Full of inspiration and story

CA

Chapter One %%% ^Introduction^

Angin yang sangat dingin berhembus tanpa arah diiringi hujan besar. Petir menyambar dimana-mana. Menyambar siapa atau apa saja sesukanya. Suara bising yang disebabkan oleh gemercik air dan hembusan angin lebat bergeming di seluruh penjuru kota malam ini. Di suatu daerah sepi berupa hamparan rumput hijau, langit menampakan sedikit cahayanya. Dan turunlah suatu mahluk asing yang didominasi putih keperakan.

Bukan, dia bukan suatu mahluk asing. Dia adalah seorang angel dengan sayap putih keperakan yang bersinar serta nampak sangat besar dan kokoh. Pakaiannya yang berupa kemeja dan celana panjang bewarna putih melambai indah terkena angin lebat. Entah kenapa, ia tak basah sama sekali walaupun hujan sedang turun dengan lebatnya. Jika dideskripsikan, mahluk ini hanya mempunyai suatu kata. Sempurna.

Wajahnya yang berparas asia sangat manis dan putih bersih tanpa noda sedikitpun. Matanya bewarna biru murni, memberi kesan kedamaian bagi semua yang melihatnya. Hidungnya sangat runcing dengan bibir yang mungil. Tubuhnya juga sangat langsing dan jangkung, mungkin sekitar 190 cm. Saat kaki panjangnya berpijak tanah, sayapnya pun hilang dan kembali masuk ke punggungnya. Herannya, kemejanya tidak sobek sama sekali. Seakan memberi gambaran bahwa sayap itu hanya ilusi.

Dengan langkah tegap bak jalannya seorang model, ia melangkah pasti menuju suatu rumah. Ia menekan bel kecil yang lembap akibat hujan yang menerpa. Tak lama, seseorang pria dengan usia kurang lebih 45 tahun membuka pintu dan mempersilahkan mahluk itu masuk. Tanpa basa-basi, ia melangkah masuk dan berdiri menghadap jendela besar.

“Bagaimana keadaan ayahmu, Cello? Apakah dia baik-baik saja?” tanya pria itu seraya duduk di salah satu sofa bewarna ungu muda. Lelaki yang diajak bicara menoleh sebentar kearah pria itu dan kemudian kembali memandang jendela. “Baik, paman Johnny… Hanya saja, ia sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai Angel Leader sekarang.” jawab Cello dengan dingin.

“Pasti enak ya tinggal diatas sana… Jika saja kejadian berpuluh-puluh tahun lalu tidak terjadi, mungkin aku tidak perlu ada di dunia aneh ini.” gumam pria itu sembari mengatur letak kacamatanya. Cello tidak menjawab, hanya sebuah dengusan yang keluar dari mulutnya. “Mari aku kenalkan kau dengan anakku, Henna.” kata pria itu seraya memberi isyarat agar Cello mengikutinya.

Dengan terpaksa dan uring-uringan, Cello pun mengangguk dan mengikuti pria yang dipanggilnya paman itu menuju suatu ruangan. Yah, pria itu memang adalah kakak kandung ayah Cello. Dan, seharusnya pria itu juga yang menggantikan kakek Cello untuk memimpin para angel dan menjadi angel leader, namun karena suatu kejadian, akhirnya pria itu dihukum dan ditempatkan di dunia bawah, yang kita kenal dengan sebutan ‘bumi’. Ayah Cello pun dijadikan pengganti kakeknya sebagai angel leader.

Setelah melewati lorong-lorong yang cukup panjang, mereka pun sampai. Pria itu mengetok pintu kayu yang terdapat diujung lorong. “Siapa?” tanya suara perempuan dari dalam. “Ayah…!” teriak pria itu. Tak lama, pintu pun dibuka dan munculah paras seorang perempuan cantik dengan wajah yang bisa dibilang sempurna juga. Parasnya tak berbeda jauh dengan Cello dan pria itu. Hanya warna bola matanya bukan bewarna biru, melainkan bewarna hijau tua.

“Kenalkan ini Cello, keponakan ayah yang berarti juga sepupu kandungmu… Cello, ini Henna, sepupumu. Dialah yang akan kau ajarkan.” kata pria itu saling memperkenalkan. Henna tampak mengamati Cello dengan sangat seksama. Tapi, nampaknya Cello tak tertarik sama sekali untuk memandang Henna. “Kalian akan aku tinggal disini ya. Berbincanglah lebih jauh… Dan ingat Cello, jangan menarik perhatian orang-orang!” kata pria itu sembari berjalan keluar dan menutup pintu kamar.

Cello mengamati ruang tidur Henna. Warnannya didominasi oleh merah muda. Banyak setumpukan buku di rak dan ruangannya cukup luas. Ia memilih duduk di salah satu sofa yang tampak nyaman. Henna pun mengikutinya untuk duduk di sofa yang berada tepat dihadapan Cello. “Jadi…kau seorang angel?” tanya Henna sembari kembali mengamati seluruh tubuh Cello dengan cermat, seakan sedang mengamati hewan langka yang sudah punah beribu-ribu tahun yang lalu.

Cello sedikit risih dengan pandangan Henna, namun yang bisa dia lakukan sekarang hanya mengikuti semua permintaannya. “Mau bukti?” tawar Cello diikuti anggukan riang dari Henna. Cello pun mengayunkan jarinya dan tirai di jendela Henna langsung tertutup dengan sendirinya. Belum sempat Henna kagum akan hal itu, Cello berdiri dan melangkah ke tempat yang sepi. Dengan sekali hentakan, sayap putih yang indah keluar dari punggungnya.

Henna membuka mulutnya lebar-lebar. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat sayap seindah ini. Ayahnya tak pernah memperbolehkan Henna untuk melihat sayapnya. Dan Henna sendiri belum tau cara mengeluarkan sayap dari punggungnya. Henna mendekat kearah Cello dan mulai menyentuh sayapnya. Lembut. Rasanya sama seperti sedang menyentuh permen kapas. Matanya nampak sangat bersinar melihat keajaiban ini.

Cello terkekeh pelan. “Baru pertama kali aku melihat seorang angel sangat kagum saat melihat sayap angel lain…” sindir Cello sembari memasukan lagi sayap besar itu ke punggungnya. Henna mendengus kesal mendengar kata-kata Cello barusan. Dengan dingin, ia membuka pintu kamarnya. “Ayo aku antar ke kamarmu…!” perintahnya dengan kasar. Cello pun mengikuti Henna sembari tersenyum kecil.

“Ini kamarmu mulai sekarang. Baju-bajumu juga sudah disiapkan oleh ayah di lemari. Karena usiamu di bumi masih 16 tahun, kau harus sekolah mulai besok. Seragam dan buku-buku pelajaranmu juga sudah ada disini. Kau tau kata ‘sekolah’ kan?” jelas Henna seraya langsung menutup pintu dan pergi kabur. “Dia mau ikut meledekku ternyata. Tapi, aku sudah tau tuh yang namanya ‘sekolah’. Dasar aneh…!” umpat Cello seraya tersenyum.

Ia bergegas mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Untung saja ayahnya sudah mengajarkannya kegiatan biasa yang dilakukan oleh manusia. Setelah selesai, ia membaca buku-buku pelajarannya. “Ini terlalu mudah untukku…” gumamnya setelah membaca sekilas dalam hitungan detik. Ia pun tertidur di kamarnya yang didominasi warna biru.

Esok paginya, saat Cello pergi ke ruang makan, sudah nampak Henna dan ayahnya. “Pagi, paman… Pagi, Henna…” sapa Cello seraya duduk di salah satu kursi dengan pelan. “Pagi, Cello…!” sapa Henna dan ayahnya, Johnny. “Makanlah. Itu namanya sandwich…” kata Johnny kepada Cello yang nampak kebingungan saat melihat makanan di piringnya. “Memang di dunia atas itu, angel tidak pernah makan ya, yah?” tanya Henna sembari memakan sandwich-nya.

“Tidak, Henna… Angel tidak pernah makan di dunia atas sana. Makanya, kamu harus menyertai Cello nanti. Masih banyak hal di dunia ini yang belum Cello ketahui…” kata Johnny dengan tegas. Henna mengangguk paham, sedangkan Cello mulai mencoba menggigit sandwich-nya. “Not bad…” gumamnya sembari memakan sandwich-nya lagi.

Setelah diantar oleh Johnny dengan menggunakan mobil, Cello dan Henna pun menuju kelas mereka. Kebetulan mereka berada di kelas yang sama. Saat bel berbunyi, guru pun meminta Cello untuk memperkenalkan diri. “Namaku Cello Aquantris. Aku sepupunya Henna. Mohon bantuannya semua…” kata Cello seraya tersenyum sangat manis. Membuat anak-anak yang lain langsung terpesona. Apalagi saat melihat kedua bola mata biru murninya.

Ia duduk di sebelah Henna. Dan pelajaran pun dimulai. Biasanya yang paling pintar di kelas adalah Henna. Namun, sekarang Cello lebih unggul. Angel memang memiliki kekuatan daya pikir yang memiliki perbandingan 10:1 dibandingkan manusia biasa. Dan karena Henna adalah Half Angel yang berarti setengah manusia setengah angel, ia masih kalah dengan Cello karena ia adalah Pure Angel yang adalah angel murni.

Kemampuan yang dimiliki pure angel dengan half angel memang sama, hanya kekuatannya yang berbeda. Pure angel mempunyai kekuatan yang lebih besar dibandingkan half angel. Belum apa-apa, Cello sudah digandrungi banyak teman dan disukai oleh para wanita. Selesai sekolah, eskul basket yang wajib diikuti tiap siswa pun dimulai. Hanya dengan satu kali melihat, Cello sudah sangat mengerti dengan permainan basket itu.

Ia me-shoot bola basket ke ring selama lebih dari 10x sehingga kelompoknya pun menang. Saat sedang menonton pertandingan, teman-teman Henna yang lain ikut menonton. “Hyaaa~~~ Prince Cello hebat banget sihh…!” teriak teman-temannya yang lain. “What? Prince…?!” tanya Henna tak percaya dengan apa yang disebutkan teman-temannya. ‘Cello? Pangeran? Apakah teman-temanku sudah gila?’ batinnya kesal.

“Iya, dia itu tampan, manis, tinggi, pintar, dan hebat lagi…! Dia itu sangat cocok jadi prince. Kau sangat beruntung bisa menjadi sepupunya, Henn…!” jawab seorang temannya yang lain. Henna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setelah selesai, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah. Mereka pulang dengan berjalan kaki karena Johnny sudah pergi ke kantor dari pagi. Henna terus berjalan dengan cepat, sedangkan Cello mengikutinya dengan ogah-ogahan.

“Henna…! Berhenti dulu, aku sangat lelah tau.” panggil Cello seraya duduk di suatu bangku umum di pinggir jalan dan memijit-mijit kakinya. “Untuk apa kaki panjangmu itu jika tidak untuk berjalan…? Jarak dari sekolah ke rumah kan sangat dekat, Cello.” kata Henna sembari duduk di sebelah Cello. “Di atas sana kan biasanya aku terbang, Henna, bukannya berjalan…” kata Cello sedikit berbisik. Henna pun terkekeh setelah mendengar perkataan Cello barusan.

Setelah istirahat, mereka pun meneruskan perjalanan dan akhirnya sampai ke rumah. Mereka berganti baju menjadi pakaian biasa dan mulai berlatih di halaman belakang rumah Henna yang cukup luas. “Sekarang kau akan belajar bagaimana mengeluarkan sayap…! Rasakan otot-otot dan urat-urat di punggungmu dan berikan perintah lewat otak untuk mengeluarkan sayapnya…” kata Cello.

Henna pun menutup mata dan mencoba mengontrol semua ototnya. Ia mengeluarkan perintah dari otaknya sekuat tenaga hingga akhirnya secercah sinar memasuki pandangannya. “Kau berhasil, Henna…!” teriak Cello dengan senang. Henna menoleh ke belakang. Sebuah sayap putih keperakan yang tak jauh berbeda dengan kepunyaan Cello berada di punggungnya. Ia memekik. Senang sekaligus kaget.

Karena rasa penasarannya yang berlebihan, ia mencoba memerintahkan sayapnya untuk terbang. Dan…berhasil! Perlahan tubuh kecil mungilnya terangkat keatas. Ia pun tertawa penuh kemenangan. Namun, apa daya. Karena terlalu girang, sayapnya tak bisa ia kontrol dan ia pun terjatuh. Cello dengan sigap mengeluarkan sayapnya dan mengangkat tubuh Henna sebelum terjatuh.

“Dasar ceroboh…!” kata Cello seraya menepuk pelan kepala Henna. “Aku kan tidak seperti kau, yang dari lahir sudah diajarkan bagaimana terbang dan dikenalkan dunia angel… Aku hanya dilahirkan sebagai manusia biasa tanpa tau bahkan ada dunia yang lain diatas. Baru beberapa tahun ini, ayah menceritakannya padaku…!” jawab Henna tak terima. “Ok… Ok… Tapi, kau hebat lho bisa belajar hanya dalam waktu 1 hari.” puji Cello seraya tersenyum manis. Membuat Henna terbius sesaat.

“Oh ya, aku ingin bertanya, kenapa ayahku tinggal di dunia ini, sedangkan kau dan ayahmu tinggal di dunia angel?” tanya Henna sembari menyeruput jus jeruknya. “Kau belum pernah diceritakan oleh ayahmu tentang ini?” tanya Cello tak percaya. Henna mengangguk kecil. “Ayahmu itu jatuh cinta pada seorang manusia saat sedang melakukan training disini. Kau tau kan pada masa seumurku angel disuruh melakukan training ke bumi?” jelas Cello diiringi anggukan dari Henna.

“Nah, kebetulan pada saat itu, ayahmu jatuh cinta pada teman sekelasnya. Kakek sangat marah akan hal itu, karena baginya hal ini sudah melanggar hukum angel. Tapi karena kakek tidak ingin membuat ayahmu sedih, ia memperbolehkan ayahmu bersama wanita yang dicintainya asal ia tinggal di bumi dan tidak pernah membocorkan identitasnya sebagai angel. Jadilah kau sekarang…” lanjut Cello lagi. Henna mengangguk paham. “Dan alasanmu datang kesini juga karena ingin training?” tanya Henna lagi.

“Yap, kau benar… Tapi, kakek menyuruhku untuk sekalian mengajarimu bagaimana menjadi angel, karena dia yakin jiwa angel masih ada dalam tubuhmu… Dan ternyata kakek benar. Kau memang memiliki jiwa angel.” jawab Cello dengan pelan. Henna pun tersentuh mendengar penjelasan Cello. “Yasudah, aku akan mengerjakan PR-ku dulu. Sampai jumpa, Cello…!” pamit Henna sembari berlalu ke kamarnya.

Di kamar, ia tersenyum ceria. Ternyata, Cello tidak sedingin dan sesombong yang ia kira. Begitu juga dengan pikiran Cello. Ternyata, Henna adalah wanita yang periang dan menarik. Pagi ini seperti biasa, Cello berangkat ke sekolah dengan Henna. Saat sedang keluar dari kamar untuk makan, Cello berjalan tepat didepan Henna. “Err… Selamat pagi, Cello.” sapa Henna berusaha ramah. “Selamat pagi, Henna…” jawab Cello. Mereka berdua nampak menjadi salah tingkah dan akhirnya menundukan kepalanya. Mereka pun berjalan ke ruang makan dengan wajah merona.

Johnny merasa sedikit aneh dengan kelakuan mereka berdua, namun ia lebih memilih diam dan tak mempersalahkannya. Setelah sampai ke kelas, Cello langsung diberikan coklat, bunga, atau hadiah apapun itu. Cello yang tidak pernah berinteraksi dengan manusia sebelumnya, hanya bisa tersenyum seraya menerima hadiahnya. Setelah duduk dan bel berbunyi, pelajaran pun dimulai. Di sela-sela pelajaran, banyak wanita yang mencoba menggoda Cello. Lagi-lagi Cello hanya bisa tersenyum.

“Jangan menerima hadiah ataupun tersenyum terlalu banyak, Cello… Itu artinya kau merespon mereka. Dan mereka akan menggodamu lebih parah.” bisik Henna di tengah pelajaran. Entah kenapa, hawa panas memasuki tubuh Henna sekarang. Terlebih saat melihat teman-teman wanitanya menggoda Cello. “Tidak apa-apa, Henna. Semakin banyak tersenyum itu lebih baik kan?” jawab Cello sembari mengeluarkan senyumnya lagi.

“Tapi, itu bisa…”

“Henna…!!! Shut up, please…!” teriak guru. Henna pun menunduk dan mulai kembali menjalankan kegiatan belajarnya. Saat pelajaran sudah selesai, Cello baru ingin mengajak Henna untuk pulang bersama, karena memang ia masih takut pulang sendiri di dunia yang-menurut pendapatnya- masih asing. Tapi, Henna tiba-tiba ditarik seorang lelaki keluar kelas. Henna sedikit memberontak, namun lelaki itu lebih kuat dan akhirnya memaksa Henna keluar kelas.

Cello yang penasaran sekaligus khawatir, pun mengikuti mereka berdua. Hingga mereka berdua-Henna dan lelaki asing-berhenti di lantai atas dimana sangat sepi dan kosong. “Aku dengar ada anak baru ya dikelasmu, Nana?” tanya lelaki itu. “Ya dan jangan panggil aku Nana… Namaku Henna, bukan Nana…!” jawab Henna dingin. “Tapi kan Nana adalah nama panggilanku kepadamu… Dan, kelihatannya kau dekat ya sama anak baru itu?” tanya lelaki itu lagi.

It’s none of your business…! Jadi pergilah dan jangan ganggu aku… Kau kan bukan siapa-siapaku…!!!” teriak Henna sedikit keras. “Tentu saja ada hubungannya denganku, Nana honey…” katanya seraya mencoba mencium Henna. “Hya~ Apa yang mau kau lakukan?! Pergi kau…!” pekik Henna sembari mendorong lelaki itu. Namun, ia malah semakin menambah kekuatannya dan mendekati bibir Henna untuk menciumnya. Henna sudah mulai menangis. Cello yang sadar bahwa hal yang mereka lakukan bukan umum, pun menghampiri mereka dan menonjok wajah lelaki itu. Ia langsung menarik tangan Henna untuk menjauh.

Henna masih menangis, namun ia tak menolak tarikan Cello. Mereka keluar sekolah dan menuju ke rumah. Di tengah jalan, Henna menangis tersedu-sedu. “Katanya kalau seseorang mengeluarkan air mata, itu artinya menangis. Dan jika menangis, berarti sedang sedih. Kenapa kau sedih, Henna? Apakah karenaku?” tanya Cello dengan tampang polosnya. Ia tampak seperti anak umur 5 tahun yang belum tau apa-apa.

Henna mengangguk. “Bukan salahmu, Cello… Tapi karena lelaki tadi mau menciumku.” jawab Henna dengan  suara serak. “Jadi menempelkan bibir ke bibir itu dinamakan ‘mencium’ ya? Apakah seperti ini?” tanya Cello lagi seraya mempraktikan hal yang baru saja dipelajarinya. Yah, dia mencium bibir Henna lembut. Henna sangat terkejut, hingga tangisannya berhenti. Namun, ia tak menolak dan malah menikmatinya.  ‘Perasaan apa ini? Apakah aku mencintainya?’ batinnya dalam hati.

“Kenapa kau terkejut seperti itu, Henna? Apakah hal yang aku lakukan tadi salah?” tanya Cello dengan pandangan penasaran. “Tidak salah, tapi usahakan jangan lakukan lagi pada sembarangan orang. Orang yang kau ‘cium’ harus benar-benar sudah kau cintai…” kata Henna menjelaskan. “Apa itu cinta?” tanya Cello lagi. Henna risih akan semua perasaan yang dilontarkan Cello. Ia pun meneruskan perjalanannya dengan diekori Cello di belakang.

“Cinta itu sesuatu yang susah dijelaskan, Cello. Tapi, yang pasti cinta itu berarti kita sudah sangat nyaman kepada seseorang dan kamu sangat merasakan kegugupan saat melihatnya. Pada saat itulah kau mengajaknya pacaran bahkan menikah, baru kau boleh menciumnya.” terang Henna. Cello mengangguk paham. “Berarti, aku tidak salah jika menciummu. Kan aku sudah mencintaimu…” jawab Cello dengan polos sembari langsung pergi ke kamar begitu sampai rumah. Seketika pipi Henna berubah merona. Nampaknya, ia juga sudah mencintai Cello.

((()))

Pagi ini saat Henna baru bangun tidur, ia dikejutkan dengan penampakan seorang lelaki tinggi berwajah tampan yang berada tepat dihadapannya. “Cello…!? Untuk apa kau disini?” tanya Henna seraya mengucek-ngucek matanya. “Aku sudah mencari semuanya di internet, katanya kalau sudah saling mencintai kan, sang lelaki harus menyatakan perasaannya kepada sang perempuan. Jadi aku mau menyatakan perasaanku padamu.” jelas Cello sembari tersenyum manis. “Hah?!” teriak Henna yang masih belum sepenuhnya sadar akibat baru tidur.

“Jadi, aku sangat mencintaimu, Henna… Maukah kau menjadi pacarku?” tanya Cello dengan romantis sembari memberikan sebuket bunga mawar. Henna membulatkan matanya tak percaya. Seumur hidupnya, ia tak pernah membayangkan akan dilamar oleh seorang lelaki tampan di kamarnya sendiri dengan keadaan baru bangun tidur. Ia langsung keluar kamar dan setelah beberapa menit, ia kembali datang. “Untung ayah sedang tidak ada…” gumamnya. “Aku juga sangat mencintaimu, Cello. Tapi, saudara kan tidak boleh saling mengikat hubungan. Kita kan sepupuan. Dan darah kita berasal dari satu kubu yang sama…” jawab Henna dengan selembut-lembutnya.

“Tapi, di dunia angel, hal itu tak dilarang… Aku yakin paman Johnny juga takkan mempersalahkannya. Jadi maukan?” tanya Cello sekali lagi. “Ba-baiklah…” jawab Henna secara tak sadar. Otaknya memang melarang ini, tapi hatinya berkata lain. Apakah ini yang disebut ‘kekuatan cinta’? Cello tersenyum riang dan langsung menarik tangan Henna menuju keluar rumah. “Apa yang kau lakukan? Biarkan aku bersiap-siap dulu…” kata Henna. Cello pun mengangguk kecil.

Setelah selesai bersiap-siap, Henna langsung disuguhkan sebuah hadiah oleh Cello. “Apa ini?” tanyanya. “Buka saja…” jawab Cello singkat. “Sebuah gaun merah muda…!? Darimana kau tau aku suka warna merah muda?” tanya Henna dengan senang. “Aku melihat ruanganmu dipenuhi warna merah muda, jadi kupikir itu adalah warna favoritmu. Sekarang pakailah dan ikut aku.” jawab Cello diikuti anggukan Henna.

Setelah Henna keluar kamar, Cello terpaku memandang Henna. “Sangat cantik…” gumam Cello yang sedang memandang Henna dengan gaun pendeknya yang indah. Henna juga memerhatikan Cello. “Kau juga sangat tampan dengan kemeja dan tuxedo putih ini, Cello…!” puji Henna seraya tersenyum. Mereka pun pergi ke suatu tempat. “Kau bisa menyetir? Dan, kita mau kemana, Cello?” tanya Henna saat melihat Cello sedang menyetir. “It’s a secret…” jawab Cello sembari tersenyum sangat manis. Tak sadar, dari tadi ada seseorang mengamati mereka.

“Dua incaran berkumpul menjadi satu… Menarik…!” gumamnya misterius.

~To Be Continue~

Advertisements

Comments on: "Story : ~Curse Angel~ (Chapter I)" (2)

  1. wow~
    baru 16 tahun, tp tingginya sdh 190 cm
    tapi, kok seorang malaikat Tuhan tdk mengenal cinta?
    bukankh tgs utama seorang malaikat memberikn cinta?
    tp kok cweknya yg ksh tau cinta itt apa?
    mesinya, angelnya lbh tau.
    malaikt ini hdp abadi ndk?
    ~full of romance~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: