Full of inspiration and story

Annyeong haseyo~ Mau membaca kisahku? Jika mau membacanya, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. ^^

Kisahku bukan kisah Cinderella ataupun kisah Snow White… Kisahku hanya kisah seorang yeoja biasa. Kuharap kalian tidak bosan~ 😀 Sekali lagi kamsahamnida!

 

___

 

Namaku Park Soohan. Usiaku tahun ini 19 tahun. Tak banyak keistimewaan dari diriku. Hanya satu yang istimewa. Sudah lama aku bersahabat dengan Super Junior Lee Sungmin. Mungkin sejak kelas 1 SD. Dan sepertinya aku tidak usah mendeskripiskan sosok fisik Lee Sungmin, bukan? Karena kalian pasti sudah tau jelas.

Lee Sungmin…

Saat pertama kali mengenalnya, ia adalah anak lelaki yang polos. Tak ada teman yang mau bermainnya dengannya. Alasannya sangat sepele. Dia adalah anak yang tergolong feminim. Ia juga lebih menyukai menonton drama sedih hingga menangis tersedu-sedu daripada bermain bola.

Waktu itu aku sedang duduk di ayunan. Menikmati hembusan angin seraya mengemut lollipop rasa stroberi. Lalu, sosoknya datang. Duduk di sebelahku dan ikut memainkan ayunan. Ia juga sedang mengemut lollipop. Tak lama, ia menatapku dan bertanya sesuatu. Dan pertanyaan itu sampai sekarang masih membuatku tertawa terbahak-bahak.

“Apakah kau tau dimana aku bisa membeli benda-benda bewarna pink?”

Tak sadar, setelah itu kami menjadi dekat dan sering mengobrol bersama. Entah karena apa, sekarang saat kami SMP, kami juga berada di sekolah yang sama. Dan kami menjadi semakin dekat. Duduk bersama. Makan bersama. Jalan bersama. Melakukan semuanya bersama. Mungkin karena selera kami yang sama dan kebiasaan kami yang juga sama.

Hubungan persahabatan kami semakin erat dan berhembus senada dengan angin. Entah sejak kapan, perasaanku berubah. Rasa cinta dalam hatiku mulai tumbuh. Dan…tak ada yang bisa mengingkari bahwa dia yang menanamnya. Saat kelas 3 SMP, sesaat sebelum kami lulus, dia mengatakan kepadaku bahwa ia ingin mencoba audisi di Seoul.

Tentu saja aku sangat mendukung keinginannya. Aku membawakan bekal untuknya, bahkan jika hari audisi itu tidak bertabrakan dengan Ujian Akhir, aku akan mengantarnya. Dengan setia, kutunggu dia dari sini. Dari Daegu, kota kecil yang menyimpan segudang kenangan.

Setelah cukup lama, ia mengirimiku surat. Surat singkat yang sangat berharga bagiku.

 

Dear, Park Soohan

Aku lulus audisi! Aku akan masuk ke sebuah boy-band bernama Super Junior ‘05!!! Dan…aku akan tinggal di Seoul. Mungkin kita tidak akan bisa bertemu dalam waktu yang belum bisa kupastikan. Tapi aku janji, Soo-ney! Aku akan berlatih dengan keras agar bisa debut dan membuatmu bangga. Tunggu aku, Soo-ney!

~ Lee Sungmin, your very very bestfriend :D~

 

Dalam hati aku berjanji, aku akan menunggunya sepenuh hati…

Waktu demi waktu bergulir. Sekarang aku berada di SMA. Mencapai kelulusan untuk cepat-cepat pergi ke Seoul. Ya, aku akan menjadi artis! Aku akan menyusulnya. Aku akan mewujudkan mimpi kami!

Saat sedang berjalan kearah sekolah yang terbilang dekat, tak sengaja mataku menatap beberapa majalah yang sedang dijajarkan. Dan aku terpana. Aku melihat fotonya berada di depan sampul majalah! Dengan cepat, aku membeli salah satu dari majalah itu. Di kelas, aku membacanya diam-diam.

Ternyata, ia debut bersama 11 temannya yang lain. Dan difoto itu, ia nampak sangat senang. Karena alasan itu, aku turut senang. Kupeluk erat-erat majalah itu. Membayangkan dia berada disini dan tersenyum manis padaku. Meskipun, aku tau ini semua hanya harapan kosong.

Dan itu terus berulang kulakukan. Saat teman-temanku menanyakan, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku fans berat seorang Lee Sungmin. Kadang ada disaat aku sangat-sangat merindukannya. Dulu kami hampir melakukan semuanya bersama, dan sekarang ia seperti pergi tiba-tiba, menghilang dengan hanya meninggalkan jejak di hatiku.

Tak sadar, aku telah lulus SMA. Dan nilaiku cukup memukau. Sekarang lah saat yang tepat untuk pergi ke Seoul. Cukup berat memang meninggalkan orang tua, namun aku juga sangat merindukannya. Dengan waktu lumayan singkat, aku masuk JYP Entertainment. Sengaja aku tidak memberitahukan hal ini dulu padanya. Biar menjadi kejutan, pikirku.

Satu tahun kemudian, aku debut bersama 4 orang lainnya. Posisiku sebagai main-dance dan sub-vocal. Aku juga adalah magnae di girl-band yang bernama 1PM ini. Memang tampaknya group-ku adalah group versi yeoja dari 2PM. Cukup banyak orang yang mulai mengidolakan 1PM.

Namun yang membahagiakan, dalam suatu acara musik, ia menghampiri ruang rias 1PM dan bermaksud menemuiku. Dan…dia turut senang dengan keberhasilanku. Betapa hatiku berbunga-bunga saat itu. Ia juga mengajakku untuk berkenalan dengan ke-12 member Super Junior lainnya.

Sejak saat itu, kami berdua kembali dekat. Melalui hari-hari kami yang seperti waktu dulu kami lalui. Hanya saja sekarang kami bukan dua orang yang dijauhi. Kami adalah seorang entertainer yang cukup terkenal. Dan kami juga punya masing-masing tanggung jawab sebagai seorang member. Ia pada Super Junior, dan aku pada 1PM.

Sebulan berikutnya, mimpi buruk mulai berada diatas kami. Karena kedekatan kami yang terbilang ‘cukup’ dekat, wartawan mulai bisa menciumnya dan menulis berita bahwa kami berdua berpacaran. ‘Super Junior Lee Sungmin dan 1PM Park Soohan Berpacaran Dari Dulu…?’ Begitulah judul-judul yang berada di sampul berita dan majalah. Dengan foto kami berdua saat sedang karyawisata di Pulau Jeju kelas 1 SMP, yang entah bisa para wartawan dapatkan darimana.

Tentu saja, manager kami marah dan menyuruh kami meluruskan semua yang terjadi. Dan betapa sakitnya hatiku, saat ia dengan lantangnya mengucapkan: “Aku dan Soohan-ssi tidak ada apa-apa. Kami hanya bersahabat, itu saja. Aku sama sekali tidak punya perasaan padanya. Begitupun dia padaku. Kami tak lebih dari seorang teman.”

Ingin sekali mengatakan, aku benar-benar punya perasaan padanya. Lebih dari seorang teman. Aku mencintainya tulus dari hatiku. Seperti kapas yang melayang di udara. Putih dan bersih. Belum ternoda. Namun, belum pasti nasibnya. Berharap akan mendarat di tempat nyaman, tapi siapa yang tau jika angin menerbangkannya?

 

___

 

Beberapa bulan ini, kami tidak pernah berhubungan lagi. Kira-kira sejak ia mengutarakan yang sebenarnya kepada pers. Tak kupungkiri, aku selalu menunggu pesan darinya. Namun, hal itu tak pernah ada. Kadang aku menontonnya lewat televisi di dorm seraya menangis dengan keras.

Para member yang lain sudah tau apa yang terjadi sebenarnya padaku. Dan mereka hanya bisa menghiburku. Tentunya tak membawa hasil yang baik padaku. Aku tetap sama. Seperti yeoja idiot yang selalu menunggu pangerannya datang. Walaupun aku tau di depanku, ada jurang yang sangat susah untuk dilewati.

Beberapa bulan kemudian, Sungra-onnie, leader kami mengatakan bahwa Lee Sungmin akan debut menjadi seorang aktor. Betapa senangnya hatiku saat itu. Keinginannya dari dulu akhirnya bisa tercapai. Saat drama itu pertama main di televisi, aku dan keempat member 1PM lainnya menonton. Sepertinya lebih tepat ‘aku memaksa keempat member lainnya untuk menonton bersamaku’.

Melihatnya berakting tertawa, menangis, tersenyum, dan menderita membuat gumpalan air mata kembali membrontak turun dari mataku. Aku semakin sadar kami terperangkap dalam sebuah penjara yang sama, namun tak boleh mendekat atau menyentuh satu sama lain. Hanya bisa saling melihat dari jauh. Atau mungkin…hanya aku yang melihatnya?

 

___

 

1PM baru merilis album barunya yang semakin meledak. Dan semuanya turut senang untuk itu. Termasuk member 2PM yang adalah selaku sunbae kami. Mereka ikut merayakan pesta kecil-kecilan yang dilaksanakan di rumah Jaesa-onnie, salah satu main-vocal di 1PM.

Di tengah-tengah pesta, tiba-tiba aku merasa pusing, dan aku pun memutuskan untuk beranjak ke balkon. Dengan gaun panjang elegan yang menutupi tubuh rampingku serta rambut ikal panjang yang diikat ke belakang, aku memandangi bintang-bintang di langit yang gelap. Seketika mengingat ucapan namja yang mengisi dua pertiga kehidupanku.

 

[Flashback]

 

“Lihat bintang itu yang paling terang itu? Itu adalah bintang Sirius. Jika kau merindukanku, lihatlah bintang itu, dan rasakanlah bahwa aku sedang tersenyum padamu.”, Ia berbicara seraya tersenyum manis. Matanya yang bersinar terang menatapku dalam.

“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana kalau kau yang merindukanku?”, Aku bertanya dengan polos, dan ia tertawa, “Aku juga akan melihat bintang itu dan membayangkan nae Soo-ney sedang memelukku.”, jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya. “Mwo-ya?! Kau sangat genit, Lee Sungmin!”

“Tapi kau menginginkannya ‘kan, Park Soohan?”

Pertanyaan itu sontak membuat pipiku merona. “Awas kau ya, Umin!!”

___

 

Tak sadar, aku tersenyum saat mengingat memori yang terulang di otakku. Bersamanya. Yah, hanya dengan bersamanya, apapun akan menjadi memori indah. Karena seburuk apapun itu, asalkan dia ada di sampingku, setengah dari bebanku seakan terangkat. Mataku menatap bintang yang paling terang itu. Sirius. Itu katanya.

Dan untuk sedetik, aku merasakan bahwa ia sedang tersenyum padaku. Tak logis, memang. Namun, aku menikmati apa yang aku rasakan itu. Bahkan ikut tersenyum padanya.

“Sedang apa kau disini?”

Suara seorang namja membuatku terkejut dan menoleh.

“Wooyoung-sunbaenim?”

Namja tersebut menghampiri dan berdiri di sebelahku. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Soohan-ssi.”, katanya sembari menatapku. “Ahh~ye. Aku…hanya bosan di dalam.”, jawabku sedikit gugup. Dia tersenyum kecil dan memandang langit, “Ne. Memang di dalam sangat membosankan. Dan tampaknya disini lebih menyenangkan. Keurae, Soohan-ssi?”

“Ne, sunbaenim.”

“Jangan memanggilku sunbaenim. Panggil aku Woo-oppa saja. Dan aku akan memanggilmu Soohan-ah. Boleh ‘kan?”, tanyanya sembari tersenyum lembut. Membuatku semakin gugup, “Tentu saja, Wooyoung-sun—ah, ani! Maksudku Woo-oppa.”

Dia tertawa kecil, “Jangan canggung seperti itu, Soo-ah. Aku tak menyangka dibalik kemampuan dance-mu yang sangat daebak, kau juga adalah yeoja yang pemalu.”

Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan sunbae-ku di JYP Ent ini. Yah, aku memang berubah menjadi yeoja yang diam dan pemalu setelah dia pergi ke Seoul untuk melakukan audisi. Karena sejak dan mulai saat itu, sebagian dari hidupku terasa diambil secara paksa. “Kau juga sering bengong, rupanya.”

Tak ada yang bisa kulakukan selain kembali tersenyum mendengar perkataan Wooyoung-oppa. “Kau lihat bintang yang paling terang itu? Namanya—”

“—sirius?”

Dia mengangguk mendengar jawabanku. “Jika kau melihat bintang itu…anggap saja aku sedang tersenyum padamu.”

Air mata sudah tak bisa kubendung lagi. Akhirnya turun membentuk sungai-sungai kecil yang mengaliri wajahku. Membuat sebagian make-up tebal yang dipakaikan, mulai meluntur. Perkataan Wooyoung-oppa benar-benar mirip dengan perkataannya. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain menangis.

“Kau…kenapa, Soohan-ah?”

Aku tak menjawab. Bukan tak mau, tapi derasnya air mata yang mengalir, membuatku susah untuk mengatakan sesuatu. Wooyoung-oppa memelukku. Membuatku kaget, memang. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkannya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Tubuhku benar-benar tak sanggup untuk melawan saat ini.

 

___

 

Aku membuka mata. Ini…adalah kamarku di dorm 1PM. Tetapi, kenapa aku bisa ada disini? “Sudah sadar, Soo-ah? Syukurlah!”, seru Hanyoung-onnie sembari tersenyum senang. “Kenapa…aku ada disini?”, tanyaku, masih belum mengingat kejadian kemarin. “Kemarin kau pingsan, dan Wooyoung-sunbae yang membawamu kesini.”, jelas Hwangki-onnie.

Penjelasan Hwangki-onnie seperti membuka kembali pintu memoriku. Sekarang aku bisa mengingat dengan jelas kejadian kemarin. Kejadian yang sangat memalukan bagiku. “Bagaimana kau bisa ada di balkon bersama Wooyoung-ssi?”, tanya Sungra-onnie dengan pandangan penasaran. Yang lain mengangguk setuju dengan pertanyaan Sungra-onnie.

“Aku hanya sedikit pusing, jadi aku beranjak ke balkon. Lalu, Woo-oppa datang dan kami mengobrol sebentar sebelum aku menangis lalu pingsan.”, jelasku sesingkat mungkin. Para onnie ber-ohhh ria mendengar penjelasanku. “Tunggu! Tadi kau memanggil Wooyoung-ssi dengan ‘Woo-oppa’?”

Semuanya memandang Hanyoung-onnie dan kemudian memandangku. “Woo-oppa menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.”, jawabku dengan cepat.

“Tapi, kenapa kau menangis?”

Pertanyaan Jaesa-onnie membuat yang lain kembali menatapku penasaran. “Jangan bilang kau teringat pada Sungmin-sunbae…”, ucap Hwangki-onnie dan aku hanya bisa mengangguk seraya menunduk. “Lebih baik kau dengan Wooyoung daripada dengan si pabo itu.”

“Namanya bukan si pabo, Sungra-onnie! Namanya Lee Sungmin!”

“Aku tau, Park Soohan. Tapi dia memang sangat pabo!”, seru Sungra-onnie lagi, dibalas anggukan para member lainnya. “Annyeong~ Boleh aku masuk?”, tanya orang dari luar kamar dorm-ku. “Pintunya tidak terkunci!”, sahut Jaesa-onnie dan orang itu masuk ke kamarku. “Bagaimana keadaanmu, Soo-ah? Sudah baikan?”

“Wooyoung-oppa…?”

Sungra-onnie langsung memotong, “Kami berempat masih ada kerjaan. Kami pergi dulu ya~”, katanya dan keempat onnie-ku langsung bergegas pergi. Dan tinggalah aku bersama Wooyoung-oppa sendiri. Ia menghampiriku dengan canggung dan memberikan sebuket bunga untukku. “Kau suka bunga mawar, bukan?”

“Tapi…bagaimana oppa tau?”

Wooyoung-oppa tersenyum mendengar pertanyaanku, “Karena aku sudah bertanya pada hatimu.”

“Maksud…oppa?”, tanyaku lagi dan Wooyoung-oppa kembali tersenyum. “Maukah kau menjadi pendampingku, Park Soohan?”

“Mworago?”, tanyaku kaget. “Sejak kau masuk JYP, Soo-ah. Sejak kau masuk JYP, aku sudah mulai mencintaimu. Kupikir ini hanya karena terpesona melihat kecantikan dan bakat dari dalam dirimu, namun aku salah. Park Soohan telah benar-benar mencuri hati Jang Wooyoung.”, ucapnya seraya tersenyum.

Aku masih terpaku. Dia memberikan ekspresi menunggu.

“Jadi…?”

“Ngg…boleh meminta waktu, oppa?”

Wooyoung-oppa kembali tersenyum, memamerkan lekuk giginya yang putih dan unik. “Tentu saja. Kapanpun kau mau, Park Soohan. Dan—aku masih ada jadwal dengan 2PM, jadi…aku harus pergi sekarang. Annyeong, Soo-ah~”, pamitnya sembari mendekat ke pintu. Ia berhenti saat memegang gagang pintu, “Pikirkanlah lagi. Ok?”, lalu bergegas keluar.

Tak lama, keempat onnie kembali masuk dan menghampiriku. Aku masih terpaku di tempat. Tidak tau ingin berbuat apa. “Omo! Kau baru ditembak Wooyoung-ssi, Soohan!!!”, teriak Sungra-onnie girang. “Kau sangat beruntung!”, lanjut Jaesa-onnie. Aku mengernyitkan dahi, “Darimana kalian tau?”

“Kita tak sengaja mendengar pembicaraan kalian.”, jawab Hwangki-onnie dengan memberi penekanan pada kata ‘tak sengaja’. “Jadi, ottokhae? Kau menerimanya?”, tanya Hanyoung-onnie penasaran. “Aku meminta waktu terlebih dahulu.”, jawabku pelan.

“Mwo-ya?! Keundae, wae? Apakah lagi-lagi karena si pabo itu?”

“Sudah kubilang, namanya Lee Sungmin, Sungra onnie~ Bukan si pabo.”, ralatku pelan. “Terima saja Wooyoung, Soohan-ah. Setidaknya, ia mencintaimu. Buat apa kau mendambakan sebuah berlian yang ada di tepi jurang, sedangkan ada emas yang tergeletak di pangkuanmu, Soo-ah!”, ucap Jaesa-onnie bijak. Yang lain mengangguk mendengar perkataan Jaesa-onnie yang memang masuk di akal.

“Akan kupertimbangkan, onnie. Kamsahamnida.”

 

___

 

Hari-hari kedepanku masih sama. Suram dan hampa. Hanya keempat member 1PM lainnya yang bisa membuatku tersenyum, walaupun itu senyum terpaksa sekalipun. Lee Sungmin masih melakukan aktifitasnya dengan Super Junior. Kadang kami berada di satu acara yang sama, melakukan game-show bersama, ataupun acara-acara lainnya. Namun, kami hanya diam. Tak ada yang keluar dari mulut kami. Kalau ada, itu hanya karena tuntutan acara itu sendiri.

Saat sedang berjalan melangkah pulang ke dorm 1PM, aku mendengar beberapa kru sedang berbicara dengan suara bisikan, namun cukup jelas terdengar olehku. “Apa kau tau? Sungmin SuJu sangat dekat dengan Luna f(x). Tampaknya mereka sedang berkencan.”, bisik salah satu dari kru itu. “Jinjja? Mereka memang sangat cocok. Sungmin-ssi sangat tampan dan Luna-ssi sangat cantik.

Hatiku seketika hancur mendengarnya.

Gelombang air mata kembali mencoba menerpaku. Namun, aku mencoba menahannya, dan langsung bergegas ke mobil dimana semua member sudah berkumpul. Disana aku langsung menangis. Apakah aku memang cengeng? Atau kah memang cinta begitu sulit untuk dihadapi?

 

___

 

Pagi ini tetap sama. Hanya kekelaman sekarang semakin menyelimutiku. Aku tak bisa berpaling, juga tidak bisa menutup mata. Berita kedekatan antara dia dan Luna f(x) makin menjadi-jadi. Mereka berdua memang belum membenarkan pemberitaan para media, namun mereka juga tidak mengelak dari pemberitaan itu. Dan sekarang aku hanya bisa disini. Memantau mereka dari balik layar kaca.

Keempat member lain sedang ada keperluan masing-masing. Jadi, aku terpaksa melakukan semuanya sendiri hari ini. Suara bel dorm bergema ringan, memecah kesunyian yang sempat aku nikmati. Dalam hati aku mengumpat kesal kepada penggangu yang menekan bel dorm tanpa henti ini. Namun, setelah melihat siapa yang datang, aku memutuskan untuk menahan diriku.

“Annyeong haseyo~ Ada kiriman bunga mawar untukmu!”, seru seorang namja bertopi seraya memberikan sebuket bunga mawar. “Dari siapa?”, tanyaku dengan ekspresi santai. “Dari pangeran yang baru turun dari langit.”, jawabnya seraya tersenyum dan membuka topinya. “Woo…young-oppa?”

Yang dipanggil tersenyum dan mengacak rambutku. “Jadi…bagaimana keputusanmu?”, tanya Woo-oppa dengan cepat, langsung pada tujuan.

Jujur, aku belum pernah memikirkan hal itu lagi, apalagi setelah tau kedekatan pujaan hatiku dengan Luna f(x). “Sungmin-hyung sudah bersama Luna. Apakah kau masih perlu menunggunya? Ia tak menunggumu atau memperhatikanmu sama sekali. Untuk apa kau mencintai seseorang yang tidak mengharapkanmu?”

“Bagaimana…oppa tau kalau aku…mencintai Sungmin-oppa?”

Wooyoung-oppa tersenyum perih dan kembali mengacak rambutku, “Hatimu yang memberitahu hatiku.”, katanya lembut. Aku mulai berpikir keras. Perkataan Wooyoung-oppa dan perkataan Jaesa-onnie waktu lalu, terus bergema dalam hatiku.

“Buat apa kau mendambakan sebuah berlian yang ada di tepi jurang, sedangkan ada emas yang tergeletak di pangkuanmu, Soo-ah!”

“Sungmin-hyung sudah bersama Luna. Apakah kau masih perlu menunggunya? Ia tak menunggumu atau memperhatikanmu sama sekali. Untuk apa kau mencintai seseorang yang tidak mengharapkanmu?”

Dan, perkataan mereka sialnya benar. Apakah sekarang aku harus merelakannya dan menerima Wooyoung-oppa, namja yang selalu ada untukku?

“Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, Soo-ah. Aku akan berusaha membuat hatimu bisa menerimaku sepenuh hati. Setidaknya, akan lebih baik daripada hanya menunggu Sungmin-hyung dengan harapan kosong, ‘kan?”

Ahh, perkataannya lagi-lagi benar.

“Ne, Wooyoung-oppa. Aku menerimamu.”, kataku seraya berusaha tersenyum, “Jujur, aku memang belum mencintaimu, tapi aku akan berusaha juga untuk mulai mencintaimu.”

Wooyoung-oppa tersenyum cerah. “Kamsahamnida, Soo-ah. Neomu kamsahamnida. Kajja~!”, seru Woo-oppa sembari menarikku. “Mau kemana kita?”, tanyaku yang kaget. “Kita akan ke gedung JYP!”, seru Wooyoung-oppa lagi. “Untuk apa?”

“Untuk meminta izin mulai berpacaran!”

Aku tersenyum melihat namja yang berbeda 2 tahun dariku ini. Senyum tulus pertama yang aku tunjukkan setelah ia pergi. Di gedung JYP, Wooyoung-oppa memberitahu status baru kita kepada setiap orang. Dan aku hanya bisa kembali tersenyum mendengarnya. Bahkan, Park Jinyoung-songsaenim, pemilik JYP Entertainment menyetujuinya.

“Sekarang, kajja kita memulai kencan pertama kita!”

“Kencan?”

“Ne. Memang kenapa?”, tanya Wooyoung-oppa sembari tersenyum. “Aku…belum pernah berkencan seumur hidupku.”, jawabku jujur. “Err—aku juga.”, balasnya hingga membuatku terkejut. “Oppa pasti bohong! Mana mungkin oppa belum punya yeoja-chingu hingga sekarang.”

Woo-oppa tersenyum malu, “Yahhh~memang banyak yang tak percaya.”

Kami memilih taman ria sebagai tempat pertama kami berkencan. Alasannya sederhana. Kami tidak pergi ke taman ria untuk waktu yang sudah cukup lama. Saat kami bergegas turun dari mobil, aku menarik tangan Wooyoung-oppa.

“Oppa, apakah tidak apa-apa jika kita jalan ke taman ria tanpa memakai penyamaran?”

Woo-oppa tersenyum, “Memang kenapa? Kau malu kalau kita ketahuan jalan berdua?”, tanyanya cepat. “Tentu saja tidak! Malah kebanggaan bagiku bisa berjalan dengan oppa. Tapi…pasti kita akan masuk berita dan digosipkan berpacaran.”, kataku pelan. “Memang kita pacaran ‘kan? Daripada kita merahasiakan hubungan kita, lebih baik kita menceritakannya dari awal.”

Aku mengangguk mendengar jawaban Wooyoung-oppa. Kami pun mulai memasuki taman ria. Bermain dan tertawa bersama. Banyak pengunjung yang menyadari kami berdua, dan akhirnya memfoto dan meminta tanda tangan kami. Dan, jujur, aku sangat bahagia hari ini. Setelah mulai sore, kami duduk di sebuah bangku.

“Hari ini kau bahagia, Soo-ah?”

“Tentu saja, Woo-oppa. Sangat bahagia.”

Wooyoung-oppa tersenyum, “Aku juga sangat bahagia. Ini hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Bisa berkencan dengan yeoja yang sangat kucintai.”, ucapnya sembari menyenderkan kepalanya di bahuku. “Kau sedang berkata gombal, Woo-oppa.”, kataku seraya mengerucutkan mulutku.

“Ani! Seorang Jang Wooyoung tak pernah berkata gombal.”

Kami berdua kembali tertawa bersama.

Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang. Di dorm, kami berdua langsung dikerebuti para member 1PM dan 2PM yang sedang ada di dorm 1PM. “Jadi, benar kalian pacaran?”, tanya Taecyeon-oppa dengan penasaran. “Tau darimana, Taec-hyung?”, tanya Wooyoung-oppa kaget. “Dari televisi. Katanya kalian habis dari taman ria dan ketika Jinyoung-songsaenim ditanya, ia menjawab kalau kalian memang baru pacaran.”

“Ternyata, berita memang cepat sekali berhembus.”

Komentar dari Wooyoung-oppa membuat yang lain membelalakan matanya. “Jadi, kalian benar-benar pacaran?!”, tanya Sungra-onnie terkejut. “Memang kenapa kalau iya, onnie?”, tanyaku, mencoba keluar dari diam yang daritadi kuciptakan. “Omona! Aku tak percaya ini. Akhirnya, uri Wooyoung punya pacar! Dan kenapa harus kau yang menjadi pacarnya, Soohan-ssi? Aku sangat tidak rela~~~”

Perkataan Junsu-oppa membuat yang lain tertawa.

“Lalu, bagaimana dengan Sungmin-oppa?”

Pertanyaan Hwangki-onnie sontak membuat semua mata memandangnya dan aku secara bergantian. Para member 1PM yang lain hanya bisa menyesali perkataan Hwangki-onnie barusan. “Memang kenapa dengan Sungmin-hyung?”, tanya Junho-oppa padaku. Member 2PM yang lain juga tampak penasaran.

“Aku——-”

“Soohan mencintai Sungmin-hyung. Dan ia masih belum bisa melupakannya hingga sekarang. Tapi aku akan berusaha agar Soohan bisa melupakan Sungmin-hyung. Meskipun, harus selamanya.”, ucap Wooyoung-oppa lantang dengan santai, seperti tak ada rasa kesedihan dari raut wajahnya. Namun, tentu saja semua orang tau bahwa hatinya sedang merasakan sakit yang tak terkira.

Mau menangis mendengarnya. Tampaknya cinta Wooyoung-oppa padaku, memang sangat besar. “Ne, oppa. Dan usahamu tampaknya akan segera berhasil. Baru hari ini kita pacaran, tapi aku sudah bisa melupakan Sungmin-oppa sebesar 10 persen. Aku yakin, sebentar lagi aku akan melupakan Sungmin-oppa untuk selamanya.”

“Jinjja-yo?!”

Wooyoung-oppa bertanya dengan mata yang berbinar-binar. Persis seperti anak yang baru mendapat permen. “Kalau begitu, kami pulang dulu ya. Annyeong, Sungra-noona, Jaesa-noona, Hanyoung-noona, Hwangki-noona, dan Soohan-ssi~”, pamit magnae 2PM, Chansung-oppa. “Annyeong, Junsu-oppa, Nickhun-oppa, Taecyeon-oppa, Wooyoung-ssi, Junsu-ssi, dan Chansung-ssi~”, balas Hanyoung-onnie ramah.

“Wooyoung-ah~”, sahut Taecyeon-oppa sembari mendorong Wooyoung ke belakang. Wooyoung-oppa maju perlahan tepat di depanku dan menunduk malu. Lalu, dengan cepat mencium pipiku, dan langsung keluar dari dorm 1PM. Tak sadar, semburat merah tampak di pipiku. Yang lain tertawa melihat tingkah kami.

“Aku akan ke kamarku dulu, onnie.”

Yang lain mengangguk mendengar perkataanku. Di kamar, aku kembali menangis. Dengan cepat, aku menulis di selembar kertas.

 

Mianhamnida, Wooyoung-oppa~

Aku terpaksa membohongimu…

Sebenarnya, tak sepersen pun aku bisa melupakan Sungmin-oppa…

Bayangannya terlalu besar untuk kutepis…

Senyumannya terlalu manis untuk kulupakan…

Sifatnya terlalu baik untuk kutolak…

Dan mungkin selamanya aku akan terus mencintai Sungmin-oppa…

Aku tau aku bodoh…

Namun, lagi-lagi aku lebih memilih menjadi yeoja pabo…

 

-Park Soohan-


Kulipat kertas itu dan kurobek-robek. Kubuang ke tempat sampah yang ada di sebelah kasurku. Memang ini yang selalu kulakukan saat sedang sedih. Menumpahkan semuanya kepada tulisan. Dan, hatiku menjadi lebih lega. Setidaknya, untuk saat ini. Dengan cepat, aku memejamkan mataku. Berharap bahwa di hari esok, semua akan secerah mentari pagi.

 

TBC

 

~!~

 

Ottokhae, Fira-onn?? Mian, sudah menunggu lama…

Suka?

Sebenarnya, rada berat nulis cerita ini, soalnya Sungmin-oppa ama Wooyoung-oppa ada disini~ *nangis*

Lanjuuutannya sebentar lagi ya~ Ditunggu saja! *chu*

 

Advertisements

Comments on: "Fan Fiction : ~Love, Affection, and Sincerety~ (Chapter One)" (12)

  1. Livia_Hyunnie said:

    Aiaaaa … Itu park soohan fira onnie ?? Hahaha … Wooyoung agresif nh baru jadian uda ngajak kencan … Wkwkwkwkkw .. 1PM itu cuman boongan kan ?? Hihihi XP

  2. Livia_Hyunnie said:

    Oh ya .. Happy for love part 6 dong …

  3. Bagus

  4. CHRIS !!! Mianhe yah sms gak dibls gak punya pulsa semalem ,..
    Gilaaa saya bacanya sedih, babo bgt saya T.T
    aduuuh gak nyangka ama wooyoung oppa nyahahaha, umin oppa hueee srooot ,..
    Wuaaah saya punya GB huaaaa *terbang ke pohon (?)
    gak sabar lanjutannya XD
    DITUNGGU ,..

  5. ciahhh..annyeong chingu it’s me @yolanda..^__^ wahh,sungmin sungguh teganya,teganya,teganya dirimu…*lohh kok jd nyanyi?!*abaikan*nice story chingu,walau sedihh..hiks-hiks..lanjut dahh chingu..

  6. Wahahahaha
    Waktu baca itu aku lagi galau
    Aku patah hati nih
    Makanya aku tambah ngenes baca ff ini
    Aku nangis2 >,< *peluk erat sm+suami+anak2*
    Masa si itu balikan ama mantannya
    Huaaaaa *babo curhat di sini -_-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: