Full of inspiration and story

Sinar mentari menembus jendela, membuat cahaya berpendar yang membuat keempat lelaki berusia belasan tahun itu terbangun. Kyuhyun—yang terbiasa bangun pagi, mulai bangkit duluan dan mengusap matanya. Tak lama, ketiga teman barunya mulai bangun pula dengan rasa malas. “Jam berapa ini?” Donghae bertanya, seraya menguap malas.

“5.30.” Kyuhyun menjawab dengan santai. Namun Donghae, Siwon, dan Kibum seketika membesarkan mata mereka. “Masih jam 5.30?! Pagi sekali!” Kibum berteriak kecil sembari mulai berbaring kembali. “Lebih baik aku tidur lagi.” Siwon melanjutkan, dibalas anggukan Donghae dan Kibum. “Andwae! 3 orang itu menulis catatan untuk kita agar siap pada jam 5.35 untuk sarapan.”

Mereka bertiga kembali bangun. “Aishh! Apa tidak bisa ia memberikan waktu santai kepada kita sebelum perlawanan besar-besaran itu?”

Kyuhyun membuka pintu dan mereka semua keluar dari kamar itu. Melangkah pelan hingga ke ruang makan. Disana sudah ada 3 orang itu. Sedang asyik sarapan sembari berbincang bersama. “Kalian sudah datang?” Jungsoo bertanya, membuat mereka semua terkaget. Karena bahkan, orang itu belum melihat mereka sama sekali.

“Silahkan duduk.” Jongwoon menggerakan tangannya dan membuat keempat kursi terbuka, siap untuk diduduki. Mereka kembali terkejut. Bagaimana orang itu menggerakan kursi hanya dengan tangan?

Setelah duduk, mereka bisa melihat piring sudah tersedia di depan mereka. Seluruh lauk pauk beterbangan dan seketika sudah berada di piring masing-masing. “Cho Kyuhyun tidak suka sayuran.” Youngwoon berucap kepada Jongwoon, membuatnya menggerakan tangannya lagi. Kali ini sayur itu diarahkannya ke piring Donghae, yang memang sangat suka sayuran. Membuat mereka malah tidak makan. Hanya memandangi piring dan ke-3 orang itu secara bergantian.

“Masih banyak hal di dunia ini yang tidak kalian ketahui.” Jungsoo berbicara, seakan mengetahui pikiran mereka. Atau ia memang mengetahuinya? Entahlah. Yang penting, ini semua benar-benar terasa aneh bagi mereka berempat. “Tunggu apa lagi? Ayo makan!” Youngwoon melanjutkan, membuat yang lain mengangguk.

“Tenang, tidak akan ada racun lagi.” Jongwoon berucap, kembali menjawab pertanyaan mereka berempat dalam hati. Mereka pun mulai makan, walaupun mereka masih sangat tidak percaya dengan ini semua. Setelah selesai, Jungsoo bangkit dari kursinya, mengambil cawan berisi air dan menaruh tangannya di dalam cawan tersebut. Ia membasuh luka di leher Donghae dan kaki Siwon dengan sekali cipratan. Dan keajaiban kembali terjadi. Luka itu hilang tak berbekas.

Berhasil membuat mereka berempat melebarkan mulut secara sempurna. “Kalau sudah makan, lebih baik kalian ikut kami.” Youngwoon bergumam sembari melangkah keluar ruang makan. Diikuti Jongwoon dan Jungsoo. Mereka berempat mengangguk, masih setengah kaget dengan apa yang baru mereka lihat.

Jungsoo menyentuh sebuah tembok diantara ruang makan dan ruang yang entah apa namanya, hingga akhirnya tembok itu terbelah dan munculah sebuah ruang di dalamnya. Berhasil membuat mereka kembali membuka mata dan mulut mereka lebar-lebar.

Di dalam ruang tersebut, terdapat banyak sekali benda misterius, yang bahkan sama sekali mereka tak pernah lihat sebelumnya. Saat mereka semua sudah masuk, tembok yang terbelah tersebut kembali tertutup rapat, seakan tak pernah terbuka sebelumnya. Rapat tanpa bekas patahan atau belahan. “Ini masih terlalu dini untuk kalian terkejut seperti itu.” Jongwoon berucap, membuat mereka terdiam.

“Masih banyak hal di dunia ini yang seratus juta kali lebih misterius dan aneh daripada tembok itu, atau sekedar cawan berisi air yang bisa menyembuhkan luka tersebut. Hanya saja manusia biasa seperti kalian yang bahkan tinggal di dunia ini sejak lama, dibiarkan buta dan tuli terhadap semua keajaiban yang ada di dunia ini.” Jungsoo menjelaskan. Kyuhyun melangkah. “Tapi… kenapa kita—maksudku manusia biasa, dibiarkan tuli dan buta?”

Youngwoon tersenyum, lalu menatap mereka. “Karena menurut siapapun yang menciptakan dunia ini, manusia biasa belum mempunyai tanggung jawab yang pantas untuk menikmati semua keajaiban ini.”

“Kalau begitu… kami pantas?” Kibum bertanya dengan hati-hati. Jongwoon terkekeh pelan. “Karena kalian bukan manusia biasa, kami tidak tau itu.”

“Bukan… manusia biasa?” Siwon bertanya, melanjutkan pertanyaan Kibum. Youngwoon mendengus. “Bukankah kemarin kami sudah menjelaskan bahwa kalian itu reinkarnasi dari keempat ksatria terhebat sepanjang masa?”

Donghae terpaku. “Bagaimana… kalau kami orang yang salah?”

“Kalian meragukanku? Aku yakin penelitianku selama berpuluh-puluh tahun ini tidak salah.” Jungsoo berbicara, membuat keadaan menjadi hening.

“Tapi… bagaimana kalau seandainya kau salah?” Kyuhyun bertanya pelan. Jungsoo, Jongwoon, dan Youngwoon tersenyum, meskipun lebih terlihat seperti menyeringai. “Maka kalian tetap harus berjuang, karena bagaimanapun semua tanggung jawab penduduk bumi ada di tangan kalian… mulai sekarang.”

Mereka menelan ludah saat mendengar ucapan terakhir dari Jongwoon. “Lebih baik kita ke ruang rapat. Sebelah sini.” Jungsoo mencairkan suasana dan mempersilahkan mereka duduk. “Karena lawan yang akan kalian hadapi adalah lawan yang sangat hebat dalam sejarah, maka kalian harus dilatih secepat dan sehebat mungkin—bahkan harus melebihi kami.”

“Bagaimana caranya?” Kibum bertanya, sedikit ada rasa keraguan dalam nada bicaranya. “Pada dasarnya, kalian sudah mempunyai kekuatan kalian sendiri. Kami hanya akan mengembangkannya sejauh mungkin.” Jongwoon berucap. “Kekuatan?”

Youngwoon mengangguk. “Tentu saja. Kemarin sudah kubilang bukan jika kalian punya kekuatan kalian masing-masing? Bahkan, pada dasarnya semua manusia sudah mempunyai kekuatan masing-masing. Hanya saja mereka tidak tau kekuatan mereka sendiri dan tidak bisa mengembangkannya.”

Jungsoo maju satu langkah dan tersenyum pada mereka. “Donghae, kau adalah tipe penyerang. Dan Youngwoon akan mengajarimu.”

Donghae meneguk ludahnya, menatap Youngwoon yang juga sedang menatapnya. “Ayo, kita mulai!” Youngwoon mulai melangkah menuju sebuah tabung bewarna merah, dan Donghae mengikutinya. Mereka berdua masuk ke tabung tersebut dan menghilang. “Kemana… mereka?” Kibum bertanya pelan. Kyuhyun dan Siwon juga menatap Jungsoo dan Jongwoon, mempunyai rasa penasaran yang sama.

“Ke dimensi lain. Dimensi yang akan membuat latihan kalian menjadi lebih mudah.” Jongwoon menjawab. “Sekarang Siwon? Kau adalah tipe pengontrol. Dan Jongwoon akan membantumu.” Jongwoon langsung berjalan menuju tabung bewarna biru. Siwon melangkah pelan dan memasuki tabung itu. Dan, blshh! Mereka juga menghilang, seakan ditelan bumi secara tiba-tiba.

“Kibum, kau adalah tipe perencana. Dan aku yang akan membantumu.” Jungsoo melangkah menuju depan tabung bewarna kuning, kemudian berbalik. “Untuk Kyuhyun, kau adalah tipe pemikir, dan seseorang dari negeri seberang akan membantu.” Jungsoo berucap cepat, sembari mempersilahkan Kibum masuk ke tabung itu. Dan—mereka juga hilang.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke segala arah. “Seseorang dari negeri seberang? Siapa itu?” Ia berucap pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku—orangnya.” Seseorang tiba-tiba muncul di depan Kyu, membuatnya hampir terkena serangan jantung. “Kau…?”

Orang itu tersenyum. “Kenalkan, namaku Sungmin dan aku akan membantumu.” Ia melangkah santai ke tabung yang terletak paling pojok, bewarna putih. Kyuhyun mengangguk dan blshhh! Ratusan burung seakan menghujaninya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, dan ketika membuka mata, ia terpekik ringan.

“Ini?”

 

+++

 

Donghae membuka mata dan secercah sinar menyambutnya. Dia menolehkan pandangannya kepada Youngwoon yang berdiri tegak di sampingnya, seakan tidak ikut terbawa oleh tabung misterius itu. “Bagaimana? Inilah dimensi yang kupakai untuk latihan hingga sekarang.” Youngwoon berucap, menyunggingkan senyum. Mungkin senyum tulus pertama yang ia keluarkan.

 

+++

 

Jongwoon bersenandung riang. Tersenyum pada Siwon yang sedang membuka matanya lebar-lebar. “Ini… tempat apa?” Jongwoon kembali tersenyum dan menepuk bahu Siwon. “Tempat yang paling menyenangkan… tentu saja menurutku.” Siwon menatapnya aneh, namun Jongwoon hanya terkekeh ringan, kembali menyandungkan lagu ceria yang jujur saja sangat merdu.

 

+++

 

Dua orang itu berdiri. Salah satu diantaranya mematung. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia melihat sesuatu seperti ini. “Apa… ini?” Jungsoo tertawa. “Itu juga yang aku katakan saat berada tepat di posisimu.” Ia berjalan pelan dan melirik ke kanan dan kiri. “Siapa yang menciptakan dimensi seperti ini?”

Jungsoo kembali tersenyum. “Tentu saja dimensi ini adalah buatan reinkarnasimu. Empat orang terhebat dalam sejarah dunia.”

 

*To Be Continue~

 

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Four)" (6)

  1. yep!
    silahkan buat aku tambh penasaran ya~fm
    ok, kata lanjut mungkn dah terasa bosan…
    jadi, kuucapkan: “rasa penasaranku menghantuimu. jd kau kan tau caranya. kerjakan!” /g/d

  2. Oke
    Aku berasa lg pengen buang napas terus ketahan gara2 ada yg buang gas (?)
    Rasanya nyesek
    Orang lagi santai2, seger2 ngebaca
    Terus diSTOP di bagian paling ngga ngenakin di seluruh dunia, waktu aku lg terbang gara2 baca nama yeobo
    Okehhh hhhh *ngos2an*
    Butuh apa buat ucapan terima kasih?
    Plih, kuburan atau rumah sakit? *merinding sendiri nulisnya*

  3. Wuahhh ayooo lanjutkan
    kekeke
    makin buat penasaran..
    Itu mreka ke dimensi apaaaakah itu??? Keke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: