Full of inspiration and story

Apakah kau pernah mencintai lelaki yang tidak mencintaimu?

Apakah kau pernah dicintai lelaki yang tidak kau cintai?

Jika itu terjadi, mana yang kau pilih?

Lelaki yang mencintaimu sepenuh hati…

Atau, lelaki yang kau cintai sepenuh hati?

***

Aku memandang lelaki di sampingku. Tampan, cool, pintar, dan lahir dari keluarga yang bisa dibilang lebih dari kaya. Dialah, Park Minhwa. Idola semua wanita di sekolah. Tak terkecuali, diriku sendiri. Aku, Shin Hyerim, adalah bisa dibilang sebagai wanita yang sangat mencintainya. Melihatnya duduk, berdiri, berjalan, makan, menguap, atau apapun itu saja sudah membuat jantungku berparade.

Namun, aku tak bisa menyatakan cintaku padanya. Ah, aku salah, bukan ‘tak bisa’, tapi ‘tak pantas’. Aku terlalu biasa untuknya. Aku lahir dari keluarga sederhana, dan aku juga tidak cantik; tidak seperti dirinya yang lahir dari keluarga pemilik perusahaan international dan sangat tampan. Wajahku biasa-biasa saja. Tidak hancur sekali, tapi juga tidak cantik. Tubuhku tak tinggi; tak sepertinya yang sangat tinggi bagai pohon kelapa yang menjulang.

Parahnya lagi, di tahun ketigaku menjalani SMA, aku harus sekelas dengannya, bahkan satu meja dengannya! Bukannya aku tak mau, tapi ujian kelulusanku nanti bisa hancur berantakan karena selalu memikirkannya. Hari ini adalah hari pertamaku di kelas tiga. Aku sengaja datang lebih pagi untuk menunggu Minhwa datang. Ternyata, setelah menunggu cukup lama, ia akhirnya datang dan duduk di sebelahku semenit sebelum bel.

Aku berusaha tersenyum semanis mungkin padanya. Namun, ia tak bereaksi lebih, hanya diam dan mengangguk pelan. Tak lama, guru datang dan meminta mengeluarkan pekerjaan rumah yang minggu kemarin diberikan. Karena aku termasuk siswi yang pintar, aku pun mengeluarkan pekerjaan rumahku yang sudah ditulis secara rapi. Aku menengok kearahnya, ia nampak sedang kebingungan sembari mengeluarkan semua isi tasnya. Apakah dia lupa membawa pr-nya?

Aku pun memberikannya pekerjaan rumahku. Ia nampak kaget atas apa yang kulakukan, namun guru langsung datang kearah kami. Guru itu -yang kebetulan melihat pr-ku ada ditangan Minhwa- mengira pr itu punyanya, dan mengeceknya satu-persatu. “Excelent, Mr. Park…” kata guru itu seraya mengembalikan buku -yang dikira bukunya- ke tangan Minhwa. “Where is your homework, Ms. Shin?” tanyanya dengan inggris yang lancar karena sekolah kami memang adalah sekolah international.

“I’m sorry, Sir… Saya lupa membawa pr.” jawabku seraya menunduk. “What? Sejak kapan seorang ‘SHIN HYERIM’ tidak membawa pr? Now, keluar dari kelas saya…!?” perintahnya setengah berteriak. Aku pun mengangguk dan keluar dari pintu. Secara singkat, aku melihat muka Minhwa yang penuh dengan rasa bersalah. Ini adalah kali pertama aku dihukum, tapi tak apalah. Aku senang Minhwa tak jadi dihukum. Lebih baik, aku mendengarkan lagu dari head-set ku.

“Kakak sedang dihukum ya?” tanya seorang lelaki seraya duduk disampingku. Wajahnya sangat manis dan lucu, membuatku ingin selalu mencubit pipinya yang putih dan mulus. Ia juga sangat tinggi, bahkan tingginya melebihi tinggiku. Nampaknya, ia mirip dengan seseorang, tapi siapa ya? Aku pun mengangguk lesu. “Kau sendiri sedang apa disini? Dihukum juga?” tanyaku balik bertanya. Ia menggeleng. “Aku hanya malas belajar… Kalau begitu jalan-jalan yuk, kak!” ajaknya seraya menarik tanganku tanpa berkata apapun.

“Hei, mau mengajakku kemana?” tanyaku yang masih ditarik olehnya. Ia hanya tersenyum sangat manis seraya memperkencang kecepatan larinya. Ia berhenti di sebuah taman bermain yang kebetulan tak jauh dari sekolah. “Ayo…!” teriaknya seraya mengajakku mencoba segala jenis permainan. Setelah asyik bermain, kita pun duduk di bangku sembari memakan gulali.

“Namamu siapa?” tanyaku kepadanya. Ia nampak sangat senang dengan pertanyaanku barusan. “Kenalkan, namaku Park Ryeojin. Aku kelas 2.1 SMA.” jawabnya dengan ceria dan kembali memamerkan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. “Halo, Ryeojin… Namaku Shin Hyerim. Aku kelas 3.1 SMA.” jawabku seraya ikut tersenyum. “Aku tau itu kok, kak…” gumamnya seraya menatapku. “Bagaimana bisa kau tau?” tanyaku kaget.

Pipinya berubah merah merona dan ia pun menepuk mulutnya sendiri, seperti mengatakan bahwa ia telah keceplosan. “Ayo pulang, kak… Ini sudah sore, nanti orang tua kakak cemas lagi.” ajaknya sembari langsung berjalan kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Aku tersenyum kecil, sekarang ia sedang mengalihkan pembicaraannya. “Mau aku antar?” tanyanya saat sedang membawa motor sport-nya keluar pagar.

“Ehhh…” pikirku kebingungan. Tanpa basa-basi, Ryeojin pun menarikku untuk duduk di boncengan dan menjalankan laju motornya. “Pegangan yang erat, kak Hyerim…” bisiknya sebelum motor melaju dengan sangat kencang. Aku pun memegang pinggangnya dengan erat. Rambutku yang panjang melambai-lambai terkena angin. Aku bisa merasakan kehangatan yang tak pasti saat bersamanya.

“Sudah sampai…” katanya seraya berhenti tepat dirumahku. “Terima kasih… Tapi, tunggu! Bagaimana kau bisa tau dimana rumahku? Aku kan belum mengatakannya?” tanyaku penasaran. Ia kembali merona malu seraya menundukkan kepalanya. “Sampai jumpa, kak…” pamitnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku pun tersenyum kecil. Setelah sampai kamar, aku memutuskan untuk berbaring di kasurku. “Ryeojin… Ryeojin…” kataku seraya menggelengkan kepalaku.

“Lho, kenapa aku malah memikirkan Ryeojin? Come on, Shin Hyerim. Kau kan harusnya memikirkan Minhwa.” gumamku kepada diri sendiri. Esoknya di sekolah, aku kembali datang pagi dan duduk di kursi biasa. Lebih cepat dari biasanya, Minhwa datang dan duduk di sebelahku. “Hyerim-ssi…” panggilnya padaku. Membuat jantungku kembali berpesta. “Iya, Minhwa-ssi…?” balasku kepadanya.

“Aku mau berterima kasih atas bantuanmu kemarin… Tanpamu, mungkin aku yang dihukum.” katanya dengan pelan. “It’s okay, Minhwa-ssi…” kataku seraya tersenyum manis. Ia pun membalas senyumannya. Tuhan, aku bisa gila jika terus-terusan memandangnya…! Aku pun memutuskan untuk menatap hp-ku. “Ehm… Hyerim-ah, untuk membalas jasamu kemarin, maukan datang ke pesta ulang tahunku nanti malam?” tanyanya dengan pandangan memohon.

Ingin rasanya mengatakan: “tentu saja aku mau, Minhwa… SANGAT mau…!”, tapi karena memikirkan harga diriku, aku pun mengurungkan niatku. “Tentu saja, Minhwa-ah…” jawabku dibalas dengan anggukan kecil darinya. Ia pun memberikanku undangan. Saat malam tiba, aku pun langsung menuju rumah Minhwa yang adalah tempat pestanya. Aku mengenakan dress pendek bewarna biru safir dan mendandani wajah dan rambutku.

“Kau sangat cantik, Hyerim-ah…!” puji Minhwa yang ada di belakangku. “Kau bisa saja, Minhwa… Selamat ulang tahun, ya.” kataku seraya menyalaminya. “Terima kasih… Ayo, aku kenalkan kepada keluargaku.” jawabnya sembari menarikku dengan lembut. Aku terkejut dalam hati, dia mau mengenalkanku kepada keluarganya?! What a beautifull day…!

“Ayah, ibu, ini teman sebangkuku…” kata Minhwa memperkenalkan diriku. “Selamat malam… Saya Shin Hyerim.” kataku seraya menunduk kecil. “Wah, kau sangat cantik, Hyerim…” puji ibu Minhwa. “Ah, anda terlalu banyak memuji…” kataku seraya tersenyum malu. “Oh ya, ini adikku satu-satunya… Dia juga sekolah di sekolah kita, lho. Ia kelas 2 sekarang.” kenal Minhwa kepada seseorang. Begitu aku melihat mukanya, aku dan dia terkejut.

“Ryeojin…!” teriakku seraya menunjuknya. “Kak Hyerim…!” teriaknya ikut menunjukku. “Kalian sudah saling kenal?” tanya Minhwa dan orang tuanya. “Ya…” jawabku, namun ia malah menjawab, “Tidak…”. “Jadi mana yang benar?” tanya ayah Minhwa semakin bingung. “Kita hanya pernah bertemu secara tak sengaja. Iya kan, kak?” tanyanya kepadaku. Aku pun mengangguk.

Setelah acara selesai, aku, Minhwa, dan Ryeojin memutuskan untuk duduk di dekat kolam renang. “Aku mau membantu ayah dulu… Ryeo, kau temani Hyerim ya?” kata Minhwa seraya pergi sehingga menyisakan kita berdua. “Maafkan aku, kak… Bukannya aku tidak mengakuimu, aku hanya takut orang tuaku akan bertanya yang tidak-tidak jika aku bilang kau-”

“Aku mengerti, Ryeojin-ah…” potongku. “Jadi, kau adalah pacar kakakku?” tanyanya penuh kekecewaan. “Tidak… Aku bukan pacarnya. Mana mungkin ia menjadikan aku pacarnya? Aku kan tidak cantik maupun menarik.” jawabku seraya menunduk sedih. “Kau memang tidak secantik ataupun semenarik siswi-siswi di sekolah, kak Hyerim. Namun, berada di dekatmu entah mengapa membuatku merasa nyaman.” jawabnya seraya tersenyum tulus.

Aku pun menunduk malu mendengarnya. “Andaikan Minhwa juga berpikiran yang sama denganmu…” gumamku seraya memandang Minhwa dari kejauhan yang sedang membantu ayahnya mengurus berbagai file. “Kau mencintai kak Minhwa kan?” tanyanya tepat mengenai hatiku. “Ehmm… Maksudmu?” tanyaku berusaha menyembunyikannya. “Jangan berpura-pura, kak… Aku tau kok kau mencintai kak Minhwa.” kata Ryeojin pelan.

“Darimana kau tau?” tanyaku menyelidik. “Dari tatapanmu saat memandangnya, dari gerak-gerikmu saat berada di dekatnya, dari meronanya pipimu saat ia menatapmu… Itu semua terukir jelas di mukamu, kak Hyerim.” jawabnya dengan memaksa senyumannya. “Yah, tapi cintaku tidak akan terbalas, Ryeo.” kataku lirih. Setelah bercakap-cakap, aku pun pulang dan istirahat.

***

Beberapa minggu terus berlalu. Aku, Minhwa, dan Ryeojin semakin dekat sejak peristiwa itu. Perasaanku masih sama terhadap Minhwa. Aku sangat mencintainya. Tapi, entah kenapa, berada di dekat Ryeojin selalu membuatku nyaman dan hangat. Hari ini aku bergegas pulang dari sekolah sebelum seseorang memanggilku. Aku berbalik, dan ternyata itu Minhwa.

“Ada apa, Min?” tanyaku padanya. “Aku sudah mempunyai pacar, Hye…! Dia adik kelas kita, kelas satu!!! Mau aku kenalkan padanya…?” jelasnya dengan sangat riang. Air mata tanpa berkompromi jatuh membasahi pipiku. “Kenapa denganmu, Hye?” tanyanya masih tak sadar. “Maaf, Min… Aku harus pergi, sampai jumpa dan selamat atas pacaranmu.” jawabku dingin seraya berlari menjauh darinya. Setetes air mata dariku menunjukkan betapa sakitnya hatiku saat ini.

Aku terus berlari hingga aku ditarik seseorang ke kantin sekolah yang sedang sepi. Aku tak bisa melihat siapa itu karena kaburnya pandanganku akibat air mata yang terus menggenang. Ia memberikan sapu tangannya padaku. Setelah lama mengamati, akhirnya aku sadar siapa yang telah mengajakku kesini. “Ryeo?” tanyaku memastikan.

“Menangislah dan lampiaskanlah semua kesakitanmu, kak Hye. Aku tau kau pasti sangat sedih sekarang ini…” katanya seraya memelukku lembut. Aku pun menangis tersedu-sedu di pelukannya. “Apa yang harus kulakukan, Ryeo? Aku benar-benar mencintainya…” kataku seraya terus menangis. “Sabarlah, kak Hye. Hadapilah kenyataan ini…” jawab Ryeojin secara lembut.

***

Aku tersenyum kecil pada orang yang ada di hadapanku. “Jangan bermain terlalu lama, Hyejin…!” teriakku kepada anak berumur 6 tahun yang sedang bermain dengan sepupunya, Minjoon. “Ok, mom…” katanya dengan manis. Persis seperti ayahnya. “Halo, Hye… Sudah lama tak bertemu.” kata Minhwa dengan istrinya yang tersenyum. Yah, dialah anak kelas satu yang Min sukai dari dulu, Han Rinjoon. “Halo, Min…” balasku dengan senyuman.

“Kak Minhwa…! Rinjoon…!” teriak suamiku, Ryeojin, seraya memeluk mereka berdua seperti anak kecil. “Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Ryeo. Kau ini sudah mempunyai anak…!” perintahku seraya menjewer kupingnya pelan. “Hye…!” teriaknya tak terima. Minhwa dan Rinjoon hanya bisa terkekeh melihat kelakuan kami. “Terima kasih ya sudah datang ke ulang tahun Hye kecil…” katanya dengan lebih dewasa kepada Min dan Rin.

“Kak Hye, aku mengucapkan selamat ya atas anak kalian…” kata Rinjoon seraya tersenyum kecil. Yah, dia adalah wanita yang sudah merebut Minhwa dariku. Aku masih mencintai Minhwa. Sangat malah. Namun, karena Minhwa mencintai wanita lain dan aku tau bahwa sebenarnya Ryeojin mencintaiku, aku pun menerimanya.

***

Jawabannya sudah ditetapkan…

Aku akan lebih memilih,

orang yang mencintaiku setulus hati,

daripada orang yang dicintaiku setulus hati…

Terima kasih Minhwa…

Kau sudah membuatku mencintaimu selama ini…

Dan, terima kasih Ryeojin…

Kau sudah selalu mencintaiku selama ini…

FIN~



Advertisements

Comments on: "Story : ~True Soulmate…?!~" (3)

  1. Soo han ssi said:

    .wuahh, happy ending ^^b
    .que sukka ff mu saeng *always*
    .hwaiting chris !! ^.^
    .share more okok … 😉

  2. wuahhh..bnr2 sprti kisah nyata..aku suka bgt ama crita ini…hikssssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: