Full of inspiration and story

Story : ~My Eternal Love~

Aku terdiam termenung di sebuah cafe. Cafe sepi yang didominasi putih dan hitam. Air mataku mengalir tak henti, masih memikirkan semua masalah yang aku hadapi. Apakah semua perjalanan cintaku selama ini akan sia-sia? Pikiranku kacau. Sangat kacau. Kadang aku lelah dengan semua ini. Kadang aku ingin melepaskan cinta yang mulai jenuh ini. Namun, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya. Terlalu mencintai semua yang ada padanya.

Tapi, kenapa? Bukannya 2 tahun yang lalu, ia memintaku menjadi pacarnya? Ia menyatakan cintanya di depan seluruh teman-temanku, hingga membuatku sangat tersipu. Tak bisa kupungkiri, aku sangat senang saat itu. Mungkin kenangan itu adalah kenangan terindah yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Bahkan, sekuntum mawar yang ia berikan waktu itu, masih ada di kamarku. Namun, dengan mudahnya ia menghilang.

Ia menghilang tanpa jejak. Selama 3 bulan ini, aku terus mencarinya. Entah itu pergi ke rumahnya atau meneleponnya. Tapi, ia bagai hilang di telan bumi. Kesabaranku sudah mulai habis sekarang. Aku tertekan. Aku tidak bisa melakukan aktifitasku seperti dulu. Mungkin banyak yang berpikir aku bodoh, hanya demi cinta, aku harus sangat depresi dan sesedih ini. Tapi, inilah aku. Aku memang adalah wanita bodoh. Wanita bodoh yang sangat mencintainya. Mencintai kekasih hatiku.

Cafe yang kutempati sudah mulai didatangi pengunjung. Tempat ini kujadikan pelampiasanku. Karena tempat yang tergolong sepi seperti ini, aku bisa menangis sepuasnya. Aku bisa mencurahkan semua kekesalanku padanya. Pada pria brengsek yang masih aku cintai dengan sangat-sangat. Aku menghapus air mataku dengan tegas. Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan berhenti memikirkan dan mencarinya, detik ini juga. Biarlah cintaku menjadi kenangan termanis sekaligus terpahit yang pernah kurasakan.

Suara denting piano kembali terdengar. Sudah 2 bulan sejak aku mengunjungi cafe ini, aku selalu mendengar suara denting piano yang menurutku sangat indah. Setiap dentingnya, seakan mewakili semua perasaanku. Setiap lagu dan syair yang pemain piano itu lantunkan, juga serasa mewakili semua perasaanku. Apakah ia pernah merasakan hal yang dirasakan olehku? Selama ini, aku tidak pernah tau sosok pemain piano itu. Alasannya karena aku selalu duduk di paling ujung. Dan, aku terlalu terbelenggu oleh cinta yang membuatku mati rasa.

Saat ini, aku memutuskan untuk melihat pemain piano itu. Jujur, aku sangat kagum dengan permainan piano-nya yang anggun dan bermakna. Aku bangun dari posisi dudukku dan mencoba melangkah lebih dekat kearah pemain yang sedang asyik memainkan pianonya dengan sangat lincah. Jari-jari lentiknya nampak sedang menari diatas tuts-tuts piano. Penonton yang lain juga merasakan semua sensasi keindahan itu. Setelah lagu selesai dimainkan, semua orang bertepuk tangan. Termasuk aku. Aku berjinjit untuk melihat pianis itu dengan lebih jelas. Betapa terkejutnya aku saat melihat pianis itu. Ia lelaki? Selama ini, aku pikir ia adalah perempuan.

Waktu sudah menunjukan pukul 19.00. Aku masih berada di cafe ini. Keadaan cafe ini sudah sepi. Semua pengunjung sudah pulang, terkecuali aku. Aku pun bangkit dan mengambil tasku yang berada di kursi. Aku melangkahkan kakiku keluar dari cafe ini. Semua yang bisa kupandang hanya kegelapan dan sedikit cahaya akibat lampu jalan yang menyala redup. Dengan langkah santai, aku berjalan pulang ke rumah. Jarak antara rumahku ke cafe memang cukup dekat. Aku berjalan seraya mendendangkan lagu yang dimainkan pianis tadi.

“Kau menyukai lagu itu?” tanya seseorang dengan suara tak asing. Aku menoleh dan terkejut. “Kau…pianis di cafe itu?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk kecil sembari berjalan di sampingku. Aku mendongak karena ia memang jauh lebih tinggi dariku. Aku baru memandangnya dari dekat saat ini. Wajahnya cukup manis, apalagi dengan lesung pipi yang terdapat pada kedua pipinya yang putih. Pria ini nampak tak asing bagiku. Tapi, siapa ya dia? “Darimana kau mempelajari piano?” tanyaku mencoba memulai pembicaraan. “Aku mempelajarinya dari ayahku saat berusia 5 tahun.” jawabnya seraya tetap tersenyum.

“5 tahun…?! Hebat! Sudah lama aku ingin bisa mempelajari piano, tapi belum sempat. Kau kerja dimana selain di cafe itu?” tanyaku lagi. “Aku tidak bekerja di cafe itu. Aku hanya suka memainkan piano-ku dengan suka rela. Aku juga masih kuliah kok~” jawabnya dibalas keterkejutanku. “Kau masih kuliah? Sama dong. Dimana dan jurusan apa?” tanyaku kembali bertanya. “Jurusan seni semester 1 di Universitas Jirreva… Kau sendiri?” tanyanya balas. “Jurusan hubungan international semester 1 di Universitas Havellin.” jawabku dibalas anggukan pahamnya.

“Aku sudah sampai ke rumahku, sampai jumpa!” kataku setelah sampai di rumahku. “Sampai jumpa di cafe besok!” katanya dengan riang. Aku mengerutkan dahiku. Darimana dia tau aku selalu ada di cafe setiap hari? Sudahlah, mungkin ia sering melihatku. Aku pun bergegas tidur. Esok paginya, setelah selesai kuliah, aku kembali mengunjungi cafe itu. Aku mengambil tempat duduk. Kali ini tempat duduk terdekat dengan piano besar tempat pianis itu bermain. Ah, kenapa aku lupa menanyakan namanya ya kemarin…!? Dasar Rachel bodoh!

“Hei, Rachel…! Sudah lama disini?” sapa pianis tadi yang baru datang. “Bagaimana kau tau namaku?” tanyaku kaget. Setahuku, aku tidak pernah mengenalkan diriku kepadanya. “Mmmm, aku tau dari…nametag-mu! Iya, nametag-mu kan ada namanya.” katanya gugup. Aku tersenyum kecil, walaupun masih ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku, sudahlah, mungkin hanya aku yang kelewat paranoid.

“Oh… Mau bermain lagi kali ini?” tanyaku berusaha mencairkan suasana. “Iya…” jawabnya singkat sembari duduk dan mulai memainkan piano. Sangat indah, seperti biasanya. Setelah lagu pertama selesai, ia mengambil mic dan mulai tersenyum. “Lagu kali ini akan ku persembahkan kepada seorang wanita yang sudah mengisi relung hatiku sejak lama… Meskipun, pertemuan kita bagimu sangat singkat, sebenarnya aku telah lama mencintaimu. Semoga ia suka hal ini dan bisa menerimaku apa adanya.” kata pianis itu seraya tersenyum manis kepadaku. Aku merona. Penonton yang pastinya tau wanita yang dimaksud adalah aku bersorak dengan kencang.

I don’t know when exactly i started to love you…

All i know, this feeling is very wonderful…

I also don’t know are you feel the same feeling as me…

All i exactly know, i really-really love you…

Would you be my eternal love?

Spend all my rest of breath together…

Still be with me forever…

Would you accept my love?

I’m so in love with you…

I’m crazy because of you…

Would you be my wife

From the first time of our life…

My darling, Rachel~

Tetesan air mata turun dari mataku. Aku sangat merasa terharu dengan ini semua. Ia perlahan bangun dan berlutut di hadapanku. Ia mengeluarkan sekuntum mawar dan memberikannya padaku. Seketika itu juga, aku terkejut. “Jangan simpan lagi mawar itu. Aku akan memberikannya yang baru hari ini.” katanya dengan senyuman manis. “Kau…?!” teriakku tak percaya. Ia adalah lelaki brengsek yang berusaha aku lupakan itu? Jadi, selama ini semua permainan piano itu, permainannya?

Ia memelukku erat, namun aku menepisnya. “Kenapa kau menghilang selama 3 bulan ini…?” tanyaku dingin. Ia terdiam sebentar. “Aku…” katanya terpotong oleh ku yang pergi dengan cepat. “Rachel…! Aku sengaja melakukan semua ini untukmu.” katanya dengan suara tinggi walaupun tetap lembut. “Apa?! Pergi selama 3 bulan hingga membuatku hampir mati dan kau bilang ini semua untukku?” tanyaku dengan keras.

“Benar… Aku belajar bermain piano, ini semua untukmu. Aku selalu menyamar selama ini, ini semua untukmu. Aku rela tidak makan demi membayar les piano, ini semua untukmu. Hanya untukmu seorang, Rachel…! Aku selalu memikirkan bagaimana aku melamarmu nanti dan aku pikir cara ini yang tertepat!” katanya dengan wajah tertunduk. Aku terkejut, tak percaya dengan ini semua. “Kumohon, Rachel… Maukah kau menjadi istriku?” tanyanya seraya mengeluarkan cincin putih indah. Aku terdiam. Perasaanku sudah bercampur tak karuan sekarang.

“Aku…Aku…”

“Please, Rachel…” katanya lagi dengan nada sangat memohon. Aku pun mengangguk. “Terima kasih, sayang… Terima kasih… Kau adalah istriku sekarang!” teriaknya senang disambut tepuk tangan setiap penonton. Aku membulatkan mulutku, sama sekali tak menyadari selama ini semua orang melihat kita. “Tidak…! Aku bukan istrimu dan kau bukan suamiku.” kataku dengan lantang. “Apa maksudmu, Rachel?” tanyanya dengan ekspresi tangis. “Kau bukan suamiku, tapi kau adalah my eternal love…” jawabku dibalas pelukannya yang hangat.

$$$

“Aku punya hadiah untukmu…” katanya seraya duduk di meja piano. “Apa itu?” tanyaku penasaran.

Thank you for all your love…

Thank you for all your heart…

Thank you for always stay together with me…

Until 25 years…

Until now…

I love you, honey…

And, always love you forever…

Love you, dear Rachel~

“Gombal…!” seruku seraya memukul pelan tangannya. “Ouch, sakit sayang… Persendianku bisa patah tau. Aku kan sudah tua.” katanya mengeluh. Aku tertawa melihat tingkahnya. “Nenek… Kakek…” panggil seorang anak berumur 3 tahun. Dialah cucu kami. “Sayangku…” kataku sembari memeluknya lembut. “Aku juga mau…” kata pasangan hidupku dengan wajah cemberut. “Dasar manja… Kau ini sudah berusia lanjut, kek, sadarlah itu.” kataku menyindirnya. Ia menjitakku pelan. “Siapa yang berbicara denganku? Apakah nenek-nenek itu?” tanyanya dengan nada bercanda. Aku langsung mengejarnya. Ia pun lari menghindariku.

Kadang kami kekanak-kanakan, tapi begitulah hidup kami… ^^

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: