Full of inspiration and story

Story : ~Her Sad Journey~

Seorang perempuan tampak sedang berlatih menari di suatu studio. Pakaiannya sudah penuh dengan keringat, namun ia sama sekali tak memerhatikan itu. Yang ia perhatikan hanya satu, penampilan sempurna di panggung nanti. Gerakannya benar-benar sangat indah dan gemulai. Tariannya bisa membuat orang terkagum-kagum hingga membuka mulutnya lebar-lebar. Dialah Yuri. Penari balet termuda dan terkenal di seluruh dunia.

“Hari ini sekian dulu, Yuri… Ini minumanmu.” kata seorang pria seraya memberikan minuman kepada Yuri. “Ok… Terima kasih.” jawab Yuri dengan senang hati. Hanya pada pria inilah Yuri menurut dan patuh. Pria ini bernama Michi, sahabat baik Yuri sekaligus aktor, model, dan penyanyi terkenal. Yuri adalah gadis yang cantik, berbakat, lahir dari keluarga kaya, dan baik hati. Ia adalah manusia yang hampir sempurna.

Setiap orang pasti iri akan kesempurnaannya. Michi juga merupakan pria idaman setiap orang. Ketampanan dan kemanisannya membuat semua orang tergila-gila padanya. Ia juga lahir dari keluarga kaya dan sangat baik. Banyak yang bilang mereka berdua -Yuri dan Michi- adalah pasangan tersempurna. Padahal, mereka berdua hanya sahabat, tak lebih dari itu. Meskipun, Michi dan Yuri memang diam-diam saling mencintai.

“Kau punya jadwal minggu ini, Yuri?” tanya Michi yang sedang duduk bersamanya di bangku dekat taman. “Selain konserku, tidak ada. Memang kenapa?” tanya Yuri. “Maukah kau pergi bersamaku besok?” pinta Michi dengan wajah merah merona. “Boleh…” jawab Yuri seraya pergi meninggalkan Michi, karena wajahnya juga sudah ikut memerah. Michi tersenyum sangat ceria hingga kedua lesung pipinya terukir sangat dalam.

Di mobil, Michi menunggu dengan jantung yang sudah ingin melompat setiap saat. Seluruh tubuhnya berkeringat padahal berada di mobil Full AC. “Halo, Michi…! Maaf ya, aku telat…” kata Yuri seraya masuk ke mobil. “Loh, kenapa kau keringatan begitu? Kau sakit? Atau mau kita batalkan saja janji kita?” tanya Yuri seraya menaruh tangan di dahi Michi. “Ti-tidak, Yuri. A-aku tidak apa-apa… Ayo kita jalan!” ajak Michi dengan suara yang sangat tegang. Ia pun mulai menekan gas.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah pantai. Yuri berlari dan berteriak dengan riang disana, persis seperti anak umur 5 tahun. Michi pun ikut berlari-lari bersama Yuri. Untungnya, pantainya sepi. Jika tidak, mungkin Michi dan Yuri sudah habis dikejar-kejar fans mereka. “Kenapa pantai ini sepi ya? Pantai ini kan sangat indah…” tanya Yuri yang sekarang sedang duduk menghadap pantai. “Pantai ini sengaja aku pesan untuk kita berdua saja…” jawab Michi sembari tersenyum sangat manis.

“Wahh, kau sangat romantis, Michi…!” puji Yuri seraya mencubit pipi Michi. “Sakit tau…” kata Michi seraya mengejar Yuri. Mereka pun akhirnya berkejar-kejaran. Hingga tiba-tiba Yuri terjatuh. “Ouch…!” desis Yuri. “Kau tidak apa-apa? Makanya hati-hati dong. Sini, aku obati…!” kata Michi sembari mengobati kaki Yuri yang terluka. Yuri pun hanya tersenyum. Entah kenapa, lukanya tak terasa sama sekali saat ia melihat senyuman dan tatapan khawatir dari raut wajah Michi.

“Kau sudah baikan, Yuri?” tanya Michi di mobil saat mereka ingin pulang. “Ehm… Tenang saja, Michi, ini hanya luka kecil.” kata Yuri seraya tersenyum manis. Pipi Michi pun merona. Begitu pula dengan Yuri. “Sudah sampai… Sampai jumpa, Yuri.” kata Michi sembari melambaikan tangannya. “Sampai jumpa. Jangan lupa nonton konserku besok ya?” jawab Yuri. “Pasti…!” teriak Michi dengan pandangan patuh. Yuri tertawa kecil sebelum akhirnya masuk ke rumah.

Esoknya, Michi sudah berpakaian rapi dan melangkah ke tempat penonton. Ia mengambil kursi paling depan, tepat di depan panggung. Setelah mulai, ia kembali terkesima melihat kelenturan dan kegemulaian Yuri. Namun, di akhir acara, Yuri terjatuh. Michi terkejut dan ingin menolong Yuri, tapi Yuri menolak dan mengatakan bahwa ia tak apa. Ia memilih meneruskan acaranya. Setelah selesai, Michi mengajak Yuri makan di salah satu restoran mewah.

“Kau sangat hebat, Yuri…” puji Michi seraya mengelus rambut Yuri lembut. Yuri pun merona. “Kau bisa saja, Michi.” elak Yuri sembari menundukan kepalanya malu. “Tapi, tadi kau baik-baik saja kan?” tanya Michi seraya mengecek kaki Yuri. “Tidak apa-apa, hanya kesalahan kecil…” jawab Yuri. “Apa karena terjatuh di pantai kemarin? Maaf ya, Yuri…” kata Michi dengan nada menyesal. “Tidak kok… Lagipula di pantai itu kan bukan kesalahanmu, tapi kesalahanku yang kurang hati-hati. Aku juga sudah sering terjatuh sebelum kejadian di pantai.” jawab Yuri sembari tersenyum.

“Sudah sering terjatuh? Kalau begitu, ayo kita pergi…” kata Michi seraya menarik tangan Yuri. “Kemana, Michi…?” tanyanya kebingungan. “Periksa ke dokter. Aku takut ada apa-apa denganmu, Yuri…” jelas Michi. “Aku kan sudah bilang aku tidak kenapa-napa, Michi…” kata Yuri dengan nada marah. “Aku mengkhawatirkanmu, Yuri…! Aku takut kau kenapa-napa, jadi please dengar aku.” kata Michi sembari menaikan Yuri ke mobil dan pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Yuri memeriksa hampir seluruh tubuhnya. “Kami belum bisa mengatakan secara jelas. Tapi, Nona Yuri perlu pemeriksaan lebih lanjut…” jelas dokter. Michi menatap Yuri dengan pandangan kesedihan. Ia benar-benar takut Yuri kenapa-napa. Ia sangat menyanyangi Yuri, sebagai sahabat dan…orang yang sangat ia cintai. “Jangan khawatir, Michi… Aku takkan kenapa-napa.” hibur Yuri saat perjalanan pulang. Padahal dirinya sendiri sedang gusar.

Minggu kedepan, Michi dan Yuri kembali pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan dan akhirnya mereka menunggu di ruangan dokter untuk dijelaskan hasil pemeriksaan. Tak lama kemudian, dokter datang. “Nona Yuri mengalami gangguan syaraf. Mungkin sebentar lagi semua syaraf Nona Yuri akan rusak dan Nona Yuri tak akan bisa menggerakan semua syaraf Nona… Kami selaku pihak rumah sakit turut berduka akan berita buruk ini, Nona.” jelas dokter itu.

Michi sangat terkejut dengan hal ini. Begitu pula dengan Yuri. “Dokter, jangan beritahukan hal ini pada siapa-siapa, apalagi pada wartawan atau pers.” kata Yuri dengan dingin. Hal ini lebih membuat Michi cemas. “Saya mengerti, nona…” jawab dokter itu seraya memberi laporan hasil pemeriksaan Yuri. Yuri mengangguk dan mengambil laporan itu. Ia pun pergi ke mobil. Michi yang sangat cemas hanya bisa mengikuti Yuri dari belakang.

Di mobil, Yuri hanya terdiam, seperti larut dalam pikirannya sendiri. Tak ada kegelisahan, tangisan, atau kesedihan dari wajahnya. Hanya aura dingin. “Yu-yuri…?” panggil Michi sembari menyetir. “Mmm??” tanya Yuri masih dengan wajah dinginnya. “Kau tak bersedih atau menangis karena hal ini?” tanya Michi ragu-ragu. Yuri tersenyum walaupun masih berekspresi dingin. “Nanti malam, pertunjukanku akan tampil di TV lho, Chi… Nonton ya?” kata Yuri mengalihkan pembicaraan.

Mendengar pengalihan pembicaraan itu, Michi meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. “Apa-apaan kau ini, Michi?” tanya Yuri terkejut. “Mestinya aku yang tanya, Yuri…! Apa-apaan kau ini, sok kuat…!!! Kalau mau menangis, menangis saja!” teriak Michi. Yuri pun menangis sangat keras. Semua perasaannya serasa dikeluarkan begitu saja. Michi memeluk Yuri dengan erat, menenangkannya yang sedang terkena ombak besar.

“Bagaimana ini, Michi…? Apakah karirku akan kandas begitu saja karena penyakit ini? Bagaimana ini? Pertunjukanku sudah menjadi sangat terkenal dan aku belum bisa melepaskannya. A-aku… Aku…” kata Yuri disela-sela tangisannya. “Sabar, Yuri… Sabar… Tenangkan dulu pikiranmu.” jawab Michi menenangkan Yuri. Yuri menangis begitu lama dan Michi terus memeluknya. Hingga akhirnya, Yuri tertidur di pelukan Michi.

Michi tersenyum melihat betapa polosnya wajah Yuri saat tertidur. Dengan perlahan, ia menyenderkan bahu Yuri kebahunya dan kembali menyetir ke rumah Yuri. Ia menggendong Yuri ke kamar dan menyelimutinya dengan lembut. Pandangan matanya terus memandang Yuri. Perlahan, ia mendekati wajah Yuri dan mencium keningnya. Setelah itu, ia beranjak pergi untuk pulang ke rumah.

Masih terngiang-ngiang perkataan dokter yang menjelaskan tentang penyakit Yuri. Entah mengepa, Michi turut merasakan sakit yang luar biasa pada hatinya. Terlebih, saat melihat Yuri menangis sesenggukan. Di dalam hatinya, ia telah berjanji akan menyembuhkan Yuri dan kembali membuat Yuri senang kembali.

###

Yuri membuka matanya perlahan. Air mata yang sudah mengering masih terukir jelas di wajah Yuri. Ia memandang kesekelilingnya. Terakhir yang ia ingat, ia tertidur di pelukan Michi. Apakah Michi yang menggendongnya kesini? Pikiran itu terus berkecambuk di dalam pikiran Yuri. Ia turun dari kasur dan mulai pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Setelah siap, ia memindahkannya ke meja makan. Namun, saat sedang membawa makanan, Yuri merasakan syaraf kakinya seperti tak bisa digerakan dan ia pun jatuh.

Untungnya, tangannya masih dapat menahan makanan yang ia pegang sehingga tak terjatuh. Dengan hati-hati, ia pun mencoba bangun dan duduk di meja makan. Perasaan sedih terus berkecambuk dalam hatinya. Cita-citanya yang ingin menjadi penari international kandaslah sudah. Padahal, seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan diusianya yang masih termasuk belia, ia harus terus-terusan tiduran dikasur tanpa bisa bergerak.

Kisah hidupnya terasa bagai sinetron-sinetron yang ada di TV. Namun, perasaannya tidak tersentuh seperti yang ia rasakan saat menonton sinetron tersebut. Hanya rasa sakit dan kesedihan tak terhingga yang seakan menusuk-nusuk hatinya. Ia menyantap makanannya dengan cepat. Air mata masih terus merembes lewat matanya yang sudah membengkak. Hari ini, ia akan seharian di rumah tanpa berlatih. Pikirnya percuma berlatih, semua sudah terlambat sekarang.

Setelah makan dan mandi, ia memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamunya. Ia menyalakan DVD dan kembali memutar kaset-kaset dimana ia sedang menari dengan sangat indah dan gemulai. Perasaannya saat itu terukir jelas di wajahnya saat menari. Riang dan ceria. Tanpa ada beban sama sekali. Air matanya kembali menetes. Biarkanlah orang-orang menyangka dia adalah perempuan yang cengeng.

“Yuri…!” panggil seseorang dengan suara yang amat terasa tak asing. “Michi?” balas Yuri terkejut saat Michi datang dan langsung memeluknya. “Kenapa kau tidak berlatih hari ini, Yuri?” tanya Michi pelan. “Kau tau darimana aku tidak berlatih hari ini?” tanya Yuri membalik pertanyaan. “Tadi aku mengunjungi tempat latihanmu, dan orang disana bilang kau tidak datang hari ini. Kenapa kau tak datang, Yuri? Biasanya kan kamu tak pernah tak datang?” jelas Michi.

“Untuk apa aku berlatih, Michi? Masa depanku sudah kandas mulai sekarang. Aku tidak akan bisa memuwujudkan mimpiku untuk menjadi penari international.” jawab Yuri dengan sinis. “Tidak, Yuri…! Tidak… Kau tetap harus memuwujudkan mimpimu itu! Justru sekarang sebelum semuanya terlambat, kau harus bisa…!!!” teriak Michi menyengamati. “Tapi, ini sudah terlambat, Michi…!” kata Yuri dengan lirih.

“Mana Yuri yang aku kenal dulu…!? Yuri yang selalu bersemangat dan pantang menyerah…! Yuri yang tak pernah mau diam walaupun sedang sakit…! Yuri yang selalu tersenyum dan takkan pernah bersedih…! Yuri yang akan terus bangkit walaupun berpuluh-puluh kali terjatuh…! Mana Yuri yang kukenal?” teriak Michi seraya menggoyang-goyangkan badan Yuri. Yuri pun terdiam. Air mata mulai terjatuh lagi dari matanya.

“Kau benar, Michi… Terima kasih! Aku akan kembali menjadi Yuri yang dulu…” jawab Yuri sembari tersenyum. Senyum yang akhirnya mengkhiasi kembali paras cantiknya. Setelah peristiwa itu, Yuri kembali berlatih sekuat tenaga. Meskipun tariannya tak sehebat dulu, ia tetap berjuang sepenuh hati. Ia telah kembali menjadi Yuri yang Michi kenal dan cintai. Sosok Yuri yang menjadi teladan bagi setiap orang.

2 tahun kemudian, akhirnya semua mimpi Yuri terwujud. Ia telah menjadi penari international kelas dunia. Panggung yang terakhir ia pijak adalah panggung dimana presiden-presiden dari seluruh dunia menonton. Perjuangan Yuri bahkan dibukukan menjadi novel terlaris di seluruh dunia. Michi selalu menjadi penyemangat Yuri dan selalu setia menemani Yuri.

###

(5 tahun kemudian)

Tampak seorang perempuan dengan wajah pucat namun masih nampak cantik sedang berbaring di kasur rumah sakit. Ia sudah dirawat selama seminggu dirumah sakit ini. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri saat sedang berlatih untuk acara yang sangat penting. Dan selama seminggu ini juga, seorang pria berwajah tampan dengan senyumannya setia menunggu perempuan tersebut. Membantunya makan, minum, pergi ke kamar kecil, dll.

“Mi-Michi…” panggil perempuan itu dengan lirih. Suaranya serak, hampir hilang. Pria yang dipanggil berusaha menahan perasaan sedihnya yang terus bergejolak. “Iya, Yuri?” tanyanya seraya mengelus rambut Yuri pelan. “Terima kasih, Michi… Tanpamu, mungkin aku masih terbaring di rumah tanpa melakukan apa-apa. Kau adalah orang terpenting dalam hidupku.” kata Yuri sembari berusaha tersenyum, walaupun nampaknya seunyil senyuman saja sangat susah dinampakan.

“A-aku… Nampaknya, aku sudah tak kuat lagi.” lanjut Yuri dengan lirih. Michi pun tak bisa menahan lagi, air matanya mulai terjatuh. Menitik ke seprai rumah sakit. “Jangan berbicara seperti itu, Yuri… Kau akan baik-baik saja.” hibur Michi seraya menggenggam tangan Yuri erat-erat. “Aku mencintaimu, Michi… Sangat mencintaimu. Selamat tinggal…” kata Yuri lirih sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Michi menangis sesenggukan sembari memeluk Yuri dengan sangat erat.

###

Berita kematian Yuri sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. 18 Oktober menjadi hari berduka untuk mengenang perjuangan Yuri untuk melawan penyakitnya dan berusaha hingga akhirnya ia menjadi penari international. Banyak orang dari seluruh penjuru dunia yang datang ke pemakamannya. Namun, Michi tak memedulikan ini. Mata dan pikirannya masih tak lepas dari Yuri. Semoga Yuri bisa menjadi teladan bagi setiap orang untuk tetap bangkit walaupun jutaan ombak menerjang.

FIN

Advertisements

Comments on: "Story : ~Her Sad Journey~" (2)

  1. Fourthumbs up *pinjem jempol adek*
    trus share more ffmu ea chris, mian kalo comment onnie ini2 ajja T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: