Full of inspiration and story

Pagi ini, sepulang kuliah semester satuku, aku berjalan santai menuju rumahku yang memang cukup dekat dengan kampusku. Jarak antara kampus dan rumahku hanya berbeda 1 meter. Seperti biasa, aku melewati sebuah taman yang berisi bunga-bunga indah dan selalu penuh oleh pengunjung. Karena ingin menikmati musim semi, aku pun memutuskan untuk duduk sejenak di taman ini. Aku duduk di salah satu kursi dan memutuskan untuk mengerjakan beberapa tugas kuliahku. Tiba-tiba, suara gesekan biola terdengar. Aku langsung menoleh ke sumber suara dan bisa melihat seorang pemuda seusiaku sedang memainkan biolanya di taman yang sama.

Di sekelilingnya, banyak anak-anak bahkan orang tua yang menonton. Ia memainkan biola putihnya dengan sangat hebat seraya mendendangkan lagu dengan suara yang amat bagus. Aku, yang memang pecinta seni apalagi seni musik, pun memerhatikannya dengan seksama. Wajahnya yang manis dan tampan serta tubuhnya yang tinggi dan ramping, membuatku teringat akan seseorang. Kepiawaiannya dalam bermain biola dan bakat menyanyinya juga sangat mirip dengan seseorang. Apakah dia? Aku bergegas bangun dan melihat lebih dekat kearah pemuda tersebut. Tak sadar, aku memandangnya hingga permainannya selesai.

Setelah selesai, ia bergegas pergi, namun aku menarik tangannya. “Tunggu…!” teriakku kepada pemuda pemain biola itu. Ia pun menoleh. “Ada apa?” tanyanya dengan sopan walaupun tampak bingung. “Oh… Tidak. Aku hanya ingin bilang permainan dan suaramu bagus.” kataku dengan gugup. Ia pun tersenyum sangat manis. “Terima kasih…” jawabnya singkat sembari langsung pergi. Aku masih terpaku melihat pemuda itu. Apakah ia benar-benar…? Tapi, tampaknya bukan. Tidak mungkin, pasti hanya wajah mereka saja yang mirip.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumahku. Baru saja memasuki rumah, ayah dan ibuku langsung menyuruhku ke ruang keluarga untuk membicarakan sesuatu yang ‘penting’. “Ada apa, ayah, ibu?” tanyaku penasaran. “Kau tau kan perusahaan ayah sedang krisis? Ini sebabnya ayah akan menjodohkanmu dengan anak sahabat ayah yang tentunya lebih sukses dari ayah.” jelas ayah. Aku membuka mulutku tak percaya. “Apa?! Ayah menjualku pada anak sahabat ayah?” tanyaku dengan memberi penekanan pada kata ‘menjual’ dan ‘anak sahabat ayah’.

“Bukan ‘menjual’, tapi ‘menyelamatkan’ keluarga kita… Please, Miko. Nasib keluarga kita ada di tanganmu sekarang.” kata ibu mengoreksi. Mata ibu sudah berair, membuatku tidak tega untuk menolak. Tapi, tetap saja ini tidak adil bagiku. Aku kan berjanji hanya akan menikahi sahabat kecilku waktu TK dulu. Bahkan, ia sudah memberiku sebuah kalung. Walaupun hanya kalung yang terbuat dari plastik, namun aku tau ia sangat tulus waktu itu. Pikiranku tiba-tiba terlintas pada kenangan paling indah yang kualami.

***
(12 years ago)

Aku sedang membuat istana pasir di pantai bersamanya. Bersama sahabat kecilku. “Aku mau pergi kesana dulu ya… Sebentar lagi aku kembali.” kata Kyota, sahabat kecilku itu. Aku mengangguk dan meneruskan pekerjaanku membuat istana pasir. Tiba-tiba, ia kembali dengan kedua tangan disembunyikan ke belakang. “Apa yang kau bawa, Kyota?” tanyaku penasaran. “Maukah kau menikah denganku, Miko?” tanyanya dengan polos sembari memakaikan sebuah kalung bewarna-warni yang sangat indah.

“Kyota…kita kan masih terlalu kecil.” kataku seraya cemberut. “Baiklah, 12 tahun yang akan datang nanti, aku akan melamarmu dan menikahimu, Miko…!” katanya dengan ceria. “Janji?” tanyaku. “Janji…! Kau juga janji ya.” jawabnya disambut anggukanku. “Janji!” balasku dengan tegas. “Ayo, kita main lagi, calon istriku…!” ajaknya dengan senyuman manis yang selalu melekat pada bibirnya. “Ayo!” jawabku. Ia pun menggandengku untuk bermain pasir di pantai indah ini.

***

Aku memegang dengan erat kalung pemberian sahabat kecilku itu. Kalung indah yang sampai detik ini masih ada di leherku dan tidak pernah kulepas, bahkan untuk tidur atau mandi sekalipun. Tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung berlari. Berlari sejauh mungkin tanpa tau mau kemana. “Miko…!!!” teriak ayah dan ibu, namun aku tak memedulikan mereka. Air mataku jatuh membasahi habis seluruh permukaan wajahku. Tanpa sadar, aku berlari ke taman dan kemudian duduk disitu. Aku masih menangis. Mungkin menangis adalah hal satu-satunya yang kubisa sekarang.

“Butuh saputangan…?” tanya seseorang sembari menyodorkan saputangannya kearahku. Aku mendongak dan dapat melihat seorang pemuda yang adalah pemain biola itu sedang berdiri tepat di hadapanku. “Kau…perempuan yang tadi?” tanyanya terkejut. “Kau…pemain biola itu?” tanyaku balas bertanya dengan ekspresi yang juga terkejut. Ia duduk di sebelahku seraya mengelap semua air mataku. “Kenapa kau menangis?” tanya pemuda itu dengan santai. “Aku dijodohkan oleh ayah dan ibuku dengan seseorang yang bahkan tak kukenal… Padahal, aku sudah punya lelaki lain di hatiku.” jelasku padanya.

Aku tidak tau darimana atau mengapa aku bisa menceritakan hal pribadi kepada orang asing seperti ini. Namun, entah mengapa, ia tampak tidak seperti orang asing bagiku. Seperti biasa, ia tersenyum. “Lelaki lain? Maksudmu, pacarmu?” tanyanya dengan bingung. “Bukan… Tepatnya sahabat kecilku dulu.” jawabku seraya mulai tersenyum. Ia sedikit terkejut sembari menaikan alisnya. “Sahabat kecilmu?” tanyanya dengan nada aneh. “Pasti bagimu itu kekanak-kanakan kan? Tapi, ya, aku mencintai sahabat kecilku dulu. Ia sendiri sudah melamarku dan berjanji akan menikahiku… Sayangnya, aku tidak pernah menemukannya lagi setelah ia pergi ke Swiss untuk belajar seni disana.” lanjutku dengan cemberut.

“Kau dilamar olehnya?” tanya pemuda itu lagi. “Iya, aku diberikan sebuah kalung olehnya.” jawabku yakin. “Apakah kalung itu kalung plastik bewarna-warni yang diberikan padamu di pantai?” tanyanya yang sangat mengejutkanku. “Bagaimana kau bi… Tunggu, jangan-jangan kau?” kataku dengan terkejut. “Iya…! Aku Kyota. Kau…Miko?” tanyanya dibalas anggukanku. “Ya, aku Miko! Jadi, kaulah ‘calon suamiku’?” tanyaku dengan bersemangat. Ia mengangguk.

“Aku sengaja datang dari Swiss untuk melamarmu, sesuai dengan janjiku dulu.” katanya dengan senyuman. “Tapi…aku…akan segera dijodohkan.” kataku dengan wajah lebih cemberut. “Jangan khawatir. Terima saja perjodohanmu…” katanya dengan santai. “Kenapa? Apakah kau tidak mau menikahiku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. “Bukan, ah, sudahlah, nanti kau akan tau sendiri… Pokoknya, terima saja perjodohanmu. Selamat tinggal, Miko…! Aku akan bertemu denganmu lagi besok di tempat yang sama.” katanya seraya pergi. “Hei~ Kyota, tunggu!” teriakku, namun ia sudah terlanjur pergi.

Dengan tanda tanya besar yang masih terdapat pada otakku, aku pun bergegas untuk pulang. “Bagaimana keputusanmu, Miko? Maafkan ayah dan ibu, Miko… Kita tidak mau kau sedih, tapi kami sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. ” kata ayah. “Tidak, yah, bu… Aku terima perjodohanku.” jawabku seraya langsung masuk ke kamar. Aku masih bingung dengan semua ini. Kenapa Kyota malah menyuruhku menerima perjodohan? Apa yang sedang direncanakannya?

Esoknya, setelah pulang kuliah seperti biasa, aku kembali mengunjungi taman itu. Disana, sudah ada Kyota yang sedang bermain biolanya dengan hebat. Setelah menunggu sampai selesai, ia pun mendatangiku. “Miko…!” teriaknya seraya duduk di sebelahku. “Halo, Kyota…! Oh ya, aku sudah menyetujui perjodohanku, tapi memang apa yang kau rencanakan?” tanyaku bingung. “Bagus… Dan, lihat saja nanti, kau juga akan tau.” jawabnya sembari tersenyum kecil. “Tapi, kata ayah aku dijodohkan seminggu lagi, lho…! Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?” tanyaku masih ragu. “Percayalah padaku, Miko.” katanya yang membuatku lebih tenang, walaupun tetap saja rasa penasaran masih bersarang dalam kepalaku.

Selama seminggu, aku dan Kyota menjadi lebih dekat. Kita melakukan semuanya dan jalan-jalan layaknya sepasang kekasih. Rasa penasaranku tentu saja masih ada, namun aku tidak mempersalahkannya lagi. Aku percaya padanya sepenuh hatiku. Hari ini adalah sehari sebelum pernikahanku dengan…dengan seseorang yang bahkan tak kukenal. Yang kutau dari ‘calon’ suamiku, hanya ia adalah anak dari sahabat ayahku. Aku merenung dalam kamar. Sebenarnya, apa sih yang ada di pikiran Kyota? Kenapa dia menyuruhku mengiyakan perjodohan ini? Apakah ia benar-benar yakin akan berhasil? Suara dering ponselku berbunyi. Aku pun melihatnya.

From : Kyota~mylove

Halo, Miko…
Malam ini, temui aku di taman biasa ya?
Jam 19.00…
Love you, Miko…! ^,^

Aku menatap ponselku seraya tersenyum kecil. Apakah ini artinya Kyota mengajakku kencan? Aku langsung bersiap-siap mengingat waktu yang sudah menunjukan pukul 17.00. Selesai mandi dan berganti baju, aku langsung pergi ke taman itu. Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat taman sudah gelap. Bahkan, tak ada lampu jalan yang menerangi. Kemana Kyota? Apakah ia lupa akan janji kita? Semua pertanyaanku terjawab saat mendengar sebuah suara. Sebuah suara yang amat merdu. Suara gesekan biola.

Aku membalikan badanku dan melihat seseorang lelaki sedang menggesekan biola putih dengan sangat merdu. Lampu jalan dan lampu taman yang berkelap-kelip pun menyala. Aku termenung menyaksikan semua keindahan itu. Perasaanku tercampur-campur sekarang, antara bahagia, kagum, bangga, dan takjub. Lelaki itu mendekatiku dengan perlahan sembari menggesekan biolanya dengan indah. Sangat dekat hingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Lelaki dengan rambut hitam kecoklatan, kulit putih mulus, mata yang bersinar, hidung yang runcing, bibir yang mungil dan bewarna merah tomat. Pesona dan semua yang ada didalamnya membuatku tergila-gila.

Pakaiannya yang serba putih dan senyuman tipis yang terukir di bibirnya membuatku terpaku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan harum. Aku menatap mata hitamnya yang sangat pekat dan indah, yang dibalas dengan tatapan dalamnya padaku. “Miko…” panggilnya dengan pelan dan lembut. “Kyota…” balasku padanya dengan pandangan masih penuh dengan rasa kagum. “Kau…kau sangat tampan.” lanjutku seraya mengelus poninya yang halus. “Kau juga sangat cantik, Miko…” jawabnya sembari memperlebar senyumnya yang makin membuatku terpesona.

“Ayo jalan.” ajaknya seraya menggandeng tanganku menuju suatu tempat dengan berlari. “Mau kemana?” tanyaku dibalas kebisuannya. Aku pun memutuskan untuk diam dan pasrah ditarik olehnya. Ia berhenti di sebuah gedung. Ia membawaku ke lantai tertinggi dan akhirnya dinaikan ke kereta gantung. Aku memandang kerlap-kerlip bangunan-bangunan yang ada di bawahku dengan mata berbinar-binar. “Indah…” gumamku sembari menikmati semua keindahan ini. Ia kembali tersenyum. Tangan kanannya yang hangat menggengam tanganku dengan erat.

Ia memberi isyarat untuk menyenderkan kepalaku ke bahunya. Masih dengan genggaman erat tangannya dan posisiku yang kini menyenderkan kepalaku ke bahunya, benar-benar membuatku nyaman. Entah darimana, air mataku mengalir tiba-tiba. Ia yang merasakan itu, menatapku dengan pandangan bingung. “Kenapa kau menangis?” tanyanya dengan ekspresi kebingungan. “Aku…Aku hanya takut semua peristiwa indah ini hanya menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa kualami lagi setelah hari esok tiba.” jawabku jujur. Aku takut. Sangat takut. Takut jika besok aku akan benar-benar dinikahkan dengan orang lain. Takut jika aku tidak akan bisa lagi bersama Kyota.

Ia langsung memelukku dengan erat. Memberi sensasi kehangatan dan ketenangan. “Jangan khawatir, besok pasti menjadi hari terindah dalam hidupmu…” bisiknya dengan lembut. Aku mengangguk kecil. “Terima kasih, Kyota…” kataku kepadanya. “Aku mencintaimu…” lanjutku. “Aku juga sangat mencintaimu, Miko…” jawabnya.

***

Hari ini aku mengenakan gaun putih panjang yang amat indah dan cantik. Perhiasan dan riasan juga sudah tertanam pada tubuhku. Aku menunggu di ruang tunggu pengantin dengan perasaan amat cemas. Apa yang sebenarnya akan terjadi nanti? Mengapa Kyota bisa seyakin itu? Seorang saudaraku memanggilku untuk mulai berjalan ke altar. Aku mengangguk dan berjalan menuju altar. Sudah banyak sekali orang yang datang dan menyaksikan pernikahan kita.

Aku bisa melihat seorang lelaki dengan postur tinggi dan ramping sedang menghadap ke belakang. Apakah itu yang akan menjadi calon suamiku nantinya? Aku mendekatinya dan pastur menyuruh kita untuk saling berhadap-hadapan. Aku sangat gugup sekarang. Ia pun berbalik dan aku bisa melihat seluruh wajah dan tubuhnya dengan sangat jelas. Aku membulatkan mataku tak percaya. “Kau…Kyota?” tanyaku seraya menunjuknya. Orang yang ditunjuk terkekeh saat melihatku bingung. “Apa maksud semua ini? Kau…kenapa bisa ada disini?” tanyaku lagi.

“Akulah anak sahabat ayahmu, Miko… Akulah lelaki yang akan dijodohkan denganmu.” jawabnya dengan senyuman kecil. Aku menatapnya tak percaya. Sejenak, aku merasa seperti orang yang sedang dibodohi. “Jadi, selama ini kau sudah tau?” tanyaku yang dibalas anggukannya. Aku langsung memukul-mukul tangannya pelan. “Kau jahat! Kenapa kau tidak pernah memberitahunya padaku?” tanyaku dengan cemberut. “Yang penting hari ini benar-benar adalah hari paling bahagia dalam hidupmu kan?” katanya yang membuatku malu.

Setelah melewati semua upacara pernikahan, akhirnya aku dan Kyota resmi menjadi suami istri dan kita pun dibawa ke hotel. Untuk merayakan semuanya, sekaligus memasuki malam pertama kita. Ia menggendongku menuju ke kamar hotel dan menjatuhkanku ke kasur. “Apa yang mau kau lakukan, Kyota?” tanyaku bingung. Padahal, aku sudah tau pasti apa yang akan ia lakukan. “Tentu saja menjalankan malam pertama kita… Ayo!” katanya dengan semangat yang membara. Aku pun merona.
“Ayo!”

~THE END~

Advertisements

Comments on: "Story : ~My Past and My Life Mate~" (13)

  1. ehm. . .
    wh2
    aku mau nanya dong, kalau jarak antara rmh dan kmps dlm crt itu 1 meter,
    berarti tak lbh panjang dr pintu rmhku dong.
    dongsaeng! jarak 1 meter ma, 2 langkah jak udh dilewt (protes mode on)

  2. jarak rmh ma kmps 1 meter?
    apa ndk salah?
    lbh pendk dr tinggi badanku dong?
    dongsaeng, i meter ma sekali/2 kali langkh jg bs.
    enak bgt tu miko. hanya sekali langkh langsung sampai rmh dh.

  3. wh2
    1 mtr, apa ndk slh?

  4. Kyaaa, jadi inget omongan umma onnie, kalo onnie lagi bandel, “minta dijodohin kmu fira” hyaaa ~~ #curcol mode on
    bgus christ, bikin lagi ayo2 hhehhe πŸ˜€

  5. love this πŸ™‚ lam knal y sista

  6. sukkkkkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa *pingsan*

  7. Endingnya lucu ha9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: