Full of inspiration and story

Archive for March, 2011

Fanfiction : ~Heart~ [Chapter Three] {END}

[Chapter Three – End… Or Start?]

 

“Ada apa, Kyu-ya? Tak biasanya kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Apalagi di tempat seperti ini.” Yesung datang sembari tersenyum dan menepuk bahu Kyuhyun. Namun orang yang ditanya tak menjawab. Malah menatap Yesung dengan tatapan ganas. Ia melangkah dan menarik kerah seragam Yesung, membuat tas yang sedang dipegang mereka berdua terjatuh.

Tarikan kerah itu sangat besar, hingga kaki Yesung bahkan tidak menyentuh tanah. “Apa… mau… mu… Kyu… hyun?” Yesung bertanya dengan kesusahan. Suaranya serak. Ia mulai kehilangan oksigen. Namun, Kyuhyun hanya terdiam. Kemarahannya sudah berada di tingkat terparah, dan tak ada yang bisa menghentikannya.

“Kyu-ya!!! Apa yang kau lakukan??!!”

Kyuhyun menoleh dan bisa melihat Jiyoon sedang berlari. Reflek Kyuhyun melepas kerah Yesung, membuatnya terjatuh. Jiyoon langsung memeluk Yesung yang mulai tak sadarkan diri. Ia menangis. “Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?!”

Kyuhyun terdiam melihat adegan itu. “Jawab aku, Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan kepada kakakku?!”

Pertanyaan terakhir yang diajukan Jiyoon sontak membuat hati Kyuhyun mencelos. “Ka… kakak?” Jiyoon berdiri dan menampar Kyuhyun dengan keras. “Dia adalah kakak kembar dan saudara satu-satunya yang kupunya, tapi kenapa?! Kenapa kau lakukan ini??!!”

“Kakak… kembar?” Ingin rasanya, ia memukul dirinya sendiri dengan keras. Jadi, ini semua—hanya salah paham? Yesung adalah kakak kembar dari Jiyoon? Seketika itu juga, ia langsung mengangkat Yesung ke ruang kesehatan. Jiyoon hanya bisa mengikutinya dengan bingung. Yesung tidak apa-apa. Namun, ia masih tak sadarkan diri. Kyuhyun dan Jiyoon menunggu di ruangannya dengan diam.

“Apa kau sudah gila, Kyu-ya?! Kau yang menyakiti Yesung, dan sekarang kau yang ingin dia sembuh? Dan kenapa kau ingin menyakiti kakakku? Apa dia punya salah kepadamu?” Jiyoon sudah berusaha mengontrol amarahnya.

Kyuhyun menunduk. “Ini semua… salah paham. Aku pikir… Yesung adalah… pacarmu.”

“Pacarku? Tapi jika Yesung adalah pacarku, memang kenapa? Apa hubungannya denganmu?”, tanya Jiyoon, semakin bingung dengan apa yang ada dalam pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan berusaha menatap Jiyoon dengan pandangan dalam. “Karena… karena… aku… menci—”

“Kenapa kita disini?” Yesung bertanya pelan, membuat Jiyoon yang tadinya mendengar Kyuhyun menjadi terlonjak dan langsung memeluk Yesung. Kyuhyun hanya bisa berhenti meneruskan kata-katanya. “Kau tidak kenapa-napa kan?” Jiyoon masih memeluk Yesung dengan penuh kasih sayang. Membuat Yesung tersenyum. “Tentu saja tidak.”

“Maafkan… aku, Yesung-ah. Aku—”

Yesung tersenyum dan memotong Kyuhyun. “Gwenchana. Aku sudah tau semua permasalahannya.”, jawabnya santai. Kyuhyun hanya bisa menunduk. Hatinya merasakan campuran antara rasa bersalah dan rasa malu. “Kalian lanjutkan pembicaraan kalian saja. Aku akan pulang ke rumah duluan.”

Jiyoon menahan tangan Yesung. “Apa benar kau tidak apa-apa, oppa? Dan… bukankah kita punya janji?” Yesung tersenyum. “Tentu saja tidak apa-apa, Jiyoonnie. Janjinya kita batalkan saja. Aku sedikit merasa pusing. Ok? Kyu-ya, jaga dia. Jangan pulang malam-malam ya? Sampai jumpa~”

Ia berkata sembari mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum misterius kepada Kyuhyun. Sebelum pulang, Yesung membisikan sesuatu kepada Kyuhyun.

“Fighting, calon adik iparku!”

Entah mengapa, itu membuat Kyuhyun sedikit merasa geli. Mereka tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya Yesung keluar dari ruang kesehatan dan pulang ke rumah. Sekarang hanya ada Kyuhyun dan Jiyoon. “Tadi kau berkata apa, Kyuhyun-ya?”

“Emm… Itu—”

*^*

Soora perlahan bangun. Sinar matahari yang menembus kaca jendela kamarnya membuatnya sedikit silau. Ia menoleh saat akhirnya melihat seorang pria sedang tertidur dengan damai di sebelahnya. Posisinya sedang duduk, namun kepalanya menyender pada kasur Soora.

Tak sadar, ia mengelus rambut pria itu. Ia baru menyadari betapa tampannya pria ini, apalagi saat disinari matahari. Tak lama, pria itu bangun dan menggosok matanya. “Soora-ah. Sudah sembuh?”, tanyanya sembari menaruh tangannya ke kening Soora.

“Semalaman kau disini?” Soora bertanya. Donghae mengangguk sembari tersenyum. “Dan usahaku tidak sia-sia. Buktinya sekarang kau sudah sembuh.” Donghae menjawab dengan bangga. Membuat Soora tersenyum. “Gomawoyo, Hae-ah. Kau sangat perhatian kepadaku. Seandainya saja, Kyuhyun sepertimu.” Soora berucap pelan, membuat Donghae kembali cemberut.

“Bisa tidak sih jangan bicarakan Kyuhyun lagi?! Aku sudah muak. Hampir setiap hari yang kau bicarakan hanya Kyuhyun dan Kyuhyun. Dia tidak mencintaimu! Dia tidak pernah berbuat baik padamu! Dia juga tidak pernah menganggapmu! Aku yang selalu mencintaimu. Aku yang selalu baik padamu. Dan aku yang selalu menganggapmu, bahkan disaat suka dan duka. Tapi kenapa hanya dia yang kau pikirkan?!”

Perkataan Donghae membuat Soora tersentak. Donghae langsung pergi, meninggalkan Soora yang membeku. Ia menangis. Sialnya, semua yang dikatakan Donghae tidak pernah salah, dan ia tau itu. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

*^*

“Saranghae, Park Jiyoon.”

Perkataan itu akhirnya berhasil diucapkan Kyuhyun. Jiyoon terbelalak. Menunjuk Kyuhyun dan dirinya sendiri dengan tak percaya.

“. . .”

“Kau tidak menerimaku?” Kyuhyun bertanya, melihat Jiyoon yang malah diam. “Bukan begitu, Kyu.” Ia menjawab cepat. “Kalau begitu, jawablah dengan iya atau tidak.” Kyuhyun berucap. Ia begitu gugup hingga tidak bisa merasakan kepalanya sendiri. Jiyoon perlahan mengangguk. Membuat Kyuhyun yang gantian terbelalak. “Jinjja, Park Jiyoon?!”

Jiyoon mengangguk. “Jinjja, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun memeluk Jiyoon dengan erat. Mereka berdua tersenyum bahagia. “Misi berhasil!” Yesung berbisik, bersembunyi dan mengintip mereka berdua.

“Ayo!”

“Kemana?”, tanya Jiyoon bingung. “Kita harus melaksanakan kencan pertama kita!” Kyuhyun menjawab sembari menggenggam tangan Jiyoon, membawanya ke sebuah tempat.

*^*

Soora terdiam dan berpikir. Lalu, akhirnya ia mengambil keputusan dan berlari. “Donghae, tunggu aku!” Ia berteriak. Namun, tak membuat Donghae yang sedang melangkah, berhenti. Ia tetap berjalan dengan cepat.

“Hae-ah, na tto saranghae!!!”

Kali ini Donghae menghentikan langkahnya. Dunia seakan lebih cerah dalam penglihatannya. Ia berbalik dan bisa melihat Soora tersenyum kepadanya. Senyum tulus yang selalu Donghae dambakan. “Jinjja, Kim Soora?”

Soora mengangguk. “Aku tidak akan mengulang kata-kataku, Lee Donghae.”

Mereka berpelukan dengan segera. “Maafkan aku, Hae-ah. Aku sadar sekarang jika aku salah. Dan, aku sadar bahwa Kyuhyun hanyalah orang yang kusuka.” Donghae langsung merubah ekspresinya. “Lalu, jika Kyu orang yang kau suka, bagaimana denganku?”

“Kau adalah orang yang ada di hatiku. Kau adalah orang yang kucinta. Dan kau adalah kekasihku mulai sekarang.”

Donghae kembali tersenyum dan memeluk Soora.

“Ayo, ikut aku! Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Mereka berdua mengambil salah satu mobil Soora dan mulai berjalan.

*^*

“Kita akan kemana, Cho Kyuhyun?” Jiyoon bertanya. Ia benar-benar penasaran dengan ini semua. “Ikut saja, Jiyoon-ah. Aku juga tidak akan melakukan yang macam-macam kepadamu.” Kyuhyun tertawa sembari melajukan kecepatan mobilnya.

“Sekarang buka saja penutup matanya.” Jiyoon membuka penutup kepalanya perlahan. Bisa melihat bahwa ia sudah berada di atas kereta gantung yang sedang mengambang di udara lepas. Bintang-bintang terlihat jelas. Menambah keromantisan yang tercipta. “Ini indah, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum dan menatap Jiyoon dalam. “Tapi tidak seindah dirimu.”

“Cihh! Gombal!” Kyuhyun tertawa pelan. “Aku bukan tipe lelaki seperti itu, Jiyoon-ah!” Jiyoon ikut tertawa. “Lalu, kau tipe lelaki yang bagaimana?”

Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyoon. “Aku tipe lelaki yang akan mencium kekasihnya di kereta gantung.” Ia berbisik pelan sembari mulai memejamkan mata. Begitu juga dengan Jiyoon yang sedang memejamkan matanya. Baru saja mereka ingin melakukannya, namun Jiyoon terdorong hingga hampir terjatuh. Untung saja Kyuhyun memegang Jiyoon.

“Mianhae. Mianhae.” Perempuan yang tak sengaja mendorongnya menunduk. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut. “Park Jiyoon?!”

“Kim Soora?!”

“Ada apa?” Seorang lelaki langsung mendekat kearah Soora. “Lee Donghae?!”

“Cho Kyuhyun?!”

Mereka berempat sontak tertawa. “Apa yang kau lakukan disini?” Jiyoon bertanya. “Menjalankan kencan pertama kita.” Soora menjawab sembari menunduk malu. “Jinjja?! Kalau begitu kita sama! Chukae, Soora-ah. Chukae, Donghae-ah.”

Soora dan Donghae langsung berbunga-bunga.

“Chukae juga ya untuk kalian.” Mereka berdua berkata bersamaan dan kemudian saling melemparkan senyum. “Kau baru saja menghancurkan ciuman pertama kami, Soora-ah.” Kyuhyun berucap sembari cemberut. “Tadi, kami juga baru saja akan melakukan ciuman pertama, sebelum kereta gantung itu bergoyang secara tiba-tiba.” Donghae menjelaskan dan mereka berempat tertawa bersama.

“Sekarang kita kemana?”

Double date? Seperti kencan ganda?” Donghae mengusul. Semua langsung setuju dan mereka semua tertawa bersama. “Tanggal berapa ini?” Soora bertanya dengan cepat. “14 April.” Kyuhyun menjawab sembari melihat handphone-nya. “Walaupun ini bukan 14 Februari, tapi hari ini adalah hari kasih sayang terbaikku.” Ia menjawab.

Yang lain mengangguk setuju dan saling tersenyum.

 

*(*)*

END

 

@All : Seperti biasa komen ya~~

@LivRa : Mian ya klo rada aneh… Bener2 gak berbakat jd penulis ff~ >.< Semoga suka… 😀 (Note : Cerita kalian jg cepet dilanjutin ya~~ #plakk*

Fanfiction : ~Heart~ [Chapter Two]

[Chapter Two – Change]

 

“Kyu-ah, ada apa denganmu?! Tak biasanya kau bermain dengan kacau seperti ini.” Donghae menepuk pundak Kyuhyun yang seharian ini terlalu banyak terdiam. Membuat Kyuhyun tersontak. “Kau mengagetkanku, Hae.”

Donghae duduk di sebelah Kyuhyun. “Menurutmu… cinta itu apa?” Kyuhyun melanjutkan, membuat Donghae hampir jatuh dari duduknya. “Cinta? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Kau… tidak jatuh cinta kan?”

Kyuhyun sontak terbatuk. “Tentu saja tidak, Hae-ah! Aku hanya bertanya.”

“Cinta itu… sesuatu yang sangat misterius. Cinta kelihatan menarik dan indah jika hanya dipandang, tapi jika kau merasakannya, semua akan berubah. Cinta bisa menjadi lebih kejam daripada penyakit kanker. Jika kau mencintai seseorang, kau akan selalu memikirkan orang itu. Jika kau bertemu orang itu, jantungmu akan berdetak cepat seakan ingin keluar dari badanmu.” Donghae menjelaskan perlahan.

“Jika melihat orang itu bersama orang lain, kau akan merasa hatimu seakan diiris-iris perlahan oleh pisau yang paling tajam. Dan jika kau tak melihat atau bertemu dengannya sebentar saja, kau akan merasa seakan tinggal di Neraka. Cinta itu juga… rumit. Jika kau sudah terjerat, kau tidak akan bisa menolak atau melepaskannya. Otakmu akan menjadi buta seketika. Kau akan kehilangan akal sehatmu.”

“Apakah cinta separah itu?”

Kyuhyun bertanya dengan polos. Donghae langsung menggelengkan kepalanya. “Tapi, cinta itu tidak seburuk yang kau bayangkan. Setidaknya, jika kau tidak mengalami cinta bertepuk sebelah tangan—sepertiku.” Donghae menunduk kecil. “Kau mengalami cinta bertepuk sebelah tangan? Dengan siapa?”

Donghae ingin memukul kepalanya sendiri. “Tidak dengan siapa-siapa!” Dia langsung sontak berteriak. Kyuhyun tertawa. “Jinjja? Bukan dengan Hanhee? Atau Jaena?”

“Tentu bukan! Kau sendiri dengan siapa?” Donghae mengalihkan pembicaraan sembari menatap Kyuhyun dengan pandangan tanya. “Aku tidak bilang sedang jatuh cinta.” Kyuhyun berucap dengan santai sembari bangun dan melangkah menuju gedung sekolah.

 

=+=

 

Jiyoon dengan cepat melangkah pulang ke rumah yang tidak jauh dari sekolah. Begitu tiba, ia langsung disambut dengan teriakan dan pecahan piring dari kedua orang tuanya. Namun, tampaknya ia sudah biasa. Seakan tidak ada apa-apa, ia melangkah menuju kamarnya. Begitu ia membuka kamar, ia bisa langsung melihat seseorang sedang tertidur di kasurnya. Seseorang yang sangat tidak asing.

“Aigoo! Oppa!!!”

Jiyoon langsung memeluk kakak kandung satu-satunya dengan penuh kerinduan. ”Jiyoon-ah, sudah pulang sekolah?”

“Kapan oppa pulang dari Paris? Kenapa tidak memberitahuku dulu?” Jiyoon masih memeluk kakak kembar yang sudah selama lima tahun ini sekolah di luar negeri. “Aku ingin memberi kejutan untukmu. Dan, aku punya satu kejutan lagi sekarang.” Yesung tersenyum penuh misterius kepada adik yang hanya berbeda satu menit lebih muda darinya.

“Apa itu?!” Jiyoon bertanya dengan semangat yang tinggi. “Aku akan menetap disini. Dan… besok, aku akan sekolah di sekolahmu. Bahkan, sekelas denganmu.” Ucapan Yesung sontak membuat Jiyoon semakin gembira. Tak sedetik pun, ia berhenti tersenyum.

 

*^*

 

“Kim Soora!”

Donghae kembali berteriak seperti biasa. Namun, tak seperti biasanya, kali ini Soora tersenyum kepada Donghae. “Annyeong, Donghae-ah.” Ia menjawab dengan ramah. Membuat Donghae tersenyum senang. Kyuhyun sudah ada disitu, sedang membaca buku seperti biasa. Tak lama Jiyoon datang, dengan menggenggam tangan seseorang dengan mesra. Orang itu berpakaian seragam yang sama dengannya.

Mereka berdua tertawa bersama. Entah kenapa, membuat Kyuhyun merasa panas. Bersamaan dengan itu, bel berbunyi dan Han Saenim pun masuk. “Ada murid baru di kelas ini. Silahkan kenalkan dirimu.” Han Saenim berkata pelan. Pria itu mengangguk dan langsung berdiri di depan. “Namaku Yesung. Sebelumnya, aku sekolah di Paris. Semoga kalian bisa membantuku.”

Ia menunduk kecil, dibalas dengan sorakan ramah anak murid yang lain. “Silahkan duduk di sebelah Cho Kyuhyun, sebelah sana. Kebetulan ia adalah ketua kelas dan ketua OSIS. Jadi, jika ada sesuatu yang membingungkan, kau bisa bertanya kepadanya.” Han Saenim menunjuk Kyuhyun sembari tersenyum. Yesung mengangguk dan langsung duduk di sebelah Kyuhyun.

“Halo, aku Yesung.” Ia memperkenalkan diri sembari memberi tangannya, ingin bersalaman. “Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun membalas dingin tanpa menyalami tangan Yesung. “Semoga kita bisa jadi teman akrab. Kau teman pertamaku disini.” Yesung berucap sembari tersenyum, seakan tidak merasa ditolak oleh Kyuhyun. “Kau sudah berteman akrab dengan Jiyoon kan?” Kyuhyun bertanya dengan dingin. Yesung tersenyum. “Ahh, Jiyoon berbeda. Ia bukan sekedar teman biasaku.”, jawabnya santai.

“Bukan… teman biasa?” Kyuhyun bergumam kecil, sehingga hanya didengar olehnya sendiri. Hatinya panas. Rasanya ada perasaan perih yang menghampiri. Seketika ia teringat ucapan Donghae waktu itu.

“Jika melihat orang itu bersama orang lain, kau akan merasa hatimu seakan diiris-iris perlahan oleh pisau yang paling tajam.”

Dan, ia sedang mengalami persis apa yang dikatakan Donghae. Rasanya sakit sekali. Pandangannya secara tak sadar, ia tujukan kepada Jiyoon. Mereka saling bertukar pandangan. Kyuhyun merasa matanya mulai berat oleh butir-butir air yang berusaha ditahannya. Ia langsung bangun dan menghampiri Han Saenim yang sedang mengajar.

“Permisi saenim. Saya ingin ke toilet.” Kyuhyun mengatakan itu dengan serak, hampir berbisik. Han Saenim hanya mengangguk sembari memperhatikan Kyuhyun dengan kebingungan.

Seketika itu juga, Kyuhyun langsung melangkah cepat menuju toilet. Ia membasuh seluruh permukaan wajahnya dengan air. Berharap ia kembali menjadi Kyuhyun yang dulu. Kyuhyun yang dingin. Bukan Kyuhyun yang cengeng hanya karena seorang gadis. Setelah selesai, ia kembali ke kelas. Matanya sedikit bengkak.

“Kyuhyun… kenapa?” Soora bertanya kepada Donghae yang berada di belakangnya. Donghae mengangkat bahunya, tanda bahwa ia juga tidak tau.

“Tak biasanya Kyu ke toilet. Dia kan tidak pernah mau melewatkan pelajaran sedetik pun. Matanya juga sedikit bengkak.” Soora berucap pelan. Donghae hanya kembali mengangkat bahunya. Dalam hati, ia sedikit kesal dengan Soora yang selalu mengangkat topik tentang Kyuhyun dimanapun dan kapanpun.

 

*^*

 

“Soora-ah, istirahat ini kita ke kantin ya?” Donghae bertanya dengan pandangan memohon. Soora berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. Mereka berdua pun melangkah menuju kantin. Tepat sebelum melewati ruang musik yang pintunya sedikit terbuka. Mereka sedikit curiga dan akhirnya mengintip melalui celah pintu itu.

Ternyata di dalam ada Kyuhyun dan Kyeomi—kakak kelas mereka. Mereka sedang berdiri berpandang-pandangan. Soora ingin menghampiri mereka, namun tangannya ditahan Donghae yang hanya menggeleng kepada Soora.

“Kyuhyun-ah, aku tau kau lebih muda dariku, tapi maukah kau menerimaku? Aku sangat mencintaimu. Ini benar-benar cinta yang murni. Aku tak bisa hidup tanpamu. Please, Kyu-ah.” Kyeomi berkata pelan, memohon dengan segenap hati.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Mian, sunbaenim. Aku tak bisa.”

“Tapi kenapa? Apa penyebabnya?”, tanya Kyeomi terburu-buru. Ia tak bisa menahan air matanya lagi. “Aku… sudah mempunyai perempuan yang kucintai.” Kyuhyun menjawab pelan. “Sekali lagi mianhamnida, sunbaenim.”

Ia berjalan perlahan menuju pintu. Donghae langsung menarik Soora ke arah lainnya. Soora masih membeku di tempat. Air matanya kembali mengalir.

“Kyuhyun… punya orang yang dicintainya? Siapa?”

Soora bergumam pelan.

“Kajja, kita ke kantin, Soora-ah.”

“Mian, Hae-ah. Tiba-tiba, aku tidak punya selera makan. Lebih baik aku ke kelas dulu ya. Sampai jumpa.” Soora berkata sembari melangkah lesu menuju kelas. Donghae langsung berlari ke hadapan Soora. Menahan jalannya. “Jebal, Soora-ah. Bisakah untuk sehari saja kau lupakan Kyuhyun?” Donghae bertanya dengan emosi.

Soora terdiam, sebelum akhirnya menatap Donghae dan mengangguk. “Bisa.”

 

*^*

 

“Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Soora-ah?” Donghae bertanya, tetapi Soora terlalu sibuk memilih lagu yang akan dia nyanyikan seraya menyeruput bir-nya. “Aku akan melupakan Kyuhyun seharian ini, jadi bantu aku, Hae-ah.”

Donghae menghentikan Soora yang sedang meneguk bir tanpa sadar. “Soora-ah, kita bisa ditahan jika ketahuan membolos dari sekolah dan minum-minum di tempat karaoke seperti ini. Bahkan, kita berdua masih memakai seragam.” Donghae berucap pelan. Soora hanya tertawa. “Tidak mungkin ada polisi di tempat karaoke, Lee Donghae. Kau ini polos sekali.”

Soora mulai bernyanyi tanpa arah, namun berhasil membuat Donghae tertawa. Tak terasa tiga jam telah berlalu. Soora sudah mabuk di bahu Donghae. “Soora-ah, sampai sekarang aku masih bingung kenapa bisa menyukaimu sampai seperti ini.” Donghae bergumam pelan.

“Kenapa bingung… hik! aku kan… hik! cantik. Tentu saja… hik! semua orang pasti menyukaiku. Kyuhyun… hik! saja yang bodoh.” Soora berucap di bawah alam sadarnya. Donghae hanya tersenyum dan mengelus rambut Soora. Ia membawa Soora pulang dengan menggendongnya ke rumah.

“Kau sangat berat, Soora-ah.”

Donghae berkomentar pelan. Soora hanya bisa bernyanyi-nyanyi lagu acak yang dinyanyikannya di karaoke tadi. Udara malam yang dingin menjadi backsound pengiring mereka. Donghae tak berhenti tersenyum. Ia bahagia. Sangat bahagia. “Aku mencintaimu, Kim Soora.”

“Jinjja?! Kalau begitu… hik! aku juga mencintaimu, Lee Donghae.” Yoonmi menjawab perkataan Donghae. Sedangkan Donghae sendiri hanya bisa semakin melebarkan senyumannya. Meskipun ia tau, Soora sedang dalam keadaan tidak sadar, namun hanya mendengar ucapan itu dari mulutnya, sudah membuat Donghae berbunga-bunga.

“Kita sudah sampai.” Donghae berucap pelan sembari mengetuk pintu gerbang Soora. Munculah satpam dan membuka pintu untuk mereka. “Dimana Tuan dan Nyonya Kim, pak?” Donghae bertanya. “Mereka berdua sedang pergi ke Italy. Anda siapa? Kenapa membawa nona Soora dalam keadaan tak sadar?”

Donghae membaringkan Soora di kamarnya dahulu sebelum akhirnya kembali berbicara dengan sang satpam. “Saya teman Soora. Tadi, Soora minum-minum, jadi ia mabuk dan aku mengantarnya kesini.”

Satpam itu mengangguk paham dan meninggalkan mereka. Donghae mengelus rambut Soora perlahan, namun ternyata kening Soora panas sekali. Donghae langsung mengompres Soora dan merawatnya seharian.
^*^

 

“Kim Soora!”

Seluruh kelas hening. “Kim Soora?”

Masih tak ada jawaban. “Kemana Soora? Donghae, apa kau ta—Donghae?! Dia juga tidak ada?” Han Saenim yang sedang mengabsen mulai meneriakan kedua nama tersebut. Namun, tak ada yang menjawab. “Ada yang tau mereka berdua kemana?!”

“Katanya Soora sakit, saenim. Sedangkan Donghae, aku tidak tau.” Richan, yang memang terkenal paling dekat dengan Soora menjawab. “Kalau begitu, ayo kita lanjutkan pelajaran.”

Mereka semua langsung mengeluarkan buku catatannya dan mulai mencatat soal yang ada di papan tulis. Kyuhyun bisa merasakan suara getaran handphone dari arah Yesung. Ternyata Yesung memang baru mendapat sms. Dan… sms itu dari Jiyoon?! Kyuhyun bisa membaca sms Jiyoon dengan sangat leluasa karena Yesung berada di sampingnya.

From : Jiyoonnie~

Oppa, pulang nanti jalan-jalan yuk~

Kyuhyun mengedipkan matanya berkali-kali. “Oppa? Bukannya oppa hanya panggilan untuk orang yang lebih tua atau pacar? Yesung dan Jiyoon kan mempunyai umur yang sama, jadi maksudnya adalah oppa yang berarti panggilan sayang?”

To : Jiyoonie~

Ok, Jiyoonnie. ^^ Love u~

Hati Kyuhyun hampir seakan terbanting saat melihat Yesung mengirimkan balasan seperti itu kepada Jiyoon. Puluhan tanda tanya berkerubung di otaknya. Sebenarnya, apa hubungan mereka berdua?, pikir Kyuhyun.

From : Jiyoonie~

Love u too, Yesungie~~~

Kyuhyun sudah tidak tahan dengan semua ini. “Yesung!”, panggilnya pelan dan masih dingin. “Pulang sekolah aku akan menunggumu di kebun belakang. Ada yang mau kubicarakan denganmu.”

Yesung berpikir sebentar lalu menepuk pundak Kyuhyun perlahan. “Mian, Kyu-ya. Aku sudah punya janji dengan Jiyoon. Mungkin lain kali, ok?”

“Hanya sebentar. Please?” Yesung akhirnya mengangguk. Dan mereka kembali meneruskan pelajaran. “Memang apa yang ingin kau katakan?”

Kyuhyun tersenyum kecil, namun sedikit misterius. “Sesuatu yang berhubungan dengan Park Jiyoon.”

 

$^$^$

TO BE CONTINUE

Fanfiction : ~Heart~ [Chapter One]

[Chapter One – Old Love]


Musim dingin yang kelam, telah berganti menjadi musim semi. Salju yang berjatuhan di segala penjuru, telah berganti menjadi daun-daun kering yang berjatuhan. Udara perlahan-lahan memanas. Membuat hati menjadi lebih hangat. Para pelajar mulai memasuki sekolahnya lagi. Ada yang senang, namun kebanyakan mengeluh agar liburan mereka diperpanjang.

“Kim Soora!”

Seorang pria dengan head-set di telinganya melambai ceria. Pandangannya tertuju kepada seorang gadis yang baru saja dipanggil. Sang gadis itu menoleh, kemudian saat mengetahui siapa yang memanggil, ia kembali berbalik seakan tidak mendengar.

“Soora-ya!” Pria itu tidak kehilangan kepercayaan diri sama sekali. Ia berlari dan berhenti di depan Soora. “Apalagi maumu, Lee Donghae?!”

Pria itu tersenyum lebar. “Senang rasanya kau memanggil nama lengkapku, Soora-ah.” Soora mendesah kesal dan langsung pergi ke kelasnya dengan dingin. Donghae mengikuti Soora dari belakang dengan ceria. Soora duduk di salah satu bangku, paling dekat dengan seorang lelaki yang sedang membaca buku. Donghae duduk di belakang Soora, masih memandanginya dengan penuh perasaan.

“Annyeong, Kyuhyun-ah.”, sapa Soora pelan, dengan senyuman secerah mungkin. “Mmmm.” Kyuhyun—orang yang membaca buku—membalasnya hanya dengan gumaman. Matanya tak berkutik sama sekali dari buku tebal yang sedang dibacanya. “Liburan musim dingin kemarin, kau pergi kemana?”

Kyuhyun seketika menutup bukunya. “Bukan urusanmu.” Ia menjawab dingin, kemudian melangkah keluar kelas. Meninggalkan Soora yang hanya bisa menghela nafas. “Kyuhyun benar-benar keterlaluan! Iya kan, Soora? Masa dia berani mengatakan hal seperti itu kepada perempuan, apalagi dirimu.”

“Lee Donghae!”, seru Soora kesal. “Ne, Soora-ah?” Donghae bertanya dengan nada lembut. “Jangan sekali-kali lagi menjelekkan Kyuhyun di depanku. Aku tidak suka itu!” Soora membentak Donghae kesal, sembari berjalan keluar kelas. “Tunggu, Soora-ya! Mian!”, teriak Donghae sembari mengejar Soora.

 

=+=

 

Kyuhyun berjalan perlahan. Murid-murid lain yang dilewatinya hanya bisa memandangnya dengan pandangan penuh kagum. Yah, selalu begitu. Ia memang anak dari pemilik sekolah terbesar ini, dan ia juga memang adalah anak terpandai dan ketua OSIS di sekolahnya; tapi ia sudah benar-benar tak tahan dengan ini semua. Seluruh murid di sekolahnya mendekatinya dan memperlakukannya sebagai anak special. Orang tuanya juga jarang bertatap muka dengannya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Ia sudah muak dengan itu semua. Lebih baik kehidupan biasa, daripada kehidupan layaknya pangeran, tetapi tidak membahagiakan.

Saat sedang berjalan, seorang perempuan yang tak dikenal, menabraknya. Membuat Kyuhyun tersungkur di lantai. “Mianhae. Tak sengaja.”, ucap perempuan tersebut sembari melanjutkan larinya. Semua orang langsung membantunya bangun. Namun, entah mengapa, bukannya marah, Kyuhyun malah tersenyum tipis.

 

=+=

 

Pelajaran segera dimulai. Han Songsaenim memasuki kelas dan mulai mengabsen semua yang datang. “Annyeong hasimnika, saenim. Aku Park Jiyoon, murid baru disini.” Seorang perempuan mengetuk pintu dan mulai berbicara. “Ahh, baiklah Jiyoon, silahkan duduk di sebelah Cho Kyuhyun. Kebetulan dia adalah ketua kelas sekaligus ketua OSIS disini. Tidak apa ‘kan, Kyuhyun-ya?”

Bukannya menolak seperti biasa, kali ini Kyuhyun mengangguk. Membuat seluruh isi kelas terkejut. “Bukankah biasanya Kyuhyun lebih suka duduk sendiri?” Yoonji berbisik kepada Soora, yang kelihatan sangat marah. Donghae hanya menatap Soora, Kyuhyun, dan Jiyoon secara bergantian.

“Apakah aku harus duduk bersama dia, saenim? Apa tidak ada pilihan lain?” Jiyoon bertanya kepada Han Saenim sembari menunjuk tepat ke wajah Kyuhyun. Membuat seluruh isi kelas bergempar. “Apa-apaan dia? Sudah bagus bisa duduk bersama Kyuhyun!” Richan berbisik.

Han Saenim juga sedikit terkejut. “Ten… tu. Kalau tidak mau, kau bisa duduk di sebelah Donghae. Kebetulan dia juga duduk sendiri.”

Jiyoon memandang Donghae asal, lalu mengangguk dan duduk di sebelah Donghae, yang masih terdiam kebingungan. Amarah membludak dari hati Kyuhyun. Baru pertama kali, ia diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan. Namun, seulas senyuman tertarik di bibir tipisnya. “Gadis itu menarik…”, gumamnya pelan sembari mulai belajar.

Tak terasa, bel istirahat telah berbunyi. Kyuhyun langsung menarik tangan Jiyoon dan membawanya keluar kelas. Semakin membuat Soora naik darah. “Ingin kau bawa kemana aku??!! Lepaskan!”, teriak Jiyoon, seraya memberontakan tangannya.

Di sebuah kelas kosong, Kyuhyun melepaskan tangan Jiyoon. Ia ingin kabur, namun Kyuhyun menahannya. “Kau berani menolak duduk di sampingku ya?” Jiyoon menatap Kyuhyun dengan tajam. “Kalau iya kenapa?! Itu semua terserah aku. Memang kau siapa mengaturku sembarangan?!”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Kau tidak tau siapa aku?” Jiyoon sontak tertawa sinis. “Memang kau siapa?! Anak pemilik sekolah ini? Jangan bercanda!” Ia tertawa dengan keras. Namun, seringai muncul di bibir Kyuhyun. “Ne, kau benar. Aku anak pemilik sekolah ini.” Seketika Jiyoon berhenti tertawa dan menatap Kyuhyun tak percaya. “Kau… anak pemilik… sekolah ini?”

Pertanyaan Jiyoon membuat Kyuhyun tertawa. “Terus kenapa? Apakah anak pemilik sekolah harus mengaturku? Yang bisa mengaturku hanya Tuhan dan orang tuaku. Jadi, sampai jumpa.” Jiyoon pergi meninggalkan Kyuhyun dengan cepat. Kyuhyun menatap kepergian Jiyoon. “Benar-benar gadis yang menarik…”

 

=+=

 

Soora berjalan mondar-mandir di dalam kelas. “Kemana Kyu?”, gumamnya terus menerus. Donghae mengikuti Soora dari belakang. “Lebih baik kau makan dulu, Soora-ah. Istirahat akan selesai sebentar lagi.”

“Jangan ganggu aku, Lee Donghae!” Dia berteriak lagi, membuat Donghae terdiam. Bersamaan dengan itu, Jiyoon datang ke kelas dan langsung menuju ke bangkunya. “Ya! Park Jiyoon! Apa yang kau lakukan tadi dengan Kyuhyun?!” Soora mendatangi Jiyoon dan menatapnya tajam. “Bukan urusanmu.” Ia menjawab singkat dan dingin.

Soora menghembuskan nafas dalam. “Cepat katakan!”, bentaknya keras. “Sudah kubilang itu bukan urusanmu!” Jiyoon balas membentak. Mereka berdua saling menatap tajam. Donghae berusaha menarik Soora, namun ia tak meladeni Donghae. Tiba-tiba, Kyuhyun memasuki kelas.

“Kyuhyun-ya! Tolong aku! Mereka berdua bertengkar!”

Donghae berteriak, namun Kyuhyun seakan tidak mendengar dan langsung kembali berjalan keluar kelas. Soora yang melihat hal itu langsung berlari mengikuti Kyuhyun. “Awas kau, Park Jiyoon!” Ia berkata sebelum akhirnya pergi. “Tolong maafkan Soora, Jiyoon-ah. Dia memang sensitif jika menyangkut Kyuhyun, tapi sebenarnya dia anak yang baik kok.”

Jiyoon memandang Donghae sebelum akhirnya mengangguk dan langsung kembali memakan bekalnya. Sementara Donghae berlari mengikuti Soora.

“Kyuhyun-ya! Tunggu!”

Soora berlari dan akhirnya dapat menarik tangan Kyuhyun.

“Apa sih maumu, Kim Soora?!” Kyuhyun membentak Soora, membuatnya sedikit terkejut. “Aku menyukaimu, Kyu! Sejak kita masih SMP hingga sekarang. Aku sangat mencintaimu!” Soora menatap Kyuhyun dalam. “Mian, tapi aku tidak mencintaimu. Lebih baik kau mencari pria lain yang lebih baik daripada diriku.”

Kyuhyun melangkah kembali, meninggalkan Soora yang sekarang menangis. Ia berlari ke atap sekolah. Donghae langsung mengikuti Soora dan akhirnya bisa melihat Soora sedang menangis dengan keras di atap sekolah. “Soora-ah.”

“Pergi, Donghae!” Soora menepis tangan Donghae. “Tapi. . .”

“Aku bilang pergi!”, teriak Soora yang masih menangis. Donghae memeluk Soora dengan cepat. Tak peduli kepada Soora yang sekarang memukul-mukulnya. Namun setelah cukup lama, Soora berhenti memukul-mukul Donghae. Ia menangis di pelukan Donghae dengan diam.

“Apakah rasanya sakit, Donghae? Pasti sangat sakit kan.” Soora berucap pelan. “Maksudmu?”, tanya Donghae seraya mengkerutkan keningnya. “Jika kau mencintai seseorang. Sangat mencintai orang itu. Tetapi orang itu lebih memilih orang lain. Seperti aku yang malah lebih mencintai Kyuhyun.”

Donghae tersenyum perih. “Rasanya memang sakit. Tapi jika kau memang mencintai orang itu sepenuh hati, seharusnya kau bisa merelakan orang itu untuk bahagia. Jika Kyuhyun memang tidak mencintaimu, dan jika kau benar-benar mencintai Kyuhyun, seharusnya kau bisa merelakan dirinya. Seperti aku yang merelakan kau lebih mencintai Kyuhyun daripada aku.”

Soora menatap bawah. “Kau benar, Donghae-ah. Aku terlalu egois.” Ia berkata dengan serak. “Tidak apa-apa, Soora-ah. Yang penting sekarang kau sudah sadar.” Soora menatap Donghae yang sedang menatapnya. Mereka bertatapan dalam. “Tapi, aku masih punya kesempatan kan?”, tanya Soora pelan.

“Kesempatan? Untuk apa?”

Donghae menatap Soora dengan penasaran. Semoga maksud Soora adalah kesempatan untuk bersamaku, gumam Donghae dalam hati. “Kesempatan… untuk membuat Kyuhyun jatuh cinta kepadaku.” Soora berucap sembari tersenyum. Membuat Donghae terdiam seketika. Ia merasa hatinya seakan dikoyak dalam waktu sekejab.

“Kau mau membantu kan, Donghae-ah?”

Soora memandang Donghae dengan pandangan memohon. Donghae pun mengangguk, perbuatan yang amat disesalkannya. “Jinjja?! Gomawoyo, Donghae-ah! Kau memang yang terbaik! Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa!” Soora memeluk Donghae cepat sembari pergi. Berhasil membuat hati Donghae bergejolak hebat.

Donghae mengambil kapur dari atap itu dan secara acak menggambar di tembok. Tanpa disengaja, ia menulis : ‘Lee Donghae love Kim Soora’. Setelah sadar, ia langsung memukul kepalanya sendiri. “Siapa sih sebenarnya Kim Soora itu? Dia tak pernah berbuat baik padaku. Malah perbuatannya selalu membuat hatiku sakit. Tapi kenapa dia selalu berada di kepalaku? Ahh, jinjja!!!”

“Kim Soora, aku membencimu! Tapi, aku juga mencintaimu!”

 

$^$^$

TO BE CONTINUE

@All : Komen ya..! Satu komen sangat berarti~ ^^

@VerLiv : Gmn?? Untuk part JiKyu ada di next part ya~ 😀

Fanfiction : ~Heart~ [Prolog]

Dia adalah permata bagiku. Dia adalah matahari terindahku. Dia adalah semuanya bagiku. Meskipun sifatnya sedingin balok es, aku tau di dalam hatinya, ia hanya gadis yang kesepian. Dan karena itu, aku akan mengubahnya menjadi air sungai yang mengalir lancar tanpa gangguan…

-Kyuhyun-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Awalnya, aku membenci dirinya. Awalnya, dia sangat menyebalkan. Tapi, dalam hati yang terdalam, ternyata aku sangat mencintainya. Entah dari kapan perasaan ini berasal, namun yang aku tau pasti, aku, Park Jiyoon, mencintai Cho Kyuhyun sepenuh hati…

-Jiyoon-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah lama aku mencintai seorang Cho Kyuhyun. Bagiku, ia adalah jodohku. Kekasih hatiku. Orang yang ditakdirkan untukku. Namun, ternyata semuanya salah. Seorang Cho Kyuhyun hanya mencintai Park Jiyoon. Pertama aku sangat marah kepada Jiyoon karena telah merebut Kyuhyun-ku, namun akhirnya aku sadar. Sadar bahwa dicintai itu tidak pernah salah…

-Soora-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah lama sekali aku menunggu seorang Kim Soora untuk membuka hatinya kepadaku. Tapi, entah mengapa Soora hanya mencintai seorang Cho Kyuhyun; lelaki yang memiliki segalanya. Namun, tidak tau apakah aku harus sedih atau senang, ternyata Kyuhyun lebih mencintai Jiyoon. Tampaknya, aku harus meyakinkan Soora bahwa ia masih punya seseorang. Diriku…

-Donghae-

 

***

~TO BE CONTINUE~

 

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Three)

[Chapter Three – End Of Everything]

 

Hari-hari setelah itu berlalu cepat. Salju telah berganti oleh mekarnya bunga-bunga. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi yang indah. Bloomfield College sedang sangat sibuk dengan perayaan ulang tahun kampus mereka yang memang akan dijalankan hari ini.

Everyone’s ready? (Semuanya siap?)” Ketua panitia bertanya dengan lantang. “Yes!” Semuanya menjawab dan saling bertepuk tangan sebelum bersiap dalam posisi dan tugasnya masing-masing. “Aku akan mengurus pintu depan. Bye-bye, Hyeo-ah~” Seungri pamit seraya melambaikan tangannya. Hyeobin mengangguk kecil dan langsung kembali kepada pekerjaan semulanya.

Can I have one? (Boleh aku minta satu?)” Suara seorang lelaki mengagetkan Hyeobin. “Of cour—Kibum-oppa?!” Seketika gadis itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Kibum lagi, demi kebaikan dirinya dan Seungri. “Of course, Kibum-ssi.” Dia menjawab seformal mungkin dan memberikan beberapa makanan yang memang sudah disediakan.

Kibum mengambil makanan itu sembari menaikan alisnya. “Kenapa kau jadi formal begitu? Bukankah sudah kubilang jangan memakai formalitas.”

“Gwenchana, Kibum-ssi. Aku lebih suka begini.” Hyeobin menjawab hati-hati. Sebenarnya, entah mengapa hatinya tidak ingin menjauhi lelaki di hadapannya ini; namun ia harus melakukannya. Lagi-lagi demi hubungannya dan Seungri.

“Apakah ada kesalahan yang kuperbuat? Atau—karena masalah di balkon kemarin? Mianhae, Hyeobin-ah. Kan sudah kubilang kita masih bi—”

“Ani. Bukan masalah itu. Hanya saja… aku tidak mau terlalu dekat lagi denganmu. Dari awal, kita hanya sunbae dan hoobae.”, potong Hyeobin cepat. Jujur, hatinya sedikit merasakan gejolak aneh saat mengatakan hal itu. Seperti rasa sakit? Entahlah.

Kibum sedikit terkejut mendengar perkataan Hyeobin. “Jinjja? Ini bukan karena Seungri kan? Apakah dia berkata kepadamu untuk menjauhiku?”

Sontak gadis itu menggeleng. “Dia sama sekali tidak menyuruhku menjauhiku. Ini keinginanku sendiri.” Ia menjawab pelan.

Kalimat yang baru saja ia katakan memang ada benar dan salahnya. Seungri memang tidak menyuruhnya untuk menjauhi Kibum. Tapi, ini bukan keinginannya untuk menjauhi lelaki yang sudah seperti oppa-nya sendiri. Bahkan, bisa dibilang ia merasa lelaki ini lebih istimewa dari ‘oppa’.

“Ok, kalau begitu. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi. Senang bisa mengenalmu. Mungkin aku bodoh, tapi jika kau berubah pikiran dan mulai membuka hatimu kepadaku, datanglah ke taman dekat sini seminggu lagi pada jam lima sore. Minggu depan adalah hari ulang tahunmu kan? Jika kau tidak datang, aku berjanji akan menghilang dari kehidupanmu, Hyeo-ah.”

Lelaki itu berbalik dan menjauh dari sang gadis. Membuat gadis tersebut—entah mengapa merasa hatinya pedas. Suatu kebingungan mengganjal dirinya. Apakah ia akan pergi—atau tidak? Sepintas hatinya mengatakan: ‘Untuk apa ia pergi? Toh, hatinya hanya untuk Seungri~’ tapi sepintas lagi ia ingin pergi. Ada rasa menyesal dalam hatinya jika ia memutuskan untuk tidak pergi.

“Hyeobin-ah, ottokhae? Apakah pegal? Kau bekerja sibuk sekali.” Seungri muncul entah darimana dan langsung tersenyum ramah. Hyeobin langsung tersenyum lebar. “Gwenchana. Semuanya sudah hilang saat melihat wajahmu.” Seketika mereka tertawa. “Aku baru tau ada gadis yang bisa menggombal.”

“Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Mereka berdua kembali tertawa. “Acaranya sudah selesai, ayo kita pulang. Nanti aku akan memasak makanan enak untukmu.”

Sontak Hyeobin melirik Seungri. “Kau? Memasak? Sejak kapan?” Seungri merubah ekspresinya menjadi cemberut. “Ya! Kau pikir hanya kau saja yang bisa.” Ia mengikuti persis ucapan Hyeobin dan mereka berdua kembali tertawa. Dalam hati ia menggumam: ‘Kurasa akan lebih baik jika tidak pergi.’

*^*

“Hyeobin-ah, ireona! Palli!”

Gadis itu membuka matanya dan langsung bisa melihat seorang pria sedang berada persis di hadapannya. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Hyeobin terkejut dan reflek mendorong Seungri hingga menabrak tembok.

“Aigoo, Hyeo-ah. Aku hanya ingin mengatakan happy birthday kepadamu. Kau pikir aku akan melakukan yang macam-macam kepadamu?”

Hyeobin tersenyum innocent sembari membantu membangunkan Seungri. “Mianhae, Seung-ah.” Seungri langsung tersenyum ketika melihat senyuman polos dari bibir Hyeobin. “Gwenchana. Saengil chukae, nae jagi. Saranghae.”

Pria tersebut mencubit pipi Hyeobin pelan. “Gomawo, nae jagi. Na tto saranghae.”

Mereka berdua berpelukan sebentar, lalu saling mengecup. “Sebentar! Tutup matamu. Aku punya kejutan.” Hyeobin mengangguk dan menutup matanya. “Sekarang buka matamu!” Gadis itu membuka mata dan terkejut. Ia bisa melihat sebuah kue berlapiskan coklat dan cream dengan tulisan ‘19’ sedang dibawa oleh seorang pria. Pria yang istimewa. “Seungri~”

Make a wish, Hyeo-ah.”

Gadis itu mengangguk dan mulai membuat permohonan. “Sudah selesai?” Seungri bertanya. Hyeobin mengangguk pelan. “Sekarang, tiup lilinnya.”

Hyeobin dan Seungri meniup lilinnya bersama-sama. Lalu, Seungri menyingkirkan tulisan ‘19’ itu dan langsung menaruh kuenya di meja. Ia mencolek coklat kue itu dan mengoleskannya di kening Hyeobin. “Ahhh! Lee Seungri!!!”

Seungri tertawa. Hyeobin mencolek cream di kue itu dan mengoleskan ke pipi Seungri. Mereka berdua pun saling mengoleskan coklat dan cream hingga seluruh wajah mereka penuh dengan noda. Setelah lelah, mereka berdua berbaring di kasur. Saat saling menatap, mereka berdua akan tertawa akan hasil colekan mereka berdua.

“Hyeobin-ah.”

“Ne?” Gadis itu menatap Seungri. “Aku pamit dulu ya. Pagi ini ada jadwal kuliah. Jika lapar, aku sudah menyiapkan sesuatu di kulkas.” Hyeobin mengangguk dan tersenyum. Menyadari betapa sweet kekasihnya. “Sampai jumpa~” Seungri mengecup kening Hyeobin dan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya keluar. Hyeobin langsung membuka kulkas dan bisa melihat sepotong roti sudah tersedia untuknya. Disitu juga ada selembar kertas.

Aku tau ini terburu-buru; tapi maukah kau menjadi tunanganku, Hyeo-ah? Aku merasa kita sudah cocok. Aku juga sangat mencintaimu. Jika kau mau menjadi tunanganku, datanglah sore ini jam lima ke taman dekat sini. Tapi jika kau merasa kita tidak bisa bersama lagi, jangan datang. Aku akan menunggu~

N.B. : Aku harap kau datang. Saranghae~ ^^

Hyeobin tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Ada rasa kebahagiaan yang tak terkira. Seungri—melamarnya? Namun, ada perasaan aneh yang kembali merasuki tubuhnya. Ia mencoba mengingatnya dan kemudian tersentak. Bukankah Kibum juga menyuruhnya bertemuan di jam dan tempat yang sama? Mana yang harus ia pilih?

*^*

Gadis itu mematut bayangannya sendiri di kaca. Cantik. Sempurna. Namun, ada yang kurang. Ia masih—bingung. Di sisi lain, Seungri adalah pria impian Hyeobin. Menjadi kekasihnya adalah kebahagian terindah baginya. Dan tak bisa dipungkiri, setiap detik kehidupannya selalu lebih berharga jika dilewati dengan Seungri. Namun di sisi lainnya, Kibum entah mengapa selalu berada di hatinya. Ia merasa lebih nyaman jika berada di sisinya. Ia bisa tertawa, menangis, dan tersenyum dengan lebih leluasa dengan Kibum.

Tak bisakah ia menerima keduanya? Rasanya, ia tak tega bila menghancurkan hati salah satu dari keduanya. Perlahan, kakinya melangkah kearah taman. Bisa ia lihat Kibum sudah menunggu di sisi kiri taman, sedangkan Seungri sedang menunggu di sisi kanan. Di wajah mereka berdua, bisa terbaca jelas harapan dan penantian.

Hyeobin berhenti di tengah. Menatap mereka berdua dalam. Daun-daun berjatuhan. Gadis itu mengambil salah satu daun dan mencabuti satu persatu daun itu seraya menyebutkan nama mereka berdua. Tak sadar, ia sudah lama berdiri disitu. Tapi tak ada keputusan yang berhasil diambil.

Ia menutup mata. Memohon kepada Tuhan agar ia bisa memilih dengan benar. Kemudian dengan air mata, ia melangkah kearah kanan. Arah Seungri.

“Hyeobin-ah!” Seungri memekik sembari memeluk Hyeobin girang. “Senang kau berada disini.” Ia berkata lagi, tampak sangat girang. Air mata semakin berjatuhan dari kedua pelupuk mata Hyeobin. “Mianhae, Seung-ah. Dan gomawo. Mungkin kita belum ditakdirkan bersama. Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya kita pasti bisa bersama.”

“A… apa… maksudmu?”

Hyeobin tersenyum. “Aku percaya kau adalah pria yang sangat baik. Pasti kau akan mendapatkan yang lebih cantik, baik, dan lebih setia dariku.”

“Aku… masih tak mengerti.”

Ia mengkerutkan keningnya, lalu pandangan matanya tak sengaja menatap Kibum yang sedang berada di samping sebelah kirinya. “Ah, aku mengerti sekarang. Baiklah, jika itu keputusanmu.” Seungri berkata dengan mantap. “Kau… tidak marah? Atau melarangku pergi?”

Pria tersebut tersenyum hangat. “Bukankah sudah kubilang jika kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesarku? Jika kau lebih bahagia bersamanya, tentu aku akan mendukungmu. Sana, pergilah!” Ia masih berusaha tersenyum hangat. “Gomawo! Jeongmal gomawo!”

Hyeobin berlari kearah Kibum dan memeluknya. Kibum sedikit terkejut, namun akhirnya tersenyum lebar dan balas memeluk Hyeobin dengan erat.

*^*

[Epilog]

Pria itu meneteskan air matanya. Apalagi saat melihat dua sosok lelaki dan gadis saling berpelukan dengan erat. Perlahan, ia melangkah menjauh dari dua sosok itu dan berjalan ke sebuah danau yang masih berada dekat dari situ. Tepat saat ia melihat seorang perempuan sedang menangis di tepi danau itu.

“Kenapa kau menangis?”

Seungri bertanya hati-hati. Sang perempuan menatapnya lirih. “Kekasihku—lebih memilih gadis lain dibandingkan diriku. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum saat melihat mereka.”

Seketika senyum menghiasi bibir Seungri. “Kalau begitu kita sama.”

Perempuan itu bingung. “Eh?”

*^*^*^*^*^*^*^*

END

 

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter Two)

[Chapter Two – New Generation]

 

Udara dingin menusuk tulang. Seluruh pelosok tampak putih. Cairan-cairan yang menyerupai balok kecil berjatuhan dari langit. Salju. Yah, salju memang tampak menyenangkan. Namun, jika sudah terbiasa tinggal di daerah bersalju, pandangan tentang hal itu akan berubah. Sepasang manusia tak henti-hentinya menggosokan tangan mereka yang sudah memakai sarung tangan tebal.

Pikiran sang gadis tak fokus. Entah mengapa, ada sesuatu yang familiar dengan negeri asing yang mereka tempati sekarang, New Jersey. Namun, sialnya, ia sama sekali tidak ingat apa itu. “Ada apa?”

Kim Hyeobin langsung menatap Lee Seungri yang tampaknya menyadari ketidak fokusan kekasih hatinya. “Gwenchana. Masih berapa lama lagi kendaraan tiba?” Ia bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin sebentar lagi. Molla~”

Seungri menjawab sembari menggenggam tangan Hyeobin erat, seakan takut gadis yang amat disayanginya membeku. Hyeobin tersenyum melihat betapa perhatiannya pria di sampingnya. Suara dering handphone berbunyi. Ternyata berasal dari telepon selular sang pria. “Aku angkat dulu ya.”

Gadis tersebut mengangguk. Ia tau pasti, yang meneleponnya adalah orang yang penting. Saat sedang larut kembali dalam pikirannya, Hyeobin bisa melihat sebuah van berlogo ‘Berkeley College’ sedang berhenti. Keluarlah puluhan orang—yang gadis itu pikir pasti mahasiswa—dan berhamburan tanpa tujuan yang sama.

“Ga… gadis balkon?”

Hyeobin merasa panggilan special-nya disebut. Ia menoleh dan. . .

“Sunbaenim?!”, sahutnya tak percaya. Lelaki di hadapannya sudah berubah menjadi lelaki yang lebih dewasa, lebih tinggi, dan lebih—tampan.

“Bagaimana kau bisa disini?” Ia bertanya dengan pandangan tak percaya. Kibum tersenyum gemas. “Bukannya sudah kubilang kalau aku akan kuliah disini. Mestinya sekarang aku yang bertanya padamu.”

Memory masa SMA seakan membludak masuk ke dalam otak gadis tersebut. Ingin rasanya ia menepak kepalanya sendiri. Jadi, ini penyebabnya ia merasa bahwa dari awal negeri ini tampak familiar. “Aku… ingin kuliah disini, oppa.” Gadis itu menjawab seraya tersenyum. Entah mengapa, ada rasa senang yang sedikit berlebihan saat akhirnya bisa melihat lelaki ini lagi—setelah sekian lama tak melihatnya.

“Jinjja?! Baguslah kalau begitu. Kau kesini sendiri?”

Pertanyaan Kibum barusan membuat Hyeobin tersadar. “Hyeo-ah!” Seungri berteriak sembari melangkah menuju mereka berdua. “Ah! Kenalkan, ini kekasihku.” Hyeobin tersenyum seraya menunjuk pria di sebelahnya. Hal itu—entah membuat hati Kibum merasa denyutan misterius di hatinya yang menyakitkan.

“Lee Seungri.” Pria tersebut memberikan tangannya, seraya tersenyum ramah. “Kim Kibum.” Sang lelaki juga balas tersenyum dan menjabat tangannya. “Kalian berdua… ingin kuliah disini? Mengapa dan dimana?”

“Kebetulan kami berdua diterima di university di New Jersey ini. Ada beberapa tawaran, tapi sepertinya kami akan kuliah di Bloomfield College.” Seungri menjawab dengan santai, dibalas anggukan Hyeobin. Kibum mengambil kertas dan pulpen dari kantungnya dan menulis sesuatu. “Ini nomorku. Jika kalian butuh bantuan disini, hubungi saja aku. Sampai jumpa, Hyeobin-ssi, Seungri-ssi.”

Sang gadis dan pria menunduk kecil. “Sampai jumpa, sunbae!”

*^*

“Bagaimana jurusan Art-nya? Apakah kau suka?” Pria yang duduk dengan head-set kecil di telinganya, tersenyum. Gadis itu mengangguk kecil. “Aku sangat menyukainya. Masih tidak percaya aku bisa kuliah di luar negeri seperti ini. Bagaimana denganmu? Apakah kau suka jurusan dance-nya?” Seungri tersenyum dan mengelus rambut Hyeobin lembut. “Tentu. Dance adalah hidupku. Tentunya setelah dirimu.”

Hyeobin merasakan pipinya merona. “Apakah kau benar-benar serius kepadaku, Seung-ah?”, tanyanya pelan. Dalam hati, ia menyalahkan mulutnya sendiri yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Tentu saja aku serius, Hyeo-ah. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Ani, Seung-jagi. Aku hanya… tak percaya kita sudah menjadi sepasang kekasih selama tiga tahun ini. Semuanya berlalu begitu saja. Kau bagai permata berukiran indah yang dipajang di sebuah museum, sedangkan aku—hanya batu yang tergeletak begitu saja.” Gadis itu menatap makanan yang ada di depannya.

Pria tersebut tersenyum penuh arti. “Siapa bilang? Bagiku, kau adalah emas berlian dengan keindahan tak berhingga. Senyummu adalah hidupku. Dan air matamu adalah penderitaanku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dan kesedihanmu adalah kesedihan terbesarku. Jadi, jangan berkata hal-hal seperti itu lagi.”

Hyeobin mengangguk pelan. Air matanya turun secara tak terkontrol. Seungri menghapus air mata yang keluar dari mata Hyeobin, menatapnya dengan pandangan tanya.

“Jangan khawatir. Aku… hanya terharu.” Hyeobin berucap pelan. Membuat pria di hadapannya kembali tersenyum. “Kau sadar betapa manisnya dirimu?”

Senada dengan perkataan yang dilontarkan pria itu, wajahnya mulai mendekat. Membuat nafas sang pria bisa terasa jelas oleh gadis tersebut. Wajah mereka saling mendekat. Hyeobin—secara reflek—menutup matanya. Membiarkan bibirnya merasakan kegembiraan tak terhingga. “Ehem!”

Tepat satu centi lagi bibir mereka bertemu, suara dehaman membuat mereka terkejut. Ternyata suara yang berasal dari senior mereka. “Later, we will have committe meeting. You both must come. (Nanti akan ada rapat panitia jam tiga sore ini. Kalian harus datang).”

Mereka berdua sontak mengangguk. Wajah mereka berdua berubah warna menjadi sangat merah. “Kelasku akan segera dimulai. Sampai—jumpa, Hyeobinnie.”

“Ne. Aku juga. Sampai jumpa, Seung-ah.”

*^*

Our university will make an anniversary party. And, we will invite others university too. This is the lists. One person goes to one university, okay? (Universitas kita akan mengadakan pesta ulang tahun. Dan, kita akan mengundang universitas yang lain juga. Ini adalah daftarnya. Satu orang pergi ke satu universitas ya?)”

Semuanya mengangguk dan mulai bubar masing-masing. “Hyeo-ah, university apa yang ingin kau kunjungi?” Seungri bertanya di perjalanan keluar gedung. “I don’t know either. Berkeley College, maybe.

Seungri berpikir sebentar, lalu ingat jika sunbae yang ditemui mereka kemarin itu sekarang berkuliah di Berkeley College. “Mengapa kau ingin ke university itu?”, tanyanya, memancing. “Entahlah~ Mungkin karena university itu paling dekat dari sini.”

Dalam hati pria tersebut menyesali perbuatan sang gadis—yang ia tau sedang berbohong kepadanya. “Apakah tidak bisa kau berkata sejujurnya kepadaku?”, bisiknya pelan. “Aku pergi dulu ya, Seung-ah. Fighting!” Gadis itu langsung pergi menghilang dari hadapan sang pria, membuatnya tambah panas.

Excuse me, I’m from Bloomfield College. We want to send an invitation to this university. (Pemisi, saya dari Bloomfield College. Kita ingin mengirimkan undangan untuk universitas ini.)” Hyeobin tersenyum sembari memberi undangan kepada seorang rektor disana. “Ok, then. Just speak with our committes. They having a meeting in that room. (Baiklah kalau begitu. Bicaralah saja kepada panitia kami. Mereka sedang menjalani rapat di ruangan itu.)”

Gadis tersebut mengangguk dan mulai mengetuk pintu ruang rapat, kemudian masuk ke dalam ruangan. Ia bisa melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi sedang menjalankan rapat. Hyeobin menjelaskan tujuan kedatangannya dan akhirnya—setelah setengah jam lebih, keputusan berhasil diputuskan.

Nice to meet you.

Hyeobin menunduk kecil mendengar ucapan ketua panitia. Ia baru ingin pulang, sebelum melihat suatu pemandangan indah terlukis di balkon kampus itu. Rasanya itu semua seperti dejavu baginya. Pohon-pohon yang berlenggok dimainkan angin, burung-burung yang beterbangan tanpa arah, dan juga suara hembusan angin yang menenangkan hati.

“Gadis balkon!” Panggilan itu seakan membuat Hyeobin kembali terkejut.

“Kibum-oppa!”, dia memanggil lelaki yang sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. “Kita bertemu lagi.” Kibum berkata, sembari tersenyum kecil. “Ternyata kau masih belum berubah. Masih menjadi gadis balkon-ku.” Ia kembali berbicara. Hyeobin terkekeh pelan. “Tapi kali ini aku tak dapat menghiburmu lagi.”

“Kenapa?” Gadis tersebut bertanya, mengkerutkan keningnya. “Kau sudah mendapatkan pria yang kau cintai, bukan? Jadi, tak ada alasan untuk bersedih.” Hyeobin mengangguk, walaupun dalam hatinya ia merasa ada aura misterius yang terus mengetuk-ketuk hatinya dengan keras.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kembali berada di pikiran masing-masing. “Kau tinggal dimana?”, tanya sang pria, mencairkan suasana. “Di salah satu asrama. Aku dan Seungri tinggal disitu.” Gadis itu menjawab pelan. “Boleh aku mengatakan yang sejujurnya kepadamu, Hyeobin-ah?”

Gadis itu sedikit terbingung, namun memilih menganggukan kepalanya. Kibum membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Saat ia menyatakan perasaannya kepadamu, kebetulan aku berada disitu. Dan entah mengapa—rasanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada yang menusuk hatiku dengan pisau berkali-kali. Dan saat tau akan berpisah denganmu, rasanya hatiku merasakan kesedihan yang luar biasa. Melebihi kesedihanku saat harus berpisah dengan teman-teman yang lain.”

Lelaki itu terdiam sebentar. Sang gadis masih diam mendengarkan. “Dan saat berada disini, yang ada dalam pikiranku hanya dirimu. Seakan merasa—ada satu organku yang tertinggal. Awalnya, aku bingung tentang hal yang aku rasakan. Tapi, sekarang aku sadar. Aku sedang mencinta. Dan orang yang kucintai… adalah dirimu.”

Pupil bola mata Hyeobin membesar seketika.

“Aku tau… tak seharusnya aku mengatakan hal ini. Aku tau… kau sudah bersama orang yang kau cinta. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku selama bertahun-tahun ini. Jika hanya memendamnya, hatiku akan sangat menderita. Sekarang—walaupun kau tidak menerimaku, aku merasa sedikit lebih lega.” Kibum tersenyum simpul. Arah matanya masih ia arahkan ke bawah.

Hyeobin mengelus rambut Kibum lembut.

“Mianhae, oppa. Aku sama sekali tidak menyadari perasaanmu sebelumnya. Tapi, aku hanya menganggapmu oppa-ku. Tidak lebih dari itu. Jeongmal mianhae. Kuharap, setelah kejadian ini, kita masih bisa akrab seperti dulu. Karena jujur, hatiku sangat nyaman saat bersamamu.” Hyeobin menundukan kepalanya. Kibum tersenyum kecil dan mencubit pipi Hyeobin pelan.

“Ahhh~ Uri Hyeobin sudah dewasa ternyata. Kalau begitu, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tunjukkan saja jalannya. Arasso?” Lelaki itu menarik tangan sang gadis. “Tidak usah, oppa. Aku bisa naik taxi.” Dia menolak halus. Bersamaan dengan itu, suara petir menggelegar seketika. Hujan pun turun membasahi bumi dengan deras.

Membuat senyuman terukir di bibir si lelaki. “Tidak mungkin kan kau pulang sendiri dengan keadaan hujan deras seperti ini. Sudahlah, ayo aku antar.” Kibum menarik tangan Hyeobin kembali. Hyeobin mengangguk pasrah. Mereka berdua berjalan menuju mobil dengan cepat karena pasukan hujan yang turun tanpa rasa kasihan. Meninggalkan seseorang yang sudah kehujanan dengan perasaan bercampur aduk.

Di perjalanan, mereka hanya diam. Suara petir ditambah suara lagu yang sedang diputar di dashboard bersatu padu menjadi sebuah alunan yang menjadi backsound mereka.

“Bagaimana kehidupan SMA-mu setelah aku pergi dulu?” Kibum bertanya, berusaha mencairkan suasana. “Baik-baik saja. Seungri selalu ada untukku. Tadinya aku pikir ia hanya main-main denganku, tetapi ternyata—ia benar-benar serius. Banyak yang menentang hubungan kami berdua, apalagi trio Kangin, Yesung, dan Heechul; namun Seungri selalu melindungiku. Dan itu membuatku lebih baik.”

Entah mengapa, hati lelaki itu kembali merasa sakit saat mendengar sang gadis terus memuji pria lain di hadapannya. Dan pria itu—adalah pria yang memiliki gadis ini sepenuhnya. Bukan dirinya. Melainkan pria yang seratus persen menang darinya. Dari pertempuran yang bahkan tidak pria itu usahakan sama sekali.

“Sudah sampai. Gomawo, Kibum-oppa.” Hyeobin berucap pelan, kemudian membuka pintu dan keluar perlahan. Bisa terlihat gadis itu sempat tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Setelah sang lelaki itu pergi, Hyeobin langsung melangkah pelan menuju asrama mereka. Ia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia mulai memasak untuk makan sorenya hari ini. Tepatnya sebelum bel berbunyi secara tiba-tiba.

“Sia—Aigoo!!!” Hyeobin bisa melihat seorang pria sedang berdiri di pintu rumahnya dengan basah kuyup. Benar-benar kacau.

“Seungri-ah, gwenchana? Kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?” Hyeobin bertanya sembari mempersilahkan pria itu untuk masuk. “Sana, cepat ganti baju. Kau pasti sangat kedinginan. Kebetulan, ada beberapa pakaianmu yang tertinggal di asramaku.”

Pria itu mengangguk dan melakukan hal yang disuruh sang gadis. Setelah selesai, ia duduk di sofa. Hyeobin mengecek kening pria itu dan terkejut. “Panas sekali! Kau pasti sakit. Akan kuambilkan obat.” Gadis tersebut beranjak bangun, sebelum ditahan oleh tangan pria itu. Pria tersebut menarik tangan sang gadis dan menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi.

“Kenapa lama sekali baru pulang?”, tanyanya, sedikit serak. “Ra… rapatnya memang sedikit lama.”

Gadis itu berkata cepat. Bukannya ingin berbohong, namun akan lebih baik pria di hadapannya ini tidak tau yang sebenarnya.

“Rapatnya lama? Kau memang benar-benar tidak pandai berbohong, Hyeo-ah.” Seungri menarik nafas dalam. Hyeobin terpaku. Ada rasa keterkejutan mendalam di jantungnya. “Eh?” Hyeobin bertanya, masih bertingkah senormal mungkin.

Seungri tersenyum lirih. “Apakah rapat itu adalah duduk dan berbincang berdua bersama sunbae saat SMA?” Pertanyaan tersebut sontak membuat Hyeobin lebih kaget. Hatinya gelisah. Namun, tak bisa dipungkiri, ada rasa penyesalan di benak terdalamnya.

“Mianhae, Seung-ah. Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa diucapkan dari mulutnya.

“Jika tentang kau dan sunbae itu, aku tidak masalah. Yang aku masalahkan adalah—kenapa kau berbohong padaku? Tidak bisakah kau berkata yang sebenarnya? Aku juga sangat percaya kepadamu, Hyeobin-ah. Dan aku tau, aku tidak boleh terlalu mengkekangmu. Bukan salahmu jika kau ingin berbincang kembali dengan sunbae yang sudah lama tak kau temui. Tapi tolong, jangan berbohong padaku.”

Air mata turun perlahan dari pelupuk mata gadis itu. Ia menyesal. Sangat menyesal. “Mianhae. Jeongmal mianhae.” Gadis itu kembali berucap pelan. Seungri memeluk sang gadis, mendekapnya ke pelukan. “Gwenchana. Tapi, please, lain kali jangan bohongi aku. Ok? Jangan buat kepercayaanku hilang.”

Hyeobin mengangguk pelan.

“Aku janji. Aku memang sangat bodoh. Tak seharusnya, aku mengkhianati kepercayaan orang yang sangat kucintai dan mencintaiku sepenuh hati. Kau sangat pengertian kepadaku, tapi aku malah membalasmu dengan ini. Mianhae, Seung-ah.”

Seungri tersenyum hangat. Mereka berdua kembali berpelukan.

 

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE