Full of inspiration and story

Suara kicauan burung membuatku terbangun. Dengan mata yang masih tertutup, aku bangun dan mulai duduk. Suasana musim panas seperti saat ini, selalu membuatku malas untuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba, nada dering handphoneku berbunyi. Aku mendengus kesal dan langsung membuka flip hp-ku.

“Halo…” kataku dengan suara malas-malasan. “Halo…!! Sampai kapan kau mau tidur, nona manis…?” kata suara menggoda yang aku kenal. “Ternyata yang menelepon pacar-ku tersayang… Ada apa, sayang?” tanyaku dengan bersemangat. “Aku merindukanmu…” katanya dengan manja. “Aku juga sangat merindukanmu…” balasku. “Sayang, kita ketemuan yuk… Udah dua bulan nih gak ketemu…” katanya dengan serius. “Boleh… Tapi, dimana?” tanyaku. “Di tempat biasa aja…! Jam dua siang ya. Sampai ketemu, sayang…” katanya sambil menutup telepon. “Sampai ketemu!” jawabku.

Aku pun yang tadinya malas-malasan menjadi bersemangat. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Setelah itu, aku bergegas ke universitasku dengan menggunakan bis. Beberapa jam kemudian, akhirnya pelajaranku selesai. Aku langsung berlari ke tempat biasaku untuk bertemu namjachinguku tersayang.

Oh ya, namaku Lee Sangrin. Aku adalah seorang perempuan asli Korea yang berambut coklat panjang, bermata coklat, dan bertubuh jangkung. Sudah selama hampir satu tahun, aku berpacaran dengannya dan selama dua bulan ini kita tidak bertemu. Hal ini terjadi karena aku yang sedang sangat sibuk dengan jadwal kuliahku yang padat, dan dia yang juga sudah mulai magang sesuai jurusannya. ‘Tempat biasa’ ini sebenarnya adalah sebuah taman dimana kita pertama kali kenalan.

***

(Flashback)

Aku berjalan menuju sebuah taman sekarang. Yah, ini adalah taman yang aku suka. Selain pemandangannya bagus, aku juga dapat menenangkan pikiranku disini. Taman ini berada di seberang jalan raya yang letaknya strategis. Setelah sampai, aku duduk di sebuah bangku. Aku mengambil i-pod dari tasku dan mulai mendendangkan lagu-lagu yang dilantunkan i-podku. Tiba-tiba, aku melihat seorang laki-laki sedang berlari-lari dari taman ke jalan raya dan kemudian ingin menyebrang.

Aku melihat sebuah file terjatuh dari tasnya. Tanpa pikir panjang, aku pun memungutnya dan berlari mengejar lelaki itu. “Tuan…! Tuan…! File anda ketinggalan…!!!” teriakku sembari mengejarnya. Aku berlari hingga di pinggir jalan raya. Lelaki itu sudah menyebrang saat mengetahui filenya terjatuh. Ia pun kembali menyebrang dan berlari kearahku.
“Terima kasih… Untung kau memanggilku. File ini sangat penting bagiku…” katanya dengan nafas yang terengah-engah seraya menunduk sopan. Aku pun ikut menunduk. “Sama-sama…” jawabku sambil tersenyum. “Aku pergi dulu ya…! Aku lagi buru-buru. Sampai jumpa…!” katanya sambil ikut memamerkan senyumannya. Kemudian, ia pergi.

Setelah itu, setiap hari kita selalu bertemu di taman tersebut. Awalnya aku hanya menganggapnya sebatas teman. Tapi, lama-lama perasaanku berkata lain. Aku sudah mulai menyukainya. Matanya, hidungnya, bibirnya, wajahnya, gerak-geriknya, bahkan semua sifat jeleknya membuatku terpesona. Dan ternyata perasaannya sama denganku. Di tahun kedua pertemuan kita, ia menembakku. Hatiku sangat senang saat itu. Rasanya seperti ada malaikat yang membawaku terbang mengarungi dunia.

(End of Flashback)

***

Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya ia datang. Setelah dua bulan tak bertemu, ia tetap terlihat tampan. Aku melihatnya sedang menunggu lampu lalu lintas menjadi merah agar dapat menyebrang. Sekilas matanya menatapku dan melambaikan tangannya kearahku seraya tersenyum. Manis. Kata itulah yang dapat kugambarkan dari senyumannya.

Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berubah merah. Ia pun mulai menyebrang. Tapi, sebuah mobil yang nampaknya tidak menyadari lampu merah, tetap melaju. Dan, mobil itu menubruknya hingga terplanting cukup jauh. Aku
memekik keras. ‘Kenapa ini bisa terjadi? Oh Tuhan, katakan padaku ini hanya ilusinasi belaka…’ batinku dalam hati.

Beberapa orang mulai mengerubunginya. Aku berjalan dengan langkah yang berat menuju kerumunan orang itu. Begitu aku melihat ia tergeletak tak berdaya, aku terduduk. Lututku lemas. Kurasakan air mataku mulai membasahi wajahku. Wajahnya yang memesona, menjadi kaku. Cairan merah membasahi seluruh tubuhnya. Hatiku menjadi sangat sakit. Mungkin rasanya seperti dirajam jutaan pisau yang mengiris-ngiris hatiku.

Perlahan-lahan, dengan tangan yang masih gemetaran, aku menyentuh wajahnya. Senyumanya yang hangat telah sirna dari wajahnya yang mendingin. Aku menutup mataku. Berharap setelah aku membukanya, ia tersenyum riang seperti dahulu. Tapi, itu tidak terjadi. Ia tetap tergeletak tak bergerak.

Aku mulai memberanikan diriku untuk memeluknya. Tangisanku lebih menjadi-jadi. Kulihat puluhan pasang mata memandangiku. Tapi, aku tidak peduli. Aku mulai meneriakan namanya. Aku tau ini percuma, karena sekeras apapun aku berteriak, bahkan hingga pita suaraku tidak berfungsi lagi, ia takkan bangun. Ia akan tetap diam tak berdaya. Tiba-tiba,  kurasakan sesuatu menarikku. Perlahan-lahan, pandanganku kabur.

***

Aku membuka mata. Seulas sinar membuat pandanganku silau. Aku melihat kamar tidurku. Jadi, ini hanya mimpi? Ini benar-benar mimpi yang sangat buruk. Tiba-tiba, nada dering handphoneku berbunyi. Aku sempat kaget. Tapi akhirnya aku mengangkatnya.

“Halo…” sapaku. “Halo…!! Sampai kapan kau mau tidur, nona manis…?” kata sebuah suara yang sangat kukenal. “Ternyata yang menelepon pacar-ku tersayang… Ada apa, sayang?”
tanyaku dengan bingung. “Aku merindukanmu…” katanya dengan manja.

“Aku juga merindukanmu…” balasku tambah merasa aneh. “Sayang, kita ketemuan yuk… Udah dua bulan nih gak ketemu…” katanya dengan serius. “Boleh… Tapi, dimana?” tanyaku. “Di tempat biasa aja…! Jam dua siang ya. Sampai ketemu…” katanya sambil menutup telepon. “Sampai ketemu!” jawabku.

Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, aku mulai bangun dan pergi mandi. Setelah itu, aku berangkat ke universitasku dengan menggunakan bis. Setelah pelajaran selesai, aku berlari ke taman.

Rasanya seperti dèjavu bagiku. Aku pun menunggunya dengan perasaan tidak tenang. Tak lama kemudian, aku melihatnya datang. Sekilas aku melihatnya tersenyum dan melambaikan tangannya. Sekarang perasaanku lebih tidak enak. Lalu lintas sekarang berubah merah. Sebelum ia menyebrang, aku berlari kearahnya dan menyebrang. Aku benar-benar tidak ingin semua mimpi burukku terulang.

Setelah sampai kearahnya, aku bernafas lega. Setidaknya, aku telah menghindari bahaya yang ingin menimpanya. Ia pun tersenyum senang.  “Sayang, kenapa kamu yang menyebrang kemari? Kita kan mau ke taman di seberang sana.” tanyanya bingung.

“Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya bosan kesana. Ayo ke tempat lain.” ajakku sambil berusaha tersenyum. “Yasudah… Kita ke toko es krim dekat sini aja ya? Es krimnya sangat enak lho.” katanya sambil menggandeng tanganku. Begitu sampai ke toko itu, kita membeli es krim dan memakannya seraya duduk di sebuah bangku.

Aku yang sudah tidak tahan langsung memeluknya. “Ada apa, sayang?” tanyanya bingung. “Aku… Aku benar-benar takut kalau kamu kenapa-napa…Aku mencintaimu…. Sangat mencintaimu…” kataku lirih sambil mulai menangis. Setelah tenang, aku menceritakan semua mimpiku. Ia pun tersenyum. “Tenang my lovely Sangrin… Aku tidak akan meninggalkanmu…” katanya sambil memelukku hangat.

Setelah selesai, kita memutuskan pergi ke tempat lain. Tapi, seseorang memanggil kita. “Tunggu…!!! Kamu melupakan kembaliannya…!” teriak seseorang yang ternyata adalah tukang es krim. Ia pun menepuk jidatnya sendiri dan menciumku riang. “Sebentar ya, sayang… Aishhh… Aku memang benar-benar pelupa.” katanya lalu berlari menuju tukang itu. Aku memanggil namanya dengan keras. Tapi, ia sudah berlari. Dan…

BRUKKK….!!!!

Sebuah truk melaju dengan cepat dan membuatnya terplanting keras. Aku benar-benar histeris sekarang.  Aku mendatanginya dan duduk di sampingnya. Rasanya, air mataku telah habis karena mimpi itu. Sakitku masih sama seperti yang kualami di mimpi. Ternyata, takdir memang benar-benar sulit diubah.

Meskipun, aku telah berusaha sebisaku, tetap saja ini terjadi. Selamat tinggal, namjachinguku tersayang. Semoga kau bahagia di alam sana. Tunggulah sebentar lagi. Jika tiba waktunya, aku akan menyusulmu.

Advertisements

Comments on: "Story : ~Bad Dream Comes True~" (8)

  1. kimhyeobin said:

    Ini buatan chris?

  2. Saeng aku merinding >,<
    Hiii bca.a malemp2 pula ..
    Eh chris pu.a fb ato twitter ??
    Blang ia mw onn add n' follow ..

  3. VerssHaenii said:

    wah.. wah.. bgus.. tpi happy end donx.. sad end kasian thu cwe ny.. ngo” sang rin ith kn u.. ckcck.. hati”..!!

  4. Hadeuh~~~~~~~
    Gila bener dah endingnya… *bergidik ngeri*

    Good job,,,, Suka ama jalan crtanya… Walaupun ending nya di luar dugaan… Hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: