Full of inspiration and story

“Soohan-ah, ireona! Palli~”

Aku terbangun dari tidurku. Tampak siluet seorang yeoja berambut pendek dengan wajah menawan. “Sungra-onnie? Kenapa pagi sekali?”, tanyaku sembari mengerjabkan mata. “Hari ini kita ada press conference antar artis.”, jelas Jaesa-onnie dari yang baru selesai mandi. Rambut panjang lurusnya yang dicat coklat gelap melambai dengan indah.

Press conference?”

“Ne. Dan hati-hati. Pasti kau dan Wooyoung-ssi ditanya perihal hubungan kalian.”, jawab Hanyoung-onnie yang datang dengan nampan di tangannya. Tangannya yang lembut dan seputih salju memberikan nampan berisi makanan dan minuman itu kepadaku. Aku mengangguk pelan dan mulai beranjak memakan roti yang ada di nampan, “Apa…kah ada Super Junior disana?”

Semua member sontak menatapku. “Tentu saja. Semuanya ada disana.”, jawab Hwangki-onnie tanpa memberhentikan tatapan dari mata imutnya. “Kau bohong ‘kan saat bilang kepada Wooyoung bahwa kau sudah melupakannya sedikit?”, tanya Sungra-onnie tepat pada sasaran. Membuatku sama sekali tak bisa menjawab.

“Aisshh~ Itu sama saja kau menghancurkan hati Wooyoung dan Sungmin-oppa sekaligus, Soohan-ah!”, seru Hanyoung-onnie sedikit kesal. “Ani, Hanyoung. Kau salah. Soohan hanya menyakiti hati Wooyoung. Sungmin-oppa sama sekali tidak terluka.”, ucap Jaesa-onnie membenarkan perkataan Hanyoung-onnie.

Aku hanya menunduk mendengarnya.

“Ottokhae, onnie? Otakku selalu berkata untuk melupakan seorang Lee Sungmin dan mulai mencoba mencintai seorang Jang Wooyoung. Tapi hatiku sama sekali tidak berpihak. Sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali yang kulupa dari sosok Lee Sungmin. Dan sekeras apapun aku mencoba, tak ada sama sekali sosok Jang Wooyoung di hatiku.”

Semua langsung memelukku hangat, “Tenang, Soohan-ah. Kami akan membantumu. Sekarang cepat bersiap-siaplah. Pokoknya, disana kau harus dengan yakin mengatakan bahwa kau adalah yeoja-chingu seorang Jang Wooyoung. Kau harus tegar. Dan ini semua demi kebaikanmu. Ara?”, tanya Hwangki-onnie sembari tersenyum. Aku mengangguk setuju.

 

___

 

Mobil berhenti dan kami semua—member 1PM keluar dan mulai berjalan di red-carpet. Disana member 2PM sudah datang dan tersenyum pada kami. Wooyoung-oppa melambai dan membisikan sesuatu di telingaku, “Hari ini kau terlihat sangat cantik, Soo-ah…”

“Jadi, biasanya tidak?”, bisikku sarkastik. “Setiap saat kau selalu terlihat cantik, namun hari ini kau lebih dari cantik.”, jawabnya masih dengan bisikan. “Apakah sejak aku berpacaran denganmu, aku jadi terlihat lebih cantik?”, tanyaku menggoda. Wooyoung-oppa makin tersenyum dan mau membalas, namun tidak sempat karena kami disuruh berfoto berdua, terpisah dari group kami.

Kami mengambil posisi dengan canggung. “Bisa lebih dekat lagi?”, pinta seorang wartawan. Tangan Wooyoung-oppa sontak memegang pinggangku mesra. Kami berfoto cukup dekat. Dan pipiku merona sempurna. Tampaknya, Woo-oppa juga merasakan yang sama denganku. “Aigoo~ Pancaran pasangan baru memang sangat terasa ya.”, sahut seorang wartawan lagi dan semuanya tertawa. Kami berdua hanya bisa tersenyum malu.

Setelah selesai melakukan sesi foto, kami masuk ke tempat press conference tersebut. Sudah banyak artis, aktor, penyanyi solo, ataupun boy-band dan girl-band yang datang. Dan saat berada di pintu masuk, aku bisa melihat member Super Junior sedang berjalan masuk.

“Annyeong, Soohan-ssi~ Annyeong, Wooyoung-ssi~”, sapa Leeteuk-oppa hangat. “Annyeong haseyo, sunbaenim~”, balas kami berdua serempak. “Chukae untuk kalian.”, ucap Yesung-oppa seraya tersenyum. “Kau nampak sangat bahagia ya setelah berpacaran dengan Wooyoung, Soohan-ssi.”, sahut Kyuhyun-oppa yang lebih sebagai sindiran. Wooyoung-oppa yang juga mengetahui maksud dari perkataan Kyuhyun-oppa, hanya bisa tersenyum (pahit).

“Kalian hanya ber-9, sunbaenim. Dimana Sungmin-hyung?”

Pertanyaan Wooyoung-oppa membuatku sadar bahwa ia tidak terlihat diantara member Super Junior. “Ahh~Sungmin sedang menemani Luna-ssi. Ada barangnya yang tertinggal.”, jawab Eunhyuk-oppa ramah. Seketika itu juga, air mata ingin membrontak turun dari mataku. Wooyoung-oppa yang menyadari keadaanku, langsung menggenggam tanganku erat.

“Kalau begitu, kami permisi dulu, sunbaenim. Annyeong haseyo~”, pamit Woo-oppa sembari menunduk kecil. Lalu, ia terus menggenggam tanganku erat hingga ke tempat duduk. Hingga membuat para wartawan dengan senangnya, memotret kemesraan kami. “Gwenchana, Soo-ah?”

Aku mengangguk pelan. “Mian, oppa. Aku…hanya—”

“Arasso, Soohan-ah. Aku tau kau masih mencintainya. Dan…aku tak pernah mempermasalahkannya. Aku tau…cinta itu…tidak bisa dipaksa.”, ucap Wooyoung-oppa lembut. “Gomawo-yo, oppa. Saranghaeyo.”, jawabku sembari tersenyum. “Mworago-yo? Tadi kau bilang apa?”, tanya Wooyoung-oppa dengan wajah memerah.

“Ya, pasangan baru! Jangan berpacaran disini. Kalian diperhatikan terus daritadi.”

Perkataan Taecyeon-oppa yang berada tepat di belakang kami, membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa. Tak lama, aku bisa melihat Sungmin dan Luna sedang memasuki ruang dan mulai duduk. Mereka berdua tertawa bersama, bercanda bersama, dan tampak sangat bahagia. Membuat semua orang iri, apalagi diriku. Namun, genggaman erat Wooyoung-oppa, membuatku merasa lebih kuat.

Dan itu terus berlangsung hingga acara selesai. Tentu saja aku dan Wooyoung-oppa ditanya perihal pacaran kami. Untung saja, Woo-oppa bisa menjawab semuanya dengan baik. Banyak yang tak percaya sosok Woo-oppa yang suka bercanda, bisa menjadi serius saat bersamaku. Dan aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.

Sungmin-oppa tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan status pacaran antara diriku dan Wooyoung-oppa. Ia tetap tampak bersinar dan gembira dengan Luna. Dan itu…membuatku lebih sakit dari sebelumnya.

 

___

 

Hari yang cukup dingin ini, aku lewati di tempat syuting. Wooyoung-oppa juga ada bersamaku. Kami akan syuting variety show bernama ‘Love Young Love’. Suatu acara variety show mirip ‘We Got Married’, namun dengan dua pasangan yang akan saling memperebutkan tempat untuk menjadi yang terbaik.

Dan dalam acara kali ini, aku dan Wooyoung-oppa akan menjadi salah satu dari pasangan itu. Tetapi, yang menjadi pokok permasalahan dari keresahanku adalah…

“Jadi, lawan kami nanti adalah pasangan Super Junior Sungmin dan f(x) Luna?!”, tanya Wooyoung-oppa terkejut. Begitupun denganku. Ahh~ani! Lebih tepatnya, aku merasakan keterkejutan 100 kali lipat dari keterkejutan Woo-oppa. “Memang kenapa?”, tanya seorang staf, merasakan keterkejutan dari kami berdua.

“Ohh~ani! Mereka berdua adalah pasangan yang sangat mesra. Kami berdua jadi takut. Hahaha…”, ucap Wooyoung-oppa, mencurahkan semua kemampuan aktingnya ke perkataan yang baru saja diucapkan. “Hahaha~ Jangan khawatir! Kalian juga adalah pasangan yang mesra.”, balas staf itu seraya ikut tertawa. Aku menarik nafas lega, setidaknya staf itu tidak curiga.

“Gwenchana, Soo-ah? Apa…kita batalkan saja acara ini?”

Aku menatap Wooyoung-oppa dan kemudian menggeleng, “Tenang, oppa. Aku akan berusaha untuk kuat. Jika bersamamu, aku pasti menjadi kuat.”, ucapku yakin. Wooyoung-oppa tersenyum dan mengecup keningku. “Aigoo~ Kalian ini mesra sekali! Kami jadi takut.”

Kami menoleh dan bisa melihat dengan jelas Sungmin-oppa dan Luna. Tangan Sungmin-oppa melingkar di pinggang Luna dan tangan Luna menyangkut bagian leher Sungmin-oppa. “Annyeong haseyo, Sungmin-hyung~ Annyeong, Luna-ssi~”, sapa Wooyoung-oppa sembari menunduk kecil dan memegang tanganku erat. Kebiasaan Woo-oppa agar aku bisa merasa lebih tegar.

“Annyeong haseyo, Wooyoung-oppa~ Annyeong haseyo, Soohan-onnie~”

Luna menunduk kecil pula. Dan aku hanya bisa ikut menunduk. “Tampaknya acara ini adalah ajang yang bagus untuk mempererat hubungan pasangan kita. Keurae?”

“Ahh~ne. Aku juga merasa begitu.”, jawab Wooyoung-oppa sedikit gugup. “Woo-oppa, disini dingin sekali~”, ucapku dengan nada manja. “Jinjja?”

Wooyoung-oppa membuka jaketnya dan memakaikannya ketubuhku.

Lalu, tangannya menggenggam tanganku hangat dan sekali-kali menggosok-gosokannya. “Sudah merasa baikan?”, tanya Woo-oppa khawatir. Aku mengangguk dan tersenyum, “Gomawo-yo, nae wangja~ Saranghae.”

“Aigoo~ Daripada menganggu kalian, lebih baik kami masuk. Sampai jumpa di acara!”, sahut Sungmin-oppa sembari menggandeng Luna masuk. Setelah mereka berdua sudah benar-benar masuk, aku melepas jaket Wooyoung-oppa dan memakaikannya kembali ke tubuhnya.

“Tadi, aktingmu sangat bagus, Soo-ah~”

“Ne?”

“Yang tadi itu, kau hanya berakting agar Sungmin-hyung cemburu ‘kan?”, tanya Wooyoung-oppa seraya tersenyum, kebiasaannya satu lagi yang membuatku menyukainya. “Mian, oppa.”, jawabku sembari menunduk. “Gwenchana. Justru itu rencana yang bagus! Teruslah begitu, agar Sungmin-hyung tidak berpikir kau sengsara jika tanpanya.”

“Ahh~oppa. Jeongmal jeongmal mianhaeyo~”

“Mian untuk apa lagi?”, tanyanya bingung. “Kau selalu ada di setiap keadaan yang kualami. Tapi, aku tidak pernah membahagiakanmu. Aku selalu membuatmu menderita, oppa. Mianhaeyo~”, kataku jujur. Dia kembali tersenyum, kali ini lebih hangat. “Melihatmu bahagia saja, sudah membuatku bahagia, Park Soohan.”

“Woo-oppa, bila aku diberikan kuasa atas hatiku, hal pertama yang akan kulakukan adalah melupakan Sungmin-oppa dan mencintaimu sepenuh hati.”, ucapku seraya tersenyum. Wooyoung-oppa tersenyum dan membelai rambutku, “Bila ada kehidupan kedua di dunia ini, aku akan meminta agar jodohku dan cintaku hanya pada dirimu, Soo-ah. Saranghae~”

“Ne, na tto saranghae~”

“Syuting akan segera dimulai!”, teriak seorang staf dan kita langsung bergegas masuk ke gedung. Kami bisa melihat Sungmin-oppa dan Luna sudah duduk di salah satu sofa. Di tengah-tengah, ada dua orang yang akan memandu acara. Dan di sampingnya, ada sofa yang masih kosong. Sofa tempat kami akan duduk.

Sebelum mulai, Woo-oppa membisikan suatu kata di telingaku, “Fighting, Soo-ah!”, bisiknya seraya mengepalkan tangannya keatas. Aku tersenyum dan ikut mengepalkan tanganku.

“3…2…1…Action!”

“Annyeong haseyo, pemirsa! Selamat berjumpa di acara terbaru KBS yang bernama ‘Love Young Love’…! Bersama kami, MC Lee Taemin dan MC Han Eunri, kita semua akan bersama-sama melihat dua pasangan yang akan saling beradu untuk mendapat hadiah special!”, ucap Taemin-ssi dengan bersemangat.

Eunri-ssi langsung membalas, “De, dan pasangan yang akan saling beradu untuk edisi perdana ‘Love Young Love’ adalah………”

“Pasangan Sungmin-Luna dan Wooyoung-Soohan!!!”, seru kedua MC dengan lantang. Semua penonton yang menonton langsung bertepuk tangan meriah.

Eunri-ssi kembali memegang kendali, “Mari kita tanya-tanya pasangan Sungmin SJ dan Luna f(x) terlebih dahulu. Jadi, kapan tepatnya kalian mulai pacaran?”

“Kalau dibilang dekat, sudah lama. Tapi kalau mulai pacaran, kira-kira sebulan yang lalu.”, jawab Sungmin-oppa seraya tersenyum manis. Senyum yang selalu kunantikan dan kurindukan. Namun, sayangnya bukan ditujukan untukku. “Tanggal tepatnya?”, tanya Taemin-ssi sembari tersenyum jail. “Mmmm——”

“Tanggal 12 Oktober.”, potong Luna yakin. “Omo~! Kau lupa tanggal dirimu dan Luna-ssi pacaran, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi kaget. “Ani! Ani! Aku hanya bingung antara mau menjawab tanggal aku menyatakan perasaanku pada Luna, atau tanggal ia memberikan jawabannya padaku.”, jawab Sungmin-oppa sembari tertawa.

“Ahhh~Kalau kau Taemin-ssi? Kau sudah berpacaran cukup lama ‘kan? Apakah kau ingat tanggal kau dan Sangrin-ssi berpacaran?”, tanya Eunri-ssi memancing. Taemin-ssi tersenyum malu, apalagi saat Eunri-ssi mengatakan nama yeoja-chingunya. “Tentu saja aku ingat. Aku dan Rin-baby pacaran dari 17 Februari. Tepat dihari ulang tahun Rin-baby.”

“Aigoo~ Kau memanggil Sangrin-ssi dengan ‘Rin-baby’?”

“Ya, Han Eunri! Sebenarnya kau mewawancarai diriku atau mereka sihh?”, tanya Taemin-ssi seraya cemberut. Yang lain kembali tertawa. “Ok! Setelah mewawancarai Lu-Min couple, sekarang kita akan beranjak mewawancarai Woo-Han couple, Wooyoung 2PM dan Soohan 1PM. Kalau kalian, dari kapan mulai pacaran?”

“Tanggal 1 November.”, ucapku dan Woo-oppa yang ternyata secara bersamaan. “Aigoo~ Kalian sangat kompak! Kalian berbeda berapa tahun?”, lanjut Eunri-ssi. “Umur Koreaku 20 tahun dan Woo-oppa 22 tahun. Kami berbeda 2 tahun.”, jawabku mantap. “Wow~ Cocok sekali…! Bagaimana dengan Lu-Min?”, gumam Taemin-ssi.

“Aku 25 tahun dan Luna 18 tahun. Kami berbeda 7 tahun.”, jawab Sungmin-oppa cepat. “Wow~ Perbandingan yang cukup jauh! Tapi, jaman sekarang ini, siapa yang mempedulikan perbandingan umur? Keurae, Sungmin-ssi?”, tanya Eunri-ssi dibalas anggukan Sungmin-oppa dan Luna.

“Kembali ke Woo-Han couple. Biasanya nama julukan kalian satu sama lain apa?”, tanya Taemin-ssi seraya tersenyum. “Yang pasti bukan baby, ‘kan?”, tanya Eunri-ssi, menyindir Taemin-ssi, dan semuanya kembali tertawa. “Aku memanggil Soohan dengan sebutan ‘Soo-ah’ dan Soohan memanggilku dengan sebutan ‘Woo-oppa’. Tidak ada panggilan yang special.”, jawab Wooyoung-oppa sembari menatapku dalam.

“Tidak pernah terpikir untuk mencari panggilan special?”

“Ani. Jujur, kami bukan tipe namja atau yeoja yang romantis. Dan lagi, lebih nyaman bagi kami untuk saling memanggil dengan nama biasa. Mungkin karena kami saling percaya, jadi kami tidak perlu terlalu menunjukan rasa sayang kami.”, jawabku seraya tersenyum. “Rasa sayang? Kenapa bukan rasa cinta?”, tanya Eunri-ssi mengoreksi perkataanku.

“Rasa sayang itu jauh lebih besar dari rasa cinta. Dan kami sudah ada di tahap saling menyayangi.”

Ucapan Wooyoung-oppa membuat semua penonton bertepuk tangan meriah. “Kalian memang pasangan yang luar biasa. Bagaimana dengan kalian Lu-Min couple?”

“Aku memanggil Sungmin-oppa dengan sebutan ‘Umin-oppa’ dan dia memanggilku dengan sebutan ‘Sun-ney’.”, jawab Luna dengan senyuman manisnya. Seketika itu juga, rohku seakan dibanting dengan keras ke tanah. Umin adalah panggilanku padanya. Dan, biasanya ia selalu memanggilku, Soo-ney. Kepanjangan dari ‘Soohan-honey’.

“Kenapa kalian saling memanggil dengan panggilan itu?”

“Umin adalah plesetan dari namaku. Dan perihal ‘Sun-ney’, karena nama asli Luna adalah Sunyeong, jadi aku menggabungkan nama ‘Sunyeong’ dan ‘Honey’ menjadi Sun-ney.”, jelas Sungmin seraya kembali tersenyum. “Aigoo~ Kalian memang adalah pasangan Agyeo…!”, puji Eunri-ssi dan mereka berdua tertawa kecil.

“Tampaknya pasangan Lu-Min dan Woo-Han sama-sama menarik! Sekarang langsung saja. Kalian berempat akan dibawa ke sebuah villa dan di-villa itu hanya ada satu kamar. Keperluan juga sudah tersedia disana. Kita lihat pasangan mana yang paling bisa saling membantu. Dan, ne, disana sudah ada rintangan yang harus kalian lewati berdua. Good luck~”, jelas Taemin-ssi dan kami berempat mengangguk.

 

___

 

“Nah, kita sudah sampai di villa. Kalian akan berada di villa sebelah sana dan kami berdua akan memantau kalian di villa di sebelahnya. Ingat, dalam waktu 3 hari, kalian akan tinggal disini. Uang dan semuanya sudah disiapkan disana. Jadi, kalian tidak boleh membawa uang sendiri. Kalian juga harus melakukan semua kegiatan sendiri. Arasso?”, jelas Eunri-ssi dan kami berempat mengangguk paham.

“Sekarang, kalian harus mengumpulkan dompet kalian terlebih dahulu.”, pinta Taemin-ssi seraya mengumpulkan semua dompet kami. “Ok, kalau begitu sampai ketemu 3 hari lagi~”

 

___

 

“Kecil sekali.”

“Kotor.”

“Lembap.”

“Menjijikan.”

Semua adalah komentar dari kami berempat saat memasuki villa ini. Tampaknya, villa ini sudah lama sekali tidak dibersihkan. “Sekarang bagaimana kalau kita melakukan pembagian pekerjaan?”, usul Wooyoung-oppa cepat. “Tapi, siapa yang akan menentuan pembagiannya? Tidak adil ‘kan kalau hanya kita sendiri yang menentukan?”, tanya Sungmin-oppa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kita lakukan permainan gunting-kertas-batu. Siapa yang kalah akan membersihkan tempat yang lebih jorok. Jika kulihat, yang paling jorok adalah toilet, lalu dapur, ruang makan, dan terakhir yang paling bersih adalah ruang tamu.”, kataku ikut memberi ide. “Nice idea~ Kajja, kita lakukan!”, seru Luna dengan bersemangat.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Aku menang!”, seru Wooyoung-oppa sembari melompat girang. “Sekarang, fighting Soo-ah!”, lanjut Woo-oppa, membuatku tersenyum.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Kali ini aku yang menang!”, teriak Luna kegirangan.

“Gunting… Kertas… Batu…!”

“Omo~ Aku kalah!”, gumamku seraya cemberut. “Yeah! Untung, aku sudah tau kebiasaanmu yang selalu mengangkat gunting tiap kali kita main.”, ucap Sungmin-oppa ceria, namun langsung terdiam sejenak setelah menyadari apa yang baru ia katakan. Tampaknya, Luna juga sudah tau kisahku dan Sungmin-oppa, dan Luna pun hanya ikut terdiam.

“Ahh~Kalau begitu, aku akan membersihkan toilet. Kau yang membersihkan ruang tamu saja ya, Soo-ah?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum canggung. “Andwae, oppa! Aku kalah, jadi aku harus mempertanggung jawabkannya.”, seruku lantang. “Tapi…aku tidak mau tangan lembutmu itu menjadi kotor saat terkena kotoran.”

“Bagaimana kalau kita berdua saling membantu?”, usulku dan Wooyoung-oppa akhirnya mengangguk setuju. Kita pun mulai melakukan kegiatan bersih-bersih. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya semua selesai juga. Kami berempat duduk di sofa dengan nafas tak beraturan. Rasa lelah mengerubungi kami.

“Ahh~lebih baik syuting seharian daripada membersihkan ini. Tulangku mau remuk rasanya.”, gumam Luna sembari memijat-mijat pinggangnya. “Jinjja-yo? Akan kupijat.”, seru Sungmin-oppa sembari mulai memijat-mijat bagian belakang tubuh Luna. “Ada yang pegal?”, tanya Woo-oppa perhatian. Aku menggeleng, “Karena ada oppa, rasa pegalku daritadi menjadi hilang. Terbayar oleh senyum imut oppa, tampaknya.”, jawabku dan Woo-oppa langsung mengacak rambutku gemas.

“Sekarang sudah mulai sore. Siapa yang akan menyiapkan makan?”, tanya Sungmin-oppa yang tampaknya sudah selesai memijat Luna. “Bagaimana kalau para yeoja memasak dan para namja membeli bahan-bahan di dapur?”, usul Luna dan kita pun mengangguk setuju.

 

&&&

*Namja*

“Apa yang harus kita beli?”

Wooyoung memikirkan sejenak pertanyaan Sungmin. “Sebaiknya kita membeli bahan yang murah saja. Uang yang disediakan sangat terbatas.”, ucapnya bijaksana dan Sungmin pun mengangguk setuju. “Kita…tidak boleh membawa kendaraan?”

Wooyoung mendengar perkataan Sungmin dan langsung menatap arah yang dituju Sungmin. Tempat dimana mobil baru saja diparkir, kosong. Dan mereka baru sadar, bahwa kunci mereka ada di dompet. Dan dompet itu sudah tersita. Terpaksa mereka berdua berjalan kaki menuju pasar terdekat.

Beberapa yeoja tampaknya mulai menyadari mereka bukan rakyat biasa. Tentu saja terlihat dari wajah khas mereka dan seluruh tubuh mereka yang lebih putih. “Sungmin-hyung, ottokhae?”, tanya Wooyoung, mulai ketakutan akan serangan para fans yang memang sangat liar. “Molla~ Lebih baik, kita pura-pura tidak tau saja.”, jawab Sungmin yang juga mulai ketakutan.

“Apakah oppa Wooyoung 2PM dan Sungmin Super Junior?!”

Pertanyaan seorang yeoja membuat mereka berdua sedikit terkejut. “Siapa itu? Kami tidak tau.”, jawab Sungmin, mengalihkan semua kemampuan aktingnya. “Oppa pasti bohong~ Kalian memang Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa ‘kan?”, kata yeoja itu seraya menatap mereka dengan seksama.

“Ani… Ani… Kau salah orang, nona.”

Wooyoung langsung menarik tangan Sungmin untuk berjalan cepat, meninggalkan yeoja yang kebingungan itu. “Omo~ Nyaris saja…”, gumam Sungmin sembari menarik nafas lega. “Sebaiknya, kita cepat, hyung. Jangan sampai kita dikenali.”

Sungmin mengangguk dan mereka berdua berjalan dengan cepat menuju pasar.

 

&&&

*Yeoja*

“Jadi, onnie…adalah mantan Sungmin-oppa?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Luna yang kurasa sangat nekat. “Ani. Aku bukan dan belum pernah menjadi yeoja-chingu Sungmin-oppa. Dia hanya sahabatku dari dulu.”, jawabku cepat. Itu memang kenyataan, dan aku juga tidak mau membuat hubungan Sungmin-oppa dan Luna hancur. Karena aku tidak mau Luna mengalami hal pahit yang pernah aku rasakan. Dan, aku juga percaya, bahwa Luna benar-benar sangat mencintai Sungmin-oppa dengan tulus hati.

Lebih baik semuanya tetap berjalan seperti ini. Ada pepatah pula bukan yang mengatakan bahwa : ‘Cinta tak harus memiliki’ dan ‘Cinta sejati adalah bila bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia’?

“Onnie…mencintai Sungmin-oppa?”, tanyanya lagi. Aku mengangguk, membuatnya kaget. “Ne, jujur, aku memang mencintainya. Sejak dulu sekali, malah. Namun, rasa cinta saja nampaknya tidak cukup. Dan, cintaku tampaknya bertepuk sebelah tangan.”, jawabku lagi, dengan sangat jujur. “Kenapa onnie merasa bahwa cinta onnie bertepuk sebelah tangan?”

Aku mengela nafas panjang, “Buktinya, Sungmin-oppa memilihmu dan bukan aku, ‘kan?”

Dia mengangguk paham.

“Jangan khawatir~ Aku tidak akan mengambil Sungmin-mu. Aku sudah punya Wooyoung-oppa. Meskipun aku belum mencintainya, aku akan berusaha. Dan aku sangat percaya bahwa ia adalah orang yang sangat baik. Dan yang terpenting…ia mencintaiku.”

Luna kembali mengangguk.

“Cinta memang susah dimengerti ya, onnie?”

Aku mengangguk, “Sangat.”

“Kami…datang~~~!”, teriakan dua orang namja membuat kami terkejut. “Kami membawa…kimchi! Hari ini…kita makan…nasi goreng…kimchi saja ya?”, tanya Sungmin-oppa seraya tersenyum ceria. “Boleh!”, seru Luna cepat. “Kenapa kalian kacau begitu?”, tanyaku bingung. “Kita harus…berlari dari…kejaran para fans.”, jawab Wooyoung-oppa dengan nafas tak beraturan.

“Omo~ Memang kalian tidak mengandarai mobil?”

Sungmin-oppa menjawab, “Tampaknya…mobil kita…sudah dibawa…oleh kru ‘Love Young Love’. Kunci mobil…kita ‘kan ada…di dompet yang tadi…kita kumpulkan.”

“Aigoo~ Kalian tampak sangat lelah. Sebaiknya, kalian istirahat dulu. Biar kami yang memasak. Keurae, Soo-onnie?”, tanya Luna sembari tersenyum ceria. Aku mengangguk, “Tentu saja. Nasi goreng kimchi akan datang sebentar lagi. Kajja, Luna, kita mulai memasak!”, ajakku dibalas anggukan matang darinya. Kami pergi ke dapur dan meninggalkan Sungmin-oppa dan Wooyoung-oppa.

“Apakah kau merasa bahwa mereka jadi…sedikit lebih dekat?”

Wooyoung mengangguk mendengar pertanyaan Sungmin. “Ne, hyung. Aku juga merasakan yang sama. Sedikit…aneh~”

 

___

 

“Nasi goreng kimchi sudah siap!”

“Wow~ Baunya sangat harum!”, seru Wooyoung-oppa seraya ingin mengambil piring. Namun, aku menarik tangannya cepat, “Eh~ Cuci tangan dulu, Woo-oppa!”

Dia tersenyum dan mengangguk, persis seperti anak kecil yang mematuhi aturan eomma-nya. “Kau juga, Umin-oppa!”, teriak Luna dan kita berdua tertawa bersama. “Sudah selesai! Sekarang boleh mulai makan ‘kan, Soo-eomma?”, tanya Wooyoung-oppa dengan tingkah imutnya. “Aigoo! Jadi kau menganggapku eomma-mu selama ini?”, tanyaku pura-pura cemberut. “Ani-yo, jagiya! Aku hanya bercanda.”

“Aku juga hanya bercanda, Baby-Woo. Dan jangan pernah lagi panggil aku jagiya! Kau tidak cocok memanggilku seperti itu.”, ucapku pelan. Wooyoung-oppa kembali tersenyum dan kembali mengangguk. Kita semua pun mulai makan. Setelah makan, kami berempat berpencar. Sungmin-oppa dan Luna memutuskan untuk duduk di sofa, sementara aku dan Wooyoung-oppa memutuskan untuk duduk di teras.

“Lihat ini~”

Aku melihat kearah Wooyoung-oppa dan terkejut, “Gitar?”

“Kau bisa main gitar, Woo-oppa?”, lanjutku tak percaya. Ia mengerucutkan mulutnya, “Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku?”, tanyanya seraya mengerucutkan mulutnya. Aku tertawa pelan, “Tentu saja aku sangat percaya, oppa.”

“Kalau begitu, aku akan menyanyikan dan memainkan sebuah lagu untukmu. Dan kau harus melengkapkan laguku di akhir. Ara?”

Aku mengangguk, meskipun tak sepenuhnya mengerti.

“Pyuhngsaeng gyuhte isseulge… I do~ Nuhl saranghaneun guhl… I do~ Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh… I do~ Nuhreul jikyuhjulge… My love~”

Ia berhenti dan menatapku lekat. Aku masih terkejut dengan semua ini. Benar-benar sesuatu yang tak pernah kukira. Ia menyanyikan lagu…Marry U?? Woo-oppa kembali mendentingkan gitarnya dan bersenandung, “Nawa gyuhrhonhaejullae?”

“I do~”

Suaraku yang merdu, mengalir begitu saja. Membuat Wooyoung-oppa terkejut dan tersenyum bahagia. Namun, aku lebih terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Kulihat, tetesan air mata mengalir dari matanya. “Oppa…”, gumamku, sembari menghapus sungai kecil dari matanya. “Kamsahamnida, Soo-ah. Joengmal kamsahamnia.”

Woo-oppa memelukku. Aku hanya terdiam dalam pelukannya. Ingin rasanya aku memukul diriku sendiri. Aku…sama sekali tak sadar saat menggumamkannya. Dan saat itu, aku malah membayangkan Sungmin-oppa yang memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu ‘Marry U’ untukku.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Kecerobohanku membuat kesalahan yang benar-benar fatal. Tidak mungkin ‘kan aku mengatakan kepada Wooyoung-oppa yang sebenarnya? Ia pasti akan sangat sedih. Dan aku bukan tipe orang yang bisa membuat orang lain bersedih. Lalu, sekarang bagaimana? Apakah aku harus benar-benar melupakan Sungmin-oppa?

 

___

 

Kupandang diriku di cermin. Sempurna.

Gaun putih panjang tersemat di tubuh kecilku. Tatanan rambutku dibuat indah dengan sanggul kecil yang juga putih. Make-up tipis menutupi wajah cantikku, membuatku tampak bersinar. Benar-benar sempurna. Setidaknya…sempurna dari luar. Namun, hatiku? Hanya diriku sendiri yang tau keadaan hatiku yang sudah hancur tak terkira.

Mungkin aku selalu tersenyum, menampakkan wajah palsuku kepada orang-orang. Namun, dalam hatiku, semuanya berbeda. Semuanya jauh dari perkiraan. Semuanya…tak sama.

Dan, dalam hitungan beberapa menit lagi, aku akan menjadi milik seseorang.

Siluet seorang lelaki yang berusia dua puluhan awal muncul dari balik pintu. Ia memakai jas putih yang juga tersemat indah di tubuhnya yang mungil. Perlahan, ia menatap dalam diriku lewat pandangan matanya yang polos. Benar-benar tak ada rasa salah dalam dirinya. Dan, ialah yang membuatku tetap berdiri kokoh. Senyumannya, kelembutannya, kepolosannya, tawanya, dan semua yang ada dalam dirinya membuatku tak mempunyai alasan untuk menyakitinya.

“Soo-ah, kau yakin dengan semua ini?”

Pertanyaan darinya membuatku terkejut. “Apa maksud oppa? Apakah gaun putih yang kupakai ini kurang meyakinkan?”, tanyaku seraya tersenyum manis. Dia tak menjawab, hanya melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. “Belum terlambat. Masih ada 5 menit lagi. Pergilah, Soo-ah. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.”

Ucapannya membuatku lebih terkejut. Tanpa kusadari, air mataku menetes.

“Apa maksudmu, oppa?”

Ia tersenyum, walaupun aku tau itu senyum yang amat terpaksa. “Aku tau selama ini kau masih sangat-sangat mencintai Sungmin-hyung. Dan, dari awal, sebenarnya aku tau rasa cintamu kepada Sungmin-hyung tak pernah berkurang sedikitpun. Aku juga tau bahwa kau tak pernah mencintaiku. Aku…hanya egois, Soo-ah. Aku sempat berpikir bahwa dengan memiliki ragamu saja sudah cukup…”

Wooyoung-oppa berhenti sebentar, menghela nafas, kemudian kembali berbicara, “…namun ternyata aku salah. Memang mestinya, seperti ini. Dan aku takkan bisa melawan takdir. ‘Cinta tak harus memiliki’ itu tampaknya adalah pepatah yang sangat benar.”

“Tapi, jika aku pergi, aku yang egois, oppa. Kau sangat baik padaku, tapi aku tak pernah membalas semua kebaikan dan ketulusanmu. Lagipula, Sungmin-oppa sudah bahagia bersama Luna.”, jawabku, masih tak percaya dengan ini semua. “Ani, Soohan-ah. Sungmin-hyung tidak mencintai Luna sama sekali. Ia juga mencintaimu. Sangat, malah. Namun keadaannya persis sepertimu…”

“…aku dan Luna adalah penggangu cinta kalian. Sekarang, Luna dan aku sudah sadar akan kesalahan kami. Dan, saatnya kalian untuk menebus dosa kami. Kalian harus bahagia, arasso? Sekarang, pergilah! Sungmin-hyung sudah menunggumu di taman belakang. Lewat pintu belakang saja!”

“Acara dimulai satu menit lagi!”

“Pergilah, Soohan-ah! Palli! Sebelum ini semua terlambat.”

Aku akhirnya mengangguk. Saat mau keluar, aku mengecup kening Wooyoung-oppa. “Kamsahamnida, oppa. Kamsahamnida. Mungkin jika di kehidupan ini, kita tak ditakdirkan bersama, aku berjanji dalam kehidupan selanjutnya, aku akan selalu membahagiakanmu.”

Aku mengeluarkan jari kelingkingku dan ia juga mengeluarkannya. Jari kelingking kita bertautan. “Saranghae~ Berbahagialah, Soohan-ah!”, ucapnya disambut anggukanku. Aku langsung berlari menuju Sungmin-oppa yang sudah ada di taman. Aku langsung memeluknya, dan ia balas memelukku. Air mataku berjatuhan.

“Saranghae-yo, Park Soohan. Mian, aku baru bisa mengatakannya sekarang.”

Aku tersenyum, “Na tto saranghae-yo, Lee Sungmin. Na tto mian, aku juga baru mengatakannya sekarang.”

 

___

 

Waktu demi waktu berjalan dengan cepat. Tak sadar, 20 tahun sudah berlalu. Setelah kejadian itu, kami berdua melarikan diri ke Jerman. Tak ada yang tau keadaan kami berdua. Hanya aku, Sungmin-oppa, Wooyoung-oppa, Luna, member Super Junior, dan member 1PM yang tau. Kami dikaruniai 2 anak. Lee Soomin dan Lee Sunghan. Dua malaikat yang selalu berhasil membuat kami tertawa.

Oh ya, apakah aku lupa menceritakan tadi bahwa Wooyoung-oppa dan Luna sudah menikah? Mereka dikaruniai satu malaikat kecil bernama Jang Sunwoo. Dan di umur Sunwoo yang baru menginjak 8 tahun, ia sudah tumbuh menjadi artis dengan banyak kelebihan. Pintar menari seperti appa-nya, dan pintar bernyanyi seperti eomma-nya.

Kami berempat masih sering berhubungan. Malah, kami berencana untuk menjodohkan anak kami nanti.

Dan, kami berdua sangat bahagia. Walaupun, kami bukan seorang member boyband atau girlband lagi, kami turut bahagia dalam usaha kecil-kecilan kami. Panti asuhan ‘Kasih’ yang kami ciptakan secara kecil-kecilan dari sisa penghasilan kami, sudah membuat kami lebih sukses.

Dan juga, kami mendirikan panti asuhan ini untuk mendedikasikan kasih, yang kami terima dari Wooyoung-oppa dan Luna. Karena tanpa kasih mereka, mungkin kami tidak akan pernah bersatu.

Member Super Junior juga sering mengunjungi kami secara diam-diam. Bahkan, yang memberi nama anak sulung kami, Lee Soomin, adalah Leeteuk-oppa. Dan yang memberi nama anak bungsu kami, Lee Sunghan, adalah Eunhyuk-oppa.

Hari-hariku saat ini selalu dipenuhi senyuman. Meskipun, selalu ada ganjalan, kami selalu percaya, bahwa kami bisa melewatinya.

Aku, Park Soohan, bersumpah akan mencintai Lee Sungmin, Lee Soomin, dan Lee Sunghan selamanya! ❤

~_~_~_~

 

Ottokhae, semua? Apakah ceritaku hidupku menarik? Bagi yang sudah membaca, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya… *bow*

Mian, rada aneh~~~ Komen please?? ^^

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Love, Affection, and Sincerety (Chapter Two)" (8)

  1. Livia_Hyunnie said:

    Uda slesai chris ? Ato masih ada lanjutannya ?? Haha
    Bagus” .. Nh crita buat gw merinding sndiri … Hehehehe

  2. aaaaaa~ chris !!! bikin saya tereak2 sendiri ini FF kkkk~ hehehe mian yah umin nya buat saya dulu XD

    eh eh kenapa yah saya malah pingin endingnya ama wooyoung ?? nyahahahaha *digebuk chris*

    chris ini bikinnya gak setengah hati kan ?? wkwkwkwkwkwk~ bagus sumpaaah bagus banget, alur nya keren, bahasanya apik, gak ada typo sama sekali 😀 saya saaaanggaaaaaat sukaa ^^bb

    eheh itu apa itu ?? Lee Taemin dan Rin baby ?? wkwkwkwkwk~ Wooyoung oppa tersiksa gara2…. saya ?? huaaaaaaa T-T akhirnya ama Luna ?? hiks >.< *ditabokin*

    Yeeeee saya punya anak (?) lagi (?) yang pertama Lee Seulmin terus Lee Sunghan sama Lee Soomin kkkk~ gumaweo chris *hugn'poppobanyak2* XD

    • Ne, onn~~~
      Mau Umin atau Uyoung sekali pun, ttp bikin sakit… #plakk
      Soalnya, kan onn dah menunggu lama, jd utk membayar.a (?), aku ksh ff yg bener2 dipikirin~ XD
      Gomawo onn~~~~~~! *hug*

  3. Livia_Hyunnie said:

    Onnie ! Comment mu panjang sekali .. Hahaha . #plak #ditabok gara” cerewet ..

  4. Annyeong saeng-ah 😀
    Wooooooow
    Yaaaaaaaah abis
    Itu itu
    Umin jahat
    Kasian luna 😥
    Itu itu *nunjuk taemin*
    Dia boong
    Masa sangrin udah tua dipanggilnya baby
    Wakakakakakak *ngabur*

  5. Livia : wkwkwkwk expresi kegembiraan nyahahaha XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: