Full of inspiration and story

Story : ~Eternity~

***

Seorang anak lelaki yang berusia sekitar 8 tahun dengan kaus dan celana yang kusam, sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah megah. Ia berusaha agar tidak ada orang yang melihatnya dengan bersembunyi di balik tembok dekat pintu tersebut. Anak lelaki itu tampak sangat mengagumi sesuatu yang sedang dipandangnya sejak tadi. Ini dapat dilihat dari bola mata anak lelaki itu yang bersinar dan mulutnya terbuka lebar.

Anak lelaki itu terus menatap sosok yang sama, hingga sebuah suara yang mengejutkan membuatnya kaget. “Untuk apa kau disini, bocah kecil?” tanya seorang pria separuh baya yang ternyata sudah berdiri di belakang anak itu sejak lama. Anak itu menoleh dan langsung membulatkan mata kecilnya. Ia pun berlari secepat mungkin untuk menghindari pria separuh baya tadi.

Ia berhenti setelah merasa sudah berlari cukup jauh, dan mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan. Pria paruh baya tadi sudah pasti adalah ayah dari sosok yang dipandangnya tadi. Sosok anak perempuan yang sedang asyik menari. Anak perempuan itu adalah pujaan hatinya sejak lama. Entah kenapa atau bagaimana, namun setiap ia berada dekat dengan perempuan itu, jantungnya menjadi berdebar dan pipinya selalu merona.

Cinta. Apakah ‘cinta’ yang anak lelaki itu rasakan?

***

Seorang remaja lelaki berusia lima belas tahun sedang berjualan kue dengan seragam sekolahnya yang kusut. Sudah tak terhitung berapa kali ia mengucapkan kata: “Kue… Kue… Siapa mau kue??” secara berturut-turut. Ia berkeliling seraya membawa senampan kue hangat yang ia pegang di kedua buah tangannya yang sudah memerah karena panasnya kue itu.

Ia masih mengagumi anak perempuan yang sekarang juga sudah menjadi wanita remaja yang sangat cantik dan bersinar. Awalnya, memang lelaki itu ingin menyatakan cinta pada wanita pujaannya, namun ia terlalu takut dan malu. Ia sadar ia tidak setara dengan wanita kesayangannya sejak kecil. Wanita itu terlalu perfect untuknya. Cantik, pintar, kaya, dan berbakat. Sungguh tidak sama dengan keadaannya sekarang. Bahkan, sekarang wanitanya itu, kabarnya telah pindah keluar kota.

Ia sedang menyebrang jalan sebelum sebuah mobil berjalan tepat di depannya.

Ciiiiit…………!

Beruntung, mobil mewah berwarna hitam itu dapat mengerem dan berhenti tepat di depan remaja itu. Namun, naas pemuda itu pingsan saking terkejutnya diiringi dengan jatuhnya semua kue-kue yang daritadi ia pegang.

Ia membuka matanya dengan perlahan.

Ia bisa merasakan sedang tiduran di kasur yang amat empuk dan kamar yang sangat megah. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Hanya sebuah kalimat tanya yang terngiang di otaknya, “Dimana ini?” Ia mencoba untuk bangun tetapi kepalanya terlalu berat untuk bangun. Ia pun memutuskan untuk kembali tiduran.

Tak lama, seorang pemuda yang jauh lebih tampan, tinggi, dan berpenampilan ‘mewah’ masuk ke kamar yang ditempati lelaki tadi. Lelaki yang sedang tiduran itu menoleh singkat dan otaknya kembali merespon sebuah kalimat tanya: “Siapa dia?” Ia mencoba untuk bangun kembali dengan membuat kesimpulan bahwa ‘pemuda ini adalah pemilik rumah megah yang sedang ditempatinya’.

“Tidak usah bangun… Tiduranlah lebih lama. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu.” kata pemuda itu dengan ramah sembari tersenyum manis.

“Kau…siapa?” tanya lelaki yang sedang tiduran seraya mengerenyit.

“Aku? Oh, aku yang hampir menabrakmu tadi… Namaku Han Eunjae. Maafkan aku soal yang tadi.” jawab pemuda itu dengan sangat sopan seraya menunduk. “Tidak apa-apa, Eunjae-ssi. Aku juga kurang hati-hati. Namaku Lee Daehwa… Terima kasih sudah menolongku.” kata lelaki itu ikut menunduk. “Jangan panggil aku dengan ‘ssi’, panggil saja aku dengan ‘ah’ atau ‘ya’… Dan, sama-sama, Daehwa-ya.” pinta pemuda itu dengan ramah.

“Ok, Eunjae-ya… Sudah ya, aku mau pulang. Orang tuaku pasti khawatir jika sampai sekarang aku belum pulang. Sampai jumpa~” pamit Daehwa kepada Eunjae.

“Tunggu…! Ini, akan aku ganti semua kue-kuemu yang tadi terjatuh.” kata Eunjae seraya mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang.

“Tidak usah… Aku kan juga salah, Eunjae-ya.” tolak Daehwa dengan halus.

“Tapi…”

“Sudahlah, aku benar-benar tidak apa-apa…” lanjut Daehwa memotong perkataan Eunjae. Ia langsung membawa tas dan nampannya sembari berjalan keluar kamar.

“Tunggu…! Bolehkah aku tau alamatmu? Aku ingin berteman denganmu. Apa boleh?” tanya Eunjae hati-hati.

Daehwa menoleh dan dapat melihat pemuda yang lebih tinggi didepannya sedang menatapnya dengan ekspresi memohon. Ia tercengang. Ia benar-benar tidak percaya pemuda yang ada di hadapannya ini memintanya menjadi teman.

“Ten…Tentu saja boleh. Ini.” jawab Daehwa seraya menulis alamatnya di selembar kertas hasil sobekan bukunya.

“Terima kasih, Daehwa-ya…!”

***

Sudah tahun kedua, Daehwa dan Eunjae menjadi teman. Mereka sekarang adalah sahabat. Bahkan, lebih dari sahabat.

Eunjae sudah banyak membantu Daehwa dalam segala hal. Mulai dari per-ekonomian Daehwa yang buruk, hingga dalam sosial dan segalanya. Hal ini membuat Daehwa sangat merasa beruntung dapat mengenal dan mempunyai sahabat seperti Eunjae. Eunjae sendiri sangat bahagia bisa mempunyai sahabat seperti Daehwa. Ia memang banyak mempunyai teman lain, tapi hampir semua temannya hanya ingin berteman dengannya karena ‘tampang’ dan ‘harta’. Dan, hanya Daehwa lah yang tak pernah mementingkan masalah itu.

Daehwa berlari dengan terburu-buru menuju ke kelas dan duduk di sebelah Eunjae yang sedang asyik bersenandung pelan. Yah, sejak pertemanan mereka, Eunjae membantu Daehwa untuk sekolah di tempatnya. Awalnya, memang Daehwa menolak, namun karena dorongan Eunjae, akhirnya ia menyetujuinya.

“Pagi, Eunjae-ya…” sapa Daehwa dengan ramah seraya menaruh tas dan duduk di kursinya. “Pagi, Daehwa-ya… Tidak biasanya kamu datang jam segini? Biasanya kau pasti pergi ke sekolah lebih pagi dariku. Ada apa?” tanya Eunjae sedikit penasaran.

“Tidak apa-apa…”

“Sudahlah Daehwa, jangan berbohong… Sudah dua tahun aku mengenalmu dan aku sudah tau pasti sifatmu.” kata Eunjae seraya cemberut.

Daehwa terkekeh. “Tampaknya, aku sudah tak bisa berbohong padamu, Eunjae-ya… Baiklah, akan kuceritakan, pagi ini aku menolong ibuku dulu untuk berjualan di pasar.”

Sebelum Eunjae bisa berbicara atau Daehwa sempat melanjutkan, bel sekolah berbunyi. Guru masuk dilanjutkan seorang…wanita?

“Perhatian, anak-anak… Kita kedatangan murid baru. Ayo, perkenalkan dirimu.” terang guru seraya tersenyum kepada wanita di sebelahnya. Murid wanita itu mengangguk dan mulai memandang semua murid yang ada di hadapannya dengan percaya diri.

“Halo, namaku Park Heena. Aku murid pindahan Daegu. Dulu aku memang sekolah di Seoul, tapi aku pindah ke Daegu karena ayahku harus berpindah tempat kerja… Salam kenal dan mohon bantuannya~” kata murid wanita itu dengan senyum manisnya yang berhasil membuat banyak orang terpesona.

“Terima kasih, Heena. Silahkan duduk di sebelah situ…” kata guru sembari menunjuk ke tempat duduk yang tepat di sebelah kanan Daehwa dan Eunjae.

Eunjae melihat Daehwa sedang menatap wanita itu dengan seksama dan tersenyum serta berbisik ke telinga Daehwa. “Murid baru itu lumayan kan, Hwa?” tanya Eunjae yang lebih mengarah pada ‘meledek’. Daehwa yang sadar langsung menjitak kepala Eunjae pelan. “Nanti aku ceritakan padamu setelah jam pulang…” gumamnya sebelum mulai mencatat pelajaran.

Kring…………

Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid spontan bersorak karena sudah sangat bosan dengan pelajaran IPS yang diberikan. Daehwa dan Eunjae menutup buku mereka dan bergegas pulang. Saat Daehwa mau melangkahkan kakinya, Eunjae menahan tangannya.

“Katanya mau menceritakan sesuatu tadi…” kata Eunjae dengan manja.

“Baik, tapi jangan tertawakan aku ya?” balas Daehwa dengan pandangan menyelidik, yang tentu saja dibalas anggukan Eunjae.

“Aku sudah lama menyukai Heena… Dulu, rumahnya tepat berada di depan rumahku dan aku sering mengamatinya dari jauh. Tapi, aku tak berani berkenalan apalagi menyatakan perasaanku karena, ya kau taulah, aku ini tidak setara dengan Heena.”

Eunjae diam sejenak, tapi semenit kemudian, ia tak bisa menahan tawanya lagi. “Huffft… Hahahahahahahaha~” tawa Eunjae yang membuat lesung pipinya terlihat dengan jelas.

“Tuh ya kan, aku di tertawakan… Sudahlah.” balas Daehwa seraya pergi.

“Tunggu…! Maafkan aku, Daehwa-ya. Aku akan berhenti tertawa. Dan, aku akan memecahkan masalahmu. Tenang saja…” kata Eunjae sembari tersenyum ringan.

“Apa maksudmu? Memecahkan masalahku?” tanya Daehwa bingung.

“Ayo kita pulang… Serahkan masalahmu padaku.”

Esoknya, Daehwa datang ke sekolah dilanjutkan oleh Eunjae yang datang tentu saja dengan mobil. “Mau kemana kau, Jae?” tanya Daehwa saat melihat Eunjae berjalan ke meja Heena yang baru datang. Eunjae hanya membalasnya dengan mengedikan sebelah matanya.

Tak lama kemudian, saat Daehwa sedang asyik belajar untuk ulangan hari ini, dua orang datang mendekat kearahnya. “Daehwa-ya…” panggil Eunjae dan Daehwa pun menoleh. Ia tercengang.

Dua orang itu adalah Eunjae dan…Heena?

“Kenalkan, ini adalah Lee Daehwa, sahabatku sejak dua tahun yang lalu. Dan Daehwa, ini adalah Park Heena…” jelas Eunjae seraya tersenyum lebar.

“Halo, Daehwa-ssi…”

“Halo juga, Heena-ssi…”

Eunjae mengerutkan dahinya saat melihat pemandangan kaku mereka berdua. Eunjae menghela nafasnya dan langsung mengenggam tangan Heena dan Daehwa, dan menyatukannya agar mereka bersalaman.

Heena tersenyum tipis dan Daehwa memandang Eunjae dengan tatapan membunuh. Eunjae hanya bisa terkekeh pelan seraya menggaruk-garukan kepalanya.

Bel berbunyi dan seketika Daehwa dan Heena melepaskan salaman mereka dan kembali ke tempat masing-masing. Eunjae terkekeh melihat pemandangan itu. Dasar dua orang itu… Malu-malu tapi mau, batin Eunjae dengan tawa renyah.

Setelah bel pulang berbunyi, Eunjae langsung menarik Daehwa ke meja Heena. “Heena-ya… Daehwa-ya… Besok aku tunggu ya jam 09.00 di jembatan dekat sekolah. Sampai ketemu besok~” kata Eunjae seraya berlari kabur.

“Eunjae-ya…!” teriak mereka bersamaan.

“Aishhhh…” keluh mereka yang ternyata juga bersamaan.

Mereka pun saling memandang dan tersenyum malu satu sama lain. “Sampai jumpa, Daehwa-ssi…” sapa Heena dengan canggung. “Err, sampai jumpa…” balas Daehwa dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.

***

Pagi ini langit berawan dan cuaca sedikit mendung, berbeda dengan perasaan Daehwa yang sangat amat senang. Ia memakai pakaian terbagus yang ia punya dan berdandan rapi. Bahkan, ia memakai parfum yang diberikan Eunjae sebagai oleh-olehnya ke Perancis. Ia terus mengamati jam tangannya yang ia beli di pasar. 08.39. Sebaiknya, ia pergi sekarang.

Daehwa menutup pintu rumahnya dan langsung bergegas menuju jembatan dengan motor bekasnya. Ia menelusuri berbagai pepohonan dan rumah hingga akhirnya sampai di jembatan itu. Ia berdiri di tepi jembatan kayu sembari memandangi sungai biru yang sangat indah. “Daehwa-ssi…”

Daehwa menoleh dan langsung tercengang.

Seorang perempuan, dengan rambut hitam panjang bergelombang yang terbang terkena angin, dengan mata yang indah dan bulu mata yang lentik, hidung dan bibir yang mungil namun runcing, kulit mulus dan putih bersih, dengan pakaian serba putih, berada di hadapannya.

“Heena-ssi…” balasnya dengan susah payah. Entah kenapa, lidahnya seakan kelu hanya untuk berbicara.

“Dimana Eunjae-ya? Kenapa ia belum datang?”

Seketika tubuh Daehwa yang sedang ‘terbang tinggi’ terjatuh dengan keras. Kenapa ia malah menanyakan Eunjae? Namun, ia berusaha keras menghilangkan rasa pesimis dalam dirinya dan tersenyum kecil.

“Iya nih, padahal kan dia yang menyuruh kita datang kesini… Sekarang, malah hilang ditelan bumi.”

Byurr….

Petir menggelegar dan hujan pun turun dengan derasnya. Daehwa langsung membuka jasnya dan menadahkannya keatas kepala Heena dan dirinya sendiri. Mereka berdua berlari ke tempat yang aman dan kebetulan tempat itu adalah teras rumah kayu kecil yang juga sangat kecil. Mereka pun terpaksa sempit-sempitan dan tak sengaja saling menatap. Jarak wajah mereka sangat dekat sekarang.

“Errrr, Daehwa-ssi…?”

“I-Iya, Heena-ya?” tanya Daehwa dengan tatapan yang tak lepas dari Heena.

“Aku kedinginan”

Daehwa diam sejenak. Akhirnya, ia mendekati tubuh Heena lebih dekat dan mulai memeluk tubuh mungil Heena. Heena tercengang, namun ia tak kuasa melepas ataupun menepis Daehwa.

Daehwa tersenyum kecil saat tak lama kemudian Heena tertidur di pelukannya. Ia menatap wajah Heena yang sedang tertidur dengan dalam dan mengecup keningnya dengan hangat.

Tak sadar, selama ini mereka berdua sedang diperhatikan oleh seseorang. Seseorang yang ternyata adalah Eunjae. Eunjae menatap mereka dengan senyuman pahit. Di satu sisi, ia merasa turut bahagia dengan rencananya yang berhasil seratus persen, namun disisi yang lain, hatinya merasakan sakit yang luar biasa.

***

Hari ini tepat tiga tahun Daehwa, Eunjae, dan Heena menjadi sahabat dekat. Mereka sangat akrab dan bahagia. Walaupun, sebenarnya terjadi sebuah cinta rumit diantara mereka bertiga.

Daehwa menatap cermin dengan seksama, setelah yakin penampilannya sudah rapi, ia langsung mengunci rumahnya, mengambil sebuket bunga dan mengendarai motor bekasnya sejak SMA. Ia berhenti di sebuah teras rumah dan kebetulan bertemu dengan seseorang.

“Bibi…!” panggil Daehwa saat melihat pembantu rumah Heena. “Tuan muda Daehwa… Mau mencari nona Heena? Masuk saja, tuan muda Eunjae juga sudah ada di dalam. Mereka ada di taman belakang rumah…” jelas bibi dan Daehwa pun terkejut. Eunjae…ada di dalam? batin Daehwa bingung.

Daehwa masuk dan bergegas ke taman belakang rumah Heena yang sangat megah. Begitu sampai, ia melihat pemandangan yang sungguh tak biasa hingga mulutnya terbuka lebar.

Air matanya mengalir. Ia tak percaya bisa melihat ‘adegan’ ciuman Eunjae dan Heena di depan matanya sendiri. Padahal hari ini ia baru saja ingin menyatakan cintanya pada Heena.

“Eunjae-ya, aku benar-benar tak percaya kau bisa melakukan ini semua…! Aku pikir kau benar-benar sahabatku! Kau…Kau keterlaluan!!!” teriak Daehwa dengan kesal seraya berlari.

Daehwa berlari secepat mungkin. Eunjae mengejarnya sekuat tenaga. “Daehwa-ya…! Tunggu aku. Ini bukan seperti yang kau lihat…!!!”

Daehwa terus berlari. Hingga sebuah mobil berjalan tepat di depannya. Membuatnya ber-dejavu. Ia menutup matanya pasrah. Namun, ia merasa tubuhnya didorong. Ia membuka mata dan dapat merasakan lengannya terluka.

Ia menghadap ke belakang dan melihat banyak orang sedang mengerubungi sesuatu. Disitu bahkan ada Heena juga. Ia sedang menangis sesenggukan.

Daehwa berjalan mendekati kerumunan itu dengan pelan. Otaknya menangkap sebuah dugaan, namun hatinya mencoba menepisnya jauh-jauh. Setelah mendekat, ia bisa melihat jelas seseorang lelaki bertubuh jangkung dan tampan sedang terbaring tak berdaya dengan darah dimana-mana.

Lututnya lemas seketika. Ia pun terjatuh dengan air mata berjatuhan.

“HAN EUNJAE…!!!”

***

Daehwa sedang menatap matahari terbenam di depannya. Ia duduk di taman. Ia tak sepenuhnya konsentrasi pada pemandangan indah di depannya. Perkataan Heena masih terekam jelas di kepalanya.

“Eunjae tak pernah selingkuh padamu, Daehwa-ya… Jujur, aku sangat mencintai Eunjae dan Eunjae pun sangat mencintaiku, namun kita berusaha menahan perasaan agar kau tak terluka. Ciuman yang kau lihat, hanya ciuman pertama dan terakhir sebelum kita benar-benar memendam perasaan kita… Dan, ini semua kita lakukan demi kau. Justru, Eunjae adalah orang yang paling tersiksa. Ia berusaha menjodohkanmu padahal disisi yang lain, hatinya menangis, Daehwa… Maaf, jika kau masih tak bisa memaafkan kita. Awalnya aku ingin marah padamu, namun aku yakin Eunjae tidak akan marah dan dendam padamu. Karena ia selalu menganggapmu sebagai sahabat sejatinya…”

Daehwa merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia, dipenuhi oleh dengki dan rasa cemburu. Dan, betapa bodohnya dia. Eunjae yang begitu baik padanya malah tak ia percayakan.

Ia mengambil sebuah kertas dan mulai menulisnya.

Eunjae-ya,

Apa kabarmu disana? Apakah baik-baik saja? Pakailah pakaian tebal, sebentar lagi akan musim dingin, aku tak mau kau sakit. Kau tau, hatiku sangat menyesal sekarang. Coba waktu itu aku mau mendengar dan percaya padamu, mungkin hal ini takkan terjadi. Mungkin kau masih disini sekarang, bersamaku. Bukan disana, di dunia yang sangat jauh dariku. Maafkan aku, Eunjae-ya… Maafkan aku… Salahkan aku dan dendamlah padaku jika kau mau. Yang aku bisa katakan padamu sekarang:

Terima kasih atas semua hal yang pernah kau lukiskan dalam kehidupan kelamku, Eunjae…

Sahabatmu sekarang dan selamanya, Lee Daehwa.

Note : Tunggulah aku disana, Eunjae-ya… Aku akan menyusulmu sebentar lagi. ^^

Daehwa melipat kertas itu dan menjadikannya perahu-perahuan. Ia berjongkok dan menaruh perahu itu diatas air sungai. Ia tersenyum saat melihat perahu kertas itu sudah pergi menjauh. Menjauh bersamaan dengan sosok sahabat terbaiknya sepanjang masa, Eunjae.

FIN

N.B : Cerita ini aku persembahkan untuk semua sahabat di dunia… ^^

Advertisements

Comments on: "Story : ~Eternity~" (18)

  1. crt yg bgs.
    tp, onnie jyu rin dan aq
    pesan, jgn romance trs!
    nb:onnie jyu rin minta, posisi leeteuk dignt ama eunhyuk)

  2. Kyaaa~ nyesek,, Xp
    bgus christ,, cuman onn rada bingung ama ending.a, itu daehwa ikutan metong ?? Huaaa mian christ >,<

  3. annyeong
    i’m back to read your fanfict.. kekeke #gapen
    huaaaaah knp endingnya kyk ngambang yah.. ckckckc
    pa ntar daehwa nyusul eunjae kah? *mikir geje
    hehehe
    keren…

  4. Gomawo onn~
    Welcome back to my blog…
    ^^

  5. crita nya menyedihkan..
    eunjae baek bgt deh >.<
    nice story πŸ˜€
    oya, lam kenal ya..
    ak yessie ^^

  6. kimhyeobin said:

    Chris seneng banget ngebunuh orang
    Wkwkwkwk *plakk

    Itu si eunjae, kalo emang sk ngapain ngjodohin?
    Pabooo~ *plakk lagi

  7. kimhyeobin said:

    Chris dewasa sekaleeee
    Pasti gara2 won2
    Makanya, chris, jangan sama om2 *disambit won

  8. *lempar chris pake sendal

    Chris, bikin ff tentang kyu dong
    Yg happy ending
    Yg ada married2nya
    Hahahaha

  9. Haha
    Dasar dongsaeng kurang ajar main lempar2 aja
    Jangan lupa, aku mau ikutan nampang
    Hahaha

    Chris, masa aku jadi sk kyu

  10. Sebenernya rada bingung juga nieh sama Endingnya…
    Tapi tetep keren koq…. Hehehehehehehe

    Eh tapi itu….
    Daehwa nya mati juga gitu?? Atau ga? Tapi dia ntar bakalan nyusul ci Eunjae nya gitu?/ *Maksud??* Hehehehe

    Daebak dah Chris…
    Onn suka.. Hohohohoho ^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: