Full of inspiration and story

Author Archive

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Five)

“Ini…”

Pemuda itu terkaget, menunjuk tempat dimana ia berpijak. Membuat seseorang lagi tersenyum ringan. “Ini adalah dimensi yang dibuat sendiri oleh Sihyun-sunbaenim. Indah, bukan? Aku masih ingat saat pertama kali sunbae mengenalkan tempat ini padaku. Dulu aku masih amat kecil.”

Orang itu tersenyum manis kepada pemuda di sebelahnya. “Ta-tapi, bukannya Sihyun itu sudah mati berpuluh-puluh abad yang lalu? Bagaimana… bisa?” Pemuda tersebut membuka matanya lebar-lebar, sontak membuat orang di sebelahnya kembali menyunggingkan senyum. “Aneh, bukan? Ini mungkin tidak masuk akal, tetapi walaupun 4 Ksatria Agung itu menghilang selama berpuluh-puluh abad ini, mereka masih belum dikatakan ‘mati’, dan tak ada yang bisa menyangkal hal itu.”

“Mereka belum… mati? Lalu, dimana mereka? Jika mereka belum mati, bukankah seharusnya mereka yang menjaga dunia ini?”

Sungmin—orang itu memutar bola matanya. “Ah, kau benar. Mereka memang sedang melakukannya, Kyu-ssi.” Pemuda itu terbelalak. “Sedang melakukannya?! Tapi, dimana mereka?” Sungmin kembali tersenyum, perlahan maju dan menyentuh tubuh Kyuhyun. “Mereka ada di jiwamu, dan juga jiwa teman-temanmu. Mereka turut andil bersama kalian.”

Kyuhyun mendengus, sedikit kecewa dengan ucapan Sungmin barusan. “Sekarang, marilah kita mulai pelajaran kita. Misimu sangat mudah. Cobalah keluar dari dimensi ini dan kembalilah ke tempat semula. Kau harus keluar dari dimensi ini sebelum matahari terbit, arasso?”

Orang itu bergegas melangkah. “Tunggu! Apa yang harus kulakukan untuk kembali? Dan apa yang akan terjadi jika aku terlambat?”

“Untuk kembali, kau harus mengaktifkan kemampuan pikiranmu. Dan jika kau terlambat, maka nasibmu akan sama dengan ini.” Sungmin mengangkat tangannya. Seekor burung entah darimana hinggap ke kepalan tangannya. Tak lama, dalam telapak tangannya muncul kobaran api, sontak membuat burung tak berdaya itu terbakar sempurna.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar. Sungmin tersenyum—yang lebih tampak sebagai seringai—dan akhirnya menjentikkan jarinya, langsung menghilang entah kemana.

+++

Donghae terus berjalan, tanpa tau kemana atau dimana dia berada. Perkataan Youngwoon masih terngiang-ngiang dalam kepalanya.

“Dalam jangka waktu hingga matahari terbit, kau sudah harus kembali ke tempatmu semula di ruang rahasia kita. Jika tidak, kau akan tau sendiri apa yang akan kau terima. Temukanlah semuanya dengan kekuatanmu.”

“Kekuatan? Tadi, katanya kekuatanku adalah penyerang. Jadi, aku harus menyerang? Tetapi, menyerang siapa?”

Dia terus berjalan. Masih banyak misteri yang mengerubungi kepalanya, namun ia memilih diam dan terus melangkah. Anehnya, rasa kantuk, lapar, atau lelah sama sekali tidak ditemui selama perjalanan. Tak sadar, langit sudah berubah gelap. “Kau ada disini?”

Suara seseorang hampir saja membuatnya terkaget. “Kibum? Kau ada disini? Kupikir… kita dikirim ke dimensi berbeda?”

Orang itu—Kibum mengangguk. “Aku juga berpikir begitu.”

“Kalian ada disini?!”

Mereka berdua menoleh, bisa melihat Siwon dan Kyuhyun melangkah mendekat. “Kalian ada disini juga?” Donghae menatap mereka bingung. “Jika kita berada pada dimensi yang sama, kenapa kita dikirim secara terpisah?” Ia melanjutkan. Siwon, Kyuhyun, dan Kibum mengangkat bahunya, juga tidak mengerti. “Lebih baik kita ke air terjun sebelah situ!”

Kibum menyarankan, dibalas anggukan Kyuhyun, Donghae, dan Siwon. Setelah sampai, mereka tertegun. Air terjun tersebut sangat dalam. Jika salah satu dari mereka jatuh, maka akan dipastikan tidak selamat.

“Aku punya ide! Bagaimana jika kita bermain sebuah game.”

Donghae menaikkan alis. “Game?”

“Yap! Kita harus saling menjatuhkan ke dalam air terjun. Siapa yang bisa menjatuhkan lawan ke air terjun, maka dialah pemenangnya.” Kyuhyun menjelaskan, membuat Donghae semakin menaikkan alis. “Boleh!” Kibum dan Siwon menjawab bersamaan.

“Apakah kalian gila?! Siapa yang terjatuh ke air terjun itu akan mati. Lebih baik kita mencari cara agar bisa pulang sebelum matahari terbit.” Donghae menyarankan, namun mereka bertiga tetap di tempat. “Ayolah, ini kan hanya permainan.” Siwon menyeringai seraya melangkah menuju Donghae.

Kibum, Siwon, dan Kyuhyun menarik Donghae dan mendorongnya tepat ke air terjun. “A-pa yang ka-kalian lakukan?!” Ia berteriak dan mengeluarkan seluruh tenaganya, membuat ketiga temannya terlempar ke belakang.

“Apa kalian telah dirasuki sesuatu?! Sadarlah!”

Donghae berbicara. Perlahan Kibum, Kyuhyun, dan Siwon kembali bangun dan tersenyum riang. “Kita… masih bermain kan?”

Mereka bertiga kembali mendorong Donghae, membuatnya kembali memekik. Seluruh tubuhnya hampir terlempar, sebelum ia merasakan aura aneh keluar dari tubuhnya. Aura aneh yang mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya, membuatnya merasakan kekuatan yang berbeda dari biasa. Seketika itulah, kekuatannya memuncak dan dengan sekali hentakan, ketiga temannya terjatuh ke air terjun.

Perlahan aura itu kembali memudar. Donghae menatap air terjun itu dengan dalam. “Apakah aku baru… membunuh ketiga temanku?”

Dia melanjutkan langkahnya dengan terseok-seok, tak percaya akan apa yang baru saja dia alami. “Good job, Lee Donghae! Sekarang, masuklah ke dalam tabung yang ada persis di depanku. Tabung itulah yang akan membawamu kembali.”

Sebuah suara membuatnya terkejut. Ia menengok ke segala arah, namun tampaknya suara itu tidak ada sumbernya. Dengan cepat, ia pun berlari kearah tabung itu, memikirkan apa yang akan dia jelaskan kepada para orang itu bahwa ia telah membunuh ketiga temannya.

Rasa pusing kembali terjadi saat ia berada dalam tabung. Hingga akhirnya, ia kembali ke ruang rahasia itu. “Bravo, Lee Donghae! Kau berhasil mengaktifkan kekuatanmu!” Jungsoo langsung tersenyum ceria. Begitu pun Youngwoon, Jongwoon, dan Sungmin. Donghae hanya mengangguk, kemudian meneguk ludah.

“Ada apa? Kau tampak tidak senang.”

“Aku… aku telah membunuh Kibum, Kyuhyun, dan Siwon. Aku benar-benar tak sengaja. Sungguh! Kekuatan itu yang membuatku tidak sadar dan. . .”

Sebelum Donghae berbicara, Youngwoon menempatkan jarinya, menyuruh Donghae diam. “Maksudmu, ini?” Sungmin menutup matanya, dan tiga orang muncul seketika di depannya. “Siwon, Kyuhyun, dan Kibum?!” Donghae menunjuk tiga orang itu. Lalu, Sungmin membuka matanya dan seketika tiga orang itu menghilang.

“Apa itu?” Sungmin tersenyum kecil. “Itu adalah replika visual teman-temanmu. Terbentuk dari pikiran-pikiran.” Donghae menyipitkan matanya. “Jadi, yang tadi melawanku… adalah replika visual?”

“Benar!” Kyuhyun tersenyum sembari keluar dari tabung. “Tapi, kenapa kau sudah tau, Kyu-ah?” Donghae bertanya, bingung. “Karena aku juga tipe pemikir, dan sekarang aku juga sudah tau bagaimana membuat replika visual itu.” Kyuhyun menutup mata dan munculah replika seekor harimau. Ingin menyerang Donghae. Donghae memekik, dan kemudian meninju harimau itu, membuatnya jatuh dan menghilang.

“Wuahh! Kekuatanmu keren!” Kyuhyun terpana, saat Donghae menggunakan kekuatannya. “Kalian… ada disini? Jadi, yang ada di dimensi itu. . .” Siwon dan Kibum keluar bersamaan dari tabung, terkejut. Sontak membuat Kyuhyun dan Donghae tertawa, kembali menjelaskan semuanya.

“Aku masih tak percaya mereka itu akan menyelamatkan dunia.” Youngwoon berbicara, masih menatap keempat pemuda tersebut. “Tapi, mereka benar-benar reinkarnasi 4 ksatria itu. Kita belajar kekuatan selama bertahun-tahun, tetapi mereka bahkan hanya dalam waktu kurang dari sehari! Luar biasa.”

“Kita lihat saja nanti apa mereka memang bisa.” Sungmin melanjutkan, tersenyum kecil.

*To Be Continue~

@All : Kali ini rada pendek… Tapi tetep komen ya~ ^^ Gomawo~~~

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Four)

Sinar mentari menembus jendela, membuat cahaya berpendar yang membuat keempat lelaki berusia belasan tahun itu terbangun. Kyuhyun—yang terbiasa bangun pagi, mulai bangkit duluan dan mengusap matanya. Tak lama, ketiga teman barunya mulai bangun pula dengan rasa malas. “Jam berapa ini?” Donghae bertanya, seraya menguap malas.

“5.30.” Kyuhyun menjawab dengan santai. Namun Donghae, Siwon, dan Kibum seketika membesarkan mata mereka. “Masih jam 5.30?! Pagi sekali!” Kibum berteriak kecil sembari mulai berbaring kembali. “Lebih baik aku tidur lagi.” Siwon melanjutkan, dibalas anggukan Donghae dan Kibum. “Andwae! 3 orang itu menulis catatan untuk kita agar siap pada jam 5.35 untuk sarapan.”

Mereka bertiga kembali bangun. “Aishh! Apa tidak bisa ia memberikan waktu santai kepada kita sebelum perlawanan besar-besaran itu?”

Kyuhyun membuka pintu dan mereka semua keluar dari kamar itu. Melangkah pelan hingga ke ruang makan. Disana sudah ada 3 orang itu. Sedang asyik sarapan sembari berbincang bersama. “Kalian sudah datang?” Jungsoo bertanya, membuat mereka semua terkaget. Karena bahkan, orang itu belum melihat mereka sama sekali.

“Silahkan duduk.” Jongwoon menggerakan tangannya dan membuat keempat kursi terbuka, siap untuk diduduki. Mereka kembali terkejut. Bagaimana orang itu menggerakan kursi hanya dengan tangan?

Setelah duduk, mereka bisa melihat piring sudah tersedia di depan mereka. Seluruh lauk pauk beterbangan dan seketika sudah berada di piring masing-masing. “Cho Kyuhyun tidak suka sayuran.” Youngwoon berucap kepada Jongwoon, membuatnya menggerakan tangannya lagi. Kali ini sayur itu diarahkannya ke piring Donghae, yang memang sangat suka sayuran. Membuat mereka malah tidak makan. Hanya memandangi piring dan ke-3 orang itu secara bergantian.

“Masih banyak hal di dunia ini yang tidak kalian ketahui.” Jungsoo berbicara, seakan mengetahui pikiran mereka. Atau ia memang mengetahuinya? Entahlah. Yang penting, ini semua benar-benar terasa aneh bagi mereka berempat. “Tunggu apa lagi? Ayo makan!” Youngwoon melanjutkan, membuat yang lain mengangguk.

“Tenang, tidak akan ada racun lagi.” Jongwoon berucap, kembali menjawab pertanyaan mereka berempat dalam hati. Mereka pun mulai makan, walaupun mereka masih sangat tidak percaya dengan ini semua. Setelah selesai, Jungsoo bangkit dari kursinya, mengambil cawan berisi air dan menaruh tangannya di dalam cawan tersebut. Ia membasuh luka di leher Donghae dan kaki Siwon dengan sekali cipratan. Dan keajaiban kembali terjadi. Luka itu hilang tak berbekas.

Berhasil membuat mereka berempat melebarkan mulut secara sempurna. “Kalau sudah makan, lebih baik kalian ikut kami.” Youngwoon bergumam sembari melangkah keluar ruang makan. Diikuti Jongwoon dan Jungsoo. Mereka berempat mengangguk, masih setengah kaget dengan apa yang baru mereka lihat.

Jungsoo menyentuh sebuah tembok diantara ruang makan dan ruang yang entah apa namanya, hingga akhirnya tembok itu terbelah dan munculah sebuah ruang di dalamnya. Berhasil membuat mereka kembali membuka mata dan mulut mereka lebar-lebar.

Di dalam ruang tersebut, terdapat banyak sekali benda misterius, yang bahkan sama sekali mereka tak pernah lihat sebelumnya. Saat mereka semua sudah masuk, tembok yang terbelah tersebut kembali tertutup rapat, seakan tak pernah terbuka sebelumnya. Rapat tanpa bekas patahan atau belahan. “Ini masih terlalu dini untuk kalian terkejut seperti itu.” Jongwoon berucap, membuat mereka terdiam.

“Masih banyak hal di dunia ini yang seratus juta kali lebih misterius dan aneh daripada tembok itu, atau sekedar cawan berisi air yang bisa menyembuhkan luka tersebut. Hanya saja manusia biasa seperti kalian yang bahkan tinggal di dunia ini sejak lama, dibiarkan buta dan tuli terhadap semua keajaiban yang ada di dunia ini.” Jungsoo menjelaskan. Kyuhyun melangkah. “Tapi… kenapa kita—maksudku manusia biasa, dibiarkan tuli dan buta?”

Youngwoon tersenyum, lalu menatap mereka. “Karena menurut siapapun yang menciptakan dunia ini, manusia biasa belum mempunyai tanggung jawab yang pantas untuk menikmati semua keajaiban ini.”

“Kalau begitu… kami pantas?” Kibum bertanya dengan hati-hati. Jongwoon terkekeh pelan. “Karena kalian bukan manusia biasa, kami tidak tau itu.”

“Bukan… manusia biasa?” Siwon bertanya, melanjutkan pertanyaan Kibum. Youngwoon mendengus. “Bukankah kemarin kami sudah menjelaskan bahwa kalian itu reinkarnasi dari keempat ksatria terhebat sepanjang masa?”

Donghae terpaku. “Bagaimana… kalau kami orang yang salah?”

“Kalian meragukanku? Aku yakin penelitianku selama berpuluh-puluh tahun ini tidak salah.” Jungsoo berbicara, membuat keadaan menjadi hening.

“Tapi… bagaimana kalau seandainya kau salah?” Kyuhyun bertanya pelan. Jungsoo, Jongwoon, dan Youngwoon tersenyum, meskipun lebih terlihat seperti menyeringai. “Maka kalian tetap harus berjuang, karena bagaimanapun semua tanggung jawab penduduk bumi ada di tangan kalian… mulai sekarang.”

Mereka menelan ludah saat mendengar ucapan terakhir dari Jongwoon. “Lebih baik kita ke ruang rapat. Sebelah sini.” Jungsoo mencairkan suasana dan mempersilahkan mereka duduk. “Karena lawan yang akan kalian hadapi adalah lawan yang sangat hebat dalam sejarah, maka kalian harus dilatih secepat dan sehebat mungkin—bahkan harus melebihi kami.”

“Bagaimana caranya?” Kibum bertanya, sedikit ada rasa keraguan dalam nada bicaranya. “Pada dasarnya, kalian sudah mempunyai kekuatan kalian sendiri. Kami hanya akan mengembangkannya sejauh mungkin.” Jongwoon berucap. “Kekuatan?”

Youngwoon mengangguk. “Tentu saja. Kemarin sudah kubilang bukan jika kalian punya kekuatan kalian masing-masing? Bahkan, pada dasarnya semua manusia sudah mempunyai kekuatan masing-masing. Hanya saja mereka tidak tau kekuatan mereka sendiri dan tidak bisa mengembangkannya.”

Jungsoo maju satu langkah dan tersenyum pada mereka. “Donghae, kau adalah tipe penyerang. Dan Youngwoon akan mengajarimu.”

Donghae meneguk ludahnya, menatap Youngwoon yang juga sedang menatapnya. “Ayo, kita mulai!” Youngwoon mulai melangkah menuju sebuah tabung bewarna merah, dan Donghae mengikutinya. Mereka berdua masuk ke tabung tersebut dan menghilang. “Kemana… mereka?” Kibum bertanya pelan. Kyuhyun dan Siwon juga menatap Jungsoo dan Jongwoon, mempunyai rasa penasaran yang sama.

“Ke dimensi lain. Dimensi yang akan membuat latihan kalian menjadi lebih mudah.” Jongwoon menjawab. “Sekarang Siwon? Kau adalah tipe pengontrol. Dan Jongwoon akan membantumu.” Jongwoon langsung berjalan menuju tabung bewarna biru. Siwon melangkah pelan dan memasuki tabung itu. Dan, blshh! Mereka juga menghilang, seakan ditelan bumi secara tiba-tiba.

“Kibum, kau adalah tipe perencana. Dan aku yang akan membantumu.” Jungsoo melangkah menuju depan tabung bewarna kuning, kemudian berbalik. “Untuk Kyuhyun, kau adalah tipe pemikir, dan seseorang dari negeri seberang akan membantu.” Jungsoo berucap cepat, sembari mempersilahkan Kibum masuk ke tabung itu. Dan—mereka juga hilang.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke segala arah. “Seseorang dari negeri seberang? Siapa itu?” Ia berucap pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku—orangnya.” Seseorang tiba-tiba muncul di depan Kyu, membuatnya hampir terkena serangan jantung. “Kau…?”

Orang itu tersenyum. “Kenalkan, namaku Sungmin dan aku akan membantumu.” Ia melangkah santai ke tabung yang terletak paling pojok, bewarna putih. Kyuhyun mengangguk dan blshhh! Ratusan burung seakan menghujaninya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, dan ketika membuka mata, ia terpekik ringan.

“Ini?”

 

+++

 

Donghae membuka mata dan secercah sinar menyambutnya. Dia menolehkan pandangannya kepada Youngwoon yang berdiri tegak di sampingnya, seakan tidak ikut terbawa oleh tabung misterius itu. “Bagaimana? Inilah dimensi yang kupakai untuk latihan hingga sekarang.” Youngwoon berucap, menyunggingkan senyum. Mungkin senyum tulus pertama yang ia keluarkan.

 

+++

 

Jongwoon bersenandung riang. Tersenyum pada Siwon yang sedang membuka matanya lebar-lebar. “Ini… tempat apa?” Jongwoon kembali tersenyum dan menepuk bahu Siwon. “Tempat yang paling menyenangkan… tentu saja menurutku.” Siwon menatapnya aneh, namun Jongwoon hanya terkekeh ringan, kembali menyandungkan lagu ceria yang jujur saja sangat merdu.

 

+++

 

Dua orang itu berdiri. Salah satu diantaranya mematung. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia melihat sesuatu seperti ini. “Apa… ini?” Jungsoo tertawa. “Itu juga yang aku katakan saat berada tepat di posisimu.” Ia berjalan pelan dan melirik ke kanan dan kiri. “Siapa yang menciptakan dimensi seperti ini?”

Jungsoo kembali tersenyum. “Tentu saja dimensi ini adalah buatan reinkarnasimu. Empat orang terhebat dalam sejarah dunia.”

 

*To Be Continue~

 

Fanfiction : ~Heart~ [Chapter Three] {END}

[Chapter Three – End… Or Start?]

 

“Ada apa, Kyu-ya? Tak biasanya kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Apalagi di tempat seperti ini.” Yesung datang sembari tersenyum dan menepuk bahu Kyuhyun. Namun orang yang ditanya tak menjawab. Malah menatap Yesung dengan tatapan ganas. Ia melangkah dan menarik kerah seragam Yesung, membuat tas yang sedang dipegang mereka berdua terjatuh.

Tarikan kerah itu sangat besar, hingga kaki Yesung bahkan tidak menyentuh tanah. “Apa… mau… mu… Kyu… hyun?” Yesung bertanya dengan kesusahan. Suaranya serak. Ia mulai kehilangan oksigen. Namun, Kyuhyun hanya terdiam. Kemarahannya sudah berada di tingkat terparah, dan tak ada yang bisa menghentikannya.

“Kyu-ya!!! Apa yang kau lakukan??!!”

Kyuhyun menoleh dan bisa melihat Jiyoon sedang berlari. Reflek Kyuhyun melepas kerah Yesung, membuatnya terjatuh. Jiyoon langsung memeluk Yesung yang mulai tak sadarkan diri. Ia menangis. “Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?!”

Kyuhyun terdiam melihat adegan itu. “Jawab aku, Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan kepada kakakku?!”

Pertanyaan terakhir yang diajukan Jiyoon sontak membuat hati Kyuhyun mencelos. “Ka… kakak?” Jiyoon berdiri dan menampar Kyuhyun dengan keras. “Dia adalah kakak kembar dan saudara satu-satunya yang kupunya, tapi kenapa?! Kenapa kau lakukan ini??!!”

“Kakak… kembar?” Ingin rasanya, ia memukul dirinya sendiri dengan keras. Jadi, ini semua—hanya salah paham? Yesung adalah kakak kembar dari Jiyoon? Seketika itu juga, ia langsung mengangkat Yesung ke ruang kesehatan. Jiyoon hanya bisa mengikutinya dengan bingung. Yesung tidak apa-apa. Namun, ia masih tak sadarkan diri. Kyuhyun dan Jiyoon menunggu di ruangannya dengan diam.

“Apa kau sudah gila, Kyu-ya?! Kau yang menyakiti Yesung, dan sekarang kau yang ingin dia sembuh? Dan kenapa kau ingin menyakiti kakakku? Apa dia punya salah kepadamu?” Jiyoon sudah berusaha mengontrol amarahnya.

Kyuhyun menunduk. “Ini semua… salah paham. Aku pikir… Yesung adalah… pacarmu.”

“Pacarku? Tapi jika Yesung adalah pacarku, memang kenapa? Apa hubungannya denganmu?”, tanya Jiyoon, semakin bingung dengan apa yang ada dalam pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan berusaha menatap Jiyoon dengan pandangan dalam. “Karena… karena… aku… menci—”

“Kenapa kita disini?” Yesung bertanya pelan, membuat Jiyoon yang tadinya mendengar Kyuhyun menjadi terlonjak dan langsung memeluk Yesung. Kyuhyun hanya bisa berhenti meneruskan kata-katanya. “Kau tidak kenapa-napa kan?” Jiyoon masih memeluk Yesung dengan penuh kasih sayang. Membuat Yesung tersenyum. “Tentu saja tidak.”

“Maafkan… aku, Yesung-ah. Aku—”

Yesung tersenyum dan memotong Kyuhyun. “Gwenchana. Aku sudah tau semua permasalahannya.”, jawabnya santai. Kyuhyun hanya bisa menunduk. Hatinya merasakan campuran antara rasa bersalah dan rasa malu. “Kalian lanjutkan pembicaraan kalian saja. Aku akan pulang ke rumah duluan.”

Jiyoon menahan tangan Yesung. “Apa benar kau tidak apa-apa, oppa? Dan… bukankah kita punya janji?” Yesung tersenyum. “Tentu saja tidak apa-apa, Jiyoonnie. Janjinya kita batalkan saja. Aku sedikit merasa pusing. Ok? Kyu-ya, jaga dia. Jangan pulang malam-malam ya? Sampai jumpa~”

Ia berkata sembari mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum misterius kepada Kyuhyun. Sebelum pulang, Yesung membisikan sesuatu kepada Kyuhyun.

“Fighting, calon adik iparku!”

Entah mengapa, itu membuat Kyuhyun sedikit merasa geli. Mereka tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya Yesung keluar dari ruang kesehatan dan pulang ke rumah. Sekarang hanya ada Kyuhyun dan Jiyoon. “Tadi kau berkata apa, Kyuhyun-ya?”

“Emm… Itu—”

*^*

Soora perlahan bangun. Sinar matahari yang menembus kaca jendela kamarnya membuatnya sedikit silau. Ia menoleh saat akhirnya melihat seorang pria sedang tertidur dengan damai di sebelahnya. Posisinya sedang duduk, namun kepalanya menyender pada kasur Soora.

Tak sadar, ia mengelus rambut pria itu. Ia baru menyadari betapa tampannya pria ini, apalagi saat disinari matahari. Tak lama, pria itu bangun dan menggosok matanya. “Soora-ah. Sudah sembuh?”, tanyanya sembari menaruh tangannya ke kening Soora.

“Semalaman kau disini?” Soora bertanya. Donghae mengangguk sembari tersenyum. “Dan usahaku tidak sia-sia. Buktinya sekarang kau sudah sembuh.” Donghae menjawab dengan bangga. Membuat Soora tersenyum. “Gomawoyo, Hae-ah. Kau sangat perhatian kepadaku. Seandainya saja, Kyuhyun sepertimu.” Soora berucap pelan, membuat Donghae kembali cemberut.

“Bisa tidak sih jangan bicarakan Kyuhyun lagi?! Aku sudah muak. Hampir setiap hari yang kau bicarakan hanya Kyuhyun dan Kyuhyun. Dia tidak mencintaimu! Dia tidak pernah berbuat baik padamu! Dia juga tidak pernah menganggapmu! Aku yang selalu mencintaimu. Aku yang selalu baik padamu. Dan aku yang selalu menganggapmu, bahkan disaat suka dan duka. Tapi kenapa hanya dia yang kau pikirkan?!”

Perkataan Donghae membuat Soora tersentak. Donghae langsung pergi, meninggalkan Soora yang membeku. Ia menangis. Sialnya, semua yang dikatakan Donghae tidak pernah salah, dan ia tau itu. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

*^*

“Saranghae, Park Jiyoon.”

Perkataan itu akhirnya berhasil diucapkan Kyuhyun. Jiyoon terbelalak. Menunjuk Kyuhyun dan dirinya sendiri dengan tak percaya.

“. . .”

“Kau tidak menerimaku?” Kyuhyun bertanya, melihat Jiyoon yang malah diam. “Bukan begitu, Kyu.” Ia menjawab cepat. “Kalau begitu, jawablah dengan iya atau tidak.” Kyuhyun berucap. Ia begitu gugup hingga tidak bisa merasakan kepalanya sendiri. Jiyoon perlahan mengangguk. Membuat Kyuhyun yang gantian terbelalak. “Jinjja, Park Jiyoon?!”

Jiyoon mengangguk. “Jinjja, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun memeluk Jiyoon dengan erat. Mereka berdua tersenyum bahagia. “Misi berhasil!” Yesung berbisik, bersembunyi dan mengintip mereka berdua.

“Ayo!”

“Kemana?”, tanya Jiyoon bingung. “Kita harus melaksanakan kencan pertama kita!” Kyuhyun menjawab sembari menggenggam tangan Jiyoon, membawanya ke sebuah tempat.

*^*

Soora terdiam dan berpikir. Lalu, akhirnya ia mengambil keputusan dan berlari. “Donghae, tunggu aku!” Ia berteriak. Namun, tak membuat Donghae yang sedang melangkah, berhenti. Ia tetap berjalan dengan cepat.

“Hae-ah, na tto saranghae!!!”

Kali ini Donghae menghentikan langkahnya. Dunia seakan lebih cerah dalam penglihatannya. Ia berbalik dan bisa melihat Soora tersenyum kepadanya. Senyum tulus yang selalu Donghae dambakan. “Jinjja, Kim Soora?”

Soora mengangguk. “Aku tidak akan mengulang kata-kataku, Lee Donghae.”

Mereka berpelukan dengan segera. “Maafkan aku, Hae-ah. Aku sadar sekarang jika aku salah. Dan, aku sadar bahwa Kyuhyun hanyalah orang yang kusuka.” Donghae langsung merubah ekspresinya. “Lalu, jika Kyu orang yang kau suka, bagaimana denganku?”

“Kau adalah orang yang ada di hatiku. Kau adalah orang yang kucinta. Dan kau adalah kekasihku mulai sekarang.”

Donghae kembali tersenyum dan memeluk Soora.

“Ayo, ikut aku! Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Mereka berdua mengambil salah satu mobil Soora dan mulai berjalan.

*^*

“Kita akan kemana, Cho Kyuhyun?” Jiyoon bertanya. Ia benar-benar penasaran dengan ini semua. “Ikut saja, Jiyoon-ah. Aku juga tidak akan melakukan yang macam-macam kepadamu.” Kyuhyun tertawa sembari melajukan kecepatan mobilnya.

“Sekarang buka saja penutup matanya.” Jiyoon membuka penutup kepalanya perlahan. Bisa melihat bahwa ia sudah berada di atas kereta gantung yang sedang mengambang di udara lepas. Bintang-bintang terlihat jelas. Menambah keromantisan yang tercipta. “Ini indah, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum dan menatap Jiyoon dalam. “Tapi tidak seindah dirimu.”

“Cihh! Gombal!” Kyuhyun tertawa pelan. “Aku bukan tipe lelaki seperti itu, Jiyoon-ah!” Jiyoon ikut tertawa. “Lalu, kau tipe lelaki yang bagaimana?”

Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyoon. “Aku tipe lelaki yang akan mencium kekasihnya di kereta gantung.” Ia berbisik pelan sembari mulai memejamkan mata. Begitu juga dengan Jiyoon yang sedang memejamkan matanya. Baru saja mereka ingin melakukannya, namun Jiyoon terdorong hingga hampir terjatuh. Untung saja Kyuhyun memegang Jiyoon.

“Mianhae. Mianhae.” Perempuan yang tak sengaja mendorongnya menunduk. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut. “Park Jiyoon?!”

“Kim Soora?!”

“Ada apa?” Seorang lelaki langsung mendekat kearah Soora. “Lee Donghae?!”

“Cho Kyuhyun?!”

Mereka berempat sontak tertawa. “Apa yang kau lakukan disini?” Jiyoon bertanya. “Menjalankan kencan pertama kita.” Soora menjawab sembari menunduk malu. “Jinjja?! Kalau begitu kita sama! Chukae, Soora-ah. Chukae, Donghae-ah.”

Soora dan Donghae langsung berbunga-bunga.

“Chukae juga ya untuk kalian.” Mereka berdua berkata bersamaan dan kemudian saling melemparkan senyum. “Kau baru saja menghancurkan ciuman pertama kami, Soora-ah.” Kyuhyun berucap sembari cemberut. “Tadi, kami juga baru saja akan melakukan ciuman pertama, sebelum kereta gantung itu bergoyang secara tiba-tiba.” Donghae menjelaskan dan mereka berempat tertawa bersama.

“Sekarang kita kemana?”

Double date? Seperti kencan ganda?” Donghae mengusul. Semua langsung setuju dan mereka semua tertawa bersama. “Tanggal berapa ini?” Soora bertanya dengan cepat. “14 April.” Kyuhyun menjawab sembari melihat handphone-nya. “Walaupun ini bukan 14 Februari, tapi hari ini adalah hari kasih sayang terbaikku.” Ia menjawab.

Yang lain mengangguk setuju dan saling tersenyum.

 

*(*)*

END

 

@All : Seperti biasa komen ya~~

@LivRa : Mian ya klo rada aneh… Bener2 gak berbakat jd penulis ff~ >.< Semoga suka… 😀 (Note : Cerita kalian jg cepet dilanjutin ya~~ #plakk*

Fanfiction : ~Heart~ [Chapter Two]

[Chapter Two – Change]

 

“Kyu-ah, ada apa denganmu?! Tak biasanya kau bermain dengan kacau seperti ini.” Donghae menepuk pundak Kyuhyun yang seharian ini terlalu banyak terdiam. Membuat Kyuhyun tersontak. “Kau mengagetkanku, Hae.”

Donghae duduk di sebelah Kyuhyun. “Menurutmu… cinta itu apa?” Kyuhyun melanjutkan, membuat Donghae hampir jatuh dari duduknya. “Cinta? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Kau… tidak jatuh cinta kan?”

Kyuhyun sontak terbatuk. “Tentu saja tidak, Hae-ah! Aku hanya bertanya.”

“Cinta itu… sesuatu yang sangat misterius. Cinta kelihatan menarik dan indah jika hanya dipandang, tapi jika kau merasakannya, semua akan berubah. Cinta bisa menjadi lebih kejam daripada penyakit kanker. Jika kau mencintai seseorang, kau akan selalu memikirkan orang itu. Jika kau bertemu orang itu, jantungmu akan berdetak cepat seakan ingin keluar dari badanmu.” Donghae menjelaskan perlahan.

“Jika melihat orang itu bersama orang lain, kau akan merasa hatimu seakan diiris-iris perlahan oleh pisau yang paling tajam. Dan jika kau tak melihat atau bertemu dengannya sebentar saja, kau akan merasa seakan tinggal di Neraka. Cinta itu juga… rumit. Jika kau sudah terjerat, kau tidak akan bisa menolak atau melepaskannya. Otakmu akan menjadi buta seketika. Kau akan kehilangan akal sehatmu.”

“Apakah cinta separah itu?”

Kyuhyun bertanya dengan polos. Donghae langsung menggelengkan kepalanya. “Tapi, cinta itu tidak seburuk yang kau bayangkan. Setidaknya, jika kau tidak mengalami cinta bertepuk sebelah tangan—sepertiku.” Donghae menunduk kecil. “Kau mengalami cinta bertepuk sebelah tangan? Dengan siapa?”

Donghae ingin memukul kepalanya sendiri. “Tidak dengan siapa-siapa!” Dia langsung sontak berteriak. Kyuhyun tertawa. “Jinjja? Bukan dengan Hanhee? Atau Jaena?”

“Tentu bukan! Kau sendiri dengan siapa?” Donghae mengalihkan pembicaraan sembari menatap Kyuhyun dengan pandangan tanya. “Aku tidak bilang sedang jatuh cinta.” Kyuhyun berucap dengan santai sembari bangun dan melangkah menuju gedung sekolah.

 

=+=

 

Jiyoon dengan cepat melangkah pulang ke rumah yang tidak jauh dari sekolah. Begitu tiba, ia langsung disambut dengan teriakan dan pecahan piring dari kedua orang tuanya. Namun, tampaknya ia sudah biasa. Seakan tidak ada apa-apa, ia melangkah menuju kamarnya. Begitu ia membuka kamar, ia bisa langsung melihat seseorang sedang tertidur di kasurnya. Seseorang yang sangat tidak asing.

“Aigoo! Oppa!!!”

Jiyoon langsung memeluk kakak kandung satu-satunya dengan penuh kerinduan. ”Jiyoon-ah, sudah pulang sekolah?”

“Kapan oppa pulang dari Paris? Kenapa tidak memberitahuku dulu?” Jiyoon masih memeluk kakak kembar yang sudah selama lima tahun ini sekolah di luar negeri. “Aku ingin memberi kejutan untukmu. Dan, aku punya satu kejutan lagi sekarang.” Yesung tersenyum penuh misterius kepada adik yang hanya berbeda satu menit lebih muda darinya.

“Apa itu?!” Jiyoon bertanya dengan semangat yang tinggi. “Aku akan menetap disini. Dan… besok, aku akan sekolah di sekolahmu. Bahkan, sekelas denganmu.” Ucapan Yesung sontak membuat Jiyoon semakin gembira. Tak sedetik pun, ia berhenti tersenyum.

 

*^*

 

“Kim Soora!”

Donghae kembali berteriak seperti biasa. Namun, tak seperti biasanya, kali ini Soora tersenyum kepada Donghae. “Annyeong, Donghae-ah.” Ia menjawab dengan ramah. Membuat Donghae tersenyum senang. Kyuhyun sudah ada disitu, sedang membaca buku seperti biasa. Tak lama Jiyoon datang, dengan menggenggam tangan seseorang dengan mesra. Orang itu berpakaian seragam yang sama dengannya.

Mereka berdua tertawa bersama. Entah kenapa, membuat Kyuhyun merasa panas. Bersamaan dengan itu, bel berbunyi dan Han Saenim pun masuk. “Ada murid baru di kelas ini. Silahkan kenalkan dirimu.” Han Saenim berkata pelan. Pria itu mengangguk dan langsung berdiri di depan. “Namaku Yesung. Sebelumnya, aku sekolah di Paris. Semoga kalian bisa membantuku.”

Ia menunduk kecil, dibalas dengan sorakan ramah anak murid yang lain. “Silahkan duduk di sebelah Cho Kyuhyun, sebelah sana. Kebetulan ia adalah ketua kelas dan ketua OSIS. Jadi, jika ada sesuatu yang membingungkan, kau bisa bertanya kepadanya.” Han Saenim menunjuk Kyuhyun sembari tersenyum. Yesung mengangguk dan langsung duduk di sebelah Kyuhyun.

“Halo, aku Yesung.” Ia memperkenalkan diri sembari memberi tangannya, ingin bersalaman. “Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun membalas dingin tanpa menyalami tangan Yesung. “Semoga kita bisa jadi teman akrab. Kau teman pertamaku disini.” Yesung berucap sembari tersenyum, seakan tidak merasa ditolak oleh Kyuhyun. “Kau sudah berteman akrab dengan Jiyoon kan?” Kyuhyun bertanya dengan dingin. Yesung tersenyum. “Ahh, Jiyoon berbeda. Ia bukan sekedar teman biasaku.”, jawabnya santai.

“Bukan… teman biasa?” Kyuhyun bergumam kecil, sehingga hanya didengar olehnya sendiri. Hatinya panas. Rasanya ada perasaan perih yang menghampiri. Seketika ia teringat ucapan Donghae waktu itu.

“Jika melihat orang itu bersama orang lain, kau akan merasa hatimu seakan diiris-iris perlahan oleh pisau yang paling tajam.”

Dan, ia sedang mengalami persis apa yang dikatakan Donghae. Rasanya sakit sekali. Pandangannya secara tak sadar, ia tujukan kepada Jiyoon. Mereka saling bertukar pandangan. Kyuhyun merasa matanya mulai berat oleh butir-butir air yang berusaha ditahannya. Ia langsung bangun dan menghampiri Han Saenim yang sedang mengajar.

“Permisi saenim. Saya ingin ke toilet.” Kyuhyun mengatakan itu dengan serak, hampir berbisik. Han Saenim hanya mengangguk sembari memperhatikan Kyuhyun dengan kebingungan.

Seketika itu juga, Kyuhyun langsung melangkah cepat menuju toilet. Ia membasuh seluruh permukaan wajahnya dengan air. Berharap ia kembali menjadi Kyuhyun yang dulu. Kyuhyun yang dingin. Bukan Kyuhyun yang cengeng hanya karena seorang gadis. Setelah selesai, ia kembali ke kelas. Matanya sedikit bengkak.

“Kyuhyun… kenapa?” Soora bertanya kepada Donghae yang berada di belakangnya. Donghae mengangkat bahunya, tanda bahwa ia juga tidak tau.

“Tak biasanya Kyu ke toilet. Dia kan tidak pernah mau melewatkan pelajaran sedetik pun. Matanya juga sedikit bengkak.” Soora berucap pelan. Donghae hanya kembali mengangkat bahunya. Dalam hati, ia sedikit kesal dengan Soora yang selalu mengangkat topik tentang Kyuhyun dimanapun dan kapanpun.

 

*^*

 

“Soora-ah, istirahat ini kita ke kantin ya?” Donghae bertanya dengan pandangan memohon. Soora berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. Mereka berdua pun melangkah menuju kantin. Tepat sebelum melewati ruang musik yang pintunya sedikit terbuka. Mereka sedikit curiga dan akhirnya mengintip melalui celah pintu itu.

Ternyata di dalam ada Kyuhyun dan Kyeomi—kakak kelas mereka. Mereka sedang berdiri berpandang-pandangan. Soora ingin menghampiri mereka, namun tangannya ditahan Donghae yang hanya menggeleng kepada Soora.

“Kyuhyun-ah, aku tau kau lebih muda dariku, tapi maukah kau menerimaku? Aku sangat mencintaimu. Ini benar-benar cinta yang murni. Aku tak bisa hidup tanpamu. Please, Kyu-ah.” Kyeomi berkata pelan, memohon dengan segenap hati.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Mian, sunbaenim. Aku tak bisa.”

“Tapi kenapa? Apa penyebabnya?”, tanya Kyeomi terburu-buru. Ia tak bisa menahan air matanya lagi. “Aku… sudah mempunyai perempuan yang kucintai.” Kyuhyun menjawab pelan. “Sekali lagi mianhamnida, sunbaenim.”

Ia berjalan perlahan menuju pintu. Donghae langsung menarik Soora ke arah lainnya. Soora masih membeku di tempat. Air matanya kembali mengalir.

“Kyuhyun… punya orang yang dicintainya? Siapa?”

Soora bergumam pelan.

“Kajja, kita ke kantin, Soora-ah.”

“Mian, Hae-ah. Tiba-tiba, aku tidak punya selera makan. Lebih baik aku ke kelas dulu ya. Sampai jumpa.” Soora berkata sembari melangkah lesu menuju kelas. Donghae langsung berlari ke hadapan Soora. Menahan jalannya. “Jebal, Soora-ah. Bisakah untuk sehari saja kau lupakan Kyuhyun?” Donghae bertanya dengan emosi.

Soora terdiam, sebelum akhirnya menatap Donghae dan mengangguk. “Bisa.”

 

*^*

 

“Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Soora-ah?” Donghae bertanya, tetapi Soora terlalu sibuk memilih lagu yang akan dia nyanyikan seraya menyeruput bir-nya. “Aku akan melupakan Kyuhyun seharian ini, jadi bantu aku, Hae-ah.”

Donghae menghentikan Soora yang sedang meneguk bir tanpa sadar. “Soora-ah, kita bisa ditahan jika ketahuan membolos dari sekolah dan minum-minum di tempat karaoke seperti ini. Bahkan, kita berdua masih memakai seragam.” Donghae berucap pelan. Soora hanya tertawa. “Tidak mungkin ada polisi di tempat karaoke, Lee Donghae. Kau ini polos sekali.”

Soora mulai bernyanyi tanpa arah, namun berhasil membuat Donghae tertawa. Tak terasa tiga jam telah berlalu. Soora sudah mabuk di bahu Donghae. “Soora-ah, sampai sekarang aku masih bingung kenapa bisa menyukaimu sampai seperti ini.” Donghae bergumam pelan.

“Kenapa bingung… hik! aku kan… hik! cantik. Tentu saja… hik! semua orang pasti menyukaiku. Kyuhyun… hik! saja yang bodoh.” Soora berucap di bawah alam sadarnya. Donghae hanya tersenyum dan mengelus rambut Soora. Ia membawa Soora pulang dengan menggendongnya ke rumah.

“Kau sangat berat, Soora-ah.”

Donghae berkomentar pelan. Soora hanya bisa bernyanyi-nyanyi lagu acak yang dinyanyikannya di karaoke tadi. Udara malam yang dingin menjadi backsound pengiring mereka. Donghae tak berhenti tersenyum. Ia bahagia. Sangat bahagia. “Aku mencintaimu, Kim Soora.”

“Jinjja?! Kalau begitu… hik! aku juga mencintaimu, Lee Donghae.” Yoonmi menjawab perkataan Donghae. Sedangkan Donghae sendiri hanya bisa semakin melebarkan senyumannya. Meskipun ia tau, Soora sedang dalam keadaan tidak sadar, namun hanya mendengar ucapan itu dari mulutnya, sudah membuat Donghae berbunga-bunga.

“Kita sudah sampai.” Donghae berucap pelan sembari mengetuk pintu gerbang Soora. Munculah satpam dan membuka pintu untuk mereka. “Dimana Tuan dan Nyonya Kim, pak?” Donghae bertanya. “Mereka berdua sedang pergi ke Italy. Anda siapa? Kenapa membawa nona Soora dalam keadaan tak sadar?”

Donghae membaringkan Soora di kamarnya dahulu sebelum akhirnya kembali berbicara dengan sang satpam. “Saya teman Soora. Tadi, Soora minum-minum, jadi ia mabuk dan aku mengantarnya kesini.”

Satpam itu mengangguk paham dan meninggalkan mereka. Donghae mengelus rambut Soora perlahan, namun ternyata kening Soora panas sekali. Donghae langsung mengompres Soora dan merawatnya seharian.
^*^

 

“Kim Soora!”

Seluruh kelas hening. “Kim Soora?”

Masih tak ada jawaban. “Kemana Soora? Donghae, apa kau ta—Donghae?! Dia juga tidak ada?” Han Saenim yang sedang mengabsen mulai meneriakan kedua nama tersebut. Namun, tak ada yang menjawab. “Ada yang tau mereka berdua kemana?!”

“Katanya Soora sakit, saenim. Sedangkan Donghae, aku tidak tau.” Richan, yang memang terkenal paling dekat dengan Soora menjawab. “Kalau begitu, ayo kita lanjutkan pelajaran.”

Mereka semua langsung mengeluarkan buku catatannya dan mulai mencatat soal yang ada di papan tulis. Kyuhyun bisa merasakan suara getaran handphone dari arah Yesung. Ternyata Yesung memang baru mendapat sms. Dan… sms itu dari Jiyoon?! Kyuhyun bisa membaca sms Jiyoon dengan sangat leluasa karena Yesung berada di sampingnya.

From : Jiyoonnie~

Oppa, pulang nanti jalan-jalan yuk~

Kyuhyun mengedipkan matanya berkali-kali. “Oppa? Bukannya oppa hanya panggilan untuk orang yang lebih tua atau pacar? Yesung dan Jiyoon kan mempunyai umur yang sama, jadi maksudnya adalah oppa yang berarti panggilan sayang?”

To : Jiyoonie~

Ok, Jiyoonnie. ^^ Love u~

Hati Kyuhyun hampir seakan terbanting saat melihat Yesung mengirimkan balasan seperti itu kepada Jiyoon. Puluhan tanda tanya berkerubung di otaknya. Sebenarnya, apa hubungan mereka berdua?, pikir Kyuhyun.

From : Jiyoonie~

Love u too, Yesungie~~~

Kyuhyun sudah tidak tahan dengan semua ini. “Yesung!”, panggilnya pelan dan masih dingin. “Pulang sekolah aku akan menunggumu di kebun belakang. Ada yang mau kubicarakan denganmu.”

Yesung berpikir sebentar lalu menepuk pundak Kyuhyun perlahan. “Mian, Kyu-ya. Aku sudah punya janji dengan Jiyoon. Mungkin lain kali, ok?”

“Hanya sebentar. Please?” Yesung akhirnya mengangguk. Dan mereka kembali meneruskan pelajaran. “Memang apa yang ingin kau katakan?”

Kyuhyun tersenyum kecil, namun sedikit misterius. “Sesuatu yang berhubungan dengan Park Jiyoon.”

 

$^$^$

TO BE CONTINUE

Fanfiction : ~Heart~ [Chapter One]

[Chapter One – Old Love]


Musim dingin yang kelam, telah berganti menjadi musim semi. Salju yang berjatuhan di segala penjuru, telah berganti menjadi daun-daun kering yang berjatuhan. Udara perlahan-lahan memanas. Membuat hati menjadi lebih hangat. Para pelajar mulai memasuki sekolahnya lagi. Ada yang senang, namun kebanyakan mengeluh agar liburan mereka diperpanjang.

“Kim Soora!”

Seorang pria dengan head-set di telinganya melambai ceria. Pandangannya tertuju kepada seorang gadis yang baru saja dipanggil. Sang gadis itu menoleh, kemudian saat mengetahui siapa yang memanggil, ia kembali berbalik seakan tidak mendengar.

“Soora-ya!” Pria itu tidak kehilangan kepercayaan diri sama sekali. Ia berlari dan berhenti di depan Soora. “Apalagi maumu, Lee Donghae?!”

Pria itu tersenyum lebar. “Senang rasanya kau memanggil nama lengkapku, Soora-ah.” Soora mendesah kesal dan langsung pergi ke kelasnya dengan dingin. Donghae mengikuti Soora dari belakang dengan ceria. Soora duduk di salah satu bangku, paling dekat dengan seorang lelaki yang sedang membaca buku. Donghae duduk di belakang Soora, masih memandanginya dengan penuh perasaan.

“Annyeong, Kyuhyun-ah.”, sapa Soora pelan, dengan senyuman secerah mungkin. “Mmmm.” Kyuhyun—orang yang membaca buku—membalasnya hanya dengan gumaman. Matanya tak berkutik sama sekali dari buku tebal yang sedang dibacanya. “Liburan musim dingin kemarin, kau pergi kemana?”

Kyuhyun seketika menutup bukunya. “Bukan urusanmu.” Ia menjawab dingin, kemudian melangkah keluar kelas. Meninggalkan Soora yang hanya bisa menghela nafas. “Kyuhyun benar-benar keterlaluan! Iya kan, Soora? Masa dia berani mengatakan hal seperti itu kepada perempuan, apalagi dirimu.”

“Lee Donghae!”, seru Soora kesal. “Ne, Soora-ah?” Donghae bertanya dengan nada lembut. “Jangan sekali-kali lagi menjelekkan Kyuhyun di depanku. Aku tidak suka itu!” Soora membentak Donghae kesal, sembari berjalan keluar kelas. “Tunggu, Soora-ya! Mian!”, teriak Donghae sembari mengejar Soora.

 

=+=

 

Kyuhyun berjalan perlahan. Murid-murid lain yang dilewatinya hanya bisa memandangnya dengan pandangan penuh kagum. Yah, selalu begitu. Ia memang anak dari pemilik sekolah terbesar ini, dan ia juga memang adalah anak terpandai dan ketua OSIS di sekolahnya; tapi ia sudah benar-benar tak tahan dengan ini semua. Seluruh murid di sekolahnya mendekatinya dan memperlakukannya sebagai anak special. Orang tuanya juga jarang bertatap muka dengannya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Ia sudah muak dengan itu semua. Lebih baik kehidupan biasa, daripada kehidupan layaknya pangeran, tetapi tidak membahagiakan.

Saat sedang berjalan, seorang perempuan yang tak dikenal, menabraknya. Membuat Kyuhyun tersungkur di lantai. “Mianhae. Tak sengaja.”, ucap perempuan tersebut sembari melanjutkan larinya. Semua orang langsung membantunya bangun. Namun, entah mengapa, bukannya marah, Kyuhyun malah tersenyum tipis.

 

=+=

 

Pelajaran segera dimulai. Han Songsaenim memasuki kelas dan mulai mengabsen semua yang datang. “Annyeong hasimnika, saenim. Aku Park Jiyoon, murid baru disini.” Seorang perempuan mengetuk pintu dan mulai berbicara. “Ahh, baiklah Jiyoon, silahkan duduk di sebelah Cho Kyuhyun. Kebetulan dia adalah ketua kelas sekaligus ketua OSIS disini. Tidak apa ‘kan, Kyuhyun-ya?”

Bukannya menolak seperti biasa, kali ini Kyuhyun mengangguk. Membuat seluruh isi kelas terkejut. “Bukankah biasanya Kyuhyun lebih suka duduk sendiri?” Yoonji berbisik kepada Soora, yang kelihatan sangat marah. Donghae hanya menatap Soora, Kyuhyun, dan Jiyoon secara bergantian.

“Apakah aku harus duduk bersama dia, saenim? Apa tidak ada pilihan lain?” Jiyoon bertanya kepada Han Saenim sembari menunjuk tepat ke wajah Kyuhyun. Membuat seluruh isi kelas bergempar. “Apa-apaan dia? Sudah bagus bisa duduk bersama Kyuhyun!” Richan berbisik.

Han Saenim juga sedikit terkejut. “Ten… tu. Kalau tidak mau, kau bisa duduk di sebelah Donghae. Kebetulan dia juga duduk sendiri.”

Jiyoon memandang Donghae asal, lalu mengangguk dan duduk di sebelah Donghae, yang masih terdiam kebingungan. Amarah membludak dari hati Kyuhyun. Baru pertama kali, ia diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan. Namun, seulas senyuman tertarik di bibir tipisnya. “Gadis itu menarik…”, gumamnya pelan sembari mulai belajar.

Tak terasa, bel istirahat telah berbunyi. Kyuhyun langsung menarik tangan Jiyoon dan membawanya keluar kelas. Semakin membuat Soora naik darah. “Ingin kau bawa kemana aku??!! Lepaskan!”, teriak Jiyoon, seraya memberontakan tangannya.

Di sebuah kelas kosong, Kyuhyun melepaskan tangan Jiyoon. Ia ingin kabur, namun Kyuhyun menahannya. “Kau berani menolak duduk di sampingku ya?” Jiyoon menatap Kyuhyun dengan tajam. “Kalau iya kenapa?! Itu semua terserah aku. Memang kau siapa mengaturku sembarangan?!”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Kau tidak tau siapa aku?” Jiyoon sontak tertawa sinis. “Memang kau siapa?! Anak pemilik sekolah ini? Jangan bercanda!” Ia tertawa dengan keras. Namun, seringai muncul di bibir Kyuhyun. “Ne, kau benar. Aku anak pemilik sekolah ini.” Seketika Jiyoon berhenti tertawa dan menatap Kyuhyun tak percaya. “Kau… anak pemilik… sekolah ini?”

Pertanyaan Jiyoon membuat Kyuhyun tertawa. “Terus kenapa? Apakah anak pemilik sekolah harus mengaturku? Yang bisa mengaturku hanya Tuhan dan orang tuaku. Jadi, sampai jumpa.” Jiyoon pergi meninggalkan Kyuhyun dengan cepat. Kyuhyun menatap kepergian Jiyoon. “Benar-benar gadis yang menarik…”

 

=+=

 

Soora berjalan mondar-mandir di dalam kelas. “Kemana Kyu?”, gumamnya terus menerus. Donghae mengikuti Soora dari belakang. “Lebih baik kau makan dulu, Soora-ah. Istirahat akan selesai sebentar lagi.”

“Jangan ganggu aku, Lee Donghae!” Dia berteriak lagi, membuat Donghae terdiam. Bersamaan dengan itu, Jiyoon datang ke kelas dan langsung menuju ke bangkunya. “Ya! Park Jiyoon! Apa yang kau lakukan tadi dengan Kyuhyun?!” Soora mendatangi Jiyoon dan menatapnya tajam. “Bukan urusanmu.” Ia menjawab singkat dan dingin.

Soora menghembuskan nafas dalam. “Cepat katakan!”, bentaknya keras. “Sudah kubilang itu bukan urusanmu!” Jiyoon balas membentak. Mereka berdua saling menatap tajam. Donghae berusaha menarik Soora, namun ia tak meladeni Donghae. Tiba-tiba, Kyuhyun memasuki kelas.

“Kyuhyun-ya! Tolong aku! Mereka berdua bertengkar!”

Donghae berteriak, namun Kyuhyun seakan tidak mendengar dan langsung kembali berjalan keluar kelas. Soora yang melihat hal itu langsung berlari mengikuti Kyuhyun. “Awas kau, Park Jiyoon!” Ia berkata sebelum akhirnya pergi. “Tolong maafkan Soora, Jiyoon-ah. Dia memang sensitif jika menyangkut Kyuhyun, tapi sebenarnya dia anak yang baik kok.”

Jiyoon memandang Donghae sebelum akhirnya mengangguk dan langsung kembali memakan bekalnya. Sementara Donghae berlari mengikuti Soora.

“Kyuhyun-ya! Tunggu!”

Soora berlari dan akhirnya dapat menarik tangan Kyuhyun.

“Apa sih maumu, Kim Soora?!” Kyuhyun membentak Soora, membuatnya sedikit terkejut. “Aku menyukaimu, Kyu! Sejak kita masih SMP hingga sekarang. Aku sangat mencintaimu!” Soora menatap Kyuhyun dalam. “Mian, tapi aku tidak mencintaimu. Lebih baik kau mencari pria lain yang lebih baik daripada diriku.”

Kyuhyun melangkah kembali, meninggalkan Soora yang sekarang menangis. Ia berlari ke atap sekolah. Donghae langsung mengikuti Soora dan akhirnya bisa melihat Soora sedang menangis dengan keras di atap sekolah. “Soora-ah.”

“Pergi, Donghae!” Soora menepis tangan Donghae. “Tapi. . .”

“Aku bilang pergi!”, teriak Soora yang masih menangis. Donghae memeluk Soora dengan cepat. Tak peduli kepada Soora yang sekarang memukul-mukulnya. Namun setelah cukup lama, Soora berhenti memukul-mukul Donghae. Ia menangis di pelukan Donghae dengan diam.

“Apakah rasanya sakit, Donghae? Pasti sangat sakit kan.” Soora berucap pelan. “Maksudmu?”, tanya Donghae seraya mengkerutkan keningnya. “Jika kau mencintai seseorang. Sangat mencintai orang itu. Tetapi orang itu lebih memilih orang lain. Seperti aku yang malah lebih mencintai Kyuhyun.”

Donghae tersenyum perih. “Rasanya memang sakit. Tapi jika kau memang mencintai orang itu sepenuh hati, seharusnya kau bisa merelakan orang itu untuk bahagia. Jika Kyuhyun memang tidak mencintaimu, dan jika kau benar-benar mencintai Kyuhyun, seharusnya kau bisa merelakan dirinya. Seperti aku yang merelakan kau lebih mencintai Kyuhyun daripada aku.”

Soora menatap bawah. “Kau benar, Donghae-ah. Aku terlalu egois.” Ia berkata dengan serak. “Tidak apa-apa, Soora-ah. Yang penting sekarang kau sudah sadar.” Soora menatap Donghae yang sedang menatapnya. Mereka bertatapan dalam. “Tapi, aku masih punya kesempatan kan?”, tanya Soora pelan.

“Kesempatan? Untuk apa?”

Donghae menatap Soora dengan penasaran. Semoga maksud Soora adalah kesempatan untuk bersamaku, gumam Donghae dalam hati. “Kesempatan… untuk membuat Kyuhyun jatuh cinta kepadaku.” Soora berucap sembari tersenyum. Membuat Donghae terdiam seketika. Ia merasa hatinya seakan dikoyak dalam waktu sekejab.

“Kau mau membantu kan, Donghae-ah?”

Soora memandang Donghae dengan pandangan memohon. Donghae pun mengangguk, perbuatan yang amat disesalkannya. “Jinjja?! Gomawoyo, Donghae-ah! Kau memang yang terbaik! Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa!” Soora memeluk Donghae cepat sembari pergi. Berhasil membuat hati Donghae bergejolak hebat.

Donghae mengambil kapur dari atap itu dan secara acak menggambar di tembok. Tanpa disengaja, ia menulis : ‘Lee Donghae love Kim Soora’. Setelah sadar, ia langsung memukul kepalanya sendiri. “Siapa sih sebenarnya Kim Soora itu? Dia tak pernah berbuat baik padaku. Malah perbuatannya selalu membuat hatiku sakit. Tapi kenapa dia selalu berada di kepalaku? Ahh, jinjja!!!”

“Kim Soora, aku membencimu! Tapi, aku juga mencintaimu!”

 

$^$^$

TO BE CONTINUE

@All : Komen ya..! Satu komen sangat berarti~ ^^

@VerLiv : Gmn?? Untuk part JiKyu ada di next part ya~ 😀

Fanfiction : ~Heart~ [Prolog]

Dia adalah permata bagiku. Dia adalah matahari terindahku. Dia adalah semuanya bagiku. Meskipun sifatnya sedingin balok es, aku tau di dalam hatinya, ia hanya gadis yang kesepian. Dan karena itu, aku akan mengubahnya menjadi air sungai yang mengalir lancar tanpa gangguan…

-Kyuhyun-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Awalnya, aku membenci dirinya. Awalnya, dia sangat menyebalkan. Tapi, dalam hati yang terdalam, ternyata aku sangat mencintainya. Entah dari kapan perasaan ini berasal, namun yang aku tau pasti, aku, Park Jiyoon, mencintai Cho Kyuhyun sepenuh hati…

-Jiyoon-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah lama aku mencintai seorang Cho Kyuhyun. Bagiku, ia adalah jodohku. Kekasih hatiku. Orang yang ditakdirkan untukku. Namun, ternyata semuanya salah. Seorang Cho Kyuhyun hanya mencintai Park Jiyoon. Pertama aku sangat marah kepada Jiyoon karena telah merebut Kyuhyun-ku, namun akhirnya aku sadar. Sadar bahwa dicintai itu tidak pernah salah…

-Soora-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah lama sekali aku menunggu seorang Kim Soora untuk membuka hatinya kepadaku. Tapi, entah mengapa Soora hanya mencintai seorang Cho Kyuhyun; lelaki yang memiliki segalanya. Namun, tidak tau apakah aku harus sedih atau senang, ternyata Kyuhyun lebih mencintai Jiyoon. Tampaknya, aku harus meyakinkan Soora bahwa ia masih punya seseorang. Diriku…

-Donghae-

 

***

~TO BE CONTINUE~

 

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Three)

[Chapter Three – End Of Everything]

 

Hari-hari setelah itu berlalu cepat. Salju telah berganti oleh mekarnya bunga-bunga. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi yang indah. Bloomfield College sedang sangat sibuk dengan perayaan ulang tahun kampus mereka yang memang akan dijalankan hari ini.

Everyone’s ready? (Semuanya siap?)” Ketua panitia bertanya dengan lantang. “Yes!” Semuanya menjawab dan saling bertepuk tangan sebelum bersiap dalam posisi dan tugasnya masing-masing. “Aku akan mengurus pintu depan. Bye-bye, Hyeo-ah~” Seungri pamit seraya melambaikan tangannya. Hyeobin mengangguk kecil dan langsung kembali kepada pekerjaan semulanya.

Can I have one? (Boleh aku minta satu?)” Suara seorang lelaki mengagetkan Hyeobin. “Of cour—Kibum-oppa?!” Seketika gadis itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Kibum lagi, demi kebaikan dirinya dan Seungri. “Of course, Kibum-ssi.” Dia menjawab seformal mungkin dan memberikan beberapa makanan yang memang sudah disediakan.

Kibum mengambil makanan itu sembari menaikan alisnya. “Kenapa kau jadi formal begitu? Bukankah sudah kubilang jangan memakai formalitas.”

“Gwenchana, Kibum-ssi. Aku lebih suka begini.” Hyeobin menjawab hati-hati. Sebenarnya, entah mengapa hatinya tidak ingin menjauhi lelaki di hadapannya ini; namun ia harus melakukannya. Lagi-lagi demi hubungannya dan Seungri.

“Apakah ada kesalahan yang kuperbuat? Atau—karena masalah di balkon kemarin? Mianhae, Hyeobin-ah. Kan sudah kubilang kita masih bi—”

“Ani. Bukan masalah itu. Hanya saja… aku tidak mau terlalu dekat lagi denganmu. Dari awal, kita hanya sunbae dan hoobae.”, potong Hyeobin cepat. Jujur, hatinya sedikit merasakan gejolak aneh saat mengatakan hal itu. Seperti rasa sakit? Entahlah.

Kibum sedikit terkejut mendengar perkataan Hyeobin. “Jinjja? Ini bukan karena Seungri kan? Apakah dia berkata kepadamu untuk menjauhiku?”

Sontak gadis itu menggeleng. “Dia sama sekali tidak menyuruhku menjauhiku. Ini keinginanku sendiri.” Ia menjawab pelan.

Kalimat yang baru saja ia katakan memang ada benar dan salahnya. Seungri memang tidak menyuruhnya untuk menjauhi Kibum. Tapi, ini bukan keinginannya untuk menjauhi lelaki yang sudah seperti oppa-nya sendiri. Bahkan, bisa dibilang ia merasa lelaki ini lebih istimewa dari ‘oppa’.

“Ok, kalau begitu. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi. Senang bisa mengenalmu. Mungkin aku bodoh, tapi jika kau berubah pikiran dan mulai membuka hatimu kepadaku, datanglah ke taman dekat sini seminggu lagi pada jam lima sore. Minggu depan adalah hari ulang tahunmu kan? Jika kau tidak datang, aku berjanji akan menghilang dari kehidupanmu, Hyeo-ah.”

Lelaki itu berbalik dan menjauh dari sang gadis. Membuat gadis tersebut—entah mengapa merasa hatinya pedas. Suatu kebingungan mengganjal dirinya. Apakah ia akan pergi—atau tidak? Sepintas hatinya mengatakan: ‘Untuk apa ia pergi? Toh, hatinya hanya untuk Seungri~’ tapi sepintas lagi ia ingin pergi. Ada rasa menyesal dalam hatinya jika ia memutuskan untuk tidak pergi.

“Hyeobin-ah, ottokhae? Apakah pegal? Kau bekerja sibuk sekali.” Seungri muncul entah darimana dan langsung tersenyum ramah. Hyeobin langsung tersenyum lebar. “Gwenchana. Semuanya sudah hilang saat melihat wajahmu.” Seketika mereka tertawa. “Aku baru tau ada gadis yang bisa menggombal.”

“Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Mereka berdua kembali tertawa. “Acaranya sudah selesai, ayo kita pulang. Nanti aku akan memasak makanan enak untukmu.”

Sontak Hyeobin melirik Seungri. “Kau? Memasak? Sejak kapan?” Seungri merubah ekspresinya menjadi cemberut. “Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Ia mengikuti persis ucapan Hyeobin dan mereka berdua kembali tertawa. Dalam hati ia menggumam: ‘Kurasa akan lebih baik jika tidak pergi.’

*^*

“Hyeobin-ah, ireona! Palli!”

Gadis itu membuka matanya dan langsung bisa melihat seorang pria sedang berada persis di hadapannya. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Hyeobin terkejut dan reflek mendorong Seungri hingga menabrak tembok.

“Aigoo, Hyeo-ah. Aku hanya ingin mengatakan happy birthday kepadamu. Kau pikir aku akan melakukan yang macam-macam kepadamu?”

Hyeobin tersenyum innocent sembari membantu membangunkan Seungri. “Mianhae, Seung-ah.” Seungri langsung tersenyum ketika melihat senyuman polos dari bibir Hyeobin. “Gwenchana. Saengil chukae, nae jagi. Saranghae.”

Pria tersebut mencubit pipi Hyeobin pelan. “Gomawo, nae jagi. Na tto saranghae.”

Mereka berdua berpelukan sebentar, lalu saling mengecup. “Sebentar! Tutup matamu. Aku punya kejutan.” Hyeobin mengangguk dan menutup matanya. “Sekarang buka matamu!” Gadis itu membuka mata dan terkejut. Ia bisa melihat sebuah kue berlapiskan coklat dan cream dengan tulisan ‘19’ sedang dibawa oleh seorang pria. Pria yang istimewa. “Seungri~”

Make a wish, Hyeo-ah.”

Gadis itu mengangguk dan mulai membuat permohonan. “Sudah selesai?” Seungri bertanya. Hyeobin mengangguk pelan. “Sekarang, tiup lilinnya.”

Hyeobin dan Seungri meniup lilinnya bersama-sama. Lalu, Seungri menyingkirkan tulisan ‘19’ itu dan langsung menaruh kuenya di meja. Ia mencolek coklat kue itu dan mengoleskannya di kening Hyeobin. “Ahhh! Lee Seungri!!!”

Seungri tertawa. Hyeobin mencolek cream di kue itu dan mengoleskan ke pipi Seungri. Mereka berdua pun saling mengoleskan coklat dan cream hingga seluruh wajah mereka penuh dengan noda. Setelah lelah, mereka berdua berbaring di kasur. Saat saling menatap, mereka berdua akan tertawa akan hasil colekan mereka berdua.

“Hyeobin-ah.”

“Ne?” Gadis itu menatap Seungri. “Aku pamit dulu ya. Pagi ini ada jadwal kuliah. Jika lapar, aku sudah menyiapkan sesuatu di kulkas.” Hyeobin mengangguk dan tersenyum. Menyadari betapa sweet kekasihnya. “Sampai jumpa~” Seungri mengecup kening Hyeobin dan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya keluar. Hyeobin langsung membuka kulkas dan bisa melihat sepotong roti sudah tersedia untuknya. Disitu juga ada selembar kertas.

Aku tau ini terburu-buru; tapi maukah kau menjadi tunanganku, Hyeo-ah? Aku merasa kita sudah cocok. Aku juga sangat mencintaimu. Jika kau mau menjadi tunanganku, datanglah sore ini jam lima ke taman dekat sini. Tapi jika kau merasa kita tidak bisa bersama lagi, jangan datang. Aku akan menunggu~

N.B. : Aku harap kau datang. Saranghae~ ^^

Hyeobin tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Ada rasa kebahagiaan yang tak terkira. Seungri—melamarnya? Namun, ada perasaan aneh yang kembali merasuki tubuhnya. Ia mencoba mengingatnya dan kemudian tersentak. Bukankah Kibum juga menyuruhnya bertemuan di jam dan tempat yang sama? Mana yang harus ia pilih?

*^*

Gadis itu mematut bayangannya sendiri di kaca. Cantik. Sempurna. Namun, ada yang kurang. Ia masih—bingung. Di sisi lain, Seungri adalah pria impian Hyeobin. Menjadi kekasihnya adalah kebahagian terindah baginya. Dan tak bisa dipungkiri, setiap detik kehidupannya selalu lebih berharga jika dilewati dengan Seungri. Namun di sisi lainnya, Kibum entah mengapa selalu berada di hatinya. Ia merasa lebih nyaman jika berada di sisinya. Ia bisa tertawa, menangis, dan tersenyum dengan lebih leluasa dengan Kibum.

Tak bisakah ia menerima keduanya? Rasanya, ia tak tega bila menghancurkan hati salah satu dari keduanya. Perlahan, kakinya melangkah kearah taman. Bisa ia lihat Kibum sudah menunggu di sisi kiri taman, sedangkan Seungri sedang menunggu di sisi kanan. Di wajah mereka berdua, bisa terbaca jelas harapan dan penantian.

Hyeobin berhenti di tengah. Menatap mereka berdua dalam. Daun-daun berjatuhan. Gadis itu mengambil salah satu daun dan mencabuti satu persatu daun itu seraya menyebutkan nama mereka berdua. Tak sadar, ia sudah lama berdiri disitu. Tapi tak ada keputusan yang berhasil diambil.

Ia menutup mata. Memohon kepada Tuhan agar ia bisa memilih dengan benar. Kemudian dengan air mata, ia melangkah kearah kanan. Arah Seungri.

“Hyeobin-ah!” Seungri memekik sembari memeluk Hyeobin girang. “Senang kau berada disini.” Ia berkata lagi, tampak sangat girang. Air mata semakin berjatuhan dari kedua pelupuk mata Hyeobin. “Mianhae, Seung-ah. Dan gomawo. Mungkin kita belum ditakdirkan bersama. Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya kita pasti bisa bersama.”

“A… apa… maksudmu?”

Hyeobin tersenyum. “Aku percaya kau adalah pria yang sangat baik. Pasti kau akan mendapatkan yang lebih cantik, baik, dan lebih setia dariku.”

“Aku… masih tak mengerti.”

Ia mengkerutkan keningnya, lalu pandangan matanya tak sengaja menatap Kibum yang sedang berada di samping sebelah kirinya. “Ah, aku mengerti sekarang. Baiklah, jika itu keputusanmu.” Seungri berkata dengan mantap. “Kau… tidak marah? Atau melarangku pergi?”

Pria tersebut tersenyum hangat. “Bukankah sudah kubilang jika kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesarku? Jika kau lebih bahagia bersamanya, tentu aku akan mendukungmu. Sana, pergilah!” Ia masih berusaha tersenyum hangat. “Gomawo! Jeongmal gomawo!”

Hyeobin berlari kearah Kibum dan memeluknya. Kibum sedikit terkejut, namun akhirnya tersenyum lebar dan balas memeluk Hyeobin dengan erat.

*^*

[Epilog]

Pria itu meneteskan air matanya. Apalagi saat melihat dua sosok lelaki dan gadis saling berpelukan dengan erat. Perlahan, ia melangkah menjauh dari dua sosok itu dan berjalan ke sebuah danau yang masih berada dekat dari situ. Tepat saat ia melihat seorang perempuan sedang menangis di tepi danau itu.

“Kenapa kau menangis?”

Seungri bertanya hati-hati. Sang perempuan menatapnya lirih. “Kekasihku—lebih memilih gadis lain dibandingkan diriku. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum saat melihat mereka.”

Seketika senyum menghiasi bibir Seungri. “Kalau begitu kita sama.”

Perempuan itu bingung. “Eh?”

*^*^*^*^*^*^*^*

END