Full of inspiration and story

Story : ~White Rose~

Dengan langkah pelan, seorang wanita berjalan diiringi putrinya untuk menyebrang jalan. Tangan wanita itu menggandeng lengan putrinya yang halus dengan erat. Mereka berhenti di suatu tempat yang berupa sebuah toko bunga.

“Selamat siang~! Eh, nyonya Kwan… Ingin membeli bunga?” sapa penjual bunga dengan ramah.

Penjual bunga ini adalah seorang remaja perempuan berusia 17 tahun berkuncir satu yang sudah sering bertemu dengan wanita beranak satu tersebut.

“Halo, Heena~ Ya, aku mau membeli bunga. Yang seperti biasa ya…” kata wanita yang kira-kira lebih tua 15 tahun darinya itu. “Baik, nyonya…! Tunggu sebentar ya~” jawab penjual bunga dengan ramah.

“Kita mau beli bunga yang seperti biasa ya?” tanya putri kecil wanita itu. Yang diajak bicara mengangguk sembari menyunggingkan senyuman dan mengelus-elus rambut hitam panjang putrinya.

“Ini pesanan anda, nyonya…” kata perempuan penjual bunga yang datang dengan sebuket bunga pesanan wanita itu. “Terima kasih~ Ini uangnya.” jawab wanita itu seraya memberikan beberapa lembar uang. Mereka berdua–wanita dan putrinya-pun berbalik menyebrang dan kemudian menghampiri mobil sedan putih yang sudah terparkir di dekat situ.

“Kenapa ibu selalu membeli bunga yang sama? Kan masih banyak bunga yang lebih indah dari bunga ini…” tanya putrinya dengan pandangan polos.

“Ini pesanan ayahmu.” jawab wanita itu dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. “Pesanan ayah?” tanya putri kecilnya lagi dengan kebingungan. “Bunga ini adalah bunga kesukaan ayahmu…” jawab wanita itu dengan sabar.

“Bunga kesukaan ayah?”

(Flashback)

Seorang perempuan berseragam sekolah menengah atas dengan rambut hitam panjang, berlari menuju kelasnya.  Seluruh tubuhnya nyaris basah oleh air hujan yang terus berjatuhan tiada hentinya. Ia berhenti ketika melihat seseorang. Seorang lelaki berseragam sama sepertinya yang sedang sibuk menadahkan taman agar bunga-bunga di taman itu tidak kehujanan.

Sang perempuan merasa tertarik dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Ia memutuskan untuk mendekatinya. “Sedang apa kau disana?” tanya perempuan itu bingung. “Apakah tak bisa kau lihat sendiri? Tentu saja aku sedang menadahkan bunga-bunga ini…” jawab lelaki itu dengan acuh tak acuh tanpa memandang orang yang sedang diajak bicara.

“Untuk apa kau menadahkan bunga-bunga ini sedangkan kau sendiri basah kuyup seperti itu?” tanya perempuan itu lagi. “Bagiku bunga-bunga ini lebih penting dariku sendiri… Bunga itu kan adalah mahluk hidup indah yang perlu dijaga seutuhnya.” jawab lelaki itu lagi-lagi dengan acuh tak acuh. Namun, perkataannya dapat membuat hati perempuan ini tergerak.

Ia pun ikut membantu lelaki itu menadahkan bunga-bunga dari hujan yang melanda. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Setelah selesai, mereka berlindung di sebuah café. Sudah tak mungkin bukan untuk masuk ke sekolah dalam keadaan basah kuyup dan telat? Lelaki itu memesankan cappuccino untuk mereka berdua.

“Sepertinya aku tidak pernah melihatmu di sekolah sebelumnya. Apakah kau murid baru?” tanyanya kepada lelaki yang berada di hadapannya dan sedang sibuk menyeruput cappuccino-nya. “Tidak, sudah 2 tahun aku di SMA ini. Aku kelas 2.1 sekarang…” jawab lelaki itu dengan singkat.

“Kelas 2.1? Kau pasti murid yang sangat pintar…! Aku di kelas 2.2. Namaku Kwan Sangrin.” katanya dengan bersahabat. “Han Kyojin…” balas lelaki itu dengan sangat singkat.

“Sebenarnya, kenapa kau bisa sayang sekali dengan bunga??” tanya Sangrin penasaran.

“Bunga adalah hal yang paling ibuku cintai, tentunya selain aku dan ayah… Khususnya bunga mawar putih. Bagi ibuku, bunga adalah mahluk hidup indah yang sangat cantik dan menarik.” jawab Kyojin seraya tersenyum. Matanya tak fokus, seperti sedang mengulang kenangan masa indahnya.

Sangrin tersenyum mendengarnya. “Ibumu pasti adalah pribadi yang lembut dan penyayang…” katanya sembari ikut tersenyum. “Ya, kau benar. Setidaknya dulu…” jawab Kyojin yang membuat Sangrin sedikit memicingkan matanya.

“Dulu?”

“Sekarang, ibuku sudah meninggal. Tepatnya saat aku berusia 8 tahun… Itulah sebabnya aku sangat menyayangi bunga. Karena aku percaya, ibuku juga akan sangat menyayangi bunga jika dia masih hidup. Oh…kenapa aku jadi menceritakan kisah hidupku ya? Maaf…”

“Tidak apa-apa… Ceritakan saja maka hatimu akan tenang. Aku turut berduka cita atas kematian ibumu ya.”

***

Sudah 2 bulan sejak hari itu berlalu. Entah kenapa, mereka berdua menjadi sering bertemu dan walaupun tak pernah bicara lagi, namun tak sadar mereka berdua sering bertemu pandang.

Bel pulang berbunyi dengan nyaring dan semua murid pun melonjak girang. Dengan langkah lemas, Sangrin bergegas pulang. Hari ini, ia terpaksa harus berjalan kaki ke rumahnya karena ayah, ibu, dan para supirnya sedang sibuk. “Sampai jumpa, Sangrin-ya!” seru teman-temannya dibalas lambaian Sangrin. Ia melangkah dengan tak bersemangat ketika tiba-tiba suara motor mengganggunya.

Motor itu berada tepat di kanan Sangrin hingga sempat membuatnya kesal. Pengemudi itu membuka helm-nya dan Sangrin pun kaget.

“Kau?” tunjuknya kepada pengemudi motor itu. Dan dengan cepat pengemudi itu membawa Sangrin ke boncengannya. “Kita mau kemana?” tanya Sangrin dengan sedikit berteriak.

Namun, yang dipanggil tak menjawab. Ia malah menambah kecepatan motornya. Sangrin yang sebal memutuskan untuk menatap jalan. Ia tercengang. Tampaknya jalan ini…familiar?

Sang pengendara motor memberhentikan motornya di suatu tempat. Sangrin membuka mulutnya tak percaya. Bukannya ini rumahnya sendiri?

“Bagaimana bisa kau tau rumahku?” tanyanya langsung kepada sang pengendara motor. Yang ditanya terkejut seketika dan menepuk kepalanya sendiri. Seakan mengatakan jika dia salah langkah.

“A…Aku…Aku” ucap pengendara motor dengan gemetar. “Kyojin, jawab aku~!” seru Sangrin dengan tegas. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa begini. Mungkin karena ia sangat penasaran dengan semua yang terjadi.

“A…Aku sudah lama mengikutimu, Sangrin-ya~” jawab Kyojin, sang pengendara motor itu dengan pandangan tertuju pada Sangrin. “Mengikutiku? Tapi kenapa?”

“Karena aku mencintaimu, Sangrin-ya… Sejak hari dimana kita menadahkan bunga bersama. Aku yakin rasa cintaku tulus padamu. Apakah kau juga mencintaiku?”

Sangrin terdiam. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia…dilamar? Tepat di depan rumahnya? Jujur saja, ia belum pernah dilamar sebelumnya.

Sangrin menatap Kyojin. “Ya… Aku juga mencintaimu.” jawab Sangrin dengan tegas. Padahal ia sendiri bingung. Kenapa ia menjawabnya dengan sangat mudah?

Ia dapat melihat Kyojin membulatkan mata indahnya. Tak lama, Kyojin tersenyum. Senyum yang dapat membuat semua wanita tergila-gila. Ia mendekati Sangrin dan kemudian memeluknya dengan hangat.

“Hyaaa~! Jangan disini, Kyojin-ya… Nanti para tetanggaku tau!” teriak Sangrin terkejut saat Kyojin memeluknya. “Maaf, Rin-ah… Aku terlalu senang.” ucap Kyojin sembari tersenyum sangat sumringah dan melepaskan pelukannya.

“Rin-ah?” tanya Sangrin bingung. “Mulai sekarang aku akan memanggilmu Rin-ah… Itu nama panggilan sayangku padamu.” jawab Kyojin dengan senyuman.

***

Sejak hari paling bahagia itu, mereka berdua menjadi sangat dekat. Kedua orang tua mereka bahkan sudah tau satu sama lainnya. Mereka benar-benar adalah pasangan yang bahagia.

Hari ini adalah tepat tahun kelima mereka menjalin hubungan. Mereka sudah kuliah sekarang. Kebetulan mereka berada di kampus yang sama walaupun mempunyai jurusan yang berbeda. Sangrin pada kedokteran dan Kyojin pada seni musik. Rencananya mereka akan merayakan ulang tahun pacaran mereka di sebuah restoran mewah.

Dengan hati yang amat senang, Kyojin mengendarai mobilnya menuju sebuah toko bunga. Ia membeli sebuket bunga mawar putih dan meneruskan perjalanannya ke restoran. Tak lupa, ia membawa cincin yang sudah ia beli sejak dulu. Ia hampir sampai ketika merasakan sesuatu yang aneh terjadi padanya.

Ia merasakan pusing yang luar biasa. Seperti jalanan yang ada didepannya berputar-putar secara cepat. Ia juga bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Ia menyentuhnya dan dengan sekuat tenaga mengenali cairan merah ini. Darah.

(Di waktu yang bersamaan)

Sangrin memeriksa jam tangan putih yang tersemat indah di lengannya. Sudah berkali-kali ia melakukan ini. Pikirannya kacau. Kemana Kyojin? Bukankah biasanya Kyojin tidak pernah telat? Apalagi disaat penting seperti ini. Ia mengambil handphone-nya dan menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.

“Angkatlah, Kyojin-ya… Angkatlah~!” gumam Sangrin gelisah seraya mengetuk-ketukan telunjuk-nya di meja berulang kali. Namun, tak ada jawaban. Tepat saat ia ingin memasukkan handphone-nya ke dalam tas, suara getaran handphone berbunyi. Ia langsung menatap layar kacanya dan terkejut. Pesan dari Kyojin~!

From : Kyo~Kyo~ ❤

Maaf Rin-ah…
Aku tidak bisa datang hari ini.
Tugas kuliahku menumpuk dan harus dikumpulkan besok pagi.
Maaf sekali ya~
Love u always…!

Sangrin mengerucutkan mulutnya. Ada rasa kecewa dalam hatinya. Apakah tugas kuliah lebih penting dari perayaan ke-5 mereka? Namun, ia berusaha memaklumi dan membalas pesan dari Kyojin.

To : Kyo~ Kyo~ ❤

Tidak apa-apa, Kyo-ya…
And love u always too~

***

Sesuatu telah hilang dari hati Sangrin. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya bahagia. Sesuatu yang selalu berhasil mengisi hatinya. Kyojin. Tepat 3 tahun sejak hari itu, Kyojin hilang bagai ditelan bumi.

Sangrin telah bertanya dimana-mana. Kepada keluarganya, teman-temannya, dan semua orang yang ia kenal. Namun jawaban mereka sama. Tidak tau. Apakah Kyojin sedang menghindarinya? Mengapa semuanya bisa jadi begini? Terakhir mereka bertemu, mereka sangat dekat. Kenapa semua ini bisa terjadi secara tiba-tiba?

Hari ini Sangrin melewati sebuah taman. Taman penuh kenangan mereka. Taman dimana mereka–Sangrin dan Kyojin–menanam bunga mawar putih dengan sangat indah bersama. Tertawa bersama. Bermain bersama. Begitu banyak kenangan yang tercipta disini. Tak sadar, Sangrin mengeluarkan air mata. Hatinya terlalu sakit. Terlalu sakit untuk kehilangan Kyojin lebih lama lagi.

Sangrin menghampiri taman itu dan menyentuh satu bunga mawar putih yang tertanam indah. Air matanya menetes bersamaan dan mengenai bunga mawar putih yang sedang melambai riang.

Ia memetik bunga itu, berharap Kyojin akan datang dan memarahi perbuatan Sangrin, namun lagi-lagi itu hanya dalam bayangannya. Semuanya tampak biasa. Putih dan hitam. Tak ada yang terjadi. Sangrin sudah tak kuat lagi. Ia terduduk di sebelah bunga mawar putih itu. Memeluk lututnya hingga menangis. Apakah harus begini? Apakah semuanya harus begini?

Setelah lelah menangis, Sangrin bergegas pulang. Ia ingin membuka pintu rumahnya sebelum melihat sesuatu tergeletak di depan pintu rumahnya. Surat? Dari siapa? Ia memperhatikan surat itu dengan seksama hingga akhirnya terkejut saat mengetahui siapa pengirimnya. Kyojin?!

For Rin-ah…

Maaf Rin-ah~ Aku menghilang begitu saja dari hidupmu… Tapi tolong, mulai saat ini carilah pengganti diriku, karena aku… Aku tidak cinta padamu lagi. Aku sudah punya orang lain…  Orang lain yang lebih baik darimu… Selamat tinggal, Rin-ah~! Jaga dirimu…

-Han Kyojin-

Sangrin membulatkan matanya tak percaya. Air matanya kembali tumpah ruah. Kyojin…tidak mencintainya lagi? Dan ia…mencintai orang lain? Ia mencubit pelan lengannya, berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi terburuk yang pernah ia alami. Namun, sayangnya tidak. Apakah kisah cintanya harus berakhir seperti ini?

Ia mengambil handphone-nya dan mulai menelepon nomor Kyojin. Namun, nihil. Nomornya tidak aktif. Sangrin terdiam. Air matanya masih terus saja mengalir tanpa henti. Apa yang harus dilakukannya? Menangis sepanjang hidupnya? Atau berhenti mencintai Kyojin? Tidak. Sangrin tidak akan bisa berhenti mencintai Kyojin. Takkan pernah bisa.

***

Sangrin termenung dalam kamarnya. Sudah 2 tahun sejak hari paling buruk itu terjadi. Hatinya masih gelisah. Ada rasa ketidakpercayaan dalam hatinya. Benarkah Kyojin meninggalkannya karena ia mencintai gadis lain?

Bukankah Kyojin yang menyatakan cinta padanya dulu? Setahunya, Kyojin tidak pernah berhenti mencintainya. Karena mereka berdua tau, bahwa perasaan mereka masing-masing sungguh kuat dan takkan pernah hilang. Itu sudah terbukti dari masa pacaran mereka yang tergolong lumayan lama.

Sangrin melirik jamnya. 08.00. Sudah waktunya ia berangkat kerja. Dengan perlahan, ia keluar kamar dan mengambil tas tangannya. Ia keluar dan mengunci pintu rumah.

“Sangrin…! Kwan Sangrin…!!!” seru seseorang yang terdengar di telinga Sangrin. Ia menoleh dan dapat melihat seorang wanita yang mungkin lebih tua darinya beberapa tahun. Wanita itu berlari dan berhenti di depan Sangrin. “Apakah kau Kwan Sangrin?” tanya wanita itu dengan nafas memburu.

“Iya, benar. Tapi, anda siapa ya?” tanya Sangrin bingung. “Aku Han Kyora, kakaknya Han Kyojin…” jawab wanita yang ternyata adalah kakak Kyojin dengan nafas memburu.

Sangrin tercengang. Ia merasakan sesuatu yang aneh masuk ke hatinya saat wanita di hadapannya menyebut nama ‘Kyojin’. Nama yang tabu baginya.

Sangrin bertanya dengan suara serak. “U-untuk apa kakak kemari?”

“Panjang untuk diceritakan sekarang… Lebih baik kau ikut kakak dulu.” Kyora menjawab seraya menarik tangan Sangrin dan memasukkannya ke mobil.

Sangrin menatap Kyora. Kyora sedang sibuk menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sangrin terkesiap. Mata, hidung, dan bentuk bibir Kyora persis seperti Kyojin. Sangrin memalingkan pandangannya kearah jalan. Hatinya akan tambah sakit jika terus menatap Kyora.

Kyora memberhentikan mobilnya dan mereka berdua pun bergerak menuju sebuah gedung. Gedung familiar yang sering dikunjungi Sangrin. Rumah sakit yang adalah partner rumah sakit tempat Sangrin bekerja.

Sangrin mulai berpikiran aneh. Otaknya penuh dengan pikiran gila yang sama sekali tidak mengenakan. “Untuk apa kita ke rumah sakit, kak?” tanya Sangrin penasaran.

“Jangan kaget ya dan tabahkan hatimu…” ucap Kyora sembari menunjuk sebuah jendela transparan.

Sangrin menoleh dan…menutup mulutnya tak percaya. Di hadapannya. Ya, persis dihadapannya. Di balik kaca, sedang terbaring seorang lelaki dengan wajah yang amat pucat pasi dan mata yang tertutup. Tubuhnya dipenuhi oleh jarum dan kabel asing. Tubuhnya amat kurus dan ringkih.

Sangrin menoleh pada Kyora, seakan meminta penjelasan. Air matanya turun dengan deras, tanpa mempedulikan perintah dari otaknya. Kyora memeluk Sangrin. Air matanya juga mengalir.

Kaki Sangrin melemas. Ia terduduk. Kyora masih memeluknya dengan erat. Entah siapa yang menghibur atau yang dihibur. Yang penting mereka berdua menangisi seseorang yang sama. Seseorang yang sangat penting bagi mereka berdua.

“Awalnya, Kyojin tak mau jika aku menceritakan ini padamu, namun aku sudah tak sanggup menyimpannya. Kurasa kau juga harus tau. Kyojin mengalami penyakit AIDS. Ini bawaan dari ibu kami. Karena itulah juga, ibu kami meninggal. Untungnya, aku tidak terkena penyakit sial itu. Tapi ternyata, yang mengalaminya adalah adik satu-satunya yang paling aku sayang, Kyojin… Ibu kami sendiri, terkena penyakit ini karena ketidak sengajaan. Waktu itu ibu kecelakaan dan ia kekurangan banyak darah. Syukur, ada persediaan darah di rumah sakit. Namun, ternyata darah itu mengandung penyakit sial. Penyakit yang sudah merenggut kebahagiaan keluarga kami sejak lama. Mulai dari kematian ibu, ayah, dan sekarang…sekarang Kyojin harus tersiksa karena penyakit sial ini.”

Sangrin termenung mendengar penjelasan Kyora. Nafasnya sesak saat mendengar perkataan kakak orang yang sangat dicintainya itu. “Bolehkah aku bertemu dengan Kyojin?”

Kyora mengangguk kecil. Sangrin dipakaikan masker, baju rumah sakit, sarung tangan, dan semua alat-alat aneh yang diperlukan sebelum masuk ke kamar Kyojin. Rasanya sakit. Sangat sakit. Bayangkan, apakah tidak sakit hanya untuk bertemu orang yang kau sayangi saja, kau harus memakai peralatan seperti ini?

Sangrin menatap dalam lelaki yang ada di hadapannya. Sedang tergeletak tak berdaya dengan selang-selang yang menancap pada seluruh tubuhnya. Sangrin mulai meneteskan air mata lagi. Tak terhitung beberapa banyak ia telah mengeluarkan air mata.

Ia mengelus pelan rambut Kyojin. “Kyo-ya… Apa kabarmu? Tak terasa sudah 5 tahun kita tak bertemu. Kau tau, sekarang aku sudah menjadi dokter yang sukses, seperti impianku sejak SMA dulu… Katanya kau mau jadi composer yang terkenal, apakah cita-citamu sudah terwujud? Kurasa belum, tapi saat kau sudah sembuh nanti, aku akan membantu meraih cita-citamu…”

Kyojin membuka matanya perlahan. Sangat perlahan, seakan sangat susah hanya untuk membuka mata. “Rin-ah…” ucapnya dengan sangat pelan. Namun, hati Sangrin merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar Kyojin mengucapkan nama panggilannya.

“Ke…ke…na…pa kau a…da di…si…ni…?” tanya Kyojin dengan sangat susah payah. Sangrin langsung memeluk tubuh kurus Kyojin. Bahkan untuk memeluk Kyojin saja susah akibat kabel-kabel yang masih tertancap dan beredaran di sekitar tubuh Kyojin. “Bodoh…! Bodoh…! Bodoh…! Kau sangat bodoh, Kyo-ya…!!!” seru Sangrin disela-sela tangisannya sembari memukul-mukul tubuh Kyojin.

“A…pa…kah kau kesi…ni hanya un…tuk menyik…saku?” tanya Kyojin seraya cemberut. Ekspresi yang selalu berhasil membuat Sangrin tertawa. Kyojin masih sama dimata Sangrin. Manis dan tampan. Tak ada yang berkurang dari dirinya.

“Aku mencintaimu, Kyo-ya… Sangat~”

“A…ku juga, Rin-ah~”

***

Sudah 3 bulan sejak hari itu berlalu. Sangrin selalu datang setiap hari untuk menemui Kyojin selesai tugasnya di rumah sakit. Walaupun tubuhnya pegal, namun ia tak pernah absen untuk mendatangi Kyojin.

Kyojin mengalami banyak kemajuan pesat sejak hari itu. Dan ini semua berkat Sangrin. Karena selalu ada yang berhasil membuatnya minum obat, makan, atau optimis dengan hidupnya.

Dengan tubuh yang sudah sangat lelah, Sangrin datang seperti biasa untuk menjenguk Kyojin pagi ini. Kebetulan ini hari libur, jadi Sangrin bisa datang dari pagi.

“Halo, Kyo-ya…!” sapa Sangrin dengan senyuman seperti biasa. “Halo, Rin-ah…! Kau tau ini hari apa?” tanya Kyojin dengan ceria. “Hari apa ya? Tidak tau…” jawab Sangrin bingung. “Yahh, masa kau lupa, Rin-ah?”

“Tunggu~! Ini bukannya tahun ke-10 kita menjalin hubungan?!” tebak Sangrin dibalas anggukan riang dari Kyojin. “Aku sudah mempunyai hadiah untukmu…” ucap Kyojin.

“Benarkah? Apa itu?”

Kyojin beranjak bangun dari kasurnya dan mencopot semua kabel-kabel yang tertancap pada tubuhnya dengan hati-hati. Sangrin terkejut. “Mau apa kamu, Kyo-ya?! Hentikan itu…!” teriak Sangrin kaget.

Kyojin tersenyum manis. “Tenang saja. Aku sudah minta persetujuan dokter tadi. Dan karena perkembanganku makin baik, aku dibolehkan untuk pergi satu hari ini… Ayo kita berangkat~!”

Sangrin mengangguk. Mereka berdua pun bergegas pergi. “Apakah tidak apa-apa jika kau yang menyetir, Kyo-ya?” tanya Sangrin cemas. “Tidak apa-apa, Rin-ah… Percayalah padaku. Ada kejutan spesial untukmu.”

Kyojin membawa Sangrin menuju salon dan setelah siap, Kyojin kembali mengendarai mobilnya. “Kita mau kemana sih, Kyo-ya?” tanya Sangrin penasaran.

“Nanti juga kau akan tau…” ucap Kyojin seraya tersenyum. Kyojin memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang tak Sangrin ketahui. Kyojin mengajak Sangrin masuk ke gedung itu hingga ke sebuah ruangan gelap.

“Duduklah disini…” pinta Kyojin dengan lembut. Sangrin mengangguk kecil dan Kyojin pun hilang karena gelapnya ruangan besar itu dari pandangan Sangrin.

“Lagu ini kupersembahkan untuk jodohku, sayangku, cintaku, hidupku, dan segalanya bagiku… Happy anniversary, Rin-ah~” kata Kyojin seraya mulai melantunkan tuts-tuts pada pianonya.

Sangrin terharu. Lagu yang dimainkan membuatnya tambah mencintai lelaki ini. Kyojin. Pasangan hidupnya. Kekasih hatinya. Orang yang bersinggah dalam hatinya sejak lama.  Dan, hatinya semakin tak rela untuk membayangkan orang yang amat sangat dicintainya ini harus pergi suatu saat nanti. Pergi ke suatu tempat yang tidak akan bisa digapai.

***

Sangrin memandang langit hitam berisi ratusan bintang yang sangat indah. Ia menoleh ke samping. Bisa ia lihat Kyojin sedang memandangi bintang pula di sebelahnya. Tak lama, Kyojin menyenderkan kepalanya ke bahu Sangrin.

Sangrin mengelus rambut Kyojin, kebiasaan yang selalu ia lakukan. “Indah ya?” tanya Sangrin.

Sangrin menatap Kyojin. Matanya memancarkan sinar bintang itu. Sangat indah. “Apakah kau kedinginan?” tanya Sangrin lagi.

“Selama ada kau disampingku, aku tidak akan pernah merasa kedinginan, Rin-ah…” jawabnya hingga membuat Sangrin tersipu. “Dasar gombal~!”

“Tapi itu memang benar…” lanjut Kyojin disertai tawa mereka berdua. “Kau tau, apa hal yang paling indah di dunia ini?” tanya Kyojin dengan nada serius.

“Apa?”

“Saat bertemu denganmu…”

Sangrin memukul lengan Kyojin pelan. “Kau memang lelaki gombal~!”

“Berjanjilah untuk mencari penggantiku nanti… Tapi, jangan melebihi ketampananku ya?”

Sangrin langsung memandang Kyojin. “Apa maksudmu, Kyo-ya? Aku tidak akan mencari penggantimu karena kita akan terus bersama!” seru Sangrin dengan sedikit keras.

Kyojin tersenyum. “Jangan membohongi hatimu, Rin-ah… Kumohon jangan membohongi hatimu. Aku percaya kau mempunyai jodohmu sendiri, dan orang itu bukan aku… Mungkin kita saling mencintai, namun takdir tak akan memihak kita.”

***

Sangrin menatap foto berpigura blue sapphire yang terletak di meja kerjanya. Foto berisi dirinya sendiri dengan V sign dan senyum ceria serta satu lelaki dengan postur jangkung dan senyum berlesung pipinya yang sangat manis. Ia dan Kyojin.

Pandangannya beralih ke sebuah paket. Paket yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Paket terakhir dari Kyojin. Ia membuka paket itu perlahan. Hatinya masih sangat sakit, bahkan hanya untuk membuka paket saja.

Ia melihat isi paket itu. Hanya sebuah recorder bewarna hitam. Sangrin mengambil recorder itu dan menekan tombol play.

‘Halo, Rin-ah… Apa kabar? Baik-baik sajakah? Ya, jika kau sudah mendengar suaraku, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kau tau, Rin-ah? Hatiku sangat sakit saat melihat kertas tes yang menunjukkan bahwa aku menderita penyakit mematikan ini. Bukan karena takut mati, tapi karena takut kehilanganmu. Kehilangan mawar putihku… Aku akan menyanyikan lagu buatanku yang khusus untukmu. Judulnya “White Rose”. Semoga kamu menyukainya…’

Don’t know why or when, i started love you…

This feeling really make me so happy…

Every time i see you, my heart beat faster…

Are you my White Rose?

My heart is so happy when know that you also love me…

I’m promise myself to make you smile forever…

But, it’s very hard to know that i can’t make it anymore…

I’m still wonder, are you really my White Rose?

We always love each other, even for ten years…

My love will never gone even every second of my life…

I’m just love you and i love you till my heart is stop breathing…

Now, i’m sure…

I’m sure that you’re my White Rose…

Air hujan turun dengan derasnya. Persis seperti apa yang sedang terjadi pada Sangrin saat ini. “Sangrin-ya…!”

Sangrin membuka pintu kamarnya dan dapat melihat ibunya sedang asyik berbicara kepada seorang lelaki yang sosoknya tidak terlalu jelas. “Sini Sangrin-ya… Ibu mau kenalkan seseorang untukmu. Namanya Kim Kyojae.”

Sangrin menatap lelaki itu dan lelaki itu pun balas menatap Sangrin. Ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas sekarang.

Sangrin menutup mulutnya tak percaya. “Kyojin…?! Kenapa kau mirip sekali dengan Kyojin?”

(Flashback End)

“Lelaki yang bernama Kyojae adalah ayah kamu sekarang. Ia meminta ibu untuk memberikan bunga mawar putih setiap tahun disaat hari jadian ibu dan paman Kyojin…” jelas Sangrin pada anaknya.

“Wah… Ayah sangat baik~!” ucap anaknya takjub. “Sudah sampai di kuburan tempat paman Kyojin dikuburkan… Ayo kita pergi!”

END

Happy reading and comment please~~~ ^^


Advertisements

Comments on: "Story : ~White Rose~" (6)

  1. Annyeong
    aku kembali baca ffmu stelah skian lama/plakk
    sperti biasa ffmu keren2
    hehehe

  2. walopun dah koment via sms tapi gak afdol XD
    appa~ ff.a sedih hadeuh2 ..
    Pengen deh jadi sangrin,, hyahahaha *digetok appa,, lanjut appa bkin ff lagi,, eh kali2 comedy donk appa .. #plak,, komen gaje ==*

  3. Ini perasaan aku aja apa gimana seh??
    Perasaan hari ini baca ff yang bikin aer mata ku surut aja neh…. Huhuhuhuhu

    Bneran terharu ingin mewek terus… HuhuhuhuhuT_T

    Keren, Chris…^^
    Onn suka…. Hohohohoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: