Full of inspiration and story

Archive for September, 2010

Story : ~Eternity~

***

Seorang anak lelaki yang berusia sekitar 8 tahun dengan kaus dan celana yang kusam, sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah megah. Ia berusaha agar tidak ada orang yang melihatnya dengan bersembunyi di balik tembok dekat pintu tersebut. Anak lelaki itu tampak sangat mengagumi sesuatu yang sedang dipandangnya sejak tadi. Ini dapat dilihat dari bola mata anak lelaki itu yang bersinar dan mulutnya terbuka lebar.

Anak lelaki itu terus menatap sosok yang sama, hingga sebuah suara yang mengejutkan membuatnya kaget. “Untuk apa kau disini, bocah kecil?” tanya seorang pria separuh baya yang ternyata sudah berdiri di belakang anak itu sejak lama. Anak itu menoleh dan langsung membulatkan mata kecilnya. Ia pun berlari secepat mungkin untuk menghindari pria separuh baya tadi.

Ia berhenti setelah merasa sudah berlari cukup jauh, dan mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan. Pria paruh baya tadi sudah pasti adalah ayah dari sosok yang dipandangnya tadi. Sosok anak perempuan yang sedang asyik menari. Anak perempuan itu adalah pujaan hatinya sejak lama. Entah kenapa atau bagaimana, namun setiap ia berada dekat dengan perempuan itu, jantungnya menjadi berdebar dan pipinya selalu merona.

Cinta. Apakah ‘cinta’ yang anak lelaki itu rasakan?

***

Seorang remaja lelaki berusia lima belas tahun sedang berjualan kue dengan seragam sekolahnya yang kusut. Sudah tak terhitung berapa kali ia mengucapkan kata: “Kue… Kue… Siapa mau kue??” secara berturut-turut. Ia berkeliling seraya membawa senampan kue hangat yang ia pegang di kedua buah tangannya yang sudah memerah karena panasnya kue itu.

Ia masih mengagumi anak perempuan yang sekarang juga sudah menjadi wanita remaja yang sangat cantik dan bersinar. Awalnya, memang lelaki itu ingin menyatakan cinta pada wanita pujaannya, namun ia terlalu takut dan malu. Ia sadar ia tidak setara dengan wanita kesayangannya sejak kecil. Wanita itu terlalu perfect untuknya. Cantik, pintar, kaya, dan berbakat. Sungguh tidak sama dengan keadaannya sekarang. Bahkan, sekarang wanitanya itu, kabarnya telah pindah keluar kota.

Ia sedang menyebrang jalan sebelum sebuah mobil berjalan tepat di depannya.

Ciiiiit…………!

Beruntung, mobil mewah berwarna hitam itu dapat mengerem dan berhenti tepat di depan remaja itu. Namun, naas pemuda itu pingsan saking terkejutnya diiringi dengan jatuhnya semua kue-kue yang daritadi ia pegang.

Ia membuka matanya dengan perlahan.

Ia bisa merasakan sedang tiduran di kasur yang amat empuk dan kamar yang sangat megah. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Hanya sebuah kalimat tanya yang terngiang di otaknya, “Dimana ini?” Ia mencoba untuk bangun tetapi kepalanya terlalu berat untuk bangun. Ia pun memutuskan untuk kembali tiduran.

Tak lama, seorang pemuda yang jauh lebih tampan, tinggi, dan berpenampilan ‘mewah’ masuk ke kamar yang ditempati lelaki tadi. Lelaki yang sedang tiduran itu menoleh singkat dan otaknya kembali merespon sebuah kalimat tanya: “Siapa dia?” Ia mencoba untuk bangun kembali dengan membuat kesimpulan bahwa ‘pemuda ini adalah pemilik rumah megah yang sedang ditempatinya’.

“Tidak usah bangun… Tiduranlah lebih lama. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu.” kata pemuda itu dengan ramah sembari tersenyum manis.

“Kau…siapa?” tanya lelaki yang sedang tiduran seraya mengerenyit.

“Aku? Oh, aku yang hampir menabrakmu tadi… Namaku Han Eunjae. Maafkan aku soal yang tadi.” jawab pemuda itu dengan sangat sopan seraya menunduk. “Tidak apa-apa, Eunjae-ssi. Aku juga kurang hati-hati. Namaku Lee Daehwa… Terima kasih sudah menolongku.” kata lelaki itu ikut menunduk. “Jangan panggil aku dengan ‘ssi’, panggil saja aku dengan ‘ah’ atau ‘ya’… Dan, sama-sama, Daehwa-ya.” pinta pemuda itu dengan ramah.

“Ok, Eunjae-ya… Sudah ya, aku mau pulang. Orang tuaku pasti khawatir jika sampai sekarang aku belum pulang. Sampai jumpa~” pamit Daehwa kepada Eunjae.

“Tunggu…! Ini, akan aku ganti semua kue-kuemu yang tadi terjatuh.” kata Eunjae seraya mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang.

“Tidak usah… Aku kan juga salah, Eunjae-ya.” tolak Daehwa dengan halus.

“Tapi…”

“Sudahlah, aku benar-benar tidak apa-apa…” lanjut Daehwa memotong perkataan Eunjae. Ia langsung membawa tas dan nampannya sembari berjalan keluar kamar.

“Tunggu…! Bolehkah aku tau alamatmu? Aku ingin berteman denganmu. Apa boleh?” tanya Eunjae hati-hati.

Daehwa menoleh dan dapat melihat pemuda yang lebih tinggi didepannya sedang menatapnya dengan ekspresi memohon. Ia tercengang. Ia benar-benar tidak percaya pemuda yang ada di hadapannya ini memintanya menjadi teman.

“Ten…Tentu saja boleh. Ini.” jawab Daehwa seraya menulis alamatnya di selembar kertas hasil sobekan bukunya.

“Terima kasih, Daehwa-ya…!”

***

Sudah tahun kedua, Daehwa dan Eunjae menjadi teman. Mereka sekarang adalah sahabat. Bahkan, lebih dari sahabat.

Eunjae sudah banyak membantu Daehwa dalam segala hal. Mulai dari per-ekonomian Daehwa yang buruk, hingga dalam sosial dan segalanya. Hal ini membuat Daehwa sangat merasa beruntung dapat mengenal dan mempunyai sahabat seperti Eunjae. Eunjae sendiri sangat bahagia bisa mempunyai sahabat seperti Daehwa. Ia memang banyak mempunyai teman lain, tapi hampir semua temannya hanya ingin berteman dengannya karena ‘tampang’ dan ‘harta’. Dan, hanya Daehwa lah yang tak pernah mementingkan masalah itu.

Daehwa berlari dengan terburu-buru menuju ke kelas dan duduk di sebelah Eunjae yang sedang asyik bersenandung pelan. Yah, sejak pertemanan mereka, Eunjae membantu Daehwa untuk sekolah di tempatnya. Awalnya, memang Daehwa menolak, namun karena dorongan Eunjae, akhirnya ia menyetujuinya.

“Pagi, Eunjae-ya…” sapa Daehwa dengan ramah seraya menaruh tas dan duduk di kursinya. “Pagi, Daehwa-ya… Tidak biasanya kamu datang jam segini? Biasanya kau pasti pergi ke sekolah lebih pagi dariku. Ada apa?” tanya Eunjae sedikit penasaran.

“Tidak apa-apa…”

“Sudahlah Daehwa, jangan berbohong… Sudah dua tahun aku mengenalmu dan aku sudah tau pasti sifatmu.” kata Eunjae seraya cemberut.

Daehwa terkekeh. “Tampaknya, aku sudah tak bisa berbohong padamu, Eunjae-ya… Baiklah, akan kuceritakan, pagi ini aku menolong ibuku dulu untuk berjualan di pasar.”

Sebelum Eunjae bisa berbicara atau Daehwa sempat melanjutkan, bel sekolah berbunyi. Guru masuk dilanjutkan seorang…wanita?

“Perhatian, anak-anak… Kita kedatangan murid baru. Ayo, perkenalkan dirimu.” terang guru seraya tersenyum kepada wanita di sebelahnya. Murid wanita itu mengangguk dan mulai memandang semua murid yang ada di hadapannya dengan percaya diri.

“Halo, namaku Park Heena. Aku murid pindahan Daegu. Dulu aku memang sekolah di Seoul, tapi aku pindah ke Daegu karena ayahku harus berpindah tempat kerja… Salam kenal dan mohon bantuannya~” kata murid wanita itu dengan senyum manisnya yang berhasil membuat banyak orang terpesona.

“Terima kasih, Heena. Silahkan duduk di sebelah situ…” kata guru sembari menunjuk ke tempat duduk yang tepat di sebelah kanan Daehwa dan Eunjae.

Eunjae melihat Daehwa sedang menatap wanita itu dengan seksama dan tersenyum serta berbisik ke telinga Daehwa. “Murid baru itu lumayan kan, Hwa?” tanya Eunjae yang lebih mengarah pada ‘meledek’. Daehwa yang sadar langsung menjitak kepala Eunjae pelan. “Nanti aku ceritakan padamu setelah jam pulang…” gumamnya sebelum mulai mencatat pelajaran.

Kring…………

Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid spontan bersorak karena sudah sangat bosan dengan pelajaran IPS yang diberikan. Daehwa dan Eunjae menutup buku mereka dan bergegas pulang. Saat Daehwa mau melangkahkan kakinya, Eunjae menahan tangannya.

“Katanya mau menceritakan sesuatu tadi…” kata Eunjae dengan manja.

“Baik, tapi jangan tertawakan aku ya?” balas Daehwa dengan pandangan menyelidik, yang tentu saja dibalas anggukan Eunjae.

“Aku sudah lama menyukai Heena… Dulu, rumahnya tepat berada di depan rumahku dan aku sering mengamatinya dari jauh. Tapi, aku tak berani berkenalan apalagi menyatakan perasaanku karena, ya kau taulah, aku ini tidak setara dengan Heena.”

Eunjae diam sejenak, tapi semenit kemudian, ia tak bisa menahan tawanya lagi. “Huffft… Hahahahahahahaha~” tawa Eunjae yang membuat lesung pipinya terlihat dengan jelas.

“Tuh ya kan, aku di tertawakan… Sudahlah.” balas Daehwa seraya pergi.

“Tunggu…! Maafkan aku, Daehwa-ya. Aku akan berhenti tertawa. Dan, aku akan memecahkan masalahmu. Tenang saja…” kata Eunjae sembari tersenyum ringan.

“Apa maksudmu? Memecahkan masalahku?” tanya Daehwa bingung.

“Ayo kita pulang… Serahkan masalahmu padaku.”

Esoknya, Daehwa datang ke sekolah dilanjutkan oleh Eunjae yang datang tentu saja dengan mobil. “Mau kemana kau, Jae?” tanya Daehwa saat melihat Eunjae berjalan ke meja Heena yang baru datang. Eunjae hanya membalasnya dengan mengedikan sebelah matanya.

Tak lama kemudian, saat Daehwa sedang asyik belajar untuk ulangan hari ini, dua orang datang mendekat kearahnya. “Daehwa-ya…” panggil Eunjae dan Daehwa pun menoleh. Ia tercengang.

Dua orang itu adalah Eunjae dan…Heena?

“Kenalkan, ini adalah Lee Daehwa, sahabatku sejak dua tahun yang lalu. Dan Daehwa, ini adalah Park Heena…” jelas Eunjae seraya tersenyum lebar.

“Halo, Daehwa-ssi…”

“Halo juga, Heena-ssi…”

Eunjae mengerutkan dahinya saat melihat pemandangan kaku mereka berdua. Eunjae menghela nafasnya dan langsung mengenggam tangan Heena dan Daehwa, dan menyatukannya agar mereka bersalaman.

Heena tersenyum tipis dan Daehwa memandang Eunjae dengan tatapan membunuh. Eunjae hanya bisa terkekeh pelan seraya menggaruk-garukan kepalanya.

Bel berbunyi dan seketika Daehwa dan Heena melepaskan salaman mereka dan kembali ke tempat masing-masing. Eunjae terkekeh melihat pemandangan itu. Dasar dua orang itu… Malu-malu tapi mau, batin Eunjae dengan tawa renyah.

Setelah bel pulang berbunyi, Eunjae langsung menarik Daehwa ke meja Heena. “Heena-ya… Daehwa-ya… Besok aku tunggu ya jam 09.00 di jembatan dekat sekolah. Sampai ketemu besok~” kata Eunjae seraya berlari kabur.

“Eunjae-ya…!” teriak mereka bersamaan.

“Aishhhh…” keluh mereka yang ternyata juga bersamaan.

Mereka pun saling memandang dan tersenyum malu satu sama lain. “Sampai jumpa, Daehwa-ssi…” sapa Heena dengan canggung. “Err, sampai jumpa…” balas Daehwa dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.

***

Pagi ini langit berawan dan cuaca sedikit mendung, berbeda dengan perasaan Daehwa yang sangat amat senang. Ia memakai pakaian terbagus yang ia punya dan berdandan rapi. Bahkan, ia memakai parfum yang diberikan Eunjae sebagai oleh-olehnya ke Perancis. Ia terus mengamati jam tangannya yang ia beli di pasar. 08.39. Sebaiknya, ia pergi sekarang.

Daehwa menutup pintu rumahnya dan langsung bergegas menuju jembatan dengan motor bekasnya. Ia menelusuri berbagai pepohonan dan rumah hingga akhirnya sampai di jembatan itu. Ia berdiri di tepi jembatan kayu sembari memandangi sungai biru yang sangat indah. “Daehwa-ssi…”

Daehwa menoleh dan langsung tercengang.

Seorang perempuan, dengan rambut hitam panjang bergelombang yang terbang terkena angin, dengan mata yang indah dan bulu mata yang lentik, hidung dan bibir yang mungil namun runcing, kulit mulus dan putih bersih, dengan pakaian serba putih, berada di hadapannya.

“Heena-ssi…” balasnya dengan susah payah. Entah kenapa, lidahnya seakan kelu hanya untuk berbicara.

“Dimana Eunjae-ya? Kenapa ia belum datang?”

Seketika tubuh Daehwa yang sedang ‘terbang tinggi’ terjatuh dengan keras. Kenapa ia malah menanyakan Eunjae? Namun, ia berusaha keras menghilangkan rasa pesimis dalam dirinya dan tersenyum kecil.

“Iya nih, padahal kan dia yang menyuruh kita datang kesini… Sekarang, malah hilang ditelan bumi.”

Byurr….

Petir menggelegar dan hujan pun turun dengan derasnya. Daehwa langsung membuka jasnya dan menadahkannya keatas kepala Heena dan dirinya sendiri. Mereka berdua berlari ke tempat yang aman dan kebetulan tempat itu adalah teras rumah kayu kecil yang juga sangat kecil. Mereka pun terpaksa sempit-sempitan dan tak sengaja saling menatap. Jarak wajah mereka sangat dekat sekarang.

“Errrr, Daehwa-ssi…?”

“I-Iya, Heena-ya?” tanya Daehwa dengan tatapan yang tak lepas dari Heena.

“Aku kedinginan”

Daehwa diam sejenak. Akhirnya, ia mendekati tubuh Heena lebih dekat dan mulai memeluk tubuh mungil Heena. Heena tercengang, namun ia tak kuasa melepas ataupun menepis Daehwa.

Daehwa tersenyum kecil saat tak lama kemudian Heena tertidur di pelukannya. Ia menatap wajah Heena yang sedang tertidur dengan dalam dan mengecup keningnya dengan hangat.

Tak sadar, selama ini mereka berdua sedang diperhatikan oleh seseorang. Seseorang yang ternyata adalah Eunjae. Eunjae menatap mereka dengan senyuman pahit. Di satu sisi, ia merasa turut bahagia dengan rencananya yang berhasil seratus persen, namun disisi yang lain, hatinya merasakan sakit yang luar biasa.

***

Hari ini tepat tiga tahun Daehwa, Eunjae, dan Heena menjadi sahabat dekat. Mereka sangat akrab dan bahagia. Walaupun, sebenarnya terjadi sebuah cinta rumit diantara mereka bertiga.

Daehwa menatap cermin dengan seksama, setelah yakin penampilannya sudah rapi, ia langsung mengunci rumahnya, mengambil sebuket bunga dan mengendarai motor bekasnya sejak SMA. Ia berhenti di sebuah teras rumah dan kebetulan bertemu dengan seseorang.

“Bibi…!” panggil Daehwa saat melihat pembantu rumah Heena. “Tuan muda Daehwa… Mau mencari nona Heena? Masuk saja, tuan muda Eunjae juga sudah ada di dalam. Mereka ada di taman belakang rumah…” jelas bibi dan Daehwa pun terkejut. Eunjae…ada di dalam? batin Daehwa bingung.

Daehwa masuk dan bergegas ke taman belakang rumah Heena yang sangat megah. Begitu sampai, ia melihat pemandangan yang sungguh tak biasa hingga mulutnya terbuka lebar.

Air matanya mengalir. Ia tak percaya bisa melihat ‘adegan’ ciuman Eunjae dan Heena di depan matanya sendiri. Padahal hari ini ia baru saja ingin menyatakan cintanya pada Heena.

“Eunjae-ya, aku benar-benar tak percaya kau bisa melakukan ini semua…! Aku pikir kau benar-benar sahabatku! Kau…Kau keterlaluan!!!” teriak Daehwa dengan kesal seraya berlari.

Daehwa berlari secepat mungkin. Eunjae mengejarnya sekuat tenaga. “Daehwa-ya…! Tunggu aku. Ini bukan seperti yang kau lihat…!!!”

Daehwa terus berlari. Hingga sebuah mobil berjalan tepat di depannya. Membuatnya ber-dejavu. Ia menutup matanya pasrah. Namun, ia merasa tubuhnya didorong. Ia membuka mata dan dapat merasakan lengannya terluka.

Ia menghadap ke belakang dan melihat banyak orang sedang mengerubungi sesuatu. Disitu bahkan ada Heena juga. Ia sedang menangis sesenggukan.

Daehwa berjalan mendekati kerumunan itu dengan pelan. Otaknya menangkap sebuah dugaan, namun hatinya mencoba menepisnya jauh-jauh. Setelah mendekat, ia bisa melihat jelas seseorang lelaki bertubuh jangkung dan tampan sedang terbaring tak berdaya dengan darah dimana-mana.

Lututnya lemas seketika. Ia pun terjatuh dengan air mata berjatuhan.

“HAN EUNJAE…!!!”

***

Daehwa sedang menatap matahari terbenam di depannya. Ia duduk di taman. Ia tak sepenuhnya konsentrasi pada pemandangan indah di depannya. Perkataan Heena masih terekam jelas di kepalanya.

“Eunjae tak pernah selingkuh padamu, Daehwa-ya… Jujur, aku sangat mencintai Eunjae dan Eunjae pun sangat mencintaiku, namun kita berusaha menahan perasaan agar kau tak terluka. Ciuman yang kau lihat, hanya ciuman pertama dan terakhir sebelum kita benar-benar memendam perasaan kita… Dan, ini semua kita lakukan demi kau. Justru, Eunjae adalah orang yang paling tersiksa. Ia berusaha menjodohkanmu padahal disisi yang lain, hatinya menangis, Daehwa… Maaf, jika kau masih tak bisa memaafkan kita. Awalnya aku ingin marah padamu, namun aku yakin Eunjae tidak akan marah dan dendam padamu. Karena ia selalu menganggapmu sebagai sahabat sejatinya…”

Daehwa merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia, dipenuhi oleh dengki dan rasa cemburu. Dan, betapa bodohnya dia. Eunjae yang begitu baik padanya malah tak ia percayakan.

Ia mengambil sebuah kertas dan mulai menulisnya.

Eunjae-ya,

Apa kabarmu disana? Apakah baik-baik saja? Pakailah pakaian tebal, sebentar lagi akan musim dingin, aku tak mau kau sakit. Kau tau, hatiku sangat menyesal sekarang. Coba waktu itu aku mau mendengar dan percaya padamu, mungkin hal ini takkan terjadi. Mungkin kau masih disini sekarang, bersamaku. Bukan disana, di dunia yang sangat jauh dariku. Maafkan aku, Eunjae-ya… Maafkan aku… Salahkan aku dan dendamlah padaku jika kau mau. Yang aku bisa katakan padamu sekarang:

Terima kasih atas semua hal yang pernah kau lukiskan dalam kehidupan kelamku, Eunjae…

Sahabatmu sekarang dan selamanya, Lee Daehwa.

Note : Tunggulah aku disana, Eunjae-ya… Aku akan menyusulmu sebentar lagi. ^^

Daehwa melipat kertas itu dan menjadikannya perahu-perahuan. Ia berjongkok dan menaruh perahu itu diatas air sungai. Ia tersenyum saat melihat perahu kertas itu sudah pergi menjauh. Menjauh bersamaan dengan sosok sahabat terbaiknya sepanjang masa, Eunjae.

FIN

N.B : Cerita ini aku persembahkan untuk semua sahabat di dunia… ^^

Story : ~Eternity (Prolog)~

Eternity

***

Cinta…

Cinta adalah sesuatu yang paling tidak bisa dimengerti…

Persahabatan

Persahabatan adalah hal yang bisa dibilang ‘bullshit’..

Cinta dan persahabatan…

Dua hal itu memang adalah perbuatan positif…


Tapi…

Bagaimana, jika dua hal itu disatukan dan malah menjadi bumerang untuk diri sendiri dan orang lain…?

***

Karakter pemain :

1. Lee Daehwa

Lelaki ini memang adalah lelaki yang sebenarnya cukup tampan dan menawan, namun sifatnya yang pemalu dan selalu merendahkan dirinya malah membuatnya menjadi tameng yang justru dapat menghancurkannya. Pemain utama ini akan mengalami sakitnya akibat dari cinta dan kesetiaan.

2. Han Eunjae

Sahabat dari Daehwa ini adalah lelaki yang mempunyai sifat jauh berbeda dari Daehwa. Dari lahir, ia telah dikaruniai harta tak berlimpah dan kesempurnaan hidup. Ia juga adalah lelaki yang tampan, jangkung, dan sangat digilai semua perempuan yang melihatnya. Seulas senyum dari bibirnya saja sudah berhasil membuat wanita-wanita merona dan para pria iri dengannya. Namun, bagaimana jika sebuah kejadian merubahnya?

3. Park Heena

Perempuan ini adalah perempuan yang sangat manis dan menawan. Auranya selalu terpancar sempurna dan hatinya sangat baik. Ia mempunyai cita-cita, yaitu menjadi penari profesional dan bisa menjadi aktris seperti yang ia lihat di tv. Keadaan keuangannya memang cukup untuk membiayainya, namun ia ingin berusaha sendiri untuk mencapai cita-cita indahnya. Karena kegigihannya inilah, banyak orang akan menyukainya.

***

Mau tau cerita dari perjuangan tiga orang ini?

Mau tau hasil dari penggabungan cinta dan setia kawan?

Baca:

Eternity

^^

Story : ~My Past and My Life Mate~

Pagi ini, sepulang kuliah semester satuku, aku berjalan santai menuju rumahku yang memang cukup dekat dengan kampusku. Jarak antara kampus dan rumahku hanya berbeda 1 meter. Seperti biasa, aku melewati sebuah taman yang berisi bunga-bunga indah dan selalu penuh oleh pengunjung. Karena ingin menikmati musim semi, aku pun memutuskan untuk duduk sejenak di taman ini. Aku duduk di salah satu kursi dan memutuskan untuk mengerjakan beberapa tugas kuliahku. Tiba-tiba, suara gesekan biola terdengar. Aku langsung menoleh ke sumber suara dan bisa melihat seorang pemuda seusiaku sedang memainkan biolanya di taman yang sama.

Di sekelilingnya, banyak anak-anak bahkan orang tua yang menonton. Ia memainkan biola putihnya dengan sangat hebat seraya mendendangkan lagu dengan suara yang amat bagus. Aku, yang memang pecinta seni apalagi seni musik, pun memerhatikannya dengan seksama. Wajahnya yang manis dan tampan serta tubuhnya yang tinggi dan ramping, membuatku teringat akan seseorang. Kepiawaiannya dalam bermain biola dan bakat menyanyinya juga sangat mirip dengan seseorang. Apakah dia? Aku bergegas bangun dan melihat lebih dekat kearah pemuda tersebut. Tak sadar, aku memandangnya hingga permainannya selesai.

Setelah selesai, ia bergegas pergi, namun aku menarik tangannya. “Tunggu…!” teriakku kepada pemuda pemain biola itu. Ia pun menoleh. “Ada apa?” tanyanya dengan sopan walaupun tampak bingung. “Oh… Tidak. Aku hanya ingin bilang permainan dan suaramu bagus.” kataku dengan gugup. Ia pun tersenyum sangat manis. “Terima kasih…” jawabnya singkat sembari langsung pergi. Aku masih terpaku melihat pemuda itu. Apakah ia benar-benar…? Tapi, tampaknya bukan. Tidak mungkin, pasti hanya wajah mereka saja yang mirip.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumahku. Baru saja memasuki rumah, ayah dan ibuku langsung menyuruhku ke ruang keluarga untuk membicarakan sesuatu yang ‘penting’. “Ada apa, ayah, ibu?” tanyaku penasaran. “Kau tau kan perusahaan ayah sedang krisis? Ini sebabnya ayah akan menjodohkanmu dengan anak sahabat ayah yang tentunya lebih sukses dari ayah.” jelas ayah. Aku membuka mulutku tak percaya. “Apa?! Ayah menjualku pada anak sahabat ayah?” tanyaku dengan memberi penekanan pada kata ‘menjual’ dan ‘anak sahabat ayah’.

“Bukan ‘menjual’, tapi ‘menyelamatkan’ keluarga kita… Please, Miko. Nasib keluarga kita ada di tanganmu sekarang.” kata ibu mengoreksi. Mata ibu sudah berair, membuatku tidak tega untuk menolak. Tapi, tetap saja ini tidak adil bagiku. Aku kan berjanji hanya akan menikahi sahabat kecilku waktu TK dulu. Bahkan, ia sudah memberiku sebuah kalung. Walaupun hanya kalung yang terbuat dari plastik, namun aku tau ia sangat tulus waktu itu. Pikiranku tiba-tiba terlintas pada kenangan paling indah yang kualami.

***
(12 years ago)

Aku sedang membuat istana pasir di pantai bersamanya. Bersama sahabat kecilku. “Aku mau pergi kesana dulu ya… Sebentar lagi aku kembali.” kata Kyota, sahabat kecilku itu. Aku mengangguk dan meneruskan pekerjaanku membuat istana pasir. Tiba-tiba, ia kembali dengan kedua tangan disembunyikan ke belakang. “Apa yang kau bawa, Kyota?” tanyaku penasaran. “Maukah kau menikah denganku, Miko?” tanyanya dengan polos sembari memakaikan sebuah kalung bewarna-warni yang sangat indah.

“Kyota…kita kan masih terlalu kecil.” kataku seraya cemberut. “Baiklah, 12 tahun yang akan datang nanti, aku akan melamarmu dan menikahimu, Miko…!” katanya dengan ceria. “Janji?” tanyaku. “Janji…! Kau juga janji ya.” jawabnya disambut anggukanku. “Janji!” balasku dengan tegas. “Ayo, kita main lagi, calon istriku…!” ajaknya dengan senyuman manis yang selalu melekat pada bibirnya. “Ayo!” jawabku. Ia pun menggandengku untuk bermain pasir di pantai indah ini.

***

Aku memegang dengan erat kalung pemberian sahabat kecilku itu. Kalung indah yang sampai detik ini masih ada di leherku dan tidak pernah kulepas, bahkan untuk tidur atau mandi sekalipun. Tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung berlari. Berlari sejauh mungkin tanpa tau mau kemana. “Miko…!!!” teriak ayah dan ibu, namun aku tak memedulikan mereka. Air mataku jatuh membasahi habis seluruh permukaan wajahku. Tanpa sadar, aku berlari ke taman dan kemudian duduk disitu. Aku masih menangis. Mungkin menangis adalah hal satu-satunya yang kubisa sekarang.

“Butuh saputangan…?” tanya seseorang sembari menyodorkan saputangannya kearahku. Aku mendongak dan dapat melihat seorang pemuda yang adalah pemain biola itu sedang berdiri tepat di hadapanku. “Kau…perempuan yang tadi?” tanyanya terkejut. “Kau…pemain biola itu?” tanyaku balas bertanya dengan ekspresi yang juga terkejut. Ia duduk di sebelahku seraya mengelap semua air mataku. “Kenapa kau menangis?” tanya pemuda itu dengan santai. “Aku dijodohkan oleh ayah dan ibuku dengan seseorang yang bahkan tak kukenal… Padahal, aku sudah punya lelaki lain di hatiku.” jelasku padanya.

Aku tidak tau darimana atau mengapa aku bisa menceritakan hal pribadi kepada orang asing seperti ini. Namun, entah mengapa, ia tampak tidak seperti orang asing bagiku. Seperti biasa, ia tersenyum. “Lelaki lain? Maksudmu, pacarmu?” tanyanya dengan bingung. “Bukan… Tepatnya sahabat kecilku dulu.” jawabku seraya mulai tersenyum. Ia sedikit terkejut sembari menaikan alisnya. “Sahabat kecilmu?” tanyanya dengan nada aneh. “Pasti bagimu itu kekanak-kanakan kan? Tapi, ya, aku mencintai sahabat kecilku dulu. Ia sendiri sudah melamarku dan berjanji akan menikahiku… Sayangnya, aku tidak pernah menemukannya lagi setelah ia pergi ke Swiss untuk belajar seni disana.” lanjutku dengan cemberut.

“Kau dilamar olehnya?” tanya pemuda itu lagi. “Iya, aku diberikan sebuah kalung olehnya.” jawabku yakin. “Apakah kalung itu kalung plastik bewarna-warni yang diberikan padamu di pantai?” tanyanya yang sangat mengejutkanku. “Bagaimana kau bi… Tunggu, jangan-jangan kau?” kataku dengan terkejut. “Iya…! Aku Kyota. Kau…Miko?” tanyanya dibalas anggukanku. “Ya, aku Miko! Jadi, kaulah ‘calon suamiku’?” tanyaku dengan bersemangat. Ia mengangguk.

“Aku sengaja datang dari Swiss untuk melamarmu, sesuai dengan janjiku dulu.” katanya dengan senyuman. “Tapi…aku…akan segera dijodohkan.” kataku dengan wajah lebih cemberut. “Jangan khawatir. Terima saja perjodohanmu…” katanya dengan santai. “Kenapa? Apakah kau tidak mau menikahiku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. “Bukan, ah, sudahlah, nanti kau akan tau sendiri… Pokoknya, terima saja perjodohanmu. Selamat tinggal, Miko…! Aku akan bertemu denganmu lagi besok di tempat yang sama.” katanya seraya pergi. “Hei~ Kyota, tunggu!” teriakku, namun ia sudah terlanjur pergi.

Dengan tanda tanya besar yang masih terdapat pada otakku, aku pun bergegas untuk pulang. “Bagaimana keputusanmu, Miko? Maafkan ayah dan ibu, Miko… Kita tidak mau kau sedih, tapi kami sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. ” kata ayah. “Tidak, yah, bu… Aku terima perjodohanku.” jawabku seraya langsung masuk ke kamar. Aku masih bingung dengan semua ini. Kenapa Kyota malah menyuruhku menerima perjodohan? Apa yang sedang direncanakannya?

Esoknya, setelah pulang kuliah seperti biasa, aku kembali mengunjungi taman itu. Disana, sudah ada Kyota yang sedang bermain biolanya dengan hebat. Setelah menunggu sampai selesai, ia pun mendatangiku. “Miko…!” teriaknya seraya duduk di sebelahku. “Halo, Kyota…! Oh ya, aku sudah menyetujui perjodohanku, tapi memang apa yang kau rencanakan?” tanyaku bingung. “Bagus… Dan, lihat saja nanti, kau juga akan tau.” jawabnya sembari tersenyum kecil. “Tapi, kata ayah aku dijodohkan seminggu lagi, lho…! Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?” tanyaku masih ragu. “Percayalah padaku, Miko.” katanya yang membuatku lebih tenang, walaupun tetap saja rasa penasaran masih bersarang dalam kepalaku.

Selama seminggu, aku dan Kyota menjadi lebih dekat. Kita melakukan semuanya dan jalan-jalan layaknya sepasang kekasih. Rasa penasaranku tentu saja masih ada, namun aku tidak mempersalahkannya lagi. Aku percaya padanya sepenuh hatiku. Hari ini adalah sehari sebelum pernikahanku dengan…dengan seseorang yang bahkan tak kukenal. Yang kutau dari ‘calon’ suamiku, hanya ia adalah anak dari sahabat ayahku. Aku merenung dalam kamar. Sebenarnya, apa sih yang ada di pikiran Kyota? Kenapa dia menyuruhku mengiyakan perjodohan ini? Apakah ia benar-benar yakin akan berhasil? Suara dering ponselku berbunyi. Aku pun melihatnya.

From : Kyota~mylove

Halo, Miko…
Malam ini, temui aku di taman biasa ya?
Jam 19.00…
Love you, Miko…! ^,^

Aku menatap ponselku seraya tersenyum kecil. Apakah ini artinya Kyota mengajakku kencan? Aku langsung bersiap-siap mengingat waktu yang sudah menunjukan pukul 17.00. Selesai mandi dan berganti baju, aku langsung pergi ke taman itu. Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat taman sudah gelap. Bahkan, tak ada lampu jalan yang menerangi. Kemana Kyota? Apakah ia lupa akan janji kita? Semua pertanyaanku terjawab saat mendengar sebuah suara. Sebuah suara yang amat merdu. Suara gesekan biola.

Aku membalikan badanku dan melihat seseorang lelaki sedang menggesekan biola putih dengan sangat merdu. Lampu jalan dan lampu taman yang berkelap-kelip pun menyala. Aku termenung menyaksikan semua keindahan itu. Perasaanku tercampur-campur sekarang, antara bahagia, kagum, bangga, dan takjub. Lelaki itu mendekatiku dengan perlahan sembari menggesekan biolanya dengan indah. Sangat dekat hingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Lelaki dengan rambut hitam kecoklatan, kulit putih mulus, mata yang bersinar, hidung yang runcing, bibir yang mungil dan bewarna merah tomat. Pesona dan semua yang ada didalamnya membuatku tergila-gila.

Pakaiannya yang serba putih dan senyuman tipis yang terukir di bibirnya membuatku terpaku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan harum. Aku menatap mata hitamnya yang sangat pekat dan indah, yang dibalas dengan tatapan dalamnya padaku. “Miko…” panggilnya dengan pelan dan lembut. “Kyota…” balasku padanya dengan pandangan masih penuh dengan rasa kagum. “Kau…kau sangat tampan.” lanjutku seraya mengelus poninya yang halus. “Kau juga sangat cantik, Miko…” jawabnya sembari memperlebar senyumnya yang makin membuatku terpesona.

“Ayo jalan.” ajaknya seraya menggandeng tanganku menuju suatu tempat dengan berlari. “Mau kemana?” tanyaku dibalas kebisuannya. Aku pun memutuskan untuk diam dan pasrah ditarik olehnya. Ia berhenti di sebuah gedung. Ia membawaku ke lantai tertinggi dan akhirnya dinaikan ke kereta gantung. Aku memandang kerlap-kerlip bangunan-bangunan yang ada di bawahku dengan mata berbinar-binar. “Indah…” gumamku sembari menikmati semua keindahan ini. Ia kembali tersenyum. Tangan kanannya yang hangat menggengam tanganku dengan erat.

Ia memberi isyarat untuk menyenderkan kepalaku ke bahunya. Masih dengan genggaman erat tangannya dan posisiku yang kini menyenderkan kepalaku ke bahunya, benar-benar membuatku nyaman. Entah darimana, air mataku mengalir tiba-tiba. Ia yang merasakan itu, menatapku dengan pandangan bingung. “Kenapa kau menangis?” tanyanya dengan ekspresi kebingungan. “Aku…Aku hanya takut semua peristiwa indah ini hanya menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa kualami lagi setelah hari esok tiba.” jawabku jujur. Aku takut. Sangat takut. Takut jika besok aku akan benar-benar dinikahkan dengan orang lain. Takut jika aku tidak akan bisa lagi bersama Kyota.

Ia langsung memelukku dengan erat. Memberi sensasi kehangatan dan ketenangan. “Jangan khawatir, besok pasti menjadi hari terindah dalam hidupmu…” bisiknya dengan lembut. Aku mengangguk kecil. “Terima kasih, Kyota…” kataku kepadanya. “Aku mencintaimu…” lanjutku. “Aku juga sangat mencintaimu, Miko…” jawabnya.

***

Hari ini aku mengenakan gaun putih panjang yang amat indah dan cantik. Perhiasan dan riasan juga sudah tertanam pada tubuhku. Aku menunggu di ruang tunggu pengantin dengan perasaan amat cemas. Apa yang sebenarnya akan terjadi nanti? Mengapa Kyota bisa seyakin itu? Seorang saudaraku memanggilku untuk mulai berjalan ke altar. Aku mengangguk dan berjalan menuju altar. Sudah banyak sekali orang yang datang dan menyaksikan pernikahan kita.

Aku bisa melihat seorang lelaki dengan postur tinggi dan ramping sedang menghadap ke belakang. Apakah itu yang akan menjadi calon suamiku nantinya? Aku mendekatinya dan pastur menyuruh kita untuk saling berhadap-hadapan. Aku sangat gugup sekarang. Ia pun berbalik dan aku bisa melihat seluruh wajah dan tubuhnya dengan sangat jelas. Aku membulatkan mataku tak percaya. “Kau…Kyota?” tanyaku seraya menunjuknya. Orang yang ditunjuk terkekeh saat melihatku bingung. “Apa maksud semua ini? Kau…kenapa bisa ada disini?” tanyaku lagi.

“Akulah anak sahabat ayahmu, Miko… Akulah lelaki yang akan dijodohkan denganmu.” jawabnya dengan senyuman kecil. Aku menatapnya tak percaya. Sejenak, aku merasa seperti orang yang sedang dibodohi. “Jadi, selama ini kau sudah tau?” tanyaku yang dibalas anggukannya. Aku langsung memukul-mukul tangannya pelan. “Kau jahat! Kenapa kau tidak pernah memberitahunya padaku?” tanyaku dengan cemberut. “Yang penting hari ini benar-benar adalah hari paling bahagia dalam hidupmu kan?” katanya yang membuatku malu.

Setelah melewati semua upacara pernikahan, akhirnya aku dan Kyota resmi menjadi suami istri dan kita pun dibawa ke hotel. Untuk merayakan semuanya, sekaligus memasuki malam pertama kita. Ia menggendongku menuju ke kamar hotel dan menjatuhkanku ke kasur. “Apa yang mau kau lakukan, Kyota?” tanyaku bingung. Padahal, aku sudah tau pasti apa yang akan ia lakukan. “Tentu saja menjalankan malam pertama kita… Ayo!” katanya dengan semangat yang membara. Aku pun merona.
“Ayo!”

~THE END~

Story : ~My Love is My Enemy?~

Aku membuka mataku dengan tiba-tiba. Suara dentuman keras membuatku terbangun. Aku mendekat kearah pintu, mengintip dari celah kecil yang terdapat pada pintu kayu bewarna putih pucat. Dengan buram, aku bisa melihat ayah dan ibuku sedang berbaring di lantai ruang tamu yang juga dibuat dari kayu kecoklatan. Wajah mereka pucat dan tubuh mereka penuh dengan luka-luka dan keringat. Di depan mereka, tampak dua orang pria berpakaian serba hitam yang sedang mengacungkan pistol kepada orang tuaku. Yang satu lebih jangkung dan nampak lebih tua, dan yang satunya lebih pendek dan nampak masih sangat muda. Aku ingin memekik melihat pemandangan yang tidak bisa dibilang bagus itu, tapi mulutku seakan dikunci dan tidak bisa menggumamkan satu katapun. Ayahku diam seakan pasrah dan ibuku menangis dalam diam. Aku bisa melihat tangan mereka saling berpegangan dengan erat.

Sang pria yang lebih tua terkekeh pelan melihat pemandangan yang baginya ‘menyenangkan’ itu. “Ada kata-kata terakhir?” tanya pria itu kepada ayah dan ibuku. “Jika kau membunuh kami, itu tidak masalah, tapi tolong jangan bunuh anak kami…” pinta ibuku dengan isakan. Pria itu terkekeh dengan lebih keras, sehingga menimbulkan gema di rumahku yang memang sangat luas. “Kami tidak punya urusan dengan anak kalian, yang kami butuhkan hanya kematian kalian. Jadi, jangan khawatir…” kata pria yang lebih muda dengan suara pelan. “Terima kasih…!” teriak orang tuaku dengan serempak. “Sudahlah, ayo kita selesaikan sekarang, jangan buang-buang waktu!” kata pria yang lebih tua dengan tegas. Dan, DOR! Suara pistol mengakhiri semuanya. Air mataku jatuh membanjiri seluruh permukaan wajahku. Lututku sangat lemas dan kepalaku pening. Aku pun terjatuh dan tidak mengetahui apa-apa lagi. Yang aku tau sekarang, hanya kenyataan bahwa dua orang itu telah berhasil membunuh ayah dan ibuku.

***

Suara alarm keras berhasil membuatku terbangun. Aku membuka mataku perlahan dan tanganku bergerak-gerak mencari jam weker untuk mematikannya. Keringat membasahi seluruh tubuhku. Mimpi buruk itu terjadi lagi, batinku seraya meneguk air putih yang berada di meja sebelah kasurku. Aku mulai bersiap-siap mandi dan akhirnya keluar kamar untuk makan. Disana sudah terdapat dua orang tuaku. Ayahku sedang asyik membaca koran dan ibuku sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Aku duduk di salah satu kursi dan mulai menyantap roti dan susu yang sudah tersedia di depanku. “Pagi, ayah… Pagi, ibu…” sapaku dengan mulut yang masih penuh dengan roti. “Pagi, Anya…!” balas kedua orang tuaku dengan senyum ramah. “Hari ini kau ada les?” tanya ayahku yang masih sibuk membaca. “Ya… Mungkin aku tidak akan pulang sebelum pukul 3 sore.” jawabku dengan lunglai. “Ini kan demi masa depanmu, Anya…” kata ibuku seraya mengusap rambut coklat kepiranganku dengan lembut. Aku menghela nafas. “Aku tau, bu.” jawabku sembari bangun dan mengambil tas.

“Sampai jumpa, ayah… Sampai jumpa, bu…” kataku seraya keluar rumah dan memasuki mobil sport bewarna putih yang tentu saja kepunyaanku sendiri. Mobil ini adalah hadiah yang diberikan ayah di hari kelulusan SMP-ku. Aku menekan gas dengan kecepatan penuh dan mobilku pun melaju dengan pesat menuju sekolahku yang baru. Ya, ini adalah hari pertamaku di SMA. Aku memarkir mobilku di parkiran sekolah dan mulai berjalan ke kelasku. Sekolahku memang baru, namun tidak jauh berbeda dengan SMP-ku yang dulu. Mewah dan megah. Begitu sampai di kelas, aku duduk di tempat yang menurutku nyaman dan dekat dengan jendela, agar jika aku sedang bosan, aku bisa melihat keluar jendela dengan bebas. Tak lama, seseorang masuk ke kelas dan mendekatiku. “Boleh aku duduk disini?” tanya orang itu dengan dingin. Aku mengangguk dengan enggan. “Terserah padamu… Kau kan juga membayar di sekolah ini sama denganku.” kataku pelan. Ia pun duduk di sebelahku dan mulai mengambil i-pod dan menaruhnya di telinga. Setelah itu guru datang dan mulailah pelajaran yang menurutku membosankan.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas pergi ke mobilku dan berangkat ke tempat les. Suara ponsel membuatku terkejut. “Halo.” sapaku kepada orang yang menelepon. “Anya? Aku guru lesmu. Hari ini, aku tidak bisa mengajar karena ada urusan… Jadi, kelas aku liburkan dulu. Oke?” jelas guru lesku. Aku tersenyum dan meloncat kecil. “Baiklah, bu…” jawabku seraya menutup telepon. Aku langsung duduk di mobilku dan pulang ke rumah. Aku akan memberi kejutan untuk ayah dan ibu, batinku dalam hati. Setelah sampai ke rumah, aku membuka pintu rumah dan melihat ayah dan ibu tidak kelihatan di ruang tamu. Aku mencari di semua tempat, namun tetap tidak ada orang. Aha! Mungkinkah orang tuaku ada di ruang kerja?! Aku langsung melangkah menuju ruang kerja yang berada di lantai tertinggi rumahku. Dan, dugaanku benar. Mereka berada di ruang kerja. Pintu ruang kerja itu terbuka sedikit, sehingga aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Awalnya, memang aku ingin langsung masuk, namun tampaknya mereka sedang berbicara penting. Aku pun memutuskan untuk menunggu diluar. Tak sadar, aku menguping pembicaraan mereka.

“Kasian sekali anak itu. Aku tidak tega memberitahukannya bahwa orang tuanya sebenarnya telah mati, dan kita ini…kita ini bukan orang tua kandungnya. Kita hanya sahabat orang tuanya yang iba dengan statusnya yang adalah yatim piatu. Ditambah lagi, ia hilang ingatan akibat peristiwa yang pasti membuatnya syok itu.” kata ibu dengan suara lirih. Aku membulatkan mataku tak percaya. Air mataku terjatuh setetes demi setetes. “Kau benar… Aku benar-benar tidak tega. Aku sudah menyanyangi dan menganggapnya anakku sendiri. Apakah sebaiknya kita tidak memberitahukan yang sebenarnya untuk selamanya?” tanya ayah dengan pilu. “Mungkin idemu benar. Sebaiknya, kita tidak usah memberitahukannya dan anggap saja Anya memang anak kandung kita sendiri, seperti ia menganggap kita orang tua kandungnya.” lanjut ibu. Aku membuka pintu dan berjalan sempoyongan mendekati mereka. “Anya!?” teriak ayah dan ibu serempak. Bruk! Suara kedebuk terdengar dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku membuka mata dan memandang ke segala arah. Hanya warna putih yang bisa aku lihat. Aku mencoba untuk bangun, namun tubuhku terlalu lemah untuk bangun. Tak lama, orang tuaku-setidaknya yang dulu aku pikir orang tuaku-datang dan duduk di sampingku. “Anya, apakah kau sudah mendengar semuanya?” tanya ibu dengan pandangan ke bawah. “Ehm…” jawabku seraya mengangguk. “Tidak apa-apa, Anya… Anggap saja kau tidak mendengar itu dan tetap anggaplah kami orang tua kandungmu. Jangan sekali-kali mencoba untuk pergi, karena kami tidak bisa hidup tanpamu.” kata ayah sembari menggengam tanganku. Aku diam sejenak, mencoba mencerna semuanya dalam kepalaku yang masih pening. “Kenapa orang tuaku bisa dibunuh?” tanyaku penasaran. Ibu dan ayahku memandangku dengan kaget. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. “Itu…Itu karena…karena…”

“Jawab saja dengan jujur… Aku hanya ingin tau. Tolong, jangan rahasiakan apa-apa lagi dariku.” pintaku dengan wajah memohon. Mereka berdua menghela nafas berat dan akhirnya menatap mataku dengan tajam. “Orang yang membunuh orang tuamu itu adalah salah satu kelompok penjahat yang ingin melenyapkan orang dengan kekayaan berlimpah di seluruh dunia…” jelas ayah. Aku terkejut lalu terkekeh pelan. “Maksudmu…ayah dan ibuku…mempunyai ‘kekayaan berlimpah’?” tanyaku tak percaya. “Bukan hanya ayah dan ibumu…tapi juga kau, Anya!” kata ibu seraya menunjukku. “Aku!?” tanyaku dengan lebih tak percaya.

“Orang tuamu membohongi mereka dengan mengatakan bahwa kau bukan anak kandung mereka, Anya…” lanjut ibu. “Tapi…kekayaan berlimpah apa yang kumiliki? Bahkan, aku tidak tau sama sekali tentang ini.” kataku masih tak percaya. “Itu karena kau belum diberitahu mereka, tapi sekarang kekayaan berlimpah itu hilang karena kelompok itu berhasil mencurinya.” kata ayah dengan pandangan tegas. “Jangan membual…! Kalian pasti berbohong, kan? Jawab aku, kalian pasti berbohong kan?” tanyaku seraya menggoyangkan badan ayah dan ibuku. “Itu benar, Anya…” kata mereka sembari menunduk.

“Tidak…! Kalian pasti berbohong…!” teriakku dengan keras seraya menunjuk mereka berdua dengan kasar. Aku langsung mencabut infus yang tertancap pada lengan kiriku dan berlari keluar dari rumah sakit itu. Untung aku masih memakai baju seragam, batinku. Di luar sedang hujan deras. Sebenarnya, keadaanku masih tak memungkinkan untuk keluar rumah sakit apalagi hujan-hujanan seperti sekarang ini. Tapi, aku tidak memedulikannya lagi. Hati dan otakku sudah terlanjur penuh dengan kenyataan pahit yang menimpaku. Selama ini, aku berpikir aku adalah perempuan sempurna yang mempunyai kedua orang tua yang sangat baik dan hidupku sangat bahagia. Aku memang tak pernah mengingat masa laluku, tapi aku percaya itu hanya memang karena aku sudah lupa akan itu. Tak pernah sama sekali terlintas di benakku, kenyataan menyakitkan seperti ini akan menimpaku.

Aku terus berlari. Entah kemana atau sampai kapan aku akan berlari, yang penting aku ingin berlari untuk melupakan semua kenyataan ini. Hujan deras turun dengan lebih deras dan angin berhembus tak karuan. Seakan ikut meledekku. Aku terus berlari seraya terkadang berteriak tak karuan. Tak sadar, aku melewati jalan raya dan bisa melihat mobil biru sedang lewat di depanku. Aku menutup mata pasrah. Bukannya tidak bisa menghindar, namun pikiran jahat menyelimutiku untuk mengakhiri hidup yang kelam ini. Ciiiiit! Aku membuka mata dan bisa melihat mobil biru itu berhenti tepat di depanku. Hanya beberapa cm dari jarakku sekarang. Aku mengutuk diriku sendiri. Bahkan, Tuhan membiarkan aku tersiksa lebih lama? Tak lama, yang punya mobil keluar dan ia pun menarikku untuk masuk. Aku ingin melawan, namun kekuatanku tak cukup untuk melepaskan diri dari orang itu.

Ia memasukkanku ke dalam mobil dan ia sendiri pun masuk ke dalam mobil. Aku menatapnya dengan seksama, pandanganku masih tertutupi air hujan dan air mata yang membuat mataku buram. Setelah menelitinya lebih lanjut, aku pun menunjuknya seraya mengingat-ingat. “Kau…yang ada di sekolah dan duduk di sebelahku itu?” tanyaku dengan suara yang masih serak. Ia tak menjawab. Hanya diam dan berkonsentrasi menyetir. Ia memberhentikan laju mobilnya di suatu tempat dan menarikku keluar. “HEI~ Kemana kau akan membawaku?” tanyaku seraya mencoba memberontak. Namun, lagi-lagi kekuatanku terlalu kecil untuk melawan. Aku pun pasrah. Ia membawaku ke sebuah taman bunga dan menyuruhku duduk disana. Ia membawa payung dan menaruhnya diatas kepala kita dan ia pun duduk di sebelahku. Ia memberi burger dan soda yang baru saja dibelinya kepadaku. “Makanlah… Setelah makan, ceritakan semua masalahku padamu.” katanya dingin, namun santai, seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku pun menuruti semuanya dan setelah menceritakan semuanya, tak sadar air mataku tergenang lagi. Ia mengusap air mataku dengan lembut menggunakan sapu tangan krem kepunyaannya. Ia masih tersenyum, walaupun dalam wajahnya yang tampak tenang, ia nampak berkeringat dan tangannya bergetar hebat. “Sebaiknya, kita masuk ke dalam mobil, kau sudah mulai kedinginan…” anjurku kepadanya. Ia pun mengangguk dan kita langsung masuk ke dalam mobil kembali. “Maaf, aku jadi menceritakan masalahku kepadamu deh… Oh ya, namaku Anya. Namamu?” tanyaku berusaha berkenalan. “Tidak apa-apa… Hallo, Anya, namaku Nathan.” katanya dengan ramah. “Mau aku antar kemana?” tanyanya dengan hati-hati. “Ke…Ke rumahku yang dulu sajalah. Ini alamatnya…” kataku seraya memberikan secarik kertas yang sempat dituliskan orang tua-angkat-ku.

“Sampai jumpa di sekolah, Anya…” kata Nathan seraya melambaikan tangannya kearahku. “Terima kasih dan sampai jumpa juga, Nath…” balasku. Aku pun masuk ke rumah yang penuh kenangan ini. Disinilah orang tua-kandungku-dibunuh dan disinilah juga mimpi burukku dimulai. Aku membuka pintu kayu bewarna putih pucat yang kutau adalah pintu kamarku dulu. Semuanya masih sama dengan yang dulu. Semuanya nampak sama dengan mimpi dan kenangan masa lalu yang dulu sempat hilang dari ingatanku. Dan, sekarang terpaksa aku harus tinggal disini. Tidak mungkinkan aku masih tinggal di tempat orang tua-angkat-ku yang sudah aku kasari? Aku pun mencoba tidur di tempat tidur lamaku. Tak kuhiraukan seragam dan seluruh tubuhku yang basah. Yang kubutuhkan hanya satu. Tidur. Dan berharap bahwa peristiwa ini hanya satu dari semua bunga tidurku.

Aku membuka mata dan memandang ke segala arah. Sial! Aku tidak bermimpi. Ini semua nyata. Bisa kurasakan seragamku yang sudah berbau aneh akibat terkena hujan dan dipakai seharian olehku. Bisa kurasakan pula rambut dan segala tubuhku yang sudah lengket. Aku memutuskan untuk bangun dan mulai mandi. Sempat aku bertanya-tanya, bagaimana caranya aku mandi jika aku tidak punya peralatan mandi, handuk, dan baju selain seragam yang kupakai ini? Dan, bagaimana aku bisa sekolah jika aku tidak punya seragam lain selain ini? Tidak mungkinkan aku masih memakai seragam ini ke sekolah? Namun, semua pertanyaanku terjawab saat melihat sebuah tas koper besar yang berisi semua peralatan yang kubutuhkan. Di bawah koper itu, tertulis sebuah note kecil bewarna putih yang ditulis dengan rapi.

To : Anya

Aku sudah tau, kau pasti akan kebingungan kan mengenai semua peralatanmu?
Makanya, aku memberimu ini. Semoga bermanfaat dan maaf jika ukurannya terlalu kecil atau besar.
Aku sama sekali tidak mengetahui ukuran dan seleramu.
Sampai ketemu di sekolah,

-Nathan-

Aku tersenyum melihat note itu. Setidaknya, aku masih bisa bersyukur pada Tuhan. Aku sudah diberikan teman sebaik ini disaat keterpurukanku melanda. Aku langsung bergegas mandi dan mulai makan dari fastfood yang juga diberikannya kepadaku dalam koper ini. Aku bertekad, aku akan mencari kerja dan mengambil semua tabungan sisa sakuku yang ada di bank pulang sekolah nanti. Untung ukuran seragamnya sangat pas denganku. Aku langsung keluar rumah dan mulai berangkat ke sekolah. Aku masih bersyukur, karena saat kabur, aku masih membawa tas dan semua buku pelajaranku yang ada di tas, jadi aku tidak usah membeli yang baru. Sebenarnya, bukannya aku marah kepada orang tua-angkat-ku dan memutuskan untuk pindah kesini karena ngambek, aku hanya merasa bersalah. Mereka sudah susah payah membiayaiku hingga saat ini, tapi aku malah membentak mereka dan kabur seenaknya.

Saat sedang ada di perjalanan, suara klakson mobil mengejutkanku. Turun orang dari mobil biru yang kukenal dan menarikku ke mobil. “Apakah bakatmu itu menarik orang ke mobil semaumu?” tanyaku seraya cemberut dibalas kekehan Nathan. “Kalau aku tidak menarikmu, kau tidak akan mau kan?” balasnya sembari mengacak-ngacak rambutku. “Terima kasih ya, Nath… Tanpamu, aku tidak tau lagi mau bagaimana. Mungkin sekarang aku sudah jadi gelandangan di jalan dan tidak akan bisa lagi pergi ke sekolah…” kataku seraya menunduk. “Sssstttt… Jangan katakan itu lagi. Yang penting kan sekarang kau sudah bisa bersekolah.” katanya sembari tersenyum manis. “Lagipula ini semua juga salahku.” bisiknya yang tak bisa kudengar. “Apa yang kau bilang tadi?” tanyaku. “Tidak… Aku bilang, kita sudah sampai ke sekolah.” jawabnya mengelak yang kupercaya.

Kita pun masuk ke dalam kelas dan semakin lama, kami berdua menjadi lebih akrab satu sama lainnya. Aku sudah diterima kerja di salah satu cafe untuk menjadi pelayan dan masa lalu kelamku pun sedikit demi sedikit tak kupikirkan. Dengan pekerjaanku sekarang dan Nathan yang ada di sampingku, aku tidak akan kesusahan dan menderita lagi. Biarkan masa lalu kelamku jadi kenangan pahit yang sudah lampau. Walaupun, tetap aku masih menaruh dendam pada pembunuh orang tua-kandung-ku. Hari ini, seperti biasa aku diantar Nathan pulang ke rumah. “Sampai jumpa di sekolah, Anya!” katanya seraya melambai-lambaikan tangannya. “Sampai jumpa, Nath…!” balasku sembari masuk ke rumah. Saat mendekati pintu, tampak sebuah surat beramplop polos dan ada tepat di bawah pintu.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil surat itu dan membawanya masuk ke rumah. Setelah selesai berganti baju, aku memutuskan untuk duduk di ruang tamu yang didominasi warna biru laut. Aku memperhatikan amplop polos yang sedang ada digenggamanku. Siapa yang mengirim ini ya? Apakah tak apa jika aku membuka surat ini? Sudahlah, buka saja. Tak ada salahnya kan? Aku pun mulai membukanya. Tampak kertas yang berisi tulisan yang acak-acakan, namun masih dapat terbaca dengan jelas olehku. Kertas itu bewarna putih susu dengan kotoran dan debu yang terdapat di sekitar kertas itu. Aku membersihkannya terlebih dahulu, kemudian membacanya.

To : Anya

Kau pasti masih dendam kan dengan pembunuh orang tuamu?
Baiklah, akan kuberitahu siapa saja dua pembunuh itu.
Yang pertama adalah Edward, pria yang lebih tua dan sangat jangkung.
Sekarang, ia sudah meninggal dan makamnya ada di Seattle, USA.
Yang lebih muda bernama Stephan, sekarang ia ada di kota dimana kamu berasal.
Ia sudah berumur 59 tahun sekarang. Dan, kau tau?
Anaknya bersekolah sama dengan tempatmu bersekolah dan sekelas denganmu.
Namanya Nathan.

N.B : Kami tau dimana kamu berada. Sebaiknya, kau cepat kembali pada kami, Anya… Kami sangat merindukanmu dan takkan bisa hidup tanpamu.

From : Orang tua-angkat-mu

Aku membulatkan mataku tak percaya. Nathan…adalah putra dari pembunuh orang tuaku? Jadi, selama ini ia baik dan selalu membantuku semata-mata hanya ingin menebus semua dosa dan rasa bersalahnya padaku? Air mata kembali merembes dari mataku yang masih membulat. Aku bingung dengan ini semua. Sangat bingung. Apakah aku harus percaya orang tuaku? Atau pada Nathan? Semua ini terasa berat di kepalaku. Kenapa disaat aku sudah bahagia, kau harus memberikan cobaan lagi, ya Tuhan!? Aku menjambak rambutku sendiri karena frustasi dengan semua masalah yang tak ada habisnya ini.

Esoknya di depan rumah, Nathan mengantarku ke sekolah seperti biasa. “Pagi, Anya…” sapanya seraya tersenyum sangat ceria. Membuatku lebih pusing. Apakah aku harus percaya padanya…atau pada orang tuaku? Aku langsung masuk ke mobilnya tanpa membalas sapaannya. “Kau sedang sakit?” tanyanya sembari memeriksa keningku. Aku langsung menepis tangannya dan menggeleng pelan, tanpa menimbulkan ekspresi apapun. “Lalu kenapa kau diam begitu, Anya? Ayolah, jika kau punya masalah, ceritakanlah padaku.” katanya dengan nada khawatir. “Aku tidak perlu menceritakannya padamu.” kataku tegas dan dingin.

“Tapi, kenapa? Anya, ayolah!” katanya dengan cemberut. “Karena masalahnya ada padamu dan aku yakin kau sudah tau akan masalahku…!” teriaknya dengan keras. “Apa maksudmu, Anya?” tanyanya kebingungan. “Alasanmu selalu baik dan membantuku hanya karena kau merasa bersalah padaku, kan? Itu semua karena ayahmu telah membunuh ayahku kan?!” tanyaku setengah berteriak. Ekspresi wajahnya berubah dan menjadi kaget sekaligus pucat. Ia mendesah nafas berat, kemudian menatapku dengan pandangan dalam. “Awalnya memang seperti itu, tapi…tapi aku sadar bahwa aku sudah mencintaimu dan aku sangat sayang padamu. Jadi, aku sama sekali tak mempermasalahkan hal itu lagi. Kumohon maafkan aku, Anya.” katanya dengan nada menyesal.

“Berarti benar kan? Terima kasih dan selamat tinggal, Nathan…” kataku tegas seraya keluar dari mobilnya dan bergegas ke rumah orang tua-angkat-ku. “Anya! Please, maafkan aku… Aku sangat mencintaimu, Anya~” teriaknya sembari mengejarku. Ia memegang tanganku dan membuatku membalik menatapnya. Tiba-tiba, ia berlutut. Aku ingin pergi darinya, namun sebuah pemandangan tak biasa mampir di mataku. Ia menangis? Aku bisa melihat tetes-tetes air mata turun dari matanya dan membekas ke aspal yang panas. “Maafkan aku, Anya… Perihal ayahku, ia juga hanya disuruh. Waktu itu keadaan keluargaku sedang kacau. Mau tak mau, ayah harus mengambil pekerjaan ini. Jika tidak, kita sekeluarga akan mati. Aku juga baru diceritakan oleh ayahku belakangan ini, setelah ia melihat kau ada di kelasku juga dan bahkan duduk satu bangku denganku. Maafkan aku, Anya…” jelasnya sembari berlutut memohon padaku.

Aku tak menjawab atau merespon. Aku hanya membantunya berdiri dan menghapus air matanya. Memang hatiku merasa sangat sakit, tapi tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku harus melupakan semua dendamku dan mencoba memaafkannya. “Ayo berangkat ke sekolah…!” seruku seraya tersenyum dan masuk ke mobil. “Itu artinya…kau sudah memaafkanku?” tanya Nathan dengan wajah sangat ceria. “Hapus air matamu atau teman sekelas akan meledekmu, Nath.” kataku mengalihkan pembicaraan. “Aku anggap dengan ‘iya’… Terima kasih, Anya!” katanya sembari memelukku dengan erat. “Dasar GR…!” umpatku seraya memukul kepalanya pelan. “Sakit tau!” teriaknya sembari mengusap kepalanya.
“Hahahahahahahahahahahaha~”

~The End~

Story : ~Regret~

Penyesalan…

Apakah penyesalan selalu datang terlambat?

Kesedihan…

Apakah kesedihan selalu datang setelah penyesalan?

Air mata…

Apakah air mata selalu turun setelah penyesalan dan kesedihan datang?

___

Kisah cintaku bermula di kelas 1 SMA. Saat itu, aku sedang berjalan santai menuju kelas. Tiba-tiba, mataku menangkap sosok seorang pria tampan nan manis sedang berjalan dengan anggunnya. Pada saat itulah aku mulai jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin kalian pikir aku adalah seseorang gadis remaja biasa yang asal jatuh cinta pada pria yang dianggapnya ‘keren’ dan ‘tampan’. Dan, kalian mungkin tidak salah. Tapi, aku benar-benar mencintainya. Kali ini bukan hanya kasmaran biasa, tapi ini sungguhan. Aku sangat mencintainya.

Sejak saat itu, aku selalu mengikutinya diam-diam. Aku mencari segala informasi tentangnya dan semua hal tentangnya. Ternyata, ia adalah seorang murid baru di kelasku. Aku sangat senang waktu itu. Kata orang, ia adalah anak kalangan atas yang sangat berbakat dan pintar. Ia juga adalah atlit renang dan basket. Ia juga pernah menang lomba kecerdasan setingkat negara. Ketika tau itu, rasa cintaku semakin menjadi-jadi.

Namun, aku tak sanggup mengungkapkan perasaanku padanya. Bukannya tak mau atau apa, tapi aku merasa tak pantas. Pangeran hatiku, begitu aku memanggilnya, terlalu sempurna untukku. Aku tak pantas dan tak pernah pantas bersanding dengannya. Lagipula, tampaknya ia tak merasakan yang sama denganku. Setiap aku mendekat atau menatapnya, ia malah menunduk atau sekedar pura-pura tidak tau. Hatiku sakit saat melihatnya.

Hari-hariku di SMA masih sama setelah tepat 3 tahun aku sekolah. Hitam dan putih. Pangeran hatiku masih aku cintai sepenuh hatiku. Hanya saja semakin lama aku merasa semakin putus asa. Ia tak pernah melirikku ataupun tersenyum padaku. Ia juga tak pernah bicara padaku. Hanya saat terpaksa dan itu pula hanya kata-kata baku.

Di saat kelulusan, aku diterima di universitas luar negeri. Aku memeluk teman-temanku dengan kepedihan, karena aku tau aku takkan bisa bertemu lagi dengan mereka. Mungkin untuk berpuluh-puluh tahun ke depan. Aku ingin memandangnya untuk terakhir kali sebelum masuk ke mobilku. Tapi, ia tampak sama sekali tidak ada di saat kelulusan. Kemana dia? Aku pun masuk ke mobil dengan perasaan gusar.

Dari bandara hingga ke pesawat, pikiranku tak bisa lepas dari pangeran hatiku. Aku terus bertanya-tanya dalam hati, apakah perasan cintaku berakhir sampai disini? Apakah takkan ada kesempatan lagi untuk meraihnya? Air mataku turun dengan lumayan deras. Hatiku sakit dan perih. Kenyataan ini begitu menyakitkan bagiku. Ternyata, kata-kata orang memang benar. Jika kau mencintai, maka kau harus rela tersakiti. Dan, itu benar-benar terjadi padaku.

Aku berjalan seraya menggengam koperku. Aku mengenakan kaca mata hitam agar orang tak mengira aku sedang menangis. Aku memasukki taksi dan pergi ke tempat kost-an ku selama di luar negeri. Setelah sampai, aku langsung turun dan masuk ke kost-an. Tidak terlalu buruk, batinku. Aku mengeluarkan pakaianku dan mulai menatanya di lemari pakaian. Begitu juga barang lainnya.

Setelah rapi, aku memutuskan untuk tidur. Jujur, aku sangat lelah setelah melewati perjalanan panjang dan aku lelah menangis. Esok harinya, aku terbangun dan terkejut dengan waktu yang sudah menunjukkan siang hari Aku langsung bersiap-siap dan berlari menuju halte untuk mengunjungi calon universitasku. Tak sadar, aku menabrak seseorang. “Sorry… I’m really sorry.” kataku dengan rasa bersalah sembari membantunya berdiri. “It’s okay…” jawab orang yang kutabrak seraya tersenyum sangat manis.

___

Aku berjalan seraya menggandeng putri kesayanganku pulang ke negara asliku. Di sebelahku nampak suami sekaligus ayah dari putri kesayanganku sedang tersenyum manis. Senyum yang sama dengan senyum saat pertama kali kita bertemu. Kita bertiga memutuskan untuk tinggal di negaraku mulai saat ini. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku saat ini.

Memang aku tidak sepenuhnya mencintai suamiku. Masih ada sebuah ruang yang tercipta di hatiku untuknya. Untuk pangeran hatiku. Hari ini adalah hari pertama anakku memasuki SMA, semoga ia bahagia dan bisa melewati masa sekolah dengan baik. Aku memasuki sebuah sekolah yang tampak tak asing bagiku. Memang ini adalah SMA lamaku. SMA dengan masa-masa indah dan menyakitkan sekaligus.

Tembok dan pagar masih tertata rapi seperti waktu dulu. Tak ada yang berubah. Aku melambaikan tanganku pada putriku saat ia masuk. Aku pun bergegas kembali ke rumah. Tapi, sifat keteledoranku kumat. Tak sadar, aku menabrak seseorang. Tidak membuat orang itu jatuh sih. Hanya tersenggol sedikit. “Maaf…” kataku seraya menunduk. “Ya Tuhan, Anya…?!” teriaknya dengan sangat nyaring. “Ibu kepala sekolah?” tanyaku tak percaya.

Di umurku yang menginjak ke-40, aku masih bisa melihat kepala sekolahku? Pasti umurnya sudah sangat tua sekarang. “Ikut aku, Anya…” katanya dengan tegas. Aku pun masuk ke ruangannya. Disana, kepala sekolah mempersilahkanku duduk. “Ini…” kata kepala sekolah seraya memberikan sebuah amplop merah muda kepadaku. “Apa ini?” tanyaku bingung.

“Surat terakhir dari Mark…” jawab kepala sekolah. Aku membelalakan mataku tak percaya. “Surat…terakhir?” tanyaku tak percaya. “Iya, Anya, Mark sudah mati. Mungkin sekitar 2 tahun yang lalu. Ia menitipkan surat ini untukmu…” kata kepala sekolah itu. Aku termenung. Mark sudah tiada? Pangeran hatiku sudah tiada? Rasanya, aku tak sanggup untuk menangis mendengar ini.

“Terima kasih, bu… Aku permisi.” kataku dengan suara serak. Aku keluar dari sekolahan dan memasuki mobil yang kuparkir di luar. Aku membuka amplop yang bertuliskan namaku tersebut. Isinya adalah sebuah surat dan berpuluh-puluh foto…diriku? Kapan ini semua diambil? Foto saat aku bermain bola, foto saat aku tersenyum, foto saat aku menangis ketakutan. Siapa yang mengambil foto ini? Apakah pangeran hatiku?

Aku membuka surat yang tertulis indah dan membacanya.

Hallo, Anya…

Aku tidak tau kau mengenalku atau tidak…

Tapi, yang aku tau, aku sangat mengenalmu…

Aku tau berapa tinggimu, berat badanmu, dan segalanya tentangmu…

Aku bahkan tau jadwal tidurmu…

Kau bingung darimana aku mendapatkannya?

Aku mendapatkannya dengan menanyakan teman-temanmu…

Kau juga pasti bingung kan dengan foto-fotomu?

Itu semua aku ambil diam-diam…

Hanya untukmu…

Tak kupungkiri, sejak pertama kali aku melihatmu, aku jatuh cinta padamu…

Namun, aku tak berani menyatakan perasaanku padamu…

Aku takut…

Aku takut kau tidak menyukaiku…

Aku merasa aku tak pantas bersanding denganmu…

Aku sakit…

Sudah lama aku menderita penyakit mematikan…

Saat hari kelulusan, aku mendengar kau akan pergi keluar negeri…

Aku sangat terluka, itu juga alasanku tidak datang ke acara kelulusan kita…

Aku sangat mencintaimu, Anya…

Dan, aku juga menyesal…

Sangat menyesal, karena tidak sempat menyatakan perasaanku padamu…

Maafkan aku, Anya…

-Mark-

(Lelaki idiot yang mencintai Anya)

Air mataku jatuh perlahan seiring dengan kata-kata yang dituliskannya. Aku terkekeh pelan. Mentertawakan diriku dan Mark sendiri. Jadi, selama ini kita hanya salah paham? Jadi, ia juga merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan? Pangeran hatiku juga mencintaiku?

___

Ya, penyesalan selalu datang terlambat…

Ya, kesedihan selalu datang setelah penyesalan…

Dan, ya, air mata selalu turun setelah penyesalan dan kesedihan datang…

FIN




Story : ~My Eternal Love~

Aku terdiam termenung di sebuah cafe. Cafe sepi yang didominasi putih dan hitam. Air mataku mengalir tak henti, masih memikirkan semua masalah yang aku hadapi. Apakah semua perjalanan cintaku selama ini akan sia-sia? Pikiranku kacau. Sangat kacau. Kadang aku lelah dengan semua ini. Kadang aku ingin melepaskan cinta yang mulai jenuh ini. Namun, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya. Terlalu mencintai semua yang ada padanya.

Tapi, kenapa? Bukannya 2 tahun yang lalu, ia memintaku menjadi pacarnya? Ia menyatakan cintanya di depan seluruh teman-temanku, hingga membuatku sangat tersipu. Tak bisa kupungkiri, aku sangat senang saat itu. Mungkin kenangan itu adalah kenangan terindah yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. Bahkan, sekuntum mawar yang ia berikan waktu itu, masih ada di kamarku. Namun, dengan mudahnya ia menghilang.

Ia menghilang tanpa jejak. Selama 3 bulan ini, aku terus mencarinya. Entah itu pergi ke rumahnya atau meneleponnya. Tapi, ia bagai hilang di telan bumi. Kesabaranku sudah mulai habis sekarang. Aku tertekan. Aku tidak bisa melakukan aktifitasku seperti dulu. Mungkin banyak yang berpikir aku bodoh, hanya demi cinta, aku harus sangat depresi dan sesedih ini. Tapi, inilah aku. Aku memang adalah wanita bodoh. Wanita bodoh yang sangat mencintainya. Mencintai kekasih hatiku.

Cafe yang kutempati sudah mulai didatangi pengunjung. Tempat ini kujadikan pelampiasanku. Karena tempat yang tergolong sepi seperti ini, aku bisa menangis sepuasnya. Aku bisa mencurahkan semua kekesalanku padanya. Pada pria brengsek yang masih aku cintai dengan sangat-sangat. Aku menghapus air mataku dengan tegas. Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan berhenti memikirkan dan mencarinya, detik ini juga. Biarlah cintaku menjadi kenangan termanis sekaligus terpahit yang pernah kurasakan.

Suara denting piano kembali terdengar. Sudah 2 bulan sejak aku mengunjungi cafe ini, aku selalu mendengar suara denting piano yang menurutku sangat indah. Setiap dentingnya, seakan mewakili semua perasaanku. Setiap lagu dan syair yang pemain piano itu lantunkan, juga serasa mewakili semua perasaanku. Apakah ia pernah merasakan hal yang dirasakan olehku? Selama ini, aku tidak pernah tau sosok pemain piano itu. Alasannya karena aku selalu duduk di paling ujung. Dan, aku terlalu terbelenggu oleh cinta yang membuatku mati rasa.

Saat ini, aku memutuskan untuk melihat pemain piano itu. Jujur, aku sangat kagum dengan permainan piano-nya yang anggun dan bermakna. Aku bangun dari posisi dudukku dan mencoba melangkah lebih dekat kearah pemain yang sedang asyik memainkan pianonya dengan sangat lincah. Jari-jari lentiknya nampak sedang menari diatas tuts-tuts piano. Penonton yang lain juga merasakan semua sensasi keindahan itu. Setelah lagu selesai dimainkan, semua orang bertepuk tangan. Termasuk aku. Aku berjinjit untuk melihat pianis itu dengan lebih jelas. Betapa terkejutnya aku saat melihat pianis itu. Ia lelaki? Selama ini, aku pikir ia adalah perempuan.

Waktu sudah menunjukan pukul 19.00. Aku masih berada di cafe ini. Keadaan cafe ini sudah sepi. Semua pengunjung sudah pulang, terkecuali aku. Aku pun bangkit dan mengambil tasku yang berada di kursi. Aku melangkahkan kakiku keluar dari cafe ini. Semua yang bisa kupandang hanya kegelapan dan sedikit cahaya akibat lampu jalan yang menyala redup. Dengan langkah santai, aku berjalan pulang ke rumah. Jarak antara rumahku ke cafe memang cukup dekat. Aku berjalan seraya mendendangkan lagu yang dimainkan pianis tadi.

“Kau menyukai lagu itu?” tanya seseorang dengan suara tak asing. Aku menoleh dan terkejut. “Kau…pianis di cafe itu?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk kecil sembari berjalan di sampingku. Aku mendongak karena ia memang jauh lebih tinggi dariku. Aku baru memandangnya dari dekat saat ini. Wajahnya cukup manis, apalagi dengan lesung pipi yang terdapat pada kedua pipinya yang putih. Pria ini nampak tak asing bagiku. Tapi, siapa ya dia? “Darimana kau mempelajari piano?” tanyaku mencoba memulai pembicaraan. “Aku mempelajarinya dari ayahku saat berusia 5 tahun.” jawabnya seraya tetap tersenyum.

“5 tahun…?! Hebat! Sudah lama aku ingin bisa mempelajari piano, tapi belum sempat. Kau kerja dimana selain di cafe itu?” tanyaku lagi. “Aku tidak bekerja di cafe itu. Aku hanya suka memainkan piano-ku dengan suka rela. Aku juga masih kuliah kok~” jawabnya dibalas keterkejutanku. “Kau masih kuliah? Sama dong. Dimana dan jurusan apa?” tanyaku kembali bertanya. “Jurusan seni semester 1 di Universitas Jirreva… Kau sendiri?” tanyanya balas. “Jurusan hubungan international semester 1 di Universitas Havellin.” jawabku dibalas anggukan pahamnya.

“Aku sudah sampai ke rumahku, sampai jumpa!” kataku setelah sampai di rumahku. “Sampai jumpa di cafe besok!” katanya dengan riang. Aku mengerutkan dahiku. Darimana dia tau aku selalu ada di cafe setiap hari? Sudahlah, mungkin ia sering melihatku. Aku pun bergegas tidur. Esok paginya, setelah selesai kuliah, aku kembali mengunjungi cafe itu. Aku mengambil tempat duduk. Kali ini tempat duduk terdekat dengan piano besar tempat pianis itu bermain. Ah, kenapa aku lupa menanyakan namanya ya kemarin…!? Dasar Rachel bodoh!

“Hei, Rachel…! Sudah lama disini?” sapa pianis tadi yang baru datang. “Bagaimana kau tau namaku?” tanyaku kaget. Setahuku, aku tidak pernah mengenalkan diriku kepadanya. “Mmmm, aku tau dari…nametag-mu! Iya, nametag-mu kan ada namanya.” katanya gugup. Aku tersenyum kecil, walaupun masih ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku, sudahlah, mungkin hanya aku yang kelewat paranoid.

“Oh… Mau bermain lagi kali ini?” tanyaku berusaha mencairkan suasana. “Iya…” jawabnya singkat sembari duduk dan mulai memainkan piano. Sangat indah, seperti biasanya. Setelah lagu pertama selesai, ia mengambil mic dan mulai tersenyum. “Lagu kali ini akan ku persembahkan kepada seorang wanita yang sudah mengisi relung hatiku sejak lama… Meskipun, pertemuan kita bagimu sangat singkat, sebenarnya aku telah lama mencintaimu. Semoga ia suka hal ini dan bisa menerimaku apa adanya.” kata pianis itu seraya tersenyum manis kepadaku. Aku merona. Penonton yang pastinya tau wanita yang dimaksud adalah aku bersorak dengan kencang.

I don’t know when exactly i started to love you…

All i know, this feeling is very wonderful…

I also don’t know are you feel the same feeling as me…

All i exactly know, i really-really love you…

Would you be my eternal love?

Spend all my rest of breath together…

Still be with me forever…

Would you accept my love?

I’m so in love with you…

I’m crazy because of you…

Would you be my wife

From the first time of our life…

My darling, Rachel~

Tetesan air mata turun dari mataku. Aku sangat merasa terharu dengan ini semua. Ia perlahan bangun dan berlutut di hadapanku. Ia mengeluarkan sekuntum mawar dan memberikannya padaku. Seketika itu juga, aku terkejut. “Jangan simpan lagi mawar itu. Aku akan memberikannya yang baru hari ini.” katanya dengan senyuman manis. “Kau…?!” teriakku tak percaya. Ia adalah lelaki brengsek yang berusaha aku lupakan itu? Jadi, selama ini semua permainan piano itu, permainannya?

Ia memelukku erat, namun aku menepisnya. “Kenapa kau menghilang selama 3 bulan ini…?” tanyaku dingin. Ia terdiam sebentar. “Aku…” katanya terpotong oleh ku yang pergi dengan cepat. “Rachel…! Aku sengaja melakukan semua ini untukmu.” katanya dengan suara tinggi walaupun tetap lembut. “Apa?! Pergi selama 3 bulan hingga membuatku hampir mati dan kau bilang ini semua untukku?” tanyaku dengan keras.

“Benar… Aku belajar bermain piano, ini semua untukmu. Aku selalu menyamar selama ini, ini semua untukmu. Aku rela tidak makan demi membayar les piano, ini semua untukmu. Hanya untukmu seorang, Rachel…! Aku selalu memikirkan bagaimana aku melamarmu nanti dan aku pikir cara ini yang tertepat!” katanya dengan wajah tertunduk. Aku terkejut, tak percaya dengan ini semua. “Kumohon, Rachel… Maukah kau menjadi istriku?” tanyanya seraya mengeluarkan cincin putih indah. Aku terdiam. Perasaanku sudah bercampur tak karuan sekarang.

“Aku…Aku…”

“Please, Rachel…” katanya lagi dengan nada sangat memohon. Aku pun mengangguk. “Terima kasih, sayang… Terima kasih… Kau adalah istriku sekarang!” teriaknya senang disambut tepuk tangan setiap penonton. Aku membulatkan mulutku, sama sekali tak menyadari selama ini semua orang melihat kita. “Tidak…! Aku bukan istrimu dan kau bukan suamiku.” kataku dengan lantang. “Apa maksudmu, Rachel?” tanyanya dengan ekspresi tangis. “Kau bukan suamiku, tapi kau adalah my eternal love…” jawabku dibalas pelukannya yang hangat.

$$$

“Aku punya hadiah untukmu…” katanya seraya duduk di meja piano. “Apa itu?” tanyaku penasaran.

Thank you for all your love…

Thank you for all your heart…

Thank you for always stay together with me…

Until 25 years…

Until now…

I love you, honey…

And, always love you forever…

Love you, dear Rachel~

“Gombal…!” seruku seraya memukul pelan tangannya. “Ouch, sakit sayang… Persendianku bisa patah tau. Aku kan sudah tua.” katanya mengeluh. Aku tertawa melihat tingkahnya. “Nenek… Kakek…” panggil seorang anak berumur 3 tahun. Dialah cucu kami. “Sayangku…” kataku sembari memeluknya lembut. “Aku juga mau…” kata pasangan hidupku dengan wajah cemberut. “Dasar manja… Kau ini sudah berusia lanjut, kek, sadarlah itu.” kataku menyindirnya. Ia menjitakku pelan. “Siapa yang berbicara denganku? Apakah nenek-nenek itu?” tanyanya dengan nada bercanda. Aku langsung mengejarnya. Ia pun lari menghindariku.

Kadang kami kekanak-kanakan, tapi begitulah hidup kami… ^^

FIN

Story : ~The Story Of Young~ (Part 1)

Dengan seragam baru yang tertata rapi di tubuh seorang perempuan yang imut, ia melangkah dengan riang ke suatu bangunan besar yang nampak amat mewah. Hari ini adalah hari pertamanya memasuki SMP. Senyuman di wajahnya tidak pernah sekali pun hilang. Sudah lama ia menginginkan ini. Ia ingin menjadi remaja sepenuhnya, dan sekarang impian ini akan segera terwujud. Ia, Cho Sangrin, akan menjadi pelajar SMP!

Dengan cepat, ia memasuki kelasnya. Rambut panjang hitam kecoklatannya, dibiarkan tergerai indah. Berbeda dengan kehidupannya di SD yang biasanya terkuncir satu. Ia duduk di salah satu kursi yang kurasa cocok untuknya. Disana sudah duduk satu orang perempuan yang nampaknya juga sangat senang dengan ini semua. “Bolehkah aku duduk disini?” tanya Sangrin dengan ramah dan sopan.

Orang yang diajak bicara tersenyum lembut. “Tentu saja…” katanya riang. “Namaku Cho Sangrin…! Namamu siapa?” tanya Sangrin berusaha menjalin pertemanan. “Halo, Sangrin… Namaku Myorin. Senang berkenalan denganmu!” katanya dengan ramah. Sangrin pun tersenyum manis. “Senang berkenalan denganmu juga…!” jawab Sangrin dengan ceria. “Kau nampak sangat muda, memang berapa usiamu?” tanya Myorin nampak penasaran. Sangrin kembali tersenyum. “Usiaku 12 tahun, aku memang lebih dulu masuk sekolah…” jawabnya malu-malu.

“Oh.. Pantesan. Disini kau mempunyai saudara?” tanya Myorin lagi. “Yap…! Aku mempunyai kakak laki-laki yang sekarang duduk di kelas 1 SMA dan adik yang duduk di kelas 6 SD. Kau sendiri?” jelas Sangrin seraya mengangguk riang. “Aku mempunyai kakak laki-laki yang sekarang kelas 1 SMA juga, lho… Wah, nampaknya kita memang sejodoh!” teriak Myorin senang. Sangrin tersedak tiba-tiba. “Sejodoh?” tanyanya memastikan. Myorin pun tertawa sembari menjitak kepala Sangrin pelan. “Sejodoh untuk berteman, bukan untuk yang lain. Aku masih normal tau…!” katanya disambut kekehan mereka berdua.

Mereka semakin dekat dan dekat seiring perkembangan waktu. Hari ini sudah tepat seminggu mereka berteman dan mereka sudah bersahabat sekarang. Mereka saling curhat, saling tertawa bersama, dan saling berbagi. Myorin adalah sosok yang dewasa, serius, tapi kadang membuat orang tertawa dengan tingkahnya. Sedangkan, Sangrin adalah sosok yang periang, tapi ceroboh dan pelupa. Mereka benar-benar saling melengkapi.

Setelah sepulang sekolah nanti, Sangrin dan Myorin akan pergi ke taman ria. Sangrin akan mengajak kakak dan adiknya, sedangkan Myorin sendiri akan mengajak kakaknya. Dengan kaos, cardigan, dan sepatu kets, Sangrin melangkah memasuki taman ria dengan perasaan senang. Kakak dan adiknya mengikuti di belakang. Mereka nampak larut dalam urusan mereka masing-masing. Di depan, sudah tampak Myorin dan seorang laki-laki yang adalah kakaknya.

“Myorin…!” teriak Sangrin seraya melambaikan tangannya. “Sangrin…!” balas Myorin dengan senyuman. “Sudah lama?” tanya Sangrin. “Tidak, kami baru saja datang.” jawab Myorin sembari melirik lelaki yang sangat tinggi disebelahnya. “Halo, jadi kamu yang namanya Sangrin? Myorin selalu menceritakanmu padaku… Aku kakaknya Myorin, Choi Riwon.” kata kakak Myorin memperkenalkan diri.

Sangrin tertegun. Lelaki di depannya tersenyum dengan sangat manis hingga lesung pipinya terlihat sempurna seraya memberikan tangannya. Dengan wajah kagum dan sangat gugup, ia menyalami kakak Myorin. Jantungnya berdegup sangat kencang. Apakah ini cinta pada pandangan pertama? “Sangrin…! Kenapa melamun seperti itu?” tanya Myorin seraya menggerakan tangannya tepat di depan wajah Sangrin yang merona.

Sangrin yang sadar langsung menarik kakak dan adiknya. “Myorin, kenalkan ini kakak dan adikku.” kata Sangrin dengan ramah. “Halo, kak Myorin, aku Cho Jiwook, adik kak Sangrin…” kata adik Sangrin dengan ramah. “Halo, Jiwook…!” jawab Myorin seraya mengusap rambut Jiwook pelan. Kakak Sangrin yang sedang asyik bermain game lewat PSP-nya mendekat dan memandang Myorin. “Namaku Cho Kyujin… Aku kakaknya Sangrin. Kau Myorin kan? Salam kenal.” kata kakak Sangrin dengan dingin dan kembali memainkan PSP-nya.

Myorin memandang Kyujin dengan tatapan kagum. Kakak Sangrin sangat keren, batin Myorin. Mereka pun menghabiskan waktu untuk main semua permainan. “Ayo kita naik Halilintar…!” teriak Jiwook girang. “AYO…!” teriak semuanya. Semuanya kecuali Sangrin. “Kenapa kau masih disitu, Sangrin? Ayo…!” kata Myorin seraya menarik Sangrin. “A-aku takut…” jawab Sangrin pelan. Wajahnya sangat merah sekarang.

“Tidak apa-apa, Sangrin… Aku akan menjagamu kok. Tenang saja…” kata Riwon seraya merangkul Sangrin. Mencoba menenangkannya. Sangrin tersipu. Ia pun mengangguk pelan. Myorin menggelengkan kepalanya. “Ckckckckck… Apa hubungan kakakku dan Sangrin? Hanya dengan kata-kata seperti itu dari kakakku, Sangrin bisa setuju.” gumam Myorin. “Karena kakakmu sudah bersama Sangrin, bagaimana kalau kau bersamaku saja?” tanya Kyujin masih dengan ekspresi cuek.

“Lalu Jiwook bagaimana?” tanya Myorin khawatir. “Kau bisa sendiri kan, Jiwook…?” tanya Kyujin kepada Jiwook. Jiwook mengangguk. “Baiklah…” jawab Myorin dengan gugup. Jiwook menggeleng. “Dasar remaja. Ckckckckck…” kata Jiwook seraya mengikuti ‘pasangan’ Sangrin-Riwon dan ‘pasangan’ Myorin-Kyujin. Mereka mulai mengambil tempat duduk. Jiwook diurutan pertama dan duduk sendiri. Sangrin dan Riwon duduk di urutan kedua. Dan, Myorin serta Kyujin duduk di bangku ketiga.

Saat permainan dimulai, Myorin dan Kyujin melonjak kegirangan. Mereka berdua memang pecinta ketinggian. Sedangkan, Sangrin menutup matanya seraya meringkik ketakutan. Riwon yang menyadari hal ini, menggengam tangan Sangrin untuk meredakan ketakutan Sangrin. Jiwook didepan mereka hanya bisa kembali menggeleng melihat ‘keanehan’ kakak-kakaknya.

“Tadi sangat seru…!” teriak Myorin dengan bersemangat. “Mau main lagi?” tanya Kyujin. Myorin mengangguk riang. “Tentu saja…! Ayo.” jawab Myorin senang. “Kalian semua mau ikut?” tanya Kyujin kepada yang lainnya. Jiwook mengangguk. Sedangkan, Sangrin menggeleng kencang. Riwon tersenyum. “Kalian main saja, aku akan menjaga Sangrin untuk sementara.” kata Riwon. “Ok…!” kata mereka -Myorin, Kyujin, dan Jiwook- dengan riang.

“Apakah kakak tidak mau ikut mereka saja? Aku jadi merasa bersalah membuat kakak tidak bisa bermain…” kata Sangrin sungkan. “Tidak apa-apa. Aku juga bosan naik itu. Ayo, kita duduk di sebelah sana…!” ajak Riwon sembari menunjuk sebuah bangku. Mereka duduk berduaan dengan sangat canggung. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. “Sangrin…” “Kak Riwon…” panggil mereka berdua secara bersamaan. Mereka pun tertunduk malu.

===

“Hua, sangat seru…..!” teriak Myorin dengan bersemangat setelah selesai main. Kyujin tersenyum dan mendekati Myorin. Ia merapikan rambut Myorin yang terkena angin karena permainan itu. Myorin merona. “Kakak…” panggilnya malu-malu. “Emm?” tanya Kyujin yang sudah selesai dan kembali memandang PSP-nya. “Terima kasih.” kata Myorin dibalas senyuman Kyujin. Tak lama, mereka sudah sampai dan menemui Sangrin-Riwon yang sedang duduk di bangku.

“Kita pulang yuk… Besok ada ulangan lho. PR-ku juga sudah menumpuk.” ajak Myorin. “Ahhh~ Aku masih mau disini, Myorin…” kata Sangrin dengan manja. “Masih mau disini atau masih mau dekat sama kak Riwon…” ledek Jiwook. “HEI…!!! Tutup mulutmu, Cho Jiwook…!” teriak Sangrin seraya mengejar Jiwook. Yang lain pun tertawa melihat pemandangan itu. Akhirnya, mereka berlima pun pulang.

(Di rumah keluarga Cho)

Sangrin masuk ke rumah dengan cepat dan langsung duduk di sofa. “Capeknya…” gumamnya seraya tersenyum kecil. Kyujin dan Jiwook menyusul masuk dan duduk di sofa sebelah Sangrin. “Kakak suka ya dengan kak Riwon?” tanya Jiwook memanas-manasi. Sangrin cemberut, namun wajahnya merona. “Jangan bilang yang tidak-tidak, Jiwook…!” kata Sangrin sebal. “Aku tidak bicara yang tidak-tidak, aku bicara yang sebenarnya. Lagipula, aku dan kak Kyujin merestui kok hubungan kalian. Ya kan, kak Kyujin?” kata Jiwook dengan tatapan jail.

“Riwon itu sangat pintar dan banyak aktif dalam organisasi sekolah kok. Kakak dan dia juga adalah teman, dan menurut kakak, Riwon itu adalah lelaki yang baik untukmu…” lanjut Kyujin. “Kakak~ Kenapa kalian berdua kompak memojokanku?” kata Sangrin sembari masuk ke kamarnya. Ia membuka sedikit pintu kamarnya dan melemparkan secarik kertas kepada Kyujin. “Apa ini?” tanya Kyujin bingung.

“Nomor Myorin…” jawab Sangrin seraya tersenyum jail. “Aishhh~” umpat Kyujin sebelum memandang kertas itu. “Kakak, kemana ayah selama seminggu ini? Kenapa ia tiba-tiba menghilang?” tanya Jiwook kepada Kyujin yang sedang main game. “Entahlah…” jawab Kyujin singkat. “Aku perlu banyak tanda tangan ayah… Piknik di sekolah juga butuh tanda tangan ayah.” kata Jiwook seraya cemberut.

(Di rumah keluarga Choi)

“Huah~~~” umpat Myorin seraya masuk ke rumah dan langsung pergi ke kamar untuk mengerjakan PR-nya. Riwon masuk ke kamar Myorin dan melihat adiknya sedang asyik mengerjakan PR. “Kau ini, baru saja sampai, sudah mikirin PR…” kata Riwon sembari duduk di sebelah Myorin. “Kakak, sudah ditelepon ibu?” tanya Myorin disambut gelengan Riwon. “Huh~ Kemana lagi orang itu? Sudah seminggu hilang tanpa jejak.” dengus Myorin kesal. “Mungkin sedang ada tugas kantor… Sabar saja, Myorin.” kata Riwon mencoba menenangkan adiknya, padahal ia sendiri sangat bingung dimana ibunya berada.

“Aku rindu ayah, kak…” kata Myorin tiba-tiba. “Ya, aku juga…” jawab Riwon sembari tiduran di kasur Myorin. “Coba ayah tidak pergi ke China, pasti ia tidak akan meninggal seperti itu. Iya kan, kak…? Kak…! Kak…!” panggil Myorin, namun yang diajak bicara tak menjawab. Myorin menoleh dan melihat kakaknya sudah terlelap dalam tidurnya. “Dasar tukang tidur…!” kata Myorin kesal.

(Di sekolah Sangrin-Myorin)

Sangrin memasuki kelas dan sudah melihat Myorin yang sedang berkutat dengan HP-nya. “Lagi apa, Myorin?” tanya Sangrin seraya duduk di sebelah Myorin. “Gak tau nih… Pagi ini ada yang sms, tapi pas aku nanya ini siapa, malah gak dijawab dan ngalihin pembicaraan. Cape deh~” keluh Myorin kesal. Sangrin hanya tersenyum menanggapi sahabatnya, padahal dalam hatinya ia terkekeh. “Dasar kak Kyujin… Cepat banget responnya~” gumam Sangrin dalam hati.

(Di sekolah Kyujin-Riwon)

“Kyujin…!” teriak Riwon seraya duduk di sebelah Kyujin. “Ada apa?” tanya Kyujin seraya tetap memandang HP-nya. “Kita kan sudah lama berteman, tapi kenapa kau tidak pernah mengenalkan Sangrin padaku?” tanya Riwon dibalas tatapan tajam Kyujin. “Hya~ Kau berani bicara seperti itu setelah kau juga melakukan hal yang sama…! Kenapa kau tidak pernah mengenalkan Myorin padaku?” balas Kyujin dengan galak.

‘Angkat teleponnya… Riwon, angkat teleponnya…’

Suara dering HP Riwon berbunyi. Ia pun pergi ke keluar kelas dan mengangkatnya. “Halo…” sapa Riwon. “Halo…” balas suara seberang sana. “Ibu?” tanya Riwon memastikan. “Apa kabarmu dan adikmu, Riwon sayang?” tanya ibu Riwon dan Myorin. “Kemana ibu selama ini? Aku dan Myorin merindukan ibu tau…” kata Riwon kesal. “Tenang, Riwonnie, aku baik-baik saja… Aku punya berita baik untukmu, lho.” kata ibu mereka.

“Apa itu, bu?” tanya Riwon penasaran. “Riwon dan Myorin akan mempunyai ayah baru…!” teriak ibu mereka dengan sangat keras. “Apa…!? Ayah baru? Yey~ Selamat, bu…” kata Riwon senang. “Besok, akan ku kenalkan kepada kalian. Ia sudah mempunyai anak juga lho. Kalau gak salah anaknya itu ada 2. Sampai jumpa, Riwon…” jelas ibu. “Sampai jumpa…!” balas Riwon riang.

Dengan semangat 45, Riwon masuk kelas dan menggeret Kyujin ke kelas adiknya, Myorin dan Sangrin. “Myorin…!” teriak Riwon semangat seraya memeluk Myorin dengan erat. Hal ini sangat menganggu Sangrin dan Kyujin yang ada di sebelah mereka. “Kenapa kak?” tanya Myorin terkejut. “Ibu kita akan pulang besok dan ia akan mengenalkan kita ayah baru…!” teriak Riwon dengan riang. “Apa…?! Wah~” kata Myorin senang.

“Selamat, Myorin… Selamat, kak Riwon…” kata Sangrin seraya tersenyum. “Iya… Sampaikan selamatku pada ibumu ya?” lanjut Kyujin sembari mengacak rambut Riwon pelan. “Ok…!” jawab Riwon dan Myorin bersamaan. Setelah sampai ke rumah, Riwon dan Myorin langsung membersihkan semua barang di rumahnya. Ibunya juga bilang, besok mereka akan ada pernikahan kecil-kecilan di rumah.

(Rumah keluarga Choi)

“Nanti ayah baru kita akan seperti apa ya?” tanya Riwon yang sedang asyik mengepel. “Aku tidak tau, kak… Tapi, selera ibu kan tidak jelek, pasti ayah baru kita akan sangat tampan.” jawab Myorin senang. “Kau benar, Myorin…!!!” teriak Riwon riang. “Sudah lama ya kita tidak mempunyai keluarga utuh… Aku sangat senang, kak!” kata Myorin dengan senyuman lebar. “Aku juga… Akhirnya keluarga idaman akan terlaksana!” jawab Riwon seraya tersenyum manis.

(Rumah keluarga Cho)

“Enak ya, Myorin dan kak Riwon akan mempunyai ayah baru…” kata Sangrin dengan wajah sedih. “Iya, kau benar…! Aku sangat berharap ayah bisa mempunyai istri baru.” jawab Kyujin sembari cemberut. Sedang berbicara, HP Kyujin berdering. “Halo…” sapa Kyujin malas-malasan. “Kyujin-ah… Ini ayah.” kata seberang sana. “Ayah…! Kapan pulang?” tanya Kyujin senang. Sangrin dan Jiwook yang mendengar Kyujin berkata ‘ayah’ pun memandang Kyujin dengan riang. “Besok ayah akan pulang. Dan, ayah akan membawa kejutan untukmu…” kata ayah mereka dengan senang.

“Apa itu?” tanya Kyujin kebingungan. “Kau akan tau besok. Jadi datanglah nanti ke suatu rumah. Alamatnya akan kukirimkan sebentar lagi. Kalian pakai baju pesta ya kesana. Sampai jumpa, Kyujin… Sampaikan salamku kepada Sangrin dan Jiwook.” kata ayah seraya menutup teleponnya. “Ayah akan pulang besok dan ayah akan memberikan kejutan untuk kita, Sangrin, Jiwook…!” jelas Kyujin riang. “Yey~~~” teriak mereka senang.

(Esoknya di rumah keluarga Choi)

Myorin sudah bersiap-siap dengan gaun biru mudanya. Riwon pun sudah memakai jas putihnya dan mereka berdua menunggu ibu dan calon ayahnya pulang. Saat sedang menunggu, bel rumah mereka berbunyi. Mereka yang tau pasti itu adalah ibu dan calon ayah mereka, langsung saling berpandangan senang. Riwon disusul Myorin di belakangnya membuka pintu dengan cepat.

“KALIAN~” teriak Kyujin, Sangrin, dan Jiwook terkejut. “Kenapa kalian datang kesini?” tanya Myorin kaget. “Lho, mestinya kita yang bertanya, kenapa kalian ada disini?” tanya Kyujin. “Ini kan rumah kami…” jawab Riwon dibalas anggukan Myorin. “Apa?!” teriak mereka bertiga lagi. “Anak-anak~” seru dua orang dari belakang mereka. “Ayah!” teriak Kyujin, Sangrin, dan Jiwook. “Ibu!” teriak Riwon dan Myorin.

“Calon ayah kita mana, bu?” tanya Myorin disambut anggukan Riwon. “Itu.” tunjuk ibu mereka pada orang yang sedang dipeluk Sangrin, Kyujin, dan Jiwook. “Apa?!” teriak mereka berdua. “Apa kejutan yang ayah ingin berikan kepada kita?” tanya Jiwook, Sangrin, dan Kyujin di lain tempat. “Kalian akan mempunyai ibu baru… Itu!” tunjuk ayah kepada ibu Myorin dan Riwon. Mereka berpandangan kaget. “Apa?!” teriak mereka bertiga.

“KITA AKAN MENJADI SAUDARA…!!!???”

TBC~

@Readers : Selamat membaca ya!

@Myorin : Gimana onnie?? Onnie gak dibikin jelek kan? Wkwkwkwkwk…^^