Full of inspiration and story

Part 3 -> *

“Kau sudah besar rupanya, nona Hyunni…!” katanya dengan pandangan mematikan. Aku yang masih terkejut hanya bisa melongo dan membeku di tempat. “Bukannya kau…” kataku dengan suara serak, “Bukannya kau…sahabat baik ayahku?” tanyaku dengan gugup. Ia menyeringai seram. Tak lama, ia tertawa dengan keras, seakan meledekku.

“Gotcha…! Ingatanmu hebat, nona Hyunni… Ya, dulu aku memang sahabat baik orang tuamu.” jawabnya seraya berhenti tertawa. Pandangan matanya menatapku tajam. “Kau… Kenapa kau membunuh orang tuaku, hah…?! Bukannya orang tuaku selalu membantumu dalam segala hal?” tanyaku seraya menunjuknya marah.

“Ya, kau benar lagi, nona Hyunni. Orang tuamu memang sudah banyak membantukku…” jawabnya dengan tenang seraya masih menatapku tajam. “Lalu, kenapa kau membunuh orang tuaku dan banyak lagi…?” tanyaku seraya ikut memandangnya tajam. Entah kenapa, aku sudah tidak mempunyai rasa takut. Rasa kekesalan dan kesedihan tentang kematian orang tuaku dan kematian Kak Kyran mengalahkan rasa takutku.

“Aku selalu hidup susah, nona Hyunni…! Sedangkan, orang tuamu dan semua orang yang kubunuh adalah orang kaya dengan harta berlimpah…!!! Kau tidak tau kan bagaimana rasanya hidup susah sepertiku…?” jawabnya dengan keras. “Jadi, kau membunuh semua orang dengan alasan mereka kaya dan kau iri dengan kekayaan mereka? Oleh sebab itulah, kau membunuh mereka agar mereka merasakan penderitaan yang kau rasakan? Kau psikopat…!” teriakku kepadanya.

“Kau sama seperti orang tuamu, nona Hyunni… Sangat pintar, namun angkuh. Kau sama menyebalkannya dengan ayahmu, ibumu, maupun kakakmu…! Aku akan membunuhmu sekarang juga. Selamat tinggal, nona Hyunni. Kau akan segera bertemu dengan keluargamu…” katanya seraya mengacungkan pistol kearahku. Pelatuknya ia tarik dan…dor…!

Pelurunya tertembak pada tembok tepat disebelahku. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mungkin jika tadi aku tak menghindar, aku sudah mati. Aku mengambil pistol dari tanganku dan mengacungkannya tepat ke dada Mr.X. Ia nampak tidak takut dengan perbuatanku. Ia juga mengacungkan pistolnya ke dadaku. “Ayo tembak aku, nona Hyunni… Maka, aku juga akan menembakmu. Dan, kita akan mati bersama…! Hahaha~” teriaknya diiringi dengan tawa jahatnya. Aku langsung melempar pistolku dan mengatur kuda-kuda. Ia pun melakukan yang sama denganku. Semoga semua pelatihanku selama ini berbuah baik.

Bokk…! Bakk…! Bokk…! Bakk…!

Suara pukulan dan tendangan yang kami luncurkan bergema di ruangan gelap dan pengap. Hingga akhirnya, ia menendang perutku dengan keras hingga aku jatuh terjengkang. Ia pun tersenyum menyeringai seraya mengambil pistolnya dan mengacungkannya tepat di dadaku. Dor…!

Darah berceceran dimana-mana. Aku menutup mataku. Takut akan semua ini. Tapi…tunggu? Kenapa aku tidak merasakan sakit? Apakah luka ini terlalu dahsyat sehingga bahkan aku tak bisa merasakan luka ini? Aku pun memberanikan diri membuka mata dan mengecek seluruh tubuhku. Aku tidak terluka dimana-mana. Lalu, darimana darah ini berasal?

Aku menoleh ke samping kananku. Oh Tuhan! Ternyata, peluru itu mengenai pergelangan tangan Stephen. Ia berusaha menolongku dan akhirnya malah dia yang terkena peluru itu. Aku langsung menuju tubuhnya. Aku menyobek bagian pakaianku dan mengikatnya pada pergelangan tangan Stephen.

Kak Edward, kak Billy, kak Roger, dan Kak James sedang melawan Mr.X. Aku melihat keadaan Stephen. Wajahnya pucat seputih kertas dan peluh mulai membasahi seluruh tubuhnya. Aku menggenggam tangannya erat. “Bertahanlah, Steph…!” bisikku padanya. Bola matanya yang bewarna biru tampak terbuka kecil. Ia tersenyum manis padaku. Lalu, tiba-tiba bola matanya tertutup perlahan dan genggaman tangannya terlepas.

^*^*^*^*^*^*^*^*^*

“Hyunni…” panggil seseorang lirih. Aku yang sedang tidur pun terbangun. “Stephen… Sudah sadar?” tanyaku seraya mengucek mataku yang lelah. “Kalau aku belum sadar, siapa yang berbicara padamu, Hyun…!” teriaknya kesal seraya menggetok kepalaku pelan. Kak Edward, Kak Billy, Kak Roger, dan Kak James datang kearah kami. “Kau ini lemah sekali, Steph…! Masa baru ditembak di lengan saja sudah pingsan 3 hari.” ledek Kak Edward.

“Kau kan belum mencobanya, kak Edward…! Rasanya sakit tau.” jawab Stephen seraya mengerucutkan mulutnya tanda merasa kesal. “Masa sih sakit…?” tanya Kak Billy seraya memukul lengan Stephen yang dibalut perban. “Ouch…! Kak Bill…!!!” teriak Stephen seraya mengusap-usap lengannya. Kak Roger, kak James, dan aku hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka bertiga.

“Bagaimana Mr.X? Apakah kalian berhasil menangkap dan membunuhnya?” tanya Stephen kembali serius. “Kami sudah hampir membunuhnya, namun ia kabur.” jawab kak Roger. Stephen pun mendengus pelan. Wajahnya berubah menjadi sangat serius. “Kalau begitu, Mission X akan terus berjalan kan?” tanya Stephen dengan sangat serius. “Ya…!” jawab kita berlima.

END

Advertisements

Comments on: "Story : ~Mission X~ (Part 3) Last Part" (1)

  1. anita erlinda said:

    Nice ending…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: