Full of inspiration and story

Apakah penyesalan selalu datang terlambat?

Apakah aku tak akan bisa membahagiakanmu?

Apakah aku adik yang jahat bagimu?

I’m sorry, my brother…

***

Pasukan hujan sedang turun dengan derasnya. Angin malam berhembus kencang, membuat semua orang yang merasakan itu menderita sakit tulang yang luar biasa. Tapi, hal itu tak dipedulikan seseorang lelaki. Dengan sweater dan jaket tipis, ia menggengam payung dan berdiri di depan sebuah bangunan. Matanya terus memandangi pintu keluar bangunan itu. Menunggu seseorang yang sangat ia cemaskan keluar.

Tak lama, orang yang ditunggu keluar. Dengan sigap, lelaki itu menadahkan payung yang dinggenggamnya sedari tadi kepada orang itu. Tanpa berkata apapun, orang itu hanya melangkah keluar dan berjalan pulang. Ia tak memedulikan kakaknya yang berusaha menyamakan langkahnya untuk sekedar menadahkan payung padanya. Bahkan, kakaknya sendiri tidak kedapatan payung dan basah kuyup.

Ia masuk ke sebuah rumah yang bisa dibilang kecil. Ia melempar barang-barangnya ke sembarang tempat, duduk dan langsung menyetel televisi. Kakaknya yang basah kuyup, hanya bisa memungut tas, sepatu, kaus kaki, dan barang-barang yang dilemparkan adik kesayangannya tadi dengan sabar. Orang tua mereka telah meninggal dunia. Mungkin saat adiknya berusia 15 tahun.

Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orang tuanya. Saat itu, keadaan sedang hujan deras. Tiba-tiba, ia sakit dan orang tuanya pun pergi ke apotik untuk membelikan obat. Orang tuanya menyuruh adiknya untuk menjaganya saat mereka membeli obat. Beberapa jam kemudian, telepon berbunyi dan ia pun mengangkatnya. Ternyata, yang menelepon adalah pihak kepolisian. Polisi itu mengatakan bahwa orang tuanya mengalami kecelakaan mobil saat sedang membeli obat untuknya.

Awalnya, adiknya itu adalah anak laki-laki yang baik, sopan, ramah, dan sangat sayang pada kakaknya. Namun, setelah peristiwa kematian orang tuanya, ia menjadi sangat membenci kakaknya. Kakaknya tak bisa menyalahkan adiknya. Karena peristiwa kematian itu memang adalah sebabnya. Coba ia tidak sakit hari itu, mungkin sekarang ia dan adiknya merasakan hangatnya kebahagiaan keluarga sepenuhnya.

“Kak Carrel…! Aku lapar nih. Buatkan aku makanan…!!!” teriak Josh, adik Carrel saat sedang asyik menonton televisi. Carrel yang sedang melamun memikirkan masa lalunya pun langsung bergegas memasak makanan untuk adiknya. Sejak orang tuanya meninggal, Carrel yang tadinya adalah siswa kelas 3 SMA, berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja untuk masa depan adiknya. Sejak itu pula, ia merawat dan menjaga adiknya. Walaupun, kata yang paling tepat adalah ‘melayani’ adiknya.

Setelah siap, ia menyuguhkannya ke ruang makan yang sekaligus ruang tamu mereka. “Kenapa selalu mie, kak? Aku bosan makan ini terus…” protes Josh dengan muka cemberut. Carrel tersenyum perih seraya mengelus rambut adiknya. “Hanya ini yang bisa kakak beli, Joshy… Maafkan kakak.” jawab Carrel dengan tenang. Josh menatap kakaknya tajam. “Apa yang dikerjakan kakak selama ini? Hanya kelayapan kah? Huh…!” teriak Josh sembari masuk ke kamarnya tanpa menyentuh makanan yang susah payah dibuat kakaknya.

Carrel menitikan air mata. Hatinya sangat perih sekarang. Sekitar jam 5 pagi, ia harus segera pergi dan mengantar koran. Setelah mengantar koran, ia akan bekerja menjadi pelayan di cafe. Dan, malamnya, ia akan menjadi bartender di sebuah bar. Kadang badannya seperti mau rontok. Ini semua dilakukan hanya demi menyekolahkan Josh agar berhasil dan sukses di masa depan. Dan adiknya dengan mudah mengatakan ia hanya kelayapan?

Paginya, seperti biasa jam 4 pagi, ia bangun dan memasak untuk sarapan adiknya. Setelah memasak, ia akan mandi, membangunkan adiknya untuk ke sekolah, lalu mulai mengantar koran dengan sepeda motor bekasnya. “Mau aku antar, Josh?” tanya Carrel lembut. “Dengan diantar motor bekasmu? Tidak, terima kasih…” katanya dengan dingin seraya langsung keluar dari rumah. Carrel menarik nafas panjang. Mencoba menenangkan diri.

Setelah mengantar koran, ia seperti biasa bekerja di cafe. “Selamat pagi, kak…!” sapa Carrel kepada Nathan, pemilik cafe yang sudah Carrel anggap sebagai kakak sendiri. “Halo, Carrel…” balas Nathan sembari tersenyum. Carrel pun mulai melayani makanan dan minuman yang dipesan. Hingga tiba-tiba… Prang! “Suara apa it-? Ya Tuhan, apakah kau baik-baik saja, Carrel?” tanya Nathan saat melihat Carrel sedang terjatuh dengan gelas yang ikut pecah.

“Maafkan aku, kak… Maafkan aku… Aku akan menggantinya, aku janji. Maafkan aku, kak…” gumamnya terus menerus. “Tidak usah pikirkan itu, Carrel… Pikirkan dulu tanganmu yang terkena pecahan beling itu.” kata Nathan sembari mengangkat Carrel dan mendudukannya di suatu kursi. Ia mengambil P3K dan mulai mengobati tangan Carrel yang berdarah. Hanya Nathan-lah tempat dimana Carrel bisa bersandar. Nathan juga satu-satunya orang yang tau bagaimana keadaan Carrel dan adiknya.

“Sebaiknya kamu pulang dulu hari ini, Rell… Tanganmu tak memungkinkan untuk bekerja. Tenanglah, aku tidak akan memotong gajimu. Sudah sana!” kata Nathan dengan senyuman. “Tapi ini tidak adil, kak… Potong saja gajiku. Aku sudah memecahkan gelas dan pulang sebelum waktunya.” jawab Carrel. “Lalu bagaimana caramu menyekolahkan Josh jika aku memotong gajimu? Sudahlah, pulang sana… Aku kan sudah menganggapmu adikku sendiri.” kata Nathan. Carrel pun memeluk Nathan dengan erat. “Terima kasih kak.” jawab Carrel.

Karena hari ini bukan jadwalnya menjadi bartender, ia pun langsung pulang dan mendapati adiknya telah pulang. Tas, sepatu, dan semua barang tergeletak di mana-mana. Carrel menggeleng kecil seraya membereskan ini semua. Saat sedang membereskan, Josh keluar kamar dan kaget melihat kakaknya sudah pulang. “Kakak sudah pulang…? Bukannya kakak biasanya masih kerja?” tanyanya kebingungan. “Kakak pulang karena tadi kakak terkena pecahan beling di tempat kerja…” jawab Carrel dengan senyuman.

“Hanya kena pecahan beling saja pulang ke rumah. Kelihatan sekali kakak memang tidak niat kerja…” kata Josh seraya kembali masuk kamar. Carrel kembali menangis. Hatinya bagai diiris kecil-kecil dengan pisau belati. Adiknya mengatakan itu tanpa memerhatikan perasaannya sama sekali. Ingin sekali ia berteriak dan membentak adiknya: ‘Kau pikir selama ini kakak berhenti sekolah untuk apa!?’. Carrel memang adalah siswa terpandai di sekolah. Mungkin dia akan dibeasiswa ke luar negeri sekarang jika bukan karena putus sekolah.

Pagi ini sangat cerah. Tapi, cerahnya pagi ini sama sekali tidak cocok dengan keadaan dua kakak beradik ini. Saat Carrel sedang mempersiapkan makanan, kepala sekolah menelepon dan menyuruh Carrel datang ke sekolah karena Josh kembali berulah. Sudah hampir lima kali lebih ia dipanggil karena ulah adiknya. Ia pun meminta izin untuk datang telat kepada Nathan dan akhirnya ke sekolah.

“Adikmu kembali bertingkah, Carrel… Kali ini ia bertengkar dengan temannya hingga temannya itu babak belur. Saya sudah tak tau lagi mau bagaimana…” lapor kepala sekolah yang sudah mengenalku dengan baik karena seringnya kita bertemu. “Maafkan adik saya, pak… Saya akan memarahinya nanti.” kata Carrel seraya menunduk. “Saya heran kepada dunia ini. Otakmu begitu pintar, namun kau ditakdirkan bekerja. Sedangkan, adikmu yang kau biayai malah menyia-nyiakan semua pengorbanan yang sudah kau berikan…” kata kepala sekolah dibalas senyuman getir dari Carrel.

Di rumah, Carrel berdiri saat melihat adik berandalnya pulang. “Kudengar kau berbuat macam-macam lagi ya kemarin?” tanya Carrel dengan serius maupun tetap santai. “Huh, jadi kakek tua itu sudah mengadu padamu?” tanya Josh balik. “Dia adalah kepala sekolah yang telah memberikanmu potongan harga agar kau bisa sekolah, Josh! Jangan memanggilnya ‘kakek tua’…!” bentak Carrel kesal.

“Apa urusanmu dengannya sih kak? Kenapa kau yang marah…?! Aku benci punya kakak sepertimu!!!” teriak Josh sembari masuk kamar. Tik! Suara air tumpah mengejutkan Carrel. Ia melihat ke lantai. Ternyata, setetes darah jatuh dari hidungnya. Ia langsung membersihkan lantai itu dan membersihkan hidungnya. Pasti karena terlalu capek bekerja dan kesal, batin Carrel menenangkan diri.

Di cafe, ia seperti biasa bekerja. Sekarang, ia sedang mencuci piring. Tiba-tiba, kepalanya terasa sangat pening. Ia pun memutuskan untuk duduk. Entah darimana, perasaan enek merasuki dirinya dan ia langsung berlari ke kamar mandi. Di wastafel, ia memuntahkan banyak darah. Banyak sekali hingga ia tak tau sudah berapa gelas yang ia muntahkan. Selesai muntah, ia membuka keran agar jejak darahnya hilang.

“Carrel…!” panggil Nathan. “Aku kesana…!” teriak Carrel sembari berlari menuju Nathan untuk kembali bekerja. Sepulang kerja, ia membersihkan rumah sebelum akhirnya tidur. Pikirannya masih penuh dengan kejadian itu. Kenapa tiba-tiba ia memuntahkan darah dan mengeluarkan darah dari hidung kemarin? Apakah ia tak apa-apa? Tapi, ia memutuskan untuk tidur dan tidak memikirkan itu.

Di cafe, ia kembali bekerja sebelum ia kembali merasakan perasaan enek. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan banyak darah. Kali ini lebih banyak. Nathan yang kebetulan melihat Carrel berlari langsung mengikuti Carrel ke kamar mandi. “Oh Tuhan, Carrel…!” teriak Nathan yang dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Carrel. Carrel kembali merasakan pening dan ia pun jatuh.

Ia bangun di suatu kasur empuk. Ia membuka mata. Nathan nampak sedang sangat khawatir. “Kau sudah sadar?” tanya Nathan cemas. Dokter datang ke ruangan dan ingin mengajak Nathan membicarakan apa yang diderita Carrel, namun Carrel menolak dan ingin ikut mendengarkan. “Tuan Carrel menderita kanker darah dan dipastikan…hidupnya takkan lama lagi. Kanker ini sudah parah dan terlambat untuk menyembuhkannya.” jelas dokter itu.

“Ini…ti-tidak mungkin, kan?” tanya Carrel tak percaya. Dibalik semangat dan semua kedewasaannya, ia tetap anak berumur 19 tahun yang tak pantas mendapat cobaan begini beratnya. Ia sedih bukan karena hidupnya tak lama lagi, melainkan karena ia bingung bagaimana adiknya bersekolah dan menjalani hidup tanpanya. Apakah Josh bisa bertahan tanpanya? Nathan memeluk Carrel untuk menenangkan dirinya.

“Jangan katakan ini pada adikku ya?” pinta Carrel dengan lirih. “Bagaimana bisa aku tak memberitahunya, Carrel… Dia kan adikmu. Justru, aku ingin memberitahunya betapa besar pengorbananmu sampai dia seperti ini dan aku ingin menyuruhnya agar tidak menyiksamu lagi.” kata Nathan naik darah. “Jangan, kak…! Please~ Aku tidak mau membuatnya tertekan.” jawab Carrel seraya memohon.

“Baiklah… Huh~ Kenapa kakak sebaik dan sesabar dirimu harus selalu disiksa adikmu sendiri? Dia mestinya bersyukur mempunyaimu di dunia ini.” kata Nathan disambut senyuman manis dari Carrel. Ia pulang setelah memohon kepada pihak rumah sakit agar memperbolehkannya pulang. Kertas pemeriksaan yang mengatakan bahwa ia sakit, ia sembunyikan di laci kamarnya. Tak lama, adiknya pulang.

Adiknya penuh dengan luka dan seragamnya sangat kotor. “Kau berkelahi lagi?” tanya Carrel dengan penuh selidik. “Jangan urusi aku… Urusi saja pekerjaanmu.” kata Josh dengan cuek. “Kau juga urusanku, Josh! Orang tua kita menitipkanmu padaku…! Kau juga urusanku!” teriak Carrel kesal. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Hatinya sedang sangat sedih sekarang. Ia sangat tertekan memikirkan bagaimana adiknya hidup tanpanya. “Apa sih masalahmu, kak? Huh~” tanya Josh sembari masuk ke kamarnya.

Musim semi telah datang. Carrel dan Josh masih sering bertengkar seperti biasa. Hanya saja penyakit yang diderita Carrel seakan menggerogoti pelan-pelan tubuh Carrel. Matanya makin sayu, wajahnya makin pucat, dan tubuhnya semakin mengurus. Josh masih tak mengetahui hal ini. Ia masih berlaku biasa kepada kakaknya. Memang Josh merasa aneh kepada kakaknya yang nampak lebih kurus dan pucat. Kakaknya juga sering berlari ke kamar mandi tiba-tiba. Namun, ia tak terlalu memperhatikannya.

Malam ini, seperti biasa Carrel pulang larut malam. Saat pulang, ia melihat Josh sedang duduk menonton televisi. “Kau belum tidur?” tanya Carrel seraya tersenyum dan mengacak rambut Josh pelan. “Aku lapar kak… Bisa belikan aku makanan?” kata Josh dengan pandangan memohon. “Baiklah… Kakak pergi dulu. Jaga dirimu ya.” jawab Carrel seraya pergi. Josh yang bosan, mematikan televisi yang ia tonton. Ia ingin masuk ke kamarnya untuk membaca majalah, sebelum ia melihat ruangan kakaknya masih terbuka.

Ia mau menutupnya, namun hawa penasaran merasukinya. Ia pun masuk dan mulai melihat ke sekitar. Banyak sekali foto dimana mereka berdua bersama. Di lantai, tergeletak pulpen kakaknya. Ia mengambilnya dan menaruhnya di meja. Sebuah laci mengalihkan pandangannya. Ia membukanya dan melihat sebuah kertas dengan tulisan rumah sakit. Ia membacanya dan kertas yang dipegangnya pun terjatuh.

Air matanya tumpah. Jadi, selama ini kakaknya menyimpan rahasia bahwa ia sakit Leukimia? Bukannya Leukimia itu kanker darah? Dan itu sebabnya belakangan ini kakaknya menyuruhnya mandiri? Dalam hati ia berjanji akan membahagiakan kakaknya hingga akhir hidup kakaknya. Ia akan meminta maaf atas segala perbuatan yang telah ia lakukan. Ia sadar bahwa selama ini kakaknya begitu baik kepadanya, namun dengan mudahnya ia cuek dan tak pernah memikirkan kakaknya.

Di tempat yang berbeda…

Carrel mengangkat kantong makanan yang baru saja ia beli seraya tersenyum. Ia melangkah ke rumah mereka sebelum pening kembali memasuki otaknya. Dengan keras, ia terjatuh dan makanan yang ia bawa pun jatuh berantakan. Namun, ia masih belum mau mengalah pada penyakitnya. Ia mencoba bangun dengan sekuat tenaga. Tetapi, ia terlalu lemah untuk bangun. Darah segar mulai melesat keluar melalui hidung dan mulutnya. Ia pun pingsan.

Carrel membuka mata dan bisa melihat semuanya gelap. Ia bangun dan mencoba berlari, namun sejauh pandangannya yang gelap, sama sekali tak terlihat jalan keluar. Karena lelah, ia pun duduk. Terdengar suara adiknya sedang menangis sesenggukan. Ia berteriak memanggil nama adiknya berkali-kali, namun semuanya sia-sia. Tak ada yang meresponnya. Adiknya masih tetap menangis seakan tak mendengar panggilan kakaknya.

Carrel menoleh ke segala arah. Beusaha mencari keberadaan adiknya. Namun, nihil. Tak ada sosok Josh sama sekali. “Kak Carrel, maafkan aku… Aku benar-benar minta maaf atas semua perlakuanku padamu… Aku sadar semuanya ini salah. Maafkan aku, kak Carrel. Aku berjanji… Aku berjanji akan menjadi yang lebih baik dan bersekolah dengan benar. Aku janji, kak…” kata Josh dengan tangis yang masih terdengar. Carrel tersenyum. Ia sudah tenang sekarang. Ia pun kembali menutup matanya dan cahaya putih menerjangnya. Ia bisa merasakan sentuhan hangat orang tuanya menariknya ke atas.

Tit………….

Suara alat kedokteran membuat semuanya jelas. Josh menangis dengan keras sembari memeluk kakaknya yang sudah terbaring tak bernyawa. Ia sangat menyesal sekarang. Menyesal atas apa yang telah ia perbuat. Nathan memeluknya dan menenangkannya. Ia terus menangis tanpa tau arah. Mungkin hal yang bisa membuatnya melupakan penyesalannya hanya dengan menangis.

***

Ia duduk di ruang tamunya. Perlahan ia memperhatikan surat yang ditemukan di dalam laci kakaknya. Surat terakhir yang khusus diberikan kakaknya untuknya. Ia menatap surat itu. Hatinya dilema. Apakah ia akan membacanya atau tidak? Tapi, dia memutuskan untuk membacanya.

Halo, adikku yang manis… ^^

Kakak tau pasti kau sangat menderita saat orang tua kita meninggal. Dan kakak tau semua itu gara-gara kakak. Untuk itu kakak tak pernah marah atau kesal saat kau membentak kakak, menyuruh-nyuruh kakak, atau pun menyakiti hati kakak. Maafkan kakak ya… Kakak juga sangat merasa bersalah dan kesal dengan diri kakak sendiri.

Dan, maafkan kakak juga jika kakak harus meninggalkanmu lebih cepat. Kakak tidak mau memberitahumu agar kau tidak tertekan dan tetap melakukan pekerjaanmu seperti biasa. Kuharap dengan kematianku ini, kau bisa sadar akan semua kesalahanmu dan akan bersekolah dengan baik hingga lulus nanti. Ah, untuk uang sekolahmu, tenang saja… Aku sudah menabung sejak lama untuk menyekolahkanmu. Tabungannya ada di bawah kasurku. ^^

Sampai jumpa, Joshy…

-Carrel-

Ia langsung meraih bawah kolong kasur Carrel. Ternyata, memang ada sebuah kotak. Ia membuka kotaknya dan terkejut setengah mati. Uang setumpukan terlihat di dalamnya. Josh pun menangis seraya memeluk kotak itu. Kakaknya telah mengumpulkan uang untuk masa depannya selama ini? Terima kasih kak… Terima kasih… Aku tidak akan menyia-nyiakan pemberianmu.

***

5 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Sekarang, Josh bukan lagi anak SMA berandalan. Namun, ia adalah direktur perusahaan international. Dan, ini semua berkat uang peninggalan kakaknya yang sudah kakaknya cari dengan keringat, darah, maupun seluruh tubuhnya. Josh memandang foto mereka berdua. Air mata mulai kembali terjatuh. Ia membisikan sesuatu ke foto kakaknya itu.

“I’m sorry, my brother…”

FIN


Advertisements

Comments on: "Story : ~I’m Sorry, My Brother~" (4)

  1. wow~
    hiks2.
    utk pertama kalinya, ceritamu buat hatiku pilu christin.
    (sungguh, tk bohong)

  2. Huaaa, saeng, telat2 *digetok tereak2 gaje
    bagus bgt ^^b, jadi kepikiran salah ma adik nih T.T *curcol
    ayo, share more ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: