Full of inspiration and story

[Chapter Three – End Of Everything]

 

Hari-hari setelah itu berlalu cepat. Salju telah berganti oleh mekarnya bunga-bunga. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi yang indah. Bloomfield College sedang sangat sibuk dengan perayaan ulang tahun kampus mereka yang memang akan dijalankan hari ini.

Everyone’s ready? (Semuanya siap?)” Ketua panitia bertanya dengan lantang. “Yes!” Semuanya menjawab dan saling bertepuk tangan sebelum bersiap dalam posisi dan tugasnya masing-masing. “Aku akan mengurus pintu depan. Bye-bye, Hyeo-ah~” Seungri pamit seraya melambaikan tangannya. Hyeobin mengangguk kecil dan langsung kembali kepada pekerjaan semulanya.

Can I have one? (Boleh aku minta satu?)” Suara seorang lelaki mengagetkan Hyeobin. “Of cour—Kibum-oppa?!” Seketika gadis itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Kibum lagi, demi kebaikan dirinya dan Seungri. “Of course, Kibum-ssi.” Dia menjawab seformal mungkin dan memberikan beberapa makanan yang memang sudah disediakan.

Kibum mengambil makanan itu sembari menaikan alisnya. “Kenapa kau jadi formal begitu? Bukankah sudah kubilang jangan memakai formalitas.”

“Gwenchana, Kibum-ssi. Aku lebih suka begini.” Hyeobin menjawab hati-hati. Sebenarnya, entah mengapa hatinya tidak ingin menjauhi lelaki di hadapannya ini; namun ia harus melakukannya. Lagi-lagi demi hubungannya dan Seungri.

“Apakah ada kesalahan yang kuperbuat? Atau—karena masalah di balkon kemarin? Mianhae, Hyeobin-ah. Kan sudah kubilang kita masih bi—”

“Ani. Bukan masalah itu. Hanya saja… aku tidak mau terlalu dekat lagi denganmu. Dari awal, kita hanya sunbae dan hoobae.”, potong Hyeobin cepat. Jujur, hatinya sedikit merasakan gejolak aneh saat mengatakan hal itu. Seperti rasa sakit? Entahlah.

Kibum sedikit terkejut mendengar perkataan Hyeobin. “Jinjja? Ini bukan karena Seungri kan? Apakah dia berkata kepadamu untuk menjauhiku?”

Sontak gadis itu menggeleng. “Dia sama sekali tidak menyuruhku menjauhiku. Ini keinginanku sendiri.” Ia menjawab pelan.

Kalimat yang baru saja ia katakan memang ada benar dan salahnya. Seungri memang tidak menyuruhnya untuk menjauhi Kibum. Tapi, ini bukan keinginannya untuk menjauhi lelaki yang sudah seperti oppa-nya sendiri. Bahkan, bisa dibilang ia merasa lelaki ini lebih istimewa dari ‘oppa’.

“Ok, kalau begitu. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi. Senang bisa mengenalmu. Mungkin aku bodoh, tapi jika kau berubah pikiran dan mulai membuka hatimu kepadaku, datanglah ke taman dekat sini seminggu lagi pada jam lima sore. Minggu depan adalah hari ulang tahunmu kan? Jika kau tidak datang, aku berjanji akan menghilang dari kehidupanmu, Hyeo-ah.”

Lelaki itu berbalik dan menjauh dari sang gadis. Membuat gadis tersebut—entah mengapa merasa hatinya pedas. Suatu kebingungan mengganjal dirinya. Apakah ia akan pergi—atau tidak? Sepintas hatinya mengatakan: ‘Untuk apa ia pergi? Toh, hatinya hanya untuk Seungri~’ tapi sepintas lagi ia ingin pergi. Ada rasa menyesal dalam hatinya jika ia memutuskan untuk tidak pergi.

“Hyeobin-ah, ottokhae? Apakah pegal? Kau bekerja sibuk sekali.” Seungri muncul entah darimana dan langsung tersenyum ramah. Hyeobin langsung tersenyum lebar. “Gwenchana. Semuanya sudah hilang saat melihat wajahmu.” Seketika mereka tertawa. “Aku baru tau ada gadis yang bisa menggombal.”

“Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Mereka berdua kembali tertawa. “Acaranya sudah selesai, ayo kita pulang. Nanti aku akan memasak makanan enak untukmu.”

Sontak Hyeobin melirik Seungri. “Kau? Memasak? Sejak kapan?” Seungri merubah ekspresinya menjadi cemberut. “Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Ia mengikuti persis ucapan Hyeobin dan mereka berdua kembali tertawa. Dalam hati ia menggumam: ‘Kurasa akan lebih baik jika tidak pergi.’

*^*

“Hyeobin-ah, ireona! Palli!”

Gadis itu membuka matanya dan langsung bisa melihat seorang pria sedang berada persis di hadapannya. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Hyeobin terkejut dan reflek mendorong Seungri hingga menabrak tembok.

“Aigoo, Hyeo-ah. Aku hanya ingin mengatakan happy birthday kepadamu. Kau pikir aku akan melakukan yang macam-macam kepadamu?”

Hyeobin tersenyum innocent sembari membantu membangunkan Seungri. “Mianhae, Seung-ah.” Seungri langsung tersenyum ketika melihat senyuman polos dari bibir Hyeobin. “Gwenchana. Saengil chukae, nae jagi. Saranghae.”

Pria tersebut mencubit pipi Hyeobin pelan. “Gomawo, nae jagi. Na tto saranghae.”

Mereka berdua berpelukan sebentar, lalu saling mengecup. “Sebentar! Tutup matamu. Aku punya kejutan.” Hyeobin mengangguk dan menutup matanya. “Sekarang buka matamu!” Gadis itu membuka mata dan terkejut. Ia bisa melihat sebuah kue berlapiskan coklat dan cream dengan tulisan ‘19’ sedang dibawa oleh seorang pria. Pria yang istimewa. “Seungri~”

Make a wish, Hyeo-ah.”

Gadis itu mengangguk dan mulai membuat permohonan. “Sudah selesai?” Seungri bertanya. Hyeobin mengangguk pelan. “Sekarang, tiup lilinnya.”

Hyeobin dan Seungri meniup lilinnya bersama-sama. Lalu, Seungri menyingkirkan tulisan ‘19’ itu dan langsung menaruh kuenya di meja. Ia mencolek coklat kue itu dan mengoleskannya di kening Hyeobin. “Ahhh! Lee Seungri!!!”

Seungri tertawa. Hyeobin mencolek cream di kue itu dan mengoleskan ke pipi Seungri. Mereka berdua pun saling mengoleskan coklat dan cream hingga seluruh wajah mereka penuh dengan noda. Setelah lelah, mereka berdua berbaring di kasur. Saat saling menatap, mereka berdua akan tertawa akan hasil colekan mereka berdua.

“Hyeobin-ah.”

“Ne?” Gadis itu menatap Seungri. “Aku pamit dulu ya. Pagi ini ada jadwal kuliah. Jika lapar, aku sudah menyiapkan sesuatu di kulkas.” Hyeobin mengangguk dan tersenyum. Menyadari betapa sweet kekasihnya. “Sampai jumpa~” Seungri mengecup kening Hyeobin dan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya keluar. Hyeobin langsung membuka kulkas dan bisa melihat sepotong roti sudah tersedia untuknya. Disitu juga ada selembar kertas.

Aku tau ini terburu-buru; tapi maukah kau menjadi tunanganku, Hyeo-ah? Aku merasa kita sudah cocok. Aku juga sangat mencintaimu. Jika kau mau menjadi tunanganku, datanglah sore ini jam lima ke taman dekat sini. Tapi jika kau merasa kita tidak bisa bersama lagi, jangan datang. Aku akan menunggu~

N.B. : Aku harap kau datang. Saranghae~ ^^

Hyeobin tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Ada rasa kebahagiaan yang tak terkira. Seungri—melamarnya? Namun, ada perasaan aneh yang kembali merasuki tubuhnya. Ia mencoba mengingatnya dan kemudian tersentak. Bukankah Kibum juga menyuruhnya bertemuan di jam dan tempat yang sama? Mana yang harus ia pilih?

*^*

Gadis itu mematut bayangannya sendiri di kaca. Cantik. Sempurna. Namun, ada yang kurang. Ia masih—bingung. Di sisi lain, Seungri adalah pria impian Hyeobin. Menjadi kekasihnya adalah kebahagian terindah baginya. Dan tak bisa dipungkiri, setiap detik kehidupannya selalu lebih berharga jika dilewati dengan Seungri. Namun di sisi lainnya, Kibum entah mengapa selalu berada di hatinya. Ia merasa lebih nyaman jika berada di sisinya. Ia bisa tertawa, menangis, dan tersenyum dengan lebih leluasa dengan Kibum.

Tak bisakah ia menerima keduanya? Rasanya, ia tak tega bila menghancurkan hati salah satu dari keduanya. Perlahan, kakinya melangkah kearah taman. Bisa ia lihat Kibum sudah menunggu di sisi kiri taman, sedangkan Seungri sedang menunggu di sisi kanan. Di wajah mereka berdua, bisa terbaca jelas harapan dan penantian.

Hyeobin berhenti di tengah. Menatap mereka berdua dalam. Daun-daun berjatuhan. Gadis itu mengambil salah satu daun dan mencabuti satu persatu daun itu seraya menyebutkan nama mereka berdua. Tak sadar, ia sudah lama berdiri disitu. Tapi tak ada keputusan yang berhasil diambil.

Ia menutup mata. Memohon kepada Tuhan agar ia bisa memilih dengan benar. Kemudian dengan air mata, ia melangkah kearah kanan. Arah Seungri.

“Hyeobin-ah!” Seungri memekik sembari memeluk Hyeobin girang. “Senang kau berada disini.” Ia berkata lagi, tampak sangat girang. Air mata semakin berjatuhan dari kedua pelupuk mata Hyeobin. “Mianhae, Seung-ah. Dan gomawo. Mungkin kita belum ditakdirkan bersama. Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya kita pasti bisa bersama.”

“A… apa… maksudmu?”

Hyeobin tersenyum. “Aku percaya kau adalah pria yang sangat baik. Pasti kau akan mendapatkan yang lebih cantik, baik, dan lebih setia dariku.”

“Aku… masih tak mengerti.”

Ia mengkerutkan keningnya, lalu pandangan matanya tak sengaja menatap Kibum yang sedang berada di samping sebelah kirinya. “Ah, aku mengerti sekarang. Baiklah, jika itu keputusanmu.” Seungri berkata dengan mantap. “Kau… tidak marah? Atau melarangku pergi?”

Pria tersebut tersenyum hangat. “Bukankah sudah kubilang jika kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesarku? Jika kau lebih bahagia bersamanya, tentu aku akan mendukungmu. Sana, pergilah!” Ia masih berusaha tersenyum hangat. “Gomawo! Jeongmal gomawo!”

Hyeobin berlari kearah Kibum dan memeluknya. Kibum sedikit terkejut, namun akhirnya tersenyum lebar dan balas memeluk Hyeobin dengan erat.

*^*

[Epilog]

Pria itu meneteskan air matanya. Apalagi saat melihat dua sosok lelaki dan gadis saling berpelukan dengan erat. Perlahan, ia melangkah menjauh dari dua sosok itu dan berjalan ke sebuah danau yang masih berada dekat dari situ. Tepat saat ia melihat seorang perempuan sedang menangis di tepi danau itu.

“Kenapa kau menangis?”

Seungri bertanya hati-hati. Sang perempuan menatapnya lirih. “Kekasihku—lebih memilih gadis lain dibandingkan diriku. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum saat melihat mereka.”

Seketika senyum menghiasi bibir Seungri. “Kalau begitu kita sama.”

Perempuan itu bingung. “Eh?”

*^*^*^*^*^*^*^*

END

 

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Three)" (2)

  1. Hyeobum said:

    Aku tau cewe terakhir itu pasti kamu *nuduh*
    Hoaaaaa
    Jeongmal
    Daebakkkkk!
    Aigooooo saengku bisa romantis jg hahahaha *digeplak suami segudang chris*
    Tapi kenapa ya aku lebih sreg kalo akhirnya sama seungri aja? *mulai protes*
    Abis bum kayaknya tua banget *alasan ngga logis*
    Pokoknya daebakkk lah saeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: