Full of inspiration and story

Aku merebahkan tubuhku ke kasur yang sangat nyaman dan empuk ini. Aku memandang ke penjuru arah. Ruangan kamar kita -aku dan suamiku- sangat besar dan luas. Dekorasinya juga indah dan membuat orang betah memandangnya seharian. Namun, kenapa aku merasa kekurangan sesuatu? Sesuatu yang membuatku sangat kesal dan kehilangan. Kemana suamiku? Biasanya ia pasti sudah pulang sekarang.

Aku memandang foto pernikahan yang terpajang sempurna disisi kamar. Sudah dua tahun berlalu sejak hari pernikahan yang -menurutku- paling indah itu dilaksanakan. Di foto itu, aku nampak sangat bahagia. Begitu pula dengan suamiku. Ia tak henti-hentinya tersenyum sehingga memperlihatkan dengan jelas lesung pipinya yang sangat manis.

Aku tersenyum miris melihat foto itu. Apakah sekarang ia masih berpikir sama dengan waktu pernikahan itu? Apakah dia belum merubah jalan pikirannya? Saat sedang terbengong sendiri, sebuah suara hentakan kaki membuatku kaget. Aku pun langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata, suamiku sudah pulang. Dengan wajah semanis mungkin, aku mendekatinya yang sedang duduk di kursi kamar.

“Capek ya, sayang…? Mau aku buatin makanan? Atau aku sediakan air panas dulu untuk kau mandi…?” tanyaku bertubi-tubi seraya memijitnya pelan. Tapi, sesuatu membuatku terkejut setengah mati. Biasanya ia akan tersenyum dan bersikap manja di depanku. Namun, sekarang ia malah menepis tanganku dan menjauh dariku. “Tidurlah… Aku bisa urus sendiri.” jawabnya dengan dingin tanpa sekali pun memandangku.

Ingin rasanya berkata, ‘Halo… Kau adalah suamiku dan aku adalah istrimu. Apakah kau lupa itu?’ tapi rasanya terlalu sakit untuk mengucapkannya. Biarlah, mungkin ia hanya sedang lelah dengan urusan kantor. Aku pun langsung menidurkan diriku ke kasur. Semua pikiran negatif kutepis dari benakku.

Esoknya, aku bangun dengan mata masih mengantuk. Aku memandang ke sebelahku. Suamiku tidak ada? Kemana dia? Aku melihat jam weker di meja. Masih jam 05.00 pagi. Biasanya ia takkan bangun sebelum jam 6. Itu pun setelah aku bangunkan dengan susah payah. Tapi, kenapa ia hilang entah kemana? Aku langsung berjalan ke seluruh sudut rumah. Namun, nihil. Ia tidak ada dimana-mana. Hingga aku melihatnya di kamar tamu. Ia sedang tidur dengan lelapnya.

Ingin rasanya aku menangis. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia bahkan lebih memilih tidur di kamar tamu dibandingkan tidur dengan istrinya sendiri? Apakah sebegitu parahnya kah aku dimatanya? Sabar… Tenangkan dirimu. Sekarang lebih baik aku membuat sarapan untuknya. Aku langsung bergegas ke dapur dan membuat nasi goreng kesukaan suamiku.

Aku tersenyum kecil memandang masakan yang telah aku buat spesial untuk suamiku. Pasti ia memakannya dengan lahap. Tapi, pikiranku jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Tanpa memandangku, ia langsung pergi keluar rumah. Aku memanggilnya untuk sekedar makan dulu, namun ia menolaknya dengan dingin dan meneruskan kegiatannya keluar dari rumah. Kali ini aku menangis. Bahkan, makanan kesukaannya tak ia sentuh?

Padahal, aku sudah membuatnya dengan susah payah dan sepenuh hatiku. Entah kenapa, aku tak nafsu makan sekarang. Lebih baik aku keluar rumah untuk menenangkan diri sejenak. Aku pun bersiap dan akhirnya melangkah keluar rumah dengan menaiki mobil merah muda yang aku punya. Aku mengendarai mobilku menuju rumah sahabatku. Ia masih single hingga sekarang. Bukan dia yang terlalu lama sendiri, namun pernikahanku memang sangat cepat. Aku menikah di umurku yang ke-22. Sangat muda, bukan?

“Yuri…!” teriak suara sahabatku seraya memelukku. “Sudah lama sekali tak menemuimu… Bagaimana kabarmu?” lanjutnya seraya mempersilahkan aku masuk. “Baik… Bagaimana denganmu?” tanyaku balik menanya. “Tentu saja baik…” jawabnya dengan riang seraya menyuruhku duduk. “Ada apa kau mengunjungiku, Yuri…?” tanyanya dengan bingung. Aku hanya menggeleng kecil. “Tidak apa-apa… Hanya kangen denganmu.” jawabku berbohong.

Setelah asyik bercanda dengan sahabatku sejak SMA, aku pun pulang. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam sekarang. Sebentar lagi suamiku akan pulang. Saat sedang mengendarai mobil menuju rumah, di seberang jalan dekat rumah, aku melihat suatu mobil sedang terparkir. Nampaknya, aku kenal siapa pengemudinya. Yah, ini suamiku, dan mobil yang dikendarainya juga adalah mobil suamiku.

Tapi, tunggu. Sedang bersama siapa dia? Kenapa dia bersama wanita yang tak kukenal? Dan…sekarang mereka sedang berciuman mesra? Bahkan, aku tak pernah ciuman semesra itu dengan suamiku. Rasanya, hatiku bagai diambil paksa dari tubuhku dan diremukkan dengan diinjak sekawanan gajah. Bisa kau bayangkan kan rasanya? Sakit dan perih.

Tanpa basa-basi, aku langsung mengemudikan mobilku ke rumah dan aku pun menunggunya pulang seraya duduk di kamar. Sekarang, aku menangis sesenggukan. Apakah dia tak mencintaiku? Apakah begini rasanya diselingkuhi? Kalau benar, aku merasakan sakit yang luar biasa sekarang. Tak lama, ia pun pulang. Kali ini ia tersenyum ceria sekali, seperti orang yang baru saja mengalami peristiwa sangat bahagia. “Kenapa kau menangis, sayang?” tanyanya seraya tersenyum.

Namun, aku sadar senyuman itu bukan untukku. Senyuman itu hanya efek dari kebahagiaan yang ia dapat dengan ‘wanita jalang’ itu. Aku menatapnya nanar. “Kenapa, sayang?” tanyanya tanpa merasa bersalah sama sekali. Aku langsung menamparnya sekeras mungkin. Entah kenapa, tanganku reflek menamparnya. Ia berteriak kecil seraya memegang pipinya. “Apa yang kau lakukan, Yuri…!?” tanyanya dengan suara yang ditinggikan.

“Mestinya pertanyaan itu yang aku layangkan padamu…! Apa yang kau lakukan dengan wanita itu…??!!” teriakku seraya terus mengeluarkan air mata. “Wa-wanita…? Apa maksudmu?” tanyanya gelagapan. Aku tersenyum pahit. “Kau masih bisa berpura-pura ya? Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri…! Kenapa kau melakukan itu?! Kenapa kau mengkhianati cintaku…?!” teriakku penuh amarah.

Ia hanya diam. “Kemana semua janjimu itu? Janji agar kita saling mencintai selamanya…!? Kemana…!!!???” teriakku berusaha meluapkan segala amarah yang seakan ingin meledak di dalam kepalaku. “Yu-yuri…” panggilnya lirih. “Besok aku akan mengurus surat perceraian. Selamat tinggal…” kataku berusaha mengendalikan emosiku seraya mengambil koper dan mengepak barang-barang. “Yuri…! Jangan pergi, kumohon…” katanya lirih, namun aku tak menggrubisnya.

Perasaanku sudah terlanjur terluka sekarang. Yang bisa kulakukan hanya menangisi semua ini. Aku bergegas ke rumah sahabatku. Disana aku menceritakan semuanya kepada sahabatku itu. “Sabar ya… Semua ini pasti ada penyelesaiannya.” hibur sahabatku. “Sudah tak ada yang bisa dibicarakan. Dia benar-benar sudah tertangkap basah selingkuh di depan mataku sendiri… Besok aku akan mengurus surat perceraian.” kataku seraya berusaha tersenyum.

“Sudah kubilang dari dulu kan dia itu bukan pria yang baik…” katanya seraya memberikan minuman padaku. “Iya, aku memang bodoh. Padahal kau sering mengatakannya, tapi aku malah tak percaya padamu dan tetap menikah dengannya…” jawabku seraya menyeruput minuman yang diberikan. “Sekarang tidurlah di rumahku dulu…” pintanya dengan ramah. Aku langsung memeluknya. “Terima kasih ya… Kau memang sahabat terbaikku.” gumamku seraya tertawa.

!@#$%^&*()()(*&^^%$##@@!

Aku melangkah menuju rumah. Rumah yang lebih kecil dan sederhana dibanding rumah mantan suamiku dulu memang. Tapi, setidaknya disini aku lebih bahagia. “Mama…” panggil anak semata wayangku. “Yenna…” balasku seraya memeluk anakku, Yenna. “Yuri sayangku…” panggil lelaki dengan manja seraya memelukku lembut. “Suamiku sayang.” balasku lagi seraya memeluk suami baruku.

Dia memang tidak setampan atau sekaya mantan suamiku. Namun, ada kelebihan yang membuatku lebih sayang suamiku yang sekarang. Ia sangat mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya. Ia selalu memberikkan kasih sayang untukku secara tulus. Ia adalah pria yang romantis dan dewasa. Aku sungguh mencintai suamiku. Begitu pula suamiku. Suamiku dan Yenna adalah orang yang paling berharga dalam hidupku.

FIN

Advertisements

Comments on: "Story : ~How About Our Married??~" (5)

  1. soo han ssi said:

    saeng , ffmu kereenn d^^b
    uhh kalo yuri itu onnie , onnie bakal kabur , berhubung bukkan onnie, cuman bisa ngehayal hhehhe πŸ˜€
    ayoo2 share ff2 mu , ppa lagi yang sad ending onnie sukka πŸ™‚

  2. huaaaa. . . . .
    lumayn jg christin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: