Full of inspiration and story

Story : ~Sad Love Story~

Terlihat seorang wanita muda berumur 20-an sedang tersenyum bahagia diseberang sana. Dengan jas putihnya yang melambangkan bahwa wanita itu seorang dokter, ia berjalan dengan sumringah menuju ruangannya. Bola matanya hitam dengan rambut lurus panjang yang bewarna coklat batang. Ia bisa dibilang adalah wanita yang cukup cantik. Setiap orang yang lewat menyapanya penuh arti.

“Pagi, dokter…” panggil seorang suster yang lewat. “Pagi…!” balasnya dengan riang dan bersemangat. Begitu juga jawabannya kepada setiap orang yang lewat, termasuk dokter lain, suster-suster, pasien, atau penjenguk yang lewat. Hingga akhirnya ia memasuki sebuah ruangan dimana setiap dokter-dokter bawahannya berkumpul.

“Berapa pasien yang harus aku tangani hari ini?” tanya wanita itu kepada asisten dokter yang sedang bermain dengan data-data tebal. “Hanya ada satu, dokter… Kebetulan cuaca sedang bagus, jadi jarang ada pasien yang masuk rumah sakit belakangan ini.” jawabnya seraya memandang dokter itu antara senang dan sedih. Senang karena berarti wilayah mereka sehat, dan sedih karena mereka akan kekurangan pasien yang berarti kehilangan uang.

“Siapa pasien itu?” tanya wanita itu lagi. “Namanya Cho Hwamin… Berusia 21 tahun. Sakit jantung akut… Kebetulan kemarin, ia pingsan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit ini. Kamarnya di ruang 512…” jelas asisten dokter itu seraya memberikan sebuah data mengenai profil pasien yang akan ditangani oleh wanita itu. Wanita itu pun mengangguk dan kemudian berjalan menuju ruangan 512. Sampai di depan ruangan, ia membuka pintu dengan pelan agar tak mengganggu.

Ia bisa melihat sesosok wanita yang sedang menangisi pasien yang sedang terbaring di sebelahnya. “Kenapa…? Kenapa ini harus terjadi padamu, Hwamin…?” tanya wanita itu lirih. Pasien itu hanya bisa memandang wanita disebelahnya dengan iba. “Mmm… Permisi, aku dokter yang akan menangani pasien Hwamin-ssi. Namaku Han Sangkyo… Salam kenal.” kata dokter itu memotong pembicaraan.

Wanita itu pun menunduk kecil. “Halo, bu dokter… Aku Cho Hwajin, kakak perempuannya Hwamin. Mohon bantuannya ya…” balas perempuan itu. “Panggil saja aku Sangkyo, atau Kyo… Tidak usah formal begitu. Aku juga lebih muda darimu, Hwajin onnie (panggilan untuk kakak perempuan).” kata Kyo dengan ikut menunduk. “Apa? Kau lebih muda dariku…? Jarang lho seorang dokter masih 25 kebawah. Kau pasti seorang dokter yang pintar ya, Sangkyo…?” tanya Hwajin sehingga membuat Kyo tersipu malu.

“Jangan memujiku seperti itu, Hwajin onnie… Aku hanya masuk kuliah kedokteran lebih awal kok.” kata Kyo seraya tersenyum malu. “Kalian berdua ini bisa berhenti gak sih berbasa-basi seperti itu…” sindir Hwamin dengan tampang cuek. “Hwamin…! Jangan begitu kepada dokter yang akan menanganimu… Sangkyo-ah, kemarin tiba-tiba Hwamin pingsan. Apakah ini karena pengaruh jantungnya?” tanya Hwajin. “Benar… Ini semua karena pengaruh jantung Hwamin-ssi yang bermasalah.” jawab Kyo jujur.

“Bolehkah aku berbicara padamu, Sangkyo…?” tanya Hwajin. Kyo pun mengangguk dan kemudian pergi keluar ruangan. Di ruangannya, ia langsung menyuruh Hwajin duduk. “Apakah ada cara untuk menyembuhkan Hwamin…? Aku sudah tidak tahan melihat Hwamin menderita… Tolonglah aku, Sangkyo…!!!” teriak Hwajin seraya menangis sesenggukan. Kyo berpikir keras, namun akhirnya ia mendengus nafas pelan.

“Yang bisa dilakukan oleh Hwamin sekarang hanya meminum obat secara teratur dan banyak beristirahat… Ia sudah tak bisa ditolong. Penyakit ini bukan jenis penyakit yang bisa sembuh… Maafkan aku, Hwajin onnie. Meminum obat atau banyak istirahat hanya cara untuk memperpanjang umurnya dan membuatnya tak lebih menderita… Sabar ya, onnie.” jelas Kyo seraya mengusap punggung Hwajin dengan lembut. Hwajin hanya bisa menangis di pelukan Kyo.

Setelah tenang, mereka kembali ke ruangan. Hwamin nampak kebingungan melihat Hwajin bermuka sembap dan murung. “Kau sudah boleh pulang, Hwamin-ah… Jaga dirimu baik-baik ya?” kata Kyo seraya tersenyum manis. Tanpa menjawab, Hwamin bangun dari tempatnya dan keluar ruangan. “Maafkan dia ya, Sangkyo… Setelah ayah dan ibu meninggal karena penyakit yang sama, dia jadi sedikit cuek dan menyebalkan.” kata Hwajin seraya membereskan keperluan Hwamin.

“Tidak apa-apa… Sampai jumpa, Hwajin onnie…!” sapa Kyo seraya berusaha tersenyum. “Sampai jumpa…” balas Hwajin dengan senyuman. Sebulan kemudian, hari berlangsung sama. Banyak pasien yang sudah sembuh dan diperbolehkan pulang. Kyo juga masih melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia adalah dokter termuda di negaranya. Sejak kelas SD, SMP, dan SMA, ia selalu mencapai nilai tertinggi dan sekolahnya pun menjadi cepat selesai. SD-nya hanya 4 tahun, SMP-nya hanya 2 tahun, dan SMA-nya hanya 2 tahun. Karena itulah, ia bisa lulus kuliah dengan umur masih 21 tahun.

Saat sedang santai dan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, panggilan masuk berbunyi. Ia pun langsung berlari ke tempat panggilannya. Ternyata, Hwamin masuk rumah sakit lagi. Keadaannya memburuk dan tubuhnya juga memucat. Hwajin kembali menangis. Kyo memasuki ruangan UGD, lalu melihat dengan jelas bahwa Hwamin sedang dalam keadaan parah. “Dokter Han, tolong bantu kami…” kata seorang dokter seraya memberikanku alat-alat CPR.

CPR adalah alat untuk mengejutkan jantung dengan aliran listrik. Kyo langsung mempersiapkan CPR dan langsung menempelkannya pada dada Hwamin. 1 kali kejutan tak memberikan respon yang berarti pada jantung Hwamin. Setelah 2 kali, baru tanda di monitor yang semula garis lurus menjadi berkelok-kelok. Ia dan yang lainnya bernafas lega.

Begitu Kyo keluar, Hwajin langsung berlari kearahnya. “Bagaimana Hwamin…? Dia bisa diselamatkan kan?” tanya Hwajin dengan muka merah. Kyo tersenyum kecil. “Ia selamat…” jawab Kyo singkat namun memberikan efek yang luar biasa bagus bagi Hwajin. “Kau memang penyelamat, Sangkyo…!!! Maukah kau menjaganya selama di rumah…? Aku terlalu sibuk dengan urusan kantorku. Tenang kok, hanya sampai ia…” pinta Hwajin tak bisa melanjutkan pembicaraannya.

Akhirnya, Hwajin berbicara dengan pemimpin rumah sakit dan pemimpin memberi keputusan bahwa Kyo akan ditugaskan menjaga Hwamin sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Memang sedikit menyebalkan bagi Kyo untuk menjaga Hwamin yang sangat cuek terhadapnya, namun karena rasa kasihan, ia terpaksa menerimanya. Memang awalnya, Hwamin menolak penjagaan ini, tapi ia menerimanya karena Hwajin memohon dengan sangat.

Akhirnya, Kyo, Hwamin, dan Hwajin sampai di rumah keluarga Cho. Hwajin pamit kepada mereka berdua karena ia sendiri masih mempunyai banyak pekerjaan di kantor. Saat memasuki rumah mereka, Kyo tertegun dengan segala yang ada di rumah mereka. Mereka memang adalah anak yang kaya, orang tuanya memang sudah pergi meninggalkan mereka, namun orang tuanya memberikan warisan yang lebih dari cukup untuk mereka berdua.

Di ruang tamu, Kyo bisa melihat foto dimana ayah, ibu, kakak perempuan, dan adik laki-laki sedang berpose di dalamnya. Mereka berempat tersenyum lebar dengan saling merangkulkan tangan. Ayah dan ibunya sedang membentuk tanda love, dan kakak beradik yang ia tau adalah Hwamin dan Hwajin sedang saling merangkulkan tangan seraya tersenyum lebar. Ia sangat terharu melihat foto itu.

“Jangan memandang foto terus… Kau kan ditugaskan untuk merawatku.” kata Hwamin dengan pandangan galak. Kyo langsung melepaskan pandangannya dari foto itu dan mendekati Hwamin dengan cemberut. “Ya sudah, aku mau menaruh koperku ke kamar tamu dulu…” gumam Kyo seraya pergi meninggalkan Hwamin. Hwamin pun tersenyum menanggapi kelakuan Kyo.

Selesai bersiap-siap, Hwamin pergi ke taman. Mau tak mau, Kyo pun ikut dan mengikutinya dari kejauhan. Ia terlihat sangat menikmati udara di sekitar taman. Matanya yang sayu dan bewarna coklat gelap memandang ke langit penuh perhatian. Hidungnya yang runcing bak ujung tombak dan mulutnya yang kecil mungil membuat Kyo sadar betapa manis dan tampannya dia. Tapi tunggu, Hwamin menangis…? Apa tidak salah?

Kyo pun segera mendekati Hwamin dan menyentuh tangannya. “Kau menangis…?” tanya Kyo dengan lembut. “Tidak…” jawab Hwamin seraya berusaha mengelap matanya yang sudah beruraian air mata. “Jangan bohong padaku, Hwamin-ssi…” kata Kyo seraya tersenyum manis. Hwamin pun terdiam sejenak. Ia kembali memandang langit biru yang penuh dengan awan.

“Ya, aku memang menangis… Setiap aku melihat langit, aku selalu ingat kepada orang tuaku. Apakah menurutmu aku cengeng, Sangkyo-ssi…?” tanyanya seraya mulai tersenyum kepada Kyo. “Tentu tidak, Hwamin-ssi… Itu wajar bagi semua orang untuk menangis. Apalagi saat orang tuanya meninggal. Malah aneh bukan jika tidak menangis…” jawab Kyo seraya menepuk bahu Hwamin pelan.

“Terima kasih, Sangkyo-ssi…” gumamnya seraya memeluk Kyo. Kyo pun terkejut setengah mati. ‘Apa-apaan ini? Kenapa jantungku berdegup sangat keras? Masa aku jatuh cinta pada pasienku sendiri…? Tidak mungkin…!’ batin Kyo seraya menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Setelah melepas pelukannya, Hwamin langsung bergegas pergi dan pulang ke rumah. Dengan canggung, Kyo mengikuti dari belakang.

“Buatkan aku makan malam, Sangkyo…!!!” perintah Hwamin dengan kasar. “Apa…??!! Aku ini dokter yang akan menjagamu…! Bukan pembantu yang seenaknya saja kau suruh-suruh tau…!!!” teriak Kyo tidak terima. “Huh~Yasudah, akan kubuatkan makan malam untukku sendiri.” gumam Hwamin seraya pergi ke dapur. Kyo yang merasa tidak enak pun turut pergi ke dapur. Kyo bisa melihat Hwamin sedang mengambil telur dari kulkas.

“Maaf ya, Hwamin… Bukannya aku tidak mau menolongmu, tapi masalahnya aku tidak bisa memasak… Satu-satunya yang bisa kumasak itu hanya mie instant. Dan aku tau makanan itu gak bergizi untukmu.” jelas Kyo seraya menunduk malu. Hwamin langsung memberhentikan pekerjaannya dan menengok kearah Kyo dengan senyuman mautnya. “Apa kau bilang…? Kau tidak bisa memasak…? Wanita seusiamu tidak bisa memasak…? Aku turut berduka cita untuk suamimu nanti…! Hahahaha~” ledek Hwamin seraya tertawa terbahak-bahak.

Kyo yang sebal akan tingkah Hwamin yang kurang ajar itu langsung mengambil terigu dan melemparnya kearah Hwamin. “Rasakan itu…!” umpat Kyo seraya tertawa melihat Hwamin penuh dengan terigu. “Hei…! Sebenarnya kau itu dokter atau bukan sih?? Mana ada dokter yang memperlakukan pasiennya seperti itu…” protes Hwamin seraya cemberut dan melemparkan terigu kepada Kyo.

Sekarang mereka berdua malah bermain melemparkan terigu. Hingga akhirnya mereka lelah dan akhirnya tiduran di kursi ruang tamu. “Hosh… Hosh…Hosh…” suara nafas mereka berdua bergema di ruang tamu yang super besar itu. “Kau tidak apa-apa kan, Hwamin-ssi…?” tanya Kyo yang khawatir terjadi apa-apa dengannya. “Tentu saja tidak, aku ini lelaki yang kuat tau…” jawab Hwamin seraya tersenyum dan bangun.

“Mau kemana kamu…?” tanya Kyo setelah melihat Hwamin bangun. “Mau memasak lah… Kita kan belum makan malam. Lapar nih…” kata Hwamin seraya menuju ke dapur. Kyo pun mengikutinya. Ia hanya melihat dari jauh bagaimana Hwamin memasak telur dadar untuk mereka. “Mau belajar…?” tanya Hwamin seraya menarik tangan Kyo dan mulai mengajari Kyo bagaimana memasaknya. Hingga akhirnya, hidangan mereka telah siap.

“Aku coba ya bagaimana rasanya.” kata Hwamin seraya menyendok telur yang dibuat oleh Kyo. Setelah mencobanya, Hwamin malah batuk-batuk dan bergegas ke toilet. “Kau kenapa, Hwamin?” tanya Kyo kebingungan. “Masakanmu benar-benar asin, Sangkyo…! Aku benar-benar khawatir dengan nasib calon suamimu nanti.” kata Hwamin setelah kembali dari toilet. Kyo pun mencoba makanannya. “Kau benar, Hwamin…! Ini benar-benar asin… Hehehe~~~” jawab Kyo seraya tertawa.

Tak sadar, mereka telah bersama selama lebih dari 2 bulan. Perasaan Kyo dan Hwamin makin dalam satu sama lain. Hingga akhirnya, Hwamin mengajak Kyo ke taman pada malam hari. “Apa yang mau kau lakukan disini, Hwamin?” tanya Kyo seraya meraba-raba. Di matanya sudah dipasang sapu tangan agar ia tak bisa mengintip. Hwamin hanya tersenyum kecil dan membawa Kyo ke taman.

“Sekarang buka matamu, Sangkyo…” perintah Hwamin dengan tegas. Kyo pun membuka ikatan matanya, dan… ia terkejut sampai tas tangannya terjatuh ke tanah. Air matanya mulai berjatuhan seiring dengan detak jantung dalam tubuhnya. Di langit bertabur bintang, sudah ada kembang api yang bertuliskan, “I LOVE YOU, SANGKYO…!”. Kyo langsung memeluk Hwamin dengan lembut. “Meskipun aku tau umurku tidak lama lagi, tapi setidaknya maukah kau menemaniku hingga akhir hayatku, Han Sangkyo…?” tanya Hwamin dengan hangat.

“Ya, Cho Hwamin…! Aku bersedia menemanimu hingga akhir hayatmu dan aku takkan berpaling darimu. I love you too, Hwamin…” jawab Kyo seraya mempererat pelukannya di tubuh Hwamin yang mengurus. “Terima kasih, Sangkyo…” bisik Hwamin lirih. Tiba-tiba, pelukannya ketubuh Kyo melemah dan Hwamin pun terjatuh ke tanah. “HWAMIN…!!!” teriak Kyo histeris.

Di rumah sakit, ia ditangani oleh para dokter, termasuk diantaranya Sangkyo sendiri. Kyo terus menangis seraya menangani Hwamin yang sedang terbujur kaku di kasur. Hingga garis yang terdapat di monitor berubah menjadi garis lurus sepenuhnya. Kyo pun menangis. Begitu pula dengan Hwajin yang langsung datang begitu ada pemberitahuan bahwa Hwamin masuk rumah sakit.

^***************************^

Hari ini Kyo memandang tanah yang masih basah di depannya. Air matanya sudah tak sanggup mengalir lagi. Mungkin sudah habis. Ia mengelus foto terakhir yang diambilnya bersama Hwamin sebulan yang lalu. Saat itu mereka sedang tertawa ceria tanpa ada beban sedikit pun. Ia terkejut saat sesuatu bewarna putih keluar dari bingkai foto itu. Ternyata sebuah surat. Kyo pun membuka surat itu. Isinya adalah sebuah tulisan yang dibuat Hwamin sendiri.

MentariĀ  bersinar dengan tak bercahaya…

Bunga-bunga bermekaran dengan tak indah…

Batu karang tak sekeras biasanya…

Kau tau kenapa?

Karena ada Kyo yang lebih bercahaya dari mentari…

Karena ada Kyo yang lebih indah dari bunga-bunga…

Dan karena ada Kyo yang lebih kuat dari batu karang…

Terima kasih Hwamin ucapkan untuk Kyo…

Kyo membuat Hwamin kembali bercahaya lagi…

Kyo membuat Hwamin kembali menjadi indah…

Kyo membuat Hwamin menjadi lebih kuat…

Walaupun cahaya, keindahan, dan kekuatan itu akan diambil dari tubuh Hwamin, Hwamin tetap yakin bahwa Kyo-lah pujaan hati Hwamin…

Walaupun Hwamin tak ada disisi Kyo lagi, berjanjilah Kyo tidak akan sedih dan meneteskan air mata lagi…

Hanya ingatlah satu hal…

Hwamin mencintai Kyo sekarang dan selamanya…

-Hwamin-

Kyo mengelap air mata yang turun dari matanya. Ia menyobek kertas itu dan menerbangkannya ke udara terbuka. Ia bangun dari tempatnya dan meninggalkan makam orang yang amat ia cintai. ‘Aku berjanji takkan pernah sedih lagi, Hwamin…! Semoga kau senang di alam sana. Sekarang kau pasti sedang memandangku penuh senyum. I will always love you! Remember that…’

FIN

Advertisements

Comments on: "Story : ~Sad Love Story~" (5)

  1. Soo han ssi said:

    .wuaaa , saeng , ff mu berhasil membuat air mataque meleleh *lebay*
    .hhohho >o<

  2. anita erlinda said:

    So sad………

  3. sedih!Tp dongsaeng, kok adegan d dprnya ada yg mirip u y??
    but. . .sedh skl ni crt.
    crt horor pesananku mana?(pemaksaan, dilempar pki kulit duren)
    wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk~lebay+autis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: