Full of inspiration and story

Archive for October, 2010

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter Two)

Sangrin mengambil foto berisi 2 lelaki yang sedang tersenyum bersama tersebut dan memerhatikan’nya dengan seksama. Tak salah lagi, ini foto lelaki itu dan Kyuhyun oppa~!

Sangrin menutup mulut’nya dengan tangan. Apakah lelaki yang sedang tertidur itu…? Dengan gegabah, ia mencari-cari dompet lelaki itu dan memeriksa indentitas’nya. Tidak salah lagi, ini sahabat Kyuhyun oppa~!

Sangrin bergegas melangkah ke kasur dan membangunkan lelaki itu. “Oppa~ Bangun …!!!” teriak’nya dengan buru-buru. “Emmm??” gumam lelaki itu dengan kesadaran yang belum sepenuh’nya.

“Apa oppa kenal dengan Kyuhyun??”

Lelaki muda itu membuka mata’nya dengan tiba-tiba saat Sangrin menyebutkan nama ‘Kyuhyun’. “Kyuhyun??” tanya lelaki itu balik. Sangrin mengangguk cepat. “Ne, Cho Kyuhyun…! Oppa kenal Kyuhyun??”

“Ne, aku kenal dia~ Memang kau juga kenal Kyuhyun?” Sangrin mengangguk dengan antusias. “Aku dongsaeng’nya Kyuhyun oppa satu-satu’nya…”

Lelaki itu membelalakan mata’nya tak percaya. “Jadi…kau…Cho Sangrin?” tanya’nya dengan mata dipicingkan. Sangrin kembali mengangguk riang. Lelaki itu tersenyum dan memeluk Sangrin dengan erat. Sangrin sedikit terkejut, namun ia bisa mengendalikan keterkejutan’nya segera dan balas memeluk lelaki itu.

“Kau kah Siwon oppa? Sahabat Kyuhyun oppa?? Dan sahabat masa kecilku?” Lelaki itu mengangguk riang dan mempererat pelukan’nya. “Bogoshipoyo, Sangrinnie~”

Sangrin tersenyum ceria. “Ne, na tto bogoshipoyo, oppa~!”

“Oh ya, selama aku pergi ke Italy, bagaimana kabar Kyuhyunnie?” tanya Siwon dengan pandangan yang masih terus terarah pada sahabat masa kecil’nya dulu. Sangrin mengerucutkan bibir’nya. “Sekarang Kyuhyun oppa sudah menikah dengan teman’nya yang ia kenal dari kampus… Nama’nya Kwan Jinra.”

Siwon terkejut. “Sudah menikah?! Cepat sekali…!”

Sangrin mengangguk mengiyakan. “Memang… Tapi, itu keputusan oppa sendiri~ Jadi, mau bagaimana lagi.” ucap’nya dengan pelan. “Oh ya, kok kamu bisa ada di kamarku?” tanya Siwon dengan santai hingga membuat Sangrin termangu.

***

Sangrin memasuki ruangan apartement dan membuka’nya pelan. Bisa terlihat Kibum sedang asyik bercanda dengan Hyeobin. Jujur, hati’nya masih sakit saat melihat itu. Bagaimana pun, Kibum adalah cinta pertama Sangrin. Dan, walaupun Sangrin menolak Kibum, namun ia tak bisa membohongi hati’nya sendiri. Membohongi hatinya, bahwa di dasar hatinya yang terdalam, ia masih sangat sangat mencintai Kim Kibum.

“Sudah pulang, Rin-ah? Kata Kibum, kamu pergi untuk menjenguk Eomma’mu… Ahjumma, otokhae?” tanya Hyeobin seraya tersenyum manis. Sangrin sedikit terkejut, namun ia langsung mengerti dan mengangguk pelan. “Eomma sudah lumayan baik, onnie~”

“Onnie mau ke kamar mandi dulu ya…” ucap Hyeobin dibalas anggukan Sangrin dan Kibum. Setelah Hyeobin beranjak ke kamar mandi, keadaan menjadi kaku. Sangrin memutuskan untuk memulai percakapan. “Gomawo, oppa…”

Kibum sedikit bingung dan memicingkan jidat’nya. Manis sekali. “Kenapa kau berterima kasih?” tanya Kibum aneh. Sangrin tersenyum. “Karena oppa sudah membantuku mencari alasan kepada Hyeobin onnie… Tadi aku sempat bingung ingin mengatakan apa kepada onnie~”

Bummie

 

 

 

 

 

Kibum tertawa kecil dan mengacak-ngacak rambut Sangrin. “Kau tau, Rin-ah? Kau sangat polos, lucu dan menarik… Itulah alasannya, aku bisa menyukaimu~ Dan, jika sekarang kau belum mau menerimaku, aku akan menunggu…” bisik Kibum tepat di telinga Sangrin dan langsung bergegas pergi.

Sangrin terdiam. Ia menundukkan wajah’nya dalam-dalam. Ia langsung bergegas keluar apartement. Hyeobin yang baru datang menyadari’nya. “Mau kemana, Sangrin-ya?” tanya’nya kebingungan. Sangrin menjawab dengan sangat pelan. “Mau jalan-jalan sebentar, onnie…”

Dengan langkah cepat, ia berjalan tanpa arah. Ia berhenti di lantai paling atas apartement berupa tempat terbuka tanpa atap yang sangat sepi. Ia berdiri di tepi apartement itu, sehingga bisa melihat dengan jelas cahaya jalan yang ada di bawah’nya.

Disitu, ia menangis dengan keras. Semua perasaan yang ditahan’nya memberontak keluar. Perkataan Kibum membuat hati’nya makin sakit. Di lain hati, ia sangat ingin menerima Kibum. Dengan senang hati, malah. Tapi di hati yang lain, ia tak mau melukai Hyeobin. Onnie yang sudah sangat banyak membantu’nya.

“Sedang menangis?” tanya seseorang. Sangrin berbalik dan dapat melihat seorang lelaki dengan baju berkerah merah muda dengan garis putih santai sedang tersenyum manis kearah’nya. “Bukan urusanmu~!”

Minnie

Alih-alih pergi, lelaki itu malah tersenyum manis dan berdiri di sebelah Sangrin. “Pasti kau menangis karena pria kan? Sudahlah, hapus air matamu itu… Masih banyak pria di luar sana~!” ucap lelaki itu seraya kembali tersenyum.

Sangrin merasa risih, namun ia sadar perkataan lelaki misterius di sebelah’nya ini ada benar’nya. “Tapi, aku…aku sudah terlanjur sangat mencintai’nya…” kata Sangrin seraya menunduk pelan. Lelaki itu tersenyum lagi. “Maka cobalah lupakan dia dan lupakan cintamu itu…”

“Cara’nya?”

Lelaki itu memandang langit lepas. “Rentangkanlah tanganmu dan teriakanlah nama pria itu sekeras mungkin, maka kau akan merasa lega…” ucap’nya seraya mempraktekan semua yang ia katakan. Sangrin mengangguk paham dan merentangkan tangan’nya.

“KIM KIBUMMMM~~~!!! AKU AKAN MELUPAKANMU…! PERGILAH KAU DAN JUGA CINTAMU~!” teriak Sangrin sekeras mungkin.

Lelaki itu tersenyum ceria. “Ottokhae? Sudah lebih lega??” Sangrin mengangguk dan ikut tersenyum. “Gomawo…”

“Tidak ada kata ‘gomawo’~! Kau harus memberiku imbalan…!” ucap lelaki itu dengan pandangan serius.

“Ne??!!”

“Mudah kok… Imbalan yang harus kau berikan adalah berkenalan denganku. Mau kan?? Kenalkan, Sungmin imnida~” ucap lelaki itu dengan ramah. Sangrin tersenyum lega. “Tentu… Kau membuatku takut, oppa~ Kenalkan, Sangrin imnida…”

Sungmin terkekeh pelan. “Kau itu lucu sekali, Sangrin-ah…”

“Aku mau kembali dulu ya, Min oppa… Annyeong hi-gyeseyo~!” kata Sangrin sembari melambaikan tangan’nya. “Ne, annyeong…”

Sangrin tersenyum ceria seketika. Ia merasa jauh lebih lega sekarang. Pintu ia buka dan ia langsung bergegas ke kamar’nya. “Darimana kamu, Sangrin-ah? Kenapa senyum-senyum seperti itu??” tanya Hyeobin meledek.

Sangrin tetap tersenyum. “Ah, onnie… Memang salah kalau aku senyum seperti ini?”

“Ani, keundae kamu jadi aneh~ Katakan padaku, siapa dia??” Sangrin tambah tersipu. “Apa sih onnie?? Sudah ah, aku lelah… Jaljayo, onnie~”

Sangrin langsung masuk kamar’nya segera. Ia duduk di depan pintu. Masih dengan ekspresi senang. Tapi, sekarang ia bingung. Sebenarnya, siapa lelaki yang benar-benar ia cinta? Kibum?? Siwon?? Atau, Sungmin??

Saat Hyeobin dekat dengan Kibum, hati Sangrin akan sangat sakit. Saat Siwon tersenyum, Sangrin akan merona. Dan saat bersama Sungmin, Sangrin akan tersenyum riang. Ia merasa tiga-tiga’nya sangat berharga bagi’nya dan ia tidak akan bisa memilih diantara ketiga’nya.

***

Ting… Ting… Ting…

Sangrin bergegas membuka pintu apartement dan sangat terkejut saat melihat sosok lelaki yang lumayan tinggi dengan wajah tak jauh berbeda dengan’nya. “Kyu oppa~!!!”

Hyunnie

 

 

 

 

 

 

 

 

Kyuhyun tersenyum tipis dan memeluk Sangrin yang sangat senang akan kedatangan’nya. “Darimana oppa tau kalau aku tinggal dan bekerja disini?” tanya Sangrin bingung. “Dari siapa lagi?” jawab Kyuhyun seraya menunjuk Hyeobin yang baru berjalan kearah mereka.

Hyeobin tersenyum. “Hari ini kau tidak usah bekerja, Sangrin-ah… Aku akan menginap disini. Jadi, biar aku yang urus semua’nya. Lebih baik kau dan Kyuhyun bersenang-senang dan melepas rindu saja. Arachi?”

Sangrin langsung memeluk Hyeobin. “Gomawo, onnie~ Kau memang onnie terbaik…!”

“Kajja, Sangrinnie~!”

“Ne, oppa…”

Kyuhyun menarik tangan Sangrin menuju sebuah mobil BMW hitam. “Punyamu, oppa?” tanya Sangrin yang takjub dengan mobil kepunyaan oppa’nya. “Ne… Itu hasil kerja kerasku selama ini.”

“Oppa daebak…!” puji Sangrin seraya mengacak-ngacak rambut oppa’nya. “Hyaaa, Sangrin-ya…!!! Kau merusak tatanan rambutku~!”

Belum Sangrin membalas, seorang lelaki dengan baju hitam celana putih serta sepatu kets putih datang dan mengacak rambut Sangrin dan Kyuhyun. “Sudah 10 tahun berlalu, tapi kalian ini masih tak berubah… Seperti anjing dan kucing~”

Wonnie

 

 

 

 

 

 

“Kyaa~~~! Kau juga merusak tatanan rambutku, Won-ah…!!!”

Siwon dan Sangrin saling berpandangan.  Namun, Sangrin langsung mengambil kamera Siwon. “Lari~~~!!!” seru’nya bersemangat.

Akhir’nya, mereka bertiga malah berkejar-kejaran di areal parkir apartement. Sangrin berlari dengan sekuat tenaga, hingga ia menabrak seorang lelaki. “Min oppa~?!”

“Sini kau, Sangrin-ya??!!” teriak Kyuhyun dan Siwon bersamaan. “Kajja, Min oppa~!” seru Sangrin sembari menarik tangan Sungmin untuk ikut berlari. Sungmin yang bingung hanya bisa ikut berlari.

Mereka berempat berlari hingga ke sebuah danau di sebelah apartement. “Sudah ah lari’nya, Sangrin-ya… Oppa sudah tidak kuat~” ucap Kyuhyun dibalas anggukan dari Siwon dan Sungmin.

“Kyu oppa, Won oppa, kenalkan ini Sungmin oppa… Tampak’nya kalian berdua lebih muda dua tahun dari Min oppa.” kata Sangrin dengan nafas tak beraturan. “Sungmin imnida~”

“Kyuhyun imnida~”

“Siwon imnida~”

Mereka bertiga pun saling bersalaman. “Kalian oppa’nya Sangrin?” tanya Sungmin bingung. Sangrin langsung berdiri diantara Kyuhyun dan Siwon. “Kyuhyun oppa memang adalah oppa’ku. Keundae, Siwon oppa…”

“…Siwon oppa adalah namja-chingu’ku.”

Siwon dan Sungmin sama-sama terkejut dengan pernyataan Sangrin. Siwon menunduk malu, namun wajah Sungmin geram. “Kalian ini kenapa? Aku hanya bercanda… Siwon oppa hanya sahabat oppa’ku. Tidak lebih~”

Sungmin tampak menarik nafas lega. “Tidak lebih?”

“Tidak lebih~ Benarkan, Wonnie oppa?”

Siwon mengangguk lesu mendengar’nya. Perkataan ‘tidak lebih’ masih terngiang-ngiang dalam otak’nya. Jadi, ia tak lebih dari sahabat Kyuhyun di mata Sangrin?

“Kajja, kita pergi jalan-jalan…!”

Kyuhyun dan Sungmin mengangguk semangat. Namun, Siwon diam saja. Masih menunduk. “Aku…merasa…kurang enak badan. Aku…tidak ikut…ya? Se…la…mat bersenang-se…nang.” ucap’nya Siwon seraya berjalan kembali ke apartement. Namun, Sangrin menarik tangan’nya.

“Jinca, oppa? Oppa tidak apa-apa kan? Atau kita tidak jadi pergi saja?” tanya Sangrin khawatir sembari menempelkan tangan’nya ke kening Siwon. “Nan gwenchana~ Kalian pergi saja…” jawab’nya dengan lesu.

“Kalau oppa tidak apa-apa, kajja kita pergi.”

“Ne, Siwonnie… Tadi kamu juga tidak apa-apa kan? Ayolah, pergi.” bujuk Kyuhyun dengan pandangan puppy eyes’nya. “Ah, kalian itu kakak-beradik yang aneh… Baiklah, aku ikut~”

Sangrin dan Kyuhyun sontak bersorak girang.

Sungmin dan Siwon hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan aneh kakak-beradik ini.

***

“Kyu oppa, kenapa kita malah pergi ke ice-skatting? Kan kasihan Won oppa yang sedang tidak enak badan…” protes Sangrin kepada oppa’nya.

Siwon tersenyum tipis. “Gwenchana, Rin-ah… Sudah baikan kok~” Dalam hati ia berpikir, Seandai’nya Sangrin menyadari bahwa ia begini karena’nya…

“Keundae, aku tidak bisa bermain ice-skatting, oppa…”

“Biar aku yang mengaja…” Perkataan Sungmin dan Siwon terputus saat mereka menyadari bahwa mereka berbicara secara bersamaan. “Biar aku yang mengajarimu, Rin-ah…”

“Ne, Min oppa~”

Mereka berdua—Sangrin dan Sungmin—mulai turun ke area ice-skatting. Kyuhyun juga sudah mulai bermain. Namun, Siwon kembali terdiam. Sebenar’nya apa yang terjadi pada’nya? Mengapa ia merasakan kesakitan yang luar biasa pada hati’nya saat melihat Sangrin bermesraan dengan lelaki lain? Apa mungkin…?

“Tidak main, Siwonnie?” tanya Kyuhyun yang langsung membuyarkan lamunan Siwon. Ia mengangguk dan langsung bergabung dengan yang lain’nya. Ia berhenti saat melihat Sangrin dan Sungmin sedang berpegangan tangan.

“Oppa… Aku takut~”

“Jangan takut… Kau hebat, Sangrin-ah~! Kau pasti bisa.” ucap Sungmin seraya tersenyum manis. Senyum’nya tak berbeda dengan Kibum. Manis. “Uahh, oppa…! Aku mau jatuh~” Sungmin langsung menarik tubuh Sangrin agar tidak jatuh hingga ke posisi yang sangat romantis. Mereka berdua saling memandang.

Hati Siwon semakin panas sekarang. Ia merasakan air bening sudah ada di pelupuk mata’nya. Tak sadar, Kyuhyun melihat itu semua. Ia sudah mulai menduga-duga. Apakah sebenar’nya Siwon menyukai Sangrin? Ia terus memikirkan itu hingga tiba-tiba ia menabrak seseorang.

“OMO~ Gwenchana-yo?? Mianhaeyo, agashi…”

Perempuan yang ditabrak tersenyum kecil. “Gwenchana… Kamsahamnida~” ucap’nya seraya bangun, dengan dibantu Kyuhyun. “Joengmal mianhaeyo, agashi…” kata’nya sembari terus menunduk merasa bersalah. “Ah, jangan seperti itu. Aku benar-benar tidak apa-apa~”

Tak sadar, Kyuhyun menatap perempuan itu dengan dalam. Hati’nya merasakan gejolak saat melihat perempuan yang baru saja dikenal’nya ini. Perempuan itu melambai-lambaikan tangan’nya di depan wajah Kyuhyun, bertanya-tanya mengapa pemuda didepan’nya malah terdiam.

“Bolehkah kita berkenalan? Kyuhyun imnida~”

“Ne… Myorin imnida~”

Siwon yang menyadari Kyuhyun sedang berbicara dengan seorang perempuan langsung mendekati mereka berdua. “Kau kenal dia, Kyunnie?”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Baru saja~”

“Oh~ Siwon imnida…”

Perempuan itu terpesona saat melihat pemuda yang baru saja datang. “Myo…rin imni…da~” ucap Myorin dengan susah payah.

Sangrin dan Sungmin ikut datang dan berjalan kearah mereka bertiga.

“Kalian berbicara dengan siapa? Ah, apa ini yeoja-chingu’mu, Siwon oppa??”

Myorin terkejut dan menunduk malu. Namun, Siwon hanya mengernyit pelan. “Aniya~ Ini bukan yeoja-chinguku… Dia Myorin. Tadi oppa’mu berkenalan dengan’nya.” jawab’nya secara cepat agar Sangrin tidak salah paham.

“Annyeong, Myorin onnie… Sangrin imnida~”

“Sungmin imnida~”

Myorin tersenyum tipis. “Ne, Myorin imnida…” kata’nya sembari menunduk pelan.

***

Setelah sore, mereka semua pulang. Myorin sudah lumayan dekat dengan semua’nya. Mereka semua tertawa dan bercanda ria bersama. Hanya Sungmin dan Siwon yang masih canggung. Mungkin karena mereka merasa mereka adalah ‘rival dalam cinta’.

Sangrin pulang ke apartement Kibum. Sedangkan, Kyuhyun menginap di apartement Siwon. “Sudah pulang, Rin-ah? Ottokhae?? Apa liburanmu menyenangkan?”

Sangrin tersenyum kecil. “Menyenangkan sekali, Hyeobin onnie~ Gomawo sudah memberiku libur…” Hyeobin duduk diikuti Sangrin di sebelah’nya. “Jangan berterima kasih padaku… Ini semua rencana Kibum~”

Sangrin terkejut. “Kibum oppa??”

Yang ditanya mengangguk. “Ne, ini semua rencana Kibum~ Kata’nya, agar kau bisa ber-refreshing sejenak dan berpikir lebih jernih…” Sangrin semakin kaget. Apa maksud Kibum dengan mengatakan pada Sangrin agar ‘berpikir lebih jernih’?

Apa maksud’nya…??

###

~T.B.C~

@All : Seperti biasa komen ya?? ^^ Pasti dibales kok…

@Hyeo & Myo onn : Ottokhae, onnie? Mian ya klo tambah ruwet jalan ceritanya… *bow*

Fanfiction : ~Happy For Love~ (Chapter One)

Mentari bersinar sangat cerah. Membuat seluruh orang di penjuru kota merasakan kegerahan yang tiada tara. Seorang yeoja bertubuh kurus dan jangkung dengan rambut hitam legam, sedang duduk di teras rumahnya yang sangat kecil. Kontras dengan pakaian dan penampilan yeoja itu yang serba lusuh.

Ia termenung. Mata coklat keemasan’nya memancarkan kesedihan. Otaknya dipenuhi oleh rangkaian kejadian yang sama sekali tak menguntungkan’nya.

“Sangrin-ya~!” panggil sebuah suara yang membuat perempuan berusia 18 tahun itu menoleh. “Appa… Kenapa wajah appa kusam seperti itu?”

“Appa…Appa baru dipecat, Sangrin-ya. Ottokhae?”

Pria itu menunduk sedih. Sangrin memeluk appa’nya, mencoba menghibur. “Uhuk… Uhuk… Uhuk…”

Suara batuk membuat Sangrin dan appa’nya terkejut. Sontak mereka langsung masuk ke rumah mereka yang sangat sederhana dan beranjak ke kamar utama.

“OMONA ~!” gumam appa Sangrin saat melihat istrinya sedang terbatuk-batuk parah dan mengeluarkan darah disela-sela batuknya.

Sangrin angkat bicara. “Kajja, kita bawa eomma ke rumah sakit…”

Appa Sangrin mengangguk pasrah dan mereka pun berangkat ke rumah sakit. Eomma Sangrin langsung ditangani dan mereka—Sangrin dan appa’nya menunggu di luar dengan perasaan tak karuan.

Yang mereka pikirkan ganda. Bagaimana keadaan eomma dan bagaimana cara membayar pengobatan’nya. “Keluarga Nyonya Cho?” ucap dokter yang baru keluar dari ruang UGD.

Sangrin dan appa’nya sontak berdiri dan menghampiri dokter itu. “Bagaimana keadaan eomma saya, dokter?” tanya Sangrin dibalas anggukan appa’nya.

Dokter itu menghela nafas. “Nyonya Cho dalam keadaan kritis sekarang. Dan…beliau menderita penyakit gagal ginjal. Beliau harus cuci darah dan mendapat donor ginjal secepatnya…”

Sangrin menutup mulut’nya tak percaya. Ia terduduk lemas. Kakinya tak sanggup lagi menopang seluruh tubuhnya. Air matanya merembes keluar, menghujani wajah mulusnya.

Appa Sangrin memeluk’nya, ikut menangis. Mereka tentu tau bahwa harga cuci darah dan donor ginjal itu tidak sedikit. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa mereka tak lagi punya penghasilan apapun. Untuk makan saja susah, bagaimana untuk membayar pengobatan?

“Ottokhae, Sangrin-ya? Maafkanlah appa. Appa adalah kepala keluarga yang gagal…” Appa Sangrin masih menangis. Sangrin menghapus air mata appa’nya. “Jangan bilang begitu, appa… Ini bukan salah appa.”

“Ije ottokhae?”

Sangrin diam sejenak. “Jammkaman~ Aku tau! Aku pergi dulu ya, appa… Sebentar lagi aku kembali.” kata Sangrin seraya berlari keluar rumah sakit.

Ia terus berlari hingga berhenti di sebuah rumah mewah bergaya Eropa, sangat berbeda dengan rumah’nya yang lebih mirip kandang ayam. Ia menekan bel dan tak lama kemudian, seseorang membuka’nya. “Annyeong haseyo… Eh, Nona Sangrin, ingin mencari Nona Hyeobin? Nona Hyeobin ada di kamar’nya. Silahkan masuk~” sapa pelayan yang sudah mengenal Sangrin dengan baik.

Sangrin mengangguk. “Kamsahamnida…”

Ia kembali berlari menuju kamar yang berpintu merah muda. Ia membuka pintu’nya dan bisa melihat Hyeobin sedang asyik membaca buku. “Hyeobin onnie…”

“Sangrin? Kenapa kau datang dengan tergesa-gesa seperti itu?” tanya Hyeobin, senior Sangrin saat SMA dulu. “Appa’ku dipecat dan eomma’ku sakit gagal ginjal, onnie…” jawab Sangrin sembari memeluk Hyeobin.

“Aigoo, Sangrin-ya… Kasian sekali dirimu~”

“Onnie, bolehkah aku meminta bantuan?” tanya Sangrin dengan nada memohon. “Selama itu tidak diluar kemampuanku, aku akan mengusahakan’nya.”

Sangrin menunduk. “Bisakah bantu aku mencari pekerjaan, onnie?”

“Pekerjaan? Baiklah, aku akan membantumu, Sangrin-ya…” jawab Hyeobin. “Gomawo, onnie~! Kau memang onnie yang paling baik…” ucap Sangrin seraya memeluk Hyeobin.

***

Sangrin menatap langit-langit kamarnya. Semalaman ini ia tak bisa tidur. Pikirannya masih penuh oleh kejadian yang baru saja terjadi. Ia masih berbayang-bayang, jika saja dia masih seperti 1 tahun yang lalu.

Hidup penuh kemewahan dan kebahagiaan. Tidur di kasur empuk dan makan di restoran mewah. Pergi-pulang sekolah dengan naik mobil full AC. Tapi, semuanya langsung berbalik saat perusahaan appa’nya bangkrut.

Sangrin tak bisa melanjutkan sekolah’nya ke jenjang universitas. Appa’nya terpaksa bekerja menjadi kuli bangunan walaupun sekarang sudah dipecat. Dan, eomma’nya menjadi sakit-sakitan ketika mengalami ini.

Sungguh berakhir ironis. Dulu’nya ia bisa menghamburkan uang dimana dan kapan saja sesuka hati, namun sekarang, mereka harus mengais-ngais makanan demi memenuhi isi perut.

Suara dering ponsel Sangrin berbunyi. Ia menoleh dan dapat melihat hari sudah pagi. Ia bangun dan mengambil ponselnya. Ternyata dari Hyeobin. Ia pun mengangkat’nya.

“Yoboseo? Hyeobin onnie…”

“Sangrin-ya~! Aku sudah punya pekerjaan untukmu…”

“Jinca-yo?! Joengmal gomawo onnie…!”

“De, sekarang pergilah ke apartement. Kau akan menjadi pembantu rumah tangga, tidak apa-apa kan? Dia namja-chinguku, kebetulan dia tinggal sendiri di apartement dan sedang butuh pembantu rumah tangga. Tidak apa-apa kan? Aku akan mengirim pesan alamat apatement’nya padamu.”

“De, onnie… Tidak apa-apa. Gomawo, onnie~!”

Tanpa basa-basi, Sangrin langsung mulai bangun dan bersiap-siap. Ia membuka pintu dan mengunci’nya lagi. Ia memang tinggal sendiri karena appa’nya harus menjaga eomma’nya di rumah sakit.

Sangrin berlari menuju alamat yang diberikan Hyeobin. Memang berlari adalah keahliannya. Menurutnya, berlari dapat membuat’nya tenang dan rileks.

Ia berhenti di sebuah gedung dan mengecek ulang alamat itu. Ya, ini memang alamatnya. Ia menekan tombol lift dan memasuki lift itu. Tampak seorang lelaki jangkung yang sedang berdiri di lift itu. Sangrin menunduk kecil seraya menekan tombol lift ke lantai 12. Lelaki itu balas menunduk.

Lift berhenti pada lantai 10 dan lelaki itu pun keluar. “Jammkaman-yo, sapu tanganmu terjatuh…!” seru Sangrin seraya memungut sapu tangan milik lelaki itu. Tapi, lelaki itu tampak’nya tidak mendengar panggilan Sangrin. Sangrin memutuskan untuk menyimpan sapu tangan itu saja dan lift mulai naik keatas. Hingga ke lantai 12.

Ia mendekati ruangan yang sudah diberitahu oleh Hyeobin dan menekan bel’nya. Tak lama, seorang lelaki keluar. “Nugu-ya?” tanya’nya bingung.

“Cho Sangrin imnida~ Aku yang akan menjadi pembantu anda. Annyeong haseyo…” sapa Sangrin sopan seraya tersenyum. Lelaki itu berpikir sejenak. “Ah~ Aku tau…! Kau hoobae’nya Hyeobin kan waktu SMA?”

Sangrin mengangguk. “Masuklah~” kata lelaki itu dengan ramah.

“Ah~ Aku lupa mengenalkan diri… Kim Kibum imnida.” lanjut’nya dibalas senyuman Sangrin. “Mulai sekarang, kau bisa tinggal disini…”

Sangrin terkejut. “Mwo-ya?? Tinggal disini, Kibum-ssi?” tanya’nya dengan ekspresi kaget. Kibum tertawa pelan. Manis. Sangat manis.

Sangrin mengerucutkan mulut’nya. “Kenapa kau tertawa, Kibum-ssi?” tanya’nya dengan mata yang sedikit dipicingkan. Kibum semakin tertawa. Dan tawa’nya entah mengapa berhasil membuat jantung Sangrin berdetak cepat. “Aku hanya suka dengan ekspresimu itu. Lucu sekali~” jawab Kibum seraya berlalu.

Ia berhenti sebentar seraya membisikkan sesuatu di telinga Sangrin. “Dan, jangan panggil aku Kibum-ssi… Panggil saja aku oppa~” ucapnya seraya tersenyum tipis, kemudian pergi kearah kamar.

Sangrin masih terpaku di tempat. Ia menaruh tangan’nya di dada, merasakan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat.

***

Hari ini tepat seminggu Sangrin bekerja pada Kibum. Ia sudah membawa perlengkapan’nya dan tinggal di rumah Kibum. Ia sedang memasak di dapur sekarang, sedangkan Kibum sedang duduk di ruang keluarga dan menonton televisi dengan asyik.

Ting… Ting… Ting…

Suara bel berbunyi. Sangrin melepaskan celemek’nya dan beranjak membuka pintu. “Annyeong~ Hyeobin onnie…!” sapa Sangrin senang saat melihat Hyeobin datang. “Annyeong, Sangrin-ya~!” balas Hyeobin riang seraya memeluk Sangrin. Mereka berdua pun masuk.

“Kibum jagi~! Annyeong…” sapa Hyeobin sembari memeluk Kibum manja. Entah mengapa, hati Sangrin sangat perih saat melihat pemandangan itu. Apakah ia sudah mulai mencintai Kibum? Aniya~! Tidak boleh… Kibum itu milik onnie’nya!!!

Sangrin berusaha tersenyum, walaupun hati’nya merasakan sakit yang luar biasa. “Aku akan membuatkan minum untuk kalian…” ucap Sangrin sembari langsung pergi ke dapur. Setelah menenangkan diri, ia membawa nampan berisi 2 jus jeruk untuk Kibum dan Hyeobin ke ruang keluarga.

“Gomawo, Sangrin-ah… Oh ya, ottokhae? Apakah kau senang bekerja disini? Kibum tidak menggigitmu kan?” tanya Hyeobin seraya tersenyum. “Apa yang kau bicarakan, Hyeobin-ah? Kau pikir aku anjing?!” tanya Kibum kesal. Hyeobin memeluk Kibum dengan hangat. “Aku hanya bercanda, jagi… Jangan marah ya?”

Kibum tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuat jantung Sangrin berdetak cepat. Namun, Kibum tidak tersenyum pada’nya. Melainkan pada Hyeobin. Hati’nya tambah sakit setelah mengetahui ini. “Aku juga hanya bercanda, jagi… Aku tidak akan pernah marah padamu.”

“Saranghaeyo, jagi…” ucap Hyeobin seraya mengecup kening Kibum. “De, na tto saranghaeyo, jagi…” balas Kibum seraya tersenyum lagi.

Sangrin mendengus kesal melihat pemandangan ‘romantis’ antara Hyeobin dan Kibum tersebut. “Wae-yo, Sangrin-ah?” tanya Hyeobin yang tampaknya menyadari dengusan dari Sangrin. Sangrin menggeleng. “Hanya iri dengan kemesraan kalian berdua…”

Hyeobin terkekeh pelan dan menepuk bahu Sangrin. “Maka’nya, segeralah punya namja-chingu. Arasso~?! Hahahahaha…”

Sangrin memaksakan senyumnya. Ia memandang Kibum, tepat saat Kibum memandang’nya hingga pandangan mereka bertemu. Membuat keduanya salah tingkah. “Kalian ini kenapa?” tanya Hyeobin bingung. Mereka berdua sontak menggeleng. “Kalian sangat kompak~! Seharusnya memang kalian jadi oppa-dongsaeng…”

***

Pekerjaan sebagai pembantu yang sudah dialami Sangrin selama 3 bulan sudah dapat meringankan pengobatan eomma’nya. Kebetulan appa’nya juga sudah bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan. Ia sedang membersihkan kaca dengan kemoceng saat Kibum datang menghampiri’nya.

“Sangrin-ah…”

Sangrin menengok dan terkejut saat wajah Kibum tepat berada di hadapannya. Mereka berdua terdiam selama beberapa saat, menikmati semua yang sedang terjadi. “A…da apa, oppa?” tanya Sangrin saat sudah sadar sepenuhnya. “Ikut aku ya?” tanya’nya dengan wajah memohon. Ekspresi yang paling tak bisa Sangrin tolak.

“Ke…mana?”

“Ikut saja dulu~ Ok?”

“Keundae, pekerjaanku masih banyak, oppa…”

“Please, Sangrin-ah~”

Sangrin menghela nafas. Ah, tatapan itu lagi, batin’nya kesal. “De, oppa…”

“Yey~!!! Cepat ganti bajumu… Aku tunggu ya~”

Sangrin mengangguk lalu berjalan ke kamarnya dan berganti pakaian. Pakaian kesayangan dari dulu yang appa’nya belikan dari Italy. Rok pendek putih dengan rompi krem dan sepatu rata bewarna putih. Ia memoleskan lipstick dan memakai bedak tipis agar wajahnya tidak terlihat terlalu kusam. Ia juga melepaskan ikatan rambutnya. Hal yang paling tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Aku sudah siap, Kibum oppa~” ucap Sangrin dan Kibum pun berbalik menatapnya. Tatapan Kibum sangat dalam, hingga membuatnya merona. “Kau sangat cantik, Sangrin-ah…” puji Kibum seraya tersenyum. “Jadi, biasanya tidak?” tanya Sangrin sembari mengerucutkan mulutnya. “Aniya~ Kau selalu cantik. Keundae, kali ini…kau lebih cantik.”

Sangrin tersipu. “Ah, oppa terlalu pandai merayu… Pantas saja Hyeobin onnie bisa terpikat pada oppa~” ucap’nya seraya tersenyum manis. Kibum mendekat kearah’nya. “Berarti kau juga bisa terpikat dong, Sangrinnie?” tanya Kibum hingga membuat Sangrin merona.

“Kajja, katanya kita mau pergi? Kenapa kita malah ada disini?” ajak Sangrin mengalihkan pembicaraan. Kibum mengangguk pelan. Mereka masuk ke mobil dan duduk dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. “Sudah sampai~” gumam Kibum hingga membuat Sangrin menoleh. Sebuah butik? Untuk apa ia dibawa kesini?

“Sekarang, carilah gaun yang menurutmu paling bagus…” ucap Kibum dibalas tatapan penuh tanya dari Sangrin. “Ini…untuk Hyeobin onnie?” tanya’nya pelan. Kibum mengangguk.

“Kata Hyeobin, selera kalian sama, jadi pilihanmu berarti menjadi pilihannya juga.” jelas Kibum santai. Sangrin mengangguk dan menyibukkan dirinya mencari gaun, padahal air matanya sudah memberontak ingin keluar. Ia pikir, Kibum akan membawanya ke suatu tempat, ternyata malah hanya untuk mencari gaun untuk Hyeobin.

“Aku rasa ini cocok…” ucap Sangrin dengan suara sedikit serak. Ia menunjukkan sebuah gaun bewarna biru safir yang tergerai indah. “Pilihanmu sempurna~ Ayo kita bergerak ke tempat lain…!” kata Kibum seraya tersenyum.

Kibum membawa Sangrin ke toko perhiasan. “Sekarang pilihlah cincin yang menurutmu paling bagus…!” kata Kibum seraya tersenyum. Sangrin hanya mengangguk. Padahal dalam hati ia menangis. Jadi, Kibum oppa mau melamar Hyeobin onnie?, batinnya sedih.

Setelah memilih, mereka berdua pergi ke sebuah restoran mewah. “Ini adalah restoran yang akan menjadi saksi kejadian terindahku nanti… Sekarang ganti bajumu dengan gaun yang kau pilih tadi.” pinta Kibum dengan ramah. Sangrin terkejut. “Naega?” tanya’nya seraya menunjuk diri sendiri. “De, kebetulan tubuh kalian tidak terlalu berbeda jauh kan?”

Sangrin mengangguk dan memakainya. Setelah selesai, Sangrin bisa melihat Kibum sedang duduk di sebuah kursi. “Duduklah disini, Sangrin-ah…”

Sangrin kembali mengangguk dan duduk tepat di hadapan Kibum. Ia bisa melihat Kibum membuka kotak cincin yang ia pilih sendiri dan mengambil cincin dari kotak’nya. Kibum bangun dan berlutut, tepat di hadapan Sangrin. “Maukah kau menjadi yeoja-chingu’ku?”

Sangrin terkejut. Awal’nya, hati Sangrin merasakan gejolak kegembiraan yang membuat’nya sangat senang, namun kemudian ia sadar. Sadar bahwa ia tidak boleh ‘mencuri’ kepunyaan onnie tersayang’nya.

“Jadi…apa jawabanmu?”

Sangrin menatap Kibum yang sedang menatap’nya dengan pandangan memohon. Tatapan Kibum sungguh dalam. Kalau saja ini bukan karena onnie’nya, pasti ia sudah menerima Kibum sepenuh hati tanpa perlu memikirkan apapun lagi. Namun, ini berbeda. Sangrin menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Aku…menolak, oppa.”

Kibum membelalakan mata’nya tak percaya. “Keundae…kupikir kau mencintaiku, Sangrin-ah?”

“Memang, oppa… Saranghaeyo~ Joengmal saranghaeyo. Keundae, aku tidak pernah percaya oppa mau selingkuh dengan Hyeobin onnie seperti ini. Oppa kan masih berstatus namja-chingu Hyeobin onnie… Kenapa oppa malah memintaku untuk menjadi yeoja-chingu oppa? Apakah oppa ingin mencoba menduakan kami?”

Kibum menunduk. Ia kembali duduk di kursi’nya. “Bu…kan begitu, Sangrin-ah. Aku hanya jenuh. Jenuh dengan perlakuan Hyeobin yang selalu manja padaku… Aku ingin yeoja yang mandiri, pantang menyerah, dan tidak manja seperti’nya. Aku ingin yeoja sepertimu~!”

“Keundae…Hyeobin onnie sungguh mencintai oppa. Dan, aku menolak permintaan oppa.” ucap Sangrin mantap. “Kalau begitu…aku akan memutuskan hubunganku dengan Hyeobin segera. Maka, kalian tidak kuduakan bukan?”

Sangrin menatap Kibum dengan ekspresi apa-yang-baru-saja-kau-katakan?. “Aku tidak percaya kau akan mengatakan ini, oppa… Aku pikir kau adalah lelaki yang baik dan setia, bukan seperti ini~!” kata Sangrin sedikit berteriak.

“Apa oppa tak sadar seberapa cintanya onnie pada oppa??!! Aku tak percaya oppa sebegini tega’nya pada Hyeobin onnie… Jika oppa memang tak suka dengan tingkah laku Hyeobin onnie, bicaralah baik-baik dengannya…! Katakan sejujurnya apa yang oppa tak suka dari onnie~ Lagipula, aku tau pasti oppa masih sangat mencintai onnie… Oppa hanya menjadikanku sebagai peralihan, dan rasa’nya sungguh sakit, oppa…!!! Kuharap oppa bisa memikirkan ini baik-baik~”

Sangrin bergegas melepaskan gaun itu dan kembali memakai pakaian awalnya. Ia pergi meninggalkan Kibum yang masih terdiam. Kibum hanya menatap sesuatu dengan tak fokus. Pikiran’nya berkecambuk. Ia memikirkan kembali semua perkataan Sangrin yang terus terulang dalam pikiran’nya.

Tak lama, Kibum bangkit. “Kurasa, Sangrin benar~!”

***

Sangrin menyetop taxi dan bergegas naik. Pikirannya kacau. Tapi, ia merasa semua beban’nya terangkat. Anehnya, ia tak merasakan apa-apa sekarang. Apakah itu karena ia benar-benar tidak ingin melukai hati Hyeobin? Ataukah karena…ia tidak sepenuhnya mencintai Kibum? Entahlah~

Taxi berhenti di depan apartement dan Sangrin pun keluar. Ia masuk ke gedung apartement dan menekan lift ke lantai 12, seperti biasa. Disitu ada seorang wanita separuh baya yang menekan lift ke lantai 10, membuat Sangrin merasakan dejavu dengan angka 10 pada lift.

Tak lama, lift berhenti di lantai 10 dan wanita separuh baya itu keluar. Baru saja pintu lift itu ingin tertutup, namun seorang lelaki masuk ke dalam lift itu dalam keadaan sempoyongan. Sangrin memutar otaknya. Nampaknya, pemuda ini pernah ia lihat sebelumnya.

Ia menepuk kepalanya sendiri. Itu kan lelaki di lift saat awal ia mendatangi apartement~! Lelaki ini sangat sempoyongan, hingga akhirnya jatuh. Tepat di depan Sangrin sehingga mereka berdua terjatuh dalam posisi saling berhadapan. Lelaki itu memicingkan mata’nya perlahan.

Ia bangun secepat mungkin setelah tau apa yang baru saja ia lakukan. Ia menunduk, walaupun masih sempoyongan. “Mianhamnida, agashi…”

Sangrin beranjak bangun dan ikut menunduk. “Chonmaneyo~ Keundae, apakah kau habis minum? Kenapa sempoyongan seperti itu?” tanya’nya bingung. Lelaki itu tertawa. Tidak semanis tawa Kibum, namun tawa’nya berhasil membuat hati Sangrin bergejolak hebat. Ia bertanya-tanya, apakah ia akan selalu seperti ini saat melihat lelaki tersenyum?

Tapi, nyata’nya perasaan Sangrin berbeda saat Kibum dan lelaki ini tersenyum. Saat melihat senyuman Kibum, jantung Sangrin berdetak cepat, sedangkan saat melihat senyuman lelaki ini, hati’nya bergejolak hebat.

“Kau benar, agashi~ Aku memang sedang mabuk! Dan ini kare…”

BRUK!

Belum sempat lelaki itu melanjutkan kata-katanya, ia sudah kembali terjatuh, kali ini sudah dalam keadaan tak sadar. Sangrin yang kasihan akhirnya membawa’nya ke kamar apartement milik lelaki itu, yang Sangrin ketahui dengan mencari-cari kunci dalam tas lelaki itu.

Ia masuk dan susah payah, kemudian bergegas menaruh lelaki itu ke kasur’nya. Beruntung, tubuh lelaki yang dibawa’nya lumayan ringan. Sangrin memutuskan untuk duduk sejenak di kamar itu. Walaupun tidak berat, tapi tetap saja lelaki itu membuat Sangrin lelah.

“Mmmmm” seru lelaki itu dengan mata tertutup. Sangrin tersenyum kecil. Pasti lelaki itu sedang mengigau. Ia beranjak dan ingin keluar, namun foto-foto pada sebuah meja membuat’nya mengurungkan niat.

Foto seorang anak-anak dari kecil sekali hingga dewasa. Foto lelaki yang sedang tertidur di sebelah’nya. Sangrin tersenyum saat melihat foto-foto lelaki itu. Namun, ia terkejut saat melihat sebuah foto yang berisi 2 orang lelaki yang sedang tersenyum bersama. Satu lelaki itu ia ketahui pasti sebagai lelaki yang sedang tertidur, tapi lelaki satu’nya?

Bukankah ini foto Kyuhyun oppa?

###

~T.B.C~

P.S : Seperti biasa comment ya~

Hyeobin onnie : Bagaimana FF-ku, onnie?? Kayaknya FF ini bakal aku bagi jadi beberapa chapter jadi gak kepanjangan… Mian klo hasilnya jelek~ >.<

Myorin onnie : Onnie akan ‘muncul’ di FF chapter 2 nanti… Ok? ^^b


Story : ~White Rose~

Dengan langkah pelan, seorang wanita berjalan diiringi putrinya untuk menyebrang jalan. Tangan wanita itu menggandeng lengan putrinya yang halus dengan erat. Mereka berhenti di suatu tempat yang berupa sebuah toko bunga.

“Selamat siang~! Eh, nyonya Kwan… Ingin membeli bunga?” sapa penjual bunga dengan ramah.

Penjual bunga ini adalah seorang remaja perempuan berusia 17 tahun berkuncir satu yang sudah sering bertemu dengan wanita beranak satu tersebut.

“Halo, Heena~ Ya, aku mau membeli bunga. Yang seperti biasa ya…” kata wanita yang kira-kira lebih tua 15 tahun darinya itu. “Baik, nyonya…! Tunggu sebentar ya~” jawab penjual bunga dengan ramah.

“Kita mau beli bunga yang seperti biasa ya?” tanya putri kecil wanita itu. Yang diajak bicara mengangguk sembari menyunggingkan senyuman dan mengelus-elus rambut hitam panjang putrinya.

“Ini pesanan anda, nyonya…” kata perempuan penjual bunga yang datang dengan sebuket bunga pesanan wanita itu. “Terima kasih~ Ini uangnya.” jawab wanita itu seraya memberikan beberapa lembar uang. Mereka berdua–wanita dan putrinya-pun berbalik menyebrang dan kemudian menghampiri mobil sedan putih yang sudah terparkir di dekat situ.

“Kenapa ibu selalu membeli bunga yang sama? Kan masih banyak bunga yang lebih indah dari bunga ini…” tanya putrinya dengan pandangan polos.

“Ini pesanan ayahmu.” jawab wanita itu dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. “Pesanan ayah?” tanya putri kecilnya lagi dengan kebingungan. “Bunga ini adalah bunga kesukaan ayahmu…” jawab wanita itu dengan sabar.

“Bunga kesukaan ayah?”

(Flashback)

Seorang perempuan berseragam sekolah menengah atas dengan rambut hitam panjang, berlari menuju kelasnya.  Seluruh tubuhnya nyaris basah oleh air hujan yang terus berjatuhan tiada hentinya. Ia berhenti ketika melihat seseorang. Seorang lelaki berseragam sama sepertinya yang sedang sibuk menadahkan taman agar bunga-bunga di taman itu tidak kehujanan.

Sang perempuan merasa tertarik dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Ia memutuskan untuk mendekatinya. “Sedang apa kau disana?” tanya perempuan itu bingung. “Apakah tak bisa kau lihat sendiri? Tentu saja aku sedang menadahkan bunga-bunga ini…” jawab lelaki itu dengan acuh tak acuh tanpa memandang orang yang sedang diajak bicara.

“Untuk apa kau menadahkan bunga-bunga ini sedangkan kau sendiri basah kuyup seperti itu?” tanya perempuan itu lagi. “Bagiku bunga-bunga ini lebih penting dariku sendiri… Bunga itu kan adalah mahluk hidup indah yang perlu dijaga seutuhnya.” jawab lelaki itu lagi-lagi dengan acuh tak acuh. Namun, perkataannya dapat membuat hati perempuan ini tergerak.

Ia pun ikut membantu lelaki itu menadahkan bunga-bunga dari hujan yang melanda. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Setelah selesai, mereka berlindung di sebuah café. Sudah tak mungkin bukan untuk masuk ke sekolah dalam keadaan basah kuyup dan telat? Lelaki itu memesankan cappuccino untuk mereka berdua.

“Sepertinya aku tidak pernah melihatmu di sekolah sebelumnya. Apakah kau murid baru?” tanyanya kepada lelaki yang berada di hadapannya dan sedang sibuk menyeruput cappuccino-nya. “Tidak, sudah 2 tahun aku di SMA ini. Aku kelas 2.1 sekarang…” jawab lelaki itu dengan singkat.

“Kelas 2.1? Kau pasti murid yang sangat pintar…! Aku di kelas 2.2. Namaku Kwan Sangrin.” katanya dengan bersahabat. “Han Kyojin…” balas lelaki itu dengan sangat singkat.

“Sebenarnya, kenapa kau bisa sayang sekali dengan bunga??” tanya Sangrin penasaran.

“Bunga adalah hal yang paling ibuku cintai, tentunya selain aku dan ayah… Khususnya bunga mawar putih. Bagi ibuku, bunga adalah mahluk hidup indah yang sangat cantik dan menarik.” jawab Kyojin seraya tersenyum. Matanya tak fokus, seperti sedang mengulang kenangan masa indahnya.

Sangrin tersenyum mendengarnya. “Ibumu pasti adalah pribadi yang lembut dan penyayang…” katanya sembari ikut tersenyum. “Ya, kau benar. Setidaknya dulu…” jawab Kyojin yang membuat Sangrin sedikit memicingkan matanya.

“Dulu?”

“Sekarang, ibuku sudah meninggal. Tepatnya saat aku berusia 8 tahun… Itulah sebabnya aku sangat menyayangi bunga. Karena aku percaya, ibuku juga akan sangat menyayangi bunga jika dia masih hidup. Oh…kenapa aku jadi menceritakan kisah hidupku ya? Maaf…”

“Tidak apa-apa… Ceritakan saja maka hatimu akan tenang. Aku turut berduka cita atas kematian ibumu ya.”

***

Sudah 2 bulan sejak hari itu berlalu. Entah kenapa, mereka berdua menjadi sering bertemu dan walaupun tak pernah bicara lagi, namun tak sadar mereka berdua sering bertemu pandang.

Bel pulang berbunyi dengan nyaring dan semua murid pun melonjak girang. Dengan langkah lemas, Sangrin bergegas pulang. Hari ini, ia terpaksa harus berjalan kaki ke rumahnya karena ayah, ibu, dan para supirnya sedang sibuk. “Sampai jumpa, Sangrin-ya!” seru teman-temannya dibalas lambaian Sangrin. Ia melangkah dengan tak bersemangat ketika tiba-tiba suara motor mengganggunya.

Motor itu berada tepat di kanan Sangrin hingga sempat membuatnya kesal. Pengemudi itu membuka helm-nya dan Sangrin pun kaget.

“Kau?” tunjuknya kepada pengemudi motor itu. Dan dengan cepat pengemudi itu membawa Sangrin ke boncengannya. “Kita mau kemana?” tanya Sangrin dengan sedikit berteriak.

Namun, yang dipanggil tak menjawab. Ia malah menambah kecepatan motornya. Sangrin yang sebal memutuskan untuk menatap jalan. Ia tercengang. Tampaknya jalan ini…familiar?

Sang pengendara motor memberhentikan motornya di suatu tempat. Sangrin membuka mulutnya tak percaya. Bukannya ini rumahnya sendiri?

“Bagaimana bisa kau tau rumahku?” tanyanya langsung kepada sang pengendara motor. Yang ditanya terkejut seketika dan menepuk kepalanya sendiri. Seakan mengatakan jika dia salah langkah.

“A…Aku…Aku” ucap pengendara motor dengan gemetar. “Kyojin, jawab aku~!” seru Sangrin dengan tegas. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa begini. Mungkin karena ia sangat penasaran dengan semua yang terjadi.

“A…Aku sudah lama mengikutimu, Sangrin-ya~” jawab Kyojin, sang pengendara motor itu dengan pandangan tertuju pada Sangrin. “Mengikutiku? Tapi kenapa?”

“Karena aku mencintaimu, Sangrin-ya… Sejak hari dimana kita menadahkan bunga bersama. Aku yakin rasa cintaku tulus padamu. Apakah kau juga mencintaiku?”

Sangrin terdiam. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia…dilamar? Tepat di depan rumahnya? Jujur saja, ia belum pernah dilamar sebelumnya.

Sangrin menatap Kyojin. “Ya… Aku juga mencintaimu.” jawab Sangrin dengan tegas. Padahal ia sendiri bingung. Kenapa ia menjawabnya dengan sangat mudah?

Ia dapat melihat Kyojin membulatkan mata indahnya. Tak lama, Kyojin tersenyum. Senyum yang dapat membuat semua wanita tergila-gila. Ia mendekati Sangrin dan kemudian memeluknya dengan hangat.

“Hyaaa~! Jangan disini, Kyojin-ya… Nanti para tetanggaku tau!” teriak Sangrin terkejut saat Kyojin memeluknya. “Maaf, Rin-ah… Aku terlalu senang.” ucap Kyojin sembari tersenyum sangat sumringah dan melepaskan pelukannya.

“Rin-ah?” tanya Sangrin bingung. “Mulai sekarang aku akan memanggilmu Rin-ah… Itu nama panggilan sayangku padamu.” jawab Kyojin dengan senyuman.

***

Sejak hari paling bahagia itu, mereka berdua menjadi sangat dekat. Kedua orang tua mereka bahkan sudah tau satu sama lainnya. Mereka benar-benar adalah pasangan yang bahagia.

Hari ini adalah tepat tahun kelima mereka menjalin hubungan. Mereka sudah kuliah sekarang. Kebetulan mereka berada di kampus yang sama walaupun mempunyai jurusan yang berbeda. Sangrin pada kedokteran dan Kyojin pada seni musik. Rencananya mereka akan merayakan ulang tahun pacaran mereka di sebuah restoran mewah.

Dengan hati yang amat senang, Kyojin mengendarai mobilnya menuju sebuah toko bunga. Ia membeli sebuket bunga mawar putih dan meneruskan perjalanannya ke restoran. Tak lupa, ia membawa cincin yang sudah ia beli sejak dulu. Ia hampir sampai ketika merasakan sesuatu yang aneh terjadi padanya.

Ia merasakan pusing yang luar biasa. Seperti jalanan yang ada didepannya berputar-putar secara cepat. Ia juga bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Ia menyentuhnya dan dengan sekuat tenaga mengenali cairan merah ini. Darah.

(Di waktu yang bersamaan)

Sangrin memeriksa jam tangan putih yang tersemat indah di lengannya. Sudah berkali-kali ia melakukan ini. Pikirannya kacau. Kemana Kyojin? Bukankah biasanya Kyojin tidak pernah telat? Apalagi disaat penting seperti ini. Ia mengambil handphone-nya dan menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.

“Angkatlah, Kyojin-ya… Angkatlah~!” gumam Sangrin gelisah seraya mengetuk-ketukan telunjuk-nya di meja berulang kali. Namun, tak ada jawaban. Tepat saat ia ingin memasukkan handphone-nya ke dalam tas, suara getaran handphone berbunyi. Ia langsung menatap layar kacanya dan terkejut. Pesan dari Kyojin~!

From : Kyo~Kyo~ ❤

Maaf Rin-ah…
Aku tidak bisa datang hari ini.
Tugas kuliahku menumpuk dan harus dikumpulkan besok pagi.
Maaf sekali ya~
Love u always…!

Sangrin mengerucutkan mulutnya. Ada rasa kecewa dalam hatinya. Apakah tugas kuliah lebih penting dari perayaan ke-5 mereka? Namun, ia berusaha memaklumi dan membalas pesan dari Kyojin.

To : Kyo~ Kyo~ ❤

Tidak apa-apa, Kyo-ya…
And love u always too~

***

Sesuatu telah hilang dari hati Sangrin. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya bahagia. Sesuatu yang selalu berhasil mengisi hatinya. Kyojin. Tepat 3 tahun sejak hari itu, Kyojin hilang bagai ditelan bumi.

Sangrin telah bertanya dimana-mana. Kepada keluarganya, teman-temannya, dan semua orang yang ia kenal. Namun jawaban mereka sama. Tidak tau. Apakah Kyojin sedang menghindarinya? Mengapa semuanya bisa jadi begini? Terakhir mereka bertemu, mereka sangat dekat. Kenapa semua ini bisa terjadi secara tiba-tiba?

Hari ini Sangrin melewati sebuah taman. Taman penuh kenangan mereka. Taman dimana mereka–Sangrin dan Kyojin–menanam bunga mawar putih dengan sangat indah bersama. Tertawa bersama. Bermain bersama. Begitu banyak kenangan yang tercipta disini. Tak sadar, Sangrin mengeluarkan air mata. Hatinya terlalu sakit. Terlalu sakit untuk kehilangan Kyojin lebih lama lagi.

Sangrin menghampiri taman itu dan menyentuh satu bunga mawar putih yang tertanam indah. Air matanya menetes bersamaan dan mengenai bunga mawar putih yang sedang melambai riang.

Ia memetik bunga itu, berharap Kyojin akan datang dan memarahi perbuatan Sangrin, namun lagi-lagi itu hanya dalam bayangannya. Semuanya tampak biasa. Putih dan hitam. Tak ada yang terjadi. Sangrin sudah tak kuat lagi. Ia terduduk di sebelah bunga mawar putih itu. Memeluk lututnya hingga menangis. Apakah harus begini? Apakah semuanya harus begini?

Setelah lelah menangis, Sangrin bergegas pulang. Ia ingin membuka pintu rumahnya sebelum melihat sesuatu tergeletak di depan pintu rumahnya. Surat? Dari siapa? Ia memperhatikan surat itu dengan seksama hingga akhirnya terkejut saat mengetahui siapa pengirimnya. Kyojin?!

For Rin-ah…

Maaf Rin-ah~ Aku menghilang begitu saja dari hidupmu… Tapi tolong, mulai saat ini carilah pengganti diriku, karena aku… Aku tidak cinta padamu lagi. Aku sudah punya orang lain…  Orang lain yang lebih baik darimu… Selamat tinggal, Rin-ah~! Jaga dirimu…

-Han Kyojin-

Sangrin membulatkan matanya tak percaya. Air matanya kembali tumpah ruah. Kyojin…tidak mencintainya lagi? Dan ia…mencintai orang lain? Ia mencubit pelan lengannya, berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi terburuk yang pernah ia alami. Namun, sayangnya tidak. Apakah kisah cintanya harus berakhir seperti ini?

Ia mengambil handphone-nya dan mulai menelepon nomor Kyojin. Namun, nihil. Nomornya tidak aktif. Sangrin terdiam. Air matanya masih terus saja mengalir tanpa henti. Apa yang harus dilakukannya? Menangis sepanjang hidupnya? Atau berhenti mencintai Kyojin? Tidak. Sangrin tidak akan bisa berhenti mencintai Kyojin. Takkan pernah bisa.

***

Sangrin termenung dalam kamarnya. Sudah 2 tahun sejak hari paling buruk itu terjadi. Hatinya masih gelisah. Ada rasa ketidakpercayaan dalam hatinya. Benarkah Kyojin meninggalkannya karena ia mencintai gadis lain?

Bukankah Kyojin yang menyatakan cinta padanya dulu? Setahunya, Kyojin tidak pernah berhenti mencintainya. Karena mereka berdua tau, bahwa perasaan mereka masing-masing sungguh kuat dan takkan pernah hilang. Itu sudah terbukti dari masa pacaran mereka yang tergolong lumayan lama.

Sangrin melirik jamnya. 08.00. Sudah waktunya ia berangkat kerja. Dengan perlahan, ia keluar kamar dan mengambil tas tangannya. Ia keluar dan mengunci pintu rumah.

“Sangrin…! Kwan Sangrin…!!!” seru seseorang yang terdengar di telinga Sangrin. Ia menoleh dan dapat melihat seorang wanita yang mungkin lebih tua darinya beberapa tahun. Wanita itu berlari dan berhenti di depan Sangrin. “Apakah kau Kwan Sangrin?” tanya wanita itu dengan nafas memburu.

“Iya, benar. Tapi, anda siapa ya?” tanya Sangrin bingung. “Aku Han Kyora, kakaknya Han Kyojin…” jawab wanita yang ternyata adalah kakak Kyojin dengan nafas memburu.

Sangrin tercengang. Ia merasakan sesuatu yang aneh masuk ke hatinya saat wanita di hadapannya menyebut nama ‘Kyojin’. Nama yang tabu baginya.

Sangrin bertanya dengan suara serak. “U-untuk apa kakak kemari?”

“Panjang untuk diceritakan sekarang… Lebih baik kau ikut kakak dulu.” Kyora menjawab seraya menarik tangan Sangrin dan memasukkannya ke mobil.

Sangrin menatap Kyora. Kyora sedang sibuk menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sangrin terkesiap. Mata, hidung, dan bentuk bibir Kyora persis seperti Kyojin. Sangrin memalingkan pandangannya kearah jalan. Hatinya akan tambah sakit jika terus menatap Kyora.

Kyora memberhentikan mobilnya dan mereka berdua pun bergerak menuju sebuah gedung. Gedung familiar yang sering dikunjungi Sangrin. Rumah sakit yang adalah partner rumah sakit tempat Sangrin bekerja.

Sangrin mulai berpikiran aneh. Otaknya penuh dengan pikiran gila yang sama sekali tidak mengenakan. “Untuk apa kita ke rumah sakit, kak?” tanya Sangrin penasaran.

“Jangan kaget ya dan tabahkan hatimu…” ucap Kyora sembari menunjuk sebuah jendela transparan.

Sangrin menoleh dan…menutup mulutnya tak percaya. Di hadapannya. Ya, persis dihadapannya. Di balik kaca, sedang terbaring seorang lelaki dengan wajah yang amat pucat pasi dan mata yang tertutup. Tubuhnya dipenuhi oleh jarum dan kabel asing. Tubuhnya amat kurus dan ringkih.

Sangrin menoleh pada Kyora, seakan meminta penjelasan. Air matanya turun dengan deras, tanpa mempedulikan perintah dari otaknya. Kyora memeluk Sangrin. Air matanya juga mengalir.

Kaki Sangrin melemas. Ia terduduk. Kyora masih memeluknya dengan erat. Entah siapa yang menghibur atau yang dihibur. Yang penting mereka berdua menangisi seseorang yang sama. Seseorang yang sangat penting bagi mereka berdua.

“Awalnya, Kyojin tak mau jika aku menceritakan ini padamu, namun aku sudah tak sanggup menyimpannya. Kurasa kau juga harus tau. Kyojin mengalami penyakit AIDS. Ini bawaan dari ibu kami. Karena itulah juga, ibu kami meninggal. Untungnya, aku tidak terkena penyakit sial itu. Tapi ternyata, yang mengalaminya adalah adik satu-satunya yang paling aku sayang, Kyojin… Ibu kami sendiri, terkena penyakit ini karena ketidak sengajaan. Waktu itu ibu kecelakaan dan ia kekurangan banyak darah. Syukur, ada persediaan darah di rumah sakit. Namun, ternyata darah itu mengandung penyakit sial. Penyakit yang sudah merenggut kebahagiaan keluarga kami sejak lama. Mulai dari kematian ibu, ayah, dan sekarang…sekarang Kyojin harus tersiksa karena penyakit sial ini.”

Sangrin termenung mendengar penjelasan Kyora. Nafasnya sesak saat mendengar perkataan kakak orang yang sangat dicintainya itu. “Bolehkah aku bertemu dengan Kyojin?”

Kyora mengangguk kecil. Sangrin dipakaikan masker, baju rumah sakit, sarung tangan, dan semua alat-alat aneh yang diperlukan sebelum masuk ke kamar Kyojin. Rasanya sakit. Sangat sakit. Bayangkan, apakah tidak sakit hanya untuk bertemu orang yang kau sayangi saja, kau harus memakai peralatan seperti ini?

Sangrin menatap dalam lelaki yang ada di hadapannya. Sedang tergeletak tak berdaya dengan selang-selang yang menancap pada seluruh tubuhnya. Sangrin mulai meneteskan air mata lagi. Tak terhitung beberapa banyak ia telah mengeluarkan air mata.

Ia mengelus pelan rambut Kyojin. “Kyo-ya… Apa kabarmu? Tak terasa sudah 5 tahun kita tak bertemu. Kau tau, sekarang aku sudah menjadi dokter yang sukses, seperti impianku sejak SMA dulu… Katanya kau mau jadi composer yang terkenal, apakah cita-citamu sudah terwujud? Kurasa belum, tapi saat kau sudah sembuh nanti, aku akan membantu meraih cita-citamu…”

Kyojin membuka matanya perlahan. Sangat perlahan, seakan sangat susah hanya untuk membuka mata. “Rin-ah…” ucapnya dengan sangat pelan. Namun, hati Sangrin merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar Kyojin mengucapkan nama panggilannya.

“Ke…ke…na…pa kau a…da di…si…ni…?” tanya Kyojin dengan sangat susah payah. Sangrin langsung memeluk tubuh kurus Kyojin. Bahkan untuk memeluk Kyojin saja susah akibat kabel-kabel yang masih tertancap dan beredaran di sekitar tubuh Kyojin. “Bodoh…! Bodoh…! Bodoh…! Kau sangat bodoh, Kyo-ya…!!!” seru Sangrin disela-sela tangisannya sembari memukul-mukul tubuh Kyojin.

“A…pa…kah kau kesi…ni hanya un…tuk menyik…saku?” tanya Kyojin seraya cemberut. Ekspresi yang selalu berhasil membuat Sangrin tertawa. Kyojin masih sama dimata Sangrin. Manis dan tampan. Tak ada yang berkurang dari dirinya.

“Aku mencintaimu, Kyo-ya… Sangat~”

“A…ku juga, Rin-ah~”

***

Sudah 3 bulan sejak hari itu berlalu. Sangrin selalu datang setiap hari untuk menemui Kyojin selesai tugasnya di rumah sakit. Walaupun tubuhnya pegal, namun ia tak pernah absen untuk mendatangi Kyojin.

Kyojin mengalami banyak kemajuan pesat sejak hari itu. Dan ini semua berkat Sangrin. Karena selalu ada yang berhasil membuatnya minum obat, makan, atau optimis dengan hidupnya.

Dengan tubuh yang sudah sangat lelah, Sangrin datang seperti biasa untuk menjenguk Kyojin pagi ini. Kebetulan ini hari libur, jadi Sangrin bisa datang dari pagi.

“Halo, Kyo-ya…!” sapa Sangrin dengan senyuman seperti biasa. “Halo, Rin-ah…! Kau tau ini hari apa?” tanya Kyojin dengan ceria. “Hari apa ya? Tidak tau…” jawab Sangrin bingung. “Yahh, masa kau lupa, Rin-ah?”

“Tunggu~! Ini bukannya tahun ke-10 kita menjalin hubungan?!” tebak Sangrin dibalas anggukan riang dari Kyojin. “Aku sudah mempunyai hadiah untukmu…” ucap Kyojin.

“Benarkah? Apa itu?”

Kyojin beranjak bangun dari kasurnya dan mencopot semua kabel-kabel yang tertancap pada tubuhnya dengan hati-hati. Sangrin terkejut. “Mau apa kamu, Kyo-ya?! Hentikan itu…!” teriak Sangrin kaget.

Kyojin tersenyum manis. “Tenang saja. Aku sudah minta persetujuan dokter tadi. Dan karena perkembanganku makin baik, aku dibolehkan untuk pergi satu hari ini… Ayo kita berangkat~!”

Sangrin mengangguk. Mereka berdua pun bergegas pergi. “Apakah tidak apa-apa jika kau yang menyetir, Kyo-ya?” tanya Sangrin cemas. “Tidak apa-apa, Rin-ah… Percayalah padaku. Ada kejutan spesial untukmu.”

Kyojin membawa Sangrin menuju salon dan setelah siap, Kyojin kembali mengendarai mobilnya. “Kita mau kemana sih, Kyo-ya?” tanya Sangrin penasaran.

“Nanti juga kau akan tau…” ucap Kyojin seraya tersenyum. Kyojin memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang tak Sangrin ketahui. Kyojin mengajak Sangrin masuk ke gedung itu hingga ke sebuah ruangan gelap.

“Duduklah disini…” pinta Kyojin dengan lembut. Sangrin mengangguk kecil dan Kyojin pun hilang karena gelapnya ruangan besar itu dari pandangan Sangrin.

“Lagu ini kupersembahkan untuk jodohku, sayangku, cintaku, hidupku, dan segalanya bagiku… Happy anniversary, Rin-ah~” kata Kyojin seraya mulai melantunkan tuts-tuts pada pianonya.

Sangrin terharu. Lagu yang dimainkan membuatnya tambah mencintai lelaki ini. Kyojin. Pasangan hidupnya. Kekasih hatinya. Orang yang bersinggah dalam hatinya sejak lama.  Dan, hatinya semakin tak rela untuk membayangkan orang yang amat sangat dicintainya ini harus pergi suatu saat nanti. Pergi ke suatu tempat yang tidak akan bisa digapai.

***

Sangrin memandang langit hitam berisi ratusan bintang yang sangat indah. Ia menoleh ke samping. Bisa ia lihat Kyojin sedang memandangi bintang pula di sebelahnya. Tak lama, Kyojin menyenderkan kepalanya ke bahu Sangrin.

Sangrin mengelus rambut Kyojin, kebiasaan yang selalu ia lakukan. “Indah ya?” tanya Sangrin.

Sangrin menatap Kyojin. Matanya memancarkan sinar bintang itu. Sangat indah. “Apakah kau kedinginan?” tanya Sangrin lagi.

“Selama ada kau disampingku, aku tidak akan pernah merasa kedinginan, Rin-ah…” jawabnya hingga membuat Sangrin tersipu. “Dasar gombal~!”

“Tapi itu memang benar…” lanjut Kyojin disertai tawa mereka berdua. “Kau tau, apa hal yang paling indah di dunia ini?” tanya Kyojin dengan nada serius.

“Apa?”

“Saat bertemu denganmu…”

Sangrin memukul lengan Kyojin pelan. “Kau memang lelaki gombal~!”

“Berjanjilah untuk mencari penggantiku nanti… Tapi, jangan melebihi ketampananku ya?”

Sangrin langsung memandang Kyojin. “Apa maksudmu, Kyo-ya? Aku tidak akan mencari penggantimu karena kita akan terus bersama!” seru Sangrin dengan sedikit keras.

Kyojin tersenyum. “Jangan membohongi hatimu, Rin-ah… Kumohon jangan membohongi hatimu. Aku percaya kau mempunyai jodohmu sendiri, dan orang itu bukan aku… Mungkin kita saling mencintai, namun takdir tak akan memihak kita.”

***

Sangrin menatap foto berpigura blue sapphire yang terletak di meja kerjanya. Foto berisi dirinya sendiri dengan V sign dan senyum ceria serta satu lelaki dengan postur jangkung dan senyum berlesung pipinya yang sangat manis. Ia dan Kyojin.

Pandangannya beralih ke sebuah paket. Paket yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Paket terakhir dari Kyojin. Ia membuka paket itu perlahan. Hatinya masih sangat sakit, bahkan hanya untuk membuka paket saja.

Ia melihat isi paket itu. Hanya sebuah recorder bewarna hitam. Sangrin mengambil recorder itu dan menekan tombol play.

‘Halo, Rin-ah… Apa kabar? Baik-baik sajakah? Ya, jika kau sudah mendengar suaraku, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kau tau, Rin-ah? Hatiku sangat sakit saat melihat kertas tes yang menunjukkan bahwa aku menderita penyakit mematikan ini. Bukan karena takut mati, tapi karena takut kehilanganmu. Kehilangan mawar putihku… Aku akan menyanyikan lagu buatanku yang khusus untukmu. Judulnya “White Rose”. Semoga kamu menyukainya…’

Don’t know why or when, i started love you…

This feeling really make me so happy…

Every time i see you, my heart beat faster…

Are you my White Rose?

My heart is so happy when know that you also love me…

I’m promise myself to make you smile forever…

But, it’s very hard to know that i can’t make it anymore…

I’m still wonder, are you really my White Rose?

We always love each other, even for ten years…

My love will never gone even every second of my life…

I’m just love you and i love you till my heart is stop breathing…

Now, i’m sure…

I’m sure that you’re my White Rose…

Air hujan turun dengan derasnya. Persis seperti apa yang sedang terjadi pada Sangrin saat ini. “Sangrin-ya…!”

Sangrin membuka pintu kamarnya dan dapat melihat ibunya sedang asyik berbicara kepada seorang lelaki yang sosoknya tidak terlalu jelas. “Sini Sangrin-ya… Ibu mau kenalkan seseorang untukmu. Namanya Kim Kyojae.”

Sangrin menatap lelaki itu dan lelaki itu pun balas menatap Sangrin. Ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas sekarang.

Sangrin menutup mulutnya tak percaya. “Kyojin…?! Kenapa kau mirip sekali dengan Kyojin?”

(Flashback End)

“Lelaki yang bernama Kyojae adalah ayah kamu sekarang. Ia meminta ibu untuk memberikan bunga mawar putih setiap tahun disaat hari jadian ibu dan paman Kyojin…” jelas Sangrin pada anaknya.

“Wah… Ayah sangat baik~!” ucap anaknya takjub. “Sudah sampai di kuburan tempat paman Kyojin dikuburkan… Ayo kita pergi!”

END

Happy reading and comment please~~~ ^^


Story : ~The Story Of Young~ (Part 2)

“Calon ayah kita mana, bu?” tanya Myorin disambut anggukan Riwon. “Itu.” tunjuk ibu mereka pada orang yang sedang dipeluk Sangrin, Kyujin, dan Jiwook. “Apa?!” teriak mereka berdua. “Apa kejutan yang ayah ingin berikan kepada kita?” tanya Jiwook, Sangrin, dan Kyujin di lain tempat. “Kalian akan mempunyai ibu baru… Itu!” tunjuk ayah kepada ibu Myorin dan Riwon. Mereka berpandangan kaget. “Apa?!” teriak mereka bertiga.

“KITA AKAN MENJADI SAUDARA…!!!???”

***

Mereka duduk di ruang keluarga rumah Riwon dan Myorin dengan canggung dan diam. Yang bicara hanya ayah dan ibu mereka, namun anak-anaknya hanya larut dalam pikiran mereka sendiri. “Jadi, karena kita sudah resmi menikah tadi pagi, bagaimana kalau kita bulan madu?” tanya ayah dengan ceria. “Ide bagus…!” jawab ibu senang.

“Ayah.. Ibu…” teriak mereka berlima serempak menentang. “Kenapa?” tanya mereka berdua bersamaan. “Masa di usia kalian seperti sekarang, kalian masih mau bulan madu sih?” tanya Riwon dibalas anggukan keempat lainnya. “Apa kalian tak malu?” lanjut Kyujin. “Ya justru bulan muda kami itu tidak akan seperti pasangan muda lainnya, tapi kami akan mengajak kalian juga…” jawab ayah santai. “Lagian kan sebentar lagi liburan panjang…” lanjut ibu senang. “Apa…?! Bersama kami?” tanya Jiwook dengan nada ngeri. “Iya. Bersama kalian semua.” jawab ibu dengan tenang.

***

Sudah seminggu mereka berlima tinggal bersama ayah dan ibu yang baru dengan satu rumah yang juga baru. Mereka berlima masih merasa aneh satu sama lain. Bagaimana tidak? Menjadi saudara secara tiba-tiba? Sangrin dan Myorin yang dulunya sahabat, memang tidak terlalu canggung. Begitu juga Riwon dan Kyujin yang sudah saling kenal. Jiwook juga akrab terhadap mereka berempat.

Yang masih canggung adalah Myorin dan Kyujin serta Sangrin dan Riwon. Mereka yang awalnya baru bertemu dua kali seumur hidup -di taman ria dan kelas- tiba-tiba menjadi saudara tiri? Apalagi mereka saling tertarik kepada satu sama lain. Benar-benar tak disangka mereka bisa menjadi saudara.

Hari ini, mereka berlima ditinggal karena ayah dan ibu mereka harus pergi untuk membeli tiket pesawat bulan madu yang lebih pantas disebut liburan. Sangrin sedang asyik mengobrol ria dengan Myorin dan Jiwook. Kyujin dan Riwon sedang bermain game, permainan yang sangat diminati oleh keduanya, terutama Kyujin.

(Kamar Kyujin)

“Aku sudah lelah, Riwon-ya… Aku ke dapur dulu ya untuk mengambil minum.” kata Kyujin seraya menaruh stick game-nya. “Ya sudah… Aku ke ruang keluarga saja untuk menonton tv.” jawab Riwon santai. “Tapi, nanti sore kita lanjutkan lagi ya, Riwon-ah! Aku sudah tak sabar nih…” kata Kyujin dengan bersemangat. “Dasar maniak game~!” seru Riwon seraya tertawa kecil.

(Ruang Keluarga)

Myorin, Sangrin, dan Jiwook tertawa bersama dengan riang. Mereka sedang membicarakan guru-guru mereka yang sangat ‘killer’. “Kak Sangrin, aku mau minum. Ambilin ya?” pinta Jiwook memohon. “Masa aku yang harus mengambilkan? Memang kau tidak bisa sendiri?” tanya Sangrin kesal. “Biar aku saja deh yang mengambilkan.” kata Myorin menawarkan diri seraya beranjak pergi.

“Jangan kak… Aku tidak mau merepotkanmu. Kak Sangrin saja yang aku repotkan.” tolak Jiwook tak enak hati. “Apa maksudmu, Jiwook-ya???!!!” teriak Sangrin sembari menjitak kepala Jiwook. “Tidak apa-apa. Kau kan sudah jadi adikku juga mulai saat ini…” jawab Myorin sembari berjalan ke dapur.

(Di Dapur)

Kyujin sedang asyik meminum air mineral di kulkas. Myorin datang dan langsung mengambil gelas untuk Jiwook. “Permisi, kak. Aku mau mengambil air.” kata Myorin seraya tersenyum malu. Kyujin pun terkaget saat tiba-tiba melihat Myorin di depannya. “Ba-baiklah.” jawabnya dengan gugup. Myorin langsung mengambil air, sedangkan Kyujin memandangnya seraya minum.

Saat selesai mengisi air, Myorin langsung beranjak keluar dari dapur. Bukannya apa, namun jantungnya berdegup kencang sekali. Saking terburu-burunya, Myorin menjatuhkan lap yang tergantung di dapur. Sontak, Myorin langsung mengambilnya. Begitu juga dengan Kyujin. Tangan mereka saling menyentuh dan pandangan mereka bertemu. Jantung mereka berdua semakin berdetak kencang.

(Di Ruang Keluarga)

“Kemana sih, kak Myorin? Lama sekali. Aku akan menyusulnya saja deh…” gumam Jiwook seraya pergi ke dapur. Sangrin yang ditinggal sendiri langsung duduk di sofa dengan ekspresi bosan. Tak lama, Riwon datang dan duduk di sebelah Sangrin. “Aku tidak menganggumu, kan?” tanya Riwon ramah. “Ti-tidak…” jawab Sangrin gugup.

Mereka pun menonton tv dengan asyik. “Ahhh…!” teriak mereka bersamaan saat pemeran tokoh film yang mereka tonton jatuh dari kuda. Mereka pun saling menatap satu sama lain, dan sedetik kemudian, mereka tertawa bersama. “Bodoh!” seru mereka lagi-lagi bersamaan beberapa menit kemudian. Mereka kembali tertawa bersama.

(Di Dapur)

Myorin dan Kyujin masih saling berpandangan, hingga Jiwook datang. “Ka-kalian sedang apa?” tanya Jiwook kaget. “Tidak apa-apa~” jawab mereka kompak. Mereka pun langsung kembali pada posisi masing-masing. “Ini minummu, Jiwook-ya.” kata Myorin sembari memberikan minum ke Jiwook. “Terima kasih, kak~” jawab Jiwook.

Mereka bertiga pun langsung pergi ke ruang keluarga. Bisa terlihat Riwon dan Sangrin sedang tertawa bersama. “Sudah akrab?” tanya Myorin yang lebih tampak seperti ledekan. Mereka berdua yang menyadari sedang diperhatikan langsung menunduk malu. Jiwook menggeleng pelan. “Dasar anak remaja~” gumamnya.

“Apa tadi yang kau ucapkan?” tanya mereka berempat tiba-tiba kepada Jiwook. “Huh? Tidak kok…” jawab Jiwook pura-pura tidak tau. “Kita sudah membeli tiket~! Dan, kita akan liburan di Pulau Jeju!” kata ayah dan ibu tiba-tiba. “Pulau Jeju…?!” teriak mereka bersamaan. “Horeee~!!!” seru mereka dengan lantang. Pulau Jeju adalah pulau paling terkenal di Korea dan banyak sekali turis asing yang pergi kesana. Tentu saja mereka sangat antusias untuk pergi.

***

Hari ini kediaman keluarga Cho dan Choi sedang sangat sibuk. Mereka sekeluarga sedang mengepak barang masing-masing. “Ayo berangkat~!” teriak mereka bersemangat saat sudah siap. Mereka pun pergi ke airport dan naik ke pesawat. “Hua~ Indahnya!” teriak Jiwook senang saat menginjakkan kaki di Pulau Jeju.

Mereka menaruh barang dan memesan kamar di hotel. Setelah itu, mereka langsung pergi ke pantai. Ayah dan ibu mereka tidak ikut karena ingin membereskan barang. Jadi, mereka hanya pergi berlima saja. “Indahnya~!” seru Jiwook lagi-lagi kagum dengan pantai di Pulau Jeju ini. Pasirnya putih dan airnya sangat bening.

Myorin langsung berenang yang diikuti dengan Kyujin. Jiwook sendiri malah bermain pasir dengan senangnya. Sangrin hanya melihat mereka dengan sebuah senyuman di bibirnya. Riwon juga hanya tersenyum kecil seraya berdiri di sebelah Sangrin. Mereka berdua menggelar kain dan duduk disitu. Diam memandangi pemandangan indah di depan mereka.

Sangrin menutup tubuhnya saat merasakan lautan angin mengambur kearahnya. Riwon yang sadar akan hal itu, mencopot jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Sangrin. “Jangan kak, nanti kakak malah kedinginan…” tolak Sangrin. “Sudahlah, pakai saja…” jawab Riwon dengan senyuman manisnya. Tak lama, Riwon merasakan dingin yang luar biasa pula.

“Sudah kubilang kan, kak… Kakak pakai saja jaket kakak.” ucap Sangrin yang mengetahui keadaan Riwon. “Kita pakai berdua saja~” kata Riwon sembari mendekat kearah Sangrin dan memakaikan jaket itu kepada mereka berdua. Riwon menggenggam tangan Sangrin yang dingin dengan tangannya. Mereka pun merasakan kehangatan. Entah memang hangat karena jaket yang dipakai, atau karena pipi mereka yang sudah terbakar sempurna.

(Di Tempat Yang Lain…)

“Tunggu aku…!” teriak Kyujin saat melihat Myorin sudah berenang. “Cepat sedikit, kak!” seru Myorin sembari berenang lebih cepat. “Hei~! Aku kejar kau…” kata Kyujin seraya berenang dengan kecepatan lebih kencang. “Kejar saja jika kau bisa~!” teriak Myorin sembari menaikkan kecepatannya. Mereka berdua berkejar-kejaran di air dengan sangat riang.

Hingga tiba-tiba, kaki Myorin keram. Ia pun tenggelam di dalam air. Kyujin yang sadar akan hal itu langsung menyelamatkan Myorin seraya membawanya ke darat. Myorin tak sadarkan diri. Kyujin yang panik akhirnya memberi nafas buatan untuk Myorin. “Hummfftt~”

Setelah ‘nafas buatan’ yang cukup lama, akhirnya Myorin terbangun sembari terbatuk-batuk. “Tidak apa-apa?” tanya Kyujin khawatir. “Tidak apa-apa… Te-terima kasih, kak.” jawab Myorin malu-malu. “Sama-sama…” kata Kyujin seraya tersenyum. Setelah itu, mereka pun pergi ke tempat dimana Riwon dan Sangrin berada.

Sangrin sudah tertidur sempurna di bahu Riwon. Persis anak kecil yang kelelahan. “Ayo kita kembali ke hotel…” ajak Jiwook yang baru datang. “Biar aku yang menggendong Sangrin.” kata Riwon seraya menggendong Sangrin ke hotel yang tepat di belakang pantai. Kyujin dan Myorin pun jalan berdua ke hotel itu dibelakang Jiwook dan Riwon -yang sedang menggendong Sangrin-.

TBC~

@Readers : Happy reading~ and comment please…!

@Myorin : How, onnie? Wkwkwkwk~



Story : ~Bad Dream Comes True~

Suara kicauan burung membuatku terbangun. Dengan mata yang masih tertutup, aku bangun dan mulai duduk. Suasana musim panas seperti saat ini, selalu membuatku malas untuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba, nada dering handphoneku berbunyi. Aku mendengus kesal dan langsung membuka flip hp-ku.

“Halo…” kataku dengan suara malas-malasan. “Halo…!! Sampai kapan kau mau tidur, nona manis…?” kata suara menggoda yang aku kenal. “Ternyata yang menelepon pacar-ku tersayang… Ada apa, sayang?” tanyaku dengan bersemangat. “Aku merindukanmu…” katanya dengan manja. “Aku juga sangat merindukanmu…” balasku. “Sayang, kita ketemuan yuk… Udah dua bulan nih gak ketemu…” katanya dengan serius. “Boleh… Tapi, dimana?” tanyaku. “Di tempat biasa aja…! Jam dua siang ya. Sampai ketemu, sayang…” katanya sambil menutup telepon. “Sampai ketemu!” jawabku.

Aku pun yang tadinya malas-malasan menjadi bersemangat. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Setelah itu, aku bergegas ke universitasku dengan menggunakan bis. Beberapa jam kemudian, akhirnya pelajaranku selesai. Aku langsung berlari ke tempat biasaku untuk bertemu namjachinguku tersayang.

Oh ya, namaku Lee Sangrin. Aku adalah seorang perempuan asli Korea yang berambut coklat panjang, bermata coklat, dan bertubuh jangkung. Sudah selama hampir satu tahun, aku berpacaran dengannya dan selama dua bulan ini kita tidak bertemu. Hal ini terjadi karena aku yang sedang sangat sibuk dengan jadwal kuliahku yang padat, dan dia yang juga sudah mulai magang sesuai jurusannya. ‘Tempat biasa’ ini sebenarnya adalah sebuah taman dimana kita pertama kali kenalan.

***

(Flashback)

Aku berjalan menuju sebuah taman sekarang. Yah, ini adalah taman yang aku suka. Selain pemandangannya bagus, aku juga dapat menenangkan pikiranku disini. Taman ini berada di seberang jalan raya yang letaknya strategis. Setelah sampai, aku duduk di sebuah bangku. Aku mengambil i-pod dari tasku dan mulai mendendangkan lagu-lagu yang dilantunkan i-podku. Tiba-tiba, aku melihat seorang laki-laki sedang berlari-lari dari taman ke jalan raya dan kemudian ingin menyebrang.

Aku melihat sebuah file terjatuh dari tasnya. Tanpa pikir panjang, aku pun memungutnya dan berlari mengejar lelaki itu. “Tuan…! Tuan…! File anda ketinggalan…!!!” teriakku sembari mengejarnya. Aku berlari hingga di pinggir jalan raya. Lelaki itu sudah menyebrang saat mengetahui filenya terjatuh. Ia pun kembali menyebrang dan berlari kearahku.
“Terima kasih… Untung kau memanggilku. File ini sangat penting bagiku…” katanya dengan nafas yang terengah-engah seraya menunduk sopan. Aku pun ikut menunduk. “Sama-sama…” jawabku sambil tersenyum. “Aku pergi dulu ya…! Aku lagi buru-buru. Sampai jumpa…!” katanya sambil ikut memamerkan senyumannya. Kemudian, ia pergi.

Setelah itu, setiap hari kita selalu bertemu di taman tersebut. Awalnya aku hanya menganggapnya sebatas teman. Tapi, lama-lama perasaanku berkata lain. Aku sudah mulai menyukainya. Matanya, hidungnya, bibirnya, wajahnya, gerak-geriknya, bahkan semua sifat jeleknya membuatku terpesona. Dan ternyata perasaannya sama denganku. Di tahun kedua pertemuan kita, ia menembakku. Hatiku sangat senang saat itu. Rasanya seperti ada malaikat yang membawaku terbang mengarungi dunia.

(End of Flashback)

***

Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya ia datang. Setelah dua bulan tak bertemu, ia tetap terlihat tampan. Aku melihatnya sedang menunggu lampu lalu lintas menjadi merah agar dapat menyebrang. Sekilas matanya menatapku dan melambaikan tangannya kearahku seraya tersenyum. Manis. Kata itulah yang dapat kugambarkan dari senyumannya.

Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berubah merah. Ia pun mulai menyebrang. Tapi, sebuah mobil yang nampaknya tidak menyadari lampu merah, tetap melaju. Dan, mobil itu menubruknya hingga terplanting cukup jauh. Aku
memekik keras. ‘Kenapa ini bisa terjadi? Oh Tuhan, katakan padaku ini hanya ilusinasi belaka…’ batinku dalam hati.

Beberapa orang mulai mengerubunginya. Aku berjalan dengan langkah yang berat menuju kerumunan orang itu. Begitu aku melihat ia tergeletak tak berdaya, aku terduduk. Lututku lemas. Kurasakan air mataku mulai membasahi wajahku. Wajahnya yang memesona, menjadi kaku. Cairan merah membasahi seluruh tubuhnya. Hatiku menjadi sangat sakit. Mungkin rasanya seperti dirajam jutaan pisau yang mengiris-ngiris hatiku.

Perlahan-lahan, dengan tangan yang masih gemetaran, aku menyentuh wajahnya. Senyumanya yang hangat telah sirna dari wajahnya yang mendingin. Aku menutup mataku. Berharap setelah aku membukanya, ia tersenyum riang seperti dahulu. Tapi, itu tidak terjadi. Ia tetap tergeletak tak bergerak.

Aku mulai memberanikan diriku untuk memeluknya. Tangisanku lebih menjadi-jadi. Kulihat puluhan pasang mata memandangiku. Tapi, aku tidak peduli. Aku mulai meneriakan namanya. Aku tau ini percuma, karena sekeras apapun aku berteriak, bahkan hingga pita suaraku tidak berfungsi lagi, ia takkan bangun. Ia akan tetap diam tak berdaya. Tiba-tiba,  kurasakan sesuatu menarikku. Perlahan-lahan, pandanganku kabur.

***

Aku membuka mata. Seulas sinar membuat pandanganku silau. Aku melihat kamar tidurku. Jadi, ini hanya mimpi? Ini benar-benar mimpi yang sangat buruk. Tiba-tiba, nada dering handphoneku berbunyi. Aku sempat kaget. Tapi akhirnya aku mengangkatnya.

“Halo…” sapaku. “Halo…!! Sampai kapan kau mau tidur, nona manis…?” kata sebuah suara yang sangat kukenal. “Ternyata yang menelepon pacar-ku tersayang… Ada apa, sayang?”
tanyaku dengan bingung. “Aku merindukanmu…” katanya dengan manja.

“Aku juga merindukanmu…” balasku tambah merasa aneh. “Sayang, kita ketemuan yuk… Udah dua bulan nih gak ketemu…” katanya dengan serius. “Boleh… Tapi, dimana?” tanyaku. “Di tempat biasa aja…! Jam dua siang ya. Sampai ketemu…” katanya sambil menutup telepon. “Sampai ketemu!” jawabku.

Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, aku mulai bangun dan pergi mandi. Setelah itu, aku berangkat ke universitasku dengan menggunakan bis. Setelah pelajaran selesai, aku berlari ke taman.

Rasanya seperti dèjavu bagiku. Aku pun menunggunya dengan perasaan tidak tenang. Tak lama kemudian, aku melihatnya datang. Sekilas aku melihatnya tersenyum dan melambaikan tangannya. Sekarang perasaanku lebih tidak enak. Lalu lintas sekarang berubah merah. Sebelum ia menyebrang, aku berlari kearahnya dan menyebrang. Aku benar-benar tidak ingin semua mimpi burukku terulang.

Setelah sampai kearahnya, aku bernafas lega. Setidaknya, aku telah menghindari bahaya yang ingin menimpanya. Ia pun tersenyum senang.  “Sayang, kenapa kamu yang menyebrang kemari? Kita kan mau ke taman di seberang sana.” tanyanya bingung.

“Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya bosan kesana. Ayo ke tempat lain.” ajakku sambil berusaha tersenyum. “Yasudah… Kita ke toko es krim dekat sini aja ya? Es krimnya sangat enak lho.” katanya sambil menggandeng tanganku. Begitu sampai ke toko itu, kita membeli es krim dan memakannya seraya duduk di sebuah bangku.

Aku yang sudah tidak tahan langsung memeluknya. “Ada apa, sayang?” tanyanya bingung. “Aku… Aku benar-benar takut kalau kamu kenapa-napa…Aku mencintaimu…. Sangat mencintaimu…” kataku lirih sambil mulai menangis. Setelah tenang, aku menceritakan semua mimpiku. Ia pun tersenyum. “Tenang my lovely Sangrin… Aku tidak akan meninggalkanmu…” katanya sambil memelukku hangat.

Setelah selesai, kita memutuskan pergi ke tempat lain. Tapi, seseorang memanggil kita. “Tunggu…!!! Kamu melupakan kembaliannya…!” teriak seseorang yang ternyata adalah tukang es krim. Ia pun menepuk jidatnya sendiri dan menciumku riang. “Sebentar ya, sayang… Aishhh… Aku memang benar-benar pelupa.” katanya lalu berlari menuju tukang itu. Aku memanggil namanya dengan keras. Tapi, ia sudah berlari. Dan…

BRUKKK….!!!!

Sebuah truk melaju dengan cepat dan membuatnya terplanting keras. Aku benar-benar histeris sekarang.  Aku mendatanginya dan duduk di sampingnya. Rasanya, air mataku telah habis karena mimpi itu. Sakitku masih sama seperti yang kualami di mimpi. Ternyata, takdir memang benar-benar sulit diubah.

Meskipun, aku telah berusaha sebisaku, tetap saja ini terjadi. Selamat tinggal, namjachinguku tersayang. Semoga kau bahagia di alam sana. Tunggulah sebentar lagi. Jika tiba waktunya, aku akan menyusulmu.