Full of inspiration and story

Archive for November, 2010

Fanfiction : ~My Forever Dongsaeng~

(Park Jungsoo’s POV)

Aku memandang seorang pemuda yang sedang tidur di sebelahku dengan damai. Ia nampak sudah terlelap sempurna. Tubuhnya yang pucat, membuat ia terlihat seperti mayat. Hatiku sakit melihatnya. Ia dongsaeng tercintaku. Dongsaeng yang berbeda 4 tahun dariku. Dongsaengku yang malang… Di umurnya yang baru menginjak 17 tahun, ia harus mempunyai penyakit leukemia yang sudah menggerogoti hidupnya selama 2 tahun belakangan ini.

Dulu, ia sangat periang dan selalu tersenyum, menampakan lesung pipinya yang khas dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun. Matanya indah, hidungnya mancung, bibirnya memesona, serta postur tubuhnya yang bak model, selalu membuatnya percaya diri dan disukai banyak orang. Ia juga adalah anak yang baik dan rendah hati. Walaupun orang tua kami mempunyai kekayaan berlimpah, ia tak pernah membanggakan dirinya.

Namun, saat ia tepat berusia 10 tahun, eomma dan appa meninggal dalam kecelakaan. Ya, peristiwa yang takkan terlupa itu memang jatuh tepat pada ulang tahun Siwon, dongsaeng kesayanganku. Sejak saat itu, memang ia masih tampak periang dan selalu tersenyum, tetapi penyakit mulai berdatangan dan menghampiri tubuhnya yang semakin lama semakin mengering. Untung eomma dan appa meninggalkan banyak uang yang cukup untuk membiayai kebutuhan kami sehari-hari dan pengobatan dongsaeng tersayangku. Aku sendiri bekerja di salah satu toko untuk menambah pendapatan.

Kring… Kring… Kring…

Aku menoleh ke sumber suara dan dapat melihat jam weker di meja berbunyi. Dengan cepat, aku bangun dan langsung mematikan alarm weker tersebut. Tidak mau membangunkan dongsaengku yang masih terlelap dengan damainya. Pintu kubuka pelan, dan aku langsung bergegas ke dapur. Menyiapkan sarapan untukku dan Siwon. “Hyung…”

Aku menoleh dan dapat melihat Siwon sudah berjalan kearahku dengan langkah sempoyongan. “Aku membangunkanmu ya? Mian, Siwonnie~” Ia tersenyum, walaupun wajahnya yang pucat takkan bisa tertutupi. “Gwenchana, hyung… Aku memang mau berangkat ke sekolah sebentar lagi kan.”

“Mandilah dulu… Setelah selesai, baru kita sarapan. Arasso?” ucapku dengan tegas namun penuh rasa sayang. Ia mengangguk dan beranjak ke kamar mandi. Aku pun melanjutkan pekerjaanku. Tak lama, makanan yang kumasak sudah selesai dibuat. Aku duduk di meja makan, menunggunya untuk makan. Ini memang kebiasaan kami sehari-hari untuk tetap sarapan bersama.

“Sudah lama, hyung?”

Aku menggeleng cepat. “Duduklah dan mulai makan… Hyung sudah menyiapkan makanan favoritmu.” Ia tersenyum manis dan langsung duduk. “Wuah~! Gomawo-yo, hyung…”

Ia mulai menyendok makanannya dan bergegas makan. Aku melihatnya dengan tatapan bagaimana-rasanya-dan-apakah-enak. Ia mulai mengunyah makanan itu dan tak lama menelannya. Kemudian, seulas senyum muncul dari bibirnya. “Mashita…!”

Aku tersenyum, ikut menampilkan lesung pipiku. “Hyung…aku akan ke…toilet sebentar~” ucapnya masih dengan senyuman dan langsung bergegas pergi. Rasanya hatiku sangat perih. Aku sudah tau, Siwon-ah… Bahwa beberapa hari ini, kau selalu memuntahkan apa saja yang kau makan… Kenapa kau harus tak jujur padaku? Apakah kau takut aku akan sedih?

Tak lama, ia kembali. Masih dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. “Mianhamnida, hyung… Aku harus menghadiri rapat OSIS pagi ini, jadi aku pergi dulu ya? Donghae juga pasti sedang menungguku. Annyeong, Teukie hyung~!”

“Hati-hati di jalan, Siwonnie…”

Hanya itu yang bisa kukatakan. Air mata turun bersamaan dengan perginya dongsaengku. Rasanya sangat sakit. Aku masih tak bisa membayangkan hidupku tanpa Siwon, dongsaeng satu-satunya yang kupunya. Apakah aku bisa melewati dunia yang gelap ini sendirian tanpanya? Dengan masih berat hati, aku mulai mandi dan membereskan semua perlengkapan. Setelah itu, aku bergegas pergi ke kampusku.

 

+++

 

“Annyeong, Teukie…!”

Aku hanya tersenyum menanggapi sapaan perempuan-perempuan berupa sunbae dan hoobae itu. Mereka selalu mengikuti dan melihat setiap gerak-gerikku. Aku sendiri bingung, kenapa para wanita itu selalu mengejarku. Padahal aku selalu hidup dalam kesederhanaan dan tak pernah melakukan sesuatu yang membanggakan. Satu-satunya keahlianku adalah kelancaran otakku dalam menerima pelajaran.

Dengan cepat, aku masuk ke kelas dan duduk di salah satu bangku. “Oppa? Apakah kau Park Jungsoo?” Aku menoleh dan dapat bisa seorang perempuan cantik nan manis sedang berada di sampingku. Aku mengangguk pelan, masih mengangumi perempuan di sampingku ini. “Lee Jinra imnida… Aku hoobae-mu, oppa. Maukah kau memberikan pelajaran tambahan padaku? Seperti les… Kata Cho Songsaenim, kau adalah mahasiswa terpintar. Boleh ya, oppa?”

Aku berpikir sebentar. “Park Jungsoo imnida. Panggil saja aku Leeteuk, itu nama panggilanku. Soal pelajaran tambahan…akan aku pikirkan dulu~”

Perempuan ini langsung memandangku dengan penuh harapan. “Jebal, Leeteuk oppa… Aku sangat membutuhkan pelajaran tambahan ini~ Boleh ya? Jebal, oppa…” Entah dapat perintah darimana, leherku mengangguk dengan sendirinya. Ia melonjak girang seraya memegang tanganku. “Kamsahamnida, oppa…! Kamsahamnida~!”

Aku tersenyum tipis melihatnya. “Ne, chonmaneyo~ Tapi lepaskan dulu tanganku.”

Jinra langsung melepaskan tanganku dan menunduk malu. “Mianhamnida, oppa… Aku permisi dulu~ Annyeong.” ucapnya dengan wajah yang merona. Seulas senyum terbentuk di bibirku. Jinra …sangat lucu dan manis. Membuat jantungku berdetak keras saat melihatnya. Apa aku mulai jatuh cinta?

Setelah itu, dosen bergegas masuk kelas dan pelajaran seperti biasa pun dimulai. Tak sadar, pelajaran telah berakhir. Aku pun bergegas ke tempat kerja. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dengan cepat, aku langsung beranjak pulang. Di rumah aku membuka pintu dan bisa melihat Siwon sudah menghampiriku dan memelukku. Kebiasaannya yang paling menyenangkan sekaligus paling menyebalkan. “Sudah pulang, hyung?”

Aku mengangguk riang. “Duduklah, hyung… Hyung pasti capek kan? Aku sudah menyiapkan minuman dan makanan untuk hyung…” Aku mengelus rambutnya yang semakin lama semakin menipis. “Gomawo, Siwonnie-ah… Tapi, aku harus membereskan pekerjaan rumah dulu ya?”

Aku bergegas bangun, namun ia menarik tanganku. “Tenang, hyung… Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Jadi, hyung tidak usah membereskannya lagi. Lebih baik sekarang hyung duduk dan mulai makan. Ne?” Aku memandangnya tak percaya. “Kau mestinya tidak usah melakukan hal itu… Kau kan sakit. Mestinya kau beristirahat cukup, Siwon-ya. Aku…tidak mau kehilanganmu.”

Air mata mulai menetes dan turun dari permukaan mataku. Siwon mengusap air mata yang terjatuh di pipiku. “Hyung…mian… Aku tidak bermaksud membuat hyung sedih. Aku…hanya merasa…diriku tak berguna. Hyung yang selalu merawatku…bekerja demi kita, dan membereskan semua urusan rumah. Aku hanya mau membantu hyung. Mianhaeyo ~”

Aku kembali mengelus rambutnya. “Ini bukan salahmu, Siwon-ah… Hanya, lain kali jangan melakukan ini lagi. Arasso? Hyung hanya takut kau…meninggalkanku.” Siwon tersenyum perih. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Teukie hyung…! Kita akan bersama selamanya—”

“—aku janji.”

Air mataku kembali turun. Aku langsung memeluknya. Memeluk tubuh ringkihnya. Ia membalas pelukanku. Kita berdua berpelukan cukup lama. “Siwonnie? Jangan berpelukan lagi. Aku sudah sesak nafas… Siwonnie~!” Aku melepas pelukannya dengan perlahan. Ia sudah tertidur. Dengan wajah damainya yang biasa. Aku tersenyum dan membiarkan kepalanya menyender pada bahuku. Tak sadar, aku ikut tertidur.

 

+++

 

Aku terbangun, dan langsung melihat sampingku. Tidak ada orang. Kemana Siwon pergi? Dengan pelan, aku mengecek jam di ruang tamu. Kemudian membelalakan mataku tak percaya. Sudah jam 09.00~! Pantas, Siwon sudah tidak ada. Pasti ia sudah pergi ke sekolah. Aku langsung bersiap-siap secepatnya menuju kampus. Aku menarik nafas lega saat mengetahui aku belum telat. Keringat sudah bercucuran deras menghujani tubuhku, pasti akibat berlari tadi.

“Annyeong, Teukie…”

Segerombolan wanita kembali menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dengan langkah cepat, aku duduk di kursi kelas dan mulai membuka bukuku. “Leeteuk oppa~ Pelajaran tambahannya jadi kan?”

Aku menoleh dan sekali lagi bisa melihat Jinra sedang berdiri di sampingku. Kemeja santai dan rok putih anggun yang ia pakai saat ini membuat penampilannya sangat indah dan manis. Aku mengangguk santai, berusaha tidak terlihat terpana. Ia kembali tersenyum manis. “Gomawo-yo, oppa…! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu~”

Bel berbunyi secara tiba-tiba. “Aku ke kelasku dulu ya, oppa~ Annyeong…”

“Annyeong~” balasku. Ah, tampaknya aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Melihat punggungnya saja sudah berhasil membuat jantungku berdetak keras. Dalam hati aku berjanji, aku akan menceritakan hal ini kepada Siwon saat pulang nanti. Ia pasti akan sangat senang saat mengetahui bahwa akhirnya hyung kesayangannya ini mencintai seorang gadis.

Setelah selesai kuliah, aku mulai bekerja seperti biasa. Saat waktu jam kerja sudah berakhir, aku langsung berjalan dengan cepat ke rumah. Dengan semangat besar, aku memasuki pintu kamar dan bisa melihat Siwon sedang asyik menonton TV di ruang tamu. “Hyung~! Sudah pulang? Ayo duduk… Aku akan menceritakan sesuatu padamu.”

“Kebetulan, aku juga akan mengatakan sesuatu padamu…”

Siwon terkejut. “Jinja? Kalau begitu, hyung saja yang duluan cerita…” Aku menggeleng. “Kau saja yang duluan… Aku penasaran terhadap ceritamu, Siwonnie-ah.” jawabku seraya tersenyum. Ia akhirnya mengangguk dan menyenderkan kepalanya pada bahuku, satu kebiasaannya lagi yang menurutku sangat manis.

“Hari ini sebelum pulang sekolah siang ini, aku mampir ke rumah Donghae dulu untuk mengambil bukuku… Disana aku dikenalkan oleh Donghae, hyung dan noona’nya. Hyung Donghae bernama Lee Hyukjae. Orangnya sangat baik, ramah, dan sering membuatku tertawa. Satunya lagi adalah noona Donghae… Ia sangat cantik, anggun, dan manis. Dan…tampaknya aku jatuh cinta kepada noona’nya Donghae.”

Aku kaget mendengarnya. “Jinja?!”

Ia mengangguk malu-malu. “Ia hanya berbeda 3 tahun dariku… Namanya Lee Jinra. Ia sangat—”

Seluruh tubuhku lemas seketika. Yang bisa kudengar dari perkataannya hanya siapa nama perempuan yang disukainya itu. Apakah pendengaranku salah? Apakah aku terlalu mencintai Jinra, sehingga menganggap perempuan yang disukai Siwon itu bernama Lee Jinra? “Siapa…nama perempuan…tadi?” tanyaku dengan sekuat tenaga.

“Lee Jinra…”

Tidak, aku masih tak percaya. Korea itu sangat luas. Tidak jarang kan orang mempunyai nama yang sama?

“Berarti sekarang ia sudah kuliah kan? Ia kuliah dimana dan fakultas apa?” tanyaku lagi dengan terburu-buru. Ia tertawa pelan. “Aigoo, hyung~ Pertanyaanmu itu banyak sekali. Ia kuliah…di Universitas Seoul dan jurusan Hubungan International. Jamkkaman~! Bukannya universitas dan jurusan hyung dengan Jinra noona sama? Kalian sudah saling kenal dong?”

Aku mengangguk berat. “Ne, aku mengenalnya. Ia hoobae’ku.”

“Suatu kebetulan yang bagus…! Kalau hyung ingin bercerita apa tadi?” tanyanya masih dengan wajah ceria. “Tidak jadi. Aku…mau ke kamar dulu ya.” jawabku dengan lemas. “Hyung sakit? Kok lemas seperti itu?” tanyanya khawatir. “Gwenchana~ Jangan tidur malam-malam. Kau yang mestinya butuh banyak istirahat…”

Aku memasuki kamar dan air mataku tak kuasa lagi untuk kutahan. Kugigit bantal agar suara tangisanku teredam. Disatu sisi, aku sangat senang saat melihat Siwon akhirnya menemukan yeoja yang dicintainya. Tapi, disisi yang lain, aku sangat sedih dan terpukul. Kenapa semua kebetulan ini bisa terjadi? Apa yang harus kulakukan? Menyerah pada cintaku, atau malah mengejarnya? Tidak, aku tak kuasa melepas cintaku… Tapi aku juga tak kuasa membuat Siwon sedih… Aku ingin membahagiakan detik-detik kehidupannya, yang akan berakhir singkat.

 

+++

 

Aku bangun dengan mata yang masih sembap. Semalam, aku benar-benar tidak bisa tidur. Pembicaraan kemarin masih terus berputar-putar dalam otakku. Sulit untuk mengambil keputusan. Sungguh aku sangat menginginkan kebahagiaan dongsaeng’ku, namun aku juga sangat mencintai Jinra. Dengan kepala berat, aku melangkah keluar kamar. Kubisa melihat Siwon sedang menyantap roti buatannya di meja makan. Wajahnya riang, walaupun pucat seperti biasa.

“Pagi, hyung…”

Aku tersenyum, mengangguk, dan mengelus rambutnya. “Pagi, Siwonnie… Hyung bangun kesiangan ya? Mian ya~” ucapku merasa bersalah. “Gwenchana, hyung… Hyung kan sudah kerja seharian. Sudah seharusnya aku mengurus diriku sendiri.” jawabnya seraya tersenyum. “Kau memang dongsaeng yang paling kusayang~!”

Siwon cemberut. “Aku kan memang dongsaeng satu-satunya yang hyung punya… Tentu aku yang paling disayang.” Aku tertawa mendengarnya. Namun, air mata kembali merembes dari mataku. Ia, Siwon, dongsaeng’ku yang paling kusayang. Bahkan melebihi diriku sendiri. Keberadaannya selalu membuatku terhibur dan tersenyum. Kembali kubayangkan hidupku tanpa dirinya. Hampa. Kosong. Buram. Takkan ada lagi senyum yang menghiasi wajahku.

“Kok hyung menangis? Aku salah berbicara ya?”

Aku menggeleng cepat. “Ani, Siwonnie… Kau tidak salah. Hyung saja yang terlalu cengeng~” ucapku seraya menghapus air mata yang keluar. “Aku berangkat ke sekolah dulu ya, hyung… Annyeong~” katanya sembari memelukku dan beranjak keluar rumah. Aku melambaikan tanganku kepadanya.

Dengan lesu, aku memasuki kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk kuliah. Hatiku sudah yakin sekarang… Aku akan merelakan Jinra untuk dongsaeng’ku tersayang ini. Meskipun sakit, namun dengan melihat wajah riangnya atau sekedar melihatnya tersenyum, sudah merupakan hal terindah dalam hidupku.

 

+++

 

“Oppa, jadi kan pelajaran tambahannya? Hari ini ya dirumah oppa~” kata Jinra yang kembali menghampiriku. Aku mengangguk lesu. “Oppa kok lesu begitu? Sedang sakit ya?” tanya Jinra seraya menempelkan tangannya di keningku. Aku menepisnya halus. Rasa cintaku akan semakin besar dan rasa sakitku akan semakin besar juga nantinya, jika begini terus. Mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengannya.

“Ani… Jinra-ssi, apakah kau kenal dengan Park Siwon?”

Jinra mengangguk bingung. “Oppa kenal dengannya?” Aku terkekeh pelan mendengarnya. Memamerkan lesung pipiku yang biasanya sangat diminati oleh yeoja-yeoja di kampusku. “Tentu saja aku kenal dengannya, Lee Jinra-ssi… Dia itu adalah dongsaeng’ku satu-satunya.”

“Jinja?! Pantas wajah dan lesung pipi kalian mirip… Kita sangat berjodoh ya, oppa? Dongsaeng kita adalah sahabat dan kita sudah saling mengenal.” ucapnya sembari tersipu. Perih mendengarnya. “Berjodoh? Itu kan hanya kebetulan biasa… Apa perasaanmu terhadap dongsaeng’ku??” tanyaku penasaran.

Pandangannya terarah pada langit-langit. “Bagiku, Siwon adalah dongsaeng yang menyenangkan… Ia sangat baik dan murah senyum. Ada sesuatu perasaan nyaman jika dekat dengannya. Tidak seperti dongsaeng’ku yang sangat jail itu…”

“Bukan itu maksudku, Jinra-ssi… Aku menanyakan perasaanmu sebagai yeoja, bukan sebagai noona baginya.” kataku semakin penasaran. Ia memandangku bingung. “Apa maksudmu, oppa? Perasaanku padanya tak lebih dari seorang noona ke dongsaeng…”

Hatiku mencelos mendengarnya. Ada perasaan sedih saat mendengarnya, tapi dalam hati yang paling dalam, ada rasa kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. “Kenapa oppa menanyakan hal ini tiba-tiba?” tanyanya penasaran. Aku menggeleng. “Hanya sekedar bertanya…”

Malam ini setelah kerja, aku memasuki pintu rumahku.  Jinra sudah ada disitu, sedang menonton TV dengan Siwon. “Sudah pulang, hyung? Kok hyung tidak pernah bilang mau mengajarkan Jinra noona?” tanya dongsaeng’ku ini seraya cemberut. Aku tersenyum dan kembali mengelus rambutnya, kebiasaan yang paling aku sukai. “Bisa kita mulai, Leeteuk oppa?” tanya Jinra kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan. “Aku boleh melihat kalian kan, hyung?” tanya Siwon memohon.

“Ani… Kau tidur saja. Besok kan kau harus sekolah…”

Ia mengerucutkan mulutnya, namun langsung bergegas ke kamar. Daridulu ia memang tak pernah melawanku, apalagi sejak orang tua kita meninggal. Ia selalu merasa bahwa aku adalah satu-satunya sandaran yang ia punya. Dan ia sangat menyanyangiku sebagai seorang hyung, sama sepertiku yang menyanyanginya sebagai dongsaeng.

Setelah itu, kami—aku dan Jinra memulai kegiatan belajar. Aku sedikit bingung. Jinra selalu bisa menjawab soal atau pertanyaan yang kuberikan. Jika ia memang bisa, mengapa harus meminta pelajaran tambahan padaku? Namun, tak bisa kupungkiri, jantungku masih berdetak keras saat berada dekat dengannya. “Oppa, kenapa kau bengong?” tanya Jinra tampak bingung. Aku menggeleng cepat. “Gwenchana… Sudah malam. Lebih baik kau pulang, Jinra-ssi. Lagipula kau sudah bisa kok.”

Ia mengangguk dan kemudian berjalan keluar. Aku ikut di belakangnya, untuk menutup pintu sekalian mengantarnya ke pintu depan. “Annyeong, oppa…” sapanya dengan ramah. Aku ikut menunduk kecil. “Annyeong, Jinra-ssi…” Setelah ia pulang, aku menutup pintu dan langsung beranjak menuju kamar. Disana, aku bisa melihat Siwon belum tidur, masih berkutat dengan i-pod’nya. “Kau belum tidur?”

Dia menggeleng, mematikan i-pod’nya dan langsung menatapku. “Bagaimana pelajaran tadi, hyung? Apakah Jinra noona sedikit kacau, sehingga ia sampai meminta pelajaran tambahan padamu?” tanyanya bertubi-tubi dengan wajah berseri-seri. Aku tersenyum. “Pertanyaanmu itu cepat sekali… Ani, tadi dia bisa mengerjakan setiap soal dengan baik.”

Siwon menautkan alisnya, “Lalu, kenapa Jinra noona ingin belajar pada hyung?” tanyanya bingung. Aku duduk di sebelahnya. “Molla-yo. Memang kenapa?”

“Aku hanya merasa… Jinra noona menyukaimu, hyung.”

Deg! Jantungku merasakan detakan keras yang memilukan. Aku memandang Siwon, yang masih menatapku dengan pandangan penuh tanya. Kemudian aku tersenyum, tidak, lebih tepatnya memaksakan tersenyum. “Mana mungkin, Siwonnie… Sudahlah, tidur sana. Ini sudah malam~ Annyeong-hi jumuseyo…” jawabku sembari tidur di kasurku dan memejamkan mata.

 

+++

 

Teriknya sinar mengawali pagiku hari ini. Ah, senangnya mengetahui bahwa ini adalah hari Minggu! Hari yang paling disukai semua orang di dunia, termasuk aku. Kutolehkan pandanganku kearah kasur di sebelahku. Dimana Siwon? Sudah bangun kah?

“Siwonnie…!” seruku sembari membuka pintu kamar dan berjalan kearah ruang tamu. Namun ternyata ruang tamu kosong. Kuteriakan lagi namanya seraya berjalan kearah ruang makan, namun ruang makan juga nihil. Pikiranku mulai cemas. Kemana dia? Jika mau pergi, ia pasti akan izin padaku. Minimal ia akan menulis pesan dan ditempel di kulkas. Namun, permukaan kulkas juga kosong.

“Siwonnie…!!!” teriakku lagi sembari membuka pintu kamar mandi, ruang satu-satunya yang belum aku kunjungi untuk mencarinya. Dan…betapa terkejutnya aku sekarang. Dia, dongsaengku tersayang, sudah tergeletak tak berdaya. Dengan darah yang berceceran dimana-mana. Perasaanku kacau dan terasa kosong. Selama beberapa menit, aku hanya bisa terdiam tanpa mengalihkan pandanganku kearah Siwon. “Teukie hyung~!” seru seseorang yang aku tau adalah suara Donghae.

Dia yang sudah punya kunci rumah kita langsung menghampiriku. “OMONA~! Siwon kenapa?! Hyung… Hyung… Hyung…” katanya seraya mengguncang-guncang tubuhku. Seketika aku tersadar, dan langsung menggendong Siwon menuju pintu rumah. Donghae membantuku dan memanggil taxi. Segera kita masuk ke taxi itu. Air mata mulai berjatuhan dari mataku.

“Sabar, hyung… Siwon pasti baik-baik saja. Dia adalah namja yang kuat~”

Aku tersenyum tipis menanggapi penghiburan yang diberikan Donghae. Namun, hatiku sangat sakit. Siwon berada di pangkuanku sekarang, terbaring tak berdaya. Wajah sendunya sangat damai, sehingga membuatku semakin takut. Takut kehilangan Siwon-ku. Dongsaeng yang sudah menemani dan mengisi hari-hariku. Dialah keluarga satu-satunya yang tersisa dalam hidupku. Karena dialah juga, aku hidup. Dan…aku sangat menyayanginya.

Begitu sampai, aku kembali menggendongnya ke pintu rumah sakit dan para dokter mulai membawanya ke ruangan. Aku ingin ikut, namun dokter melarangku. Pertahananku sudah runtuh sekarang. Aku terduduk, tepat di depan pintu ruangan dimana Siwon dirawat. Memeluk lututku dan menangis. Hanya ini yang bisa kulakukan.

Donghae menepuk bahuku, berusaha sebisa mungkin menghiburku. Walaupun aku yakin ia tau, hiburannya tidak membantuku sama sekali. Kita terus berada di posisi seperti ini selama beberapa lama, hingga seseorang datang kearah kami. Seseorang yang paling kusayang setelah Siwon, yaitu Jinra. Dia, dengan pandangan dalamnya menatapku. Perlahan mendekati dan memelukku. “Leeteuk oppa…”

Hanya pelukan dan panggilannya padaku, sudah bisa membuatku tenang. Seketika dokter datang, dan aku langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan dongsaeng’ku, dokter?!”

“Sebaiknya kalian ikut ke ruangan saya. Saya akan menjelaskannya disana.” ucap dokter tersebut. Aku mengangguk dan langsung mengikuti dokter tersebut ke ruangannya dengan cemas. Donghae dan Jinra mengikutiku dari belakang. Di ruang dokter, kita bertiga duduk di hadapan dokter. Air mataku berjatuhan makin menjadi-jadi. Aku takut. Sungguh takut. Takut jika dokter itu akan memberitakan kabar buruk padaku.

“Dongsaeng’mu sudah kami tangani dengan baik. Sekarang ia hanya butuh istirahat. Namun—”

Hatiku sedikit mencelos mendengarnya. “Namun apa, dok?” tanya Donghae tak sabar. Aku mengangguk, setuju dengan pertanyaan Donghae. “Namun…penyakit kanker’nya bertambah menjadi stadium tiga. Dan hidupnya…takkan lebih dari usia 20 tahun. Kami selaku pihak rumah sakit, mengucapkan duka cita sebesarnya-besarnya.” jawab dokter tersebut seraya menunduk. “Mworago?!” seru Jinra yang daritadi diam. Air matanya ikut jatuh. Entah kenapa, kali ini tidak air mata yang keluar dari mataku. Perasaanku seakan tumpul seketika. Rasa sakit mengerubungi hatiku. Seperti luka yang ditabur garam. Perih. Sangat perih.

Kulayangkan pandanganku pada Donghae, ia juga ikut menangis. Aku tau bahwa ia dan Siwon sudah menjadi sahabat dari kecil. Dan rasanya sangat sakit. Sakit bahwa hidup sahabat kesayangannya hanya tinggal 3 tahun lagi. “Boleh kami bertemu dengannya, dok?” tanyaku tiba-tiba. Dokter itu mengangguk, dan aku langsung bangun.

Tubuhku sedikit oleng, hingga hampir menabrak sebuah meja. Namun, aku tak memikirkan itu lagi. Pikiranku hanya tertuju pada Siwon, dongsaeng tersayang dan satu-satunya yang aku punya. Donghae tiba duluan dan membuka pintu rawat. Aku yang tepat berada di belakangnya langsung dapat melihat seorang pria sedang terbaring. Tubuhnya menjadi lebih pucat dari biasanya. Tangannya tertancap infus dan penuh dengan kabel aneh.

“Donghae-ya… Teukie hyung… Jinra noona… Kalian semua ada disini?”

Dia tersenyum hangat, sekali lagi menampilkan kedua lesung pipinya. Aku tak menjawabnya, namun aku langsung menghampiri dan memeluknya erat. Kembali menangis sekeras-kerasnya. “Omo, hyung~ Kenapa hyung menangis seperti itu? Tidak malu dilihat Jinra noona?”

Aku menempeleng pelan kepalanya, dengan posisi masih memeluknya. “Babo~! Aku sangat khawatir padamu…!!! Mana mungkin aku masih memikirkan pandangan orang lain…!”

Siwon tertawa pelan. “Gomawo-yo atas ke-khawatiranmu, hyung… Tapi, jangan peluk aku terlalu erat, hyung…!!! Rasanya sesak~!” ucapnya dengan pandangan penuh harap dan aku langsung melepas pelukanku seraya tersenyum innocent. Donghae dan Jinra—dua kakak-beradik ini hanya bisa tertawa melihat kelakukan kami. Yah, beginilah kami. Selalu kekanak-kanakan dimanapun dan kapanpun. Inilah yang membuat kami sangat akrab dan bahagia.

Tak sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. “Jinra-ssi, sebaiknya kau pulang. Bawalah noona’mu pulang, Donghae-ya… Biar aku yang menemani Siwon disini.” kataku seraya tersenyum, menatap dongsaengku yang sedang tertidur lelap.

“Arasso, hyung… Kami pergi dulu ya. Jika ada apa-apa, hyung harus mengabarkannya pada kami ya?” ucap Donghae sembari tersenyum. Aku tersenyum. “Ara… Sudah sana~ Hati-hati di jalan.” balasku sembari melambaikan tangan kearah mereka berdua. Aku mengantar mereka menuju depan pintu ruang dimana Siwon dirawat. Donghae mengambil mobil dahulu, sehingga meninggalkan aku dan Jinra sendirian. Keadaan menjadi sangat kaku sekarang. “Oppa…”

Aku memandangnya penuh tanya. “Mungkin memalukan bagi yeoja untuk melakukan ini, keundae…yeongwonhi saranghaeyo, oppa.”

Sontak aku sangat terkejut. Otakku masih berusaha keras mencerna kata-kata yeoja kesayanganku ini. “Mian, Jinra-ssi. Aku tak bisa.” ucapku sembari menunduk. “Wae oppa?! Aku tau kau mencintaiku juga, seperti aku mencintaimu…!” seru Jinra seraya mulai meneteskan air mata. “Mian, Jinra-ssi… Mian…”

Satu lagi kelemahan terbesarku. Aku tak bisa melihatnya menangis, terlalu sakit rasanya. Tapi, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Ini semua demi dongsaengku… Ini semua demi kebahagiaannya…

“Jebal, oppa…! Katakan bahwa kau mencintaiku~! Aku tau itu…”

Dia sudah menangis sempurna. Suara tangisannya membuat hatiku pilu, seakan jutaan pisau tajam sedang bergantian menusuk hatiku. Entah dapat perintah darimana, tanganku memeluk tubuh ramping Jinra. Membiarkannya menangis dalam pelukanku. Aku tau ini salah. Otakku tau itu. Namun tanganku seakan diperintah oleh hatiku. Hati yang sudah terlalu lama menderita.

Dengan sekali hentakan ia mencium bibir tipisku. Membuatku terbang dan merasa ada di dunia mimpi yang paling indah seketika. Aku membalas ciumannya. Bertekad bahwa ini adalah kali terakhir aku mencintainya. Bertekad bahwa setelah ciuman panjang ini, aku akan melepasnya untuk selama-lamanya. “Teukie hyung~ Jinra noona~”

Suara yang paling aku kenal terdengar. Tak ada waktu untuk melepas ini semua. Ia sudah melihatnya. Ia sudah tau. Ekspresinya sangat kaget, aku tau pasti hatinya terasa sakit. Sontak aku melepas ciuman kita. Jinra juga terkejut dengan ini semua. “Tampaknya…aku…menganggu kalian ya? Mi…mian.” katanya dengan terbata-bata dan mencoba tersenyum. Lalu, kembali masuk ke dalam ruang rawatnya. Tanpa melihat Jinra, aku langsung berlari menuju ruang rawatnya.

“Siwonnie… Ini bukan seperti yang kau lihat.”

Dia tersenyum, wajahnya sangat pucat. “Gwenchana, hyung… Aku tau hyung dan Jinra noona saling mencintai~” katanya berusaha santai, meskipun ia sangat bekerja keras menahan air matanya. “Bagaimana kau tau?” tanyaku, tak berani menyangkal, karena apa yang diucapkan Siwon itu memang benar.

“Cara pandang kalian berbeda. Pandangan kalian sungguh dalam saat bertemu…dan alasan Jinra noona mengikuti les denganmu juga sangat membuktikan itu. Chukae-yo, hyung…” katanya lagi, masih berusaha tenang.

“Ta…tapi kita berdua tidak—”

Siwon menaruh telunjuknya di bibirku, seakan menyuruhku berhenti bicara. Kemudian ia tersenyum. Walaupun air mata mulai turun setetes demi setetes dari matanya. “Kapanpun hyung bahagia, maka aku akan bahagia pula.” Aku memeluk tubuhnya yang semakin ringkih. Air mataku juga ikut turun. “Gomawo, nae dongsaeng… Kau tau apa hal yang paling membahagiakan dalam hidup hyung?”

Dia menggeleng dan memandangku penasaran. “Mempunyai dongsaeng sepertimu, Siwonnie… Kau adalah sayapku. Tanpamu, hyung tidak akan bisa terbang. Tanpamu, hyung akan menjadi malaikat tanpa sayap. Kau lah hidup hyung. Tanpamu, hyung tidak akan bisa menjalani kehidupan.”

Dia tersenyum dan kami berdua kembali berpelukan.

 

+++

 

Udara hari ini sangat cerah. Aneh, karena seharusnya hari ini musim salju. Warna langit sungguh biru, senada dengan warna kemejaku. Aku dan beberapa orang lainnya berdiri. Mengelilingi sebuah nisan. Nisan sederhana yang terbuat dari kayu ek. Di nisan tersebut, terdapat tulisan yang sangat halus.

 

PARK SIWON

(17 MARET 1991 – 14 FEBRUARI 2010)

 

Ada yang berbeda dari pemakaman Siwon. Tak ada nuansa hitam atau seorang pun dari pelayat yang memakai pakaian hitam. Juga tidak ada tangisan dan kesedihan. Hanya ada kebahagiaan. Ini adalah permintaannya sendiri. Ia ingin kematiannya diiringi dengan senyuman, bukan tangisan.

Dan permintaannya tercapai. Seluruh orang mengantarkannya ke pembaringan terakhir dengan seulas senyuman. Aku bisa melihat Donghae sedang tersenyum dan melemparkan bunga pada nisannya. Sebuah sentuhan mendarat di bahuku. “Kajja kita pulang, oppa… Upacaranya sudah selesai.”

Aku mengangguk, dan menatap makam itu dengan dalam. “Istirahatlah dengan tenang, dongsaeng’ku. Aku akan mengunjungimu sesering mungkin. Annyeong hi-jumuseyo….” bisikku lalu meninggalkan makamnya.

 

+++

 

Aku menduduki kamar dimana kita berdua selalu tidur. Mataku melirik foto-foto yang terpajang di dinding. Senyuman kembali terulas dari bibirku. Kenangan antara kita kembali berkelebat dalam hatiku. Mataku berganti memandangi sebuah buku jurnal yang di meja. Buku ini tak pernah aku sentuh sebelumnya. Dan setahuku, Siwon selalu menulis apapun disini.

Dengan perlahan, aku menyentuh buku itu, menggenggamnya, dan mulai membuka cover-nya. Banyak tulisan-tulisan yang ia buat. Sontak aku masuk ke dalam larutan isi buku tersebut. Hingga akhirnya sampai halaman terakhir. Secarik kertas sudah ditaruh sempurna disitu. Aku mengambil kertas tersebut dan mulai membuka lipatannya.

Teukie hyung,

Aku tidak tau apakah hyung akan membaca ini atau tidak. Tapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku juga sangat bahagia mempunyai hyung sepertimu… Kau adalah malaikatku dan aku adalah sayapmu. Tanpa malaikat, sayap tidak akan punya tempat untuk bernaung. Dan tanpa sayap, malaikat tidak akan bisa terbang. Kita selalu saling melengkapi, dari yang susah hingga yang senang.

Jika Tuhan menyuruhku memilih, aku tetap akan memilih kehidupanku ini. Singkat tapi bahagia. Bahagia karena bisa bersamamu. Menghabiskan waktu bersamamu. Dan tertawa bersamamu. Aku pasti sangat merindukan belaian tanganmu, hyung… Apakah hyung merindukan pelukanku?

Saranghaeyo, hyung~ Berbahagialah dengan Jinra noona. Bahagiakanlah dia seperti dulu kau selalu membahagiakanku. Aku akan menitipkan hatiku untukmu. Selamat tinggal, hyung… Aku mencintaimu.

-Your Forever Dongsaeng, Park Siwon-

Air mataku kembali keluar dari tempatnya. Hatiku sangat perih membacanya. Dia lah dongsaeng kebanggaanku. Dan dia lah pula sayapku. Sayap yang selalu membuatku terbang dan dapat mengarungi dunia keindahan yang tiada tara.

Yap Siwonnie, you’re My Forever Dongsaeng… ^^

 

~END~

 

+++

 

Gomawo-yo buat yang dah baca~ Comment please, my lovely readers… 😀

^_^


 

 

 

 

 

 

Fanfiction : ~Save The World~ (Chapter One)

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kekuatan kita sudah melemah… Tapi kita tetap tidak boleh menyerah.” ucap seorang lelaki seraya menaruh kedua tangannya di belakang dan melangkah bolak-balik. “Bagaimana jika kita memilih generasi muda penerus kita dan menyerahkan seutuhnya tugas kita ini kepada sang terpilih tersebut?” usul seorang lagi yang sedang duduk manis di depan komputernya.

Seorang bertubuh tegap langsung melirik orang yang baru bicara tadi. “Jangan gila, Park Jungsoo…! Generasi muda tidak bisa dipercaya~ Kau tau itu bukan? Itu sama saja dengan kau menghancurkan dunia…!” serunya dengan lirikan tajam.

Orang yang sedang bolak-balik seketika duduk di samping Jungsoo. Ia sadar bahwa Jungsoo bukan orang yang sembarangan bicara tanpa alasan yang jelas. “Hanya ini harapan kita, Youngwoon…! Lagipula tidak semua generasi muda tidak bisa dipercaya~ Kau juga tau ini bukan?”

Youngwoon berhenti melirik Jungsoo dan langsung menunduk. “Aku tau perasaanmu, Youngwoon-ah~ Aku tau kau dendam dengan generasi muda. Tapi hanya mereka pegangan kita… Jungsoo benar~!”

“Tapi…Joongwoon-ah—”

Pandangan Joongwoon menajam. “Tidak ada kata ‘tapi’ sekarang… Kita akan memilih generasi muda terpercaya dan yang paling bisa mengemban tugas kita~! Arasso?!” katanya lantang. Jungsoo dan Youngwoon menunduk setuju. Mereka bertiga menjulurkan tangannya kedepan.

“Karena kita…Syupe Juni~oer yeyo!!!”

+++

(Action 1)

Seorang pria duduk di sebuah café. Pandangannya tertuju pada secangkir kopi yang ia pesan. Tumpukan koran tertumpuk pada seluruh permukaan mejanya. Rambutnya sudah berantakan. Begitu juga dengan penampilannya. Tak lama, air matanya keluar. Dia tak memedulikan pandangan pengunjung café yang aneh saat melihatnya.

Yang ia butuhkan hanya pekerjaan. Agar ia bisa membayar uang kuliahnya. Agar ia bisa terus bertahan dan menjalani hidup yang melelahkan ini. Dengan cepat, ia menghapus air matanya, menghabiskan sisa kopinya, dan memungut koran-koran yang berjejer di meja café itu. Ia melangkah cepat keluar café seraya menenteng setumpukan koran yang sekarang sudah berada di kedua tangannya.

Tak sadar, ia menabrak seorang pemuda yang lebih tinggi darinya. Koran-koran yang ia bawa pun terjatuh berceceran. Tanpa memikirkan apapun lagi, ia langsung menunduk dan mulai memungut koran-korannya. Pemuda yang lebih tinggi darinya itu mematikan sambungan teleponnya dan mulai membantu memungut koran-koran yang tergeletak di tanah.

“Mianhamnida~ Neomu mianhamnida~”

Pria yang masih memungut koran-korannya itu ikut menunduk. “Gwenchana… Tapi sepertinya aku mengenalmu~” ucapnya sembari menyipitkan pandangan. “Mungkin kau salah orang…” ucap pemuda itu sembari berjalan cepat. Setelah selesai memungut semua koran yang berceceran, pria itu kembali melanjutkan langkahnya. Dia beranjak cepat menuju rumah kost-nya yang telah menunggak selama beberapa bulan.

Namun, di dalam perjalanan, ia dihadang beberapa orang ber-jas. “Mau apa kalian?” tanya pria itu kaget. “Apakah kau yang bernama Lee Donghae??!!”

Pria itu menunduk kecil. Masih bingung terhadap apa yang terjadi. “Kalau begitu ikut kami~!” ucap salah satu lelaki. Donghae kaget dan membelalakan matanya. “Tapi…kenapa? Dan…untuk apa?” tanyanya bingung. “Jangan banyak tanya~ Ikut saja!” teriak satu orang lelaki lagi.

“ANDWAE~!!!”

Donghae mulai berlari dengan sangat cepat menelusuri gang-gang kecil. Lelaki-lelaki ber-jas tersebut ikut mengejarnya dengan kecepatan yang luar biasa. Hingga mereka semua bisa mengepung Donghae dari segala arah. “Sebenarnya apa mau kalian, hah~?!” seru Donghae yang sudah terengah-engah. “Membawamu, tentu saja~!!!”

Tiga lelaki ber-jas mulai mendekati Donghae dan bergegas membawanya. Namun, Donghae menghindar dan mulai memukul salah satu lelaki tersebut. “Jangan remehkan aku~! Aku pernah diajari berkelahi sebelumnya…” katanya dengan puas. Salah satu lelaki ber-jas mulai mendekati Donghae dan melancarkan pukulannya. Donghae berhasil menghindar dan kembali memukul lelaki itu.

Hingga lelaki ber-jas itu hanya tinggal berlima. “Tampaknya kita harus menggunakan cara kedua.” ucap seorang lelaki berkaca mata hitam. Yang lain mengangguk.

Donghae terkaget. “Cara kedua?”

Empat lelaki diantaranya langsung mengepung Donghae. Ia yang memang pandai berkelahi bisa melawan mereka dengan mudah. Namun, tak ia sadari, satu orang ber-jas sudah berada di belakangnya. Menancapkan sebuah jarum beracun pada lehernya. Dan bersamaan dengan itu, Donghae terjatuh dan tak sadarkan diri…

+++

(Action 2)


Seorang pemuda berdiri di depan bangunan sekolah dengan perasaan kesal. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Ia pun mengangkatnya. “Dimana kau Pak Kim? Bel pulang sekolah sudah berbunyi 20 menit yang lalu…!” seru pemuda itu dengan pandangan tajam. Tangan kirinya yang bebas ia masukkan ke dalam kantung seragamnya. “Mianhamnida, Tuan Muda Choi…”

Pemuda itu menghela nafas. “Sudahlah~! Aku akan pulang sendiri…!!!”

“Anda…tidak mau saya antar, Tuan Muda?” tanya pria separuh baya dari balik telepon. “Andwae~! Aku sudah lelah menunggu…!!!” jawabnya sembari menutup ponselnya. Dengan kecepatan maksimal, ia melangkah menuju arah rumahnya dengan berjalan kaki. Ia tak memedulikan pandangan orang-orang yang tentu saja mengetahui ‘siapa’ dia. Ponselnya kembali berbunyi.

“Choi Siwon-ya~! Apakah kau gila??!! Kau sadar tidak, kau adalah anak Presiden Korea Selatan? Berani-beraninya kau pulang sendiri tanpa pengawalan…! Apakah kau mau appa-mu ini malu?!” teriak Presiden Choi atau appa kandung dari pemuda ini.

Siwon mendengus kesal. “Itulah appa…! Appa selalu mementingkan kepentingan appa sendiri~ Pernahkah appa berpikir tentang kebahagiaanku??!!” serunya balik. “Jangan bercanda, Siwonnie~! Kau adalah anak Presiden…!!! Tidak mungkin kau tidak bahagia~~~!”

Baru saja Siwon akan melanjutkan pembicaraannya saat ia tak sengaja menabrak seseorang. Koran di tangan seorang pria itu terjatuh berantakan. Pria itu langsung menunduk untuk memungutnya. Siwon mematikan sambungan teleponnya dan mulai ikut memunguti koran pria itu.

Siwon menunduk kecil. “Mianhamnida~ Neomu mianhamnida~” katanya merasa bersalah.

Pria di hadapannya tersenyum manis. “Gwenchana… Tapi sepertinya aku mengenalmu~” ucap pria itu seraya menyipitkan matanya. Siwon terkejut. “Mungkin kau salah orang…” jawab Siwon dengan cepat seraya kembali melangkah terburu-buru. Dia berhenti untuk menarik nafas setelah memastikan sudah berjalan cukup jauh. “Apakah kau yang bernama Choi Siwon?!”

Siwon langsung menoleh dan dapat melihat lelaki-lelaki ber-jas sudah ada di hadapannya. “Mau apa kalian?” tanyanya kaget walaupun tetap tenang. “Ikut kami~!” seru lelaki ber-jas itu. Siwon masih berdiri dengan tenang. “Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Para lelaki ber-jas tersenyum menyeringai. “Kalau begitu kami akan memaksa~” jawab salah satu lelaki ber-jas dan bersamaan dengan itu, serangan dilancarkan. Siwon yang sudah pernah diajarkan segala jenis teknik bela diri bisa melawan dengan baik. Sekarang perkelahian makin menegang. Tinggal satu lawan tiga.

“Jalankan rencana B~!”

Para lelaki itu mengangguk dan mengambil pistol dari sakunya. Mereka mulai menembak pistol itu kearah Siwon. Ia berhasil menghindar dengan cepat dan gesit. Namun, sial, satu peluru berhasil mengenai pergelangan kakinya. Dia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri…

+++

(Action 3)


“Pulanglah, Kyuhyunnie~ Kau harus berjualan kan?”

Pemuda yang dipanggil mengangguk. “Pulang dulu ya ahjumma…” pamitnya seraya tersenyum tipis dan membereskan buku-bukunya. “Jika kau ingin belajar dan butuh penerangan, kau bisa kembali kesini kok~ Ahjumma akan menerimamu dengan senang hati. Ara?”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Kamsahamnida, ahjumma…” ucapnya seraya mulai beranjak keluar rumah. “Kyuhyun-ya~!!!”

Dia menoleh dan bisa melihat ahjumma itu berada di depan pintu. “Kirimkan salamku untuk eomma-mu…!” seru ahjumma tersebut sembari melambaikan tangannya. Kyuhyun mengangguk dan meneruskan perjalanannya. Ia menaiki sepeda bututnya dan mulai mengendarainya menuju rumah.

Di rumah ahjumma itulah satu-satunya tempat dimana Kyuhyun bisa bebas belajar. Rumahnya penuh dengan barang dan tak ada pencahayaan sama sekali guna menghemat listrik yang sangat susah dibayar itu. Namun, dibalik kesusahannya dalam belajar, ia adalah siswa jenius yang selalu meraih juara dalam setiap pelajaran.

Kyuhyun terus menggoes sepedanya. Tepat saat ia melihat kedua orang sedang bertabrakan dan salah satunya menjatuhkan koran-koran. Tak tau kenapa tapi kedua orang tersebut menarik perhatiannya. Yang satunya berpakaian lusuh, yang satunya memakai seragam mewah. Sang pemuda yang berpakaian mewah itu rasanya cukup familiar dimatanya.

Ia berpikir cukup keras hingga akhirnya menyadari. “Bukankah ia adalah anak Presiden Korea Selatan, Choi Daewon?!” gumam Kyuhyun yang malah tak sadar mengikuti dari belakang langkah cepat pemuda itu. Ia memberhentikan sepedanya saat melihat pemuda jangkung itu berhenti. Tak lama, lelaki ber-jas sudah mengelilingi pemuda itu. Untung jarak Kyuhyun lumayan jauh dari pemuda tersebut, jadi dia tidak dilihat oleh sekumpulan lelaki-lelaki tadi.

“Jangan-jangan lelaki ber-jas itu adalah…musuh negara?!” gumamnya terkejut. Namun pikiran itu ia buang jauh-jauh saat ia menyadari bahwa lelaki ber-jas itu bukan hanya menganggu pemuda tersebut, tapi juga menganggunya!

“Apakah kau yang bernama Cho Kyuhyun?!”

Kyuhyun menegang. “Kalian…mau apa?” tanyanya dengan takut. “Ikut kami~!” seru salah satu lelaki ber-jas. “Untuk apa?” tanya Kyu lagi. “Ikut saja…!!!” seru lelaki tersebut lagi. Kyuhyun meneguk ludahnya perlahan. “Andwae~!!! Aku tidak akan ikut kalian…!”

“Kau mau nasibmu sama dengan kedua pemuda ini?!”

Dia terkejut saat melihat kedua orang yang tadi ia lihat sedang bertabrakan itu, sudah tidak sadarkan diri. Pemuda yang memakai pakaian lusuh sudah babak belur dan di lehernya muncul titik-titik darah. Bibirnya membiru, seperti terkena racun. Sedangkan pemuda yang memakai seragam dan yang ia kenal sebagai putra tunggal Presiden tersebut juga babak belur. Dengan darah yang berceceran di kaki kanannya.

“Apa tujuan kalian…sebenarnya?”

Para lelaki ber-jas menyeringai. “Menangkap kalian~!”

+++

(Action 4)


Seorang pemuda duduk di meja kerjanya. Sedang asyik memainkan game di tangannya. “Permisi, tuan…” panggil lelaki yang berada tepat dibalik pintu ruangannya. “Nuguseyo?” tanya pemuda itu seraya masih sibuk menjalankan game di tangannya. “Presiden Choi.”

Pemuda itu terkejut dan langsung menyembunyikan game di tangannya. “Suruh beliau masuk~!” katanya dengan berwibawa. “Annyeong hasimnika, Tuan Choi~” sapa pemuda tersebut seraya menunduk sopan. “Annyeong, Kim Kibum… Aku dengar, sekarang kau yang menggantikan appa-mu untuk mengurus perusahaan ya?” Kibum mengangguk. “Ne…”

Choi Daewon duduk di sofa. “Appa-mu sangat beruntung memiliki putra sepertimu… Tidak seperti putraku yang tidak tertarik sama sekali dengan politik dan bisnis~ Ia malah lebih ingin masuk sekolah seni… Huh~!”

Kibum hanya tersenyum tipis. Ia tau dan kenal baik siapa putra Presiden Choi itu dan ia mempunyai impian yang sama dengan Siwon, putra Presiden itu, yaitu menjadi seorang entertainer. Kibum di bagian model, sedangkan Siwon lebih suka di bidang acting.

“Kenapa kau melamun, Kibum-ah?”

Dia yang sadar langsung tersenyum kembali. “Aniya, Tuan Choi…” jawabnya sopan. “Aku akan menghadiri rapat dengan Perdana Menteri Inggris, jadi aku pamit dulu ya~ Sampaikan salamku pada appa-mu.” ucap Presiden Choi dengan tegas. Kibum kembali mengangguk. “Akan aku sampaikan…”

Setelah selesai, Kibum kembali berkutat dengan game-nya. Tak lama, suara ponselnya berbunyi. “Apakah kau Kim Kibum?” tanya suara dari balik telepon. “Ne, nuguseyo?” tanyanya sopan. “Aku Park Kiyoo, teman lama appa-mu. Bisa kita bertemu sebentar? Tempatnya di XXX.”

“Ne, ahjussi…”

Kibum langsung beranjak keluar ruangan dan mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah diberitahu. Setelah sampai, ia langsung memarkir mobilnya dan mulai keluar dari mobil. Tak lama, suara ponselnya kembali terdengar. “Kau terperangkap…” ucap suara dari ponsel itu.

Kibum kaget mendengarnya. Ia menoleh ke belakang dan bisa melihat puluhan lelaki ber-jas mengejarnya. Tanpa banyak bicara, ia berlari secepat mungkin dan sejauh yang ia bisa. Melewati gang-gang dan semua yang ada. Dia berhenti saat melihat seorang pemuda dengan tas selempang yang juga sedang dikerubungi lelaki ber-jas.

“Apa tujuan kalian…sebenarnya?” tanya pemuda itu dengan wajah pucat. Kibum melihat arah mata pemuda tersebut yang ternyata tertuju pada dua orang. Kedua orang itu sudah tak sadarkan diri dengan keadaan kacau. “Menangkap kalian~”

“Siwon?!” gumam Kibum tiba-tiba saat melihat salah satu orang yang tak sadarkan diri tersebut. Pemuda dengan tas selempang tersebut seketika menoleh. “Kau kenal dia?” tanyanya menyelidik. “Ne, dia temanku…” jawab Kibum singkat. “Bersiaplah seperti mereka berdua~!” jawab salah satu pria ber-jas dan langsung menyerang mereka. Kibum memberikan perlawanan, namun Kyuhyun yang tidak bisa berkelahi hanya dapat menghindar.

“Arghhh…!”

Kibum menoleh dan bisa melihat Kyu memegangi perutnya yang terkena pukulan. Dia lengah dan ikut terkena pukulan. Akhirnya, karena jumlah lelaki ber-jas itu yang sungguh banyak, Kyuhyun dan Kibum berhasil dilumpuhkan dan dibawa ke markas.

 

#To Be Continue#

 

@All readers : Comment please ‘n happy reading~ ^^ Author masih tidak berpengalaman dalam membuat FF bergenre Action, jadi mian kalau kurang seru… 😀


Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Three)

“Sangrin-ya~! Hari ini, onnie akan memasak untuk ulang tahun Kibum… Rencana’nya, onnie akan memberikan kejutan untuk’nya. Bisakah kau membeli persediaan bahan di supermarket?”

Sangrin yang sedang menyapu, mengangguk kecil mendengar perintah onnie’nya.

Ia berjalan keluar dari apartement dan turun melewati lift. Disana sudah ada seorang lelaki yang sedang berada di lift yang sama. “Annyeong, Sangrin-ah…”

Minnie

Sangrin menunduk kecil. “Annyeong, Min oppa~”

“Mau kemana?” tanya Sungmin sembari tersenyum manis. “Ke supermarket, oppa… Kibum oppa ulang tahun hari ini~” Sungmin sedikit kaget saat Sangrin mengucapkan ‘Kibum’. “Bukankah Kibum adalah lelaki yang kau ingin lupakan waktu itu?”

Sangrin mengangguk pelan. “Ne, oppa~ Aku hanya mengabulkan perintah Hyeobin onnie, yeoja-chingu’nya Kibum oppa…”

Lelaki di sebelah’nya kembali terkejut. “Kibum sudah punya yeoja-chingu??”  Sangrin mengangguk lagi, kali ini lebih pelan. “Jadi, perempuan yang menyuruhmu itu adalah orang ketiga diantara kalian?”

Sangrin terdiam seraya menunduk. Sungmin masih memandang’nya penuh tanya. “Ani, oppa… Aku yang adalah orang ketiga diantara mereka~” ucap Sangrin pelan. “Mian. Aku membuatmu sedih ya? Mianhaeyo~”

“Gwenchana, oppa~ Ini kan memang kenyataan…”

“Mau aku antar?” tanya Sungmin saat pintu lift terbuka. “Oppa tidak sibuk?” Sungmin menggeleng cepat. “Kebetulan aku tidak punya jadwal kuliah hari ini. Kajja, Sangrin-ah…!” Sungmin langsung menarik tangan Sangrin menuju motor’nya.

Sangri naik ke boncengan Sungmin dengan malu-malu. “Peganglah tanganku, Rin-ah…” Sangrin sedikit kaget. “Ehh?” Sungmin langsung menggengam kedua tangan Sangrin dan mengalungkan’nya pada pinggang’nya sendiri. “Nah, bagus… Kajja, kita berangkat~!”

Tak sadar, daritadi mereka—Sangrin dan Sungmin—diperhatikan oleh seseorang. Ia, tepat’nya Siwon, sedang melihat mereka dengan pandangan nanar. Air mata’nya sudah jatuh. Mungkin semua orang akan mengira’nya namja yang cengeng, namun hati’nya merasa sangat perih.

***

“Sudah sampai~”

Sangrin turun diikuti Sungmin. “Lho, oppa kok ikut turun?” Sungmin kembali tersenyum. “Aku akan ikut membantumu~!” seru’nya dengan senyuman yang terus melekat. Membuat Sangrin terpana. Ah, senyum’nya sungguh manis~!

Tanpa basa-basi, ia membuka pintu supermarket dan menyuruh Sangrin masuk layak’nya tuan putri. Ia mengambil keranjang dan mengikuti kemanapun Sangrin pergi. Saat Sangrin melirik, Sungmin akan tersenyum.

Min

Setelah selesai membeli semua barang, Sungmin kembali mengantarkan Sangrin pulang. Di tempat parkir, Sangrin ingin membawa barang-barang yang tadi, namun Sungmin mengatakan agar ia saja yang membawa semua’nya.

Di depan pintu, mereka berhenti. “Kamsahamnida, Min oppa…” ucap Sangrin dengan termalu-malu. Sungmin mengelus rambut Sangrin pelan. “Kau sangat manis, Rin-ah…”

Sangrin mengetuk pintu dan munculah Hyeobin yang membuka pintu’nya. “Sudah membeli’nya, Sangrin-ah? Gomawo ya~ Taruh saja belanjaan’nya di dapur. Onnie dan Kibum akan jalan-jalan dulu… Ara?”

Sangrin mengangguk. “Ara, onnie~”

Ia pun kembali melihat lagi penampilan onnie’nya. Hyeobin memang sedang memakai gaun biru langit selutut yang sangat indah. Kemudian, saat ia akan menaruh belanjaan’nya di dapur, ia bisa Kibum baru keluar dari kamar. Lengkap dengan pakaian’nya yang elegan tapi santai.

Bummie

Sangrin bisa merasakan hati’nya kembali sakit saat melihat Kibum mendekati Hyeobin dan menggengam tangan’nya untuk keluar dari apartement. “Kita pergi dulu ya, Rin-ah? Annyeong~” kata Hyeobin dengan senyum yang tak pernah luput dari pipi’nya.

Sangrin mengangguk pelan dan tersenyum perih. Sebelum pergi, Kibum menoleh dan memandang Sangrin dengan tatapan ini-hanya-terpaksa dan jangan-marah-padaku.

Setelah mereka pergi, Sangrin langsung terduduk di sofa dan menangis dengan keras. “Kenapa kau menangis, Rin-ah? Apakah karena lelaki tadi? Siapa nama’nya, Kireom eh maksudku Kibum…?”

Sangrin memandang Sungmin yang sudah berada di sebelah’nya. “Kau…belum pulang, oppa?” tanya’nya dengan air mata yang masih bercucuran. Sungmin membelai Sangrin. “Jika aku pulang, siapa yang akan menenangkanmu?”

Begitu mendengar hal itu, Sangrin langsung memeluk Sungmin sembari menangis lebih keras.

***

Sangrin terbangun. Ia bisa melihat Sungmin masih memeluk’nya, dan sekarang sudah dalam keadaan tidur. Ia langsung memindahkan dengan susah payah Sungmin ke kasur’nya dan menyelimuti’nya.

Setelah itu, ia duduk di sebelah kasur. Memandangi Sungmin yang sekarang tidur seperti anak kecil yang polos.

Min Oppa

Ia mengelus rambut Sungmin yang sangat hitam dan lembut. “Kau ada disi…”

Sangrin terkejut saat mendengar seseorang—dengan suara tidak asing bersuara. Ia menoleh dan dapat melihat oppa satu-satu’nya sedang menatap’nya dengan pandangan kaget. “Wae, Kyu oppa?”

“Itu…Sungmin hyung kan? Untuk apa dia tidur di kasurmu, Rin-ah? Kalian…sedang tidak melakukan apa-apa kan?”

Sangrin memukul kepala oppa’nya.

“Sakit tau, Rin-ah~!!!”

“Salah sendiri Kyu oppa bilang begitu! Siapa juga yang lagi melakukan sesuatu…” seru Sangrin kesal. Kyuhyun hanya tertawa sembari mengelus-elus kepala’nya yang masih sakit. “Lagipula kenapa oppa kesini?”

Kyuhyun langsung menepuk kepala’nya sendiri. “Aku hanya menyampaikan, nanti malam kamu jalan-jalan ya bareng oppa dan Siwon? Kan sebentar lagi, oppa dan Siwon mau merayakan kelulusan sekolah. Mau ya?”

Sangrin tersenyum kecil seraya mengangguk. “Tentu saja, oppa…! Kalian berdua adalah oppa tersayangku dari kecil hingga sekarang~”

***

Malam sudah tiba. Sungmin terbangun dan mengerjapkan mata’nya perlahan. Sangrin sudah siap dengan pakaian’nya dan tersenyum saat Sungmin masuk. “Aku tertidur disini ya? Mian, Rin-ah… Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?”

“Jalan-jalan dengan Kyu dan Siwon oppa…”

Sungmin kaget. “Kau…dan Siwon dekat ya?” tanya’nya lesu. Sangrin tersenyum tanpa menyadari ekspresi Sungmin sama sekali. “Tentu saja~ Siwon oppa sudah bersama denganku dari aku berusia 5 tahun… Bisa dibilang, ia adalah pelengkapku dan aku adalah pelengkap’nya.”

Lelaki dihadapan Sangrin merasa sakit seketika. Perkataan Sangrin seakan menusuk ulu hati’nya yang terdalam. “Gwenchana, oppa?? Kok diam begitu sih?”

“Gwen…chana~ Oppa pulang dulu ya? Annyeong, Rin-ah.”

Sangrin hanya mengangguk, masih bingung akibat perubahan sikap Sungmin secara tiba-tiba. Bersamaan dengan pergi’nya Sungmin, munculah Kyuhyun yang sudah siap dengan pakaian’nya pula dan langsung menarik tangan Sangrin. “Kajja~!”

Hyunnie

Bukan’nya ikut, tapi Sangrin malah tertawa terbahak-bahak. “Wae-yo, Rin-ah?” tanya Kyuhyun bingung. “Oppa, kau tidak cocok memakai kacamata hitam itu~!”

Kyuhyun memegang kacamata hitam’nya. “Memang kenapa? Kau merasa terpesona ya dengan ketampananku?? Aku kan sudah punya istri dan lagi, kau kan dongsaengku…”

“OPPA~!!! Siapa yang bilang kalau aku suka oppa…??!!”

Siwon mengampiri mereka dengan secercah senyuman yang dipaksa. “Tuh ya kan, kalian itu tidak pernah berubah dari dulu~ Seperti anjing dan kucing… Sudah, ayo kita jalan~”

Wonnie

Sangrin dan Kyuhyun mengangguk, mengikuti Siwon yang tampak’nya sedang tidak mood seraya masih saling menjulurkan lidah mereka. Mobil berhenti di sebuah restoran. Mereka bertiga pun masuk ke restoran itu.

“Wuah~! Sudah lama sekali tidak ke restoran ini…”

Kyuhyun tersenyum. “Terakhir aku kesini, aku masih kelas 6 SD… Kau juga ikut bersamaku kan, Won?” Siwon mengangguk pelan. Pandangan’nya masih tertuju pada sebuah tempat di ujung restoran. Kenangan masa kecil’nya yang indah kembali terulang.

***

“Kajja, Siwonnie…!” seru Kyuhyun kecil seraya menarik tangan Siwon kecil ke sebuah restoran. Mereka berhenti di sebuah tempat di ujung restoran. “Kenalkan ini Sangrin, dia adalah dongsaeng’ku satu-satu’nya…!!! Cantik kan?”

Pandangan Siwon dan Sangrin kecil pun beradu. Seulas rona muncul di kedua pipi mereka. “Aigoo, ada apa dengan kalian berdua?” tanya Kyuhyun bingung.

Dengan gemetar, Siwon kecil menyodorkan tangan’nya, bermaksud ingin bersalaman. “Annyeong~ Jeoneun Choi Siwon imnida… Usia 6 tahun~”

Sangrin ikut menyalami Siwon. “Annyeong, oppa~ Jeoneun Cho Sangrin imnida… Usia 5 tahun~”

***

Mengingat kejadian itu, Siwon tersenyum kecil. “Oppa~! Wae, oppa? Masih sakit setelah jalan-jalan waktu itu? Kok melamun dan malah tersenyum seperti itu?” tanya Sangrin yang sudah berdiri tepat di depan Siwon sembari menjinjitkan kaki’nya agar sejajar dengan Siwon yang jauh lebih tinggi dari’nya.

Siwon tersadar dan seketika pandangan mereka bertemu, sama seperti kejadian 13 tahun yang lalu. Namun, kali ini dengan jarak yang sangat dekat. Siwon menggumamkan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut’nya. Seakan pita suara’nya sudah kering oleh tatapan Sangrin.

“Ehem~”

Sangrin dan Siwon saling menjauh saat mendengar suara dehaman Kyuhyun. “Kajja, kita makan~! Aku sudah lapar…” lanjut Kyuhyun.

Mereka mengangguk dan akhir’nya duduk di salah satu kursi. Kyuhyun memesan banyak makanan, sehingga mereka bertiga harus menghabiskan’nya dengan sekuat tenaga. Setelah makan—dengan sangat kenyang—mereka mulai bergegas ke butik untuk membeli pakaian kelulusan SMA nanti.

“Selamat da…”

Mereka bertiga terkejut melihat si pemilik suara. “Myorin??!! Kau…disini?” tanya Kyuhyun mulai gugup kembali. “Ne, oppa… Ini kan butik’nya eomma’ku.” jawab Myorin dengan santai. “Butik eomma’mu?” tanya Siwon seraya menaikkan kedua alis’nya. Membuat Myorin terdiam seketika. Ia tak menyadari jika Siwon ikut datang ke butik ini. Jantung’nya mulai berdetak kencang kembali.

“Ne…op…pa.”

Siwon berdecak kagum. “Butik eomma’mu sangat indah dan bagus~!” Myorin merona seketika. “Gomawo, oppa…” jawab’nya malu-malu. “Kyuhyun oppa, Siwon oppa, kata’nya mau memilih baju? Kajja~!” teriak Sangrin bersemangat.

Myorin seketika memandang Sangrin. Hati’nya terasa sakit saat melihat Sangrin dekat sekali dengan Siwon. Mereka dipilihkan baju oleh Sangrin dan langsung berganti pakaian di ruang ganti. Tinggalah Myorin dan Sangrin sendirian. “Kau dekat dengan Siwon oppa, ya?”

Sangrin mengangguk seraya tersenyum, sama sekali tidak menyadari pandangan tajam yang diarahkan Myorin pada’nya. “Siwon oppa sudah kenal denganku dari aku baru berusia 5 tahun. Dia adalah namja pertama yang kukenal selain appa dan Kyuhyun oppa saat itu. Ia sudah kuanggap oppa’ku sendiri. Bahkan bisa dibilang lebih…”

“Ottokhae, Sangrin-ah?”

Sangrin dan Myorin menoleh dan bisa melihat Kyuhyun dan Siwon sudah selesai berganti pakaian. Kyuhyun pada kemeja abu-abu dan Siwon pada kemeja biru. “Kalian sangat tampan, oppa…!” puji Sangrin riang. “Kalau begitu, kami beli yang ini ya, Myorin-ssi…”

“Ne, Siwon oppa.”

Myorin bergegas ke meja kasir dan langsung melakukan transaksi. “Kami…pergi dulu ya, Myorin onnie.” pamit Sangrin dengan senyuman ramah. “Kalian berdua ke mobil duluan saja… Aku mau ke toilet dulu. Boleh memakai kamar mandi, Myorin-ah?”

Myorin mengangguk singkat dan hanya bisa menatap kepergian Siwon dan Sangrin dengan sembunyi-sembunyi. “Disini kamar mandi’nya, oppa…” Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. “Gomawo, Myo-ah…” jawabnya seraya masuk ke kamar mandi.

Tak lama, Kyuhyun keluar dari kamar mandi dan langsung bergegas menemui Myorin di kasir. “Sekali lagi gomawo ya, Myo-ah… Aku pergi dulu~”

Myorin kembali mengangguk singkat. Kyuhyun bergegas membuka pintu, namun pintu tersebut tak bisa terbuka. “Myo-ah…! Kenapa pintu ini tak bisa dibuka?!” teriak Kyuhyun dan Myorin pun langsung mendekat. “Jinca, oppa?!”

Dengan sekuat tenaga, Myorin berusaha membuka pintu itu, namun pintu itu tetap tidak terbuka. “Tadi pintu ini biasa-biasa saja kok…” gumam Myorin sembari memutar-mutar kunci cadangan kepunyaan’nya. “Kurasa pintu ini macet, oppa.”

Kyuhyun terkejut dan mematung. “Terus…bagaimana…dengan kita?” Myorin menelan ludah. “Kita terpaksa harus bermalam disini dan berharap eomma’ku akan membuka pintu’nya besok.” jawab Myorin dengan ekspresi takut. “Coba telepon eomma’mu sekarang dan aku akan menghubungi Siwon dan Sangrin. Mereka kan masih menunggu di mobil…”

“Telepon eomma’ku tidak aktif, oppa…”

“Jinca?! Telepon Siwon dan Sangrin memang aktif, tapi daritadi tidak diangkat. Aishh…!!! Bagaimana ini?” celoteh Kyuhyun sembari bolak-balik. Myorin memandang Kyuhyun seraya tersenyum kecil. Lucu sekali saat ia sedang cemas seperti itu, pikir Myorin.

Sedangkan, di mobil…

Sangrin sedang tertidur di kursi depan, menyenderkan kepala’nya pada bahu Siwon. Siwon juga sudah tertidur. Mereka berdua ketiduran, mungkin karena kelamaan menunggu Kyuhyun. Telepon mereka yang kini sedang menyala bergantian berisi panggilan telepon dari Kyuhyun. Namun kenyataan’nya, mereka mempunyai kebiasaan yang sama. Tidak akan terbangun, walaupun ada seribu badak yang lewat di depan mereka.

###

~T.B.C~

@All : Komen… Komen… ^^

@Hyeo & Myo : Ottokhae?? Ini diselesaikan buru2 gara2 desakan kalian~ *ditabok*