Full of inspiration and story

[Chapter One – The Beginning]

Burung-burung berkicauan merdu di langit biru. Panas matahari menyinari bumi dengan terik. Menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan tengah hari. Angin berhembus pelan, senada dengan kicauan burung yang bergema ringan. Seorang gadis berdiri menatap langit. Rambutnya yang panjang, senantiasa dimainkan angin. Air matanya turun perlahan. Di balik raut wajahnya yang tenang, terdapat jutaan pikiran yang sedang berada dalam otaknya.

Gadis itu bangkit perlahan dan merentangkan tangannya keatas. Merasakan angin sedang merasuki seluruh permukaan tubuhnya. Ia menutup mata, berharap setelah membukanya, ia akan menjadi seekor burung yang bisa terbang leluasa di angkasa.

“Kau murid kelas satu?”

Pertanyaan dari seseorang membuat gadis tersebut tersentak dan kembali duduk, tanpa melirik orang yang bertanya. Ia merasakan orang tersebut duduk di sampingnya, namun ia tetap tak meliriknya. Bukan karena tidak mau, tetapi akan sangat memalukan baginya jika menunjukkan mata bengkak dan bekas air mata yang terlukis jelas di wajahnya.

“Kau belum menjawabku.” Orang itu berkata, dengan halus namun tegas. Ia mengangkat wajah gadis yang daritadi terus menunduk itu. “Kau menangis?”, tanyanya lagi, dengan nada sedikit kaget. Gadis itu masih diam. Orang tersebut mengerucutkan mulutnya, “Aku bukan penyiar radio.”

Ucapannya membuat gadis tersebut menatapnya dan mengkerutkan kening. “Maksudmu?”

Orang tersebut tersenyum. “Dari tadi aku bertanya dan berkata sendiri. Seperti penyiar radio yang hanya berkomunikasi satu arah.” Gadis itu tertawa kecil mendengar perkataan orang di sebelahnya. “Nah, jika kau tersenyum seperti itu, kau akan jauh terlihat lebih cantik. Jadi, jangan menangis lagi ya.”

Gadis tersebut mengangguk, pipinya sedikit merona. Baru pertama kali ini ada yang menyebutnya cantik. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Orang itu bangun dan berlari kecil. “Tunggu! Namaku Kim Hyeobin!” Gadis itu berteriak. Orang tersebut berhenti sebentar, melambai, kemudian kembali berlari. Meninggalkan gadis yang sekarang tersenyum.

*^*

[Hanguk Art School]

Gadis bernama Kim Hyeobin tersebut memasuki kelas sekolah barunya. Sudah cukup banyak orang-orang yang datang. Dan setengah dari mereka saling mengrobol dan menyapa. Ia memutuskan untuk duduk di tempat paling pojok, tempat yang paling dekat dengan jendela.

“Ya! Kau bersekolah disini? Appa-mu baru membobol bank?” Suara yang diiringi dengan tawa yang tidak asing, membuat gadis itu memutarkan lehernya. Seketika tubuhnya merasakan perasaan yang tidak enak. Tiga orang pria sudah berada di hadapannya. Tiga orang—yang sangat dikenalnya. Tampan dan kaya, namun hatinya? Nol besar! Mereka adalah teman sekelas gadis tersebut saat berada di SMP dahulu. Dan bisa dibilang—mereka adalah musuh terbesar gadis ini.

“Jangan begitu, Kangin-ya! Kita harus menyambut kedatangan penghibur kita. Jika ia tidak ada di SMP dulu, pasti kita tidak akan merasa terhibur. Ia adalah korban terempuk kita.” Kim Yesung berbicara lagi, menimbulkan tawa besar yang membuat gadis itu merasa risih. Beberapa orang-orang yang lain menatap gadis itu heran.

“Setidaknya Hyeobin-ssi lebih baik dari kalian. Ia berhasil meraih beasiswa untuk sekolah disini. Sedangkan kalian? Mungkin jika tidak ada bantuan dari orang tua kalian, kalian sudah lama menjadi gelandangan.” Ucapan seseorang membuat tiga trio sombong itu terdiam seribu bahasa. Mereka memutuskan untuk pergi, walaupun terdapat raut kemarahan yang terlihat jelas di wajah mereka.

Gadis tersebut menatap ‘sang penolong’ nya dengan sedikit kaget. “Ahh, Hyeobin-ah. Kita satu sekolah lagi? Baguslah kalau begitu.”, kata orang itu sembari berlalu, kembali ke rombongan teman-temannya. Orang itu tak sadar, bahwa gadis yang baru saja bicara dengannya sudah sangat merona.

“Terima kasih.”, bisiknya, sedikit telat. Orang itu—tepatnya pria itu—adalah orang yang selalu menolongnya semasa SMP. Pria tersebut tergolong pria yang diam, namun bakat seninya selalu dapat membuat seluruh gadis terpesona. Tak terkecuali dirinya.

*^*

Di ruang besar yang penuh dengan kaca di setiap sisi-sisinya, murid kelas satu memulai pelajaran pertamanya. Beberapa senior juga ada untuk membantu para guru. “Sebelum kita memulai pelajaran, sebaiknya kalian masing-masing menunjukkan kemampuan kalian terlebih dahulu. Kalian boleh sendiri atau berdua.”

Sang guru berbicara, membuat para murid sontak berhamburan memikirkan apa yang mau mereka tampilkan. Namun gadis itu hanya terdiam. Tidak seperti murid lain yang mengajak temannya untuk berdua. Karena, jujur, gadis itu belum punya seorang teman pun. “Mau bersama? Kita bisa menarikan dance yang dulu kita tampilkan saat perpisahan.”

Suara itu. Suara itu lagi-lagi membuat detak jantung gadis tersebut berdenyut keras. Bahkan sebelum ia melihat si pemilik suara. “Apakah kau tidak mau berpasangan dengan murid yang lebih hebat dariku?” Gadis itu bertanya, pertanyaan yang sangat disesalkannya. Pria dihadapannya mengerutkan kening. “Kau tidak mau berpasangan denganku?”

Seketika gadis itu mengangguk secepatnya. “Tentu saja aku mau, tapi—”

“Kalau begitu, aku akan memberi tau Park Saenim.”, katanya cepat. Tak sadar, gadis itu kembali tersenyum. Sentuhan tepat di bahu sebelah kanan, membuat ia sedikit terkejut. “Kau—gadis yang ada di balkon kan? Emm… Kim Hyeobin?”

Gadis tersebut menganggukan kepalanya seraya tersenyum. “Kau—orang yang menghiburku waktu itu.”

“Kalau begitu kenalkan. Kim Kibum imnida. Kelas tiga.”, ucapnya sembari tersenyum, menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis. “Kim Hyeobin imnida. Kelas satu. Annyeong hasimnika, sunbaenim.” Gadis itu menunduk pelan.

“Jangan terlalu formal begitu. Aku bukan lelaki lanjut usia.” Kibum tersenyum. Gadis tersebut tersenyum malu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong, Hyeobin-ssi.”, ia berkata lagi, sembari kembali membantu para guru. “Dia siapa?”

Hyeobin menoleh, bisa melihat pujaannya sedang berdiri dengan sebuah kertas di tangan kanannya. “Ohh, dia sunbae kita. Kebetulan, secara tidak sengaja, aku bertemu dengannya kemarin di balkon.” Gadis itu menjelaskan hati-hati. Menyebabkan pria tersebut mengangguk-angguk.

Bel panjang menyebabkan para murid terkejut. Park Saenim menyuruh semua murid untuk bersiap. Mereka mulai diuji satu-satu.

“Urutan 3! Kim Hyeobin dan Lee Seungri!”

Kim Hyeobin dan pria tersebut melangkah maju. Tiga trio sombong yang juga berada disitu, sedikit bersiul meledek. Sedangkan para perempuan, berdecak iri kepada gadis yang berhasil duet dengan pria idaman mereka itu. Hyeobin sedikit takut, namun pria tersebut membisikan sesuatu padanya. Bisikan yang sama pada waktu SMP dulu. “Jangan gugup. Bayangkan hanya ada kita berdua disini.”

Hyeobin mengangguk, kemudian tarian mereka pun dimulai. Mereka menari dengan elok dan senada dengan lagu yang dilantunkan. Membuat para murid, guru, serta senior-senior yang melihat mereka, terpana.

Great! So great!

Kim Saenim meneriakan pujiannya kepada mereka, diikuti tepuk tangan seluruh murid yang lain. “Sekarang kalian bisa melanjutkan ke ruang vocal.” Park Saenim menambahkan, membuat mereka langsung keluar dari ruangan.

Thanks.” Hyeobin memulai. Membuat pria itu—Seungri—mengkerutkan keningnya. “For what?”, tanyanya, tak mengerti. “For everthing. Tanpamu, pasti tarianku tidak akan sebagus ini.” Seungri tertawa kecil. “It’s okay. Itu gunanya teman, kan?” Dia mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya, dan langsung bergegas ke ruang vocal.

Hyeobin terpaku di tempat. “Teman? Hanya—teman?”, bisiknya seraya tersenyum pahit.

*^*

Angin berhembus lebih besar hari ini. Langit juga sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Burung-burung tampak berterbangan tak karuan. Gadis berusia enam belas tahun itu terdiam, menatap langit. Mungkin inilah hobby terbesarnya saat sedang galau. Ia masih mau berlama-lama di balkon sekolah barunya, namun dering ponsel membuatnya mengurungkan niat.

“Yoboseyo… Jinjja? Ne, arasso.”

Gadis tersebut menggembungkan pipinya, sembari melangkah turun perlahan. Tetes-tetes air hujan jatuh setitik demi setitik, menimpa permukaan kulitnya. Tiba-tiba, titik-titik air itu seakan menghilang. Gadis itu terbingung, lalu membalikan badannya ke belakang. Seseorang sudah menggenggam payung yang sekarang melindungi mereka berdua dari serangan pasukan hujan.

“Pulang ke rumah?”, tanya orang tersebut. Kim Hyeobin mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan mengantarmu.” Orang itu langsung menarik tubuh mungil gadis tersebut ke mobilnya. “Sunbaenim, mian merepotkan.” Kim Hyeobin menunduk pelan. “Panggil saja Kibum-ssi atau Kibum-oppa. Bukankah sudah kubilang agar tidak usah terlalu formal?”

Gadis tersebut mengangguk pelan. “Penampilanmu dance-mu tadi sangat hebat. Gerakan dirimu dan partner-mu sangat senada. Semuanya daebak!” Kim Kibum berbicara lagi, kali ini memuji gadis itu. Membuatnya tersipu. Wajah pria itu tiba-tiba berubah serius, “Boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit menyangkut masalah pribadimu.”

Ia menatap pria di sebelahnya, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kemarin… kenapa kau menangis?”

Hyeobin terdiam. Matanya kembali menatap pria tersebut, seakan mengukur-ukur apakah ia akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sedangkan pria itu masih menyetir sembari melayangkan pandangan tanya. Keheningan saat itu juga terjadi.

“Kalau kau tidak mau memberitahukan masalahmu, aku tidak akan memaksa.” Pria itu berkata lagi. Hyeobin  menghela nafas dalam-dalam. “Aku… menyukai seseorang. Ia… adalah bekas teman sekolahku di SMP. Menurutku, ia sangat perfect, dan itu malah membuat rasa percaya diriku ciut di depannya. Aku… tidak tau mau bagaimana. Aku takut suatu saat nanti, ia akan mempunyai orang yang ia cintai. Dan, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Kibum tersenyum kecil, “Apakah orang yang kau maksud adalah partner dance-mu tadi?”

Gadis itu membulatkan matanya. “Eh?! Bagaimana oppa tau?” Ia bertanya dengan polos. Sontak membuat pria di hadapannya tertawa. “Terlihat dari matamu saat memandangnya. Pandanganmu—tampak berbeda. Lebih dalam.”, ucap pria tersebut lembut. “Apakah sebegitu terlihatnya?” Sangrin bertanya, kelihatan panik.

Pria tersebut mengangguk. “Bahkan tertulis di keningmu.”, ucapnya bercanda. Namun, gadis di sebelahnya langsung terkejut dan mengusap-usap keningnya. “Benarkah?!”, tanyanya, masih panik. Membuat Kibum kembali tertawa. Suasana kembali tenang setelah itu.

“Yakinlah pada dirimu, Hyeobin-ah. Aku yakin… sikapmu, fisikmu, ketulusanmu, kepolosanmu, dan semua dari dirimu, akan selalu membuat orang lain mencintaimu.” Kibum tersenyum penuh arti, meninggalkan tanda tanya yang mendalam di hati Hyeobin. “Maksud oppa?”, tanyanya tak mengerti.

Kibum menunjuk sebuah rumah, menghiraukan pertanyaan gadis di sebelahnya. “Apakah ini rumahmu? Berarti kita sudah tiba. Sampai jumpa di sekolah besok, Hyeobin-ah.”

Hyeobin pun mengangguk dan melambai sebelum akhirnya masuk ke kamar. Dalam hati, ada sedikit tanda tanya yang mengerubungi. Kenapa ia merasa nyaman jika berada dekat dengan senior itu? Dan kadang-kadang malah melebihi rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama pujaan hatinya. Namun, ia langsung menepis pikirannya jauh-jauh. Itu adalah pemikiran yang bodoh, fikirnya seraya mencoba memejamkan mata.

*^*

Kim Hyeobin mengempaskan tubuh mungilnya ke kursi. Head-set masih terpasang di kedua telinganya. Lagu berjudul ‘My All Is In You’ itu memasuki lubang telinganya dan meresap hingga ke otak. Membuatnya merasa damai dan tenang. Ia baru saja ingin menutup mata akibat kantuk yang masih menyerang, sebelum seseorang menganggunya. Seseorang—yang special.

“Boleh bicara sebentar?”

Pria itu bertanya. Pandangan matanya sama sekali tak bisa ditolak oleh sang gadis. Pandangan yang entah mengapa selalu berhasil membuat  gadis di hadapannya terpaku. Mereka berhenti di sebuah kelas kosong yang sudah tidak dipakai. Pria itu menatap sang gadis dengan dalam. Bahkan, tak sedetik pun terlepas.

Angin-angin yang berhembus menjadi music pengiring mereka berdua. Keheningan berhasil menjadi kacau, saat pria tersebut menghela nafas dalam. “Aku. . . ”

Ia terlihat cukup gugup. Bisa terlihat dari tangannya yang tak berhenti bergerak dan sorot matanya yang berkeliaran ke berbagai arah. Gadis itu masih menunggu perkataan yang ingin dilontarkan sang pria.

“Saranghaeyo.”

Satu kata itu akhirnya berhasil dikeluarkan oleh sang pria. Membuat gadis di hadapannya terkejut sempurna. Rangkaian nadi gadis tersebut seakan terbelit rumit. Ia masih terdiam. Sungguh tak percaya dengan apa yang ia lalui saat ini. Apakah ini hanya candaan?, pikir gadis itu.

“Seungri-ssi… Jebal, jangan bercanda lagi.”, ucap gadis tersebut, dengan sedikit serak. Tatapan sang pria kembali tertuju kepadanya. “Apakah wajahku… kelihatan sedang bercanda?” Pria tersebut menatap gadis di hadapannya dengan dalam, serius, dan penuh kefokusan. Gadis itu sontak menggeleng. Tapi, ia masih tak percaya. Pujaannya—orang yang selalu ia impikan—sekarang sedang menyatakan perasaannya? Kepada dirinya?

“Seungr—”

Pria itu memotong ucapan gadis tersebut dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang gadis. Membuatnya lebih terkejut. “Please, just say yes or no.”, ucap pria tersebut. Reflek, gadis itu mengangguk cepat. Dan sang pria pun mendekap gadis itu dalam dekapannya. Mereka berdua berpelukan—dengan hangat dan penuh cinta.

Ohh… Great~

Seorang lelaki berdiri di pojok ruang kelas tersebut. Pandangannya menatap dua juniornya yang sedang saling berpelukan. Dan entah mengapa, membuat hatinya sedikit panas.

*^*

Berpuluh-puluh hari telah berlalu sejak hari itu. Sekarang, mereka sudah melewati akhir tahun pelajaran mereka. Malam ini, adalah malam yang special, terutama untuk murid kelas tiga yang akan meninggalkan sekolah untuk menuju jenjang yang lebih tinggi, university.

Lagu berdendang riang memenuhi ruangan besar yang sudah disulap menjadi arena pesta. Semua murid kelas akhir tertawa bersama, menangis bersama, saling berpelukan, dan bercanda ria. Gadis itu terdiam. Menonton aktivitas menarik para seniornya. Tangannya digenggam erat oleh seorang pria. Pria yang sudah delapan bulan ini menjadi kekasih dan pendampingnya.

Dalam hati gadis itu ada rasa gusar yang bahkan tidak ia ketahui penyebabnya. “Aku akan ke… toilet dulu.” Gadis itu pamit kepada sang pria. Dibalas dengan anggukan kecil dari pria tersebut. Kim Hyeobin berjalan perlahan menuju toilet. Ia membasuh wajahnya disana. Setelah merasa lebih lega, ia keluar dari toilet dan langsung kembali melangkah menuju ‘pendamping’ nya.

“Gadis balkon!”

Suara seorang lelaki membuat gadis itu terkejut dan memberhentikan langkahnya. Di hadapannya sekarang sudah berdiri seorang lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. “Kibum-oppa.”, panggilnya pelan. Membuat lelaki yang dipanggil tersenyum lebar. “Mianhae.”

Gadis tersebut menatap sang lelaki bingung. “Kenapa meminta maaf?”

“Setelah aku pergi, tak ada orang yang akan menemanimu lagi di balkon itu. Dan tak ada lagi orang yang akan menghapus air matamu.” Dia berucap sembari tersenyum, menatap gadis itu dengan pandangan dalam. Gadis tersebut balas tersenyum, entah mengapa membuat tulang rusuk lelaki itu ngilu sesaat. “Mungkin ini terdengar lucu, tapi kau adalah gadis pertama yang sedekat ini denganku.”

“Jinjja?” Gadis itu bertanya dengan pandangan tak percaya, membuat lelaki itu kembali merasa ngilu. “Kapan kita bisa bertemu lagi?”, lanjut gadis itu pelan. Lelaki itu terdiam. Bukan karena tidak mau menjawab, namun ia sendiri belum tau tepatnya kapan mereka akan kembali bertemu. “Aku… juga tidak tau. Aku akan melanjutkan kuliahku di New Jersey. Kebetulan… appa-ku kerja disitu.”

Entah mengapa, perkataan lelaki tersebut membuat sang gadis merasa perih. “Jadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?” Hyeobin bertanya langsung to the point. “Kalau begitu, sampai jumpa, sunbae. Semoga kau berhasil.”

Kim Hyeobin melangkah meninggalkan Kim Kibum yang masih membeku. “Dan… semoga kita bisa bertemu lagi.”, bisik gadis itu lirih.

“Kenapa lama sekali?” Lee Seungri—pria yang daritadi menunggu—tersenyum. Hyeobin hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman manis.

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Annyeong, semua~~~ Comment seperti biasa ya…

@Hyeobin-onn : Tadinya itu ff antara aku, Siwonnie, dan Woo… Tapi akhirnya kuputuskan untuk kasih ke onn~ Hehehehe~~~ Semoga suka… ^^

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter One)" (7)

  1. Hahahahaha
    Enak aja main lempar2 cast ke aku
    Padahal lagi bulan madu -o-
    Gomawo, chriiiiiis-chan
    Paaaaaaas banget sama keadaanku
    Tp yg bikin aku sebel bukan cowo, tapi cewe
    Uuuuuh sebelnya lagi aku ngga jadi ikut lomba tari
    Beda ama yg ini
    Gomawo, chris udh tau keadaanku ❤
    Beloved sista, neomu saranghaaaaaaee

  2. Nah,,ini ffpertamamu yg baru sempadd kubacca
    Sepertti dugaanku,,DAEBAK!!!!!!
    Aku mampir” laggi nanti ^^

  3. Hahahaha sok nih anak *jewer*
    Jangan lama2 lahhh
    Keburu kamunya males publish *inget kebiasaan chris*

  4. christina!! ff baru ya? bagus nih kayaknya kekeke. jgn lupa d lanjutin! awas lu! :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: