Full of inspiration and story

[Chapter Two – New Generation]

 

Udara dingin menusuk tulang. Seluruh pelosok tampak putih. Cairan-cairan yang menyerupai balok kecil berjatuhan dari langit. Salju. Yah, salju memang tampak menyenangkan. Namun, jika sudah terbiasa tinggal di daerah bersalju, pandangan tentang hal itu akan berubah. Sepasang manusia tak henti-hentinya menggosokan tangan mereka yang sudah memakai sarung tangan tebal.

Pikiran sang gadis tak fokus. Entah mengapa, ada sesuatu yang familiar dengan negeri asing yang mereka tempati sekarang, New Jersey. Namun, sialnya, ia sama sekali tidak ingat apa itu. “Ada apa?”

Kim Hyeobin langsung menatap Lee Seungri yang tampaknya menyadari ketidak fokusan kekasih hatinya. “Gwenchana. Masih berapa lama lagi kendaraan tiba?” Ia bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin sebentar lagi. Molla~”

Seungri menjawab sembari menggenggam tangan Hyeobin erat, seakan takut gadis yang amat disayanginya membeku. Hyeobin tersenyum melihat betapa perhatiannya pria di sampingnya. Suara dering handphone berbunyi. Ternyata berasal dari telepon selular sang pria. “Aku angkat dulu ya.”

Gadis tersebut mengangguk. Ia tau pasti, yang meneleponnya adalah orang yang penting. Saat sedang larut kembali dalam pikirannya, Hyeobin bisa melihat sebuah van berlogo ‘Berkeley College’ sedang berhenti. Keluarlah puluhan orang—yang gadis itu pikir pasti mahasiswa—dan berhamburan tanpa tujuan yang sama.

“Ga… gadis balkon?”

Hyeobin merasa panggilan special-nya disebut. Ia menoleh dan. . .

“Sunbaenim?!”, sahutnya tak percaya. Lelaki di hadapannya sudah berubah menjadi lelaki yang lebih dewasa, lebih tinggi, dan lebih—tampan.

“Bagaimana kau bisa disini?” Ia bertanya dengan pandangan tak percaya. Kibum tersenyum gemas. “Bukannya sudah kubilang kalau aku akan kuliah disini. Mestinya sekarang aku yang bertanya padamu.”

Memory masa SMA seakan membludak masuk ke dalam otak gadis tersebut. Ingin rasanya ia menepak kepalanya sendiri. Jadi, ini penyebabnya ia merasa bahwa dari awal negeri ini tampak familiar. “Aku… ingin kuliah disini, oppa.” Gadis itu menjawab seraya tersenyum. Entah mengapa, ada rasa senang yang sedikit berlebihan saat akhirnya bisa melihat lelaki ini lagi—setelah sekian lama tak melihatnya.

“Jinjja?! Baguslah kalau begitu. Kau kesini sendiri?”

Pertanyaan Kibum barusan membuat Hyeobin tersadar. “Hyeo-ah!” Seungri berteriak sembari melangkah menuju mereka berdua. “Ah! Kenalkan, ini kekasihku.” Hyeobin tersenyum seraya menunjuk pria di sebelahnya. Hal itu—entah membuat hati Kibum merasa denyutan misterius di hatinya yang menyakitkan.

“Lee Seungri.” Pria tersebut memberikan tangannya, seraya tersenyum ramah. “Kim Kibum.” Sang lelaki juga balas tersenyum dan menjabat tangannya. “Kalian berdua… ingin kuliah disini? Mengapa dan dimana?”

“Kebetulan kami berdua diterima di university di New Jersey ini. Ada beberapa tawaran, tapi sepertinya kami akan kuliah di Bloomfield College.” Seungri menjawab dengan santai, dibalas anggukan Hyeobin. Kibum mengambil kertas dan pulpen dari kantungnya dan menulis sesuatu. “Ini nomorku. Jika kalian butuh bantuan disini, hubungi saja aku. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi, Seungri-ssi.”

Sang gadis dan pria menunduk kecil. “Sampai jumpa, sunbae!”

*^*

“Bagaimana jurusan Art-nya? Apakah kau suka?” Pria yang duduk dengan head-set kecil di telinganya, tersenyum. Gadis itu mengangguk kecil. “Aku sangat menyukainya. Masih tidak percaya aku bisa kuliah di luar negeri seperti ini. Bagaimana denganmu? Apakah kau suka jurusan dance-nya?” Seungri tersenyum dan mengelus rambut Hyeobin lembut. “Tentu. Dance adalah hidupku. Tentunya setelah dirimu.”

Hyeobin merasakan pipinya merona. “Apakah kau benar-benar serius kepadaku, Seung-ah?”, tanyanya pelan. Dalam hati, ia menyalahkan mulutnya sendiri yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Tentu saja aku serius, Hyeo-ah. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Ani, Seung-jagi. Aku hanya… tak percaya kita sudah menjadi sepasang kekasih selama tiga tahun ini. Semuanya berlalu begitu saja. Kau bagai permata berukiran indah yang dipajang di sebuah museum, sedangkan aku—hanya batu yang tergeletak begitu saja.” Gadis itu menatap makanan yang ada di depannya.

Pria tersebut tersenyum penuh arti. “Siapa bilang? Bagiku, kau adalah emas berlian dengan keindahan tak berhingga. Senyummu adalah hidupku. Dan air matamu adalah penderitaanku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dan kesedihanmu adalah kesedihan terbesarku. Jadi, jangan berkata hal-hal seperti itu lagi.”

Hyeobin mengangguk pelan. Air matanya turun secara tak terkontrol. Seungri menghapus air mata yang keluar dari mata Hyeobin, menatapnya dengan pandangan tanya.

“Jangan khawatir. Aku… hanya terharu.” Hyeobin berucap pelan. Membuat pria di hadapannya kembali tersenyum. “Kau sadar betapa manisnya dirimu?”

Senada dengan perkataan yang dilontarkan pria itu, wajahnya mulai mendekat. Membuat nafas sang pria bisa terasa jelas oleh gadis tersebut. Wajah mereka saling mendekat. Hyeobin—secara reflek—menutup matanya. Membiarkan bibirnya merasakan kegembiraan tak terhingga. “Ehem!”

Tepat satu centi lagi bibir mereka bertemu, suara dehaman membuat mereka terkejut. Ternyata suara yang berasal dari senior mereka. “Later, we will have committe meeting. You both must come. (Nanti akan ada rapat panitia jam tiga sore ini. Kalian harus datang).”

Mereka berdua sontak mengangguk. Wajah mereka berdua berubah warna menjadi sangat merah. “Kelasku akan segera dimulai. Sampai—jumpa, Hyeobinnie.”

“Ne. Aku juga. Sampai jumpa, Seung-ah.”

*^*

Our university will make an anniversary party. And, we will invite others university too. This is the lists. One person goes to one university, okay? (Universitas kita akan mengadakan pesta ulang tahun. Dan, kita akan mengundang universitas yang lain juga. Ini adalah daftarnya. Satu orang pergi ke satu universitas ya?)”

Semuanya mengangguk dan mulai bubar masing-masing. “Hyeo-ah, university apa yang ingin kau kunjungi?” Seungri bertanya di perjalanan keluar gedung. “I don’t know either. Berkeley College, maybe.

Seungri berpikir sebentar, lalu ingat jika sunbae yang ditemui mereka kemarin itu sekarang berkuliah di Berkeley College. “Mengapa kau ingin ke university itu?”, tanyanya, memancing. “Entahlah~ Mungkin karena university itu paling dekat dari sini.”

Dalam hati pria tersebut menyesali perbuatan sang gadis—yang ia tau sedang berbohong kepadanya. “Apakah tidak bisa kau berkata sejujurnya kepadaku?”, bisiknya pelan. “Aku pergi dulu ya, Seung-ah. Fighting!” Gadis itu langsung pergi menghilang dari hadapan sang pria, membuatnya tambah panas.

Excuse me, I’m from Bloomfield College. We want to send an invitation to this university. (Pemisi, saya dari Bloomfield College. Kita ingin mengirimkan undangan untuk universitas ini.)” Hyeobin tersenyum sembari memberi undangan kepada seorang rektor disana. “Ok, then. Just speak with our committes. They having a meeting in that room. (Baiklah kalau begitu. Bicaralah saja kepada panitia kami. Mereka sedang menjalani rapat di ruangan itu.)”

Gadis tersebut mengangguk dan mulai mengetuk pintu ruang rapat, kemudian masuk ke dalam ruangan. Ia bisa melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi sedang menjalankan rapat. Hyeobin menjelaskan tujuan kedatangannya dan akhirnya—setelah setengah jam lebih, keputusan berhasil diputuskan.

Nice to meet you.

Hyeobin menunduk kecil mendengar ucapan ketua panitia. Ia baru ingin pulang, sebelum melihat suatu pemandangan indah terlukis di balkon kampus itu. Rasanya itu semua seperti dejavu baginya. Pohon-pohon yang berlenggok dimainkan angin, burung-burung yang beterbangan tanpa arah, dan juga suara hembusan angin yang menenangkan hati.

