Full of inspiration and story

Archive for December, 2010

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Five)

“Aku…memilih——”

Semua orang memandang Sangrin penuh tanda tanya. Apalagi Kibum, Sungmin, dan Siwon. Sangrin bersiap menyebutkan nama yang kupilih, namun…

“Pasien Kim Hyeobin sudah sadar! Kalian bisa menjenguk’nya.”, seru seorang suster berparas cantik yang baru saja keluar dari ruang rawat. “Keurae…! Kajja, kita masuk.”, kata Sangrin cepat dan langsung masuk ke ruang rawat. Dalam hati ia berterima kasih kepada suster dan Hyeobin yang membuat’nya bisa mengurungkan niat. “Hyeo-onnie…”, panggil Sangrin seraya tersenyum.

Hyeobin terlihat sangat pucat. Mata’nya memandang Sangrin…dengan penuh kebencian. Dan langsung menatap Kibum. “Jadi benar semua yang kalian katakan? Jadi, kau dan Sangrin saling menyukai…?! Jadi, semua hal mesra yang kau berikan kepadaku, hanya karena Sangrin?! Dan selama ini kau hanya menganggapku Sangrin?! Jawab aku, Kim Kibum!”

Kibum memandang Hyeobin dengan sangat perih, “Mian, Hyeobin-ah…”

“Hanya itu yang bisa kau katakan, Kim Kibum?! Hanya itu yang bisa kau katakan setelah peristiwa ini?!”, seru Hyeobin dengan lirih. Air mata’nya mulai berjatuhan. Begitu pula dengan Kibum. “Mian, Hyeobin-ah. Aku…”

“Aku kecewa padamu, Kim Kibum…! Sangat kecewa! Dan padamu juga, Sangrin-ah! Aku pikir kau adalah dongsaeng yang menyayangiku, tapi ternyata aku salah! Kau sama saja dengan Kibum! Selalu berpura-pura baik di depanku! Aku benci kalian berdua.”, potong Hyeobin dengan pandangan yang tidak tertuju pada Kibum dan Sangrin.

“Onnie… Aku sama sekali tidak pernah melakukan seperti yang onnie bilang. Aku…aku memang menyayangi onnie, dan ini semua bukan sekedar pura-pura. Kau adalah satu-satu’nya onnie yang kupunya. Jebal, onnie… Jangan begini padaku.”, ucap Sangrin dengan air mata yang juga mulai menetes.

Kibum berbicara, “Kau boleh memarahi, mencaci maki, atau membenciku sesuka hatimu, Hyeo-ah. Tapi jebal jangan lakukan itu kepada Sangrin. Dia tak bersalah. Justru dia yang menolak saat aku menyatakan cintaku. Dia yang tak mau kau bersedih.”

“Ah, sekarang kau membela’nya, Kim Kibum? Membela pujaan hatimu itu, hah?!”

“Hyeo-onnie, kumohon… Aku tau onnie bukan orang yang seperti ini. Aku tau onnie masih menyanyangiku dan Kibum oppa. Berikan kami kesempatan, onnie. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan onnie.”, ucap Sangrin dengan lirih. Kibum ikut mengangguk, walaupun tak sepenuh’nya yakin. “Semua percuma. Kibum tidak mencintaiku. Aku tau itu sekarang. Seberat apapun aku berusaha, semua akan tetap berakhir begini.”

“Hyeobin-ah! Setidak’nya, berikanlah Sangrin dan Kibum kesempatan.”

Kyuhyun mulai berbicara. Hyeobin terdiam sejenak. “Keurae. Aku akan memaafkan Sangrin. Tapi Kibum…aku belum bisa memaafkan’nya.”

“Kamsahamnida, onnie…”, seru Sangrin seraya memeluk Hyeobin dengan sepenuh hati. Hyeobin ikut memeluk Sangrin. “Aku tau kau bukan orang yang seperti itu, Rin-ah. Onnie terlalu emosi saat itu. Mian.”

“Gwenchana, onnie… Aku senang onnie bisa menerimaku lagi.”

Kyuhyun menarik nafas lega melihat kedua perempuan kenalan’nya bisa kembali dekat. Begitu pula dengan Sungmin dan Siwon. Tapi hawa kaku masih bersarang pada diri Kibum. “Mianhaeyo, Hyeo-ah. Joengmal mianhaeyo. Aku berjanji akan membangun kehidupan baru bersamamu, jika kau memaafkanku. Jebal, aku sadar sekarang, dan aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mencintaimu.”

Ekspresi Hyeobin berubah 180o derajat seketika. Ia memandang Kibum dingin, “Apa menurutmu aku akan memaafkanmu setelah peristiwa ini terjadi?! Apa kau pikir aku akan percaya kembali denganmu setelah kebohongan ini?!”, tanya’nya dengan tajam. “Hyeobin-ah… Aku mengaku salah. Tapi kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang kau berikan. Jebal~”

Hyeobin terdiam sejenak, kemudian memandang Sangrin. “Bagaimana menurutmu, Sangrin-ah?”

“Naega?! Molla, onnie… Semua’nya terserah onnie.”, kata Sangrin yang sedikit kaget. “Hhhh… Keurae, aku akan memaafkanmu, tapi aku hanya menganggapmu teman mulai saat ini. Kau bukan lagi namja-chingu’ku.”, ucap Hyeobin sarkastik. Kibum hanya bisa mengangguk dan tersenyum, “Kamsahamnida, Hyeobin-ah…!”

“Kalian sebaik’nya keluar. Pasien harus beristirahat terlebih dahulu.”, ucap suster yang tadi. Mereka semua mengangguk dan melambai kepada Hyeobin, lalu beranjak keluar satu-persatu. “Suster!”, panggil Kyuhyun saat suster itu ingin masuk. “Ne?”

“Kapan Hyeobin boleh pulang?”

Suster itu menggelengkan kepala’nya, “Saya tidak tau. Sebaik’nya anda tanyakan pada dokter.”, kata’nya seraya tersenyum ramah. “Oh, baiklah kalau begitu. Kamsahamnida.”, kata Kyuhyun sembari menunduk. “Chonmaneyo.”, jawab suster tersebut sembari ikut menunduk. Mereka semua pulang dengan mobil menuju apartemen. Di perjalanan, mereka semua terdiam, tak ada yang berbicara.

“Siwon-oppa.”

Siwon menoleh pada Sangrin yang memanggil’nya secara tiba-tiba. Begitu pula dengan yang lain. “Ehm, soal kejadian saat itu—”

“Aku sudah tak mempermasalahkan’nya lagi. Tenang saja. Aku tau aku yang salah. Aku yang terlalu over-protective padamu… Aku yang bukan siapa-siapa malah melarangmu. Padahal Kyuhyun yang jelas oppa kandungmu saja tidak melarang. Mianhaeyo…”, sahut Siwon memotong dengan nada sendu. “Oppa… Kenapa kau seperti ini? Aku yang salah, oppa. Aku terlalu emosi pada waktu itu. Mesti’nya aku yang minta maaf…”

Suasana berubah menjadi tak enak seketika. Yang lain yang tidak tau apa-apa hanya bisa melihat. Sedangkan, Kyuhyun yang sudah mengetahui semua’nya hanya bisa terdiam. Siwon mendenguskan nafas, “Terus apa yang kau mau sebenar’nya?! Kau lebih suka jika aku yang marah padamu?! Aku lelah terus bertengkar, Sangrin-ah… Sangat lelah… Sudahlah, anggap saja kejadian itu tidak ada, ara?”

Sangrin hanya bisa memandang Siwon dengan lirih, “Oppa… Ada apa denganmu?”

“Apa maksudmu? Mesti’nya, aku yang bertanya, ada apa denganmu?! Kau berubah, Rin-ah… Kau berubah… Menjadi seseorang yang tak lagi kukenal. Kau…berbeda dari Sangrin yang dulu… Sangrin yang ceria. Sangrin yang kekanak-kanakan. Sangrin yang selalu tersenyum.”, ucap Siwon dengan pandangan yang kosong.

“Tentu saja aku berubah, oppa… Aku bukan lagi Sangrin kecil! Aku sudah besar! Dan usia-ku sudah bisa disebut remaja! Aku bukan anak kecil lagi… Aku punya urusan-ku sendiri. Aku punya masalah-ku sendiri. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menangis jika ada masalah yang muncul.”

Mereka berdua terdiam dan saling memalingkan muka. Kibum dan Sungmin yang melihat mereka hanya bisa ikut terdiam dan saling melirik. Kyuhyun lebih memilih memerhatikan jalan di depan’nya, tidak mau ikut campur dalam masalah dongsaeng dan sahabat’nya. “Sudah sampai…”, kata Kyuhyun dengan suara pelan. Mereka semua pun langsung keluar. Begitu pula dengan Sangrin dan Siwon yang langsung melangkah tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Kyuhyun-ya…”

Kyuhyun menoleh dan bisa melihat Kibum sedang memanggil’nya. “Wae, Kibum-ya?”

“Bisa aku minta bantuanmu?”,

“Bantuan?”

Kibum mengangguk setengah yakin.

“Kalau tidak diluar kemampuanku, aku akan membantu. Ada apa?”, tanya Kyuhyun dengan pandangan tanya. “Bisakah kau mengartikan perasaanku…pada Hyeobin? Saat Hyeobin manja kepadaku, aku sangat tidak suka dan lebih memilih memikirkan Sangrin. Tapi, kenapa saat ia benci padaku, hatiku…seakan runtuh? Hatiku merasa kehilangan yang amat sangat. Apa arti dari ini semua?”

Kyuhyun tersenyum dan menepuk bahu Kibum, “Itu artinya kau mencintai’nya. Hanya saja kau baru sadar sekarang.”

“Jinja? Lalu, bagaimana cara’nya meyakinkan’nya bahwa sekarang aku benar-benar mencintai’nya? Tampak’nya, ia sudah tak percaya padaku lagi…”, tanya Kibum dengan lirih. “Itu bisa kuatur… Tenang saja, Kibum-ya.”, ucap Kyuhyun sembari menyeringai kecil. “Jinja?! Kamsahamnida, Kyu-ya! Kau memang yang terbaik!”, seru Kibum seraya tersenyum ceria.

***

Kyuhyun melangkah kembali menuju rumah sakit esok hari’nya. Perlahan, ia membuka pintu rawat Hyeobin dan bisa melihat’nya sedang dirawat oleh seorang suster. Suster yang sama dengan yang kemarin. “Annyeong…”, sapa Kyuhyun. “Annyeong haseyo… Mau menjenguk Nona Hyeobin? Kalau begitu, saya permisi dulu.”, kata suster tersebut seraya tersenyum dan menunduk kecil.

“Ada apa, Kyu-ya?”, tanya Hyeobin dengan sedikit bingung. “Ahh, aku akan langsung ke topik, Hyeo-ya… Cobalah memaafkan Kibum. Ia—”

Hyeobin memotong, “Aku sudah memaafkan Kibum. Kau juga sudah lihat sendiri kan?”, tanya’nya dengan dingin. “Aku tau… Tapi aku juga tau kau tidak sepenuh’nya memaafkan Kibum. Dia sudah sadar, Hyeo-ya. Dia mencintaimu, dan dia baru sadar sekarang… Berikan Kibum kesempatan sekali lagi. Aku juga tau dan sangat yakin kau masih mencintai’nya, bukan? Bahkan sangat besar.”

“Siapa yang tau kalau ia hanya bersimpati padaku? Atau bisa juga ia hanya menjalankan permintaan Sangrin.”

“Tapi itu tidak benar. Kemarin dia sendiri yang mengatakan’nya padaku. Jebal, Hyeo-ya, pikirkanlah lagi semua ini. Daripada dirimu yang menyesal sendiri…”

Hyeobin terdiam, “Ara… Akan kupikirkan. Gomawo, Kyu-ya, untuk semua’nya.”

Kyuhyun mengangguk, “Kalau begitu aku permisi dulu ya. Aku harus pergi ke kampus hari ini. Annyeong, Hyeo-ya~”

“Annyeong, Kyu-ya~”

Kyuhyun berjalan keluar ruangan dan bisa melihat suster tersebut sedang berdiri di depan pintu. “Ahh, anda sudah selesai?”, tanya’nya dengan sedikit gugup. Kyu mengangguk canggung dan langsung bergegas pergi. “Eh, tunggu! Apakah boleh saya menanyakan sesuatu?”, tanya suster itu dengan ragu. “Wae?”

“Apa hubunganmu dengan Nona Hyeobin?”

“Kita hanya teman. Wae-yo?”

Suster itu gelagapan dan menundukan kepala’nya, “Ani, hanya bertanya. Kalau begitu, annyeong…”

“Annyeong~”, sahut Kyuhyun sembari melanjutkan perjalanan’nya ke mobil. Sebelum pergi, ia mengenang kembali masa lalu’nya. “Suster itu mirip dengan Sooyeon, cinta pertamaku dulu saat SMP.”, gumam Kyuhyun seraya tersenyum lirih. “Seandai’nya Sooyeon masih ada disini, mungkin kita berdua sudah…Aishhh! Buat apa aku memikirkan dia? Dia adalah masa laluku. Cho Kyuhyun, seharus’nya kau tidak usah memikirkan dia lagi!”

***

Sangrin memandang kosong langit-langit kamar’nya. Memikirkan semua yang ia rasakan hari ini. Pikiran’nya masih penuh dengan seluruh perasaan yang ia dapatkan. Hati’nya perih jika memikirkan kejadian tadi. Tak lama, ketukan pintu terdengar. “Masuk…”, pinta Sangrin dan pintu pun terbuka. “Sungmin-oppa?”

Sungmin tersenyum tipis dan duduk di sebelah Sangrin, “Kau masih sedih?”

“Sedih? Sedih kenapa?”, tanya Sangrin biasa, berusaha menutupi semuanya. “Jangan seperti itu. Aku tau kau sangat sedih saat bertengkar dengan Siwon tadi… Iya, kan?”, tanya Sungmin sembari tersenyum manis. Dan entah mengapa senyuman hangat itu berhasil membuat Sangrin meneteskan air mata’nya. “Apa yang harus kulakukan, Min-oppa? Bagaimana pun, Siwon-oppa sudah bersamaku dari kecil. Dan baru pertama kali kita bertengkar separah ini.”

Sungmin mengelus rambut Sangrin, “Gwenchana… Nanti pasti kalian akan segera berbaikan.”

“Kamsahamnida, oppa… Kau seperti malaikat bagiku.”

“Kenapa aku seperti malaikat?”, tanya Sungmin bingung. “Karena oppa selalu ada disaat aku sedang sedih. Saat Kibum-oppa bersama Hyeobin-onnie dulu, dan sekarang karena aku bertengkar dengan Siwon-oppa… Kau seperti malaikat penolongku.”, jawab Sangrin sembari tersenyum. Sungmin balas tersenyum dan kembali mengelus rambut Sangrin.

Sungmin berucap, “Kalau begitu, mulai sekarang aku akan menjadi malaikat penolongmu yang selalu ada disaat kau membutuhkan. Kalau kau butuh aku, panggil saja namaku tiga kali. Arasso?”

“Kalau begitu, oppa akan terlihat seperti jin lampu daripada malaikat penolongku…”, kata Sangrin polos dan mereka berdua tertawa. Suasana setelah itu menjadi diam. “Kau juga adalah malaikatku, Rin-ah. Tidak tau kenapa, saat berhasil menghiburmu dan bisa melihat dirimu tersenyum lagi, aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira.”, sahut Sungmin seketika, membuat rona merah muncul di kedua pipi Sangrin.

Sungmin mengambil sesuatu dari sakunya dan langsung memakaikan’nya di leher Sangrin. “Apa ini, oppa? Kalung?”, tanya Sangrin terkejut.

“Ne… Ada tulisan ‘SS’ disini! Dan aku juga memakai sepasang yang sama. Sangrin-Sungmin. Bukannya ini bagus? Tadinya mau aku berikan padamu saat jalan-jalan kemarin malam. Tapi, karena tak jadi, aku memberikannya sekarang saja.”, jelas Sungmin. “Wuahh… Kamsahamnida, oppa. Ini sungguh indah!”

“Kalau begitu, aku pulang ke apartement-ku dulu ya? Annyeong, Sangrin-ah… Ingat, panggil namaku tiga kali.”, pamit Sungmin sembari tersenyum dan melambai. Sangrin balas melambai dan tersenyum. Lalu, ia menatap kalung pemberian Sungmin. “Sangrin-Sungmin? Atau Sangrin-Siwon? Ahhh… Apa yang kau pikirkan, Sangrin-ya?! Sungmin-oppa selalu ada disaat kau bersedih, tapi Siwon-oppa? Dia malah bertengkar denganmu! Apakah kau tidak bisa mulai mencintai Sungmin-oppa?”

Sangrin terus berbicara dalam hati, memikirkan semuanya dengan seksama. Kepala’nya merasakan pening seketika dan ia pun memutuskan untuk tertidur.

***

“Kajja, kita berangkat…”

Kibum tersenyum dengan bahagia’nya, dilanjutkan dengan anggukan Sangrin, Kyuhyun, Siwon, dan Sungmin. Bahkan Myorin juga ada disitu. Mereka akan menjenguk Hyeobin bersama. Setelah sampai, mereka satu-persatu menjenguk Hyeobin, karena memang jumlah mereka terlalu banyak untuk langsung masuk bersama. Kali ini gantian Kibum, tadinya Kibum mau mengajak Kyuhyun, namun Kyuhyun menolak, takut ‘menganggu’ Kibum dan Hyeobin.

Yang lain—selain Kibum memutuskan duduk di ruang tunggu.

“Rin-ah… Untuk yang kemarin, aku minta maaf ya. Aku sadar aku salah… Waktu itu aku sedang emosi.”, ucap Siwon sembari menunduk kecil. Sangrin tersenyum, “Gwenchana, oppa… Aku juga minta maaf ya.”

“Akhirnya, kalian baikan juga!”, seru Kyuhyun senang, dibalas anggukan Sungmin. Namun, Myorin hanya bisa bingung, karena tidak mengetahui apa-apa. Sangrin dan Siwon mulai bercanda dan bermain lagi. Sedangkan Sungmin, Kyuhyun, dan Myorin hanya bisa terdiam melihat tingkah mereka berdua. Tak sadar, tangan Sungmin mengepal. Hatinya perih saat melihat kemesraan mereka berdua.

Myorin memegang tangan Sungmin, “Sabar, oppa…”

Sungmin terkejut, “Sabar untuk apa?”

“Aku tau kalau oppa…mencintai Sangrin.”, jawab Myorin yakin. “Darimana kau tau?”, tanya Sungmin, masih setengah terkejut. Myorin tersenyum kecil, “Terlihat jelas dari matamu.”, jawab Myorin lagi. “Ahh… Kau juga ya.”

“Naega?”

Sungmin balas tersenyum, “Kau juga mencintai Siwon ‘kan? Aku juga bisa melihatnya, dari matamu.”

Mereka berdua terdiam sebentar dan akhirnya tertawa miris. “Tampaknya kita sama-sama patah hati ya?”, tanya Sungmin lirih. Myorin mengangguk, “Kasian sekali nasib kita, harus mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintai kita.” Sungmin mengangguk, “Bagaimana kalau kita sama-sama berusaha untuk melupakan mereka?”

Myorin kaget, “He?!”

“Ne. Daripada kita sama-sama menderita?”, tanya Sungmin seraya tersenyum. Myorin memikirkannya cepat, “Aku juga mau, oppa. Tapi, aku tidak tau bagaimana caranya.”

Sungmin mengangguk, “Aku tau!”

“Ottokhae?!”

“Obat yang paling mujarab adalah mulai mencintai orang lain.”, jawab Sungmin yakin. “Masalahnya siapa orang lain itu?”, tanya Myorin seraya menunduk. “Aku.”

“Mwo?!”

***

“Aishh… Sangrin dan Siwon sedang asyik bermain, sedangkan Sungmin dan Myorin sedang mengobrol. Hal yang paling menyebalkan di dunia ini adalah tidak punya pasangan, dan di depan mata, ada orang yang sedang melakukan itu.”

Kyuhyun berdecak kesal. “Iri ya, oppa?”

Yang ditanya kaget dan menoleh ke samping, “Kau?!”

Suster yang ada dihadapan Kyuhyun tersenyum. “Ne, aku adalah suster yang kemarin dan yang kemarin lagi.”, ucap suster tersebut, seakan mengetahui pikiran Kyuhyun. “Annyeong~ Kyuhyun imnida.”, sapa Kyuhyun, karena merasa bosan dan ingin mencoba berteman dengan suster itu. “Ahh, Kyuhyun-ssi…”

“Kau belum memperkenalkan diri…”, jawab Kyuhyun kecewa.

“Benar-benar tidak ingat siapa aku?”, tanya suster itu, cemberut. Kyuhyun menggeleng pelan. “Ahh, ingatanmu memang selalu payah, GaemKyu…!”, seru suster itu. “GaemKyu? Jamkkaman! Kau Sooyeon?!”, tanya Kyuhyun sembari mengamati suster itu dengan seksama. “Keurae, GaemKyu!”

“Ahh… Memang hanya kau yang memanggilku ‘GaemKyu’.”, ucap Kyuhyun sembari tersenyum ceria. “Kau sudah pulang dari Swedia?”, lanjut’nya lagi. Sooyeon menjitak kepala Kyuhyun pelan, “Kau ini masih babo saja. Tentu saja aku sudah pulang. Kalau belum, aku tidak akan ada disini, BaboKyu…!”

Mereka berdua tertawa ceria.

***

“Hyeobin-ah, maafkan aku. Sekarang aku baru sadar perasaanku yang sesungguhnya.”, ucap Kibum sembari mengelus rambut Hyeobin. “Ahh… Kau sudah mengatakan’nya berapa kali, hah?! Ne, aku sudah memaafkanmu, Kibum jagi.”, jawab Hyeobin sembari tersenyum. Kibum pun juga tersenyum.

Suara dering ponsel berbunyi tiba-tiba. Kibum mengangkat’nya. “Ne. Ne. Mwo?! Ne. Aku akan segera kesana!”

“Kenapa, jagi?”, tanya Hyeobin. “Sepupu jauhku yang berada di Mokpo mau kesini. Aku disuruh menjemput’nya dari bandara Incheon.”

“Ahh, Lee Donghae? Yasudah, sana jemput dia!”

Kibum mengangguk, “Gomawo, jagi. Aku akan kembali sebentar lagi. Saranghae~”

Hyeobin terkekeh, “Ne, saranghae~”

Kibum menuju pintu, lalu kembali sebentar untuk mengecup Hyeobin, dan langsung pergi. Membuat Hyeobin merona.

###

@All : Komen ya~~~ ^^

Fanfiction : ~Rain-Bow~

Punggungnya mulai menghilang. Pergi meninggalkanku. Meninggalkan namja bodoh yang sekarang merasa menyesal. Sangat menyesal. Rambut panjangnya masih berkeliaran tertiup angin. Suara petir menggelegar tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, setetes demi setetes air jatuh membasahiku. Membasahi hati yang sedang terbakar.

Pening, nyeri, dan perih mulai menyergapku. Namun, aku tak peduli. Kakiku seakan tidak bisa digerakan. Wajahku seakan tak bisa dipalingkan. Tak bisa dipalingkan dari dirinya. Yeoja biasa yang sangat luar biasa dimataku. Untuknya lah aku hidup. Untuknya lah aku bernafas. Dan untuknya lah sekarang aku merelakan ini semua.

Hujan bertambah deras. Seakan menertawakan kebodohanku. Seakan ikut meledekku. Yah, aku memang namja yang bodoh. Sangat, malah.

Karena diriku lah, malaikat itu kesepian. Karena diriku lah, malaikat itu bersedih. Karena diriku lah, malaikat itu menangis. Dan karena diriku lah, malaikat itu kehilangan sayapnya.

Ingin mengatakan, ‘Jangan pergi!’, namun tak ada kata yang keluar dari tenggorokanku. Mungkin sudah kering oleh rasa perih ini.

Di tengah jalan, ia berhenti dan memalingkan wajahnya. Menatapku dengan pandangan lirih. Aku bersyukur atas hujan yang diturunkan. Setidaknya, air mataku tidak akan terlihat olehnya. Setidaknya, ia tidak akan tau aku kesakitan tanpanya. Dia mulai terisak dan memandangku lama. Aku menutup mataku dan berbalik, tidak ingin melihatnya menangis. Karena jujur, itu membuatku semakin sakit.

Jutaan memori mulai membludak memasuki kepalaku. Memori indah yang pernah kualami. Memori indahku saat bersamanya. Saat awan hitam belum datang menerjangku.

~~~

“Annyeong, oppa…”

Aku berbalik dan tersenyum, “Annyeong… Kau disini?”

Dia mengangguk dan duduk di sebelahku, “Tentu saja. Hari ini ‘kan hari special kita. Oppa lupa?”, tanyanya seraya menggembungkan pipi. Aku hanya bisa merasa bersalah. “Mian… Pekerjaanku cukup banyak, jadi aku tak banyak memerhatikan waktu dan tanggal.”

Bola matanya menatapku sebentar, lalu akhirnya mengangguk. “Ara, oppa… Tenang saja. Aku tau betapa sibuknya dirimu. Kau adalah bintang terkenal! Semuanya mengetahui itu.”, jawabnya bijak. Aku tersenyum dan mencubit pipinya, “Ahh, kau sudah besar rupanya…”

Perempuan di sebelahku kembali menggembungkan pipinya, “Tentu saja! Aku memang sudah besar…”

Aku menggengam tangannya, “Kalau begitu kajja kita pergi untuk merayakan anniversary kita. Tapi kita ke dorm dulu ya? Aku harus berganti baju dan bersiap-siap.”, kataku dibalas anggukan manis darinya. “Dorm yang mana, oppa?”, tanyanya polos. “Tentu saja dorm Super Junior. Dorm yang mana lagi?”, tanyaku gemas dan ia hanya bisa tertawa.

~~~

Ahh, sungguh kurindukan senyuman dan tawanya yang menggemaskan itu. Entah apakah bisa kulihat lagi hal indah itu. Apa yang telah kuperbuat sekarang? Tak ada lagi senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya manisnya. Hanya ada tangis dan kesedihan. Tak ada lagi keceriaan, hanya ada kemuraman. Apakah sudah kunodai hatinya yang seputih salju itu?

~~~

“Oppa~! Buka pintunya!”, teriaknya seraya mengetuk-ketukan tangan kecil mungilnya ke permukaan pintu. Tak lama, seseorang membuka pintunya. “Eh, ternyata kalian… Kajja!”, seru Leeteuk sembari tersenyum semanis mungkin. Aku dan dirinya langsung masuk dan beranjak ke ruang tamu. “Kau tunggu disini ya? Aku mau mengganti pakaian dulu.”

Dia mengangguk patuh dan langsung duduk.

Setelah selesai, aku langsung duduk di sebelahnya. Dia sedang asyik berbincang dengan beberapa member yang lain. Tak lama, empat lelaki datang memasuki dorm. “Jonghyun-oppa…! Jino-oppa…! Jay-oppa…! Annyeong~”, sapanya dengan penuh kebahagiaan. Yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tampaknya memang semuanya sudah tau bahwa jagiya-ku ini sangat mengidolakan SM The Ballad. Tentunya selain oppa-nya sendiri.

“Ya, Cho Sangrin~! Kenapa kau tidak memanggilku? Yang lain kau sapa! Aishh…”

Aku dan yang lain tertawa mendengar ocehan Kyuhyun. “Untuk apa menyapa oppa? Dari lahir hingga sekarang, hampir setiap hari aku melihat oppa…”, sahutnya seraya cemberut. Tatapan Kyuhyun langsung beralih padaku. “Sungmin-ah, ajarilah yeo-chingumu dengan baik…”, katanya dan kami semua kembali tertawa lagi.

“Sudahlah, kajja kita pergi, Min-oppa…”

Aku mengangguk dan menyeimbangkan langkahnya. Dia berhenti sebentar dan menatap kearah tiga lelaki idolanya, “Annyeong, 3J oppa…”, sapanya seraya langsung kembali menarikku keluar dorm. Jonghyun, Jino, dan Jay yang merasa disapa hanya melambai-lambai, sementara yang lain kembali tertawa.

~~~

Tak sadar, senyuman menghiasi bibirku saat memori itu masuk. Betapa indahnya masa itu. Masa dimana tak ada sedetik pun yang terlewat bersamanya. Masa dimana tak ada yang bersedih. Masa dimana kita selalu tersenyum. Masa yang paling bahagia. Betapa menyesalnya, kebahagiaan itu harus sirna sekarang. Sirna bersama diriku.

~~~

“Lihat, oppa!”, serunya dan aku pun memandang kearah apa yang ditunjuknya. Puluhan burung camar sedang terbang berkelompok. Kutatap wajahnya yang sedang sangat terpana. Matanya membiaskan sinar yang membuatnya semakin menawan. Kuberhentikan mobil dan tak kuhiraukan pertanyaan darinya. Kukecup bibirnya yang merah muda. Dia sedikit terkejut, namun ia tak menolak. Malah ikut menikmatinya.

Setelah cukup lama, aku menghentikannya dan kemudian langsung kembali menyetir. Arah pandangannya sontak langsung ia tujukan pada kaca mobil. Keadaan menjadi canggung sekarang. Namun aku tau. Kita berdua tau. Bahwa pipi kita sudah merona sempurna sekarang. Tak bisa kuhalangi atau kukontrol bibirku ini untuk terus tersenyum. Begitupun dengannya.

Perjalanan telah selesai. Aku mulai membuka pintu dan berjalan kearahnya. Membuka pintunya. Kugenggam tangannya dan bergegas berjalan menuju pantai. Pasir putih dan ombak kecil menyambut kami. “Wuah, indah~!”, ucapnya terpana. Aku hanya tersenyum menanggapi kepolosannya. “Tapi, kenapa di pantai yang indah ini, tidak ada pengunjung sama sekali, oppa?”, tanyanya dengan kecewa.

“Karena pantai ini sudah kupesan. Khusus hari ini,  pantai indah ini adalah milik kita seutuhnya.”, jawabku dan rona kembali tercipta di wajahnya.

Kucubit pipinya, “Kau memang sangat menggemaskan!”

~~~

Kutorehkan kepalaku sedikit kebelakang. Dia, Cho Sangrin-ku, melangkah mendekat. Dekat dan semakin dekat. Hingga wajahnya berada tepat di depan wajahku. Hingga tatapan kita bertemu. Aku bisa menatap wajahnya lagi yang menggemaskan. Walaupun dengan keadaan basah oleh air hujan dan air matanya.

Aku mengangkat tanganku dan bersiap menyentuh wajahnya…

~~~

“Sun-setnya sangat indah!”, serunya kembali terpana. “Jagi, sudah berapa kali kau terpana hari ini?”, tanyaku meledek. “Mungkin sekitar lima kali…”, jawabnya pelan. Aku tertawa dan mengejarnya. Ia langsung berlari menghindariku. Kita terus berlarian hingga akhirnya aku bisa menggapainya. Bersamaan dengan itu, kita berdua terjatuh. Dia menimpaku. Dan tatapan kita bertemu.

Rona kembali muncul di pipi kita berdua.

Dengan cepat, kita langsung kembali pada posisi masing-masing. Sekarang kita berjalan kecil, tangan kita saling menggengam. Kaki kita menyentuh air pantai yang dingin namun segar. Senyum terus terhias pada wajah kita. “Sangrin-ah…”

“Ne, Sungmin-oppa?”

“Na…saranghaeyo.”

“Na tto, oppa.”

Aku menghadapnya. “Sekarang tutup matamu…”

Dia mengangguk dan mulai menutup matanya. Aku merogoh saku celanaku dan mengambil sebuah kotak putih. Kubuka kotak itu dan kuambil salah satu benda di dalamnya. Kupakaikan benda melingkar itu di jari mungil Sangrin. Dia seketika terkejut dan membuka matanya. “Ini—”

“Maukah kau menikah denganku, Cho Sangrin? Di kala suka dan duka yang akan kita lewati bersama, di kala badai dan ombak yang menerjang, dan hingga maut memisahkan kita?”, tanyaku dengan puitis. Cairan bening keluar dari pelupuk matanya. “Kau menangis, jagi? Apakah aku berbuat salah?”

Dia menggeleng, “Aku terharu, pabo…!”

“Lalu, jawabanmu?”, tanyaku menanti. Ia mengangguk dan memelukku. Kita berdua mulai menangis. Yah, ini adalah kali pertama aku menangis demi seorang perempuan. Dan perempuan beruntung ini adalah calon istriku. Tiba-tiba, hujan mengguyur kita berdua.

“Kajja, kita pulang, oppa…”

Aku mengangguk dan kita langsung berlari menuju mobil.

~~~

Aku mengangkat tanganku dan bersiap menyentuh wajahnya, namun tak ada yang kuraih. Hanya bayangan. “Jagi…”, sahutku seraya mulai kembali menangis. Ia juga begitu. Kita berdua terpisahkan maut. Hanya bisa melihat, namun tak bisa menyentuh. Perih rasanya.

Bayangannya mulai hilang. Aku mencoba menariknya, namun hanya bayangan yang kuraih. Air mataku kembali terjatuh tak karuan. Begitu pun dengan hujan yang makin lebat.

“JAGI…!!!”

~~~

“Kira-kira apa reaksi Kyu ya jika tau aku sudah melamarmu, Rin-ah?”

Dia menatapku lalu tertawa, “Molla~ Mungkin dia akan menusuk oppa hidup-hidup.”, jawabnya iseng. “Mwo?! Kalau begitu tidak jadi deh…”

“Oppa~~~”, sahutnya sembari cemberut. “Aigoo~ Aku hanya bercanda, nona manis! Mana mungkin aku mau melepasmu… Tapi ada syaratnya!”, kataku sembari tersenyum jail. “Apa?”, tanyanya sedikit takut. “Lupakanlah SM The Ballad-mu itu. Aku cemburu tau jika kau terus membicarakan Jonghyun, Jino, dan Jay-hyung!”

Ia langsung memukul pelan tanganku, “Andwae, oppa! Selamanya, aku adalah Baladears. Tapi—”

“Tapi apa?”, tanyaku tak sabar. “Aku juga akan selalu menjadi fans-mu, oppa. Aku adalah Smilers dan aku adalah ELF.”

“Ahh, darimana kau belajar kata-kata manis itu? Tidak mungkin dari Kyu kan?”, tanyaku sembari kembali mencubitnya. “Umin-oppa! Berhenti mencubit dan mengucapkan nama ‘Kyu’… Kalau saja aku tidak tau Kyu-oppa sudah punya pacar, mungkin aku sudah mengira kalian saling menyukai tau!”

Aku terkekeh pelan dan mata kita saling berpandangan. “Saranghaeyo…”

Tak sadar, kita berdua mengucapkan kata ‘saranghaeyo’ seraya bersamaan.

“OPPA…!”

Dengan cepat, aku mengikuti arah pandangan Sangrin dan bisa melihat mobil yang kita tempat mulai terpeleset karena air hujan dan memasuki jurang kecil.

~~~

Hujan menjadi saksi kita bersama…

Hujan menjadi saksi kita tertawa…

Dan sekarang, hujan menjadi saksi kita berpisah…

Maaf jika aku tak bisa menepati janji untuk bersamamu selamanya…

Jika hujan datang, ingatlah aku…

Karena aku adalah pelangi-mu…

Dan pelangi—akan muncul setelah hujan berakhir…

Aku akan terus menjagamu…

Selamanya…………

~~~

Hujan mulai reda. Dan pelangi pun mulai muncul. Seseorang berdiri disamping sebuah nisan. Dia meletakkan sebuket bunga melati dan kemudian bergegas pergi. Puluhan massa mendekatinya dan meminta pendapat, namun ia hanya bisa diam dan bergegas masuk ke mobil.

“Jangan menangis lagi… Kau harus kuat.”, seru Kyuhyun sembari tersenyum. Orang yang dihibur, masih menunduk sedih.

“Sangrin-ah… Lihat aku!”

Perempuan itu memandang oppa-nya dengan lirih. “Percayalah… Sungmin-hyung tidak akan mau melihatmu bersedih apalagi menangis begini.”

Sangrin termenung sebentar dan akhirnya tersenyum. “Kamsahamnida, oppa…”

“Nah, itu baru Sangrin yang kita kenal!”, seru Heechul dan semua orang yang ada di mobil pun tersenyum. Begitu pula dengan Sangrin.

“Kajja, kita pulang ke dorm!”

Yang lain mengangguk dan mobil mulai berjalan.

Sangrin menatap pelangi yang ada di atas langit. Sinarnya berpendar sangat terang. “Apakah itu kau, Sungmin-oppa? Kalau iya, aku berjanji akan terus bahagia dan tersenyum. Aku juga akan terus mencintaimu…”

Perempuan itu menggengam cincin pemberian Sungmin dengan erat sembari tersenyum cerah. Secerah pelangi yang terbentang di angkasa.

<END>

Sebenarnya ini adalah FF pelarian author dari FF lainnya yg belum jadi… *siap2 dibakar*

Bagi yang merasa bias Sungmin, aku pinjem ya Sungmin-nya… Abisnya gak tau lagi mau pake pemain siapa~ ><

Silahkan baca ‘n komen please~~~

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter Two)

“Di…mana…ini?”, tanya Donghae yang ternyata sudah sadar. Ia mencoba bangun, namun kepalanya terasa sangat berat dan seluruh tubuhnya seakan ditimpa ribuan ton karung beras. “Kau sudah sadar?”, tanya Kyuhyun dan Kibum secara bersamaan. Donghae menoleh pelan kearah mereka berdua dan satu orang yang masih pingsan. “Siapa…kalian? Dan…dimana ini?”

“Aku Kibum dan dia Kyuhyun. Kita ada di sebuah penjara… Aku tidak tau tepatnya tempat apa ini~”, jelas Kibum dibalas anggukan Kyuhyun. “Sebenarnya…kenapa…kita…ditangkap seperti ini?”

Donghae, Kyuhyun, dan Kibum menoleh dan bisa melihat Siwon sedang beranjak bangun ke posisi duduk. “Sudah sadar, Siwon-ah? Appa-mu pasti akan marah sekali jika tau kau diculik seperti ini…”

Seketika Donghae dan Kyuhyun menunjuk Siwon. “Jadi, benar kau anak Presiden Korea Selatan??!!”, tanya mereka berdua dibalas anggukan datar Siwon. “Kau juga…tidak tau jika appa Kibum adalah…Menteri Ekonomi Kim Raebum?”

Mereka berdua—Donghae dan Kyuhyun makin membelalakan mata mereka. “Lebih baik kita berkenalan secara formal… Dimulai dariku ya? Kim Kibum imnida~ 18 tahun dan mahasiswa di Seoul University. Jurusan bisnis.”, ucap Kibum seraya tersenyum. “Choi Siwon imnida~ 17 tahun dan pelajar kelas 3 SMA di Hangra High School.”

Kyuhyun menunduk kecil. “Cho Kyuhyun imnida~ 17 tahun dan Pemegang Juara Bertahan Matematika termuda. Kelas 3 SMA di Sangki High School.”

Donghae, Siwon, dan Kibum kembali terkejut. “That’s cool~!”, seru Kibum dibalas anggukan Donghae dan Siwon. “Lee Donghae imnida~ 18 tahun dan mahasiswa di Namjae High School. Jurusan seni.”, balas Donghae sembari menunduk kecil. “Kau seorang mahasiswa seni? Wah~ Sudah lama aku ingin menjadi entertainer…!”, seru Siwon girang. Kibum tersenyum semangat.

“Jinca?! Aku juga…!”

Kyuhyun ikut mengangguk. “Aku juga sama…!”

“Bidang mana yang kalian mimpikan? Kalau aku, dancer…”, kata Donghae senang, mungkin karena tak sengaja memiliki teman baru yang mempunyai impian yang sama dengannya. Siwon tersenyum. “Kalau aku dalam bidang acting~!” Kibum ikut tersenyum. “Kalau aku model~!”, Kyuhyun mengangguk-angguk, “Aku singer~! Aku benar-benar ingin menjadi penyanyi…”

“Wah…! Kita memiliki satu impian yang sama~”

Semuanya mengangguk girang, namun kegirangan mereka terhenti saat melihat Donghae tiba-tiba kesakitan. “Wae-yo, Donghae-ya?”, tanya Kyuhyun bingung. “Lukaku…sakit~” jawabnya terbata-bata. Seketika Kibum mengecek luka di leher Donghae, yang sudah mulai membiru. Sama seperti bibirnya yang juga membiru. “Kupikir ia terkena racun… Dan racun itu ada dalam tubuhnya.”

“Darahku juga belum berhenti mengalir…”

Sontak semuanya melihat kearah sang pembicara. “Darahmu bisa habis jika terus mengalir seperti ini terus menerus, Siwon-ya~!” seru Kyuhyun terkejut. “Kalian berdua seharusnya cepat ditangani, jika tidak…aku tidak tau apa yang akan terjadi.” kata Kibum dengan wajah cemas.

Kyuhyun memeriksa luka Donghae dengan cermat. “Ini…aku kenal racun ini. Racun ini sering dipakai untuk mencelakai orang~! Racun ini akan menyerang darah secara perlahan. Dan…jika tidak segera ditangani dalam tiga hari, orang yang terkena racun ini akan—kalian taulah.”

Kibum terbingung. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Darah Siwon juga belum berhenti…”

“Coba saja ikat dengan kain ini…” ucap Kyu seraya memberikan kain dari tasnya. Kibum mengangguk dan mulai mengikat luka di kaki Siwon. “Tidak ada manfaatnya… Darahku malah berpindah membasahi kain~ Tak ada yang bisa kita lakukan disini.” kata Siwon dengan pelan. Donghae seketika menatap Siwon tajam. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau mau membiarkan kita mati konyol?!”

Siwon ikut menatap Donghae. “Bukan begitu maksudku~! Kita harus keluar dari sini… Itu cara satu-satunya agar kita berdua bisa bertahan hidup~”

Kyuhyun dan Kibum berbicara secara bersamaan, “Bagaimana caranya?” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku…belum memikirkan hal itu.” ucapnya dibalas tundukan lemas yang lainnya. “Bahkan ruangan ini tidak mempunyai rongga sama sekali. Hanya ada titik-titik kecil yang bahkan tidak bisa dilewati nyamuk sekalipun…”

Semuanya mengangguk mendengar analisa Kyuhyun. “Lalu?”, tanya Donghae mencari jawaban. Namun tak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.

Kibum mulai berdiri dan memeriksa seluruh permukaan tembok ruang pengap yang mereka tempati. Sedangkan Kyuhyun berkutat dengan semua peralatan yang ada di tasnya, mencoba mencari cara untuk menyembuhkan Donghae dan Siwon.

“Aku tau!”

Teriakan Kibum sontak membuat ketiganya menoleh, menatap Kibum dengan tanda tanya. “Lihat langit-langitnya! Diujungnya terdapat semen yang lunak, mungkin terlalu lama terkena air hujan. Mungkin jika kita bisa membobol langit-langit itu, kita bisa keluar dari sini!”

“Daebak, Kibum-ya…!”, puji Donghae dengan girang dibalas anggukan Siwon. “Masalahnya sekarang, bagaimana caranya menyampai langit-langit itu? Langit-langit itu terlalu tinggi untuk kita. Bahkan Siwon yang paling tinggi disini saja tidak bisa menyentuhnya.” Kyuhyun tiba-tiba berbicara, membuat ekspresi Kibum, Siwon, dan Donghae yang tadinya riang berubah menjadi kecut kembali.

“Tunggu~! Dimana tasmu, Kyuhyun-ya?”, tanya Siwon dengan cepat. Sontak Kyuhyun memberikan tasnya. Siwon mulai mencari semua barang yang ada ditas itu. Setelah lama mencari, sebuah senyuman terhias di bibirnya. Dengan girang ia menunjukkan barang yang ada di tangannya. Sebuah tali dengan string kecil. “Kemana kau membawa ini di tasmu, Kyu-ya?”, tanya Kibum penasaran.

“Sesudah sekolah, aku akan berjualan. Dan biasanya barang jualan ini, kutaruh di sepedaku dengan bantuan tali dan string ini agar tidak ja—.”, jelas Kyuhyun. “Apakah kalian tidak mengerti point yang aku maksud?”, tanya Siwon menginterupsi.

“Maksudmu, tali dan string ini bisa digunakan untuk mencapai langit-langit itu kan?”

“100 for you…!”, puji Siwon kepada Donghae yang bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

Kibum dan Kyuhyun membelalakan matanya, “Ahh…!!! Kau benar, Won-ya~!”, puji mereka hampir bersamaan. Kibum dan Kyuhyun langsung bergegas mengambil tali dan string yang ada di tangan Siwon, lalu bahu membahu melemparkan string yang sudah diikat pada tali tersebut ke langit-langit. Setelah telah dipastikan, Kibum mulai memanjat naik dengan tali dan mulai membobol bagian langit-langit yang lunak tersebut. “Berhasil~!”

Kyuhyun menoleh kepada Donghae dan Siwon, “Kalian tunggu disini, aku dan Kibum akan masuk ke dalam langit-langit itu dan menyelinap masuk. Lalu kami akan membuka pintu untuk kalian. Ara?”

Donghae dan Siwon mengangguk. “Bawa dan pakai ini di kerah kalian. Untuk mempermudah komunikasi.”, seru Siwon sembari memberikan dua micro-phone kecil untuk Kyuhyun dan Kibum. Mereka berdua mengangguk dan mulai memasuki langit-langit yang telah hancur dibobol itu. “Ini…”

Donghae mengambil micro-phone yang diberikan Siwon, “Gomawo~”

Mereka berdua mengenakan micro-phone itu segera. Dan menunggu kedatangan atau kabar dari kedua teman mereka.

 

+++

 

“Ahh, sangat sempit disini…”, protes Kyuhyun saat baru memasuki lorong yang amat kecil. Ia menoleh ke depan dan bisa melihat Kibum sudah berjalan jauh di depannya. “Ya! Tunggu aku, Kibum-ya!!!”, seru Kyuhyun sembari menambah kecepatannya. “Palli, Kyu-ya…! Donghae dan Siwon bisa kenapa-napa jika kita tidak cepat.”

Kyu mencibir, “Kau kan punya tubuh yang lebih kecil, jadi pasti muat. Kalau aku kan tidak…”

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dengan diam. “Kyu-ya… Ada dua cabang disini. Mana yang harus kita pilih?”, tanya Kibum sembari menunjuk dua cabang di dalam ventilasi udara yang mereka lewati itu. “Ehmm… Yang kanan saja.”, usul Kyuhyun cepat. “Kau tau darimana?”, tanya Kibum lagi, penasaran. “Hanya feeling~”, jawab Kyu santai.

Kibum mendengus dan meneruskan perjalanannya ke kanan, bergantung pada feeling Kyuhyun. Hingga mereka berhenti di sebuah jalan buntu. Di bawahnya ada tembok lunak, seperti yang mereka temui di ruang sekap mereka itu. “Apa yang kita harus lakukan agar tembok ini pecah?”, tanya Kyuhyun, berusaha memikirkan semuanya. Kibum menendang-nendang tembok itu dengan kakinya, namun tak ada yang berubah.

“Bagaimana ini?”

Kyuhyun menggeleng tanda tidak tau. “Akan aku coba hubungi Donghae dan Siwon dengan micro-phone ini. Yoboseyo?”

Suara Donghae terdengar, “Yoboseyo… Kyuhyun-ya, ada apa?”

“Kita sudah ada di jalan buntu dan hanya ada tembok lunak yang ada di bawah kita. Kira-kira bagaimana kita menghancurkan tembok lunak ini? Kita butuh pendapat kalian…”, kata Kyuhyun menjelaskan. “Coba gunakan kawat. Kibum-ya, kau selalu membawa kawat kan di kemejamu?”, tanya Siwon memberi usul.

Kibum menggeledah saku kemejanya dan akhirnya menemukan sebuah kawat. “Bagaimana caranya menggunakan kawat untuk membuka tembok? Ini kelihatan tidak masuk akal, Siwon-ya.”, tanya Kibum kebingungan. “Ingat adegan film-film action? Gunakanlah cara itu.”

“Film action?” tanya Kyuhyun sembari mengingat-ingat. “Maksudmu dimana sang pemeran dalam film itu memelintir kawatnya dan memasukkannya dalam lobang kecil dalam pintu atau jendela kan?”, tanya Donghae. “Ne…! Donghae benar~”

“Akan kucoba!”, Kibum memulai aksinya memelintirkan kawat itu dan memasukkannya ke dalam lobang yang terdapat pada tembok lunak itu. Dan ceklek~!

“Berhasil~!”, seru Kyuhyun girang. “Kita akan segera masuk! Tunggu saja…”, kata Kibum sembari mematikan micro-phone nya. Mereka mulai turun dari atas dan akhirnya kembali menjejak lantai. “Dimana ini?”, bisik Kyuhyun saat melihat ruangan yang tidak pernah mereka lewati sebelumnya. “Molla. Sebaiknya kita cari ruangan itu.”, saran Kibum dibalas anggukan patuh Kyuhyun.

Mereka mulai mencari satu persatu ruangan. Dan dengan cepat, mereka bisa menemukan ruangan dimana Donghae dan Siwon berada. “Kajja kita keluar darisini~!”, kata Kibum dan Kyuhyun bersamaan. Kyuhyun memapah Siwon, sedangkan Kibum memapah Donghae. Namun perjalanan tampaknya tak semulus yang mereka kira. Beberapa panah melesat kearah mereka. Untung mereka bisa menghindarinya.

Dengan kecepatan yang ditambah, mereka bergegas mencari jalan keluar. Namun, panah mulai melesat dari berbagai arah, membuat mereka kerepotan menghindarinya. “Darimana panah ini?”, tanya Kibum seraya masih berusaha menhindari panah tersebut. “Tampaknya ini jebakan yang sudah mereka pasang…”, jawab Donghae, yang juga sedang bekerja keras menghindarinya.

Kyuhyun mengeluarkan sebuah lembaran besi besar, membuat tubuh dirinya dan Siwon yang sedang dipapahnya aman. “Berlindung saja disini!”, seru Kyuhyun. Donghae dan Kibum mengangguk dan mulai saling berdekatan hingga seluruh tubuh mereka aman. Dengan cepat, mereka kembali berlari mencari jalan keluar yang tidak mereka temukan sejak tadi. Sejauh mata memandang, hanya ada lorong-lorong gelap yang mereka langkahi.

“Tunggu…!”

Semuanya berhenti dan memandang Kyuhyun. “Wae-yo, Kyu-ya?”, tanya Kibum penasaran. “Perhatikan baik-baik lantai itu!”, Kyuhyun berucap sembari menunjuk lantai yang tepat berada di depan mereka. Kyuhyun mengambil kertas dari tasnya dan melemparnya ke lantai tersebut. Dan kertas itu…terlarut dan kemudian menjadi abu!

“OMONA~!!!”

Donghae terkejut setengah mati, begitu juga dengan yang lainnya. “Ottokhae?”, tanya Kibum bingung. “Coba saja lempar kertas lagi, tapi kali ini lebih jauh.”, Siwon berbicara. Kyuhyun mengangguk dan mencoba melemparkannya. Kali ini kertas tidak terlarut. “Jaraknya masih bisa kita lewati. Kajja!”, seru Siwon sembari berjalan perlahan-lahan dengan sedikit pincang dan meloncati lantai itu. Ia terjatuh, namun berhasil melewatinya.

“Kajja…!”

Mereka bertiga mengangguk dan mulai meloncat satu persatu. Kyuhyun meloncat dan berhasil. Begitu juga dengan Donghae. Saat Kibum melompat, kakinya hampir terkena lantai yang larut itu, namun untungnya Donghae, Kyuhyun, dan Siwon memegang kakinya, hingga hal mengerikan itu tak terjadi.

 

+++

 

Seorang pria berdiri di depan monitor. Kedua tangannya ia taruh di belakang. “Hebat juga mereka…”, puji orang yang duduk di sebelah kirinya. “Kau tak salah pilih orang, Jungsoo-ya~”, kata orang yang sedang berdiri di sebelah kanan Jungsoo. Yang diajak bicara, menghadap kearah mereka berdua.

“Tentu saja… Sangat susah memilih mereka, Youngwoon-ya, Joongwoon-ya.”

Orang dengan tubuh lebih besar mengkerutkan keningnya dan memperbaiki posisi duduknya, “Bagaimana caranya untuk memilih mereka?”

“Youngwoon benar. Bagaimana caranya memilih diantara banyak orang di muka bumi ini?”, tanya Joongwoon, ikut mengkerutkan keningnya. “Aku harus menerjemahkan huruf ‘Dousk’ yang ribet itu dan melakukan banyak riset.”, jawab Jungsoo seraya membetulkan letak kaca matanya.

“Huruf ‘Dousk’?”

Youngwoon bergedik, “Maksudmu huruf khusus Empat Ksatria itu?”

Jungsoo mengangguk, “Ne… Kau tau kan kisah Empat Ksatria?” Youngwoon dan Joongwoon mengangguk. “Kisah tentang Empat Ksatria pada abad ke-15 yang berhasil memerangkap musuh terbesar klan Super Junior kan? Walaupun akhirnya mereka berempat menghilang misterius dan musuh itu kembali berkeliaran kabur.”, kata Joongwoon dengan nada tanya.

“Dan sebelum mereka menghilang, mereka sempat menulis beberapa kalimat huruf Dousk yang konon hanya mereka berempat dan petuah sakti yang mengetahuinya…”, Youngwoon melanjutkan.

Jungsoo mengangguk, “…dan aku berhasil menerjemah satu kalimat itu.”

Youngwoon dan Joongwoon terkejut dan memandang Jungsoo dengan pandangan penuh tanya. “Apa artinya?!”, tanya mereka berdua bersamaan. Jungsoo tersenyum, “Bahwa suatu saat nanti akan ada empat ksatria yang adalah reinkarnasi mereka untuk menyelamatkan dunia ini. Dan merupakan pengacakan dari nama mereka.”

Joongwoon masih bingung, “Pengacakan dari nama mereka?”

“Maksudmu Lee Kyuhae, Choi Kiwon, Cho Sihyun, dan Kim Dongbum?”

Jungsoo mengangguk menanggapi pertanyaan Youngwoon. “Dan nama empat anak itu?”, tanya Jungsoo sembari mengangkat alisnya, berusaha membuat Youngwoon dan Joongwoon paham. “Lee Donghae, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, dan Kim Kibum?!”, seru mereka berdua bersamaan.

“Unbelieveble…!”

Joongwoon menatap Jungsoo, “Dan artinya mereka adalah…”

“…reinkarnasi Empat Ksatria itu?”

 

#To Be Continue#

 

@All readers : Gomawo for baca… Komen please?? ^^

 

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Four)

“Ottokhae, Kyu oppa??!!”

Kyuhyun mengangkat bahu’nya. “Molla, Myo-ah… Pintu’nya benar-benar terkunci dari luar. Tampak’nya kita harus benar-benar bermalam disini.” Myorin pergi ke suatu gudang, dan tak lama kemudian duduk dengan cemas. “Persediaan selimut sudah tidak ada… Ottokhae, oppa? Udara malam ini kan pasti sangat dingin…!” gumam Myorin kebingungan.

Myorin duduk di sofa, satu-satu’nya tempat empuk yang ada di butik itu. Kyuhyun ikut duduk di sebelah Myorin. Ia membuka jaket’nya dan memberikan’nya pada Myorin. Pandangan Myorin seketika tertuju pada Kyuhyun dan mengkerutkan dahi’nya. “Apa maksudmu, oppa?”

“Pakailah… Kau pasti kedinginan kan?”

Myorin menggeleng. “Aku memang kedinginan, oppa… Tapi nanti kau juga pasti kedinginan jika memberi jaket ini padaku.” Kyuhyun berpikir sejenak, lalu ia menjentikkan jari’nya. “Nah, kalau begini tidak ada yang kedinginan kan?” tanya Kyuhyun yang menaruh jaket’nya di tengah-tengah, membiarkan jaket itu menyelimuti mereka berdua.

Myorin terkejut dan membelalakan mata’nya tak percaya. Namun, ia tak bisa melawan, karena rasa dingin sudah mulai menusuk’nya.

“Kyuhyun oppa~”

Kyuhyun yang merasa nama’nya dipanggil menoleh. Myorin tampak ragu sejenak. “Apa…Siwon oppa dekat sekali dengan Sangrin?” tanya’nya dengan masih ragu. “Ne, mereka sangat dekat… Memang kenapa? Kau suka ya dengan Siwon?” tanya’nya dan wajah Myorin seketika memanas.

“And…wae~! Hanya…hanya bertanya. Tapi, bukankah Sangrin juga dekat dengan Sungmin oppa?”

“Kalau itu, aku tidak tau… Tenang, kalau kau memang menyukai Siwon, aku akan membantumu~” jawab Kyuhyun seraya tertawa kembali. “Andwae~!!!” ucap Myorin cepat sembari menundukan kepala’nya. Kyuhyun tersenyum jail. “Dasar cinta…” seru’nya seraya mengerucutkan mulutnya.

***

Suara kicauan burung menyambut datang’nya pagi. Sangrin membuka mata’nya perlahan dan bisa melihat Siwon sedang tertidur di sebelah’nya. Sangat damai dan manis. Tak sadar, ia membeku menatap pemandangan ‘indah’ di depan’nya. “Sudah bangun, Rin-ah?” tanya Siwon seraya membuka mata’nya perlahan dan beranjak bangun. Sontak Sangrin langsung mengedarkan pandangan’nya kearah lain.

“Kenapa kita ada di mobil? Mana Kyuhyun?”

Perempuan itu terkejut dan mengedarkan pandangan’nya ke seluruh mobil. “Tampak’nya kemarin kita ketiduran, oppa… Tapi, masa hingga sekarang Kyuhyun oppa masih ada di dalam butik?” Siwon mengangkat bahu’nya tanda tak tau. “Lebih baik kita periksa di dalam…”

Sangrin mengangguk dan mereka berdua—ia dan Siwon langsung bergegas ke butik. Mereka membuka pintu’nya dan langsung memasuki butik itu. Sangrin yang melangkah lebih dulu, memberhentikan langkah’nya. Pemuda yang lebih tinggi 25 cm dari Sangrin ikut membeku di belakang’nya. “Apa…kah itu benar-benar Kyu…op…pa?”

“Ne, itu…benar-benar Kyu. Kenapa Kyuhyun bisa bersama Myorin?”

Sangrin mengangguk setuju. Dengan cepat, ia langsung membangunkan Kyuhyun yang sedang berada di posisi ‘dekat’ dengan Myorin. “Sangrin-ya~!!! Untung kau datang…!”

Orang yang dipanggil menepis tangan oppa satu-satu’nya itu. “Tak bisa kubayangkan, oppa bisa mengkhianati Jinra onnie~!”

Kyuhyun terkejut, sedangkan Myorin yang juga sudah bangun langsung berdiri. “Siapa Jinra?” tanya’nya bingung. “Jinra onnie itu adalah istri Kyuhyun oppa… Kakak ipar’ku.” jelas Sangrin dibalas keterkejutan dari Myorin. “Kyuhyun oppa sudah punya istri? Kenapa kau tidak cerita, oppa? Tenang kok, kita disini karena pintu tiba-tiba terkunci dari luar… Tidak ada apapun!” elak Myorin dengan cepat, takut Siwon salah sangka.

“Jinja, Kyu oppa?!”

Kyuhyun mengangguk, tapi ia masih beku di tempat. Sedetik kemudian, ia mulai menitikkan air mata. “Wae-yo, oppa? Apakah perlakuan kasar’ku menyakitimu? Mian, oppa… Aku tidak tau kalau kalian hanya—“

“Bukan salahmu, Rin-ah. Hanya saja, aku dan Jinra…sudah cerai.”

“Mworago?! Cerai…??!! Tapi kenapa? Dan kenapa kau tidak pernah membicarakan’nya dengan kami selama ini?!” tanya Siwon angkat bicara.

Sangrin mengangguk tanda setuju, sedangkan Myorin hanya diam, tidak tau dan tidak mau ikut campur dalam masalah keluarga mereka. “Jinra…selingkuh dengan pria lain…dan aku melihat’nya sendiri dengan mata kepalaku. Setelah itu, aku langsung menceraikan’nya. Aku tidak mau melihat kalian ikut terbebani, jadi aku tidak cerita masalah ini kepada…kalian. Mian.”

Dengan cepat, Sangrin langsung memeluk Kyuhyun dengan erat. Siwon juga ikut tersenyum dan memeluk mereka berdua. Myorin hanya bisa melihat mereka dengan seulas senyum. Dalam hati’nya ia mengakui, bahwa ternyata Sangrin, Siwon, dan Kyuhyun memang oppa-dongsaeng yang sangat dekat.

“Kami pergi dulu ya, Myorin onnie. Annyeong~”

Myorin melambaikan tangan pada mobil yang baru memulai perjalanan’nya. “Sekarang, apa yang akan oppa lakukan?” tanya Sangrin memecah keheningan. Kyuhyun yang sedang menyetir, tampak berpikir keras. “Kupikir, aku akan melanjutkan kuliahku kembali sampai tamat.” jawab Kyuhyun yakin.

Sangrin menghela nafas kesal. “Aniya…! Maksudku dalam hubungan, bukan’nya yang lain~!”

“Molla… Yang penting sekarang, oppa tidak akan terlalu memikirkan percintaan.” jawab Kyuhyun dengan serius. Siwon dan Sangrin tertawa melihat perubahan sikap Kyuhyun. “Hei, ada apa dengan kalian?!”

“Ani-yo…!” seru mereka bersamaan.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Dan itu semakin membuat Sangrin dan Siwon tertawa. Di tengah tawa mereka, dering ponsel Sangrin berbunyi. “Yoboseyo? Nugu?” tanya Sangrin. “Sungmin imnida~ Ini Sangrin kan?” balas suara di balik telepon. “Ah, Sungmin oppa~! Wae, oppa?”

Seketika Siwon terdiam. Ada rasa cemburu di dasar hati’nya saat Sangrin memanggil nama Sungmin. “Ani… Oppa hanya ingin bertanya, apakah kau punya waktu malam ini?”

“Molla, oppa… Aku harus tanya Hyeobin onnie dan Kibum oppa terlebih dahulu. Memangnya kenapa?” jawab Sangrin dengan santai.

Sungmin terdiam sebentar. “Ani… Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kabarkan oppa ya nanti~ Annyeong, Rin-ah.” seru’nya dengan lembut. “Ne, oppa… Annyeong~” balas Sangrin sembari menutup telepon. “Dari Sungmin hyung?” tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depannya.

“Ne…”

“Apa yang dia katakan?”

“Sungmin oppa bertanya apakah aku ada waktu malam ini…”

Kyuhyun menautkan alisnya. “Lalu? Kau menjawab apa?”

“Aku bilang aku harus menanyakan’nya pada Hyeobin onnie dan Kibum oppa dulu.”

Siwon angkat bicara. “Memangnya apa yang mau dia lakukan jika kau punya waktu?”

“Molla… Sungmin oppa hanya bilang ingin mengajakku jalan-jalan.” jawab Sangrin sembari menaikkan bahu’nya. “Dan kau percaya padanya? Dia adalah namja, Sangrin-ah…! Dan kau adalah yeoja~! Bagaimana jika dia ingin berbuat macam-macam padamu?!”

Sangrin sedikit terganggu. “Maksudmu apa, oppa?! Sungmin oppa bukan orang yang seperti itu~ Biasanya aku juga pergi dengan kau, oppa… Dan kau juga namja kan? Sama seperti Sungmin oppa?”

“Tapi tetap saja—“

“Cukup, Siwon oppa~~~!!! Ada apa sih denganmu?! Kyuhyun oppa yang adalah oppa kandungku saja tidak seperti ini!” bentak Sangrin dengan keras. Berhasil membuat Siwon terdiam dan memandang Sangrin tak percaya. “Aku…aku tak percaya kau membentakku saat ini, Rin-ah. Padahal…sebelumnya…dalam waktu selama 13 tahun kita saling mengenal, kau…kau tidak pernah melakukan ini padaku. Dan…ini semua hanya karena Sungmin hyung?”

Bersamaan dengan itu, mobil mereka telah sampai di depan apartement. Siwon langsung keluar dan pergi meninggalkan Sangrin serta Kyuhyun. Mata Sangrin berair dan tak lama mengeluarkan air mata. “Kau…menangis?” tanya Kyuhyun yang daritadi hanya diam.

Sangrin tak menjawab. Entah kenapa, hatinya sangat sakit. Sakit sekali. Ini adalah kali pertama ia mempunyai konflik dengan Siwon, oppa yang sangat ia sayangi. Atau yang Sangrin rasakan bukan hanya sekedar rasa sayang seorang dongsaeng kepada oppa’nya?

***

(Sangrin’s POV)

Aku mematut pantulan diriku di kaca. Sempurna. Dengan cepat, aku mengambil tas pinggang dan langsung beranjak keluar dari kamar. Hyeobin onnie dan Kibum oppa yang sedang duduk menatap TV sontak melihatku. “Mau pergi bersama…Sungmin ya?” tanya Hyeobin onnie yang nada’nya lebih tepat sebagai godaan, bukan pertanyaan.

Aku mengangguk seraya tersenyum. Kibum oppa hanya memandangiku. Pandangannya sangat sayu dan sendu. Hyeobin onnie beranjak dan menepuk bahuku. “Fighting~! Kurasa Sungmin itu menyukaimu…” komen’nya sembari berjalan kearah dapur. Aku hanya terdiam. Kulirik Kibum oppa yang masih menatapku dengan sayu.

“Kau…menyukai lelaki itu? Namanya Sungmin?”

Kibum oppa memandangku, meminta penjelasan. “Ne…oppa. Namanya Sungmin. Lee Sungmin.”

Kibum oppa menghampiri dan berdiri tepat di hadapan’ku. Tenang rasa’nya merasakan hembusan nafas’nya yang tertiup tepat di wajah’ku. “Jawab aku, Rin-ah… Apakah kau menyukai Sungmin?” bisik’nya lirih. Seperti sedang menahan kesedihan yang mendalam. Hatiku sakit rasa’nya. “Aku…aku…tidak tau, oppa. Aku—”

“Apakah kau lupa janjiku, Rin-ah? Aku bilang padamu bahwa aku akan segera datang padamu… Dan aku memintamu menungguku. Apakah kau melupakan janjiku? Nan…joengmal saranghaeyo, Rin-ah~ Dari lubuk hatiku yang terdalam. Apakah itu tak cukup untukmu?” potong’nya cepat. Air mata Kibum oppa keluar perlahan.

“Cobalah cintai Hyeobin onnie, oppa! Ia sangat mencintaimu. Dari lubuk hati’nya yang terdalam… Aku tak bisa. Tak bisa mengkhianati cinta onnie.”

Kibum menatapku tak percaya. “Kau pikir mudah untuk melupakan atau mencinta seseorang?! Sudah kucoba melupakan sosokmu dan mencoba mencintai Hyeobin… Tapi, aku tak bisa! Bayanganmu selalu muncul dalam hatiku. Saat memandang Hyeobin, aku merasa kaulah yang aku pandang… Hanya kau yang ada di hatiku, Rin-ah.”

PRANG~!

Sebuah suara mengejutkanku. Dengan sigap, aku dan Kibum oppa menoleh. Betapa terkejutnya kita—terutama diriku saat melihat Hyeobin onnie memecahkan piring yang dibawa’nya. Dan ia tak sadarkan diri. “Oppa…! Bawa Hyeobin onnie ke rumah sakit, oppa…!!! Apa yang oppa tunggu?!”

Aku menepuk-nepuk Kibum oppa yang hanya bisa diam. Pandangan mata’nya menatap Hyeobin dengan terbelalak. Untung Sungmin oppa datang dan membantuku mengangkat Hyeobin onnie untuk dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Sungmin oppa menyetir di depan, dan aku di sebelah’nya. Sementara Hyeobin onnie yang masih tak sadarkan diri, terbaring. Kepala’nya disenderkan pada paha Kibum oppa.

Di rumah sakit, Hyeobin segera ditangani. Kami menunggu di luar. Aku duduk di bangku tepat di sebelah ruang rawat Hyeobin onnie. Sungmin duduk di sebelahku. Menggenggam tanganku untuk meredakan ke-khawatiran yang terus bergejolak. Sementara Kibum hanya bisa berdiri bolak-balik. Air mata’nya terus mengalir. Begitu pula denganku. Rasa bersalah terus berkelebat dalam hati dan pikiranku.

“Bagaimana keadaan Hyeobin?!”

Kami bertiga menoleh dan bisa melihat Kyuhyun oppa sedang melangkah terburu-buru, dilanjutkan Siwon oppa di belakang. “Dokter sedang menangani’nya.” jawab Sungmin saat menyadari tak ada yang mau menjawab. Kulihat Siwon oppa, pandangan’nya terus tertuju pada genggaman erat Sungmin oppa di tanganku. Sontak aku melepas genggaman tangan Sungmin oppa. “Sebenarnya, kenapa ini bisa terjadi?”

Kyuhyun oppa bergantian memandangi diriku, Kibum oppa, dan Sungmin oppa. “Aku tidak tau… Aku datang saat Hyeobin sudah dalam keadaan seperti itu.” jawab Sungmin lagi. “Sangrin jawablah…!” pinta Kyu oppa yang tampak’nya merasa tidak tau apa-apa. Aku hanya diam. Tak berani mengatakannya.

“Ini semua salahku…”

Pandangan semua orang sontak tertuju pada Kibum oppa. “Apa maksudmu?” tanya Kyu oppa masih bingung. Kibum oppa menghela nafas’nya. “Hyeobin mendengar pembicaraanku dan Sangrin. Dan aku yang memulai pembicaraan ini duluan… Jadi aku yang salah.”

Kyu oppa tampak penasaran. “Pembicaraan apa yang kalian bicarakan?”

“Aku…mencintai Sangrin. Dulu aku sempat menyatakan perasaanku pada’nya. Tapi, Sangrin menolak, dengan alasan tidak ingin membuat Hyeobin sedih. Jadi, aku membuat janji pada Sangrin. Janji agar ia menungguku dan bahwa aku akan kembali pada’nya suatu saat nanti. Saat mengetahui Sungmin akan mengajak’nya jalan, aku hanya meminta kepastian dari Sangrin. Apakah ia melupakan janjiku atau tidak. Sayang’nya pembicaraan kami didengar oleh Hyeobin. Dan terjadilah peristiwa ini…”

Semua orang tampak sangat terkejut. Tentu’nya kecuali aku dan Kibum oppa sendiri. Apalagi ekspresi Siwon dan Sungmin oppa. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Antara ekspresi terkejut, tak percaya, dan sakit.

“Jadi ini semua berasal dari cinta segitiga antara Kibum, Sangrin, dan Sungmin?” tanya Kyu oppa tiba-tiba. Kita semua mengangguk lesu. Namun tidak dengan Siwon oppa. “Bukan cinta segitiga, tapi cinta segi empat…”

Gantian semua mata tertuju pada Siwon oppa. “Agar masalah ini cepat selesai, mana yang kau pilih Sangrin-ya?”

Rasa’nya ingin kubungkam mulut oppa’ku yang satu ini. Sangat menyebalkan! Kenapa ia harus menyuruhku memilih? “Cepat tujukan pilihanmu, Sangrin-ah…!” seru Kyuhyun oppa tak sabar. Hwaaa~! Mana yang harus kupilih? Kibum oppa? Sungmin oppa? Atau Siwon oppa?

Tampak’nya harus aku jawab sekarang deh. Baiklah, semoga pilihanku tepat!

“Aku…memilih——”

###

~T.B.C~

@All : Komen seperti biasa ya… ^^

@HyeoMyo : Ottokhae?? Mian kalau part kalian sedikit… Next part aku banyakin deh~ 😀

@Hyun : Next part baru dimasukkin ya? ^^ Tunggu saja~