Full of inspiration and story

Archive for February, 2011

Fanfiction : ~Three Sided Love~ (Chapter One)

[Chapter One – The Beginning]

Burung-burung berkicauan merdu di langit biru. Panas matahari menyinari bumi dengan terik. Menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan tengah hari. Angin berhembus pelan, senada dengan kicauan burung yang bergema ringan. Seorang gadis berdiri menatap langit. Rambutnya yang panjang, senantiasa dimainkan angin. Air matanya turun perlahan. Di balik raut wajahnya yang tenang, terdapat jutaan pikiran yang sedang berada dalam otaknya.

Gadis itu bangkit perlahan dan merentangkan tangannya keatas. Merasakan angin sedang merasuki seluruh permukaan tubuhnya. Ia menutup mata, berharap setelah membukanya, ia akan menjadi seekor burung yang bisa terbang leluasa di angkasa.

“Kau murid kelas satu?”

Pertanyaan dari seseorang membuat gadis tersebut tersentak dan kembali duduk, tanpa melirik orang yang bertanya. Ia merasakan orang tersebut duduk di sampingnya, namun ia tetap tak meliriknya. Bukan karena tidak mau, tetapi akan sangat memalukan baginya jika menunjukkan mata bengkak dan bekas air mata yang terlukis jelas di wajahnya.

“Kau belum menjawabku.” Orang itu berkata, dengan halus namun tegas. Ia mengangkat wajah gadis yang daritadi terus menunduk itu. “Kau menangis?”, tanyanya lagi, dengan nada sedikit kaget. Gadis itu masih diam. Orang tersebut mengerucutkan mulutnya, “Aku bukan penyiar radio.”

Ucapannya membuat gadis tersebut menatapnya dan mengkerutkan kening. “Maksudmu?”

Orang tersebut tersenyum. “Dari tadi aku bertanya dan berkata sendiri. Seperti penyiar radio yang hanya berkomunikasi satu arah.” Gadis itu tertawa kecil mendengar perkataan orang di sebelahnya. “Nah, jika kau tersenyum seperti itu, kau akan jauh terlihat lebih cantik. Jadi, jangan menangis lagi ya.”

Gadis tersebut mengangguk, pipinya sedikit merona. Baru pertama kali ini ada yang menyebutnya cantik. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Orang itu bangun dan berlari kecil. “Tunggu! Namaku Kim Hyeobin!” Gadis itu berteriak. Orang tersebut berhenti sebentar, melambai, kemudian kembali berlari. Meninggalkan gadis yang sekarang tersenyum.

*^*

[Hanguk Art School]

Gadis bernama Kim Hyeobin tersebut memasuki kelas sekolah barunya. Sudah cukup banyak orang-orang yang datang. Dan setengah dari mereka saling mengrobol dan menyapa. Ia memutuskan untuk duduk di tempat paling pojok, tempat yang paling dekat dengan jendela.

“Ya! Kau bersekolah disini? Appa-mu baru membobol bank?” Suara yang diiringi dengan tawa yang tidak asing, membuat gadis itu memutarkan lehernya. Seketika tubuhnya merasakan perasaan yang tidak enak. Tiga orang pria sudah berada di hadapannya. Tiga orang—yang sangat dikenalnya. Tampan dan kaya, namun hatinya? Nol besar! Mereka adalah teman sekelas gadis tersebut saat berada di SMP dahulu. Dan bisa dibilang—mereka adalah musuh terbesar gadis ini.

“Jangan begitu, Kangin-ya! Kita harus menyambut kedatangan penghibur kita. Jika ia tidak ada di SMP dulu, pasti kita tidak akan merasa terhibur. Ia adalah korban terempuk kita.” Kim Yesung berbicara lagi, menimbulkan tawa besar yang membuat gadis itu merasa risih. Beberapa orang-orang yang lain menatap gadis itu heran.

“Setidaknya Hyeobin-ssi lebih baik dari kalian. Ia berhasil meraih beasiswa untuk sekolah disini. Sedangkan kalian? Mungkin jika tidak ada bantuan dari orang tua kalian, kalian sudah lama menjadi gelandangan.” Ucapan seseorang membuat tiga trio sombong itu terdiam seribu bahasa. Mereka memutuskan untuk pergi, walaupun terdapat raut kemarahan yang terlihat jelas di wajah mereka.

Gadis tersebut menatap ‘sang penolong’ nya dengan sedikit kaget. “Ahh, Hyeobin-ah. Kita satu sekolah lagi? Baguslah kalau begitu.”, kata orang itu sembari berlalu, kembali ke rombongan teman-temannya. Orang itu tak sadar, bahwa gadis yang baru saja bicara dengannya sudah sangat merona.

“Terima kasih.”, bisiknya, sedikit telat. Orang itu—tepatnya pria itu—adalah orang yang selalu menolongnya semasa SMP. Pria tersebut tergolong pria yang diam, namun bakat seninya selalu dapat membuat seluruh gadis terpesona. Tak terkecuali dirinya.

*^*

Di ruang besar yang penuh dengan kaca di setiap sisi-sisinya, murid kelas satu memulai pelajaran pertamanya. Beberapa senior juga ada untuk membantu para guru. “Sebelum kita memulai pelajaran, sebaiknya kalian masing-masing menunjukkan kemampuan kalian terlebih dahulu. Kalian boleh sendiri atau berdua.”

Sang guru berbicara, membuat para murid sontak berhamburan memikirkan apa yang mau mereka tampilkan. Namun gadis itu hanya terdiam. Tidak seperti murid lain yang mengajak temannya untuk berdua. Karena, jujur, gadis itu belum punya seorang teman pun. “Mau bersama? Kita bisa menarikan dance yang dulu kita tampilkan saat perpisahan.”

Suara itu. Suara itu lagi-lagi membuat detak jantung gadis tersebut berdenyut keras. Bahkan sebelum ia melihat si pemilik suara. “Apakah kau tidak mau berpasangan dengan murid yang lebih hebat dariku?” Gadis itu bertanya, pertanyaan yang sangat disesalkannya. Pria dihadapannya mengerutkan kening. “Kau tidak mau berpasangan denganku?”

Seketika gadis itu mengangguk secepatnya. “Tentu saja aku mau, tapi—”

“Kalau begitu, aku akan memberi tau Park Saenim.”, katanya cepat. Tak sadar, gadis itu kembali tersenyum. Sentuhan tepat di bahu sebelah kanan, membuat ia sedikit terkejut. “Kau—gadis yang ada di balkon kan? Emm… Kim Hyeobin?”

Gadis tersebut menganggukan kepalanya seraya tersenyum. “Kau—orang yang menghiburku waktu itu.”

“Kalau begitu kenalkan. Kim Kibum imnida. Kelas tiga.”, ucapnya sembari tersenyum, menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis. “Kim Hyeobin imnida. Kelas satu. Annyeong hasimnika, sunbaenim.” Gadis itu menunduk pelan.

“Jangan terlalu formal begitu. Aku bukan lelaki lanjut usia.” Kibum tersenyum. Gadis tersebut tersenyum malu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong, Hyeobin-ssi.”, ia berkata lagi, sembari kembali membantu para guru. “Dia siapa?”

Hyeobin menoleh, bisa melihat pujaannya sedang berdiri dengan sebuah kertas di tangan kanannya. “Ohh, dia sunbae kita. Kebetulan, secara tidak sengaja, aku bertemu dengannya kemarin di balkon.” Gadis itu menjelaskan hati-hati. Menyebabkan pria tersebut mengangguk-angguk.

Bel panjang menyebabkan para murid terkejut. Park Saenim menyuruh semua murid untuk bersiap. Mereka mulai diuji satu-satu.

“Urutan 3! Kim Hyeobin dan Lee Seungri!”

Kim Hyeobin dan pria tersebut melangkah maju. Tiga trio sombong yang juga berada disitu, sedikit bersiul meledek. Sedangkan para perempuan, berdecak iri kepada gadis yang berhasil duet dengan pria idaman mereka itu. Hyeobin sedikit takut, namun pria tersebut membisikan sesuatu padanya. Bisikan yang sama pada waktu SMP dulu. “Jangan gugup. Bayangkan hanya ada kita berdua disini.”

Hyeobin mengangguk, kemudian tarian mereka pun dimulai. Mereka menari dengan elok dan senada dengan lagu yang dilantunkan. Membuat para murid, guru, serta senior-senior yang melihat mereka, terpana.

Great! So great!

Kim Saenim meneriakan pujiannya kepada mereka, diikuti tepuk tangan seluruh murid yang lain. “Sekarang kalian bisa melanjutkan ke ruang vocal.” Park Saenim menambahkan, membuat mereka langsung keluar dari ruangan.

Thanks.” Hyeobin memulai. Membuat pria itu—Seungri—mengkerutkan keningnya. “For what?”, tanyanya, tak mengerti. “For everthing. Tanpamu, pasti tarianku tidak akan sebagus ini.” Seungri tertawa kecil. “It’s okay. Itu gunanya teman, kan?” Dia mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya, dan langsung bergegas ke ruang vocal.

Hyeobin terpaku di tempat. “Teman? Hanya—teman?”, bisiknya seraya tersenyum pahit.

*^*

Angin berhembus lebih besar hari ini. Langit juga sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Burung-burung tampak berterbangan tak karuan. Gadis berusia enam belas tahun itu terdiam, menatap langit. Mungkin inilah hobby terbesarnya saat sedang galau. Ia masih mau berlama-lama di balkon sekolah barunya, namun dering ponsel membuatnya mengurungkan niat.

“Yoboseyo… Jinjja? Ne, arasso.”

Gadis tersebut menggembungkan pipinya, sembari melangkah turun perlahan. Tetes-tetes air hujan jatuh setitik demi setitik, menimpa permukaan kulitnya. Tiba-tiba, titik-titik air itu seakan menghilang. Gadis itu terbingung, lalu membalikan badannya ke belakang. Seseorang sudah menggenggam payung yang sekarang melindungi mereka berdua dari serangan pasukan hujan.

“Pulang ke rumah?”, tanya orang tersebut. Kim Hyeobin mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan mengantarmu.” Orang itu langsung menarik tubuh mungil gadis tersebut ke mobilnya. “Sunbaenim, mian merepotkan.” Kim Hyeobin menunduk pelan. “Panggil saja Kibum-ssi atau Kibum-oppa. Bukankah sudah kubilang agar tidak usah terlalu formal?”

Gadis tersebut mengangguk pelan. “Penampilanmu dance-mu tadi sangat hebat. Gerakan dirimu dan partner-mu sangat senada. Semuanya daebak!” Kim Kibum berbicara lagi, kali ini memuji gadis itu. Membuatnya tersipu. Wajah pria itu tiba-tiba berubah serius, “Boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit menyangkut masalah pribadimu.”

Ia menatap pria di sebelahnya, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kemarin… kenapa kau menangis?”

Hyeobin terdiam. Matanya kembali menatap pria tersebut, seakan mengukur-ukur apakah ia akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sedangkan pria itu masih menyetir sembari melayangkan pandangan tanya. Keheningan saat itu juga terjadi.

“Kalau kau tidak mau memberitahukan masalahmu, aku tidak akan memaksa.” Pria itu berkata lagi. Hyeobin  menghela nafas dalam-dalam. “Aku… menyukai seseorang. Ia… adalah bekas teman sekolahku di SMP. Menurutku, ia sangat perfect, dan itu malah membuat rasa percaya diriku ciut di depannya. Aku… tidak tau mau bagaimana. Aku takut suatu saat nanti, ia akan mempunyai orang yang ia cintai. Dan, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Kibum tersenyum kecil, “Apakah orang yang kau maksud adalah partner dance-mu tadi?”

Gadis itu membulatkan matanya. “Eh?! Bagaimana oppa tau?” Ia bertanya dengan polos. Sontak membuat pria di hadapannya tertawa. “Terlihat dari matamu saat memandangnya. Pandanganmu—tampak berbeda. Lebih dalam.”, ucap pria tersebut lembut. “Apakah sebegitu terlihatnya?” Sangrin bertanya, kelihatan panik.

Pria tersebut mengangguk. “Bahkan tertulis di keningmu.”, ucapnya bercanda. Namun, gadis di sebelahnya langsung terkejut dan mengusap-usap keningnya. “Benarkah?!”, tanyanya, masih panik. Membuat Kibum kembali tertawa. Suasana kembali tenang setelah itu.

“Yakinlah pada dirimu, Hyeobin-ah. Aku yakin… sikapmu, fisikmu, ketulusanmu, kepolosanmu, dan semua dari dirimu, akan selalu membuat orang lain mencintaimu.” Kibum tersenyum penuh arti, meninggalkan tanda tanya yang mendalam di hati Hyeobin. “Maksud oppa?”, tanyanya tak mengerti.

Kibum menunjuk sebuah rumah, menghiraukan pertanyaan gadis di sebelahnya. “Apakah ini rumahmu? Berarti kita sudah tiba. Sampai jumpa di sekolah besok, Hyeobin-ah.”

Hyeobin pun mengangguk dan melambai sebelum akhirnya masuk ke kamar. Dalam hati, ada sedikit tanda tanya yang mengerubungi. Kenapa ia merasa nyaman jika berada dekat dengan senior itu? Dan kadang-kadang malah melebihi rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama pujaan hatinya. Namun, ia langsung menepis pikirannya jauh-jauh. Itu adalah pemikiran yang bodoh, fikirnya seraya mencoba memejamkan mata.

*^*

Kim Hyeobin mengempaskan tubuh mungilnya ke kursi. Head-set masih terpasang di kedua telinganya. Lagu berjudul ‘My All Is In You’ itu memasuki lubang telinganya dan meresap hingga ke otak. Membuatnya merasa damai dan tenang. Ia baru saja ingin menutup mata akibat kantuk yang masih menyerang, sebelum seseorang menganggunya. Seseorang—yang special.

“Boleh bicara sebentar?”

Pria itu bertanya. Pandangan matanya sama sekali tak bisa ditolak oleh sang gadis. Pandangan yang entah mengapa selalu berhasil membuat  gadis di hadapannya terpaku. Mereka berhenti di sebuah kelas kosong yang sudah tidak dipakai. Pria itu menatap sang gadis dengan dalam. Bahkan, tak sedetik pun terlepas.

Angin-angin yang berhembus menjadi music pengiring mereka berdua. Keheningan berhasil menjadi kacau, saat pria tersebut menghela nafas dalam. “Aku. . . ”

Ia terlihat cukup gugup. Bisa terlihat dari tangannya yang tak berhenti bergerak dan sorot matanya yang berkeliaran ke berbagai arah. Gadis itu masih menunggu perkataan yang ingin dilontarkan sang pria.

“Saranghaeyo.”

Satu kata itu akhirnya berhasil dikeluarkan oleh sang pria. Membuat gadis di hadapannya terkejut sempurna. Rangkaian nadi gadis tersebut seakan terbelit rumit. Ia masih terdiam. Sungguh tak percaya dengan apa yang ia lalui saat ini. Apakah ini hanya candaan?, pikir gadis itu.

“Seungri-ssi… Jebal, jangan bercanda lagi.”, ucap gadis tersebut, dengan sedikit serak. Tatapan sang pria kembali tertuju kepadanya. “Apakah wajahku… kelihatan sedang bercanda?” Pria tersebut menatap gadis di hadapannya dengan dalam, serius, dan penuh kefokusan. Gadis itu sontak menggeleng. Tapi, ia masih tak percaya. Pujaannya—orang yang selalu ia impikan—sekarang sedang menyatakan perasaannya? Kepada dirinya?

“Seungr—”

Pria itu memotong ucapan gadis tersebut dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang gadis. Membuatnya lebih terkejut. “Please, just say yes or no.”, ucap pria tersebut. Reflek, gadis itu mengangguk cepat. Dan sang pria pun mendekap gadis itu dalam dekapannya. Mereka berdua berpelukan—dengan hangat dan penuh cinta.

Ohh… Great~

Seorang lelaki berdiri di pojok ruang kelas tersebut. Pandangannya menatap dua juniornya yang sedang saling berpelukan. Dan entah mengapa, membuat hatinya sedikit panas.

*^*

Berpuluh-puluh hari telah berlalu sejak hari itu. Sekarang, mereka sudah melewati akhir tahun pelajaran mereka. Malam ini, adalah malam yang special, terutama untuk murid kelas tiga yang akan meninggalkan sekolah untuk menuju jenjang yang lebih tinggi, university.

Lagu berdendang riang memenuhi ruangan besar yang sudah disulap menjadi arena pesta. Semua murid kelas akhir tertawa bersama, menangis bersama, saling berpelukan, dan bercanda ria. Gadis itu terdiam. Menonton aktivitas menarik para seniornya. Tangannya digenggam erat oleh seorang pria. Pria yang sudah delapan bulan ini menjadi kekasih dan pendampingnya.

Dalam hati gadis itu ada rasa gusar yang bahkan tidak ia ketahui penyebabnya. “Aku akan ke… toilet dulu.” Gadis itu pamit kepada sang pria. Dibalas dengan anggukan kecil dari pria tersebut. Kim Hyeobin berjalan perlahan menuju toilet. Ia membasuh wajahnya disana. Setelah merasa lebih lega, ia keluar dari toilet dan langsung kembali melangkah menuju ‘pendamping’ nya.

“Gadis balkon!”

Suara seorang lelaki membuat gadis itu terkejut dan memberhentikan langkahnya. Di hadapannya sekarang sudah berdiri seorang lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. “Kibum-oppa.”, panggilnya pelan. Membuat lelaki yang dipanggil tersenyum lebar. “Mianhae.”

Gadis tersebut menatap sang lelaki bingung. “Kenapa meminta maaf?”

“Setelah aku pergi, tak ada orang yang akan menemanimu lagi di balkon itu. Dan tak ada lagi orang yang akan menghapus air matamu.” Dia berucap sembari tersenyum, menatap gadis itu dengan pandangan dalam. Gadis tersebut balas tersenyum, entah mengapa membuat tulang rusuk lelaki itu ngilu sesaat. “Mungkin ini terdengar lucu, tapi kau adalah gadis pertama yang sedekat ini denganku.”

“Jinjja?” Gadis itu bertanya dengan pandangan tak percaya, membuat lelaki itu kembali merasa ngilu. “Kapan kita bisa bertemu lagi?”, lanjut gadis itu pelan. Lelaki itu terdiam. Bukan karena tidak mau menjawab, namun ia sendiri belum tau tepatnya kapan mereka akan kembali bertemu. “Aku… juga tidak tau. Aku akan melanjutkan kuliahku di New Jersey. Kebetulan… appa-ku kerja disitu.”

Entah mengapa, perkataan lelaki tersebut membuat sang gadis merasa perih. “Jadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?” Hyeobin bertanya langsung to the point. “Kalau begitu, sampai jumpa, sunbae. Semoga kau berhasil.”

Kim Hyeobin melangkah meninggalkan Kim Kibum yang masih membeku. “Dan… semoga kita bisa bertemu lagi.”, bisik gadis itu lirih.

“Kenapa lama sekali?” Lee Seungri—pria yang daritadi menunggu—tersenyum. Hyeobin hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman manis.

*^*^*^*^*^*^*^*

TO BE CONTINUE

Annyeong, semua~~~ Comment seperti biasa ya…

@Hyeobin-onn : Tadinya itu ff antara aku, Siwonnie, dan Woo… Tapi akhirnya kuputuskan untuk kasih ke onn~ Hehehehe~~~ Semoga suka… ^^

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Three)

“Gwenchana, Kibum-ya?”

Kibum mengangguk dan bergegas berdiri tegak. “Hampir saja…”, gumamnya mencoba santai. “Kajja!”, seru Donghae dan mereka melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini semua berjalan lancar. Tak ada sesuatu yang menghalangi mereka, namun yang mereka temui sepanjang jalan hanya lorong yang bahkan tak terlihat ujungnya.

“Bisa berhenti dulu? Aku sangat lelah~”, kata Kyuhyun dengan nafas memburu. Yang lain—yang juga kelelahan mengangguk dan mulai duduk. Menstabilkan nafas mereka yang sudah seperti baru melakukan pertandingan tinju. “Ottokhae? Sejauh kita berjalan, hanya lorong yang kelihatan…”, ucap Siwon yang sudah sangat lelah dengan keadaan kakinya yang mengerikan.

“Ne. Padahal bangunan ini setauku tidak sepanjang ini.”, sahut Donghae yang juga sudah sangat lelah dan lemah akibat racun yang tertanam di lehernya.

Kibum tiba-tiba berdiri, “Apakah mungkin kita terkena ilusi?”

“Kau pikir kita berada di dunia kartun?”, tanya Kyuhyun sarkastik. “Tapi mungkin saja… Kalau tidak, bagaimana cara menjelaskannya? Kita sudah berjalan sejauh mungkin, tapi bahkan hingga sekarang kita belum melihat jalan keluarnya.”

Donghae dan Siwon mengangguk, “Masuk akal juga…”

“Lalu, bagaimana cara menghilangnya kalau memang ada?”, tanya Kyuhyun dengan memberi penekanan pada ‘kalau memang ada’. Kibum menggelengkan kepalanya. “Kita bukan ninja yang bisa menghilangkan pengaruh ilusi…”, lanjut Kyuhyun. “Molla~”, jawab Kibum dengan lunglai.

“Apa sih sebenarnya tujuan mereka menahan kita?”

Semuanya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Siwon yang ada benarnya juga. Mereka berempat hanya empat remaja yang sama sekali tidak tau apa-apa. Lalu, kenapa tiba-tiba mereka ditangkap tanpa sebab yang jelas? Kini pikiran mereka tertutup jutaan misteri yang menghubungkan kepala mereka dengan tidak karuan.

“Sudahlah, itu dipikirkan lain kali saja. Yang penting sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita keluar dari sini.”, ucap Donghae tegas. Yang lain mengangguk menyetujui perkataan Donghae. “Kalau benar ini ilusi, bagaimana caranya untuk menghilangkan ilusi ini?”, tanya Kibum, memulai berpikir dengan keras.

“Ilusi itu ada karena pikiran kita sendiri. Jika kita menghilangkan semua pikiran negative yang ada dalam pikiran kita, kurasa kita akan menghilangkan ilusi tersebut.”, jawab Kyuhyun dengan pandangan menerawang. “Kau benar, Kyu!”, teriak Donghae, Siwon, dan Kibum bersamaan.

“Kalau begitu lebih baik kita memejamkan mata kita dan menarik nafas dalam-dalam. Kupikir cara ini akan berhasil.”, lanjut Siwon dibalas persetujuan yang lain. Setelah beberapa menit, mereka kembali membuka mata. “Ahh~lebih baik.”, kata Donghae ceria. “Kalau begitu, kajja kita lanjutkan lagi.”

Mereka berempat kembali meneruskan perjalanan dengan cepat. Setelah cukup lama, pintu keluar tampak terlihat. Memberikan cahaya dan sinar yang membuat mereka—entah kenapa sangat bahagia.

Donghae berlari menuju pintu keluar itu, dilanjutkan dengan Siwon, Kyuhyun, dan Kibum. Hingga akhirnya Donghae yang pertama tiba, menyiapkan satu langkahnya lagi untuk menginjak pintu keluar, pintu itu tertutup rapat secara tiba-tiba. Membuat mereka berempat jatuh terjerembap.

“Apa lagi ini?!” Kibum berteriak dengan kesal, sementara Siwon menjambak-jambak rambutnya. Kyuhyun memijit-mijit keningnya, sedangkan Donghae melangkah bolak-balik.

Langkah berat membuat mereka berempat menoleh. Mereka bisa melihat dengan jelas 3 orang lelaki sedang melangkah penuh wibawa. “Si—siapa kau?”

Seorang lelaki diantara mereka tersenyum ramah, “Tenang. Kami tidak mau melakukan yang macam-macam kepada kalian.”

“Lalu, apa mau kalian?! Dan siapa kalian?!”, tanya Siwon sembari menunjuk 3 orang itu. “Aku Jungsoo. Park Jungsoo. Ini kedua rekanku, Kim Jongwoon dan Kim Youngwoon. Untuk lebih jelasnya, akan kami jelaskan nanti. Sebaiknya, kalian ikut kami ke ruang makan. Kalian pasti lapar, bukan?”

Mereka berempat mengangguk kecil, dan memutuskan mengikuti mereka dari belakang. “Apakah kalian yakin—mereka bukan orang jahat?”, tanya Donghae, ragu-ragu. Kyuhyun menatap Donghae, “Aku juga tidak tau. Tapi, hanya mereka harapan kita.”

Donghae mengangguk, begitu pula dengan Siwon dan Kibum. Tak sadar, mereka telah melangkah hingga ke sebuah ruang. Di dalam ruang itu, terdapat meja yang sangat panjang. Di atas meja itu, sudah tersedia berpuluh-puluh makanan yang sangat menggiurkan. “Silahkan makan. Kalian boleh mengambil sebanyak mungkin yang kalian mau. Kami akan menunggu kalian di ruang sebelah.”

Orang yang bernama Youngwoon berhenti sebelum memasuki ruang satunya, “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10.”, dan kemudian melangkah dan menutup pintunya. Donghae langsung bersiap menyantap semuanya, namun Kibum melarangnya.

“Apakah kau tidak curiga? Maksudku—apa maksud orang tadi?”

Perkataan Kibum membuat yang lain akhirnya mengangguk. “Berhati-hatilah. Diantara 50 ada yang hitam 10. Demi Tuhan, apa maksud orang itu?!” Kyuhyun kembali memijit-mijit keningnya. “Berapa jumlah semua hidangan ini?”, tanya Siwon tiba-tiba, membuat yang lain langsung memandangnya tak percaya.

“Ya Tuhan, Choi Siwon! Ini bukan waktunya untuk memikirkan hidangan itu!”

Namun tampaknya Siwon tak memperdulikan sentakan Donghae. Ia menghitung semuanya, kemudian senyum terukir di bibirnya. “Jumlah hidangan ini ada 50!”

Kibum mengkerutkan keningnya, “Lalu?!”

Siwon menghembuskan nafas panjang dan menatap ketiga temannya tak percaya.

“Apakah kalian masih tak sadar? Jumlah hidangan ini ada 50. Dan orang itu mengatakan tadi bahwa ‘Diantara 50 ada yang hitam 10’!”

Mata Kyuhyun terbelalak seketika, “Maksudnya, diantara 50 hidangan itu…”

“…ada yang teracun 10?!” Kibum menambahkan.

Donghae mengangguk mengerti. “Lalu, mana yang beracun dan mana yang tidak?” Mereka bertiga menggeleng pelan. “Aigoo! Apakah bahkan mereka tak memberi kita kebebasan dan ketenangan untuk sekedar makan?!”

“Apa maksudnya 10 makanan yang beracun itu, makanan yang bewarna hitam?”, tanya Donghae, dan langsung dibalas jitakan ketiga temannya. “Apakah ada benda yang bisa mendeteksi racun?”, tanya Kyuhyun. Lagi-lagi, mereka bertiga kembali menggeleng. Keheningan melanda mereka. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri.

Kibum memandang sepatunya seraya berpikir, lalu tiba-tiba ia bisa melihat seekor kucing sedang menjilat sepatunya. Sebuah ide langsung terlintas. Dengan cepat, ia mengambil sebuah daging beef dan menaruhnya di bawah. Sang kucing pun memakan daging itu. Dalam beberapa menit kemudian, daging itu sudah habis. Ia tersenyum puas. Lalu, ia mengambil acak satu puding dan menaruhnya lagi ke bawah. Sang kucing itu kembali memakannya. Dalam beberapa detik kemudian, kucing itu tergeletak dan kemudian tidak bergerak lagi.

Beef ini tidak beracun, sementara puding itu beracun!”, seru Kibum sembari mulai mengambil satu potong daging itu. “Darimana kau tau, Kibum-ya?! Kau tidak nekat ‘kan?”, tanya Kyuhyun yang panik. Kibum tersenyum, “Aku sudah melakukan riset kepada kucing ini, jadi tenang saja.”

“Jinjja?!”, tanya Donghae seraya tersenyum dan akhirnya mengambil sepotong daging itu. Begitu pula dengan Siwon dan Kyuhyun. “Setidaknya, kita bisa makan.”, ucap Siwon seraya tersenyum.

Saat mereka sudah memakan semua daging itu, ketiga lelaki itu masuk dan tersenyum puas. “Kurasa sudah saatnya kalian mengetahui semuanya.”, kata seorang sembari tersenyum.

Mereka duduk di salah satu ruangan yang penuh dengan patung-patung unik. “Kenalkan, kami adalah mantan ksatria negeri Super Junior.”, ucap seorang bernama Jungsoo. “Ksatria? Dan negeri Super Junior? Hmmpphh.” Kyuhyun menahan tawanya yang ingin meledak keluar. Youngwoon menggertakan giginya sembari menatap Kyuhyun tajam. “Kau sangat kurang ajar! Pasti kau adalah reinkarnasi Cho Sihyun!”

“Setau kami, kami tak pernah mendengar negeri Super Junior. Dimana itu?”, tanya Kibum, mengoreksi Kyuhyun. Jongwoon tersenyum, “Mungkin ini memang terdengar konyol, tapi sebelum semua orang membuat negaranya masing-masing, nama dunia yang kalian sebut ‘bumi’ ini adalah Negeri Super Junior. Dan, tentu saja di setiap wilayah, akan ada ksatria yang menjaga perdamaian negeri ini.”

“Kami bertiga adalah ksatria ke-99 yang bertugas menjaga wilayah ini.”, lanjut Jungsoo, orang yang paling tampak menyenangkan. “Lalu—apa hubungannya ini semua dengan kita?”, tanya Siwon, dibalas anggukan ketiga lainnya. Youngwoon yang dari tadi terdiam seketika berbicara, “Walaupun sekarang dunia ini terdiri dari beratus-ratus negeri dan terdapat tentara di setiap negerinya, para ksatria tetap harus menjalankan tugasnya. Karena tanpa kami, mungkin negeri Korea Selatan sudah hancur oleh orang yang tidak baik.”

Jongwoon memandang kami berempat, “Kami…merasa kami sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas ini. Jadi, kami—memutuskan untuk menurunkan tugas kami kepada kalian.”

“Mworago?! Tapi—kenapa harus kami? Kami bukan siapa-siapa.”

Donghae berbicara, dan yang lain hanya bisa kembali mengangguk setuju. “Kalian adalah reinkarnasi dari 4 ksatria terhebat sepanjang masa.”, ucap Youngwoon langsung pada tujuan. “Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum.”

“Ne?” Kibum benar-benar masih bingung dengan ini semua.

“Lee Donghae adalah reinkarnasi dari Lee Kyuhae. King of the crusher. Sementara Choi Siwon adalah reinkarnasi Choi Kiwon. King of the control. Cho Kyuhyun adalah reinkarnasi dari Cho Sihyun. King of the Brain. Dan, Kim Kibum adalah reinkarnasi Kim Dongbum. King of the Plans.” Jongwoon menjelaskan, membuat mereka semakin bingung.

Suasana seketika hening. Hanya suara desir angin yang terdengar. Mereka semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ada rasa kepercayaan terhadap ke-3 orang misterius itu, namun akal budi dan logika mereka, jauh menyangkal. “Dalam waktu kurang dari 100 hari lagi, Yang Jahat akan segera datang. Kami tidak tau siapa Yang Jahat itu berbentuk atau mempunyai kekuatan seperti apa. Namun, itu tertulis jelas dalam ramalan leluhur kalian. 4 Ksatria Agung Super Junior.”

Perkataan Jungsoo tak membuat mereka lebih baik.

“Lebih baik kalian beristirahat dulu hari ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sebelah sana. Kami pamit dulu. Semuanya akan dilanjutkan besok pada jam sarapan. Lee Donghae dan Choi Siwon, luka kalian juga akan disembuhkan besok.” Youngwoon berbicara, kemudian mereka ber-3 meninggalkan ruangan. Donghae, diikuti yang lainnya melangkah ke dalam ruangan.

Disana sudah terdapat 4 tempat tidur yang sangat empuk dan besar. Kamar mereka juga sangat besar, cukup besar untuk bermain futsal di dalamnya. Donghae langsung berbaring di salah satu tempat tidur itu. “Akhirnya, aku bertemu kasur lagi!”, sahut Donghae senang.

Yang lain pun turut berbaring di kasur masing-masing. “Apakah ini mimpi?” Kyuhyun bertanya, sembari mencubit pipinya sendiri. “Kalau benar, ini mimpi yang paling buruk.” Siwon mengomentari pelan. Kibum memejamkan mata. “Apakah ini benar? Maksudku—secara logika ini sama sekali tak mungkin. Negeri Super Junior? 4 Ksatria Agung? Yang Jahat? What the hell are they?!”

Ucapan Kibum membuat mereka semua terdiam.

“Mungkin sekarang kita bisa beristirahat. Tapi besok? Siapa yang tau akan ada sesuatu yang terjadi.”, kata Donghae pelan. “Donghae benar. Kalau mereka bertiga memberi kita semua ujian-ujian yang sangat berat seperti itu, apakah berarti langkah yang harus kita tempuh akan sangat sulit?” Siwon berucap sembari mulai memejamkan mata.

Kyuhyun menjambak rambutnya, “Argghhh!!! Aku… hanya ingin menjadi pelajar biasa! Mestinya minggu depan aku akan mengikuti olimpiade sains di Paris. Tapi, kenapa ini semua terjadi?!”

Donghae mengangguk. “Aku… masih harus mencari pekerjaan. Kalau tidak, bagaimana caranya bagiku untuk membiayai uang kuliah?! Dan, bagaimana nasib dongsaengku jika aku tidak ada?! Sedang memikirkan hal itu, mengapa 3 orang aneh itu datang dan malah meminta kita menyelamatkan dunia?!”

“Padahal aku… akan mengikuti audisi di sebuah entertainment nanti. Kau juga kan, Siwonnie?” Kibum bertanya, dibalas anggukan Siwon. “Lebih baik sekarang kita tidur dulu. Minimal dari penyekapan ini, kita ber-4 menjadi akrab? Iya kan?”

Mereka bertiga mengangguk mendengar perkataan dewasa Kyuhyun. Tak lama, semua pun sudah tertidur.

 

+++

 

“Sepertinya mereka berempat sudah tertidur.”

Jongwoon berucap. Matanya menatap monitor yang sudah menangkap gambar mereka ber-4 yang sedang tertidur. “Aku memang sudah melihat jelas potensi mereka, tapi… aku masih tak yakin. Apakah mereka benar-benar bisa menjalani tugas ini? Mereka masih terlalu muda.” Kangin berkata pelan.

“Youngwoon tak sepenuhnya salah.”, kata Jongwoon sembari menghirup kopinya. “Aku… juga berpikir begitu. Tapi, kita tidak bisa menentang kata leluhur. Lagipula, mereka juga akan terbiasa sendiri nantinya.” Jungsoo berbicara, mencoba bijaksana. “Mereka… benar-benar akan melewatkan masa depan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, mulai besok.”

Jongwoon menatap langit-langit. “Bahkan, dari dulu kita menjaga negeri ini, tidak pernah ada kekuatan sebesar ‘Yang Jahat’ itu. Ini benar-benar dahsyat! Ini… seperti kejadian 6 abad yang lalu. Akan terjadi pertempuran hebat. Dan aku tidak yakin tidak akan ada nyawa yang hilang.”

“Semoga mereka bisa berhasil. Karena tanpa mereka ber-4, dunia ini akan hancur.” Jungsoo memainkan tangannya. “Berarti, seluruh dunia… akan menjadi tanggung jawab mereka ber-4?”

“I think yes.”

 

*To Be Continue~

Fanfiction : ~My True Love~ (Chapter Three)

Sebuah undangan pernikahan sekarang berada di tangan jiyoon. Yang membuatnya kaget adl sebuah nama yang tertera dalam undangan itu “Yoon Shi Yoon & Shin Mi Young”

Dalam hatinya ia bertanya-tanya “apakah ini jawaban dari semua harapanku selama ini. Bertemu dengannya pada saat ia sudah memiliki orang lain di hatinya. Air mata jiyoon mulai mengalir. Hatinya terasa beku sekarang.

“Unnie.Waeyo?”, tanya sanghyun

“uhh? Gwaenchana”, jawab jiyoon sambil menghapus air matanya.

“jeongmal ?”

“ne~ darimana kau mendapatkan undangan ini ?”

“kemarin ada seorang wanita datang kesini.. Ia mencari unnie. Lalu tanpa sengaja ia bertanya kepadaku. Setelah itu ia memberikan undangan ini. Namanya….”

“junghwa ?”, tanya jiyoon

“ne~ Yoon Jung hwa..Haha. Waeyo unnie ?”

“ahh gwaenchana.. Ara.. Aku akan pergi ke kelas. Gumawo Lee sanghyun.. Annyeong”

Jiyoon meninggalkan kantin dan pergi ke kelas. Mukanya tampak pucat pada saat pelajaran berlangsung, dan ia melamun saat pelajaran. Jam pelajaran pun berlalu sekarang saatnya pulang. Ia pergi ke basement dan mengambil mobilnya. Ia bergegas pulang ke rumahnya. Tanpa sengaja di perjalanan ia teringat oleh lelaki yang ada di rumah sakit. Akhirnya ia pergi ke rumah sakit.

Tak sengaja, jiyoon melihat kakaknya sedang bersama seorang lelaki dengan kursi roda.Siyoon tampak sangan senang bersama lelaki itu. Entah siapa lelaki itu tapi siyoon tampak senang. Tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri siyoon dan laki-laki itu.

“unnie!”, panggil jiyoon

“H-han Jiyoon”, sahut siyoon dengan tebata-bata

“siapa laki-laki ini??”, tanya jiyoon seraya menunjuk lak-laki berkursi roda yang ada disampingnya itu.

“Park Jisung imnida”, sahut jisung cepat

“Park Jisung ??”, tanya jiyoon bingung.

“ne~ manaseobangap seumnida..”, ucap jisung seraya menundukkan kepalanya.

“ng? Ara.. Unnie bisa kita berbicara di caffé?”

“um?? arasso..”

Siyoon pergi mengantarkan jisung kembali ke kamarnya sedangkan jiyoon menunggu di dalam mobilnya. Tak lama siyoon menghampiri jiyoon.

“unnie.. Kau bawa mobil kan ?”, tanya jiyoon

“uhh ? Ne ~”, jawab siyoon

“yasudah naiklah mobilmu sendiri & ikuti aku dari belakang”

“uhh.. Ara~”

Siyoon keluar dari mobil jiyoon dan pergi ke tempat parkiran mobilnya. Lalu mereka pergi ke caffé & langsung masuk.

“mau pesan apa ?”, tanya seorang pelayan yang datang menghampiri siyoon dan jiyoon.

“kopi susu 2.. Arasso..~”, jawab jiyoon.

“ara~ gamsahamnida”, jawab pelayan itu.

Tak lama setelah itu seorang pelayan datang membawakan 2 cangkir kopi susu.

“silahkan menikmati.. “, ucap pelayan itu.

“gamsahamnida”, ucap siyoon.

“ok.. Sekarang aku mau bertanya siapa lelaki itu.. Namanya…. (?)”

“Park Jisung”

“ahh ye..~ sekarang ceritakan kepadaku”

“mungkin aku tak perlu menjelaskan kepada mu lagi jiyoon-ya..”

“maksudmu ?”

“dia namja-chinguku…”

“Bo !!! Namja chingu ???”

ne~ waeyo ?”

“kau gila unnie. Bagaimana dia bisa jadi namja chingumu. Kau kan baru kenal dengan dia. Dan saat kau mengenal dia, dia lagi koma kan ? Mengapa bisa begitu cepat dia menjadi namja chingumu. Lalu bagaimana dengan Lee donghae, bukankah dia menyukaimu ?”

“aiiiaa jiyoon-ya. Kau berbicara terlalu panjang. Aku tak bisa mencerna semua omonganmu. Dan untuk Lee Donghae, dia hanya menyukaiku bukan mencintaiku. Sedangkan Park Jisung mencintaiku. Arasso ??! Aku akan pergi duluan. Annyeong . Sampai bertemu di rumah nanti..”

“hey unnie.. !!!”

Siyoon meninggalkan jiyoon sendirian di caffé itu. Hari semakin larut. Jiyoon masih berada di caffé. Ia mengeluarkan sebuah undangan. Tepatnya undangan pernikahan yang diberikan oleh Lee sanghyun tadi siang. Ia menatapi undangan itu. Ia merindukan kenangannya dengan Yoon Shi Yoon. Begitu banyak kenangannya dengan Yoon Shi Yoon yang harus dilupakan.

“Annyeonghaseo.. Mianhamnida hari sudah larut. dan caffé ini juga harus tutup. Mianhamnida”, kata seorang pelayan. “ahh ne~ aku akan segera pergi”, ucap jiyoon seraya memulai langkahnya untuk keluar.

Ia mulai menyetir mobilnya. Beberapa orang berkali-kali menelepon ponselnya. Tapi jiyoon membiarkannya saja. Siyoon, Kyuhyun, & Donghae sangat khawatir dengan keadaan jiyoon.

Jiyoon menyetir dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba saja “BRRRAAAAKKK !!!!” jiyoon menabrak sebuah truk yang ada di depannya. Jiyoon sudah tak sadar. Kepalanya penuh dengan darah akibat benturan yang keras.

——-

Pada waktu yang bersamaan, foto jiyoon yang berada di ruang tamu rumahnya jatuh tanpa sebab. Lalu tak lama kemudian telepon rumahnya berdering, & Kyuhyun yang mengangkatnya.

“Yoboseo ?”, ucap kyuhyun

“apakah benar ini rumah Han jiyoon ?”, tanya seseorang yang menelpon

“Ne~ nugu-ya ?”

“saya mau mengabarkan bahwa sebuah kecelakaan baru saja dialami oleh Jiyoon-ssi. Sekarang dia sedang dirumah sakit.”

“mwo-rago ?! Ne~ aku akan segera kesana. Gamsahamnida~”

Telepon langsung dimatikan. Kyuhyun yang mendengar perkataan orang tadi masih dalam keadaan tak percaya.

“Hey, Kyuhyun-ssi.. Waeyo ? Siapa yang menelpon ? Apakah kau tau dimana jiyoon sekarang ?”, tanya siyoon khawatir

“….” kyuhyun tak menjawab

“Hey, Kyu-ya jangan membuat orang penasaran..”

“Ji-jiyoon di-di rumah sakit”, jawab kyuhyun dengan terbata-bata.

“Mwo-rago ?”, ucap siyoon kaget

Siyoon langsung mengambil kunci mobil dan langsung pergi. Begitupun dengan Donghae dan Kyuhyun. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit. Mereka mencari-cari kamar jiyoon. Setelah mencari cukup lama akhirnya mereka menemukan kamar dimana jiyoon dirawat. Saat mereka sampai seorang doktet keluar dari kamar jiyoon.

“Dok, bagaimana keadaan dongsaeng saya ? Apakah baik ?”, tanya siyoon khawatir.

“gwaenchana.. Luka yang dialaminya tidak begitu parah. Tapi sekarang dia masih belum sadar. Anda boleh melihatnya”, ungkap dokter itu.

Perasaan lega pun muncul ketika mengetahui jiyoon dalam keadaan baik.

Siyoon, donghae, dan Kyuhyun masuk ke ruang rawat. Disana terlihat seorang perempuan berbaring tak berdaya. Setetes air mata keluar. Siyoon tak sanggup melihat adiknya. Ia keluar dari kamar dan menangis di taman. Sedangkan Donghae dan kyuhyun menemani jiyoon di kamar.

***

2 hari berlalu..

Jiyoon terbangun dari pingsannya itu. Ia membelakkan matanya sedikit demi sedikit. Melihat seorang lelaki tidur terduduk di sebelahnya. Kepala masih agak pusing dan sakit. Lalu ia laki-laki itu terbangun.

“ah~ jiyoon-ya kau sudah bangun”

“permisi.. Saya mau mengatakan bahwa jiyoon-ssi sudah boleh pulang hari ini..”, ucap seorang suster yang tiba-tiba masuk ke kamar

“uhh. Ye~ gamsahamnida..”, ucap kyuhyun.

“Han Jiyoon.. Kau mau pulang hari ini juga ?”, tanya kyuhyun halus.

“ahh.. Ye.. Aku bosan jika berada disini terus..”, jawab jiyoon..

Pukul 12 siang mereka bergegas pulang.

Melihat kyuhyun yang selalu setia berada disampingnya jiyoon pun merasa kalau cinta sejatinya adalah Cho Kyuhyun bukan Yoon Shiyoon. Dan setiap ada kyuhyun disampingnya Jiyoon selalu merasa bahagia. Bahagia yang selalu ia tunggu. Mungkin jiyoon tidak mengetahui perasaan kyuhyun padanya. Dan jiyoon berharap kalau kyuhyun mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya saat ini.

Mereka pulang ke rumah.

“annyeong dongasaeng ku..”, sapa siyoon seraya memeluk jiyoon.

“annyeong unnie..”, sahut jiyoon

“aku senang bisa melihatmu kembali ke rumah ini Han Jiyoon..”

“haha~ aku juga..”

“namja-chingu ?”, tanya Jisung yang tiba-tiba muncul dari ruang tamu.

“uhh ?? Namja chingu ?? …”, “haha~ ne.. Lelaki ini namja-chingu ku”

Kyuhyun yang mendengar perkataan jiyoon kaget. Ia membelakkan matanya dan menatap jiyoon.

“haha~ arasso.. Aku akan ke kamar.. Annyeong~”, kata jiyoon seraya menuju ke dalam kamarnya.

“uhh jiyoon-ya.. Kau bisa kesini lagi nanti ?”, tanya siyoon

“Ara unnie~”

Jiyoon masuk ke dalam kamarnya, sedangkan kyuhyun menuju ke taman rumah jiyoon dengan perasaan tak percaya. Tiba-tiba ponsel kyuhyun berbunyi dan mengangkatnya.

“ahh ye.. Waeyo donghae??”, tanya kyuhyun yang mengetahui kalau yang menelpon adalah donghae.

“aku hanya mau bilang, kalau aku akan kembali ke amerika. Kemarin Kim Kibum menelponku untuk secepatnya kembali ke amerika. Karena kelas akan dimulai sekitar seminggu lagi”

“mwo-ya ?! Secepat itukah ??”

“ne~ dan jangan bilang siapa-siapa dulu sebelum aku pergi aku tak mau membuat mereka khawatir. Arasso !?”

“ne. Goodbye Lee donghae. Secepatnya kembali.. Ara ?”

“ne Evil ! Haha~”

Donghae menutup teleponnya begitupun dengan kyuhyun. Tiba-tiba jiyoon menghampiri kyuhyun.

“annyeong~”, sapa jiyoon

“uhh Han Jiyoon..”

“boleh aku duduk”

“ye.. silahkan duduk”

“siapa yang telepon??”

“Donghae”

“dia kenapa ?”

“ahh ani.. Dia tak apa-apa”

“yakin ?? ceritakan kepadaku kyu-ya”

“tapi kau jangan memberi tau siapa-siapa .. Ara ?”

“ne EvilKyu !!!”

Kyuhyun pun menceritakan semua kepada jiyoon.

“Bo ??”

“sssttt… Pelan-pelan”

“jadi donghae akan pergi ke amerika ?”

“ne~ tugas dia banyak di amerika jadi terpaksa ia kembali ke amerika..”

“ohh..”

Hari semakin larut. Jiyoon tertidur di pundak kyuhyun begitupun dengan kyuhyun. Mereka berdua tampak mesra di bawah cuaca langit yang begitu cerah.

***

Pagipun datang. Jiyoon menyadari bahwa ia tertidur di pundak kyuhyun tadi malam.

“pasangan yang serasi..”, ucap siyoon yang tiba-tiba datang menghampiri kyuhyun dan jiyoon bersama dengan jisung di sebelahnya.

“uhh unnie…~”, kata jiyoon yang terbangun dan mulai membelakkan matanya sedikit demi sedikit begitupun dengan kyuhyun.

“ayo kita ke ruang tamu sekarang, ada hal yang ingin kubicarakan”, ajak siyoon seraya membangunkan jiyoon yang terduduk di ayunan.

Mereka sampai di ruang tamu dan duduk. Siyoon memulai pembicaraan.

“jadi……”, kata siyoon

“mwo unnie ?”, tanya jiyoon sambil meminum tehnya.

“hm, jadi begini .. Aku dan Park Jisung akan menikah minggu depan. Aku sudah memikirkan ini semua matang-matang”

“menikah ??????”, kata jiyoon dan kyuhyun serentak.

“ne~ bagaimana pendapatmu jiyoon-ya ?”, tanya jisung

“aku terserah dengan unnie. Jika unnie mau aku akan menyetujuinya” “asalkan kau juga mengijinkan aku menikah dengan Cho kyuhyun”, sambung jiyoon sambil melihat ke arah kyuhyun.

“bo ?”, kata kyuhyuh kaget

“mwo-ya jiyoon.. ? Kau juga akan menikah ?”, tanya siyoon.

“ne~ ”

“kau yakin.. ? “, tanya kyuhyun.

“ne~ aku sangat percaya kepadamu kyu-ya.. Apa jangan-jangan kau tidak mau menikah denganku ?”,

“ahh,.. Ani.. Tentu aku mau”, jawab kyuhyun

“dasar kau EvilKyu !!hha”, kata jiyoon sambil memukul kepala kyuhyun.

Mereka berbincang-bincang sebentar. Hari itu adalah hari yang cukup menyenangkan untuk jiyoon. Bersama orang yang ia sayangi adalah hal yang ia impi-impikan sejak dulu.

***

Seminggu berlalu..

Hari ini adalah hari pernikahan Siyoon dan Jisung. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh siyoon. Siyoon sangat cantik dengan gaun putihnya yang menawan, begitupun dengan Jisung yang memakai jas putih yang sangat indah.

Jiyoon memakai sebuah gaun berwarna meran muda. Dan Kyuhyun memakai sebuah jas hitam. Siyoon dan Jisung mulai masuk ke dalam pelaminan. Mereka berdua tampak sangat senang.

Saat selesai pesta sebuah undangan jatuh dari dalam tas. Jiyoon mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah undangan pernikahan. Ia lupa kalau hari ini adalah hari pernikahan yoon shi yoon juga.

“waeyo ?”, tanya kyuhyun

“aku lupa”, jawab jiyoon

“lupa apa ?”

“hari ini hari pernikahan yoon shi yoon juga”

“mwo?”

Jiyoon langsung menarik tangan kyuhyun dan pergi. Mereka pergi ke sebuah gedung. Mereka masuk dan mencari tempat yoon shi yoon menikah. Setelah mencari-cari cukup lama, akhirnya mereka masuk dan saat itu juga mereka bertemu yoon shiyoon.

“Kau yoon shi yoon ?”, tanya jiyoon

“uhh ne~…”, jawab shiyoon

“chukae…”, kata jiyoon seraya mengulurkan tangannya.

“gamsahamnida.. Tapi kamu siapa ?”

“kau lupa denganku ? Han jiyoon !”

“ng ? Han Jiyoon ? Kau sudah banyak berubah..”

“haha~ jeongmal ? Oh ya kenalkan namja chingu ku”

“annyeonghaseo.. Cho Kyuhyun imnida..”, ucap kyuhyun.

“annyeong Yoon Shi Yoon imnida..”

“arasso.. Aku harus pergi sekarang.. Mianhamnida yoon-ya .. Annyeong..”, kata jiyoon seraya meninggalkan tempat itu.

Perasaan sedih sekarang muncul di hati jiyoon setelah melihat yoon shi yoon setelah sekian lama tak bertemu. Kyuhyun yang mengetahui hati jiyoon pada saat itu. Hancur berkeping-keping. Dan kyuhyun membawanya ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi jiyoon sebelumnya.

“tempat apa ini ?”, tanya jiyoon

“aku selalu kesini jika aku sedang bersedih..”, jawab kyuhyun

“jeongmal ?? Indah sekali..”

“sekarang kau boleh mencurhakan isi hatimu disini. Teriak sekencang-kencangnya. Lakukan apa saja yang bisa membuat hatimu kembali seperti semula..”

“Kyu-ya…..”, kata jiyoon seraya menghampiri kyuhyun dan memeluknya

“gumawo kyu-ya… Aku baru menyadari kalau kau yang selalu mencintaiku dan yang selalu ada disampingku walaupun saat aku sedih maupun senang..”, kata jiyoon sambil menangis di pelukan kyuhyun.

Tangisannya semakin lama semakin kencang. Tak lama tangisan jiyoon mereda. Ia menatap kyuhyun. Dan wajah mereka berdekatan.

Lalu bibir mereka bersentuhan 1 sama lain. Jiyoon merasakan kehangatan yang begitu mendalam dari ciuman pertamanya itu. Kehangatan yang selalu ia nanti-nantikan bersama Yoon Shi yoon. Tapi sayangnya itu bukan yoon shi yoon. Itu adalah Cho Kyuhyun orang yang akan ia cintai, ia sayangi, mulai dari sekarang sampai akhir hayat hidupnya…….

THE END ~~~

*catatan : Park Jisung disini bukan pemain bola.. Hehe ..

Fanfiction : ~My True Love~ (Chapter Two)

Akhirnya Jiyoon bangun dari tidurnya. Ia melihat kyuhyun yang sedang tidur terduduk disebelahnya.

“kyu-ya.. Kyu-ya”, panggil jiyoon seraya menggoyang-goyang kan bahu kyuhyun.

Kyuhyun mulai sadar dan memelekkan matanya.

“jiyoon-ya .. Kau sudah sembuh ?”, tanya kyuhyun

“ne~ kau tidur disini semalaman ??”, tanya jiyoon

“de,,, mm, ini minum obatmu dulu.. “, ucap kyuhyun seraya mengambil obat yang berada du sebelahnya dan memberikannya ke jiyoon.

Jiyoon segera minum obat yang diberi kyuhyun.

“gumawo..”, ucap jiyoon

“gwaenchanayo. Kau harus istirahat lebih bnyk jiyoon-ya. Kalau tidak kau bisa sakit lagi. Ara ?”, ungkap kyuhyun

“ne gaemKyu ! Haha~”

“kyu-ya aku mau keluar mencari udara segar. Aku bosan disini terus..”, kata jiyoon seraya bangun dr tempat tidurnya

“oh.. Ok.. Ayo!”, ucap kyuhyun sambil membantu jiyoon berdiri.

Mereka keluar dari kamar tersebut dan menuju taman rumah jiyoon. Saat turun jiyoon melihat ke arah ruang tamu, ia melihat kakaknya yang sedang tidur nyenyak di pundak donghae.

“kyu-ya .. Lihat mereka..”, ucap jiyoon sambil menunjuk ke arah siyoon dan donghae

“mwo?? Ckckk.. Begitu nyenyak sekali mereka tidur.. Haha~”, kata kyuhyun

Mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi. Akhirnya mereka sampai di taman.

——-

Siyoon terlihat nyenyak tidur di pundak donghae. Begitupun dengan donghae yang berada di samping siyoon. Sedikit” mereka mulai terbangun dr tidurnya.

Siyoon bangun terlebih dahulu. Menyadari hari sudah siang, ia pergi naik ke atas untuk melihat jiyoon yang kemarin sakit.

Saat ia melihat ke kamar, di kamar jiyoon sudah tak ada orang. Ia mencari” di seluruh bagian rumah. Sampai pada akhirnya ia melihat ke taman.

“kyu-ya .. Yoon-ya .. Ternyata kalian disini. daritadi aku mencari kalian. Aku kira kalian sudah pergi.”, kata siyoon yang datang menghampiri jiyoon dan kyuhyun.

“mian unnie. Habis tadi aku melihat kau tidur terlalu nyenyak di pundak donghae oppa.. Jadi aku tak tega jika membangunkanmu..”, ucap jiyoon

Kyuhyun dan jiyoon tertawa kecil meledek siyoon. Muka siyoon tampak memerah.

“Hey.. Ternyata kalian disini..”, kata donghae yang tiba” menghampiri.

Pandangan kyuhyun dan jiyoon terarah pada donghae dan siyoon.

“Kalau dilihat-lihat kalian berdua cocok..”, ucap kyuhyun

“Ya.. Aku setuju.. Haha~”, sahut jiyoon cepat.

“hah ?”, sontak donghae dan siyoon bersamaan

“waeyo unnie ??”, tanya jiyoon meledek siyoon

Muka siyoon dan donghae kini semakin memerah dibuat malu oleh kyuhyun dan jiyoon. Setelah puas bercanda dan berbicara kyuhyuh dan donghae berpamit pulang.

——-

Sekarang dirumah hanya ada jiyoon, siyoon, dan ny. Lee. Setelah donghae dan kyuhyun pulang rumah tampak sepi. Jiyoon kembali berbaring di kasurnya sekarang. Dan siyoon berada di ruang tamu sambil membaca koran.

Tiba-tiba handphone siyoon berbunyi. Nomor nya tak dikenal. Ia mengangkatnya.

“Yoboseo..!”, sapa siyoon

“hey, kau harus ke rumah sakit ‘xxxx’ sekarang. Ada hal gawat.”, ucap seorang laki-laki yang tak dikenalnya

“nugu-ya??”

“sudah cepat.. setelah kau sampai disini kau juga akan tau.. Palli !”

“yoboseo… Nugu-ya ???!!!”…

Telepon langsung dimatikan oleh laki-laki itu. Siyoon mengabaikan perkataan laki-laki tadi. Tapi semakin lama perasaannya tak enak. Ia seperti merasakan suatu hal yang buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke rumah sakit itu.

Ia bergegas cepat. Tak lama ia sampai di rumah sakit itu. Ternyata seseorang sudah ditugaskan untuk menunggu siyoon dan mengantarnya kepada orang yang menelponnya tadi.

Siyoon bukan bertemu dengan orang yang menelponnya tadi, tapi ia disuruh melihat seseorang yang ada didalam salah 1 kamar rumah sakit.

Siyoon masuk dengan perlahan dan dengan rasa penasaran.

Saat melihat orang itu hatinya terasa seperti teriris-iris pisau yang tajam. Melihat seorang yang tak berdaya dan penuh dengan balutan kain di tubuhnya. Air matanya mulai menetes dan semakin lama semakin derasnya air mata itu membasahi wajah siyoon.

Ia terduduk diam melihat orang yang ada di hadapannya. Berbaring tak berdaya. Dan ia hanya bisa memanggil nama lelaki itu..

“Park Jisung.. Park Jisung !!”, panggilnya sembari menggoyang”kan badan lelaki itu.

Lelaki yang ada dihadapannya hanya bisa terdiam tak sadarkan diri. Dan siyoon hanya bisa menangis.

Siyoon sangat merindukan lelaki masa remajanya itu setelah 8 tahun tak bertemu dengannya. Dan saat bertemunya lagi, ia melihat lelaki yang dulu ia cintainya itu tak berdaya. Akankah ia hidup kembali setelah mengalami koma selama 3 bulan ?

“annyeonghaseo..”, sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk

“a-a-annyeong”, sahut siyoon dengan terbata-bata akibat menangis.

“no… Han Siyoon ??”, tanya lelaki itu

“ne~ nugu-ya ?? A-apakah kau lelaki yang tadi menelponku ??”, tanya siyoon

“ne~ Lee SangKyo imnida.. Aku teman dari park jisung.,”, ucap jangkyo

“han siyoon imnida ..”

“mianhae merepotkanmu. Aku hanya disuruh oleh jisung menelponmu ketika ia terjatuh sakit atau ia meninggal..”

Siyoon hanya terdiam. Kemudian jangkyo meninggalkan kamar tersebut.

——-

“Unnie..”,panggil jiyoon seraya menuruni tangga

“ny.lee siyoon-ya kemana ?”, tanya jiyoon yang tiba” melihat ny. Lee

“Molla..  Saya hanya melihat ia pergi terburu-buru . Dan saya tidak tau ia pergi kemana..”, ungkap ny. Lee menjelaskan

“ohh.. Ara.. ”

Jiyoon segera mengambil ponselnya. Ia menelpon siyoon. Tapi ponsel siyoon tidak aktif. Kemudian ia menelpon donghae.

“Yoboseo ..”, ucap donghae

“oppa. Kau sedang bersama unnie tidak ?”, tanya jiyoon

“ani.. Waeyo ??”,

“unnie tidak ada dirumah. Tapi kata ny. Lee tadi ia pergi terburu-buru. Aku sudah menelponnya tapi nomornya tak aktif.”,

“jinjja ?? kalau begitu aku akan membantumu mencarinya.. Ok.. Dan kau jangan kemana” istirahatlah yang cukup. Ara ? “,

“ne~ oppa .. Gumawo~”,

Jiyoon menutup teleponnya. Dan ia mencoba menelpon beberapa teman siyoon. Tapi tidak ada yang tau keberadannya.

Hari semakin sore. Tapi kabar dari siyoon tak kunjung datang. Jiyoon yang menunggu pun semakin khawatir dengan keadaan kakaknya. Ia tetap menunggu di rumah.

——-

Donghae akhirnya menemukan keberadaan siyoon. Ia segera menuju tempat itu. Ternyata tenpat itu adalah sebuah rumah sakit besar di seoul. Ia tau dari kerabatnya yang melihat siyoon masuk ke sebuah rumah sakit.

Ia mencari kamar yang dituju siyoon. Perasaannya sudah mulai tenang saat menemukan kamar tersebut. Sebelum masuk ia menelpon jiyoon.

“Yoboseo..”, sapa jiyoon

“jiyoon-ya aku sudah menemukan dimana siyoon. Tapi aku tak tau itu benar apa tidak. Aku belum memastikannya”

“jinjja?? Dimana dia ??”, tanya jiyoon khawatir

“di rumah sakit”

“bo! Rumah sakit ? Untuk apa ia kesana ? Apa ia sakit?”, “Molla…tapi kau jangan khawatir.. Aku akan segera membawanya pulang. Tunggu di rumah ya..”

“ne oppa.. Cepat ya ~”

Donghae menutup teleponnya. Kemudian ia mulai melangkah masuk ke dalam kamar itu. Dengan langkah pelan dan perasaan senang ia masuk ke kamar tersebut. Tapi perasaan senang itu hilang seketika saat melihat siyoon.

Tubuhnya lemas. Tak kuat ia menahan air matanya. Melihat seorang pujaan hatinya mencium kening lelaki lain. Ia keluar dari kamar. Dan menunggu di depan kamar tersebut dengan bersandar di tembok.

Tak lama siyoon keluar dari kamar itu. Ia kaget melihat donghae yang sudah berada di sampingnya saat ia keluar.

“Lee donghae ?”, panggil siyoon

“…” donghae terdiam

“bagaimana kau bisa ada disini ?”

“aku mencarimu”, jawab donghae lemas. “kajja!” sambungnya

Siyoon mengikuti donghae dari belakang. Tiba-tiba jangkyo menghampiri siyoon.

“Han Siyoon”, panggil jangkyo

“ng..Lee Jangkyo.”, sahut siyoon cepat.

“kau mau pulang ?”

“ne~ tolong jaga jisung. Besok aku akan kembali”

“arasso. Hati-hati di perjalanan”

Siyoon mengangguk. Melihat donghae yang sudah jauh ia segera mengejarnya. Donghae berjalan begitu cepat sehingga siyoon sulit mengejarnya yang sudah jauh. Tiba-tiba siyoon tersandung oleh sebuah batu.

“aw~”, keluhnya

Tanpa memperdulikan siyoon, donghae tetap berjalan sehingga membuat siyoon jengkel.

——-

“aigoo. Kemana mereka berdua”, kata jiyoon khawatir

“annyeong~”, sapa donghae yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah

“Oppa..mana unnie ??”, tanya jiyoon seraya menghampiri donghae

Donghae tak menjawab tetapi ia menunjuk ke arah luar. Dan jiyoon melihat seorang wanita yang datang.

“unnie..No gwaencahana ??”, tanya jiyoon sambil memeluk siyoon

“gwaenchana..”, jawab siyoon sambil memegangi kakinya yang terkilir

Jiyoon melihat kearah kaki siyoon..

“waeyo?”, tanya jiyoon seraya memegang kaki siyoon

“gwaenchana . hanya sedikit tekilir .”,

“Ng? Terkilir? “, ucap jiyoon sambil membantu siyoon duduk di sofa

“aku sudah membawa unnie mu pulang kan?? Arasso.. Aku pulang. Bye ! “, ucap donghae

“hah? Oppa!”, teriak jiyoon

“unnie..Kau tunggu disini ya.. Aku akan segera kembali”, ucap jiyoon

Jiyoon meninggalkan siyoon dan berlari menyusul donghae.

“oppa! Jakkaman! Huh huh huh ~”, ucap jiyoon dengan nafas yang tak beraturan

Donghae berhenti berjalan dan membalikkan badannya. Lalu ia mengajak jiyoon duduk di taman dekat situ.

“Han Jiyoon. Tunggu disini, aku akan segera kembali”, pinta donghae dan pergi

Tak lama donghae kembali dengan membawa 2 minuman kaleng. “Ini..”, kata donghae seraya memberikan 1 minuman kaleng yang berada di tangan kanannya

“Gumawo~”, ucap jiyoon dan langsung meminum minuman yang diberi donghae.

“Kenapa kau mengejarku ?”, tanya donghae

“Hari ini kau tampak aneh”

“Ng..?” Donghae menengok ke arah jiyoon

“Tadi siang kau masih terlihat seperti orang yang besemangat mencari unnie. Tapi saat kau pulang kau jadi aneh. Kau membiarkan unnie berjalan sendirian dengan kaki yang terkilir.. “, ungkap jiyoon santai

“…” donghae terdiam dan mengacuhkan perkataan jiyoon

“waeyo oppa ? Apa kau ada masalah dengan unnie ?”

“ani~”, jawab donghae

“terus ? wae ?” Donghae menceritakan semua yang ia lihat di rumah sakit tadi. Jiyoon cukup terkejut dengan ucapan donghae dan jiyoon masih belum percaya. Apalagi dengan perkataan bahwa siyoon mencium kening lelaki itu. Jiyoon jadi semakin penasaran dengan lelaki itu.

***

Keesokan harinya. Siyoon bangun tampak lebih pagi dari biasanya. Baju lengan panjang dan celana panjang yang ia kenakan telah menghiasi tubuhnya.

“jiyoon-ya.. Ayo makan..”, ajak siyoon yang melihat jiyoon sedang menuruni tangga.

Jiyoon menghampiri siyoon yang berada di meja makan.

“mau kemana kau?? jarang pagi-pagi kau mau pergi.. “, tanya siyoon

“mm, aku mau..”, sambung jiyoon yang kemudian menemukan ide cemerlang “aku mau pergi dengan cho kyuhyun..Ne~ cho kyuhyun..”

“kau punya hubungan khusus ya dengan dia ?? Ayo ngaku..”, ejek siyoon

“ng? Ani.. Aniya.. Aku dan dia hanya berteman..”

“jeongmal? Hhaha~ arasso. Aku akan pergi duluan.. Annyeong..Hati-hati dijalan..Oke”, pamit siyoon

Melihat siyoon yang mau pergi, jiyoon bersiap” untuk mengikutinya dari belakang.. Setelah cukup lama, akhirnya sampai di suatu tempat.. Yaitu rumah sakit ternama di seoul. Jiyoon mengikuti siyoon yang masuk ke rumah sakit itu. Sampai pada akhirnya siyoon memasuki sebuah kamar. Jiyoon bersembunyi didekat lift rumah sakit agar tidak diketahui oleh siyoon. Tak lama siyoon keluar dari kamar tersebut dan ia pergi. Tak mau membuang waktu jiyoon pun masuk ke dalam kamar yang tadi siyoon masuki.

Dengan langkah yang pelan ia masuk. Ia tersentak kaget dengan keberadaan orang yang ada di kasur dan di sebelahnya.

“Nugu-ya ?”, tanya jangkyo yang sedang menemani jisung. “ng ?”

“Na-na-naneun H-han JiYonn imnida”, ucap jiyoon ketakutan

“Mau apa kau kesini ??”, tanya jangkyo lagi “hah ? Aku ?”, tanya jiyoon tampak seperti orang babo

“ne~ siapa lagi.. ?? Disini kan cuman ada kita bertiga. Ckkc. Babo !~”. “arasso.. ada waktu ?”

“ne ~ mau apa ? “, tanya jangkyo

“bisa minum teh bersama ?? Sebentaaar aja..”, pinta jiyoon

“ara~”,

Merekapun pergi ke sebuah caffé didekat rumah sakit itu.

“annyeong~”,sapa seorang pelayan itu dengan sopan

“annyeong~”, sahut jiyoon dan jangkyo secara bersamaan

“untuk berapa orang ?”, tanya pelayan itu

” 2 !”, sahut jiyoon dan jangkyo secara bersamaan lagi

“ng? “, tanya pelayan itu

” maksud saya 2 .. Ne~ 2 “, ucap jangkyo memperjelas “ne~ silahkan duduk disana..”, kata pelayan itu sambil menunjukkan tempat duduk

Jiyoon dan jangkyo berjalan ke arah tempat dudk yang ditunjukkan pelayan tadi. Mereka duduk di bangku masing-masing.

“ok .. Sekarang mau apa kamu ?”, tanya jangkyo

“hm, aku mau tanya.. Kau kenal dengan unnie ku ?? Han Siyoon..”, tanya jiyoon

“dia unnie mu ?”

“ne..”

“Dia tak pernah bilang kalau dia punya adik.. Kau bohong kan ?”

“ng ? Bohong ? Untuk apa aku berbohong denganmu. Tak ada gunanya aku berbohong padamu..”

“terus kamu mau apa membawa ku kesini ??”

“ok . Aku akan langsung to the point.. Siapa lelaki yang ada di rumah sakit ?? ”

“mwo ?!”

“de~ lelaki yang dikunjungi siyoon tadi ? Nugu ?”

“bukan siapa-siapa.. Oh ya aku harus kembali ke rumah sakit sekarang.. Bye !”

Jangkyo langsung meninggalkan jiyoon sendirian.

“hey ! ”

“aigoo. Apakan aku ada salah sama dia sehingga dia tak mau memberikan informasi. “, ucap jiyoon seraya memukul kepalanya sendiri.

Tiba-tiba Kyuhyun datang menghampiri jiyoon yang ada di dalam caffé.

“siapa dia ?”, tanya kyuhyun

“huh~ aku juga tak tau jelas asal usulnya..”, jawab jiyoon lemas.

“oh. Hey. Apa benar yang donghae katakan padaku bahwa siyoon mencium lelaki ?”

“uuhhh~ begitulah.”

“oh.. Ara..”

Akhirnya jiyoon dan kyuhyun pergi dari tempat duduk mereka. “GUBRRAAAKK !”, Jiyoon menabrak seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam caffé. Tas nya jatuh dan berantakkan. Lelaki itu meminta maaf dan membantu jiyoon membereskan barang-barangnya yang terjatuh.

Tanpa sengaja lelaki itu menemukan sebuah foto yang tergeletak di tanah. Yang lelaki itu kagetkan adalah foto itu. Sebuah foto masa kecilnya. Ia tak menyangka kalau jiyoon punya foto masa kecilnya.

Lelaki itu berdiri. Dan masih memandang foto yang ia pegang.

“Mianhamnida~”, ucap jiyoon

Jiyoon langsung mengambil foto yang berada di tangan lelaki itu.

“gamsahamnida.. Permisi..”, kata jiyoon dan langsung pergi diikuti dengan kyuhyun.

Lelaki itu melamun. Menyadari jiyoon pergi ia mengejar. Tetapi saat ia keluar caffé jiyoon sudah tak ada. Ia lupa menanyakan nama jiyoon. Tapi ia tak menyerah, ia terus mencari-cari jiyoon.

——-

“annyeong.. aku pulang !!”, ucap jiyoon seraya memasuki rumahnya.

Ia menuju ke kamarnya. Berbaring di kasurnya dan memandangi sebuah foto yang masih ia pegang.

Ia mengusap-usap foto itu. Air matanya keluar, mengingat muka orang yang ada di foto itu. Sebuah foto orang yang ia cintai. Kenangannya hanya foto itu. D an satu-satunya barang berharga.

Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan tapi susah untukknya melupakan masa-masa itu.

Tak lama ia tertidur dengan memeluk sebuah foto yang tampak sudah kusam. Yang selalu ada di pikirannya selama ini adalah bertemu dengan orang yang ada di foto itu. Dan Jiyoon selalu berharap entah besok atau kapan ia akan bertemu dengan orang yang ia cintai itu..

***

“apakah kau tak bisa membukakan pintu hatimu untukku ??”, tanya kyuhyun dalam hatinya sambil berjalan masuk ke dormnya.

Tiba-tiba ia bertemu dengan donghae yang ada di depannya.

“Lee Donghae..”, panggil kyuhyun

Donghae menengok dan menjawab panggilan kyuhyun. Akhirnya mereka masuk bersama ke dalam dorm.

“hyung.. Apa kau membuntuti siyoon lagi ?”, tanya kyuhyun sambil membuat teh

“mwo-ya ? Untuk apa aku membuntuti nya lagi”, jawab donghae lemas yang berada di ruang tamu.

“waeyo ? Bukankah kau menyukai dia ?”

“mm ? Aku memang menyukainya tapi kalau dia menyukai orang lain aku tak akan memaksa”,

“kau akan putus asa begitu saja  ??”, tanya kyuhyun seraya duduk di sebelah donghae.

“Aku bukan putus asa. Aku tidak akan mencari cinta itu. Biarkanlah cinta itu yang datang kepadaku”

“jinjja ? Jadi kau akan diam seperti ini terus sampai sebuah cinta turun dari langit ?? Aigoo !”

“ne ~ sudahlah kau tak usah mengurusi urusanku. Bagimana dengan jiyoon ?”

“mwo ? “, ucap kyuhyun yang tersendak air teh ketika donghae membicarakan tentang jiyoon.

“haha~ tak perlu sampai tersendak air segala”

“hm, begitulah. Sepertinya tak ada titik terang. Dia masih menyukan yoon si yoon ?”

“bo? Yoon si yoon? Yang tinggal di incheon dulu kan?”

“ne~”

“haha~ sabar ya. Cinta akan turun dari langit.. Haha”

Lalu Donghae pergi ke kamarnya dan tidur. Sedangkan kyuhyun masih mencerna perkataan donghae tadi. *ahh~ BaboKyu !*

***

Jiyoon turun ke bawah dengan pakaian yang sudah rapi. Lalu ia menuju ke meja makan.

“annyeong unnie..”, sapa jiyoon

“annyeong..”

“unnie kemarin kau menjenguk siapa ?”

“ng ?”

“de~ tanpa sengaja aku melihat kau masuk ke dalam rumah sakit”

“uhh .. Gwaenchana..”

“jeongmal ? Tapi semenjak kau pulang, perilaku donghae sedikit aneh terhadapmu” kemudian jiyoon melanjutkan lagi “apa benar kau mencium kening lelaki yang ada di rumah sakit itu ??”

Siyoon tersentak kaget dengan perkataan jiyoon tadi. Ia menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang.

“Lee donghae melihatnya ?”, tanya siyoon penasaran di dalam hatinya

“unnie..”, panggil jiyoon

“aku sudah telat. Aku akan pergi duluan. Ok. Annyeong”, sapa siyoon kemudian bergegas pergi.

Jiyoon terdiam. Ia tampak bingung dengan perilaku kakaknya. Lalu ia pergi keluar.

Ia pergi tempat kuliahnya. Karena hari ini ia ada kelas di tempat kuliahnya. Tak lama kemudian ia sampai. Ia masuk ke dalam universitas tersebut.

“annyeong sunbae..”, sapa seorang hobae jiyoon

“annyeong..”, sahut jiyoon seraya tersenyum

Saat menuju kelasnya tiba-tiba ada orang yang memanggil namanya.

“Jiyoon sunbae.. Jiyoon sunbae”, panggil seseorang tampak dari kejauhan.

“uh .. Ye ?”, tanya jiyoon kepada hobae yang memanggilnya.

“Annyeonghaseo. Naneun Lee sanghyun imnida.. “, ucap sanghyun dengan sopannya.

“ohh. Sanghyun-ya .. Apa kabar ?”,

“ahh . Tentu baik. Bagaimana kalau kita minum teh sebentar. Kau punya waktu ?”

“oh .. Arasso..”

Jiyoon mengikuti sanghyun dari belakang untuk menuju kantin. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di sebuah kantin milik universitas tersebut. Mereka duduk di sebuah meja makan yang hanya untuk 2 orang.

“ahh unnie. Sudah lama aku tak melihatmu”, ucap sanghyun yang memulai pembicaraan

“haha.. Waktu itu aku sedang tidak ada kelas. Maka aku tak datang.. Kalau kamu sedang sibuk ?”,

“ne~ begitulah.. Tak ku sangka setelah masuk kuliah begitu banyak waktu yang kupakai untuk belejar..” sanghyun melanjutkan “oh ya.. Chukae unnie .. Kau telah lulus ujian.. Tak lama lagi kau akan lulus.. Uhh enaknya”

“haha .. Gumawoyo.. Tenang tak lama lagi kau juga akan lulus.. Iyakan ?”

“kau selalu saja bisa menghiburku..” “oh ya ini aku mau memberikan kau ini..” sambung sanghyun seraya mengeluarkan sebuah undangan dari tasnya dan memberikannya kepada jiyoon.

“apa ini ?? “, tanya jiyoon seraya melihat undangan itu.

“boe???!!!!! “, ucap jiyoon tersentak kaget saat melihat undangan itu.

***

TBC