Full of inspiration and story

Untitled

Chapter Two %%% ^Who is he?^

“Kita mau kemana sih, Cello?” tanya Henna penasaran. Bagaimana tidak? Sudah hampir empat jam Cello mengemudikan mobil dengan diam tanpa berbicara sepatah kata apapun. Dan, sudah berpuluh-puluh kali Cello memutar-mutarkan mobilnya ke tempat yang sama. Akhirnya, Cello menghentikan mobilnya. Henna melirik kanan dan kiri. Ini kan masih jalan? Apa yang mau Cello lakukan padanya? Cello membuka pintu mobilnya dan membuka pintu mobil Henna. “Kau mau membawaku kemana sih?” tanya Henna makin penasaran.

Masih dalam diam, Cello mengambil sapu tangan dari kantung celananya dan memasangkannya ke mata Henna. Ia menuntun Henna untuk ke suatu tempat. Setelah sampai dan meyakinkan dirinya, ia membuka penutup mata Henna. Mata Henna berbinar-binar memandang hal indah di hadapannya. “So beautifull…” gumam Henna dengan pandangan yang tak lepas dari hal di depannya.

Matahari terbenam. Ya, ternyata ini yang dipersiapkan Cello selama ini. Warna merah, oranye, dan kuning bersatu membentuk gradasi yang tercetak di angkasa. Ditambah lagi, matahari yang hampir tenggelam dan burung-burung camar yang beterbangan kesana-kemari, memberikan aksen keindahan dan kedamaian. Benar-benar pemandangan yang tidak akan bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Henna dan Cello telah melihat semua itu hingga langit berubah gelap. “Pulang yuk… Nanti ayahku cemas lagi.” kata Henna seraya ingin bangun. Namun, Cello mengenggam tangan Henna. “Tenang saja, paman sudah kuberitahu soal ini… Lagipula, masih ada kejutan untukmu yang belum kukeluarkan.” jawab Cello sembari tersenyum manis. Apakah semua angel memang selalu menawan dan indah? Ekspresi dan kelembutannya seakan menghipnotisku. Aku pun langsung mengangguk.

Cello kembali memakaikan penutup kepala yang adalah sapu tangannya kepada Henna. Ia menuntun Henna dengan halus dan berhenti di suatu tempat. Ia membuka penutup mata Henna dan Henna kembali berdecak kagum. Cello terkekeh pelan. “Apakah kau selalu kagum seperti itu saat melihat sesuatu?” tanya Cello. Henna mengerucutkan mulutnya. “Memang ini sangat patut dikagumi kok…!” kata Henna dengan kesal.

Tapi apa boleh buat? Lelaki disebelahnya ini sangat romantis. Di tepi pantai ada sebuah meja kecil berbentuk lingkaran dengan dua kursi kayu yang tertata berhadapan. Di tengah meja itu, terdapat lilin indah dan makanan yang penuh kelezatan. Cello menarik kursi dan mempersilahkan Henna duduk. Kemudian, ia duduk di hadapan Henna. Pandangan mata mereka berdua tak bisa lepas dari mata masing-masing.

Setelah selesai makan, Cello menggengam tangan Henna. Henna terkejut, namun ia tak melepaskan pegangan tangan Cello. Entah kenapa, ia merasa senang. Sangat senang dengan semua ini. “Maukah kau menjadi pacarku, Henna? Di saat aku tersenyum dan bersedih. Di saat aku sehat dan sakit. Di saat aku memejamkan mataku untuk terakhir kalinya nanti. Maukah kau selalu menemani dan menyertaiku?” tanya Cello dengan pandangan romantis.

Henna tersenyum merona. “Ya, aku bersedia dan aku mau menjadi pacarmu, Cello…” jawab Henna dengan yakin. Cello tersenyum dan mulai mendekati Henna. Perlahan tapi pasti, ia menyibakan poni Henna dan mencium keningnya dengan lembut. Seketika, wajah Henna dan Cello memerah. Mereka merasakan panas yang bukan berasal dari cuaca atau angin. Namun, hati mereka yang sedang membara.

BLAR!

Suara petir mengagetkan mereka. Seketika, langit menjadi hitam dan hujan turun dengan derasnya. Angin-angin berhembus tak karuan. Petir menyambar dimana-mana. “Ayo, kita ke mobil sebelum kehujanan, Cello…!” ajak Henna seraya menarik tangan Cello. Namun, Cello tak bergeming. “Tidak, Henna… Ini bukan hal biasa. Tak mungkin perubahan cuaca terjadi tiba-tiba. Pasti ada sesuatu…” tolak Cello sembari memandangi langit di atasnya.

Henna mengkerutkan dahinya dan kemudian ikut memandang keatas. Perkataan Cello ada benarnya. Tak mungkin cuaca berubah se-ekstrim ini. Pasti ada sesuatu. Tapi, apa? “HENNA, AWAS!” teriak Cello seraya menubrukku agar tidak terkena sesuatu. “Apa itu?” tanyaku bingung. “Itu Rell Arrow… Panah itu bisa membunuh semua mahluk hidup dan menembus apa saja yang dilewatinya.” jelas Cello dengan cepat.

Henna memekik. “Siapa yang memanah kita dengan benda itu?” tanyanya dengan panik seraya menghindari panah-panah yang terus berseliweran. “Aku tidak tau, tapi yang pasti, ia bukan manusia biasa…” jawab Cello. “Apa kita punya salah, Cello?” tanya Henna penasaran. “Aku tidak tau, Henna…! Tapi, sebanyak yang kutau, kupikir tak ada.” kata Cello sembari mulai mengambil shield yang entah dari mana dan melindungi kita berdua.

“Keluarkan sayapmu, Henna…! Kita harus terbang!” teriak Cello. Sebelum Henna bertanya lebih lanjut, sayap indah mulai keluar dari punggung Cello. Ia langsung mengatur keluarnya sayap dengan sekuat tenaga. Namun, entah kenapa, pikirannya terlalu kacau untuk mengatur keluarnya sayap itu. Cello langsung membawa terbang Henna dengan menggendongnya. “Maaf, Cello… Akan kucoba lagi.” kata Henna setelah melihat Cello kerepotan menggendong dan melindunginya sekaligus.

Ia kembali berusaha berkonterasi dan…Cling! Henna berhasil! Ia langsung terbang, walaupun jarak terbangnya masih berada dekat Cello. Cello menggerakan jemarinya dan beberapa pelindung langsung terbentuk untuk menghindarkan panah itu. Seorang mulai terlihat. Ia memakai sayap yang sama dengan Cello dan Henna. Namun, sayapnya hitam. Berbeda dengan mereka yang mempunyai sayap seputih kapas.

“Itu…devil!” teriak Cello terkejut. “Apa itu?” tanya Henna bingung. “Musuh terbesar para angel... Mereka memiliki keahlian mirip angel karena memang mereka sebenarnya awalnya satu kubu dengan kita. Tapi, ia terlalu haus akan kekuasaan dan tidak bisa menerima bahwa angel memperoleh kekuasaan yang lebih besar akibat sifat dasar angel yang bijaksana… Karena itulah, mereka marah kepada kita.” jelas Cello.

“Dan, apa hubungannya kekuasaan dengan kita?” tanya Henna lagi. “Kalian adalah cucu Angel Leader terdahulu… Dan, setelah kakek kalian mati, anak bungsunya diangkat menjadi Angel Leader karena anak tertuanya melanggar peraturan. Menurut keturunan, salah satu dari kalian akan menjadi angel leader berikutnya, oleh sebab itu, aku akan membunuh kalian agar angel kehilangan penguasanya dan devil akan kembali berkuasa.” jelas orang itu.

“Apa…?” tanya Cello dan Henna bersamaan. “Bersiaplah untuk mati, anak-anak…! Punya permintaan terakhir?” tanya orang itu seraya menyeringai sangat kejam. Henna dan Cello meringkik. Orang itu mulai menggerakan jemarinya dan seketika air pantai terbawa keatas. Ia mendorong tangannya ke depan dan air pun ikut terdorong ke depan. Henna dan Cello mencoba untuk menghindar, namun air itu terlalu keras dan tinggi. Mereka pun terbawa air dan terjatuh keras terbawa air. Mereka menutup mata mereka dan setelah membuka mata…mereka tidak berada di tempat itu lagi.

~To Be Continue~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: