Full of inspiration and story

Story : ~Her Diary…!~

Seorang lelaki berumur 27 tahun yang ada di rumahnya sedang mendengus kesal seraya melihat jamnya. Sesekali ia mengecek handphone-nya untuk melihat apakah ada pesan singkat yang masuk. Beberapa kali terdengar suara ungkapan kesal yang keluar dari mulutnya. Hingga, tiba-tiba handphone-nya berbunyi dan ia pun bergegas mengangkatnya. Setelah mendengar suara dari seberang, handphone-nya terjatuh dan hancur berantakan menabrak tanah.

Tangannya menutup mulutnya yang terbuka bulat dan air mata mulai jatuh dari mata sipitnya. Dengan gegabah, ia berlari menghampiri mobilnya dan membukanya dengan tangan gemetaran. Namun, karena tangannya yang terlalu gemetaran, ia tak bisa membuka mobilnya dan ia pun memutuskan untuk tidak menghabiskan waktu dan mulai berlari. Peluh yang membasahi tubuh jangkungnya tidak ia pedulikan. Ia tetap berlari dan berlari. Yang ada di pikirannya hanya satu. Istrinya…

Beberapa kali ia hampir tertabrak kendaraan yang lewat dengan ganas. Namun, tanpa melakukan apapun, ia kembali berlari. Air mata yang turun dari matanya bersatu dengan peluh yang keluar dengan derasnya. Hingga ia akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah sakit. Ia menerobos orang yang lewat dan menanyakan sesuatu kepada suster.

Setelah menanyakannya, ia langsung berlari ke ruangan. Ruangan ini didominasi oleh warna putih pucat, namun ia hanya memandang seseorang yang berada di atas tempat tidur. Ia berjalan secara perlahan-lahan menuju sebelah kasur. Kakinya sangat susah digerakkan, seakan ada baja yang diikat ke kakinya. Setelah sampai dengan sedikit menyeret kakinya, ia memegang tangan wanita yang sedang terbaring di kasur itu dengan erat.

Wanita yang dipandangnya ini sangat pucat dan tubuhnya penuh dengan alat rumah sakit yang tidak ia ketahui. Ia menangis. Mungkin bagi sebagian orang, lelaki sangat jarang menangis. Namun, ia -yang biasanya memang sangat jarang mengeluarkan air mata- menangis sesenggukan sekarang. Ia berteriak pelan memanggil nama wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, seperti yang diketahuinya, wanita itu hanya diam dan tetap menutup matanya.

“Anda suaminya? Ini tas istri anda, tuan…” kata seorang suster seraya memberikan tas yang dikenalnya dan pergi. Ia perlahan menerima tas itu dengan hati perih. Awalnya, ia memang tidak berniat membukanya, namun rasa penasaran mendorongnya. Ia pun mulai membuka isi tas istrinya itu. Handphone, sisir, beberapa proposal, head-set, dan…sebuah diary? Ia memandang diary yang berwarna merah muda itu dengan erat.

Dengan rasa penasaran yang lebih besar, ia mulai membuka lembar diary itu. Pertama memang hanya halaman kosong dengan nama “Herny Rosia” di tengahnya. Tak salah lagi, ini diary istriku, batinnya dalam hati. Ia membuka lembar kedua. Lagi-lagi hanya bertuliskan note kecil.

Diary ini diberikan oleh sahabat tercintaku, Luna, untuk memperingati kelulusan SMP-ku… Thanks ya, Lun…! Aku akan berusaha menulis tiap hari di diary ini… ^^

Aku tersenyum membacanya. Luna. Aku kenal wanita itu. Hingga sekarang, Herny dan Luna masih bersahabat baik. Luna sudah menikah dan mempunyai sepasang anak kembar yang sangat lucu. Aku pun membuka halaman ke-3. Sekarang, diary-nya sudah mulai ditulis. Aku pun membacanya dengan seksama.

Senin, 7 Juli 2000

Dear Diary,

Ini pertama kali aku nulis diary lho… Sekali lagi thanks ya Lun…! Hari ini hari pertamaku masuk SMA. Rada takut sih, apalagi siksaan senior-senior selama masa orientasi siswa. Tapi, rasa takut itu hilang pas aku ketemu seorang senior yang manis banget…! Senior itu juga baiiiikk banget. Saat aku disiksa senior-senior lain, ia langsung melindungi dan membelaku. Rasanya, jantungku langsung berdetak kencang. Apa aku mulai jatuh cinta ya sama ‘pangeran’ itu?? Tidak taulah, tapi yang pasti ini pertama kali aku merasakan ini…!!!

Ia meneguk ludah perlahan saat membacanya. Ia mengingat-ingat kejadian saat mereka pertama kali bertemu, dalam perasaannya, ia dan Herny bertemu ketika mereka kuliah deh. ‘Jadi, ‘pangeran’ yang disebut Herny itu bukan aku dong? Sudahlah, mungkin hanya cinta sesaatnya saja. Kan itu wajar bagi seorang remaja…’ batinnya berusaha berpikir positif. Ia pun meneruskan membaca diary itu.

Beberapa halaman menuliskan hal yang sama. Ia merasakan sepercik kecemburuan di dadanya. Namun, ia mengurungkan perasaan cemburu itu dalam-dalam. Sebelum ia membaca bagian diary yang ini.

Jumat, 28 September 2000

Dear Diary,

Hari ini adalah hari terbaik bagiku…! Tau kenapa, diary? Yah, aku sudah pacaran dengan ‘pangeran’ itu…!!! Ternyata, dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Ia menyatakan cintanya padaku di depan semua siswa… Dengan sebuah bunga mawar harum, ia berlutut dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku sangat gugup saat itu, namun aku menjawab ‘ya’ dan ia pun tersenyum sangat manis seraya memelukku. Huaa~~~ Akhirnya, semua mimpiku menjadi kenyataan… Terima kasih, Tuhan…! Sudah dulu ya diary, malam ini aku sudah punya janji makan malam dengan ‘pangeran’ku itu. Opps, aku salah, maksudku pacarku itu.

Ia mulai merasakan kecemburuan luar biasa. Diary yang digenggamnya terjatuh ke lantai. Namun, ia tetap mengontrol perasaannya dan mengatakan dalam hati bahwa lumrah untuk berpacaran dengan orang lain saat masa-masa SMA seperti itu. Ia pun kembali mengambil diary itu. Namun, ada sesuatu yang menempel di diary. Setelah memandangnya dengan seksama, ternyata sebuah bunga mawar yang sudah sangat usang tertempel di halaman belakang diary itu. Tunggu…! Jadi Herny masih menyimpan bunga mawar pemberian mantan pacarnya itu?

Ia kembali membuka halaman demi halaman. Di diary itu terceritakan bagaimana kemesraan mereka. Bahkan, pacarnya saat itu, memberikan sebuah cincin putih yang sangat indah, yang ia tau masih dipakai istrinya hingga sekarang. Namun, istrinya mengatakan bahwa cincin yang selama ini dipakainya itu dihadiahkan oleh ayah Herny sendiri. Perasaannya makin hancur saat ia membaca diary ini.

Rabu, 28 September 2003

Dear Diary,

Hari ini mestinya adalah hari terbaik bagiku. Hari ini kan hari kelulusan SMA-ku dan sekaligus hari jadi pacaranku dengannya yang ke-3. Bahkan, setelah kelulusan, pacarku itu mengajakku ke restoran mewah. Dia menyanyikan lagu romantis untukku dan memberikan kalung putih sebagai tanda pelamarannya padaku… Yah, ia melamarku untuk menjadi istrinya…! Sungguh indah, bukan? Namun, hari indah itu berakhir saat ayah dan ibuku mengatakan bahwa aku akan dijodohkan dan dinikahkan dengan relasi kerja ayah…!!! Hatiku hancur rasanya. Padahal aku sudah menerima lamaran itu. Bagaimana ini??

Air matanya jatuh kembali membasahi pipi. Dijodohkan? Memang pernikahannya dan Herny dijodohkan dan semuanya sudah diatur oleh ayahnya. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa Herny sangat menolak keputusan ini. Memang dijodohkan, namun perasaannya terhadap Herny benar-benar cinta yang tulus. Ia juga tau, Herny tidak mencintainya. Namun, ia tidak mengetahui bahwa Herny semenderita ini.

Ia kembali membaca diary Herny.

Sabtu, 21 Desember 2007

Dear Diary,

Hiks… Hiks… Hiks…
Diary, bagaimana ini? Hari ini aku memakai gaun putih panjang yang sangat indah dan riasan yang membuatku nampak sangat cantik. Namun, aku berharap hari yang seharusnya menjadi hari terindah ini kuhabiskan bersama ‘pangeran’ ku itu. Tapi, semuanya terlambat sekarang. Aku akan dinikahkan dengan seseorang pria seumuranku yang bernama ‘Vio Terrian’. Memang ia adalah pria yang baik dan wajahnya juga diatas rata-rata. Namun, aku tak mencintainya…! Yang aku cintai hanya ‘pangeran’ ku. Saat menceritakannya kepada pangeranku, bukannya menyuruhku kabur dan kawin lari, pangeranku itu malah memelukku dan menyuruhku membahagiakan orang tuaku dengan menyetujui perjodohan itu. Huhhh~~~

Parahnya lagi, pangeranku itu datang di pernikahanku. Ia menyalamiku dan Vio yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku dengan senyuman manis yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku. Apakah kisah cintaku akan berakhir seperti ini? Apakah aku tidak ditakdirkan olehnya?

Ia mempertambah tangisannya saat membaca diary tersebut. Kenapa Herny tak pernah bilang sebegini menderitanya ia saat menikah dengannya? Walaupun, ia sangat mencintai Herny, namun ia lebih suka melihat Herny tersenyum bahagia dengan menjadi milik orang lain. Ia memandang wajah Herny dengan pandangan kasih sayang. Wanita ini masih diam, tak membuka matanya. Ia tetap koma.

Ia pun meneruskan membaca diary-nya. Namun, kali ini ia membaca diary terakhir yang ditulis Herny. Diary yang ditulis Herny tepat sehari yang lalu.

27 Desember 2010

Dear Diary,

Kisahku dengannya masih sama. Aku dan Vio sekarang memang lebih dekat. Kadang-kadang aku tersentuh dengan kebaikannya padaku. Kadang-kadang aku merasa aku adalah wanita terjahat di dunia. Vio selalu mencintaiku sepenuh hati dan memberikan segalanya untukku. Ia tetap menerimaku, walaupun ia tau aku tidak mencintainya. Ia tetap berlaku sebagai seorang suami untukku. Ia merawatku ketika aku sakit. Ia tetap menjaga komitmenku untuk tak melakukan ‘hal’ yang biasanya dilakukan oleh sepasang suami-istri. Namun, aku masih belum bisa mencintainya. Karena ‘pangeran’ ku itu masih kucintai dengan sangat-sangat.

Besok adalah hari jadianku dengan ‘pangeran’ ku itu. Yah, ia tetap pangeran bagiku. Memang setelah aku menikah, aku tidak pernah mengetahui lagi bagaimana kehidupan pangeranku. Namun, hari ini sebuah berita mengejutkanku. Tau kenapa? Selama aku menikah, pangeranku itu berjuang melawan kematian. Ia terkena kanker darah, itulah juga alasannya ia tak mengajakku kawin lari dan malah menyuruhku untuk menikah.

Hatiku sakit rasanya, diary… Besok, di hari tepat hari jadianku dengannya, aku akan menjenguknya ke rumah sakit. Semoga dengan kedatanganku, ia akan senang dan kembali mempunyai semangat hidup. Dari dulu bahkan hingga sekarang, aku mempunyai impian yang sama, yaitu bisa menikah dengannya dan bertemu dengannya. Setidaknya, bisa melihat pangeranku sekali saja. Apakah impian sederhana ini bisa terwujud, Tuhan…?

Ia terkejut saat membacanya. Jadi, pagi ini Herny pergi untuk menemui pangerannya! Padahal, Herny mengatakan ia akan pergi membeli kebutuhan bayi bersama Luna. Lelaki yang bernama Vio ini kembali menangis. Dan, Herny terjerat kecelakaan saat mau menjenguk pangerannya itu? Impiannya adalah menjadi istri pangerannya itu?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Vio perlahan mengetuk pintu. “Masuk.” kata suara dari balik pintu. Ia pun masuk dan dapat melihat sosok pria yang sedang terbaring di kasur rumah sakit. Kepalanya yang dipakaikan topi, sudah hampir botak karena kanker yang menggerogotinya. Namun, wajahnya tetap manis dan tampan. Pantas saja Herny menyukainya. “Maaf, tapi siapa anda?” tanya pria itu dengan lemah.

“Oh ya, maaf, aku lupa memperkenalkan diri… Namaku Vio. Kita pernah bertemu di hari pernikahanku kan?” kata Vio seraya duduk di sebelahnya. Pria itu terkejut. Namun, ia dapat mengendalikannya segera. “Ya, aku ingat.” jawabnya dengan pelan. “Lalu, kenapa kau datang kesini?” lanjutnya lagi. “Kau tau Herny kan? Dia sedang koma sekarang…” kata Vio dengan berat. Ya, memang berat untuk mengatakan ini kepada rivalnya dalam cinta.

Pria itu terlonjak dan membulatkan matanya. “La-lalu, apa hubungannya denganku?” tanyanya dengan gugup. “Aku sudah tau semuanya… Aku sudah tau jika kau dan Herny berpacaran. Dan, asal kau tau, Herny masih mencintaimu hingga sekarang. Tadinya, ia ingin menjengukmu, namun ia mengalami kecelakaan dan akhirnya koma. Aku ingin kau melihatnya.” kata Vio dengan perih. Semua kata-katanya terasa sangat perih.

“Ia masih mempunyai impian yang belum terwujud. Dan impiannya itu adalah menjadi istrimu dan bisa bertemu denganmu… Aku akan mewujudkan impiannya itu.” lanjutnya dengan air mata yang mulai keluar. “Tapi, bagaimana denganmu? Apakah kau tidak mencintainya?” tanya pria itu dengan penasaran. “Tentu saja aku sangat mencintainya. Namun, aku lebih suka melihatnya bahagia. Dan aku sadar, kebahagiaan Herny hanya padamu…” jawab Vio dengan tegar, namun hatinya bagai digiling dengan traktor.

“Kau lebih baik untuk Herny, Vio… Kau lebih mencintai Herny daripada aku. Kau lebih pantas untuknya.” kata pria itu dengan wajah pucatnya. “Tapi, Herny tidak berpikir seperti itu…!!! Herny hanya mencintaimu…! Herny tidak pernah mencintaiku…!” teriaknya dengan amarah yang memuncak. “Datanglah… Aku akan menceraikan Herny, setelah itu menikahlah dengannya…” lanjutnya seraya menangis dan mulai pergi dari ruang itu.

Vio hanya bisa menangis. Menangisi semua yang terjadi padanya. Ia sudah bertekad, ia akan menyerahkan Herny untuk pria itu. Ia sudah menceraikan Herny dan juga memesan penerbangan ke luar negeri. Dia akan pergi dari kehidupan Herny sekarang. Ia lihat Herny dan pria itu sudah menikah. Yah, Herny sudah sadar dan sekarang hidup bahagia dengan pria itu.

Biarkan aku terluka…

Biarkan aku tersiksa…

Biarkan aku yang memendam ini sendirian…

Yang penting kau bahagia…

Yang penting kau senang…

Yang penting kau bisa tersenyum ceria…

-Vio, orang yang pernah mencintai Herny dan akan mencintai Herny selamanya-

THE END


Advertisements

Comments on: "Story : ~Her Diary…!~" (6)

  1. sedih!!!
    crt melonya menyenth bgt.
    tp. . . pesenen crt horrorku mana?
    dan ini crt bnr2 krn. i like it (gaya rianti di imb)
    terusin y. . .
    wish u all the best

  2. huweeee crtanya sdih bgt..ckkkk
    nice ff
    knp jdi sad end yah… T___T

  3. Haddoh, saeng ketinggalan >,<
    nice ff ^^
    que suka sad ending hhehhe 😀
    aiio share more *maksa* ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: