Full of inspiration and story

Sebelum masuk ke cerita, biar aku kasih dulu karakter pemain utama…

HYUNNI HEMS

Seorang wanita yang manis dan imut ini memang adalah gadis yang sedikit kekanak-kanakan. Orang tuanya sudah meninggal akibat pembunuhan yang dilakukan oleh Mr.X, namun Hyunni hanya tau bahwa orang tuanya tewas akibat kebakaran di kantor tempat orang tua mereka bekerja. Ia juga mudah marah dan ngambek, namun di dalam hatinya, terkandung semangat dan kekuatan pantang menyerah yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya.

STEPHEN BERTRAND

Anak lelaki yang tergabung dalam Hunting X ini adalah anggota termuda di kelompoknya. Ia adalah lelaki yang dewasa walaupun bertampang innocent dan manis. Orang tuanya dibunuh Mr.X dan sejak saat itu pun ia hidup sebatang kara. Ia sendiri mempunyai dua mimpi yang sudah hampir terwujudkan sekarang, yaitu menjadi aktor terkenal dan bisa membalaskan dendamnya kepada Mr.X.

EDWARD DIEW

Pria yang adalah anak pemilik salah satu hotel international yang sangat terkenal di seluruh dunia ini adalah anak yang periang dan easy-going. Walaupun, orang tuanya sangat sibuk dan kadang membuat Edward kesal, ia tetap ceria karena mempunyai adik perempuan kesayangannya yang bernama Jennah Diew. Setelah kematian adiknya, ia pun geram dan membentuk kelompok Hunting X dengan alasan ingin membalas dendam.

Yang lainnya menyusul di part lain ya…

 Part 2 -> *Prepare For The Attack*

 “Itu hanya bagian dari rekayasa yang diciptakan Mr. X. Tapi, sebenarnya orang tuamu itu dibunuh oleh Mr. X…” lanjut kak Roger. “Bagaimana mungkin…?” tanyaku dengan air mata yang mulai keluar. “Ya, inilah pekerjaan kami…” jawab kak James. “Terus apa hubunganku dengan semua ini…? Kenapa kalian menceritakannya kepadaku?” tanyaku bingung. “Karena kematian Kyran, kau harus menggantikannya…” jawab kak Billy tegas.

“Apa kau bercanda? Aku kan hanya pelajar wanita yang tidak bisa apa-apa…” kataku dengan kekehan. “Kita tau itu… Tapi, tetap saja kita membutuhkanmu. Semua teknologi kita dibuat berdasarkan genetik… Setelah Kyran meninggal, hanya genetikmu yang cocok…!” jelas kak Edward disambut anggukan dari yang lainnya. “Tapi, tetap saja…” gumamku terpotong. “Sudahlah, ini kan demi menemukan Mr.X. Kau mau kan membalaskan dendam padanya…?” kata kak James dengan cepat dan tegas.

Aku pun mengangguk pasrah. “Bagus, setelah ini bersiaplah… Kita akan melatihmu dalam berkelahi.” perintah Billy tegas. Aku langsung bersiap-siap dan pergi ke kebun di belakang rumah. “Hyunni…! Ini senjatamu.” kata kak Roger seraya melemparkan sebuah tas hitam. Aku pun menangkapnya dan membuka isinya. “Hyaaa…!!! Apa ini? Granat? Pistol? Bom?” gumamku seraya melihat isinya satu persatu.

“Ya, itu kebutuhanmu selama menjadi kelompok Hunting X. Ayo kami ajarkan bagaimana memakai semuanya…” jawab Stephen seraya tersenyum manis. Aku pun mengangguk dan mengikuti mereka. “Ambil pistolmu…” perintah kak Edward. Aku pun mengangguk dan mulai mengambil pistol. Setelah itu, mereka dengan sabar mengajarkanku hingga sore hari.

“Coba tembak burung yang sedang terbang itu…!” teriak kak James. Aku langsung membidik dan…dorrr…!!! “Aku berhasil…!!!” kataku seraya meloncat girang. Burung yang aku tembak, terjatuh sempurna mengenai tanah. “Good job, little lady…!!!” puji kak Billy seraya mengacak rambutku. “Berantakan tau, kak Bill…!” gumamku seraya merapikan rambut. “Ternyata, darah Kyran juga mengalir ke darahmu ya…” kata kak Billy seraya tersenyum.

“Iya dong, kak…!” teriakku senang seraya tiduran di rerumputan empuk seraya memandang langit sore yang amat indah. Yang lain pun mengikuti untuk tiduran di sebelahku. ‘Kak Kyran, aku akan menggantikanmu untuk membalaskan dendam orang tua kita…!!! Aku berjanji…!’ batinku seraya tersenyum memandang langit yang didominasi warna oranye itu.

Tak sadar, sebulan telah berlalu sejak hari itu. Dari pagi hingga siang, aku dan yang lain tetap pergi ke sekolah yang sama seperti biasa. Hanya setelah itu, aku dan yang lain kembali ke rumah yang dulu dan berlatih sebaik mungkin. Kita juga berkumpul, makan, dan bersenandung bersama di rumah itu. Kematian Kak Kyran jadi tidak terlalu membekas di hatiku karena sekarang aku mempunyai kakak-kakak yang perhatian padaku.

Kak Edward adalah orang yang sangat peduli dan sayang padaku. Peringainya yang ceria dan selalu membantukku juga membuatku nyaman. Bahkan, bisa dibilang ia sudah seperti ayahku sendiri. Mungkin karena ia adalah yang tertua di Hunting X. Kak Billy juga adalah orang yang baik dan periang. Ia suka sekali memasak makanan yang enak untuk kita. Ia seperti bayangan Kak Kyran bagiku, mungkin karena sifat mereka sama.

Kak Roger adalah orang yang sangat lucu dan pandai bergaul. Ia juga sangat cerdas dan jenius. Hampir semua alat-alat keperluan Hunting X dibuat olehnya. Aku dan Kak Roger sering mengobrol ria tentang pekerjaannya yang sebagai dokter termuda. Ia kembali sekolah karena dulu dari SMP, ia langsung kuliah kedokteran dan berhasil. Aku sendiri sangat terpukau dan mengidolakan Kak Roger.

Kak James berbeda dengan yang lain. Ia adalah orang yang diam dan penyendiri. Namun, ia tetap sangat sayang dan baik padaku. Karya-karyanya sangat bagus dan selalu terjual mahal ke pasaran. Kemarin bahkan, ia menggambar wajahku dan hasilnya luar biasa. Setitik noda saja ia gambar ke dalam lukisannya. Sungguh luar biasa dan menyenangkan hanya untuk melihatnya melukis.

Sedangkan, Stephen sendiri sudah seperti sahabat dan teman baikku. Ia adalah orang yang periang dan murah senyum. Walaupun, jadwalnya sebagai aktor sangat padat, ia tetap sering mengunjungi kita dan mengajarkanku berbagai hal. Bahkan, dari dulu aku sendiri termasuk penonton setia setiap film yang dibintanginya.

Pokoknya, aku sangat senang bisa mengenal mereka semua. Mereka memiliki sifat dan keistimewaan yang berbeda-beda, namun persahabatan mereka bagaikan baja yang tidak mudah dihancurkan. Aku sangat beruntung bisa mengenal mereka berlima. Yah, Hyunni Hems, kau benar-benar beruntung…!

“Hyunni…!” panggil kak Andrew, kak Billy, kak Roger, kak James, dan Stephen. Aku pun menengok dan memandang mereka yang berantakan dengan seragam yang kusut dan tidak rapi. Ini memang masih di sekolah. “Informan kita mengatakan bahwa ia melihat Mr.X di sekitar tempat ini… Ayo pergi…!!!” kata kak Andrew dengan ngos-ngosan. “Sekarang…? Kan masih istirahat, kak… Abis istirahat kan masih masuk kelas.” jawabku kaget.

“Biarin… Kita terpaksa bolos. Ayo pergi…! Kita udah ambil tasmu.” kata kak Billy seraya menarik tanganku. Aku pun langsung mengikuti mereka dan berlari ke mobil hitam yang sudah diparkir. Kita yang memang memakai kaos dobel untuk jaga-jaga, melepas baju seragam kita dan sekarang memakai baju serba hitam seperti agen-agen yang ada di tv.

Kita mengambil pistol dari dalam mobil dan mengisi peluru dengan cepat, akibat pelatihan waktu itu. Setelah menunggu cukup lama, mobil pun berhenti di sebuah gedung besar. Gedung itu merupakan gedung yang megah dan mewah. Dengan pakaian hitam ketat dan pistol di tangan, aku pun berjalan mengikuti kelima lelaki di depanku. Apakah benar ada Mr.X disini? Kalau ada apa yang harus kulakukan?

Aku pun mulai masuk ke gedung itu. Kita berenam memisah dan aku pun jalan sendirian. Gelap. Hanya kata itu yang bisa kugambarkan dari suasana gedung kosong ini. Aku menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari seseorang. Jantungku berdegup sangat kencang sekarang. Hingga aku tak bisa mendengar langkahku sendiri. Ini memang misi pertamaku, dan sekarang aku sendiri disini dengan hanya sebuah pistol?

DORRRRRRR….!!!!

Suara tembakan membuatku kaget. Aku pun mempererat pegangan pistolku. “Awassss….!!!” teriak Stephen seraya menembak musuh yang ingin menembaku. “Terima kasih…”  kataku dengan pelan. “Sudah seharusnya.” jawabnya seraya mulai memencar ke berbagai arah. Aku pun ikut memencar ke suatu tempat. Suara hentakan kaki membuat langkahku terhenti. Suara itu berasal dari sebuah ruang gelap. Aku pun mengikuti suara itu.

Begitu sampai di ruang itu, sebuah tali mengikatku dan aku pun terjatuh. Lampu menyala dan aku pun mencari siapa yang dibalik semua ini. “Halo, nona Hyunni…” sapa suara yang kukenal. Aku pun menengok dan melihat sebuah sosok lelaki separuh baya berpakaian serba hitam mendekatiku. “Mr.X…???!!! Kau…???” teriakku kaget.

“Kau sudah besar rupanya, nona Hyunni…!” katanya dengan pandangan mematikan. Aku yang masih terkejut hanya bisa melongo dan membeku di tempat. “Bukannya kau…” kataku dengan suara serak, “Bukannya kau…sahabat baik ayahku?” tanyaku dengan gugup. Ia menyeringai seram. Tak lama, ia tertawa dengan keras, seakan meledekku.

TBC…!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: