam. Semuanya serba rapi. Dan tentu lelaki itu sangat tampan.

“GaemKyu !!”, sontaknya kaget

“annyeong…”, sapa lelaki itu dengan senyumannya yg manis nya itu.

“kenapa kau bisa ada disini??”, tanya jiyoon bingung

“kau tak mengharapkan kehadiranku disini jiyoon-ya?”,tanya lelaki itu

“bukan begitu, kau membuatku kaget. Kau datang tanpa kabar. Aku kira kau masih di amerika”, ungkap jiyoon

“haha~ masih saja tak berubah”, kata lelaki itu seraya mengelus rambut jiyoon.

Cho Kyuhyun.. Adalah nama lelaki itu. Dia teman masa kecil jiyoon yang dulu berada di incheon. Dia juga mengenal yoon si yoon. Saat jiyoon mau pergi ke seoul, kyuhyun duluan pamit, karena ia mau melanjutkan sekolah nya di amerika.

“Bukankah kau pergi dengan Donghae oppa?? Tapi mengapa kau kesini hanya sendirian?”, tanya jiyoon

“donghae sedang mencari dorm untuk kami tinggal, makanya ia tidak kesini.”, jawab kyuhyun

“huh~ baiklah. Sekarang kau mau apa kesini??”, tanya jiyoon lagi

“aku ingin mengajakmu pergi..”,

“mwo-ya??”

“ne~~ Kajja!”, ajak kyuhyun. Ia langsung menarik tangan jiyoon dan masuk ke mobil.

“kita mau kemana??”, tanya jiyoon

“hm, liat saja nanti”, kata kyuhyun yang mulai menyetir mobilnya.

±2 jam pun berlalu. Mereka sampai di sebuah taman tempat mereka bermain waktu kecil di dekat incheon. Kyuhyun mengajak keluar jiyoon yang masih berada di mobilnya itu.

“kyu-ya . Bagaimana kau tau kalau aku ingin pergi ke taman ini ??”, tanya jiyoon pernasaran

“hm, aku tau kau lagi sedih kan ? dan bukankah ini tempat yang selalu kau datangi jika lagi sedih?? Jinjja yoon-ah ??”, ungkap kyuhyun

“mwo ? Kau memanggil ku dengan sebutan “ah”!! Hah??”, ucap jiyoon seraya menjitak kepala kyuhyun dan senyuman mulai tampak di wajah jiyoon.

“hah? Jiyoon-ah !!!”, teriak kyuhyun dan mulai mengejar jiyoon.

Mereka berkejar-kejaran tampak seperti anak kecil. Lumayan lama mereka melakukan hal itu, 6 tahun lalu terasa terulang lagi, dimana masa-masa waktu kecil yang sangat bahagia.

Nafas mereka mulai tak beraturan. Akhirnya mereka berhenti dan duduk di sebuah kursi taman.

“huh huh huh ~ aku sudah lama tak merasakan gembira seperti ini”, ungkap jiyoon jelas

“haha~ apalagi aku yoon-ah.. Sejak aku pindah ke amerika aku selalu serius belajar dan hiburan pun kurang disana. Rasanya benar-benar bosan. Dan Baru kali ini aku merasakan rasa senang lagi setelah 6 tahun berlalu.. Hha~~”,ungkap kyuhyun

“jinjja ?? Kasian sekali kau GaemKyu. aku tau rasanya jika jadi kau.. Tak bermain game selama 6 tahun. Ckck”, ledek jiyoon

“yayaya.. Dasar kau.. Selalu meledekku..”, ucap kyuhyun seraya mengacak-ngacak rambut jiyoon

“kyuhyun-ya .. Jangan mengacak-ngacak rambutku !”,

“mian yoon-ah !”,

“lagi-lagi kau memanggilku dengan sebutan yoon-ah!”,

Hari semakin sore. Kyuhyun mengajak jiyoon pulang. Tak lama ia sampai di depan halaman rumah jiyoon.

“kyu-ya .. Gumawo ..”, ucap jiyoon

“mwo? Gumawo .. Untuk ?”, tanya kyuhyun bingung

“kau sudah membuatku senang hari ini.. Gumawoyo gumawoyo kyu-ya…… Arasso. Aku akan masuk .. Annyeong kyu-ah”,

“Ne ~ annyeong yoon-ah”,

Jiyoon pun masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya masih sepi. Kakak nya belum pulang dari kantor. Ia langsung menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya…….

***

Kyuhyun bergegas pulang ke dorm yang baru dibelinya.

“donghae-ya.. Kau sudah pulang ?? “, teriak kyuhyun seraya memasuki rumahnya.

“ne~ habis darimana kau ??”, tanya donghae yang baru keluar dari kamar mandi

“hhhhaaaahhhh~ hari ini aku benar-benar mendapatkan hiburan…”, ungkap kyuhyun seraya menghampiri donghae.

“hiburan ? Hiburan apa ? Main game ?”, tanya donghae bingung.

“aniya~~ aku benar-benar senang bertemu dengan jiyoon!”

“jiyoon ? Kau bertemu dimana ?”

“tentu aku datang ke rumahnya??”

“bo!?? Rumah ? bagaimana kau tau rumahnya??”

“Kan tadi kita bertemu dengan han siyoon di kantornya. Dan dia memberi alamat rumahnya bukan ? Yasudah aku catat saja di ponsel ku..”

“kyu-ya.. Otakmu.. Benar-benar .. Ckckck..”

Akhirnya mereka berdua pun bergegas tidur karena hari sudah semakin larut..

***

Jiyoon melangkah keluar kamarnya. ia melihat kakaknya sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu. Karna ia penasaran ia turun ke bawah. Ia mengintip ke arah ruang tamu. Ternyata tamu itu adalah lee donghae.

Dalam hatinya ia berpikir “untuk apa aku mengintip orang yang sedang pacaran”. Ia berbalik dan berpikir untuk masuk ke kamar. Tapi saat ia berbalik ada seseorang dibelakangnya, dan itu membuatnya kaget. Ia tersentak kaget dengan kehadiran orang dibelakangnya dan tanpa sengaja ia berteriak memanggil nama orang itu. Dan teriakan jiyoon membuat donghae dan siyoon tampak kaget.

“jiyoon-ya….”, panggil siyoon

“aaahh– unnie ..”, ucap jiyoon pelan sambil tercengir

“sedang apa kau disitu ?”, tanya siyoon

“mm, aku sedang ………..”,

“kita mau ke ruang tamu, dan bertemu kalian”, ucap kyuhyun cepat

“oh.. terus sedang apa kalian disitu. Ayo kesini dan duduk.”,

“ne ~”, jawab jiyoon

Jiyoon dan kyuhyun duduk di sofa ruang tamu itu. Dan mereka berempat berbincang” untuk waktu yang cukup lamanya. Tak lama kyuhyun dan donghae berpamit untuk pulang.

Setelah kyuhyun dan donghae pulang jiyoon kembali masuk ke kamar dan tidur.

***

Langit cukup cerah. Orang-orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi dan  Siyoon sudah pergi bekerja.

Jiyoon berjalan turun ke lantai bawah dan menuju meja makan.

Ny. Lee mengantarkan makanan dr dapur ke meja makan.

“gamsahamnida ny.lee”, ucap jiyoon yang sedang duduk di meja makan tsb.

“cheonmaneyo.. No gwaenchana ? Wajahmu tampak pucat..”, tanya ny.lee khawatir

“aaah. Aniya~ kau boleh kembali ke dapur ny.lee”, jawab jiyoon lemas.

Wajah jiyoon tampak pucat dan itu membuat ny.lee khawatir dengan keadaan jiyoon.

Ny.lee pun kembali kedapur dan melanjutkan pekerjaannya. Jiyoon yang duduk di meja makan menghabiskan makanannya. Tak lama ia selesai makan dan bergegas masuk ke kamar. Belum sampai dikamarnya ia jatuh dari tangga dan pingsan.

Ny. Lee yang mendengar suara itu segera menuju asal suara itu. Ia melihat jiyoon yang tergeletak di lantai dan sudah pingsan.

“agessi, agessi…”, panggil ny.lee seraya berusaha membangunkan jiyoon

jiyoon tak bangun” juga dari pingsannya*agessi = nona*. Ny. Lee membawa jiyoon ke kamarnya dan segera menelpon dokter, ia juga segera memberitahu siyoon yang ada di kantor.

“agessi, jiyoon pingsan.. “,ucap ny.lee yang sedang menelpon siyoon

“bo???!”, sontak siyoon yang mendengar ucapan dr ny.lee

“ne~ aku sudah memanggil dokter”

“arasso~ aku akan segera pulang”…

Ny. Lee menemani jiyoon yang sedang terbaring di kasur kamarnya. Tak lama dokter datang bersamaan dengan siyoon yang tampak sedang terburu”.

Dokter masuk ke kamar jiyoon dan segera memeriksa jiyoon. Tak lama dokter keluar dr kamar jiyoon.

“bagaimana keadaan dongsaeng saya ?? “, tanya siyoon khawatir

“gwaenchana. Ia hanya kelelahan dan sedikit stress”, ungkap dokter itu jelas.

“tapi benar ia tak apa ?”, tanya siyoon lagi

“gwaenchana. Ia hanya butuh istirahat. Dan setelah ia bangun tolong beri ia obat ini”, ucap dokter itu seraya memberikan selembar kertas yang bertuliskan resep obat.

“ne~ gamsahamnida”, kata siyoon sambil menunduk kecil

dokter itu pergi keluar. Siyoon segera masuk ke kamar jiyoon. Ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya itu. Siyoon menyuruh ny. Lee untuk menebus obat.

“aigoo .. Jiyoon-ya kenapa harus sakit seperti ini…”, ucap siyoon seraya menutupi tubuh jiyoon dengan selimut.

Tak lama kemudian donghae dan kyuhyun datang. Mereka langsung menuju kamar jiyoon.

“jiyoon kenapa siyoon-ya ?”, tanya kyuhyun khawatir

“ia hanya kelelahan..”, jawab siyoon

“tapi ia tak apa kan ?”, tanya kyuhyun lagi

“aniya~~ jangan khawatir kyu-ya”, kata siyoon

Tak lama ny.lee datang dan membawa obat.

“ini obat ?”, tanya donghae sambil menunjuk sebungkus plastik yang dibawa ny.lee

“ne~”, jawab ny.lee

“biarkan aku yang memberikan obat ini ke jiyoon. Dan biar aku yang menjaganya.. Kalian tak perlu khawatir. Oke~~,”, pinta kyuhyun seraya membawa bungkusan obat itu dan pergi masuk ke kamar jiyoon.

Siyoon dan donghae hanya terdiam dan mengikuti permintaan kyuhyun…….

***

TBC

 

 

 

 

 

 

“Soohan-ah, ireona! Palli~”

Aku terbangun dari tidurku. Tampak siluet seorang yeoja berambut pendek dengan wajah menawan. “Sungra-onnie? Kenapa pagi sekali?”, tanyaku sembari mengerjabkan mata. “Hari ini kita ada press conference antar artis.”, jelas Jaesa-onnie dari yang baru selesai mandi. Rambut panjang lurusnya yang dicat coklat gelap melambai dengan indah.

Press conference?”

“Ne. Dan hati-hati. Pasti kau dan Wooyoung-ssi ditanya perihal hubungan kalian.”, jawab Hanyoung-onnie yang datang dengan nampan di tangannya. Tangannya yang lembut dan seputih salju memberikan nampan berisi makanan dan minuman itu kepadaku. Aku mengangguk pelan dan mulai beranjak memakan roti yang ada di nampan, “Apa…kah ada Super Junior disana?”

Semua member sontak menatapku. “Tentu saja. Semuanya ada disana.”, jawab Hwangki-onnie tanpa memberhentikan tatapan dari mata imutnya. “Kau bohong ‘kan saat bilang kepada Wooyoung bahwa kau sudah melupakannya sedikit?”, tanya Sungra-onnie tepat pada sasaran. Membuatku sama sekali tak bisa menjawab.

“Aisshh~ Itu sama saja kau menghancurkan hati Wooyoung dan Sungmin-oppa sekaligus, Soohan-ah!”, seru Hanyoung-onnie sedikit kesal. “Ani, Hanyoung. Kau salah. Soohan hanya menyakiti hati Wooyoung. Sungmin-oppa sama sekali tidak terluka.”, ucap Jaesa-onnie membenarkan perkataan Hanyoung-onnie.

Aku hanya menunduk mendengarnya.

“Ottokhae, onnie? Otakku selalu berkata untuk melupakan seorang Lee Sungmin dan mulai mencoba mencintai seorang Jang Wooyoung. Tapi hatiku sama sekali tidak berpihak. Sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali yang kulupa dari sosok Lee Sungmin. Dan sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali sosok Jang Wooyoung di hatiku.”

Semua langsung memelukku hangat, “Tenang, Soohan-ah. Kami akan membantumu. Sekarang cepat bersiap-siaplah. Pokoknya, disana kau harus dengan yakin mengatakan bahwa kau adalah yeoja-chingu seorang Jang Wooyoung. Kau harus tegar. Dan ini semua demi kebaikanmu. Ara?”, tanya Hwangki-onnie sembari tersenyum. Aku mengangguk setuju.

 

___

 

Mobil berhenti dan kami semua—member 1PM keluar dan mulai berjalan di red-carpet. Disana member 2PM sudah datang dan tersenyum pada kami. Wooyoung-oppa melambai dan membisikan sesuatu di telingaku, “Hari ini kau terlihat sangat cantik, Soo-ah…”

“Jadi, biasanya tidak?”, bisikku sarkastik. “Setiap saat kau selalu terlihat cantik, namun hari ini kau lebih dari cantik.”, jawabnya masih dengan bisikan. “Apakah sejak aku berpacaran denganmu, aku jadi terlihat lebih cantik?”, tanyaku menggoda. Wooyoung-oppa makin tersenyum dan mau membalas, namun tidak sempat karena kami disuruh berfoto berdua, terpisah dari group kami.

Kami mengambil posisi dengan canggung. “Bisa lebih dekat lagi?”, pinta seorang wartawan. Tangan Wooyoung-oppa sontak memegang pinggangku mesra. Kami berfoto cukup dekat. Dan pipiku merona sempurna. Tampaknya, Woo-oppa juga merasakan yang sama denganku. “Aigoo~ Pancaran pasangan baru memang sangat terasa ya.”, sahut seorang wartawan lagi dan semuanya tertawa. Kami berdua hanya bisa tersenyum malu.

Setelah selesai melakukan sesi foto, kami masuk ke tempat press conference tersebut. Sudah banyak artis, aktor, penyanyi solo, ataupun boy-band dan girl-band yang datang. Dan saat berada di pintu masuk, aku bisa melihat member Super Junior sedang berjalan masuk.

“Annyeong, Soohan-ssi~ Annyeong, Wooyoung-ssi~”, sapa Leeteuk-oppa hangat. “Annyeong haseyo, sunbaenim~”, balas kami berdua serempak. “Chukae untuk kalian.”, ucap Yesung-oppa seraya tersenyum. “Kau nampak sangat bahagia ya setelah berpacaran dengan Wooyoung, Soohan-ssi.”, sahut Kyuhyun-oppa yang lebih sebagai sindiran. Wooyoung-oppa yang juga mengetahui maksud dari perkataan Kyuhyun-oppa, hanya bisa tersenyum (pahit).

“Kalian hanya ber-9, sunbaenim. Dimana Sungmin-hyung?”

Pertanyaan Wooyoung-oppa membuatku sadar bahwa ia tidak terlihat diantara member Super Junior. “Ahh~Sungmin sedang menemani Luna-ssi. Ada barangnya yang tertinggal.”, jawab Eunhyuk-oppa ramah. Seketika itu juga, air mata ingin membrontak turun dari mataku. Wooyoung-oppa yang menyadari keadaanku, langsung menggenggam tanganku erat.

“Kalau begitu, kami permisi dulu, sunbaenim. Annyeong haseyo~”, pamit Woo-oppa sembari menunduk kecil. Lalu, ia terus menggenggam tanganku erat hingga ke tempat duduk. Hingga membuat para wartawan dengan senangnya, memotret kemesraan kami. “Gwenchana, Soo-ah?”

Aku mengangguk pelan. “Mian, oppa. Aku…hanya—”

“Arasso, Soohan-ah. Aku tau kau masih mencintainya. Dan…aku tak pernah mempermasalahkannya. Aku tau…cinta itu…tidak bisa dipaksa.”, ucap Wooyoung-oppa lembut. “Gomawo-yo, oppa. Saranghaeyo.”, jawabku sembari tersenyum. “Mworago-yo? Tadi kau bilang apa?”, tanya Wooyoung-oppa dengan wajah memerah.

“Ya, pasangan baru! Jangan berpacaran disini. Kalian diperhatikan terus daritadi.”

Perkataan Taecyeon-oppa yang berada tepat di belakang kami, membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa. Tak lama, aku bisa melihat Sungmin dan Luna sedang memasuki ruang dan mulai duduk. Mereka berdua tertawa bersama, bercanda bersama, dan tampak sangat bahagia. Membuat semua orang iri, apalagi diriku. Namun, genggaman erat Wooyoung-oppa, membuatku merasa lebih kuat.

Dan itu terus berlangsung hingga acara selesai. Tentu saja aku dan Wooyoung-oppa ditanya perihal pacaran kami. Untung saja, Woo-oppa bisa menjawab semuanya dengan baik. Banyak yang tak percaya sosok Woo-oppa yang suka bercanda, bisa menjadi serius saat bersamaku. Dan aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.

Sungmin-oppa tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan status pacaran antara diriku dan Wooyoung-oppa. Ia tetap tampak bersinar dan gembira dengan Luna. Dan itu…membuatku lebih sakit dari sebelumnya.

 

___

 

Hari yang cukup dingin ini, aku lewati di tempat syuting. Wooyoung-oppa juga ada bersamaku. Kami akan syuting variety show bernama ‘Love Young Love’. Suatu acara variety show mirip ‘We Got Married’, namun dengan dua pasangan yang akan saling memperebutkan tempat untuk menjadi yang terbaik.

Dan dalam acara kali ini, aku dan Wooyoung-oppa akan menjadi salah satu dari pasangan itu. Tetapi, yang menjadi pokok permasalahan dari keresahanku adalah…

“Jadi, lawan kami nanti adalah pasangan Super Junior Sungmin dan f(x) Luna?!”, tanya Wooyoung-oppa terkejut. Begitupun denganku. Ahh~ani! Lebih tepatnya, aku merasakan keterkejutan 100 kali lipat dari keterkejutan Woo-oppa. “Memang kenapa?”, tanya seorang staf, merasakan keterkejutan dari kami berdua.

“Ohh~ani! Mereka berdua adalah pasangan yang sangat mesra. Kami berdua jadi takut. Hahaha…”, ucap Wooyoung-oppa, mencurahkan semua kemampuan aktingnya ke perkataan yang baru saja diucapkan. “Hahaha~ Jangan khawatir! Kalian juga adalah pasangan yang mesra.”, balas staf itu seraya ikut tertawa. Aku menarik nafas lega, setidaknya staf itu tidak curiga.

“Gwenchana, Soo-ah? Apa…kita batalkan saja acara ini?”

Aku menatap Wooyoung-oppa dan kemudian menggeleng, “Tenang, oppa. Aku akan berusaha untuk kuat. Jika bersamamu, aku pasti menjadi kuat.”, ucapku yakin. Wooyoung-oppa tersenyum dan mengecup keningku. “Aigoo~ Kalian ini mesra sekali! Kami jadi takut.”

Kami menoleh dan bisa melihat dengan jelas Sungmin-oppa dan Luna. Tangan Sungmin-oppa melingkar di pinggang Luna dan tangan Luna menyangkut bagian leher Sungmin-oppa. “Annyeong haseyo, Sungmin-hyung~ Annyeong, Luna-ssi~”, sapa Wooyoung-oppa sembari menunduk kecil dan memegang tanganku erat. Kebiasaan Woo-oppa agar aku bisa merasa lebih tegar.

“Annyeong haseyo, Wooyoung-oppa~ Annyeong haseyo, Soohan-onnie~”

Luna menunduk kecil pula. Dan aku hanya bisa ikut menunduk. “Tampaknya acara ini adalah ajang yang bagus untuk mempererat hubungan pasangan kita. Keurae?”

“Ahh~ne. Aku juga merasa begitu.”, jawab Wooyoung-oppa sedikit gugup. “Woo-oppa, disini dingin sekali~”, ucapku dengan nada manja. “Jinjja?”

Wooyoung-oppa membuka jaketnya dan memakaikannya ketubuhku.

Lalu, tangannya menggenggam tanganku hangat dan sekali-kali menggosok-gosokannya. “Sudah merasa baikan?”, tanya Woo-oppa khawatir. Aku mengangguk dan tersenyum, “Gomawo-yo, nae wangja~ Saranghae.”

“Aigoo~ Daripada menganggu kalian, lebih baik kami masuk. Sampai jumpa di acara!”, sahut Sungmin-oppa sembari menggandeng Luna masuk. Setelah mereka berdua sudah benar-benar masuk, aku melepas jaket Wooyoung-oppa dan memakaikannya kembali ke tubuhnya.

“Tadi, aktingmu sangat bagus, Soo-ah~”

“Ne?”

“Yang tadi itu, kau hanya berakting agar Sungmin-hyung cemburu ‘kan?”, tanya Wooyoung-oppa seraya tersenyum, kebiasaannya satu lagi yang membuatku menyukainya. “Mian, oppa.”, jawabku sembari menunduk. “Gwenchana. Justru itu rencana yang bagus! Teruslah begitu, agar Sungmin-hyung tidak berpikir kau sengsara jika tanpanya.”

“Ahh~oppa. Jeongmal jeongmal mianhaeyo~”

“Mian untuk apa lagi?”, tanyanya bingung. “Kau selalu ada di setiap keadaan yang kualami. Tapi, aku tidak pernah membahagiakanmu. Aku selalu membuatmu menderita, oppa. Mianhaeyo~”, kataku jujur. Dia kembali tersenyum, kali ini lebih hangat. “Melihatmu bahagia saja, sudah membuatku bahagia, Park Soohan.”

“Woo-oppa, bila aku diberikan kuasa atas hatiku, hal pertama yang akan kulakukan adalah melupakan Sungmin-oppa dan mencintaimu sepenuh hati.”, ucapku seraya tersenyum. Wooyoung-oppa tersenyum dan membelai rambutku, “Bila ada kehidupan kedua di dunia ini, aku akan meminta agar jodohku dan cintaku hanya pada dirimu, Soo-ah. Saranghae~”

“Ne, na tto saranghae~”

“Syuting akan segera dimulai!”, teriak seorang staf dan kita langsung bergegas masuk ke gedung. Kami bisa melihat Sungmin-oppa dan Luna sudah duduk di salah satu sofa. Di tengah-tengah, ada dua orang yang akan memandu acara. Dan di sampingnya, ada sofa yang masih kosong. Sofa tempat kami akan duduk.

Sebelum mulai, Woo-oppa membisikan suatu kata di telingaku, “Fighting, Soo-ah!”, bisiknya seraya mengepalkan tangannya keatas. Aku tersenyum dan ikut mengepalkan tanganku.

“3…2…1…Action!”

“Annyeong haseyo, pemirsa! Selamat berjumpa di acara terbaru KBS yang bernama ‘Love Young Love’…! Bersama kami, MC Lee Taemin dan MC Han Eunri, kita semua akan bersama-sama melihat dua pasangan yang akan saling beradu untuk mendapat hadiah special!”, ucap Taemin-ssi dengan bersemangat.

Eunri-ssi langsung membalas, “De, dan pasangan yang akan saling beradu untuk edisi perdana ‘Love Young Love’ adalah………”

“Pasangan Sungmin-Luna dan Wooyoung-Soohan!!!”, seru kedua MC dengan lantang. Semua penonton yang menonton langsung bertepuk tangan meriah.

Eunri-ssi kembali memegang kendali, “Mari kita tanya-tanya pasangan Sungmin SJ dan Luna f(x) terlebih dahulu. Jadi, kapan tepatnya kalian mulai pacaran?”

“Kalau dibilang dekat, sudah lama. Tapi kalau mulai pacaran, kira-kira sebulan yang lalu.”, jawab Sungmin-oppa seraya tersenyum manis. Senyum yang selalu kunantikan dan kurindukan. Namun, sayangnya bukan ditujukan untukku. “Tanggal tepatnya?”, tanya Taemin-ssi sembari tersenyum jail. “Mmmm——”

“Tanggal 12 Oktober.”, potong Luna yakin. “Omo~! Kau lupa tanggal dirimu dan Luna-ssi pacaran, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi kaget. “Ani! Ani! Aku hanya bingung antara mau menjawab tanggal aku menyatakan perasaanku pada Luna, atau tanggal ia memberikan jawabannya padaku.”, jawab Sungmin-oppa sembari tertawa.

“Ahhh~Kalau kau Taemin-ssi? Kau sudah berpacaran cukup lama ‘kan? Apakah kau ingat tanggal kau dan Sangrin-ssi berpacaran?”, tanya Eunri-ssi memancing. Taemin-ssi tersenyum malu, apalagi saat Eunri-ssi mengatakan nama yeoja-chingunya. “Tentu saja aku ingat. Aku dan Rin-baby pacaran dari 17 Februari. Tepat dihari ulang tahun Rin-baby.”

“Aigoo~ Kau memanggil Sangrin-ssi dengan ‘Rin-baby’?”

“Ya, Han Eunri! Sebenarnya kau mewawancarai diriku atau mereka sihh?”, tanya Taemin-ssi seraya cemberut. Yang lain kembali tertawa. “Ok! Setelah mewawancarai Lu-Min couple, sekarang kita akan beranjak mewawancarai Woo-Han couple, Wooyoung 2PM dan Soohan 1PM. Kalau kalian, dari kapan mulai pacaran?”

“Tanggal 1 November.”, ucapku dan Woo-oppa yang ternyata secara bersamaan. “Aigoo~ Kalian sangat kompak! Kalian berbeda berapa tahun?”, lanjut Eunri-ssi. “Umur Koreaku 20 tahun dan Woo-oppa 22 tahun. Kami berbeda 2 tahun.”, jawabku mantap. “Wow~ Cocok sekali…! Bagaimana dengan Lu-Min?”, gumam Taemin-ssi.

“Aku 25 tahun dan Luna 18 tahun. Kami berbeda 7 tahun.”, jawab Sungmin-oppa cepat. “Wow~ Perbandingan yang cukup jauh! Tapi, jaman sekarang ini, siapa yang mempedulikan perbandingan umur? Keurae, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi dibalas anggukan Sungmin-oppa dan Luna.

“Kembali ke Woo-Han couple. Biasanya nama julukan kalian satu sama lain apa?”, tanya Taemin-ssi seraya tersenyum. “Yang pasti bukan baby, ‘kan?”, tanya Eunri-ssi, menyindir Taemin-ssi, dan semuanya kembali tertawa. “Aku memanggil Soohan dengan sebutan ‘Soo-ah’ dan Soohan memanggilku dengan sebutan ‘Woo-oppa’. Tidak ada panggilan yang special.”, jawab Wooyoung-oppa sembari menatapku dalam.

“Tidak pernah terpikir untuk mencari panggilan special?”

“Ani. Jujur, kami bukan tipe namja atau yeoja yang romantis. Dan lagi, lebih nyaman bagi kami untuk saling memanggil dengan nama biasa. Mungkin karena kami saling percaya, jadi kami tidak perlu terlalu menunjukan rasa sayang kami.”, jawabku seraya tersenyum. “Rasa sayang? Kenapa bukan rasa cinta?”, tanya Eunri-ssi mengoreksi perkataanku.

“Rasa sayang itu jauh lebih besar dari rasa cinta. Dan kami sudah ada di tahap saling menyayangi.”

Ucapan Wooyoung-oppa membuat semua penonton bertepuk tangan meriah. “Kalian memang pasangan yang luar biasa. Bagaimana dengan kalian Lu-Min couple?”

“Aku memanggil Sungmin-oppa dengan sebutan ‘Umin-oppa’ dan dia memanggilku dengan sebutan ‘Sun-ney’.”, jawab Luna dengan senyuman manisnya. Seketika itu juga, rohku seakan dibanting dengan keras ke tanah. Umin adalah panggilanku padanya. Dan, biasanya ia selalu memanggilku, Soo-ney. Kepanjangan dari ‘Soohan-honey’.

“Kenapa kalian saling memanggil dengan panggilan itu?”

“Umin adalah plesetan dari namaku. Dan perihal ‘Sun-ney’, karena nama asli Luna adalah Sunyeong, jadi aku menggabungkan nama ‘Sunyeong’ dan ‘Honey’ menjadi Sun-ney.”, jelas Sungmin seraya kembali tersenyum. “Aigoo~ Kalian memang adalah pasangan Agyeo…!”, puji Eunri-ssi dan mereka berdua tertawa kecil.

“Tampaknya pasangan Lu-Min dan Woo-Han sama-sama menarik! Sekarang langsung saja. Kalian berempat akan dibawa ke sebuah villa dan di-villa itu hanya ada satu kamar. Keperluan juga sudah tersedia disana. Kita lihat pasangan mana yang paling bisa saling membantu. Dan, ne, disana sudah ada rintangan yang harus kalian lewati berdua. Good luck~”, jelas Taemin-ssi dan kami berempat mengangguk.

 

___

 

“Nah, kita sudah sampai di villa. Kalian akan berada di villa sebelah sana dan kami berdua akan memantau kalian di villa di sebelahnya. Ingat, dalam waktu 3 hari, kalian akan tinggal disini. Uang dan semuanya sudah disiapkan disana. Jadi, kalian tidak boleh membawa uang sendiri. Kalian juga harus melakukan semua kegiatan sendiri. Arasso?”, jelas Eunri-ssi dan kami berempat mengangguk paham.

“Sekarang, kalian harus mengumpulkan dompet kalian terlebih dahulu.”, pinta Taemin-ssi seraya mengumpulkan semua dompet kami. “Ok, kalau begitu sampai ketemu 3 hari lagi~”

 

___

 

“Kecil sekali.”

“Kotor.”

“Lembap.”

“Menjijikan.”

Semua adalah komentar dari kami berempat saat memasuki villa ini. Tampaknya, villa ini sudah lama sekali tidak dibersihkan. “Sekarang bagaimana kalau kita melakukan pembagian pekerjaan?”, usul Wooyoung-oppa cepat. “Tapi, siapa yang akan menentuan pembagiannya? Tidak adil ‘kan kalau hanya kita sendiri yang menentukan?”, tanya Sungmin-oppa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kita lakukan permainan gunting-kertas-batu. Siapa yang kalah akan membersihkan tempat yang lebih jorok. Jika kulihat, yang paling jorok adalah toilet, lalu dapur, ruang makan, dan terakhir yang paling bersih adalah ruang tamu.”, kataku ikut memberi ide. “Nice idea~ Kajja, kita lakukan!”, seru Luna dengan bersemangat.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Aku menang!”, seru Wooyoung-oppa sembari melompat girang. “Sekarang, fighting Soo-ah!”, lanjut Woo-oppa, membuatku tersenyum.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Kali ini aku yang menang!”, teriak Luna kegirangan.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Omo~ Aku kalah!”, gumamku seraya cemberut. “Yeah! Untung, aku sudah tau kebiasaanmu yang selalu mengangkat gunting tiap kali kita main.”, ucap Sungmin-oppa ceria, namun langsung terdiam sejenak setelah menyadari apa yang baru ia katakan. Tampaknya, Luna juga sudah tau kisahku dan Sungmin-oppa, dan Luna pun hanya ikut terdiam.

“Ahh~Kalau begitu, aku akan membersihkan toilet. Kau yang membersihkan ruang tamu saja ya, Soo-ah?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum canggung. “Andwae, oppa! Aku kalah, jadi aku harus mempertanggung jawabkannya.”, seruku lantang. “Tapi…aku tidak mau tangan lembutmu itu menjadi kotor saat terkena kotoran.”

“Bagaimana kalau kita berdua saling membantu?”, usulku dan Wooyoung-oppa akhirnya mengangguk setuju. Kita pun mulai melakukan kegiatan bersih-bersih. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya semua selesai juga. Kami berempat duduk di sofa dengan nafas tak beraturan. Rasa lelah mengerubungi kami.

“Ahh~lebih baik syuting seharian daripada membersihkan ini. Tulangku mau remuk rasanya.”, gumam Luna sembari memijat-mijat pinggangnya. “Jinjja-yo? Akan kupijat.”, seru Sungmin-oppa sembari mulai memijat-mijat bagian belakang tubuh Luna. “Ada yang pegal?”, tanya Woo-oppa perhatian. Aku menggeleng, “Karena ada oppa, rasa pegalku daritadi menjadi hilang. Terbayar oleh senyum imut oppa, tampaknya.”, jawabku dan Woo-oppa langsung mengacak rambutku gemas.

“Sekarang sudah mulai sore. Siapa yang akan menyiapkan makan?”, tanya Sungmin-oppa yang tampaknya sudah selesai memijat Luna. “Bagaimana kalau para yeoja memasak dan para namja membeli bahan-bahan di dapur?”, usul Luna dan kita pun mengangguk setuju.

 

&&&

*Namja*

“Apa yang harus kita beli?”

Wooyoung memikirkan sejenak pertanyaan Sungmin. “Sebaiknya kita membeli bahan yang murah saja. Uang yang disediakan sangat terbatas.”, ucapnya bijaksana dan Sungmin pun mengangguk setuju. “Kita…tidak boleh membawa kendaraan?”

Wooyoung mendengar perkataan Sungmin dan langsung menatap arah yang dituju Sungmin. Tempat dimana mobil baru saja diparkir, kosong. Dan mereka baru sadar, bahwa kunci mereka ada di dompet. Dan dompet itu sudah tersita. Terpaksa mereka berdua berjalan kaki menuju pasar terdekat.

Beberapa yeoja tampaknya mulai menyadari mereka bukan rakyat biasa. Tentu saja terlihat dari wajah khas mereka dan seluruh tubuh mereka yang lebih putih. “Sungmin-hyung, ottokhae?”, tanya Wooyoung, mulai ketakutan akan serangan para fans yang memang sangat liar. “Molla~ Lebih baik, kita pura-pura tidak tau saja.”, jawab Sungmin yang juga mulai ketakutan.

“Apakah oppa Wooyoung 2PM dan Sungmin Super Junior?!”

Pertanyaan seorang yeoja membuat mereka berdua sedikit terkejut. “Siapa itu? Kami tidak tau.”, jawab Sungmin, mengalihkan semua kemampuan aktingnya. “Oppa pasti bohong~ Kalian memang Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa ‘kan?”, kata yeoja itu seraya menatap mereka dengan seksama.

“Ani… Ani… Kau salah orang, nona.”

Wooyoung langsung menarik tangan Sungmin untuk berjalan cepat, meninggalkan yeoja yang kebingungan itu. “Omo~ Nyaris saja…”, gumam Sungmin sembari menarik nafas lega. “Sebaiknya, kita cepat, hyung. Jangan sampai kita dikenali.”

Sungmin mengangguk dan mereka berdua berjalan dengan cepat menuju pasar.

 

&&&

*Yeoja*

“Jadi, onnie…adalah mantan Sungmin-oppa?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Luna yang kurasa sangat nekat. “Ani. Aku bukan dan belum pernah menjadi yeoja-chingu Sungmin-oppa. Dia hanya sahabatku dari dulu.”, jawabku cepat. Itu memang kenyataan, dan aku juga tidak mau membuat hubungan Sungmin-oppa dan Luna hancur. Karena aku tidak mau Luna mengalami hal pahit yang pernah aku rasakan. Dan, aku juga percaya, bahwa Luna benar-benar sangat mencintai Sungmin-oppa dengan tulus hati.

Lebih baik semuanya tetap berjalan seperti ini. Ada pepatah pula bukan yang mengatakan bahwa : ‘Cinta tak harus memiliki’ dan ‘Cinta sejati adalah bila bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia’?

“Onnie…mencintai Sungmin-oppa?”, tanyanya lagi. Aku mengangguk, membuatnya kaget. “Ne, jujur, aku memang mencintainya. Sejak dulu sekali, malah. Namun, rasa cinta saja nampaknya tidak cukup. Dan, cintaku tampaknya bertepuk sebelah tangan.”, jawabku lagi, dengan sangat jujur. “Kenapa onnie merasa bahwa cinta onnie bertepuk sebelah tangan?”

Aku mengela nafas panjang, “Buktinya, Sungmin-oppa memilihmu dan bukan aku, ‘kan?”

Dia mengangguk paham.

“Jangan khawatir~ Aku tidak akan mengambil Sungmin-mu. Aku sudah punya Wooyoung-oppa. Meskipun aku belum mencintainya, aku akan berusaha. Dan aku sangat percaya bahwa ia adalah orang yang sangat baik. Dan yang terpenting…ia mencintaiku.”

Luna kembali mengangguk.

“Cinta memang susah dimengerti ya, onnie?”

Aku mengangguk, “Sangat.”

“Kami…datang~~~!”, teriakan dua orang namja membuat kami terkejut. “Kami membawa…kimchi! Hari ini…kita makan…nasi goreng…kimchi saja ya?”, tanya Sungmin-oppa seraya tersenyum ceria. “Boleh!”, seru Luna cepat. “Kenapa kalian kacau begitu?”, tanyaku bingung. “Kita harus…berlari dari…kejaran para fans.”, jawab Wooyoung-oppa dengan nafas tak beraturan.

“Omo~ Memang kalian tidak mengandarai mobil?”

Sungmin-oppa menjawab, “Tampaknya…mobil kita…sudah dibawa…oleh kru ‘Love Young Love’. Kunci mobil…kita ‘kan ada…di dompet yang tadi…kita kumpulkan.”

“Aigoo~ Kalian tampak sangat lelah. Sebaiknya, kalian istirahat dulu. Biar kami yang memasak. Keurae, Soo-onnie?”, tanya Luna sembari tersenyum ceria. Aku mengangguk, “Tentu saja. Nasi goreng kimchi akan datang sebentar lagi. Kajja, Luna, kita mulai memasak!”, ajakku dibalas anggukan matang darinya. Kami pergi ke dapur dan meninggalkan Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa.

“Apakah kau merasa bahwa mereka jadi…sedikit lebih dekat?”

Wooyoung mengangguk mendengar pertanyaan Sungmin. “Ne, hyung. Aku juga merasakan yang sama. Sedikit…aneh~”

 

___

 

“Nasi goreng kimchi sudah siap!”

“Wow~ Baunya sangat harum!”, seru Wooyoung-oppa seraya ingin mengambil piring. Namun, aku menarik tangannya cepat, “Eh~ Cuci tangan dulu, Woo-oppa!”

Dia tersenyum dan mengangguk, persis seperti anak kecil yang mematuhi aturan eomma-nya. “Kau juga, Umin-oppa!”, teriak Luna dan kita berdua tertawa bersama. “Sudah selesai! Sekarang boleh mulai makan ‘kan, Soo-eomma?”, tanya Wooyoung-oppa dengan tingkah imutnya. “Aigoo! Jadi kau menganggapku eomma-mu selama ini?”, tanyaku pura-pura cemberut. “Ani-yo, jagiya! Aku hanya bercanda.”

“Aku juga hanya bercanda, Baby-Woo. Dan jangan pernah lagi panggil aku jagiya! Kau tidak cocok memanggilku seperti itu.”, ucapku pelan. Wooyoung-oppa kembali tersenyum dan kembali mengangguk. Kita semua pun mulai makan. Setelah makan, kami berempat berpencar. Sungmin-oppa dan Luna memutuskan untuk duduk di sofa, sementara aku dan Wooyoung-oppa memutuskan untuk duduk di teras.

“Lihat ini~”

Aku melihat kearah Wooyoung-oppa dan terkejut, “Gitar?”

“Kau bisa main gitar, Woo-oppa?”, lanjutku tak percaya. Ia mengerucutkan mulutnya, “Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku?”, tanyanya seraya mengerucutkan mulutnya. Aku tertawa pelan, “Tentu saja aku sangat percaya, oppa.”

“Kalau begitu, aku akan menyanyikan dan memainkan sebuah lagu untukmu. Dan kau harus melengkapkan laguku di akhir. Ara?”

Aku mengangguk, meskipun tak sepenuhnya mengerti.

“Pyuhngsaeng gyuhte isseulge… I do~ Nuhl saranghaneun guhl… I do~ Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh… I do~ Nuhreul jikyuhjulge… My love~”

Ia berhenti dan menatapku lekat. Aku masih terkejut dengan semua ini. Benar-benar sesuatu yang tak pernah kukira. Ia menyanyikan lagu…Marry U?? Woo-oppa kembali mendentingkan gitarnya dan bersenandung, “Nawa gyuhrhonhaejullae?”

“I do~”

Suaraku yang merdu, mengalir begitu saja. Membuat Wooyoung-oppa terkejut dan tersenyum bahagia. Namun, aku lebih terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Kulihat, tetesan air mata mengalir dari matanya. “Oppa…”, gumamku, sembari menghapus sungai kecil dari matanya. “Kamsahamnida, Soo-ah. Joengmal kamsahamnia.”

Woo-oppa memelukku. Aku hanya terdiam dalam pelukannya. Ingin rasanya aku memukul diriku sendiri. Aku…sama sekali tak sadar saat menggumamkannya. Dan saat itu, aku malah membayangkan Sungmin-oppa yang memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu ‘Marry U’ untukku.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Kecerobohanku membuat kesalahan yang benar-benar fatal. Tidak mungkin ‘kan aku mengatakan kepada Wooyoung-oppa yang sebenarnya? Ia pasti akan sangat sedih. Dan aku bukan tipe orang yang bisa membuat orang lain bersedih. Lalu, sekarang bagaimana? Apakah aku harus benar-benar melupakan Sungmin-oppa?

 

___

 

Kupandang diriku di cermin. Sempurna.

Gaun putih panjang tersemat di tubuh kecilku. Tatanan rambutku dibuat indah dengan sanggul kecil yang juga putih. Make-up tipis menutupi wajah cantikku, membuatku tampak bersinar. Benar-benar sempurna. Setidaknya…sempurna dari luar. Namun, hatiku? Hanya diriku sendiri yang tau keadaan hatiku yang sudah hancur tak terkira.

Mungkin aku selalu tersenyum, menampakkan wajah palsuku kepada orang-orang. Namun, dalam hatiku, semuanya berbeda. Semuanya jauh dari perkiraan. Semuanya…tak sama.

Dan, dalam hitungan beberapa menit lagi, aku akan menjadi milik seseorang.

Siluet seorang lelaki yang berusia dua puluhan awal muncul dari balik pintu. Ia memakai jas putih yang juga tersemat indah di tubuhnya yang mungil. Perlahan, ia menatap dalam diriku lewat pandangan matanya yang polos. Benar-benar tak ada rasa salah dalam dirinya. Dan, ialah yang membuatku tetap berdiri kokoh. Senyumannya, kelembutannya, kepolosannya, tawanya, dan semua yang ada dalam dirinya membuatku tak mempunyai alasan untuk menyakitinya.

“Soo-ah, kau yakin dengan semua ini?”

Pertanyaan darinya membuatku terkejut. “Apa maksud oppa? Apakah gaun putih yang kupakai ini kurang meyakinkan?”, tanyaku seraya tersenyum manis. Dia tak menjawab, hanya melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. “Belum terlambat. Masih ada 5 menit lagi. Pergilah, Soo-ah. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.”

Ucapannya membuatku lebih terkejut. Tanpa kusadari, air mataku menetes.

“Apa maksudmu, oppa?”

Ia tersenyum, walaupun aku tau itu senyum yang amat terpaksa. “Aku tau selama ini kau masih sangat-sangat mencintai Sungmin-hyung. Dan, dari awal, sebenarnya aku tau rasa cintamu kepada Sungmin-hyung tak pernah berkurang sedikitpun. Aku juga tau bahwa kau tak pernah mencintaiku. Aku…hanya egois, Soo-ah. Aku sempat berpikir bahwa dengan memiliki ragamu saja sudah cukup…”

Wooyoung-oppa berhenti sebentar, menghela nafas, kemudian kembali berbicara, “…namun ternyata aku salah. Memang mestinya, seperti ini. Dan aku takkan bisa melawan takdir. ‘Cinta tak harus memiliki’ itu tampaknya adalah pepatah yang sangat benar.”

“Tapi, jika aku pergi, aku yang egois, oppa. Kau sangat baik padaku, tapi aku tak pernah membalas semua kebaikan dan ketulusanmu. Lagipula, Sungmin-oppa sudah bahagia bersama Luna.”, jawabku, masih tak percaya dengan ini semua. “Ani, Soohan-ah. Sungmin-hyung tidak mencintai Luna sama sekali. Ia juga mencintaimu. Sangat, malah. Namun keadaannya persis sepertimu…”

“…aku dan Luna adalah penggangu cinta kalian. Sekarang, Luna dan aku sudah sadar akan kesalahan kami. Dan, saatnya kalian untuk menebus dosa kami. Kalian harus bahagia, arasso? Sekarang, pergilah! Sungmin-hyung sudah menunggumu di taman belakang. Lewat pintu belakang saja!”

“Acara dimulai satu menit lagi!”

“Pergilah, Soohan-ah! Palli! Sebelum ini semua terlambat.”

Aku akhirnya mengangguk. Saat mau keluar, aku mengecup kening Wooyoung-oppa. “Kamsahamnida, oppa. Kamsahamnida. Mungkin jika di kehidupan ini, kita tak ditakdirkan bersama, aku berjanji dalam kehidupan selanjutnya, aku akan selalu membahagiakanmu.”

Aku mengeluarkan jari kelingkingku dan ia juga mengeluarkannya. Jari kelingking kita bertautan. “Saranghae~ Berbahagialah, Soohan-ah!”, ucapnya disambut anggukanku. Aku langsung berlari menuju Sungmin-oppa yang sudah ada di taman. Aku langsung memeluknya, dan ia balas memelukku. Air mataku berjatuhan.

“Saranghae-yo, Park Soohan. Mian, aku baru bisa mengatakannya sekarang.”

Aku tersenyum, “Na tto saranghae-yo, Lee Sungmin. Na tto mian, aku juga baru mengatakannya sekarang.”

 

___

 

Waktu demi waktu berjalan dengan cepat. Tak sadar, 20 tahun sudah berlalu. Setelah kejadian itu, kami berdua melarikan diri ke Jerman. Tak ada yang tau keadaan kami berdua. Hanya aku, Sungmin-oppa, Wooyoung-oppa, Luna, member Super Junior, dan member 1PM yang tau. Kami dikaruniai 2 anak. Lee Soomin dan Lee Sunghan. Dua malaikat yang selalu berhasil membuat kami tertawa.

Oh ya, apakah aku lupa menceritakan tadi bahwa Wooyoung-oppa dan Luna sudah menikah? Mereka dikaruniai satu malaikat kecil bernama Jang Sunwoo. Dan di umur Sunwoo yang baru menginjak 8 tahun, ia sudah tumbuh menjadi artis dengan banyak kelebihan. Pintar menari seperti appa-nya, dan pintar bernyanyi seperti eomma-nya.

Kami berempat masih sering berhubungan. Malah, kami berencana untuk menjodohkan anak kami nanti.

Dan, kami berdua sangat bahagia. Walaupun, kami bukan seorang member boyband atau girlband lagi, kami turut bahagia dalam usaha kecil-kecilan kami. Panti asuhan ‘Kasih’ yang kami ciptakan secara kecil-kecilan dari sisa penghasilan kami, sudah membuat kami lebih sukses.

Dan juga, kami mendirikan panti asuhan ini untuk mendedikasikan kasih, yang kami terima dari Wooyoung-oppa dan Luna. Karena tanpa kasih mereka, mungkin kami tidak akan pernah bersatu.

Member Super Junior juga sering mengunjungi kami secara diam-diam. Bahkan, yang memberi nama anak sulung kami, Lee Soomin, adalah Leeteuk-oppa. Dan yang memberi nama anak bungsu kami, Lee Sunghan, adalah Eunhyuk-oppa.

Hari-hariku saat ini selalu dipenuhi senyuman. Meskipun, selalu ada ganjalan, kami selalu percaya, bahwa kami bisa melewatinya.

Aku, Park Soohan, bersumpah akan mencintai Lee Sungmin, Lee Soomin, dan Lee Sunghan selamanya! ❤

~_~_~_~

 

Ottokhae, semua? Apakah ceritaku hidupku menarik? Bagi yang sudah membaca, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya… *bow*

Mian, rada aneh~~~ Komen please?? ^^