Full of inspiration and story

“Gwenchana, Kibum-ya?”

Kibum mengangguk dan bergegas berdiri tegak. “Hampir saja…”, gumamnya mencoba santai. “Kajja!”, seru Donghae dan mereka melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini semua berjalan lancar. Tak ada sesuatu yang menghalangi mereka, namun yang mereka temui sepanjang jalan hanya lorong yang bahkan tak terlihat ujungnya.

“Bisa berhenti dulu? Aku sangat lelah~”, kata Kyuhyun dengan nafas memburu. Yang lain—yang juga kelelahan mengangguk dan mulai duduk. Menstabilkan nafas mereka yang sudah seperti baru melakukan pertandingan tinju. “Ottokhae? Sejauh kita berjalan, hanya lorong yang kelihatan…”, ucap Siwon yang sudah sangat lelah dengan keadaan kakinya yang mengerikan.

“Ne. Padahal bangunan ini setauku tidak sepanjang ini.”, sahut Donghae yang juga sudah sangat lelah dan lemah akibat racun yang tertanam di lehernya.

Kibum tiba-tiba berdiri, “Apakah mungkin kita terkena ilusi?”

“Kau pikir kita berada di dunia kartun?”, tanya Kyuhyun sarkastik. “Tapi mungkin saja… Kalau tidak, bagaimana cara menjelaskannya? Kita sudah berjalan sejauh mungkin, tapi bahkan hingga sekarang kita belum melihat jalan keluarnya.”

Donghae dan Siwon mengangguk, “Masuk akal juga…”

“Lalu, bagaimana cara menghilangnya kalau memang ada?”, tanya Kyuhyun dengan memberi penekanan pada ‘kalau memang ada’. Kibum menggelengkan kepalanya. “Kita bukan ninja yang bisa menghilangkan pengaruh ilusi…”, lanjut Kyuhyun. “Molla~”, jawab Kibum dengan lunglai.

“Apa sih sebenarnya tujuan mereka menahan kita?”

Semuanya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Siwon yang ada benarnya juga. Mereka berempat hanya empat remaja yang sama sekali tidak tau apa-apa. Lalu, kenapa tiba-tiba mereka ditangkap tanpa sebab yang jelas? Kini pikiran mereka tertutup jutaan misteri yang menghubungkan kepala mereka dengan tidak karuan.

“Sudahlah, itu dipikirkan lain kali saja. Yang penting sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita keluar dari sini.”, ucap Donghae tegas. Yang lain mengangguk menyetujui perkataan Donghae. “Kalau benar ini ilusi, bagaimana caranya untuk menghilangkan ilusi ini?”, tanya Kibum, memulai berpikir dengan keras.

“Ilusi itu ada karena pikiran kita sendiri. Jika kita menghilangkan semua pikiran negative yang ada dalam pikiran kita, kurasa kita akan menghilangkan ilusi tersebut.”, jawab Kyuhyun dengan pandangan menerawang. “Kau benar, Kyu!”, teriak Donghae, Siwon, dan Kibum bersamaan.

“Kalau begitu lebih baik kita memejamkan mata kita dan menarik nafas dalam-dalam. Kupikir cara ini akan berhasil.”, lanjut Siwon dibalas persetujuan yang lain. Setelah beberapa menit, mereka kembali membuka mata. “Ahh~lebih baik.”, kata Donghae ceria. “Kalau begitu, kajja kita lanjutkan lagi.”

Mereka berempat kembali meneruskan perjalanan dengan cepat. Setelah cukup lama, pintu keluar tampak terlihat. Memberikan cahaya dan sinar yang membuat mereka—entah kenapa sangat bahagia.

Donghae berlari menuju pintu keluar itu, dilanjutkan dengan Siwon, Kyuhyun, dan Kibum. Hingga akhirnya Donghae yang pertama tiba, menyiapkan satu langkahnya lagi untuk menginjak pintu keluar, pintu itu tertutup rapat secara tiba-tiba. Membuat mereka berempat jatuh terjerembap.

“Apa lagi ini?!” Kibum berteriak dengan kesal, sementara Siwon menjambak-jambak rambutnya. Kyuhyun memijit-mijit keningnya, sedangkan Donghae melangkah bolak-balik.

Langkah berat membuat mereka berempat menoleh. Mereka bisa melihat dengan jelas 3 orang lelaki sedang melangkah penuh wibawa. “Si—siapa kau?”

Seorang lelaki diantara mereka tersenyum ramah, “Tenang. Kami tidak mau melakukan yang macam-macam kepada kalian.”

“Lalu, apa mau kalian?! Dan siapa kalian?!”, tanya Siwon sembari menunjuk 3 orang itu. “Aku Jungsoo. Park Jungsoo. Ini kedua rekanku, Kim Jongwoon dan Kim Youngwoon. Untuk lebih jelasnya, akan kami jelaskan nanti. Sebaiknya, kalian ikut kami ke ruang makan. Kalian pasti lapar, bukan?”

Mereka berempat mengangguk kecil, dan memutuskan mengikuti mereka dari belakang. “Apakah kalian yakin—mereka bukan orang jahat?”, tanya Donghae, ragu-ragu. Kyuhyun menatap Donghae, “Aku juga tidak tau. Tapi, hanya mereka harapan kita.”

Donghae mengangguk, begitu pula dengan Siwon dan Kibum. Tak sadar, mereka telah melangkah hingga ke sebuah ruang. Di dalam ruang itu, terdapat meja yang sangat panjang. Di atas meja itu, sudah tersedia berpuluh-puluh makanan yang sangat menggiurkan. “Silahkan makan. Kalian boleh mengambil sebanyak mungkin yang kalian mau. Kami akan menunggu kalian di ruang sebelah.”

Orang yang bernama Youngwoon berhenti sebelum memasuki ruang satunya, “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10.”, dan kemudian melangkah dan menutup pintunya. Donghae langsung bersiap menyantap semuanya, namun Kibum melarangnya.

“Apakah kau tidak curiga? Maksudku—apa maksud orang tadi?”

Perkataan Kibum membuat yang lain akhirnya mengangguk. “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10. Demi Tuhan, apa maksud orang itu?!” Kyuhyun kembali memijit-mijit keningnya. “Berapa jumlah semua hidangan ini?”, tanya Siwon tiba-tiba, membuat yang lain langsung memandangnya tak percaya.

“Ya Tuhan, Choi Siwon! Ini bukan waktunya untuk memikirkan hidangan itu!”

Namun tampaknya Siwon tak memperdulikan sentakan Donghae. Ia menghitung semuanya, kemudian senyum terukir di bibirnya. “Jumlah hidangan ini ada 50!”

Kibum mengkerutkan keningnya, “Lalu?!”

Siwon menghembuskan nafas panjang dan menatap ketiga temannya tak percaya.

“Apakah kalian masih tak sadar? Jumlah hidangan ini ada 50. Dan orang itu mengatakan tadi bahwa ‘Diantara 50 ada yang hitam 10’!”

Mata Kyuhyun terbelalak seketika, “Maksudnya, diantara 50 hidangan itu…”

“…ada yang teracun 10?!” Kibum menambahkan.

Donghae mengangguk mengerti. “Lalu, mana yang beracun dan mana yang tidak?” Mereka bertiga menggeleng pelan. “Aigoo! Apakah bahkan mereka tak memberi kita kebebasan dan ketenangan untuk sekedar makan?!”

“Apa maksudnya 10 makanan yang beracun itu, makanan yang bewarna hitam?”, tanya Donghae, dan langsung dibalas jitakan ketiga temannya. “Apakah ada benda yang bisa mendeteksi racun?”, tanya Kyuhyun. Lagi-lagi, mereka bertiga kembali menggeleng. Keheningan melanda mereka. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri.

Kibum memandang sepatunya seraya berpikir, lalu tiba-tiba ia bisa melihat seekor kucing sedang menjilat sepatunya. Sebuah ide langsung terlintas. Dengan cepat, ia mengambil sebuah daging beef dan menaruhnya di bawah. Sang kucing pun memakan daging itu. Dalam beberapa menit kemudian, daging itu sudah habis. Ia tersenyum puas. Lalu, ia mengambil acak satu puding dan menaruhnya lagi ke bawah. Sang kucing itu kembali memakannya. Dalam beberapa detik kemudian, kucing itu tergeletak dan kemudian tidak bergerak lagi.

Beef ini tidak beracun, sementara puding itu beracun!”, seru Kibum sembari mulai mengambil satu potong daging itu. “Darimana kau tau, Kibum-ya?! Kau tidak nekat ‘kan?”, tanya Kyuhyun yang panik. Kibum tersenyum, “Aku sudah melakukan riset kepada kucing ini, jadi tenang saja.”

“Jinjja?!”, tanya Donghae seraya tersenyum dan akhirnya mengambil sepotong daging itu. Begitu pula dengan Siwon dan Kyuhyun. “Setidaknya, kita bisa makan.”, ucap Siwon seraya tersenyum.

Saat mereka sudah memakan semua daging itu, ketiga lelaki itu masuk dan tersenyum puas. “Kurasa sudah saatnya kalian mengetahui semuanya.”, kata seorang sembari tersenyum.

Mereka duduk di salah satu ruangan yang penuh dengan patung-patung unik. “Kenalkan, kami adalah mantan ksatria negeri Super Junior.”, ucap seorang bernama Jungsoo. “Ksatria? Dan negeri Super Junior? Hmmpphh.” Kyuhyun menahan tawanya yang ingin meledak keluar. Youngwoon menggertakan giginya sembari menatap Kyuhyun tajam. “Kau sangat kurang ajar! Pasti kau adalah reinkarnasi Cho Sihyun!”

“Setau kami, kami tak pernah mendengar negeri Super Junior. Dimana itu?”, tanya Kibum, mengoreksi Kyuhyun. Jongwoon tersenyum, “Mungkin ini memang terdengar konyol, tapi sebelum semua orang membuat negaranya masing-masing, nama dunia yang kalian sebut ‘bumi’ ini adalah Negeri Super Junior. Dan, tentu saja di setiap wilayah, akan ada ksatria yang menjaga perdamaian negeri ini.”

“Kami bertiga adalah ksatria ke-99 yang bertugas menjaga wilayah ini.”, lanjut Jungsoo, orang yang paling tampak menyenangkan. “Lalu—apa hubungannya ini semua dengan kita?”, tanya Siwon, dibalas anggukan ketiga lainnya. Youngwoon yang dari tadi terdiam seketika berbicara, “Walaupun sekarang dunia ini terdiri dari beratus-ratus negeri dan terdapat tentara di setiap negerinya, para ksatria tetap harus menjalankan tugasnya. Karena tanpa kami, mungkin negeri Korea Selatan sudah hancur oleh orang yang tidak baik.”

Jongwoon memandang kami berempat, “Kami…merasa kami sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas ini. Jadi, kami—memutuskan untuk menurunkan tugas kami kepada kalian.”

“Mworago?! Tapi—kenapa harus kami? Kami bukan siapa-siapa.”

Donghae berbicara, dan yang lain hanya bisa kembali mengangguk setuju. “Kalian adalah reinkarnasi dari 4 ksatria terhebat sepanjang masa.”, ucap Youngwoon langsung pada tujuan. “Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum.”

“Ne?” Kibum benar-benar masih bingung dengan ini semua.

“Lee Donghae adalah reinkarnasi dari Lee Kyuhae. King of the crusher. Sementara Choi Siwon adalah reinkarnasi Choi Kiwon. King of the control. Cho Kyuhyun adalah reinkarnasi dari Cho Sihyun. King of the Brain. Dan, Kim Kibum adalah reinkarnasi Kim Dongbum. King of the Plans.” Jongwoon menjelaskan, membuat mereka semakin bingung.

Suasana seketika hening. Hanya suara desir angin yang terdengar. Mereka semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ada rasa kepercayaan terhadap ke-3 orang misterius itu, namun akal budi dan logika mereka, jauh menyangkal. “Dalam waktu kurang dari 100 hari lagi, Yang Jahat akan segera datang. Kami tidak tau siapa Yang Jahat itu berbentuk atau mempunyai kekuatan seperti apa. Namun, itu tertulis jelas dalam ramalan leluhur kalian. 4 Ksatria Agung Super Junior.”

Perkataan Jungsoo tak membuat mereka lebih baik.

“Lebih baik kalian beristirahat dulu hari ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sebelah sana. Kami pamit dulu. Semuanya akan dilanjutkan besok pada jam sarapan. Lee Donghae dan Choi Siwon, luka kalian juga akan disembuhkan besok.” Youngwoon berbicara, kemudian mereka ber-3 meninggalkan ruangan. Donghae, diikuti yang lainnya melangkah ke dalam ruangan.

Disana sudah terdapat 4 tempat tidur yang sangat empuk dan besar. Kamar mereka juga sangat besar, cukup besar untuk bermain futsal di dalamnya. Donghae langsung berbaring di salah satu tempat tidur itu. “Akhirnya, aku bertemu kasur lagi!”, sahut Donghae senang.

Yang lain pun turut berbaring di kasur masing-masing. “Apakah ini mimpi?” Kyuhyun bertanya, sembari mencubit pipinya sendiri. “Kalau benar, ini mimpi yang paling buruk.” Siwon mengomentari pelan. Kibum memejamkan mata. “Apakah ini benar? Maksudku—secara logika ini sama sekali tak mungkin. Negeri Super Junior? 4 Ksatria Agung? Yang Jahat? What the hell are they?!”

Ucapan Kibum membuat mereka semua terdiam.

“Mungkin sekarang kita bisa beristirahat. Tapi besok? Siapa yang tau akan ada sesuatu yang terjadi.”, kata Donghae pelan. “Donghae benar. Kalau mereka bertiga memberi kita semua ujian-ujian yang sangat berat seperti itu, apakah berarti langkah yang harus kita tempuh akan sangat sulit?” Siwon berucap sembari mulai memejamkan mata.

Kyuhyun menjambak rambutnya, “Argghhh!!! Aku… hanya ingin menjadi pelajar biasa! Mestinya minggu depan aku akan mengikuti olimpiade sains di Paris. Tapi, kenapa ini semua terjadi?!”

Donghae mengangguk. “Aku… masih harus mencari pekerjaan. Kalau tidak, bagaimana caranya bagiku untuk membiayai uang kuliah?! Dan, bagaimana nasib dongsaengku jika aku tidak ada?! Sedang memikirkan hal itu, mengapa 3 orang aneh itu datang dan malah meminta kita menyelamatkan dunia?!”

“Padahal aku… akan mengikuti audisi di sebuah entertainment nanti. Kau juga kan, Siwonnie?” Kibum bertanya, dibalas anggukan Siwon. “Lebih baik sekarang kita tidur dulu. Minimal dari penyekapan ini, kita ber-4 menjadi akrab? Iya kan?”

Mereka bertiga mengangguk mendengar perkataan dewasa Kyuhyun. Tak lama, semua pun sudah tertidur.

 

+++

 

“Sepertinya mereka berempat sudah tertidur.”

Jongwoon berucap. Matanya menatap monitor yang sudah menangkap gambar mereka ber-4 yang sedang tertidur. “Aku memang sudah melihat jelas potensi mereka, tapi… aku masih tak yakin. Apakah mereka benar-benar bisa menjalani tugas ini? Mereka masih terlalu muda.” Kangin berkata pelan.

“Youngwoon tak sepenuhnya salah.”, kata Jongwoon sembari menghirup kopinya. “Aku… juga berpikir begitu. Tapi, kita tidak bisa menentang kata leluhur. Lagipula, mereka juga akan terbiasa sendiri nantinya.” Jungsoo berbicara, mencoba bijaksana. “Mereka… benar-benar akan melewatkan masa depan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, mulai besok.”

Jongwoon menatap langit-langit. “Bahkan, dari dulu kita menjaga negeri ini, tidak pernah ada kekuatan sebesar ‘Yang Jahat’ itu. Ini benar-benar dahsyat! Ini… seperti kejadian 6 abad yang lalu. Akan terjadi pertempuran hebat. Dan aku tidak yakin tidak akan ada nyawa yang hilang.”

“Semoga mereka bisa berhasil. Karena tanpa mereka ber-4, dunia ini akan hancur.” Jungsoo memainkan tangannya. “Berarti, seluruh dunia… akan menjadi tanggung jawab mereka ber-4?”

“I think yes.”

 

*To Be Continue~

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Three)" (8)

  1. Huaaa makin seru
    kayakny yg paling polos, si hae disini kekke
    lanjutkan chris..
    Asap ya 😀

  2. annyeoong…reader bru…ceritanya keren,euy!penasaran nii..lanjut.lanjut.hhe.

  3. LoveOnSh said:

    huwa,, lanjut. ya onn, pnasaran, hehe

  4. Lanjuttannya blm ada ea? Dtunggu thor, penasaran. (sok knal), ^pLak^ dtampar author..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: