Full of inspiration and story

Archive for the ‘Story’ Category

Story : ~White Rose~

Dengan langkah pelan, seorang wanita berjalan diiringi putrinya untuk menyebrang jalan. Tangan wanita itu menggandeng lengan putrinya yang halus dengan erat. Mereka berhenti di suatu tempat yang berupa sebuah toko bunga.

“Selamat siang~! Eh, nyonya Kwan… Ingin membeli bunga?” sapa penjual bunga dengan ramah.

Penjual bunga ini adalah seorang remaja perempuan berusia 17 tahun berkuncir satu yang sudah sering bertemu dengan wanita beranak satu tersebut.

“Halo, Heena~ Ya, aku mau membeli bunga. Yang seperti biasa ya…” kata wanita yang kira-kira lebih tua 15 tahun darinya itu. “Baik, nyonya…! Tunggu sebentar ya~” jawab penjual bunga dengan ramah.

“Kita mau beli bunga yang seperti biasa ya?” tanya putri kecil wanita itu. Yang diajak bicara mengangguk sembari menyunggingkan senyuman dan mengelus-elus rambut hitam panjang putrinya.

“Ini pesanan anda, nyonya…” kata perempuan penjual bunga yang datang dengan sebuket bunga pesanan wanita itu. “Terima kasih~ Ini uangnya.” jawab wanita itu seraya memberikan beberapa lembar uang. Mereka berdua–wanita dan putrinya-pun berbalik menyebrang dan kemudian menghampiri mobil sedan putih yang sudah terparkir di dekat situ.

“Kenapa ibu selalu membeli bunga yang sama? Kan masih banyak bunga yang lebih indah dari bunga ini…” tanya putrinya dengan pandangan polos.

“Ini pesanan ayahmu.” jawab wanita itu dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. “Pesanan ayah?” tanya putri kecilnya lagi dengan kebingungan. “Bunga ini adalah bunga kesukaan ayahmu…” jawab wanita itu dengan sabar.

“Bunga kesukaan ayah?”

(Flashback)

Seorang perempuan berseragam sekolah menengah atas dengan rambut hitam panjang, berlari menuju kelasnya.  Seluruh tubuhnya nyaris basah oleh air hujan yang terus berjatuhan tiada hentinya. Ia berhenti ketika melihat seseorang. Seorang lelaki berseragam sama sepertinya yang sedang sibuk menadahkan taman agar bunga-bunga di taman itu tidak kehujanan.

Sang perempuan merasa tertarik dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Ia memutuskan untuk mendekatinya. “Sedang apa kau disana?” tanya perempuan itu bingung. “Apakah tak bisa kau lihat sendiri? Tentu saja aku sedang menadahkan bunga-bunga ini…” jawab lelaki itu dengan acuh tak acuh tanpa memandang orang yang sedang diajak bicara.

“Untuk apa kau menadahkan bunga-bunga ini sedangkan kau sendiri basah kuyup seperti itu?” tanya perempuan itu lagi. “Bagiku bunga-bunga ini lebih penting dariku sendiri… Bunga itu kan adalah mahluk hidup indah yang perlu dijaga seutuhnya.” jawab lelaki itu lagi-lagi dengan acuh tak acuh. Namun, perkataannya dapat membuat hati perempuan ini tergerak.

Ia pun ikut membantu lelaki itu menadahkan bunga-bunga dari hujan yang melanda. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Setelah selesai, mereka berlindung di sebuah café. Sudah tak mungkin bukan untuk masuk ke sekolah dalam keadaan basah kuyup dan telat? Lelaki itu memesankan cappuccino untuk mereka berdua.

“Sepertinya aku tidak pernah melihatmu di sekolah sebelumnya. Apakah kau murid baru?” tanyanya kepada lelaki yang berada di hadapannya dan sedang sibuk menyeruput cappuccino-nya. “Tidak, sudah 2 tahun aku di SMA ini. Aku kelas 2.1 sekarang…” jawab lelaki itu dengan singkat.

“Kelas 2.1? Kau pasti murid yang sangat pintar…! Aku di kelas 2.2. Namaku Kwan Sangrin.” katanya dengan bersahabat. “Han Kyojin…” balas lelaki itu dengan sangat singkat.

“Sebenarnya, kenapa kau bisa sayang sekali dengan bunga??” tanya Sangrin penasaran.

“Bunga adalah hal yang paling ibuku cintai, tentunya selain aku dan ayah… Khususnya bunga mawar putih. Bagi ibuku, bunga adalah mahluk hidup indah yang sangat cantik dan menarik.” jawab Kyojin seraya tersenyum. Matanya tak fokus, seperti sedang mengulang kenangan masa indahnya.

Sangrin tersenyum mendengarnya. “Ibumu pasti adalah pribadi yang lembut dan penyayang…” katanya sembari ikut tersenyum. “Ya, kau benar. Setidaknya dulu…” jawab Kyojin yang membuat Sangrin sedikit memicingkan matanya.

“Dulu?”

“Sekarang, ibuku sudah meninggal. Tepatnya saat aku berusia 8 tahun… Itulah sebabnya aku sangat menyayangi bunga. Karena aku percaya, ibuku juga akan sangat menyayangi bunga jika dia masih hidup. Oh…kenapa aku jadi menceritakan kisah hidupku ya? Maaf…”

“Tidak apa-apa… Ceritakan saja maka hatimu akan tenang. Aku turut berduka cita atas kematian ibumu ya.”

***

Sudah 2 bulan sejak hari itu berlalu. Entah kenapa, mereka berdua menjadi sering bertemu dan walaupun tak pernah bicara lagi, namun tak sadar mereka berdua sering bertemu pandang.

Bel pulang berbunyi dengan nyaring dan semua murid pun melonjak girang. Dengan langkah lemas, Sangrin bergegas pulang. Hari ini, ia terpaksa harus berjalan kaki ke rumahnya karena ayah, ibu, dan para supirnya sedang sibuk. “Sampai jumpa, Sangrin-ya!” seru teman-temannya dibalas lambaian Sangrin. Ia melangkah dengan tak bersemangat ketika tiba-tiba suara motor mengganggunya.

Motor itu berada tepat di kanan Sangrin hingga sempat membuatnya kesal. Pengemudi itu membuka helm-nya dan Sangrin pun kaget.

“Kau?” tunjuknya kepada pengemudi motor itu. Dan dengan cepat pengemudi itu membawa Sangrin ke boncengannya. “Kita mau kemana?” tanya Sangrin dengan sedikit berteriak.

Namun, yang dipanggil tak menjawab. Ia malah menambah kecepatan motornya. Sangrin yang sebal memutuskan untuk menatap jalan. Ia tercengang. Tampaknya jalan ini…familiar?

Sang pengendara motor memberhentikan motornya di suatu tempat. Sangrin membuka mulutnya tak percaya. Bukannya ini rumahnya sendiri?

“Bagaimana bisa kau tau rumahku?” tanyanya langsung kepada sang pengendara motor. Yang ditanya terkejut seketika dan menepuk kepalanya sendiri. Seakan mengatakan jika dia salah langkah.

“A…Aku…Aku” ucap pengendara motor dengan gemetar. “Kyojin, jawab aku~!” seru Sangrin dengan tegas. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa begini. Mungkin karena ia sangat penasaran dengan semua yang terjadi.

“A…Aku sudah lama mengikutimu, Sangrin-ya~” jawab Kyojin, sang pengendara motor itu dengan pandangan tertuju pada Sangrin. “Mengikutiku? Tapi kenapa?”

“Karena aku mencintaimu, Sangrin-ya… Sejak hari dimana kita menadahkan bunga bersama. Aku yakin rasa cintaku tulus padamu. Apakah kau juga mencintaiku?”

Sangrin terdiam. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia…dilamar? Tepat di depan rumahnya? Jujur saja, ia belum pernah dilamar sebelumnya.

Sangrin menatap Kyojin. “Ya… Aku juga mencintaimu.” jawab Sangrin dengan tegas. Padahal ia sendiri bingung. Kenapa ia menjawabnya dengan sangat mudah?

Ia dapat melihat Kyojin membulatkan mata indahnya. Tak lama, Kyojin tersenyum. Senyum yang dapat membuat semua wanita tergila-gila. Ia mendekati Sangrin dan kemudian memeluknya dengan hangat.

“Hyaaa~! Jangan disini, Kyojin-ya… Nanti para tetanggaku tau!” teriak Sangrin terkejut saat Kyojin memeluknya. “Maaf, Rin-ah… Aku terlalu senang.” ucap Kyojin sembari tersenyum sangat sumringah dan melepaskan pelukannya.

“Rin-ah?” tanya Sangrin bingung. “Mulai sekarang aku akan memanggilmu Rin-ah… Itu nama panggilan sayangku padamu.” jawab Kyojin dengan senyuman.

***

Sejak hari paling bahagia itu, mereka berdua menjadi sangat dekat. Kedua orang tua mereka bahkan sudah tau satu sama lainnya. Mereka benar-benar adalah pasangan yang bahagia.

Hari ini adalah tepat tahun kelima mereka menjalin hubungan. Mereka sudah kuliah sekarang. Kebetulan mereka berada di kampus yang sama walaupun mempunyai jurusan yang berbeda. Sangrin pada kedokteran dan Kyojin pada seni musik. Rencananya mereka akan merayakan ulang tahun pacaran mereka di sebuah restoran mewah.

Dengan hati yang amat senang, Kyojin mengendarai mobilnya menuju sebuah toko bunga. Ia membeli sebuket bunga mawar putih dan meneruskan perjalanannya ke restoran. Tak lupa, ia membawa cincin yang sudah ia beli sejak dulu. Ia hampir sampai ketika merasakan sesuatu yang aneh terjadi padanya.

Ia merasakan pusing yang luar biasa. Seperti jalanan yang ada didepannya berputar-putar secara cepat. Ia juga bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Ia menyentuhnya dan dengan sekuat tenaga mengenali cairan merah ini. Darah.

(Di waktu yang bersamaan)

Sangrin memeriksa jam tangan putih yang tersemat indah di lengannya. Sudah berkali-kali ia melakukan ini. Pikirannya kacau. Kemana Kyojin? Bukankah biasanya Kyojin tidak pernah telat? Apalagi disaat penting seperti ini. Ia mengambil handphone-nya dan menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.

“Angkatlah, Kyojin-ya… Angkatlah~!” gumam Sangrin gelisah seraya mengetuk-ketukan telunjuk-nya di meja berulang kali. Namun, tak ada jawaban. Tepat saat ia ingin memasukkan handphone-nya ke dalam tas, suara getaran handphone berbunyi. Ia langsung menatap layar kacanya dan terkejut. Pesan dari Kyojin~!

From : Kyo~Kyo~ ❤

Maaf Rin-ah…
Aku tidak bisa datang hari ini.
Tugas kuliahku menumpuk dan harus dikumpulkan besok pagi.
Maaf sekali ya~
Love u always…!

Sangrin mengerucutkan mulutnya. Ada rasa kecewa dalam hatinya. Apakah tugas kuliah lebih penting dari perayaan ke-5 mereka? Namun, ia berusaha memaklumi dan membalas pesan dari Kyojin.

To : Kyo~ Kyo~ ❤

Tidak apa-apa, Kyo-ya…
And love u always too~

***

Sesuatu telah hilang dari hati Sangrin. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya bahagia. Sesuatu yang selalu berhasil mengisi hatinya. Kyojin. Tepat 3 tahun sejak hari itu, Kyojin hilang bagai ditelan bumi.

Sangrin telah bertanya dimana-mana. Kepada keluarganya, teman-temannya, dan semua orang yang ia kenal. Namun jawaban mereka sama. Tidak tau. Apakah Kyojin sedang menghindarinya? Mengapa semuanya bisa jadi begini? Terakhir mereka bertemu, mereka sangat dekat. Kenapa semua ini bisa terjadi secara tiba-tiba?

Hari ini Sangrin melewati sebuah taman. Taman penuh kenangan mereka. Taman dimana mereka–Sangrin dan Kyojin–menanam bunga mawar putih dengan sangat indah bersama. Tertawa bersama. Bermain bersama. Begitu banyak kenangan yang tercipta disini. Tak sadar, Sangrin mengeluarkan air mata. Hatinya terlalu sakit. Terlalu sakit untuk kehilangan Kyojin lebih lama lagi.

Sangrin menghampiri taman itu dan menyentuh satu bunga mawar putih yang tertanam indah. Air matanya menetes bersamaan dan mengenai bunga mawar putih yang sedang melambai riang.

Ia memetik bunga itu, berharap Kyojin akan datang dan memarahi perbuatan Sangrin, namun lagi-lagi itu hanya dalam bayangannya. Semuanya tampak biasa. Putih dan hitam. Tak ada yang terjadi. Sangrin sudah tak kuat lagi. Ia terduduk di sebelah bunga mawar putih itu. Memeluk lututnya hingga menangis. Apakah harus begini? Apakah semuanya harus begini?

Setelah lelah menangis, Sangrin bergegas pulang. Ia ingin membuka pintu rumahnya sebelum melihat sesuatu tergeletak di depan pintu rumahnya. Surat? Dari siapa? Ia memperhatikan surat itu dengan seksama hingga akhirnya terkejut saat mengetahui siapa pengirimnya. Kyojin?!

For Rin-ah…

Maaf Rin-ah~ Aku menghilang begitu saja dari hidupmu… Tapi tolong, mulai saat ini carilah pengganti diriku, karena aku… Aku tidak cinta padamu lagi. Aku sudah punya orang lain…  Orang lain yang lebih baik darimu… Selamat tinggal, Rin-ah~! Jaga dirimu…

-Han Kyojin-

Sangrin membulatkan matanya tak percaya. Air matanya kembali tumpah ruah. Kyojin…tidak mencintainya lagi? Dan ia…mencintai orang lain? Ia mencubit pelan lengannya, berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi terburuk yang pernah ia alami. Namun, sayangnya tidak. Apakah kisah cintanya harus berakhir seperti ini?

Ia mengambil handphone-nya dan mulai menelepon nomor Kyojin. Namun, nihil. Nomornya tidak aktif. Sangrin terdiam. Air matanya masih terus saja mengalir tanpa henti. Apa yang harus dilakukannya? Menangis sepanjang hidupnya? Atau berhenti mencintai Kyojin? Tidak. Sangrin tidak akan bisa berhenti mencintai Kyojin. Takkan pernah bisa.

***

Sangrin termenung dalam kamarnya. Sudah 2 tahun sejak hari paling buruk itu terjadi. Hatinya masih gelisah. Ada rasa ketidakpercayaan dalam hatinya. Benarkah Kyojin meninggalkannya karena ia mencintai gadis lain?

Bukankah Kyojin yang menyatakan cinta padanya dulu? Setahunya, Kyojin tidak pernah berhenti mencintainya. Karena mereka berdua tau, bahwa perasaan mereka masing-masing sungguh kuat dan takkan pernah hilang. Itu sudah terbukti dari masa pacaran mereka yang tergolong lumayan lama.

Sangrin melirik jamnya. 08.00. Sudah waktunya ia berangkat kerja. Dengan perlahan, ia keluar kamar dan mengambil tas tangannya. Ia keluar dan mengunci pintu rumah.

“Sangrin…! Kwan Sangrin…!!!” seru seseorang yang terdengar di telinga Sangrin. Ia menoleh dan dapat melihat seorang wanita yang mungkin lebih tua darinya beberapa tahun. Wanita itu berlari dan berhenti di depan Sangrin. “Apakah kau Kwan Sangrin?” tanya wanita itu dengan nafas memburu.

“Iya, benar. Tapi, anda siapa ya?” tanya Sangrin bingung. “Aku Han Kyora, kakaknya Han Kyojin…” jawab wanita yang ternyata adalah kakak Kyojin dengan nafas memburu.

Sangrin tercengang. Ia merasakan sesuatu yang aneh masuk ke hatinya saat wanita di hadapannya menyebut nama ‘Kyojin’. Nama yang tabu baginya.

Sangrin bertanya dengan suara serak. “U-untuk apa kakak kemari?”

“Panjang untuk diceritakan sekarang… Lebih baik kau ikut kakak dulu.” Kyora menjawab seraya menarik tangan Sangrin dan memasukkannya ke mobil.

Sangrin menatap Kyora. Kyora sedang sibuk menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sangrin terkesiap. Mata, hidung, dan bentuk bibir Kyora persis seperti Kyojin. Sangrin memalingkan pandangannya kearah jalan. Hatinya akan tambah sakit jika terus menatap Kyora.

Kyora memberhentikan mobilnya dan mereka berdua pun bergerak menuju sebuah gedung. Gedung familiar yang sering dikunjungi Sangrin. Rumah sakit yang adalah partner rumah sakit tempat Sangrin bekerja.

Sangrin mulai berpikiran aneh. Otaknya penuh dengan pikiran gila yang sama sekali tidak mengenakan. “Untuk apa kita ke rumah sakit, kak?” tanya Sangrin penasaran.

“Jangan kaget ya dan tabahkan hatimu…” ucap Kyora sembari menunjuk sebuah jendela transparan.

Sangrin menoleh dan…menutup mulutnya tak percaya. Di hadapannya. Ya, persis dihadapannya. Di balik kaca, sedang terbaring seorang lelaki dengan wajah yang amat pucat pasi dan mata yang tertutup. Tubuhnya dipenuhi oleh jarum dan kabel asing. Tubuhnya amat kurus dan ringkih.

Sangrin menoleh pada Kyora, seakan meminta penjelasan. Air matanya turun dengan deras, tanpa mempedulikan perintah dari otaknya. Kyora memeluk Sangrin. Air matanya juga mengalir.

Kaki Sangrin melemas. Ia terduduk. Kyora masih memeluknya dengan erat. Entah siapa yang menghibur atau yang dihibur. Yang penting mereka berdua menangisi seseorang yang sama. Seseorang yang sangat penting bagi mereka berdua.

“Awalnya, Kyojin tak mau jika aku menceritakan ini padamu, namun aku sudah tak sanggup menyimpannya. Kurasa kau juga harus tau. Kyojin mengalami penyakit AIDS. Ini bawaan dari ibu kami. Karena itulah juga, ibu kami meninggal. Untungnya, aku tidak terkena penyakit sial itu. Tapi ternyata, yang mengalaminya adalah adik satu-satunya yang paling aku sayang, Kyojin… Ibu kami sendiri, terkena penyakit ini karena ketidak sengajaan. Waktu itu ibu kecelakaan dan ia kekurangan banyak darah. Syukur, ada persediaan darah di rumah sakit. Namun, ternyata darah itu mengandung penyakit sial. Penyakit yang sudah merenggut kebahagiaan keluarga kami sejak lama. Mulai dari kematian ibu, ayah, dan sekarang…sekarang Kyojin harus tersiksa karena penyakit sial ini.”

Sangrin termenung mendengar penjelasan Kyora. Nafasnya sesak saat mendengar perkataan kakak orang yang sangat dicintainya itu. “Bolehkah aku bertemu dengan Kyojin?”

Kyora mengangguk kecil. Sangrin dipakaikan masker, baju rumah sakit, sarung tangan, dan semua alat-alat aneh yang diperlukan sebelum masuk ke kamar Kyojin. Rasanya sakit. Sangat sakit. Bayangkan, apakah tidak sakit hanya untuk bertemu orang yang kau sayangi saja, kau harus memakai peralatan seperti ini?

Sangrin menatap dalam lelaki yang ada di hadapannya. Sedang tergeletak tak berdaya dengan selang-selang yang menancap pada seluruh tubuhnya. Sangrin mulai meneteskan air mata lagi. Tak terhitung beberapa banyak ia telah mengeluarkan air mata.

Ia mengelus pelan rambut Kyojin. “Kyo-ya… Apa kabarmu? Tak terasa sudah 5 tahun kita tak bertemu. Kau tau, sekarang aku sudah menjadi dokter yang sukses, seperti impianku sejak SMA dulu… Katanya kau mau jadi composer yang terkenal, apakah cita-citamu sudah terwujud? Kurasa belum, tapi saat kau sudah sembuh nanti, aku akan membantu meraih cita-citamu…”

Kyojin membuka matanya perlahan. Sangat perlahan, seakan sangat susah hanya untuk membuka mata. “Rin-ah…” ucapnya dengan sangat pelan. Namun, hati Sangrin merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar Kyojin mengucapkan nama panggilannya.

“Ke…ke…na…pa kau a…da di…si…ni…?” tanya Kyojin dengan sangat susah payah. Sangrin langsung memeluk tubuh kurus Kyojin. Bahkan untuk memeluk Kyojin saja susah akibat kabel-kabel yang masih tertancap dan beredaran di sekitar tubuh Kyojin. “Bodoh…! Bodoh…! Bodoh…! Kau sangat bodoh, Kyo-ya…!!!” seru Sangrin disela-sela tangisannya sembari memukul-mukul tubuh Kyojin.

“A…pa…kah kau kesi…ni hanya un…tuk menyik…saku?” tanya Kyojin seraya cemberut. Ekspresi yang selalu berhasil membuat Sangrin tertawa. Kyojin masih sama dimata Sangrin. Manis dan tampan. Tak ada yang berkurang dari dirinya.

“Aku mencintaimu, Kyo-ya… Sangat~”

“A…ku juga, Rin-ah~”

***

Sudah 3 bulan sejak hari itu berlalu. Sangrin selalu datang setiap hari untuk menemui Kyojin selesai tugasnya di rumah sakit. Walaupun tubuhnya pegal, namun ia tak pernah absen untuk mendatangi Kyojin.

Kyojin mengalami banyak kemajuan pesat sejak hari itu. Dan ini semua berkat Sangrin. Karena selalu ada yang berhasil membuatnya minum obat, makan, atau optimis dengan hidupnya.

Dengan tubuh yang sudah sangat lelah, Sangrin datang seperti biasa untuk menjenguk Kyojin pagi ini. Kebetulan ini hari libur, jadi Sangrin bisa datang dari pagi.

“Halo, Kyo-ya…!” sapa Sangrin dengan senyuman seperti biasa. “Halo, Rin-ah…! Kau tau ini hari apa?” tanya Kyojin dengan ceria. “Hari apa ya? Tidak tau…” jawab Sangrin bingung. “Yahh, masa kau lupa, Rin-ah?”

“Tunggu~! Ini bukannya tahun ke-10 kita menjalin hubungan?!” tebak Sangrin dibalas anggukan riang dari Kyojin. “Aku sudah mempunyai hadiah untukmu…” ucap Kyojin.

“Benarkah? Apa itu?”

Kyojin beranjak bangun dari kasurnya dan mencopot semua kabel-kabel yang tertancap pada tubuhnya dengan hati-hati. Sangrin terkejut. “Mau apa kamu, Kyo-ya?! Hentikan itu…!” teriak Sangrin kaget.

Kyojin tersenyum manis. “Tenang saja. Aku sudah minta persetujuan dokter tadi. Dan karena perkembanganku makin baik, aku dibolehkan untuk pergi satu hari ini… Ayo kita berangkat~!”

Sangrin mengangguk. Mereka berdua pun bergegas pergi. “Apakah tidak apa-apa jika kau yang menyetir, Kyo-ya?” tanya Sangrin cemas. “Tidak apa-apa, Rin-ah… Percayalah padaku. Ada kejutan spesial untukmu.”

Kyojin membawa Sangrin menuju salon dan setelah siap, Kyojin kembali mengendarai mobilnya. “Kita mau kemana sih, Kyo-ya?” tanya Sangrin penasaran.

“Nanti juga kau akan tau…” ucap Kyojin seraya tersenyum. Kyojin memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang tak Sangrin ketahui. Kyojin mengajak Sangrin masuk ke gedung itu hingga ke sebuah ruangan gelap.

“Duduklah disini…” pinta Kyojin dengan lembut. Sangrin mengangguk kecil dan Kyojin pun hilang karena gelapnya ruangan besar itu dari pandangan Sangrin.

“Lagu ini kupersembahkan untuk jodohku, sayangku, cintaku, hidupku, dan segalanya bagiku… Happy anniversary, Rin-ah~” kata Kyojin seraya mulai melantunkan tuts-tuts pada pianonya.

Sangrin terharu. Lagu yang dimainkan membuatnya tambah mencintai lelaki ini. Kyojin. Pasangan hidupnya. Kekasih hatinya. Orang yang bersinggah dalam hatinya sejak lama.  Dan, hatinya semakin tak rela untuk membayangkan orang yang amat sangat dicintainya ini harus pergi suatu saat nanti. Pergi ke suatu tempat yang tidak akan bisa digapai.

***

Sangrin memandang langit hitam berisi ratusan bintang yang sangat indah. Ia menoleh ke samping. Bisa ia lihat Kyojin sedang memandangi bintang pula di sebelahnya. Tak lama, Kyojin menyenderkan kepalanya ke bahu Sangrin.

Sangrin mengelus rambut Kyojin, kebiasaan yang selalu ia lakukan. “Indah ya?” tanya Sangrin.

Sangrin menatap Kyojin. Matanya memancarkan sinar bintang itu. Sangat indah. “Apakah kau kedinginan?” tanya Sangrin lagi.

“Selama ada kau disampingku, aku tidak akan pernah merasa kedinginan, Rin-ah…” jawabnya hingga membuat Sangrin tersipu. “Dasar gombal~!”

“Tapi itu memang benar…” lanjut Kyojin disertai tawa mereka berdua. “Kau tau, apa hal yang paling indah di dunia ini?” tanya Kyojin dengan nada serius.

“Apa?”

“Saat bertemu denganmu…”

Sangrin memukul lengan Kyojin pelan. “Kau memang lelaki gombal~!”

“Berjanjilah untuk mencari penggantiku nanti… Tapi, jangan melebihi ketampananku ya?”

Sangrin langsung memandang Kyojin. “Apa maksudmu, Kyo-ya? Aku tidak akan mencari penggantimu karena kita akan terus bersama!” seru Sangrin dengan sedikit keras.

Kyojin tersenyum. “Jangan membohongi hatimu, Rin-ah… Kumohon jangan membohongi hatimu. Aku percaya kau mempunyai jodohmu sendiri, dan orang itu bukan aku… Mungkin kita saling mencintai, namun takdir tak akan memihak kita.”

***

Sangrin menatap foto berpigura blue sapphire yang terletak di meja kerjanya. Foto berisi dirinya sendiri dengan V sign dan senyum ceria serta satu lelaki dengan postur jangkung dan senyum berlesung pipinya yang sangat manis. Ia dan Kyojin.

Pandangannya beralih ke sebuah paket. Paket yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Paket terakhir dari Kyojin. Ia membuka paket itu perlahan. Hatinya masih sangat sakit, bahkan hanya untuk membuka paket saja.

Ia melihat isi paket itu. Hanya sebuah recorder bewarna hitam. Sangrin mengambil recorder itu dan menekan tombol play.

‘Halo, Rin-ah… Apa kabar? Baik-baik sajakah? Ya, jika kau sudah mendengar suaraku, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kau tau, Rin-ah? Hatiku sangat sakit saat melihat kertas tes yang menunjukkan bahwa aku menderita penyakit mematikan ini. Bukan karena takut mati, tapi karena takut kehilanganmu. Kehilangan mawar putihku… Aku akan menyanyikan lagu buatanku yang khusus untukmu. Judulnya “White Rose”. Semoga kamu menyukainya…’

Don’t know why or when, i started love you…

This feeling really make me so happy…

Every time i see you, my heart beat faster…

Are you my White Rose?

My heart is so happy when know that you also love me…

I’m promise myself to make you smile forever…

But, it’s very hard to know that i can’t make it anymore…

I’m still wonder, are you really my White Rose?

We always love each other, even for ten years…

My love will never gone even every second of my life…

I’m just love you and i love you till my heart is stop breathing…

Now, i’m sure…

I’m sure that you’re my White Rose…

Air hujan turun dengan derasnya. Persis seperti apa yang sedang terjadi pada Sangrin saat ini. “Sangrin-ya…!”

Sangrin membuka pintu kamarnya dan dapat melihat ibunya sedang asyik berbicara kepada seorang lelaki yang sosoknya tidak terlalu jelas. “Sini Sangrin-ya… Ibu mau kenalkan seseorang untukmu. Namanya Kim Kyojae.”

Sangrin menatap lelaki itu dan lelaki itu pun balas menatap Sangrin. Ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas sekarang.

Sangrin menutup mulutnya tak percaya. “Kyojin…?! Kenapa kau mirip sekali dengan Kyojin?”

(Flashback End)

“Lelaki yang bernama Kyojae adalah ayah kamu sekarang. Ia meminta ibu untuk memberikan bunga mawar putih setiap tahun disaat hari jadian ibu dan paman Kyojin…” jelas Sangrin pada anaknya.

“Wah… Ayah sangat baik~!” ucap anaknya takjub. “Sudah sampai di kuburan tempat paman Kyojin dikuburkan… Ayo kita pergi!”

END

Happy reading and comment please~~~ ^^


Story : ~The Story Of Young~ (Part 2)

“Calon ayah kita mana, bu?” tanya Myorin disambut anggukan Riwon. “Itu.” tunjuk ibu mereka pada orang yang sedang dipeluk Sangrin, Kyujin, dan Jiwook. “Apa?!” teriak mereka berdua. “Apa kejutan yang ayah ingin berikan kepada kita?” tanya Jiwook, Sangrin, dan Kyujin di lain tempat. “Kalian akan mempunyai ibu baru… Itu!” tunjuk ayah kepada ibu Myorin dan Riwon. Mereka berpandangan kaget. “Apa?!” teriak mereka bertiga.

“KITA AKAN MENJADI SAUDARA…!!!???”

***

Mereka duduk di ruang keluarga rumah Riwon dan Myorin dengan canggung dan diam. Yang bicara hanya ayah dan ibu mereka, namun anak-anaknya hanya larut dalam pikiran mereka sendiri. “Jadi, karena kita sudah resmi menikah tadi pagi, bagaimana kalau kita bulan madu?” tanya ayah dengan ceria. “Ide bagus…!” jawab ibu senang.

“Ayah.. Ibu…” teriak mereka berlima serempak menentang. “Kenapa?” tanya mereka berdua bersamaan. “Masa di usia kalian seperti sekarang, kalian masih mau bulan madu sih?” tanya Riwon dibalas anggukan keempat lainnya. “Apa kalian tak malu?” lanjut Kyujin. “Ya justru bulan muda kami itu tidak akan seperti pasangan muda lainnya, tapi kami akan mengajak kalian juga…” jawab ayah santai. “Lagian kan sebentar lagi liburan panjang…” lanjut ibu senang. “Apa…?! Bersama kami?” tanya Jiwook dengan nada ngeri. “Iya. Bersama kalian semua.” jawab ibu dengan tenang.

***

Sudah seminggu mereka berlima tinggal bersama ayah dan ibu yang baru dengan satu rumah yang juga baru. Mereka berlima masih merasa aneh satu sama lain. Bagaimana tidak? Menjadi saudara secara tiba-tiba? Sangrin dan Myorin yang dulunya sahabat, memang tidak terlalu canggung. Begitu juga Riwon dan Kyujin yang sudah saling kenal. Jiwook juga akrab terhadap mereka berempat.

Yang masih canggung adalah Myorin dan Kyujin serta Sangrin dan Riwon. Mereka yang awalnya baru bertemu dua kali seumur hidup -di taman ria dan kelas- tiba-tiba menjadi saudara tiri? Apalagi mereka saling tertarik kepada satu sama lain. Benar-benar tak disangka mereka bisa menjadi saudara.

Hari ini, mereka berlima ditinggal karena ayah dan ibu mereka harus pergi untuk membeli tiket pesawat bulan madu yang lebih pantas disebut liburan. Sangrin sedang asyik mengobrol ria dengan Myorin dan Jiwook. Kyujin dan Riwon sedang bermain game, permainan yang sangat diminati oleh keduanya, terutama Kyujin.

(Kamar Kyujin)

“Aku sudah lelah, Riwon-ya… Aku ke dapur dulu ya untuk mengambil minum.” kata Kyujin seraya menaruh stick game-nya. “Ya sudah… Aku ke ruang keluarga saja untuk menonton tv.” jawab Riwon santai. “Tapi, nanti sore kita lanjutkan lagi ya, Riwon-ah! Aku sudah tak sabar nih…” kata Kyujin dengan bersemangat. “Dasar maniak game~!” seru Riwon seraya tertawa kecil.

(Ruang Keluarga)

Myorin, Sangrin, dan Jiwook tertawa bersama dengan riang. Mereka sedang membicarakan guru-guru mereka yang sangat ‘killer’. “Kak Sangrin, aku mau minum. Ambilin ya?” pinta Jiwook memohon. “Masa aku yang harus mengambilkan? Memang kau tidak bisa sendiri?” tanya Sangrin kesal. “Biar aku saja deh yang mengambilkan.” kata Myorin menawarkan diri seraya beranjak pergi.

“Jangan kak… Aku tidak mau merepotkanmu. Kak Sangrin saja yang aku repotkan.” tolak Jiwook tak enak hati. “Apa maksudmu, Jiwook-ya???!!!” teriak Sangrin sembari menjitak kepala Jiwook. “Tidak apa-apa. Kau kan sudah jadi adikku juga mulai saat ini…” jawab Myorin sembari berjalan ke dapur.

(Di Dapur)

Kyujin sedang asyik meminum air mineral di kulkas. Myorin datang dan langsung mengambil gelas untuk Jiwook. “Permisi, kak. Aku mau mengambil air.” kata Myorin seraya tersenyum malu. Kyujin pun terkaget saat tiba-tiba melihat Myorin di depannya. “Ba-baiklah.” jawabnya dengan gugup. Myorin langsung mengambil air, sedangkan Kyujin memandangnya seraya minum.

Saat selesai mengisi air, Myorin langsung beranjak keluar dari dapur. Bukannya apa, namun jantungnya berdegup kencang sekali. Saking terburu-burunya, Myorin menjatuhkan lap yang tergantung di dapur. Sontak, Myorin langsung mengambilnya. Begitu juga dengan Kyujin. Tangan mereka saling menyentuh dan pandangan mereka bertemu. Jantung mereka berdua semakin berdetak kencang.

(Di Ruang Keluarga)

“Kemana sih, kak Myorin? Lama sekali. Aku akan menyusulnya saja deh…” gumam Jiwook seraya pergi ke dapur. Sangrin yang ditinggal sendiri langsung duduk di sofa dengan ekspresi bosan. Tak lama, Riwon datang dan duduk di sebelah Sangrin. “Aku tidak menganggumu, kan?” tanya Riwon ramah. “Ti-tidak…” jawab Sangrin gugup.

Mereka pun menonton tv dengan asyik. “Ahhh…!” teriak mereka bersamaan saat pemeran tokoh film yang mereka tonton jatuh dari kuda. Mereka pun saling menatap satu sama lain, dan sedetik kemudian, mereka tertawa bersama. “Bodoh!” seru mereka lagi-lagi bersamaan beberapa menit kemudian. Mereka kembali tertawa bersama.

(Di Dapur)

Myorin dan Kyujin masih saling berpandangan, hingga Jiwook datang. “Ka-kalian sedang apa?” tanya Jiwook kaget. “Tidak apa-apa~” jawab mereka kompak. Mereka pun langsung kembali pada posisi masing-masing. “Ini minummu, Jiwook-ya.” kata Myorin sembari memberikan minum ke Jiwook. “Terima kasih, kak~” jawab Jiwook.

Mereka bertiga pun langsung pergi ke ruang keluarga. Bisa terlihat Riwon dan Sangrin sedang tertawa bersama. “Sudah akrab?” tanya Myorin yang lebih tampak seperti ledekan. Mereka berdua yang menyadari sedang diperhatikan langsung menunduk malu. Jiwook menggeleng pelan. “Dasar anak remaja~” gumamnya.

“Apa tadi yang kau ucapkan?” tanya mereka berempat tiba-tiba kepada Jiwook. “Huh? Tidak kok…” jawab Jiwook pura-pura tidak tau. “Kita sudah membeli tiket~! Dan, kita akan liburan di Pulau Jeju!” kata ayah dan ibu tiba-tiba. “Pulau Jeju…?!” teriak mereka bersamaan. “Horeee~!!!” seru mereka dengan lantang. Pulau Jeju adalah pulau paling terkenal di Korea dan banyak sekali turis asing yang pergi kesana. Tentu saja mereka sangat antusias untuk pergi.

***

Hari ini kediaman keluarga Cho dan Choi sedang sangat sibuk. Mereka sekeluarga sedang mengepak barang masing-masing. “Ayo berangkat~!” teriak mereka bersemangat saat sudah siap. Mereka pun pergi ke airport dan naik ke pesawat. “Hua~ Indahnya!” teriak Jiwook senang saat menginjakkan kaki di Pulau Jeju.

Mereka menaruh barang dan memesan kamar di hotel. Setelah itu, mereka langsung pergi ke pantai. Ayah dan ibu mereka tidak ikut karena ingin membereskan barang. Jadi, mereka hanya pergi berlima saja. “Indahnya~!” seru Jiwook lagi-lagi kagum dengan pantai di Pulau Jeju ini. Pasirnya putih dan airnya sangat bening.

Myorin langsung berenang yang diikuti dengan Kyujin. Jiwook sendiri malah bermain pasir dengan senangnya. Sangrin hanya melihat mereka dengan sebuah senyuman di bibirnya. Riwon juga hanya tersenyum kecil seraya berdiri di sebelah Sangrin. Mereka berdua menggelar kain dan duduk disitu. Diam memandangi pemandangan indah di depan mereka.

Sangrin menutup tubuhnya saat merasakan lautan angin mengambur kearahnya. Riwon yang sadar akan hal itu, mencopot jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Sangrin. “Jangan kak, nanti kakak malah kedinginan…” tolak Sangrin. “Sudahlah, pakai saja…” jawab Riwon dengan senyuman manisnya. Tak lama, Riwon merasakan dingin yang luar biasa pula.

“Sudah kubilang kan, kak… Kakak pakai saja jaket kakak.” ucap Sangrin yang mengetahui keadaan Riwon. “Kita pakai berdua saja~” kata Riwon sembari mendekat kearah Sangrin dan memakaikan jaket itu kepada mereka berdua. Riwon menggenggam tangan Sangrin yang dingin dengan tangannya. Mereka pun merasakan kehangatan. Entah memang hangat karena jaket yang dipakai, atau karena pipi mereka yang sudah terbakar sempurna.

(Di Tempat Yang Lain…)

“Tunggu aku…!” teriak Kyujin saat melihat Myorin sudah berenang. “Cepat sedikit, kak!” seru Myorin sembari berenang lebih cepat. “Hei~! Aku kejar kau…” kata Kyujin seraya berenang dengan kecepatan lebih kencang. “Kejar saja jika kau bisa~!” teriak Myorin sembari menaikkan kecepatannya. Mereka berdua berkejar-kejaran di air dengan sangat riang.

Hingga tiba-tiba, kaki Myorin keram. Ia pun tenggelam di dalam air. Kyujin yang sadar akan hal itu langsung menyelamatkan Myorin seraya membawanya ke darat. Myorin tak sadarkan diri. Kyujin yang panik akhirnya memberi nafas buatan untuk Myorin. “Hummfftt~”

Setelah ‘nafas buatan’ yang cukup lama, akhirnya Myorin terbangun sembari terbatuk-batuk. “Tidak apa-apa?” tanya Kyujin khawatir. “Tidak apa-apa… Te-terima kasih, kak.” jawab Myorin malu-malu. “Sama-sama…” kata Kyujin seraya tersenyum. Setelah itu, mereka pun pergi ke tempat dimana Riwon dan Sangrin berada.

Sangrin sudah tertidur sempurna di bahu Riwon. Persis anak kecil yang kelelahan. “Ayo kita kembali ke hotel…” ajak Jiwook yang baru datang. “Biar aku yang menggendong Sangrin.” kata Riwon seraya menggendong Sangrin ke hotel yang tepat di belakang pantai. Kyujin dan Myorin pun jalan berdua ke hotel itu dibelakang Jiwook dan Riwon -yang sedang menggendong Sangrin-.

TBC~

@Readers : Happy reading~ and comment please…!

@Myorin : How, onnie? Wkwkwkwk~



Story : ~Bad Dream Comes True~

Suara kicauan burung membuatku terbangun. Dengan mata yang masih tertutup, aku bangun dan mulai duduk. Suasana musim panas seperti saat ini, selalu membuatku malas untuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba, nada dering handphoneku berbunyi. Aku mendengus kesal dan langsung membuka flip hp-ku.

“Halo…” kataku dengan suara malas-malasan. “Halo…!! Sampai kapan kau mau tidur, nona manis…?” kata suara menggoda yang aku kenal. “Ternyata yang menelepon pacar-ku tersayang… Ada apa, sayang?” tanyaku dengan bersemangat. “Aku merindukanmu…” katanya dengan manja. “Aku juga sangat merindukanmu…” balasku. “Sayang, kita ketemuan yuk… Udah dua bulan nih gak ketemu…” katanya dengan serius. “Boleh… Tapi, dimana?” tanyaku. “Di tempat biasa aja…! Jam dua siang ya. Sampai ketemu, sayang…” katanya sambil menutup telepon. “Sampai ketemu!” jawabku.

Aku pun yang tadinya malas-malasan menjadi bersemangat. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Setelah itu, aku bergegas ke universitasku dengan menggunakan bis. Beberapa jam kemudian, akhirnya pelajaranku selesai. Aku langsung berlari ke tempat biasaku untuk bertemu namjachinguku tersayang.

Oh ya, namaku Lee Sangrin. Aku adalah seorang perempuan asli Korea yang berambut coklat panjang, bermata coklat, dan bertubuh jangkung. Sudah selama hampir satu tahun, aku berpacaran dengannya dan selama dua bulan ini kita tidak bertemu. Hal ini terjadi karena aku yang sedang sangat sibuk dengan jadwal kuliahku yang padat, dan dia yang juga sudah mulai magang sesuai jurusannya. ‘Tempat biasa’ ini sebenarnya adalah sebuah taman dimana kita pertama kali kenalan.

***

(Flashback)

Aku berjalan menuju sebuah taman sekarang. Yah, ini adalah taman yang aku suka. Selain pemandangannya bagus, aku juga dapat menenangkan pikiranku disini. Taman ini berada di seberang jalan raya yang letaknya strategis. Setelah sampai, aku duduk di sebuah bangku. Aku mengambil i-pod dari tasku dan mulai mendendangkan lagu-lagu yang dilantunkan i-podku. Tiba-tiba, aku melihat seorang laki-laki sedang berlari-lari dari taman ke jalan raya dan kemudian ingin menyebrang.

Aku melihat sebuah file terjatuh dari tasnya. Tanpa pikir panjang, aku pun memungutnya dan berlari mengejar lelaki itu. “Tuan…! Tuan…! File anda ketinggalan…!!!” teriakku sembari mengejarnya. Aku berlari hingga di pinggir jalan raya. Lelaki itu sudah menyebrang saat mengetahui filenya terjatuh. Ia pun kembali menyebrang dan berlari kearahku.
“Terima kasih… Untung kau memanggilku. File ini sangat penting bagiku…” katanya dengan nafas yang terengah-engah seraya menunduk sopan. Aku pun ikut menunduk. “Sama-sama…” jawabku sambil tersenyum. “Aku pergi dulu ya…! Aku lagi buru-buru. Sampai jumpa…!” katanya sambil ikut memamerkan senyumannya. Kemudian, ia pergi.

Setelah itu, setiap hari kita selalu bertemu di taman tersebut. Awalnya aku hanya menganggapnya sebatas teman. Tapi, lama-lama perasaanku berkata lain. Aku sudah mulai menyukainya. Matanya, hidungnya, bibirnya, wajahnya, gerak-geriknya, bahkan semua sifat jeleknya membuatku terpesona. Dan ternyata perasaannya sama denganku. Di tahun kedua pertemuan kita, ia menembakku. Hatiku sangat senang saat itu. Rasanya seperti ada malaikat yang membawaku terbang mengarungi dunia.

(End of Flashback)

***

Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya ia datang. Setelah dua bulan tak bertemu, ia tetap terlihat tampan. Aku melihatnya sedang menunggu lampu lalu lintas menjadi merah agar dapat menyebrang. Sekilas matanya menatapku dan melambaikan tangannya kearahku seraya tersenyum. Manis. Kata itulah yang dapat kugambarkan dari senyumannya.

Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berubah merah. Ia pun mulai menyebrang. Tapi, sebuah mobil yang nampaknya tidak menyadari lampu merah, tetap melaju. Dan, mobil itu menubruknya hingga terplanting cukup jauh. Aku
memekik keras. ‘Kenapa ini bisa terjadi? Oh Tuhan, katakan padaku ini hanya ilusinasi belaka…’ batinku dalam hati.

Beberapa orang mulai mengerubunginya. Aku berjalan dengan langkah yang berat menuju kerumunan orang itu. Begitu aku melihat ia tergeletak tak berdaya, aku terduduk. Lututku lemas. Kurasakan air mataku mulai membasahi wajahku. Wajahnya yang memesona, menjadi kaku. Cairan merah membasahi seluruh tubuhnya. Hatiku menjadi sangat sakit. Mungkin rasanya seperti dirajam jutaan pisau yang mengiris-ngiris hatiku.

Perlahan-lahan, dengan tangan yang masih gemetaran, aku menyentuh wajahnya. Senyumanya yang hangat telah sirna dari wajahnya yang mendingin. Aku menutup mataku. Berharap setelah aku membukanya, ia tersenyum riang seperti dahulu. Tapi, itu tidak terjadi. Ia tetap tergeletak tak bergerak.

Aku mulai memberanikan diriku untuk memeluknya. Tangisanku lebih menjadi-jadi. Kulihat puluhan pasang mata memandangiku. Tapi, aku tidak peduli. Aku mulai meneriakan namanya. Aku tau ini percuma, karena sekeras apapun aku berteriak, bahkan hingga pita suaraku tidak berfungsi lagi, ia takkan bangun. Ia akan tetap diam tak berdaya. Tiba-tiba,  kurasakan sesuatu menarikku. Perlahan-lahan, pandanganku kabur.

***

Aku membuka mata. Seulas sinar membuat pandanganku silau. Aku melihat kamar tidurku. Jadi, ini hanya mimpi? Ini benar-benar mimpi yang sangat buruk. Tiba-tiba, nada dering handphoneku berbunyi. Aku sempat kaget. Tapi akhirnya aku mengangkatnya.

“Halo…” sapaku. “Halo…!! Sampai kapan kau mau tidur, nona manis…?” kata sebuah suara yang sangat kukenal. “Ternyata yang menelepon pacar-ku tersayang… Ada apa, sayang?”
tanyaku dengan bingung. “Aku merindukanmu…” katanya dengan manja.

“Aku juga merindukanmu…” balasku tambah merasa aneh. “Sayang, kita ketemuan yuk… Udah dua bulan nih gak ketemu…” katanya dengan serius. “Boleh… Tapi, dimana?” tanyaku. “Di tempat biasa aja…! Jam dua siang ya. Sampai ketemu…” katanya sambil menutup telepon. “Sampai ketemu!” jawabku.

Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, aku mulai bangun dan pergi mandi. Setelah itu, aku berangkat ke universitasku dengan menggunakan bis. Setelah pelajaran selesai, aku berlari ke taman.

Rasanya seperti dèjavu bagiku. Aku pun menunggunya dengan perasaan tidak tenang. Tak lama kemudian, aku melihatnya datang. Sekilas aku melihatnya tersenyum dan melambaikan tangannya. Sekarang perasaanku lebih tidak enak. Lalu lintas sekarang berubah merah. Sebelum ia menyebrang, aku berlari kearahnya dan menyebrang. Aku benar-benar tidak ingin semua mimpi burukku terulang.

Setelah sampai kearahnya, aku bernafas lega. Setidaknya, aku telah menghindari bahaya yang ingin menimpanya. Ia pun tersenyum senang.  “Sayang, kenapa kamu yang menyebrang kemari? Kita kan mau ke taman di seberang sana.” tanyanya bingung.

“Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya bosan kesana. Ayo ke tempat lain.” ajakku sambil berusaha tersenyum. “Yasudah… Kita ke toko es krim dekat sini aja ya? Es krimnya sangat enak lho.” katanya sambil menggandeng tanganku. Begitu sampai ke toko itu, kita membeli es krim dan memakannya seraya duduk di sebuah bangku.

Aku yang sudah tidak tahan langsung memeluknya. “Ada apa, sayang?” tanyanya bingung. “Aku… Aku benar-benar takut kalau kamu kenapa-napa…Aku mencintaimu…. Sangat mencintaimu…” kataku lirih sambil mulai menangis. Setelah tenang, aku menceritakan semua mimpiku. Ia pun tersenyum. “Tenang my lovely Sangrin… Aku tidak akan meninggalkanmu…” katanya sambil memelukku hangat.

Setelah selesai, kita memutuskan pergi ke tempat lain. Tapi, seseorang memanggil kita. “Tunggu…!!! Kamu melupakan kembaliannya…!” teriak seseorang yang ternyata adalah tukang es krim. Ia pun menepuk jidatnya sendiri dan menciumku riang. “Sebentar ya, sayang… Aishhh… Aku memang benar-benar pelupa.” katanya lalu berlari menuju tukang itu. Aku memanggil namanya dengan keras. Tapi, ia sudah berlari. Dan…

BRUKKK….!!!!

Sebuah truk melaju dengan cepat dan membuatnya terplanting keras. Aku benar-benar histeris sekarang.  Aku mendatanginya dan duduk di sampingnya. Rasanya, air mataku telah habis karena mimpi itu. Sakitku masih sama seperti yang kualami di mimpi. Ternyata, takdir memang benar-benar sulit diubah.

Meskipun, aku telah berusaha sebisaku, tetap saja ini terjadi. Selamat tinggal, namjachinguku tersayang. Semoga kau bahagia di alam sana. Tunggulah sebentar lagi. Jika tiba waktunya, aku akan menyusulmu.

Story : ~Eternity~

***

Seorang anak lelaki yang berusia sekitar 8 tahun dengan kaus dan celana yang kusam, sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah megah. Ia berusaha agar tidak ada orang yang melihatnya dengan bersembunyi di balik tembok dekat pintu tersebut. Anak lelaki itu tampak sangat mengagumi sesuatu yang sedang dipandangnya sejak tadi. Ini dapat dilihat dari bola mata anak lelaki itu yang bersinar dan mulutnya terbuka lebar.

Anak lelaki itu terus menatap sosok yang sama, hingga sebuah suara yang mengejutkan membuatnya kaget. “Untuk apa kau disini, bocah kecil?” tanya seorang pria separuh baya yang ternyata sudah berdiri di belakang anak itu sejak lama. Anak itu menoleh dan langsung membulatkan mata kecilnya. Ia pun berlari secepat mungkin untuk menghindari pria separuh baya tadi.

Ia berhenti setelah merasa sudah berlari cukup jauh, dan mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan. Pria paruh baya tadi sudah pasti adalah ayah dari sosok yang dipandangnya tadi. Sosok anak perempuan yang sedang asyik menari. Anak perempuan itu adalah pujaan hatinya sejak lama. Entah kenapa atau bagaimana, namun setiap ia berada dekat dengan perempuan itu, jantungnya menjadi berdebar dan pipinya selalu merona.

Cinta. Apakah ‘cinta’ yang anak lelaki itu rasakan?

***

Seorang remaja lelaki berusia lima belas tahun sedang berjualan kue dengan seragam sekolahnya yang kusut. Sudah tak terhitung berapa kali ia mengucapkan kata: “Kue… Kue… Siapa mau kue??” secara berturut-turut. Ia berkeliling seraya membawa senampan kue hangat yang ia pegang di kedua buah tangannya yang sudah memerah karena panasnya kue itu.

Ia masih mengagumi anak perempuan yang sekarang juga sudah menjadi wanita remaja yang sangat cantik dan bersinar. Awalnya, memang lelaki itu ingin menyatakan cinta pada wanita pujaannya, namun ia terlalu takut dan malu. Ia sadar ia tidak setara dengan wanita kesayangannya sejak kecil. Wanita itu terlalu perfect untuknya. Cantik, pintar, kaya, dan berbakat. Sungguh tidak sama dengan keadaannya sekarang. Bahkan, sekarang wanitanya itu, kabarnya telah pindah keluar kota.

Ia sedang menyebrang jalan sebelum sebuah mobil berjalan tepat di depannya.

Ciiiiit…………!

Beruntung, mobil mewah berwarna hitam itu dapat mengerem dan berhenti tepat di depan remaja itu. Namun, naas pemuda itu pingsan saking terkejutnya diiringi dengan jatuhnya semua kue-kue yang daritadi ia pegang.

Ia membuka matanya dengan perlahan.

Ia bisa merasakan sedang tiduran di kasur yang amat empuk dan kamar yang sangat megah. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Hanya sebuah kalimat tanya yang terngiang di otaknya, “Dimana ini?” Ia mencoba untuk bangun tetapi kepalanya terlalu berat untuk bangun. Ia pun memutuskan untuk kembali tiduran.

Tak lama, seorang pemuda yang jauh lebih tampan, tinggi, dan berpenampilan ‘mewah’ masuk ke kamar yang ditempati lelaki tadi. Lelaki yang sedang tiduran itu menoleh singkat dan otaknya kembali merespon sebuah kalimat tanya: “Siapa dia?” Ia mencoba untuk bangun kembali dengan membuat kesimpulan bahwa ‘pemuda ini adalah pemilik rumah megah yang sedang ditempatinya’.

“Tidak usah bangun… Tiduranlah lebih lama. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu.” kata pemuda itu dengan ramah sembari tersenyum manis.

“Kau…siapa?” tanya lelaki yang sedang tiduran seraya mengerenyit.

“Aku? Oh, aku yang hampir menabrakmu tadi… Namaku Han Eunjae. Maafkan aku soal yang tadi.” jawab pemuda itu dengan sangat sopan seraya menunduk. “Tidak apa-apa, Eunjae-ssi. Aku juga kurang hati-hati. Namaku Lee Daehwa… Terima kasih sudah menolongku.” kata lelaki itu ikut menunduk. “Jangan panggil aku dengan ‘ssi’, panggil saja aku dengan ‘ah’ atau ‘ya’… Dan, sama-sama, Daehwa-ya.” pinta pemuda itu dengan ramah.

“Ok, Eunjae-ya… Sudah ya, aku mau pulang. Orang tuaku pasti khawatir jika sampai sekarang aku belum pulang. Sampai jumpa~” pamit Daehwa kepada Eunjae.

“Tunggu…! Ini, akan aku ganti semua kue-kuemu yang tadi terjatuh.” kata Eunjae seraya mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang.

“Tidak usah… Aku kan juga salah, Eunjae-ya.” tolak Daehwa dengan halus.

“Tapi…”

“Sudahlah, aku benar-benar tidak apa-apa…” lanjut Daehwa memotong perkataan Eunjae. Ia langsung membawa tas dan nampannya sembari berjalan keluar kamar.

“Tunggu…! Bolehkah aku tau alamatmu? Aku ingin berteman denganmu. Apa boleh?” tanya Eunjae hati-hati.

Daehwa menoleh dan dapat melihat pemuda yang lebih tinggi didepannya sedang menatapnya dengan ekspresi memohon. Ia tercengang. Ia benar-benar tidak percaya pemuda yang ada di hadapannya ini memintanya menjadi teman.

“Ten…Tentu saja boleh. Ini.” jawab Daehwa seraya menulis alamatnya di selembar kertas hasil sobekan bukunya.

“Terima kasih, Daehwa-ya…!”

***

Sudah tahun kedua, Daehwa dan Eunjae menjadi teman. Mereka sekarang adalah sahabat. Bahkan, lebih dari sahabat.

Eunjae sudah banyak membantu Daehwa dalam segala hal. Mulai dari per-ekonomian Daehwa yang buruk, hingga dalam sosial dan segalanya. Hal ini membuat Daehwa sangat merasa beruntung dapat mengenal dan mempunyai sahabat seperti Eunjae. Eunjae sendiri sangat bahagia bisa mempunyai sahabat seperti Daehwa. Ia memang banyak mempunyai teman lain, tapi hampir semua temannya hanya ingin berteman dengannya karena ‘tampang’ dan ‘harta’. Dan, hanya Daehwa lah yang tak pernah mementingkan masalah itu.

Daehwa berlari dengan terburu-buru menuju ke kelas dan duduk di sebelah Eunjae yang sedang asyik bersenandung pelan. Yah, sejak pertemanan mereka, Eunjae membantu Daehwa untuk sekolah di tempatnya. Awalnya, memang Daehwa menolak, namun karena dorongan Eunjae, akhirnya ia menyetujuinya.

“Pagi, Eunjae-ya…” sapa Daehwa dengan ramah seraya menaruh tas dan duduk di kursinya. “Pagi, Daehwa-ya… Tidak biasanya kamu datang jam segini? Biasanya kau pasti pergi ke sekolah lebih pagi dariku. Ada apa?” tanya Eunjae sedikit penasaran.

“Tidak apa-apa…”

“Sudahlah Daehwa, jangan berbohong… Sudah dua tahun aku mengenalmu dan aku sudah tau pasti sifatmu.” kata Eunjae seraya cemberut.

Daehwa terkekeh. “Tampaknya, aku sudah tak bisa berbohong padamu, Eunjae-ya… Baiklah, akan kuceritakan, pagi ini aku menolong ibuku dulu untuk berjualan di pasar.”

Sebelum Eunjae bisa berbicara atau Daehwa sempat melanjutkan, bel sekolah berbunyi. Guru masuk dilanjutkan seorang…wanita?

“Perhatian, anak-anak… Kita kedatangan murid baru. Ayo, perkenalkan dirimu.” terang guru seraya tersenyum kepada wanita di sebelahnya. Murid wanita itu mengangguk dan mulai memandang semua murid yang ada di hadapannya dengan percaya diri.

“Halo, namaku Park Heena. Aku murid pindahan Daegu. Dulu aku memang sekolah di Seoul, tapi aku pindah ke Daegu karena ayahku harus berpindah tempat kerja… Salam kenal dan mohon bantuannya~” kata murid wanita itu dengan senyum manisnya yang berhasil membuat banyak orang terpesona.

“Terima kasih, Heena. Silahkan duduk di sebelah situ…” kata guru sembari menunjuk ke tempat duduk yang tepat di sebelah kanan Daehwa dan Eunjae.

Eunjae melihat Daehwa sedang menatap wanita itu dengan seksama dan tersenyum serta berbisik ke telinga Daehwa. “Murid baru itu lumayan kan, Hwa?” tanya Eunjae yang lebih mengarah pada ‘meledek’. Daehwa yang sadar langsung menjitak kepala Eunjae pelan. “Nanti aku ceritakan padamu setelah jam pulang…” gumamnya sebelum mulai mencatat pelajaran.

Kring…………

Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid spontan bersorak karena sudah sangat bosan dengan pelajaran IPS yang diberikan. Daehwa dan Eunjae menutup buku mereka dan bergegas pulang. Saat Daehwa mau melangkahkan kakinya, Eunjae menahan tangannya.

“Katanya mau menceritakan sesuatu tadi…” kata Eunjae dengan manja.

“Baik, tapi jangan tertawakan aku ya?” balas Daehwa dengan pandangan menyelidik, yang tentu saja dibalas anggukan Eunjae.

“Aku sudah lama menyukai Heena… Dulu, rumahnya tepat berada di depan rumahku dan aku sering mengamatinya dari jauh. Tapi, aku tak berani berkenalan apalagi menyatakan perasaanku karena, ya kau taulah, aku ini tidak setara dengan Heena.”

Eunjae diam sejenak, tapi semenit kemudian, ia tak bisa menahan tawanya lagi. “Huffft… Hahahahahahahaha~” tawa Eunjae yang membuat lesung pipinya terlihat dengan jelas.

“Tuh ya kan, aku di tertawakan… Sudahlah.” balas Daehwa seraya pergi.

“Tunggu…! Maafkan aku, Daehwa-ya. Aku akan berhenti tertawa. Dan, aku akan memecahkan masalahmu. Tenang saja…” kata Eunjae sembari tersenyum ringan.

“Apa maksudmu? Memecahkan masalahku?” tanya Daehwa bingung.

“Ayo kita pulang… Serahkan masalahmu padaku.”

Esoknya, Daehwa datang ke sekolah dilanjutkan oleh Eunjae yang datang tentu saja dengan mobil. “Mau kemana kau, Jae?” tanya Daehwa saat melihat Eunjae berjalan ke meja Heena yang baru datang. Eunjae hanya membalasnya dengan mengedikan sebelah matanya.

Tak lama kemudian, saat Daehwa sedang asyik belajar untuk ulangan hari ini, dua orang datang mendekat kearahnya. “Daehwa-ya…” panggil Eunjae dan Daehwa pun menoleh. Ia tercengang.

Dua orang itu adalah Eunjae dan…Heena?

“Kenalkan, ini adalah Lee Daehwa, sahabatku sejak dua tahun yang lalu. Dan Daehwa, ini adalah Park Heena…” jelas Eunjae seraya tersenyum lebar.

“Halo, Daehwa-ssi…”

“Halo juga, Heena-ssi…”

Eunjae mengerutkan dahinya saat melihat pemandangan kaku mereka berdua. Eunjae menghela nafasnya dan langsung mengenggam tangan Heena dan Daehwa, dan menyatukannya agar mereka bersalaman.

Heena tersenyum tipis dan Daehwa memandang Eunjae dengan tatapan membunuh. Eunjae hanya bisa terkekeh pelan seraya menggaruk-garukan kepalanya.

Bel berbunyi dan seketika Daehwa dan Heena melepaskan salaman mereka dan kembali ke tempat masing-masing. Eunjae terkekeh melihat pemandangan itu. Dasar dua orang itu… Malu-malu tapi mau, batin Eunjae dengan tawa renyah.

Setelah bel pulang berbunyi, Eunjae langsung menarik Daehwa ke meja Heena. “Heena-ya… Daehwa-ya… Besok aku tunggu ya jam 09.00 di jembatan dekat sekolah. Sampai ketemu besok~” kata Eunjae seraya berlari kabur.

“Eunjae-ya…!” teriak mereka bersamaan.

“Aishhhh…” keluh mereka yang ternyata juga bersamaan.

Mereka pun saling memandang dan tersenyum malu satu sama lain. “Sampai jumpa, Daehwa-ssi…” sapa Heena dengan canggung. “Err, sampai jumpa…” balas Daehwa dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.

***

Pagi ini langit berawan dan cuaca sedikit mendung, berbeda dengan perasaan Daehwa yang sangat amat senang. Ia memakai pakaian terbagus yang ia punya dan berdandan rapi. Bahkan, ia memakai parfum yang diberikan Eunjae sebagai oleh-olehnya ke Perancis. Ia terus mengamati jam tangannya yang ia beli di pasar. 08.39. Sebaiknya, ia pergi sekarang.

Daehwa menutup pintu rumahnya dan langsung bergegas menuju jembatan dengan motor bekasnya. Ia menelusuri berbagai pepohonan dan rumah hingga akhirnya sampai di jembatan itu. Ia berdiri di tepi jembatan kayu sembari memandangi sungai biru yang sangat indah. “Daehwa-ssi…”

Daehwa menoleh dan langsung tercengang.

Seorang perempuan, dengan rambut hitam panjang bergelombang yang terbang terkena angin, dengan mata yang indah dan bulu mata yang lentik, hidung dan bibir yang mungil namun runcing, kulit mulus dan putih bersih, dengan pakaian serba putih, berada di hadapannya.

“Heena-ssi…” balasnya dengan susah payah. Entah kenapa, lidahnya seakan kelu hanya untuk berbicara.

“Dimana Eunjae-ya? Kenapa ia belum datang?”

Seketika tubuh Daehwa yang sedang ‘terbang tinggi’ terjatuh dengan keras. Kenapa ia malah menanyakan Eunjae? Namun, ia berusaha keras menghilangkan rasa pesimis dalam dirinya dan tersenyum kecil.

“Iya nih, padahal kan dia yang menyuruh kita datang kesini… Sekarang, malah hilang ditelan bumi.”

Byurr….

Petir menggelegar dan hujan pun turun dengan derasnya. Daehwa langsung membuka jasnya dan menadahkannya keatas kepala Heena dan dirinya sendiri. Mereka berdua berlari ke tempat yang aman dan kebetulan tempat itu adalah teras rumah kayu kecil yang juga sangat kecil. Mereka pun terpaksa sempit-sempitan dan tak sengaja saling menatap. Jarak wajah mereka sangat dekat sekarang.

“Errrr, Daehwa-ssi…?”

“I-Iya, Heena-ya?” tanya Daehwa dengan tatapan yang tak lepas dari Heena.

“Aku kedinginan”

Daehwa diam sejenak. Akhirnya, ia mendekati tubuh Heena lebih dekat dan mulai memeluk tubuh mungil Heena. Heena tercengang, namun ia tak kuasa melepas ataupun menepis Daehwa.

Daehwa tersenyum kecil saat tak lama kemudian Heena tertidur di pelukannya. Ia menatap wajah Heena yang sedang tertidur dengan dalam dan mengecup keningnya dengan hangat.

Tak sadar, selama ini mereka berdua sedang diperhatikan oleh seseorang. Seseorang yang ternyata adalah Eunjae. Eunjae menatap mereka dengan senyuman pahit. Di satu sisi, ia merasa turut bahagia dengan rencananya yang berhasil seratus persen, namun disisi yang lain, hatinya merasakan sakit yang luar biasa.

***

Hari ini tepat tiga tahun Daehwa, Eunjae, dan Heena menjadi sahabat dekat. Mereka sangat akrab dan bahagia. Walaupun, sebenarnya terjadi sebuah cinta rumit diantara mereka bertiga.

Daehwa menatap cermin dengan seksama, setelah yakin penampilannya sudah rapi, ia langsung mengunci rumahnya, mengambil sebuket bunga dan mengendarai motor bekasnya sejak SMA. Ia berhenti di sebuah teras rumah dan kebetulan bertemu dengan seseorang.

“Bibi…!” panggil Daehwa saat melihat pembantu rumah Heena. “Tuan muda Daehwa… Mau mencari nona Heena? Masuk saja, tuan muda Eunjae juga sudah ada di dalam. Mereka ada di taman belakang rumah…” jelas bibi dan Daehwa pun terkejut. Eunjae…ada di dalam? batin Daehwa bingung.

Daehwa masuk dan bergegas ke taman belakang rumah Heena yang sangat megah. Begitu sampai, ia melihat pemandangan yang sungguh tak biasa hingga mulutnya terbuka lebar.

Air matanya mengalir. Ia tak percaya bisa melihat ‘adegan’ ciuman Eunjae dan Heena di depan matanya sendiri. Padahal hari ini ia baru saja ingin menyatakan cintanya pada Heena.

“Eunjae-ya, aku benar-benar tak percaya kau bisa melakukan ini semua…! Aku pikir kau benar-benar sahabatku! Kau…Kau keterlaluan!!!” teriak Daehwa dengan kesal seraya berlari.

Daehwa berlari secepat mungkin. Eunjae mengejarnya sekuat tenaga. “Daehwa-ya…! Tunggu aku. Ini bukan seperti yang kau lihat…!!!”

Daehwa terus berlari. Hingga sebuah mobil berjalan tepat di depannya. Membuatnya ber-dejavu. Ia menutup matanya pasrah. Namun, ia merasa tubuhnya didorong. Ia membuka mata dan dapat merasakan lengannya terluka.

Ia menghadap ke belakang dan melihat banyak orang sedang mengerubungi sesuatu. Disitu bahkan ada Heena juga. Ia sedang menangis sesenggukan.

Daehwa berjalan mendekati kerumunan itu dengan pelan. Otaknya menangkap sebuah dugaan, namun hatinya mencoba menepisnya jauh-jauh. Setelah mendekat, ia bisa melihat jelas seseorang lelaki bertubuh jangkung dan tampan sedang terbaring tak berdaya dengan darah dimana-mana.

Lututnya lemas seketika. Ia pun terjatuh dengan air mata berjatuhan.

“HAN EUNJAE…!!!”

***

Daehwa sedang menatap matahari terbenam di depannya. Ia duduk di taman. Ia tak sepenuhnya konsentrasi pada pemandangan indah di depannya. Perkataan Heena masih terekam jelas di kepalanya.

“Eunjae tak pernah selingkuh padamu, Daehwa-ya… Jujur, aku sangat mencintai Eunjae dan Eunjae pun sangat mencintaiku, namun kita berusaha menahan perasaan agar kau tak terluka. Ciuman yang kau lihat, hanya ciuman pertama dan terakhir sebelum kita benar-benar memendam perasaan kita… Dan, ini semua kita lakukan demi kau. Justru, Eunjae adalah orang yang paling tersiksa. Ia berusaha menjodohkanmu padahal disisi yang lain, hatinya menangis, Daehwa… Maaf, jika kau masih tak bisa memaafkan kita. Awalnya aku ingin marah padamu, namun aku yakin Eunjae tidak akan marah dan dendam padamu. Karena ia selalu menganggapmu sebagai sahabat sejatinya…”

Daehwa merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia, dipenuhi oleh dengki dan rasa cemburu. Dan, betapa bodohnya dia. Eunjae yang begitu baik padanya malah tak ia percayakan.

Ia mengambil sebuah kertas dan mulai menulisnya.

Eunjae-ya,

Apa kabarmu disana? Apakah baik-baik saja? Pakailah pakaian tebal, sebentar lagi akan musim dingin, aku tak mau kau sakit. Kau tau, hatiku sangat menyesal sekarang. Coba waktu itu aku mau mendengar dan percaya padamu, mungkin hal ini takkan terjadi. Mungkin kau masih disini sekarang, bersamaku. Bukan disana, di dunia yang sangat jauh dariku. Maafkan aku, Eunjae-ya… Maafkan aku… Salahkan aku dan dendamlah padaku jika kau mau. Yang aku bisa katakan padamu sekarang:

Terima kasih atas semua hal yang pernah kau lukiskan dalam kehidupan kelamku, Eunjae…

Sahabatmu sekarang dan selamanya, Lee Daehwa.

Note : Tunggulah aku disana, Eunjae-ya… Aku akan menyusulmu sebentar lagi. ^^

Daehwa melipat kertas itu dan menjadikannya perahu-perahuan. Ia berjongkok dan menaruh perahu itu diatas air sungai. Ia tersenyum saat melihat perahu kertas itu sudah pergi menjauh. Menjauh bersamaan dengan sosok sahabat terbaiknya sepanjang masa, Eunjae.

FIN

N.B : Cerita ini aku persembahkan untuk semua sahabat di dunia… ^^

Story : ~Eternity (Prolog)~

Eternity

***

Cinta…

Cinta adalah sesuatu yang paling tidak bisa dimengerti…

Persahabatan

Persahabatan adalah hal yang bisa dibilang ‘bullshit’..

Cinta dan persahabatan…

Dua hal itu memang adalah perbuatan positif…


Tapi…

Bagaimana, jika dua hal itu disatukan dan malah menjadi bumerang untuk diri sendiri dan orang lain…?

***

Karakter pemain :

1. Lee Daehwa

Lelaki ini memang adalah lelaki yang sebenarnya cukup tampan dan menawan, namun sifatnya yang pemalu dan selalu merendahkan dirinya malah membuatnya menjadi tameng yang justru dapat menghancurkannya. Pemain utama ini akan mengalami sakitnya akibat dari cinta dan kesetiaan.

2. Han Eunjae

Sahabat dari Daehwa ini adalah lelaki yang mempunyai sifat jauh berbeda dari Daehwa. Dari lahir, ia telah dikaruniai harta tak berlimpah dan kesempurnaan hidup. Ia juga adalah lelaki yang tampan, jangkung, dan sangat digilai semua perempuan yang melihatnya. Seulas senyum dari bibirnya saja sudah berhasil membuat wanita-wanita merona dan para pria iri dengannya. Namun, bagaimana jika sebuah kejadian merubahnya?

3. Park Heena

Perempuan ini adalah perempuan yang sangat manis dan menawan. Auranya selalu terpancar sempurna dan hatinya sangat baik. Ia mempunyai cita-cita, yaitu menjadi penari profesional dan bisa menjadi aktris seperti yang ia lihat di tv. Keadaan keuangannya memang cukup untuk membiayainya, namun ia ingin berusaha sendiri untuk mencapai cita-cita indahnya. Karena kegigihannya inilah, banyak orang akan menyukainya.

***

Mau tau cerita dari perjuangan tiga orang ini?

Mau tau hasil dari penggabungan cinta dan setia kawan?

Baca:

Eternity

^^

Story : ~My Past and My Life Mate~

Pagi ini, sepulang kuliah semester satuku, aku berjalan santai menuju rumahku yang memang cukup dekat dengan kampusku. Jarak antara kampus dan rumahku hanya berbeda 1 meter. Seperti biasa, aku melewati sebuah taman yang berisi bunga-bunga indah dan selalu penuh oleh pengunjung. Karena ingin menikmati musim semi, aku pun memutuskan untuk duduk sejenak di taman ini. Aku duduk di salah satu kursi dan memutuskan untuk mengerjakan beberapa tugas kuliahku. Tiba-tiba, suara gesekan biola terdengar. Aku langsung menoleh ke sumber suara dan bisa melihat seorang pemuda seusiaku sedang memainkan biolanya di taman yang sama.

Di sekelilingnya, banyak anak-anak bahkan orang tua yang menonton. Ia memainkan biola putihnya dengan sangat hebat seraya mendendangkan lagu dengan suara yang amat bagus. Aku, yang memang pecinta seni apalagi seni musik, pun memerhatikannya dengan seksama. Wajahnya yang manis dan tampan serta tubuhnya yang tinggi dan ramping, membuatku teringat akan seseorang. Kepiawaiannya dalam bermain biola dan bakat menyanyinya juga sangat mirip dengan seseorang. Apakah dia? Aku bergegas bangun dan melihat lebih dekat kearah pemuda tersebut. Tak sadar, aku memandangnya hingga permainannya selesai.

Setelah selesai, ia bergegas pergi, namun aku menarik tangannya. “Tunggu…!” teriakku kepada pemuda pemain biola itu. Ia pun menoleh. “Ada apa?” tanyanya dengan sopan walaupun tampak bingung. “Oh… Tidak. Aku hanya ingin bilang permainan dan suaramu bagus.” kataku dengan gugup. Ia pun tersenyum sangat manis. “Terima kasih…” jawabnya singkat sembari langsung pergi. Aku masih terpaku melihat pemuda itu. Apakah ia benar-benar…? Tapi, tampaknya bukan. Tidak mungkin, pasti hanya wajah mereka saja yang mirip.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumahku. Baru saja memasuki rumah, ayah dan ibuku langsung menyuruhku ke ruang keluarga untuk membicarakan sesuatu yang ‘penting’. “Ada apa, ayah, ibu?” tanyaku penasaran. “Kau tau kan perusahaan ayah sedang krisis? Ini sebabnya ayah akan menjodohkanmu dengan anak sahabat ayah yang tentunya lebih sukses dari ayah.” jelas ayah. Aku membuka mulutku tak percaya. “Apa?! Ayah menjualku pada anak sahabat ayah?” tanyaku dengan memberi penekanan pada kata ‘menjual’ dan ‘anak sahabat ayah’.

“Bukan ‘menjual’, tapi ‘menyelamatkan’ keluarga kita… Please, Miko. Nasib keluarga kita ada di tanganmu sekarang.” kata ibu mengoreksi. Mata ibu sudah berair, membuatku tidak tega untuk menolak. Tapi, tetap saja ini tidak adil bagiku. Aku kan berjanji hanya akan menikahi sahabat kecilku waktu TK dulu. Bahkan, ia sudah memberiku sebuah kalung. Walaupun hanya kalung yang terbuat dari plastik, namun aku tau ia sangat tulus waktu itu. Pikiranku tiba-tiba terlintas pada kenangan paling indah yang kualami.

***
(12 years ago)

Aku sedang membuat istana pasir di pantai bersamanya. Bersama sahabat kecilku. “Aku mau pergi kesana dulu ya… Sebentar lagi aku kembali.” kata Kyota, sahabat kecilku itu. Aku mengangguk dan meneruskan pekerjaanku membuat istana pasir. Tiba-tiba, ia kembali dengan kedua tangan disembunyikan ke belakang. “Apa yang kau bawa, Kyota?” tanyaku penasaran. “Maukah kau menikah denganku, Miko?” tanyanya dengan polos sembari memakaikan sebuah kalung bewarna-warni yang sangat indah.

“Kyota…kita kan masih terlalu kecil.” kataku seraya cemberut. “Baiklah, 12 tahun yang akan datang nanti, aku akan melamarmu dan menikahimu, Miko…!” katanya dengan ceria. “Janji?” tanyaku. “Janji…! Kau juga janji ya.” jawabnya disambut anggukanku. “Janji!” balasku dengan tegas. “Ayo, kita main lagi, calon istriku…!” ajaknya dengan senyuman manis yang selalu melekat pada bibirnya. “Ayo!” jawabku. Ia pun menggandengku untuk bermain pasir di pantai indah ini.

***

Aku memegang dengan erat kalung pemberian sahabat kecilku itu. Kalung indah yang sampai detik ini masih ada di leherku dan tidak pernah kulepas, bahkan untuk tidur atau mandi sekalipun. Tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung berlari. Berlari sejauh mungkin tanpa tau mau kemana. “Miko…!!!” teriak ayah dan ibu, namun aku tak memedulikan mereka. Air mataku jatuh membasahi habis seluruh permukaan wajahku. Tanpa sadar, aku berlari ke taman dan kemudian duduk disitu. Aku masih menangis. Mungkin menangis adalah hal satu-satunya yang kubisa sekarang.

“Butuh saputangan…?” tanya seseorang sembari menyodorkan saputangannya kearahku. Aku mendongak dan dapat melihat seorang pemuda yang adalah pemain biola itu sedang berdiri tepat di hadapanku. “Kau…perempuan yang tadi?” tanyanya terkejut. “Kau…pemain biola itu?” tanyaku balas bertanya dengan ekspresi yang juga terkejut. Ia duduk di sebelahku seraya mengelap semua air mataku. “Kenapa kau menangis?” tanya pemuda itu dengan santai. “Aku dijodohkan oleh ayah dan ibuku dengan seseorang yang bahkan tak kukenal… Padahal, aku sudah punya lelaki lain di hatiku.” jelasku padanya.

Aku tidak tau darimana atau mengapa aku bisa menceritakan hal pribadi kepada orang asing seperti ini. Namun, entah mengapa, ia tampak tidak seperti orang asing bagiku. Seperti biasa, ia tersenyum. “Lelaki lain? Maksudmu, pacarmu?” tanyanya dengan bingung. “Bukan… Tepatnya sahabat kecilku dulu.” jawabku seraya mulai tersenyum. Ia sedikit terkejut sembari menaikan alisnya. “Sahabat kecilmu?” tanyanya dengan nada aneh. “Pasti bagimu itu kekanak-kanakan kan? Tapi, ya, aku mencintai sahabat kecilku dulu. Ia sendiri sudah melamarku dan berjanji akan menikahiku… Sayangnya, aku tidak pernah menemukannya lagi setelah ia pergi ke Swiss untuk belajar seni disana.” lanjutku dengan cemberut.

“Kau dilamar olehnya?” tanya pemuda itu lagi. “Iya, aku diberikan sebuah kalung olehnya.” jawabku yakin. “Apakah kalung itu kalung plastik bewarna-warni yang diberikan padamu di pantai?” tanyanya yang sangat mengejutkanku. “Bagaimana kau bi… Tunggu, jangan-jangan kau?” kataku dengan terkejut. “Iya…! Aku Kyota. Kau…Miko?” tanyanya dibalas anggukanku. “Ya, aku Miko! Jadi, kaulah ‘calon suamiku’?” tanyaku dengan bersemangat. Ia mengangguk.

“Aku sengaja datang dari Swiss untuk melamarmu, sesuai dengan janjiku dulu.” katanya dengan senyuman. “Tapi…aku…akan segera dijodohkan.” kataku dengan wajah lebih cemberut. “Jangan khawatir. Terima saja perjodohanmu…” katanya dengan santai. “Kenapa? Apakah kau tidak mau menikahiku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. “Bukan, ah, sudahlah, nanti kau akan tau sendiri… Pokoknya, terima saja perjodohanmu. Selamat tinggal, Miko…! Aku akan bertemu denganmu lagi besok di tempat yang sama.” katanya seraya pergi. “Hei~ Kyota, tunggu!” teriakku, namun ia sudah terlanjur pergi.

Dengan tanda tanya besar yang masih terdapat pada otakku, aku pun bergegas untuk pulang. “Bagaimana keputusanmu, Miko? Maafkan ayah dan ibu, Miko… Kita tidak mau kau sedih, tapi kami sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. ” kata ayah. “Tidak, yah, bu… Aku terima perjodohanku.” jawabku seraya langsung masuk ke kamar. Aku masih bingung dengan semua ini. Kenapa Kyota malah menyuruhku menerima perjodohan? Apa yang sedang direncanakannya?

Esoknya, setelah pulang kuliah seperti biasa, aku kembali mengunjungi taman itu. Disana, sudah ada Kyota yang sedang bermain biolanya dengan hebat. Setelah menunggu sampai selesai, ia pun mendatangiku. “Miko…!” teriaknya seraya duduk di sebelahku. “Halo, Kyota…! Oh ya, aku sudah menyetujui perjodohanku, tapi memang apa yang kau rencanakan?” tanyaku bingung. “Bagus… Dan, lihat saja nanti, kau juga akan tau.” jawabnya sembari tersenyum kecil. “Tapi, kata ayah aku dijodohkan seminggu lagi, lho…! Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?” tanyaku masih ragu. “Percayalah padaku, Miko.” katanya yang membuatku lebih tenang, walaupun tetap saja rasa penasaran masih bersarang dalam kepalaku.

Selama seminggu, aku dan Kyota menjadi lebih dekat. Kita melakukan semuanya dan jalan-jalan layaknya sepasang kekasih. Rasa penasaranku tentu saja masih ada, namun aku tidak mempersalahkannya lagi. Aku percaya padanya sepenuh hatiku. Hari ini adalah sehari sebelum pernikahanku dengan…dengan seseorang yang bahkan tak kukenal. Yang kutau dari ‘calon’ suamiku, hanya ia adalah anak dari sahabat ayahku. Aku merenung dalam kamar. Sebenarnya, apa sih yang ada di pikiran Kyota? Kenapa dia menyuruhku mengiyakan perjodohan ini? Apakah ia benar-benar yakin akan berhasil? Suara dering ponselku berbunyi. Aku pun melihatnya.

From : Kyota~mylove

Halo, Miko…
Malam ini, temui aku di taman biasa ya?
Jam 19.00…
Love you, Miko…! ^,^

Aku menatap ponselku seraya tersenyum kecil. Apakah ini artinya Kyota mengajakku kencan? Aku langsung bersiap-siap mengingat waktu yang sudah menunjukan pukul 17.00. Selesai mandi dan berganti baju, aku langsung pergi ke taman itu. Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat taman sudah gelap. Bahkan, tak ada lampu jalan yang menerangi. Kemana Kyota? Apakah ia lupa akan janji kita? Semua pertanyaanku terjawab saat mendengar sebuah suara. Sebuah suara yang amat merdu. Suara gesekan biola.

Aku membalikan badanku dan melihat seseorang lelaki sedang menggesekan biola putih dengan sangat merdu. Lampu jalan dan lampu taman yang berkelap-kelip pun menyala. Aku termenung menyaksikan semua keindahan itu. Perasaanku tercampur-campur sekarang, antara bahagia, kagum, bangga, dan takjub. Lelaki itu mendekatiku dengan perlahan sembari menggesekan biolanya dengan indah. Sangat dekat hingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Lelaki dengan rambut hitam kecoklatan, kulit putih mulus, mata yang bersinar, hidung yang runcing, bibir yang mungil dan bewarna merah tomat. Pesona dan semua yang ada didalamnya membuatku tergila-gila.

Pakaiannya yang serba putih dan senyuman tipis yang terukir di bibirnya membuatku terpaku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan harum. Aku menatap mata hitamnya yang sangat pekat dan indah, yang dibalas dengan tatapan dalamnya padaku. “Miko…” panggilnya dengan pelan dan lembut. “Kyota…” balasku padanya dengan pandangan masih penuh dengan rasa kagum. “Kau…kau sangat tampan.” lanjutku seraya mengelus poninya yang halus. “Kau juga sangat cantik, Miko…” jawabnya sembari memperlebar senyumnya yang makin membuatku terpesona.

“Ayo jalan.” ajaknya seraya menggandeng tanganku menuju suatu tempat dengan berlari. “Mau kemana?” tanyaku dibalas kebisuannya. Aku pun memutuskan untuk diam dan pasrah ditarik olehnya. Ia berhenti di sebuah gedung. Ia membawaku ke lantai tertinggi dan akhirnya dinaikan ke kereta gantung. Aku memandang kerlap-kerlip bangunan-bangunan yang ada di bawahku dengan mata berbinar-binar. “Indah…” gumamku sembari menikmati semua keindahan ini. Ia kembali tersenyum. Tangan kanannya yang hangat menggengam tanganku dengan erat.

Ia memberi isyarat untuk menyenderkan kepalaku ke bahunya. Masih dengan genggaman erat tangannya dan posisiku yang kini menyenderkan kepalaku ke bahunya, benar-benar membuatku nyaman. Entah darimana, air mataku mengalir tiba-tiba. Ia yang merasakan itu, menatapku dengan pandangan bingung. “Kenapa kau menangis?” tanyanya dengan ekspresi kebingungan. “Aku…Aku hanya takut semua peristiwa indah ini hanya menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa kualami lagi setelah hari esok tiba.” jawabku jujur. Aku takut. Sangat takut. Takut jika besok aku akan benar-benar dinikahkan dengan orang lain. Takut jika aku tidak akan bisa lagi bersama Kyota.

Ia langsung memelukku dengan erat. Memberi sensasi kehangatan dan ketenangan. “Jangan khawatir, besok pasti menjadi hari terindah dalam hidupmu…” bisiknya dengan lembut. Aku mengangguk kecil. “Terima kasih, Kyota…” kataku kepadanya. “Aku mencintaimu…” lanjutku. “Aku juga sangat mencintaimu, Miko…” jawabnya.

***

Hari ini aku mengenakan gaun putih panjang yang amat indah dan cantik. Perhiasan dan riasan juga sudah tertanam pada tubuhku. Aku menunggu di ruang tunggu pengantin dengan perasaan amat cemas. Apa yang sebenarnya akan terjadi nanti? Mengapa Kyota bisa seyakin itu? Seorang saudaraku memanggilku untuk mulai berjalan ke altar. Aku mengangguk dan berjalan menuju altar. Sudah banyak sekali orang yang datang dan menyaksikan pernikahan kita.

Aku bisa melihat seorang lelaki dengan postur tinggi dan ramping sedang menghadap ke belakang. Apakah itu yang akan menjadi calon suamiku nantinya? Aku mendekatinya dan pastur menyuruh kita untuk saling berhadap-hadapan. Aku sangat gugup sekarang. Ia pun berbalik dan aku bisa melihat seluruh wajah dan tubuhnya dengan sangat jelas. Aku membulatkan mataku tak percaya. “Kau…Kyota?” tanyaku seraya menunjuknya. Orang yang ditunjuk terkekeh saat melihatku bingung. “Apa maksud semua ini? Kau…kenapa bisa ada disini?” tanyaku lagi.

“Akulah anak sahabat ayahmu, Miko… Akulah lelaki yang akan dijodohkan denganmu.” jawabnya dengan senyuman kecil. Aku menatapnya tak percaya. Sejenak, aku merasa seperti orang yang sedang dibodohi. “Jadi, selama ini kau sudah tau?” tanyaku yang dibalas anggukannya. Aku langsung memukul-mukul tangannya pelan. “Kau jahat! Kenapa kau tidak pernah memberitahunya padaku?” tanyaku dengan cemberut. “Yang penting hari ini benar-benar adalah hari paling bahagia dalam hidupmu kan?” katanya yang membuatku malu.

Setelah melewati semua upacara pernikahan, akhirnya aku dan Kyota resmi menjadi suami istri dan kita pun dibawa ke hotel. Untuk merayakan semuanya, sekaligus memasuki malam pertama kita. Ia menggendongku menuju ke kamar hotel dan menjatuhkanku ke kasur. “Apa yang mau kau lakukan, Kyota?” tanyaku bingung. Padahal, aku sudah tau pasti apa yang akan ia lakukan. “Tentu saja menjalankan malam pertama kita… Ayo!” katanya dengan semangat yang membara. Aku pun merona.
“Ayo!”

~THE END~

Story : ~My Love is My Enemy?~

Aku membuka mataku dengan tiba-tiba. Suara dentuman keras membuatku terbangun. Aku mendekat kearah pintu, mengintip dari celah kecil yang terdapat pada pintu kayu bewarna putih pucat. Dengan buram, aku bisa melihat ayah dan ibuku sedang berbaring di lantai ruang tamu yang juga dibuat dari kayu kecoklatan. Wajah mereka pucat dan tubuh mereka penuh dengan luka-luka dan keringat. Di depan mereka, tampak dua orang pria berpakaian serba hitam yang sedang mengacungkan pistol kepada orang tuaku. Yang satu lebih jangkung dan nampak lebih tua, dan yang satunya lebih pendek dan nampak masih sangat muda. Aku ingin memekik melihat pemandangan yang tidak bisa dibilang bagus itu, tapi mulutku seakan dikunci dan tidak bisa menggumamkan satu katapun. Ayahku diam seakan pasrah dan ibuku menangis dalam diam. Aku bisa melihat tangan mereka saling berpegangan dengan erat.

Sang pria yang lebih tua terkekeh pelan melihat pemandangan yang baginya ‘menyenangkan’ itu. “Ada kata-kata terakhir?” tanya pria itu kepada ayah dan ibuku. “Jika kau membunuh kami, itu tidak masalah, tapi tolong jangan bunuh anak kami…” pinta ibuku dengan isakan. Pria itu terkekeh dengan lebih keras, sehingga menimbulkan gema di rumahku yang memang sangat luas. “Kami tidak punya urusan dengan anak kalian, yang kami butuhkan hanya kematian kalian. Jadi, jangan khawatir…” kata pria yang lebih muda dengan suara pelan. “Terima kasih…!” teriak orang tuaku dengan serempak. “Sudahlah, ayo kita selesaikan sekarang, jangan buang-buang waktu!” kata pria yang lebih tua dengan tegas. Dan, DOR! Suara pistol mengakhiri semuanya. Air mataku jatuh membanjiri seluruh permukaan wajahku. Lututku sangat lemas dan kepalaku pening. Aku pun terjatuh dan tidak mengetahui apa-apa lagi. Yang aku tau sekarang, hanya kenyataan bahwa dua orang itu telah berhasil membunuh ayah dan ibuku.

***

Suara alarm keras berhasil membuatku terbangun. Aku membuka mataku perlahan dan tanganku bergerak-gerak mencari jam weker untuk mematikannya. Keringat membasahi seluruh tubuhku. Mimpi buruk itu terjadi lagi, batinku seraya meneguk air putih yang berada di meja sebelah kasurku. Aku mulai bersiap-siap mandi dan akhirnya keluar kamar untuk makan. Disana sudah terdapat dua orang tuaku. Ayahku sedang asyik membaca koran dan ibuku sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Aku duduk di salah satu kursi dan mulai menyantap roti dan susu yang sudah tersedia di depanku. “Pagi, ayah… Pagi, ibu…” sapaku dengan mulut yang masih penuh dengan roti. “Pagi, Anya…!” balas kedua orang tuaku dengan senyum ramah. “Hari ini kau ada les?” tanya ayahku yang masih sibuk membaca. “Ya… Mungkin aku tidak akan pulang sebelum pukul 3 sore.” jawabku dengan lunglai. “Ini kan demi masa depanmu, Anya…” kata ibuku seraya mengusap rambut coklat kepiranganku dengan lembut. Aku menghela nafas. “Aku tau, bu.” jawabku sembari bangun dan mengambil tas.

“Sampai jumpa, ayah… Sampai jumpa, bu…” kataku seraya keluar rumah dan memasuki mobil sport bewarna putih yang tentu saja kepunyaanku sendiri. Mobil ini adalah hadiah yang diberikan ayah di hari kelulusan SMP-ku. Aku menekan gas dengan kecepatan penuh dan mobilku pun melaju dengan pesat menuju sekolahku yang baru. Ya, ini adalah hari pertamaku di SMA. Aku memarkir mobilku di parkiran sekolah dan mulai berjalan ke kelasku. Sekolahku memang baru, namun tidak jauh berbeda dengan SMP-ku yang dulu. Mewah dan megah. Begitu sampai di kelas, aku duduk di tempat yang menurutku nyaman dan dekat dengan jendela, agar jika aku sedang bosan, aku bisa melihat keluar jendela dengan bebas. Tak lama, seseorang masuk ke kelas dan mendekatiku. “Boleh aku duduk disini?” tanya orang itu dengan dingin. Aku mengangguk dengan enggan. “Terserah padamu… Kau kan juga membayar di sekolah ini sama denganku.” kataku pelan. Ia pun duduk di sebelahku dan mulai mengambil i-pod dan menaruhnya di telinga. Setelah itu guru datang dan mulailah pelajaran yang menurutku membosankan.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas pergi ke mobilku dan berangkat ke tempat les. Suara ponsel membuatku terkejut. “Halo.” sapaku kepada orang yang menelepon. “Anya? Aku guru lesmu. Hari ini, aku tidak bisa mengajar karena ada urusan… Jadi, kelas aku liburkan dulu. Oke?” jelas guru lesku. Aku tersenyum dan meloncat kecil. “Baiklah, bu…” jawabku seraya menutup telepon. Aku langsung duduk di mobilku dan pulang ke rumah. Aku akan memberi kejutan untuk ayah dan ibu, batinku dalam hati. Setelah sampai ke rumah, aku membuka pintu rumah dan melihat ayah dan ibu tidak kelihatan di ruang tamu. Aku mencari di semua tempat, namun tetap tidak ada orang. Aha! Mungkinkah orang tuaku ada di ruang kerja?! Aku langsung melangkah menuju ruang kerja yang berada di lantai tertinggi rumahku. Dan, dugaanku benar. Mereka berada di ruang kerja. Pintu ruang kerja itu terbuka sedikit, sehingga aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Awalnya, memang aku ingin langsung masuk, namun tampaknya mereka sedang berbicara penting. Aku pun memutuskan untuk menunggu diluar. Tak sadar, aku menguping pembicaraan mereka.

“Kasian sekali anak itu. Aku tidak tega memberitahukannya bahwa orang tuanya sebenarnya telah mati, dan kita ini…kita ini bukan orang tua kandungnya. Kita hanya sahabat orang tuanya yang iba dengan statusnya yang adalah yatim piatu. Ditambah lagi, ia hilang ingatan akibat peristiwa yang pasti membuatnya syok itu.” kata ibu dengan suara lirih. Aku membulatkan mataku tak percaya. Air mataku terjatuh setetes demi setetes. “Kau benar… Aku benar-benar tidak tega. Aku sudah menyanyangi dan menganggapnya anakku sendiri. Apakah sebaiknya kita tidak memberitahukan yang sebenarnya untuk selamanya?” tanya ayah dengan pilu. “Mungkin idemu benar. Sebaiknya, kita tidak usah memberitahukannya dan anggap saja Anya memang anak kandung kita sendiri, seperti ia menganggap kita orang tua kandungnya.” lanjut ibu. Aku membuka pintu dan berjalan sempoyongan mendekati mereka. “Anya!?” teriak ayah dan ibu serempak. Bruk! Suara kedebuk terdengar dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku membuka mata dan memandang ke segala arah. Hanya warna putih yang bisa aku lihat. Aku mencoba untuk bangun, namun tubuhku terlalu lemah untuk bangun. Tak lama, orang tuaku-setidaknya yang dulu aku pikir orang tuaku-datang dan duduk di sampingku. “Anya, apakah kau sudah mendengar semuanya?” tanya ibu dengan pandangan ke bawah. “Ehm…” jawabku seraya mengangguk. “Tidak apa-apa, Anya… Anggap saja kau tidak mendengar itu dan tetap anggaplah kami orang tua kandungmu. Jangan sekali-kali mencoba untuk pergi, karena kami tidak bisa hidup tanpamu.” kata ayah sembari menggengam tanganku. Aku diam sejenak, mencoba mencerna semuanya dalam kepalaku yang masih pening. “Kenapa orang tuaku bisa dibunuh?” tanyaku penasaran. Ibu dan ayahku memandangku dengan kaget. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. “Itu…Itu karena…karena…”

“Jawab saja dengan jujur… Aku hanya ingin tau. Tolong, jangan rahasiakan apa-apa lagi dariku.” pintaku dengan wajah memohon. Mereka berdua menghela nafas berat dan akhirnya menatap mataku dengan tajam. “Orang yang membunuh orang tuamu itu adalah salah satu kelompok penjahat yang ingin melenyapkan orang dengan kekayaan berlimpah di seluruh dunia…” jelas ayah. Aku terkejut lalu terkekeh pelan. “Maksudmu…ayah dan ibuku…mempunyai ‘kekayaan berlimpah’?” tanyaku tak percaya. “Bukan hanya ayah dan ibumu…tapi juga kau, Anya!” kata ibu seraya menunjukku. “Aku!?” tanyaku dengan lebih tak percaya.

“Orang tuamu membohongi mereka dengan mengatakan bahwa kau bukan anak kandung mereka, Anya…” lanjut ibu. “Tapi…kekayaan berlimpah apa yang kumiliki? Bahkan, aku tidak tau sama sekali tentang ini.” kataku masih tak percaya. “Itu karena kau belum diberitahu mereka, tapi sekarang kekayaan berlimpah itu hilang karena kelompok itu berhasil mencurinya.” kata ayah dengan pandangan tegas. “Jangan membual…! Kalian pasti berbohong, kan? Jawab aku, kalian pasti berbohong kan?” tanyaku seraya menggoyangkan badan ayah dan ibuku. “Itu benar, Anya…” kata mereka sembari menunduk.

“Tidak…! Kalian pasti berbohong…!” teriakku dengan keras seraya menunjuk mereka berdua dengan kasar. Aku langsung mencabut infus yang tertancap pada lengan kiriku dan berlari keluar dari rumah sakit itu. Untung aku masih memakai baju seragam, batinku. Di luar sedang hujan deras. Sebenarnya, keadaanku masih tak memungkinkan untuk keluar rumah sakit apalagi hujan-hujanan seperti sekarang ini. Tapi, aku tidak memedulikannya lagi. Hati dan otakku sudah terlanjur penuh dengan kenyataan pahit yang menimpaku. Selama ini, aku berpikir aku adalah perempuan sempurna yang mempunyai kedua orang tua yang sangat baik dan hidupku sangat bahagia. Aku memang tak pernah mengingat masa laluku, tapi aku percaya itu hanya memang karena aku sudah lupa akan itu. Tak pernah sama sekali terlintas di benakku, kenyataan menyakitkan seperti ini akan menimpaku.

Aku terus berlari. Entah kemana atau sampai kapan aku akan berlari, yang penting aku ingin berlari untuk melupakan semua kenyataan ini. Hujan deras turun dengan lebih deras dan angin berhembus tak karuan. Seakan ikut meledekku. Aku terus berlari seraya terkadang berteriak tak karuan. Tak sadar, aku melewati jalan raya dan bisa melihat mobil biru sedang lewat di depanku. Aku menutup mata pasrah. Bukannya tidak bisa menghindar, namun pikiran jahat menyelimutiku untuk mengakhiri hidup yang kelam ini. Ciiiiit! Aku membuka mata dan bisa melihat mobil biru itu berhenti tepat di depanku. Hanya beberapa cm dari jarakku sekarang. Aku mengutuk diriku sendiri. Bahkan, Tuhan membiarkan aku tersiksa lebih lama? Tak lama, yang punya mobil keluar dan ia pun menarikku untuk masuk. Aku ingin melawan, namun kekuatanku tak cukup untuk melepaskan diri dari orang itu.

Ia memasukkanku ke dalam mobil dan ia sendiri pun masuk ke dalam mobil. Aku menatapnya dengan seksama, pandanganku masih tertutupi air hujan dan air mata yang membuat mataku buram. Setelah menelitinya lebih lanjut, aku pun menunjuknya seraya mengingat-ingat. “Kau…yang ada di sekolah dan duduk di sebelahku itu?” tanyaku dengan suara yang masih serak. Ia tak menjawab. Hanya diam dan berkonsentrasi menyetir. Ia memberhentikan laju mobilnya di suatu tempat dan menarikku keluar. “HEI~ Kemana kau akan membawaku?” tanyaku seraya mencoba memberontak. Namun, lagi-lagi kekuatanku terlalu kecil untuk melawan. Aku pun pasrah. Ia membawaku ke sebuah taman bunga dan menyuruhku duduk disana. Ia membawa payung dan menaruhnya diatas kepala kita dan ia pun duduk di sebelahku. Ia memberi burger dan soda yang baru saja dibelinya kepadaku. “Makanlah… Setelah makan, ceritakan semua masalahku padamu.” katanya dingin, namun santai, seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku pun menuruti semuanya dan setelah menceritakan semuanya, tak sadar air mataku tergenang lagi. Ia mengusap air mataku dengan lembut menggunakan sapu tangan krem kepunyaannya. Ia masih tersenyum, walaupun dalam wajahnya yang tampak tenang, ia nampak berkeringat dan tangannya bergetar hebat. “Sebaiknya, kita masuk ke dalam mobil, kau sudah mulai kedinginan…” anjurku kepadanya. Ia pun mengangguk dan kita langsung masuk ke dalam mobil kembali. “Maaf, aku jadi menceritakan masalahku kepadamu deh… Oh ya, namaku Anya. Namamu?” tanyaku berusaha berkenalan. “Tidak apa-apa… Hallo, Anya, namaku Nathan.” katanya dengan ramah. “Mau aku antar kemana?” tanyanya dengan hati-hati. “Ke…Ke rumahku yang dulu sajalah. Ini alamatnya…” kataku seraya memberikan secarik kertas yang sempat dituliskan orang tua-angkat-ku.

“Sampai jumpa di sekolah, Anya…” kata Nathan seraya melambaikan tangannya kearahku. “Terima kasih dan sampai jumpa juga, Nath…” balasku. Aku pun masuk ke rumah yang penuh kenangan ini. Disinilah orang tua-kandungku-dibunuh dan disinilah juga mimpi burukku dimulai. Aku membuka pintu kayu bewarna putih pucat yang kutau adalah pintu kamarku dulu. Semuanya masih sama dengan yang dulu. Semuanya nampak sama dengan mimpi dan kenangan masa lalu yang dulu sempat hilang dari ingatanku. Dan, sekarang terpaksa aku harus tinggal disini. Tidak mungkinkan aku masih tinggal di tempat orang tua-angkat-ku yang sudah aku kasari? Aku pun mencoba tidur di tempat tidur lamaku. Tak kuhiraukan seragam dan seluruh tubuhku yang basah. Yang kubutuhkan hanya satu. Tidur. Dan berharap bahwa peristiwa ini hanya satu dari semua bunga tidurku.

Aku membuka mata dan memandang ke segala arah. Sial! Aku tidak bermimpi. Ini semua nyata. Bisa kurasakan seragamku yang sudah berbau aneh akibat terkena hujan dan dipakai seharian olehku. Bisa kurasakan pula rambut dan segala tubuhku yang sudah lengket. Aku memutuskan untuk bangun dan mulai mandi. Sempat aku bertanya-tanya, bagaimana caranya aku mandi jika aku tidak punya peralatan mandi, handuk, dan baju selain seragam yang kupakai ini? Dan, bagaimana aku bisa sekolah jika aku tidak punya seragam lain selain ini? Tidak mungkinkan aku masih memakai seragam ini ke sekolah? Namun, semua pertanyaanku terjawab saat melihat sebuah tas koper besar yang berisi semua peralatan yang kubutuhkan. Di bawah koper itu, tertulis sebuah note kecil bewarna putih yang ditulis dengan rapi.

To : Anya

Aku sudah tau, kau pasti akan kebingungan kan mengenai semua peralatanmu?
Makanya, aku memberimu ini. Semoga bermanfaat dan maaf jika ukurannya terlalu kecil atau besar.
Aku sama sekali tidak mengetahui ukuran dan seleramu.
Sampai ketemu di sekolah,

-Nathan-

Aku tersenyum melihat note itu. Setidaknya, aku masih bisa bersyukur pada Tuhan. Aku sudah diberikan teman sebaik ini disaat keterpurukanku melanda. Aku langsung bergegas mandi dan mulai makan dari fastfood yang juga diberikannya kepadaku dalam koper ini. Aku bertekad, aku akan mencari kerja dan mengambil semua tabungan sisa sakuku yang ada di bank pulang sekolah nanti. Untung ukuran seragamnya sangat pas denganku. Aku langsung keluar rumah dan mulai berangkat ke sekolah. Aku masih bersyukur, karena saat kabur, aku masih membawa tas dan semua buku pelajaranku yang ada di tas, jadi aku tidak usah membeli yang baru. Sebenarnya, bukannya aku marah kepada orang tua-angkat-ku dan memutuskan untuk pindah kesini karena ngambek, aku hanya merasa bersalah. Mereka sudah susah payah membiayaiku hingga saat ini, tapi aku malah membentak mereka dan kabur seenaknya.

Saat sedang ada di perjalanan, suara klakson mobil mengejutkanku. Turun orang dari mobil biru yang kukenal dan menarikku ke mobil. “Apakah bakatmu itu menarik orang ke mobil semaumu?” tanyaku seraya cemberut dibalas kekehan Nathan. “Kalau aku tidak menarikmu, kau tidak akan mau kan?” balasnya sembari mengacak-ngacak rambutku. “Terima kasih ya, Nath… Tanpamu, aku tidak tau lagi mau bagaimana. Mungkin sekarang aku sudah jadi gelandangan di jalan dan tidak akan bisa lagi pergi ke sekolah…” kataku seraya menunduk. “Sssstttt… Jangan katakan itu lagi. Yang penting kan sekarang kau sudah bisa bersekolah.” katanya sembari tersenyum manis. “Lagipula ini semua juga salahku.” bisiknya yang tak bisa kudengar. “Apa yang kau bilang tadi?” tanyaku. “Tidak… Aku bilang, kita sudah sampai ke sekolah.” jawabnya mengelak yang kupercaya.

Kita pun masuk ke dalam kelas dan semakin lama, kami berdua menjadi lebih akrab satu sama lainnya. Aku sudah diterima kerja di salah satu cafe untuk menjadi pelayan dan masa lalu kelamku pun sedikit demi sedikit tak kupikirkan. Dengan pekerjaanku sekarang dan Nathan yang ada di sampingku, aku tidak akan kesusahan dan menderita lagi. Biarkan masa lalu kelamku jadi kenangan pahit yang sudah lampau. Walaupun, tetap aku masih menaruh dendam pada pembunuh orang tua-kandung-ku. Hari ini, seperti biasa aku diantar Nathan pulang ke rumah. “Sampai jumpa di sekolah, Anya!” katanya seraya melambai-lambaikan tangannya. “Sampai jumpa, Nath…!” balasku sembari masuk ke rumah. Saat mendekati pintu, tampak sebuah surat beramplop polos dan ada tepat di bawah pintu.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil surat itu dan membawanya masuk ke rumah. Setelah selesai berganti baju, aku memutuskan untuk duduk di ruang tamu yang didominasi warna biru laut. Aku memperhatikan amplop polos yang sedang ada digenggamanku. Siapa yang mengirim ini ya? Apakah tak apa jika aku membuka surat ini? Sudahlah, buka saja. Tak ada salahnya kan? Aku pun mulai membukanya. Tampak kertas yang berisi tulisan yang acak-acakan, namun masih dapat terbaca dengan jelas olehku. Kertas itu bewarna putih susu dengan kotoran dan debu yang terdapat di sekitar kertas itu. Aku membersihkannya terlebih dahulu, kemudian membacanya.

To : Anya

Kau pasti masih dendam kan dengan pembunuh orang tuamu?
Baiklah, akan kuberitahu siapa saja dua pembunuh itu.
Yang pertama adalah Edward, pria yang lebih tua dan sangat jangkung.
Sekarang, ia sudah meninggal dan makamnya ada di Seattle, USA.
Yang lebih muda bernama Stephan, sekarang ia ada di kota dimana kamu berasal.
Ia sudah berumur 59 tahun sekarang. Dan, kau tau?
Anaknya bersekolah sama dengan tempatmu bersekolah dan sekelas denganmu.
Namanya Nathan.

N.B : Kami tau dimana kamu berada. Sebaiknya, kau cepat kembali pada kami, Anya… Kami sangat merindukanmu dan takkan bisa hidup tanpamu.

From : Orang tua-angkat-mu

Aku membulatkan mataku tak percaya. Nathan…adalah putra dari pembunuh orang tuaku? Jadi, selama ini ia baik dan selalu membantuku semata-mata hanya ingin menebus semua dosa dan rasa bersalahnya padaku? Air mata kembali merembes dari mataku yang masih membulat. Aku bingung dengan ini semua. Sangat bingung. Apakah aku harus percaya orang tuaku? Atau pada Nathan? Semua ini terasa berat di kepalaku. Kenapa disaat aku sudah bahagia, kau harus memberikan cobaan lagi, ya Tuhan!? Aku menjambak rambutku sendiri karena frustasi dengan semua masalah yang tak ada habisnya ini.

Esoknya di depan rumah, Nathan mengantarku ke sekolah seperti biasa. “Pagi, Anya…” sapanya seraya tersenyum sangat ceria. Membuatku lebih pusing. Apakah aku harus percaya padanya…atau pada orang tuaku? Aku langsung masuk ke mobilnya tanpa membalas sapaannya. “Kau sedang sakit?” tanyanya sembari memeriksa keningku. Aku langsung menepis tangannya dan menggeleng pelan, tanpa menimbulkan ekspresi apapun. “Lalu kenapa kau diam begitu, Anya? Ayolah, jika kau punya masalah, ceritakanlah padaku.” katanya dengan nada khawatir. “Aku tidak perlu menceritakannya padamu.” kataku tegas dan dingin.

“Tapi, kenapa? Anya, ayolah!” katanya dengan cemberut. “Karena masalahnya ada padamu dan aku yakin kau sudah tau akan masalahku…!” teriaknya dengan keras. “Apa maksudmu, Anya?” tanyanya kebingungan. “Alasanmu selalu baik dan membantuku hanya karena kau merasa bersalah padaku, kan? Itu semua karena ayahmu telah membunuh ayahku kan?!” tanyaku setengah berteriak. Ekspresi wajahnya berubah dan menjadi kaget sekaligus pucat. Ia mendesah nafas berat, kemudian menatapku dengan pandangan dalam. “Awalnya memang seperti itu, tapi…tapi aku sadar bahwa aku sudah mencintaimu dan aku sangat sayang padamu. Jadi, aku sama sekali tak mempermasalahkan hal itu lagi. Kumohon maafkan aku, Anya.” katanya dengan nada menyesal.

“Berarti benar kan? Terima kasih dan selamat tinggal, Nathan…” kataku tegas seraya keluar dari mobilnya dan bergegas ke rumah orang tua-angkat-ku. “Anya! Please, maafkan aku… Aku sangat mencintaimu, Anya~” teriaknya sembari mengejarku. Ia memegang tanganku dan membuatku membalik menatapnya. Tiba-tiba, ia berlutut. Aku ingin pergi darinya, namun sebuah pemandangan tak biasa mampir di mataku. Ia menangis? Aku bisa melihat tetes-tetes air mata turun dari matanya dan membekas ke aspal yang panas. “Maafkan aku, Anya… Perihal ayahku, ia juga hanya disuruh. Waktu itu keadaan keluargaku sedang kacau. Mau tak mau, ayah harus mengambil pekerjaan ini. Jika tidak, kita sekeluarga akan mati. Aku juga baru diceritakan oleh ayahku belakangan ini, setelah ia melihat kau ada di kelasku juga dan bahkan duduk satu bangku denganku. Maafkan aku, Anya…” jelasnya sembari berlutut memohon padaku.

Aku tak menjawab atau merespon. Aku hanya membantunya berdiri dan menghapus air matanya. Memang hatiku merasa sangat sakit, tapi tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku harus melupakan semua dendamku dan mencoba memaafkannya. “Ayo berangkat ke sekolah…!” seruku seraya tersenyum dan masuk ke mobil. “Itu artinya…kau sudah memaafkanku?” tanya Nathan dengan wajah sangat ceria. “Hapus air matamu atau teman sekelas akan meledekmu, Nath.” kataku mengalihkan pembicaraan. “Aku anggap dengan ‘iya’… Terima kasih, Anya!” katanya sembari memelukku dengan erat. “Dasar GR…!” umpatku seraya memukul kepalanya pelan. “Sakit tau!” teriaknya sembari mengusap kepalanya.
“Hahahahahahahahahahahaha~”

~The End~