Full of inspiration and story

Chapter Four ~A Tiring Journey~

Aku membuka mata dengan pelan. Kulihat kak Jer sedang tertidur. Aku pun menyelimutinya seraya tersenyum kecil. Kulirik jam tanganku, jam 08.00 pagi. Truk yang kami tumpangi selama dua hari ini memang cocok dengan arah kemana kelompok Red Eyes itu pergi. Sudah 2 hari kami disini. Kelaparan dan kehausan membuat kami sengsara.

Bukannya tak punya uang atau apa, hanya selama 2 hari ini truk yang kami tumpangi belum berhenti. Mungkin pengemudinya punya persediaan makanan di dalam mobil. Tapi, kami? Tidak mungkin kan kami yang menyuruh pengemudi itu untuk menunggu kami membeli makanan? Yah, jadi terpaksa kami menahan segala kesengsaraan ini.

“Sudah bangun, Hachie?” tanya kak Jeremy dengan senyum ramahnya, walaupun sebenarnya aku tau ia sangat menderita sekarang. Aku pun mengangguk pelan. Wajahnya yang memucat melirikku penuh arti, seakan ragu-ragu ingin menanyakan sesuatu padaku. Aku pun tersenyum mencairkan suasana. “Bolehkah aku tanya sesuatu?” tanyanya persis seperti yang aku pikirkan. “Tentu saja, kak Jer… Ada apa?” tanyaku dengan ramah.

“Apa sebenarnya tujuanmu untuk mencari saudara kembarmu?” tanyanya seperti menyuruhku untuk berhenti menyarinya. “Tentu saja mau membawanya pulang…” jawabku berusaha sabar. “Jika sudah dibawa pulang, apa yang mau kau lakukan terhadapnya…?” tanya kak Jeremy lagi. Aku pun naik darah. “Aku akan menjadikannya keluargaku… Memang apa urusannya denganmu…?!” tanyaku sedikit berteriak.

“Hei, aku kan cuma bertanya…! Apa begini seharusnya kelakuanmu? Aku kan mengikutimu selama ini mencarinya… Apakah itu bukan urusanku…!!!???” teriaknya mulai naik pitam. Aku merasa aliran darahku berubah cepat sekarang. “Siapa yang menyuruhmu mengikutiku…??!!” teriakku tanpa basa-basi lagi. “Aku selalu membantumu…!!! Aku membantumu mencari kembaranmu dengan mobilku, uangku, dan orangku…! Bahkan, tanpa otakku, mungkin kau belum melihat kembaranmu itu…!!! Apakah begini balasanmu…!” teriaknya yang sama kesalnya denganku.

“Yasudah, terima kasih mau membantuku…!!! Sekarang pergilah…! Aku tak mau melihatmu lagi…” teriakku mengusirnya. Nampak segurat tampang tak percaya dari sorot wajahnya. Yah, aku sendiri juga tak percaya bahwa aku telah mengusirnya… “Ok…! Aku akan pergi… Tapi, ingat! Bukannya aku meninggalkanmu sendiri, tapi kau yang mengusirku…! Selamat tinggal dan semoga berhasil…!!!” teriaknya seraya turun dari truk dalam keadaan masih berjalan.

Aku hanya melihatnya berjalan memunggungiku. Entah kenapa, rasa penyesalan muncul tiba-tiba. “Apa yang kulakukan…? Aku baru mengusir kak Jeremy…? Apakah aku gila?” gumamku sendiri seraya mengetuk-ngetuk otakku. Aku ingin memanggilnya lagi, namun keegoisanku menahanku. Sudahlah, apa boleh buat? Ia sudah pergi… Mungkin, ini lebih baik.

3 hari kemudian, masih aku lewati dengan sendiri. Hingga GPS kepunyaan kak Jeremy menandakan arah yang berbeda dengan truk yang aku tumpangi. Aku pun meloncat dan kemudian berjalan kearah yang berbeda dari truk itu. Ah, sungguh bodohnya aku…! Bahkan, kak Jeremy meninggalkan GPS-nya, uangnya, dan alat-alatnya untukku. Ia sangat baik, tapi apa yang baru saja kulakukan? Aku malah mengusir dan meneriakinya. Huh~

Aku berjalan cukup lama. Hingga akhirnya, aku menemukan mobil kak Jeremy sedang terparkir. Pasti para kelompok Red Eyes sedang berada di gedung itu. Dengan mengendap-endap, aku berjalan mendekati gedung itu dan memasukinya secara perlahan. Hingga aku mendengar suara dari sebuah ruangan. Isinya kelompok Red Eyes yang sedang merampok ria di gedung mewah ini.

Pak… Pak… Pak…

Suara langkah mengagetkanku. Aku langsung bersembunyi di balik pot. Ternyata, 2 anggota Red Eyes sedang menuju kearahku. Memang nampaknya walaupun aku bersembunyi dibalik pot, aku pasti tetap terlihat. Mungkin karena tubuhku yang cukup jangkung. Mereka menyeretku ke ruangan itu dan melemparku begitu saja ke lantai.

“Anak ini lagi…” kata seseorang dengan tampang galaknya. “Bawa dia ke mobil…! Biar kita bunuh dia di markas.” perintah seseorang bertubuh pendek gemuk yang nampaknya adalah pemimpinnya. Yang lain mengangguk patuh dan kemudian seseorang dari mereka menggendongku kasar dan membawaku ke mobil -yang dulu adalah mobil kak Jeremy- seraya pergi menjauh dari gedung itu. Mereka menaruhku kasar ke garasi mobil dan menutupnya. Aku kehabisan nafas sekarang. Sial! Bagaimana caranya aku menyelamatkan diri…? Oh Tuhan, bantulah aku…!

Krek… Krek… Krek…

Suara aneh mengagetkanku. Tiba-tiba, aku merasakan bagasi itu terbuka dalam keadaan mobil yang masih berjalan dan aku langsung ditarik keluar. Aku didudukan ke boncengan motor dan sekarang aku bisa melihat dengan jelas, bahwa ternyata bagasi mobil itu sudah dibolongi sempurna. Aku tak bisa melihat pengemudi motor yang menyelamatkanku karena ia memakai helm yang tebal.

Yang aku tau, ia hanya mengemudikan motornya dengan kencang. Sangat kencang. Motornya meliuk-liuk menghindari kendaraan lain yang lewat. Seperti adegan di film action. Hingga akhirnya, motor itu berhenti di suatu jalan sepi. Aku turun dan ia pun membuka helm-nya.

“Kak Jeremy…?” panggilku tak percaya seraya memeluknya dengan sangat erat. Ia tak membalas pelukanku, namun tangannya menjitak kepalaku cukup keras. “Dasar anak aneh…! Tadi mengusirku, sekarang memelukku…! Pergi sana…!!!” teriaknya seraya memanyunkan bibirnya dan memunggungiku -yang aku yakin hanya bercanda-. Aku pun memegang tangannya agar berbalik kepadaku.

“Maafkan aku, kak Jeremy… Aku benar-benar minta maaf. Aku kelewat emosi saat itu. Maaf…! Aku baru sadar, aku tak bisa melakukan ini sendirian. Maafkan aku, ya?” pintaku kepadanya. Ia pun tersenyum dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Aku sudah memaafkanmu kok… Pasti emosimu memuncak karena kau kelaparan kan? Ayo makan…! Setelah makan, baru kita cari lagi kembaranmu…” jawabnya seraya menarik tanganku.

Yah, aku memang takkan bisa melakukan ini sendiri. Thanks so much, kak Jeremy… Without you, i can’t do anything. Aku memandang sosoknya saat kita sedang makan di sebuah restoran. Wajahnya yang manis dan tampan sedang memakan makanan dihadapannya dengan ganas. Entah kenapa, aku tidak merasa lapar lagi. Aku hanya tersenyum memandanginya. “Makanlah… Jangan memandangiku terus.” kata kak Jeremy dibalas anggukan kecilku.

Setelah makan, kita memutuskan untuk istirahat di motel. Motel ini sederhana, namun memberikan kenyamanan untuk kita beristirahat. Aku merebahkan tubuhku ke kasur. Kak Jeremy melakukan hal yang sama denganku. “Sebenarnya, ini dimana sih kak?” tanyaku bingung. “Kata orang tadi, kita sudah berada di wilayah Emilia-Romagna.

Kemungkinan besar, kelompok Red Eyes akan pergi ke Bologna, ibu kota provinsi Emilia-Romagna.” jelasnya. “Kalau begitu, ayo kita tidur dan setelah bangun, kita akan pergi ke Bologna…!” teriakku bersemangat. Entah mengapa, aku lebih bersemangat sekarang. Mungkin karena kak Jeremy. Aku langsung menutup mataku. Esoknya, aku dan kak Jeremy pergi menaikki motor balap kak Jer yang baru saja dibelinya kemarin.

BOLOGNA, I’M COMING…!!!!!!

End Of Chapter Four~

Advertisements

Comments on: "Story : ~Find My Twin In Italy~ (Part Four)" (2)

  1. ouw~part 5 gmn? bkln jd part terakhir ndk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: