Full of inspiration and story

Story : ~Goodbye My World~

Aku terus melangkah satu persatu dengan perlahan. Angin kencang menerbangkan rambut hitamku yang panjang. Gaun putih panjang yang kukenakan juga ikut beterbangan terkena angin. Namun, aku tak memedulikannya. Aku terus berjalan hingga akhirnya berada di ujung. Aku melihat di bawahku, tampak lalu lintas padat sedang berlalu lalang. Aku terkekeh pelan. Air mata yang sudah kering masih berada di wajahku yang tirus.

Mungkin bagi semua orang, aku adalah gadis yang pengecut dan bodoh. Disaat banyak orang-orang yang jauh lebih menderita dariku, aku malah memilih jalan singkat yang memalukan seperti ini. Namun, apa boleh buat. Aku sudah tak bisa hidup lagi. Mungkin tubuhku masih hidup. Tapi, jiwaku? Mungkin sudah ikut terkubur bersama dengan cinta dan hatiku.

***

Sudah cukup lama, aku mencintai seorang lelaki. Seorang lelaki yang tak sengaja kutemui saat aku mulai memasuki SMA. Saat itu, aku sedang disiksa oleh senior-seniorku, tapi dia yang tak sengaja lewat, melihat itu dan akhirnya melawan para senior-seniornya untukku. Walaupun, ia menjadi babak belur akibat para senior-senior itu sangat banyak dan lebih kuat dari padanya, tapi ia berhasil menyelamatkanku. Saat itulah, aku mulai menaruh hati kepadanya. Dewa penolongku.

Tak kupungkiri, ia adalah lelaki yang sangat tampan dan manis. Wajahnya itu sangat sempurna dengan mata indahnya, hidung runcingnya yang menjulang, bibirnya merah dan tipisnya yang terlekuk indah, serta kulitnya yang putih mulus tak bernoda. Posturnya juga tidak gemuk dan tidak terlalu kurus. Tingginya sekitar 178 cm, cukup tinggi untuk lelaki seusianya. Ia juga adalah lelaki yang pintar dan berbakat dalam seni maupun olahraga. Ia adalah ketua OSIS, ketua tim basket, dan pianis handal di sekolah. Ayahnya juga adalah direktur perusahaan terkenal di seluruh dunia.

Sedangkan, aku? Aku hanya seorang gadis yang memiliki otak sedang, tidak aktif dalam organisasi manapun, dan gadis yang tidak cantik. Keuanganku berada pada tahap menengah kurang. Sangat berbeda jauh dengan dewa penyelamatku. Jika ia adalah api, aku adalah air. Jika ia adalah langit, aku adalah bumi. Itu juga alasanku selalu memendam semua perasaanku padanya. Karena aku yakin…ia tidak akan membalas perasaanku.

Namun, aku salah. Pada saat aku sedang duduk di kelas saat istirahat berlangsung, ia menghampiriku, berlutut di hadapanku, dan memberikanku sekuntum bunga mawar indah dan harum. Ia tersenyum manis. Dengan pandangan matanya yang sangat menawan, ia memandangku. Sangat dalam. Membuat jantungku berdetak tak karuan. “Maukah kau menjadi pacarku, Sangrin? Untuk pertama dan terakhir…” tanyanya dengan sangat romantis. Pandangan matanya sangat membuatku tak bisa mengatakan ‘tidak’. Aku terbius oleh pesonanya. Aku pun mengangguk.

Aku pikir Sihyun hanya memanfaatkanku dan akan memutuskanku nantinya. Tapi, itu tak benar. Selama 3 tahun di SMA, ia sangat perhatian dan mencintaiku apa adanya. Ia tak pernah sekali pun melirik wanita lain, walaupun banyak wanita yang juga menaruh hati padanya. Kadang aku berpikir, apakah matanya tak bermasalah? Mengapa ia memilihku yang notabennya jauh dari kata ‘sempurna’? Padahal masih banyak wanita yang jauh lebih cantik dan kaya dariku.

Masa-masa SMA yang indah telah berlalu dan kita pun akan melangkah lebih jauh ke jenjang yang lebih tinggi. Kuliah. Sihyun mendapat beasiswa di Oxford, universitas di Inggris yang paling terkenal di dunia. Sedangkan aku? Aku hanya kuliah di universitas abal-abalan. Bahkan, aku tidak bisa masuk ke Universitas Seoul, universitas terkenal di negeriku sendiri. Aku kembali berpikir, mungkin disinilah akhir hubungan kita. Mungkin setelah berada disana, ia sadar dari tidurnya dan memilih wanita yang jauh lebih sempurna dariku.

Tapi, lagi-lagi aku salah. Ia tetap setia denganku. Menghabiskan waktu kuliah selama 4 tahun dengan berhubungan jarak jauh denganku. Setiap bangun pagi, ia akan meneleponku untuk sekedar menanyakan, apakah kau mimpi indah hari ini? bagaimana tidurmu? sudah sarapan? Saat siang hari, ia akan kembali meneleponku, bagaimana kuliahmu?, sudah makan siang? baik-baik saja kan?, tidak melirik pria lain kan? Dan, saat aku mau tidur, ia kembali meneleponku, bagaimana harimu hari ini?, sudah makan malam?, ada tugas yang sulit untuk dikerjakan?

Setelah 4 tahun berlalu, aku kembali berpikir negatif. Mungkin ia akan meneruskan perusahaan ayahnya dan tidak akan kembali dari Inggris. Dan, aku salah lagi. Ia kembali datang. Saat aku sedang bekerja di suatu hotel dan menjadi kasir, ia datang dan membawa sebuket bunga untukku. Ia mencium dan memelukku tanpa ada rasa malu. Aku sangat terharu. Dalam hati, aku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Ia mengundangku ke rumahnya yang sangat besar. Aku sangat gugup dan sangat takut jikalau orang tuanya tak merestuiku. Namun, ternyata orang tuanya adalah orang tua yang sangat baik dan sangat menyanyangiku. Yang lebih mengejutkan, ia melamarku disana. Aku menitikan air mataku. Perasaan bahagia dan haru tercampur dan teraduk-aduk dalam perasaanku. Terima kasih, Tuhan~ Kau memberikanku seorang malaikat agar hidupku menjadi sempurna.

Aku duduk disini. Aku mematut cermin didepanku. Diriku lebih nampak seperti sang putri terhormat dari pada diriku biasanya. Gaun pengantinku yang sangat mewah, make-up yang tertata rapi, dan perhiasan yang tergantung sempurna memberikan aksen kebahagiaan. Aku baru saja merasa senang dan merasa berada di puncak kebahagiaanku, sebelum calon adik iparku yang adalah adik dari Sihyun, datang dan memelukku dengan tangisan yang amat besar. “Sihyun-oppa (Oppa : kakak laki-laki)! Sihyun-oppa…” katanya terpotong-potong.

“Apa yang terjadi pada Sihyun…?!” tanyaku tak sabar. “Sihyun-oppa…meninggal dalam kecelakaan saat sedang kesini.” jawabnya dengan suara tangis yang masih menjadi-jadi. Aku syok. Kakiku lemas dan aku jatuh terduduk. Air mataku terlalu sakit untuk menetes. Hatiku sudah mati rasa sekarang. Yang bisa kulakukan hanya diam. Jiwaku bagai sudah diambil dan dipisahkan dari tubuhku.

Sampai 8 bulan setelahnya, aku masih menjadi Sangrin yang pendiam. Sangrin yang hanya duduk memeluk lutut di kasur. Sangrin yang tidak pernah mau makan. Sangrin yang sudah bagaikan boneka. Sangrin yang selalu diam dan tak mau berbicara sama sekali. Suatu ide merasuki diriku. Aku berjalan dan keluar dari kamarku. Aku terus berjalan. Tidak peduli pada pandangan aneh tiap orang yang melihatku. Bagaimana tidak? Aku masih memakai gaun pengantin yang sama. Aku tidak mau mencopotnya sama sekali.

Aku berjalan terus hingga memasuki sebuah gedung. Saat penjagaannya lengah, kumencoba masuk dan akhirnya berjalan ke tingkat tertinggi gedung itu. Aku terus melangkah satu persatu dengan perlahan. Angin kencang menerbangkan rambut hitamku yang panjang. Gaun putih panjang yang kukenakan juga ikut beterbangan terkena angin. Namun, aku tak memedulikannya. Aku terus berjalan hingga akhirnya berada di ujung. Aku melihat di bawahku, tampak lalu lintas padat sedang berlalu lalang. Aku terkekeh pelan. Air mata yang sudah kering masih berada di wajahku yang tirus.

Selamat tinggal dunia… Selamat tinggal kehidupan konyol yang kujalani…

Aku akan menyusulmu, Sihyun… Tunggulah aku sebentar lagi…

FIN

P.S : Sorry ya klo cerita ini rada aneh. Happy reading ‘n comment please~

Advertisements

Comments on: "Story : ~Goodbye My World~" (2)

  1. Gak aneh koq, bgus bgt, gaya bhasa.a enak dibaca, penulisan.a juga rapih bgt saeng, onnie aja gak bisa *ngiri
    hhehhe, hwaiting chris ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: