Full of inspiration and story

Mentari bersinar sangat cerah. Membuat seluruh orang di penjuru kota merasakan kegerahan yang tiada tara. Seorang yeoja bertubuh kurus dan jangkung dengan rambut hitam legam, sedang duduk di teras rumahnya yang sangat kecil. Kontras dengan pakaian dan penampilan yeoja itu yang serba lusuh.

Ia termenung. Mata coklat keemasan’nya memancarkan kesedihan. Otaknya dipenuhi oleh rangkaian kejadian yang sama sekali tak menguntungkan’nya.

“Sangrin-ya~!” panggil sebuah suara yang membuat perempuan berusia 18 tahun itu menoleh. “Appa… Kenapa wajah appa kusam seperti itu?”

“Appa…Appa baru dipecat, Sangrin-ya. Ottokhae?”

Pria itu menunduk sedih. Sangrin memeluk appa’nya, mencoba menghibur. “Uhuk… Uhuk… Uhuk…”

Suara batuk membuat Sangrin dan appa’nya terkejut. Sontak mereka langsung masuk ke rumah mereka yang sangat sederhana dan beranjak ke kamar utama.

“OMONA ~!” gumam appa Sangrin saat melihat istrinya sedang terbatuk-batuk parah dan mengeluarkan darah disela-sela batuknya.

Sangrin angkat bicara. “Kajja, kita bawa eomma ke rumah sakit…”

Appa Sangrin mengangguk pasrah dan mereka pun berangkat ke rumah sakit. Eomma Sangrin langsung ditangani dan mereka—Sangrin dan appa’nya menunggu di luar dengan perasaan tak karuan.

Yang mereka pikirkan ganda. Bagaimana keadaan eomma dan bagaimana cara membayar pengobatan’nya. “Keluarga Nyonya Cho?” ucap dokter yang baru keluar dari ruang UGD.

Sangrin dan appa’nya sontak berdiri dan menghampiri dokter itu. “Bagaimana keadaan eomma saya, dokter?” tanya Sangrin dibalas anggukan appa’nya.

Dokter itu menghela nafas. “Nyonya Cho dalam keadaan kritis sekarang. Dan…beliau menderita penyakit gagal ginjal. Beliau harus cuci darah dan mendapat donor ginjal secepatnya…”

Sangrin menutup mulut’nya tak percaya. Ia terduduk lemas. Kakinya tak sanggup lagi menopang seluruh tubuhnya. Air matanya merembes keluar, menghujani wajah mulusnya.

Appa Sangrin memeluk’nya, ikut menangis. Mereka tentu tau bahwa harga cuci darah dan donor ginjal itu tidak sedikit. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa mereka tak lagi punya penghasilan apapun. Untuk makan saja susah, bagaimana untuk membayar pengobatan?

“Ottokhae, Sangrin-ya? Maafkanlah appa. Appa adalah kepala keluarga yang gagal…” Appa Sangrin masih menangis. Sangrin menghapus air mata appa’nya. “Jangan bilang begitu, appa… Ini bukan salah appa.”

“Ije ottokhae?”

Sangrin diam sejenak. “Jammkaman~ Aku tau! Aku pergi dulu ya, appa… Sebentar lagi aku kembali.” kata Sangrin seraya berlari keluar rumah sakit.

Ia terus berlari hingga berhenti di sebuah rumah mewah bergaya Eropa, sangat berbeda dengan rumah’nya yang lebih mirip kandang ayam. Ia menekan bel dan tak lama kemudian, seseorang membuka’nya. “Annyeong haseyo… Eh, Nona Sangrin, ingin mencari Nona Hyeobin? Nona Hyeobin ada di kamar’nya. Silahkan masuk~” sapa pelayan yang sudah mengenal Sangrin dengan baik.

Sangrin mengangguk. “Kamsahamnida…”

Ia kembali berlari menuju kamar yang berpintu merah muda. Ia membuka pintu’nya dan bisa melihat Hyeobin sedang asyik membaca buku. “Hyeobin onnie…”

“Sangrin? Kenapa kau datang dengan tergesa-gesa seperti itu?” tanya Hyeobin, senior Sangrin saat SMA dulu. “Appa’ku dipecat dan eomma’ku sakit gagal ginjal, onnie…” jawab Sangrin sembari memeluk Hyeobin.

“Aigoo, Sangrin-ya… Kasian sekali dirimu~”

“Onnie, bolehkah aku meminta bantuan?” tanya Sangrin dengan nada memohon. “Selama itu tidak diluar kemampuanku, aku akan mengusahakan’nya.”

Sangrin menunduk. “Bisakah bantu aku mencari pekerjaan, onnie?”

“Pekerjaan? Baiklah, aku akan membantumu, Sangrin-ya…” jawab Hyeobin. “Gomawo, onnie~! Kau memang onnie yang paling baik…” ucap Sangrin seraya memeluk Hyeobin.

***

Sangrin menatap langit-langit kamarnya. Semalaman ini ia tak bisa tidur. Pikirannya masih penuh oleh kejadian yang baru saja terjadi. Ia masih berbayang-bayang, jika saja dia masih seperti 1 tahun yang lalu.

Hidup penuh kemewahan dan kebahagiaan. Tidur di kasur empuk dan makan di restoran mewah. Pergi-pulang sekolah dengan naik mobil full AC. Tapi, semuanya langsung berbalik saat perusahaan appa’nya bangkrut.

Sangrin tak bisa melanjutkan sekolah’nya ke jenjang universitas. Appa’nya terpaksa bekerja menjadi kuli bangunan walaupun sekarang sudah dipecat. Dan, eomma’nya menjadi sakit-sakitan ketika mengalami ini.

Sungguh berakhir ironis. Dulu’nya ia bisa menghamburkan uang dimana dan kapan saja sesuka hati, namun sekarang, mereka harus mengais-ngais makanan demi memenuhi isi perut.

Suara dering ponsel Sangrin berbunyi. Ia menoleh dan dapat melihat hari sudah pagi. Ia bangun dan mengambil ponselnya. Ternyata dari Hyeobin. Ia pun mengangkat’nya.

“Yoboseo? Hyeobin onnie…”

“Sangrin-ya~! Aku sudah punya pekerjaan untukmu…”

“Jinca-yo?! Joengmal gomawo onnie…!”

“De, sekarang pergilah ke apartement. Kau akan menjadi pembantu rumah tangga, tidak apa-apa kan? Dia namja-chinguku, kebetulan dia tinggal sendiri di apartement dan sedang butuh pembantu rumah tangga. Tidak apa-apa kan? Aku akan mengirim pesan alamat apatement’nya padamu.”

“De, onnie… Tidak apa-apa. Gomawo, onnie~!”

Tanpa basa-basi, Sangrin langsung mulai bangun dan bersiap-siap. Ia membuka pintu dan mengunci’nya lagi. Ia memang tinggal sendiri karena appa’nya harus menjaga eomma’nya di rumah sakit.

Sangrin berlari menuju alamat yang diberikan Hyeobin. Memang berlari adalah keahliannya. Menurutnya, berlari dapat membuat’nya tenang dan rileks.

Ia berhenti di sebuah gedung dan mengecek ulang alamat itu. Ya, ini memang alamatnya. Ia menekan tombol lift dan memasuki lift itu. Tampak seorang lelaki jangkung yang sedang berdiri di lift itu. Sangrin menunduk kecil seraya menekan tombol lift ke lantai 12. Lelaki itu balas menunduk.

Lift berhenti pada lantai 10 dan lelaki itu pun keluar. “Jammkaman-yo, sapu tanganmu terjatuh…!” seru Sangrin seraya memungut sapu tangan milik lelaki itu. Tapi, lelaki itu tampak’nya tidak mendengar panggilan Sangrin. Sangrin memutuskan untuk menyimpan sapu tangan itu saja dan lift mulai naik keatas. Hingga ke lantai 12.

Ia mendekati ruangan yang sudah diberitahu oleh Hyeobin dan menekan bel’nya. Tak lama, seorang lelaki keluar. “Nugu-ya?” tanya’nya bingung.

“Cho Sangrin imnida~ Aku yang akan menjadi pembantu anda. Annyeong haseyo…” sapa Sangrin sopan seraya tersenyum. Lelaki itu berpikir sejenak. “Ah~ Aku tau…! Kau hoobae’nya Hyeobin kan waktu SMA?”

Sangrin mengangguk. “Masuklah~” kata lelaki itu dengan ramah.

“Ah~ Aku lupa mengenalkan diri… Kim Kibum imnida.” lanjut’nya dibalas senyuman Sangrin. “Mulai sekarang, kau bisa tinggal disini…”

Sangrin terkejut. “Mwo-ya?? Tinggal disini, Kibum-ssi?” tanya’nya dengan ekspresi kaget. Kibum tertawa pelan. Manis. Sangat manis.

Sangrin mengerucutkan mulut’nya. “Kenapa kau tertawa, Kibum-ssi?” tanya’nya dengan mata yang sedikit dipicingkan. Kibum semakin tertawa. Dan tawa’nya entah mengapa berhasil membuat jantung Sangrin berdetak cepat. “Aku hanya suka dengan ekspresimu itu. Lucu sekali~” jawab Kibum seraya berlalu.

Ia berhenti sebentar seraya membisikkan sesuatu di telinga Sangrin. “Dan, jangan panggil aku Kibum-ssi… Panggil saja aku oppa~” ucapnya seraya tersenyum tipis, kemudian pergi kearah kamar.

Sangrin masih terpaku di tempat. Ia menaruh tangan’nya di dada, merasakan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat.

***

Hari ini tepat seminggu Sangrin bekerja pada Kibum. Ia sudah membawa perlengkapan’nya dan tinggal di rumah Kibum. Ia sedang memasak di dapur sekarang, sedangkan Kibum sedang duduk di ruang keluarga dan menonton televisi dengan asyik.

Ting… Ting… Ting…

Suara bel berbunyi. Sangrin melepaskan celemek’nya dan beranjak membuka pintu. “Annyeong~ Hyeobin onnie…!” sapa Sangrin senang saat melihat Hyeobin datang. “Annyeong, Sangrin-ya~!” balas Hyeobin riang seraya memeluk Sangrin. Mereka berdua pun masuk.

“Kibum jagi~! Annyeong…” sapa Hyeobin sembari memeluk Kibum manja. Entah mengapa, hati Sangrin sangat perih saat melihat pemandangan itu. Apakah ia sudah mulai mencintai Kibum? Aniya~! Tidak boleh… Kibum itu milik onnie’nya!!!

Sangrin berusaha tersenyum, walaupun hati’nya merasakan sakit yang luar biasa. “Aku akan membuatkan minum untuk kalian…” ucap Sangrin sembari langsung pergi ke dapur. Setelah menenangkan diri, ia membawa nampan berisi 2 jus jeruk untuk Kibum dan Hyeobin ke ruang keluarga.

“Gomawo, Sangrin-ah… Oh ya, ottokhae? Apakah kau senang bekerja disini? Kibum tidak menggigitmu kan?” tanya Hyeobin seraya tersenyum. “Apa yang kau bicarakan, Hyeobin-ah? Kau pikir aku anjing?!” tanya Kibum kesal. Hyeobin memeluk Kibum dengan hangat. “Aku hanya bercanda, jagi… Jangan marah ya?”

Kibum tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuat jantung Sangrin berdetak cepat. Namun, Kibum tidak tersenyum pada’nya. Melainkan pada Hyeobin. Hati’nya tambah sakit setelah mengetahui ini. “Aku juga hanya bercanda, jagi… Aku tidak akan pernah marah padamu.”

“Saranghaeyo, jagi…” ucap Hyeobin seraya mengecup kening Kibum. “De, na tto saranghaeyo, jagi…” balas Kibum seraya tersenyum lagi.

Sangrin mendengus kesal melihat pemandangan ‘romantis’ antara Hyeobin dan Kibum tersebut. “Wae-yo, Sangrin-ah?” tanya Hyeobin yang tampaknya menyadari dengusan dari Sangrin. Sangrin menggeleng. “Hanya iri dengan kemesraan kalian berdua…”

Hyeobin terkekeh pelan dan menepuk bahu Sangrin. “Maka’nya, segeralah punya namja-chingu. Arasso~?! Hahahahaha…”

Sangrin memaksakan senyumnya. Ia memandang Kibum, tepat saat Kibum memandang’nya hingga pandangan mereka bertemu. Membuat keduanya salah tingkah. “Kalian ini kenapa?” tanya Hyeobin bingung. Mereka berdua sontak menggeleng. “Kalian sangat kompak~! Seharusnya memang kalian jadi oppa-dongsaeng…”

***

Pekerjaan sebagai pembantu yang sudah dialami Sangrin selama 3 bulan sudah dapat meringankan pengobatan eomma’nya. Kebetulan appa’nya juga sudah bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan. Ia sedang membersihkan kaca dengan kemoceng saat Kibum datang menghampiri’nya.

“Sangrin-ah…”

Sangrin menengok dan terkejut saat wajah Kibum tepat berada di hadapannya. Mereka berdua terdiam selama beberapa saat, menikmati semua yang sedang terjadi. “A…da apa, oppa?” tanya Sangrin saat sudah sadar sepenuhnya. “Ikut aku ya?” tanya’nya dengan wajah memohon. Ekspresi yang paling tak bisa Sangrin tolak.

“Ke…mana?”

“Ikut saja dulu~ Ok?”

“Keundae, pekerjaanku masih banyak, oppa…”

“Please, Sangrin-ah~”

Sangrin menghela nafas. Ah, tatapan itu lagi, batin’nya kesal. “De, oppa…”

“Yey~!!! Cepat ganti bajumu… Aku tunggu ya~”

Sangrin mengangguk lalu berjalan ke kamarnya dan berganti pakaian. Pakaian kesayangan dari dulu yang appa’nya belikan dari Italy. Rok pendek putih dengan rompi krem dan sepatu rata bewarna putih. Ia memoleskan lipstick dan memakai bedak tipis agar wajahnya tidak terlihat terlalu kusam. Ia juga melepaskan ikatan rambutnya. Hal yang paling tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Aku sudah siap, Kibum oppa~” ucap Sangrin dan Kibum pun berbalik menatapnya. Tatapan Kibum sangat dalam, hingga membuatnya merona. “Kau sangat cantik, Sangrin-ah…” puji Kibum seraya tersenyum. “Jadi, biasanya tidak?” tanya Sangrin sembari mengerucutkan mulutnya. “Aniya~ Kau selalu cantik. Keundae, kali ini…kau lebih cantik.”

Sangrin tersipu. “Ah, oppa terlalu pandai merayu… Pantas saja Hyeobin onnie bisa terpikat pada oppa~” ucap’nya seraya tersenyum manis. Kibum mendekat kearah’nya. “Berarti kau juga bisa terpikat dong, Sangrinnie?” tanya Kibum hingga membuat Sangrin merona.

“Kajja, katanya kita mau pergi? Kenapa kita malah ada disini?” ajak Sangrin mengalihkan pembicaraan. Kibum mengangguk pelan. Mereka masuk ke mobil dan duduk dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. “Sudah sampai~” gumam Kibum hingga membuat Sangrin menoleh. Sebuah butik? Untuk apa ia dibawa kesini?

“Sekarang, carilah gaun yang menurutmu paling bagus…” ucap Kibum dibalas tatapan penuh tanya dari Sangrin. “Ini…untuk Hyeobin onnie?” tanya’nya pelan. Kibum mengangguk.

“Kata Hyeobin, selera kalian sama, jadi pilihanmu berarti menjadi pilihannya juga.” jelas Kibum santai. Sangrin mengangguk dan menyibukkan dirinya mencari gaun, padahal air matanya sudah memberontak ingin keluar. Ia pikir, Kibum akan membawanya ke suatu tempat, ternyata malah hanya untuk mencari gaun untuk Hyeobin.

“Aku rasa ini cocok…” ucap Sangrin dengan suara sedikit serak. Ia menunjukkan sebuah gaun bewarna biru safir yang tergerai indah. “Pilihanmu sempurna~ Ayo kita bergerak ke tempat lain…!” kata Kibum seraya tersenyum.

Kibum membawa Sangrin ke toko perhiasan. “Sekarang pilihlah cincin yang menurutmu paling bagus…!” kata Kibum seraya tersenyum. Sangrin hanya mengangguk. Padahal dalam hati ia menangis. Jadi, Kibum oppa mau melamar Hyeobin onnie?, batinnya sedih.

Setelah memilih, mereka berdua pergi ke sebuah restoran mewah. “Ini adalah restoran yang akan menjadi saksi kejadian terindahku nanti… Sekarang ganti bajumu dengan gaun yang kau pilih tadi.” pinta Kibum dengan ramah. Sangrin terkejut. “Naega?” tanya’nya seraya menunjuk diri sendiri. “De, kebetulan tubuh kalian tidak terlalu berbeda jauh kan?”

Sangrin mengangguk dan memakainya. Setelah selesai, Sangrin bisa melihat Kibum sedang duduk di sebuah kursi. “Duduklah disini, Sangrin-ah…”

Sangrin kembali mengangguk dan duduk tepat di hadapan Kibum. Ia bisa melihat Kibum membuka kotak cincin yang ia pilih sendiri dan mengambil cincin dari kotak’nya. Kibum bangun dan berlutut, tepat di hadapan Sangrin. “Maukah kau menjadi yeoja-chingu’ku?”

Sangrin terkejut. Awal’nya, hati Sangrin merasakan gejolak kegembiraan yang membuat’nya sangat senang, namun kemudian ia sadar. Sadar bahwa ia tidak boleh ‘mencuri’ kepunyaan onnie tersayang’nya.

“Jadi…apa jawabanmu?”

Sangrin menatap Kibum yang sedang menatap’nya dengan pandangan memohon. Tatapan Kibum sungguh dalam. Kalau saja ini bukan karena onnie’nya, pasti ia sudah menerima Kibum sepenuh hati tanpa perlu memikirkan apapun lagi. Namun, ini berbeda. Sangrin menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Aku…menolak, oppa.”

Kibum membelalakan mata’nya tak percaya. “Keundae…kupikir kau mencintaiku, Sangrin-ah?”

“Memang, oppa… Saranghaeyo~ Joengmal saranghaeyo. Keundae, aku tidak pernah percaya oppa mau selingkuh dengan Hyeobin onnie seperti ini. Oppa kan masih berstatus namja-chingu Hyeobin onnie… Kenapa oppa malah memintaku untuk menjadi yeoja-chingu oppa? Apakah oppa ingin mencoba menduakan kami?”

Kibum menunduk. Ia kembali duduk di kursi’nya. “Bu…kan begitu, Sangrin-ah. Aku hanya jenuh. Jenuh dengan perlakuan Hyeobin yang selalu manja padaku… Aku ingin yeoja yang mandiri, pantang menyerah, dan tidak manja seperti’nya. Aku ingin yeoja sepertimu~!”

“Keundae…Hyeobin onnie sungguh mencintai oppa. Dan, aku menolak permintaan oppa.” ucap Sangrin mantap. “Kalau begitu…aku akan memutuskan hubunganku dengan Hyeobin segera. Maka, kalian tidak kuduakan bukan?”

Sangrin menatap Kibum dengan ekspresi apa-yang-baru-saja-kau-katakan?. “Aku tidak percaya kau akan mengatakan ini, oppa… Aku pikir kau adalah lelaki yang baik dan setia, bukan seperti ini~!” kata Sangrin sedikit berteriak.

“Apa oppa tak sadar seberapa cintanya onnie pada oppa??!! Aku tak percaya oppa sebegini tega’nya pada Hyeobin onnie… Jika oppa memang tak suka dengan tingkah laku Hyeobin onnie, bicaralah baik-baik dengannya…! Katakan sejujurnya apa yang oppa tak suka dari onnie~ Lagipula, aku tau pasti oppa masih sangat mencintai onnie… Oppa hanya menjadikanku sebagai peralihan, dan rasa’nya sungguh sakit, oppa…!!! Kuharap oppa bisa memikirkan ini baik-baik~”

Sangrin bergegas melepaskan gaun itu dan kembali memakai pakaian awalnya. Ia pergi meninggalkan Kibum yang masih terdiam. Kibum hanya menatap sesuatu dengan tak fokus. Pikiran’nya berkecambuk. Ia memikirkan kembali semua perkataan Sangrin yang terus terulang dalam pikiran’nya.

Tak lama, Kibum bangkit. “Kurasa, Sangrin benar~!”

***

Sangrin menyetop taxi dan bergegas naik. Pikirannya kacau. Tapi, ia merasa semua beban’nya terangkat. Anehnya, ia tak merasakan apa-apa sekarang. Apakah itu karena ia benar-benar tidak ingin melukai hati Hyeobin? Ataukah karena…ia tidak sepenuhnya mencintai Kibum? Entahlah~

Taxi berhenti di depan apartement dan Sangrin pun keluar. Ia masuk ke gedung apartement dan menekan lift ke lantai 12, seperti biasa. Disitu ada seorang wanita separuh baya yang menekan lift ke lantai 10, membuat Sangrin merasakan dejavu dengan angka 10 pada lift.

Tak lama, lift berhenti di lantai 10 dan wanita separuh baya itu keluar. Baru saja pintu lift itu ingin tertutup, namun seorang lelaki masuk ke dalam lift itu dalam keadaan sempoyongan. Sangrin memutar otaknya. Nampaknya, pemuda ini pernah ia lihat sebelumnya.

Ia menepuk kepalanya sendiri. Itu kan lelaki di lift saat awal ia mendatangi apartement~! Lelaki ini sangat sempoyongan, hingga akhirnya jatuh. Tepat di depan Sangrin sehingga mereka berdua terjatuh dalam posisi saling berhadapan. Lelaki itu memicingkan mata’nya perlahan.

Ia bangun secepat mungkin setelah tau apa yang baru saja ia lakukan. Ia menunduk, walaupun masih sempoyongan. “Mianhamnida, agashi…”

Sangrin beranjak bangun dan ikut menunduk. “Chonmaneyo~ Keundae, apakah kau habis minum? Kenapa sempoyongan seperti itu?” tanya’nya bingung. Lelaki itu tertawa. Tidak semanis tawa Kibum, namun tawa’nya berhasil membuat hati Sangrin bergejolak hebat. Ia bertanya-tanya, apakah ia akan selalu seperti ini saat melihat lelaki tersenyum?

Tapi, nyata’nya perasaan Sangrin berbeda saat Kibum dan lelaki ini tersenyum. Saat melihat senyuman Kibum, jantung Sangrin berdetak cepat, sedangkan saat melihat senyuman lelaki ini, hati’nya bergejolak hebat.

“Kau benar, agashi~ Aku memang sedang mabuk! Dan ini kare…”

BRUK!

Belum sempat lelaki itu melanjutkan kata-katanya, ia sudah kembali terjatuh, kali ini sudah dalam keadaan tak sadar. Sangrin yang kasihan akhirnya membawa’nya ke kamar apartement milik lelaki itu, yang Sangrin ketahui dengan mencari-cari kunci dalam tas lelaki itu.

Ia masuk dan susah payah, kemudian bergegas menaruh lelaki itu ke kasur’nya. Beruntung, tubuh lelaki yang dibawa’nya lumayan ringan. Sangrin memutuskan untuk duduk sejenak di kamar itu. Walaupun tidak berat, tapi tetap saja lelaki itu membuat Sangrin lelah.

“Mmmmm” seru lelaki itu dengan mata tertutup. Sangrin tersenyum kecil. Pasti lelaki itu sedang mengigau. Ia beranjak dan ingin keluar, namun foto-foto pada sebuah meja membuat’nya mengurungkan niat.

Foto seorang anak-anak dari kecil sekali hingga dewasa. Foto lelaki yang sedang tertidur di sebelah’nya. Sangrin tersenyum saat melihat foto-foto lelaki itu. Namun, ia terkejut saat melihat sebuah foto yang berisi 2 orang lelaki yang sedang tersenyum bersama. Satu lelaki itu ia ketahui pasti sebagai lelaki yang sedang tertidur, tapi lelaki satu’nya?

Bukankah ini foto Kyuhyun oppa?

###

~T.B.C~

P.S : Seperti biasa comment ya~

Hyeobin onnie : Bagaimana FF-ku, onnie?? Kayaknya FF ini bakal aku bagi jadi beberapa chapter jadi gak kepanjangan… Mian klo hasilnya jelek~ >.<

Myorin onnie : Onnie akan ‘muncul’ di FF chapter 2 nanti… Ok? ^^b


Advertisements

Comments on: "Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter One)" (8)

  1. Hyaaaa sangrin-ah, mau balas dendam hah?
    Ngapain deket2 suamiku? *cemberut total*

    Hehe
    Tapi aku suka, chris
    Aku sk kalo ada slingkuh2nya
    Hahahaha *hug chris*
    Gomawo, saeng *popo won*

  2. where is me ?? *tereak gaje XD
    wkwkwkwkwkwk ..
    bagus koq appa seperti biasa 😀
    ^^b aku tunggu lanjutannya loo ..
    jangan lama2 *maksa wkwkwkwkwk XP

  3. Jangan mimpi *langsung bikin sangrin beradegan macem2 d ffku*
    *plakk*
    Chap 2, kutunggu~
    Tapi jangan sentuh2 suamiku lagi *kyu eyes*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: