Full of inspiration and story

Story : ~Regret~

Penyesalan…

Apakah penyesalan selalu datang terlambat?

Kesedihan…

Apakah kesedihan selalu datang setelah penyesalan?

Air mata…

Apakah air mata selalu turun setelah penyesalan dan kesedihan datang?

___

Kisah cintaku bermula di kelas 1 SMA. Saat itu, aku sedang berjalan santai menuju kelas. Tiba-tiba, mataku menangkap sosok seorang pria tampan nan manis sedang berjalan dengan anggunnya. Pada saat itulah aku mulai jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin kalian pikir aku adalah seseorang gadis remaja biasa yang asal jatuh cinta pada pria yang dianggapnya ‘keren’ dan ‘tampan’. Dan, kalian mungkin tidak salah. Tapi, aku benar-benar mencintainya. Kali ini bukan hanya kasmaran biasa, tapi ini sungguhan. Aku sangat mencintainya.

Sejak saat itu, aku selalu mengikutinya diam-diam. Aku mencari segala informasi tentangnya dan semua hal tentangnya. Ternyata, ia adalah seorang murid baru di kelasku. Aku sangat senang waktu itu. Kata orang, ia adalah anak kalangan atas yang sangat berbakat dan pintar. Ia juga adalah atlit renang dan basket. Ia juga pernah menang lomba kecerdasan setingkat negara. Ketika tau itu, rasa cintaku semakin menjadi-jadi.

Namun, aku tak sanggup mengungkapkan perasaanku padanya. Bukannya tak mau atau apa, tapi aku merasa tak pantas. Pangeran hatiku, begitu aku memanggilnya, terlalu sempurna untukku. Aku tak pantas dan tak pernah pantas bersanding dengannya. Lagipula, tampaknya ia tak merasakan yang sama denganku. Setiap aku mendekat atau menatapnya, ia malah menunduk atau sekedar pura-pura tidak tau. Hatiku sakit saat melihatnya.

Hari-hariku di SMA masih sama setelah tepat 3 tahun aku sekolah. Hitam dan putih. Pangeran hatiku masih aku cintai sepenuh hatiku. Hanya saja semakin lama aku merasa semakin putus asa. Ia tak pernah melirikku ataupun tersenyum padaku. Ia juga tak pernah bicara padaku. Hanya saat terpaksa dan itu pula hanya kata-kata baku.

Di saat kelulusan, aku diterima di universitas luar negeri. Aku memeluk teman-temanku dengan kepedihan, karena aku tau aku takkan bisa bertemu lagi dengan mereka. Mungkin untuk berpuluh-puluh tahun ke depan. Aku ingin memandangnya untuk terakhir kali sebelum masuk ke mobilku. Tapi, ia tampak sama sekali tidak ada di saat kelulusan. Kemana dia? Aku pun masuk ke mobil dengan perasaan gusar.

Dari bandara hingga ke pesawat, pikiranku tak bisa lepas dari pangeran hatiku. Aku terus bertanya-tanya dalam hati, apakah perasan cintaku berakhir sampai disini? Apakah takkan ada kesempatan lagi untuk meraihnya? Air mataku turun dengan lumayan deras. Hatiku sakit dan perih. Kenyataan ini begitu menyakitkan bagiku. Ternyata, kata-kata orang memang benar. Jika kau mencintai, maka kau harus rela tersakiti. Dan, itu benar-benar terjadi padaku.

Aku berjalan seraya menggengam koperku. Aku mengenakan kaca mata hitam agar orang tak mengira aku sedang menangis. Aku memasukki taksi dan pergi ke tempat kost-an ku selama di luar negeri. Setelah sampai, aku langsung turun dan masuk ke kost-an. Tidak terlalu buruk, batinku. Aku mengeluarkan pakaianku dan mulai menatanya di lemari pakaian. Begitu juga barang lainnya.

Setelah rapi, aku memutuskan untuk tidur. Jujur, aku sangat lelah setelah melewati perjalanan panjang dan aku lelah menangis. Esok harinya, aku terbangun dan terkejut dengan waktu yang sudah menunjukkan siang hari Aku langsung bersiap-siap dan berlari menuju halte untuk mengunjungi calon universitasku. Tak sadar, aku menabrak seseorang. “Sorry… I’m really sorry.” kataku dengan rasa bersalah sembari membantunya berdiri. “It’s okay…” jawab orang yang kutabrak seraya tersenyum sangat manis.

___

Aku berjalan seraya menggandeng putri kesayanganku pulang ke negara asliku. Di sebelahku nampak suami sekaligus ayah dari putri kesayanganku sedang tersenyum manis. Senyum yang sama dengan senyum saat pertama kali kita bertemu. Kita bertiga memutuskan untuk tinggal di negaraku mulai saat ini. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku saat ini.

Memang aku tidak sepenuhnya mencintai suamiku. Masih ada sebuah ruang yang tercipta di hatiku untuknya. Untuk pangeran hatiku. Hari ini adalah hari pertama anakku memasuki SMA, semoga ia bahagia dan bisa melewati masa sekolah dengan baik. Aku memasuki sebuah sekolah yang tampak tak asing bagiku. Memang ini adalah SMA lamaku. SMA dengan masa-masa indah dan menyakitkan sekaligus.

Tembok dan pagar masih tertata rapi seperti waktu dulu. Tak ada yang berubah. Aku melambaikan tanganku pada putriku saat ia masuk. Aku pun bergegas kembali ke rumah. Tapi, sifat keteledoranku kumat. Tak sadar, aku menabrak seseorang. Tidak membuat orang itu jatuh sih. Hanya tersenggol sedikit. “Maaf…” kataku seraya menunduk. “Ya Tuhan, Anya…?!” teriaknya dengan sangat nyaring. “Ibu kepala sekolah?” tanyaku tak percaya.

Di umurku yang menginjak ke-40, aku masih bisa melihat kepala sekolahku? Pasti umurnya sudah sangat tua sekarang. “Ikut aku, Anya…” katanya dengan tegas. Aku pun masuk ke ruangannya. Disana, kepala sekolah mempersilahkanku duduk. “Ini…” kata kepala sekolah seraya memberikan sebuah amplop merah muda kepadaku. “Apa ini?” tanyaku bingung.

“Surat terakhir dari Mark…” jawab kepala sekolah. Aku membelalakan mataku tak percaya. “Surat…terakhir?” tanyaku tak percaya. “Iya, Anya, Mark sudah mati. Mungkin sekitar 2 tahun yang lalu. Ia menitipkan surat ini untukmu…” kata kepala sekolah itu. Aku termenung. Mark sudah tiada? Pangeran hatiku sudah tiada? Rasanya, aku tak sanggup untuk menangis mendengar ini.

“Terima kasih, bu… Aku permisi.” kataku dengan suara serak. Aku keluar dari sekolahan dan memasuki mobil yang kuparkir di luar. Aku membuka amplop yang bertuliskan namaku tersebut. Isinya adalah sebuah surat dan berpuluh-puluh foto…diriku? Kapan ini semua diambil? Foto saat aku bermain bola, foto saat aku tersenyum, foto saat aku menangis ketakutan. Siapa yang mengambil foto ini? Apakah pangeran hatiku?

Aku membuka surat yang tertulis indah dan membacanya.

Hallo, Anya…

Aku tidak tau kau mengenalku atau tidak…

Tapi, yang aku tau, aku sangat mengenalmu…

Aku tau berapa tinggimu, berat badanmu, dan segalanya tentangmu…

Aku bahkan tau jadwal tidurmu…

Kau bingung darimana aku mendapatkannya?

Aku mendapatkannya dengan menanyakan teman-temanmu…

Kau juga pasti bingung kan dengan foto-fotomu?

Itu semua aku ambil diam-diam…

Hanya untukmu…

Tak kupungkiri, sejak pertama kali aku melihatmu, aku jatuh cinta padamu…

Namun, aku tak berani menyatakan perasaanku padamu…

Aku takut…

Aku takut kau tidak menyukaiku…

Aku merasa aku tak pantas bersanding denganmu…

Aku sakit…

Sudah lama aku menderita penyakit mematikan…

Saat hari kelulusan, aku mendengar kau akan pergi keluar negeri…

Aku sangat terluka, itu juga alasanku tidak datang ke acara kelulusan kita…

Aku sangat mencintaimu, Anya…

Dan, aku juga menyesal…

Sangat menyesal, karena tidak sempat menyatakan perasaanku padamu…

Maafkan aku, Anya…

-Mark-

(Lelaki idiot yang mencintai Anya)

Air mataku jatuh perlahan seiring dengan kata-kata yang dituliskannya. Aku terkekeh pelan. Mentertawakan diriku dan Mark sendiri. Jadi, selama ini kita hanya salah paham? Jadi, ia juga merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan? Pangeran hatiku juga mencintaiku?

___

Ya, penyesalan selalu datang terlambat…

Ya, kesedihan selalu datang setelah penyesalan…

Dan, ya, air mata selalu turun setelah penyesalan dan kesedihan datang…

FIN




Advertisements

Comments on: "Story : ~Regret~" (4)

  1. bisakah, kamu buat crt action lagi?
    dan bukan romance.
    aq ingin action spt find my twin in italy

    NB: crtnya lumayn kok ~.~

  2. Saeng, mian onnie telat lagi >,<
    ffmu bgus *slalu …
    Ee onnie request dund, ff.a yg happy ending :DD
    hhehhe :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: