Full of inspiration and story

Chapter Five ~Death Or…?~

Perjalanan menuju kota Bologna tak memakan waktu cukup lama. Siang ini di Bologna, kita memutuskan untuk makan siang dulu di salah satu restoran. Aku dan Kak Jeremy diberikan menu dan aku pun melihatnya satu persatu. Sangat mahal dan ada beberapa makanan yang tidak aku ketahui sama sekali! Aku pun menunggu pesanan Kak Jer saja. “Kau mau pesan apa, Hachie?” tanyanya dengan lembut.

“Aku mengikutimu saja, kak Jer…” jawabku seraya menunduk. “Ok… Kalau begitu mortadella-nya 2 ya.” pesan kak Jer dibalas anggukan waiter. Ia pun mengangguk dan melenggang pergi. “Mortadella? Apa itu ya?” gumamku dalam hati. Tapi, aku terlalu malu untuk mengatakan aku tidak tau makanan itu. Sekarang aku menjadi berpikir, sebenarnya aku ini orang Italy atau bukan sih?

Setelah menunggu lama, akhirnya pesanan kami datang. Aku terkejut melihat apa sebenarnya mortadella itu. Ternyata, mortadella adalah sosis super besar khas Bologna! Aku mengambil pisau dan garpu di meja. Melihat sosis super besar ini saja sudah membuatku kenyang. “Tidak makan, Chie?” tanya kak Jeremy sembari memakan makanannya dengan lahap. Seperti tak pernah makan selama satu tahun.

“Makan kok…” kataku seraya mulai memotong kecil sebuah dagingnya dan menusuknya dengan garpu yang aku pegang. Aku pun memakannya. Mmm… Lumayan enak! Aku langsung melanjutkan makanku dengan lahap. Pantesan kak Jer begitu bersemangat, ternyata mortadella memang sangat enak. Setelah selesai makan, aku dan kak Jer memutuskan kembali menaiki motor dan pergi ke tempat dimana Red Eyes kembali berpijak.

Dari informan terpercaya, Bologna adalah markas mereka. Kak Jeremy terus menjalankan motornya dengan cepat. Hingga akhirnya ia memberhentikan motornya di suatu garasi besar. Aku melangkah pelan melihat sekitar. Namun, sudah kuputuskan untuk tetap diam di tempat. Dari pengalaman, sudah dua kali aku memergoki tempat mereka dan berakhir tertangkap oleh kelompoknya.

Aku tidak mau lagi kali ini. Untuk itulah, aku hanya diam melihat kak Jer yang sedang menelepon salah satu informannya. Tak lama, ia menutup telepon genggamnya dan berjalan perlahan kedepan. Tanpa banyak bicara, aku ikut melangkah di belakangnya. Ia mulai memasuki sebuah ruangan gelap yang sangat lembap. Setelah aku teliti lagi, ini adalah saluran air! Sungguh ajaib…

Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara pembicaraan orang. Arah suaranya berada diatas. Apakah kelompok Red Eyes sedang berbicara  tepat diatas saluran air yang aku dan kak Jer langkahi? Kak Jeremy mendekat keatas untuk mempertajam pendengarannya. Begitu pula denganku. Aku mendengar beberapa orang sedang bicara dengan sengit-sengitnya.

“Sial…! Anak itu lepas lagi.” umpat seseorang dari mereka. Aku sangat yakin mereka sedang membicarakanku sekarang. “Siapa sih dia sebenarnya? Apakah benar, ia adalah adik kandung Hadden?” tanya seorang lagi dengan suara serak khas. “Kelihatannya sih begitu… Muka mereka sangat mirip.” kata orang yang pertama. “Setahuku sih memang Hadden punya kembaran… Saat aku disuruh menculik Hadden, aku memilih salah satu dari dua anak yang bermuka sama persis.” jawab seorang yang mempunyai suara serak khas tadi.

Aku meradang mendengarnya. Jadi, orang bersuara khas itu yang telah menculik Hadden, kakak kembarku sendiri? Dan jika saja waktu itu pilihannya tertuju padaku, mungkin aku akan menjadi Hadden sekarang dan Hadden akan menjadi aku. “Hadden awalnya tak mau bergabung di kelompok kita kan? Lalu, apa penyebabnya ia tetap di kelompok kita dan sangat setia? Bukannya dulu ia mencoba berkali-kali kabur untuk kembali ke keluarganya?” tanya orang pertama.

“Yah… Memang, tapi pemimpin kita sudah menaruh sebuah alat cuci otak di otak Hadden. Jadi, selama tombol diaktifkan, ia akan terus setia dan takkan berpaling dari kita…” jawab orang yang tampaknya baru datang. “Really?! Dimana tombol itu?” tanya orang pertama. “Di markas kita ini. Tepatnya di gudang bawah tanah…” jawab orang bersuara serak itu. Kalau saja tidak mengingat aku sedang bersembunyi, mungkin aku sudah memekik terkejut.

Aku dan kak Jeremy bertatapan dengan raut wajah seperti mengatakan ‘APA…!?’. Tanpa basa-basi, kita berdua berlari mencari ruang bawah tanah itu. Hatiku nampak mencelos sedikit, setidaknya Hadden tidak membenci atau menolakku. Hanya saja ia berada di pengaruh Red Eyes. Kita berdua berlari secepat mungkin mencari ruang bawah tanah. Di sebuah jalan bercabang, aku dan Kak Jeremy memutuskan untuk berpisah dan mencari dijalan bercabang yang berbeda.

Aku mempercapat lariku. Aku terus berlari tanpa tau arah yang aku masuki. Yang ada di pikiranku hanya satu, bagaimana menemukan ruang bawah tanah itu. Aku menerobos beberapa pintu dan akhirnya aku keluar dari saluran air yang sangat pengap ini. Aku mulai melangkah pelan-pelan mencari dimana ruang bawah tanah berada. Aku tidak boleh terlihat oleh yang lain sekarang.

Aku terus berjalan dan beberapa kali membuka semua pintu. Hingga akhirnya, aku menemukannya! Aku melihat sebuah pintu dengan tulisan ‘Storage Room’ di depannya. Secercah senyuman menghiasi wajahku. Ceklek! Aku memutar gagangnya, namun nihil. Ruangan ini tak bisa terbuka. Aku mendengus kesal. Apa lagi ini! Apakah begitu susahnya hanya untuk membawa pulang kakak kembar yang sudah lama hilang? Aku pun melangkah ke tempat lain.

Tap… Tap… Tap…

Suara langkah kaki mengejutkanku. Aku langsung bersembunyi sebisa mungkin di pojok. Ia tampaknya juga adalah salah satu kelompok Red Eyes. Aku bisa melihat sebuah benda silau yang berada di kantung celananya. Ya, itu adalah kunci! Dan berarti pasti diantara semua kunci itu, akan ada kunci untuk membuka ruang bawah tanah tersebut. Tak tau mendapat keberanian darimana, aku mengambil kayu yang berada tak jauh dari tempatku dan memukul kepalanya dengan keras. Ia pun pingsan seketika.

Aku mengambil kuncinya dan memekik riang. Begitu sampai di ruang bawah tanah itu, aku mulai mencocokan kuncinya dan memasukan satu-satu kunci itu ke pintu. Berharap salah satu dari kunci itu adalah kunci ruang bawah tanah. Dan…Klek! Pintunya terbuka. Sempurna! Aku langsung masuk ke ruangan dan melihat semuanya gelap. Aku mengambil senter dari kantungku. Senter ini memang sudah kak Jeremy persiapkan sebelumnya.

“Hei kau…!” teriak seseorang dengan suara seraknya. Aku menoleh. Tepat di belakangku sudah ada seseorang dengan usia separuh baya dan tubuh yang masih tegap. Aku meneguk ludah pelan. Bagaimana ini? “Ah… Menarik! Coba kita hitung beberapa kali kau datang diam-diam kesini dan berhasil kabur setelah ditangkap. Dua? Bukan, ini ketiga kalinya. Dan, kupastikan setelah ketiga kalinya, kau tidak akan bisa kabur lagi…!” katanya dengan seringai tajam.

Aku terpaku mendengarnya. Perasaan resah, cemas, takut, dan apapun itu bercampur dalam pikiranku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah menyelamatkan kakak kembarku hal yang salah? Aku tak bisa memungkiri aku hanya anak 17 tahun yang tak pernah belajar bela diri atau yang lainnya. Separuh hidupku hanya aku gunakan untuk belajar. Tapi, nampaknya Fisika atau Kimia yang sering aku pelajari tak berguna sekarang.

Sial! Aku merutuki diriku sendiri. Coba aku ikut ekstrakurikuler bela diri, pasti kejadiannya takkan jadi seperti ini. Ia mulai mendekatiku. Yang bisa kulakukan hanya mundur agar menjauh darinya. Doa sudah aku lantunkan dalam pikiranku, berharap suatu keajaiban datang dan sebuah batu akan jatuh tiba-tiba mengenai kepala orang itu dengan sekali hentakan. Namun, tak ada yang terjadi.

Aku memekik pelan saat melihat dengan jelas ia mengeluarkan sebilah pisau dari kantung jaketnya. “Ma-mau apa kau?” tanyaku gelagapan. “Jangan takut! Ini tidak akan lama. Hanya membuat kau merasa sakit sedikit.” kata orang itu dengan seringai dan tatapan tajam. Aku menarik nafas. Keringat sudah mulai menjalar dari seluruh tubuhku.

Makin lama ia semakin mendekat padaku dan mengacungkan pisaunya tepat di hadapanku. Aku tidak bisa mundur lagi karena aku sudah meraih tembok pojok. Semakin lama semakin dekat dan…

JLEB………..!

End Of Chapter Five~


Advertisements

Comments on: "Story : ~Find My Twin In Italy~ (Part 5)" (1)

  1. selesaikan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: