Full of inspiration and story

Archive for April, 2011

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Five)

“Ini…”

Pemuda itu terkaget, menunjuk tempat dimana ia berpijak. Membuat seseorang lagi tersenyum ringan. “Ini adalah dimensi yang dibuat sendiri oleh Sihyun-sunbaenim. Indah, bukan? Aku masih ingat saat pertama kali sunbae mengenalkan tempat ini padaku. Dulu aku masih amat kecil.”

Orang itu tersenyum manis kepada pemuda di sebelahnya. “Ta-tapi, bukannya Sihyun itu sudah mati berpuluh-puluh abad yang lalu? Bagaimana… bisa?” Pemuda tersebut membuka matanya lebar-lebar, sontak membuat orang di sebelahnya kembali menyunggingkan senyum. “Aneh, bukan? Ini mungkin tidak masuk akal, tetapi walaupun 4 Ksatria Agung itu menghilang selama berpuluh-puluh abad ini, mereka masih belum dikatakan ‘mati’, dan tak ada yang bisa menyangkal hal itu.”

“Mereka belum… mati? Lalu, dimana mereka? Jika mereka belum mati, bukankah seharusnya mereka yang menjaga dunia ini?”

Sungmin—orang itu memutar bola matanya. “Ah, kau benar. Mereka memang sedang melakukannya, Kyu-ssi.” Pemuda itu terbelalak. “Sedang melakukannya?! Tapi, dimana mereka?” Sungmin kembali tersenyum, perlahan maju dan menyentuh tubuh Kyuhyun. “Mereka ada di jiwamu, dan juga jiwa teman-temanmu. Mereka turut andil bersama kalian.”

Kyuhyun mendengus, sedikit kecewa dengan ucapan Sungmin barusan. “Sekarang, marilah kita mulai pelajaran kita. Misimu sangat mudah. Cobalah keluar dari dimensi ini dan kembalilah ke tempat semula. Kau harus keluar dari dimensi ini sebelum matahari terbit, arasso?”

Orang itu bergegas melangkah. “Tunggu! Apa yang harus kulakukan untuk kembali? Dan apa yang akan terjadi jika aku terlambat?”

“Untuk kembali, kau harus mengaktifkan kemampuan pikiranmu. Dan jika kau terlambat, maka nasibmu akan sama dengan ini.” Sungmin mengangkat tangannya. Seekor burung entah darimana hinggap ke kepalan tangannya. Tak lama, dalam telapak tangannya muncul kobaran api, sontak membuat burung tak berdaya itu terbakar sempurna.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar. Sungmin tersenyum—yang lebih tampak sebagai seringai—dan akhirnya menjentikkan jarinya, langsung menghilang entah kemana.

+++

Donghae terus berjalan, tanpa tau kemana atau dimana dia berada. Perkataan Youngwoon masih terngiang-ngiang dalam kepalanya.

“Dalam jangka waktu hingga matahari terbit, kau sudah harus kembali ke tempatmu semula di ruang rahasia kita. Jika tidak, kau akan tau sendiri apa yang akan kau terima. Temukanlah semuanya dengan kekuatanmu.”

“Kekuatan? Tadi, katanya kekuatanku adalah penyerang. Jadi, aku harus menyerang? Tetapi, menyerang siapa?”

Dia terus berjalan. Masih banyak misteri yang mengerubungi kepalanya, namun ia memilih diam dan terus melangkah. Anehnya, rasa kantuk, lapar, atau lelah sama sekali tidak ditemui selama perjalanan. Tak sadar, langit sudah berubah gelap. “Kau ada disini?”

Suara seseorang hampir saja membuatnya terkaget. “Kibum? Kau ada disini? Kupikir… kita dikirim ke dimensi berbeda?”

Orang itu—Kibum mengangguk. “Aku juga berpikir begitu.”

“Kalian ada disini?!”

Mereka berdua menoleh, bisa melihat Siwon dan Kyuhyun melangkah mendekat. “Kalian ada disini juga?” Donghae menatap mereka bingung. “Jika kita berada pada dimensi yang sama, kenapa kita dikirim secara terpisah?” Ia melanjutkan. Siwon, Kyuhyun, dan Kibum mengangkat bahunya, juga tidak mengerti. “Lebih baik kita ke air terjun sebelah situ!”

Kibum menyarankan, dibalas anggukan Kyuhyun, Donghae, dan Siwon. Setelah sampai, mereka tertegun. Air terjun tersebut sangat dalam. Jika salah satu dari mereka jatuh, maka akan dipastikan tidak selamat.

“Aku punya ide! Bagaimana jika kita bermain sebuah game.”

Donghae menaikkan alis. “Game?”

“Yap! Kita harus saling menjatuhkan ke dalam air terjun. Siapa yang bisa menjatuhkan lawan ke air terjun, maka dialah pemenangnya.” Kyuhyun menjelaskan, membuat Donghae semakin menaikkan alis. “Boleh!” Kibum dan Siwon menjawab bersamaan.

“Apakah kalian gila?! Siapa yang terjatuh ke air terjun itu akan mati. Lebih baik kita mencari cara agar bisa pulang sebelum matahari terbit.” Donghae menyarankan, namun mereka bertiga tetap di tempat. “Ayolah, ini kan hanya permainan.” Siwon menyeringai seraya melangkah menuju Donghae.

Kibum, Siwon, dan Kyuhyun menarik Donghae dan mendorongnya tepat ke air terjun. “A-pa yang ka-kalian lakukan?!” Ia berteriak dan mengeluarkan seluruh tenaganya, membuat ketiga temannya terlempar ke belakang.

“Apa kalian telah dirasuki sesuatu?! Sadarlah!”

Donghae berbicara. Perlahan Kibum, Kyuhyun, dan Siwon kembali bangun dan tersenyum riang. “Kita… masih bermain kan?”

Mereka bertiga kembali mendorong Donghae, membuatnya kembali memekik. Seluruh tubuhnya hampir terlempar, sebelum ia merasakan aura aneh keluar dari tubuhnya. Aura aneh yang mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya, membuatnya merasakan kekuatan yang berbeda dari biasa. Seketika itulah, kekuatannya memuncak dan dengan sekali hentakan, ketiga temannya terjatuh ke air terjun.

Perlahan aura itu kembali memudar. Donghae menatap air terjun itu dengan dalam. “Apakah aku baru… membunuh ketiga temanku?”

Dia melanjutkan langkahnya dengan terseok-seok, tak percaya akan apa yang baru saja dia alami. “Good job, Lee Donghae! Sekarang, masuklah ke dalam tabung yang ada persis di depanku. Tabung itulah yang akan membawamu kembali.”

Sebuah suara membuatnya terkejut. Ia menengok ke segala arah, namun tampaknya suara itu tidak ada sumbernya. Dengan cepat, ia pun berlari kearah tabung itu, memikirkan apa yang akan dia jelaskan kepada para orang itu bahwa ia telah membunuh ketiga temannya.

Rasa pusing kembali terjadi saat ia berada dalam tabung. Hingga akhirnya, ia kembali ke ruang rahasia itu. “Bravo, Lee Donghae! Kau berhasil mengaktifkan kekuatanmu!” Jungsoo langsung tersenyum ceria. Begitu pun Youngwoon, Jongwoon, dan Sungmin. Donghae hanya mengangguk, kemudian meneguk ludah.

“Ada apa? Kau tampak tidak senang.”

“Aku… aku telah membunuh Kibum, Kyuhyun, dan Siwon. Aku benar-benar tak sengaja. Sungguh! Kekuatan itu yang membuatku tidak sadar dan. . .”

Sebelum Donghae berbicara, Youngwoon menempatkan jarinya, menyuruh Donghae diam. “Maksudmu, ini?” Sungmin menutup matanya, dan tiga orang muncul seketika di depannya. “Siwon, Kyuhyun, dan Kibum?!” Donghae menunjuk tiga orang itu. Lalu, Sungmin membuka matanya dan seketika tiga orang itu menghilang.

“Apa itu?” Sungmin tersenyum kecil. “Itu adalah replika visual teman-temanmu. Terbentuk dari pikiran-pikiran.” Donghae menyipitkan matanya. “Jadi, yang tadi melawanku… adalah replika visual?”

“Benar!” Kyuhyun tersenyum sembari keluar dari tabung. “Tapi, kenapa kau sudah tau, Kyu-ah?” Donghae bertanya, bingung. “Karena aku juga tipe pemikir, dan sekarang aku juga sudah tau bagaimana membuat replika visual itu.” Kyuhyun menutup mata dan munculah replika seekor harimau. Ingin menyerang Donghae. Donghae memekik, dan kemudian meninju harimau itu, membuatnya jatuh dan menghilang.

“Wuahh! Kekuatanmu keren!” Kyuhyun terpana, saat Donghae menggunakan kekuatannya. “Kalian… ada disini? Jadi, yang ada di dimensi itu. . .” Siwon dan Kibum keluar bersamaan dari tabung, terkejut. Sontak membuat Kyuhyun dan Donghae tertawa, kembali menjelaskan semuanya.

“Aku masih tak percaya mereka itu akan menyelamatkan dunia.” Youngwoon berbicara, masih menatap keempat pemuda tersebut. “Tapi, mereka benar-benar reinkarnasi 4 ksatria itu. Kita belajar kekuatan selama bertahun-tahun, tetapi mereka bahkan hanya dalam waktu kurang dari sehari! Luar biasa.”

“Kita lihat saja nanti apa mereka memang bisa.” Sungmin melanjutkan, tersenyum kecil.

*To Be Continue~

@All : Kali ini rada pendek… Tapi tetep komen ya~ ^^ Gomawo~~~

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Four)

Sinar mentari menembus jendela, membuat cahaya berpendar yang membuat keempat lelaki berusia belasan tahun itu terbangun. Kyuhyun—yang terbiasa bangun pagi, mulai bangkit duluan dan mengusap matanya. Tak lama, ketiga teman barunya mulai bangun pula dengan rasa malas. “Jam berapa ini?” Donghae bertanya, seraya menguap malas.

“5.30.” Kyuhyun menjawab dengan santai. Namun Donghae, Siwon, dan Kibum seketika membesarkan mata mereka. “Masih jam 5.30?! Pagi sekali!” Kibum berteriak kecil sembari mulai berbaring kembali. “Lebih baik aku tidur lagi.” Siwon melanjutkan, dibalas anggukan Donghae dan Kibum. “Andwae! 3 orang itu menulis catatan untuk kita agar siap pada jam 5.35 untuk sarapan.”

Mereka bertiga kembali bangun. “Aishh! Apa tidak bisa ia memberikan waktu santai kepada kita sebelum perlawanan besar-besaran itu?”

Kyuhyun membuka pintu dan mereka semua keluar dari kamar itu. Melangkah pelan hingga ke ruang makan. Disana sudah ada 3 orang itu. Sedang asyik sarapan sembari berbincang bersama. “Kalian sudah datang?” Jungsoo bertanya, membuat mereka semua terkaget. Karena bahkan, orang itu belum melihat mereka sama sekali.

“Silahkan duduk.” Jongwoon menggerakan tangannya dan membuat keempat kursi terbuka, siap untuk diduduki. Mereka kembali terkejut. Bagaimana orang itu menggerakan kursi hanya dengan tangan?

Setelah duduk, mereka bisa melihat piring sudah tersedia di depan mereka. Seluruh lauk pauk beterbangan dan seketika sudah berada di piring masing-masing. “Cho Kyuhyun tidak suka sayuran.” Youngwoon berucap kepada Jongwoon, membuatnya menggerakan tangannya lagi. Kali ini sayur itu diarahkannya ke piring Donghae, yang memang sangat suka sayuran. Membuat mereka malah tidak makan. Hanya memandangi piring dan ke-3 orang itu secara bergantian.

“Masih banyak hal di dunia ini yang tidak kalian ketahui.” Jungsoo berbicara, seakan mengetahui pikiran mereka. Atau ia memang mengetahuinya? Entahlah. Yang penting, ini semua benar-benar terasa aneh bagi mereka berempat. “Tunggu apa lagi? Ayo makan!” Youngwoon melanjutkan, membuat yang lain mengangguk.

“Tenang, tidak akan ada racun lagi.” Jongwoon berucap, kembali menjawab pertanyaan mereka berempat dalam hati. Mereka pun mulai makan, walaupun mereka masih sangat tidak percaya dengan ini semua. Setelah selesai, Jungsoo bangkit dari kursinya, mengambil cawan berisi air dan menaruh tangannya di dalam cawan tersebut. Ia membasuh luka di leher Donghae dan kaki Siwon dengan sekali cipratan. Dan keajaiban kembali terjadi. Luka itu hilang tak berbekas.

Berhasil membuat mereka berempat melebarkan mulut secara sempurna. “Kalau sudah makan, lebih baik kalian ikut kami.” Youngwoon bergumam sembari melangkah keluar ruang makan. Diikuti Jongwoon dan Jungsoo. Mereka berempat mengangguk, masih setengah kaget dengan apa yang baru mereka lihat.

Jungsoo menyentuh sebuah tembok diantara ruang makan dan ruang yang entah apa namanya, hingga akhirnya tembok itu terbelah dan munculah sebuah ruang di dalamnya. Berhasil membuat mereka kembali membuka mata dan mulut mereka lebar-lebar.

Di dalam ruang tersebut, terdapat banyak sekali benda misterius, yang bahkan sama sekali mereka tak pernah lihat sebelumnya. Saat mereka semua sudah masuk, tembok yang terbelah tersebut kembali tertutup rapat, seakan tak pernah terbuka sebelumnya. Rapat tanpa bekas patahan atau belahan. “Ini masih terlalu dini untuk kalian terkejut seperti itu.” Jongwoon berucap, membuat mereka terdiam.

“Masih banyak hal di dunia ini yang seratus juta kali lebih misterius dan aneh daripada tembok itu, atau sekedar cawan berisi air yang bisa menyembuhkan luka tersebut. Hanya saja manusia biasa seperti kalian yang bahkan tinggal di dunia ini sejak lama, dibiarkan buta dan tuli terhadap semua keajaiban yang ada di dunia ini.” Jungsoo menjelaskan. Kyuhyun melangkah. “Tapi… kenapa kita—maksudku manusia biasa, dibiarkan tuli dan buta?”

Youngwoon tersenyum, lalu menatap mereka. “Karena menurut siapapun yang menciptakan dunia ini, manusia biasa belum mempunyai tanggung jawab yang pantas untuk menikmati semua keajaiban ini.”

“Kalau begitu… kami pantas?” Kibum bertanya dengan hati-hati. Jongwoon terkekeh pelan. “Karena kalian bukan manusia biasa, kami tidak tau itu.”

“Bukan… manusia biasa?” Siwon bertanya, melanjutkan pertanyaan Kibum. Youngwoon mendengus. “Bukankah kemarin kami sudah menjelaskan bahwa kalian itu reinkarnasi dari keempat ksatria terhebat sepanjang masa?”

Donghae terpaku. “Bagaimana… kalau kami orang yang salah?”

“Kalian meragukanku? Aku yakin penelitianku selama berpuluh-puluh tahun ini tidak salah.” Jungsoo berbicara, membuat keadaan menjadi hening.

“Tapi… bagaimana kalau seandainya kau salah?” Kyuhyun bertanya pelan. Jungsoo, Jongwoon, dan Youngwoon tersenyum, meskipun lebih terlihat seperti menyeringai. “Maka kalian tetap harus berjuang, karena bagaimanapun semua tanggung jawab penduduk bumi ada di tangan kalian… mulai sekarang.”

Mereka menelan ludah saat mendengar ucapan terakhir dari Jongwoon. “Lebih baik kita ke ruang rapat. Sebelah sini.” Jungsoo mencairkan suasana dan mempersilahkan mereka duduk. “Karena lawan yang akan kalian hadapi adalah lawan yang sangat hebat dalam sejarah, maka kalian harus dilatih secepat dan sehebat mungkin—bahkan harus melebihi kami.”

“Bagaimana caranya?” Kibum bertanya, sedikit ada rasa keraguan dalam nada bicaranya. “Pada dasarnya, kalian sudah mempunyai kekuatan kalian sendiri. Kami hanya akan mengembangkannya sejauh mungkin.” Jongwoon berucap. “Kekuatan?”

Youngwoon mengangguk. “Tentu saja. Kemarin sudah kubilang bukan jika kalian punya kekuatan kalian masing-masing? Bahkan, pada dasarnya semua manusia sudah mempunyai kekuatan masing-masing. Hanya saja mereka tidak tau kekuatan mereka sendiri dan tidak bisa mengembangkannya.”

Jungsoo maju satu langkah dan tersenyum pada mereka. “Donghae, kau adalah tipe penyerang. Dan Youngwoon akan mengajarimu.”

Donghae meneguk ludahnya, menatap Youngwoon yang juga sedang menatapnya. “Ayo, kita mulai!” Youngwoon mulai melangkah menuju sebuah tabung bewarna merah, dan Donghae mengikutinya. Mereka berdua masuk ke tabung tersebut dan menghilang. “Kemana… mereka?” Kibum bertanya pelan. Kyuhyun dan Siwon juga menatap Jungsoo dan Jongwoon, mempunyai rasa penasaran yang sama.

“Ke dimensi lain. Dimensi yang akan membuat latihan kalian menjadi lebih mudah.” Jongwoon menjawab. “Sekarang Siwon? Kau adalah tipe pengontrol. Dan Jongwoon akan membantumu.” Jongwoon langsung berjalan menuju tabung bewarna biru. Siwon melangkah pelan dan memasuki tabung itu. Dan, blshh! Mereka juga menghilang, seakan ditelan bumi secara tiba-tiba.

“Kibum, kau adalah tipe perencana. Dan aku yang akan membantumu.” Jungsoo melangkah menuju depan tabung bewarna kuning, kemudian berbalik. “Untuk Kyuhyun, kau adalah tipe pemikir, dan seseorang dari negeri seberang akan membantu.” Jungsoo berucap cepat, sembari mempersilahkan Kibum masuk ke tabung itu. Dan—mereka juga hilang.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke segala arah. “Seseorang dari negeri seberang? Siapa itu?” Ia berucap pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku—orangnya.” Seseorang tiba-tiba muncul di depan Kyu, membuatnya hampir terkena serangan jantung. “Kau…?”

Orang itu tersenyum. “Kenalkan, namaku Sungmin dan aku akan membantumu.” Ia melangkah santai ke tabung yang terletak paling pojok, bewarna putih. Kyuhyun mengangguk dan blshhh! Ratusan burung seakan menghujaninya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, dan ketika membuka mata, ia terpekik ringan.

“Ini?”

 

+++

 

Donghae membuka mata dan secercah sinar menyambutnya. Dia menolehkan pandangannya kepada Youngwoon yang berdiri tegak di sampingnya, seakan tidak ikut terbawa oleh tabung misterius itu. “Bagaimana? Inilah dimensi yang kupakai untuk latihan hingga sekarang.” Youngwoon berucap, menyunggingkan senyum. Mungkin senyum tulus pertama yang ia keluarkan.

 

+++

 

Jongwoon bersenandung riang. Tersenyum pada Siwon yang sedang membuka matanya lebar-lebar. “Ini… tempat apa?” Jongwoon kembali tersenyum dan menepuk bahu Siwon. “Tempat yang paling menyenangkan… tentu saja menurutku.” Siwon menatapnya aneh, namun Jongwoon hanya terkekeh ringan, kembali menyandungkan lagu ceria yang jujur saja sangat merdu.

 

+++

 

Dua orang itu berdiri. Salah satu diantaranya mematung. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia melihat sesuatu seperti ini. “Apa… ini?” Jungsoo tertawa. “Itu juga yang aku katakan saat berada tepat di posisimu.” Ia berjalan pelan dan melirik ke kanan dan kiri. “Siapa yang menciptakan dimensi seperti ini?”

Jungsoo kembali tersenyum. “Tentu saja dimensi ini adalah buatan reinkarnasimu. Empat orang terhebat dalam sejarah dunia.”

 

*To Be Continue~