“Gadis balkon!” Panggilan itu seakan membuat Hyeobin kembali terkejut.

“Kibum-oppa!”, dia memanggil lelaki yang sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. “Kita bertemu lagi.” Kibum berkata, sembari tersenyum kecil. “Ternyata kau masih belum berubah. Masih menjadi gadis balkon-ku.” Ia kembali berbicara. Hyeobin terkekeh pelan. “Tapi kali ini aku tak dapat menghiburmu lagi.”

“Kenapa?” Gadis tersebut bertanya, mengkerutkan keningnya. “Kau sudah mendapatkan pria yang kau cintai, bukan? Jadi, tak ada alasan untuk bersedih.” Hyeobin mengangguk, walaupun dalam hatinya ia merasa ada aura misterius yang terus mengetuk-ketuk hatinya dengan keras.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kembali berada di pikiran masing-masing. “Kau tinggal dimana?”, tanya sang pria, mencairkan suasana. “Di salah satu asrama. Aku dan Seungri tinggal disitu.” Gadis itu menjawab pelan. “Boleh aku mengatakan yang sejujurnya kepadamu, Hyeobin-ah?”

Gadis itu sedikit terbingung, namun memilih menganggukan kepalanya. Kibum membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Saat ia menyatakan perasaannya kepadamu, kebetulan aku berada disitu. Dan entah mengapa—rasanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada yang menusuk hatiku dengan pisau berkali-kali. Dan saat tau akan berpisah denganmu, rasanya hatiku merasakan kesedihan yang luar biasa. Melebihi kesedihanku saat harus berpisah dengan teman-teman yang lain.”

Lelaki itu terdiam sebentar. Sang gadis masih diam mendengarkan. “Dan saat berada disini, yang ada dalam pikiranku hanya dirimu. Seakan merasa—ada satu organku yang tertinggal. Awalnya, aku bingung tentang hal yang aku rasakan. Tapi, sekarang aku sadar. Aku sedang mencinta. Dan orang yang kucintai… adalah dirimu.”

Pupil bola mata Hyeobin membesar seketika.

“Aku tau… tak seharusnya aku mengatakan hal ini. Aku tau… kau sudah bersama orang yang kau cinta. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku selama bertahun-tahun ini. Jika hanya memendamnya, hatiku akan sangat menderita. Sekarang—walaupun kau tidak menerimaku, aku merasa sedikit lebih lega.” Kibum tersenyum simpul. Arah matanya masih ia arahkan ke bawah.

Hyeobin mengelus rambut Kibum lembut.

“Mianhae, oppa. Aku sama sekali tidak menyadari perasaanmu sebelumnya. Tapi, aku hanya menganggapmu oppa-ku. Tidak lebih dari itu. Jeongmal mianhae. Kuharap, setelah kejadian ini, kita masih bisa akrab seperti dulu. Karena jujur, hatiku sangat nyaman saat bersamamu.” Hyeobin menundukan kepalanya. Kibum tersenyum kecil dan mencubit pipi Hyeobin pelan.

“Ahhh~ Uri Hyeobin sudah dewasa ternyata. Kalau begitu, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tunjukkan saja jalannya. Arasso?” Lelaki itu menarik tangan sang gadis. “Tidak usah, oppa. Aku bisa naik taxi.” Dia menolak halus. Bersamaan dengan itu, suara petir menggelegar seketika. Hujan pun turun membasahi bumi dengan deras.

Membuat senyuman terukir di bibir si lelaki. “Tidak mungkin kan kau pulang sendiri dengan keadaan hujan deras seperti ini. Sudahlah, ayo aku antar.” Kibum menarik tangan Hyeobin kembali. Hyeobin mengangguk pasrah. Mereka berdua berjalan menuju mobil dengan cepat karena pasukan hujan yang turun tanpa rasa kasihan. Meninggalkan seseorang yang sudah kehujanan dengan perasaan bercampur aduk.

Di perjalanan, mereka hanya diam. Suara petir ditambah suara lagu yang sedang diputar di dashboard bersatu padu menjadi sebuah alunan yang menjadi backsound mereka.

“Bagaimana kehidupan SMA-mu setelah aku pergi dulu?” Kibum bertanya, berusaha mencairkan suasana. “Baik-baik saja. Seungri selalu ada untukku. Tadinya aku pikir ia hanya main-main denganku, tetapi ternyata—ia benar-benar serius. Banyak yang menentang hubungan kami berdua, apalagi trio Kangin, Yesung, dan Heechul; namun Seungri selalu melindungiku. Dan itu membuatku lebih baik.”

Entah mengapa, hati lelaki itu kembali merasa sakit saat mendengar sang gadis terus memuji pria lain di hadapannya. Dan pria itu—adalah pria yang memiliki gadis ini sepenuhnya. Bukan dirinya. Melainkan pria yang seratus persen menang darinya. Dari pertempuran yang bahkan tidak pria itu usahakan sama sekali.

“Sudah sampai. Gomawo, Kibum-oppa.” Hyeobin berucap pelan, kemudian membuka pintu dan keluar perlahan. Bisa terlihat gadis itu sempat tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Setelah sang lelaki itu pergi, Hyeobin langsung melangkah pelan menuju asrama mereka. Ia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia mulai memasak untuk makan sorenya hari ini. Tepatnya sebelum bel berbunyi secara tiba-tiba.

“Sia—Aigoo!!!” Hyeobin bisa melihat seorang pria sedang berdiri di pintu rumahnya dengan basah kuyup. Benar-benar kacau.

“Seungri-ah, gwenchana? Kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?” Hyeobin bertanya sembari mempersilahkan pria itu untuk masuk. “Sana, cepat ganti baju. Kau pasti sangat kedinginan. Kebetulan, ada beberapa pakaianmu yang tertinggal di asramaku.”

Pria itu mengangguk dan melakukan hal yang disuruh sang gadis. Setelah selesai, ia duduk di sofa. Hyeobin mengecek kening pria itu dan terkejut. “Panas sekali! Kau pasti sakit. Akan kuambilkan obat.” Gadis tersebut beranjak bangun, sebelum ditahan oleh tangan pria itu. Pria tersebut menarik tangan sang gadis dan menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi.

“Kenapa lama sekali baru pulang?”, tanyanya, sedikit serak. “Ra… rapatnya memang sedikit lama.”

Gadis itu berkata cepat. Bukannya ingin berbohong, namun akan lebih baik pria di hadapannya ini tidak tau yang sebenarnya.

“Rapatnya lama? Kau memang benar-benar tidak pandai berbohong, Hyeo-ah.” Seungri menarik nafas dalam. Hyeobin terpaku. Ada rasa keterkejutan mendalam di jantungnya. “Eh?” Hyeobin bertanya, masih bertingkah senormal mungkin.

Seungri tersenyum lirih. “Apakah rapat itu adalah duduk dan berbincang berdua bersama sunbae saat SMA?” Pertanyaan tersebut sontak membuat Hyeobin lebih kaget. Hatinya gelisah. Namun, tak bisa dipungkiri, ada rasa penyesalan di benak terdalamnya.

“Mianhae, Seung-ah. Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa diucapkan dari mulutnya.

“Jika tentang kau dan sunbae itu, aku tidak masalah. Yang aku masalahkan adalah—kenapa kau berbohong padaku? Tidak bisakah kau berkata yang sebenarnya? Aku juga sangat percaya kepadamu, Hyeobin-ah. Dan aku tau, aku tidak boleh terlalu mengkekangmu. Bukan salahmu jika kau ingin berbincang kembali dengan sunbae yang sudah lama tak kau temui. Tapi tolong, jangan berbohong padaku.”

Air mata turun perlahan dari pelupuk mata gadis itu. Ia menyesal. Sangat menyesal. “Mianhae. Jeongmal mianhae.” Gadis itu kembali berucap pelan. Seungri memeluk sang gadis, mendekapnya ke pelukan. “Gwenchana. Tapi, please, lain kali jangan bohongi aku. Ok? Jangan buat kepercayaanku hilang.”

Hyeobin mengangguk pelan.

“Aku janji. Aku memang sangat bodoh. Tak seharusnya, aku mengkhianati kepercayaan orang yang sangat kucintai dan mencintaiku sepenuh hati. Kau sangat pengertian kepadaku, tapi aku malah membalasmu dengan ini. Mianhae, Seung-ah.”

Seungri tersenyum hangat. Mereka berdua kembali berpelukan.

 

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Two)" (2)

  1. Aigoooo
    Rin ngga bilang2 kalo udah publish
    Kyaaaaaa! Sweet bangeeeeeeeeet!
    Aku senyum2 sendiri bacanya *itumah karna emang udh ngga waras wkwkwk* #gampar diri sendiri
    Omo, aku sukaaaaa banget
    Kurelain jempolku nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: