Full of inspiration and story

Story : ~Our Destiny…~

“Tuan putri…” panggil seseorang seraya menunduk kecil. Aku tersenyum melihat orang yang ada di sebelahku itu. “Jenderal Li… Ada apa?” tanyaku lembut. “Apakah anda yakin dengan hubungan kita?” tanyanya mengerutkan dahi. “Tentu saja, jenderal Li…” jawabku dengan tegas. “Hamba hanya…merasa tak pantas berpacaran dengan anda, tuan putri. Anda adalah anak tunggal Raja, sedangkan hamba hanya-” katanya terpotong.

Disaat ia belum sempat berbicara, aku sudah menciumnya dengan hangat. “Tenang saja, Jenderal Li…” jawabku dengan senyuman manisku. Ia pun balas tersenyum. “Aku mencintaimu…” bisiknya padaku. “Aku juga mencintaimu…” balasku seraya membenarkan letak gaunku. Perlahan-lahan, ia mendekat kepadaku. Tangannya mulai membekap tubuhku dalam pelukannya.

Tok… Tok… Tok…

Kita pun memberhentikan ‘kegiatan’ kita dan menoleh ke pintu. “Siapa…?!” tanyaku sedikit berteriak tanpa mengubah kewibawaanku. “Baginda raja…!” teriak orang di depan. “Masuk.” jawabku setelah aku dan Jenderal Li sudah siap. “Yue Lin, ada yang ayah mau bicarakan padamu…” kata ayah seraya duduk di kursi. “Apa itu ayah?” tanyaku bingung. “Kau akan dijodohkan dengan raja dari kerajaan sebelah.” jawab ayahku yang serasa disambar petir.

Aku memandang Jenderal Li sebentar. Di wajahnya juga tergambar rasa keterkejutan. Sangat nampak sekali ia sedang menahan perasaanya dengan tetap bersikap tenang. “Tapi, ayah… Aku kan bisa mengurus dan memilih pasanganku nanti.” kataku berusaha membantah. “Kerajaan kita akan segera bangkrut, Yue Lin…! Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan kita.” kata ayah yang membuatku kaget.

“Tapi, ayah… Pasti ada cara lain yang lebih baik daripada ini.” kataku masih mencoba membantah. “Hentikan, Lin…!!! Maafkan ayah, ayah tau kau sangat terpukul. Tapi, coba bayangkan bagaimana nasib rakyat. Pikirkan nasib rakyatmu…!” ucap ayah yang membuatku terpukul. Mana yang harus kupilih, rakyat atau Jenderal Li…?

Aku melihat Jenderal Li sejenak. Ia memang sedih, namun ia mengangguk kecil, seakan mengatakan padaku untuk menerima usul ayahku. Dengan berat hati, aku pun mengangguk. “Terima kasih, Lin. Kamu memang anak ayah yang sangat baik…” kata ayah seraya pergi meninggalkan ruanganku, dilanjutkan dengan pengawal-pengawalnya.

Setelah ayah pergi, aku langsung menangis tak karuan. Ia memelukku dengan hangat. “Kenapa ini terjadi…??!! Bagaimana ini…? Bagaimana dengan hubungan kita…? Li Han Qin, jawab aku…!!!” teriakku seraya memandang Jenderal Li yang sedang diam tanpa ekspresi. “Aku juga mencintamu, Zhou Yue Lin… Aku tidak mau kehilanganmu. Tapi, kita tidak boleh egois…! Bagaimana nasib rakyat jika kerajaan hancur…??!!” teriaknya dengan bahasa informal. Padahal, biasanya ia selalu memanggilku ‘anda’ dan memanggil dirinya sendiri ‘hamba’.

“Kau benar, Jenderal Li… Aku seharusnya memang tidak egois. Tapi, aku benar-benar tidak sanggup tanpamu…” kataku seraya memeluknya dengan erat. “Hamba kan tetap akan menjadi pengawal pribadi anda, Tuan Putri…” jawabnya seraya tersenyum. “Tidak boleh…” kataku dengan tegas. “Memang kenapa?” tanyanya kecewa. “Bodoh… Apakah kau tidak akan sedih melihatku terpaksa bermesraan dengan pasanganku…? Aku tidak mau kau sedih, Han Qin…” jawabku seraya mengelus rambut hitam kecoklatannya pelan.

“Melihat dan menjaga anda saja, bisa membuat perasaan hamba tenang dan puas, Tuan Putri…” ucapnya lembut. Aku pun tersentuh akan kata-katanya. Sebegitu cintanya kah ia padaku? Aku langsung memeluknya dengan sangat erat. “Terima kasih, Han Qin… Kau memang adalah pria yang kucintai seumur hidupku.” gumamku seraya memandangnya.

“Tidak, Tuan Putri… Anda harus belajar mencintai pasangan anda nanti. Biarkan cinta kita, hamba yang urus, Tuan Putri… Hamba akan mencintai anda seumur hidup hamba, walaupun hamba hanya bisa memendamnya, namun hamba akan mencintai Tuan Putri…” katanya seraya tersenyum dengan sangat manis. Namun, aku bisa menangkap suatu keganjilan dari matanya. Ia menangis. Butir air mata nampak turun dari matanya. Dan semua ini, karenaku?

“Jangan menangis, Qin… Lebih baik antar aku ke taman belakang kerajaan ya…?” ajakku seraya tersenyum, padahal hatiku juga terasa sakit. “Baiklah, Tuan Putri…” jawabnya seraya menghapus air matanya dan mengikutiku ke taman. Di taman, aku memandang danau dengan diam. “Coba pejamkan mata Tuan Putri dan rentangkan tangan anda… Rasakan tiupan angin… Rasakan angin itu menembus tubuh Tuan Putri…” kata Jenderal Li atau Han Qin.

Aku pun memejamkan mataku dan merentangkan tangan. Tiupan angin menerbangkan rambutku dan menggerakan gaunku. Sungguh tenang. Entah kenapa, semua beban dalam tubuhku menghilang. Aku membuka mataku pelan. Kulihat Jenderal Li juga melakukan hal yang sama denganku. Rambut hitam kecoklatannya bergerak dengan indah. Matanya terpejam dengan sempurna. Membuat wajahnya tampak lebih tampan.

Dengan sekali hentakan, aku mencium Han Qin pelan. Ia langsung terkaget akan perlakuanku. Namun, ia tak menolaknya. Ia malah membalas ciumanku dengan ganas. Semakin menciumnya, rasa sakit dari hatiku makin terasa. Semakin ku melepasnya, semakin ku tak mau kehilangannya. Bagaimana ini? Aku sangat mencintai Han Qin. Air mataku pun turun. “Anda menangis, Tuan Putri…?” tanyanya seraya menghapus air mataku.

^%%%%%%%%%^

Hari ini cuaca yang tadinya musim gugur menjadi musim salju secara mendadak. Salju turun dimana-mana. Seakan mengerti akan perasaanku yang sedang dingin. Aku mengamati pemandangan salju lewat jendela kamarku. Hanya jendelaku lah gerbang yang membuka hidupku dengan dunia. Ayah tak pernah mengizinkanku untuk pergi jauh-jauh dari kerajaan. Katanya takut aku kenapa-napa.

Mungkin bagi sebagian orang, menjadi seorang Tuan Putri sepertiku adalah sebuah anugrah. Tapi percayalah, semua ini salah. Justru jika aku bisa memilih, aku akan memilih untuk dilahirkan dari rakyat biasa. Kelihatannya memang enak memakai gaun mahal, dihormati setiap orang, dan menjadi anak raja. Tapi, aku menjadi terkekang dan tidak boleh melakukan semua hal diluar ‘sopan’ dan diluar ‘baik’. Aku selalu harus tampil dengan memakai topeng di depan semua orang.

Semua kebebasanku juga diambil. Seperti keluar rumah, bermain selayaknya anak remaja, atau pun memilih pasangan pun ditentukan. Kadang aku merasa lelah dengan ini semua. Ingin sekali-kali memperoleh kebebasan sendiri. Dan…kebebasan yang aku mau cuma satu sekarang. Bisa menikah dan terus bersama LI HAN QIN. Simple, bukan? Namun, kenyataannya sangat susah hanya untuk melakukan itu.

Aku bergegas keluar ruangan dengan cepat. Pengawal-pengawal yang lainnya ingin mengikutiku, namun aku menolaknya. “Kalian tidak boleh mengikutiku…!!!” teriakku dengan tegas. Mereka pun menunduk dan diam. Aku langsung melanjutkan perjalananku. Aku berhenti di sebuah ruangan. Aku membuka pintu ruangan itu. Alhasil, semua pengawal melihatku dengan kebingungan. Yah, ruang yang aku masukki adalah ruang para pengawal.

“Tuan Putri…” panggil mereka semua seraya menunduk kecil. “Kemana Jenderal Li…?” tanyaku dengan tegas. “Jenderal Li, Tuan Putri Zhao memanggilmu…!!!” teriak seseorang pengawal. Jenderal Li pun datang dengan muka yang masih berantakan. Kelihatan bahwa ia baru bangun tidur. “Ada apa anda memanggil hamba, Tuan Putri…?” tanyanya dengan sopan dan menunduk sopan.

Tanpa basa-basi, aku langsung menarik tangannya. Semua orang termasuk Jenderal Li Han Qin sendiri kaget dengan perlakuanku. Aku terus menarik tangannya. Hingga ke dekat gerbang pintu keluar yang masih sepi. “Apa yang anda lakukan, Tuan Putri Zhao Yue Lin…? Anda mau kita ketahuan…? Kelakuan anda sangat bodoh tau.” katanya dengan nada marah. Aku tau kenapa dia marah.

Pekerjaan Jenderal ini memang sangat susah didapat. Dan jika kita tertangkap basah pacaran, tentu saja jabatannya akan dicabut. Dan aku juga tak yakin apa hukuman yang Han Qin akan dapat. “Maaf, Qin… Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.” kataku seraya menampilkan senyum terbaikku. Aku tau Han Qin paling tak kuat menahan jika aku sudah tersenyum memohon.

“Ok… Apa yang anda ingin katakan?” tanyanya. “Ayo, kita kawin lari…!” teriakku seraya memohon dengan sangat. “Anda sudah gila, Tuan Putri…! Bagaimana kalau kita tertangkap nanti? Pasti kerajaan mengerahkan seluruh personilnya agar kita ditangkap…” jawabnya dengan cemberut. “Ya, kau benar, Qin… Lalu, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau menikah dengan Raja Wei…!  Yang kumau hanya kau, Qin-ku tersayang… Aku mencintaimu…!” kataku seraya memeluknya lembut.

“TUAN PUTRI…!!! JENDERAL LI…!!!” teriak seseorang yang ternyata adalah ayahku. “Baginda raja…” panggil Qin seraya menunduk hormat. “Ayah, aku bisa jelaskan ini…” kataku seraya berlutut di hadapan ayah. “Jangan bertindak bodoh, Yue Lin… Ikut aku ke ruanganku…!” teriaknya seraya memberi isyarat untuk menangkap Jenderal Li. “Han Qin…!!!!” teriakku saat melihatnya ditangkap. “Tuan Putri…” balasnya seraya tersenyum memberi semangat.

“Ayah, kumohon jangan sakiti Jenderal Li… Kumohon ayah…! Aku akan melakukan segalanya, tapi tolong jangan lukai Jenderal Li.” pintaku memohon. “Baik… Tapi kau harus menikah dengan Raja Wei…!” jawab ayah dengan tegas. “Ok… Aku akan menikah dengannya. Bahkan, menikah dengan sapi juga aku mau, asalkan Jenderal Li tidak dilukai.” kataku seraya mulai pergi ke kamarku.

Apakah begini takdirku? Menjadi Ratu Wei selamanya? Hanya bisa melihat Qin dari kejauhan? Tapi, tak apalah. Yang penting Han Qin tidak apa-apa. Aku akan lebih sakit lagi jika Qin kenapa-napa karenaku. Aku menyelimuti diriku dengan erat. 2 hari lagi adalah pernikahanku dengan Raja Wei. Setelah menikah, kerajaan Zhao dan kerajaan Wei akan bersatu. Tentu saja hal ini akan berakibat baik bagi rakyat kerajaan Zhao. Tapi, sayangnya hal ini tidak berakibat baik bagiku dan Qin.

***

Aku membuka mataku perlahan. Setelah bersiap-siap, aku langsung pergi ke sekolah. Di sekolah, karena terlalu terburu-buru, aku menjatuhkan bukuku sendiri. Aku langsung memungut buku itu satu persatu. Saat sedang memungut buku terakhir, tanganku menyentuh tangan seseorang. Ternyata, ia mau membantuku memungut buku. Ia memberikan buku itu kepadaku. “Terima kasih…” kataku seraya menunduk.

“Sama-sama…” jawabnya singkat. Setelah berdiri, aku baru bisa melihat jelas mukanya. Ia cukup manis dengan head-set yang tergantung di telinganya dan cardigan hitam yang dipakainya untuk melapisi seragam dengan berantakan. Aku memandangnya tanpa sadar hingga beberapa detik. “Kau sekolah disini?” tanyanya membuyarkan lamunanku kepadanya.  “Yah, aku sekolah disini… Kau juga sekolah disini?” tanyaku balik.

“Iya… Aku baru pindah kesini. Namaku Li Han Qin. Namamu?” tanyanya seraya memberikan tangannya. “Namaku Zhou Yue Lin…” jawabku seraya menyalami tangannya. “Aku duluan ya. Sampai jumpa, Lin…” katanya seraya tersenyum dan pergi. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Entah kenapa, senyumannya membuatku nyaman.

Setelah bel, aku pun duduk di kelas. Masih terngiang-ngiang wajah dan senyuman lelaki itu. Li Han Qin. Namanya juga terasa tak asing bagiku. Seperti pernah mendengar namanya di suatu tempat, namun aku tak ingat. Sudahlah, lebih baik mendengarkan guru sejarahku yang sedang ‘berceloteh’.

“Pada masa pemerintahan Raja Zhao, sempat terjadi ‘cinta terlarang’ yang terjadi antara Tuan Putri Zhao dan Jenderal Li yang merupakan pengawal pribadi Putri Zhao.” jelas guru yang sedang asyik berceloteh. Aku pun tersenyum mendengarnya. Konyol sekali ‘cinta terlarang’ itu. Tapi, marga putri itu sama denganku, Zhao. Dan jenderal itu Li, seperti nama lelaki yang kutemui tadi. Hahaha, suatu kebetulan yang aneh…

“Mereka saling mencintai, tapi Tuan Putri Zhao dijodohkan dengan Raja Wei…” lanjut guru itu. Namun, saat aku mulai tertarik dan mau mendengar kelanjutannya, bel berbunyi dan pelajaran pun berakhir. Aku keluar dari kelas untuk beristirahat. Saat sedang duduk di kantin dan memakan hidanganku, seseorang datang dan duduk disebelahku. “Halo, Yue Lin…” sapa lelaki yang kutau adalah Han Qin. “Hai, Han Qin…” jawabku seraya tersenyum.

“Kau hanya sendiri?” tanyanya seraya mulai ikut makan. “Sahabatku sedang tidak masuk hari ini… Jadi aku sendiri deh.” jawabku seraya melanjutkan makananku. “Kalau begitu, aku bersedia menjadi sahabatmu. Jadi, saat sahabatmu tidak masuk, kau bisa bersamaku deh…” katanya yang membuatku terkejut dan tersipu malu. Aku tersenyum menanggapinya.

Setelah pulang sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Aku benar-benar penasaran dengan percintaan terlarang tentang Tuan Putri Zhao dan Jenderal Li. Hap…! Aku menemukannya di deretan buku. Aku langsung meminjamnya kepada petugas perpustakaan. Setelah selesai, aku bergegas pulang. “Mau pulang…?” tanya Qin seraya mengendarai motornya. “Mmmm…” jawabku mengangguk. “Ayo, aku antar…!” ajaknya seraya mendudukanku ke boncengannya.

“Jangan cepat-cepat…!” teriakku yang sedang ada diboncengannya. “Pegangan saja…” jawabnya singkat seraya menambah kecepatan motornya. Aku langsung berpegangan erat pada pinggangnya. Setelah sampai, aku pun tersenyum. “Terima kasih ya mau mengantarkanku…” kataku dengan senang. “Ok…” jawabnya. Aku pun masuk ke rumah dan langsung pergi ke kamar. Di kamar, aku langsung membaca buku yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah.

Tak sadar, aku telah membacanya hingga malam. Aku pun menutup buku itu dan bergegas tidur. Esok paginya, aku pergi ke sekolah dan kemudian duduk di kelas. Aku kembali membaca buku itu. Ternyata, kisahnya sangat tragis dan menyedihkan. Saat istirahat, aku membaca buku itu di kantin. “Lagi baca apa, Lin?” tanya Han Qin seraya duduk di sebelahku. “Baca kisah nyata tentang cinta terlarang seorang tuan putri dan pengawalnya, Qin… Seru deh.” jawabku dengan mata tak henti menatap bukunya.

“Benarkah…?” tanyanya mulai tertarik. “Iya… Tuan putri itu dijodohkan dengan raja dari kerajaan seberang yang bernama Raja Wei. Sedih deh kisah mereka…!” jelasku mempromosikan buku ini. “Oh…” jawabnya seraya mengangguk-angguk paham. “Pada akhirnya mereka bersama atau berpisah…?” tanyanya penasaran. “Aku belum baca bagian terakhir. Nanti kalau sudah baca, aku akan beritahu kepadamu kok…” kataku seraya tersenyum menanggapinya.

Setelah jam pelajaran selesai, Han Qin membawaku ke sebuah taman. Di tepi danau, aku memandang danau dengan diam. “Pejamkan kedua matamu dan rentangkan tanganmu… Rasakan angin yang berhembus menembus tubuhmu.” kata Han Qin seraya mulai melakukan hal yang ia katakan. Aku pun memejamkan mataku dan merentangkan mataku. Entah kenapa, perasaanku langsung tenang seketika. Namun, aku merasa pernah melakukan ini sebelumnya. Hal ini seperti dejavu bagiku.

Sebuah ciuman tiba-tiba mendarat ke bibirku. Han Qin menciumku…? Ini adalah ciuman pertamaku dan ia yang melakukannya? Setelah menciumku, ia langsung memelukku. Aku sangat menikmati hal ini. “Aku mencintaimu, Yue Lin…” katanya pelan. “Aku juga sangat mencintaimu…” jawabku seraya membalas pelukannya. Oh ya, ini bukannya hal yang sama dengan buku yang aku baca? Di buku itu dijelaskan bahwa Tuan Putri Zhao dan Jenderal Li pernah melakukan ini.

“Darimana kau mendapat ide seperti ini?” tanyaku bingung. “Aku membaca bagian di buku itu saat kau tidak ada…” jawabnya seraya tertawa kecil. “Dasar…! Mengutip dari buku itu namanya tidak kreatif tau…” kataku seraya memukulnya pelan. “Tapi, kok namanya sama dengan nama kita ya? Tuan Putri Zhao Yue Lin dan Jenderal Li Han Qin… Ini kebetulan yang aneh, kan?” tanyanya seraya berpikir keras.

“Kau benar…! Kenapa namanya sama ya? Sudahlah, mungkin orang tua kita memang kebetulan mengutip nama kita dari cerita itu.” jawabku asal. “Yah, mungkin…” jawabnya ragu-ragu. “Ayo pulang…” ajaknya seraya menarikku. Di rumah, aku masih membaca buku itu. Ceritanya benar-benar membuatku larut di dalamnya. Sepertiku bisa merasakan hal yang sama dengan Putri Zhao. Kira-kira bagaimana ya kisah akhirnya cerita antara Putri dan Jenderal ini?

Hari ini aku memang libur. Tapi, Han Qin mengajakku jalan-jalan ke suatu tempat. Aku pun bersiap-siap dan akhirnya pergi bersama Qin. “Kita mau kemana, Han Qin?” tanyaku saat berada di boncengannya. “Ikut saja denganku, Yue Lin… Kau pasti senang jika mengetahui mau kemana kita…!” kata Qin seraya menambah kelajuan motornya. Tak lama, ia memberhentikan motor. Aku memandang ke sekitar seraya mengerutkan dahi.

“Ini…dimana?” tanyaku kebingungan. “Ini kuburan…” jawabnya dengan santai. “Ku-kuburan…? Kenapa kau membawaku kesini?” tanyaku lebih bingung. “Ini bukan kuburan biasa. Ini adalah makam jasad Tuan Putri Zhao dan Jenderal Li…” jelasnya yang berhasil membuatku membuka mataku lebar-lebar. “Benarkah?” tanyaku dibalas anggukannya. Ia langsung menarik tanganku kearah dua makam yang terlihat sangat tua.

Makam itu bersebelahan. Sudah sangat tua, namun aku masih bisa membaca tulisannya. Salah satu makam bertuliskan ‘Zhao Yue Lin’ dan makam disebelahnya bertuliskan ‘Li Han Qin’. Aura aneh tiba-tiba menyelimutiku. Aku memandang kearah Han Qin. Di wajahnya juga terdapat guratan keanehan. Tiba-tiba, aku merasakan pusing yang sangat. Bagaikan beribu-ribu jarum menusukku dengan cepat dan berkali-kali.

Tubuhku pun ambruk. Sebelum aku menutup mata, aku melihat kearah Qin. Ia juga nampaknya merasakan hal yang sama denganku. Setelah menutup mata, aku merasakan diriku berputar-putar di dimensi lain. Aku juga bisa melihat Qin berputar-putar. Dengan sekali hentakan, kita berdua terjatuh di suatu tempat yang aneh. Tempat ini nampak seperti bumi, tapi dari bangunanya, kelihatan bahwa ini masih abad ke-12.

“Dimana kita?” tanyaku bingung. Qin menggelengkan kepalanya seraya mengangkat bahu. Menunjukkan bahwa ia juga tidak tau. “Ayah…! Kenapa kau berbohong padaku…?!! Aku tak menyangka sebegini jahatnya ayah padaku…!” teriak seorang wanita dari bangunan yang tidak jauh dari kami. Kita pun melangkah ke bangunan itu. Bangunan itu lebih besar dan megah daripada bangunan lainnya. Seperti bangunan kerajaan.

Kita memasuki pintu masuk besar. Terdapat 2 orang berpakaian kuno yang tebal sedang berdiri diam menjaga pintu besar yang baru saja kami masukki. “Permisi, tuan… Ini dimana ya?” tanya Han Qin. Namun, mereka diam seakan tak melihat kami. “Tuan…!? Tuan…?!” panggil Han Qin seraya mencoba menggerakkan tubuh salah satu penjaga. Tapi, malah suatu keanehan yang kami dapat.

Tangan Han Qin menembus penjaga itu? Kami berpandangan kaget selama beberapa menit. “Ayah…! Kumohon…!!! Aku tak menyangka ayah sekejam ini padaku…!” teriak wanita yang sama dengan yang kudengar tadi. Kita pun langsung berlari ke sumber suara. Ternyata, sumber suara itu berasal dari arah ruang bangsal yang sangat besar. Ruang ini penuh dengan hiasan mewah. Seperti akan dijadikan tempat pernikahan.

Seorang wanita yang tadi berteriak, terlihat sedang berlutut seraya menangis-nangis di depan seseorang yang nampaknya ayahnya. Dan, yang mengagetkan, wajah wanita itu sangat mirip denganku. Hanya saja ia memakai pakaian tradisional. “Maafkan ayah, Yue Lin… Kau adalah Tuan Putri kerajaan ini. Untuk membuat kau melupakan Jenderal Li Han Qin, hanya ini yang bisa ayah lakukan…” kata ayahnya.

Aku sangat terkejut dengan hal ini. Ternyata, wanita itu adalah Tuan Putri Zhao Yue Lin…! Sama seperti yang aku baca dan yang aku dengar dari guru sejarah. Jadi, aku dan Han Qin berpindah tempat kesini? Ini kan 9 abad yang lalu…!!! “Aku kan sudah janji kepada ayah untuk menikah dengan Raja Wei asalkan ayah tidak melukai Jenderal Li…! Tapi, ayah malah mengingkari janji ayah dan sekarang mau menghukum mati Jenderal Li… Aku benar-benar kecewa pada ayah…!!!” teriak Putri Zhao seraya mendekati seorang lelaki yang sedang berlutut.

Lelaki itu nampak kusam dengan tubuh penuh luka. Wajahnya yang manis dan tampan, rambutnya yang hitam kecoklatan, dan lesung pipi uniknya nampak tidak asing bagiku. Ini…bukannya Han Qin? Yah, mukanya sama persis dengan Han Qin. Aku mencocokkan mukanya dengan muka Qin. Sama persis. Qin terlihat sama kagetnya denganku. “Li Han Qin…” panggil Putri Zhao lirih.

“Zhao Yue Lin…” balas lelaki yang kutau adalah Jenderal Li. Saat Putri Zhao ingin memeluk Jenderal Li, penjaga datang dan menarik Putri Zhao agar menjauh dari Jenderal Li. Putri Zhao menangis seraya memberontak ingin melepaskan diri. Namun, kekuatannya lebih kecil dari penjaga itu. “Lakukan…!” perintah Raja Zhao yang adalah ayah Putri Zhao. Tiba-tiba, sebuah panah diluncurkan dan menancap tepat di jantung Jenderal Li.

Aku dan Qin yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa terkejut dan menutup mulut kita dengan tangan. Entah kenapa, hatiku merasakan sakit yang tak terkira. Apakah ini yang dirasakan Putri Zhao? “TIDAK…!!! LI HAN QIN…!” pekik Putri Zhao seraya melepaskan pegangan penjaga dengan brutal seraya berlari memeluk Jenderal Li yang sekarang sudah penuh dengan darah.

“Tu-tuan Putri Zhao Yue Lin, se-selamanya hamba akan mencintai Tuan Putri… Jika di ke-kehidupan ini kita tak bisa bersama, bi-biarkan di kehidupan berikutnya dan se-seterusnya, kita akan selalu bersama…” kata Jenderal Li lemah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Putri Zhao hanya bisa menangis seraya memeluk Jenderal Li dengan erat, seakan tidak mau melepaskannya seumur hidup.

“Baiklah, Han Qin… Jika di kehidupan ini kita tak bisa bersama, biarkan di kehidupan selanjutnya, kita terus bersama. Aku mencintaimu, Li Han Qin. Biarkan cinta kita abadi selamanya dan menjadi simbol cinta di dunia ini…” jawab Putri Zhao seraya mencabut panah yang tertancap pada jantung Jenderal Li dan menancapkannya ke jantungnya. Ia pun memekik kesakitan seraya memeluk Jenderal Li erat. Yah, Putri Zhao mati dengan kondisi sedang memeluk jasad Jenderal Li.

Sebuah cahaya tiba-tiba menerobos pandanganku. Semenit kemudian, aku sudah berada di tempat asalku lagi. Di dekat makam Putri Zhao dan Jenderal Li. Aku memandang Han Qin dan ia pun memandangku. “Tuan Putri Zhao Yue Lin?” tanyanya seraya berlari memelukku. “Jenderal Li Han Qin…? Ternyata, kita berdua adalah renkarnasi dari Putri Zhao dan Jenderal Li.” jawabku seraya memeluknya erat.

FIN





Advertisements

Comments on: "Story : ~Our Destiny…~" (7)

  1. wow~
    namany kyk cina. bkn korea lg kan?
    bener2 cina kan?

  2. hohhhhoo endingnya kren
    trnyata mreka renkarnasi gitu. ^^b
    bgus…bgus..

  3. Soo han ssi said:

    keren saeng ^^b
    nii sad ending apa happy ending ?? *lemoot, digampar =_=#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: