Full of inspiration and story

(Park Jungsoo’s POV)

Aku memandang seorang pemuda yang sedang tidur di sebelahku dengan damai. Ia nampak sudah terlelap sempurna. Tubuhnya yang pucat, membuat ia terlihat seperti mayat. Hatiku sakit melihatnya. Ia dongsaeng tercintaku. Dongsaeng yang berbeda 4 tahun dariku. Dongsaengku yang malang… Di umurnya yang baru menginjak 17 tahun, ia harus mempunyai penyakit leukemia yang sudah menggerogoti hidupnya selama 2 tahun belakangan ini.

Dulu, ia sangat periang dan selalu tersenyum, menampakan lesung pipinya yang khas dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun. Matanya indah, hidungnya mancung, bibirnya memesona, serta postur tubuhnya yang bak model, selalu membuatnya percaya diri dan disukai banyak orang. Ia juga adalah anak yang baik dan rendah hati. Walaupun orang tua kami mempunyai kekayaan berlimpah, ia tak pernah membanggakan dirinya.

Namun, saat ia tepat berusia 10 tahun, eomma dan appa meninggal dalam kecelakaan. Ya, peristiwa yang takkan terlupa itu memang jatuh tepat pada ulang tahun Siwon, dongsaeng kesayanganku. Sejak saat itu, memang ia masih tampak periang dan selalu tersenyum, tetapi penyakit mulai berdatangan dan menghampiri tubuhnya yang semakin lama semakin mengering. Untung eomma dan appa meninggalkan banyak uang yang cukup untuk membiayai kebutuhan kami sehari-hari dan pengobatan dongsaeng tersayangku. Aku sendiri bekerja di salah satu toko untuk menambah pendapatan.

Kring… Kring… Kring…

Aku menoleh ke sumber suara dan dapat melihat jam weker di meja berbunyi. Dengan cepat, aku bangun dan langsung mematikan alarm weker tersebut. Tidak mau membangunkan dongsaengku yang masih terlelap dengan damainya. Pintu kubuka pelan, dan aku langsung bergegas ke dapur. Menyiapkan sarapan untukku dan Siwon. “Hyung…”

Aku menoleh dan dapat melihat Siwon sudah berjalan kearahku dengan langkah sempoyongan. “Aku membangunkanmu ya? Mian, Siwonnie~” Ia tersenyum, walaupun wajahnya yang pucat takkan bisa tertutupi. “Gwenchana, hyung… Aku memang mau berangkat ke sekolah sebentar lagi kan.”

“Mandilah dulu… Setelah selesai, baru kita sarapan. Arasso?” ucapku dengan tegas namun penuh rasa sayang. Ia mengangguk dan beranjak ke kamar mandi. Aku pun melanjutkan pekerjaanku. Tak lama, makanan yang kumasak sudah selesai dibuat. Aku duduk di meja makan, menunggunya untuk makan. Ini memang kebiasaan kami sehari-hari untuk tetap sarapan bersama.

“Sudah lama, hyung?”

Aku menggeleng cepat. “Duduklah dan mulai makan… Hyung sudah menyiapkan makanan favoritmu.” Ia tersenyum manis dan langsung duduk. “Wuah~! Gomawo-yo, hyung…”

Ia mulai menyendok makanannya dan bergegas makan. Aku melihatnya dengan tatapan bagaimana-rasanya-dan-apakah-enak. Ia mulai mengunyah makanan itu dan tak lama menelannya. Kemudian, seulas senyum muncul dari bibirnya. “Mashita…!”

Aku tersenyum, ikut menampilkan lesung pipiku. “Hyung…aku akan ke…toilet sebentar~” ucapnya masih dengan senyuman dan langsung bergegas pergi. Rasanya hatiku sangat perih. Aku sudah tau, Siwon-ah… Bahwa beberapa hari ini, kau selalu memuntahkan apa saja yang kau makan… Kenapa kau harus tak jujur padaku? Apakah kau takut aku akan sedih?

Tak lama, ia kembali. Masih dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. “Mianhamnida, hyung… Aku harus menghadiri rapat OSIS pagi ini, jadi aku pergi dulu ya? Donghae juga pasti sedang menungguku. Annyeong, Teukie hyung~!”

“Hati-hati di jalan, Siwonnie…”

Hanya itu yang bisa kukatakan. Air mata turun bersamaan dengan perginya dongsaengku. Rasanya sangat sakit. Aku masih tak bisa membayangkan hidupku tanpa Siwon, dongsaeng satu-satunya yang kupunya. Apakah aku bisa melewati dunia yang gelap ini sendirian tanpanya? Dengan masih berat hati, aku mulai mandi dan membereskan semua perlengkapan. Setelah itu, aku bergegas pergi ke kampusku.

 

+++

 

“Annyeong, Teukie…!”

Aku hanya tersenyum menanggapi sapaan perempuan-perempuan berupa sunbae dan hoobae itu. Mereka selalu mengikuti dan melihat setiap gerak-gerikku. Aku sendiri bingung, kenapa para wanita itu selalu mengejarku. Padahal aku selalu hidup dalam kesederhanaan dan tak pernah melakukan sesuatu yang membanggakan. Satu-satunya keahlianku adalah kelancaran otakku dalam menerima pelajaran.

Dengan cepat, aku masuk ke kelas dan duduk di salah satu bangku. “Oppa? Apakah kau Park Jungsoo?” Aku menoleh dan dapat bisa seorang perempuan cantik nan manis sedang berada di sampingku. Aku mengangguk pelan, masih mengangumi perempuan di sampingku ini. “Lee Jinra imnida… Aku hoobae-mu, oppa. Maukah kau memberikan pelajaran tambahan padaku? Seperti les… Kata Cho Songsaenim, kau adalah mahasiswa terpintar. Boleh ya, oppa?”

Aku berpikir sebentar. “Park Jungsoo imnida. Panggil saja aku Leeteuk, itu nama panggilanku. Soal pelajaran tambahan…akan aku pikirkan dulu~”

Perempuan ini langsung memandangku dengan penuh harapan. “Jebal, Leeteuk oppa… Aku sangat membutuhkan pelajaran tambahan ini~ Boleh ya? Jebal, oppa…” Entah dapat perintah darimana, leherku mengangguk dengan sendirinya. Ia melonjak girang seraya memegang tanganku. “Kamsahamnida, oppa…! Kamsahamnida~!”

Aku tersenyum tipis melihatnya. “Ne, chonmaneyo~ Tapi lepaskan dulu tanganku.”

Jinra langsung melepaskan tanganku dan menunduk malu. “Mianhamnida, oppa… Aku permisi dulu~ Annyeong.” ucapnya dengan wajah yang merona. Seulas senyum terbentuk di bibirku. Jinra …sangat lucu dan manis. Membuat jantungku berdetak keras saat melihatnya. Apa aku mulai jatuh cinta?

Setelah itu, dosen bergegas masuk kelas dan pelajaran seperti biasa pun dimulai. Tak sadar, pelajaran telah berakhir. Aku pun bergegas ke tempat kerja. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dengan cepat, aku langsung beranjak pulang. Di rumah aku membuka pintu dan bisa melihat Siwon sudah menghampiriku dan memelukku. Kebiasaannya yang paling menyenangkan sekaligus paling menyebalkan. “Sudah pulang, hyung?”

Aku mengangguk riang. “Duduklah, hyung… Hyung pasti capek kan? Aku sudah menyiapkan minuman dan makanan untuk hyung…” Aku mengelus rambutnya yang semakin lama semakin menipis. “Gomawo, Siwonnie-ah… Tapi, aku harus membereskan pekerjaan rumah dulu ya?”

Aku bergegas bangun, namun ia menarik tanganku. “Tenang, hyung… Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Jadi, hyung tidak usah membereskannya lagi. Lebih baik sekarang hyung duduk dan mulai makan. Ne?” Aku memandangnya tak percaya. “Kau mestinya tidak usah melakukan hal itu… Kau kan sakit. Mestinya kau beristirahat cukup, Siwon-ya. Aku…tidak mau kehilanganmu.”

Air mata mulai menetes dan turun dari permukaan mataku. Siwon mengusap air mata yang terjatuh di pipiku. “Hyung…mian… Aku tidak bermaksud membuat hyung sedih. Aku…hanya merasa…diriku tak berguna. Hyung yang selalu merawatku…bekerja demi kita, dan membereskan semua urusan rumah. Aku hanya mau membantu hyung. Mianhaeyo ~”

Aku kembali mengelus rambutnya. “Ini bukan salahmu, Siwon-ah… Hanya, lain kali jangan melakukan ini lagi. Arasso? Hyung hanya takut kau…meninggalkanku.” Siwon tersenyum perih. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Teukie hyung…! Kita akan bersama selamanya—”

“—aku janji.”

Air mataku kembali turun. Aku langsung memeluknya. Memeluk tubuh ringkihnya. Ia membalas pelukanku. Kita berdua berpelukan cukup lama. “Siwonnie? Jangan berpelukan lagi. Aku sudah sesak nafas… Siwonnie~!” Aku melepas pelukannya dengan perlahan. Ia sudah tertidur. Dengan wajah damainya yang biasa. Aku tersenyum dan membiarkan kepalanya menyender pada bahuku. Tak sadar, aku ikut tertidur.

 

+++

 

Aku terbangun, dan langsung melihat sampingku. Tidak ada orang. Kemana Siwon pergi? Dengan pelan, aku mengecek jam di ruang tamu. Kemudian membelalakan mataku tak percaya. Sudah jam 09.00~! Pantas, Siwon sudah tidak ada. Pasti ia sudah pergi ke sekolah. Aku langsung bersiap-siap secepatnya menuju kampus. Aku menarik nafas lega saat mengetahui aku belum telat. Keringat sudah bercucuran deras menghujani tubuhku, pasti akibat berlari tadi.

“Annyeong, Teukie…”

Segerombolan wanita kembali menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dengan langkah cepat, aku duduk di kursi kelas dan mulai membuka bukuku. “Leeteuk oppa~ Pelajaran tambahannya jadi kan?”

Aku menoleh dan sekali lagi bisa melihat Jinra sedang berdiri di sampingku. Kemeja santai dan rok putih anggun yang ia pakai saat ini membuat penampilannya sangat indah dan manis. Aku mengangguk santai, berusaha tidak terlihat terpana. Ia kembali tersenyum manis. “Gomawo-yo, oppa…! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu~”

Bel berbunyi secara tiba-tiba. “Aku ke kelasku dulu ya, oppa~ Annyeong…”

“Annyeong~” balasku. Ah, tampaknya aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Melihat punggungnya saja sudah berhasil membuat jantungku berdetak keras. Dalam hati aku berjanji, aku akan menceritakan hal ini kepada Siwon saat pulang nanti. Ia pasti akan sangat senang saat mengetahui bahwa akhirnya hyung kesayangannya ini mencintai seorang gadis.

Setelah selesai kuliah, aku mulai bekerja seperti biasa. Saat waktu jam kerja sudah berakhir, aku langsung berjalan dengan cepat ke rumah. Dengan semangat besar, aku memasuki pintu kamar dan bisa melihat Siwon sedang asyik menonton TV di ruang tamu. “Hyung~! Sudah pulang? Ayo duduk… Aku akan menceritakan sesuatu padamu.”

“Kebetulan, aku juga akan mengatakan sesuatu padamu…”

Siwon terkejut. “Jinja? Kalau begitu, hyung saja yang duluan cerita…” Aku menggeleng. “Kau saja yang duluan… Aku penasaran terhadap ceritamu, Siwonnie-ah.” jawabku seraya tersenyum. Ia akhirnya mengangguk dan menyenderkan kepalanya pada bahuku, satu kebiasaannya lagi yang menurutku sangat manis.

“Hari ini sebelum pulang sekolah siang ini, aku mampir ke rumah Donghae dulu untuk mengambil bukuku… Disana aku dikenalkan oleh Donghae, hyung dan noona’nya. Hyung Donghae bernama Lee Hyukjae. Orangnya sangat baik, ramah, dan sering membuatku tertawa. Satunya lagi adalah noona Donghae… Ia sangat cantik, anggun, dan manis. Dan…tampaknya aku jatuh cinta kepada noona’nya Donghae.”

Aku kaget mendengarnya. “Jinja?!”

Ia mengangguk malu-malu. “Ia hanya berbeda 3 tahun dariku… Namanya Lee Jinra. Ia sangat—”

Seluruh tubuhku lemas seketika. Yang bisa kudengar dari perkataannya hanya siapa nama perempuan yang disukainya itu. Apakah pendengaranku salah? Apakah aku terlalu mencintai Jinra, sehingga menganggap perempuan yang disukai Siwon itu bernama Lee Jinra? “Siapa…nama perempuan…tadi?” tanyaku dengan sekuat tenaga.

“Lee Jinra…”

Tidak, aku masih tak percaya. Korea itu sangat luas. Tidak jarang kan orang mempunyai nama yang sama?

“Berarti sekarang ia sudah kuliah kan? Ia kuliah dimana dan fakultas apa?” tanyaku lagi dengan terburu-buru. Ia tertawa pelan. “Aigoo, hyung~ Pertanyaanmu itu banyak sekali. Ia kuliah…di Universitas Seoul dan jurusan Hubungan International. Jamkkaman~! Bukannya universitas dan jurusan hyung dengan Jinra noona sama? Kalian sudah saling kenal dong?”

Aku mengangguk berat. “Ne, aku mengenalnya. Ia hoobae’ku.”

“Suatu kebetulan yang bagus…! Kalau hyung ingin bercerita apa tadi?” tanyanya masih dengan wajah ceria. “Tidak jadi. Aku…mau ke kamar dulu ya.” jawabku dengan lemas. “Hyung sakit? Kok lemas seperti itu?” tanyanya khawatir. “Gwenchana~ Jangan tidur malam-malam. Kau yang mestinya butuh banyak istirahat…”

Aku memasuki kamar dan air mataku tak kuasa lagi untuk kutahan. Kugigit bantal agar suara tangisanku teredam. Disatu sisi, aku sangat senang saat melihat Siwon akhirnya menemukan yeoja yang dicintainya. Tapi, disisi yang lain, aku sangat sedih dan terpukul. Kenapa semua kebetulan ini bisa terjadi? Apa yang harus kulakukan? Menyerah pada cintaku, atau malah mengejarnya? Tidak, aku tak kuasa melepas cintaku… Tapi aku juga tak kuasa membuat Siwon sedih… Aku ingin membahagiakan detik-detik kehidupannya, yang akan berakhir singkat.

 

+++

 

Aku bangun dengan mata yang masih sembap. Semalam, aku benar-benar tidak bisa tidur. Pembicaraan kemarin masih terus berputar-putar dalam otakku. Sulit untuk mengambil keputusan. Sungguh aku sangat menginginkan kebahagiaan dongsaeng’ku, namun aku juga sangat mencintai Jinra. Dengan kepala berat, aku melangkah keluar kamar. Kubisa melihat Siwon sedang menyantap roti buatannya di meja makan. Wajahnya riang, walaupun pucat seperti biasa.

“Pagi, hyung…”

Aku tersenyum, mengangguk, dan mengelus rambutnya. “Pagi, Siwonnie… Hyung bangun kesiangan ya? Mian ya~” ucapku merasa bersalah. “Gwenchana, hyung… Hyung kan sudah kerja seharian. Sudah seharusnya aku mengurus diriku sendiri.” jawabnya seraya tersenyum. “Kau memang dongsaeng yang paling kusayang~!”

Siwon cemberut. “Aku kan memang dongsaeng satu-satunya yang hyung punya… Tentu aku yang paling disayang.” Aku tertawa mendengarnya. Namun, air mata kembali merembes dari mataku. Ia, Siwon, dongsaeng’ku yang paling kusayang. Bahkan melebihi diriku sendiri. Keberadaannya selalu membuatku terhibur dan tersenyum. Kembali kubayangkan hidupku tanpa dirinya. Hampa. Kosong. Buram. Takkan ada lagi senyum yang menghiasi wajahku.

“Kok hyung menangis? Aku salah berbicara ya?”

Aku menggeleng cepat. “Ani, Siwonnie… Kau tidak salah. Hyung saja yang terlalu cengeng~” ucapku seraya menghapus air mata yang keluar. “Aku berangkat ke sekolah dulu ya, hyung… Annyeong~” katanya sembari memelukku dan beranjak keluar rumah. Aku melambaikan tanganku kepadanya.

Dengan lesu, aku memasuki kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk kuliah. Hatiku sudah yakin sekarang… Aku akan merelakan Jinra untuk dongsaeng’ku tersayang ini. Meskipun sakit, namun dengan melihat wajah riangnya atau sekedar melihatnya tersenyum, sudah merupakan hal terindah dalam hidupku.

 

+++

 

“Oppa, jadi kan pelajaran tambahannya? Hari ini ya dirumah oppa~” kata Jinra yang kembali menghampiriku. Aku mengangguk lesu. “Oppa kok lesu begitu? Sedang sakit ya?” tanya Jinra seraya menempelkan tangannya di keningku. Aku menepisnya halus. Rasa cintaku akan semakin besar dan rasa sakitku akan semakin besar juga nantinya, jika begini terus. Mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengannya.

“Ani… Jinra-ssi, apakah kau kenal dengan Park Siwon?”

Jinra mengangguk bingung. “Oppa kenal dengannya?” Aku terkekeh pelan mendengarnya. Memamerkan lesung pipiku yang biasanya sangat diminati oleh yeoja-yeoja di kampusku. “Tentu saja aku kenal dengannya, Lee Jinra-ssi… Dia itu adalah dongsaeng’ku satu-satunya.”

“Jinja?! Pantas wajah dan lesung pipi kalian mirip… Kita sangat berjodoh ya, oppa? Dongsaeng kita adalah sahabat dan kita sudah saling mengenal.” ucapnya sembari tersipu. Perih mendengarnya. “Berjodoh? Itu kan hanya kebetulan biasa… Apa perasaanmu terhadap dongsaeng’ku??” tanyaku penasaran.

Pandangannya terarah pada langit-langit. “Bagiku, Siwon adalah dongsaeng yang menyenangkan… Ia sangat baik dan murah senyum. Ada sesuatu perasaan nyaman jika dekat dengannya. Tidak seperti dongsaeng’ku yang sangat jail itu…”

“Bukan itu maksudku, Jinra-ssi… Aku menanyakan perasaanmu sebagai yeoja, bukan sebagai noona baginya.” kataku semakin penasaran. Ia memandangku bingung. “Apa maksudmu, oppa? Perasaanku padanya tak lebih dari seorang noona ke dongsaeng…”

Hatiku mencelos mendengarnya. Ada perasaan sedih saat mendengarnya, tapi dalam hati yang paling dalam, ada rasa kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. “Kenapa oppa menanyakan hal ini tiba-tiba?” tanyanya penasaran. Aku menggeleng. “Hanya sekedar bertanya…”

Malam ini setelah kerja, aku memasuki pintu rumahku.  Jinra sudah ada disitu, sedang menonton TV dengan Siwon. “Sudah pulang, hyung? Kok hyung tidak pernah bilang mau mengajarkan Jinra noona?” tanya dongsaeng’ku ini seraya cemberut. Aku tersenyum dan kembali mengelus rambutnya, kebiasaan yang paling aku sukai. “Bisa kita mulai, Leeteuk oppa?” tanya Jinra kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan. “Aku boleh melihat kalian kan, hyung?” tanya Siwon memohon.

“Ani… Kau tidur saja. Besok kan kau harus sekolah…”

Ia mengerucutkan mulutnya, namun langsung bergegas ke kamar. Daridulu ia memang tak pernah melawanku, apalagi sejak orang tua kita meninggal. Ia selalu merasa bahwa aku adalah satu-satunya sandaran yang ia punya. Dan ia sangat menyanyangiku sebagai seorang hyung, sama sepertiku yang menyanyanginya sebagai dongsaeng.

Setelah itu, kami—aku dan Jinra memulai kegiatan belajar. Aku sedikit bingung. Jinra selalu bisa menjawab soal atau pertanyaan yang kuberikan. Jika ia memang bisa, mengapa harus meminta pelajaran tambahan padaku? Namun, tak bisa kupungkiri, jantungku masih berdetak keras saat berada dekat dengannya. “Oppa, kenapa kau bengong?” tanya Jinra tampak bingung. Aku menggeleng cepat. “Gwenchana… Sudah malam. Lebih baik kau pulang, Jinra-ssi. Lagipula kau sudah bisa kok.”

Ia mengangguk dan kemudian berjalan keluar. Aku ikut di belakangnya, untuk menutup pintu sekalian mengantarnya ke pintu depan. “Annyeong, oppa…” sapanya dengan ramah. Aku ikut menunduk kecil. “Annyeong, Jinra-ssi…” Setelah ia pulang, aku menutup pintu dan langsung beranjak menuju kamar. Disana, aku bisa melihat Siwon belum tidur, masih berkutat dengan i-pod’nya. “Kau belum tidur?”

Dia menggeleng, mematikan i-pod’nya dan langsung menatapku. “Bagaimana pelajaran tadi, hyung? Apakah Jinra noona sedikit kacau, sehingga ia sampai meminta pelajaran tambahan padamu?” tanyanya bertubi-tubi dengan wajah berseri-seri. Aku tersenyum. “Pertanyaanmu itu cepat sekali… Ani, tadi dia bisa mengerjakan setiap soal dengan baik.”

Siwon menautkan alisnya, “Lalu, kenapa Jinra noona ingin belajar pada hyung?” tanyanya bingung. Aku duduk di sebelahnya. “Molla-yo. Memang kenapa?”

“Aku hanya merasa… Jinra noona menyukaimu, hyung.”

Deg! Jantungku merasakan detakan keras yang memilukan. Aku memandang Siwon, yang masih menatapku dengan pandangan penuh tanya. Kemudian aku tersenyum, tidak, lebih tepatnya memaksakan tersenyum. “Mana mungkin, Siwonnie… Sudahlah, tidur sana. Ini sudah malam~ Annyeong-hi jumuseyo…” jawabku sembari tidur di kasurku dan memejamkan mata.

 

+++

 

Teriknya sinar mengawali pagiku hari ini. Ah, senangnya mengetahui bahwa ini adalah hari Minggu! Hari yang paling disukai semua orang di dunia, termasuk aku. Kutolehkan pandanganku kearah kasur di sebelahku. Dimana Siwon? Sudah bangun kah?

“Siwonnie…!” seruku sembari membuka pintu kamar dan berjalan kearah ruang tamu. Namun ternyata ruang tamu kosong. Kuteriakan lagi namanya seraya berjalan kearah ruang makan, namun ruang makan juga nihil. Pikiranku mulai cemas. Kemana dia? Jika mau pergi, ia pasti akan izin padaku. Minimal ia akan menulis pesan dan ditempel di kulkas. Namun, permukaan kulkas juga kosong.

“Siwonnie…!!!” teriakku lagi sembari membuka pintu kamar mandi, ruang satu-satunya yang belum aku kunjungi untuk mencarinya. Dan…betapa terkejutnya aku sekarang. Dia, dongsaengku tersayang, sudah tergeletak tak berdaya. Dengan darah yang berceceran dimana-mana. Perasaanku kacau dan terasa kosong. Selama beberapa menit, aku hanya bisa terdiam tanpa mengalihkan pandanganku kearah Siwon. “Teukie hyung~!” seru seseorang yang aku tau adalah suara Donghae.

Dia yang sudah punya kunci rumah kita langsung menghampiriku. “OMONA~! Siwon kenapa?! Hyung… Hyung… Hyung…” katanya seraya mengguncang-guncang tubuhku. Seketika aku tersadar, dan langsung menggendong Siwon menuju pintu rumah. Donghae membantuku dan memanggil taxi. Segera kita masuk ke taxi itu. Air mata mulai berjatuhan dari mataku.

“Sabar, hyung… Siwon pasti baik-baik saja. Dia adalah namja yang kuat~”

Aku tersenyum tipis menanggapi penghiburan yang diberikan Donghae. Namun, hatiku sangat sakit. Siwon berada di pangkuanku sekarang, terbaring tak berdaya. Wajah sendunya sangat damai, sehingga membuatku semakin takut. Takut kehilangan Siwon-ku. Dongsaeng yang sudah menemani dan mengisi hari-hariku. Dialah keluarga satu-satunya yang tersisa dalam hidupku. Karena dialah juga, aku hidup. Dan…aku sangat menyayanginya.

Begitu sampai, aku kembali menggendongnya ke pintu rumah sakit dan para dokter mulai membawanya ke ruangan. Aku ingin ikut, namun dokter melarangku. Pertahananku sudah runtuh sekarang. Aku terduduk, tepat di depan pintu ruangan dimana Siwon dirawat. Memeluk lututku dan menangis. Hanya ini yang bisa kulakukan.

Donghae menepuk bahuku, berusaha sebisa mungkin menghiburku. Walaupun aku yakin ia tau, hiburannya tidak membantuku sama sekali. Kita terus berada di posisi seperti ini selama beberapa lama, hingga seseorang datang kearah kami. Seseorang yang paling kusayang setelah Siwon, yaitu Jinra. Dia, dengan pandangan dalamnya menatapku. Perlahan mendekati dan memelukku. “Leeteuk oppa…”

Hanya pelukan dan panggilannya padaku, sudah bisa membuatku tenang. Seketika dokter datang, dan aku langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan dongsaeng’ku, dokter?!”

“Sebaiknya kalian ikut ke ruangan saya. Saya akan menjelaskannya disana.” ucap dokter tersebut. Aku mengangguk dan langsung mengikuti dokter tersebut ke ruangannya dengan cemas. Donghae dan Jinra mengikutiku dari belakang. Di ruang dokter, kita bertiga duduk di hadapan dokter. Air mataku berjatuhan makin menjadi-jadi. Aku takut. Sungguh takut. Takut jika dokter itu akan memberitakan kabar buruk padaku.

“Dongsaeng’mu sudah kami tangani dengan baik. Sekarang ia hanya butuh istirahat. Namun—”

Hatiku sedikit mencelos mendengarnya. “Namun apa, dok?” tanya Donghae tak sabar. Aku mengangguk, setuju dengan pertanyaan Donghae. “Namun…penyakit kanker’nya bertambah menjadi stadium tiga. Dan hidupnya…takkan lebih dari usia 20 tahun. Kami selaku pihak rumah sakit, mengucapkan duka cita sebesarnya-besarnya.” jawab dokter tersebut seraya menunduk. “Mworago?!” seru Jinra yang daritadi diam. Air matanya ikut jatuh. Entah kenapa, kali ini tidak air mata yang keluar dari mataku. Perasaanku seakan tumpul seketika. Rasa sakit mengerubungi hatiku. Seperti luka yang ditabur garam. Perih. Sangat perih.

Kulayangkan pandanganku pada Donghae, ia juga ikut menangis. Aku tau bahwa ia dan Siwon sudah menjadi sahabat dari kecil. Dan rasanya sangat sakit. Sakit bahwa hidup sahabat kesayangannya hanya tinggal 3 tahun lagi. “Boleh kami bertemu dengannya, dok?” tanyaku tiba-tiba. Dokter itu mengangguk, dan aku langsung bangun.

Tubuhku sedikit oleng, hingga hampir menabrak sebuah meja. Namun, aku tak memikirkan itu lagi. Pikiranku hanya tertuju pada Siwon, dongsaeng tersayang dan satu-satunya yang aku punya. Donghae tiba duluan dan membuka pintu rawat. Aku yang tepat berada di belakangnya langsung dapat melihat seorang pria sedang terbaring. Tubuhnya menjadi lebih pucat dari biasanya. Tangannya tertancap infus dan penuh dengan kabel aneh.

“Donghae-ya… Teukie hyung… Jinra noona… Kalian semua ada disini?”

Dia tersenyum hangat, sekali lagi menampilkan kedua lesung pipinya. Aku tak menjawabnya, namun aku langsung menghampiri dan memeluknya erat. Kembali menangis sekeras-kerasnya. “Omo, hyung~ Kenapa hyung menangis seperti itu? Tidak malu dilihat Jinra noona?”

Aku menempeleng pelan kepalanya, dengan posisi masih memeluknya. “Babo~! Aku sangat khawatir padamu…!!! Mana mungkin aku masih memikirkan pandangan orang lain…!”

Siwon tertawa pelan. “Gomawo-yo atas ke-khawatiranmu, hyung… Tapi, jangan peluk aku terlalu erat, hyung…!!! Rasanya sesak~!” ucapnya dengan pandangan penuh harap dan aku langsung melepas pelukanku seraya tersenyum innocent. Donghae dan Jinra—dua kakak-beradik ini hanya bisa tertawa melihat kelakukan kami. Yah, beginilah kami. Selalu kekanak-kanakan dimanapun dan kapanpun. Inilah yang membuat kami sangat akrab dan bahagia.

Tak sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. “Jinra-ssi, sebaiknya kau pulang. Bawalah noona’mu pulang, Donghae-ya… Biar aku yang menemani Siwon disini.” kataku seraya tersenyum, menatap dongsaengku yang sedang tertidur lelap.

“Arasso, hyung… Kami pergi dulu ya. Jika ada apa-apa, hyung harus mengabarkannya pada kami ya?” ucap Donghae sembari tersenyum. Aku tersenyum. “Ara… Sudah sana~ Hati-hati di jalan.” balasku sembari melambaikan tangan kearah mereka berdua. Aku mengantar mereka menuju depan pintu ruang dimana Siwon dirawat. Donghae mengambil mobil dahulu, sehingga meninggalkan aku dan Jinra sendirian. Keadaan menjadi sangat kaku sekarang. “Oppa…”

Aku memandangnya penuh tanya. “Mungkin memalukan bagi yeoja untuk melakukan ini, keundae…yeongwonhi saranghaeyo, oppa.”

Sontak aku sangat terkejut. Otakku masih berusaha keras mencerna kata-kata yeoja kesayanganku ini. “Mian, Jinra-ssi. Aku tak bisa.” ucapku sembari menunduk. “Wae oppa?! Aku tau kau mencintaiku juga, seperti aku mencintaimu…!” seru Jinra seraya mulai meneteskan air mata. “Mian, Jinra-ssi… Mian…”

Satu lagi kelemahan terbesarku. Aku tak bisa melihatnya menangis, terlalu sakit rasanya. Tapi, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Ini semua demi dongsaengku… Ini semua demi kebahagiaannya…

“Jebal, oppa…! Katakan bahwa kau mencintaiku~! Aku tau itu…”

Dia sudah menangis sempurna. Suara tangisannya membuat hatiku pilu, seakan jutaan pisau tajam sedang bergantian menusuk hatiku. Entah dapat perintah darimana, tanganku memeluk tubuh ramping Jinra. Membiarkannya menangis dalam pelukanku. Aku tau ini salah. Otakku tau itu. Namun tanganku seakan diperintah oleh hatiku. Hati yang sudah terlalu lama menderita.

Dengan sekali hentakan ia mencium bibir tipisku. Membuatku terbang dan merasa ada di dunia mimpi yang paling indah seketika. Aku membalas ciumannya. Bertekad bahwa ini adalah kali terakhir aku mencintainya. Bertekad bahwa setelah ciuman panjang ini, aku akan melepasnya untuk selama-lamanya. “Teukie hyung~ Jinra noona~”

Suara yang paling aku kenal terdengar. Tak ada waktu untuk melepas ini semua. Ia sudah melihatnya. Ia sudah tau. Ekspresinya sangat kaget, aku tau pasti hatinya terasa sakit. Sontak aku melepas ciuman kita. Jinra juga terkejut dengan ini semua. “Tampaknya…aku…menganggu kalian ya? Mi…mian.” katanya dengan terbata-bata dan mencoba tersenyum. Lalu, kembali masuk ke dalam ruang rawatnya. Tanpa melihat Jinra, aku langsung berlari menuju ruang rawatnya.

“Siwonnie… Ini bukan seperti yang kau lihat.”

Dia tersenyum, wajahnya sangat pucat. “Gwenchana, hyung… Aku tau hyung dan Jinra noona saling mencintai~” katanya berusaha santai, meskipun ia sangat bekerja keras menahan air matanya. “Bagaimana kau tau?” tanyaku, tak berani menyangkal, karena apa yang diucapkan Siwon itu memang benar.

“Cara pandang kalian berbeda. Pandangan kalian sungguh dalam saat bertemu…dan alasan Jinra noona mengikuti les denganmu juga sangat membuktikan itu. Chukae-yo, hyung…” katanya lagi, masih berusaha tenang.

“Ta…tapi kita berdua tidak—”

Siwon menaruh telunjuknya di bibirku, seakan menyuruhku berhenti bicara. Kemudian ia tersenyum. Walaupun air mata mulai turun setetes demi setetes dari matanya. “Kapanpun hyung bahagia, maka aku akan bahagia pula.” Aku memeluk tubuhnya yang semakin ringkih. Air mataku juga ikut turun. “Gomawo, nae dongsaeng… Kau tau apa hal yang paling membahagiakan dalam hidup hyung?”

Dia menggeleng dan memandangku penasaran. “Mempunyai dongsaeng sepertimu, Siwonnie… Kau adalah sayapku. Tanpamu, hyung tidak akan bisa terbang. Tanpamu, hyung akan menjadi malaikat tanpa sayap. Kau lah hidup hyung. Tanpamu, hyung tidak akan bisa menjalani kehidupan.”

Dia tersenyum dan kami berdua kembali berpelukan.

 

+++

 

Udara hari ini sangat cerah. Aneh, karena seharusnya hari ini musim salju. Warna langit sungguh biru, senada dengan warna kemejaku. Aku dan beberapa orang lainnya berdiri. Mengelilingi sebuah nisan. Nisan sederhana yang terbuat dari kayu ek. Di nisan tersebut, terdapat tulisan yang sangat halus.

 

PARK SIWON

(17 MARET 1991 – 14 FEBRUARI 2010)

 

Ada yang berbeda dari pemakaman Siwon. Tak ada nuansa hitam atau seorang pun dari pelayat yang memakai pakaian hitam. Juga tidak ada tangisan dan kesedihan. Hanya ada kebahagiaan. Ini adalah permintaannya sendiri. Ia ingin kematiannya diiringi dengan senyuman, bukan tangisan.

Dan permintaannya tercapai. Seluruh orang mengantarkannya ke pembaringan terakhir dengan seulas senyuman. Aku bisa melihat Donghae sedang tersenyum dan melemparkan bunga pada nisannya. Sebuah sentuhan mendarat di bahuku. “Kajja kita pulang, oppa… Upacaranya sudah selesai.”

Aku mengangguk, dan menatap makam itu dengan dalam. “Istirahatlah dengan tenang, dongsaeng’ku. Aku akan mengunjungimu sesering mungkin. Annyeong hi-jumuseyo….” bisikku lalu meninggalkan makamnya.

 

+++

 

Aku menduduki kamar dimana kita berdua selalu tidur. Mataku melirik foto-foto yang terpajang di dinding. Senyuman kembali terulas dari bibirku. Kenangan antara kita kembali berkelebat dalam hatiku. Mataku berganti memandangi sebuah buku jurnal yang di meja. Buku ini tak pernah aku sentuh sebelumnya. Dan setahuku, Siwon selalu menulis apapun disini.

Dengan perlahan, aku menyentuh buku itu, menggenggamnya, dan mulai membuka cover-nya. Banyak tulisan-tulisan yang ia buat. Sontak aku masuk ke dalam larutan isi buku tersebut. Hingga akhirnya sampai halaman terakhir. Secarik kertas sudah ditaruh sempurna disitu. Aku mengambil kertas tersebut dan mulai membuka lipatannya.

Teukie hyung,

Aku tidak tau apakah hyung akan membaca ini atau tidak. Tapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku juga sangat bahagia mempunyai hyung sepertimu… Kau adalah malaikatku dan aku adalah sayapmu. Tanpa malaikat, sayap tidak akan punya tempat untuk bernaung. Dan tanpa sayap, malaikat tidak akan bisa terbang. Kita selalu saling melengkapi, dari yang susah hingga yang senang.

Jika Tuhan menyuruhku memilih, aku tetap akan memilih kehidupanku ini. Singkat tapi bahagia. Bahagia karena bisa bersamamu. Menghabiskan waktu bersamamu. Dan tertawa bersamamu. Aku pasti sangat merindukan belaian tanganmu, hyung… Apakah hyung merindukan pelukanku?

Saranghaeyo, hyung~ Berbahagialah dengan Jinra noona. Bahagiakanlah dia seperti dulu kau selalu membahagiakanku. Aku akan menitipkan hatiku untukmu. Selamat tinggal, hyung… Aku mencintaimu.

-Your Forever Dongsaeng, Park Siwon-

Air mataku kembali keluar dari tempatnya. Hatiku sangat perih membacanya. Dia lah dongsaeng kebanggaanku. Dan dia lah pula sayapku. Sayap yang selalu membuatku terbang dan dapat mengarungi dunia keindahan yang tiada tara.

Yap Siwonnie, you’re My Forever Dongsaeng… ^^

 

~END~

 

+++

 

Gomawo-yo buat yang dah baca~ Comment please, my lovely readers… 😀

^_^


 

 

 

 

 

 

Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~My Forever Dongsaeng~" (10)

  1. saranghae kyu~sj said:

    hiks2. . . tak ad kt2 lain selain
    DAEBAK~!!!

  2. huahh wonnie.. keke
    jarang2 liat wonnie sakit…
    tpi at least ffmu keren buatku terharu.. T.T

  3. ninggalin jejak duluu ..
    bacanya nanti .. ^^

  4. Serius nih, aku nangis ;(

  5. sedh bgt. daebak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: