Full of inspiration and story

“SOPHIA HERENY, MENJAUH DARINYA…!!!!!!!!!!!!!”

Aku dan Hassey yang kaget langsung menengok ke sumber suara. Dan aku langsung merasakan jantungku berdegup sangat kencang. “Ayah…” panggilku pada orang yang ada di depanku. Tingginya juga hampir sama denganku, bahkan lebih tinggi 20 cm dariku. “Sudah kubilang untuk tidak mendekati seorang manusia, Sophia…! Apa kau tidak belajar dari kesalahan ayah dulu?” tanya ayahnya seraya menyeretku menjauh dari Hassey.

“Tapi, Hassey tidak jahat, ayah…! Lagipula ia tidak sepenuhnya manusia. Ia juga adalah setengah hely…” jawabku tak terima. “Pertama aku juga berpikir mantan sahabatku itu tidak jahat… Tapi akhirnya? Walaupun ia adalah setengah hely, ia juga memiliki darah manusia kan di dalam tubuhnya? Ayo pergi, Phia…!” teriak ayah sembari menarik tanganku. Aku menoleh pelan kearah Hassey. Ia memandangku dengan pilu.

“Tenang saja, Hassey… Aku akan segera kembali padamu.” bisikku kepada Hassey lewat kejauhan tanpa diketahui oleh ayah. Di kastil tempat tinggalku, ayah mengunciku ke kamar dengan penjagaan ketat. Aku bahkan tak boleh keluar kamar sama sekali. Makan dan minum harus tetap aku lakukan di dalam kamar. Aku beberapa kali memohon agar ayah segera melepasku, namun ayah tak pernah mendengarnya.

Hari ini tepat acara kemerdekaan bagi sang manusia. Aku benci mengatakan ini, tapi aku sempat mendengar ayah dan yang lainnya sedang merencanakan untuk membunuh dan membantai habis manusia pada hari bersajarahnya ini. Aku berkonsentrasi untuk menggunakan telepatiku kepada Jamet dan Yeremy. “Bagaimana keadaan diluar?” tanyaku lewat telepati.

“Bagi para elf, baik-baik saja, tapi bagi manusia, keadaannya sungguh tak aman. Pembantaian sedang dilakukan dimana-mana. Dan…” kata Jamet dengan terpotong-potong. “Dan…apa?” tanyaku lagi. “Dan Hassey ikut dibantai oleh para pengawal. Sekarang ia sedang bertarung dengan para pengawal. Kami ingin membantu, tapi kau tau kan kita tak boleh ikut campur?” jelas Yeremy. “Ok… Tunggu aku disana.” jawabku sembari mematikan telepatiku.

Aku mengambil seprai dan mengikatnya menjadi satu. Aku menjulurkannya ke bawah balkon kamarku dan kemudian mengikatnya kuat-kuat ke salah satu tiang penyangga. Setelah yakin, aku pun turun dengan hati-hati. Bak! Aku sudah memijak tanah sekarang. Aku memanggil kuda kesayanganku dan kemudian menaikkinya. Aku sudah menyamar menjadi lelaki sekarang. Jadi tidak akan ada yang mengenaliku sebagai putri pemimpin para elf.

Aku mengatur kudaku hingga akhirnya sampai di arena pertarungan. Aku tersenyum kecil pada Jamet dan Yeremy. Nampaknya, mereka berdua mulai mengenaliku sekarang. Aku mulai mengambil panahku dan berusaha melawan para pengawal yang juga elf. Entah kenapa, aku sangat benci kepada keputusan ayahku saat ini. Untuk apa ia menyerang manusia tak berdosa?

Samar-samar, bisa kulihat Hassey sedang melawan berbagai lawannya dengan pedang dan panah. Saat ia hampir tertusuk pedang lawan, aku menangkisnya. Hassey pun mengucapkan ‘terima kasih’ padaku. Nampaknya, ia masih belum menyadari bahwa aku adalah Sophia bukan seorang lelaki. Sekarang, aku bisa melihat Jamet dan Yeremy ikut melawan para pengawal.

Mereka sangat semangat membantas para lawan yang seharusnya menjadi kawan mereka sendiri. Aku sangat terharu melihatnya. Ternyata, aku tak salah memilih teman selama ini. Tak terasa, para elf mulai kesulitan melawan para manusia yang kesal dengan kelakuan elf sekarang. Ayahku pun ikut melawan para manusia. Aku memantapkan penyamaranku. Tidak mau terlihat oleh ayah.

Hingga akhirnya, ayahku berduel dengan Hassey sekarang. Aku masih bisa mendengar perkataan mereka seraya bertarung sengit. “Jadi, kau adalah lelaki setengah manusia setengah hely itu kan? Yang waktu itu kutemui sedang bersama Sophia…!?” tanya ayah dengan seringai tajamnya. “Ingatanmu tidak tumpul juga, tapi ya, memang aku yang waktu itu bersama Sophia…” jawab Hassey penuh rasa percaya diri.

“Dimana kau menyimpannya?” tanya Hassey lagi. Ayahku menyeringai lebih tajam. “Ia aman bersamaku… Tapi, mungkin saat ini ia tidak tau aku akan menghabiskanmu sekarang juga.” kata ayah sembari melawan Hassey dengan lebih ganas. Tak disangka, Hassey ikut menyeringai. “Kau salah, tuan… Mestinya kau mengatakan: ‘Tapi, mungkin saat ini ia tidak tau kau akan menghabiskanku sekarang juga.'” balas Hassey.

Aku yang terlalu lama mendengarkan pembicaraan mereka berdua pun, diserang dan jatuh tersungkur dari kuda. Semua penyamaranku lepas seketika. Ayah dan Hassey sontak melirik kearahku. “Sophia…!?” teriak mereka berdua hampir bersamaan. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hassey dengan pandangan tajam. “Menolongmu…” jawabku singkat.

“Ta-tapi, kau kan juga seorang elf, Phia…” kata ayah yang tak percaya. “Aku tau, ayah…! Tapi kau sudah kelewatan. Manusia yang telah kalian bunuh kan tidak bersalah, ayah…!!! Aku tau sahabatmu itu mengkhianatimu. Dan ia salah bukan karena ia adalah manusia, tapi memang karena ia mempunyai pikiran jahat padamu… Tidak sedikit juga kan elf yang berperilaku jahat? Bukan begini caranya…!” kataku panjang lebar.

“Aku tak percaya putriku telah mengkhianatiku…” kata ayah sembari mundur beberapa langkah. “Ayah…! Siapa yang telah mengkhianatimu? Bukannya kau sendiri yang mengurungku dalam kamar dan mengajarku secara tak langsung bahwa kau salah?” kataku dengan nada kecewa. “Sekarang pilihanmu hanya dua, Phia…! Pilih ayah atau lelaki ini…!!!” teriak ayah dengan sangat marah.

“Tapi, aku tak bisa memilih antara kalian berdua… Kalian berdua sama pentingnya bagiku.” kataku dengan lirih. “Pilih…!” teriak ayahku. “Hassey. Aku memilih Hassey… Maafkan aku, ayah… Bukannya aku tak mau memilihmu, tapi aku tak sanggup membiarkan kau berbuat jahat.” jawabku lantang.

“Baiklah, jangan pernah akui aku sebagai ayahmu lagi…” kata ayahku seraya pergi. Namun, sebelum ayah pergi, ia menancapkan panah tepat kearah jantung Hassey. Aku memekik tak percaya. Kemana ayahku yang dulu? Kenapa ia menjadi tak berkeprikemanusiaan seperti ini? Darah mulai merembes lewat seluruh tubuhnya. Aku pun mendekatinya.

“So-sophia…” panggilnya lemah. “Jangan banyak bergerak, Hassey.” kataku sembari menggendongnya dan berlari menjauhi arena. Aku berjalan melewati pepohonan hingga menuju ke sebuah goa. Aku memutuskan untuk berhenti disitu. “Sophia… A-aku” katanya lagi. “Please, Hassey… Jangan bicara lagi. Aku tak mau mendengarkanmu bicara. Aku takut kau akan mengucapkan permintaan terakhirmu…” potongku.

“Aku mencintaimu, Phia… Selamanya.” gumamnya sebelum menutup mata. Aku memekik kaget. Air mata sudah membuat pipiku banjir. Apakah kisah cintaku hanya berakhir sampai disini? Aku baru sadar aku juga merasakan yang sama dengannya. Aku mencintainya. Tapi, kenapa ia harus pergi secepat ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?

TBC~

N.B: Maaf ya kalo pendek dan lama banget… Kayaknya next part bakal jadi yang part terakhir. Love u, all~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: