Full of inspiration and story

“Mati kau!”

Seorang namja muda dengan jas hitamnya berjalan perlahan. Ratusan pengawalnya berdiri di depan, dengan pistol di genggaman tangan mereka. “Tembak!”, seru namja muda itu dan ratusan suara dentuman memecah kesunyian. Ratusan orang yang berada di dalam bangunan megah terjatuh tak bernyawa.

Tak lama, dua orang dari dalam bangunan itu keluar dengan tergesa-gesa. “Apa yang kau lakukan, Kim Ye-sung?! Apakah kau sudah gila??!!”, teriak seorang yeoja, salah satu dari orang itu. Sedangkan satunya lagi hanya memandang namja di depannya tak percaya. Kim Ye-sung menyeringai kecil, “Ne, aku sudah gila! Aku gila karenamu, Cho Sang-rin!”

Kim Ye-sung menoleh ke pengawalnya, “Bawa mereka berdua dalam situasi apapun! Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup! Dan, jangan lukai yeoja itu! Jika dia tergores sedikit saja, kalian akan menjadi taruhannya. Arasso?!”

Para pengawalnya mengangguk patuh dan langsung menangkap mereka berdua. Mereka berdua melawan, apalagi sang yeoja yang memang sangat jago dalam berbagai bela diri. Namun, tentu saja mereka kalah jumlah oleh ratusan pengawal itu.

Mereka berdua dibawa ke dalam satu ruangan kecil yang gelap dan lembap. Namja satunya sudah babak belur tak karuan. Sedangkan sang yeoja tidak tergores apapun, seperti yang Tuan Muda Kim Ye-sung itu perintahkan. “Si-won~ah, gwenchana-yo? Si-wonnie!!!”, seru Sang-rin sembari memeluk namja itu.

“Sang…rin~ya, apa…kita…salah?”

“Ani, Si-wonnie~! Kita tidak salah. Ye-sung saja yang memang sudah gila.”

Si-won membuka matanya dengan susah payah, “Ye-sung…tidak…gila, Cho Sang-rin! Dia hanya…mencintaimu.”


#$#$#
Sahabat…
Suatu ikatan yang membuatmu bahagia…
Membuatmu selalu tersenyum…
Membuatmu selalu tertawa…


#$#$#

 

“Annyeong… Boleh kita berkenalan?”

Seorang anak lelaki berusia sekitar 11 tahun berdiri dengan tegap. Pakaiannya cukup tebal karena memang udara sedang sangat dingin. Pandangannya tertuju kepada dua orang—anak lelaki dan perempuan yang kira-kira berusia 10 tahun dan sedang duduk di bangku taman. Sang anak lelaki yang sedang duduk itu tersenyum kecil, “Tentu saja, Si-won imnida.”
“Jeongmal-yo?! Gomawo, Ye-sung imnida.”, balas anak lelaki yang sedang berdiri itu seraya menunduk kecil. Sang anak perempuan melirik anak itu dengan tatapan aneh, kemudian karena dorongan teman di sebelahnya, ia mengangguk. “Sang-rin imnida.”, ucap anak perempuan itu dingin.

“Kim Ye-sung…!”
Anak yang sedang berdiri menoleh ke belakang dan bisa melihat seorang pria berjas dengan mobil hitam memanggilnya. “Aku harus kesana dulu ya. Sekali lagi gomawo-yo mau berteman denganku…”, ucapnya sembari berlari dan menaiki mobil hitam itu dan tak lama pergi. “Si-won~ya, apakah kau sudah gila?”
Anak lelaki yang diajak bicara menoleh ke lawan bicaranya, “Memang kenapa?”

Yang perempuan mendesah, menyesali kepolosan teman di sebelahnya. “Dia itu anak Tuan Kim, Choi Si-won! Kau tidak tau siapa Tuan Kim?”, tanya Sang-rin, pandangannya tertuju tajam. Sang lelaki mengangguk, “Tentu saja aku tau, Cho Sang-rin. Siapa yang tidak tau Tuan Kim?”
“Lalu, kenapa kau masih mau berteman dengannya? Kalau appa-ku tau, kita bisa dihabisi… Lagipula, kita sangat tidak cocok dengannya.”, jawab Sang-rin mencoba sabar. “Memang kenapa kalau kita berteman dengannya? Dia ‘kan bukan orang jahat?”, tanya Si-won lagi.
Sang-rin kembali mendesah pelan, “Jangan terlalu polos, Si-won~ssi. Dia memang bukan orang jahat, tapi appa-nya iya. Tuan Kim itu adalah kepala mafia yang paling ditakuti oleh kekejamannya. Kau pasti sudah tau itu, ‘kan? Kalau kau tak sengaja melukainya, dirimu bisa habis!”
“Aku…hanya kasian padanya. Dia tidak punya teman sama sekali. Lagipula, aku pikir dia anak yang baik kok. Ayolah, Sang-rinnie. Percaya padaku~”
Sang-rin mengangguk pasrah, ia memang tak pernah bisa menolak keinginan anak lelaki di sebelahnya.

 

#$#$#

 

Cinta…
Suatu ikatan yang membuatmu menangis…
Membuatmu bermimpi buruk…
Membuatmu terluka…
Dan…membuatmu kehilangan sahabat sejati…

 

>>><<<

(10 tahun kemudian)

 

“Chukae, Ye-sung~ya!”
“Gomawo-yo, Si-won, Sang-rin! Kalian memang sahabat terbaikku.”, ucap Ye-sung tulus seraya menggantukan lengannya di bahu mereka berdua. “Hari ini ke diskotik yuk!”, lanjut Ye-sung. Sontak kedua sahabatnya terkejut, “Mwo?!”
“Ayolah~ Ini kan adalah hari kelulusan kuliahku. Lagipula, kita ‘kan sudah cukup umur untuk ke diskotik. Aku selalu penasaran apa isi diskotik itu.”
“Bukannya appa-mu pemilik banyak diskotik terkenal dan terbesar?”, tanya Sang-rin yang lebih tampak sebagai sindiran. Ye-sung mengangguk dan tersenyum, “Tapi, appa tak pernah memperbolehkanku untuk kesitu.”
Si-won menyeletuk, “Jadi, kau akan pergi diam-diam nanti?” Ye-sung mengangguk ceria, temannya yang satu ini memang selalu mengerti isi hatinya. “Bagaimana kalau ketahuan? Kau sih anaknya, tapi kami? Kami bisa dihabisi.”, sahut Sang-rin tidak terima. “Kita tidak mungkin ketahuan. Kita akan pergi ke diskotik yang bukan diskotik milik appa-ku. Diskotik kecil yang sangat sepi. Kita juga hanya pergi sebentar ‘kan?”
Sang-rin menatap Si-won, mencoba bertanya pendapatnya lewat tatapan mata. “Baiklah, tapi janji hanya sebentar ya?”
Ye-sung mengangguk dan tersenyum cerah, “Gomawo-yo! You both really my best friend!”

 

#$#$#

 

“Sudah siap?”, bisik Ye-sung saat melihat kedua sahabatnya sudah mendekat.

Si-won dan Sang-rin mengangguk kecil dan mereka bertiga langsung mengendap-endap menuju bar itu. Mereka bertiga masuk dan bisa melihat lampu berkelap-kelip sedang menyala tak karuan. Ada beberapa orang yang sedang duduk dan minum-minum sedangkan beberapa orang lagi asyik menari-nari.

“Kau bilang ini sepi?”, tanya Sang-rin dengan pandangan takut. “Bagi sebuah diskotik, ini sudah sangat sepi. Kajja!”, seru Ye-sung sembari menarik kedua temannya untuk duduk di kursi. “Mau pesan apa?”, tanya bartender dengan dasi pitanya.

“Pesan tiga vodka.”

Si-won langsung melirik Ye-sung, “Mwo?! Vodka? Aku tau aku tidak sepintar dirimu, Ye-sung~hyung, tapi minimal aku tau apa vodka itu.”, seru Si-won dibalas anggukan setuju dari Sang-rin. “Lalu, kalau bukan vodka, apa yang mau kalian pesan? Susu? Jangan bercanda~”, sahut Ye-sung meremehkan. Sang-rin sudah mengepalkan tangannya, namun Si-won langsung menggenggam tangan Sang-rin.

“Kita permisi dulu, Ye-sung~ya! Kajja, Si-wonnie.”

Sang-rin menarik Si-won keluar diskotik, “Lihatlah dia, Si-wonnie! Apa dia perlu kau kasihani?! Dengan enaknya, ia berbicara begitu padamu! Aku benar-benar tak terima! Dia mempermalukan kita!”

“Sabarlah, Sang-rinnie. Lagipula dia tak salah. Kalau bukan vodka, apa lagi yang kita mau pesan? Kita ‘kan tidak terlalu tau minuman berjenis seperti itu.”, ucap Si-won berusaha menenangkan. “Kau selalu membelanya, Wonnie~”

Si-won terkekeh pelan dan mencubit pipi Sang-rin yang sedang menggembung kesal. “Memang kenapa? Cemburu, Rin~jagi?”

“Dasar ngaco! Sudahlah, kajja kita masuk ke dalam.”, seru Sang-rin mengalihkan pembicaraan karena pipinya sudah merona.

Yah, Sang-rin adalah tetangga Si-won dari 12 tahun yang lalu. Dan mereka tumbuh bersama, karena orang tua mereka yang juga bersahabat baik.
Kebetulan mereka berada di perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Walaupun mereka memang berkebangsaan Korea Selatan, mereka tidak terlalu diperhatikan pemerintah. Karena sebab itu, banyak orang di daerah mereka menjadi mafia. Dan salah satu ketua mafia yang paling berkuasa di daerah mereka adalah Kim Hee-chul, yang tak lain dan tak bukan adalah appa kandung dari Kim Ye-sung.

Dari dulu Sang-rin tak pernah setuju pada keputusan Si-won yang mau bersahabat dengan Ye-sung. Ia merasa Ye-sung bukan sahabat yang tepat untuk mereka. Namun, karena tidak mau Si-won marah, Sang-rin tak pernah membicarakannya.

Sang-rin sendiri adalah anak dari salah satu kepala mafia di daerahnya. Ia terbiasa hidup mandiri dan amburadul. Karena itulah juga, Sang-rin tak setuju jika harus bersahabat dengan Ye-sung. Karena appa-nya dan appa Ye-sung sudah lama bersiteru. Walaupun ia tau Ye-sung bukan orang yang jahat.
Sedangkan Si-won berbeda. Ia dibesarkan dari keluarga pastur di daerahnya. Ia sangat terpelajar dan sangat tulus kepada semua orang. Dia terbiasa berbelas kasih kepada setiap orang, termasuk kepada Ye-sung yang Si-won tau tidak punya teman sama sekali.

 

#$#$#

 

“Omona~”, ucap Sang-rin pelan. Si-won melangkah di belakang Sang-rin dan ikut terkejut. Ye-sung sudah dalam keadaan setengah sadar. Ia meminum ketiga vodka yang tadi dipesannya. Beberapa wanita berpakaian minim berada disekelilingnya. Ye-sung tertawa dan menggoda wanita-wanita itu dengan riang. “Ya! Bisa kalian pergi?”, tanya Sang-rin dingin kepada para wanita itu. “Cihh, kenapa kita harus pergi?”

Sang-rin mendesah kecil dan mengeluarkan senyum sinisnya. “Tidak tau siapa aku? Catat namaku baik-baik, Cho…Sang…Rin!!!”

Seketika wanita-wanita itu terkejut hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat, “Anda…anak…Tuan Cho?”, kata salah satu wanita itu. Sang-rin tak menjawab, hanya menyeringai kecil, namun para wanita itu telah berhasil tunggang langgang. Tanpa basa-basi, Si-won menghampiri Ye-sung. “Ya, kajja kita pergi dari sini…”

Ye-sung menepis tangan Si-won, “Jangan–hik–ganggu aku, Si-wonnie… Aku–hik–masih mau–hik–bersenang-senang.”

“Ya, tukang bersenang-senang! Lebih baik kau pulang daripada kita semua dipanggang appa-mu. Palli!!!”, seru Sang-rin dingin. Namun, Ye-sung tak menjawab. Ia sudah tak sadar sekarang. “Rin~ah, jebal bantu aku angkat dia.”, pinta Si-won dengan nada tulus, dan mau tidak mau Sang-rin mengiyakan permintaannya.

“Mau kita bawa kemana dia, Si-wonnie?”

Si-won memikirkan sejenak pertanyaan Sang-rin. Betul juga! Jika mengantar Ye-sung ke rumahnya dalam keadaan mabuk, sama saja bunuh diri. Lalu, harus bawa kemana dia? Tak mungkin ‘kan, Ye-sung dibawa ke rumah Sang-rin atau rumah Si-won sendiri? Orang tua Sang-rin dan Si-won kan masih belum tau jika selama 10 tahun ini, mereka bersahabat dengan Ye-sung.

“Bagaimana kalau bawa dia ke tempat biasa kita kumpul?”

Sang-rin menaikan kedua alisnya, “Maksudmu di bangku taman?”

Si-won mengangguk pasrah. Mereka berdua mengangkat Ye-sung susah payah ke taman itu. “Lebih baik kau pulang, Sang-rinnie. Nanti kau bisa dicurigai dan bila itu terjadi, kita semua bisa gawat. Aku saja yang menjaga Ye-sung. “Ara, Si-wonnie~ Annyeong.”, pamit Sang-rin dan langsung berjalan menuju rumahnya sebelum kepala keluarga di rumahnya mengamuk.

“Ahh, Ye-sung~ya, mengapa kau tidak pernah berubah? Mengapa aku tak pernah berhasil membuatmu lebih baik? Padahal, aku hanya ingin agar kau tidak kembali jatuh ke tangan jahat. Agar kau tidak mengikuti jejak appa-mu…”, ucap Si-won sembari memandangi Ye-sung yang sedang tertidur pulas.

 

#$#$#

 

“Si-won~ya, ireona…!”, seru Ye-sung sembari membangunkan Si-won yang sedang tertidur di sebelahnya. Perlahan Si-won membuka mata. “Ahh, Ye-sungie… Kau sudah bangun?”

Ye-sung mengangguk sebelum akhirnya melirik ke segala arah. “Ini dimana? Kenapa kita disini?”, tanyanya polos. Si-won menjitak pelan kepala Ye-sung. “Ya, Si-wonnie, Kau ‘kan lebih muda dariku! Tidak sopan tau!”, seru Ye-sung seraya mengusap-usap kepalanya. “Ya, Ye-sungie yang sudah tua! Apakah kau tidak sadar sudah membuat aku dan Sang-rin repot kemarin?!”

Pria yang lebih tua 2 tahun ini mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. “Yang aku ingat, kemarin kita ke diskotik dan…aku meminum 3 gelas vodka.”
Si-won kembali menjitak Ye-sung dengan gemas. “Setelah itu kau mabuk dan kami berdua menggotongmu kesini dengan susah payah! Apakah kau tidak tau berapa beratmu itu?!”, jelas Si-won sembari cemberut. Ye-sung hanya bisa tertawa innocent. “Kau dan Sang-rin…menggotongku? Wuahh~ Kalian memang sahabatku!”

“Kalau kami tidak menggotongmu, lalu mau gimana lagi? Masa kami meninggalkanmu, Ye-sungie yang polos?”

Ye-sung mengerucutkan mulutnya, “Ahh, itu tidak penting! Yang penting aku sangat senang kalian mau menolongku!”

Si-won hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.

“Si-wonnie! Ye-sungie!”

Yang dipanggil menoleh dan bisa melihat seorang yeoja berlari kearah mereka. Yeoja dengan rambut panjang yang dikuncir satu, kaos biasa yang dilengkapi dengan kemeja kotak, celana jeans, dan sepatu kets putih. Ia berhenti di depan Si-won dan Ye-sung. Nafasnya memburu tak karuan. “Ye-sung~ya, kau dicari…pengawal-mu. Palli!”, seru Sang-rin terbata-bata.
Ye-sung mengangguk dan langsung berlari menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari taman. “Si-wonnie, kau tertidur disini?”, tanya Sang-rin mulai bisa mengatur nafasnya.

“Ne. Apakah eomma atau appa mencariku?”

Sang-rin mengangguk kecil, “Tadi appa-mu menanyakan padaku. Aku bilang kau menginap ke rumah teman karena semalam belajar bersama. Padahal dia mau mengajakmu ke gereja.”

“Ohh… Gomawo-yo, Rin~jagi.”, jawab Si-won sembari mengangguk, namun, “Apa kau bilang?! Appa mau mengajakku ke gereja? Omo~! Aku harus segera kesana! Aku bisa telat ke gereja!”

Si-won panik dan langsung berlari ke rumahnya. Sang-rin ikut berlari mengejarnya langkah Si-won yang cepat.

“Ya! Pastur! Jamkkaman!”

 

#$#$#

 

“Annyeong, Si-won~ya! Annyeong, Sang-rin~ya!”

Sang-rin dan Si-won menoleh dan terkejut. Sang-rin langsung bangun dan meraba segala permukaan tubuh Ye-sung. “Ada yang luka? Mana yang sakit?”
“Apa sih maksudmu, Sang-rin~ah?”, tanya Si-won bingung, namun Ye-sung tidak merespon. Pipinya sudah seperti kepiting rebus. “Ada keajaiban! Ye-sung tidak dipukul appa-nya!”, seru Sang-rin sembari tersenyum. Ye-sung mengacak rambut Sang-rin gemas, “Kau itu terlalu melebih-lebihkan.”, jawab Ye-sung sembari duduk disebelah Sang-rin dan Si-won.

“Ada keajaiban lagi! Ye-sung tidak cerewet! Biasanya kan dia yang paling banyak bicara!”, teriak Sang-rin kembali. Ye-sung hanya bisa kembali mengacak-acak rambut Sang-rin gemas. Si-won hanya bisa tersenyum kecut.

“Kenapa sih kau, Ye-sung~oppa? Sakit?”

Ye-sung menggeleng, namun kemudian terkejut, “Hari ini benar-benar ada keajaiban! Jangan-jangan dunia mau kiamat! Masa Sang-rin menyebutku dengan embel-embel ‘oppa’! Benar-benar hebat!”

“Ya! Aishh, neo jinja!”

Sang-rin mengelitik Ye-sung, membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Si-won hanya tersenyum memandangi mereka berdua. Setelah selesai, mereka kembali duduk di posisi masing-masing. “Aku akan membeli es krim dulu disana. Sang-rin dan Si-won pasti memilih coklat ‘kan?”
Sang-rin dan Si-won mengangguk kompak.

“Rin~jagi…”

Sang-rin melirik kearah Si-won, “Ne? Dan jangan panggil aku ‘jagi’!”

Si-won terkekeh kecil, “Sepertinya Ye-sung~hyung menyukaimu.”

“Jangan bercanda, Si-wonnie!”

Si-won mau menjawab, namun Ye-sung berjalan kearah mereka. “Aku kembali!”

Ye-sung memberi kedua es krim kearah Si-won dan Sang-rin. “Gomawo, Ye-sungie!”, seru Si-won. “Na tto, Ye-sung~ya!”, balas Sang-rin dan Ye-sung menggeleng seraya tersenyum. “Ahh, hanya sekedar es krim…”

“Ada yang mau kubicarakan kepada kalian.”

Sontak Sang-rin dan Si-won menjawab bersamaan, “Mwo?”
Ye-sung ingin berbicara, namun es krim di tangannya jatuh. “Omo~!”, serunya sembari membereskan es krim itu di bawah. Dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan dari bawah—

 

#$#$#

 

Dentuman peluru melesat kemana-mana. Pagi yang semestinya cerah menjadi hitam kelam. Terkena kabut dan jutaan gas beracun yang menggelapkan mata, hidung, dan telinga.

“Mati kau!”

Seorang namja muda dengan jas hitamnya berjalan perlahan. Ratusan pengawalnya berdiri di depan, dengan pistol di genggaman tangan mereka.

“Tembak!”, seru namja muda itu dan ratusan suara dentuman memecah kesunyian. Ratusan orang yang berada di dalam bangunan megah terjatuh tak bernyawa.

Tak lama, dua orang dari dalam bangunan itu keluar dengan tergesa-gesa.

“Apa yang kau lakukan, Kim Ye-sung?! Apakah kau sudah gila??!!”, teriak seorang yeoja, salah satu dari orang itu. Sedangkan satunya lagi hanya memandang namja di depannya tak percaya. Ye-sung menyeringai kecil, “Ne, aku sudah gila! Aku gila karenamu, Cho Sang-rin!”

Ye-sung menoleh ke pengawalnya, “Bawa mereka berdua dalam situasi apapun! Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup! Dan, jangan lukai yeoja itu! Jika dia tergores sedikit saja, kalian akan menjadi taruhannya. Arasso?!”

Para pengawalnya mengangguk patuh dan langsung menangkap mereka berdua. Mereka berdua melawan, apalagi sang yeoja yang memang sangat jago dalam berbagai bela diri. Namun, tentu saja mereka kalah jumlah oleh ratusan pengawal itu.

Mereka berdua dibawa ke dalam satu ruangan kecil yang gelap dan lembap. Namja satunya sudah babak belur tak karuan. Sedangkan sang yeoja tidak tergores apapun, seperti yang Tuan Muda Kim Ye-sung itu perintahkan. “Si-wonnie, gwenchana-yo? Si-wonnie!!!”, seru Sang-rin sembari memeluk namja itu.

“Sang…rin~ya, apa…kita…salah?”

“Ani, Si-wonnie~! Kita tidak salah. Ye-sung saja yang memang sudah gila.”

Si-won membuka matanya dengan susah payah, “Ye-sung…tidak…gila, Cho Sang-rin! Dia hanya…mencintaimu.”

Sang-rin hampir terpekik, “Maksudmu?”

“Sudah kubilang…dari dulu, dia itu…mencintaimu.”, jelas Si-won susah payah. Darah terus mengalir di permukaan tubuhnya. “Tapi kalau ia mencintaiku, ia tidak akan begini kepadaku. Lagipula kenapa dia ikut melukaimu?”

Si-won ingin menjawab, namun beberapa pengawal kembali membawa mereka dengan paksa. Membawa mereka ke suatu tempat. Tempat yang amat dikenal mereka. Taman mereka yang biasa. Disitu ada Ye-sung. Ia sedang menjilati es krim blueberry-nya dengan mata yang terus tertuju pada kedua—mantan—sahabatnya.

“Ya! Sebenarnya apa maumu, Ye-sung~ah?! Kenapa kau begini?! Kita tak pernah punya salah padamu! Tapi kenapa kau begini?!”, seru Sang-rin, matanya berkaca-kaca. Ye-sung tertawa miris, “Mauku? Mauku mudah, Cho Sang-rin! Aku ingin dirimu!”

“Lalu kenapa kau ikut menyiksa Si-won?! Dia selalu baik padamu!”
Ye-sung kembali menyeringai, “Aku tidak akan menyiksanya jika dia tak merebutmu dariku.”

“Siapa yang merebut?! Kau yang merebutnya dariku!”, Si-won sudah kehilangan kesabaran. “Sekarang gampang. Jika Sang-rin mau bersamaku, aku akan berhenti melukai Si-won. Bagaimana?”, tanya Ye-sung santai. “Aku tidak akan mau bersamamu, walaupun aku harus mati!”, teriak Sang-rin keras.

“Baiklah, jika itu keinginanmu.”, kata Ye-sung sembari mengambil pistol dan mengarahkannya kepada Si-won. “Selamat tinggal, Si-wonnie~”

DOR!

Suara dentuman keras terdengar. Namja berlesung pipi itu terjatuh. Darahnya melebar ke segala arah. Sang-rin berteriak histeris. Ia memeluk namja itu dengan sepenuh hati. Air matanya keluar tak tertahankan. “Bukankah ini adalah kejadian yang amat mengiris hati? Tapi, kejadian ini akan lebih mengiris hati jika sang pemain perempuannya juga mati.”

Sang-rin terkejut dan langsung mengambil pistol yang terletak tak jauh darinya dengan cepat. Ye-sung menembakan pelurunya kearah Sang-rin, sedangkan Sang-rin langsung menembakan pelurunya kearah Ye-sung. Semua pengawal yang ada disitu terkejut. Sang-rin dan Ye-sung terjatuh bersamaan. Tepat di dekat Si-won yang juga tergeletak. Mereka bertiga tak bernyawa.

 

#$#$#

 

Sahabat begitu kuat…
Sahabat begitu berarti…
Sahabat adalah segalanya…
Apakah ada yang bisa menghancurkannya?
…Cinta…


#$#$#

 

—Ye-sung ingin berbicara, namun es krim di tangannya jatuh. Dengan cepat, ia membereskan es krim itu di bawah. Dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan dari bawah. Tangan Si-won dan Sang-rin bertautan erat. Seperti merpati yang tak bisa dilepaskan. Seketika itu juga rasa emosi meledak memenuhi ruang hati Ye-sung…

 

%E%N%D%

 

#$#$#

 

Annyeong, my lovely readers~~~ Mian dah lama gak posting blog… Aku kasih hadiah ff ini dulu deh~ Utk ff yg lain, ditunggu ya…. ^^


Credit : First Rain MV

 

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Sad Friendship~" (8)

  1. annyeong ching!!!!aQ boleh mampir diblog ini kaan ching?!!..omo!!kali ini image yesung kok jd jahat yahh,kasian siwon dan sangrin..walaupun endingnya tragiz,tp tetep keren ching..nice ff chingu..

  2. wuahh si yesung jaat amat/plakk
    siwon mah sabar aja lagi disini huehehehe
    T.T mengharukan persahabatannya tapi tragiss jg
    ehehehe
    nice ff chris ^^bb

  3. Aku baru baca
    Wahahahaha
    Bagus deh kalo mati tiga2nya *digampar author*
    *langsung rebut wooyoung*

  4. annyong admin! Aaaah,kebetulan aku juga ’97 loh *bangga xD kita beda beberapa hari lho, aku 24 feb 97 #koplak *gaje~
    sama22 suka biki ff hihihi~aku terdampar di blogmu dan tersesat xD
    ffmu bagus22 loh~ hihi *gombal #plak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: