Full of inspiration and story

Story : ~My Love is My Enemy?~

Aku membuka mataku dengan tiba-tiba. Suara dentuman keras membuatku terbangun. Aku mendekat kearah pintu, mengintip dari celah kecil yang terdapat pada pintu kayu bewarna putih pucat. Dengan buram, aku bisa melihat ayah dan ibuku sedang berbaring di lantai ruang tamu yang juga dibuat dari kayu kecoklatan. Wajah mereka pucat dan tubuh mereka penuh dengan luka-luka dan keringat. Di depan mereka, tampak dua orang pria berpakaian serba hitam yang sedang mengacungkan pistol kepada orang tuaku. Yang satu lebih jangkung dan nampak lebih tua, dan yang satunya lebih pendek dan nampak masih sangat muda. Aku ingin memekik melihat pemandangan yang tidak bisa dibilang bagus itu, tapi mulutku seakan dikunci dan tidak bisa menggumamkan satu katapun. Ayahku diam seakan pasrah dan ibuku menangis dalam diam. Aku bisa melihat tangan mereka saling berpegangan dengan erat.

Sang pria yang lebih tua terkekeh pelan melihat pemandangan yang baginya ‘menyenangkan’ itu. “Ada kata-kata terakhir?” tanya pria itu kepada ayah dan ibuku. “Jika kau membunuh kami, itu tidak masalah, tapi tolong jangan bunuh anak kami…” pinta ibuku dengan isakan. Pria itu terkekeh dengan lebih keras, sehingga menimbulkan gema di rumahku yang memang sangat luas. “Kami tidak punya urusan dengan anak kalian, yang kami butuhkan hanya kematian kalian. Jadi, jangan khawatir…” kata pria yang lebih muda dengan suara pelan. “Terima kasih…!” teriak orang tuaku dengan serempak. “Sudahlah, ayo kita selesaikan sekarang, jangan buang-buang waktu!” kata pria yang lebih tua dengan tegas. Dan, DOR! Suara pistol mengakhiri semuanya. Air mataku jatuh membanjiri seluruh permukaan wajahku. Lututku sangat lemas dan kepalaku pening. Aku pun terjatuh dan tidak mengetahui apa-apa lagi. Yang aku tau sekarang, hanya kenyataan bahwa dua orang itu telah berhasil membunuh ayah dan ibuku.

***

Suara alarm keras berhasil membuatku terbangun. Aku membuka mataku perlahan dan tanganku bergerak-gerak mencari jam weker untuk mematikannya. Keringat membasahi seluruh tubuhku. Mimpi buruk itu terjadi lagi, batinku seraya meneguk air putih yang berada di meja sebelah kasurku. Aku mulai bersiap-siap mandi dan akhirnya keluar kamar untuk makan. Disana sudah terdapat dua orang tuaku. Ayahku sedang asyik membaca koran dan ibuku sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Aku duduk di salah satu kursi dan mulai menyantap roti dan susu yang sudah tersedia di depanku. “Pagi, ayah… Pagi, ibu…” sapaku dengan mulut yang masih penuh dengan roti. “Pagi, Anya…!” balas kedua orang tuaku dengan senyum ramah. “Hari ini kau ada les?” tanya ayahku yang masih sibuk membaca. “Ya… Mungkin aku tidak akan pulang sebelum pukul 3 sore.” jawabku dengan lunglai. “Ini kan demi masa depanmu, Anya…” kata ibuku seraya mengusap rambut coklat kepiranganku dengan lembut. Aku menghela nafas. “Aku tau, bu.” jawabku sembari bangun dan mengambil tas.

“Sampai jumpa, ayah… Sampai jumpa, bu…” kataku seraya keluar rumah dan memasuki mobil sport bewarna putih yang tentu saja kepunyaanku sendiri. Mobil ini adalah hadiah yang diberikan ayah di hari kelulusan SMP-ku. Aku menekan gas dengan kecepatan penuh dan mobilku pun melaju dengan pesat menuju sekolahku yang baru. Ya, ini adalah hari pertamaku di SMA. Aku memarkir mobilku di parkiran sekolah dan mulai berjalan ke kelasku. Sekolahku memang baru, namun tidak jauh berbeda dengan SMP-ku yang dulu. Mewah dan megah. Begitu sampai di kelas, aku duduk di tempat yang menurutku nyaman dan dekat dengan jendela, agar jika aku sedang bosan, aku bisa melihat keluar jendela dengan bebas. Tak lama, seseorang masuk ke kelas dan mendekatiku. “Boleh aku duduk disini?” tanya orang itu dengan dingin. Aku mengangguk dengan enggan. “Terserah padamu… Kau kan juga membayar di sekolah ini sama denganku.” kataku pelan. Ia pun duduk di sebelahku dan mulai mengambil i-pod dan menaruhnya di telinga. Setelah itu guru datang dan mulailah pelajaran yang menurutku membosankan.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas pergi ke mobilku dan berangkat ke tempat les. Suara ponsel membuatku terkejut. “Halo.” sapaku kepada orang yang menelepon. “Anya? Aku guru lesmu. Hari ini, aku tidak bisa mengajar karena ada urusan… Jadi, kelas aku liburkan dulu. Oke?” jelas guru lesku. Aku tersenyum dan meloncat kecil. “Baiklah, bu…” jawabku seraya menutup telepon. Aku langsung duduk di mobilku dan pulang ke rumah. Aku akan memberi kejutan untuk ayah dan ibu, batinku dalam hati. Setelah sampai ke rumah, aku membuka pintu rumah dan melihat ayah dan ibu tidak kelihatan di ruang tamu. Aku mencari di semua tempat, namun tetap tidak ada orang. Aha! Mungkinkah orang tuaku ada di ruang kerja?! Aku langsung melangkah menuju ruang kerja yang berada di lantai tertinggi rumahku. Dan, dugaanku benar. Mereka berada di ruang kerja. Pintu ruang kerja itu terbuka sedikit, sehingga aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Awalnya, memang aku ingin langsung masuk, namun tampaknya mereka sedang berbicara penting. Aku pun memutuskan untuk menunggu diluar. Tak sadar, aku menguping pembicaraan mereka.

“Kasian sekali anak itu. Aku tidak tega memberitahukannya bahwa orang tuanya sebenarnya telah mati, dan kita ini…kita ini bukan orang tua kandungnya. Kita hanya sahabat orang tuanya yang iba dengan statusnya yang adalah yatim piatu. Ditambah lagi, ia hilang ingatan akibat peristiwa yang pasti membuatnya syok itu.” kata ibu dengan suara lirih. Aku membulatkan mataku tak percaya. Air mataku terjatuh setetes demi setetes. “Kau benar… Aku benar-benar tidak tega. Aku sudah menyanyangi dan menganggapnya anakku sendiri. Apakah sebaiknya kita tidak memberitahukan yang sebenarnya untuk selamanya?” tanya ayah dengan pilu. “Mungkin idemu benar. Sebaiknya, kita tidak usah memberitahukannya dan anggap saja Anya memang anak kandung kita sendiri, seperti ia menganggap kita orang tua kandungnya.” lanjut ibu. Aku membuka pintu dan berjalan sempoyongan mendekati mereka. “Anya!?” teriak ayah dan ibu serempak. Bruk! Suara kedebuk terdengar dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku membuka mata dan memandang ke segala arah. Hanya warna putih yang bisa aku lihat. Aku mencoba untuk bangun, namun tubuhku terlalu lemah untuk bangun. Tak lama, orang tuaku-setidaknya yang dulu aku pikir orang tuaku-datang dan duduk di sampingku. “Anya, apakah kau sudah mendengar semuanya?” tanya ibu dengan pandangan ke bawah. “Ehm…” jawabku seraya mengangguk. “Tidak apa-apa, Anya… Anggap saja kau tidak mendengar itu dan tetap anggaplah kami orang tua kandungmu. Jangan sekali-kali mencoba untuk pergi, karena kami tidak bisa hidup tanpamu.” kata ayah sembari menggengam tanganku. Aku diam sejenak, mencoba mencerna semuanya dalam kepalaku yang masih pening. “Kenapa orang tuaku bisa dibunuh?” tanyaku penasaran. Ibu dan ayahku memandangku dengan kaget. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. “Itu…Itu karena…karena…”

“Jawab saja dengan jujur… Aku hanya ingin tau. Tolong, jangan rahasiakan apa-apa lagi dariku.” pintaku dengan wajah memohon. Mereka berdua menghela nafas berat dan akhirnya menatap mataku dengan tajam. “Orang yang membunuh orang tuamu itu adalah salah satu kelompok penjahat yang ingin melenyapkan orang dengan kekayaan berlimpah di seluruh dunia…” jelas ayah. Aku terkejut lalu terkekeh pelan. “Maksudmu…ayah dan ibuku…mempunyai ‘kekayaan berlimpah’?” tanyaku tak percaya. “Bukan hanya ayah dan ibumu…tapi juga kau, Anya!” kata ibu seraya menunjukku. “Aku!?” tanyaku dengan lebih tak percaya.

“Orang tuamu membohongi mereka dengan mengatakan bahwa kau bukan anak kandung mereka, Anya…” lanjut ibu. “Tapi…kekayaan berlimpah apa yang kumiliki? Bahkan, aku tidak tau sama sekali tentang ini.” kataku masih tak percaya. “Itu karena kau belum diberitahu mereka, tapi sekarang kekayaan berlimpah itu hilang karena kelompok itu berhasil mencurinya.” kata ayah dengan pandangan tegas. “Jangan membual…! Kalian pasti berbohong, kan? Jawab aku, kalian pasti berbohong kan?” tanyaku seraya menggoyangkan badan ayah dan ibuku. “Itu benar, Anya…” kata mereka sembari menunduk.

“Tidak…! Kalian pasti berbohong…!” teriakku dengan keras seraya menunjuk mereka berdua dengan kasar. Aku langsung mencabut infus yang tertancap pada lengan kiriku dan berlari keluar dari rumah sakit itu. Untung aku masih memakai baju seragam, batinku. Di luar sedang hujan deras. Sebenarnya, keadaanku masih tak memungkinkan untuk keluar rumah sakit apalagi hujan-hujanan seperti sekarang ini. Tapi, aku tidak memedulikannya lagi. Hati dan otakku sudah terlanjur penuh dengan kenyataan pahit yang menimpaku. Selama ini, aku berpikir aku adalah perempuan sempurna yang mempunyai kedua orang tua yang sangat baik dan hidupku sangat bahagia. Aku memang tak pernah mengingat masa laluku, tapi aku percaya itu hanya memang karena aku sudah lupa akan itu. Tak pernah sama sekali terlintas di benakku, kenyataan menyakitkan seperti ini akan menimpaku.

Aku terus berlari. Entah kemana atau sampai kapan aku akan berlari, yang penting aku ingin berlari untuk melupakan semua kenyataan ini. Hujan deras turun dengan lebih deras dan angin berhembus tak karuan. Seakan ikut meledekku. Aku terus berlari seraya terkadang berteriak tak karuan. Tak sadar, aku melewati jalan raya dan bisa melihat mobil biru sedang lewat di depanku. Aku menutup mata pasrah. Bukannya tidak bisa menghindar, namun pikiran jahat menyelimutiku untuk mengakhiri hidup yang kelam ini. Ciiiiit! Aku membuka mata dan bisa melihat mobil biru itu berhenti tepat di depanku. Hanya beberapa cm dari jarakku sekarang. Aku mengutuk diriku sendiri. Bahkan, Tuhan membiarkan aku tersiksa lebih lama? Tak lama, yang punya mobil keluar dan ia pun menarikku untuk masuk. Aku ingin melawan, namun kekuatanku tak cukup untuk melepaskan diri dari orang itu.

Ia memasukkanku ke dalam mobil dan ia sendiri pun masuk ke dalam mobil. Aku menatapnya dengan seksama, pandanganku masih tertutupi air hujan dan air mata yang membuat mataku buram. Setelah menelitinya lebih lanjut, aku pun menunjuknya seraya mengingat-ingat. “Kau…yang ada di sekolah dan duduk di sebelahku itu?” tanyaku dengan suara yang masih serak. Ia tak menjawab. Hanya diam dan berkonsentrasi menyetir. Ia memberhentikan laju mobilnya di suatu tempat dan menarikku keluar. “HEI~ Kemana kau akan membawaku?” tanyaku seraya mencoba memberontak. Namun, lagi-lagi kekuatanku terlalu kecil untuk melawan. Aku pun pasrah. Ia membawaku ke sebuah taman bunga dan menyuruhku duduk disana. Ia membawa payung dan menaruhnya diatas kepala kita dan ia pun duduk di sebelahku. Ia memberi burger dan soda yang baru saja dibelinya kepadaku. “Makanlah… Setelah makan, ceritakan semua masalahku padamu.” katanya dingin, namun santai, seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku pun menuruti semuanya dan setelah menceritakan semuanya, tak sadar air mataku tergenang lagi. Ia mengusap air mataku dengan lembut menggunakan sapu tangan krem kepunyaannya. Ia masih tersenyum, walaupun dalam wajahnya yang tampak tenang, ia nampak berkeringat dan tangannya bergetar hebat. “Sebaiknya, kita masuk ke dalam mobil, kau sudah mulai kedinginan…” anjurku kepadanya. Ia pun mengangguk dan kita langsung masuk ke dalam mobil kembali. “Maaf, aku jadi menceritakan masalahku kepadamu deh… Oh ya, namaku Anya. Namamu?” tanyaku berusaha berkenalan. “Tidak apa-apa… Hallo, Anya, namaku Nathan.” katanya dengan ramah. “Mau aku antar kemana?” tanyanya dengan hati-hati. “Ke…Ke rumahku yang dulu sajalah. Ini alamatnya…” kataku seraya memberikan secarik kertas yang sempat dituliskan orang tua-angkat-ku.

“Sampai jumpa di sekolah, Anya…” kata Nathan seraya melambaikan tangannya kearahku. “Terima kasih dan sampai jumpa juga, Nath…” balasku. Aku pun masuk ke rumah yang penuh kenangan ini. Disinilah orang tua-kandungku-dibunuh dan disinilah juga mimpi burukku dimulai. Aku membuka pintu kayu bewarna putih pucat yang kutau adalah pintu kamarku dulu. Semuanya masih sama dengan yang dulu. Semuanya nampak sama dengan mimpi dan kenangan masa lalu yang dulu sempat hilang dari ingatanku. Dan, sekarang terpaksa aku harus tinggal disini. Tidak mungkinkan aku masih tinggal di tempat orang tua-angkat-ku yang sudah aku kasari? Aku pun mencoba tidur di tempat tidur lamaku. Tak kuhiraukan seragam dan seluruh tubuhku yang basah. Yang kubutuhkan hanya satu. Tidur. Dan berharap bahwa peristiwa ini hanya satu dari semua bunga tidurku.

Aku membuka mata dan memandang ke segala arah. Sial! Aku tidak bermimpi. Ini semua nyata. Bisa kurasakan seragamku yang sudah berbau aneh akibat terkena hujan dan dipakai seharian olehku. Bisa kurasakan pula rambut dan segala tubuhku yang sudah lengket. Aku memutuskan untuk bangun dan mulai mandi. Sempat aku bertanya-tanya, bagaimana caranya aku mandi jika aku tidak punya peralatan mandi, handuk, dan baju selain seragam yang kupakai ini? Dan, bagaimana aku bisa sekolah jika aku tidak punya seragam lain selain ini? Tidak mungkinkan aku masih memakai seragam ini ke sekolah? Namun, semua pertanyaanku terjawab saat melihat sebuah tas koper besar yang berisi semua peralatan yang kubutuhkan. Di bawah koper itu, tertulis sebuah note kecil bewarna putih yang ditulis dengan rapi.

To : Anya

Aku sudah tau, kau pasti akan kebingungan kan mengenai semua peralatanmu?
Makanya, aku memberimu ini. Semoga bermanfaat dan maaf jika ukurannya terlalu kecil atau besar.
Aku sama sekali tidak mengetahui ukuran dan seleramu.
Sampai ketemu di sekolah,

-Nathan-

Aku tersenyum melihat note itu. Setidaknya, aku masih bisa bersyukur pada Tuhan. Aku sudah diberikan teman sebaik ini disaat keterpurukanku melanda. Aku langsung bergegas mandi dan mulai makan dari fastfood yang juga diberikannya kepadaku dalam koper ini. Aku bertekad, aku akan mencari kerja dan mengambil semua tabungan sisa sakuku yang ada di bank pulang sekolah nanti. Untung ukuran seragamnya sangat pas denganku. Aku langsung keluar rumah dan mulai berangkat ke sekolah. Aku masih bersyukur, karena saat kabur, aku masih membawa tas dan semua buku pelajaranku yang ada di tas, jadi aku tidak usah membeli yang baru. Sebenarnya, bukannya aku marah kepada orang tua-angkat-ku dan memutuskan untuk pindah kesini karena ngambek, aku hanya merasa bersalah. Mereka sudah susah payah membiayaiku hingga saat ini, tapi aku malah membentak mereka dan kabur seenaknya.

Saat sedang ada di perjalanan, suara klakson mobil mengejutkanku. Turun orang dari mobil biru yang kukenal dan menarikku ke mobil. “Apakah bakatmu itu menarik orang ke mobil semaumu?” tanyaku seraya cemberut dibalas kekehan Nathan. “Kalau aku tidak menarikmu, kau tidak akan mau kan?” balasnya sembari mengacak-ngacak rambutku. “Terima kasih ya, Nath… Tanpamu, aku tidak tau lagi mau bagaimana. Mungkin sekarang aku sudah jadi gelandangan di jalan dan tidak akan bisa lagi pergi ke sekolah…” kataku seraya menunduk. “Sssstttt… Jangan katakan itu lagi. Yang penting kan sekarang kau sudah bisa bersekolah.” katanya sembari tersenyum manis. “Lagipula ini semua juga salahku.” bisiknya yang tak bisa kudengar. “Apa yang kau bilang tadi?” tanyaku. “Tidak… Aku bilang, kita sudah sampai ke sekolah.” jawabnya mengelak yang kupercaya.

Kita pun masuk ke dalam kelas dan semakin lama, kami berdua menjadi lebih akrab satu sama lainnya. Aku sudah diterima kerja di salah satu cafe untuk menjadi pelayan dan masa lalu kelamku pun sedikit demi sedikit tak kupikirkan. Dengan pekerjaanku sekarang dan Nathan yang ada di sampingku, aku tidak akan kesusahan dan menderita lagi. Biarkan masa lalu kelamku jadi kenangan pahit yang sudah lampau. Walaupun, tetap aku masih menaruh dendam pada pembunuh orang tua-kandung-ku. Hari ini, seperti biasa aku diantar Nathan pulang ke rumah. “Sampai jumpa di sekolah, Anya!” katanya seraya melambai-lambaikan tangannya. “Sampai jumpa, Nath…!” balasku sembari masuk ke rumah. Saat mendekati pintu, tampak sebuah surat beramplop polos dan ada tepat di bawah pintu.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil surat itu dan membawanya masuk ke rumah. Setelah selesai berganti baju, aku memutuskan untuk duduk di ruang tamu yang didominasi warna biru laut. Aku memperhatikan amplop polos yang sedang ada digenggamanku. Siapa yang mengirim ini ya? Apakah tak apa jika aku membuka surat ini? Sudahlah, buka saja. Tak ada salahnya kan? Aku pun mulai membukanya. Tampak kertas yang berisi tulisan yang acak-acakan, namun masih dapat terbaca dengan jelas olehku. Kertas itu bewarna putih susu dengan kotoran dan debu yang terdapat di sekitar kertas itu. Aku membersihkannya terlebih dahulu, kemudian membacanya.

To : Anya

Kau pasti masih dendam kan dengan pembunuh orang tuamu?
Baiklah, akan kuberitahu siapa saja dua pembunuh itu.
Yang pertama adalah Edward, pria yang lebih tua dan sangat jangkung.
Sekarang, ia sudah meninggal dan makamnya ada di Seattle, USA.
Yang lebih muda bernama Stephan, sekarang ia ada di kota dimana kamu berasal.
Ia sudah berumur 59 tahun sekarang. Dan, kau tau?
Anaknya bersekolah sama dengan tempatmu bersekolah dan sekelas denganmu.
Namanya Nathan.

N.B : Kami tau dimana kamu berada. Sebaiknya, kau cepat kembali pada kami, Anya… Kami sangat merindukanmu dan takkan bisa hidup tanpamu.

From : Orang tua-angkat-mu

Aku membulatkan mataku tak percaya. Nathan…adalah putra dari pembunuh orang tuaku? Jadi, selama ini ia baik dan selalu membantuku semata-mata hanya ingin menebus semua dosa dan rasa bersalahnya padaku? Air mata kembali merembes dari mataku yang masih membulat. Aku bingung dengan ini semua. Sangat bingung. Apakah aku harus percaya orang tuaku? Atau pada Nathan? Semua ini terasa berat di kepalaku. Kenapa disaat aku sudah bahagia, kau harus memberikan cobaan lagi, ya Tuhan!? Aku menjambak rambutku sendiri karena frustasi dengan semua masalah yang tak ada habisnya ini.

Esoknya di depan rumah, Nathan mengantarku ke sekolah seperti biasa. “Pagi, Anya…” sapanya seraya tersenyum sangat ceria. Membuatku lebih pusing. Apakah aku harus percaya padanya…atau pada orang tuaku? Aku langsung masuk ke mobilnya tanpa membalas sapaannya. “Kau sedang sakit?” tanyanya sembari memeriksa keningku. Aku langsung menepis tangannya dan menggeleng pelan, tanpa menimbulkan ekspresi apapun. “Lalu kenapa kau diam begitu, Anya? Ayolah, jika kau punya masalah, ceritakanlah padaku.” katanya dengan nada khawatir. “Aku tidak perlu menceritakannya padamu.” kataku tegas dan dingin.

“Tapi, kenapa? Anya, ayolah!” katanya dengan cemberut. “Karena masalahnya ada padamu dan aku yakin kau sudah tau akan masalahku…!” teriaknya dengan keras. “Apa maksudmu, Anya?” tanyanya kebingungan. “Alasanmu selalu baik dan membantuku hanya karena kau merasa bersalah padaku, kan? Itu semua karena ayahmu telah membunuh ayahku kan?!” tanyaku setengah berteriak. Ekspresi wajahnya berubah dan menjadi kaget sekaligus pucat. Ia mendesah nafas berat, kemudian menatapku dengan pandangan dalam. “Awalnya memang seperti itu, tapi…tapi aku sadar bahwa aku sudah mencintaimu dan aku sangat sayang padamu. Jadi, aku sama sekali tak mempermasalahkan hal itu lagi. Kumohon maafkan aku, Anya.” katanya dengan nada menyesal.

“Berarti benar kan? Terima kasih dan selamat tinggal, Nathan…” kataku tegas seraya keluar dari mobilnya dan bergegas ke rumah orang tua-angkat-ku. “Anya! Please, maafkan aku… Aku sangat mencintaimu, Anya~” teriaknya sembari mengejarku. Ia memegang tanganku dan membuatku membalik menatapnya. Tiba-tiba, ia berlutut. Aku ingin pergi darinya, namun sebuah pemandangan tak biasa mampir di mataku. Ia menangis? Aku bisa melihat tetes-tetes air mata turun dari matanya dan membekas ke aspal yang panas. “Maafkan aku, Anya… Perihal ayahku, ia juga hanya disuruh. Waktu itu keadaan keluargaku sedang kacau. Mau tak mau, ayah harus mengambil pekerjaan ini. Jika tidak, kita sekeluarga akan mati. Aku juga baru diceritakan oleh ayahku belakangan ini, setelah ia melihat kau ada di kelasku juga dan bahkan duduk satu bangku denganku. Maafkan aku, Anya…” jelasnya sembari berlutut memohon padaku.

Aku tak menjawab atau merespon. Aku hanya membantunya berdiri dan menghapus air matanya. Memang hatiku merasa sangat sakit, tapi tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku harus melupakan semua dendamku dan mencoba memaafkannya. “Ayo berangkat ke sekolah…!” seruku seraya tersenyum dan masuk ke mobil. “Itu artinya…kau sudah memaafkanku?” tanya Nathan dengan wajah sangat ceria. “Hapus air matamu atau teman sekelas akan meledekmu, Nath.” kataku mengalihkan pembicaraan. “Aku anggap dengan ‘iya’… Terima kasih, Anya!” katanya sembari memelukku dengan erat. “Dasar GR…!” umpatku seraya memukul kepalanya pelan. “Sakit tau!” teriaknya sembari mengusap kepalanya.
“Hahahahahahahahahahahaha~”

~The End~

Advertisements

Comments on: "Story : ~My Love is My Enemy?~" (3)

  1. Siip, happy ending, kyaaa, gomawo telah mendengar request onniemu ini christ 😀

  2. bagus!!
    eh lain kali buat crt jaman dulu aja
    so kyk romeo dan juliet gt~
    atau ndk fantasy abis.
    good job!
    i like your story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: