Full of inspiration and story

“Siapa nama elf itu? Mungkin kita bisa membantumu menyarinya…” kata Jamet dengan lembut. “Terima kasih… Namanya Sophia Hereny.” jawabnya hingga membuatku, Jamet, dan Yeremy membulatkan mulut kita. “Sophia Hereny…???!!!” teriak kita bertiga. Ia hanya mengangguk kecil. “Kenapa? Apakah kalian mengenalnya…?” tanyanya kebingungan.

“SOPHIA…!!!” teriak Jamet dan Yeremy bersamaan seraya menunjukku. “Kenapa kau tak pernah bilang kepada kami kalau kau pernah berpacaran dengan manusia…?” tanya Jamet kesal. “Bukannya kau sangat membenci manusia…?” lanjut Yeremy. Aku hanya diam tak menjawab mereka. Namun, pikiranku melayang-layang mencerna kata-kata manusia itu. Aku…? Dicintai oleh manusia…? Setahuku, bahkan aku tak pernah dekat dengan manusia setelah kejadian itu.

Aha, aku memang tak pernah dekat dengan manusia sejak kejadian itu, tapi sebelum kejadian itu? Yah, aku ingat. Aku pernah dekat dengan seorang manusia. Bisa dibilang sangat dekat malah. Namanya adalah Welly Jonnathan. Dia adalah murni manusia biasa. Kita adalah sahabat dulu. Dimana ada aku, pasti ada dia… Dan, dimana ada dia, pasti ada aku…

Namun, karena peristiwa kebocoran rahasia elf yang disebabkan oleh manusia yang adalah sahabat pemimpin para elf itu sendiri, semua elf dilarang berteman dengan manusia. Padahal, perasaanku kepadanya sudah berubah menjadi rasa sayang seorang wanita pada pria, bukan rasa sayang sepasang sahabat lagi. Dengan terpaksa, aku memutuskan persahabatanku dengannya dan menguburkan dalam-dalam perasaanku.

Aku masih sangat ingat jelas saat itu. Dengan daun-daun yang berguguran, angin yang berhembus keras, dan dingin yang mulai merambat masuk ke pori-pori, aku mengajaknya untuk bertemu. Aku yang memakai pakaian elf-ku dengan tebal, menunggu sekitar 30 menit sebelum ia datang. Entah mengapa, aku ingin datang lebih awal. Air mata mulai merambat keluar dari pelupuk mataku, namun aku menahannya untuk keluar.

Tak lama, ia datang dengan pakaian manusianya. Mata biru safirnya yang indah menatapku dalam penuh kegembiraan. Rambut coklat keritingnya bersinar terkena sinar matahari. Ia perlahan mendekatiku yang sedang duduk di sebuah dahan pohon. Ia duduk di sebelahku. Ia memandangku dengan mendongak keatas. Tinggi kita memang berbeda 1 meter lebih.

“Sophia…” panggilnya tepat saat aku memanggil namanya. “Kau dulu saja…” kataku mempersilahkan dia bicara duluan. Karena aku yakin, setelah aku mengatakan ini, ia tidak akan bisa berbicara kepadaku lagi. “Kau saja, Phia…” katanya dengan senyuman manisnya. Aku pun menghela nafas dalam-dalam. Air mata masih berusaha turun dari mataku, namun aku masih menahannya dengan sekuat tenaga.

“Lebih baik kita tidak usah bersahabat lagi, Welly…” kataku pelan namun tegas. “Tapi kenapa, Phia…?” tanyanya dengan guratan keterkejutan yang sangat terlihat. Hatiku semakin sakit melihatnya. “Kau tau kan, ayahku tertipu oleh sahabat manusianya yang laknat itu? Sejak saat itu, aku dan para penduduk elf dilarang dekat dengan manusia lagi. Jadi, kumohon jangan pernah menampakan dirimu dihadapanku lagi…” jelasku seraya membuang muka dan pergi menjauh darinya.

Namun, tangan hangatnya memegang tanganku erat. “Please, Sophia… Ini tidak benar kan…? Kau tau kan kita sangat dekat…? Apa kau tidak mau berjuang bersamaku untuk memperoleh kembali keadilan…??!! Apakah kau hanya bisa pasrah begini…?” tanyanya yang membuatku tak bisa menahan air mataku lagi. Tapi, aku masih berusaha menutupi air mataku dari pandangannya. “IYA, Welly….! Selamat tinggal…” gumamku pelan seraya berlari sejauh mungkin.

“Jadi, kau anak Welly…?” tanyaku seraya menunjuk pemuda setengah manusia setengah hely itu. “Jadi, kau benar-benar Sophia Hereny…? Dan, kau mengenal ayahku…? Ya, Welly adalah nama ayahku…!” katanya dengan terkejut. Aku baru menyadarinya. Wajah Welly dan wajah pemuda itu memang sangat mirip. “Kalau begitu, ikut aku…!” teriaknya seraya menarikku, namun tak berhasil karena aku jauh lebih tinggi darinya.

“Tunggu…! Kalau Welly, maksudku ayahmu itu mencintaiku, kenapa dia bisa menikah dengan seorang hely…?” tanyaku kebingungan. Aku yakin Welly bukan tipe laki-laki yang bisa melepaskan orang yang dicintainya dengan mudah. “Setelah kejadian dimana kalian berpisah, ayahku menjadi sakit-sakitan. Di suatu taman, ayahku pingsan dan ditolong oleh hely yang adalah ibuku. Setelah merawatnya, ibuku jatuh cinta pada ayah. Karena hutang budi, terpaksa ayahku menyetujuinya dan menikahlah mereka berdua…” jelas pemuda itu dengan wajah murung.

Jamet dan Yeremy hanya bisa terdiam memandang kami dengan kebingungan. Setelah aku menceritakan semuanya kepada dua sahabatku ini, mereka pun mengerti dan menyuruhku menemui Welly. Aku  menyetujuinya dan kita -aku, Jamet, Yeremy, dan pemuda itu- pun pergi menemui Welly. Ternyata, pemuda itu bernama Hassey Jonathan. Ia adalah pemuda dengan karakteristik sama dengan Welly. Periang dan lucu.

Wajahnya juga sangat mirip dengan Welly, hanya bibirnya yang mungil yang nampaknya turunan ibunya. Perjalanan menuju rumah Welly cukup jauh, hingga harus menghabisi waktu 3 minggu baru bisa sampai disana. Hari ini tepat 7 hari atau seminggu, kami telah pergi menuju rumah Welly. Aku, Jamet, dan Yeremy semakin dekat dengan Hassey. Kita tidur bersama di suatu tenda besar ketika malam tiba. Kita tertawa bersama saat ada hujan. Kita bermain bersama dengan ceria.

Tak terasa waktu telah berlalu cukup lama, hari ini aku dan yang lain telah sampai di depan rumah Welly. Jamet menyuruhku dan Hassey masuk, sedangkan Jamet dan Yeremy menunggu diluar. Dengan perlahan, aku dan Hassey melangkah menuju pintu. Saat Hassey membuka pintunya, dapat kulihat samar-samar ruang tamu yang terdapat banyak foto-foto didindingnya. Namun, karena aku yang terlalu tinggi, aku hanya bisa menunduk tanpa bisa memandangi ruang-ruang di rumahnya.

Hassey membuka pintu kamar. Terlihat sosok seorang pria separuh baya sedang terbaring tak berdaya di kasur. Wajahnya yang memucat masih nampak sangat tampan, walaupun keriput mulai menjalari seluruh tubuhnya. Di sebelahnya, nampak seorang wanita berumur 20-an lebih dengan paras yang amat cantik dan sepasang sayap putih yang berada di punggungnya.

“Ini ibuku, Lana… Dan ini ayah.” kata Hassey memperkenalkan kedua orang tuanya. Aku baru sadar kalau hely itu juga abadi. Pantas jika ibunya hanya berbeda beberapa tahun dari Hassey sendiri. Aku tersenyum tipis pada ibu Hassey dan berjalan mendekati seorang sosok yang aku yakini adalah Welly, sahabat sekaligus pengisi ruang hatiku. Aku yang masih menunduk memutuskan untuk duduk di sebelah Welly. Hassey dan ibunya meninggalkan ruangan hingga hanya menyisakan kita berdua.

“Welly…” panggilku lembut. Setetes air mata sudah keluar membasahi pipiku. Ia tersenyum perih. “Sophia…” balasnya juga. Tangannya mulai merayapi wajahku. Ia membelai rambutku lembut. “A-aku sangat mencintaimu, Phia-ku sayang… Saat hari itu, sebenarnya aku mau mengatakan hal ini, namun apa daya, ternyata takdir berkata lain…” lanjutnya dengan lirih.

Aku langsung memeluknya dengan erat. “Aku juga sebenarnya sangat mencintaimu, Welly…” jawabku dengan pelan. “Aku senang mendengarnya…” bisiknya tepat di telinga panjangku. Setelah itu, pegangan tangannya terlepas. “Tidak… Tidak… Ini tidak mungkin. TIDAK…!!!!!” teriakku seraya menangis sekeras-kerasnya. Hassey dan Lana, ibu Hassey langsung datang menghampiriku.

Mereka terkejut saat melihat mata Welly sudah tertutup. Lana langsung menangis histeris, namun Hassey berbeda. Ia hanya terdiam memandangi jasad ayahnya. Beberapa lama kemudian, ia berlari keluar rumah entah kemana. Tanpa basa-basi, aku langsung mengikutinya. Tak kuhiraukan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Jamet dan Yeremy. Hassey pasti sangat sedih sekarang.

Aku mencarinya yang sudah pergi jauh. Ternyata, darah hely-nya mengalir lancar kedarahnya. Sudah beberapa lama mencari, akhirnya aku menemukannya. Ia berada di bawah pohon. Ia duduk di sebuah batu dan di sebelahnya terdapat danau yang sangat jernih. Matanya memandang kearah danau itu. Seakan mencari ketenangan. Dengan perlahan, aku mendekatinya. Aku langsung duduk di sebelahnya. Persis seperti kejadian waktu aku dan Welly berpisah. Apalagi sosok mereka berdua sangat persis.

“Sabar ya, Hass… Tak ada yang abadi di dunia ini.” kataku menghibur. “Banyak yang tidak abadi di dunia ini…!!! Termasuk kau, para elf, hely, dan aku…! Tapi, kenapa ayahku hanya ditakdirkan menjadi manusia biasa…??!!” teriaknya seraya mengeluarkan air mata. Yah, dia menangis. Aku langsung memeluknya dengan erat. Tanganku menepuk bahunya pelan. Membiarkannya menangis dalam pelukanku.

“SOPHIA HERENY, MENJAUH DARINYA…!!!!!!!!!!!!!”

Aku dan Hassey yang kaget langsung menengok ke sumber suara. Dan…

TBC~





Advertisements

Comments on: "Story : ~Forbidden Love~ (Part 1)" (1)

  1. anita erlinda said:

    I like this story…… Full of imagination…Good luck….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: